• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perekonomian, dapat dikatakan bahwa perdagangan adalah penopang dari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Dalam perekonomian, dapat dikatakan bahwa perdagangan adalah penopang dari"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam perekonomian, dapat dikatakan bahwa perdagangan adalah penopang dari suatu perekonomian yang merupakan faktor penting guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Perdagangan dapat memperbesar kapasitas konsumsi suatu negara, meningkatkan output dunia, serta menyediakan akses ke sumber daya yang langka dan pasar-pasar internasional yang potensial untuk berbagai komoditas. Bagi negara yang tidak mampu memproduksi suatu komoditas atau tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri, impor adalah jalan tercepat untuk mengatasi hal tersebut, bagi negara yang mampu memproduksi suatu komoditas atau output produksi barang dan jasanya lebih besar dari konsumsi dalam negerinya sendiri, negara tersebut akan melakukan ekspor ke luar negeri. Ekspor sendiri dilakukan untuk mendapatkan devisa yang pada akhirnya digunakan untuk membiayai impor negara tersebut. Selain itu, devisa juga dapat digunakan sebagai jaminan pembayaran impor yang akan datang dan digunakan juga sebagai sumber dana pembayaran utang luar negeri. Ekspor sendiri juga memiliki keuntungan lain, semakin baik kinerja dari suatu komoditas ekspor, semakin besar dan baik pula industri tersebut di dalam negeri. Industri tersebut juga

(2)

2

akan semakin banyak menyerap banyak tenaga kerja, terutama dalam industri padat karya.

Dalam setiap negara, kebijakan mengenai neraca perdagangan pasti berbeda-beda. Ada negara yang sengaja membuat neraca perdagangan mereka defisit, dan ada juga yang menginginkan neraca perdagangan mereka selalu surplus. Tetapi, keseimbangan neraca perdagangan tentu saja menjadi tujuan utama setiap negara. Bagi negara yang selalu memiliki neraca perdagangan surplus, hal tersebut dapat berakibat pada tingkat inflasi suatu negara. Sedangkan dampak dari neraca perdagangan yang defisit adalah terkurasnya cadangan devisa suatu negara. Untuk mengurangi neraca perdagangan yang defisit, ada beragam cara yang dilakukan, salah satunya adalah mengurangi impor dan meningkatkan ekspor.

Dalam Tabel 1.1, terlihat neraca perdagangan Indonesia periode 2005–2014 yang sejak tahun 2012 mengalami defisit. Padahal dalam periode tahun 2005–2011, neraca perdagangan Indonesia selalu surplus.

(3)

3 Tabel 1.1

Neraca Perdagangan Indonesia Periode Tahun 2005 – 2014

(dalam Juta Dollar AS)

Tahun Ekspor Impor Surplus / Defisit Neraca Perdagangan

2005 85.660 57.700,9 27.959,1 2006 100.798,6 61.065,5 39.733,1 2007 114.100,9 74.473,4 39.627,5 2008 137.020,4 129.197,3 78.23,1 2009 116.510 96.855,9 19.654,1 2010 157.779,1 135.663,3 22.115,8 2011 203.496,6 177.435,6 26.061 2012 190.020,3 191.689,5 -1.669,2 2013 182.551,8 186.628,7 -4.076,9 2014 176.292,5 178.178,8 -1.886,3

Sumber : diolah dari Badan Pusat Stastistik Indonesia

Melihat kondisi yang seperti sekarang, perlu dilakukan perbaikan kinerja ekspor, terutama komoditas–komoditas dimana Indonesia mengalami defisit yang sangat besar. Untuk itu, perlu dilakukan perbaikan kinerja dari sisi ekspor komoditas unggulan Indonesia atau dari sisi komoditas yang mengalami defisit.

Negara Rekan Dagang Penyumbang Defisit Terbesar

Dalam suatu perdagangan, hampir pasti ada satu pihak yang dirugikan dari transaksi perdagangan tersebut. Begitu juga dengan perdagangan Indonesia, tidak semua negara rekan dagang memberi keuntungan bagi neraca perdagangan Indonesia, ada beberapa negara yang menjadi penyumbang defisit neraca perdagangan Indonesia.

