10
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Cost and Benefit Analysis (Analisis Biaya dan Manfaat)
Analisis biaya manfaat (Cost benefits analysis) adalah pendekatan untuk rekomendasi kebijakan yang memungkinkan analis membandingkan dan mengajukan suatu kebijakan dengan cara menghitung total biaya dalam bentuk uang dan total keuntungan dalam bentuk uang (Dunn, 2003)
Implementasi Cost Benefits Analysis mempunyai ciri-ciri mengukur semua biaya dan manfaat untuk masyarakat yang dihasilkan. Analisis biaya manfaat secara tradisional mempresentasikan rasionalitas ekonomi karena kriteria sebagian besar ditentukan dengan penggunaan efisiensi ekonomi secara global. Analisis biaya manfaat tradisional menggunakan pasar sebagai titik tolak. Analisis biaya manfaat kontemporer atau disebut juga analisis biaya manfaat sosial dapat digunakan untuk mengukur redistribusi manfaat (Dunn, 2003).
Cost and Benefit Analysis (Analisis biaya dan manfaat) memiliki beberapa keunggulan antara lain :
a. Penggunaan sumber-sumber ekonomi secara efisien. Jika efisiensi terjamin, pencapaian kesejahteraan masyarakat dari kebijakan publik yang diimplementasikan lebih maksimal (Mangkoesoebroto, 2001)
commit to user commit to user
11
b. Analisis biaya manfaat dalam perhitungan biaya maupun manfaat diukur dengan mata uang sebagai unit nilai sehingga memudahkan efisiensi (Dunn, 2003)
c. Sangat kompatibel dengan perhitungan biaya manfaat kebijakan suatu proyek dalam skala besar atau makro khususnya yang mempengaruhi kinerja pembangunan daerah secara keseluruhan (Sjafrizal, 2008)
Sedangkan kelemahan Cost Benefits Analysis menurut Mangkoesoebroto (2001) adalah :
a. Pemilihan kebijakan atau proyek yang kurang menguntungkan bagi masyarakat. Hal tersebut disebabkan oleh proses perhitungan manfaat secara kuantitatif, sedangkan beberapa proyek atau kebijakan tidak dapat diukur manfaatnya secara kuantitatif.
b. Analisis ini tidak memiliki fleksibilitas tinggi, karena semua perhitungan dilakukan secara kuantitatif. Hal ini menimbulkan interpretasi jika analisis ini dilaksanakan terlalu jauh, pemerintah tidak lagi dilaksanakan oleh wakil-wakil rakyat yang membawa aspirasi rakyat, melainkan seakan-akan dilaksanakan oleh robot komputer.
Langkah untuk menganalisis efisiensi suatu proyek melalui analisis biaya manfaat yaitu dengan cara menentukan semua manfaat dan biaya dari proyek yang akan dilaksanakan. Tahap selanjutnya untuk menghiung manfaat dan biaya dalam nilai uang dan diterukan dengan menghitung masing-masing manfaat dan biaya dalam nilai uang sekarang.
commit to user commit to user
12
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa analisis biaya manfaat adalah suatu alat analisis dengan prosedur yang sistemais untuk membandingkan biaya dan manfaat yang diperoleh atas sebuah aktivitas atau proyek yang bertujuan untuk membandingkan nilai yang lebih besar.
Kemudian dapat diambil keputusan untuk mempertimbangkan suatu rencana akan keberlanjutan suatu proyek.
2.1.1 Cost (Biaya)
Menurut Yusuf (2011), biaya dibedakan menjadi biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung adalah biaya yang dapat secara langsung ditelusuri pada suatu obyek biaya tertentu. Misalnya biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung. Biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak dapat ditelusur secara langsung misalnya biaya overhead pabrik, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya bahan tak
langsung.
