393
E-Prodenta Journal of Dentistry. 2021. 5(1) 393-402 DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.eprodenta.2021.005.01.4
E-ISSN : 2597-4912
EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.) SEBAGAI INHIBITOR LAJU KOROSI KAWAT STAINLESS STEEL PERANTI ORTODONTI LEPASAN
Endah Damaryanti1, Azzahra Diba Erstyawati2
1Departemen Ortodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Brawijaya, Malang 65145 2Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Brawijaya, Malang 65145
Korespondensi: Endah Damaryanti, Email: [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang: Peranti ortodonti lepasan ditujukan untuk memperbaiki maloklusi ringan. Kawat stainless steel merupakan komponen yang berpotensi mengalami korosi dan berefek negatif bagi kawat serta tubuh manusia. Kulit buah kakao mengandung senyawa antioksidan tanin dan menjadi limbah perkebunan sehingga dimanfaatkan menjadi bahan inhibitor organik korosi pada kawat ortodonti stainless steel. Tujuan: Membuktikan efektivitas ekstrak kulit buah kakao sebagai inhibitor laju korosi kawat ortodonti stainless steel. Metode: Penelitian ini menggunakan kawat ortodonti stainless steel merk Dentaurum remanium jenis round, spring hard, 0,7 mm/28 dipreparasi panjangnya 6 cm, ditimbang massa awal dan akhir menggunakan neraca analitik. Terdapat 4 kelompok kawat yang direndam 30 menit: K (saliva buatan), dan P dalam saliva buatan dengan ekstrak konsentrasi 600 ppm (P1), 800 ppm (P2) dan 1000 ppm (P3). Proses korosi menggunakan reaksi redoks dan penghitungan laju korosi menggunakan rumus metode weight loss. Hasil: Uji One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara laju korosi pada keempat kelompok (p<0,05). Uji Post Hoc Tukey HSD menunjukkan besar nilai perbedaan mean yang signifikan dalam mengurangi laju korosi antara kelompok kontrol dengan P1, P2 dan P3 serta antara PI dengan P2 dan P3 (p<0,05), dan didapatkan perbedaan mean terbesar pada P3. Kesimpulan: Ekstrak kulit buah kakao efektif sebagai inhibitor laju korosi kawat stainless steel pada peranti ortodonti lepasan. Semakin besar konsentrasi inhibitor yang digunakan maka laju korosi akan semakin berkurang dan efektivitas inhibitor semakin meningkat.
Kata kunci : Inhibitor, Korosi, Stainless Steel, Kulit Buah Kakao
EFFECTIVENESS OF COCOA’S SKIN EXTRACT (Theobroma cacao L.) AS A CORROSION INHIBITOR OF STAINLESS STEEL WIRE IN REMOVABLE ORTHODONTIC APPLIANCES
ABSTRACT
Background: Removable orthodontic appliance is intended to correct mild malocclusion. Stainless steel wire is a component has the potential to experience corrosion and can have a negative effect on the wire and human body. Cocoa’s skin contains antioxidant tannin compounds and becomes plantation waste so it is used as an organic corrosion inhibitor on stainless steel orthodontic wire. Objective: To prove the effectiveness of cocoa’s skin extract as an inhibitor of the corrosion rate of stainless steel orthodontic wire. Methods: This study used stainless steel orthodontic wire from the Dentaurum remanium brand, round, spring hard, 0.7 mm / 28, prepared 6 cm long, weighed the initial and final masses. There were 4 groups of wires immersed for 30 minutes: K (artificial saliva), and P in artificial saliva with extract concentrations of 600 ppm (P1), 800 ppm (P2) and 1000 ppm (P3). The corrosion process uses a simple redox reaction and the calculation of the corrosion rate uses the weight loss method formula. Results: One Way ANOVA test showed that there was a significant difference between the corrosion rates in the four groups (p <0.05). The Post Hoc Tukey HSD test showed a significant difference in the mean value in reducing the corrosion rate between the control group with P1, P2 and P3 and between PI with P2 and P3 (p <0.05), and the largest mean difference was found in P3 Conclusion: Cocoa’s skin extract is effective as an inhibitor of the corrosion rate of stainless steel wires in removable orthodontic appliances. The greater concentration of the inhibitor used, the less corrosion rate will be and the effectiveness of inhibitor will increase.
