• Tidak ada hasil yang ditemukan

SMP NEGERI 5 KLUET UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SMP NEGERI 5 KLUET UTARA"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL KARYA DAN PRESTASI SISWA TERKAIT KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI YANG EFEKTIF SECARA LISAN MAUPUN TERTULIS

PEMERINTAH KABUPATEN SELATAN DINAS PENDIDIKAN

SMP NEGERI 5 KLUET UTARA

KECAMATAN KLUET UTARA

(2)

PROGRAM

KEGIATAN LITERASI

SMP NEGERI 5 KLUET UTARA TAPEL 2019/2020

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH SELATAN DINAS PENDIDIKAN

SMP NEGERI 5 KLUET UTARA

KEC.KLUET UTARA – KAB. ACEH SELATAN

(3)

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur senantiasa tercurahkan kepada kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat dan karunia-NYA kami telah menyelesaikan program kerja ini yang di maksudkan untuk mengevaluasi program-program yang terlaksana maupun yang belum terlaksana.

Selawat dan salam tak lupa pula kami antarkan kepangkuan Alam Nabi Besar Muhammad SAW, yang mana berkat perjuangan dan usaha beliaulah maka kita semua dan berhasil mengantar ummat manusia dari alam kemusyrikan kea lam yang penuh dengan ketauhitadan, dari alan kejahilan kealam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Kegiatan Lierasi adalan merupaka kegiatan yang dilakukan siswa sekolah dalam jam pembelajaran dan diluar jam belajar kurikulum standar. Kegiatan-kegiatan ini ada pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai universitas. Kegiatan ini dilakukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya di berbagai bidang di luar bidang akademik. Kegiatan ini diadakan secara swadaya dari pihak sekolah maupun siswa-siswi itu sendiri untuk merintis kegiatan di luar jam pelajaran sekolah.

Kegiatan Leterasi ini sendiri dapat berbentuk kegiatan pada seni, , pengembangan kepribadian, dan kegiatan lain yang bertujuan positif untuk kemajuan dari siswa-siswi itu sendiri.

Kegiatan Lieterasi ini juga (biasa disingkat sebagai "ekskul") merupakan kegiatan penunjang kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini berlangsung pada jam pembelajaran dan juga diluar jam pemebalajaran

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan program-program kerja ini.

Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan sarannya untuk kesempurnaan penulis program kerja selanjutnya. Disamping ini juga berharap agar program ini dalam menjadi bahan bacaan atau lietarasi bagi kita semua dalam rangka untuk membina nilai-nilai keagaman dan akhlakul karimah siswa.

Krueng Batu, 13 Juli 2020 Penyusun

Armaini, S.Pd

NIP. 198707272011031001

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

BAB. I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Landasan Filosofi dan Landasan Hukum ... 4

C. Tujuan ... 5

D. Sasaran ... 5

BAB.II. KONSEP DASAR... 6

A. Literasi ... 6

B. Gerakan Literasi Sekolah ... 6

C. Komponen Literasi ... 7

D. Ruang Lingkup ... 8

E. Target Pencapaian GLS di SD... 9

BAB.III. PROGRAM KEGIATAN LITERASI SEKOLAH ... 10

A. Tahap Pembiasaan ... 10

B. Tahap Pengembangan ... 13

C. Tahap Pembelajaran... 17

BAB.VI PENUTUP ... 19

Lampiran :

1. Jadwam Kegiatan

(5)

BAB I PENDIHULAUAN

A. LATAR BELAKANG

Membaca-menulis (literasi) merupakan salah satu aktifitas penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri peserta didik mempengaruhi tingkat keberhasilan baik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak berlebihan kiranya Farr (1984) menyebut bahwa “Reading is the heart of education”.

Bagi masyarakat muslim, pentingnya literasi ditekankan dalam wahyu pertama Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah membaca (IQRA‟) yang dilanjutkan dengan „mendidik melalui literasi‟ („ALLAMA BIL QALAM).

Sedangkan dalam kaitannya dengan menulis, Hernowo (2005) dalam bukunya “Mengikat Makna” menyebut bahwa menulis dapat membuat pikiran kita lebih tertata tentang topik yang kita tulis, membuat kita bisa merumuskan keadaan diri, mengikat dan mengonstruksi gagasan, mengefektifkan atau membuat kita memiliki sugesti (keyakinan/ pengaruh) positif, membuat kita semakin pandai memahami sesuatu (menajamkan pemahaman), meningkatkan daya ingat, membuat kita lebih mengenali diri kita sendiri, mengalirkan diri, membuang kotoran diri, merekam momen mengesankan yang kita alami, meninggalkan jejak pikiran yang sangat jelas, memfasihkan komunikasi, memperbanyak kosa-kata, membantu bekerjanya imajinasi, dan menyebarkan pengetahuan.

UNESCO (1996) mencanangkan empat prinsip belajar abad 21, yakni:

(1) Learning to think (belajar berpikir) (2) Learning to do (belajar berbuat) (3) Learning to be (belajar untuk menjadi)

(4) Learning to live together (belajar hidup bersama)

Keempat pilar prinsip pembelajaran ini sepenuhnya didasarkan pada kemampuan literasi (Literary skills).

(6)

Dalam konteks pendidikan nasional kita, minat baca-tulis masyarakat kita sangat menghawatirkan. Hal ini disebabkan adanya pelbagai persoalan, misalnya:

1. Hampir semua kota-kota besar di Indonesia tidak punya perpustakaan yang memadai, padahal keberadaan perpustakaan yang memadai adalah salah satu ciri kota-kota modern di negara maju.