Biaya produksi atau disebut juga biaya manufaktur adalah biaya- biaya yang berkaitan dengan aktivitas dan proses untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Biaya produksi terdiri dari:
a. Bahan langsung adalah bahan yang secara fisik menjadi bagian dari barang jadi (produk selesai). Biaya perolehan bahan langsung (harga beli bahan ditambah biaya angkut) dapat secara langsung ditelusur ke barang jadi.
commit to user commit to user
13
b. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Biaya tenaga kerja langsung dapat ditelusur secara langsung ke barang jadi.
c. Overhead pabrik adalah semua biaya produksi, selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya ini terjadi akibat dari aktivitas berbagai pendukung produksi, seperti misalnya penyimpanan barang digudang, penyetelan mesin dan pembersihan tempat kerja. Biaya overhead pabrik sering juga disebut dengan biaya produksi tak langsung.
2.1.2 Benefit (Manfaat)
Benefit atau manfaat merupakan faedah yang diperoleh atau
dihasilkan dari suatu kegiatan yang produktif. Dalam merencanakan suatu proyek, misalnya pabrik dan lain sebagainya perlu diteliti terlebih dahulu tingkatan benefit yang akan diperoleh tiap-tiap periode dan secara keseluruhan selama umur teknis ekonomis proyek tersebut.
Manfaat yang akan diperoleh mungkin sama tiap-tiap periode dan mungkin berbeda. Maka dalam disiplin penelitian dan penilaian proyek, benefit diperlalukan sebaga benefit tetap dan benefit variabel (Purba,
1997).
Manfaat riil adalah manfaat yang timbul bagi seseorang yang tidak diimbangi oleh hilangnya manfaat bagi pihak lain. Demikian pula biaya riil adalah biaya yang sungguh-sungguh ada dalam masyarakat dan tidak diimbangi oleh pengurangan beban biaya bagi pihak lain.
commit to user commit to user
14
Sesungguhnya manfaat semu adalah manfaat yang timbul dari suatu proyek dan diterima oleh sekelompok orang tertentu. Tetapi ada sekelompok orang lain yang menjadi menderita karena adanya proyek tersebut. Manfaat semu ini tidak diperhitungkan dalam perhitungan manfaat dan biaya suatu proyek (Purba, 1997).
Manfaat biaya langsung adalah manfaat dari biaya yang dekat hubungannya dengan tujuan utama dari suatu proyek, sedangkan manfaat dan biaya tidak langsung dari suatu proyek adalah lebih merupakan hasil sampingan dari proyek tersebut (Purba, 1997).
2.2 Ekspor
2.2.1 Pengertian Ekspor
Dari berbagai sumber,ekspor memiliki pengertian yang bermacam- macam, yaitu diantaranya: Ekspor adalah upaya untuk melakukan penjualan komoditi yang kita miliki kepada bangsa lain atau negara asing dengan mengaharapkan pembayaran dalam bentuk valuta asing, serta melakukan komunikasi dengan memakai bahasa asing (Amir, 2004).
Ekspor adalah pengeluaran barang dari daerah pabean Indonesia untuk dikirimkan ke luar negeri dengan mengikuti ketentuan yang berlaku terutama mengenai peraturan kepabeanan dan dilakukan oleh seorang eksportir atau yan mendapat izin khusus dari Direktorat Jendral Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan (Tandjung, 2010).
commit to user commit to user
15
Ekspor adalah kegiatan menjual barang/jasa dari daerahpabean sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Daerah pabean adalah seluruh wilayah nasional dari suatu negara dimana dipungut bea masuk dan bea keluar untuk semua barang yang melewati batas-batas wilayah itu, kecuali bagian tertentu dari wilayah itu yang secara tegas (berdasarkan undang-undang) dinyatakan sebagai wilayah diluar wilayah pabean (Purnamawati & Fatmawati, 2013).
Pengertian ekspor menurut UU Kepabeanan adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean, dimana barang yang dimaksud terdiri dari barang dari dalam negeri (daerah pabean), barang dari luar negeri (luar daerah pabean), barang bekas atau baru.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dalam rangka menjual produk yang berasal dari Indonesia baik barang atau jasa ke negara lain melalui daerah kepabeanan dengan ketentuan yang berlaku dan mengharapkan pembayaran berupa valuta asing.