393
PENDAHULUAN
Maloklusi di Indonesia menduduki kelainan terbanyak ketiga di bidang kedokteran gigi setelah karies dan penyakit periodontal.1 Perawatan
ortodonti ditujukan untuk memperbaiki maloklusi, salah satunya yaitu peranti ortodonti lepasan (removable appliance) yang digunakan untuk menangani kasus maloklusi ringan. Komponen utama dari peranti ortodonti lepasan salah satunya terdiri dari kawat ortodonti.2
Kawat ortodonti stainless steel austenitic banyak digunakan dalam perawatan ortodonti karena harganya terjangkau serta memiliki elastisitas dan ketahanan terhadap korosi yang baik,
namun beberapa penelitian
membuktikan kawat ini masih berpotensi mengalami korosi karena adanya sifat ionisasi, termal, mikrobiologis, enzimatik dan lingkungan di dalam rongga mulut.3
Leaching ion nikel dan kromium akibat
korosi menyebabkan reaksi
hipersensitivitas, efek karsinogenik, mutagenik, sitotoksik serta kerusakan pada kawat yang dapat memperpanjang waktu perawatan.4 Oleh karena itu,
ketahanan kawat terhadap korosi
sangatlah krusial dalam perawatan ortodonti.5
Terjadinya korosi tidak dapat dihindari, tetapi lajunya dapat dikurangi yaitu dengan penambahan inhibitor.6
Inhibitor dikelompokkan menjadi dua, yaitu inhibitor organik dan anorganik. Inhibitor organik lebih banyak digunakan karena lebih alami, non toksik, ramah lingkungan, harganya terjangkau, mudah didapatkan dan biokompatibel dengan tubuh manusia. Pada penelitian sebelumnya, senyawa antioksidan tanin terbukti dapat dimanfaatkan sebagai inhibitor organik. Senyawa ini dapat berikatan dengan ion Fe3+ pada
permukaan kawat sehingga dapat meng-cover / mempertahankan senyawa kompleks / lapisan pasif yang terdapat di permukaan logam, sehingga laju korosi akan mengalami penurunan.7
Kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai inhibitor korosi karena terbukti mengandung senyawa antioksidan tanin yang cukup besar sekitar 2,33 %.8 Kulit
395
perkebunan dengan persentase yang cukup tinggi, yaitu lebih dari 60 % sehingga dapat menjadi masalah jika tidak ditangani dengan baik9. Pada
penelitian sebelumnya, ekstrak kulit buah kakao dengan konsentrasi 600 ppm mulai efektif sebagai inhibitor terhadap laju korosi pada baja.7 Pemanfaatan limbah
kulit buah kakao dalam penelitian ini diharapkan efektif sebagai inhibitor korosi dalam menurunkan laju korosi kawat stainless steel pada peranti ortodonti lepasan. Oleh karena itu, dari penelitian ini diharapkan dapat dihasilkan produk akhir berupa larutan perendam dari ekstrak kulit buah kakao untuk peranti ortodonti lepasan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan Posttest Only Control Group Design di Laboratorium Kimia UPT Laboratorium Terpadu Universitas Sebelas Maret dan Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada. Sampel berupa 24 kawat merk Dentaurum remanium berbahan stainless
steel, round, spring hard, ukuran 0,7 mm / 28 dipreparasi dengan panjang 6 cm yang dibagi menjadi 4 kelompok kawat yang direndam selama 30 menit, yaitu kelompok kontrol (K) dalam saliva buatan, dan kelompok perlakuan yang direndam dalam larutan saliva buatan dengan penambahan ekstrak kulit buah kakao konsentrasi 600 ppm pada kelompok perlakuan 1 (P1), 800 ppm pada kelompok perlakuan 2 (P2) dan 1000 ppm pada kelompok perlakuan 3 (P3). Kawat ditimbang massa awal dan akhir supaya didapatkan selisih massanya.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) jenis Trinitario / hibrida dengan konsentrasi 600 ppm, 800 ppm dan 1000 ppm. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah laju korosi pada kawat stainless steel. Variabel kontrol dalam penelitian ini diantaranya diantaranya yaitu kawat ortodonti merk Dentaurum remanium berbahan stainless steel berbentuk round dengan jenis spring hard berukuran 0,7 mm / 28 dipreparasi dengan panjang 6 cm, komposisi saliva buatan dengan pH normal, waktu perendaman 30 menit,
396
serta alat dan cara pengukuran yang sama.
