• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PKn MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF MENYENANGKAN

INOVATIF KREATIF DAN TUNTAS (PEMIKAT) PADA SISWA KELAS VII F SEMESTER II MTs NAHDLATUL

ULAMA 01 TARUB TEGAL TAHUN PELAJARAN 2010/ 2011

Oleh:

Drs. Nurcholis, M.Pd Prodi PPKn

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL

2011

(2)

PENGESAHAN

1. Judul : “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran PKn Melalui Model Pembelajaran Efektif Menyenangkan Inovatif Kreatif Dan Tuntas (PEMIKAT) Pada Siswa Kelas VII F Semester II MTs Nahdlatul Ulama 01 Tarub Tegal Tahun Pelajaran 2010/ 2011”

2. Bidang Penelitian : Penelitian Pendidikan 3. Ketua Tim Pengusul :

a. Nama Lengkap : Drs. Nurcholis, M.Pd\

b. Jenis Kelamin : Laki-laki

c. N I P : 19540620 198203 1 002 d. Disiplin Ilmu: : PKn (Pendidikan Pancasila) e. Pangkat/Golongan : Pembina Tk.I/IVb

f. Jabatan : Lektor Kepala g. Fakultas/Jurusan : KIP/PIPS-PPKn 4. Jumlah Anggota : 1 orang

Nama : Ali Mustofa (Guru MTs.NU 01 Tarub) 5. Lokasi Krgiatan : MTs NU 01 Tarub

6. Luaran yang dihasilkan : Peningkatan Prestasi Belajar 7. Waktu Pelaksanaan : April – Juni 2011

8. Jumlah Dana yang Diusulkan : Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah)

Tegal, Juli 2011

Mengetahui Ketua

Dekan FKIP

Dr. Hj. Sitti Hartinah DS, MM Drs. Nurcholis, M.Pd

NIP.19541117 198103 2 002 NIP. 19540620 198203 1 002

Menyetjui Kepala LPM

Siswanto, SH. MH

NIP.19641213 199203 1002

(3)

ABSTRAK

Drs. Nurcholis, M.Pd. Judul Penelitian Tindakan Kelas (PTK) “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran PKn Melalui Model Pembelajaran Efektif Menyenangkan Inovatif Kreatif Dan Tuntas (PEMIKAT) Pada Siswa Kelas VII F Semester II MTs Nahdlatul Ulama 01 Tarub Tegal Tahun Pelajaran 2010/ 2011”.

Kata Kunci Upaya Peningkatan Prestasi Belajar, Model Pembelajaran PEMIKAT.

Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana prestasi belajar siswa, pelaksanaan model PEMIKAT dan adakah perbedaan prestasi belajar PKn sebelum dan sesudah menggunakan model PEMIKAT pada siswa kelas VII F MTs NU 01 Tarub, Tegal.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar PKn antara sebelum dan sesudah diberi pembelajaran menggunakan model PEMIKAT pada siswa kelas VII F Semester II MTs NU 01 Tarub, Tegal Tahun pelajaran 2010/ 2011.

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII F Semester II MTs NU 01 Tarub Tegal Tahun Pelajaran 2010/ 2011 sejumlah 30 siswa. Terdiri dari 16 perempuan dan 14 laki-laki. Prosedur pengambilan sampel penelitian adalah dengan bentuk siklus yang terdiri dari empat tahap, perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting).

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, angket dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif komparatif dilakukan untuk membandingkan prestasi belajar antar siklus dan analisis deskriptif kualitatif untuk menentukan kualitas pembelajaran berdasarkan hasil observasi dan refleksi pada siswa kelas VII F semester II MTs Nahdlatul Ulama 01 Tarub Tegal Tahun Pelajaran 2010/ 2011.

Hasil analisis data menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I 73,66 kategori baik. dengan ketuntasan belajar 80%. Dan pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa 77 dengan presentase ketuntasan belajar 93,33%. Dengan demikian Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran PKn Melalui Model Pembelajaran Efektif Menyenangkan Inovatif Kreatif Dan Tuntas (PEMIKAT) Pada Siswa Kelas VII F Semester II MTs Nahdlatul Ulama 01 Tarub Tegal Tahun Pelajaran 2010/ 2011 ada peningkatan artinya berhasil dari indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu sebesar 85% dan ada peningkatan 50% dari sebelum menggunakan model PEMIKAT.

Simpulannya ada peningkatan hasil belajar pada siswa kelas VII F semester II MTs Nahdlatul Ulama 01 Tarub Tegal Tahun Pelajaran 2010/ 2011.

Tegal, 27 Juli 2011

(4)

PRAKATA

Syukur Alhamdulillah, peneliti telah menyelesaikan Penelitian yang berjudul

“Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran PKn Melalui Model Pembelajaran Efektif Menyenangkan Inovatif Kreatif Dan Tuntas (PEMIKAT) Pada Siswa Kelas VII F Semester II MTs Nahdlatul Ulama 01 Tarub Tegal Tahun Pelajaran 2010/ 2011”.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar PKn antara sebelum dan sesudah diberi pembelajaran menggunakan model PEMIKAT pada siswa kelas VII F Semester II MTs NU 01 Tarub, Tegal Tahun pelajaran 2010/ 2011.

Oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat peneliti sebut satu persatu. Dan akhirnya mudah-mudahan hasil penelitian ini bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Tegal, Juli 2011

Peneliti

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL … ... i

TEAN PENELITI ... ii

PRAKATA ... iii

ABSTRAK ... iv

DAFTAR ISI .. ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR BAGAN ... viii

DAFTAR GRAFIK ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah .. ... 3

C. Rumusan Masalah ... 4

D. Tujuan Penelitian ... 4

E. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II : LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS ... 6

A. Belajar ... 6

B. Prestasi Belajar Mata Pelajaran PPKn ... 17

C. Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran ... 28

D. Model Pembelajaran Efektif, Menyenangkan, Inovatif, Kreatif dan Tuntas (PEMIKAT).. ... 35

E. Kerangka Berpikir ... 38

F. Hipotesis ... 39

BAB III : METODE PENELITIAN ... 40

A. Tempat Waktu dan Subyek Penelitian ... 40

B. Teknik dan Alat Pengumpul Data ... 40

(6)

C. Teknik Analisis Data ... 41

D. Indikator Keberhasilan ... 41

E. Prosedur Penelitian ... 42

F. Analisis Data Penelitian ... 45

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46

A. Hasil Peneliian ... 46

B. Pembahasan ... 56

C. Keterbatasan Penelitian ... 63

BAB V : PENUTUP ... 65

A. Simpulan ... 65

B. Saran-saran ... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 67

LAMPIRAN

(7)

DAFTAR TABEL

TABEL 1 Hasil angket tanggapan siswa kelas VII F mengenai model

PEMIKAT terhadap pembelajaran PPKn pada siklus I …………. ` 48 TABEL 2 Data nilai siswa kelasVII F MTs NU 01 Tarub ……….. 50 TABEL 3 Hasil angket tanggapan siswa kelas VII F mengenai model

PEMIKAT terhadap pembelajaran PPKn pada siklus II………... 53

TABEL 4 Data nilai siswa kelasVII F MTs NU 01 Tarub……….… 54

(8)
(9)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Peneliti bertugas tidak hanya melakukan observasi peserta didik, namun juga harus membina/ bertindak melalui sekolah. Dalam pembinaan/ bertindak tentu harus mengacu pada kompetensi peserta didik, terutama kompetensi yang berkaitan dengan proses belajar. Sejalan dengan perkembangan teknologi serta teori-teori belajar, maka siswa-siswi (student) pun dituntut mampu menguasai pembelajaran yang diajarkan oleh pengajar (teacher), siswa-siswi dalam belajar harus efektif, senang, inovatif, kreatif dan tuntas dalam mengikuti proses belajar.

Menghadapi tugas tersebut peneliti tentu harus menguasai model pembelajaran yakni menguasai strategi, metode, teknik pembelajaran dan bimbingan yang up to date. Bila pengetahuan peneliti sudah ketinggalan, apa lagi hanya mengandalkan pengalaman tanpa didukung teori-teori, maka peneliti tidak akan mandapatkan respek (respect) dari siswa-siswi yang dibinanya. Paling tidak, peneliti harus memahami garis besar strategi pembelajaran khususnya pada Pendidikan Kewarganegaraan.

Penelitian ini dimaksudkan memberikan wawasan bagi peneliti dalam melaksanakan tugas observasi dan tindaka peserta didik untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaran di sekolah menengah.

Pendidikan memegang peranan yang penting dalam era globalisasi dan pasar

bebas karena visi pendidikan sekarang lebih ditentukan pada sumber daya manusia

(10)

yang berkualitas, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menuntut peningkatan mutu pendidikan agar siswa sebagai subyek pendidikan dapat mengikuti kemajemukan tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan, perubahan dan pembaharuan dalam segala aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan pendidikan meliputi kurikulum, sarana dan prasarana dan guru.

Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang menyatakan bahwa upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan secara konvensional yaitu pembelajaran yang berorientasi pada siswa dan tidak lepas dari arahan atau bimbingan guru dalam proses belajar mengajar. Kurikulum yang berlaku sekarang ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat membekali dan mempersiapkan siswa dalam menghadapi berbagai perubahan, maka dari itu pendidikan yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi seseorang (learning to be). (W.P. Napitupulu, 2000 : 20).

Tujuan setiap proses pembelajaran adalah diperolehnya hasil belajar yang

optimal. Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan

dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Dalam proses pembelajaran komponen

utama adalah guru dan peserta didik. Proses pembelajaran akan berhasil, apabila

interaksi belajar mengajar dimana guru sebagai pengajar tidak mendominasi kegiatan

belajar mengajar, tetapi membantu memberikan motivasi dan bimbingan kepada

peserta didik dalam kegiatan belajar. Sehingga akan meningkatkan keaktifan peserta

didik, dan menjadi proses pembelajaran menjadi efektif. Oleh karena itu, dalam

(11)

pembelajaran faktor peserta didik sebagai subjek belajar sangat menentukan. Untuk itu dalam pembelajaran perlu diupayakan pembelajaran yang efektif, menyenangkan, inovatif, kreatif dan tuntas (Pemikat), yang dapat meningkatkan keaktifan peserta didik, serta mengembangkan daya nalar dan kreativitas peserta didik.

