• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 4.1. Layout vihara Avalokitesvara dan layout ruang sembahyang utama atau Kwan Im Thang. Sumber: dokumentasi pribadi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gambar 4.1. Layout vihara Avalokitesvara dan layout ruang sembahyang utama atau Kwan Im Thang. Sumber: dokumentasi pribadi."

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISIS DATA

4.1 Pra-Ikonografi

Tahap Pra-Ikonografi ini adalah tahap pertama dari tahapan analisa ikonografi berdasarkan teori Panofsky (Panofsky 26). Pada tahap ini subyek penelitian yaitu ornamen interior Vihara Avalokitesvara Pamekasan, Madura akan di deskripsikan. Aspek-aspek yang akan di deskripsikan yaitu: bentuk, material, tekstur, finishing, dan warna. Setiap ornamen akan di deskripsikan berdasarkan aspek-aspek tersebut.

Gambar 4.1. Layout vihara Avalokitesvara dan layout ruang sembahyang utama atau Kwan Im Thang.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Vihara Avalokitesvara Pamekasan, Madura terdiri dari beberapa massa bangunan, diantaranya: area altar sembahyang Thian Kong (area A pada layout), pendopo (area B pada layout), ruang Kwan Im Thang atau ruang sembahyang utama (area C pada layout), ruang Dhamasala (area D pada layout), gedung agung (area E pada layout), ruang Lithang (area F pada layout), area administrasi (area G pada layout), pura (area H pada layout), dan kuti (area I pada layout). Secara

(2)

umum, terlihat dari layout bangunan-bangunan yang ada pada vihara Avalokitesvara Pamekasan, Madura memiliki bentuk geometris baik persegi seperti pada gedung agung maupun persegi panjang yaitu pada area altar Thian Kong, pendopo, ruang sembahyang utama atau Kwan Im Thang, ruang Dhamasala, Lithang, area administrasi, pura, dan kuti. Altar Thian Kong, pendopo, dan ruang sembahyang utama berorientasi ke selatan. Sedangkan ruang Dhamasala, gedung agung, Lithang, dan pura berorientasi ke timur. Dua bangunan lainnya yaitu gedung administrasi dan kuti berorientasi ke barat.

4.1.1 Ruang Sembahyang Utama atau Kwan Im Thang.

Gambar 4.2. Layout vihara Avalokitesvara dan layout ruang sembahyang utama atau Kwan Im Thang.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Ruang sembahyang utama terletak di belakang area pendopo dan area altar Thian Kong. Ruang ini berbentuk geometris persegi panjang dan dapat terlihat pada penataan ruangnya bahwa ruang ini bersifat simetris. Orientasi ruang menghadap ke selatan. Terlihat pada layout bagian yang berwarna putih merupakan warna keramik pada lantai, sedangkan warna merah muda merupakan warna keramik yang digunakan sebagai pelapis untuk meja altar sembahyang.

Keramik pada lantai berukuran 30x30cm dengan tekstur yang licin dan halus, sedangkan keramik merah muda berukuran 10x10cm dengan tekstur yang licin dan halus juga.

Gedung sembahyang utama ini terbagi menjadi dua yaitu serambi dan ruang sembahyang. Pada serambi terdapat kolom-kolom, tambur, lonceng, dan

(3)

patung singa, sedangkan pada ruang sembahyang terdapat patung-patung, perlengkapan sembahyang seperti meja altar, bendera lian, dan tok wi. Selain itu juga terdapat partisi yang membatasi meja altar sembahyang dan meja tempat ditempatkannya patung-patung dewa-dewi.

Gambar 4.3. Layout ruang sembahyang utama atau Kwan Im Thang.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Gambar 4.4. Tampak potongan 2-2”.

Sumber: dokumentasi pribadi.

I I I I

A

C C

B B

D D

E

F G G F

H H

(4)

Gambar 4.5. Tampak potongan 1-1’”

Sumber: dokumentasi pribadi.

Gambar 4.6. Tampak depan ruang Kwan Im Thang Sumber: dokumentasi pribadi.

Tabel 4.1 Pra-Ikonografi Ornamen Ruang Sembahyang Utama / Kwan Im Thang.

Ornamen Deskripsi

A. Relief Pantai dan Candi Prambanan

- Relief diaplikasikan pada dinding di bela-kang patung-patung.

- Relief memiliki tekstur yang agak kasar dan memiliki kesan timbul.

(5)

Tabel 4.1 Pra-Ikonografi Ornamen Ruang Sembahyang Utama / Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Deskripsi

yang agak kasar dan memiliki kesan timbul.

- Relief menggambarkan pesisir pantai talang siring dan candi Prambanan.

B. Partisi

Buddha Gautama

Sulur, Swastika, Teratai

Kaligrafi

Naga Jawa

- Partisi dihiasi dengan ornamen berupa relief menggambarkan kehidupan Budha Gautama, sulur, swastika, teratai dan kaligrafi.

- Kaligrafi bertuliskan 祖佛音觀

- Di bagian atas partisi terdapat ornamen naga Jawa. Naga tersebut terlihat tidak memiliki kaki dan memakai mahkota.

- Material : Multiplek.

- Finishing : Cat kayu/ matte.

- Tekstur : Halus, tetapi memiliki kesan timbul karena merupakan ukiran.

- Warna : Cokelat tua.

(6)

Tabel 4.1 Pra-Ikonografi Ornamen Ruang Sembahyang Utama / Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Deskripsi

C. Patung Miniatur MakCo. - Patung miniatur ini diletakan pada rak yang menempel pada dinding.

- Makco ditampilkan dalam posisi duduk.

- Material : Batu hitam.

- Finishing : Bronze.

- Tekstur : Halus/matte.

- Warna : Emas.

D. Leaky Window. - Jendela berbentuk lingkaran.

- Ornamen didalamnya yaitu burung hong, sulur, bunga, dan angka tahun 1951.

- Material : Besi.

- Finishing : Cat.

- Tekstur : Halus/ matte.

- Warna : Emas

E. Pintu dengan Kaligrafi - Ornamen pada pintu berupa kaligrafi.

- Pada bagian atas bertuliskan 宫音觀 - Pada sisi kanan dan kiri bertuliskan 半枝楊 柳度迷津 dan 一朵蓮 花超 苦海

- Kaligrafi dituliskan pada papan berwarna merah sedangkan tulis- annya dituliskan dengan cat berwarna emas.

- Papan diatas pintu terbuat dari kayu.

- Kedua ornamen memiliki tekstur yang halus dengan finishing matte.

(7)

Tabel 4.1 Pra-Ikonografi Ornamen Ruang Sembahyang Utama / Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Deskripsi

E. Patung Singa (kiri) - Pada bagian atas terdapat patung singa dengan anak singa di dekat kakinya, sedangkan di bagian bawah terdapat balokan yang keempat sisinya memiliki ornamen yaitu:

Sisi kanan: teratai, Sisi depan: gourd, Sisi kiri: scenery, Sisi belakang: pedang.

Material patung: Batu.

Finishing patung : Cat.

Tekstur patung: Halus/ matte.

Warna patung: Emas.

F. Patung Singa (kanan) - Pada bagian atas terdapat patung singa dengan koin di dekat kakinya, sedangkan di bagian bawah terdapat balokan yang keempat sisinya terdapat ornamen yaitu:

Sisi kiri: bangau, Sisi depan: pedang, Sisi kanan: scenery, Sisi belakang: kipas.

Material Patung: Batu.

Finishing patung: Cat /matte.

Tekstur patung: Halus Warna patung: emas.

(8)

Tabel 4.1 Pra-Ikonografi Ornamen Ruang Sembahyang Utama / Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Deskripsi

G. Pilar - Pilar terdiri dari 2 ornamen, teratai (atas) dan phoenix pada bagian batang pilar.

- Teratai

Tekstur : Halus Finishing : Cat/ matte.

Warna : Outline berwarna pink dengan bagian dalam berwarna putih.

- Phoenix

Finishing : Cat/ matte.

Warna : Tubuh berwarna hijau ekor, berwarna seperti merak dan kepalanya merah jingga.

- Bagian bawah pilar yang berbentuk bulat adalah dekorasi yang bersifat estetika.

H. Lonceng - Lonceng menggantung pada sebuah

perabot, pada perabot tersebut terdapat ornamen berupa sulur dan naga.

- Material : Kayu.

- Finishing : Varnish.

- Tekstur : Halus/matte.

- Warna : Cokelat kayu.

(9)

Tabel 4.1 Pra-Ikonografi Ornamen Ruang Sembahyang Utama / Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Deskripsi

H. Tambur - Tambur menggantung pada sebuah

perabot, pada perabot tersebut terdapat ornamen berupa sulur dan naga.

- Material : Kayu.

- Finishing : Varnish.

- Tekstur : Halus/matte.

- Warna : Cokelat kayu.