Proses dan Prosedur Pembuatan Saliva Buatan
Larutan saliva buatan dengan metode Van Houfer, yaitu dengan komposisi 0,2 gr K2HPO4, 0,3 gr
Ca3(PO4)2, 0,33 gr KCN, 0,7 gr NaCl, 1,2
gr KCl, o,13 gr CH4N2O, 1,5 gr NaHCO3
dalam 1 liter aquades dengan pH 6,8 (diatur menggunakan HCl encer).
Proses dan Prosedur Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Kakao
Ekstrak kulit buah kakao dibuat di Laboratorium Kimia UPT Laboratorium Terpadu Universitas Sebelas Maret. Ekstrak kulit buah kakao dihasilkan dari kulit buah kakao yang dikeringkan tidak langsung di bawah sinar matahari. Pembuatan ekstrak ini menggunakan metode maserasi yang dilarutkan dengan pelarut etanol 70% hingga diperoleh konsentrasi 100% ekstrak kulit buah kakao. Kemudian dilakukan pengenceran dengan aquadest steril hingga menjadi ekstrak kulit buah kakao dengan konsentrasi 600, 800 dan 1000 ppm. Prosedur Penelitian Proses Korosi
Proses korosi menggunakan reaksi
elektrokimia sederhana dan
penghitungan nilai laju korosinya
menggunakan rumus berdasarkan
metode weight loss. Larutan dimasukkan ke dalam pipa U dibantu dengan corong. Logam karbon sebagai elektroda negatif (katoda) dijepit menggunakan kabel capit buaya yang sudah dihubungkan ke kutub negatif pada power supply, sedangkan kawat stainless steel sebagai elektoda positif (anoda) dihubungkan ke kutub positif pada power supply. Aliran listrik diatur pada power supply dengan tegangan 50 V dan kuat arus 30-35 mA selama 30 menit. Massa awal kawat ditimbang sebelum proses korosi ini, sedangkan massa akhir kawat ditimbang setelah proses korosi tetapi dicuci terlebih dahulu di bawah air yang mengalir dan dikeringkan dengan kain. Hal ini dilakukan agar didapatkan selisih massa kawat.
397
Gambar 1. Rangkaian alat reaksi elektrokimia sederhana untuk mengkonversi energi listrik menjadi energi kimia (reaksi redoks). Gambar a) Kawat stainless steel sebagai elektroda positif (anoda), b) Logam karbon sebagai elektroda negatif (katoda), c) Pengaturan voltase / tegangan (V), d) Pengaturan kuat arus (mA)
Penghitungan Laju Korosi
Laju korosi pada kawat stainless steel dihitung menggunakan rumus berdasarkan metode weight loss, yaitu :
𝐶𝑅 (𝑚𝑝𝑦) = 534 × 𝑊
𝐷 × 𝐴 × 𝑡
dimana 𝐶𝑅 adalah laju korosi (mpy), 𝑊 adalah selisih massa kawat (g), 𝐷 adalah berat jenis (g/cm3), 𝐴 adalah luas
permukaan kawat (cm2) dan 𝑡 adalah
lama perendaman (jam).
Penghitungan Efektivitas Inhibitor Efektivitas inhibitor dapat
diperoleh dengan menghitung
persentase pengurangan laju korosi logam yang dibandingkan dengan laju korosi saat diberi inhibitor dan yang tidak. Efektivitas inhibitor dapat dihitung dengan persamaan10:
EI% = 𝑥𝑎− 𝑥𝑏
𝑥𝑎 × 100 %
dimana 𝑥𝑎 adalah rata-rata laju korosi tanpa inhibitor dan 𝑥𝑏 adalah rata-rata laju korosi dengan inhibitor.