Berdasar moto Tegal tahun 2011 yaitu Tegal Cerdas, maka peneliti mencoba meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya mata pelajaran PKn melalui model Pembelajaran Efektif, Menyenangkan, Inovatif, Kreatif dan Tuntas (PEMIKAT).

Oleh karena itu peneliti mengambil judul “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran PKn Melalui Model Pembelajaran Efektif Menyenangkan Inovatif Kreatif dan Tuntas (PEMIKAT) Pada Siswa Kelas VII F Semester II MTs Nahdlatul Ulama 01 Tarub Tegal Tahun Pelajaran 2010/ 2011”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka identifikasi masalah penelitian ini sebagai berikut:

1. Prestasi belajar mata pelajaran PKn masih rendah.

2. Motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran kurang.

3. Siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat.

4. Siswa beranggapan bahwa pembelajaran PKn membosankan.

5. Tanggung jawab siswa masih rendah.

6. Adanya anggota kelompok yang tidak mau menerima pendapat teman.

(12)

C. Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah prestasi belajar mata pelajaran PKn siswa kelas VII MTs NU sebelum diberi model Pembelajaran Efektif Menyenangkan Inovatif Kreatif dan Tuntas (PEMIKAT) pada siswa kelas VII F MTs NU 01 Tarub Tegal ? 2. Bagaimanakah pelaksanaan Model Pembelajaran Efektif Menyenangkan

Inovatif Kreatif dan Tuntas (Pemikat) pada siswa kelas VII F MTs NU 01 Tarub Tegal ?

3. Apakah ada perbedaan prestasi belajar PKn sebelum dan sesudah menggunakan model Pembelajaran Efektif Menyenangkan Kreatif dan Tuntas (Pemikat) pada siswa kelas VII F MTs NU 01 Tarub Tegal ?

D. Tujuan Penelitian

Untuk lebih mengarahkan pelaksanaan penelitian maka perlu terlebih dahulu di tetapkan tujuan yang akan dicapai. Penelitian ini bertujuan antara lain:

1. Untuk mengetahui prestasi belajar mata pelajaran PKn sebelum diberi pembelajaran menggunakan model Pembelajaran Efektif, Menyenangkan, Inovatif, Kreatif dan Tuntas (PEMIKAT).

2. Untuk mengetahui pelaksanaan model Pembelajaran Efektif, Menyenangkan, Inovatif, Kreatif dan Tuntas (PEMIKAT).

3. Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar PKn antara sebelum dan sesudah

diberi pembelajaran menggunakan menggunakan model Pembelajaran Efektif,

Menyenangkan Inovatif, Kreatif dan Tuntas (PEMIKAT).

(13)

E. Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat dari hasil pelaksanaan penelitian pada siswa kelas VII MTs Nahdlatul Ulama 01 tahun pelajaran 2010/ 2011 mengenai upaya peningkatan prestasi belajar melalui model pembelajaran efektif, menyenangkan, inovatif, kreatif dan tuntas (Pemikat) pada mata pelajaran PKn antara lain dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut:

1. Bagi pengemban Ilmu Pendidikan Kewarganegaraan

Secara teoritis manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pada moto Tegal Cerdas dan khususnya dalam hal ini berkaitan dengan upaya progresif yaitu upaya peningkatan prestasi mata pelajaran PKn.

2. Bagi proses pembelajaran PKn kelas VII MTs Nahdlatul Ulama 01 Tarub Tegal Out put dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai serangkaian bahan pertimbangan dalam merancang sistem pembelajaran untuk masa yang akan datang sehingga prestasi belajar PKn siswa kelas VII MTs Nahdlatul Ulama 01 Tarub Tegal dapat terpacu untuk lebih baik lagi sehingga akan optimal pencapainnya.

3. Bagi kajian keilmuan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pancasakti Tegal

Out put dari hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai tambahan literatur dan

dapat berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengadakan

penelititan lanjutan, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Pancasakti Tegal pada program studi PPKn.

(14)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Belajar

1. Hakikat Belajar

Sering dikatakan bahwa peristiwa belajar terjadi apabila seseorang secara aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Namun untuk lebih mengetahui apa sebenarnya belajar itu, berikut ini dikemukakan pendapat para ahli tentang belajar, yaitu:

a. Syah (1999: 64) mengemukakan tentang “Tahapan belajar sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif”.

b. Sardirman (1994: 23) mengemukakan bahwa “Belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa dan raga, psiko-fisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarati menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif dan psikomotorik”.

Dari pendapat tesebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan

seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan

interaksi dengan lingkungan, meliputi kegiatan jiwa raga atau psiko fisik yang

diperoleh melalui latihan atau pengalaman yang disengaja dan disadari, dimana hasil

perubahan itu relatif menetap tidak berlangsung sementara, serta menyangkut unsur

cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

(15)

Istilah belajar dan mengajar merupakan dua peristiwa yang berbeda, akan tetapi keduanya mempunyai hubungan yang erat, yaitu saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain.

