SURVEI KEBERADAAN HIU PAUS (Rhyncodon typus) DI
PULAU KARIMUN KEPULAUAN KARIMUNJAWA
PRAKTIK KERJA LAPANGAN
Oleh:
REGINA AMANDA
26020116130135
DEPARTEMEN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Survei Keberadaan Hiu Paus (Rhyncodon typus) Di Pulau Karimun Kepulauan Karimunjawa
Nama Mahasiswa : Regina Amanda NIM : 26020116130135 Departemen/Program Studi : Ilmu Kelautan
Fakultas : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Praktik Kerja Lapangan ini telah diujikan pada tanggal: 23 November 2018
Mengesahkan,
Koordinator PKL, Pembimbing,
Ir. Ali Djunaedi, M. Phill Dr. Drs. Rudhi Pribadi NIP.195903161989021002 NIP. 196411201991031001
Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Kelautan
Dr. Agus Trianto, ST, M.Sc. NIP. 1969032319995121001
RINGKASAN
Regina Amanda. 26020116130135. 2018. Survei Keberadaan Hiu Paus
(Rhyncodon typus) Di Pulau Karimun Kepulauan Karimunjawa (Dr. Drs. Rudhi
Pribadi)
Praktik kerja lapangan dilaksanakan pada tanggal 1 – 15 Juli 2018 di Balai Taman Nasional Karimunjawa. Praktik kerja lapangan bertujuan untuk melatih keterampilan mahasiswa bekerja dan mengenal lapangan pekerjaan di bidang kelautan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui keberadaan Hiu Paus di kepulauan Karimunjawa. Metode yang digunakan adalah metode survey. Adapun pengambilan data dilakukan secara acak terhadap responden yang merupakan nelayan di Taman Nasional Karimunjawa. Pengambilan data pada praktik kerja lapangan ini dilakukan dengan pengambilan data primer yang didapatkan dengan cara mencatat hasil observasi dan wawancara. Berdasarkan dari survei yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hanya sebagian dari responden yang menjumpai ikan Hiu Paus saat mereka pergi ke laut.
KATA PENGANTAR
Praktek Kerja Lapangan merupakan suatu mata kuliah yang dilakukan dengan cara mengaplikasikan teori yang diterima oleh mahasiswa dalam perkuliahan secara langsung di lapangan. Melalui Praktek Kerja Lapangan diharapkan kami sebagai mahasiswa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai dunia kerja yang kelak akan ditekuni.
Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 2018 sampai selesai. Untuk itu kami menyusun dan mengajukan proposal ini guna memenuhi persyaratan Praktek Kerja Lapangan di instansi Bapak/Ibu yaitu BALAI TAMAN
NASIONAL KARIMUNJAWA
Akhirnya Saya panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya seiring dengan selesainya penyusunan proposal ini. Atas perhatian dan bantuan yang Bapak/Ibu berikan, Kami ucapkan terima kasih.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL………i
LEMBAR PENGESAHAN..………...ii
RINGKASAN .………...iii
KATA PENGANTAR .……….……….iv
DAFTAR ISI .……….v
DAFTAR GAMBAR ...………....vi
DAFTAR LAMPIRAN ….………vii
I. PENDAHULUAN………1
1.1. Latar Belakang…...………...1
1.2. Pendekatan dan Perumusan Masalah...……….1
1.3. Tujuan ..………2
1.4. Manfaat ……..………..2
II. TINJAUAN PUSTAKA ………..………..3
2.1. Balai Taman Nasional Karimunjawa.………...3
2.2. Hiu Paus …..……….4
2.3. Klasifikasi Hiu Paus... ………...5
2.4. Habitat Hiu Paus... ……….5
2.5. Makanan Hiu Paus ………...………....6
2.6. Reproduksi Hiu Paus ………...6
III.MATERI DAN METODA……….8
3.1. Materi ………...8
3.2. Metode ...………...8
3.2.1. Teknik Pengambilan Data ………...8
3.2.1.1. Wawancara ………...8
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN ………....9
4.1. Hasil ………...9
4.2. Pembahasan ………..11
V. KESIMPULAN DAN SARAN ………..13
DAFTAR PUSTAKA ………....14
LAMPIRAN ………..15
Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian ………....15
Lampiran 2. Surat Keterangan Melaksanakan PKL ………...16
Lampiran 3. Log Book ………...17
Lampiran 4. Lembar Konsultasi...19
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Dokumentasi...15 Gambar 2. Dokumentasi...15 Gambar 3. Dokumentasi...15
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Dokumentasi Penelitian ………....15
Lampiran 2. Surat Keterangan Melaksanakan PKL ………...16
Lampiran 3. Log Book ………...17
Lampiran 4. Lembar Konsultasi...19
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Taman Nasional Karimunjawa merupakan kawasan konservasi yang terletak di utara Laut Jawa dengan luas kawasan mencapai 111.625 Ha. Kondisi perairan yang masih asli dengan rata-rata penutupan terumbu karang pada kondisi baik yaitu 49,89%. Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi berupa taman nasional pada tahun 1999. Sejak saat itu identifikasi dan inventarisasi terhadap flora dan fauna dilakukan untuk mengetahui potensi yang dimiliki oleh Taman Nasional Karimunjawa. Dari 27 pulau yang ada di Kepulauan Karimunjawa, penduduk mendiami lima pulau besar yaitu Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk dan Genting. Populasi mencapai lebih dari 8.700 jiwa. Penduduk sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Pemunculan pertama hiu paus yang dilaporkan oleh nelayan kepada pihak taman nasional di tahun 2013 menguatkan dugaan bahwa masih ada hal yang harus di gali di kawasan konservasi ini.
Hiu paus (Rhyncodon typus) dikenal dengan bentuk kepalanya yang lebar dan gepeng dengan mulut, garis insang dan sirip punggung (dorsal) pertama yang besar, dan pola totol-totol putih dan garis di kulitnya yang cenderung berwarna keabu-abuan. Hiu paus mempunyai beberapa nama lokal hiu seperti hiu tutul, hiu bodoh dan geger lintang. Wilayah mencari makan ikan hiu paus berada di perairan pesisir, karena makanan ikan ini adalah berbagai macam jenis plankton seperti copepod, cacing panah, larva kepiting, moluska, krustasea, telur karang, dan telur ikan. Selain itu hiu paus juga memakan cumi-cumi kecil dan ikan kecil.
Sampai saat ini informasi mengenai hiu paus di taman nasional Karimunjawa masih sangat terbatas. Peluang nelayan untuk bisa menjumpai hiu paus selama beraktivitas di laut sangat besar. PKL ini bertujuan untuk survey keberadaan hiu paus terhadap peran nelayan di Taman Nasional Karimunjawa terhadap penguatan data dan informasi hiu paus.
1.2 Tujuan
Tujuan kegiatan survei pendahuluan hiu paus adalah :
a) Mengetahui lokasi perjumpaan hiu paus di Taman Nasional Karimunjawa; b) Mengetahui waktu pemunculan hiu paus di Taman Nasional Karimunjawa.
1.3 Manfaat
a) Dapat mengetahui lokasi perjumpaan hiu paus di Taman Nasional Karimunjawa
b) Dapat mengetahui waktu pemunculan hiu paus di Taman Nasional Karimunjawa
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Balai Taman Nasional Karimunjawa
Kepulauan Karimun Jawa, secara geografis, terletak antara 5' 40" - 5' 57" LS dan 110' 4" - 110' 40" BT, berada di perairan Laut Jawa yang jaraknya ± 45 mil laut dari kota Jepara, termasuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Dati II Jepara. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 161/Menhut/1988, Kepulauan Karimun Jawa ditunjuk sebagai taman nasional dengan luas wilayahnya sekitar 111.625 Ha, terdiri dari luas daratan 7.033 Ha dan luas perairan 104.592 Ha (Ariyati et al., 2007).
