• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 3. 1 Peta Taman Nasional Baluran (Sumber : Muryono, 2011)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 3. 1 Peta Taman Nasional Baluran (Sumber : Muryono, 2011)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

19 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan analisis vegetasi dikawasan Taman Nasional Baluran menggunakan jenis pendekatan kuantitatif, karena hasil penelitian yang diperoleh berupa angka. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksploratif. Metode deskriptif ini akan menggambarkan kondisi objek penelitian sesuai dengan keadaan yang ditemukan atau diamati dilapangan. Penelitian ini menggunakan Teknik random sampling melalui metode kuadrat. Penempatan plot dilakukan secara acak mewakili keseluruhan populasi.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kawasan Hutan Taman Nasional Baluran.

Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2021.

Gambar 3. 1 Peta Taman Nasional Baluran (Sumber : Muryono, 2011)

Taman Nasional Baluran memiliki areal seluas 25.000 ha yang terdiri dari 23.937 ha wilayah daratan dan 1.064 ha wilayah perairan (Muryono, 2011)

(2)

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala, nilai tes, atau peristiwa yang menjadi sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian (Saputra & Riyadi, 2017). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh jenis tanaman berkhasiat obat yang ada di Kawasan Hutan Taman Nasional Baluran.

3.3.2 Sampel

Sampel dapat diartikan sebagai bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam penelitian secara respresentatif yang jauh berbeda dengan sensus (Saputra & Riyadi, 2017). Sampel yang digunakan tanaman berkhasiat obat yang di temukan di setiap plot area penelitian.

3.3.3 Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling. Pada masing-masing lokasi penelitian dibuat plot dengan ukuran 5x5 sebanyak 30 plot pada suatu penelitian.

3.4 Variabel Penelitian

Variable penelitian adalah tumbuhan berkhasiat obat tingkat herba yang ditemukan di lokasi penelitian pada setiap plot.

3.5 Prosedur Penelitian

Prosedur dalam penelitian ini meliputi dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.

(3)

Skema penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2

Gambar 3. 2 skema alur penelitian

Pada skema di atas menganai penelitian yang akan dilakukan yang pertama adalah menyiapkan alat dan bahan, membuat petak-petak ukuran 5x5 sebanyak 10 petak di letakkan di kanan dan kiri jalan sebanyak masing-masing 5 plot. Lokasi penelitian di bagi menjadi 3 bagian yaitu, bagian awal, tengah dan akhir hutan evergreen. Transek terdiri dari plot-plot/petak bentuk dari petak sampel adalah persegi. Masing-masing are diambil perwakilan sebanyak 10 plot sebagai sampel penelitian sehingga jumlah keseluruhan sebanyak 30 plot yang diukur. Selanjutnya dilakukan pendataan untuk mengetahui kerapatan, frekuensi dan dominasi setiap jenis tumbuhan. Parameter yang di ukur meliputi nama jenis, jumlah individu tiap jenis. Data yang diperolah kemudian dicatat dalam table pengamaran, sedangkan jenis tumbuhan yang belum di ketahui nama ilmiahnya diberi label untuk diidentifikasi lebih lanjut dengan berpedoman pada buku identifikasi atau informasi para ahli. Setiap lokasi sampling dilakukan pengukuran parameter ekologi mencakup kerapatan, frekuensi, dominasi dan indeks nilai penting, indeks keanekaragaman, indeks similaritas Sorensen serta pengaruh dari faktor-fakrot lingkungan meliputi suhu tanah, suhu udara, kelembaban tanah, kelembaban udara, dan intensitas cahaya.

Persiapan alat dan bahan Pembuatan plot yang akan di letakkan di tempat penelitian

Pengukuran intensitas cahaya, suhu dan

kelembaban, dan kelembaban tanah

Mencatat tamanan obat yang ditemukan

Mendokumentasikan tanaman

obat yang ditemukan Analisis vegetasi,

Peletakan plot di tempat penelitian

Pengumpulan data Pemanfaatan penelitian

sebagai sumber belajar Kesimpulan

(4)

3.5.1 Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan ini dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang dilakukan dalam penelitian.