HASIL PENELITIAN
Proses korosi menyebabkan massa kawat berkurang, sehingga didapatkan selisih massa kawat setelah dilakukan penimbangan dengan neraca analitik. Massa awal, akhir dan selisih massa kawat ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil pengukuran massa kawat ortodonti stainless steel
Kelompok Sampel Sampel Massa Kawat (g) (berat W dalam g) Awal Akhir 1 (kontrol) 1 0.1753 0.163 0.0123 2 0.174 0.162 0.012 3 0.1752 0.1628 0.0124 4 0.1735 0.1608 0.0127 b c d a
398 5 0.1736 0.1613 0.0123 6 0.1751 0.163 0.0121 2 / P1 (600 ppm) 1 0.1755 0.1681 0.0074 2 0.1741 0.1669 0.0072 3 0.1735 0.1665 0.007 4 0.1754 0.1681 0.0073 5 0.1758 0.1692 0.0066 6 0.1757 0.1687 0.007 3 / P2 (800 ppm) 1 0.1746 0.1689 0.0057 2 0.1743 0.1687 0.0056 3 0.1736 0.1673 0.0063 4 0.1762 0.1696 0.0066 5 0.1755 0.169 0.0065 6 0.1736 0.1672 0.0064 4 / P3 (1000 ppm) 1 0.1742 0.169 0.0052 2 0.174 0.1689 0.0051 3 0.1753 0.1696 0.0057 4 0.1751 0.1693 0.0058 5 0.1741 0.1691 0.005 6 0.1736 0.1681 0.0055
Setelah didapatkan selisih massa kawat, nilai laju korosi dapat dihitung
menggunakan rumus berdasarkan
metode weight loss dan hasilnya ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil penghitungan nilai laju korosi kawat ortodonti stainless steel
Nilai laju korosi yang didapat digunakan untuk menghitung nilai persentase efektivitas inhibitor yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Nilai efetivitas inhibitor
Semakin rendah nilai laju korosi, akan semakin tinggi nilai efektivitas inhibitornya. Efektivitas inhibitor ekstrak kulit buah kakao dalam penelitian ini adalah pada kelompok P1 (dengan penambahan ekstrak konsentrasi 600 ppm) sebesar 42.41192412 %, pada kelompok P2 (dengan penambahan ekstrak konsentrasi 800 ppm) sebesar 49.72899729 %, dan pada kelompok P3
(dengan penambahan ekstrak
konsentrasi 1000 ppm) sebesar 56.23306233 %. Kelompok Perlakuan Nilai Rata-rata Laju Korosi (mpy) EI (%)
1 (Kontrol) 12.7684143 Tak terhitung 2 / P1 7.353084116 42.41192412 3 / P2 6.418809899 49.72899729 4 / P3 5.588343928 56.23306233 *p=0,000 (p<0,05)
Sampel
Nilai Laju Korosi (mpy) Kel 1
(kontrol) Kel 2 (P1) Kel 3 (P2) Kel 4 (P3)
1 12.7684143 7.681810229 5.917070041 5.39802881 2 12.45698956 7.474193737 5.813261795 5.294220563 3 12.87222255 7.266577244 6.539919519 5.917070041 4 13.18364729 7.578001983 6.851344258 6.020878288 5 12.7684143 6.851344258 6.747536012 5.190412317 6 12.5607978 1 7.2665772 44 6.64372776 6 5.7094535 49
399
Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan metode Shapiro-Wilk. Hasil uji normalitas data laju korosi kawat ortodonti stainless steel didapatkan nilai signifikansi dari kelompok K, P1, P2 dan P3 secara berurutan sebesar 0,753 ; 0,580 ; 0,145 ; 0,487. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa uji normalitas telah terpenuhi dan data hasil observasi terdistribusi normal karena memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0.05 di semua kelompok (p>0.05). Dilanjutkan uji
homogenitas data menggunakan
Levene’s test, data dikonfirmasi homogen dengan nilai signifikansi p = 0,200 (p>0,05). Selanjutnya dilakukan uji One Way ANOVA untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan mean yang signifikan antara keempat kelompok, dan uji Post Hoc Tukey HSD untuk mengetahui besar perbedaan mean yang signifikan dari tiap kelompok dalam mengurangi laju korosi pada kawat ortodonti stainless steel. Pada uji One Way ANOVA terdapat perbedaan yang signifikan antara keempat kelompok
(antara masing-masing kelompok
perlakuan jika dibandingkan terhadap kelompok kontrol serta dibandingkan