Kawasan Taman Nasional Laut Karimunjawa memiliki fungsi utama yaitu sebagai kawasan konservasi oleh karena itu tidak semua daerah di Karimunjawa dapat dimanfaatkan ataupun diolah bagi kepentingan manusia. Namun, sebagian besar penduduknya yang terkonsentrasi di Pulau Karimun bermatapencaharian sebagai nelayan (74,9 %) (Dinas Perikanan dan Kelautan Jateng, 2003), dapat mengancam keberadaan ekosistem perairan daerah konservasi sekitar pulau tersebut. Meningkatnya permintaan pasar akan produk perikanan seperti ikan, udang, kekerangan, dan rumput laut mendorong usaha penangkapan atau pengumpulan hasil laut dilakukan secara lebih intensif dan tidak bertanggung jawab. Akibatnya adalah kelestarian sumber daya perairan menjadi terganggu (Laksono dan Mussadun, 2014).
Adanya kecenderungan negatif oleh karena aktivitas penduduk kawasan tersebut mengharuskan Taman Nasional Laut Karimun Jawa untuk mengakomodir dua kegiatan yang saling bertentangan, yaitu melindung sumber daya hayati yang ada di dalam kawasan konservasi dan memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya melalui pemanfaatan hasil laut. Salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam mengatasi permasalahan ini adalah pengembangan budidaya laut. Empat dari 27 pulau yang terdapat di Kepulauan Karimun Jawa ditetapkan sebagai zona pemanfaatan yang dapat dikelola masyarakat sebagai kawasan budidaya yaitu, Pulau Karimunjawa, Pulau Kemujan, Pulau Menjangan Besar, Pulau Menjangan Kecil, Pulau Parang, dan Pulau Nyamuk (Hadi et al., 2007).
2.2 Hiu Paus
Hiu paus (Rhyncodon typus) merupakan ikan terbesar di dunia. Di Indonesia hiu paus memiliki beberapa nama lokal tergantung dari daerahnya, misalnya masyarakat Papua menyebutnya gurano bintang, di Probolinggo dinamakan hiu tutul atau Geger Lintang dalam Bahasa Jawa, dan masih banyak nama daerah lainnya. Kemunculan (agregasi) hiu paus di beberapa lokasi telah menjadi destinasi pariwisata di beberapa negara seperti Australia, Filipina, Seychelles, Maladewa, Belize, dan Meksiko. Kemunculan hiu paus di beberapa lokasi di Indonesia; seperti di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dan Pantai Bentar-Probolinggo, juga telah mendorong berkembangnya kegiatan pariwisata berbasis hiu paus (Sadili et al., 2015).
Hiu paus (Rhyncodon typus) semakin langka dan termasuk hewan yang terancam punah. Akibat dampak antropogenik yang mencakup penangkapan, sehingga Convention of Internasional Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES) and on The Convention on The Conservation of Migratory Spesies of Wild Animals (CMS) memasukkan hiu paus dalam daftar appendiks 1 dan 2 (IOTC, 2012). Berdasarkan hasil pemantauan hiu paus yang dilakukan oleh WWF Indonesia Program Teluk Cenderawasih pada tahun 2012 hingga Maret 2014, dari 2000 foto hiu paus telah teridentifikasi 96 ekor hiu paus (WWF Indonesia, 2014). Potensi keberadaan hiu paus perlu mendapat perlindungan agar kelestariannya tetap terjaga sehingga dapat dimanfaatkan pada sektor pariwisata secara berkesinam-bungan (Marsoaly et al., 2017).
