PUTUSAN
Nomor 1189/B/PK/PJK/2017
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG
Memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:
DIREKTUR JENDERAL PAJAK, berkedudukan di Jl. Jenderal Gatot Subroto, No. 40-42, Jakarta, dalam hal ini memberi kuasa kepada:
1. ABC, Direktur Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak;
2. DEF, Kasubdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;
3. GHI, Pj. Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;
4. JKL, Penelaah Keberatan, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;
Kesemuanya berkantor di Jl. Jenderal Gatot Subroto, No. 40-42, Jakarta, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU- 2125/PJ./2013, tanggal 2 Oktober 2013;
Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding;
melawan:
PT AAA, beralamat di Desa BBB RT 0X/, Kec. CCC, Kab. Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dan alamat Korespodensi di Gedung DDD Lt. X0 Unit X0X, Jalan EEE Kav E.XX Nomor X, Jakarta;
Termohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Terbanding, telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put-46034/PP/M.I/13/2013, tanggal 1 Juli 2013 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Banding, dengan posita perkara sebagai berikut:
Pemenuhan Formal Pengajuan Banding:
bahwa Surat Keputusan Terbanding Nomor KEP-44/PJ/2011 diterbitkan pada tanggal 11 April 2011 yang Pemohon Banding terima dari Terbanding pada tanggal 11 April 2011 melalui faksimile, dengan demikian surat banding Pemohon Banding masih memenuhi jangka waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak;
Ketentuan Pasal 36 ayat (4) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002, Tentang Pengadilan Pajak:
Pajak terutang
50% x Rp 2.649.867.308;
Kredit pajak
Pajak yang masih harus dibayar
= 2.649.867.308,-
= 1.324.933.654,-
= 1.050.928.973,-
= 274.004.681,-
bahwa terlampir bukti penyetoran pajak sebesar Rp274.004.681,-. Dengan demikian permohonan banding yang Pemohon Banding ajukan memenuhi ketentuan Pasal 36 ayat (4) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002, tentang Pengadilan Pajak;
Segi Materi:
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam permohonan banding ini adalah mengenai koreksi terhadap Dasar Pengenaan Pajak atas PPh Pasal 26 Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2005 yang dilakukan Pemeiksa sebesar Rp 13.249.336.640;
sehingga Terbanding menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak PPh Pasal 26 Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2005 Nomor 00002/204/05/725/10 tanggal 18 Januari 2010 dengan perhitungan sebagai berikut:
Dasar Pengenaan Pajak PPh Terutang
Kredit Pajak PPh Kurang dibayar Sanksi administrasi
Jumlah yang masih harus dibayar
Rp. 13.249.335.540,- Rp. 2.649.867.308,- Rp. 1.390.792.444,- Rp. 1.259.074.864,- : Rp 604.355.934,- Rp. 1.863.430.798,-
bahwa atas ketetapan pajak tersebut Pemohon Banding mengajukan keberatan dan dengan keputusan Terbanding Nomor KEP- 44/PJ/2011 tanggal 11 April 2011 keberatan Pemohon Banding ditolak dan menambah pajak yang terutang dengan perhitungan sebagai berikut:
Dasar Pengenaan Pajak PPh Terutang
Kredit Pajak PPh Kurang dibayar Sanksi administrasi
Jumlah yang masih harus dibayar
Rp. 13.249.335.540,- Rp. 2.649.867.308,- Rp. 1.050.928.973,- Rp. 1.598.938.335,- : Rp 767.490.400,- Rp. 2.366.428.735,- sehingga mengajukan Banding ke Pengadilan Pajak;
bahwa bersama ini akan Pemohon Banding uraikan koreksi-koreksi yang dilakukan oleh Pemeriksa sebagai berikut :