(4)

4

Beberapa negara yang menyumbang defisit terbesar bagi neraca perdagangan Indonesia dapat dilihat di Tabel 1.2 dibawah ini.

Tabel 1.2

Tabel Negara Penyumbang Defisit Terbesar Neraca Perdagangan Indonesia

Periode Tahun 2009 – 2013 (dalam Juta Dollar AS)

Negara 2009 2010 2011 2012 2013 Total Defisit

Tiongkok 1 -2.502.843,20 1 -4.731.607,10 2 -3.271.182,40 1 -7.726.291,80 1 -7.247.977,50 -25.479.902,00

Thailand 2 -1.379.110,00 2 -2.904.165,50 1 -4.508.428,20 2 -4.803.377,30 2 -4.641.227,30 -18.236.308,30

Kanada 4 -480.004,40 2 -376.505,50 3 -1.055.541,40 4 -1.018.300,10 4 -1.285.123,90 -4.215.475,30

Perancis 3 -762.910,40 4 -217.698,60 4 -720.059,50 5 -796.062,00 5 -528.031,00 -3.024.761,50

Jerman 5 -46.859,10 5 -21.985,70 5 -89.162,90 3 -1.113.573,20 3 -1.542.919,40 -2.814.500,30

sumber : data diolah dari Kementrian Perindustrian

Dalam Tabel tersebut terlihat bahwa dalam lima tahun terakhir kontributor penyumbang defisit terbesar bagi Indonesia di dominasi oleh Tiongkok dan Thailand. Kenaikan jumlah defisit tersebut melonjak tajam pada tahun 2012, dimana Tiongkok menjadi penyumbang defisit terbesar dengan nilai -7.726.291,80 US$, meningkat tajam dari tahun 2011 dengan nilai defisit -3.271.182,40 US$.

Komoditas Andalan Penyumbang Defisit Terbesar

Setelah melihat negara–negara yang menjadi penyumbang defisit terbesar bagi Indonesia, penulis melakukan studi pendahuluan untuk melihat komoditas apa yang menjadi andalan Indonesia dengan menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA) di setiap negara yang menjadi partner dagang dalam penelitian ini, yaitu

(5)

5

Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman. Setelah diketahui komoditas andalan Indonesia ke masing – masing negara, penulis meranking dan memilih lima komoditas yang menyumbang defisit terbesar dan memiliki nilai RCA lebih dari satu (nilai RCA>1). Perhitungan RCA untuk masing–masing negara dapat dilihat dalam Tabel 1.3 dan untuk komoditas yang menyumbang defisit dapat dilihat di Tabel 1.4 di bawah ini.

Tabel 1.3

Komoditas Andalan Indonesia ke Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman Tahun 2009 – 2013. INDONESIA - TIONGKO K N o SITC Rev. 2

Commodity Description RCA

1

671

Pig and sponge iron, spiegeleisen, etc, and ferro-alloys

2,93681

2 651 Textile yarn 2,39891

3 793 Ships, boats and floating structures 1,79582

4 591 Pesticides, disinfectants 1,66337 5 611 Leather 1,33094 IN DONE SIA – THAILAND N o SITC Rev. 2

Commodity Description RCA

1 266 Synthetic fibres suitable for spinning 4,62341 2 511 Hydrocarbons, nes, and derivatives 3,76750 3 784 Motor vehicle parts and accessories, nes 3,44532 4 694 Nails, screws, nuts, bolts, rivets, etc, of iron, steel

or copper 3,21953

(6)