2.2.2 Komponen Biaya Ekspor
Menurut Amir (2004), komponen biaya ekspor adalah bagian- bagian dari biaya yang kalau dijumlahkan merupakan total pengeluaran yang menjadi landasan bagi perhitungan harga pokok. Komponen biaya ekspor terdiri dari 4 kelompok biaya, yaitu:
a. Biaya pengadaan (procurement cost) commit to user commit to user
16
Dalam hal pengadaan barang-barang untuk ekspor terdapat dua pola yaitu dengan memproduksi sendiri dan dengan membeli dari pihak lain. Oleh karena itu terdapat pula dua jenis biaya yang harus dipakai dalam kalkulasi barang untuk ekspor, yaitu: Biaya produksi dan nilai pembelian (sering disebut biaya perolehan).
b. Biaya pengelolaan (handling charges)
Sebagaimana dimaklumi barang-barang ekspor perlu dibenahi terlebih dahulu sebelum dikapalkan. Pembenahan ini memerlukan biaya-biaya sebagai berikut:
1) Biaya pengepakan: bahan, upah, ongkos print trademark 2) Upah pemindahan barang dari gudang ke pintu gudang.
3) Upah muat barang dari pintu gudang ke alat angkut atau ke dalam peti keams
4) Ongkos angkut barang dari gudang penyimpanan sampai ke sisi kapal, penimbunan peti kemas ataupun dermaga petikemas 5) Ongkos bongkar dari alat angkut ke dermaga sisi kapal,
penimbunan petikemas ataupun dermaga petikemas 6) Ongkos muat barang dari demaga keatas kapal
7) Sewa gudang, sewa petikemas, shipping charges, OPP/OPT, dan lain-lain.
c. Pungutan-pungutan negara (export taxes)
Yang termasuk dalam pungutan-pungutan negara adalah pajak ekspor, bea masuk, bea keluar, dll
commit to user commit to user
17
d. Jasa-jasa pihak ketiga (third party services)
Dalam melaksanakan ekspor, diperlukan juga jasa pihak ketiga seperti perbankan, asuransi, jasa transportasi, surveyor, balai-balai penelitian.
2.3 Incoterms 2010
Incoterms adalah kodefikasi dari peraturan internasional untuk
keseragaman interpretasi pasal-pasal kontrak dalam perdagangan internasional. Incoterms merupakan perjanjian antara seller dan buyer, dan bukan persoalan dari nahkoda maupun pemilik kapal (Suyono, 2005).
Incoterms berisi tentang seperangkat klausul persyaratan pengiriman
barang dalam perdagangan internasional yang pada dasarnya mengatur 3 hal yaitu: biaya (cost), resiko (risk), dan tanggungjawab (responsibility). Biaya yang dimaksud dalam ekspor adalah biaya yang harus ditanggung oleh masing-masing pihak (penjual dan pembeli) dalam rangka pengiriman barang sampai di tempat tujuan yang disepakati (Purnamawati & Fatmawati, 2013) Peraturan, standart, dan variasi perjanjian tersebut dimuat dalam incoterms (international commercial terms), yang pertama kali dibuat oleh Kamar Dagang Internasional (International Chamber of Commerce disingkat ICC) tahun 1936, dan diubah terakhir pada tahun 2010. Biasanya terms (istilah) dan abbreviations (singkatan) dari incoterms tersebut dimasukkan dalam sales contract. Istilah dan singkatan ini menunjukkan obligasi atau kewajiban yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang mengadakan kontrak (Suyono, 2005) commit to user commit to user
18
2.3.1 Tujuan dan Ruang Lingkup Incoterms 2010
Tujuan incoterms adalah menyediakan seperangkat peraturan internasional untuk memberikan penafsiran atas sejumlah istilah perdagangan yang biasa dipakai dalam perdagangan luar negeri. Jadi ketidakpastian dari aneka penafsiran istilah perdagangan di berbagai negara dapat dihindari atau setidaknya dapat dikurangi secara berarti.
