• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

12

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka adalah salah satu dari serangkaian proses penelitian dimana dalam tahap ini dilakukan pencarian serta penggalian teori sebagai dasar dari proses penelitian. Teori yang disajikan meliputi beberapa konsep teori yaitu teori perumahan dan permukiman beserta elemen dan kriteria perencanaan lingkungan permukiman, teori permukiman kumuh dan penanganannya, teori relokasi , dan teori konsep dampak relokasi. Penggalian dan eksplorasi teori yang dilakukan membantu dalam mengkerangkakan konsep pemikiran, dan membantu perumusan variabel penelitian dan arah penelitian.

2.1 Permukiman Perkotaan

2.1.1 Pengertian Perumahan Permukiman Perkotaan

Manusia sebagai penghuni runag kota, memiliki beberapa kebutuhan dasar yang harus dipenuhi dalam kehidupannya. Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan tempat tinggal atau rumah. Sebagai kebutuhan yang tidak dapat digantikan, maka rumah atau tempat tinggal bagi kehidupan manusia memiliki peran yang sangat penting yang secara langsung rumah memberikan pengaruh yang cukup besar pada pembangunan suatu kota.

Didalam Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, dengan perkembangan peradapan manusia di dalam ruang kota maka rumah mengalami perkembangan fungsi. Fungsi rumah berkembang tidak hanya sebagai tempat tinggal didalam lingkungan yang dilengkapi dengan sarana-prasarana, namun juga berperan sebagai sarana pendidikan keluarga, investasi dan status sosial dalam masyarakat.

Kumpulan rumah-rumah yang mendiami suatu lingkungan sering disebut dengan perumahan. Menurut Charles Abrams (1964) dalam Tjuk Kuswartodjo

(2)

commit to user

13

(2005:3) ahli perumahan dari PBB, perumahan bukan hanya sebagai wadah fisik dan lindungan, tetapi merupakan bagian dari kehidupan komunitas dan keseluruhan lingkungan sosial. Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa perumahan dapat diartikan sebagai kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.

Dalam pembahasan terkait tentang rumah dan perumahan maka hal yang tidak dapat dipisahkan adalah istilah permukiman. Undang-Undang No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, menjelaskan pengertian permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.

Dalam Kamus Tata Ruang (1997:81) Permukiman didefinisikan sebagai:

 Bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan, maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

 Kawasan yang didominasi oleh lingkungan hunian dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal yang dilengkapi dengan prasarana , sarana lingkungan, dan tempat kerja yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja terbatas untuk mendukung perikehidupan dan penghidupan sehingga fungsi pemukiman tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna.

 Tempat atau daerah untuk bertempat tinggal , tempat untuk menetap.

Berdasarkan deklarasi Vancouver (1976) dalam Tjuk Kuswartodjo (2005:11) pemukiman mampu menjadi instrumen dan sekaligus menjadi objek pembangunan. Pengembangan pemukiman dapat menjadi pemandu mengatasi berbagai permasalahan diperkotaan sekaligus. Karena dalam melakukan perencanaan permukiman pada dasarnya terkait dengan masalah-masalah lain yang ada didalam kota tersebut seperti hukum, sosial, lingkungan, gender, politik, ekonomi, spasial, dan lain-lain.

(3)

commit to user

14

Dalam perencanaan ruang kota,perencanaan permukiman mempunyai kontribusi fisik yang paling besar pada lingkungan buatan maupun dalam menempari ruang kota dengan melibatkan banyak pelaku. Perencanaan perumahan juga memegang peranan yang sangat penting dalam pengendalian laju pembangunan agar berdampak positif dan berkesinambungan. Oleh karenanya, perencanaan perumahan mempunyai bagian yang penting dalam perencanaan tata ruang perkotaan.

2.1.2 Elemen Perumahan Permukiman Perkotaan

Dari berbagai pengertian perumahan permukiman dapat disimpulkan bahwa elemen permukiman terdiri dari dua bagian yaitu: manusia (baik sebagai pribadi maupun dalam hubungan sosial) dan tempat yang mewadahi manusia yang berupa bangunan (baik rumah maupun elemen penunjang lain). Menurut Constantinos A. Doxiadis (1968:21) ada lima elemen dasar permukiman :

 Nature (alam) yang bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah dan difungsikan semaksimal mungkin

 Man (manusia) baik pribadi maupun kelompok,

 Society (Masyarakat) bukan hanya kehidupan pribadi yang ada tapi juga hubungan sosial masyarakat,

 Shells (rumah) atau bangunan dimana didalamnya tinggal manusia dengan fungsinya masing-masing,

 Networks (jaringan atau sarana prasarana) yaitu jaringan yang mendukung fungsi permukiman baik alami maupun buatan manusia seperti jalan lingkungan, pengadaan air bersih, listrik, drainase, dan lain-lain.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan aktivitas manusia alam pun mengalami perubahan. Untuk mencapai tujuan permukiman yang ideal sangatlah dipengaruhi oleh kelima elemen dasar tersebut. Yaitu kombinasi antara alam, manusia, bangunan, masyarakat dan sarana prasarana. Constantinos A. Doxiadis (1968:35) menjabarkan elemen dasar tersebut sebagai berikut:

 Alam, meliputi iklim, kekayaan alam, topografi, kandungan air, tempat tumbuh tanaman, tempat binatang hidup.

(4)

commit to user

15

 Manusia, meliputi kebutuhan biologi, (ruang, udara, air, suhu, dll), rasa, kebutuhan emosi (hubungan manusia, keamanan, keindahan, dll), nilai moral dan budaya.

 Masyarakat , meliputi kepadatan penduduk, tingkat strata, budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hiburan,hukum.

 Bangunan, meliputi rumah, fasilitas umum (sekolah, rumah sakit, perdagangan, dll), tempat rekreasi, perkantoran, industri, transportasi.

 Sarana prasarana, meliputi jaringan (sistim air bersih,listrik,jalan,telepon,TV), sarana transportasi, drainase, sampah, MCK.

Kawasan lingkungan permukiman terdiri dari beberapa elemen–elemen pembentuknya. Menurut Suparno Sastra M dan Endy Marlina (2006:39) disebutkan bahwa elemen permukiman meliputi :

 Alam. Elemen alam meliputi :

 Geologi. Geologi adalah kondisi batuan dimana permukiman tersebut berada. Sifat dan karakter geologi dapat berbeda-beda, dipengaruhi oleh kondisi dan letak geografis yang berbeda.

 Topografi. Topografi adalah kemiringan suatu wilayah yang juga ditentukan oleh letak dan kondisi geografis suatu wilayah.

