• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Fajar Eko Nurcahyo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh: Fajar Eko Nurcahyo"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

i

STRATEGI POLITIK DAN HEGEMONI (Strategi Pemenangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan di Pemilihan Bupati Kabupaten Sumedang 2018

dalam Menghadapi Hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Fajar Eko Nurcahyo 11151120000036

PROGRAM STUDI ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2020

(2)

i

STRATEGI POLITIK DAN HEGEMONI (Strategi Pemenangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan di Pemilihan Bupati Kabupaten Sumedang 2018

dalam Menghadapi Hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar)

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Fajar Eko Nurcahyo NIM: 11151120000036

Dosen Pembimbing,

Dr. Idris Thaha, M.Si NIP. 19660805 200112 1 001

PROGRAM STUDI ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2020

(3)

ii

(4)

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI Dengan ini, pembimbing skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:

Nama : Fajar Eko Nurcahyo NIM : 11151120000036 Program Studi : Ilmu Politik

Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:

STRATEGI POLITIK DAN HEGEMONI (Strategi Pemenangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan di Pemilihan Bupati Kabupaten Sumedang 2018 dalam Menghadapi Hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar).

Memenuhi persyaratan untuk diuji.

Jakarta, 25 Juni 2020

Mengetahui, Mengetahui,

Ketua Program Studi Pembimbing

Dr. Iding Rosyidin, M.Si Dr. Idris Thaha, M.Si NIP. 19701013 200501 1 003 NIP. 19660805 200112 1 001

(5)

iv

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI SKRIPSI

STRATEGI POLITIK DAN HEGEMONI (Strategi Pemenangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan di Pemilihan Bupati Kabupaten Sumedang 2018 dalam

Menghadapi Hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar) Oleh:

Fajar Eko Nurcahyo 11151120000036

Telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 20 Juli 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Ilmu Politik.

Ketua, Sekretaris,

Dr. Iding Rosyidin, M.Si Suryani, M.Si

NIP. 19701013 200501 1 003 NIP. 19770424 200710 2 003

Penguji 1, Penguji 2,

Drs. Agus Nugraha, M.A Adi Prayitno, M.Si

NIP. 19680801 200003 1 001 NIP. -

Ketua Program Studi Ilmu Politik, FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dr. Iding Rosyidin, M.Si NIP. 19701013 20050 1 003

(6)

v ABSTRAK

Penelitian ini menganalisa strategi politik dalam pemenangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan pada pemilihan bupati 2018 di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, oleh tim suksesnya dan strategi dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Penelitian ini mengetahui bentuk strategi politik yang digunakan oleh tim sukses Dony-Erwan dan mengetahui keadaan peta politik Sumedang serta cara yang dilakukan oleh tim sukses Dony-Erwan dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar di pilbup Sumedang 2018.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui pengumpulan data wawancara yang melibatkan 6 narasumber dan dokumentasi bukti kegiatan.

Kerangka teoritis dan konseptual yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi politik dan hegemoni. Penelitian ini menjelaskan strategi politik ofensif dan defensif yang berperan penting dalam pemenangan di pilbup Sumedang 2018.

Strategi campuran ini nantinya akan membantu para tim sukses untuk mendapatkan, menaikkan dan mempertahankan suara untuk pemilihan umum tersebut. Strategi campuran ini juga dapat menghadapi hegemoni perpolitikan dalam pemilihan umum tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tim sukses Dony-Erwan berhasil memenangkan pilbup Sumedang 2018 dengan menggunakan strategi politik campuran itu, yaitu pembentukan tim relawan, kampanye politik, penawaran baru, pemeliharaan pemilih tetap, dan mempertahankan pemahaman pemilih musiman.

Dalam mengahadapi hegemoni dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar, tim sukses Dony-Erwan menerapkan pendekatan intelektual organik dan tradisional.

Pendekatan intelektual ini berpengaruh dalam pemenangan Dony-Erwan dan juga dapat menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar.

Kata Kunci: Strategi Politik, Hegemoni, Pemilihan Bupati Sumedang, Kontra Hegemoni, Tim Sukses Dony-Erwan

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang memberikan rahmat dan karunia-Nya serta memberikan kemudahan, kesabaran, serta kelancaran penulis dalam menyelesaikan penelitian untuk skripsi ini dengan judul “Strategi Politik dan Hegemoni (Strategi Pemenangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan di Pemilihan Bupati Kabupaten Sumedang 2018 dalam Menghadapi Hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar)”. Shalawat serta salam tak lupa dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan umatnya kenikmatan hidup di masa yang terang benderang.

Penelitian ini menjadikan awal bagi penulis untuk memasuki pintu ilmu pengetahuan yang sangat luas. Penyusunannya menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya atas argumentasi dan kesimpulan dalam penelitian ini. Dalam penyusunannya sendiri tentunya melibatkan banyak pihak dan syukur alhamdulillah berkat doa dan dukungan seluruh pihak, skripsi ini dapat terselesaikan. Dalam kata pengantar ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Prof. Dr. Amany Lubis, M.A, selaku rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D. selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Idris Thaha, M.Si, selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan arahan dan masukan serta dukungan untuk segera menyelesaikan skripsi penulis.

(8)

vii

4. Suryani, M.Si, selaku dosen pembimbing akademik yang selama perkuliahan dengan sangat terbuka untuk memberi solusi yang penulis keluhkan semasa perkuliahan.

5. Dr. Iding Rosyidin, M.Si, selaku ketua Program Studi Ilmu Politik serta Suryani, M.Si selaku sekretaris Prodi Ilmu Politik.

6. Seluruh dosen Program Studi Ilmu Politik yang telah memberikan amat banyak ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.

7. Kedua orang tua, Sukar dan Parni yang tanpa lelah untuk terus member semangat, kasih sayang, serta memberi doa untuk penulis tetap sehat dan terus panjang umur. Doa untuk kesehatan dan keselamatan mereka. Rabbi firli wa liwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shagiiraa.

8. Semua tim pemenangan, yaitu, Ade dan Totong Sudrajat selaku kader PPP, Angga selaku kader PKB, Encep selaku kader Partai Demokrat, Ayi selaku kader PAN, serta Teja selaku kader dari Partai Nasdem dan merupakan non partisipan koalisi, yang masing-masing ikut berpartisipasi dalam tim pemenangan pasangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan dan non partisipan tim sukses. Terimakasih telah menyempatkan waktunya sebagai narasumber dan memberikan banyak sekali informasi dan data untuk kepentingan skripsi ini.

9. Ali Ramadhan, Ahmad Syarif, Aditya Prasetyo, Fachri Sudiro, Syaifuddin, Wahyu Afidhin dan kawan-kawan Sawah Indah lainnya yang telah menjadi sahabat sedari kecil hingga sekarang yang menjadi tempat untuk bersenda gurau dan memberikan inspirasi penulis untuk pengerjaan skripsi ini.

(9)

viii

10. Anggi Hasibuan, Imannuel Sylvanus, Riski dan kawan-kawan Teteh, yang sudah menemani penulis dari SMA dan menjadi tempat untuk berkeluh kesah dalam pengerjaan skripsi ini.

11. Aditya Fauzan, Adha Rifadly, Irfan Fahmi, Firman Ihsan, Reza Maulana, Khoirul Ahsan, Irshat Fitharyono, Nurul Fazriah Ramadhan, Rangga Ristyadi, Doddy Kurniawan, Rafli Wiyan, Fitria Desi, Eva Oktavia dan juga kawan-kawan Selasar lainnya yang sudah menjadi teman nongkrong yang bermanfaat bagi saya dalam mengenal jalan hidup.

12. M. Ade Tri Syahputra, Kevin Rivadistira, M. Fikri Ramdhani, M. Fauzan Azhima, Prisma Anandifa, Roby Zularham, Maulana Mahdi, Cherlinda Hestiane, Alissa Ramadhanty, Intan Suci Utari, dan Alifia Fahira yang sudah menjadi kawan yang baik selama masa kuliah.

13. Sultan Rivandi, Reddidzia Hernandi, Alrahman, Inaas Azizah, Audy Saphira, Naswah yang sudah menjadi pelanggan tetap Fas Coffee dan kawan selama masa perkuliahan dan juga banyak membantu sekaligus memberikan dukungannya kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

14. Fajar Fachrian, Bayu Nanda Permana, Ikhsan Fajri, Alm. Rizky Ahmad, dan Lalla Tanjung yang telah memberikan inspirasi perihal skripsi yang telah dibuat ini kepada penulis.