Hiu paus (Rhyncodon typus) memiliki karakteristik biologi yaitu pertumbuhan dan proses kematangan kelamin/seksual yang lambat, jumlah anakan yang dihasilkan (reproduksi) relatif sedikit dan berumur panjang. Karakteristik tersebut yang menjadikan hiu paus rentan mengalami kelangkaan bahkan kepunahan apabila eksploitasi tanpa terkendali. Hiu paus dikategorikan sebagai hewan yang bermigrasi atau memiliki jangkauan wilayah yang luas. Pada tahun 1999, hiu paus ditetapkan masuk ke dalam Apendiks II dalam Convention on Migratory Species (CMS) yang artinya hiu paus baru akan ‘merasakan’ dampak yang signifikan bila perlindungan dan pengelolaannya diterapkan melalui kerja sama internasional. Hal ini menunjukkan bahwa upaya konservasi untuk
spesies tersebutperlu dilakukan melalui jejaring antar berbagai Negara (Marsoaly
et al., 2017).
2.3 Klasifikasi Hiu Paus
Menurut Hadi et al (2007) terdapat klasifikasi hiu paus sebagai berikut :
Kelas : Elasmobranchii Ordo : Orectolobiformes Famili : Rhincodontidae Spesies : Rhincodon typus
Ketersediaan habitat hiu paus daerah air dangkal musiman sering dekat dengan muara dan sungai mulut dalam setidaknya dua wilayah di Asia Tenggara: Borneo Utara dan Filipina. Peirairan ini sangat rentan terhadap kontaminasi dengan kotoran limbah industri dan perubahan karena perkembangan, penghapusan mangrove, dan kegiatan manusia lainnya. Habitat hiu paus musiman belum disurvei untuk menilai sejauh mana status dan ancaman terhadap keberadaan mereka (Sadili et al., 2015).
2.4 Habitat Hiu Paus
Hiu paus menghuni semua lautan tropis dan sub tropis yang bersuhu hangat. Ikan ini umumnya ditemukan pada suhu sekitar 18 – 30 o C, sedangkan studi lainnya menunjukkan bahwa ikan ini sangat menyukai perairan dengan suhu sekitar 28 – 32 o C. Meskipun biasanya hidup menjelajah di tengah samudera luas, secara musiman terlihat adanya kelompok-kelompok hiu paus yang mencari makanan di sekitar pesisir benua, seperti di Australia barat, Afrika Selatan (pantai
selatan dan timur), Belize, Filipina, India, Indonesia, Honduras, Madagaskar, Meksiko, Mozambik, Tanzania, serta Zanzibar. Tidak jarang ikan-ikan ini terlihat memasuki laguna atau atol, atau mendekati estuaria (muara sungai). Wilayah jelajahnya pada umumnya tidak melewati lintang 30°, utara maupun selatan. Hiu paus diketahui mampu menyelam hingga kedalaman 1.286 m dan tergolong ikan yang bermigrasi (Noviyanti et al., 2015)
2.5 Makanan Hiu Paus
Hiu paus merupakan salah satu dari tiga spesies hiu, yang diketahui makan dengan cara menyaring air laut. Makanannya antara lain adalah plankton, kril, larva kepiting pantai, makro alga, serta hewanhewan kecil nektonik seperti cumicumi atau vertabra kecil. Hiu paus juga diketahui memangsa ikan-ikan kecil serta hamburan jutaan telur dan sperma ikan yang melayang-layang di air laut selama musim memijah, juga memangsa ubur-ubur dan larva ikan kakap (Hukom, 2016).
Hiu raksasa ini makan secara pasif dengan cara membuka mulutnya lebar-lebar sambil berenang pelahanlahan, membiarkan air laut masuk secara leluasa dan keluar di belakang rongga mulut melalui celah insang, sementara makanannya tersaring oleh lembar-lembar penyaring di mulutnya. Adakalanya pula, hiu paus makan secara aktif dengan membuka dan menutup mulutnya, sehingga air laut terhisap masuk rongga mulut dan kemudian tertekan keluar melalui celah insang. Pada kedua cara itu, air akan menembus lembaran filter yang merupakan modifikasi dari sisir saring insang yang letaknya sejajar dengan lembar-lembar itu. Aliran makanan yang lebih pekat terus berjalan ke kerongkongan ikan. Deretan gigi-gigi kecil di mulut ikan ini sepertinya tidak berperan dalam proses makan. Sesekali, hiu paus terlihat ‘batuk’ dalam air; hal ini merupakan mekanism untuk membersihkan lembaran filter dari kotoran yang menyumbatnya. Hiu ini diketahui bermigrasi dalam jarak jauh untuk mendapatkan makanannya, dan kemungkinan juga untuk berkembang biak (Hukom, 2016).