6 INDONESIA – K ANADA N o SITC Rev. 2

Commodity Description RCA

1

036

Crustaceans and molluscs, fresh, chilled, frozen, salted, etc

4,66303

2 684 Aluminium 1,59713

3 723 Civil engineering, contractors' plant and equipment and parts, nes

1,50146

4 728 Other machinery, equipment, for specialized industries; parts nes

1,30826 5 662 Clay and refractory construction materials 1,00293

IN DONE SIA – PERANCIS N o SITC Rev. 2

Commodity Description RCA

1 873 Meters and counters, nes 15,57371

2 245 Fuel wood and wood charcoal 6,79385

3 551 Essential oils, perfume and flavour materials 5,03675

4 251 Pulp and waste paper 2,98723

5 662 Clay and refractory construction materials 2,83207

INDONESIA – JERMAN N o SITC Rev. 2

Commodity Description RCA

1 745 Other non-electric machinery, tools and mechanical apparatus, nes

12,14678 2 531 Synthetic dye, natural indigo, lakes 6,28188 3

267

Other man-made fibres suitable for spinning, and waste

4,50500 4 774 Electro-medical and radiological equipment 2,08692 5

694

Nails, screws, nuts, bolts, rivets, etc, of iron, steel or copper

1,61441

Sumber : Data diolah dari UN - Comtrade

Dari Tabel 1.3 diatas, dapat dikatakan bahwa komoditas andalan Indonesia ini mempunyai nilai RCA yang cukup besar. Bahkan beberapa diantaranya mempunyai nilai RCA lebih dari 5, hal ini berarti bahwa komoditas andalan Indonesia ini

(7)

7

mempunyai pangsa pasar yang baik di negara partner dagang Indonesia. komoditas yang memiliki nilai RCA terbesar adalah Meters and counters, nes dengan nilai RCA sebesar 15,57371, komoditas ini merupakan andalan dalam perdagangan bilateral antara Indonesia dan Perancis (untuk lebih lengkap dapat dilihat dalam lampiran C).

Tabel 1.4

Komoditas penyumbang defisit terbesar Indonesia dengan Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman tahun 2009 – 2013 (dalam US$)

INDONESIA – TI O NGKOK No SITC Rev. 2

Commodity Description Total deficit

1

671

Pig and sponge iron, spiegeleisen, etc, and ferro-alloys

- 51.629.892

2 651 Textile yarn - 87.221.403

3 793 Ships, boats and floating structures - 1.658.121.591

4 591 Pesticides, disinfectants - 121.043.511 5 611 Leather - 50.654.519 TOTAL -1.968.670.916 INDONESIA – TH AI LAND No SITC Rev. 2

Commodity Description Total deficit

1 266 Synthetic fibres suitable for spinning - 450.541.440 2 511 Hydrocarbons, nes, and derivatives - 1.075.738.415 3 784 Motor vehicle parts and accessories, nes - 2.462.246.975 4

694

Nails, screws, nuts, bolts, rivets, etc, of iron, steel or copper

- 171.689.513 5 513 Carboxylic acids, and their derivatives - 202.466.419

(8)

8 INDONESIA – K ANADA No SITC Rev. 2

Commodity Description Total deficit 1

036

Crustaceans and molluscs, fresh, chilled, frozen, salted, etc

- 15.496.221

2 684 Aluminium - 2.908.819

3 723 Civil engineering, contractors' plant and equipment and parts, nes

- 200.267.904 4 728 Other machinery, equipment, for specialized

industries; parts nes

- 41.500.688 5 662 Clay and refractory construction materials - 232.583

TOTAL -260.406.215

INDONESIA

PERANCIS

No SITC

Rev. 2 Commodity Description Total deficit

1 873 Meters and counters, nes - 18.151.714

2 245 Fuel wood and wood charcoal - 5.950.336

3 551 Essential oils, perfume and flavour materials - 70.852.958

4 251 Pulp and waste paper - 399.977.616

5 662 Clay and refractory construction materials - 2.865.356

TOTAL -497.797.980 INDONESIA – JERMAN No SITC Rev. 2

Commodity Description Total deficit 1 745 Other non-electric machinery, tools and

mechanical apparatus, nes

- 590.558.623 2 531 Synthetic dye, natural indigo, lakes - 49.997.876 3

267

Other man-made fibres suitable for spinning, and waste

- 46.512.288 4 774 Electro-medical and radiological equipment - 4.756.114 5

694

Nails, screws, nuts, bolts, rivets, etc, of iron, steel or copper

- 11.540.847

TOTAL -703.365.748

(9)

9

Dalam Tabel 1.4 dapat dilihat bahwa komoditas andalan yang menyumbang defisit terbesar berasal dari perdagangan bilateral antara Indonesia dengan Thailand, komoditas tersebut adalah Motor vehicle parts and accessories, nes sebesar 2,462 milyar US$. Sedangkan untuk komoditas andalan yang menyumbang defisit terkecil adalah Clay and refractory construction materials, komoditas ini merupakan komoditas perdagangan bilateral antara Indonesia dengan Kanada. Untuk komoditas yang memiliki nilai RCA terbesar, yaitu Meters and counters, nes, menyumbang defisit sebesar 18.151 juta US$.

Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini, karena peneliti menemukan anomali, yaitu komoditas andalan Indonesia yang di ekspor ke lima negara penyumbang defisit terbesar justru menyumbang defisit dalam perdagangan bilateral dengan lima negara tersebut. Idealnya, komoditas andalan adalah komoditas yang menyumbang keuntungan atau menyumbang kekuatan dalam perdagangan antar negara tersebut.

Dengan demikian, perlu diteliti lebih dalam untuk melihat faktor–faktor pembentuk ekspor Indonesia ke negara–negara rekan dagang yang digunakan dalam penelitian ini. Untuk melihat kekuatan dan kelemahan dari ekspor Indonesia, alat analisis yang paling tepat adalah menggunakan Constant Market Share.

Dengan alat analisis Constant Market Share, akan didapat empat efek penyumbang peningkatan atau penurunan ekspor sebuah komoditas yang dieskpor ke negara tujuan.

(10)

10

Keempat efek tersebut adalah efek pertumbuhan ekspor dunia (selanjutnya ditulis EPED), efek komposisi komoditas (selanjutnya ditulis EKK), efek distribusi pasar (selanjutnya ditulis EDP), dan efek daya saing (selanjutnya ditulis EDS). Jika yang berperan kuat (bernilai positif) adalah EKK dan EDS, berarti topangan peningkatan ekspor Indonesia ke Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis Jerman kokoh, sedangkan jika yang berperan kuat adalah EPED, berarti topangan peningkatan ekspor lima komoditas andalan yang mengalami defisit Indonesia ke Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman rapuh. Arti peran EDP adalah untuk melihat apakah ekspor lima komoditas andalan yang mengalami defisit Indonesia mampu menyebar ke suatu kawasan atau regional. Tetapi dalam penelitian ini, negara tujuan penelitian bukanlah negara integrasi ekonomi, misalnya Uni Eropa, melainkan Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis, dan Jerman yang merupakan hubungan dagang secara bilateral saja.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini mengambil judul “Penerapan Model Constant Market Share Dalam Upaya Peningkatan Ekspor Untuk Mengatasi Defisit Perdagangan Bilateral Indonesia, Tahun 2009–2013”

(11)

11

1.2 Rumusan Masalah

Neraca perdagangan indonesia mengalami defisit, utamanya dalam perdagangan bilateral dengan lima negara, pada lima komoditas. Masalah dalam penelitian ini adalah mengatasi defisit neraca perdagangan indonesia tersebut melalui peningkatan ekspor.

Dalam upaya meningkatkan ekspor perlu diketahui kelemahan dan kekuatan dari sisi ekspor indonesia. Model Constant Market Share memberikan solusi untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan sisi ekspor suatu negara melalui sumbangan dari efek–efek pembentuk ekspor tersebut.

Untuk itu masalah dalam penelitian ini, dirumuskan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut.

 Di antara ketiga efek pembentuk ekspor indonesia, yaitu Efek Daya saing, Efek komposisi komoditas dan Efek Pertumbuhan ekspor dunia, efek apa yang merupakan kekuatan dan kelemahan sisi ekspor indonesia?

1.3 Batasan Masalah

Sehubungan dengan maksud dan latar belakang dari penelitian ini, maka penelitian ini memiliki pembatasan masalah. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(12)

12

2. Perdagangan bilateral yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah perdagangan bilateral Indonesia dengan penyumbang defisit terbesar, yaitu Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman.