15. Kanda dan Yunda HMI KomFISIP Alaskafinier yang telah menjadi teman berproses dan berdiskusi segala hal yang bertujuan untuk mengembangkan diri penulis agar menjadi lebih baik lagi.

(10)

ix

(11)

x DAFTAR ISI

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xiv

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Pernyataan Masalah ... 1

B. Pertanyaan Penelitian... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

D. Tinjauan Pustaka ... 7

E. Metode Penelitian ... 11

F. Sistematika Penelitian ... 14

BAB II ... 17

KERANGKA TEORETIS DAN KONSEPTUAL ... 17

A. Strategi politik ... 17

A.1. Pengertian Strategi ... 17

A.2. Jenis-jenis Strategi Politik ... 19

A.2.1. Strategi Ofensif ... 20

1. Strategi Perluasan Pasar ... 20

2. Strategi menembus pasar ... 21

A.2.2. Strategi Defensif... 22

1. Strategi mempertahankan pasar ... 22

2. Strategi menyerahkan atau melepas pasar ... 23

A.3. Komparasi strategi antara Ofensif dan Defensif ... 23

B. Konsep Hegemoni ... 24

B.1. Intelektual Tradisional dan Intelektual Organik ... 27

1. Intelektual Tradisional ... 28

2. Intelektual Organik ... 29

(12)

xi

B.2. Kaitan Pengaruh Intelektual dalam Hegemoni PDI Perjuangan dan Partai

Golkar di Sumedang ... 30

BAB III ... 32

PILBUP SUMEDANG 2018 DAN SUMEDANG SIMPATI ... 32

A. Pemilihan Bupati Sumedang 2018 ... 32

B. Profil Pasangan Dony Ahmad Munir dan Erwan Setiawan ... 34

C. Program-Program Sumedang Simpati ... 37

C. 1. Visi Pasangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan untuk Sumedang ... 39

C. 2. Misi Pasangan Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan untuk Sumedang ... 43

BAB IV ... 47

STRATEGI POLITIK TIM SUKSES DONY-ERWAN DI PILBUP SUMEDANG 2018 DALAM MENGHADAPI HEGEMONI PDI PERJUANGAN-PARTAI GOLKAR ... Error! Bookmark not defined. A. Strategi Politik Tim Sukses Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan ... 47

A.1. Strategi Politik Ofensif………..48

1. Pembentukan Tim Relawan ... 48

2. Kampanye Politik ... 49

3. Penawaran Baru ... 52

A.2. Strategi Politik Defensif………54

1. Memelihara Pemilih Tetap ... 54

2. Memperkuat Pemahaman Pemilih Musiman ... 56

B. Kondisi Peta Politik Sumedang dan Cara Menghadapi Hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar di Pilbup Sumedang 2018 ... 57

C. Analisis Strategi Ofensif dan Defensif Tim Sukses dalam Pemilihan Bupati Kabupaten Sumedang 2018 dan Menghadapi Hegemoni PDIP dan Golkar ... 69

BAB V ... 74

KESIMPULAN DAN SARAN ... 74

A. Kesimpulan ... 74

B. Saran ... 75

DAFTAR PUSTAKA ... 76

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar III. C. Visi dan Misi Dony Ahmad Munir dan Erwan Setiawan ... 38

Gambar IV.A.1 Kampanye Tim Relawan Dony-Erwan di Desa Gudang ... 49

Gambar IV.A.2 Blusukan Dony-Erwan Beserta Tim Sukses ke Desa Surian ... 52

Gambar IV.A.3 Jalan Rusak di Desa Surian ... 54

Gambar IV.B.1 Susilo Bambang Yudhoyono Mendatangi Kampanye Dony Erwan ... 61

Gambar IV.B.2 Ramzi Mengikuti Kampanye Dony-Erwan ... 62

Gambar IV.B.3 Mantan Sekretaris Daerah Sumedang dan Ketua IPHI Sumedang Mendukung Pasangan Dony-Erwan ... 63

Gambar IV.B.4 Ustadz Fuad Menghadiri Kampanye Dony-Erwan dan Memberikan Tausyiah ... 64

Gambar IV.B.5 Umuh Muchtar Bersama Viking dalam Acara Nobar Sekaligus Kampanye Dony-Erwan ... 66

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel I.A.1 Hasil Pilbup Sumedang 2018 ... 3

Tabel II.A.2.1 Strategi Politik Peter Schroder ... 19

Tabel III.A.1 Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumedang 2018 ... 33

Tabel IV.B.1 Perolehan Kursi DPRD Sumedang ... 58

Tabel IV.B.2 Bagan Intelektual Organik dan Tradisional ………69

(15)

xiv

DAFTAR SINGKATAN

ASN : Aparatur Sipil Negara

BPI : Badan Perguruan Indonesia

Dipl. : Diploma

DOAMU-ESA : Dony Ahmad Munir-Erwan Setiawan

DPC : Dewan Pimpinan Cabang

DPD : Dewan Pimpinan Daerah

DPR : Dewan Perwakilan Rakyat

DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

DPT : Daftar Pemilih Tetap

Drs. : Doktorandus

Gerindra : Gerakan Indonesia Raya

Golkar : Golongan Karya

Hanura : Hati Nurani Rakyat

IPHI : Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia IPNU : Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama

Ir. : Insinyur

KPU : Komisi Pemilihan Umum

KTP : Kartu Tanda Penduduk

M.H. : Magister Hukum

MK : Mahkamah Konstitusi

M.M. : Magister Manajemen

MPR : Majelis Permusyawaratan Rakyat

Nasdem : Nasional Demokrat

PAN : Partai Amanat Nasional

PDI : Partai Demokrasi Indonesia

Pilbup : Pemilihan Bupati

Pilkada : Pemilihan Kepala Daerah

PKB : Partai Kebangkitan Bangsa

PKS : Partai Keadilan Sejahtera

PPP : Partai Persatuan Pembangunan

RI : Republik Indonesia

RPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

S. Ak. : Sarjana Akuntansi

SAKIP : Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

SDN : Sekolah Dasar Negeri

S.E. : Sarjana Ekonomi

S.H. : Sarjana Hukum

SMAN : Sekolah Menengah Atas Negeri

(16)

xv

SMPN : Sekolah Menengah Pertama Negeri

S.T. : Sarjana Teknik

STT : Sekolah Tinggi Teknologi

SWOT : Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats

UU : Undang-Undang

UUD : Undang-Undang Dasar

Wifi : Wireless Fidelity

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Pernyataan Masalah

Penelitian ini mengkaji tentang pemilihan kepala daerah serentak pada 27 Juni 2018 di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Fokus utama bahasan penelitian ini terkait dengan strategi pemenangan H. Dony Ahmad Munir, S.T., M.M.,- Erwan Setiawan, S.E., pada pemilihan bupati Sumedang dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Penelitian ini memaparkan strategi yang digunakan oleh Dony-Erwan, serta analisia cara tim sukses dalam mengcounter hegemoni dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Dalam pilbup serentak yang dilaksanakan di Sumedang ini diikuti oleh lima kontestan.

Para kontestan diusung oleh beberapa partai dan independen. Pertama, pasangan H. Dony Ahmad Munir, S.T., M.M., dan Erwan Setiawan, S.E., calon ini diusung oleh PAN, PKB, PPP, Partai Demokrat. Kedua, pasangan H. Setya Widodo, S.H., dan Sonia Sugian, S.H., mereka adalah pasangan independen, tidak diusung oleh partai apapun. Ketiga, pasangan Drs. H. Zaenal Alimin, M.M., dan Asep Kurnia, S.H., M.H., mereka juga pasangan independen. Keempat, pasangan Irwansyah Putra dan Sidik Jafar, S.E., diusung oleh PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Kelima, yang terakhir, pasangan Ir. H. Eka Setiawan, Dipl,. S.E., M.M., dan Mohamad Agung Anugrah, S.E., Ak., diusung oleh PKS dan Partai Gerindra (Pikiran Rakyat 2018).

Pilkada serentak 2018 khususnya di Sumedang ini diikuti 834.276 pemilih.

Dalam pilkada ini, Dony-Erwan telah resmi menjadi kepala daerah setelah

(18)

2

memperoleh 275.337 suara, mengalahkan pesaingnya pasangan Irwansyah Putra- Sidik Jafar. Kedua pasangan dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar ini memperoleh 102.834 suara (Kabar Priangan 2018). Kemenangan Dony-Erwan (pasangan dari PAN, PKB, PPP, Partai Demokrat) atas Irwansyah-Sidik (pasangan dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar) ini menjadi kajian menarik, karena kepala daerah di Sumedang selalu didominasi oleh pasangan PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Dalam menghadapi hegemoni pasangan ini, tim sukses pasangan Dony-Erwan menggunakan strategi politik campuran dan counter hegemony.

