• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. KONSEP PERANCANGAN. piringan hitam, laser disc, video, video compact disc, digital video disc.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. KONSEP PERANCANGAN. piringan hitam, laser disc, video, video compact disc, digital video disc."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

4. KONSEP PERANCANGAN

Perancangan interior pusat sinematik ini mengambil “disc” sebagai konsep perancangan. Pusat sinematik memiliki arti hal-hal yang berhubungan film, dimana dalam perkembangan penyimpanan film yang dimulai dengan penyimpanan dalam piringan hitam, laser disc, video, video compact disc, digital video disc.

Disc itu sendiri memiliki bentuk yang beraneka ragam sehingga memiliki karakter bentuk yang bebas dan dinamis tetapi memiliki poros yang berbentuk bulat sehingga memiliki pusat, disc itu sendiri berhubungan dengan teknologi sehingga dalam penerapannya menggunakan sistem yang berhubungan dengan teknologi, sedangkan dalam membaca data yang ada didalam disc tersebut dilakukan dengan berputar dalam sebuah alat yang dinamakan LD player, VCD player, DVD player sehingga didalamnya ada movement/pergerakan.

4.1 Karakter, Gaya Dan Suasana Ruang

Di dalam Pusat sinematik ini, karakter ruang yang ingin ditonjolkan adalah sebuah ruang yang mewah bagi orang golongan menengah keatas, sehingga setiap orang yang melihat pasti akan tertarik untuk masuk. Jadi untuk ruangannya cenderung mengarah ke sebuah ruang yang bersifat glamour.

Untuk gaya dan suasana ruang disesuaikan dengan konsep yang ada yaitu

"disc", maksud dari konsep ini berhubungan dengan teknologi dan memiliki kepraktisan dalam segi bentuk maupun sistem. Dari sinilah timbul sebuah ide untuk mengambil “disc”, sebagai acuan dalam menciptakan atau merancang ruangan ini.

(2)

Jadi gaya dan suasana ruang yang akan dicapai adalah sebuah ruang yang bersuasana glamour dan bergaya hi-tech, di mana nantinya akan banyak mengadopsi bentukan- bentukan yang dinamis baik itu dari garis, warna dan juga bahan yang akan dipakai.

4.2 Pola Penataan Ruang

Pola penataan ruang pada pusat sinematik Surabaya ini menitik-beratkan pada perancangan cinema, penjualan DVD dan VCD dan cafe. Ruang-ruang yang dibutuhkan pada cinema adalah perbedaan kelas pada 3 ruang cinema yang ada berdasarkan personal space, sedangkan pada penjualan DVD dan VCD yang dibutuhkan adalah penjualan DVD dan VCD yang berbeda sehingga mempermudah dalam pencariannya. Kemudian yang perlu diperhatikan berikutnya adalah perancangan terhadap bentuk penjualan aksesoris film, kantor, resepsionis, ruang teknis, ready stock, toilet.

4.3. Pola Penataan Bentuk, Bahan dan Warna 4.3.1. Lantai

Pola lantai dibuat bervariasi dengan mengikuti pola grouping dan sirkulasi.

Pola lantai pada resepsionis menggunakan bahan granit hitam, pemilihan bahan granit ini untuk memberikan kesan eksklusif pada saat pertama customer memasuki ruang.

Pada area penjualan DVD dan VCD yang menyatu dengan area café dibedakan dengan pola lantai dengan mengunakan bahan vinyl motif granit berwarna gradasi hitam pada area penjualan DVD dan VCD menggunakan pola lingkaran dan garis- garis sedangkan pada area café menggunakan pola bujur sangkar sehingga terlihat

(3)

perbedaan areanya, pemilihan bahan ini dikarenakan pada area ini mengalami over lapping atau peninggian lantai sehingga harus menggunakan bahan yang ringan,

selain itu motif dari vinyl itu sendiri ada bermacam-macam. Area ruang tunggu yang menyatu dengan penjualan aksesoris menggunakan pola bujur sangkar dengan bahan vinyl berwarna hitam keabu-abuan, pemilihan bahan vinyl dengan motif granit ini juga dikarenakan pada area ini mengalami over lapping atau peninggian lantai sehingga harus menggunakan bahan yang ringan. Pada area sirkulasi ditengah-tengah antara area penjualan DVD dan VCD dengan ruang tunggu menggunakan bahan karpet berwarna merah untuk memberikan kesan nyaman dan eksklusif. Pada ruang cinema menggunakan bahan karpet berwarna hitam, pemilihan karpet ini selain untuk memberikan kesan nyaman dan eksklusif juga digunakan untuk meredam suara, digunakan warna hitam atau gelap sehingga cahaya yang dikeluarkan oleh layar tidak dipantulkan.

4.3.2. Dinding

Dinding menjadi salah satu elemen yang dapat membentuk ruang. Dinding pada area penjualan DVD dan VCD, area café, area ruang tunggu, area penjualan aksesoris film, kantor, gudang, toilet yang ada menggunakan dinding partisi dengan bahan gypsum berwarna silver dan abu-abu (kesan hi-tech) juga sebagian dinding ada yang berwarna hitam dan merah agar kesan ruang tidak monoton, agar ruang yang ada tidak terlalu polos atau monoton dinding yang ada diolah maju-mundur, dicoak dengan variasi yang berbeda-beda, ada yang dimanfaatkan untuk penataan poster

(4)

film, digunakan untuk display barang. Sedangkan untuk dinding cinema menggunakan dinding khusus akustik dilapisi dengan karpet.