 Tanah. Tanah adalah media untuu untuk meletakan bangunan (rumah) dan menanam tanaman yang dapat digunakan untuk menopang kehidupan.

 Air. Air adalah sumber kehidupan yang pokok dan vital sepanjang kehidupan masih berlangsung. Dalam perencanaan pembangunan permukiman perlu dipertimbangkan keberadaan air melalui penataan maupun prosentase peruntukan lahannya.

 Tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan adalah salah satu elemen yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan guna mempertahankan dan meningkatkan kualitas manusia

 Hewan. Hewan adalah mahkluk hidup yang keberadaanya dapat mendukung dan menguntungkan kehidupan manusia.

 Iklim. Iklim adalah kondisi alam pada suau permukiman yang dipengaruhi oleh letak dan posisi geografis wilayah.

(5)

commit to user

16

 Manusia. Dalam lingkungan permukiman manusia sebagai pelaku utama keidupan disamping mahkluk hidup lainnya. Manusia membutuhkan berbagai hal yang dapat menunjang kehidupannya baik biologis , perasaan, persepsi, ekbutuhan emosional, dan kebutuhan akan nilai moral.

 Masyarakat. Masyarakat merupakan kesatuan sekelompok orang dalam suatu pemikiran yang membentuk suatu komunitas tertentu. Hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan masyarakat dalam mendiami suatu permukiman adalah kepadatan dan komposisi penduduk, kelompok sosial, adat dan kebudayaan, pengembangan ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum dan administrasi

 Bangunan Rumah. Bangunan atau rumah adalah wadah bagi manusia.

Perencanaan dan pengembangan rumah perlu diperhatikan agar sesuai dengan rencana kegiatan yang berlangsung ditempat tersebut.

 Networks. Networks merupakan sistem buatan maupun alam yang menyediakan fasilitas untuk operasional suatu wilayah permukiman. Sistem buatan dapat berbeda tingkat pemenuhannya disetiap wilayah yang berbeda.

Sistem buatan yang keberadaanya diperlukan adalah jaringan air bersih, listrik, transportasi, komunikasi, drainase & air kotor serta tata letak fisik.

2.1.3 Aspek Perencanaan Perumahan

Aspek-aspek yang mendasari perencanaan perumahan menurut Suparno Sastra M dan Endy Marlina (2006:30) adalah :

 Lingkungan. Hal yang utama dipertimbangkan dalam perencanaan perumahan adalah manajemen lingkungan yang baik dan terarah. Perencanaan lingkungan mencakup perencanaan lingkungan perumahan secara makro dan mikro dan diharapkan perubahannya mengarah pada keseimbangan daya dukung alam.

Lingkungan menurut H.R Mulyanto (2007;01) didefinisikan sebagai seluruh faktor yang mempengaruhi suatu organisme, faktor-faktor ini dapat berupa organisme hidup atau bariabel–variabel tidak hidup, misalnya seperti curah hujan, angin, dan lain-lain. Pengertian lingkungan menurut kamus tata ruang (1997:59) adalah :

 Bagian dari wilayah kelurahan yang merupakan lingkungan kerajaan pelaksana pemeritah desa.

(6)

commit to user

17

 Daerah yang termasuk didalamnya

 Keliling fisik atau sosial suatu daerah yang merupakan satu kesatuan unit, daerah keliling tersebut dapat bervariasi dalam hal keluasaanya, bisa dalam arti sempit maupun luas.

Sedangkan lingkungan menurut Undang-Undang RI No 23 Tahun 1997 adalah “ kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahklik hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahkluk hidup lainnya.”

Lingkungan secara sederhana adalah susuatu yang ada disekitar kita meliputi semua benda serta semua kondisi yang ada di dalam ruang yang kita tempati (Amsyori,1977; Supardi,1984). Lingkungan dikategorikan menjadi tiga yaitu lingkungan fisik, sosial ekonomi, dan biologis.

 Lingkungan fisik adalah sesuatu disekitar kita meliputi benda mati,seperti rumah,kendaraaan, gunung, udara, dan lainnya.

 Lingkungan sosial ekonomi meliputi manusia dan aktivitasnya disekitar kita.

 Lingkungan biologis yaitu sesuatu disekitar kita yang berupa organisme hidup selain manusia. Dalam hal ini, lingkungan fisik dapat disimpilkan meliputi bangunan/ rumah, kendaraan/ aksesibilitas, dan fisik dasar meiputi gunung, udara dan lainnya.

Menurut Siswono Yudohusodo dkk (1991:225) dalam Subagiyo (1999) menjelaskan bahwa pengertian lingkungan fisik sama artinya dengan lingkungan buatan manusia yang disebut dengan lingkungan permukiman. Menurut kamus tata ruang kota (1997:60) lingkungan permukiman diartikan sebagai kawasan perumahan lengkap dengan prasarana dan sarana kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan bagian dari suatu kota. Merujuk dari teori tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa lingkungan fisik adalah lingkungan permukiman yang dilengkapi dengan sarana prasarana penunjangnya.

Merujuk dari pengertian permukiman sebagai lingkungan hunian, pada perkembangannya permukiman kota memiliki kemajuan yang lebih pesat dari pedesaan karena semua fasilitas dan sarana terdapat dikota. Ditinjau secara fisik maka lingkungan permukiman kota terdiri atas beberapa pokok penunjang

(7)

commit to user

18

lingkungan hidup seperti air, anah,udara,vegetasi,manusia,rumah, dan fasilitas umum. Air,tanah,udara dan vegetasi dalam hal ini disebut dengan kondisi fisik dasar/unsur alam. Dari pengertian lingkungan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan alami adalah kondisi fisik dasar dari lahan/wilayah tersebut.

Menurut Djauhari Noor (2005;98) faktor–faktor lingkungan alami yang menentukan fisik dasar dari lahan permukiman atau wilayah adalah sebagai berikut :

 Ketinggian. Ketinggian suatu lahan diukur dari tinggi muka air laur rata-rata.

 Kelerengan/topografi. Perbedaan bentuk bentang alam bumi dapat dibedakan berdasarkan kelerengannya, yaitu :

Tabel 2.1 Kelerengan Bentang Alam Kelerengan

(%)

Bentang alam Kesesuaian

0-3 % Datar Sesuai untuk permukiman, pertanian. Sebagian wilayah berpotensi banjir dan drinase buruk.

3-9 % Landai Sesuai untuk industri berat, permukiman ,. Irigasi terbatas, tapi baik untuk dry farming. Drainase baik.

9-17% Bergelombang Erosi cukup tinggi, sesuai untuk area industri ringan, bangunan rendah/ apartemen, permukiman, rekreasi.