1. Dalam menentukan obyek PPh Pasal 26, pemeriksa melakukan equalisasi antara objek PPh Pasal 26 menurut pembebanan dalam SPT PPh Badan/Laporan Keuangan Tahun Pajak 2005 ditambah objek PPh pasal 26 lainnya dengan yang dilaporkan pada SPT Masa PPh pasal 26 Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2005, dengan perhitungan sebagaiberikut :
Bunga
WPLN (Gaji Orang Korea)
Objek PPh Pasal 26 cfm Pemeriksa Objek PPh Pasal 26 WP/SPT Selisih
Rp 12.590.748.640,- Rp 658.587.900,- Rp 13.249.336.540,- Rp 13.249.336.540,- Rp 0,-
2. Pemohon Banding sependapat dengan pemeriksa atas objek Pajak Penghasilan pasal 26 tahun 2005 adalah sebesar Rp 13.249.336.540,-, namun keberatan dengan tarif 20 % yang diterapkan pemeriksa, sehinggaperhitungannya sebagai berikut:
Objek PPh pasal 26
PPh terhutang cfm pemeriksa PPh terhutang cfm WP Selisih
Rp 13.249.336.540,- Rp 2.649.867.308,- Rp 1.390.792.444,- Rp 1.259.074.864,-
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
3. Dalam surat no. S-3125/PJ.0712011 tanggal 11 Mei 2011 perihal Permohonan Penjelasan Dasar Keputusan Keberatan Nomor KEP-44/PJ/2011, Terbanding menjelaskan:
a. Tarif PPh pasal 26 sebesar 20 % diterapkan pemeriksa atas pembayaran bunga kepada GGG Co. Ltd. karena pemeriksa tidak memperoleh Surat Keterangan Domisili aslii atas namaGGG Co Ltd pada saat pemeriksa;
b. Terbanding tidak dapat meyakini fotocopy dokumen yang menurut Pemohon Banding merupakan Surat Keterangan Domisili atas nama GGG Co Ltd yang diserahkan pada saat keberatan, merupakan Surat Keterangan Domisili karena dokumen yang diserahkan berupa fotocopy dan terjemahan dalam bahasa Indonesiatersebut tidak diterjemahkan oleh penerjemah resmi yang disumpah;
c. Berdasarkan Pasal 26 ayat (1) huruf B Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 dan butir 2 huruf a dan huruf b Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-03/PJ.101/1996 tanggal 29 Maret 1996, peneliti berpendapat dokumen tersebut belum dapat diyakini sebagai Surat Keterangan Domisili atas nama GGG Co. Ltd. karena Pemohon Banding tidak dapat menunjukkan asli dokumen tersebut, sehingga tetap mempertahankankoreksi pemeriksa atas tarif PPh pasal 26 sebesar 20%;
d. Terbanding mengkoreksi lcredit pajak sebesar Rp 339.863.471,- sehingga dari sebelumnya telah diakui pemeriksa sebesar Rp 1.259.078.864,- menjadi hanya sebesar Rp 919.215.393,-. Hal tersebut dikarenakan Terbanding tidak dapat meyakini bahwa pembayaran PPh Pasal 26 masa pajak Desember 2006 yang disetor pada tanggal 10 Januari 2007, merupakan pembayaran atas sisa kekurangan PPh pasal 26 tahun 2005 dan periode tahun 2006. Karena dalam SSP dan SPT Masa PPh Pasal 26 tersebut, bukti potong atas nama HHH Co.Ltd, bukan atas nama GGG Co. Ltd
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
4. Alasan keberatan dan banding wajib pajak dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Menunjuk Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-03/PJ.101/1996 tanggal 29 Maret 2006 tentang Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dan Surat Dirjen Pajak No. S-8911PJ.341/2004 tanggal 01 September 2004 tentang Penegasan Tentang Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 atas Pembayaran Guarantee Fee ke KoreaSelatan, dapat disampaikan bahwa:
1. GGG Co. Ltd telah menyerahkan asli Surat Keterangan Domisili (SKD) kepada Pemohon Banding sebagai pihak yang membayarkan penghasilan (bunga pinjaman) dan berdasarkan SKD tersebut, Pemohon Banding menerapkan PPh pasal 26 tarif 10 %, sesuai ketentuan yang ditegaskan dalam P3B yang berlaku antara Indonesia dengan negara tempat kedudukan WPLN tersebut, yaituKorea Selatan;
2. SKD yang dibuat oleh pejabat pada Kantor Pajak tempat WPLN yang bersangkutan terdaftar dapat diterima dan dipersamakan dengan Surat Keterangan Domisili yang dibuat Competent Authority.