Slameto berpendapat “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (penelitian Neli Farkhatin 2009:7). Menurut Anita E. Woolfok berpendapat: “In the broadest sense, learning occurs when experience cause a relatively permanent change in an individual’s knowledge or behavior” (penelitian Neli Farkhatin, 2009:7). Maksudnya: “Dalam rasa yang paling luas, belajar terjadi ketika berpengalaman karena perubahan yang relatif tetap dalam pengetahuan individu atau perilakunya”(penelitian Neli Farkhatin, 2009 : 7).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang yang berasal dari pengalaman sendiri. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah sebagai berikut:

a. Faktor individu meliputi: kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan pribadi .

b. Faktor yang diluar individu yang disebut faktor sosial.

Kegiatan belajar peserta didik dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

a. Kegiatan belajar mandiri, yaitu setiap anak yang ada dikelas mengerjakan atau

melakukan kegiatan belajar masing-masing.

(16)

b. Kegiatan belajar kelompok, yaitu peserta didik melakukan kegiatan belajar dalam situasi kelompok

c. Kegiatan belajar klasikal yaitu semua peserta didik dalam waktu yang sama mengadakan kegiatan belajar yang sama.

Adapun tujuan belajar adalah:

a. Untuk mendapat pengetahuan.

b. Penanaman konsep dan keterampilan.

c. Pembentukan sikap.

Guna mencapai tujuan tersebut, harus melalui proses yaitu mengajar. Nana Sudjana berpendapat “Mengajar adalah proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada peserta didik dalam melakukan proses belajar” (penelitian Neli Farkhatin 2009:9). Hakikat mengajar menurut Joyce dan Weil adalah “Membantu pebelajar (peserta didik) memperoleh informasi, ide, ketrampilan, nilai-nilai, cara berpikir dan belajar bagaimana cara belajar”(Indrawati dan Wawan Setiawan, 2009:27).

Mengajar merupakan penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan

terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen

yang saling mempengaruhi, yakni tujuan intruksional yang ingin dicapai , materi

yang diajarkan, guru dan peserta didik yang harus memainkan peranan yang ada

dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan

prasarana belajar yang tersedia.

(17)

2. Teori-Teori Belajar

Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: Teori behaviorisme, teori belajar kognitif menurut Piaget, teori pemrosesan informasi dari Gagne, teori belajar gestalt.

a. Teori Behaviorisme

Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya:

1) Connectionism (S-R Bond) menurut Thorndike.

Eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum- hukum belajar, diantaranya:

a) Law of Effect artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat.

Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.

b) Law of Readiness, artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa

kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar

(18)

(conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

c) Law of Exercise, artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

2) Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

Eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum- hukum belajar, diantaranya :

a) Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

b) Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3) Operant Conditioning menurut B.F. Skinner

Eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

a) Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

b) Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah

diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat,

maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

(19)

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

4) Social Learning menurut Albert Bandura

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah

sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar

lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang

perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond),

melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan

dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini,

bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi

melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga

masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan

punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana

yang perlu dilakukan. Masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori

belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan

prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang

menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The

(20)

Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

b. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : sensory motor, pre operational, concrete operational dan formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan

dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi

kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh

interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru

hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau

berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal

dari lingkungan. Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran

adalah :

(21)

1) Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2) Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3) Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4) Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

5) Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

c. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu.

Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai

hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi

eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam

proses pembelajaran. Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan

(22)

fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

d. Teori Belajar Gestalt

Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai

“bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan.

Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu : 1) Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap

bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.

2) Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.

3) Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.

4) Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang

berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau

bentuk tertentu.

(23)

5) Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan.

6) Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:

a) Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku

“Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.

b) Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).

c) Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu

bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau

peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius,

(24)

virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.

d) Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain:

1) Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.

2) Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran.

Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

3) Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan.

Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada

keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran

akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.

(25)

Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

4) Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

5) Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

B. Prestasi belajar mata pelajaran PKn 1. Prestasi Belajar

Prestasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1984: 768) “Prestasi adalah

hasil yang dicapai, dilakukan, dikerjakan”. Sedangkan belajar menurut

Poerwadarminto (1984: 108) adalah berusaha atau berlatih supaya mendapat suatu

(26)

kepandaian. Jadi prestasi belajar adalah sesuatu atau hasil yang dicapai seorang individu dalam mengubah dirinya dari tidak tahu menjadi tahu. Hasil belajar memiliki peran penting dalam proses belajar mengajar,. Penilaian hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan belajar dalam upaya mencapai tujuan belajar melalui berbagai kegiatan belajar mengajar. Menurut Anni (2004 : 4)

“hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang telah dipelajari oleh pembelajar”. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam pembelajaran, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh pembelajar setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran merupakan bentuk harapan yang dikomunikasikan melalui pernyataan dengan cara menggambarkan perubahan yang dinginkan oleh pembelajar, yaitu pernyataan tentang apa yang diinginkan pada diri pembelajar setelah menyelesaikan pengalaman belajar. Ranah tujuan pembelajaran dapat dibedakan atas ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotorik. Dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran ranah tertentu diperlukan prinsip pembelajaran yang tidak sama, terutama prinsip yang mengatur prosedur dan pendekatan pembelajaran itu sendiri. (Sugandi, dkk, 2004 : 11).