2. Perpustakaan yang ada di sebagian kota/kabupaten memiliki tingkat kunjungan pembaca yang rendah. Sebagai contoh di Jakarta, dari sekitar 10 juta penduduknya yang berkunjung ke perpustakaan hanya 200 orang/hari dan hanya 20% dari jumlah itu yang meminjam buku.

3. Disinyalir lebih dari 250 ribu sekolah di Indonesia, hanya 5% yang memiliki perpustakaan memadai. Hal ini merupakan fakta yang miris karena bisa menjadi indikator rendahnya budaya baca di sekolah.

4. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton TV daripada membaca buku.

5. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, seringkali belum memiliki program pengembangan literasi, atau menumbuhkan budaya baca-tulis secara sistemik. padahal siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah.

6. Terjadi lompatan dari kondisi pra-literer ke pasca-literer tanpa melalui kondisi literer.

Budaya menonton lebih dominan di masyarakat kita.

7. Terjadi fenomena “Rabun Membaca – Pincang Menulis”. Penelitian Taufiq Ismail pada tahun 1996 menemukan perbandingan tentang budaya baca di kalangan pelajar, rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia 0 buku 8. Hasil studi Vincent Greannary yang dikutip World Bank dalam sebuah laporan

pendidikan“Education in Indonesia: From Crisis to Recovery” pada tahun 1998 mengungkapkan kemampuan membaca siswa kelas VI SD di Indonesia mendapatkan poin 51,7. Jauh di bawah Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand (65,1), dan Filipina (52,6). Hasil ini menunjukkan bahwa membaca dalam sistem pendidikan nasional kita, secara faktual belum terintegrasi dengan kurikulum.

9. Produktifitas masyarakat Indonesia dalam bidang penulisan terbilang sangat rendah. Jumlah buku yang diterbitkan tidak sampai 18 ribu judul per tahun. Jumlah ini jauh lebih rendah

(7)

dibandingkan dengan Jepang yang mencapain 40 ribu judul per tahun, India 60 ribu judul per tahun, dan China 140 ribu judul per tahun (Kompas, 25/6/2012).

10. Dari bidang penerbitan tulisan ilmiah, produktifitas negara kita juga masih rendah.

Berdasarkan data Scimagojr, Journal, and Country Rank 2011, Indonesia berada di ranking 65 dengan jumlah 12.871 publikasi. Posisi Indonesia di bawah Kenya dengan 12.884 publikasi. Negara Paman Sam ada di peringkat pertama, dengan 5.285.514 publikasi.

Indonesia masih kalah dengan Singapura yang ada di posisi 32 dengan 108.522 publikasi (okezone.com, 21/2/2012). Jika dilihat dengan perspektif rasio publikasi penelitian dengan jumlah penduduk, persentasenya menjadi jauh lebih kecil lagi.

11. Kemampuan dan keterampilan Guru khususnya guru Sekolah dalam bidang Literasi masih sangat rendah.

12. Perhatian Pemerintah dari pusat sampai ke daerah dalam bidang Literasi masih sangat rendah sekali.

Permasalahan ini menegaskan bahwa pemerintah memerlukan strategi khusus agar kemampuan membaca peserta didik dapat meningkat dengan mengintegrasikan/ menindaklanjuti program sekolah dengan kegiatan dalam keluarga dan masyarakat. Hal ini untuk memastikan keberlanjutan intervensi kegiatan literasi sekolah sebagai sebuah gerakan literasi sekolah (GLS) agar Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah dampaknya dapat dirasakan di masyarakat.

GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya Nawacita nomor 5, 6, 8, dan 9. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; (8) melakukan revolusi karakter bangsa; (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Empat butir Nawacita tersebut terkait erat dengan komponen literasi sebagai modal pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing, berkarakter, serta nasionalis. Untuk dapat mengembangkan Nawacita, diperlukan pengembangan strategi pelaksanaan literasi di sekolah yang berdampak menyeluruh dan sistemik. Dalam hal ini, sekolah: a) sebaiknya tumbuh sebagai sebuah organisasi yang mengembangkan warganya

(8)

sebagai individu pembelajar; b) perlu memiliki struktur kepemimpinan yang juga terkait dengan lembaga lain di atasnya, serta sumber daya yang meliputi sumber daya manusia, keuangan, serta sarana dan prasarana; dan c) memberikan layanan pendidikan dalam bentuk pembelajaran di dalam kelas dan berbagai kegiatan lain di luar kelas yang menunjang pembelajaran dan tujuan pendidikan.

Dengan memperhatikan karakteristik sekolah sebagai sebuah organisasi akan mempermudah pelaksana program untuk mengidentifikasi sasaran agar perlakuan dapat diberikan secara menyeluruh (whole school approach).

B. Landasan Filosofi dan Landasan Hukum 1. Landasan Filosofi

Sumpah Pemuda butir ketiga (3) menyatakan, “menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia yang memiliki makna pengakuan terhadap keberadaan ratusan bahasa daerah yang memiliki hak hidup dan peluang penggunaan bahasa asing sesuai dengan keperluannya.”

a. Butir ini menegaskan pentingnya pembelajaran berbahasa dalam pendidikan nasional b. Konvensi PBB tentang Hak Anak pada tahun 1989 tentang pentingnya penggunaan bahasa

ibu. Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa, khususnya mikrokultur-mikrokultur tertentu perlu difasilitasi dengan bahasa ibu saat mereka memasuki pendidikan dasar kelas rendah (kelasI, II, III)

c. Konvensi PBB di Praha tahun 2003 tentang kecakapan literasi dasar dan kecakapan perpustakaan yang efektif merupakan kunci bagi masyarakat yang literat dalam menghadapi derasnya arus informasi teknologi. Lima komponen yang esensial dari literasi informasi itu adalah basic literacy, library literacy, media literacy, technology literacy, dan visual literacy.