Selain mendominasi di pilbup, PDI Perjuangan dan Partai Golkar juga mendominasi di kursi DPRD Sumedang. Dari keempat partai pengusung Dony- Erwan terdapat lima kursi parlemen untuk PPP, empat kursi untuk Partai Demokrat, tiga kursi untuk PAN, dan dua kursi untuk PKB. Sedangkan PDI Perjuangan memperoleh dua belas kursi dan Partai Golkar memperoleh sepuluh kursi. Dalam perolehan kursi DPRD, PDI Perjuangan dan Partai Golkar dapat memenangi kontestasi pilkada ini. Dilihat dari sudut pandang jumlah kursi di parlemen, koalisi PDI Perjuangan dan Partai Golkar mampu memenangi pilbup Sumedang. Namun, dalam pilbup Sumedang 2018, calon dari nomor urut satu dapat memenangi dengan perolehan 275.337 suara dengan presentase 42,81%, sedangkan dari kubu koalisi terkuat yaitu PDI Perjuangan dan Partai Golkar, nomor urut 4 hanya mendapat 102.834 suara dengan presentase 15,99%. Dilihat dari perolehan suara, nyatanya koalisi empat partai dapat meruntuhkan dominasi koalisi dua partai dalam pilbup Sumedang 2018. Sejak 2009, memang PDI

(19)

3

Perjuangan dan Partai Golkar dapat menghegemoni Sumedang dengan jumlah kursi tiga belas untuk PDI Perjuangan dan sepuluh kursi untuk Partai Golkar.

Sedangkan PPP hanya enam kursi, Partai Demokrat enam kursi, PAN tiga kursi, dan PKB hanya satu kursi. Dan pada bupati sebelumnya di 2008-2013 dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar (Sumedang Online 2018).

Tabel I.A.1 Hasil Pilbup Sumedang 2018 (KPU Sumedang 2018)

No Pasangan Calon Suara Persentase

1 H. Dony Ahmad Munir, S.T., MM. dan

Erwan Setiawan, S.E. 275.337 42,81%

2 H. Setya Widodo, S.h. dan Sonia Sugian, S.H. 69.007 10,73%

3 Drs. H. Zaenal Alimin, M.M. dan Asep

Kurnia, S.H., M.H. 120.27 18,70%

4 Irwansyah Putra dan Sidik Jafar, S.E. 102.834 15,99%

5 Ir. H. Eka Setiawan, Dipl., S.E., M.M. dan

Mohamad Agung Anugrah, S.E., Ak. 75.677 11,77%

Hasil di atas menunjukkan persentase jumlah suara dari pilbup Sumedang 2018. Dengan hasil itu, menunjukkan demokrasi di Sumedang berjalan dengan baik dan benar. Pilkada Sumedang dipilih oleh masyarakat secara langsung ini bermula pada 2003.

Saat itu pada 2003, kepala daerah yang habis masa jabatannya harus dipilih melalui proses pilkada. Pilkada bertujuan untuk menjadikan pemerintahan daerah lebih demonratis dengan memberikan hak rakyat untuk menentukan kepala daerah, hal ini sangat berbeda dengan pemilohan kepala daerah sebelumnya yang

(20)

4

bersifat tidak langsung karena pada saat itu dipilih melalui DPR (Miriam Budiardjo 2008:136).

Dalam hakikatnya, pilkada merupakan ajang pesta demokrasi dengan kontestasi antara pasangan calon kepala daerah dan hasil dari pilbup tersebut dapat diketahui dengan suara terbanyak dalam pemilihan. Setiap peserta yang mengikuti pilkada lewat jalur partai politik harus memiliki 15% suara di DPR sesuai dalam pasal 59 ayat 2 UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa partai politik atau koalisi partai politik dapat mencalonkan pasangan apabila dapat terpenuhi persyaratan perolehan suara sekurang- kurangnya 15% dari jumlah kursi DPRD atau 15% dari perolehan suara sah dalam pemilihan umum anggota DPRD. Selain itu, calon independen hadir sebagai representasi dari adanya UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemilihan Kepala Daerah. Pilkada selalu diisi oleh partai politik dan hal ini membuat banyak tokoh memberikan tuntutan terhadap lahirnya peraturan untuk calon independen itu sendiri. Salah satu bagian dari terwujudnya demokratisasi adalah dengan adanya calon independen sebagai penyeimbang. Di dalam pilkada sendiri, secara tegas dikatakan bahwa pasangan calon kepala daerah dapat dicalonkan secara perseorangan apabila mereka dapat mengumpulkan berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebanyak 6,5 hingga 10 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam pilkada sebelumnya. Menurut kebijakan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 29 September 2015, calon perorangan harus mengumpulkan KTP 10% di daerahnya dengan total daftar pemilih tetap hingga 2.000.000 orang, 8,5% pada daerah dengan DPT antara 2.000.000 hingga 6.000.000 orang, 7,5% pada daerah

(21)

5

dengan DPT antara 6.000.000-12.000.000 orang, dan 6.5% di daerah dengan DPT di atas 12.000.000 orang, pilkada sendiri diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dengan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) (KPU Republik Indonesia 2018).

Dalam kontestasi pilkada, ada banyak strategi politik yang dilakukan oleh tim sukses. Ini juga dilakukan oleh tim sukses pasangan Dony-Erwan dalam pilbup Sumedang 2018. Dengan ini, strategi politik menjadi hal yang penting hanya bagi partai politik dan pemerintahan. Dalam kajian lain strategi politik diartikan sebagai seperangkat metode agar dapat memenangkan pertarungan antara berbagai kekuatan politik yang menghendaki kekuasaan, baik dalam kontestasi pemilu maupun dalam pilkada. Strategi tersebut digunakan untuk mencuri hati dan meraih simpati pemilih. Kerangka konsep sebelum melakukan strategi untuk suatu tujuan tertentu sangat diperlukan. Hal tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, baik dari diri sendiri maupun dari pihak lawan. Tujuan penyusunan kerangka strategi ini adalah untuk menentukan langkah dalam melakukan tindakan. Langkah yang dilakukan dalam strategi merupakan implementasi dari misi yang dibawa. Dapat dirumuskan bahwa langkah yang digunakan sebagai strategi politik dalam pilkada adalah melalui komunikasi (Harmen Batubara 2015:59).

Dengan strategi politik yang diterapkan oleh tim sukses Dony-Erwan, dapat menghadapi lawan politik terkuatnya yaitu pasangan dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar, Irwansyah-Sidik, dan mampu menekan hegemoni dari kedua partai besar itu di Sumedang. Adanya hegemoni tersebut, mengubah pola keseimbangan

(22)

6

politik di Sumedang. Menjadikan para partai kecil tidak dapat bersaing dan meruntuhkan demokrasi yang sudah terbentuk di Sumedang. Hal tersebut yang dihadapi oleh para partai kecil untuk membangun citra dan nama mereka di perpolitikan Sumedang nantinya. Pilbup 2018 merupakan momen bagi empat partai koalisi partai kecil dalam memenangi pilbup tersebut serta juga dapat menghadapi kekuatan dominasi PDI Perjuangan dan Partai Golkar dan memicu para partai kecil lainnya untuk dapat bersaing di pibup atau di pemilihan legislatif di kontestasi berikutnya.

B. Pertanyaan Penelitian

Dari beberapa hal yang sudah dibahas di atas ada beberapa pertanyaan masalah yang dapat dikemukakan dalam menjalani penelitian ini, yaitu:

1. Apa bentuk strategi politik yang diterapkan oleh tim sukses untuk Dony- Erwan dalam pilbup 2018 di Sumedang?

2. Bagaimana kondisi peta politik Sumedang dan cara yang dilakukan oleh empat koalisi partai yaitu PPP, PKB, PAN dan Partai Demokrat dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar di kontestasi pilbup 2018 di Sumedang?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mendeskripsikan bentuk strategi politik tim suskses Dony-Erwan dalam pilbup Sumedang 2018.

2. Melihat dan mengetahui kondisi peta politik Sumedang dan cara yang digunakan empat koalisi partai pengusung Dony-Erwan saat pilbup

(23)

7

Sumedang 2018 dalam menghadapi hegemoni koalisi PDI Perjuangan dan Partai Golkar.

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Akademis

Memberikan sumbangsih dalam bentuk pemikiran terhadap ilmu politik khususnya dalam kajian strategi politik dan konsep kontra hegemoni.