2.6 Reproduksi Hiu Paus
Hiu paus berkembang biak dengan cara beranak (ovovivivar) yang berarti telur di simpan di dalam rahim, kemudian sang induk melahirkan anak-anak yang sudah siap untuk hidup bebas. Hasil pengamatan di pantai timur Taiwan
ditemukan seekor hiu paus betina berukuran 10,46 m dan dalam rahimnya ditemukan 300 embrio berukuran 42 – 63 cm dengan kantung telur yng siap dilahirkan (Yusma et al., 2015).
Hiu paus diduga baru matang kelamin atau mencapai kedewasaan pada saat berumur 30 tahun dengan ukuran panjang berkisar antara 8 – 9 m untuk jantan serta betina pada ukuran panjang total > 10 m. Hiu paus dapat hidup mencapai 100 tahun. Ukuran anakan hiu paus yang siap dilahirkan berkisar antara 42 – 64 cm dengan panjang rata-rata 51 cm dengan berat 660,2 gram (Tania dan Noor, 2014).
Pada tahun 1984 sampai 1995, tercatat 36 ekor hiu paus terdampar di sepanjang Selatan Pantai Afrika, diantaranya ada 10 ekor yang terdampar pada tahun 1991 di satu lokasi selama tiga hari berturut turut. Para peneliti menduga bahwa penyebab terdamparnya ikan-ikan hiu paus tersebut disebabkan karena ikan-ikan tersebut berenang terlalu dekat dengan pesisir pantai serta terjebak oleh arus pasang surut dan hempasan gelombang yang besar. Banyak kasus tabrakan antara hiu paus dan kapal besar (Arzoumanian et al., 2005).
III. MATERI DAN METODE 3.1 Materi
Materi utama yang digunakan dalam kegiatan survei pendahuluan hiu paus di Taman Nasional Karimunjawa tahun 2018 adalah satwa hiu paus (Rhyncodon
typus) yang ada di kawasan Taman Nasional Karimunjawa dan responden yaitu
nelayan di 4 desa di sekitar Taman Nasional Karimunjawa yaitu Desa Karimunjawa, Desa Kemujan, Desa Parang dan Desa Nyamuk. Dalam pelaksanaannya, alat utama yang digunakan adalah questioner, perangkat komputer, sumber pustaka, dan alat-alat tulis.
3.2 Metode
Sedangkan metode yang digunakan dalam kegiatan survei pendahuluan hiu paus di Taman Nasional Karimunjawa adalah metode survei. Adapun pengambilan data dilakukan secara acak terhadap responden yang merupakan nelayan yang beraktivitas di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa.
3.2.1. Teknik Pengambilan Data
Pengambilan data pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dilakukan dengan pengambilan data primer yang didapatkan dengan cara mencatat hasil wawancara.
3.2.1.1. Wawancara
Informasi dapat diperoleh dengan wawancara langsung kepada pihak-pihak terkait. Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, di mana peneliti mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face). Jadi data tersebut diperoleh langsung dari responden melalui suatu pertemuan atau percakapan. Pertanyaan wawancara dibacakan dari kuesioner tentang keberadaan Hiu Paus. Kuesioner dilampirkan pada halaman lampiran laporan ini.