2. Landasan Hukum

a. Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 31, Ayat 3: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur

dengan undang-undang.”

(9)

b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Siste Pendidikan Nasional

c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

d. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera,Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan

e. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

f. Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2014 tentang Pelaksanaan UUNomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan

g. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah.

h. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).

i. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

j. Peraturan Prsediden Nomor : 87 Tahun 2017 tentang Pendidikian Karakter k. Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2015-2019.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

2. Tujuan Khusus

a. Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.

b. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.

(10)

c. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ram anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

d. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam bukubacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

D. Sasaran

1. Sasaran gerakan literasi sekolah adalah ekosistem sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah

2. Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah 3. Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah

(11)

BAB II KONSEP DASAR

A. Literasi

Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).

Deklarasi UNESCO itu juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuan- kemampuan itu perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan itu bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.

Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivittas , antara lain melalui membaca, melihat, menyimak.Sedangkan pengertian Gerakan Literasi Sekolah adalah merupakan salah satu upaya yang dilakukan secara menyuluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organaisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat memlalui pelibatan publik.

B. Gerakan Literasi Sekolah

GLS merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

GLS adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca peserta didik. Pembiasaan ini

(12)

dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah). Ketika pem biasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran (disertai tagihan berdasarkan Kurikulum 2013). Variasi kegiatan dapat berupa perpaduanDesain Induk Gerakan Literasi Sekolah pengembangan keterampilan reseptif maupun produktif.

Dalam pelaksanaannya, pada periode tertentu yang terjadwal, dilakukan asesmen agar dampak keberadaan GLS dapat diketahui dan terus-menerus dikembangkan.

GLS diharapkan mampu menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk bersama-sama memiliki, melaksanakan, dan menjadikan gerakan ini sebagai bagian penting dalam kehidupan.

C. Komponen Literasi

Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.

Clay (2001) dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam konteks Indonesia, literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Literasi Dini [Early Literacy (Clay, 2001)], yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.

2. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman

dan pengambilan kesimpulan pribadi.

(13)

3. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman ca ra membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.

4. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.

5. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.

6. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio- visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar- benar perlu disaring berdasarkan

etika dan kepatutan.

(14)

D. Ruang Lingkup

1. Lingkungan Fisik Sekolah ( Fasilitas dan sarana dan prasarana Literasi)

2. Lingkungan Sosial dan afektif ( dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh warga sekolah) 3. Lingkungan akademik ( program literasi yang menumbuhkan minat baca dan menunjang

kegiatan pembelajaran di SD)

E. Target Pencapaian GLS di SD

1. Menyenangkan dan ramah anak, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam belajar 2. Semua warga menunjukkan empati, peduli, dan menghargai sesame

3. Memampukan warganya cakap berkomonikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya dan

4. Mengakomodasi partisipasi seluruh warga sekolah dan lingkungan ekstrenal SD.

(15)

BAB III

PROGRAM KEGIATAN LITERASI

Program Literasi dilaksanakan yang dilakasanakan di SMP NEGERI 5 KLUET UTARAtidak bisa sekaligus, akan tetapi secara bertahab, yaitu dimulai dari :

1. Tahap Pembiasaaan 2. Tahap Pembinaan 3. Tahab Pembelajaran

A. Tahap Pembiasaan

a. Membaca nyaring lima belas menit setiap hari pada jam ke-0.

Kegiatan ini merupakan upaya membiasakan membaca pada peserta didik.

1) Guru memandu peserta didik untuk membaca selama lima belas menit.

2) Guru dan peserta didik membaca selama lima belas menit.

3) Guru memotivasi peserta didik untuk gemar membaca.

b. Membaca dalam hati lima belas menit setiap hari

1) Guru menawarkan kepada peserta didik untuk menawarkan buku yang ia baca dari sudut baca kelas atau buku yang dibawa dari rumah.

2) Guru dan peserta didik membaca selama lima belas menit.

3) Guru memotivasi peserta didik untuk gemar membaca

c. Mengelola Sarana dan Lingkungan yang Kaya Literasi

Mengelola Sarana dan lingkungan sekolah yang kaya literasi mencakup:

1. Perpustakaan

1) Pustaka adalah sebagai pusat pengelolaan dan sumber pengetahuan dan belajar yang harus dikelola oleh Kepsek dan Pustakawan Sekolah

2) Pustaka hendaknya dapat dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana yang lengkap sesuai dengan standar SNP

3) Pustaka hendaknya dilengkapi dengan sistim dan aplikasi yang dapat mencatat pengunjung dan aktivitas membaca dan sarana lietarsi lain

2. Sudut Baca Kelas

(16)

1) Sudut baca kelas adalah sebuah sudut di kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku yang ditata secara menarik untuk menumbuhkan minat baca peserta didik

2) Sudut baca kelas berperan sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan SD, yaitu mendekat peserta didik dengan buku

3) Guru kelas memandu peserta didik untuk membuat sudut baca.

4) Setiap peserta didik menyumbang satu buku untuk sudut baca.

5) Ada peserta didik yang bertugas mengelola administrasi peminjaman buku.

6) Peserta didik wajib meminjam buku untuk dibaca.