(Suyono, 2005)
Ruang lingkup incoterms terbatas hanya pada pihak-pihak terkait dalam kontrak jual-beli (sales contract) dari barang yang diperdagangkan. Incoterms hanya menegaskan hubungan antara seller dan buyer dalam hal angkutan barang, dan tidak menyangkut hubungan dengan pelayaran (carrier), baik secara langsung maupun tidak langsung. Incoterms berkaitan dengan sejumlah kewajiban, seperti kewajiban penjual untuk menempatkan barang-barangnya dalam kewenangan pembeli atau menyerahkan ketempat tujuan. Juga berhubungan dengan pembagian risiko antara pihak-pihak terkait dalam kasus ini (Suyono, 2005).
2.3.2 Struktur Incoterms 2010
Incoterms 2010 membagi cara penyerahan barang ekspor ke dalam 2 kelompok yaitu cara pengiriman yang menggunakan transportasi umum aneka wahana (multimodal) dan kelompok cara pengiriman barang dengan menggunakan transportasi air. Dalam incoterms 2010, ketentuan penyerahan barang dikelompokkan ke dalam 7 kategori pengiriman barang
commit to user commit to user
19
dengan alat transportasi umum dan 4 pengiriman barang dengan transportasi air (Purnamawati & Fatmawati, 2013).
Tujuan pokok memilih syarat perdagangan dalam perdagangan internasional adalah untuk menentukan titik atau tempat dimana penjual harus memenuhi kewajiban melakukan penyerahan barang secara fisik atau yuridis kepada pembeli. Titik atau tempat penyerahan juga merupakan titik batas dimana risiko atas barang dari penjual berakhir.
Mulai titk ini maka pembeli mulai memikul risiko atas barangnya (Suyono, 2005).
Menurut Suyono (2005), gambaran secara lengkap mengenai masing-masing syarat perdagangan adalah sebagai berikut :
a. EXW : Ex Works (…disebut nama tempat)
“Ex Works” berarti bahwa penjual melakukan penyerahan barang, bila dia menempatkan barang-barang itu untuk pembeli di tempat kediaman penjual atau tempat lain yang ditentukan (yakni tempat kerja, pabrik, gudang dan lain-lain), belum diurus formalitas ekspornya dan juga tidak dimuat ke atas kendaraan pengangkut manapun. Syarat ini merupakan kewajiban yang paling ringan bagi penjual, dan pembeli wajib memikul semua biaya dan risiko yang terkait dengan kewajiban untuk mengambil barang-barang tersebut dari tempat penjual.
commit to user commit to user
20
b. FCA : Free Carrier (…disebut nama tempat)
“Free Carrier” berarti bahwa penjual melakukan penyerahan barang-barang, yang sudah mendapat ijin ekspor, kepada pengangkut yang ditunjuk pembeli di tempat yang disebut. Harus dicatat bahwa pemilihan tempat penyerahan mempunyai dampak pada kewajiban muat bongkar barang-barang di tempat tersebut.
Jika penyerahan terjadi di tempat penjual, maka penjual bertanggung jawab untuk memuat. Jika penyerahan terjadi ditempat lain, penjual tidak bertanggung jawab untuk membongkar.
Syarat ini dapat dipergunakan tanpa memandang jenis alat angkut, termasuk alat angkut aneka wahana. Pengangkut berarti setiap orang dalam kontrak angkutan, yang berjanggung jawab untuk mengangkut atau menjamin untuk mengangkut (Suyono, 2005).
c. FAS : Free Alongside Ship (…disebut nama pelabuhan pengapalan) “Free Alongside Ship” berarti bahwa penjual melakukan penyerahan barang-barang, bila barang-barang tersebut ditempatkan di samping kapal di pelabuhan pengapalan yang disebut. Hal ini berarti bahwa pembeli wajib memikul semua biaya dan semua risiko kehilangan atau kerusakan atas barng-barang mulai saat itu.