SKD sekurang-kurangnya harus menyatakan bahwa WPLN, dalam hal ini GGG Co. Ltd., benar berkedudukan di negara tersebut, disertai dengan tanggal dan tanda tangan pejabat yang menerbitkan SKD tersebut. SKD terlampir, diterbitkan oleh Kantor Pajak Suyoung, tempat GGG Co Ltd terdaftar, menyatakan kedudukan perusahaan tersebut benar adanya di Korea Selatan dan ada tanggal penerbitan dan pengesahan oleh pejabat yang menerbitkan yaitu PengawasKantor Pajak Suyoung;
b. Efektif mulai bulan Juni 2009, terjadi perpindahan manajemen, dari sebelumnya manajemen Korea. Saat ini manajemen baru hanya memiliki copy SKD (telah diserahkan pada tanggal 15 Juni 2010). Sebagaimana laporan kepada polisi (terlampir), banyak data, baik hard copy maupun soft copy yang `hilang', dan tidak ada serah terima pekerjaan maupun dokumen terkait pemeriksaan ini dari manajemen lama kepada manajemen baru sehingga kami tidak memiliki asli SKD. Karena ada copynya, menurut Pemohon Banding, tentunya asli SKDada sebelumnya;
c. Berdasarkan keterangan yang Pemohon Banding peroleh, penerjemah resmi tersumpah untuk bahasa korea belum ada di Indonesia sehingga fotocopy dokumen tersebut diterjemahkan oleh penerjemah resmi tapibelum tersumpah;
d. Memperhatikan hal tersebut, menurut Pemohon Banding dapat diyakini adanya surat Keterangan Domisili ( Certificate Resident Taxpayer ) atas nama GGG Co, Ltd. berupa Surat Pendaftaran Pengusaha No. Register XXX-XX-00XXX yang diterbitkan oleh Pengawas Kantor Pajak Suyong sehingga sesuai P3B Indonesia - Korea, tarif PPh Pasal 26 pembayaran bunga sebesar Rp12.590.748.640 adalah 10% bukan20% seperti tarif menurut Pemeriksa;
e. Sejumlah Rp 658.587.900 dari jumlah tersebut merupakan gaji dari Tenaga Kerja Asing Korea yang telah dipotong PPh Pasal 26 sebesar20% sebesar Rp 131.717.580,-;
f. Berdasarkan Laporan Keuangan Auditted tahun 2005 dan 2006, SPT Masa PPh pasal 26 Oktober 2005 dan SPT Masa PPh pasal 26 Masa Pajak Desember 2006, bersama ini Pemohon Banding sampaikansebagai berikut:
Biaya bunga pinjaman GGG Co Ltd th. 2005 Biaya bunga pinjaman GGG Co Ltd / JJJ th.
2006
Biaya bunga pinjaman GGG Co Ltd tahun 2005
(biaya bunga kurang bayar 2005 dibukukan pada 2006)
Total Bunga Pinjaman tahun 2005 dan 2006 PPh pasal 26 atas bunga pinjaman 2005 &
2006, tarif 10%
Telah disetorkan pada SPT Masa Okt 2005 dan Des 2006
dengan perincian sebagai berikut :
SPT Masa Oktober 2005 (disetorkan tgl 10 Nop 2005)
SPT Masa Desember 2006 (disetorkan tgl 10 Jan 2007)
Total PPh pasal 26 bunga pinjaman yang telah disetorkan
: Rp 12.590.748.640,- : Rp 12.622.039.883,- : Rp 750.753.883,- : Rp 25.963.542.406,- : Rp 2.596.354.240,-
: Rp 919.215.393,- : Rp 1.677.138.847,- : Rp 2.596.354.240,-
bahwa dengan demikian tidak ada kekurangan setor PPh Pasal 26 atas bunga pinjaman tahun 2005 dan tahun 2006;
bahwa berdasarkan notarial certificate, registered No. 2005, tanggal 31 Oktober 2005, antara GGG Co. Ltd.