3. Area Baca

Area baca adalah meliputi lingkungan sekolah meliputi koridor, halaman, , kebun, ruang kelas, tempat ibadah, tempat parkir, WC, kantin, ruang UKS, ruang guru, ruang kepsek, ruang tunggu orang tua yang dilengkapi dengan koleksi buku untuk memfasilitasi kegiatan membaca peserta didik dan warga sekolah

1) UKS perlu mengkompanyekan gaya hidup sehat meliputi kegiatan mencuci tangan, membersihkan diri, dan prilaku yang mendukung kebersihan, kerapian,keindahan.

Bahan yang kaya teks dapat memperkaya kegiatan UKS berupa poster kebersihan, kesehatan, dan pribahasa yang terkait dengan budaya hidup bersih, sehat dan keindahan

2) Kantin Sekolah harus menjual makanan sehat, bersih, dan halal, serta makanan harus tertutup dengan rapi. Disamping itu juga berupa poster kebersihan, kesehatan, dan pribahasa yang terkait dengan budaya hidup bersih, sehat dan keindahan.

3) Kebun Sekolah adalah laboratarium hidup dapat mengajarkan pengetahuan tentang beragam jenis tanaman hias, tanaman obat, tanaman pangan, tanaman bumbu dapur, dan buah-buahan untuk kesehatan dan kehidupan. Dikebun ini dapat ditulis nama- nama tumbuhan dan mamfaatnya bagi kesehatan dan kehidupan.

4) Kebun sekolah, UKS, dan kantin harus dilengkapi dengan prasarana yang nyaman seperti meja, kursi, rak buku untuk peserta didik merasa betah.

4. Menciptakan Lingkungan yang Kaya Teks

Untuk menumbuhkan budaya literasi dilingkungan sekolah ruang kelas perlu dilengkapi dengan bahan-bahan yang kaya teks, diatara lain adalah:

(17)

1) Karya-karya peserta didik beruapa tulisan, gambar, dan grafik

2) Poster-poster yang terkait dengan pelajaran, poster buku, poster kampanye membaca, dinding kata, lebel nama-nama peserta didik pada barang-barang peserta didik yang disimpan di kelas

3) Roster Pelajarn, Jadwal Piket Kelas, Pembagian Kelompok tugas kelas

4) Surat, resep, kupon, kliping, foto kegiatan peserta didik, lebel nama-nama setiap benda yang ada di ruang kelas

5) Komputer dan perangkat alat elektronik yang mendukung kegiatan lieterasi 6) Buku,Majalah, koran, papan buletin, mainan alfabet, kaset cerita, DVD 7) Boneka, balok-balok, kostum, permaianan edukatif lain

8) Ucapanan selamat datang, kata-kata motivasi dipintu kelas, lorong, tempat-tempat lain yang mudah dilihat

9) Media dan alat peraga hasil prakarya guru dan siswa

5. Satu Peserta Dididk Didik Satu Buku (1 tahun sekali)

Program ini bertujuan untuk menambah jumlah koleksi buku di perpustakaan sekolah.

1) Peserta didik diminta membawa satu buku.

2) Peserta didik membaca buku yang dimiliki.

3) Setelah dibaca, buku itu disumbangkan pada perpustakaan sekolah.

4) Peserta didik dapat meminjam buku yang lain di sekolah.

5) Sekolah memiliki koleksi buku lebih banyak.

6. Wajib Kunjung Perpustakaan Sekolah

Kegiatan ini bertujuan memanfaatkan perpustakaan untuk menumbuhkan kegemaran membaca

1) Pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung ke perpustakaan kepada setia guru mata pelajaran.

2) Sesuai dengan jadwal, setiap guru mata pelajaran membawa peserta didik satu kelas untuk berkunjung ke perpustakaan.

7. Membacakan cerita.

Program ini bertujuan memotivasi peserta didik membaca lebih banyak lagi

(18)

1) Guru memilih buku/cerita yang bermanfaat dan menarik untuk dibacakan di depan peserta didik.

2) Guru membacakan cerita dengan ekspresi dan penghayatan yang tepat.

3) Tanya jawab dengan peserta didik tentang cerita yang telah dibacakan.

4) Pada tahap berikutnya, peserta didik secara bergiliran diminta membaca cerita menarik lain di hadapan teman sekelas.

5) Diadadakan lomba membaca cerita bagi peserta didik setiap tahun.

B. Tahap Pengembangan 1. Mengelola sudut baca

Mengelola sudut baca dapat dilakukan lagi di tahap pengembangan dengan menambahkan beberapa langkah. Berikut ini salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengelola sudut baca dalam tahap pengembangan.

1) Guru kelas memandu peserta didik untuk membuat sudut baca.

2) Setiap peserta didik menyumbang satu buku untuk sudut baca.

3) Ketua Kelas / Wakil Ketua Kelas bertugas mengelola administrasi peminjaman buku.

4) Peserta didik wajib meminjam buku untuk dibaca.

5) Peserta didik membuat resume hasil bacaan.

6) Peserta didik mengumpulkan hasil serume di meja uru.

7) Guru kelas memeriksa resume sebulan sekali.

8) Peserta didik membuat perayaan hasil membaca, misalnya menceritakan hasil bacaan di kelas.

2. Satu Jam Wajib Baca (seminggu sekali) Kegiatan ini membiasakan peserta didik gemar:

1) membaca buku yang disukai, 2) membuat resume,

3) mengisi jurnal membaca, 4) menceritakan isi buku.