Syarat FAS menuntut penjual mengurus formalitas ekspor.
Syarat ini berlawanan dengan versi incoterms sebelumnya yang commit to user
commit to user
21
menuntut pembeli untuk mengurus formalitas ekspor. Syarat FAS hanya dapat dipakai untuk angkutan laut dan sungai saja (Suyono, 2005).
d. FOB : Free On Board (…disebut nama pelabuhan pengapalan) “Free On Board” berarti bahwa penjual melakukan penyerahan barang-barang, bila barang-barang melewati pagar kapal di pelabuhan pengapalan yang disebut. Hal ini berarti bahwa pembeli wajib memikul semua biaya dan risiko atas kehilangan atau kerusakan barang mulai dari titik itu. Syarat FOB menuntut penjual untuk mengurus formalitas ekspor.
Syarat ini hanya dapat dipakai untuk angkutan laut dan sungai saja. Jika pihak-pihak bersangkutan tidak bermaksud untuk menyerahkan barang melewati pagar kapal, maka syarat FCA yang harus dipakai (Suyono, 2005).
e. CFR : Cost and Freight (…disebut nama pelabuhan tujuan)
“Cost and Freight” berarti bahwa penjual melakukan penyerahan barang-barang, bila barang-barang melewati pagar kapal di pelabuhan pengapalan. Penjual wajib membayar biaya- biaya dan ongkos angkut yang perlu untuk mengangkut barang- barang tersebut sampai ke pelabuhan tujuan yang disebut.
Tetapi risiko hilang atau kerusakan atas barang-barang, termasuk setiap biaya tambahan sehubungan dengan peristiwa yang
commit to user commit to user
22
terjadi setelah waktu penyerahan itu berpindah dari penjual kepada pembeli.
Syarat CFR menuntut penjual untuk mengurus formalitas ekspor. Syarat ini hanya dapat dipakai untuk angkutan laut dan sungai. Jika pihak-pihak terkait tidak bermaksud melakukan penyerahan barang melewati pagar kapal, maka sebaiknya memaka i syarat CPT (Suyono, 2005).
f. CIF : Cost, Insurance, and Freight (…disebut nama pelabuhan tujuan)
“Cost, Insurance, and Freight” berarti bahwa penjual melakukan penyerahan barang-barang, bila barang-barang tersebut melewati pagar kapal di pelabuhan pengapalan. Penjual wajib membayar semua biaya dan ongkos angkut yang perlu untuk mengangkut barang-barang tersebut sampai ke pelabuhan tujuan yang disebut. Tetapi risiko kehilangan atau kerusakan atas barang- barang, termasuk setiap biaya tambahan sehubungan dengan peristiwa yang terjadi setelah waktu penyerahan itu berpindah dari penjual kepada pembeli. Namun dalam syarat CIF, penjual wajib pula menutup asuransi angkutan laut terhadap risiko rugi atau kerusakan atas barng-barang yang mungkin diderita pembeli selama barang dalam perjalanan.
Berkenaan dengan itu, penjual wajib menutup asuransi dan membayar premi. Pembeli perlu mencatat bahwa dengan syarat
commit to user commit to user
23
CIF, penjual wajib pula menutup asuransi hanya dengan syarat pertanggungan minimum. Sekiranya pembeli menginginkan perlindungan yang lebih besar, maka pembeli perlu mengadakan persetujuan dengan penjual secara tegas, atau pembeli sendiri harus mengurus asuransi tambahan itu.