2. Manfaat Praktis

Memberi sumbangan kepada praktisi, pembaca bahwa bentuk strategi politik dan konsep kontra hegemoni merupakan kedua hal berkesinambungan.

D. Tinjauan Pustaka

Penulis mengakui bahwa penelitian tentang strategi politik dan kekuatan politik bukanlah menjadi satu hal yang baru dilakukan. Telah banyak penelitian tentang studi masalah ini, tentunya juga dalam ragam pendekatan dan teori.

Bahkan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sendiri telah ada yang membahas yang menyoroti perihal strategi politik, namun dari beberapa skripsi yang sudah ada, penulis belum mendapati penelitian yang secara khusus membahas strategi pemenangan dalam pilbup Sumedang 2018 dan menghadapi hegemoni partai politik di Sumedang.

Dari penelitian strategi pemenangan Dony-Erwan di pilbup Sumedang 2018 dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar, kemudian penulis merasa tertarik untuk membahasnya dalam penelitian ini. Dengan harapan dapat mengisi kekosongan dalam kepustakaan tersebut. Penulis juga meyakini,

(24)

8

bahwa strategi politik di pilbup Sumedang 2018 merupakan suatu hal yang fenomenal dan merupakan persoalan yang masih relevan untuk dibahas dan dibicarakan.

Pertama, karya Muhammad Ayub Liwang (2016). Penelitian ini berusaha untuk membahas mengenai strategi politik pemenangan seperti apa yang diterapkan oleh Adnan Purichta dalam pilbup Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan strategi politik yang efektif dalam pilkada serentak di Kabupaten Gowa. Teori yang digunakan dalam penulisan ini adalah komunikasi politik, dengan menggunakan lima pendekatan utama yaitu, pendekatan aktor (pelibat atau partisipan), pesan komunikasi politik, saluran dalam konteks komunikasi politik, komunikasi/khalayak, dan pengaruh/efek. Sedangkan, jenis pesan yang digunakan adalah praktis atau pragmatis, pesan ini adalah pesan yang disampaikan oleh komunikator pada komunikan agar melakukan tindakan yang berguna untuk kepentingan politik, contoh mengajak masyarakat untuk memilih dirinya atau partainya dalam pemilu. Ini yang digunakan dalam strategi politik pemenangan Adnan Purichta dalam pemilihan bupati 2018 lalu (h. 21-25).

Kedua, karya Baharuddin (2010). Penelitian ini berusaha untuk melihat bagaimana peran partai politik di Kalimantan Barat dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat pada pemilu legislatif. Berdasarkan survey yang dilakukan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan partisipasi politik masyarakat Kalimantan Barat rendah terhadap pemilu legislatif yaitu, masyarakat

(25)

9

dijadikan objek bukan subjek, penyimpangan perilaku wakil rakyat, tidak ada manfaat langsung dari pemilu, dan pemilu adalah hak bukannya kewajiban (h. 2).

Ketiga, karya Nurul Qalbi (2015). Penelitian ini mengungkap strategi komunikasi politik yang dilakukan oleh pasangan Muhammad Ramdhan Pomanto-Syamsu Rizal dalam pemilihan walikota dan wakil walikota Makassar tahun 2013. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, bahwa pasangan ini mampu memenangkan pilkada. Dalam hal ini pemilihan walikota dan wakil walikota Makassar selain didukung oleh kemampuan dan tim yang solid, pasangan ini juga menerapkan analisis SWOT dalam kampanye politiknya. Dan ini menunjukkan pasangan ini dapat mengungguli sembilan pasangan lainnya dengan perolehan suara terbanyak yaitu 182.242 suara (h. 231).

Keempat, karya George Towar Ikbal Tawakkal (2009). Penelitian ini berusaha melihat reaksi yang diberikan oleh partai politik dalam menanggapi perubahan sistem pemilu yang dipakai pada pemilu 2009. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 dan Ketetapan Mahkamah Konstitusi Nomor 22-24/PUU-VI/2008, sistem pemilu 2009 menggunakan sistem proporsional terbuka, dengan penentuan kandidat peraih kursi yang telah diperoleh partainya, berdasar suara terbanyak. Situasi ini membuat strategi beberapa partai menjadi terganggu. Perubahan cara penentuan calon legislatif yang berhak menempati kursi yang diperoleh partainya, berakibat pada strategi perolehan suara. Perlombaan perolehan suara antar calon legislatif menjadi sangat menonjol, baik calon legislatif sesama partai maupun calon legislatif dari partai lain (h. 6).

(26)

10

Kelima, karya Surahmadi (2016). Penelitian ini berusaha melihat adanya gabungan partai-partai yang mendukung pasangan pada pilkada Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, berguna untuk menyatukan kepentingan yang sama dari masing-masing partai politik. Oleh karena itu, terbentuknya tim sukses pemenangan pasangan Idza-Narjo merupakan upaya-upaya yang dilakukan oleh partai-partai dalam menyatukan tujuannya agar meraih kemenangan dalam perhelatan pilkada. Koalisi juga memberikan kemudahan akses dan kebersamaan untuk semakin memperkokoh konsep-konsep yang sudah disepakati bersama.

Melihat peta politik di Brebes, koalisi yang dibangun oleh PDI Perjuangan, PKS, dan Partai Gerindra merupakan koalisi yang relatif kecil yaitu hanya sekitar 40%

dari kursi di DPRD dibandingkan dengan rival politiknya yaitu gabungan koalisi 5 partai yang mempunyai perwakilan di parlemen, yaitu Partai Golkar, PAN, PPP, PKB dan Partai Hanura yang menguasai 46% suara di parlemen. Namun kenyataannya kemenangan tidak ditentukan dari besarnya presentase suara parlemen, tetapi ditentukan oleh kekuatan strategi kampanye dan komunikasi politik masing-masing pasangan seperti visi dan misi yang telah dibuat. (h. 8)

Berdasarkan beberapa tinjauan atas penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian yang disusun oleh penulis memiliki perbedaan dengan karya ilmiah yang sudah diteliti sebelumnya. Strategi politik yang penulis gunakan berdasarkan dari teori strategi politik ofensif dan defensif dan juga dalam menghadapi hegemoni kekuasan partai di Sumedang itu sendiri menjadi pembeda.

Penelitian-penelitian itu tidak menjelaskan apa yang menjadi hambatan seperti

(27)

11

yang dirasakan oleh objek yang diteliti dalam strategi politik menghadapai hegemoni.

E. Metode Penelitian E.1. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna berdasarkan perspektif subjek lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif (Eko Sugiarto 2015:8). Dalam penelitian ini, objek dalam penelitian yang penulis jelaskan adalah anggota tim sukses pemenangan Dony-Erwan di pilbup Sumedang 2018 dan kader dari salah satu partai non partisipan koalisi yaitu Partai Nasdem. Penulis berinteraksi dengan orang yang berkaitan langsung dengan objek yang diteliti. Cara yang digunakan oleh analisis kualitatif menguraikan kemudian merinci kalimat yang sudah dijelaskan, sehingga penulis dapat menarik kesimpulan sebagai jawaban dari permasalahan penelitian dengan menggunakan pendekatan berfikir induktif.

E.2. Sumber Data

Sumber data penelitian kualitatif adalah tampilan yang berupa kata-kata lisan atau tertulis yang dicermati oleh penulis, dan benda-benda yang diamati sampai jelas agar dapat ditangkap makna yang tersirat dalam dokumen atau bendanya. Sumber data tersebut pun harus asli, namun apabila yang asli susah untuk didapat, maka fotocopy atau tiruan tidak terlalu jadi masalah, selama dapat diperoleh bukti pengesahan yang kuat kedudukannya.

(28)

12

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Data primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang diucapkan secara lisan yang dilakukan oleh subjek yang dipercaya, dalam hal ini adalah subjek penelitian (informan) yang berkenaan dengan variabel yang diteliti. Data primer yang digunakan dengan melakukan wawancara terhadap sumber informan dan hasil wawancara tersebut dijadikan sebagai data primer untuk penelitian ini.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen grafis seperti tabel, foto-foto, dan rekaman untuk memperkaya data primer (Sandu dan Ali 2015:27-30). Data sekunder tersebut dilakukan oleh penulis dengan mengumpulkan hasil rekaman wawancara dengan informan, mengumpulkan tabel melalui portal berita dan mengumpulkan foto-foto melalui sumber internet seperti laman berita dan juga fanpage Facebook dari tim kampanye.

E.3. Teknik Pengumpulan Data 1. Dokumentasi

Teknik dokumentasi digunakan oleh penulis agar mempunyai bukti asli dalam melakukan penelitian. Sumber ini terdiri dari dokumen, foto dan rekaman.