(19)

3. Kuis Membaca Pagi

Program ini membiasakan peserta didik dengan kegiatan membaca pada pagi hari. Medianya berupa papan yang dilengkapi kotak-kotak kecil sebanyak jumlah mata pelajaran di sekolah.

Kotak-kotak ini untuk menempatkan kertas-kertas kuis di tiap mata pelajaran. Berikut ini panduan pelaksanaan Kuis Membaca Pagi

1) Tiap peserta didik diminta untuk mencari teks (tidak lebih dari satu halaman) yang kemudian ditempel di kertas karton. Teks tersebut dilengkapi dengan soal yang dibuat oleh peserta didik sendiri.

2) Tiap peserta didik diberi kode untuk menandai teks tersebut. Seluruh teks dari peserta didik ditempatkan di kotak yang telah disiapkan di kelas.

3) Siapkan juga kartu pantau yang berisi tentang nomor urut, tanggal mengerjakan, identitas peserta didik, kode teks dan soal yang dikerjakan!

4) Sepakati hari untuk melaksanakan program ini, misal tiap Senin dan Kamis!

5) Pada hari yang telah disepakati, seluruh peserta didik memilih kartu soal dan teks sesuai urutan daftar hadir kelas. Kegiatan dilaksanakan pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai. Peserta didik bisa mengambil lebih dari 1 teks dan soal untuk dikerjakan bila waktunya masih mungkin.

6) Usai membaca teks dan mengerjakan soal, peserta didik mengisi kartu pantau.

4. Duta Literasi

Duta literasi merupakan peserta didik terpilih yang bertugas untuk mengembangkan program literasi di sekolah. Beberapa kegiatan duta literasi dapat dilakukan, antara lain:

1) Wali kelas mengadakan seleksi duta literasi.

2) Wali kelas memilih tiga duta literasi .

3) Duta literasi dilatih dan dibekali keterampilan membaca dan menulis.

4) Duta literasi wajib menjadi teladan membaca dan menulis.

5) Duta literasi bertugas memotivasi peserta didik lainnya agar gemar membaca.

6) Duta literasi bertugas mengelola sudut baca.

7) Duta literasi bertugas mengelola majalah dinding (mading) kelas. Kartu Mandiri Kartu mandiri berguna untuk memonitor target buku bacaan peserta didik.

8) Kartu mandiri berisi catatan buku yang sudah dibaca peserta didik.

(20)

9) Peserta didik bersama guru menentukan target minimal buku, misalnya minimal 25 buku

5. Klub Pecinta Buku

Kegiatan ini bertujuan untuk membiasakan peserta didik membaca buku baru dan membagi hasil bacaan pada teman. Kegiatan dalam klub pecinta buku dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

1) membaca buku,

2) membuat ringkasan/resensi buku, 3) menceritakan isi buku,

4) mendiskusikan isi buku.

6. Tantangan Membaca

Tantangan membaca tidak dilaksanakan pada tahap pembiasaan, tapi dapat dilaksanakan setelah sekolah masuk dalam tahap pengembangan. Program ini menantang peserta didik untuk meningkatkan kegemaran membaca. Berikut ini alternatif langkah-langkah kegiatan yang dapat dilakukan:

1) mendaftar program tantangan membaca, 2) memilih judul buku untuk tantangan membaca, 3) meringkas buku, tidak lebih dari dua ratus kata,

4) melaporkan rencana daftar bacaan peserta didik dan hasil membacanya pada panitia, 5) melaksanakan tantangan membaca,

6) memberikan sertifikat pada peserta didik yang berhasil.

7. Penghargaan Membaca

Penghargaan ini bertujuan meningkatkan motivasi membaca peserta didik. Kegiatan penghargaan membaca yang dapat dilakukan antara lain:

1) memilih pembaca buku terbanyak dalam tiga bulan,

2) memberikan penghargaan dan hadiah buku pada waktu upacara sekolah.

8. Menyusun Portofolio Membaca

(21)

Program ini bertujuan untuk mendokumentasikan perkembangan membaca peserta didik.

Portofolio hasil membaca dapat berupa dokumen bukti fisik

1) hasil membaca misalnya ringkasan buku-buku yang telah dibaca atau jurnal membaca, laporan tugas membaca peserta didik, dan hasil membaca kreatif peserta didik. Berikut langkah-langkahnya.

2) Guru meminta semua produk hasil membaca peserta didik untuk dikumpulkan.

3) Peserta didik menyiapkan bahan-bahan untuk membuat portofolio (lembar kerja, folder, dan map dokumen).

4) Peserta didik menyusun portofolio berdasarkan bentuk dan isi produk.

5) Tentukan isi portofolio (semua karya peserta didik atau hasil laporan membaca)

6) Bentuk portofolio meliputi identitas peserta didik, daftar isi protofolio atau garis besar portofolio dan kumpulan karya-karya.

7) Setiap hari peserta didik mengerjakan portofolio (misalnya lima belas menit setiap sore).

8) Portofolio yang telah disusun, kemudian disimpan atau digantung berjajar di kelas secara berurutan.

9) Guru memantau dan menilai portofolio yang telah disusun peserta didik.

9. Membaca Berhadiah Buku

Pemberian buku sebagai hadiah dilakukan untuk lebih mendorong peserta didik gemar membaca. Program ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut

1) Guru bekerja sama dengan pengelola perpustakaan sekolah untuk menyediakan catatan kunjungan peserta didik ke perpustakaan.

2) Guru menyosialisasikan kepada seluruh peserta didik tentang program Pembaca Terbaik yang akan dilaksanakan setiap bulan.