sebagai creditor, JJJ. Ltd. sebagai acceptor of credit Pemohon Banding sebagai debtor, bahwa JJJ berhak menerima seluruh klaim berkaitan dengan investasi dana dan pinjaman jangka panjang kepada Pemohon Banding pada Januari 2003 dan Nopember 2004, sejak GGG Co. Ltd berafiliasi dengan JJJ pada 31 Oktober 2005;
bahwa sehingga menurut Pemohon Banding, laporan SPT Masa PPh pasal 26 Masa Desember 2006 dengan bukti potong atas nama JJJ telah benar adanya dan seharusnya kredit pajak sebesar Rp339.863.471,- dapat diakui;
bahwa berdasarkan penjelasan serta uraian tersebut diatas, maka perhitungan pajak yang terutang menurut Pemohon Banding adalah sebagai berikut:
Dasar Pengenaan Pajak Pajak Penghasilan terutang Setoran Masa
Pajak yang tidak / Kurang Bayar
Rp 13.249.336.540,00 Rp 1.390.792.444,00 Rp 1.390.792.444,00 Rp 0,00
bahwa demikian permohonan banding ini, semoga kiranya Majelis dapat memutuskan perkara dengan seadil- adilnya berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan membatalkan Surat Keputusan Terbanding Nomor KEP- 44/PJ/2011 tanggal 11 April 2011, Tentang Keberatan Pemohon Banding atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar PPh Pasal 26 Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2005 Nomor 00002/204/05/725/10 tanggal 18 Januari 2010;
Menimbang, bahwa amar Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put-46034/PP/M.I/13/2013, tanggal 1 Juli 2013 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:
Mengabulkan seluruhnya banding Pemohon Banding terhadap keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP- 44/PJ/2011 tanggal 11 April 2011 mengenai keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Pajak Penghasilan Pasal 26 Nomor 00002/204/05/725/10 tanggal 18 Januari 2010 Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2005, atas nama PT AAA, NPWP 0X.X0X.XXX.0-XXX.000, Alamat: Desa BBB RT 0X/, Kec. CCC, Kab. Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur - 75552, Alamat Korespondensi Gedung DDD Lt. X0 Unit X0X, Jl. EEE Kav E.XX No.X, Jakarta, sehingga jumlah pajak yang masih harus dibayar adalah sebagai berikut:
DPP PPh Pasal 26 PPh Terutang Kredit Pajak
PPh kurang (lebih) bayar Sanksi Administrasi
Jumlah yang masih harus (lebih) bayar
Rp 13.249.336.540,00 Rp 1.390.792.444,00 Rp 1.390.792.444,00 Rp 0,00
Rp 0,00 Rp 0,00
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put- 46034/PP/M.I/13/2013, tanggal 1 Juli 2013, diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan Kembali pada tanggal 22 Juli 2013, kemudian terhadapnya oleh Pemohon Peninjauan Kembali dengan perantaraan kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-2125/PJ./2013, tanggal 2 Oktober 2013, diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan Pajak pada tanggal 10 Oktober 2013, dengan disertai alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 10 Oktober 2013;
Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 25 Februari 2015, akan teteapi oleh pihak lawannya tidak diajukan Jawaban sebagaimana dimaksud dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut secara formal dapat diterima;
ALASAN PENINJAUAN KEMBALI
Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan Peninjauan Kembali yang pada pokoknya sebagai berikut:
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
A. Sengketa atas Tarif Pajak Penghasilan Pasal 26 atas objek berupa pembayaran bunga sebesar Rp12.590.748.640,00 yang tidak dipertahankanoleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak.
1. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) sangat keberatan dengan pertimbangan hukum Majelis Hakim Pengadilan Pajak, yang antara lain berbunyi sebagai berikut:
Halaman 26 alinea ke-5 dan ke-6:
“bahwa oleh karena itu, Majelis sependapat dengan Pemohon Banding bahwa atas biaya bunga kepada GGG Co. Ltd. sebesar Rp. 12.590.748.640,00 dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 10% sesuai P3B Indonesia - Republik Korea;
bahwa dengan demikian Majelis berkesimpulan koreksi Terbanding atas tarif PPh Pasal 26 sebesar 20%
atas Bunga Pinjaman kepada GGG Co. Ltd., tidak dapat dipertahankan;”
2. Bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam perkara banding ini adalah koreksi atas pengenaan tarif pajak PPh Pasal 26 menjadi 20% atas obyek PPh Pasal 26 berupa pembayaran bunga jangka panjang kepada GGG, Co. Ltd dengan alasan tidak ada Surat Keterangan Domisili sebagai syarat untuk mendapatkan fasilitas sebagaimana diaturdalam P3B antara Indonesia dengan Korea.