I. Pilar - Pilar terdiri dari 2 ornamen, teratai (atas) dan naga pada bagian batang pilar.

- Teratai

Tekstur : Halus Finishing : Cat/ matte.

Warna: Outline berwarna pink dan dalam berwarna putih.

- Naga

Tekstur : Halus Finishing : Cat/ matte.

Warna : Tubuh berwarna hijau dengan rumbai berwarna kuning.

- Bagian bawah pilar yang berbentuk bulat adalah dekorasi yang bersifat estetika.

(10)

4.1.2 Pendopo

Gambar 4.7. Layout Vihara Avalokitesvara dan letak area pendopo.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Area pendopo terletak diantara gedung Kwan Im Thang dan altar Thian Kong. Area ini memiliki bentuk geometris persegi panjang. Warna merah pada layout merupakan warna lantai yang digunakan dengan ukuran 30x30cm dan finishing yang halus dan licin. Area ini memiliki fungsi sebagai area fasilitas duduk. Ornamen pada area ini berupa kaligrafi.

Tabel 4.2 Pra-Ikonografi Ornamen Pendopo

Ornamen Deskripsi

1. - Kaligrafi : 奉五香清五濁

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Cat.

- Warna : Bidang dasar kaligrafi berwarna merah dengan kaligrafi berwarna kuning.

2.

-

Kaligrafi: 天西花雨

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Cat.

- Warna : Bidang dasar kaligrafi berwarna merah dengan kaligrafi berwarna kuning

1

2

3 4

(11)

Tabel 4.2 Pra-Ikonografi Ornamen Pendopo (sambungan).

Ornamen Deskripsi

3. - Kaligrafi: 正六根得六通

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Cat.

- Warna : Bidang dasar kaligrafi berwarna merah dengan kaligrafi berwarna kuning.

4. - Kaligrafi:海南薰風

Tekstur : Halus.

- Finishing : Cat.

- Warna : Bidang dasar kaligrafi berwarna merah dengan kaligrafi berwarna kuning.

4.1.3 Dhamasala

Gambar 4.8. Layout Vihara Avalokitesvara dan letak ruang Dhamasala.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Ruang Dhamasala terletak agak di belakang, di samping kiri belakang dari ruang Kwan Im Thang. Ruang ini berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Budha Gautama. Bentuk ruang berupa geometris bersegi panjang.Terlihat pada layout terdapat bagian berbentuk U berwarna putih dan cokelat yang merupakan area tempat patung Budha, sedangkan bagian yang berwarna krem adalah tempat

(12)

umat berada. Lantai dimana umat berada juga dihiasi ornamen meander yang mengelilingi tepi-tepi ruang.Bagian berwarna abu pada layout merupakan serambi Dhamasala. Orientasi ruang menghadap ke arah Timur.

Gambar 4.9. Motif Meander pada lantai di ruang Dhamasala Sumber: dokumentasi pribadi.

Gambar 4.10. Layout ruang Dhamasala dan letak ornamen.

Sumber: dokumentasi pribadi.

(13)

Gambar 4.11. Tampak potongan 11-11” pada gambar sebelah kiri dan tampak potongan 12-12” pada gambar sebelah kanan.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Gambar 4.12. Tampak potongan 9-9”

Sumber: dokumentasi pribadi.

Pada ruang Dhamasala banyak terdapat ornamen-ornamen yang merupakan ornamen Buddhisme, seperti pohon Bodhi, dharmacakra, swastika, dan bendera Buddhis.

Tabel 4.3 Pra-Ikonografi Ornamen Dhamasala

Ornamen Deskripsi

1 2 3 3

4 4

5

4 4 4

6

7

(14)

1. Relief - Terletak di belakang patung Budha.

- Relief menggambarkan pohon Bodhi dan aura Budha.

- Pohon Bodhi memiliki efek timbul tetapi teksturnya halus.

- Aura hanya berupa gambar atau lukisan dan teksturnya halus.

2. Meja Altar

Swastika Teratai

Meander

- Meja altar terletak di depan patung Budha Gautama dengan tinggi kurang lebih 50cm.

- Di atas meja terdapat hio lo.

- Ornamen yang terdapat di depan meja adalah teratai, meander, dan swastika.

- Pada meja terdapat tulisan “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitta”

- Material : Multiplek - Top table : Granite.

- Finishing : Cat.

- Tekstur : Halus/matte.

- Warna : Hitam,emas.

Tabel 4.3 Pra-Ikonografi Ornamen Dhamasala (sambungan).

Ornamen Deskripsi

(15)

Tabel 4.3 Pra-Ikonografi Ornamen Dhamasala (sambungan).

Ornamen Deskripsi

3. Bendera Budhist - Terletak di kanan dan kiri meja altar.

Terdiri dari warna nila, kuning, merah, putih, dan jingga.

- Terbuat dari material keramik dengan tekstur yang halus dan licin sehingga memiliki tampilan glossy.

4. Leaky Window - Secara garis besar memiliki bentuk geometris persegi panjang.

- Ornamen di dalamnya terdapat teratai dan Dharmacakra.

- Finishing : Bronze.

- Tekstur: Halus tetapi memiliki kesan timbul /matte

- Warna :Emas.

5. Pintu Masuk - Di atas pintu masuk dhamasala terdapat lukisan wajah Budha Gautama dengan warna dasar (background) hitam dan wajah Budha berwarna emas.

- Pintu yang digunakan merupakan pintu dengan ukiran Jepara. Ornamen di dalamnya ada dharmacakra, swastika, burung, peony¸dan awan.

- Material : Kayu - Finishing : Varnish.

- Tekstur : Halus/matte.

- Warna : Cokelat.

(16)

5. Kala - Terletak di atas kolom yang terdapat pada serambi.

- Material : Semen.

- Finishing :Cat.

- Tekstur : Sedikit kasar/matte.

- Warna : Cokelat kehitaman.

6. Kolom - Kolom pada serambi memiliki

ornamen naga.

- Naga yang digunakan perpaduan naga jawa dan China.

- Material : Semen.

- Finishing :Cat.

- Tekstur : Sedikit kasar/matte.

- Warna : Cokelat kehitaman.

Ruang Dhamasala memiliki keunikan yaitu plafonnya di desain bertingkat menyerupai candi Borobudur. Plafon tersebut dihiasi dengan ornamen dan arca Budha. Peletakan arca Budha juga disamakan dengan yang ada di candi Borobudur. Pada tingkat 1-4 arca di setiap sisi berbeda-beda, tetapi pada tingkat 5 dan 6 setiap sisi memiliki arca yang sama.

Gambar 4.13. Detail peletakan ornamen pada plafon ruang Dhamasala.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Tabel 4.4 Pra-Ikonografi Ornamen pada Plafon Dhamasala

Ornamen Deskripsi

1 2

3

4

(17)

1.Arca

.

- Dhyana Mudra - Terletak di sisi barat.

- Material : Batu hitam.

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Bronze.

- Warna : Emas.

2. Arca - Bhumiparsa Mudra

- Terletak di sisi timur.

- Material : Batu hitam.

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Bronze.

- Warna : Emas.

3. Arca - Abhaya Mudra

- Terletak di sisi utara - Material : Batu hitam.

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Bronze.

- Warna : Emas.

4. Arca - Wara Mudra

- Terletak di sisi selatan - Material : Batu hitam.

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Bronze.

- Warna : Emas.

Tabel 4.4 Pra-Ikonografi Ornamen pada Plafon Dhamasala (sambungan).

(18)

Ornamen Deskripsi

5. Arca - Witarka Mudra

- Terletak di tingkat 5.

- Material : Batu hitam.

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Bronze.

- Warna : Emas.

6. Arca - Dharmacakra Mudra

- Terletak di tingkat 6.

- Material : Batu hitam.

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Bronze.

- Warna : Emas.

7. Ukiran Bentuk : Vas dan sulur.

Material : Semen Tekstur : Agak kasar Finishing : Bronze.

Warna : Emas.

4.1.4 Altar Thian Kong

Gambar 4.14. Layout Vihara Avalokitesvara dan layout altar Thian Kong.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Area altar Thian Kong terletak paling depan. Bentuk area ini geometris persegi panjang. Terlihat dari layout, penutup lantai yang digunakan berupa

1 1

1 1

2 3

4

(19)

keramik berwarna merah. Ukuran keramik yang digunakan sebesar 30x30 cm dengan tampilan glossy tanpa memiliki corak atau motif. Berdasarkan penataan ruangnya, area ini bersifat simetris. Orientasi ruang menghadap ke selatan. Pada area ini, ornamen teraplikasi pada pilar, perabot, dan balok pada plafon. Ornamen pada pilar berupa ornamen naga dan awan, sedangkan pada perabot yaitu meja sembahyang dan Hio Lo terdapat ornamen phoenix dan naga. Selanjutnya pada plafon terdapat berbagai macam ornamen.

Tabel 4.5 Pra-Ikonografi Ornamen pada Area Altar Thian Kong.