Dokumentasi sebagai suatu cara untuk melakukan penelitian kualitatif dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran dari sudut pandang subjek dengan media tertulis dan dokumen yang lainnya, dengan ditulis langsung oleh subjek yang bersangkutan (Haris Hendriansyah 2010:131).

(29)

13 2. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan percakapan antar penulis dan narasumber melalui tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berdasarkan tinjauan penelitian (Iqbal Hasan 2002:11). Memiliki tujuan untuk mendapatkan kontruksi yang terjadi sekarang mengenai: orang, kejadian, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, pengakuan, kerisauan, dan sebagainya.

Dalam wawancara penulis dalam mengambil data melalui sumber informan terpercaya yaitu dengan tim sukses Dony-Erwan. Diantaranya adalah, Ade merupakan kader PPP dan juga sebagai anggota tim sukses Dony-Erwan, Angga sebagai kader PKB dan anggota tim sukses Dony-Erwan, Ayi merupakan kader PAN dan wakil sekretaris tim sukses Dony-Erwan, Encep merupakan kader Partai Demokrat dan anggota tim sukses Dony-Erwan, Totong merupakan kader PPP dan anggota tim sukses Dony-Erwan dan Teja merupakan kader Partai Nasdem.

E.4. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga dapat dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif analisis. Metode ini menekankan pada penggambaran objek secara tepat sehingga mampu menjawab dari permasalah dalam penelitian. Proses ini terdiri

(30)

14

dari tiga bagian yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Wijaya 2018:53-59).

Di sini penulis juga menggunakan teori dan konsep untuk mengaitkan dengan tema yang akan diteliti, yakni teori strategi politik dan konsep hegemoni.

Untuk pedoman penelitian, penulis menggunakan buku terbitan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai panduan penyusunan proposal dan penulisan skripsi yang diterbitkan pada tahun 2015.

F. Sistematika Penelitian

Untuk selanjutnya, penulis membagi penelitian ini menjadi lima bab, yang disusun secara sistematis, berikut adalah sistematika penelitian ini:

Bab I berisikan pemaparan latar belakang pilbup di Sumedang pada 2018.

Fokus utama bahasan penelitian ini terkait dengan strategi pemenangan Dony- Erwan di pilbup Sumedang dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar, dan alasan mengapa penulis menjadikan pemenangan dan kontra hegemoni yang dilakukan oleh tim sukses sebagai objek penelitian. Tim sukses pemenangan Dony-Erwan dipilih menjadi objek karena sukses dalam strateginya memenangkan pilbup Sumedang dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Pertama, pasangan Dony-Erwan menjadi pemenang di pilbup Sumedang dengan perolehan 275.337 suara dengan presentase 42,81%

mengungguli pasangan dari koalisi terkuat PDI Perjuangan dan Partai Golkar.

Kedua, dengan momentum pilbup Sumedang 2018 menjadikan koalisi empat

(31)

15

partai ini pesaing terkuat dan dapat menghadapi hegemoni dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar.

Bab II menjelaskan kerangka teoritis dan konseptual sebagai landasan dalam melakukan penelitian skripsi dan menggunakan teori strategi politik (Peter Schroder) dan konsep hegemoni. Teori strategi politik ini dibagi menjadi dua bagian yaitu: strategi ofensif (menyerang) dan strategi defensif (bertahan).

Selanjutnya pada konsep hegemoni lebih cenderung menggunakan kontra hegemoni sebagai pembahasan dalam penelitian ini.

Bab III menjelaskan gambaran umum pilbup Sumedang tahun 2018. Bagian ini juga menjelaskan profil pasangan kandidat Dony Ahmad Munir dan Erwan Setiawan. Dan menggambarkan visi-misinya yang bernama “Sumedang Simpati”

serta penjelasan singkat mengenai track record pasangan kandidat tersebut.

Bab IV berisi bentuk strategi politik tim sukses Dony-Erwan di pilbup Sumedang 2018 untuk mencari suara atau dukungan penuh dari masyarakat Sumedang dan mempertahankan dukungan pemilih lama agar bisa memenangkan pilbup tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan kondisi peta politik Sumedang dan peran empat partai koalisi dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar di Sumedang.

Bab V memuat kesimpulan dari hasil penelitian yang dibahas pada bab-bab sebelumnya. Tim sukses pasangan Dony-Erwan ini merencanakan strategi politiknya dengan memakai bentuk strategi campuran antara strategi ofensif dan defensif, di antaranya dengan, pembentukan tim relawan, kampanye politik, penawaran baru, memelihara pemilih tetap, dan memperkuat pemahaman pemilih

(32)

16

musiman. Pada peta politik Sumedang sudah didominasi oleh PDI Perjuangan dan Partai Golkar sejak sebelum Reformasi. Dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar di kontestasi pilbup Sumedang 2018, empat koalisi ini menerapkan pendekatan dengan para tokoh intelektual. Setelah itu, dalam penerapannya tidak ada kendala dan menghasilkan apa yang mereka ingin capai di pilbup Sumedang 2018.

(33)

17 BAB II

KERANGKA TEORETIS DAN KONSEPTUAL

Bab ini memaparkan bahasan teori strategi politik dan konsep hegemoni.

Dalam teori strategi politik membahas mengenai pengertian strategi politik dan juga jenis-jenis strategi politik, yang juga membahas strategi politik ofensif dan defensif yang dipakai dalam penelitian ini. Dan dalam konsep hegemoni membahas tentang pengertian hegemoni dan juga membahas kontra hegemoni yang menjadi tumpuan dan bahasan pada penulisan ini.

A. Strategi politik A.1 Pengertian Strategi

Strategi adalah ilmu taktik, cara atau muslihat dalam mencapai sesuatu yang diinginkan (Tim Prima Pena 2006:448). Dalam pengertian tersebut terlihat bahwasannya strategi merupakan kegiatan untuk mencari keinginannya dengan taktik atau cara yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Politik didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan keputusan publik dalam masyarakat tertentu, dimana kendali ini didukung lewat instrumen yang bersifat otoritatif dan koersif (Basri Seta 2011:3). Jadi strategi politik ialah rencana, teknik, atau tindakan keterampilan oleh politisi untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaannya, dan melaksanakan urusan/keputusan politik sesuai yang diinginkannya.

Strategi politik adalah rencana untuk tindakan merealisasikan cita-cita politik. Sun Tzu, dalam merumuskan strategi, menjelaskan bahwa dalam pemilihan strategi harus ada hal-hal tertentu yang diprioritaskan. Peter Schroder

(34)

18

mengemukakan, untuk dapat menyerang lawan maka harus mengenali terlebih dahulu strategi lawan tersebut. Karena dari itu, pengenalan terhadap lawan sangatlah penting. Jika tidak, kita tidak dapat mengenali lawan dan strateginya.

Penyerangan strategi lawan jika dilakukan secara terus menerus dapat mengganggu jalannya pelaksanaan strategi lawan, sehingga lawan tidak dapat merealisasikan strateginya tersebut (Toni Andrianus Pito, dkk. 2006:197-198).

Dalam strategi politik, sangatlah penting untuk mengenal strategi komunikasi. Strategi komunikasi sangat penting karena dapat membawa keuntungan yang jelas bagi seseorang, atau yang selama ini diabaikan oleh kompetitor lainnya. Citra yang diinginkan di antaranya: dalam proses implementasi, kelemahan pemerintah dan satuan eksekutif yang terletak pada bidang kehumasan. Semua tindakan dari kehumasan adalah menyebar dan menaikkan citra untuk ditanamkan ke kelompok sasaran. Citra yang diinginkan terkait dengan pilihan tema, gaya, cara konfrontasi, dan tawaran sumber daya manusia (Rainer Adam 2008:4-8).

Kesimpulan dari beberapa pengertian tersebut dapat diartikan bahwa, strategi politik merupakan suatu cara atau rencana untuk mencapai tujuan tertentu.

Dengan cara yang sudah disiapkan dengan matang oleh tim sukses, orang yang akan bertujuan untuk memenangi sebuah kontestasi politik, tentu mudah untuk mendapatkan hasil yang diinginkan jika rancangan dari strategi politiknya dapat diterima oleh para pemilih nantinya. Seperti yang dilakukan oleh tim sukses Dony-Erwan yang merencanakan strateginya dalam pemenangan pilbup Sumedang 2018.