3. Bahwa atas koreksi tersebut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) tidak sependapat dengan mengemukakan argumentasi yang pada intinya menyatakan atas pembayaran bunga kepada GGG, CO.Ltd seharusnya dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 10% karena terdapat Surat Pendaftaran Pengusaha Nomor register XXX-XX-00XXX yang diterbitkan oleh Pengawas Kantor Pajak Suyoung sebagai pengganti Surat Keterangan Domisili (certificate Resident Taxpayer).
4. Bahwa atas sengketa ini Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) berpendapat sebagai berikut : 4. 1. Bahwa bukti yang menurut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) SKD
adalah bukan SKD, melainkan Surat Pendaftaran Pengusaha.
4. 2. Bahwa Surat Pendaftaran Pengusaha yang ditunjukkan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) adalah berupa fotokopi (tidak ada asli).
4. 3. Bahwa surat tersebut dalam bahasa korea dan diterjemahkan oleh bukan penerjemah resmi.
5. Bahwa dalam penjelasan Pasal 26 Undang-Undang PPh disebutkan “Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri dari Indonesia, Undang-undang ini menganut dua sistem pengenaan pajak, yaitu pemenuhan sendiri kewajiban perpajakannya bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, dan pemotongan oleh pihak yang wajib membayar bagi Wajib Pajak luar negeri lainnya. Ketentuan ini mengatur tentang pemotongan atas penghasilan yang bersumber di Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luarnegeri selain bentuk usaha tetap.”
6. Bahwa berdasarkan ketentuan dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a Undang-Undang PPh berikut penjelasannya serta angka 2 dan angka 3 SE-03, dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan fasilitas sebagaimana dalam P3B berupa pengenaan tarif yang lebih rendah atau pembebasan pemotongan PPh Pasal 26 terhadap beberapa jenis penghasilan yang dibayar atau terutang oleh pihak yang membayar penghasilan yang berkedudukan di Indonesia kepada Wajib Pajak luar negeri yang berkedudukan di negara-negara treaty partner tersebut, maka disyaratkan “Wajib Pajak luar negeri wajib menyerahkan asli Surat Keterangan Domisili kepada pihak yang berkedudukan di Indonesia yang membayar penghasilan dan menyampaikan fotokopi Surat Keterangan Domisili tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak(KPP) tempat pihak yang membayar penghasilan terdaftar”.
7. Bahwa selanjutnya sesuai dengan angka 3 huruf a SE-03 ditentukan lebih lanjut Surat Keterangan Domisili yang dibuat oleh pejabat pada Kantor Pajak tempat Wajib Pajak luar negeri yang bersangkutan terdaftar dapat diterima dan dipersamakan dengan Surat Keterangan Domisili yang dibuat Competent Authority.
Bahwa dengan demikian dalam hal penerima pembayaran di luar negeri yang ingin mendapatkan fasilitas sebagaimana tercantum dalam P3B bisa menyerahkan SKD yang diterbitkan oleh Competent Authority negara yang bersangkutan atau dapat juga menyampaikan Surat Keterangan Domisili yang dibuat oleh pejabat pada Kantor Pajak tempat Wajib Pajak luar negeri yang bersangkutan terdaftar, karena dokumen ini dipersamakan dengan SKD yang dikeluarkan oleh Competent Authority.
8. Bahwa berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam SE-03, dalam hal pihak penerima pembayaran tidak dapat menyerahkan SKD yang diterbitkan oleh Competent Authority maka dapat diganti dengan SKD yang diterbitkan oleh pejabat Kantor Pajak dimana ia terdaftar. Bahwa hal ini merupakan kemudahan yang diberikan kepada pihak luar negeri sebagaimana ditegaskan pada angka 2 SE-03 tersebut. Bahwa ketentuan ini tidak dapat ditafsirkan bahwa SKD dapat digantidengan surat lain yang memuat keterangan yang sama.