3) Peserta didik akan berkompetisi membaca di perpustakaan sebanyak-banyaknya setiap saat. Kunjungan peserta didik ke perpustakaan sekolah dapat dilakukan ketika jam istirahat atau waktu senggang.

4) Setiap bulan, guru akan memilih pembaca terbaik di sekolah kemudian diberi hadiah buku dan tercatat di papan Pembaca Terbaik Bulan Ini.

(22)

5) Pembaca terbaik dipilih berdasarkan frekuensi kunjungan peserta didik ke perpustakaan, jumlah buku yang dipinjam, dan jenis buku-buku yang dibaca serta dipinjam peserta didik.

6) Jika sudah berjalan satu tahun, guru atau sekolah akan memilih pembaca terbaik selama satu tahun.

7) Pemilihan Pembaca Terbaik dapat dilakukan pada setiap jenjang.

10. Pos Baca Pos

Baca sekolah merupakan tempat bacaan dan membaca di area sekolah yang lebih luas, seperti lorong-lorong sekolah, taman sekolah, kantin, dan sebagainya. Bahan yang dipajang di Pos Baca dapat lebih bervariasi dan seluruh warga sekolah baik peserta didik, guru, kepala sekolah bisa berpartisipasi menunjukkan karyanya melalui Pos Baca tersebut. Berikut cara yang dapat ditempuh untuk mengembangkan Pos Baca.

1) Guru dan peserta didik membuat pos baca di sekolah.

2) Guru memberikan tugas kepada setiap kelas untuk secara bergiliran menyediakan dan mengganti bahan-bahan bacaan pada pos baca secara rutin.

3) Pada tahap awal perlu dikondisikan oleh guru atau kepala sekolah untuk membaca dan memberikan laporan hasil bacaan pada Pos Baca.

4) Peserta didik diminta membaca buku di Pos Baca dan memajang karyanya di Pos Baca.

C. Tahap Pembelajaran

1. Membaca Buku Cerita (satu jam, seminggu sekali)

Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk membaca sastra. Kegiatan membaca buku cerita dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

1) membaca buku cerita,

2) membuat ringkasan isi cerita, 3) membuat bahan presentasi,

4) menceritakan kembali pada teman atau kelompok.

2. Mading Kelas (terbit seminggu sekali)

(23)

Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk menulis, mempublikasi, dan membaca karya secara berkala. Berikut ini beberapa kegiatan dalam majalah dinding (mading) kelas.

1) membuat mading kelas, 2) menulis berita,

3) mempublikasikan berita di mading.

3. Diorama Cerita

Kegiatan ini bertujuan membiasakan peserta didik untuk membaca sastra. Kegiatan dalam diorama cerita, antara lain:

1) peserta didik berkelompok 2–3 peserta didik, 2) membaca buku cerita,

3) mendiskusikannya dalam kelompok, 4) membuat diorama cerita,

5) serta didik bercerita di depan teman dengan bantuan diorama cerita.

10. Piramida Cerita

Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk membaca sastra. Berikut ini contoh kegiatan dalam piramida cerita yang dapat dilakukan oleh peserta didik.

1) berkelompok 2–3 peserta didik;

2) membaca buku cerita bersama;

3) diskusi menentukan bagian-bagian penting cerita;

4) mengambar piramida di kertas;

5) menulis bagian awal, inti, dan akhir cerita di tiga sisi piramida;

6) peserta didik bercerita di depan teman dengan bantuan piramida.

11. Wajib Kunjung Perpustakaan Sekolah

Kegiatan ini sudah dikenalkan pada tahap pembiasaan. Dalam tahap pembelajaran, ada tambahan langkah terkait dengan tagihan akademik. Berikut ini alternatif langkah yang dapat dilakukan.

1) Pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung ke perpustakaan kepada setiap guru mata pelajaran.

(24)

2) Sesuai dengan jadwal, setiap guru mata pelajaran membawa peserta didik satu kelas untuk berkunjung ke perpustakaan.

3) Guru memberikan tugas untuk membaca buku yang berkaitan topik pembelajaran, membuat resume, dan berdiskusi.

12. Klub Literasi (Jangka Panjang)

Peserta didik yang tergabung dalam klub ini melakukan berbagai aktivitas literasi, di antaranya sebagai berikut.

1) bedah buku, 2) pelatihan menulis, 3) pameran buku, 4) kontes membaca, 5) seminar literasi, 6) lokalatih literasi, dll.

(25)

BAB V PENUTUP

Program Literasi sekolah yang disusun ini berguna sebagai pemandu kegaiatan pelaksanaan literasi di sekolah secara efektif. Penumbuhan budaya literasi pada diri peserta didik, memang bukan hanya tugas sekolah saja, namun juga meruapakan tanggung jawab keluarga, pelaku b isnis, media, pemangku kepentingan dan elemen masyarakat lainnya.

Dalam fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang berperan penting dalam kehudupan peserta didik, sekolah dapat menghimpun sinergik antara pendidikan formal, pendidikan keluarga di rumah, dan pendidikan literasi di masyarakat, agar upaya penumbuhan budaya literasi dapat berjalan lebih baik dan optimal.

Program Literasi di sekolah dapat dilaksanakan dalam tiga tahap, Pembiasaan, Pengembangan, dan Pembelajaran , serta mendesain berbagai media pembelajaran yang kreatif, ekonomis, dan inovatif. Oleh karena itu diharapkan semua pihak terkait dapat ikut secara proaktif berperan dalam kegiatan ini sesuai dengan tupoksi masing-masing.