Tabel 4.5 Pra-Ikonografi Ornamen pada Area Altar Thian Kong (sambungan).

Ornamen Gambar Detail Deskripsi

1. Pilar

Naga

Awan

- Pada pilar terdapat ornamen naga dan awan.

- Naga

Tekstur : Halus tetapi timbul.

Finishing : Cat.

Warna : Badan berwarna hijau dengan rumbai berwarna merah- jingga.

- Awan

Tekstur : Halus tetapi timbul.

Finishing : Cat.

Warna : Putih- Biru

Ornamen Gambar Detail Deskripsi

(20)

Pada balok pada bagian plafon juga terdapat

ornamen yang diaplikasikan, diantaranya

2. Ukiran - Terdapat pada meja

altar. Meja altar berwarna hitam. Pada sisi sebelah kiri meja terdapat ornamen berupa ukiran ornamen hewan yaitu phoenix.

- Tekstur : Halus tetapi timbul/matte.

- Finishing : Cat.

- Warna : Emas.

3. Ukiran - Terdapat pada meja

altar. Meja berwarna hitam. . Pada sisi sebelah kana meja terdapat ornamen berupa yaitu naga - Tekstur : Halus

tetapi timbul/matte.

- Finishing : Cat.

- Warna : Emas.

4. - Hio Lo merupakan

tempat meletakan dupa.

Pada sisi kanan dan kiri terdapat ornamen naga.

- Tekstur : Halus /matte.

- Finishing : Cat.

- Warna : Emas.

(21)

adalah ornamen berupa naga, kuncup teratai, sulur, pedang, kipas, dan ornamen dekoratif Ornamen-ornamen ini di aplikasikan pada ke empat sisi balok yang menunjang plafon.

Gambar 4.15. Potongan 7-7” dan peletakan ornamen pada balok plafon.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Tabel 4.6 Pra-Ikonografi Ornamen pada Plafon Area Altar Thian Kong.

Ornamen Deskripsi

1. Ukiran - Ornamen berupa sulur dan bunga.

- Tekstur : Sedikit kasar karena timbul.

- Finishing : Cat.

- Warna : Cokelat keemasan/

bronze.

2. Ukiran - Selain kuncup teratai bagian ini juga dihiasi dengan sulur.

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Cat.

Tabel 4. 6 Pra-Ikonografi Ornamen pada Area Altar Thian Kong (sambungan)..

1 2

4 3

(22)

Ornamen Deskripsi

Warna : Merah muda pada Teratai dan hijau pada sulur.

3. Ukiran - Di sekitar naga diberi ornamen lain berupa awan.

- Ornamen ini diletakan disudut-sudut balok.

- Tekstur : Halus.

- Finishing : Cat.

- Warna : Hijau pada tubuh dan merah pada rumbainya.

4. Lukisan - Ornamen ini diletakan saling

berhadapan satu dengan yang lain.

Tekstur : Halus tetapi ornamen timbul.

Finishing : Cat.

Warna : Cokelat muda/krem.

- Kipas

Tekstur : Halus tetapi ornamen timbul.

Finishing : Cat.

Warna : Hijau.

4.2 Analisa Ikonografi

(23)

Gambar 4.16. Layout vihara Avalokitesvara Sumber: dokumentasi pribadi.

Vihara Avalokitesvara terdiri dari beberapa masa bangunan, dimana ruang utama dalam Vihara ini adalah ruang sembahyang utama dan ruang-ruang yang lain mengelilingi sehingga membentuk courtyard ketika dilihat dari layout (Liu 28). Berdasarkan karakteristik penataan ruang pada bangunan China, semakin ke belakang semakin penting fungsi ruangnya (Knapp), kondisi vihara sudah sesuai dengan prinsip ini karena ruang sembahyang utama terletak paling belakang urutannya. Di lihat dari orientasi bangunan menghadap ke Selatan, berdasarkan budaya China bangunan yang menghadap ke selatan memiliki Qi yang baik (Liu 29).

4.2.1 Ruang Sembahyang Utama atau Kwan Im Thang

Ruang sembahyang utama atau Kwan Im Thang merupakan tempat adanya patung Dewi Kwan Im yang merupakan Dewi utama dalam vihara ini. Keunikan yang dimiliki patung ini adalah patung ini merupakan patung peninggalan majapahit dan merupakan perwujudan ratu majapahit Tribhuwanatunggadewi.

Selain Kwan Im, ruang ini juga digunakan sebagai ruang pemujaan kepada Bi Li Hud dan Sam Po Hud.

(24)

Gambar 4.17. Layout vihara Avalokitesvara dan layout ruang sembahyang utama atau Kwan Im Thang.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Dapat dilihat dari layout bahwa lantai yang digunakan berwarna putih.Warna putih dalam melambangkan kedamaian, kemurnian, dan kadang kala melambangkan kematian (Liu 64). Sedangkan yang berwarna merah muda adalah gambaran keramik yang digunakan pada meja altar. Warna merah merupakan lambang dari kegembiraan, kebahagiaan, dan kesejahteraan (Liu 64).

Gambar 4.18. Layout ruang sembahyang utama atau Kwan Im Thang.

Sumber: dokumentasi pribadi.

(25)

Gambar 4.19. Tampak potongan 2-2”.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Gambar 4.20. Tampak potongan 1-1’”

Sumber: dokumentasi pribadi.

Gambar 4.21. Tampak depan ruang Kwan Im Thang Sumber: dokumentasi pribadi.

(26)

Tabel 4.7 Analisa Ikonografi Ornamen Kwan Im Thang.

Ornamen Analisa

A. Relief Pantai dan Candi Prambanan - Pantai talang merupa-kan tempat ditemu-kannya patung Dewi Kwan Im dan Sam Po Hud (Personal con- versation, Februari 2, 2017).

- Candi Prambanan merupakan pening- galan agama Hindu.

- Pengaplikasian gambar candi Prambanan sebagai ornamen dimaksudkan sebagai kesesuaian arca Tribhuanatunggadewi sebagai peninggalan Majapahit, dimana Majapahit merupakan kerajaan yang menganut Siwa-Budha. (Mahinda, personal conversation, Februari 2, 2017). Sebenarnya kedua hal tersebut tidak berkaitan karena Prambanan meru-pakan candi peninggalan Mataram kuno pada tahun 856 dan bercorak Hindu (Magical Prambanan 18).

B. Partisi.

Buddha Gautama

- Relief menggambarkan kehidupan sang Buddha dalam mengajarkan DharmaNya (Mahinda, personal conversation, Februari 2, 2017).

- Swastika dalam bahasa Sanskerta su yang berarti baik, as yang berarti terjadilah, maka Swastika berarti

“biarlah yang baik terjadi” (Williams 364).

(27)

Tabel 4.7 Analisa Ikonografi Ornamen Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Analisa

Sulur, Swastika, dan Teratai

Kaligrafi

Naga Jawa

Dalam ajaran Buddha, swastika menandakan keberuntungan dan nasib baik serta sebagai simbol jejak kaki Buddha dan jantung Buddha.

Selain itu juga simbol dari ajaran- ajaran Buddha (Williams 364)

- Sulur melambangkan keabadian (Wen 53).

- Teratai melambangkan kemurnian dan juga hasil baik (Williams 9).

- 祖佛音觀 = Zǔ fú yīn guān memiliki arti Buddha Guan Yin (Personal conversation, Februari 2, 2017).

- Naga Jawa merupakan lambang air, kesuburan, dan kesaktian (Sunaryo 104).

C. Miniatur Makco - Dikenal dengan sebutan sebutan Ma Zu atau Tian Hou. Ia mampu mengusir roh jahat, memahami ilmu cuaca, dan mampu menyembuhkan orang sakit. (Setiawan dan Kwa Thong Hay 199,230-235). Ma Zu juga dikenal sebagai ibu yang suci.

Miniatur berfungsi sebagai dekorasi juga memiliki fungsi keagamaan, dengan menyewa patung ini dipercaya dapat memberikan perlindungan.

(28)

Tabel 4.7 Analisa Ikonografi Ornamen Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Analisa

D. Leaky Window

Phoenix 1951

- Phoenix dianggap sebagai Raja dari burung-burung. Phoenix merupakan lambang dari kemakmuran, martabat, dan kehormatan (Wen 25-26).

- Tahun 1951 merupakan tahun vihara tersebut melakukan renovasi pertama terutama pada ruang Kwan Im Thang (Personal commun-ication, Februari 2, 2017).

- Bunga dan sulur melambangkan keberuntungan dan kemakmuran serta kegembiraan (Wen 53).

E. Kaligrafi 宫音觀 = Gōng Guān Yīn

- Pada bagian atas (papan kayu maupun pada kusen atas) berarti istana dewi Kwan Im. (Personal communi-cation, April 12, 2017).