(27)

2. Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan

Mata pelajaran PKn adalah mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yaitu merupakan mata pelajaran yang mengembangkan pendidikan moral dan demokrasi mengemban tiga fungsi pokok yakni mengembangkan kecerdasan warga negara (civic intelligence), membina tanggung jawab warga negara (civic partisipaction), untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa indonesia.

Pendidikan kewarganegaraan yang dimaksud disini adalah salah satu mata pelajaran di MTs Nahdlatul Ulama yang diajarkan dikelas VII. Pendidikan Kewarganegaraan yang diajarkan tersebut berisi pengetahuan (body of knowledge) yang diorganisasikan secara interdisipliner dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial seperti ilmu politik, hukum, tatanegara, psikologi dan berbagai bahan kajian lainnya yang berasal dari kemasyarakatan, nilai-nilai budi pekerti dan hak asasi manusia dengan penekanan kepada hubungan antara warganegara dan warganegara, warganegara dan pemerintah negara, serta warganegara dan warga dunia (Depdiknas, 2001: 3)

Berdasarkan uraian di atas dapat diartikan tentang pendidikan

kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang berisi pengetahuan tentang ilmu-ilmu

sosial seperti ilmu politik, hukum, tatanegara, psikologi dan berbagai bahan kajian

lainnya yang berasal dari kemasyarakatan, nilai-nilai budi pekerti dan hak asasi

manusia.

(28)

3. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

Berdasarkan tataran empiris dan kontekstual masih terlihat jelas adanya kesenjangan antara tataran normatif dengan fenomena ideologis, sosial, politik, dan cultural dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara RI. Tataran normatif sejak kita merdeka sudah terukir dengan indah apa yang menjadi komitmen kita bersama sebagai sebuah bangsa yaitu: “Pemerintah Negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial….” (Pembukaan UUD 1945). Komitmen kebangsaan yang sangat tinggi yang tertulis secara normatif dengan kenyataan yang ditampilkan masih perlu pembenahan.

Kesenjangan ini terus bergulir, puncaknya adalah krisis nasional, yang dikenal dengan kisis multidimensi. Untuk itu maka perlu pendidikan yang efektif dan bermutu.

Salah satu masalah yang terkait dengan penerapan esensi pendidikan ilmu pengetahuan sosial contohnya mata pelajaran kewarganegaraan adalah memudarnya rasa nasionalisme dan patriotisme dan munculnya arogansi kesukuan dan golongan yang merusak sendi-sendi demokratisasi.

Salah satu upaya untuk mengatasi masalah memudarnya rasa nasionalisme

dan patriotisme dalam memperjuangkan jati diri bangsa Indonesia dalam persaingan

global dan memudarnya integrasi nasional, maka diperlukan sosialisasi hasil kajian

esensi pendidikan kewarganegaraan dan sosialisasi bagaimana pembelajarannya agar

(29)

mampu memperkuat revitalisasi nasionalisme Indonesia menuju character and nation building sebagai tumpuan harapan pendidikan masa depan. Juga dapat memperkuat kembali komitmen kebangsaan yang selama ini mulai memudar dengan tekad memperjuangkan bangsa Indonesia yang berkualitas dan bermartabat. Dengan demikian maka Pendidikan Kewarganegaraan sebagai pendidikan politik dan moral bangsa adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa ditawar untuk tetap eksis dan maju ke arah paradigma baru yang terkenal dengan arah baru atau paradigma moderat.

Menurut Malik Fajar (2004: 4) sejak tahun 1994, pembelajaran PKn menghadapi berbagai kendala dan keterbatasan. Kendala dan keterbatasan tersebut adalah: (1) masukan instrumental (instrumental input) terutama yang berkaitan dengan kualitas guru serta keterbatasan fasilitas dan sumber belajar, dan (2) masukan lingkungan (instrumental input) terutama yang berkaitan dengan kondisi dan situasi kehidupan politik negara yang kurang demokratis.

Beberapa petunjuk empiris menyangkut permasalahan tersebut antara lain sebagai berikut. Pertama, proses pembelajaran dan penilaian dalam PKn lebih menekankan pada aspek instruksional yang sangat terbatas, yaitu pada penguasaan materi (content mastery). Dengan kata lain lebih menekankan pada dimensi kognitifnya sehingga telah mengabaikan sisi lain yang penting, yaitu pembentukan watak dan karakter yang sesungguhnya menjadi fungsi dan tujuan utama PKn.

Kedua, pengelolaan kelas belum mampu menciptakan suasana yang kondusif untuk

berkembangnya pengalaman belajar siswa yang dapat menjadi landasan untuk

berkembangnya kemampuan intelektual siswa (state of mind ). Proses pembelajaran

(30)

yang bersifat “satu arah” dan pasif baik di dalam maupun di luar kelas telah berakibat pada miskinnya pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning) dalam proses pembentukan watak dan perilaku siswa. Untuk itu sangat penting bagi kita untuk membangun model-model pembelajaran khususnya dalam PKn dalam rangka, menciptakan proses belajar yang menyenangkan, mengasyikkan, sekaligus mencerdaskan. Ketiga, pelaksanaan kegiatan ektra-kurikuler sebagai wahana sosio- pedagogis melalui pemanfaatan “hands-on experience” juga belum berkembang sehingga belum memberikan kontribusi yang berarti dalam menyeimbangkan antara penguasaan teori dan pembinaan perilaku, khususnya yang berkaitan dengan pembiasaan hidup yang terampil dalam suasana yang demokratis dan sadar hukum.