Syarat CIF menuntut penjual untuk mengurus formalitas ekspor. Syarat ini hanya dapat dipakai untuk angkutan laut dan sungai. Jika pihak-pihak bersangkutan tidak bermaksud untuk menyerahkan barang melewati pagar kapal, maka syarat CIP yang harus dipakai (Suyono, 2005).
g. CPT : Carriage Paid To (…disebut nama pelabuhan tujuan)
“Carriage Paid To …” berarti bahwa penjual menyerahkan barang-barang kepada pengangkut yang ditunjuknya sendiri, tetapi penjual wajib pula membayar ongkos angkut yang perlu untuk mengangkut barang-barang tersebut sampi ke tempat tujuan yang disebut. Hal ini berarti bahwa pembeli memikul semua risiko dan membayar setiap ongkos yang timbul setelah barang-barang yang diserahkan secara demikian.
“Carrier” berarti setiap orang dalam kontrak angkutan, yang bertanggung jawab untuk mengangkut atau menjamin untuk mengangkut dengan kereta api, jalan raya, udara, laut, sungai atau dengan kombinasi dari alat angkut itu.
commit to user commit to user
24
Sekiranya dipakai pengangkut-pengangkut pengganti untuk meneruskan pengangkutan sampai ke tempat tujuan yang dijanjikan, maka risiko (penjual) berakhir bila barang-barang telah diserahkan kepada pengangkut pertama.
Syarat CPT mewajibkan penjual mengurus formalitas ekspor.
Syarat ini boleh dipakai untuk alat angkut apa saja, termasuk alat angkut aneka wahana (multimodal transport) (Suyono, 2005).
h. CIP: Carriage and Insurance Paid To (…disebut nama pelabuhan tujuan)
“Carriage and Insurance Paid To …” berarti bahwa penjual menyerahkan barang-barang kepada pengangkut yang ditunjuknya sendiri, tetapi penjual wajib pula membayar ongkos angkut yang perlu untuk mengangkut barang-barang tersebut sampi ke tempat tujuan yang disebut. Hal ini berarti bahwa pembeli memikul semua risiko dan membayar setiap ongkos yang timbul setelah barang- barang yang diserahkan secara demikian. Namun dalam hal CIP, penjual juga wajib menutup asuransi (Suyono, 2005).
i. DAT: Delivered At Terminal (...disebut nama pelabuhan)
Delivered at terminal berarti penjual berkewajiban menyerahkan barang di terminal yang telah ditentukan di pelabuhan kedatangan. Terminal dalam pengertian disini termasuk diantaranya adalah dermaga, gudang, CY, terminal kereta api, atau terminal di pelabuhan udara. Semua biaya, pungutan dan resiko
commit to user commit to user
25
yang timbul kecuali bea masuk, pajak impor dan biaya lainnya di pelabuhan tujuan akibat pengiriman barang sampai dibongkar untuk diserahkan kepada terminal yang telah ditentukan di pelabuhan tujuan merupakan tanggungjawab penjual.
(Purnamawati & Fatmawati, 2013).
j. DAP: Delivered At Place (...disebutkan tempat tujuan)
Berarti penjual menyerahkan barang di tempat yang telah ditentukan di negara pembeli pada kondisi barang tersebut siap untuk dibongkar. Semua biaya, pungutan dan resiko yang timbul kecuali bea masuk, pajak impor dan biaya lainnya setelah barang diserahkan di tempat yang telah ditentukan menjadi tanggungjawab penjual. Penjual hanya menghantar barang sampai ditem,pat yang telah disepakati di negara pembeli dalam kondisi barang belum dibongkar (Purnamawati & Fatmawati, 2013).
k. DDP : Delivered Duty Paid (… disebut nama tenpat tujuan)
“Delivered Duty Paid” berarti bahwa penjual menyerahkan barang-barang kepada pembeli, sudah diurus formalitas impornya, namum belum dibongkar dari atas alat angkut yang baru dating di tempat tujuan yang disebut. Penjual wajib memikul semua biaya dan risiko yang terkait dengan pengangkutan barang itu sampai ke sana, termasuk bea masuk apapun (istilah ini termasuk tanggung jawab mengurus formalitas pabean, pembayaran biaya resmi
commit to user commit to user
26
(formalitas), bea masuk, pajak-pajak dan biaya lainnya) yang diperlukan di negara tujuan (Suyono, 2005).
commit to user commit to user