一朵蓮花超 苦海=Yī Duǒ Liánhuā Chāo Kǔ Hǎi

- Pada sisi kanan bertuliskan Yī Duǒ Liánhuā Chāo Kǔ Hǎi yang berarti satu kuntum teratai mampu melampaui penderitaan sebesar lautan (Personal communication, April 12, 2017).

半枝楊柳度迷津= Bàn Zhī Yáng Liǔ Dù Mí Jīn

- Pada sisi kiri bertuliskan atau Bàn Zhī Yáng Liǔ Dù Mí Jīn yang berarti

“Separuh batang tumb-uhan Yáng Liǔ dapat menyebrangi labirin”

(29)

Tabel 4.7 Analisa Ikonografi Ornamen Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Analisa

- Warna merah melam-bangkan kebahagiaan dan kesejahteraan (Liu 64).

- Tulisan berwarna emas melambangkan kemu-liaan dan keagungan (Liu 64).

F. Patung Singa (kiri). - Singa merupakan lambang dari pelindung dan penghalau roh jahat (Wen 23)

- Oleh karena patung ini berada di depan bangunan suci maka patung ini memiliki makna sebagai pelindung.

- Terdapat anak singa di bawah kakinya yang melambangkan sumber kebahagiaan (Williams 252).

- Warna emas melambangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

- Teratai melambangkan kemurnian dan kesem-purnaan (Williams 254).

- Bunga ini dipercaya sebagai tempat duduk bagi Buddha.

(Williams 9, 253, 310).

- Gourd melambangkan kemisteriusan dan dalam Taoisme merupakan gambaran dari Li Tieguai, salah satu Eight Mortals selain itu juga lambang umur panjang (Williams 222).

- Menurut Zhu Wen, Grout melambangkan keberuntungan dan kemakmuran (Wen 87).

(30)

Tabel 4.7 Analisa Ikonografi Ornamen Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Analisa

- Dalam budhisme, pedang dikenal dengan Adi (sanskerta) yang melambangkan kebijak-sanaan dan wawasan yang dalam (Williams 366).

- Scenery hanya sebatas pemandangan F. Patung Singa (kanan). - Singa merupakan lambang dari

pelindung dan penghalau roh jahat (Wen 23).

- Kipas salah satu benda pusaka melambangkan keharmonisan dan kebahagiaan (Williams 167).

- Terdapat bola dibawah kakinya yang melam-bangkan kesatuan seluruh negeri (Williams 252). Warna emas melambangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64). Dalam budhisme, pedang dikenal dengan Adi (sanskerta) yang melambangkan kebijak-sanaan dan wawasan yang dalam (Williams 366). Burung bangau merupakan lambang kebadian (Williams118).

G. Pilar - Teratai melambangkan kemurnian

dan kesem-purnaan (Williams 254).

- Bunga ini dipercaya sebagai tempat duduk bagi Buddha (Williams 253).

- Teratai putih melam-bangkan kesempurnaan spiritual. (“Arti”

par.5).

-

(31)

Tabel 4.8 Analisa Ikonografi Ornamen Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Analisa

G. Pilar - Phoenix melambangkan kemakmuran,

martabat, dan kehormatan (Wen 25- 26).

- Menurut Williams, ekornya memiliki bulu dengan lima wacam warna melambangkan lima pokok kebajikan dalam ajaran Khonghucu. Makna lain kesetiaan, ketulusan hati, keadilan dan kema-nusiaan (Williams 313).

- Warna merah pada pilar lambang kebahagiaan dan kesejahteraan (Liu 64).

H. Lonceng - Sulur merupakan lambang keabadian dan kemakmuran (Wen 53).

Naga dan mustika menyiratkan makna pengejaran akan ilmu

sejati karena mustika merupakan lambang dari ilmu sejati dan kebahagiaan (Yoswara, Santosa, dan Haswanto 7).

- Lonceng berfungsi sebagai penanda untuk berkumpul untuk ber-ibadah (Williams 65).

H. Tambur Tambur memiliki ornamen naga dan

mustika menyiratkan makna pengejaran akan ilmu sejati karenamustika merupakan lambang dari ilmu sejati dan kebahagiaan. (Yoswara, Santosa, dan Haswanto 7). Sulur melambangkan keabadian dan kemakmuran (Wen 53).

(32)

Tabel 4.7 Analisa Ikonografi Ornamen Kwan Im Thang (sambungan).

Ornamen Analisa

I. Pilar - Warna dasar pilar ini adalah merah, melam-bangkan kebahagiaan dan kesejahteraan (Liu 64).

- Teratai melambangkan kemurnian dan kesem

purnaan (Williams 254).

- Bunga ini dipercaya sebagai tempat duduk bagi Buddha.(Williams 253) Teratai pada pilar ini berwarna putih, teratai

putih melambangkan kesempurnaan spiritual. (“Arti” par.5).

- Naga keberuntungan, keseimbangan dan kemakmuran (Wen 15). Selain itu juga bermakna sebagai perlindungan (Wen 16).

Naga yang melilit/ berlekuk ini melam-bangkan kekuatan dan untuk merangsang arus energi sang naga/

Ch’i ke dalam klenteng ini sendiri (Aminata 106).

- Naga berwarna hijau, hal ini bermakna naga sebagai lambang kekuatan yang penuh dengan keluwesan (Wijaya 120).

Pada pintu masuk utama ruang Kwan Im Thang atau ruang sembahyang utama terdapat kaligrafi pada sisi kanan-kiri dan atas pintu tersebut. Selanjutnya akan dianalisa makna filosofi yang terkandung dalam kaligrafi tersebut.

(33)

Gambar 4.22. Pintu masuk ruang sembahyang utama dengan kaligrafi.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Pada sisi kiri bertuliskan 半枝楊柳度迷津 atau Bàn Zhī Yáng Liǔ Dù Mí Jīn yang berarti “Separuh batang tumbuhan Yáng Liǔ dapat menyebrangi labirin”.

Kalimat ini memiliki makna bahwa Yáng Liǔ merupakan tumbuhan yang digunakan sebagai sarana untuk memercikan berkah kepada umat melalui air suci yang telah disucikan, sedangkan labirin menggambarkan lautan penderitaan manusia. Jadi, maksud dari kalimat tersebut adalah pengharapan akan air suci yang telah dipercikan melalui Yáng Liǔ dapat memberi berkah dan penderitaan yang dialami manusia dapat dihapuskan (Personal Conversation, April 21, 2017).

Pada sisi kanan bertuliskan 一朵蓮花超 苦海 atau Yī Duǒ Liánhuā Chāo Kǔ Hǎi, artinya “satu kuntum teratai mampu melampaui penderitaan sebesar lautan”. Kalimat ini merupakan inti ajaran Buddha dimana dalam agama Buddha teratai merupakan suatu hal yang istimewa, ia keluar dari lumpur yang kotor namun dapat keluar ke permukaan menjadi sesuatu yang indah. Melalui kalimat ini diharapkan bahwa manusia dapat melihat diri sebagai teratai, walaupun hidup dalam dosa atau samsara, ia dapat bertumbuh menjadi seperti teratai baik adanya dan indah (hidup sesuai dengan ajaran Sang Buddha).

Maksud tulisan tersebut diletakan di pintu masuk adalah agar ketika akan memasuki ruang tersebut, orang yang akan beribadah dapat melihat diri sebagai teratai dan terberkahi.

(34)

4.2.2 Pendopo

Gambar 4.23. Layout Vihara Avalokitesvara dan letak area pendopo.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Pendopo merupakan area yang memiliki fungsi sebagai fasilitas duduk bagi jemaat maupun pengunjung. Area ini di bangun pada tahun 1951. Ornamen yang terdapat pada area tersebut adalah adalah ornamen kaligrafi dan ukiran.

Tabel 4.8 Analisa Ikonografi Ornamen Pendopo

Ornamen Analisa

1.

奉五香清五濁

*dibaca dari kanan ke kiri

- Berarti Fèng Wǔ Xiāng Qīng Wǔ Zhuó

“Memberi penghormatan dengan 5 dupa membersihkan 5 kekeruhan”.

(Personal communication, April 18, 2017).

- Warna merah melam-bangkan kebahagiaan dan kesejahteraan (Liu 64).

- Tulisan berwarna emas melam- bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

2. - Bertuliskan 天西 花雨 atau Tiānxī

Huā Yǔ berarti “hujan bunga nirwana” (Personal communication, April 18, 2017)

1

2

3 4

(35)

Tabel 4.8 Analisa Ikonografi Ornamen Pendopo (sambungan).

Ornamen Analisa

2.

天西花雨

*dibaca dari kanan ke kiri

- Warna merah melambangkan kebahagiaan dan kesejahteraan (Liu 64).

- Tulisan berwarna emas melambangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

3.

*dibaca dari kanan ke kiri

正六根得六通

- Bertuliskan 正六根 得六通 atau zhèng liù Gēn Dé liù Tōng yang berarti “Meluruskan 6 akar mendapat 6 pengertian”

- Warna merah melam-bangkan kebahagiaan dan kesejahteraan (Liu 64).

