PEMBANGUNAN DESA
Konsep Pembangunan Masyarakat
1. Pengertian Pembangunan Masyarakat
Pembangunan merupakan suatu proses
yang berdimensi jamak (multidimensional), mencakup perubahan orientasi dan
organisasi dari sistem sosial, ekonomi, politik, dan budaya
Pembangunan masyarakat desa diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan oleh
masyarakat, sehingga mereka mampu
mengindentifikasikan kebutuhan dan
masalah secara bersama
Pembangunan masyarakat sebagai kegiatan yang terencana untuk
menciptakan kondisi-kondisi bagi kemajuan sosial ekonomi
masyarakat, dengan meningkatkan partisipasi masyarakat.
Pembangunan masyarakat adalah perpaduan antara pembangunan sosial ekonomi dan
pengorganisasian masyarakat
Program-program dalam pembangunan
masyarakat yang disusun (disiapkan) harus memenuhi kebutuhan masyarakat
Adapun perencanaan yang menyusun program- program pembangunan atau yang membangun kegiatan usahanya pada suatu daerah harus
dilakukan analisis kebutuhan masyarakat
Dalam melakukan analisis kebutuhan harus
benar-benar dapat memenuhi kebutuhan
(needs analisis), bukan sekadar membuat
daftar keinginan (list of wants) yang bersifat
sesaat
Pembangunan masyarakat (Community development) mengandung upaya untuk
meningkatkan partisipasi dan
rasa memiliki (participating and belonging together) terhadap
program yang dilaksanakan, dan harus mengandung unsur
pemberdayaan masyarakat
Menurut Soelaiman M. Munandar,
pembangunan masyarakat harusnya menerapkan prinsip-prinsip:
a. transparansi (keterbukaan)
b. Partisipasi
c. dapat dinikmati masyarakat
d. dapat dipertanggungjawabkan (akuntanbilitas)
e. berkelanjutan (sustainable)
Pembangunan masyarakat
dilakukan dengan pendekatan
multisektor (holistik), partisipatif, berdasarkan pada semangat
kemandirian, berwawasan
lingkungan dan berkelanjutan serta melaksanakan
pemanfaatan sumber daya
pembangunan secara serasi,
selaras, dan sinergis sehingga
tercapai secara optimal
Pelaksanaan kegiatan pembangunan
memerlukan kinerja yang erat antara desa dan satu daerah/wilayah dan antardaerah/ wilayah
Dalam hubungan ini perlu diperhatikan
kesesuaian hubungan antara kota dengan daerah pedesaan di sekitarnya
Pada umumnya, lokasi ini terkonsentrasi yang mempunyai dampak keberkaitan dengan
daerah-daerah sekitarnya, sehingga dengan kerja sama antardaerah/desa, daerah-
daerah/desa-desa yang dimaksud diharapkan
dapat tumbuh dan berkembang
2. Strategi Pembangunan Masyarakat
Strategi pembangunan masyarakat, dapat diwujudkan dalam empat jenis berikut:
a.
strategi pembangunan (growth strategy)
b.
strategi kesejahteraan (welfare strategy)
c.
strategi yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat (responsive strategy)
d.
strategi terpadu atau strategi yang
menyeluruh (integrated or holistic
strategy)
Beberapa tahapan pembangunan, di antaranya sebagai berikut:
1. tahapan perencanaan pembangunan
2. tahapan pelaksanaan pembangunan
3. tahapan monitoring dan evaluasi pembangunan
4. tahapan pengawasan
pembangunan
3. Tujuan Pembangunan Masyarakat
Di beberapa wilayah pedesaan,
tujuan pembangunan adalah untuk menstimulasi pertumbuhan
ekonomi yang ditujukan untuk memecahkan masalah
kependudukan dan lapangan kerja
Oleh karena itu, tujuan dalam pembangunan masyarakat desa secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. terciptanya kondisi umum yang mendorong pembangunan
2. termanfaatkannya potensi sumber daya sehingga memberikan manfaat bagi pembangunan oleh
pemerintah setempat (yang bersangkutan), dunia usaha, dan masyarakat umum
3. terlaksananya sejumlah investigasi dalam berbagai sektor
4. terlaksananya langkah-langkah dalam melaksanakan kemudi dan dorongan bagi kegiatan dan investasi swasta
Model Pembangunan
1. Model Pembangunan I (Pertumbuhan)
2. Model Pembangunan II
(Pemerataan dan Pemenuhan Kebutuhan Pokok/Kebutuhan Dasar)
3. Model Pembangunan III
(Pembangunan Kualitas Sumber Daya Manusia)
4. Model Pembangunan IV
(Peningkatan Daya Saing)
MODEL PEMBANGUNAN I (PERTUMBUHAN)
Model pembangunan ini berkembang pada dekade 1950an dan 1960-an
Pembangunan berorientasi pada peningkatan pertumbuhan pendapatan nasional
Peranan pemerintah sejak semula bersifat enterpreneurial
Aparatur pemerintah sangat menentukan dalam merencanakan pembangunan guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang diinginkan
Perencanaan diwarnai oleh pendekatan sektoral dan