antar kelompok perlakuan) dengan signifikan nilai p = 0,000 (p <0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan laju korosi kawat ortodonti stainless steel pada kelompok yang tidak diberi inhibitor korosi dan yang diberi ekstrak kulit buah kakao dengan konsentrasi 600, 800, dan 1000 ppm sebagai inhibitor korosi. Selanjutnya menganalisis data menggunakan Post Hoc Tukey HSD dan didapatkan nilai mean difference antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan 1 adalah
5.4153301858, dengan kelompok
perlakuan 2 adalah 6.3496044032, dan dengan kelompok perlakuan 3 adalah
7.1800703737. Dan juga antara
kelompok perlakuan 1 dengan kelompok perlakuan 2 adalah 0,9342742173 serta dengan kelompok perlakuan 3 adalah
1.7647401878. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan mean antara keempat kelompok, dengan nilai perbedaan mean yang paling signifikan terdapat pada kelompok perlakuan 3. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa kelompok perlakuan 3 merupakan kelompok yang paling efektif dalam penurunan laju korosi
400
kawat stainless steel pada peranti ortodonti lepasan.
PEMBAHASAN
Kawat stainless steel yang digunakan pada perawatan ortodonti terbukti berpotensi mengalami proses korosi di dalam rongga mulut. Proses ini dapat ditandai dengan adanya leaching ion nikel (Ni) dan kromium (Cr) yang dapat menyebabkan alergi pada pasien hipersensitivitas terhadap logam, dermatitis, asma, sitotoksisitas serta membuat kerusakan pada kawat itu sendiri sehingga dapat memperpanjang waktu perawatan ortodonti.11 Saliva
mengandung komponen anorganik
(bikarbonat, fosfat, natrium, kalium, potassium, klorida dan magnesium) yang berperan sebagai media elektrolit yang dapat memicu reaksi elektrokimia. Reaksi elektrokimia merupakan reaksi yang terjadi pada anoda (mengalami oksidasi) dan katoda (mengalami reduksi), dimana ion logam sebagai anoda dan ion H+ dari media elektrolit sebagai katoda.
Hasil penelitian ini menunjukkan nilai laju korosi rata-rata pada kelompok kontrol (K) lebih tinggi dibandingkan
kelompok perlakuan yang diberi inhibitor ekstrak kulit buah kakao (Tabel 3).
Penurunan laju korosi ini
disebabkan oleh senyawa aktif
antioksidan tanin. Tanin mengandung gugus OH- dalam posisi orto pada cincin aromatik, sehingga tanin mampu membentuk khelat dengan besi dan kation logam lainnya. Ketika ion Fe3+ bereaksi dengan OH- di posisi ortoakan terbentuk larutan komplek tanat besi berwarna biru–hitam. Tanat akan melekat pada permukaan besi yang akan menghalangi ion korosif dari lingkungan luar untuk berikatan dengan permukaan logam.12
Semakin rendah nilai laju korosi, akan semakin tinggi nilai efektivitas inhibitornya. Efektivitas inhibitor ekstrak kulit buah kakao dalam penelitian ini adalah pada kelompok P1 (dengan penambahan ekstrak konsentrasi 600 ppm) sebesar 42.41192412 %, pada kelompok P2 (dengan penambahan ekstrak konsentrasi 800 ppm) sebesar 49.72899729 %, dan pada kelompok P3
(dengan penambahan ekstrak
konsentrasi 1000 ppm) sebesar
401
Inhibitor dengan konsentrasi yang lebih tinggi akan berkontribusi dalam peningkatan bagian logam yang tertutupi oleh senyawa aktif dari kulit buah kakao. Sehingga, inhibitor akan lebih efektif dalam mempertahankan lapisan pasif yang melindungi permukaan logam. Ketika lapisan pasif yang menyelubungi permukaan logam lebih luas, maka laju korosi akan berkurang dan efektivitas inhibitor akan meningkat.10
KESIMPULAN
Ekstrak kulit buah kakao efektif sebagai inhibitor laju korosi kawat stainless steel pada peranti ortodonti lepasan dan ekstrak dengan konsentrasi 1000 ppm paling efektif dalam menurunkan laju korosi. Semakin besar konsentrasi inhibitor yang digunakan maka semakin berkurang laju korosi dan semakin meningkatkan efektivitas inhibitor.