- Tulisan berwarna emas melambangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

4.

海南薰風

- Bertuliskan 海南薰風 atau Hǎi Nán Xūn Fēng berarti “Aroma wangi bunga angin laut cina selatan”

- Warna merah melam-bangkan kebahagiaan dan kesejahteraan (Liu 64).

- Tulisan berwarna emas melambangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

(36)

Tabel 4.8 Analisa Ikonografi Ornamen Pendopo (sambungan).

Ornamen Analisa

5. Ukiran pada meja - Teratai melambangkan kemurnian dan kesempurnaan (Williams 254).

- Bunga ini dipercaya sebagai tempat duduk bagi Buddha (Williams 9, 253, 310).

- Meander makna kontinuitas dan ketahanan. Karena tanpa ujung, simbol ini juga memiliki makna sebagai kemakmuran yang tidak berakhir (Wen 91,103).

Pada sisi utara, kaligrafi bertuliskan 濁五清 香五奉 atau yang berarti Fèng Wǔ Xiāng Qīng Wǔ Zhuó “Memberi penghormatan dengan 5 dupa membersihkan 5 kekeruhan”. Pernyataan ini memberi makna bahwa 5 berkaitan dengan 5 tathagata dimana manusia terdiri dari 5 unsur yaitu rupa, kesadaran, pencerapan, perasaan dan pikiran, atau maksud yang lain adalah berhubungan dengan Dhasasila yaitu :

- Jangan mengganggu dan menyakiti makhluk - Jangan menggambil apa yang tidak di berikan - Jangan berzina

- Jangan berkata bohong

- Jangan meminum barang yang bisa memabukkan

Maksud 5 dupa adalah dengan manusia mempersembahkan dirinya seutuhnya atau melakukan 5 dari Dhasasila tersebut manusia akan mampu terhindar dari penderitaan dunia.

Pada sisi selatan ertuliskan 正六根 得六通 atau zhèng liù Gēn Dé liù Tōng yang berarti “Melurus 6 akar mendapat 6 pengertian”. Meluruskan 6 akar maksudnya adalah menunaikan pelaksanaan penghormatan kepada:

(37)

a. Orang Tua b. Guru

c. Istri dan Anak d. Sahabat dan teman e. Buruh dan pelayan f. Petapa atau Brahmana

Dengan melakukan penghormatan kepada 6 subyek tersebut akan memberikan 6 pengertian atau kebijaksanaan.

Pada sisi timur bertuliskan天西 花雨 atau Tiānxī Huā Yǔ berarti “hujan

bunga nirwana”. Maksud pernyataan ini adalah

“hujan bunga” berarti berkah dan nirwana adalah kebebasan manusia untuk lepas dari kehidupan, kematian, dan usia tua yang berarti berkah untuk dapat menuju nirwana, lepas dari lingkaran kehidupan yang fana.

Pada sisi barat 海南薰風 atau Hǎi Nán Xūn Fēng yang berarti “Aroma wangi bunga oleh angin laut cina selatan”. Maksud dari pernyataan ini adalah

“aroma wangi” kebajikan, “bunga” memiliki arti tidak kekal, dan Laut Selatan merupakan lambang dari samsara atau penderitaan.

4.2.3 Dhamasala

Gedung Dhamasala merupakan gedung yang digunakan sebagai pemujaan kepada Buddha Gautama. Bentuk bangunan terinspirasi dari candi Mendut. Candi Mendut merupakan salah satu peninggalan agama Buddha karena keberadaan candi ini memiliki keterkaitan dengan candi Pawon dan candi Borobudur dan dipercaya memiliki fungsi keagamaan sebagai prosesi untuk mencapai tingkat Bodhisatwa (Soeroto 52). Sedangkan bagian dalam gedung memiliki keunikan pada plafonnya. Desain plafon terinspirasi dari candi Borobudur yang bertingkat- tingkat, dimana pada sisi atau tingkat tertentu terdapat arca Buddha dengan mudra yang berbeda-beda. Candi Borobudur menjadi inspirasi karena candi ini merupakan candi peninggalan agama Buddha (Soeroto 38). Pada candi ini di tingkat Rupadhatu terdapat arca Dhyani Buddha yang setiap sisi memiliki perbedaan sikap tangan.

(38)

Pada gedung Dhamasala ini lantai yang digunakan berwarna krem atau kuning kecoklatan dengan motif marmer. Warna kuning kecoklatan memiliki makna kemuliaan dan keagungan (Liu 64). Pada bagian tengah ruang, lantai diberi keramik dengan motif bunga-bunga sebagai elemen dekoratif untuk menambah nilai estetika dalam ruang (Personal conversation, Februari 2, 2017).

Pada lantai gedung dhamasala terdapat motif yang menghiasi lantai yaitu motif meander. Motif ini diatur pada mengelilingi ruang dhamasala. Motif ini memiliki makna Meander makna kontinuitas dan ketahanan.Karena tanpa ujung, simbol ini juga memiliki makna sebagai kemakmuran yang tidak berakhir (Wen 91,103).

Gambar 4.24. Motif Meander pada lantai di ruang Dhamasala Sumber: dokumentasi pribadi.

- Sedangkan pada bagian serambi terdapat batuan alam yang disusun membentuk bunga teratai. Teratai melambangkan Teratai melambangkan kemurnian dan kesem-urnaan (Williams 254).

Gambar 4.25. Layout ruang Dhamasala dan letak ornamen.

Sumber: dokumentasi pribadi.

(39)

Gambar 4.26. Tampak potongan 11-11” pada gambar sebelah kiri dan tampak potongan 12-12” pada gambar sebelah kanan.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Gambar 4.27. Tampak potongan 9-9”

Sumber: dokumentasi pribadi.

1 3 2 3

4

4

5

4 4 4

6

7

(40)

Tabel 4.9 Analisa Ikonografi Ornamen Dhamasala.

Ornamen Analisa

1. Relief - Relief menggambarkan aura dan

pohon Bodhi .

Pohon Bodhi meru-pakan tempat di mana Buddha Gautama mencari pencerahan. Buddha Gautama menghabiskan waktu selama 7 tahun berada di bawah pohon tersebut sebelum menjadi Budha. Pohon Bodhi yang asli terdapat di Gaya di Bengal, dan ada juga yang ditanam di kota sakral Amara-poora. di Burma (Williams 70).

- Pohon Bodhi juga dikenal dengan

“The tree of Intelligence” (Williams 70).

- Ketika Buddha men-capai pencerahan, tu-buhnya memancarkan aura dan warna-warna tersebut digunakan se-bagai bendera Buddhist

- Warna pada tubuh Buddha adalah biru/ nila, kuning, merah, putih, dan jingga.

2. Meja Altar

Swastika

- Di atas meja altar terdapat Hio Lo untuk menancapkan dupa seusai sembahyang. (Sugiharto 30).

- Swastika dalam bahasa Sanskerta su yang berarti baik, dan as yang berarti terjadilah, maka Swastika berarti “biarlah yang baik terjadi”

(Williams 364).

(41)

Tabel 4.9 Analisa Ikonografi Ornamen Dhamasala (sambungan).

Ornamen Analisa

2. Meja Altar

Teratai

Meander

- Di atas meja altar terdapat Hio Lo untuk menancapkan dupa seusai sembahyang. (Sugiharto 30).

- Swastika dalam bahasa Sanskerta su yang berarti baik, dan as yang berarti terjadilah, maka Swastika berarti “biarlah yang baik terjadi”

(Williams 364).

- Dalam ajaran Buddha, swastika menandakan keberuntungan dan nasib baik serta simbol jejak kaki Buddha, jantung Buddha dan ajaran Buddha (Williams 364).

- Teratai melambangkan kemurnian dan kesem-purnaan (Williams 254).

Meander makna konti-nuitas dan ketahanan. Karena tanpa ujung, meander juga bermakna sebagai kemakmuran yang tidak berakhir (Wen 91,103).

- “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitta”

memiliki arti semoga semua makhluk berbahagia (Personal conversation, Februari 2, 2017).

- Warna hitam melam-bangkan kebaikan (Too 146) dan emas lambang kemuliaan (Liu 64).

(42)

Tabel 4.9 Analisa Ikonografi Ornamen Dhamasala (sambungan).

Ornamen Analisa

3. Bendera Buddhist. Bendera Buddhis berasal dari warna tubuh Buddha Gautama ketika mencapai kesempur-naan.

- Biru (Nila) dari warna rambut Buddha melam-bangkan bhakti dan pengabdian.

- Kuning emas (Pita) berasal dari warna kulit sang Buddha dan melambangkan kebijak-sanaan.

- Merah (Lohita) berasal dari darah sang Buddha yang melambangkan cinta kasih.

Putih (Odata) berasal dari tulang dan gigi sang Buddha melam-bangkan kesucian.