A. Alat, alat yang digunakan adalah sebagai berikut :

No Alat Spesifiskasi Jumlah

1 Kamera 16 MP 1

2 Pisau Tidak tumpul 1

3 Kayu bamboo 1 m 12

4 Gunting Tidak tumpul 1

5 Kompas 1

6 Lux meter 1

7 Temperature dan humidity meter

1

8 Soil tester 1

9 Meteran 100cm 1

Tabel 3. 1 Alat

B. Bahan, bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

No Bahan Spesifikasi Jumlah

1 Tumbuahn Berkhasiat obat -

2 Tali Rafia - 2 gulung

3 Kertas label - 1 pak

4 Trush bag hitam Uk 60x100 cm 3 buah

Tabel 3. 2 Bahan

3.5.2 Tahap Pelaksanaan

3.5.2.1 Pengukuran Faktor Fisik Lingkungan

Pengukuran faktor fisik lingkungan dilakukan di setiap titik lokasi pada pukul 10.30 WIB. Pengukurannya meliputi intensitas cahaya. Suhu udara, kelembabapan udara relative, dan kelembapan tanah.

1. Intensitas cahaya

Intensitas cahaya diukur dengan menggunakan lux meter. Sensor pada lux meter diarahkan pada sumber cahaya selama tiga menit atau sampai angka yang ditunjukkan monitor konstan. Hasil pengukuran intensitas cahaya yang terbaca di layer monitor kemudian dicatat.

2. Suhu dan kelembaban udara relative

(5)

Suhu dan kelembaban udara relative diukur dengan menggunakan alat temperature dan humidity meter. Data yang diperoleh kemudian di catat.

3. Kelembaban tanah

Kelembaban tanah diukur dengan menggunakan soil tester. Alat ini ditancapkan ketanah, kemudian besarnya nilai kelembaban yang diperoleh dicatat.

NO Parameter Hasil

Awal Tengah Akhir 1 Intensitas cahaya

2 suhu dan kelembaban udara relativ 3 Kelembaban tanah

4 Suhu tanah

Tabel 3. 3 tabel hasil pengukuran

3.5.2.2 Analisis Vegetasi

Menurut (Muryono, 2011) mengakatan bahwa, secara umum vegetasi adalah kumpulan beberapa tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis dan hidup bersama pada suatu tempat. Tahap analisis vegetasi dilakukan di lokasi penelitian di Kawasan Taman Nasional Baluran, pada tahap analis vegetasi dilakukan beberapa tahap sebagai berikut :

Gambar 3. 3 Lokasi Penelitian (Sumber: CNN Indonesia, 2020)

(6)

Gambar 3. 4 Zona Penelitian

(sumber:rodadanroti.com)

Area Akhir Hutan Evergreen

Area Tengah Hutan Evergreen

Area Awas Hutan Evergreen

Gambar 3. 5 skema peletakan plot analisis vegetasi Jalan

menuju Bama Zona Penelitian

Hutan Evergreen

(7)

Keterangan:

: Plot ukuran 5x5 : Jarak antar petak 1m

1. Alat dan bahan disiapkan terlebih dahulu sebelum digunakan

2. Plot dengan ukuran 5x5m sebanyak 30 dibuat dengan menggunakan bahan tali raffia,tali tambang dan pasak

3. Plot 5 x 5 m diletakkan pada lokasi penelitian, kemudia dilakukan pengukuran dan pencatatan untuk tingkat herba. Amatilah parameter yang diamati atau yang diukur meliputi jenis dan jumlah setiap jenis,dengan Batasan anakan pohon mulai dari tingkat kecambah sampai yang memiliki tinggi <1,5 m

4. Kemudian mencatat dan memfoto tanaman yang ditemukan Lokasi penelitia/ area :

No Nama Latin

Jumlah Kategori Keterangan

1 2 3 4 5 dst

Tabel 3. 4 Hasil penemuan jenis tanaman obat 5. Identifikasi tanaman bersama pihak Taman Nasional Baluran

6. Terkahir tahap pengumpulan data, dengan prosedur berikut :

 Mengumpulkan data setiap plot dengan cara sebagai berikut : 1. Melihat ciri-ciri pada daun, batang dan bunga dari tanaman

yang ditemukan

2. Memberikan kode pada tanaman yang ditemukan 3. Mendokumentasikan tanaman

4. Validasi bersama pihak taman nasional baluran

(8)

 Menghitung setiap jumlah jenis yang ditemukan

 Menghitung sesuai rumus kerapatan dan frekuensi yang telah dikemukanan Cox (1996)

7. Perhitungan Indeks Nilai Penting (INP) yang berkaitan dengan kepadatan, frekuensi dan indeks keanekaragaman

8. Penelitian sebagai sumber belajar biologi, hal ini dapat di sesuaikan dengan hal-hal berikut :

 Kejelasan potensi (ketersediaan obyek dan permasalahan).

 Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.

 Sasaran materi dan peruntukannya.

 Informasi yang akan diungkap.

 Pedoman eksplorasi.

 Perolehan yang akan dicapai.

 Seleksi dan modifikasi proses dan produk penelitian sebagai sumber belajar di SMA misalnya, maka prosedur kerja disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran peserta didik, dan produk penelitian disesuaikan dengan konsep atau sub-konsep GBPP Kurikulum yang berlaku

3.5.2.3 Identifikasi jenis tumbuhan obat

Identifikasi jenis tumbuhan obat dilapangan dilakukan dengan cara pengamatan langsung. Identifikasi jenis-jenis tumbuhan obat merujuk pada Indeks Tumbuhan Obar di Indonesia (1995) dan dengan melakukan pemeriksaan silang melalui berbagai buku/literatur tentang tumbuhan obat, yang memiliki nama local, nama jenis, family, habitus, dan manfaatnya. Nama jenis mengacu pada The Plant List (http://www.theplantlist.org) dan IPNI (The International Plant Names Index) (http://www.ipni.org). status konservasi dari jenis yang ditemukan dalam penelitian merujuk pada kriteria IUCN (http://www.iucnredlist.org).

3.6 Metode Pengumpulan Data 3.6.1 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi secara langsung di lapangan.

(9)

3.6.2 Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan tergolong dalam data kualitatif yang berupa deskriptif morfologinya atau ciri-ciri dari tumbuhan obat yang ditemukan. Data yang telah dipeoleh kemudian diolah secara tabulasi dan disajikan dalam bentuk tabel. Dari berbagai spesies yang ditemukan selanjutnya dianalisa manfaat yang ada pada tumbuhan berkhasiat obat yang ditemukan. Kemudian di oleh menggunakan cara Cox (1996) sebagai berikut :

Indeks nilai penting (INP) adalah indeks kepentingan yang memberikan gambaran pentingnya peranan suatu jenis vegetasi dalam ekosistemnya. Pada lokasi penelitian dilakukan analisis kerapatan, frekuensi dan dominasi masing- masing jenis tumbuhan untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasinya.

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus berikut (Octavia et al., 2008) :

1. Kerapatan suatu jenis (K)

Kerapatan merupakan penyebaran suatu jenis yang dinyatakan sebagai prosentase terdapatnya jenis tersebut dalam titik pengukuran terhadap jumlah titik pengukuran seluruhnya (Martono, 2012).

K =

2. Kerapatan relative suatu jenis (KR)

Kerapatan relarif (KR), merupakan nilai kerapatan dari suatu jenis dibagi dengan jumlah nilai kerapatan seluruh jenis jenis dikalikan dengan 100% (Martono, 2012).

KR (%) = × 100 %

3. Frekuensi suatu jenis (F)

Frekuensi merupakan parameter vegetasi yang dapat menunjukkan distribusi atau sebaran jenis tumbuhan dalam ekosistem atau memperlihatkan pola distribusi tumbuhan (Indriyani et al., 2017).

F =

4. Frekuensi relative suatu jenis (FR)

Frekuensi relative (FR) merupakan frekuensi dari suatu jenis dibagi dengan frekuensi dari seluruh jenis dikalikan dengan 100%.

(10)

FR (%) = × 100%

Indeks Nilai Penting (INP) untuk pohon dan tiang adalah kerapatan relative + frekuensi relative + dominasi relative, sedangkan untuk tingkat pancamg dan herba adalah kerapatan relative + frekuensi relative. Pengambilan sampel dianalisis menggunakan keanekaragaman jenis dihitung berdasarkan perhitungan keanekaragamanShannon-Wienner.

H = -⅀ Pi Ln Pi Keterangan :

H = Indeks Keanekaragaman

Pi = proporsi dari jumlah individu jenis dengan i jumlah individu dari seluruh jenis spesies.

Dengan kriteria :

H’ < 1 = Keanekaragamn rendah 1<H’<3 = Keanekaragamn sedang H’>3 = Keanekaragaman tinggi

Gambar

Gambar 3. 1 Peta Taman Nasional Baluran  ( Sumber : Muryono, 2011 )
Gambar 3. 2 skema alur penelitian
Tabel 3. 1  Alat
Tabel 3. 3  tabel hasil pengukuran
+3

Referensi

Dokumen terkait