17-27% Terjal sesuai untuk Rekreasi, daerah buffer tanaman hutan atau padang rumput.

>50 % Sangat terjal sesuai untuk hutan, padang rumput terbatas.

Sumber : Geologi Lingkungan, 2005

 Jenis Batuan. Jenis batuan pada suatu lahan ditentukan oleh kondisi geologi lahan tersebut. Sumber geologi yang besar pada suatu lahan (air,bahan galian,energi) dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

 Jenis tanah.Jenis tanah yang menempati suatu lahan menentukan jenis tanaman apa yang sesuai tumbuh pada lahan tersebut. Sehingga potesi suatu lahan terhadap peruntukannya sangat ditentukan oleh jenis tanahnya. Sementara daya dukung lahan ditentukan oleh sifat keteknikan dari jenis tanah tersebut.

 Tutupan lahan. Tutupan lahan adalah segala jenis vegetasi maupun hasil budi daya manusia yang menempati suatu lahan.

(8)

commit to user

19

 Flora fauna. Peruntukan lahan untuk kepentingan tertentu harus dipertimbangkan aspek ekologinya, seperti flora fauna untuk menjaga kelestarian fauna dan flora yang terdapat di dalamnya.

 Hidrologi. Potensi hidrologi dari suatu lahan berasal dari hujan,air bawah tanah, air permukaan,air sungai, danau dan rawa. Potensi hidrologi ini akan mempengaruhi potensi dari lahan iu sendiri.

 Iklim dan posisi geografis. Letak ketinggian dan geografis suatu tempat/lahan sanagt menentukan kondisis iklim, seperti temperatur rata-rata, curah hujan rata-rata, kelembapan, angin, arah angin, awan dsb.

 Bencana alam.Bencana alam yang terjadi sebagai akibat dari proses alami yang menimpa manusia, karena kurang pedulinya manusia dalam memahami sifat- sifat dan karakter dari kondisi geografis setempat. Potensi bencana geologi yang terdapat di suatu wilayah sangat ditentukan oleh kondisi geologi yang menempati wilayah tersebut. Lahan yang berada di areal dataran dan berdekatan dengan bantaran sungai atau muara sungai akan berpotensi terkena bencana banjir. sedangkan lahan yang ada dipegunungan akan berpotensi terhadap longsoran dan erosi. Faktor lain yang mempengaruhi bencana adalah tutupan lahan, pemanfaatan lahan, eksploitasi lahan yang eebihi daya dukung lahan.

 Daya beli / affordability. Dalam perencanaan perumahan dipikirkan kesesuaian anatar ukuran bangunan, kebutuhan ruang, konstruksi bangunan, maupun bahan bangunan yang digunakan. Hal tersebut guna menagntisipasi kemampuan daya beli masyarakat yang berbeda-beda.

 Kelembagaan. Keberhasilan perencanaan perumahan tidak terlepas dari peran pemerintah,swasta, dan masyarakat yang mampu bersinergi untuk menciptakan lingkungan permukiman yang terpadu terarah dan terencana.

2.1.4 Kriteria Pembangunan Lingkungan Permukiman Perkotaan

Menurut White dalam Catanase dan Synder (1996:392) kriteria kondisi fisik dan kondisi lingkungan tempat tinggal dalam menyediakan atau merencanakan rumah dapat menggunakan acuan sebagai berikut :

Kualitas lingkungan fisik

(9)

commit to user

20

Kualitas dan tingkat kelengkapan sistem pelayanan kota, seperti fasilitas rekreasi, kantor polisi, dan lain-lain

Perilaku anti sosial yang tidak terlalu serius

Menurut Turner (1980:253) menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam upaya menyediakan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Beberapa aspek dasar yang perlu diperhatikan dalam perencanaan permukiman adalah :

Lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat yang dapat memberikan pekerjaan

Memiliki status kepemilikan lahan dan rumah

Bentuk dan kualitas bangunan rumah yang memenuhi standart

Harga rumah yang dapat terjangkau oleh pendapatan

Seperti yang diutarakan Turner (1980:253) sebelumnya, dalam menyediakan lokasi rumah tinggal baru, faktor lokasi adalah faktor yang sangat berpengaruh, yaitu tentang bagaimana menyediakan lokasi yang layak dan aman untuk lingkungan permukiman sehingga dapat dihuni dengan layak dan dikembangkan. Penyediaan lokasi yang layak bagi permukiman, secara langsung akan mempengaruhi kualitas dari rumah yang dibangun.

Berdasarkan Kepmen Permukiman dan Prasarana Wilayah No 403/KPTS/M2002, dalam menyediakan perumahan yang layak bagi kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah, sangat rendah dan informal harus memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Standart minimal kualitas rumah sederhana diperlukan dalam upaya memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan dan kenyamanan mengacu pada ketentuan rumah sederhana sehat, adalah :

Kebutuhan minimal masa dan ruang. Kebutuhan ruang dihitung berdasarkan aktivitas dasar yang dilakukan manusia didalam rumah, dengan kebutuhan ruang batas ambang batas sebesar 9m2 per orang dengan standart ambang batas 7,2m2 dan ketinggian rata-rata langit–langit adalah 2,80 meter. Sedangkan kebutuhan minimum ruangan pada rumah dihitung dengan memperhatikan kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK), kebutuhan luas bangunan kepala keluarga (KK), dan kebutuhan luas lahan per unit bangunan.

(10)

commit to user

21

Kebutuhan Kesehatan dan Kenyamanan. Kualitas suatu rumah juga ditentukan oleh kebutuhan akan kesehatan dan kenyamanan. Kebutuhan kesehatan dan kenyamanan ini dipengaruhi oleh tiga aspek, yaitu pencahayaan, penghawaan, suhu udara dan kelembapan ruangan di dalam rumah.

 Pencahayaan. Pencahayaan yang dimaksud adalah penggunaan terang langit, dengan ketentuan cuaca dalam keadaan cerah dan tidak berawan, ruangan kegiatan mendapatkan cukup banyak cahaya, ruang kegiatan mendapatkan distribusi cahaya secara merata.

 Penghawaan. Penghawaan yang dimaksud adalah adanya pergantian atau pengaliran udara secara kontinyu melalui ruangan, lubang–lubang pada bidang pembatas didinding atau partisi sebagai ventilasi sehingga memberikan kenyamanan dan tercipta rumah yang sehat. Pengahwaan secara alami dapat dibuat dengan membuat peranginan silang atau ventilasi silang dengan ketentuan lubang penghawaan minimal 5% dari luas lantai ruangan, udara yang mengalir masuk dama dengan volume udara yang mengalir keluar ruangan, udara yang masuk tidak berasal dari asap dapur atau bau kamar mandi/ WC.