9. Bahwa berdasarkan fakta yang terungkap di dalam persidangan dapat diketahui bahwa Wajib Pajak luar negeri yang menerima pembayaran bunga menyampaikan Surat Pendaftaran Pengusaha, bukan Surat Keterangan Domisili yang diterbitkan oleh Competent Authority atau Surat Keterangan Domisili yang diterbitkan oleh Kantor Pajak tempat Wajib Pajak penerima pembayaran bunga tersebut terdaftarsebagaimana ditentukan dalam SE-03.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
10. Bahwa berdasarkan fakta yang ada dikaitkan dengan ketentuan yang berlaku sebagaimana disampaikan di atas, Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) berpendapat bahwa Surat Pendaftaran Pengusaha sebagaimana disampaikan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) di dalam persidangan tidak dapat dipersamakan dengan Surat Keterangan Domisili yang diterbitkan kantor Pajak dimana Wajib pajak Luar negeri tersebut terdaftar.
Bahwa dengan demikian atas penerimaan pembayaran dari Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) berupa bunga pinjaman jangka panjang, GGG Co Ltd tidak berhak mendapatkan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam P3B Indonesia – Korea Selatan.
Bahwa dengan demikian atas pembayaran bunga tersebut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) wajib memotong pajak dengan tarif sebagaimana ketentuan pasal 26 Undang-Undang PPh yaitu sebesar 20%.
11. Bahwa berdasarkan argumentasi sebagaimana disampaikan di atas, Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) berpendapat keputusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang mengabulkan permohonan banding Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) terkait dengan sengketa pengenaan tarif PPh Pasal 26 atas pembayaran bunga pinjaman jangka panjang kepada GGG Co.Ltd tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undanganperpajakan yang berlaku.
12. Bahwa berdasarkan uraian diatas, keputusan Majelis yang tidak mempertahankan pengenaan tarif PPh Pasal 26 sebesar 20% atas pembayaran bunga pinjaman jangka panjang kepada GGG Co.Ltd telah dibuat tanpa pertimbangan yang cukup dan bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan sehingga melanggar ketentuan Pasal 78 Undang-Undang Pengadilan Pajak. Bahwa dengan demikian, Putusan Pengadilan Pajak NomorPut.46034/PP/M.I/13/2013 tanggal 01 Juli 2013 harus dibatalkan;
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
B. Sengketa atas koreksi kredit pajak sebesar Rp339.863.471,00 yang tidak dipertahankan oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak.
1. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) sangat keberatan dengan pertimbangan hukum Majelis Hakim Pengadilan Pajak, yang antara lain berbunyi sebagai berikut:
Halaman 29 alinea ke-6:
“bahwa dengan demikian Majelis berkesimpulan koreksi Terbanding atas kredit pajak sebesar Rp.
339.863.471,00 tidak dapat dipertahankan;”
2. Bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam koreksi positif kredit pajak sebesar Rp339.863.471,00 adalah tidak diakuinya bukti potong PPh Pasal 26 sebagai bukti pemotongan PPh Pasal 26 atas pembayaran bunga pinjaman jangka panjang kepada GGG Co. Ltd dengan alasan berdasarkan bukti potong yang dilampirkan dalam SPT masa PPh Pasal 26 diatas namakan JJJ bukan atas nama GGG Co. Ltd sebagaimana bukti potong yang lain terkait denganpembayaran bunga pinjaman jangka panjang ini.
3. Bahwa berdasarkan penelitian Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) atas dokumen dari Law Firm KKK & Notary Office Nomor Register X00 – XXXX yang berisi perjanjian pinjaman yang dilakukan oleh GGG Co Ltd selaku yang meminjamkan dan PT AAA (Termohon Peninjauan Kembali/semula Pemohon Banding) selaku pihak peminjam, dimana sesuai Pasal 2 pihak peminjam setuju untuk memberikan pinjaman jangka panjang kepada peminjam dalam agegat jumlah pokok (nominal) sebesar KRW5.000.000.000 (5.000.000.000).