Kompleksitas permasalahan yang melukiskan betapa banyaknya kendala kurikuler dan sosio-kultural dalam pembelajaran PKn untuk mencapai hasil belajar yang menyeluruh, yang dalam pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan prinsip penting apabila kurikulum berbasis kompetensi atau kepribadian yang diusulkan oleh Winataputra (2004: 21). Khususnya dalam menanamkan sikap, nilai dan perilaku yang dapat dijadikan landasan untuk membentuk watak dan karakter para siswa didik dalam konteks negara-bangsa Indonesia.

Empat pilar belajar yang diperkenalkan oleh UNESCO dalam Soedijarto

(2004: 10-18) yaitu learning to know, seperti telah dikemukakan oleh Philip Phoenix,

proses pembelajaran yang mengutamakan penguasaan ways of knowing atau mode of

inquire telah memungkinkan siswa untuk terus belajar dan mampu memperoleh

pengetahuan baru dan tidak hanya memperoleh pengetahuan dari hasil penelitian

(31)

orang lain, melainkan dari hasil penelitiannya sendiri. Karena itu, hakikat dari learning to know adalah proses pembelajaran yang memungkinkan siswa menguasai tehnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya memperoleh pengetahuan. Learning to do yaitu pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk melaksanakan controlling, monitoring, maintaining, designing, organizing. Belajar ini terkait dengan belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang konkret yang tidak hanya terbatas kepada penguasaan keterampilan mekanistis melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dengan orang lain, mengelola dan mengatasi konflik, menjadi pekerjaan yang penting.

Learning to live together yaitu membekali siswa kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda, dengan penuh toleransi, saling pengertian dan tanpa prasangka. Dalam hubungan ini, prinsip relevansi sosial dan moral.

Learning to be, keberhasilan pembelajaran untuk mencapai pada tingkatan ini diperlukan dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua, dan ketiga, yaitu : tiga pilar yaitu learning to know, learning to do, dan learnig to live together ditujukan bagi lahirnya siswa didik yang mampu mencari informasi dan menemukan ilmu pengetahuan, yang mampu memecahkan masalah, dan mampu bekerja sama, bertenggang rasa, dan toleran terhadap perbedaan.

Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menumbuhkan rasa percaya

diri pada siswa didik, sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya,

yakni manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. Manusia yang utuh

yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang mengenal dirinya, yang

(32)

dapat mengendalikan dirinya dengan konsisten dan memiliki rasa empati (tepo seliro), atau disebut memiliki Emotional Intelligence.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat (2) menyebutkan bahwa ”Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”. Pasal 37 menyebutkan bahwa, ”Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:

a) Pendidikan Agama

b) Pendidikan Kewarganegaraan c) Bahasa

d) Matematika

e) Ilmu Pengetahuan Alam f) Ilmu Pengetahuan Sosial g) Seni dan Budaya

h) Pendidikan Jasmani dan Olahraga i) Keterampilan/ Kejuruan

j) Muatan Lokal.

Dari isi Undang-Undang Sisdiknas di atas jelas eksistensi PKn dalam kurikulum persekolahan adalah berdiri sendiri sebagai mata pelajaran. Istilah yang sering digunakan selain PKn adalah civics. Henry Randall Waite (1886) seperti dikutip oleh Sumantri (2001: 281) merumuskan pengertian Civics sebagai ilmu kewarganegaraan yang membicarakan hubungan manusia dengan:

a) Perkumpulan yang terorganisir (organisasi sosial, organisasi ekonomi, dan organisasi politik); dan

b) Idividu dengan negara.

(33)

Istilah lain yang hampir sama maknanya dengan civics adalah citizenship.

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu dari lima tradisi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yakni citizenship tranmission, saat ini sudah berkembang menjadi tiga aspek pendidikan Kewarganegaraan (citizenship education), yakni aspek akademis, aspek kurikuler, dan aspek social budaya. Secara akademis pendidikan kewarganegaraan dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian yang memusatkan telaahannya pada seluruh dimensi psikologis dan sosial budaya kewarganegaraan individu, dengan menggunakan ilmu politik, ilmu pendidikan sebagai landasan kajiannya atau penemuannya intinya yang diperkaya dengan disiplin ilmu lain yang relevan, dan mempunyai implikasi kebermanfatan terhadap instrumentasi dan praksis pendidikan setiap warga negara dalam konteks sistem pendidikan nasional (Wiranaputra, 2004).