 Suhu udara dan kelembaban. Suhu udara dan kelembaban di dalam suatu rumah, sangat mempengaruhi kualitas rumah. Rumah dinyatakan sehat dan nyaman (layak) dihuni, apabila suhu udara dan kelembaban udara ruangan sesuai dengan suhu tubuh manusia normal. Dimana suhu udara dan kelembaban ruangan sangat dipengaruhi oleh penghawaan dan pencahayaan. Penghawaan yang kurang atau tidak lancar akan menjadikan ruangan terasa pengap atau sumpek dan akan menimbulkan kelembaban tinggi dalam ruangan.

Kebutuhan Minimal Keamanan dan Keselamatan. Kebutuhan keamanan dan keselamatan rumah terdiri dari bagian–bagian dari struktur pokok bangunan rumah yang terdiri dari pondasi rumah, dinding rumah, atap dan lantai rumah.

 Pondasi. Secara umum sistem pondasi yang biasa digunakan untuk rumah sederhana dapat dikelompokan kedalam tiga sistem pondasi, yaitu: pondasi langsung; pondasi setempat; dan pondasi tidak langsung.

(11)

commit to user

22

 Dinding.Bahan dinding yang digunakan adalah conblock, papan, setengah conblock dan setengah papan atau bahan lain seperti bambu tergantung pada potensi bahan yang dominan pada daerah dimana rumah ini akan dibangun.

 Lantai. Bahan lantai pada umumnya adalah ubin, semen dan keramik. Bahan lantai dipilih agar tidak lembab dan tidak menimbulkan genangan atau kebecekan serta debu dibandingkan jika berlantaikan tanah.

 Atap genteng. Atap genteng adalah atap yang sesuai digunakan untuk permukiman didaerah tropis disamping harganya yang cukup murah.

Namun dibeberapa daerah di Indonesia juga menggunakan atap rumbai dan seng.

Secara umum, berdasarkan Kepmen Permukiman dan Prasarana Wilayah No 403/KPTS/M2002,kebutuhan dasar minimal yang dibutuhkan suatu rumah yang layak adalah sebagai berikut :

 Atap yang rapat dan tidak bocor

 Lantai yang kering dan mudah dibersihkan

 Penyediaan air bersih yang cukup

 Pembuangan air kotor yang baik dan memenuhi persyaratan kesehatan

 Pencahayaan alami yang cukup

 Udara bersih yang cukup melalui pengaturan sirkulasi udara sesuai dengan kebutuhan

Seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana sarana dan utilitas umum. Sehingga dalam upaya penyediaan perumahan harus dielngkapi dengan fasilitas sarana prasarana dan utilitas umum pendukungnya dalam mendukung kehidupan masyarakat.

Menurut Endang Saraswati (2001; 74) terdapat lima (5) bentuk fasilitas yang perlu disediakan di dalam suatu lingkungan permukiman. Fasilitas tersebut antara lain adalah :

 Penyediaan air bersih. Air bersih adalah kebutuhan yang vital dalam menunjang kehidupan manusia sebagai pelaku kehidupan kota. Air bersih diperlukan terutama untuk memenuhi kebutuhan untuk memasak, mandi dan

(12)

commit to user

23

lainnya. Kebutuhan minimal air bersih kurang lebih adalah 60 liter per orang per harinya. Penyediaan fasilitas air bersih dapat dilakukan oleh pihak pemerintah maupun swasta, melalui sambungan langsung rumah dari PDAM, melalui kran umum, sumur air tanah dangkalmapun dalam.

 Penyaluran air kotor. Penyaluran air kotor adalah fasilitas penyaluran air buangan rumah tangga dan tinja. Penyediaan fasilitas ini dapat dipenuhi melalui saluran kota ke instalasi pengolahan air limbah atau diolah secara individual dengan sistem septitank. Penyediaan fasilitas penyaluran air kotor ini dapat digunakan untuk menghindari timbulnya kerawanan terhadap penyakit perut. Selain penyaluran air kotor secara umum,sistem sanitasi juga meliputi fasilitas penyaluran air kotor dan pembuangan Tinja/kotoran. Jenis sanitasi bermacam-macam yaitu sanitasi terpusat, terpisah, tercampur. Sistem sanitasi tercampur adalah dimana saluran air kotor bercampur dengan saluran drainase. Sistem sanitasi terpisah adalah dimana sistem penyaluran air kotor terpisah dengan saluran drainase yang kemudian dialirkan ke suatu sistem untuk ditampung atau diolah. Sedangkan sistem sanitasi terpusat adalah dimana saluran penyaluran air kotor dan pembuangan tinja terintegrasi menuju sistem pembuangan yang sama untuk ditampung dan atau diolah. Sistem ini lebih baik dibandingkan dengan sistem saniatsi yang lain karena tidak mencemari lingkungan.

 Pembuangan limbah padat. Pembuangan limbah padat adalah fasilitas yang digunakan untuk pembuangan berupa sampah dari rumah tangga , terutama sampah yang ebrasal dari kegiatan dapur. Penanganan sampah harus dilakukan secara rutin dengan kapasitas operasional sebanding dengan jumlah samaph yang harus ditangani.

 Drainase. Fasilitas drainase adalah fasilitas penyaluran air hujan yang mutlak disediakan dalam suatu lingkungan permukiman terutama di lingkungan perkotaan. Sistem drainase diperkotaan diharapkan mampu menampung air hujan, sehingga mampu mencegah timbulnya genangan air dan bencana banjir kecil.

(13)

commit to user

24

 Jalan lingkungan. Fasilitas jalan lingkungan adalah sarana hubungan lokal antar warga masyarakat yang menghuni suatu wilayah atau kota. Fasilitas ini sangat penting karena berperan juga sebagai penghubung antar daerah yang memungkinkan manuisa melakukan segala aktivitasnya.

Dari penjabaran diatas,dapat diambil kesimpulan bahwa nilai dari suatu kualitas permukiman sangat ditentukan oleh fasilitas dan kondisi lingkungannya.

Kelengkapan fasilitas di lingkungan sekitar permukiman sangat mempengaruhi kualitas permukiman itu sendiri. Menurut Patrick I. Wakely, Hartmut Schemetzer and Babar K. Muntaz dalam Eny Endang Surtiani (2006) menyebutkan bahwa ada beberapa indikator yang mempengaruhi nilai suatu perumahan antara lain yaitu:

 Kondisi dari bangunan-bangunannya,

 Ketersediaan supply air, sistem drainase yang baik, tersedianya pembuangan sampah yang memadai,

 Kemudahan akses ke fasilitas perdagangan, fasilitas kesehatan, ketersediaan sekolah dan mudah dicapai dengan angkutan umum,

 Ketersediaan fasilitas umum seperti tempat ibadah dan rekreasi,

 Kepadatan penduduk yang tidak terlalu tinggi,

 Keamanan dan kesehatan yang terjamin.