4.3.3. Plafon

Plafon dibuat bervariasi dengan ketinggian dan pola yang berbeda yang mengikat area-area tertentu. Plafon pada area penjualan DVD, VCD, dan café, dengan ruang tunggu, penjualan aksesoris film dibuat miring kearah sirkulasi yang menghubungkan keduanya, dengan bahan gypsum diberikan warna hitam dengan lampu sistem down light cahaya kuning agar ruang terkesan mewah, plafon di area informasi dan sirkulasi berwarnakan hitam dengan diberikan cahaya lampu fiber optik sehingga ruang seperti diluar ruang. Sedangkan pada ruang cinema dibuat dengan kemiringan tertentu agar kualitas suara yang diterima penonton depan dengan belakang sama jelas dengan bahan uman.

4.3.4. Perabot

Perabot pada area yang satu dengan yang lain dibuat berbeda untuk menguatkan identitas dari area-area tersebut. Perabot berbeda-beda itu menujukan identitas dari masing-masing area. Area informasi memiliki meja yang digunakan untuk melayani customer yang membutuhkan informasi dan penjualan tiket, area penjualan DVD dan VCD membutuhkan rak display dan meja kasir, area café membutuhkan meja, kursi, meja bar, kursi bar dan snack bar, area ruang tunggu membutuhkan kursi yang digunakan untuk menunggu jadi membutuhkan kursi yang nyaman, area penjualan aksesoris film membutuhkan rak display dan meja kasir,

(5)

sedangkan pada ruang cinema dibutuhkan kursi yang empuk selain digunakan untuk kenyamanan juga diperlukan untuk meyerap suara, sedangkan pada ruang cinema diamond membutuhkan meja karena penonton mendapatkan fasilitas minuman.

Perabot didominasi warna merah, hitam, dan silver yang dapat memberikan kesan (exciting). Digunakan bahan kayu, aluminium, besi, stainless steel.

4.3.5. Elemen dekoratif

Sesuai dengan gaya yang diambil yaitu hi-tech maka elemen dekoratif terletak pada penambahan dinding-dinding yang dibentuk sedemikian rupa sehingga sesuai dengan gaya hi-tech yang difungsikan untuk meletakan poster-poster film, maka warna dan desain yang digunakan adalah warna silver, hitam dan merah.

4.4. Sistem Tata Kondisional Ruang 4.4.1. Pencahayaan

Konsep pencahayaan adalah dominan dengan pencahayaan buatan.

Pencahayaan buatan menggunakan perpaduaan antara lampu-lampu yang berbeda jenisnya. Sistem-sistem yang digunakan adalah

Sistem down light (direct)

Sistem curve pada plafon (indirect)

Sistem penyembunyian lampu pada plafon, dinding, dan lantai Lampu yang pada plafond dan lantai pada area sirkulasi digunakan untuk pengarah customer menggunakan neon sign dan lampu fiber optik yang menyebar

(6)

diseluruh plafon dengan cahaya berwarna kuning, sedangkan plafon lainnya menggunakan lampu PL dengan sistem down light.

4.4.2. Penghawaan

Sistem penghawaan yang ada adalah dengan menggunakan ac yang dikontrol secara sentral oleh pihak gedung. Sehingga pada ruangan ini kita hanya menyediakan lubang ac untuk keluar. Dan titiknya kita tentukan sendiri tergantung seberapa banyak kita butuhkan.

Pertimbangan dalam mengunakan system penghawaan buatan:

1. Dapat melayani ruang-ruang dengan kapasitas besar yang mempunyai pemakaian yang berbeda.

2. Penghawaan merata keseluruh ruangan.

3. Temperatur dan kelembaban dapat diatur sesuai dengan kgiatan.

4. Waktu pemakaian yang dapat dilakukan secara memusat.

5. Sirkulasi udara bersih.

6. Kebisingan mesin AC dapat dikendalikan.

7. Ekonomis.

8. Pemeliharaan dan perawatan mudah.

Untuk ready stock, menggunakan exhaust fan sebagai penyedot asap ke udara luar, sedangkan untuk area toilet digunakan untuk menghilangkan bau.

(7)

4.4.3. Akustik

Penggunaan sistem akustik lebih diprioritaskan pada ruang cinema karena ruang cinema sangat membutuhkan sistem akustik yang khusus untuk menyerap bunyi yang dikeluarkan oleh spiker sehingga tidak mengganggu ruang lain yang berada didekatnya, sedangkan pada ruang lainnya untuk mengurangi suara-suara bising diputarkan musik yang lembut yang dikeluarkan lewat speaker.

4.4.4. Sistem Komunikasi

Sistem komunikasi yang digunkan yaitu sistem komunikasi satu arah yang bersifat informatif, yaitu dari pihak pengelolah pusat sinematik kepada penonton cinema mengenai mulainya jam tayangan film masing-masing cinema. Komunikasi dapat dilakukan melalui suara dengan bantuan alat pengeras suara, serta secara visual melalui alat bantuan visual seperti monitor dan TV.

4.4.5. Sistem Kebakaran

Sistem kebakaran menggunkan smoke detector sebagai pendeteksi asap dan api, serta menggunakan springkle sebai penyemprot cairan ke dalamruang untuk memadamkan api. Namun smoke detector tidak dipasang pada smoking-area, namun dikhususkan pada no-smoking area.

(8)

4.4.6. Sistem Keamanan

Sistem keamanan dala gedung ini menggunakan dua cara yaitu:

1. Manual à petugas keamanan yaitu satpam atau security.

2. mekanik à mengunakan sistem camera.

Referensi

Dokumen terkait