(35)

19 A.2. Jenis-jenis Strategi Politik

Dalam pilbup Sumedang 2018, tim sukses Dony-Erwan merencanakan strategi politik untuk mendapat suara dan dukungan masyarakat Sumedang dan memenangkan pilbup tersebut. Para tim sukses Dony-Erwan ini merencanakan beberapa jenis-jenis strategi politiknya. Karena dari itu, perlu mengenal adanya jenis-jenis dari strategi politik untuk mendapatkan rencana yang sistematik untuk digunakan dalam memenangkan momentum kontestasi politik. Strategi politik dibagi menjadi dua bagian oleh Peter Schroder, yaitu: strategi ofensif (menyerang) dan strategi defensif (bertahan). Strategi ofensif dibagi menjadi strategi untuk memperluas pasar dan strategi untuk menembus pasar. Strategi defensif menyangkut strategi untuk mempertahankan pasar dan strategi untuk menutup atau menyerahkan pasar (Toni Andrianus Pito, dkk. 2006:198-199).

Tabel II.A.2.1 Strategi Politik Peter Schroder (Ibid. :199).

Strategi ofensif Strategi Defensif

 Strategi memperluas pasar (strategi persaingan).

 Strategi menembus pasar (strategi pelanggan).

 Strategi mempertahankan pasar (strategi pelanggan, strategi multiplikator).

 Strategi menutup/menyerahkan pasar (strategi lingkungan sekitar).

(36)

20 A.2.1. Strategi Ofensif

Strategi ofensif ini digunakan oleh tim sukses Dony-Erwan dalam pilbup Sumedang 2018. Dengan strategi ofensif ini, penerapan yang dilakukan oleh tim sukses Dony-Erwan ini menghasilkan tujuan yang cukup sukses. Bagi Schroder, strategi ofensif selalu dibutuhkan, jika partai ingin meningkatkan jumlah pemilihnya atau pihak eksekutif yang ingin mengimplementasikan sebuah proyek.

Untuk dua kasus tersebut harus ada banyak orang yang memiliki pandangan atau pemikiran positif terkait partai atau proyek tersebut, sehingga semuanya berhasil dilakukan (Ibid. :199).

Yang termasuk dari strategi ofensif adalah strategi memperluas pasar dan strategi menembus pasar. Pada dasarnya, semua strategi ofensif yang diterapkan saat kampanye pemilu harus menampilkan perbedaan yang jelas dan menarik antara partai satu dengan partai-partai pesaing yang ingin diambil alih pemilihnya.

Dalam strategi ofensif yang digunakan untuk mengimplementasikan politik, yang harus dijual atau ditampilkan adalah perbedaan terhadap keadaan yang berlaku saat itu serta keuntungan-keuntungan yang dapat diharapkan padanya (Ibid. :199).

1. Strategi Perluasan Pasar a. Dalam kampanye politik

Tim sukses Dony-Erwan ini menerapkan kampanye politik pada pilbup Sumedang 2018 yang merupakan salah satu cara yang sukses dalam meningkatkan jumlah pemilih. Strategi perluasan pasar secara ofensif dalam sebuah pemilu bertujuan untuk membentuk kelompok pemilih baru disamping para pemilih tradisional yang telah ada. Maka dari itu harus ada penawaran baru

(37)

21

atau yang lebih baik bagi para pemilih yang selama ini memilih partai yang lain.

Jadi ini dinamakan strategi persaingan yang faktual, di mana berbagai partai bertarung untuk kelompok pemilih dalam sebuah kontestasi (Ibid. :200).

b. Dalam penerapan politik

Dalam pilbup Sumedang 2018, tim sukses Dony-Erwan menawarkan produk baru berupa politik baru atau yang lebih tepatnya keuntungan yang dihasilkan dari itu, perlu diiklankan dan dipropagandakan. Untuk itu produk yang ditawarkan harus dirumuskan dan dikemas dengan baik dan jelas. Jika itu itu tidak dirampungkan, akan tidak menarik untuk warga yang ditawarkannya. Produk atau politik yang semacam ini harus membutuhkan nama yang baru, deskripsi baru dari keuntungan yang ditawarkan, dan apabila diinginkan, juga kemasan baru yang dihubungkan dengan individu-individu baru. Pertentangan internal perlu diatasi, sedapat mungkin sebelum dilakukan kampanye terbuka atas produk atau politik tersebut. Setelah itu, tim sukses Dony-Erwan membentuk tim relawan untuk membantu kegiatan tim sukses dalam mengkampanyekan Dony-Erwan di pilbup Sumedang 2018.

2. Strategi menembus pasar

Strategi menembus pasar ini bukanlah untuk menarik pemilih lawan atau warga yang tidak aktif dengan memberikan penawaran yang baik atau baru, melainkan penggalian potensi yang sudah ada dan lebih optimal, atau penggalian bagian yang dimiliki kelompok target yang sebelumnya telah diperoleh. Hal ini menyangkut pemasaran program yang dimiliki untuk lebih ditingkatkan intensitas

(38)

22

keselarasan antara program dan individu, seperti halnya memperbesar tekanan terhadap kelompok-kelompok target (Ibid. 2006:202).

A.2.2. Strategi Defensif

Selain dengan penerapan strategi ofensif, tim sukses Dony-Erwan juga menerapkan strategi defensif untuk menjaga pemilih mereka pada pilbup Sumedang 2013 lalu. Strategi ini akan muncul ke permukaan jika partai atau koalisi pemerintahan yang terdiri dari atas beberapa partai ingin mempertahankan atau jika pangsa pasar ingin dipertahankan. Strategi ini juga dapat muncul apabila sebuah pasar tidak ingin dilanjutkan atau ditutup dan penutupan pasar ini diharapkan dapat keuntungan sebanyak mungkin (Peter Schroder 2003:107).

1. Strategi Mempertahankan Pasar

Strategi ini adalah strategi yang khas untuk mempertahankan mayoritas pemerintah. Pada strategi ini, partai yang mempunyai kursi banyak di pemerintahan akan memelihara pemilih tetap mereka dan makin memperkuat para pemilih musiman yang sebelumnya telah memilih partai tersebut terhadap situasi yang berlangsung. Partai yang ingin mempertahankan pasar pastinya akan mengambil sikap yang bertentangan dengan strategi ofensif. Apabila partai lainnya ingin berusaha menonjolkan perbedaan untuk memberikan tawaran yang terbaik dan lebih menarik, sebaliknya partai yang menerapkan strategi defensif berupaya untuk perbedaan yang ada dan tidak dikenali. Dalam hubungannya dengan multiplikator dan aliansi, partai yang menerapkan strategi defensif menjalankan sebuah pemeliharaan secara intensif kepada mereka (Toni Andrianus Pito, dkk. 2006:203).

(39)

23

2. Strategi Menyerahkan atau Melepas Pasar

Di strategi melepas pasar dapat memiliki dua artian, yang pertama, sebuah partai yang ingin menyerah dan dalam keadaan tertentu ingin melebur ke partai yang lain. Dan yang kedua, dalam pemilu yang menggunakan kertas suara, ada tahap pemungutan suara putaran kedua yang hanya bisa diikuti oleh kandidat terkuat pada pemilu tahap pertama, pada sementara waktu penyerahan pasar oleh pihak ketiga adalah langkah yang seringkali terjadi. Namun apabila kandidat terpaksa menyerahkan pasarnya, mereka harus mempertegas ketidak- ikutsertaannya dengan memberi alasan yang mendasar dan mengusulkan pilihan lain. Dalam usulan ini terdapat suatu tugas yang dapat dimanfaatkan secara strategis. Hal ini dapat mencakup masalah persetujuan politik hingga pembagian kekuasaan dan perlu disertai dengan kampanye informasi bagi para implikator (Ibid. :204).

A.3. Komparasi Strategi antara Ofensif dan Defensif

Untuk saat ini, strategi campuran seringkali dapat terjadi, jika salah satu partai dalam koalisi pemerintahan menerapkan strategi defensif terhadap partai oposisi, dan pada saat yang sama pula, di dalam koalisi juga melakukan strategi ofensif terhadap mitra koalisinya. Meskipun ini selalu berisiko, tapi cara ini dapat membawa keberhasilan yang signifikan. Ada beberapa syarat penting untuk menerapkan strategi campuran ini, yakni strategi harus diarahkan secara tepat pada satu partai dalam waktu tetentu tanpa ambisi apapun, terlepas dari sikap ofensif atau defensif (Peter Schroder 2003:121). Ini juga dilakukan oleh tim sukses Dony-Erwan dalam memenangkan pilbup Sumedang 2018. Dalam

(40)

24

penerapannya, tim sukses melakukan komparasi antara strategi ofensif dan defensif. Hal tersebut dibuktikan dengan pembentukan tim relawan, kampanye politik, penawaran baru dan mendekati tokoh politik. Itu merupakan bagian dari strategi ofensif. Sedangkan dengan strategi defensif mereka menggunakan pemeliharaan pemilih tetap dan memperkuat pemahaman pemilih musiman.