Menurut Malik Fajar (2004: 6-8) bahwa “PKn sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab, PKn memiliki peranan yang amat penting. Mengingat banyak permasalahan mengenai pelaksanaan PKn sampai saat ini, maka arah baru PKn perlu segera dikembangkan dan dituangkan dalam bentuk standar nasional, standar materi serta model-model pembelajaran yang efektif dalam mencapai tujuannya”.(Surya Darma, 2008 : 8). Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai arah baru yaitu:

Pertama, PKn merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang

berbagai disiplin ilmu yang relevan, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi,

antropologi, psikologi, dan disiplin ilmu lainnya, yang digunakan sebagai landasan

(34)

untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai, dan perilaku demokrasi warganegara. Kemampuan dasar terkait dengan kemampuan intelektual, sosial (berpikir, bersikap, bertindak, serta berpartisipasi dalam hidup bermasyarakat). Substansi pendidikan (cita-cita, nilai, dan konsep demokrasi) dijadikan materi kurikulum PKn yang bersumber pada pilar-pilar demokrasi konstitusional Indonesia.

Kedua, PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. Pembangunan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warga negara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan (civic intelligence), tanggungjawab (civic responsibility), dan partisipasi (civic participation) warga negara sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi.

Ketiga, PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan pertisipatif dengan menekankan pada pelatihan penggunaan logika dan penalaran.

Untuk memfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan

belajar interaktif yang dikemas dalam berbagai bentuk paket seperti bahan belajar

tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari lingkungan

masyarakat sebagai pengalaman langsung. Di samping itu upaya peningkatan

kualifikasi dan mutu guru PKn perlu dilakukan secara sistematis agar terjadinya

kesinambungan antara pendidikan guru melalui LPTK, pelatihan dalam jabatan, serta

(35)

pembinaan kemampuan profesional guru secara berkelanjutan dalam mengelola proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.

Keempat, kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn, pemahaman, sikap, dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ”mengajar demokrasi” (teaching democraty), tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup berdemokrasi (doing democray). Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kendali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa sehingga dapat lebih berhasil di masa depan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis kelas.

Dari arah baru PKn yang diharapkan terealialisasikan dalam kehidupan nyata di sekolah maupun di masyarakat, yang terbentang ke seluruh Tanah Air. Untuk itu diperlukan pemahaman bersama untuk disosialisasikan dalam bentuk kerja nyata dalam pembentukan kepribadian siswa menjadi pribadi yang utuh, dan insan kamil yang menjadi tumpuan harapan kita bersama yakni dapat menjawab tantangan pembelajaran pada abad 21, yakni:

1) Berpikir kritis dan menyelesaikan masalah-masalah.

2) Kreatif dan inovasi.

3) Keterampilan berkomunikasi dan menggali dan menyampaikan informasi 4) Keterampilan berkolaborasi.

5) Pembelajaran kontekstual; dan

6) Keterampilan menggunakan teknologi dan media komunikasi dan informasi.

Tidak mudah memang, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan, semua

sangat bergantung pada niat, dan dorongan kita bersama untuk memberikan

(36)

dukungan, sehingga apa harapannya yang bersemangat berubah yang lebih penting adalah guru sebagai pelaku langsung di lapangan.

Selain itu juga akan terbangun budaya demokrasi, yang menjadi esensi materi pembelajaran yang perlu disampaikan oleh guru. Adapun prinsip-prinsip demokrasi menurut Masykuri Abdullah (Dede Rosyada, 2003: 117-119) adalah persamaan, kebebasan dan pluralisme. Robert Dahl dalam tulisan yang sama, bahwa prinsip yang harus ada dalam demokrasi yaitu:

1) Kontrol atas keputusan pemerintah 2) Pemilihan yang teliti dan jujur 3) Hak memilih dan dipilih

4) Kebebasan menyataan pendapat tanpa ancaman 5) Kebebasan mengakses informasi, dan

6) Kebebasan berserikat.

Sedangakan Amin Rais dalam Dede Rosyada (2003: 117-119) merumuskan kriteria lain dari parameter demokrasi adalah:

1) Adanya partisipasi dalam pembuatan keputusan 2) Distrbusi pendapatan secara riil.

C. Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan

makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-

istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3)

metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6)

model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan

harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

(37)

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin S. M:2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :

1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.

2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.

3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.

4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.

2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.

3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur,

metode dan teknik pembelajaran.

(38)

4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition- discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk

mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan

kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan

metode adalah “a way in achieving something”. Jadi, metode pembelajaran dapat

diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang

sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan

pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk

mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2)

(39)

demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.

Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas.Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.

Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi

mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya,

yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki

sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of

humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang

sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau

kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe

(40)

kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Supriawan dan Surasega, 1990) menyebutkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku.

Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut

diidentikkan dengan strategi pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari

masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

(41)

MODEL PEMBELAJARAN

MODEL PEMBELAJARAN

M ODE L PEMBE L AJA RA N M ODE L PEMBE L AJA RA N

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan

Pendekatan Pembelajaran (Student or Teacher Centered)

Strategi Pembelajaran

(exposition-discovery-learning or group-individual learning)

Metode Pembelajaran (ceramah, diskusi, simulasi, dsb)

Teknik dan Taktik Pembelajaran

(spesifik, individual, unik)

(42)

dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun criteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara

profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang

memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif

dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan. Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan

di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan

model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian

akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber

literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau

teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori)

pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat

secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang

khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada

gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan,

yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

(43)

D. Model Pembelajaran Efektif, Menyenangkan, Inovatif, Kreatif dan Tuntas (PEMIKAT)

Model pembelajaran merupakan suatu pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pengajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar dikelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya. (M.D. Dahlan, 1999: 10).