Berdasarkan Kepmen Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 534/KPTS/M/2001 prasarana dan sarana serta utilitas umum yang perlu disediakan dalam lingkungan permukiman perkotaan adalah sebagai berikut :

 Fasilitas prasarana lingkungan yang harus disediakan adalah Jaringan jalan (meliputi jalan kota, jalan lingkungan dan jalan setapak), Air limbah atau sanitasi, Drainase dan pengendali banjir, Persampahan

 Fasilitas sarana lingkungan yang harus disediakan adalah Sarana niaga , Sarana pendidikan,Sarana pelayanan kesehatan, Sarana pelayanan umum, Sarana ruang terbuka hijau, Sarana sosial / budaya

 Fasilitas utilitas umum yang harus disediakan adalah Air minumdan Pemadam kebakaran

(14)

commit to user

25

2.1.5 PerubahanLingkungan Permukiman

Dalam perkembangan perumahan permukiman di pusat kota dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut Constantinos A. Doxiadis (1969) disebutkan bahwa perkembangan perumahan permukiman (development of human settlement) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

 Growth of density (Pertambahan jumlah penduduk). Dengan adanya pertambahan jumlah penduduk yaitu dari kelahiran dan adanya pertambahan jumlah keluarga, maka akan membawa masalah baru. Secara manusiawi mereka ingin menempati rumah milik mereka sendiri. Dengan demikian semakin bertambahlah jumlah hunian yang ada di kawasan permukiman tersebut yang menyebabkan pertumbuhan perumahan permukiman.

 Urbanization (Urbanisasi). Dengan adanya daya tarik pusat kota maka akan menyebabkan arus migrasi desa ke kota maupun dari luar kota ke pusat kota.

Kaum urbanis yang bekerja di pusat kota ataupun masyarakat yang membuka usaha di pusat kota, tentu saja memilih untuk tinggal di permukiman di sekitar kaeasan pusat kota (down town). Hal ini juga akan menyebabkan pertumbuhan perumahan permukiman di kawasan pusat kota.

Menurut Danisworo (1997: 83-112) dalam Eny Endang Surtiani (2006) menyebutkan bahwa tumbuhnya permukiman-permukiman spontan dan permukiman kumuh adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses urbanisasi. Seiring dengan pertumbuhan kehidupan manusia baik ekonomi, sosial maupun budaya maka manusia berkeinginan untuk memiliki kehidupan dan status yang lebih baik yaitu dengan mengadakan perubahan-perubahan, seperti perubahan gaya hidup dan perubahan pada bentuk hunian yang mereka tinggali.

Perubahan tersebut akan berpengaruh pada penyediaan fasilitas sarana prasarana lingkungan yang harus bertambah juga jika jumlah permukiman bertambah.

Menurut Constantinos A. Doxiadis (1969:25), mempelajari tentang kawasan Perumahan Permukiman tidak hanya mempelajari area terbangun dan area terbuka saja tetapi juga fungsi dari kawasan tersebut. Oleh karenanya dalam mempelajari tentang perumahan permukiman atau fungsinya, kita juga harus mengetahui hubungan kawasan tersebut dengan lingkungan sekitar di luar

(15)

commit to user

26

kawasan tersebut dan mengetahui jalur transportasi yang menghubungkan kawasan tersebut dengan kawasan lainnya. Karena aktifitas disekitar kawasan permukiman juga sangat mempengaruhi fungsi dari permukiman.

Dari penjelasan diatas,dapat disimpulkan bahwa perubahan pada lingkungan permukiman tidak terbatas pada area terbangun seperti sarana prasarana dan aksesibilitas saja, namun juga fungsi kawasan tersebut. Perubahan penampakan fungsi kawasan ditandai dengan perubahan fisik spasial yang menuju ke fungsi perkotaan. Dilihat dari morfologinya, perubahan tersebut dapat dilihat dari beberapa karakteristik seperti karaketristik pemanfaatan lahan, karakteristik bangunan, dan sirkulasi. (Yunus, 2006: 10-19):

Yunus (2008:161), perubahan transformasi wilayah sebagai akibat dari kedatangan penduduk dan fungsi juga akan mepengaruhi kondisi lingkungannya.

Kondisi lingkungan meliputi abiotik, biotil, demografi, sosial, ekonomi dan kultur wilayah. Kondisi lingkungan tersebut akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu yang tidak sama antar bagian. Semakin mendekati kota maka pengaruh kondisi fisik lingkungan yang ditimbulkan juga akan semakin besar atau kuat.

Demikian pula halnya dengan pengaruh kota yang ditimbulkan terhadap kondisi fisikalnya. Kondisi fisikal kekotaan merupakan indikator normatif yang menjadi acuan setiap bentuk transformasi fisikal ruang (Yunus,2008;163).

Perubahan terhadap kondisi fisik lingkungan atau transformasi fisikal karena kedatangan penduduk, terkait dengan konsepsi morfologi kota (urban morfologi) ada beberapa kriteria yang dibahas.

 Karakteristik pemanfaatan lahan/Land use. Pada dasarnya bentuk pemanfaatan lahan adalah artikulasi kegiatan manusia yang cuma ada diatas sebidang tanah yang dapat digunakan sebagai pembeda dalam pemanfaatan lahan adalah orientasi pemanfaatan lahan/orientasi fungsi lahan. Pemanfaatan lahan menuju ke fungsi perkotaan dalam bentuk konversi tidak semata-mata dilihat berdasarkan perubahan fungsi dari pertanian menjadi non pertanian, akan tetapi perubahan tersebut juga bukan untuk mendukung kegiatan pertanian.

 Karakteristik Bangunan. Bangunan yang dimaksud dalam bagian ini adalah bangunan permukiman dan bangunan yang digunakan untuk mengakomodasi

(16)

commit to user

27

kegiatan mianusia. Untuk memahami karakteristik bangunan, dapat bertitik tolak pada luas bangunan, tinggi bangunan, kondisi material bangunan, tampilan arsitektur bangunan, proses pembangunan, kepemilikan bangunan, tata letak bangunan, status bangunan, fungsi bangunan, dan karakteristik lainnya.