- Jingga (Manjettha) berasal dari telapak tangan, kaki, dan bibir yang melambangkan semangat

3. Leaky Window - Teratai melambangkan kemurnian dan juga hasil baik (Williams 9).

- Dharmacakra adalah representasi dari simbol pemutaran roda dharma.

oleh Sang Buddha tentang empat kesu-nyataan mulia.

Pada Dharmacakra ini terdapat 8 jari-jari yang melambangkan

“Delapan Jalan Mulia” (Atta Ariya magga).

(43)

Tabel 4.9 Analisa Ikonografi Ornamen Dhamasala (sambungan).

Ornamen Analisa

4. Pintu - Di atas pintu terdapat lukisan wajah Buddha Gautama. Buddha Gautama adalah pelopor lahirnya agama Buddha (Sudharma 1).

- Buddha Gautama merupakan seorang Pangeran, putra dari Raja Sudodhana dan permaisuri Ratu Maya Dewi (Sudharma 2).

Pada usianya yang ke-30 tahun Buddha semakin mengintro-peksi diri. Ia mempertanyakan arti dan tujuan hidup. Kemudian Buddha keluar meninggalkan rumah dan keluarganya untuk mencari

“pencerahan” (Bodhi 8,10).

- Warna emas melam-bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

Sedangkan warna hitam melambangkan kebaikan (Too, 146).

- Pada pintu terdapat ukiran ornamen dharmacakra, swastika, peony, burung magpie, dan ruyi.

- Dharmacakra adalah representasi dari simbol pemutaran roda dharma.

oleh Sang Buddha tentang empat kesunyataan mulia.

Pada Dharmacakra ini terdapat 8 jari-jari yang melambangkan

“Delapan Jalan Mulia atau Atta Ariya magga (Herlina 18).

(44)

Tabel 4.9 Analisa Ikonografi Ornamen Dhamasala (sambungan).

Ornamen Analisa

4. Pintu - Swastika dalam bahasa Sanskerta

su yang berarti baik, dan as yang berarti terjadilah, maka Swastika berarti “biarlah yang baik terjadi”

(Williams 364).

- Dalam ajaran Buddha, swastika menandakan keberuntungan dan nasib baik serta simbol jejak kaki Buddha, jantung Buddha dan ajaran Buddha (Williams 364).

- Bunga Peony melam-bangkan kekayaan dan kehormatan (Wen 46).

- Burung dengan bunga merupakan lambang dari kegembiraan atau sukacita.

- Sedangkan burung magpie sendiri adalah lambang dari “bird of joy”

(Williams 259).

5. Kala - Bentuk gedung Dhamasala

terinspirasi oleh candi Mendut, oleh karena itu pengaplikasian ornamen serupa dengan candi-candi yaitu pada pintu masuk bangunan.

-

- - - Kala pada candi Barong

Kemendikbud.go.id

(45)

Tabel 4.9 Analisa Ikonografi Ornamen Dhamasala (sambungan).

Ornamen Analisa

5. Kala - Kala merupakan ornamen dari

kebudayaan Jawa perlambang penolak roh jahat (Sunaryo 50)

6. Kolom - Naga keberuntungan, keseimbangan

dan kemakmuran (Wen 15). Selain itu juga bermakna sebagai perlindungan (Wen 16).

- Naga dalam budaya Jawa memiliki arti sebagai pelindung (Sunaryo 103)

- Ornamen terbuat dari batu dengan warna kehitaman yang me- lambangkan kebaikan (Too, 146).

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa pada gedung Dharmasala terdapat plafon yang didesain serupa dengan Candi Borobudur, bertingkat-tingkat dan pada setiap sisi pada tingkat Rupadhatu terdapat arca Dhyani Buddha yang setiap sisi memiliki perbedaan sikap tangan. Pada tingkat A-Rupadhatu setiap tingkat berbeda sikap tangannya (Soeroto 39)

Gambar 4.28. Potongan 11-11”, sisi barat Dhammasala dengan Budha bersikap Dhyana.

Sumber: dokumentasi pribadi

(46)

Gambar 4.29. Rencana plafon ruang Dhamasala dan letak ornamen.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Pada nomor 1 merupakan adanya Dhayana Buddha, pada nomor 2 Buddha dalam posisi Bhumiparsa, di nomor 3 arca Buddha menunjukan sikap

Tabel 4.10 Analisa Ikonografi Ornamen Plafon Dhamasala

Ornamen Gambar Literatur Analisa

1. Arca sebelah Barat

Miksic, 54

- Buddha dalam posisi Dhayana Mudra, menggambarkan posisi semedi, kedua tangan diletakan pada pang- kuan dengan posisi telapak tangan meng- hadap ke atas. Telapak tangan kanan berada diatas yang kiri dengan kedua ibu jari saling bertemu. Simbol kekosongan.

- Warna emas melam- bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

1

2 4 3

(47)

Tabel 4.10 Analisa Ikonografi Ornamen Plafon Dhamasala (sambungan).

Ornamen Gambar Literatur Analisa

2. Arca sebelah Timur

Miksic, 55

- Buddha dalam posisi Bhumiparsa Mudra, telapak tangan kiri mengadah ke atas dan berada di pangkuan, sedangkan tangan kanan menempel pada lutut kanan dengan jari- jari menunjuk ke bawah.

- Melambangkan saat sang Buddha me- manggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika dia menangkis serangan iblis Mara.

- Warna emas melam- bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

3. Arca sebelah Utara.

Miksic, 55

- Buddha dalam posisi Abhaya Mudra, tangan kiri terbuka dengan te- lapak tangan yang me- ngadah dan diletakan di pangkuan. Tangan ka- nan diangkat sedikit diatas lutut dengan te- lapak tangan meng- hadap ke depan (penggung tangan menghadap ke badan).

(48)

Tabel 4.10 Analisa Ikonografi Ornamen Plafon Dhamasala (sambungan).

Ornamen Gambar Literatur Analisa

- Posisi ini menggam- barkan sikap tenang dan tidak gentar.

- Warna emas melam- bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

4.Arca sebelah Selatan.

Miksic, 55

- Buddha dalam posisi Wara Mudra tangan kanan menghadap keatas sedangkan jari- jarinya terletak di lutut kanan. Tangan kiri di

pangkuan dan

mengadah. Lambang pemberian amal.

- Warna emas melam- bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

5. Tingkat ke-5

Miksic, 54

- Buddha dalam posisi Witarka Mudra, Telapak tangan kiri terbuka, mengadah, dan diletakan dipangkuan sedangkan tangan kanan diangkat sedikit di atas lutut dan telapak tangan menghadap ke depan.

posisi ibu jari dan telunjuk kanan yang saling bersentuhan.

Lambang pengajaran.

(49)

Tabel 4.10 Analisa Ikonografi Ornamen Plafon Dhamasala (sambungan).

Ornamen Gambar Literatur Analisa

- Warna emas melam- bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

6. Tingkat ke-6

Miksic, 55

- Buddha dalam posisi Dharmacakra Mudra, kedua tangan diletakan di depan dada.Tangan kiri dibawah tangan kanan. Tangan kiri menghadap ke atas dengan jari manisnya, serupa dengan gerakan memutar roda. Mudra ini melambangkan gerak memutar roda dharma.

- Warna emas melam- bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

7. - Vas melambangkan

keberuntungan, keu- tuhan dan menandakan kemenangan akan inte- lijen tinggi mengenai kehidupan dan kematian (Williams 393).Sulur melambangkan keaba- dian dan kemakmuran (Wen 53).

- Emas: kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

(50)

4.2.4 Altar Thian Kong

Gambar 4.30. Layout Vihara Avalokitesvara dan layout altar Thian Kong.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Area ini adalah area yang difungsikan sebagai area pemujaan kepada Thian Kong. Pembangunan area ini dilakukan pada tahun 2010. Terlihat dari layout bahwa pada area ini menggunakan lantai dengan keramik berwarna merah. Warna merah dalan budaya Tionghoa memiliki makna sebagai lambang kegembiraan dan kesejahteraan (Liu 64).

Tabel 4.11 Analisa Ikonografi Ornamen Altar Thian Kong.

Ornamen Gambar Detail Analisa

1. Pilar - Pilar ini memiliki warna

dasar berwarna merah yang melambangkan kegembiraan dan kesejahteraan (Liu 64).

- Naga keberuntungan, keseimbangan dan kemakmuran (Wen 15).

Selain itu juga bermakna sebagai perlindungan (Wen 16).

- Naga yang melilit/

berlekuk ini mempunyai makna melambangkan

1 1

1 1

2 3

4

(51)

Tabel 4.11Analisa Ikonografi Ornamen Altar Thian Kong (sambungan).

Ornamen Gambar Detail Analisa

1. Pilar kekuatan dan untuk

merangsang arus energi sang naga/ Ch’i ke dalam klenteng ini sendiri (Aminata 106).

- Naga pada ornamen tersebut berwarna hijau, hal ini bermakna naga sebagai lambang kekuatan yang penuh dengan keluwesan.