(26)

LAPORAN PELAKSANAAN PROGRAM LIETERASI TAHUN PELAJARAN : 2019/2020

NO

JENIS PROGRAM

LITERAS I

URAIAN KEGIATAN

TANGGAL

PELAKSANAAN KELAS

PEMBINA/PE

LAKSANA SUMBER DANA

HASIL BUKTI FISIK

A Tahab Pembiasaan

1. Membaca nyaring lima belas menit setiap hari pada jam ke-0

Setiap hari Aktif Proses PBM

VII s/d IX 2 Guru Kelas 3 Guru Mupel

- - 1. RPP

2. Buku Daftar Kemampuan Siswa

3. Foto Kegiatan 2. Membaca dalam hati lima belas menit

setiap hari

Setiap hari Aktif Belajar

VII s/d IX 1 Guru Kelas 2 Guru Mupel 3 Pustakawan

- - 1. Daftar Jadwal

Wajib Membaca 2. Daftar Buku

Yang Dibaca 3. Foto Kegiatan 3. Mengelola Sarana dan Lingkungan yang

Kaya Literasi : a. Pustaka

Setiap hari Aktif Belajar

-

1. Kepsek 2. Pustakawan

BOS

Dibuktikan dengan hasil dilapangan

1. Ruang Pustaka 2. Sarana dan

Prasarana Pustaka

3. SK Tim Pembina Pustaka

4. Buku Adminstrasi Pustaka

5. Foto Kegaiatan Pustaka

b. Sudut Baca Kelas Setiap Hari Aktif Belajar

VII s/d IX 1 Guru Kelas 2 Guru Mupel 3 Petugas

BOS Dibuktikan

dengan hasil dilapangan

1. SK Petugas Kelas

2. Buku Inventaris

(27)

Pustaka Kelas

Pustaka kelas 3. Daftar

Sumbangan Buku dari Siswa 4. Daftar

Peminjaman Buku

5. Foto Kegiatan

c. Area Baca Setiap Hari Aktif

Belajar

Seluruh Warga Sekolah

1 Kepsek 2 Guru Kelas 3 Guru Mupel 4 Pustakawan 5 Pembina

UKS 6 Petugas

Kantin 7 Penjaga

sekolaj 8 Seluruh

Siswa

BOS Dibuktikan

dengan hasil dilapangan

1. SK Tim Literasi Sekolah

2. Buku Inventasis Pustaka

3. Buku Inventaris UKS

4. Buku Inventari Kantin

5. Foto

Dokumentasi 6. Melihat

Langsung di lapangan d. Menciptakan Lingkungan Yang Kaya

Teks

Setiap Hari Belajar Semua Warga Sekolah

1 Kepsek 2 Guru Kelas 3 Guru Mupel 4 Pustakawan 5 Pembina

UKS 6 Petugas

Kantin 7 Penjaga

sekolaj 8 Seluruh

Siswa

BOS Dibuktikan

dengan hasil dilapangan

1. Hasil Karya Siswa ( Tulisan, Gambar, Garfik, dan Media pembelajaran) 2. Hasil Karya

Guru

(Gambar, Grafik, dan Media Pembelajaran 3. Media dan

(28)

Sumber Belajar 4. Papan Data

Kelas

5. Fortofolio Hasil Karya Siswa 6. Perangkat ITC

dalam setiap Ruang

7. Foto Kegiatan 8. Melihat

Langsung e. . Satu Peserta Dididk Didik Satu Buku (1

tahun sekali)

Detia Hari Aktif Belajar

VII s/d IX 1. Pustakawan 2. Guru Kelas 3. Guru Mupel 4. Tim GLS

Swadaya Siswa

Dibuktikan dengan hasil dilapangan

1. Buku Daftar Sumbangan Buku dari Siswa 2. Buku Inventaris

Pustaka 3. Daftar

Peminjaman Buku

4. Foto Kegiatan

f. Wajib Kunjung Perpustakaan Sekolah 5. 1. Jadwal Wajib

Kunjungan Pustaka 2. Daftar Buku

Bacaan Siswa 3. Foto Kegiatan

g. Membaca Cerita 4. 1. SK Panitia

Lomba Sinopsis 2. Daftar Siswa

Yang Berprestasi Lomba Sinopsis 3. Foto Kegiatan

(29)

B Tahab

Pengembang an

1. Mengelola Sudut baca Setiap hari Aktif Belajar

1s/d VI 1 Kepsek 2 Guru Kelas 3 Guru Mupel 4 Pustakawan 5 Penjaga

Sekolah

BOS Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Daftar Buku Sumbangan Siswa 2. Daftar

Peminjaman Buku

3. Buku

Ringkasan/Resu me siswa

4. Strukutur

Petugas Pustaka kelas

5. Jadwal Kegiatan Perayaan Hari Membaca 6. Foto Kegiatan 2. Satu Jam Wajib Baca (seminggu sekali) Satu Minggu Sekali 1s/d VI 1. Guru Kelas

2. Guru Mupel 3. Pustakawan

- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Daftar Jadwal Wajib Membaca di Pustaka dan Kelas

2. Daftar Jurnal Membac Siswa 3. Resume Buku

yang Dibaca Siswa

4. Foto Kegiatan 3. Kuis Membaca Pagi Setiap hari Aktif

Belajar

1s/d VI 1. Guru Kelas 2. Guru Mupel

- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Daftar Tabel Buku yang Dibaca Siswa dan Soal yang dibuat sendiri

(30)