 Karakteristik Permukiman. Karkteristik permukiman ditekankan pada performa spasial dari kesatuan tempat tinggal yang didalamnya terdapat bangunan baik untuk tempat tinggal maupun tidak. Fasilitas tempat tinggal meliputi jaringan air minum, jaringarn listrik, sanitasi, bangunan pemerintahan,

 Karakteristik Sirkulasi. Secara harfah, sirkulasi diartikan sebaagai yaitu peredaran barang, jasa dan informasi yang dihubungkan melalui jaringan transportasi dan komunikasi. Sirkulasi yang dimaksudkan adalah sebagai hal yang menunjag terciptanya gerakan penduduk dan barang. Sehingga secara spesifik, sirkulasi terfokus pada prasarana dan sarana transportasi, yang meliputi transportasi umum, jaringan jalan.

2.2 Relokasi

2.2.1 Pengertian Relokasi

Menurut Asian Development Bank (1999) Relokasi memiliki pengertian sebagai membangun kembali perumahan, harta kekayaan, termasuk tanah produktif dan prasarana umum di lokasi lain. Sedangkan relokasi berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia (1996) adalah pemindahan tempat atau pemindahan dari suatu lokasi ke lokasi yang lain.

Relokasi menurut Pedoman Pelaksanaan Peremajaan Permukiman Kumuh diatas tanah negara dalam Instruksi Presiden RI nomor 5 tahun 1991 adalah pemindahan suatu kawasan permukiman dari suatu lokasi ke lokasi yang lain dengan melakukan pembongkaran sebagian atau seluruh permukiman yang berada diatas tanah negara atau tanah perorangan untuk dibangun kembali dengan prasarana dan fasilitas lingkungannya bertujuan mendorong penggunaan tanah yang lebih efisien, meningkatkan teknik bangunan, memudahkan penyediaan prasarana dan fasilitas lingkungan permukiman yang diperlukan serta

(17)

commit to user

28

mewujudkan kawasan kota yang ditata secara lebih baik sesuai dengan fungsinya sebagaimana ditetapkan dalam rencana tata kotanya. Dari definisi-definisi diatas,dapat disiimpulkan bahwa apabila dilihat dalam konteks relokasi untuk permukiman maka relokasi permukiman dapat diartikan sebagai pemindahan suatu lingkungan permukiman dari suatu lokasi menuju ke lokasi baru.

Rekomendasi dari Bank Dunia (1999) tentang pelaksanaan relokasi adalah bahwa sebelum memutuskan rencana relokasi permukiman maka perlu mempersiapkan kerangka rencana atau kebijakan mengenai relokasi secara matang. Kerangka rencana yang harus dipertimbangkan adalah pada tahap sebelum melakukan rencana penempatan lokasi rumah tinggal baru maka tahap yang perlu dilakukan adalah melakukan penetapan lokasi baru untuk tinggal nantinya.Lokasi baru bagi masyarakat wajib memenuhi persyaratan seperti :

 Kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah nasional, rencana tata ruang wilayah provinsi, dan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota

 Kesesuaian dengan rencana tata bangunan dan lingkungan

 kondisi dan kualitas prasarana, sarana, dan utilitas umum yang memenuhi persyaratan dan tidak membahayakan penghuni;

 Tingkat keteraturan dan kepadatan bangunan;

 Kualitas bangunan; dan

 Kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat.

Lokasi dan kualitas tempat relokasi baru adalah faktor penting dalam perencanaan kebijakan relokasi. Dimana peran lokasi dan kualitas tempat tinggal baru akan memberikan pengaruh pada hal-hal berikut ini,seperti :

 Kemudahan menuju ke lahan usaha,

 Jaringan sosial,

 Pekerjaan, bidang usaha, kredit dan peluang pasar.

Selain faktor lokasi yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kebijakan relokasi, hal yang perlu diperhatiakn selanjutnya untuk keberhasilan relokasi adalah tahapan atau prosedur dalam pelaksanaan relokasi. Menurut pengalaman World Bank (1994) faktor utama yang memberikan sumbangan terhadap keberhasilan relokasi antara lain adalah:

(18)

commit to user

29

 Komitmen politik peminjam dalam bentuk undang-undang, kebijaksanaan dan alokasi sumber daya.

 Ketaatan pelaksanaan pada petunjuk dan prosedur yang telah disusun

 Analisis sosial yang logis, penyelidikan data kependudukan yang dapat dipercaya, dan keahlian teknis yang tepatdalam merencanakan pemukiman kembali yang berorientasi pada pembangunan

 Perkiraan biaya yang dapat diandalkan dan ketentuan pendanaan yang diperlukan, dengan pentahapankegiatan pemukiman kembali yang sejalan dengan pembangunan pekerjaan sipil

 Instansi pelaksana yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan kesempatan dan kendala pembangunan daerah; dan

 Partisipasi masyarakat dalam menetapkan tujuan pemukiman kembali,mengidentifikasi cara-cara penyelesaian permasalahan dan melaksanakannya.

2.2.2 Pengaruh Relokasi

Pengaruh adanya relokasi dapat terjadi pada pelaku maupun masyarakat setempat yang didatangi. Pengaruh adanya relokasi bagi pelaku menurut Asian Development Bank (1999) diartikan sebagai kehilangan kekayaan fisik dan non fisik, termasuk rumah, lingkungan sosial, tanah produktif, modal dan sumber pendapatan, nafkah, sumber daya, lokasi peninggalan budaya, struktur sosial, jaringan kerjasama dan relasi, identitas atau nilai sosial budayad an mekanisme tolong menolong.

Pengaruh yang sering timbul karena relokasi bagi masyarakat pelaku adalah perumahan, struktur dan sistem masyarakat, hubungan sosial, dan pelayanan sosial dapat terganggu. Sumber produktif seperti mata pencaharian dapat saja hilang. Kultur budaya dan kebertetanggaan serta kegotongroyongan yang sudah ada dalam masyarakat dapat menurun. Lebih jauh, akibat karena kehilangan mata pencaharian dapat pula mendorong timbulnya eksploitasi ekosistem di lingkungan baru, kesulitan hidup, ketegangan sosial, dan kemiskinan.

(19)

commit to user

30

Selain memberikan pengaruh langsung bagi masyarakat yang melakukan relokasi, menurut Asian Development Bank (1999) relokasi juga mempengaruhi masyarakat penduduk setempat dilokasi permukiman baru. Pengaruhnya mencakup dalam berbagai bidang seperti :

 Pekerjaan. Sebagai bentuk pengaruh bertambahnya populasi dari masyarakat yang dipindahkan dilokasi tujuan relokasi adalah berubahnya atau bertambahnya jenis/macam pekerjaan bagi masyarakat yang didatangi. Secara positif hal ini mampu memberikan efek pada meningkatnay kondisi/kemampaun ekonomi bagi masyarakat yang didatangi sekaligus berperan dalam menciptakan integrasi sosial yang baru.