(Wijaya 120).

- Pada sela-sela tubuh naga terdapat ornamen awan atau ruyi, lambang penghargaan dan kegembiraan serta lambang permohonan akan kesuksesan (Wen 98-99).

2. Phoenix - Phoenix melambangkan

kemakmuran, martabat, dan kehormatan (Wen 25-26). Menurut Willi- ams, ekornya memiliki bulu lima macam warna melambangkan lima pokok kebajikan dalam ajaran Khonghucu.

(52)

Tabel 4.11 Analisa Ikonografi Ornamen Altar Thian Kong (sambungan).

Ornamen Gambar Detail Analisa

2. Phoenix Selain itu juga memiliki

makna kese-tiaan, ketulusan hati keadilan dan kemanusiaan (Williams 313).

- Warna hitam melam- bangkan kebaikan (Too 146).

- Warna emas melam- bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

3. Naga - Naga keberuntungan,

keseimbangan dan kemakmuran (Wen 15).

Selain itu juga bermakna sebagai perlindungan (Wen 16).

- Warna hitam melam- bangkan kebaikan (Too 146).

- Warna emas melam- bangkan kemuliaan dan keagungan (Liu 64).

4. Hio Lo - Hio Lo untuk

menancapkan dupa seusai sembahyang.

(Sugiharto 30).

(53)

Tabel 4.11 Analisa Ikonografi Ornamen Altar Thian Kong (sambungan).

Ornamen Gambar Detail Analisa

4. Hio Lo. Hio Lo untuk Tian tidak

boleh diletakkan lang- sung di tanah, harus digantung atau diberi alas yang lebih tinggi (Sugiharto 30).

Oleh karena itu terdapat ketinggian lantai.

- Ornamen naga pada Hio Lo melambangkan keberuntungan, kese- imbangan dan kemak- muran (Wen 15). Selain itu juga bermakna sebagai perlindungan (Wen 16).

- Warna emas menjadi lambang keagungan dan kemuliaan (Liu 64).

Plafon pada area altar Thian Kong ini dipenuhi dengan berbagai macam ornamen diantaranya, ornamen naga, ornamen, kuncup teratai, sulur, pedang, dan kipas.

(54)

Gambar 4.31. Potongan 7-7” dan peletakan ornamen pada balok plafon.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Tabel 4.12 Analisa Ikonografi Ornamen Plafon Altar Thian Kong.

Ornamen Analisa

1. Sulur - Sulur merupakan lambang keabadian

dan kemakmuran (Wen 53).

Ornamen ini di bronze dengan warna emas kecokelatan, bermakna kemuliaan dan kea-gungan (Liu 64).

2. Kuncup teratai

Williams.(2006,p.254).

- Teratai melambangkan kemurnian dan kesem-purnaan (Williams 254).

- Bunga teratai yang belum mekar melam-bangkan kebijaksanaan Sang Buddha (Cooper 101).

- Sedangkan sulur-sulur yang berada di sekitar kuncup teratai tersebut memiliki makna keaba-dian dan kemakmuran (Wen 53).

3. Naga - Naga keberuntungan, keseimbangan

dan kemakmuran (Wen 15). Selain itu juga bermakna sebagai perlindungan (Wen 16).

- Naga pada ornamen tersebut

1 2 3

4

(55)

Tabel 4.12 Analisa Ikonografi Ornamen Plafon Altar Thian Kong (sambungan).

4.3 Interpretasi Ikonologi

Berdasarkan sejarah perkembangan Vihara, Vihara Avalokitesvara bermula dari rumah sembahyang keluarga di abad 17-an. Pada saat itu seorang Tionghoa menemukan sebuah patung atau rupang wanita yang kemudian disembah sebagai Dewi Kwan Im. Rupang tersebut sebenarnya adalah pendharmaan Ratu Majapahit, Tribhuwanatunggadewi. Rupang tersebut adalah rupang yang akan dikirimkan ke sebuah kerajaan bernama kerajaan Jamburingin di kecamatan Proppo. Kerajaan Jamburingin merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit (Ma’arif 75). Namun, karena minimnya sarana pengangkutan rupang tersebut tidak sampai ke Jamburingin dan terkubur di tanah yang kemudian dimiliki keluarga Tionghoa

Ornamen Analisa

4. Naga berwarna hijau, hal ini bermakna naga

sebagai lambang kekuatan yang penuh dengan keluwesan.

(Wijaya 120).

- Pada sela-sela tubuh naga terdapat ornamen awan atau ruyi, lambang penghargaan dan kegembiraan serta lambang permohonan akan kesuksesan (Wen 98-99).

5. Pedang - Dalam budhisme, pe-dang dikenal

dengan Adi (sanskerta) melam- bangkan kebijaksanaan dan wawasan yang dalam (Williams 366).

- Merupakan salah satu ornamen

“Delapan Dewa” atau Pat Sian, melambangkan keharmo-nisan dan kebahagiaan (Williams 167).

(56)

tersebut. Pada masa kerajaan Majapahit dikenal dengan adanya budaya kultus dewa Raja (Direktorat Jenderal Kebudayaan 57). Dalam kultus dewa raja ini raja diagungkan dan dipuja seperti seorang dewa (Direktorat Jenderal Kebudayaan 58).

Gambar 4.32. Patung Dewi Kwan Im yang juga dianggap sebagai pendharmaan Tribhuwanatunggadewi.

Sumber : dokumentasi pribadi

Penyembahan rupang tersebut sebagai Dewi Kwan Im didasarkan kepada kepercayaan dari seorang Tionghoa yang menemukan rupang tersebut. Oleh karena menganut agama Buddha, dewa yang dikenal dengan sosok feminism adalah Dewi Kwan Im sehingga rupang tersebut kemudian dipuja sebagai Dewi Kwan Im.

Gambar 4.33. Keadaan Vihara setelah serangan agresi militer Belanda di tahun 1947.

Sumber : dokumentasi pribadi

Selanjutnya, persembahyaan keluarga tersebut berkembang menjadi rumah ibadah umum di bawah kepengurusan organisasi. Rumah ibadah umum tersebut pada mulanya bernama Kwan Im Kiong yang kemudian berubah menjadi Vihara

(57)

Avalokitesvara akibat kebijakan pada masa Orde Baru. Pada tahun 1947, akibat agresi militer Belanda bangunan mengalami kerusakan dan kemudian di renovasi di tahun 1951.

Selama renovasi tersebut, Vihara juga menambahkan bangunan baru berupa pendopo sebagai fasilitas duduk dan berkumpul. Selanjutnya di tahun 1967, Vihara membangun Dhamasala dengan bentuk bangunan yang sederhana.

Dhamasala direnovasi menjadi bangunan yang megah pada tahun 2010 dan di tahun 2012, Vihara membangun bangunan untuk tempat sembahyang kepada Thian Kong. Perkembangan Vihara tentu tidak luput dari latar belakang politik, sosial, dan budaya yang terjadi di Indonesia. Latar belakang itulah yang turut mengambil peran mengenai keberadaan dan wujud Vihara sampai hari ini.

Gambar 4.34. Bagan interpretasi ikonologi Vihara Avalokitesvara Pamekasan, Madura.

Sumber : dokumentasi pribadi

Dari segi politik, Vihara merupakan subyek yang terkena dampak dari kebijakan-kebijakan yang telah ditentukan pemerintah. Dari segi sosial, penerimaan masyarakat terhadap Vihara ini merupakan suatu bentuk toleransi antar agama dan etnis. Sedangkan dari segi budaya, Vihara ini tidak hanya

(58)

mengadopsi budaya Tionghoa namun juga beberapa budaya lain seperti Jawa dan Madura.

a. Interpretasi dari segi politik.

Perkembangan Vihara dilihat dari segi politik dimulai pada tahun 1951 pada jaman rezim Orde Lama yang kemudian berlanjut pada jaman Orde Baru, reformasi dan sampai dengan saat ini.