Bahwa selanjutnya Pasal 5 menentukan pihak peminjam diwajibkan membayar bunga kepada pihak yang meminjamkan sesuai schedule amortisasi sebanyak 4(empat) kali pertahun : tanggal 5 Maret, tanggal 5 Juni tanggal 5 September tanggal 5 Desember dengan tingka bunga menarik sebesar 12.5% per tahun atas pinjaman pokok yang dikembalikan dan yang masih belum dilunsi (tingkat bunga menarik berkisar 15%).
4. Bahwa atas sengketa banding ini telah dilakukan uji bukti untuk memeriksa dokumen yang disampaikan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) di dalam persidangan dimana PemohonPeninjauan Kembali (semula Terbanding) berpendapat sebagai berikut :
4. 1. Bahwa Kredit pajak yang dilaporkan untuk PPh Pasal 26 tahun pajak 2005 adalah SSP sebesar Rp1.050.928.973,00 yang terdiri dari:
4.1.1. SSP PPh pasal 26 yang disetor untuk obyek PPh Pasal 26 WPLN gaji orang korea sebesar Rp131.717.580,00
4.1.2. SSP PPh Pasal 26 yang disetor untuk obyek PPh Pasal 26 Bunga pinjaman jangka panjang GGG Co. Ltd sebesar Rp919.215.393,00 atas obyek pembayaran bungakepada GGG Co. Ltd sebesar Rp9.192.153.930,00
4. 2. Bahwa dengan demikian Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) hanya mengakui bahwa SSP yang dijadikan kredit pajak hanya senilai Rp1.050.928.973,00.
Bahwa Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) belum menyetorkan sisanya sebesar Rp339.863.471,00.
4. 3. Bahwa dokumen yang ditunjukkan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) yang menurut Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) adalah atas pembayaran atau SSP sebesar Rp339.863.471,00 tidak dapat diyakini karena SSP dan SPT Masa PPN Pasal 26 tersebut bukti potong atasnama JJJ bukan atas nama GGG Co. Ltd.
4. 4. Bahwa SSP tersebut merupakan pembayaran SSP untuk Masa Pajak Desember 2006 sebesar Rp1.686.901.581,00 yang disetor pada tanggal 10 Januari 2007 melalui BNI cabang Samarinda.
5. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) tidak sependapat dengan keputusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang mengabulkan permohonan banding terkait dengan sengketa koreksi kredit pajak ini dengan pertimbangan GGG Internasional sebagai Kreditur sudah menyatakan JJJ. Ltd sebagai Penerima Kredit untuk menerima semua klaim yang berkaitan dengan investasi kepada Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding).
Bahwa karena bunga pinjaman ini timbul sebagai akibat dari adanya perjanjian antara Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) selaku debitur dan GGG Co, Ltd selaku kreditur, dengan demikian sesuai dengan ketentuan Pasal 26 pihak yang berkewajiban memenuhi PPh Pasal 26 adalah pihak yang secara hukum berhak atas pembayaran bunga tersebut dalam hal ini adalah GGG, Co Ltd dan beban pajak PPh Pasal 26 tidak dapat dipindahkan kepada pihak lain dalam hal ini JJJ sebagai pihak yang ditunjuk oleh GGG Co Ltd selaku Penerima Kredit untuk menerima semua klaim yang berkaitan dengan investasi kepada Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding).
6. Bahwa berdasarkan argumentasi sebagaimana disampaikan di atas, Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) berpendapat keputusan Majelis hakim Pengadilan Pajak yang mengabulkan permohonan banding Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) terkait dengan sengketa koreksi kredit pajak sebesar Rp339.863.471,00 tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundanganperpajakan yang berlaku.
