Pengaruh Faktor–faktor Corporate Governance Terhadap Profitabilitas Perusahaan Publik Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011
(Studi Empiris 50 Perusahaan)
Abdul Rahim Sangadji UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA
Jl. Margonda Raya 100, Depok-16424
Abstract
This study aims to identify and analyze empirically whether together and partially corporate governance factors have a significant effect preusahaan profitability (ROA). Corporate governance factors used include independent commissioner, audit committee, external auditors, and the top foreign ownership share.
The population of this research is all the companies listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) in 2011. Total sample were 50 companies that are determined through purposive sampling. With linear regression using SPSS 17.0, the result that the independent commissioner did not significantly influence profitability performance. The Audit Committee did not significantly influence profitability performance. External Auditor no significant effect on profitability performance. Foreign ownership does not significantly influence profitability performance. Top share no significant effect on profitability performance. As well as the leverage does not significantly influence profitability performance.
Based on this research, so that research results can be generalized, we recommend adding corporate governance factors other than the five factors used corporate governance. Then, further research should extend the period of the study by polling method (a combination of cross-sectional and time-series) so that it can compare the effect on performance across the industry.
Keywords: Corporate Governance, Independent Commissioner, Audit Committee, External Auditors, Foreign Ownership, Top Share, ROA.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pada tahun 2008 terjadi krisis ekonomi global yang berdamak sangat buruk terhadap perekonomian negara berkembang dan maju di dunia. Berawal dari krisis ekonomi yang terjadi di Amerka Serikat, kemudian merambat menjadi krisis ekonomi global. Indonesia juga merasakan akibat dari krisis global tersebut, ditandai dengan meningkatnya pengangguran, kegiatan ekspor inpor terganggu, nilai tukar rupiah yang semakin melemah, pertumbuhan ekonomi yang negative, tingkat suku bunga yang tinggi, kerusuhan social, kondisi pasar modal yang semakin tertekan akbiat jatuhnya Bursa Asing Global,, dan puncaknya penutupan Butsa Efek Indonesia selama tiga hari berturut-turut. Kondisi tersebut secara material berdampak negative di Indonesia. Hilangnya kepercayaan investor pada system keuangan pasar Negara berkembang dan pasar lainnya.
Krisis ekonomi menggambarkan bahwa pembangunan yang dilakukan selama ini tidak didukung oleh struktur ekonomi yang kuat, krisis yang terjadi di Indonesia ini menurut pada praktisi dan pakar ekonomi disebabkan oleh belum adanya atau lemahnya pelaksanaan GCG (Good Corporate Governance) di perusahaan-perusahaan, baik sector public maupun sector swasta. Implementasi
Good Corporate Governance (GCG) pada saat ini bukan sekedar kewajiban,
namun telah menjadi kebutujan bagi setiap perusahaan dan organisasi. Pernyataan tersebut telah menegaakan bahwa perusahaan-perusajaan memiliki kedudukan penting dalam menjalankan peranan dalam kehidupan ekonomi dan social kita.
Good Corporate Governance (GCG) diperlukan untuk mendorong
terciptanya pasar yang efisien, transparan dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan. Penetapan GCG perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu Negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, serta masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha.
Ketidakmampuan sector swasta didalam memenuhi kewajibannya terhadapp pihaj debitur luar negeri disebabkan karena banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh pihak pengelola perusahaan yang disebabkan lemahnya peraturan dan perudang-undangan yang mengatur system pengelolaan perusahaan di Indonesia.
Melalui penerapan Good Corporate Governance (GCG) tesebut diharapkan perusahaan mampu meningkatkan kinerjanya melalui terciptannya proses pengambilan keputusan yang lebih baik serta mampu meningkatkan efisiensi opreasional perusahaan, perusahaan dapat lebih murah sehingga dapat meningkatkan corporate value, mampu menigkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, serta para pemegang saham akan merasa puas terhadap kinerja perusahaan. Juga meningkatkan stakeholders value dan deviden yang dihasilkan oleh perusahaan.
Berdasarkan uaian latar belakang masalah diatas, maka penulis akan membahas rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah faktor-faktor corporate governance, yaitu komisaris independent, komite audit, auditor eksternal, top share dan kepemilikan asing berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas perusahaan secara parsial?