 Penggunaan sumber daya milik umum. Sebagai bentuk pengaruh bertambahnya populasi dari masyarakat yang dipindahkan dilokasi tujuan relokasi adalah dalam penggunaan sumber daya milik bersama atau fasilitas sosial seperti sarana prasarana dan utilitas umum. Prasarana dan fasilitas penunjang di kawasan relokasi dapat dimanfaatkan bersama-sama dengan masyarakat setempat (penduduk asli) dan masyarakat ini dapat bekerja-sama dengan pemukim dalam program pembangunan ekonomi dan integrasi sosial.

 dan eksploitasi sumber daya alam. Salah satu upaya dalam mempertahankan kehidupannya di lingkungan yang baru sangat mungkin bagi masyarakat yang dipindahkan melakukan eksploitasi sumber daya alam yang ada di lokasi tujuan. Ekspoitasi yang dilakukan secara berlebihan akan membawa dampak yang buruk bagi ekosistem alam maupun bagi kehidupan masyarakat itu sendiri.

Evaluasi yang dilakukan oleh World Bank (1994) terhadap beberapa program relokasi di negara–negara dunia ketiga lebih banyak menunjukan perubahan negatif. Perubahan yang mungkin muncul dari relokasi menurut World Bank dilihat dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan pada penduduk yang dipindahkan tersebut.adalah :

 Rumah-rumah ditinggalkan, sistem produksi tercabut, dan kekayaan/modal yang produktif sumber pendapatan hilang. Penduduk ini mungkin ditempatkan di lokasi dimana keterampilannya tidak dapat diterapkan, persaingan sumber

(20)

commit to user

31

daya lebih ketat, dan kemungkinan ada pertentangan adat-istiadat, antara penduduk setempat dengan pemukim baru.

 Struktur masyarakat, jaringan sosial dan ikatan kekeluargaan yang sudah mapan kemudian menjadi melemah bahkan terputus.

 Identitas budaya, kepemimpinan informal, dan sifat tolong menolong juga merosot. Untuk dapat bertahan hidup, penduduk tersebut terpaksa mengeksploitasi lingkungan sekitarnya yang mengakibatkan semakin besar degradasi lingkungan.

 Selain itu , ketiadaan pembuatan langkah-langkah yang tepat untuk ganti rugi, relokasi dapat menyebabkan kesulitan jangka panjang, kemiskinan dan bahkan mungkin merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat; dapat berdampak negatif kepada penduduk setempat/lama; dan menimbulkan kerusakan lingkungan yang besar.

Selain perubahan negatif yang muncul karena adanya relokasi, beberapa dampak positif yang dapat muncul dari keberhasilan relokasi adalah sebagai berikut :

 Menghindarkan kemiskinan

 Menciptakan mata pencaharian yang berkesinambungan

 Kondisi rumah yang membaik

Studi tentang relokasi telah banyak dilakukan baik oleh lembaga Internasional maupun Nasional. Namun, studi yang dilakukan selama ini ebih banayk terfokus pada pengaruh relokasi bagi masyarakat yang dipindahkan.

Sedangkan studi tentang pengaruh bagi masyarakat setempat jarang ditemukan.

2.3 Penentuan Variabel

Setelah proses pengkajian teori selesai dilakukan,tahap selanjutnya adalah menentukan variabel-variabel penelitian. Alat ukur atau indikator dari setiap variabel yang dipilih ditentukan berdasarkan pertimbangan–pertimbangan tertentu seperti kondisi di lapangan,batasan waktu dan tenaga. Dalam menentukan variabel dan indikator tersebut dilakukan melalui serangkaian proses preposisi dan

(21)

commit to user

32

pengkajian teori melalui tinjauan teori pada proses sebelumnya. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu bariabel bebas dan variabel terikat.

2.3.1 Variabel bebas/Independent

Variabel bebas adalah variabel yang memberi pengaruh terhadap variabel lain. Dalam penelitian ini,variabel yang memberi pengaruh adalah adanya pertambahan penduduk (masyarakat pendatang) dari relokasi permukiman kumuh di Kota Surakarta. Relokasi permukiman kumuh yang dimaksud adalah perpindahan masyarakat atau penduduk dalam jumlah yang signifikan beserta huniannya untuk bermukim di RW 29. Hunian/rumah beserta populasi manusia yang dipindahkan baik secara kuantitas dan kualitas memberikan pengaruh terhadap perubahan dilokasi tujuan atau RW 29.

Bentuk fisik dari hunian/rumah dan material yang digunakan seperti bahan dinding,atap,lantai,dan laus bangunan rumah yang dipindahkan secara fisik tentu saja akan memberikan pengaruh pada perubahan spasial di RW 29. Manusia dalam kelompok masyarakat memiliki karakteristik sosial dan ekonomi tertentu.

Dalam hal ini masyarakat pendatang yang lama tinggal di bantaran sungai tentu memiliki karakteristik sosial seperti kultur budaya, sistem sosial, interaksi sosial dan karakteristik ekonomi seperti mata pencahariaan dan pendapatan yang mungkin berbeda dengan masyarakat asli/setempat di RW 29. Perbedaan karakteristik sosial ekonomi antara masyarakat asli RW 29 dengan masyarakat pendatang dimungkinkan memberikan pengaruh terhadap perubahan diRW 29.

Tabel 2.2 Penentuan Variabel Bebas

No Variabel Indikator

1 Kualitas fisik bangunan - Luasan bangunan

- Kelengkapan fisik bangunan 2 Karakteristik sosial ekonomi

pendatang

- Karakteristik sosial - Karakteristik ekonomi Sumber : Analisis Penulis, 2012

2.3.2 Variabel Terikat.

Pertambahan penduduk di RW 29 diikuti dengan pembangunan rumah baru, sarana prasarana baru, jalan lokal baru,dan fasilitas lainnya tentu saja akan mempengaruhi kondisi rumah,sarana prasarana,jalan lingkungan dipermukiman yang sudah ada sebelumnya di RW 29. Tidak hanya itu,secara fisik akan

(22)

commit to user

33

mempengaruhi perubahan pemanfaatan lahan yang ada diRW 29 sebelumnya.