7. Bahwa berdasarkan uraian diatas, keputusan Majelis yang tidak mempertahankan koreksi kredit pajak sebesar Rp339.863.471,00 telah dibuat tanpa pertimbangan yang cukup dan bertentangan dengan ketentuan perundang- undangan perpajakan sehingga melanggar ketentuan Pasal 78 Undang-Undang Pengadilan Pajak. Bahwa dengan demikian, Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.46034/PP/M.I/13/2013tanggal 01 Juli 2013 harus dibatalkan;
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
PERTIMBANGAN HUKUM
Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan peninjauan kembali tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:
Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan, karena putusan Pengadilan Pajak yang menyatakan mengabulkan seluruhnya banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Terbanding Nomor KEP-
44/PJ/2011 tanggal 11 April 2011 mengenai keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Pajak Penghasilan Pasal 26 Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2005 Nomor 00002/204/05/725/10 tanggal 18 Januari 2010 atas nama Pemohon Banding, NPWP 0X.X0X.XXX.0-XXX.000, sehingga pajak yang masih harus dibayar menjadi nihil adalah sudah tepat dan benar dengan pertimbangan:
a. Bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo yaitu alasan butir A tentang Tarif Pajak Penghasilan Pasal 26 atas objek berupa pembayaran bunga sebesar Rp12.590.748.640,00; dan alasan butir B tentang Koreksi Kredit Pajak sebesar Rp339.863.471,00;
yang tidak dipertahankan oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak tidak dapat dibenarkan, karena setelah meneliti dan menguji kembali dalil-dalil yang diajukan dalam Memori Peninjauan Kembali oleh Pemohon Peninjauan Kembali dan Termohon Peninjauan Kembali tidak mengajukan Kontra Memori Peninjauan Kembali tidak dapat menggugurkan fakta-fakta dan melemahkan bukti-bukti yang terungkap dalam persidangan serta pertimbangan hukum Majelis Pengadilan Pajak, karena dalam perkara a quo alasan butir A tidak dapat dibenarkan, terhadap biaya atas bunga yang dibayarkan kepada GGG International Co Ltd terikat dengan tax treaty dengan tarif 10% yang telah didukung dengan bukti yang memadai, sedangkan butir B koreksi atas kredit PPh Pasal 26 telah didukung dengan bukti pemtongan dan Surat Setoran Pajak (SSP) PPh Pasal 26 serta Laporan SPT Masa PPh Pasal 26 dan olehkarenanya koreksi Terbanding (sekarang Pemohon Peninjauan Kembali) dalam perkara a quo tidak dapat dipertahankan karena tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Penjelasan Pasal 29 ayat (2) Alinea Ketiga Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan juncto Pasal 26 ayat Undang-Undang Pajak Penghasilan juncto Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Indonesia - Republik Korea;
b. Bahwa dengan demikian, tidak terdapat putusan Pengadilan Pajak yang nyata-nyata bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Pasal 91 huruf e Undang-Undang Nomor14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali: DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tersebut tidak beralasan sehingga harus ditolak;
Menimbang, bahwa dengan ditolaknya permohonan peninjauan kembali, maka Pemohon Peninjauan Kembali dinyatakan sebagai pihak yang kalah, dan karenanya dihukum untuk membayar biaya perkara dalam peninjauan kembali;
Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak serta peraturan perundang-undangan yang terkait;
MENGADILI,
Menolak permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali: DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tersebut;
Menghukum Pemohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya perkara dalam pemeriksaan Peninjauan Kembali ini sebesar Rp2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu Rupiah);
Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Senin, tanggal 19 Juni 2017, oleh Dr. H.
KWZ, S.H., M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Dr. H. DPN, S.H., M.S., dan EML, S.H., M.H., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota Majelis, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota Majelis tersebut dan dibantu oleh RHV, S.H., Panitera
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak.
Anggota Majelis:
ttd.
Dr. H. DPN, S.H., M.S.
ttd.
EML, S.H., M.H.,
Ketua Majelis, ttd.
Dr. H. KWZ, S.H., M.H.
Panitera Pengganti, ttd.
RHV, SH, Biaya-biaya :
1. Meterai ... Rp 6.000,00 2. Redaksi ... Rp 5.000,00 3. Administrasi ... Rp 2.489.000,00 Jumlah ... Rp 2.500.000,00
Untuk Salinan MAHKAMAH AGUNG R.I.
a.n. Panitera
Panitera Muda Tata Usaha Negara
(CYQ, SH.) NIP. XX0000XXX.