YA 78% TIDAK 22%
PRESENTASE
YA TIDAK 17 9 9 4 11 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 TERAKHIR PENJUMPAAN 1 bulan lalu 6 bulan lalu 1 tahun lalu lebih dari 1 tahun tidak menjumpaiIV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil
4.1.1 Presentase Responden
Hasil survei menunjukkan bahwa dari 50 responden yang telah diwawancarai, 78% menyatakan bahwa mereka pernah menjumpai Hiu Paus. Berikut diagram presentase jumlah responden yang menjumpai Hiu Paus :
Grafik 1. Presentase Responden
4.1.2 Terakhir Penjumpaan Hiu Paus
Berdasarkan data dari kuesioner terakhir penjumpaan Hiu Paus sering terjadi pada 1 bulan lalu, dan ada 11 orang yang tidak menjumpai keberadaannya. Berikut adalah diagram hasil dari survei penjumpaan Hiu Paus :
0 0 1 2 6 4 14 4 8 2 1 1 11 0 2 4 6 8 10 12 14 16 RESPONDEN
BULAN KEMUNCULAN HIU PAUS
60% 40%
PRESENTASE KETERSEDIAAN
MELAPOR
bersedia tidak bersedia 4.1.3 Bulan Kemunculan Hiu PausBerdasarkan hasil survei keberadaan Hiu Paus berikut adalah diagram bulan kemunculan Hiu Paus :
Grafik 3. Bulan Kemunculan Hiu Paus
4.1.4 Presentase Ketersediaan Responden Melapor
Berdasarkan hasil wawancara, responden yang dapat bersedia melapor apabila menjumpai Hiu Paus adalah 60 % dari 50 responden. Berikut adalah diagram presentasenya :
0 1 2 3 4 5 6 6 2 5 4 5 2 1 1 1 1 1 1 1 1 6
LOKASI PENEMUAN HIU PAUS
Series1 Series2 Series3
4.1.5 Lokasi Penemuan Hiu Paus
Daerah perairan yang sering dilewati Hiu Paus adalah Pulau Gleang, Pulau Menjangan Kecil, Pulau Cemara Kecil dan Cemara Besar. Berikut adalah diagram lokasi penemuan Hiu Paus :
Grafik 6. Lokasi Penemuan Hiu Paus 4.2 Pembahasan
Praktik Kerja Lapangan ini dilaksanakan di Balai Taman Nasional Karimunjawa di kepulauan Karimun pada tanggal 1-15 Juli 2018. Dengan menggunakan metode wawancara ke masyarakat berjumlah 50 responden. Disini saya melakukan wawancara tentang keberadaan Hiu Paus. Pada hari pertama kami melakukan wawancara dirumah warga pada pagi hari dan mendapatkan responden sebanyak 7 orang dan dilakukan selama satu minggu sampai terkumpul 50 responden.
Hasil yang didapatkan ada 22% responden yang jarang melihat bahkan tidak pernah melihat keberadaan Hiu Paus tersebut dikarenakan mereka hanya memancing atau menangkap ikan ditepi pantai, sedangkan Hiu Paus biasanya ditemukan ditengah-tengah laut yang jaraknya dari pulau Karimun kurang lebih mencapai 1-3 mil. Rata-rata responden yang sering menjumpai keberadaan Hiu Paus terakhir melihat satu bulan yang lalu atau bulan Juni, dan ada beberapa orang
yang menjumpai satu tahun lalu dan lebih dari satu tahun dikarenakan mereka sudah jarang pergi memancing atau menangkap ikan dilaut.
Selama kami mewawancarai para nelayan biasanya nelayan tersebut sering menjumpai hiu paus pada bulan Juli dan September dengan presentase yang paling banyak yaitu pada bulan juli terdapat 14 orang dan bulan september 8 orang dari 39 responden. Biasanya musim hiu paus sendiri bersamaan dengan musim ikan tongkol karena dengan besarnya ukuran hiu paus biasanya ikan tongkol dan ikan-ikan kecil lainnya menempel ditubuh hiu paus tersebut.