B. Konsep Hegemoni

Dalam perpolitikan di Sumedang, penulis melihat adanya hegemoni dari PDI Perjuangan dan Partai Golkar di sistem pemerintahannya. Dalam pemerintahannya, PDI Perjuangan dan Partai Golkar ini selalu mendapat kursi tertinggi di DPRD Sumedang, bahkan pada pilbup Sumedang pada 2003 hingga 2013 selalu didominasi oleh mereka. Pada pilbup 2018 ini menjadi ajang bagi empat koalisi partai untuk menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar dan memenangi pilbup tersebut.

Pemaparan konsep hegemoni Antonio Gramsci ialah menjalankan kekuasaan dengan menindas, melakukan kekerasan ataupun dengan persuasif.

Hegemoni tidak berkaitan antara hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan, melainkan hubungan persetujuan dengan menggunakan kepemimpinan politik dan ideologis. Dalam buku Prison Notebooks, seperti yang dikutip oleh Roger Simon (1999), Gramsci menggunakan kata direczione (kepemimpinan, pengarahan) secara bergantian dengan egemonia (hegemoni) dan berlawanan dengan dominazione (dominasi). Pada dasarnya hegemoni itu sendiri dimaknai dari perkataan Greek yang bermaksud chief-tain (ketua bagi sesuatu kaum atau kumpulan). Istilah hegemoni ini berasal dari kata Yunani, ialah hegeishtai. Istilah

(41)

25

tersebut mempunyai arti memimpin, kepemimpinan atau kekuasaan yang melebihi dari kekuasaan lain (h. 19-20).

Hegemoni menurut Gramsci adalah kemampuan untuk mengakomodasikan semua kepentingan kelompok lain sehingga mau memberikan dukungan, serta ikut berpatisipasi. Dengan cara inilah sesungguhnya kekuasaan dapat dicapai dan dapat dipertahankan. Hegemoni tidak boleh atas dasar pengkooptasian aktivitas motorik ataupun intelektual kelompok lain (Abd. Malik Haramain, dkk. 2003:61- 62). Menurut Gramsci, partai adalah alat yang sesungguhnya diperuntukan untuk kelas pekerja menyatukan teori dan praktik. Teori secara tidak langsung muncul dari partai dan merespon dari masalah yang dihadapi oleh masa teroganisir. Dan dalam praktiknya, Gramsci membuat susunan konsep baru dalam peranan partai tentang rangka menjalankan tugas revolusi (Nezar Patria 1999:113). Dalam kuasa hegemoni ini diperbolehkan untuk menggunakan berbagai pendekatan dan taktik pengaruh politik, tekanan ekonomi, kekuatan tentara dan apapun setidaknya memiliki kuasa veto dalam merealisasikan hasrat dan wawasannya.

Gramsci memaknai hegemoni itu sendiri bukan bertumpu pada dominasi dan tekanan-tekanan yang dilakukan oleh kelompok sosial tertentu. Dalam artian tersebut, hegemoni bisa dilakukan dengan beberapa cara dan penegakkan.

Menurut Gramsci, hegemoni memiliki banyak faktor dan variabel yang bisa dianalisis, dan tidak melulu didominasi oleh aspek politik, ekonomi, serta kebudayaan.

Tugas untuk menciptakan adanya hegemoni baru, berlawanan dari apa yang telah dilakukan kaum kapitalis, hanya dapat diraih dengan mengubah kesadaran,

(42)

26

pola berpikir dan pemahaman masyarakat, serta norma perilaku moral mereka.

Gramsci membandingkan perubahan ini dengan perubahan menyeluruh terhadap kesadaran masyarakat yang ditimbulkan oleh reformasi Protestan pada abad ke-16 dan Revolusi Perancis (Roger Simon 1999:26).

Dalam menghadapi hegemoni, konsep kontra hegemoni merupakan salah satu konsep tentang kritik rakyat atas penguasa serta sebagai jawaban atas proses perlawanan hegemoni kelompok dominan. Bagi Gramsci, realitas sosial yang ditunjukkan dengan adanya karakter kapitalistik yang eksploitatif, demikian juga dengan otoritaritarianisme rezim politik Bennito Mussolini, ternyata tidak kunjung memunculkan revolusi sosial, seperti yang dianggarkan oleh Marxisme Klasik. Bahkan yang muncul adalah gejala diamnya para revolusioner (Antonio Gramsci 2013:44-45).

Penjelasan-penjelasan Gramsci tentang keterlibatan kaum intelektual sebagai pengawal hegemoni, boleh jadi merupakan sumbangan terpenting Gramsci dalam Selection from Prison Notebooks. Gramsci membagi kepemimpinan hegemonik dalam lingkup moral dan intelektual. Bahkan ia mengatakan bahwa peran intelektual dalam transformasi adalah dasar dari superstruktur yang ada, yang menampilkan fungsi organisasional dan konektif.

Para intelektual harus berdiri pada dua wilayah; pertama, intelektual teori (tradisional), dan kedua, intelektual yang mampu menghubungkannya dengan realitas nyata sosial (intelektual organik). Intelektual organik dengan demikian adalah intelektual yang secara sadar dan mampu menghubungkan teori dan realitas sosial yang ada dan ia bergabung dalam kelompok-kelompok revolusioner

(43)

27

untuk mendukung dan mengcounter hegemoni pada sebuah transformasi sosial yang direncanakan, walaupun memiliki risiko yang sangat besar dan membahayakan (Roger Simon 1999:27).

Jika terjadi sebuah perubahan radikal dalam masyarakat, maka kerangka kerja sebuah intelektual masyarakat itu menjadi suatu kebutuhan yang amat penting dalam kondisi perubahan seperti itu (Nezar Patria 1999:56). Adanya kinerja intelektual masyarakat ini dapat merangsang suatu kekritisan, yang mampu melihat perbedaan sesuai dengan keinginannya. Intelektual masyarakat akan berbanding lurus dengan dinamika sosial politik yang lebih baik di kehidupan bermasyarakat sebelumnya.

B.1. Intelektual Tradisional dan Intelektual Organik

Untuk menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar di Sumedang, empat koalisi ini melakukan pendekatan intelektual. Dalam intelektual ini, Gramsci menyadari pentingnya dari tujuan adanya sosok intelektual dalam masyarakat untuk mengembangkan ide revolusioner. Gramsci mengembangkan situasi tersebut dengan konsepsi yang sedikit elitis, ketika ide-ide itu dihasilkan oleh para intelektual kemudian diperluas ke masyarakat dan dipraktikkan oleh mereka. Masyarakat ini tidak dapat menghasilkan ide revolusioner tersebut tetapi mereka dapat mengalaminya berdasarkan pada keyakinan. Masyarakat juga tidak dapat mencapai kesadaran sosial politiknya sendiri berdasarkan usahanya sendiri, maka mereka membutuh kaum elitis sosial untuk menggunakan idenya dan dapat mengambil tindakan yang mendatangkan revolusi sosial (George Ritzer 2012:476).

(44)

28

Masyarakat tidak melahirkan ideologinya sendiri, tetapi para elitis yang disebut sebagai kaum intelektual dapat membantu mengembangkan dan melahirkan ideologi masyarakat. Yang dimaksud kaum intelektual adalah intelektual hegemonic/tradisional maupun intelektual counter hegemony/organik.

Dalam tugasnya, kedua lapisan kaum intelektual ini harus mengorganisasi kesadaran maupun ketidaksadaran dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal tujuannya, intelektual organik bertanggung jawab menjamin pandangan masyarakat dengan nilai-nilai kapitalisme. Sebaliknya intelektual tradisional bertanggung jawab memisahkan masyarakat dengan kapitalisme dan membangun pandangan dengan perspektif sosialis (Zainuddin Maliki 2004:187-188).