3. Komoditas yang dilibatkan adalah lima komoditas andalan tetapi justru menjadi penyumbang defisit terbesar dalam perdagangan bilateral antara Indonesia dengan Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman dari tahun 2009–2013. Komoditas tersebut adalah :

 Indonesia – Tiongkok adalah komoditas Pig and sponge iron, spiegeleisen,

etc, and ferro-alloys, Textile yarn, Ships, boats and floating structures, Pesticides, disinfectants, dan Leather

 Indonesia - Thailand, adalah komoditas Synthetic fibres suitable for

spinning, Hydrocarbons, nes, and derivatives, Motor vehicle parts and accessories, nes, Nails, screws, nuts, bolts, rivets, etc, of iron, steel or copper, dan Carboxylic acids, and their derivatives

 Indonesia - Kanada, adalah komoditas Crustaceans and molluscs, fresh,

chilled, frozen, salted, etc, Aluminium¸Civil engineering, contractors' plant and equipment and parts, nes, Other machinery, equipment, for specialized industries; parts nes dan Clay and refractory construction materials.

(13)

13

 Indonesia – Perancis, adalah komoditas Meters and counters, nes, Fuel

wood and wood charcoal, Essential oils, perfume and flavour materials, Pulp and waste paper dan Clay and refractory construction materials.

 Indonesia – Jerman, adalah komoditas Other non-electric machinery, tools

and mechanical apparatus, nes, Synthetic dye, natural indigo, lakes, Other man-made fibres suitable for spinning, and waste, Electro-medical and radiological equipment dan Nails, screws, nuts, bolts, rivets, etc, of iron, steel or copper.

4. Tahun yang digunakan untuk penelitian ini adalah tahun 2009–2013.

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui efek apa yang menjadi kekuatan dalam perdagangan bilateral antara Indonesia dengan Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman.

2. Mengetahui efek apa yang menjadi kelemahan dalam perdagangan bilateral antara Indonesia dengan Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman.

(14)

14

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :

1. Dapat memberikan gambaran peran efek apa saja yang menjadi penyebab defisitnya lima komoditas andalan Indonesia ke Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis, dan Jerman.

2. Dapat memberikan seberapa besar peran efek pertumbuhan ekspor dunia, efek komposisi komoditas dan efek daya saing dalam membentuk defisitnya lima komoditas andalan Indonesia Indonesia dengan Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis, Jerman.

3. Dapat digunakan sebagai referensi dan masukan dalam pembuatan kebijakan yang terkait dengan peningkatan kinerja ekspor suatu negara.

4. Dapat digunakan bagi siapa saja yang membutuhkan sebagai referensi. 5. Digunakan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana ekonomi pada

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

1.6 Metodologi Data dan Penelitian

Sebelum melakukan penelitian menggunakan analisis Constant Market Share, Penulis melakukan studi pendahuluan untuk mengetahui negara apa saja yang menjadi penyumbang defisit neraca perdagangan Indonesia terbesar pada tahun 2009–2013 berdasarkan data yang diperoleh dari kementerian perdagangan. Selanjutnya penulis

(15)

15

melakukan penghitungan Revealed Comparative Advantage (RCA) terhadap 242 komoditas ekspor Indonesia di setiap negara (Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis, dan Jerman). Kemudian penulis meranking komoditas yang memiliki nilai RCA lebih dari satu (RCA>1). Setelah itu, peneliti mencocokkan komoditas yang mempunyai nilai RCA lebih dari satu dengan komoditas yang mengalami defisit pada tahun 2009– 2013 pada negara tujuan penelitian, yaitu Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman (untuk nilai RCA lengkap semua komoditas dapat dilihat di lampiran A, sedangkan nilai komoditas yang defisit / surplus secara total selama tahun 2009–2013 dapat dilihat di lampiran B). Langkah berikutnya, penulis melakukan pendataan dan analisis dengan menggunakan alat analisis Constant Market Share.

Pendataan dilakukan terhadap keseluruhan komoditas ekspor Indonesia ke negara Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis, dan Jerman yang selanjutnya dilakukan pendataan terhadap total ekspornya pada periode tahun yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu tahun 2009–2011 dan 2011–2013. Selanjutnya dilakukan pendataan terhadap keseluruhan nilai total ekspor masing–masing komoditas, sebagaimana komoditas ekspor Indonesia ke negara Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis, dan Jerman, yang berasal dari dunia pada periode tahun 2009–2013.