Pada saat kami melakukan wawancara ada beberapa nelayan yang bersedia melapor dan beberapa ada yang tidak bersedia melapor kepada pihak Taman Nasional Karimunjawa karena menurut mereka yang tidak bersedia melapor, mereka tidak sempat melapor ke Balai Taman Nasional karena ada beberapa nelayan yang bekerja sampingan sebagai tour guide dan karena banyaknya tamu dari luar karimun menjadikan mereka sibuk dengan pekerjaan sampingannya, dan ada beberapa mereka yang berfikir tidak mau mengganggu hiu paus tersebut karena menurut mereka keberadaan hiu paus tersebut membawa keberuntung dengan banyaknya ikan-ikan kecil yang menempel pada hiu paus tersebut yang bisa ditangkap.
Para nelayan biasanya menjumpai hiu paus di beberapa pulau, pulau yang sering dilewati ikan tersebut adalah Pulau Gleang, Pulau Menjangan Kecil, dan Pulau Cemara Kecil. Dan ada pulau-pulau lainnya yang pernah dilewati yaitu Pulau Menjangan Besar, Pulau Cemara Besar, Pulau Bengkoang, Pulau Gosong, Pulau Kalimantan, Pulau Krakal Kecil, Pulau Burung, Pulau Genteng, Pulau Nyamuk, Pulau Parang, dan Tanjung Gelam.
V. KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan
1. Para nelayan rata-rata lebih sering menjumpai Hiu Paus disekitar Pulau Gleang, Pulau Menjangan Kecil, dan Pulau Cemara Kecil.
2. Para nelayan rata-rata menjumpai Hiu Paus pada bulan Juni dan bulan September atau pada saat musim tongkol
DAFTAR PUSTAKA
Ariyati. R. W ; L. Sya’rani ; Endang. A. 2007. Analisis Kesesuaian Perairan Pulau Karimunjawa Dan Pulau Kemujan Sebagai Lahan Budidaya Rumput Laut Menggunakan Sistem Informasi Geografis. Jurnal Pasir Laut, Vol 3(1) : 27-45.
Azormanian, Z., J. Holmberg and B. Norman. 2005. An astronomical paterrn matching allogorithm for computer raided identification of Whale Sharks Rhincodon typus. Journal of Applied Ecology 42: 999 – 1011.
Hadi. S , Edi M. A , Priyo. H , Dyah. M. 2007. Kualitas Air Tanah Bebas Kota Karimunjawa, Pulau Karimunjawa. Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan, Vol 17(2) : 27-50.
Hukom. F. D. 2016. Biologi Dan Konservasi Spesies Beruaya (Tinjauan Khusus Hiu Paus : Rhincodon Typus). Jurnal Oseanografi, Vol XLI(4) : 72-90. Laksono. A. N dan Mussadun. 2014. Dampak Aktivitas Ekowisata di Pulau
Karimunjawa Berdasarkan Persepsi MasyarakatDampak Aktivitas Ekowisata di Pulau Karimunjawa Berdasarkan Persepsi Masyarakat. Jurnal Teknik P WK, Vol 3(2) : 262-273.
Marsaoly. M. F, Marjan. B dan Nurhani. W. 2017. Manfaat Ekonomi Ekowisata Hiu Paus (Rhincodon Typus) Di Kampung Akudiomi Distrik Yaur Kabupaten Nabire. Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, Vol 1(1). Noviyanti, N.S., M.M. Kamal dan Y. Wardiatno. 2015. Kemunculan Hiu Paus
(Rhincodon typus), di Pesisir Kabupaten Probolinggo Jawa Timur.
Prosiding Simposium Hiu dan Paus di Indonesia: 115 – 119.
Sadili dkk. 2015. Pedoman Umum Monitoring Hiu Paus di Indonesia. Jakarta: Direktorat Konservasi Kawasan Dan Jenis Ikan Ditjen Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan Dan Perikanan.
Tania, C. dan B.A. Noor. 2014. Pemanatauan Hiu Paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih. WWF . 36 hal.
Yusma, A.M.I., C. Tania, Ricky, S.J. Junaidi, Adnan dan L. Otolu. 2015. Identifikasi kemunculan Hiu Paus (Rhincodon typus) di perairan Talasayan, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. Prosiding