Sehingga disimpulkan bahwa, pertambahan penduduk(masyarakat pendatang) karena relokasi permukiman kumuh bantaran Sungai Bengawan Solo mampu memberikan pengaruh terhadap perubahan kondisi dari lingkungan permukiman masyarakat asli di RW 29 karena variabel terikat adalah variabel yang mendapatkan pengaruh dari variabel bebas dimana yaitu perubahan kualitas lingkungan permukiman masyarakat asli RW 29.

 Kualitas fisik hunian/bangunan. Kualitas dari bangunan suatu rumah dapat dilihat dari beberapa aspek fisik seperti luas kavling rumah dan luas bangunan rumah yang memenuhi kebutuhan minimal ruang perorang, bahan dinding,lantai, sumber air bersih, sistem sanitasi. Kualitas bangunan adala indikator yang dapat mempengaruhi nilai suatu perumahan. Standart kualitas bangunan rumah yang baik dilihat dari segi konstruksi fisik bangunan rumah, segi arsitekturnya, segi fungsi rumah, dan juga status kepemilikan rumah.

Dilihat dari segi konstruksi fisik bangunan rumah, standart yang dapat digunakan adalah kebutuhan minimal mutuhan masa dan ruang, kebutuhan kesehatan dan kenyamanan,kebutuhan minimal keamanan dan kenyamanan.

 Penggunaan lahan/ pemanfaatan lahan. Perubahan lingkungan permukiman tidak terbatas pada aspek area terbangun saja tetapi juga mencakup pada aspek fungsi kawasan itu sendiri. Dalam konsep morfologi kota, perubahan fungsi kawasan adalah perubahan fungsi kawasan menuju fungsi kekotaan yang disebut dengan istilah elemen pemanfaatan lahan dengan elemen pemanfaatan lahan meliputi tipe / fungsi pemanfaatannya baik yang mendukung fungsi kekotaan maupun fungsi pertanian , kepadatan bangunan, serta pemanfaatan untuk menjaga fungsi lingkungan alami berupa vegetasi dengan tersedianya ruang terbuka hijau.

 Sarana prasarana. Perubahan lingkungan permukiman pada area terbangun salah satunya dalah sarana prasarana. Kelengkapan sarana prasarana / fasilitas lingkungan sekitar permukiman sangat mempengaruhi kualitas lingkungan permukiman itu sendiri. Fasilitas lingkungan yang perlu disediakan dalam lingkungan permukiman adalah pembuangan limbah padat/persampahan,

(23)

commit to user

34

drainase ,sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana perdagangan dan tempat ibadah.

 Aksesibilitas. Perubahan lingkungan permukiman pada area terbangun salah satunya adalah aksesibilitas. Bertambahnya populasi disuatu wilayah maka bertambah pula kegiatan didalam wilayah tersebut. Menurut Constantinos (1968), dalam mempelajari kawasan permukiman maka perlu juga mempelajari transportasi yang ada diwilayah tersebut. Yunus (2008), menyebutkan bahwa peubahan kondisi fisik lingkungan sebagai akibat dari kedatangan penduduk salah satunya adalah karakteristik sirkulasi. Sirkulasi sebagai sarana yang mendukung/menunjang terciptanya pergerakan baik penduduk dan barang seperti jaringan jalan dan angkutan umum. Dalam mempelajari transportasi di kawasan permukiman. Perubahan kondisi aksesibilitas dibedakan menjadi dua, yaitu kualitas Jaringan jalan dan angkutan umum.

Tabel 2.3 Penentuan Variabel Terikat

No Variabel Indikator

1 Penggunaan Lahan - Luas/prosentase Pemanfaatan lahan permukiman - Luas/prosentase pemanfataan lahan non permukiman - Intensitas Bangunan

2 Kualitas fisik bangunan - Luasan bangunan - Sarana Prasarana Hunian 3 Sarana Prasarana

Lingkungan

- Sarana pendidikan - Sarana kesehatan - Sarana perdagangan - Sarana tempat ibadah - Sistem persampahan - Sistem Drainase

4 Aksesibilitas - Kualitas dan Kuantitas jaringan jalan

- Jenis dan trayek jaringan angkutan umum yang melayani Sumber : Analisis Penulis, 2012

(24)

commit to user

35 KETERANGAN :

: mempengaruhi

Sumber : Analisis penulis , 2012 Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

Lokasi tujuan Relokasi (RW29) Relokasi Permukiman

Kumuh di Kota Surakarta

1. Karakteristik Sosial, Ekonomi masyarakat pendatang

2. Kualitas fisik bangunan rumah masyarakat pendatang 3.

Karakteristik sosial ekonomi masyarakat asli

Karakteristik fisik masyarakat asli

Kualitas bangunan

Penggunaan Lahan

Sarana Prasarana lingkungan

Aksesibilitas

RW 29 sebelum Ada Relokasi

RW 29 sesudah ada Relokasi

Karakteristik sosial ekonomi masyarakat asli

Karakteristik fisik masyarakat asli

Kualitas bangunan

Penggunaan Lahan

Sarana Prasarana Lingkungan

Aksesibilitas

Perubahan fisik lingkungan permukiman

setelah kedatangan relokasi

Pengaruh kedatangan relokasi terhadap Perubahan fisik lingkungan permukiman RW 29

Referensi

Dokumen terkait

Melihat semakin meningkatnya permintaan masyarakat menjadikan Pegadain Syariah dan mengunakan produk gadai sebagai pilihan yang tepat tentunya hal ini dipengaruhi banyak faktor,

BBI merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi produk secara kustom, sebagai perusahaan manufaktur tentu pengurangan biaya perlu dilakukan dengan harapan untuk

Cat 313D LGP Seri 2 dilengkapi dengan roller Carrier dan Track tahan lama yang dirancang untuk bekerja pada aplikasi yang paling sulit.. Penyangga Roller Track juga telah dirancang

Organisme yang mampu maupun yang tidak mampu bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang mengalami perubahan biasanya dapat dijadikan sebagai biota indikator dari

Hampir 70 persen dari jumlah kepala keluarga melaporkan pertanian sebagai pekerjaan mereka, sedangkan di antara penduduk quintile termiskin berdasarkan pengeluaran, 92 persen

Persen elongasi dan KPAP dijadikan parameter mutu inti mie basah karena kebiasaan masyarakat mengkonsumsi mie menggunakan sumpit sehingga diharapkan mie basah tidak mudah putus,

Pembelajaran matematika dalam penelitian ini adalah suatu proses pemerolehan keterampilan menalar dan melogika melalui berhitung dasar pada aspek pengurangan

Berangkat dari permasalahan tersebut, bangunan yang akan dirancang tidak hanya sekedar untuk menampung lansia, tetapi juga dapat memberdayakan bagi lansia potensial dan