Kemudian penelitian dilanjutkan dengan menganalisis data menggunakan alat analisis Constant Market Share untuk melihat nilai efek–efek perdagangan terhadap defisitnya ekspor lima komoditas andalan Indonesia yang telah terpilih ke negara Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis dan Jerman.

(16)

16

Penelitian ini menggunakan model Constant Market Share yang dikembangkan oleh John David Richardson pada tahun 1970. Adapun Model Constant Market Share (untuk deskripsi masing-masing variabel dapat dilihat di Bab Landasan Teori) adalah sebagai berikut.

Dimana :

̇ , ̇ = Total ekspor negara yang diamati, dan dunia.

s ( ̇ / ̇ ) = Pangsa ekspor dari negara yang diamati.

i = Menunjukkan komoditas i.

J = Menunjukkkan negara tujuan ekspor (Tiongkok, Thailand, Kanada, Perancis, dan Jerman).

Namun, karena dalam penelitian ini tidak menggunakan efek distribusi pasar karena negara tujuan penelitian yang dilibatkan dalam penelitian ini bukan negara integrasi ekonomi, misalnya Uni Eropa, maka dilakukan modifikasi dalam model

(17)

17

Dalam penelitian menggunakan alat analisis constant market share, ada yang tidak menggunakan atau menghitung efek distribusi pasar karena negara tujuan penelitian bukanlah negara integrasi ekonomi seperti Uni Eropa. Penelitian yang tidak menggunakan efek distribusi pasar di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada pertama kali dilakukan oleh Tri Widodo. Salah satu contoh lain penelitian yang tidak menggunakan efek distribusi pasar karena negara tujuan penelitian bukanlah negara integrasi ekonomi adalah penelitian yang dilakukan oleh Weriantoni pada tahun 2010 yang berjudul “Kinerja ekspor Tiongkok, Jepang dan

Indonesia : Analisis constant market share (CMS)”.

1.7 Sistematika Penulisan

1) BAB I Pendahuluan

BAB I akan menguraikan mengenai pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode analisis data dan sistematika penulisan.

(18)

18 2) BAB II Landasan Teori

Pada BAB II ini berisi mengenai uraian yang bersifat teoritis yang merupakan dasar pemikiran konseptual dan hasil studi empiris sebelumnya yang membicarakan permasalahan yang sama di dalamnya.

3) BAB III Gambaran Umum

BAB III akan memuat gambaran umum mengenai komoditas ekspor Indonesia terutama lima komoditas andalan Indonesia yang defisit.

4) BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahaan

BAB IV akan menjelaskan deskripsi variabel, model penelitian, alat analisis, hasil analisis data dengan menggunakan alat analisis Constant Market Share dan pembahasan mengenai hasil dari data tersebut.

5) BAB V Kesimpulan dan Implikasi

BAB V akan merangkum penemuan utama studi ini dan menarik kesimpulan serta saran perbaikan kinerja ekspor Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu tantangan di era globalisasi yang bisa mengancam eksistensi kepribadian bangsa,dan kini mau tak mau,suka tak suka ,bangsa Indonesia berada di pusaran arus

Latihan fisik yang dilakukan secara teratur akan membuat sistem kardiovaskuler lebih efisien dalam hal memompa darah dan mengantarkan oksigen ke otot-otot yang dipergunakan

. Sedangkan 2 orang yang lain bertugas menyapu, mengepel lantai membersihkan  benda-benda yang perlu dibersihkan, mengelap kaca, membersihkan lawa-lawa. Bntuk

Mencocokkan tulisan dengan kata, frasa atau kalimat yang didengar terkati topik Critical Thinking Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang

Tujuan dari perancangan ini adalah merancang konten multimedia sebagai pendukung environtmental graphic design Museum Surabaya khususnya untuk konten zona A:

Stok pengetahuan ditempatkan sebagai salah satu faktor produksi yang semakin meningkat, sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi setiap negara dapat terus

Caranya pun sangat beragam, mulai dari menjiplak skripsi yang sudah ada di perpustakaan, ataupun mencari skripsi universitas lain untuk di jiplak, dan juga ternyata tidak

Namun apabila limbah hasil produksi dapat di gunakan kembali sebagai bahan campuran beton, maka akan mengurangi jumlah bahan utama yang di gunakan, di dalam