DAFTAR PUSTAKA
1. Nabila, RC, Primarti, RS & Ahmad, I, 2017, ‘Hubungan Pengetahuan Orang Tua dengan Kondisi Maloklusi pada Anak yang Memiliki Kebiasaan
Buruk Oral’, Journal of Syiah Kuala Dentistry Society, vol. 2, no. 1, hh. 12-18.
2. Sartini, Asri, RM & Ismail, 2017, ‘Pengaruh Pra Perlakuan Sebelum Pengeringan Sinar Matahari dari Kulit
Buah Kakao terhadap Kadar
Komponen Fenolik dalam Ekstrak’, Bioma : Jurnal Biologi Makassar, vol. 2, no. 1, hh. 15-20.
3. Castro, SM, Ponces, MJ, Lopes, JD, Vasconcelos, M & Pollmann, MCF, 2014, ‘Orthodontic wires and its corrosion – The specific case of stainless steel and beta-titanium’, Journal of Dental Sciences, vol. 10, no.1, hh. 1-7.
4. Arab, S, Cham, MH, Morsaghian, M, Ghamari, M & Mortezai, O, 2015, ‘Evaluation of Nickel and Chromium Ion Release from Stainless Steel, HANT and NiTi Arch Wires in Two 28-day Time Spans’, Iran J Ortho, vol. 10, no. 1, hh. 1-4.
5. Senkutvan RS, Jacob S, Charles A, Vadgaonkar V, Jatol-Tekade S & Gangurde P, 2014, ‘Evaluation of nickel ion release from various orthodontic arch wires: An in vitro study’, Journal of International
402
Society of Preventive & Community Dentistry, vol. 4, no. 1, hh. 12–16. 6. Sharmin, E, Ahmad, S & Zafar, F,
2012, Renewable Resources in Corrosion Resistance – Corrosion Resistance, New Delhi, Intech. 7. Hermawan, S, Nasution, YRA &
Hasibuan, R, 2012, ‘Penentuan Efisiensi Inhibisi Korosi Baja Menggunakan Ekstrak Kulit Buah Kakao (Theobroma cacao)’, Jurnal Teknik Kimia USU, vo. 1, no. 2, hh. 31-33.
8. Sartini, Asri, RM & Ismail, 2017, ‘Pengaruh Pra Perlakuan Sebelum Pengeringan Sinar Matahari dari Kulit
Buah Kakao terhadap Kadar
Komponen Fenolik dalam Ekstrak’, Bioma : Jurnal Biologi Makassar, vol. 2, no. 1, hh. 15-20.
9. Mulyatni, AS, Budiani, A & Taniwiryono, D, 2012, ‘Aktivitas antibakteri ekstrak kulit buah kakao terhadap Escherchia coli, Bacillus
subtilis, dan Staphylococcus aurens’, Menara Perkebunan, vol. 80, no. 2, hh. 77-84.
10. Febrianto, Sunaryo, GR & Butarbutar, SL, 2010, ‘Analisa Laju Korosi dengan Penambahan Inhibitor Korosi pada Pipa Sekunder Reaktor RSG-GAS’, Seminar Nasional VI SDM Teknologi Nuklir, hh. 615-620.
11. Sfondrini, MF, Cacciafesta, V, Maffia, E, Scribante, A, Alberti, G, Biesuz, R & Klersy, C, 2010, ‘Nickel Release From New Conventional Stainless Steel, Recycled, and Nickel-Free Orthodontic Brackets : An In Vitro Study’, American Journal of
Orthodontics Dentofacial
Orthopedics, vol. 137, no. 6, hh. 809-815.
12. Peres, RS, Cassel, E & Azambuja, DS, 2012, ‘Black Wattle Tannin As Steel Corrosion Inhibitor’, ISRN Corrosion, vol. 12, hh. 1-9.