Setelah kerusakan yang terjadi akibat agresi militer Belanda pada tahun 1947, pihak vihara untuk melakukan renovasi gedung utama Kwan Im Thang dan membangun area pendopo pada tahun 1951. Namun renovasi yang dilakukan oleh pihak vihara adalah renovasi yang sederhana, bangunan tampak luar berupa rumah sederhana tanpa memperlihatkan ornamen yang mengandung unsur budaya Tionghoa yang mencolok. Hal ini terjadi oleh karena adanya diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Pada masa itu adalah masa pemerintahan Presiden Soekarno, dimana diskriminasi terhadap etnis Tionghoa yang terjadi pada masa kolonial masih berlanjut. Diskriminasi yang terjadi pada masa pemerintahan Soekarno meliputi masalah kepemilikan tanah oleh peranakan Tionghoa sebagai warisan dari ibunya yang pribumi diambil pemerintah dan dibagikan kepada pihak pribumi yang tidak berhak, pada tahun 1953 adanya kebijakan pemerintah mengenai RUU Kewarganegaraan yang menyulitkan warga Tionghoa. Dalam RUU tersebut dikatakan bahwa untuk memperoleh kewarganegaraan menetap selama 3 generasi dan harus bisa membuktikan bahwa orang tuanya lahir dan menetap di Indonesia selama 10 tahun berturut-turut. Pada November 1959 dengan tiba-tiba Presiden Soekarno menandatangani Peraturan Pemerintah No.10 yang berisi mengenai larangan bagi orang-orang asing (khususnya orang Tionghoa) untuk berdagang eceran di daerah-daerah pedalaman yaitu di luar ibukota daerah swatantra tingkat I dan II (Setiono 791). Kemudian di tahun 1965 terjadi G30SPKI, sejalan dengan adanya G30SPKI diserukan kampanye

“Sinopobhia” atau anti Tionghoa. Namun di tengah diskriminasi sedemikian rupa, Presiden Soekarno mengijinkan peranakan Tionghoa untuk masuk dalam pemerintahan dan beliau juga menginjinkan berdirinya organisasi bagi masyarakat Tionghoa seperti Partai Demokrasi Tionghoa Indonesia (PDTI) dan Baperki.

Bahkan organisasi Buddhis dapat berdiri pada masa itu seperti Gabungan Khong

(59)

Kauw Hwee Indonesia (GAPAKSI) dan Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI) (“Buddhisme” par.4). Oleh karena itu renovasi terhadap Vihara masih memungkinkan untuk dilaksanakan, terlebih lagi lain pemerintah pada waktu itu sedang berfokus kepada kestabilan negara yang baru saja merdeka (Setiono).

Gambar 4.35. Keadaan Vihara pada tahun 1951 setelah direnovasi.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Pada masa orde baru, masyarakat Tionghoa di Indonesia masih saja mengalami diskriminasi bahkan lebih mendiskriminasi di banding dengan masa orde lama. Presiden Soeharto melakukan kebijakan asimilasi terhadap etnik Tionghoa (Suryadinata 217) dengan mengeluarkan Inpres Nomor 14 Tahun 1967.

Akibat dikeluarkannya Instruksi Presiden tersebut, muncul berbagai kebijakan seperti:

 Aturan penggantian nama.

 Melarang segala bentuk penerbitan dengan bahasa serta aksara China. Larangan penggunaan bahasa Mandarin dalam berkomunikasi di depan umum dalam bentuk apapun (Hudayah dan Winarni 25).

 Membatasi kegiatan-kegiatan keagamaan hanya dalam keluarga.

 Tidak mengizinkan pagelaran dalam perayaan hari raya tradisional Tionghoa di muka umum.

 Melarang sekolah-sekolah Tionghoa dan menganjurkan anak-anak Tionghoa untuk masuk ke sekolah umum negeri atau swasta.

(60)

Akibat kebijakan-kebijakan pemerintah pada masa orde baru tersebut, tempat ibadah yang awalnya bernama Kwan Im Kiong harus berganti nama menjadi Vihara Avalokitesvara. Walaupun pada tahun 1967 Vihara mampu membangun gedung dhamasala namun dengan dikeluarkannya Inpres Nomor 14 Tahun 1967 gedung Dhamasala dibangun dengan desain yang sederhana. Pihak Vihara cukup beruntung membangun gedung dhamasala pada tahun 1967 karena pada waktu itu belum ada larangan pembangunan tempat ibadah bagi pemeluk agama Budha.

Larangan pembangunan kemudian muncul dengan keluarnya Instruksi Menteri Dalam Negeri No.455.2-360 tahun 1988 pada 21 April 1988 tentang pelarangan menggunakan lahan untuk mendirikan, memperluas, atau merenovasi Klenteng (Hudayah dan Winarni 26).

Gambar 4.36. Keadaan Vihara pada tahun 1970, Vihara telah berganti nama dari Kwan Im Kiong menjadi Vihara Avalokitesvara.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Gambar 4.37. Keadaan Dhamasala pada tahun 1967, bentuk bangunan sederhana tanpa ornamen berunsur budaya Tionghoa.

Sumber: dokumentasi pribadi.

(61)

Pergantian nama akibat kebijakan Presiden Soeharto juga dialami oleh salah satu klenteng di Indonesia yaitu klenteng Kim Tek Ie diubah menjadi Vihara Dharma Bhakti. Klenteng Kim Tek Ie berada di Jakarta dan dibangun pada tahun 1650.

Kebijakan lain yang mendiskriminasi adalah mengenai penghapusan agama Khonghucu sebagai agama mempengaruhi semua aspek seperti pendidikan, perkawinan, dan KTP (Nurcahyo 44-46). Hal tersebut tertuang dalam Inpres Nomor 1470 Tahun 1978. Akibat kebijakan ini, umat Khonghucu harus bernaung dalam tempat ibadah agama Budha sebagai agama yang diakui di Indonesia atau mengubah tempat beribadah mereka sebagai Vihara (Herwiratno 83). Oleh karena kebijakan tersebut muncul istilah “Tri Dharma”, yaitu tempat ibadah bagi 3 aliran agama yaitu Buddha, Tao dan Khonghucu (Nio Joe Lan 68). Vihara Avalokitesvara ini merupakan Vihara yang beraliran “Tri Dharma”, walaupun saat ini agama Khonghucu sudah diakui sejak tahun 2007 dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007. Namun, walaupun Khonghucu telah diakui sebagai agama resmi di Indonesia keberadaan Vihara beralirkan “Tri Dharma” sudah terlanjur terbentuk dan sulit untuk memisahkan diri sehingga eksistensi mereka masih berlanjut sampai hari ini.

Setelah rezim Orde Baru berakhir, kebebasan beragama di Indonesia mengalami kemajuan. Presiden K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 dengan menerbitkan Keppres Nomor 6 Tahun 2000. Pencabutan Inpres tersebut berdampak cukup signifikan.

Pendiskriminasian terhadap etnis Tionghoa kian terkikis terlebih lagi dengan dikeluarkannya Keppres Nomor 19 Tahun 2002 meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional (Hudayah dan Winarni 27). Tempat beribadah masyarakat Tionghoa, Vihara kembali menjadi pusat kegiatan. Budaya Tionghoa kembali mulai diekspose di tengah masyarakat seperti menampilkan pertunjukan barongsai, merayakan perayaan Imlek (Herwiratno 84). Terlebih pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikeluarkan UU No.40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis (PDRE). Undang-undang tersebut memperkuat penerimaan pemerintah dan masyarakat Indonesia terhadap etnis Tionghoa.

(62)

Setelah kebijakan penghapusan tersebut dihapuskan, semenjak pemerintahan Gus Dur banyak tempat ibadah baru baik vihara maupun klenteng muncul. Hal ini menjadi bukti bahwa kebijakan tersebut sungguh-sungguh terealisasikan.

Beberapa contoh pembangunan tempat ibadah orang Tionghoa setelah reformasi yaitu:

- Triyana Dharma Center. Dharma Center ini merupakan sebuah pusat Dharma aliran Karma Kagyu yang diresmikan tanggal 30 April 2004 di Surabaya (“Triyana” par.2).

- Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa atau lebih dikenal dengan nama Klenteng Kwan Im ini berlokasi di Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, sekitar 8 km dari pusat kota Sukabumi. Tempat ini didirikan tanggal 8 Agustus 2000 oleh Anothai Kamonwathin.

- Maha Vihara dan Pusdiklat Buddha Maitreya di Surabaya. Maha Vihara ini dibangun pada tahun 2006 (“Sewindu”, par.1)

- Klenteng Ciu Lung Wang di Bogor yang mulai di bangun pada tahun 2007.

Bagi Vihara Avalokitesvara, kebijakan-kebijakan pemerintah yang menghapuskan diskriminasi ini tentu saja memberikan dampak positif terhadap perkembangan Vihara. Kebijakan tersebut mempermudah vihara untuk dapat melakukan renovasi dan pembangunan sesuai keinginan mereka untuk berekspresi. Di tahun 2010, Vihara merenovasi gedung dhamasala menjadi gedung yang megah dengan mengadopsi candi Mendut dan candi Borobudur sebagai inspirasi desain arsitektur dan interiornya.

Gambar 4.38. Tapak luar gedung dhamasala setelah direnovasi (kiri) dan gambar potongan gedung dhamasala.

Sumber: dokumentasi pribadi.

Gambar

Gambar 4.1. Layout vihara Avalokitesvara dan layout ruang sembahyang  utama atau Kwan Im Thang
Tabel 4.1 Pra-Ikonografi Ornamen Ruang Sembahyang Utama / Kwan Im Thang  (sambungan).
Tabel 4.2 Pra-Ikonografi Ornamen Pendopo
Tabel 4.2 Pra-Ikonografi Ornamen Pendopo (sambungan).
+7

Referensi

Dokumen terkait