Pandangan Gramsci tentang kaum intelektual ialah orang yang memiliki fungsi sebagai organisator dalam semua elemen masyarakat dalam wilayah produksi sebagaimana wilayah politik dan kebudayaan. Dan Gramsci mempunyai pandangan ganda terhadap kaum intelektual, menyebut kaum intelektual bukan hanya pemikir, penulis dan seniman tetapi organisator dan pemimpin politik. Ada dua bagian dalam kaum intelektual ini diantaranya (Roger Simon 1999:142-147):

1. Intelektual Tradisional

Untuk melakukan counter hegemony terhadap PDI Perjuangan dan Partai Golkar, tim sukses dari empat koalisi Dony-Erwan melakukan pendekatan intelektual tradisional. Dengan pendekatan ini, para tim sukses mencari tokoh tersebut dengan kapasitas dan mumpuni agar berhasil utuk melakukan counter hegemonynya. Gramsci mengemukakan bahwa intelektual tradisional menjadi salah satu karakter penting dalam suatu kelas yang sedang tumbuh dalam

(45)

29

perjuangan yang sedang berasimilasi. Dalam klasifikasinya, Gramsci menjelaskan bahwa dalam intelektual tradisional terdapat para rohaniawan sebagai intelektual organik dari aristokrasi feodal dan mereka ada disaat kaum borjuis sudah menaiki tangga kekuasaan. Contoh lainnya diberikan oleh Gramsci ialah intelektual bercorak pedesaan, pendeta, pegawai negeri, pengacara, dan dokter. Mereka merupakan intelektual tradisional dikarenakan terbatas pada lingkungan tani dan borjuis kota kecil, belum meluas, dan tergerak oleh sistem kapitalis.

Gramsci juga memaparkan bahwa bukan hanya para filosof, sastrawan, ilmuan, dan para akademisi lainnya dalam klasifikasi intelektual tradisional, melainkan adanya pemimpin militer didalamnya. Para intelektual tradisional akan bertindak sebagai antek penguasa. Dalam klasifikasinya, intelektual tradisional berfungsi sebagai artikulator dari ideologi dan kepentingan kelas yang sedang tumbuh. Setiap kelompok sosial itu terlahir dari fungsinya yang pokok dan secara bersamaan melahirkan satu atau lebih strata kaum intelektualnya yang tercipta homogenitas dan kesadaran akan fungsi dalam diri kelompok sosial itu sendiri, baik dalam medan ekonomi, sosial dan politik (Yudi Latif 2013:23).

2. Intelektual Organik

Selain adanya intelektual tradisional dalam pendekatan oleh empat koalisi partai dalam menghadapi hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar, pendekatan intelektual organik ini juga diperlukan untuk melakukan counter hegemony PDI Perjuangan dan Partai Golkar. Dalam revisinya di Risorgimento, Gramsci memberikan klasifikasi intelektual organik dari para pemimpin partai moderat. Didalamnya terdapat para petinggi pengusaha dan organisator politik.

(46)

30

Mereka merupakan barisan terdepan yang riil dan organik dari lapisan ekonomi atas yang ada di dalamnya.

Gramsci berpendapat jika kelas pekerja ingin beranjak dari kelas rendah dan mengambil alih kepemimpinan dan membangun kesadaran politik melalui reformasi moral maupun intelektual secara menyeluruh, dan mereka harus menciptakan kelas intelektual organiknya sendiri. Jika para pekerja ingin membangun kelas intelektual organik yang baru, mereka harus menyerupai intelektual borjuis. Dalam bentuknya, keberadaan intelektual tidak lagi terpengaruh oleh kefasihan berbicara, namun dalam perspektif aktif dalam kehidupan yang praktis. Yaitu sebagai pembangun, penasehat tetap dan bukan semata-mata ahli dalam pidato. Dalam pandangan idealisnya, Gramsci menganggap intelektual berbeda dan muncul dari luar dunia hubungan produksi.

Pandangannya ini ditujukan dalam melawan pemahaman beku dalam gerakan sosialis yang berdasarkan tafsiran ekonomistik dari realitas, atas peran sosial- politik dari sosok intelektual (Nezar Patria 1999:156).

B.2. Kaitan Pengaruh Intelektual dalam Hegemoni PDI Perjuangan dan Partai Golkar di Sumedang

Kaitan dengan demokrasi di Sumedang, kinerja kaum intelektual masyarakat ini jelas diperlukan sebagai penyeimbang rezim dalam penyelenggaraan pemerintahan. Adanya hegemoni dalam sistem pemerintahan ini, menyebabkan adanya dominasi oleh partai penguasa di sistem pemerintahan tersebut. Dan adanya rezim yang kontraproduktif dari tujuan, hak politik dan hak asasi warganya. Bila hegemoni ini terus ada dalam perpolitikan Sumedang akan

(47)

31

mengakibatkan matinya partai kecil dan tidak bisa bersaing dengan partai penguasa. Lalu para masyarakat cenderung akan memilih partai besar tersebut meskipun pemimpinnya nanti melakukan tindakan menyeleweng. Di Indonesia memiliki latar belakang kepemimpinan intelektual yang sudah dilakukan dalam sistem perpolitikan. Hampir di setiap gejala politik Indonesia selalu mendapat gesekan dan naungan dari kepemimpinan intelektual yang sedia mewujudkan keadilan atas kesewenang-wenangan negara. Kepemimpinan intelektual seperti itulah yang akan membantu dalam sistem perpolitikan di Sumedang untuk terus- menerus mengawal kecenderungan kekuasaan yang hegemonik.

(48)

32 BAB III

PILBUP SUMEDANG 2018 DAN SUMEDANG SIMPATI

Dalam bab ini membahas gambaran umum pilbup Sumedang tahun 2018 serta pemaparan dari “Sumedang Simpati” pasangan Dony-Erwan. Selanjutnya, menjelaskan profil dari Dony Ahmad Munir dan Erwan Setiawan. Hal ini membuat penulis ingin membahas lebih dalam visi dan misi pasangan Dony- Erwan yang mempunyai nama “Sumedang Simpati” serta membahas profil dari pasangan tersebut.

A. Pemilihan Bupati Sumedang 2018

Melihat dari Undang-Undang No. 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati dan walikota menjadi Undang-Undang (UU RI 2016), banyak daerah provinsi maupun kabupaten di Indonesia yang telah melaksanakan kegiatan pemilihan umum pergantian kepala daerah di wilayahnya masing-masing termasuk di Sumedang.

Jumlah pemilih di Sumedang dalam pilbup 2018 yaitu 834.276 dalam (KPU RI 2018). Berdasarkan dari sidang rapat pleno terbuka penetapan pasangan calon bupati dan wakil bupati pada pilkada 2018 memutuskan bahwa KPU Sumedang Nomor 18/PK.01-BA/3211/KPU.Kab/II/2018 pada 12 Februari 2018 telah menetapkan beberapa calon bupati dan wakil bupati. Berikut nama-nama pasangan calon bupati dan wakil bupati Sumedang dalam pilbup Sumedang tahun 2018, adalah:

(49)

33

Tabel III.A.1 Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumedang 2018 (Sumedang Online 2018).

No Pasangan Calon Pengusung

1 H. Dony Ahmad Munir, S.T., M.M. dan Erwan Setiawan, S.E.

PAN, PKB, PPP, Partai Demokrat 2 H. Setya Widodo, S.H. dan Sonia Sugian, S.H. Independen 3 Drs. H. Zaenal Alimin, M.M. dan Asep Kurnia, S.H.,

M.H. Independen

4 Irwansyah Putra dan Sidik Jafar, S.E. PDI Perjuangan dan Partai Golkar 5 Ir. H. Eka Setiawan, Dipl., S.E., M.M. dan

Mohammad Agung Anugrah, S.E., Ak.

PKS dan Partai Gerindra

1. H. Dony Ahmad Munir, S.T., M.M., (calon bupati) dan Erwan Setiawan, S.E., (calon wakil bupati) diusung oleh PPP (lima kursi), Partai Demokrat (empat kursi), PAN (tiga kursi), dan PKB (dua kursi).

2. H. Setya Widodo, S.H., (calon bupati) dan Sonia Sugian, S.H., (calon wakil bupati) melalui jalur perseorangan dengan jumlah dukungan 63.312 dan jumlah sebaran 26 kecamatan.

3. Drs. H. Zaenal Alimin, M.M., (calon bupati) dan Asep Kurnia, S.H., M.H., (calon wakil bupati) melalui jalur perseorangan dengan jumlah dukungan 68.696 dan jumlah sebaran 26 kecamatan.

4. Irwansyah Putra (calon bupati) dan Sidik Jafar, S.E., (calon wakil bupati) diusung oleh PDI Perjuangan (dua belas kursi) dan Partai Golkar (sepuluh kursi), dan

Gambar

Tabel I.A.1 Hasil Pilbup Sumedang 2018 (KPU Sumedang 2018)
Tabel II.A.2.1 Strategi Politik Peter Schroder (Ibid. :199).
Tabel III.A.1 Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumedang 2018  (Sumedang Online 2018)
Gambar IV.A.1
+7

Referensi

Dokumen terkait