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujun belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. (Syaiful Sagala : 2005).

Secara luas, Joyce dan Weil (2003 :13) mengemukakan bahwa model pembelajaran merupakan depenelitian dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, rancangan unit pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-buku pelajaran, program multimedia, dan bantuan belajar melalui program komputer.

Merujuk pada pendapat diatas dapat dimaknai model pembelajaran sebagai

suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu, dalam pola

tersebut dapat terlihat kegiatan guru – peserta didik didalam mewujudkan kondisi

belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada peserta

didik. Didalam pola pembelajaran yang dimaksud terdapat karakteristik berupa

rentetan atau tahapan perbutan/ kegiatan guru - peserta didik yang dikenal dengan

istilah sintaks. Secara implisit dibalik pembelajaran tersebut terdapat karakteristik

(44)

lainnya dari sebuah model dan rasional yang membedakan antara model pembelajaran yang satu dengan model pembelajaran yang lainnya.

Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik.

Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. Dengan adanya interaksi akan terjadi komunikasi tersendiri, dimana guru dan peserta didik menukar pikiran untuk mengembangkan ide. Belajar dan mengajar merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Belajar dan mengajar merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Belajar menunjukan pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar menunjukkan pada apa yang harus dilakukan oleh guru (pendidik) sebagai pengajar.

1. Pembelajaran Efektif

Pembelajaran Efektif adalah pembelajaran yang menghasilkan apa yang harus

dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung seperti dicantumkan dalam

tujuan pembelajaran.(Indrawati, Wanwan Setiawan, 2009 : 14). Secara umum semua

stakeholder pendidikan mengharapkan proses pembelajaran yang dilakukan adalah

pembelajaran yang efektif dan efisien sehingga diharapkan siswa mampu menerima

dan memahami materi pembelajaran dengan baik dan menyenangkan, disamping

pendidik (guru) merasa nyaman dalam proses mengajar. Secara teoritis pembelajaran

efektif mampu menghantarkan siswa pada pembelajaran yang efektif. Menurut

(45)

Bruner, dalam proses pembelajaran siswa-siswi harus aktif (Zaenal dan Mulyana, 2003 dan Sunaryo, 2007).

2. Pembelajaran Menyenangkan

Pembelajaran Menyenangkan adalah suasana belajar dalam keadaan gembira.

Dave Meier (2002:36). Suasana gembira disini bukan berarti suasana ribut, hura-hura, kesenangan yang sembrono dan kemeriahan yang dangkal. (Depdiknas: 2010).

3. Pembelajaran Inovatif

Pembelajaran Inovatif adalah pembelajaran yang dikemas oleh pembelajar atas dorongan gagasan barunya yang merupakan produk dari lerning how to learn untuk melakukan langkah-langkah belajar sehingga memperoleh kemajuan hasil belajar. (Indrawati, Wanwan Setiawan, 2009 : 14).

4. Pembelajaran Kreatif

Pembelajaran Kreatif adalah pembelajaran yang menstimulasi siswa untuk mengembangkan gagasannya dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada.

(Indrawati, Wanwan Setiawan, 2009 : 14). Pembelajaran kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi, dan melakukan hal-hal yang artistik lainnya. Dikarakterkan dengan adanya keaslian dan hal yang baru.

Dibentuk melalui suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan.

Dirancang untuk mesimulasikan imajinasi. Kreatifitas adalah sebagai kemampuan

(berdasarkan data dan informasi yang tersedia) untuk memberikan gagasan-gagasan

baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah,

Referensi

Dokumen terkait

Syllabus or exam. e

Bulan Agustus hingga September 2017, pemerintah melakukan imunisasi MR (measles-rubella atau campak- rubela) secara massal di Pulau Jawa. Penyelenggaraan imunisasi ini menimbulkan

Mata Pelajaran Nilai

ALQALAM 272 Volume.30 Nomor.2 (Mei-Agustus) 2013 berkembang dalam ajaran Islam karena terdapat segregrasi antara yang alim dan yang kafir sehingga yang

Fuzzy Inference System (FIS) dalam penentuan kelayakan peneriman dosen tetap STIKes Hang Tuah Pekanbaru dengan menggunakan fuzzy inferece system (FIS) mempunyai

menyelesaikan soal, kemudian antara peserta didik dan guru mendiskusikan materi tersebut (Bahan: buku paket, yaitu buku Matematika SMP dan MTs Kelas VII Semester 2, hal.

Pejabat Pengadaan Barang dan Jasa Pada Kantor Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Musi Banyuasin Tahun Anggaran 2014, Berdasarkan Surat Penetapan Pemenang Pengadaan Langsung. :

Kemudian dipastikan bahwa seluruh titik bantu baru P tidak berdekatan dengan sumber keramaian maka, dapat ditentukan lokasi titik-titik bantu baru P yang akan menjadi lokasi