2. Kotak Kode Teks Buku yang telah dibaca siswa 3. Kartu Pantau

tentang teks buku dan soal yang dibuat siswa

4. Foto Kegiatan 3. Duta Literasi Setiap Semester VII s/d IX 1. Kepsek

2. Guru Kelas 3. Guru Mupel 4. Tim GLS

BOS Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Daftar Nama Siswa Literat 2. Program

Pembinaan Literat 3. SK Panitia

Lomba Literat 4. Daftar nama

Siswa yang Juara

5. Foto Kegiatan 5. Klub Pencinta Buku Setiap Semester VII s/d IX 1. Guru Kelas

2. Guru Mapel

-- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Daftar Nama Siswa Pencinta Buku

2. Hasil Ringkasan Buku Siswa 3. Foto Kegiatan 6. Tantangan Membaca Setiap Hari Aktif

Belajar

VII s/d IX 1. Guru Kelas 2. Guru Mupel

- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Daftar Program tantangan Membaca 2. Hasil Ringkasan

(31)

Buku Siswa tidal lebih 200 kata 3. Daftar Laporan

hasil membaca Siswa

4. SK Panitia 5. Sertifikat

Penghargaan 6. Foto Kegiatan 7. Penghargaan Membaca Setiap Semester VII s/d IX 1. Kepala

sekolah 2. Guru Kelas 3. Guru Mupel 4. Panitia

BOS Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. SK Panitia 2. Daftar Peserta

Juara

3. Foto Kegiatan 4. Sertifikat/Piala 8. Menyusun Fortofolio Membaca SetiapHari belajar VII s/d IX 1. Guru kelas

2. Guru Mupel

- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Portofolio Siswa 2. Foto Kegiatan 9. Membaca berhadiah Buku Setiap Bulan dan

Semester

VII s/d IX 1. Guru Kelas 2. Guru Mupel Pustakawan

BOS Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. SK Panitia

2. Daftar nama Juara 3. Foto Kegiatan 10. Pos Baca Pos Setiap Hari belajar VII s/d IX 1. Guru kelas

2. Guru Mupel 3. Tim GLS

BOS Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Daftar Buku Yang Dibaca Siswa 2. Pos Baca 3. Foto Kegiatan C Tahab

Pembelajara n

1. Membaca Buku Cerita (satu jam, seminggu sekali)

Setiap hari belajar VII s/d IX 1. Guru Kelas 2. Guru Mupel 3. Pustakwan

- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Jadwal Membaca 2. Daftar Hasil

Ringkasan Siswa 3. Foto Kegiatan 2. Mading Kelas (terbit seminggu sekali) Setiap hari belajar VII s/d IX 1. Guru Kelas

2. Guru Mupel 3. Pustakwan

- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Mading Hasil karya Siswa

2. Foto Kegiatan 3. Diorama Cerita Setiap hari belajar VII s/d IX 1. Guru Kelas

2. Guru Mupel

- Diisi sesuai dengan hasil

1. Diorama Cerita Hasil karya Siswa

(32)

3. Pustakwan dilapangan 2. Foto Kegiatan 4. Piramida Cerita Setiap hari belajar VII s/d IX 1. Guru Kelas

2. Guru Mupel 3. Pustakwan

- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Gambar Piramida Hasil karya Siswa 2. Foto Kegiatan 5. Wajib Kunjungan Pustaka Setiap Hari belajar VII s/d IX 1. Guru Kelas

2. Guru Mupel 3. Pustakwan

- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. Jadwal Kunjungan Wajib Pustaka 2. Isi Ringkasan

Cerita yang dibuat Siswa

3. Foto Kegiatan 6. Klub Literasi ( jangka Panjang) Setiap Akhir

Semester

VII s/d IX 1. Guru Kelas 2. Guru Mupel 3. Pustakwan

- Diisi sesuai dengan hasil dilapangan

1. SK Panitia Perlombaan 2. Daftar Nama Siswa

Juara ( bedah Buku, Kontes Sinopsis) 3. Foto Kegiatan

Krueng Batu, 25 Juli 2020 Kepala sekolah

ARMAINI,S.Pd NIP.198707272011031001

(33)

Referensi

Dokumen terkait

(1) Berdasarkan Surat Pendaftaran Objek Retribusi Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) ditetapkan retribusi terutang dengan menerbitkan Surat

Dengan demikian, permasalahan yang ingin dibuktikan secara empiris dalam penelitian ini adalah apakah di perusahaan “XYZ” terdapat hubungan antara tipe kepribadian pemimpin

Percobaan metode game tree bertujuan untuk memastikan komputer dapat menentukan langkah terbaik dengan cara meneliti langkah-langkah manusia dan mencari nilai paling

Peta administrasi Kecamatan Semarang Tengah serta data monografi Kecamatan Semarang Tengah digunakan sebagai masukan yang terdiri dari informasi tentang jumlah sarana

Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli maka dapat dikatakan bahwa Penggelapan Pajak (Tax Evasion) merupakan tindakan ilegal dalam perpajakan yang dilakukan

Berdasarkan observasi, objek kajian belum memiliki sertifikasi dari Lembaga Ekolabel Indonesia, sehingga hasil yang dicapai dari kriteria kayu bersertifikat adalah

Energi Drink (minuman berenergi) termasuk salah satu suplemen makanan yang terdiri dari komponen multivitamin, makronutrien (karbohidrat, protein), taurin dengan atau tanpa kafein

Masalah yang akan diulas dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana tingkat kesukaan rasa, aroma, warna dan tekstur pada hasil jadi brownies yang menggunakan tepung gandum utuh