parsial
MODEL PEMBANGUNAN II (PEMERATAAN DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN
POKOK/KEBUTUHAN DASAR)
Model pembangunan ini berkembang pada dekade 1970-an
Tugas pemerintah adalah sebagai pemberi pelayanan
Orientasi pembangunan pada pemenuhan
kebutuhan pokok, kemandirian, pertanian, dan perdesaan
Pemberantasan pengangguran dan
ketidakmerataan merupakan tujuan eksplisit
pembangunan model ini
MODEL PEMBANGUNAN III (PEMBANGUNAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA)
Model pembangunan ini berkembang akhir dekade 1980an
Pembangunan menekankan keikutsertaan masyarakat dan kelompok sasaran dalam menentukan kebutuhan dan partisipasi
dalam proses pembangunan melalui
pemberdayaan, pembelajaran masyarakat,
dan memanfaatkan kondisi lokal
MODEL PEMBANGUNAN IV (PENINGKATAN DAYA
SAING)
Model pembangunan ini berkembang pada akhir abad ke-20
pembangunan berupaya untuk meningkatkan daya saing
Lokus model ini adalah nation state dalam keseluruhan unsur dan isinya, serta upaya peningkatan daya saing,
pengembangan kemitraan dalam independensi global yang dinamis, dan didasari nilai-nilai budaya universal
Timbul kesadaran pemerintah terhadap perlunya melakukan pergeseran kebijakan dan reorientasi arah pembangunan
Mekanisme pembangunan yang terlalu sentralistis, birokratis, supply oriented, proses tertutup tidak dapat dipertahankan lagi karena globalisasi tersebut, sehingga paradigma harus diubah melalui transformasi segala aspek kehidupan
Pembangunan Desa
Pengertian Pembangunan Desa
Pembangunan masyarakat desa dan
pembangunan desa merupakan dua istilah yang memiliki pengertian yang berbeda
Istilah pembangunan masyarakat desa sebagai community development mengandung makna pembangunan dengan pendekatan
kemasyarakatan (community approach), partisipasi masyarakat (community
partisipation), dan organisasi kemasyarakatan
(community organisation)
Adapun pembangunan desa sebagai rural development mempunyai arti yang lebih luas lagi
Pembangunan masyarakat desa sudah tercakup di dalamnya
Pembangunan desa dapat dikatakan sudah menjadi metode yang merupakan satu kebulatan, yang terdiri atas
komponen-kompenen yang satu sama lainnya saling berkaitan
Pembangunan masyarakat merupakan salah satu komponen yang sangat penting dan menentukan yang harus dibangun utuh bersama-sama dengan lingkungan fisik dan lingkungan hidupnya
Dengan demikian, apabila berbicara tentang pembangunan perdesaan, pada hakikatnya yang kita pikirkan adalah
pembangunan masyarakat desa
Pendekatan utama yang digunakan dalam
pembangunan masyarakat desa adalah sebagai berikut:
a. Pendekatan partisipatif yang melibatkan warga masyarakat desa dalam segenap proses
pembangunan, mulai perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, hingga pemanfatan hasil-hasilnya
b. Pendekatan kemandirian yang menitikberatkan pada kegiatan dan usaha berdasarkan kemandirian lokal
c. Pendekatan keterpaduan, yaitu mengarahkan
kegiatan secara lintas sektor dan lintas daerah ke dalam suatu proses pembangunan yang menyeluruh dan terpadu
Strategi (Pelaksanaan) Pembangunan Desa
Pada masa Orde Baru, secara substansial strategi pembangunan desa cenderung dilakukan secara seragam (penyeragaman) oleh pemerintah pusat.
Program pembangunan desa lebih bersifat top-down
Pada era reformasi secara substansial pembangunan desa diserahkan kepada desa itu sendiri
Adapun pemerintah dan pemerintah daerah
cenderung mengambil posisi dan peran sebagai
fasilitator, memberi bantuan dana, pembinaan, dan pengawasan
Program pembangunan desa lebih bersifat bottom-
up atau kombinasi buttom-up dan top-down
Tujuan Pembangunan Desa
Tujuan dasar dari pembangunan pedesaan adalah mengurangi dan menghapuskan kemiskinan yang berkepanjangan
Walaupun kita tentu saja mengakui bahwa perhatian utama harus diberikan pada tingkat maupun “pola” pengukuran
pertanian, disesuaikan dengan tujuan strategis jangka panjang
Adapun inti dari pembangunan pedesaan adalah mendayagunakan tenaga kerja pedesaan, juga
mempertimbangkan faktor-faktor penyedia sarana dan prasarana produksi, bahan baku, transportasi, dan
keterampilan masyarakat (Kasryno dan Stepanek, 1985)
Adapun tujuan utamanya adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat untuk menjadi masyarakat yang makmur dan sejahtera, sesuai dengan visi pembangunan nasional bangsa Indonesia