2. Apakah faktor-faktor corporate governance, yaitu komisaris independent, komite audit, auditor eksternal, top share dan kepemilikan asing berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas perusahaan secara simultan?
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Penulis memberi dan menambah pengetahuan mengenai pengaruh faktor-faktor corporate governance terhadap profitabilitas perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia secara parsial maupun simultan.
2. Bagi Peneliti penilitian ini diharapkan dapat dijadikan serta memperkaya referensi karya penelitian sejenis, bahan diskusi dan bahan kajian bagi pembaca tentang masalah
3. Bagi Universitas Menjadi informasi sebagai bahan perbandingan dalam penulisan yang sejenis. Sehingga penulisan ini dapat lebih disempurnakan dalam penulisan selanjutnya
4. Bagi Instalasi Penelitian memberikan informasi tambahan untuk mengetahui perusahaan-perusahaan apa saja yang telah menerapkan good corporate governance.
Pengembangan Hipotesis Penelitian
Berdasarkan telaah pustaka diatas, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis berikut:
1 : Komite audit berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perusahaan.
2 : Komisaris independen berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perusahaan.
.3 : Auditor eksternal berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perusahaan.
4 : Kepemilikan asing berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perusahaan.
5 : Top share berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perusahaan.
6 : Leverage berpengaruh secara parsial terhadap profitabilitas perusahaan.
7 : Komite audit, komisaris independent, auditor eksternal,
kepemilikan asing, top share,dan leverage berpengaruh secara simultan terhadap kinerja perusahaan.
TELAAH PUSTAKA Definisi Good Corporate Governance
Good Corporate Governance (GCG) adalah system yang mengatur,
mengelola, dan mengawasi, prosss pengendalian usaha untuk menaikkan nilai saham sekaligus sebagai bentuk perhatian kepada stakeholders, karyawan, kreditur, dan masyarakat di sekitar. Good Corporate Governance berusaha menjaga keseimbangan diantara pencapaian kesejahteraan sedemikian rupa, sehingga tidak membebankan ongkos yang tidak patut kepada pihak ketiga atau masyarakat luas.
Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance
Prinsip-prinsip dasar dari good corporate governance, yang pada dasarnya memiliki tujuan untuk memberikan kemajuan terhadap kinerja suatu perusahaan. Prinsip-prinsip dasar good corporate governance mencakup lima bidang utama yaitu : hak-hak para pemegang saham dan perlindungannya, peran para karyawan dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, pengungkapan yang akurat dan tepat waktu serta transparansi sehubungan dengan struktur dan operasi perusahaan, tangguung jawab dewan direksi dan komisaris terhadap perusahaan, saham, karyawan dan pihak-pihak berkepentingan lainnya.
Transparansi (Transparancy)
Hak-hak para pemegang saham, yang harus diberi informasi dengan benar dan tepat pada waktunya mengenai perusahaan, dapat ikut berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan-perubahan yang mendasar atas perusahaan, dan turut memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan. Pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparansi mengenai semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, serta para pemegang kepentingan (stakeholder).
Dalam hubungannya transparansi dengan meningkatkan kinerja dari perusahaan, prinsip ini mengatur berbagai hal diantaranya mengatur pengembangan teknologi informasi manajemen sehingga dapat memeastikan penilaian kinerja yang terbaik, serta pengambilan keputusan yang efekti oleh pihak manajemen dan komisaris, dan prinsip ini juga mengatur bagaimana pihak manajemen resiko dalam tingkatan perusahaan untuk memastikan seluruh resiko dalam tingakatan perusahaan untuk memastikan seluruh resiko dapat dikelola pada waktu yang dapat ditolerir yang dimana dapat mempengaruhi kinerja di perusahaan itu sendiri, adanya system akuntansi yang berdasar pada standar akuntansi sehingga dapat memastikan kualitas dari laporan keuangan dan
disclosure, serta adanya pembublikasian informasi keuangan dan informasi
lainnya yang material dan ini akan berdampak pada kinerja perusahaan secara tepat waktu dan akurat.
Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas adalah pertanggungjawaban atas pelaksanaan fungsi dan tugas-tugas sesuai dengan wewenang yang dimiliki oleh seluruh organ perseroan. Dalam hal ini, direksi (beserta manajer) bertanggung jawab atas keberhasilan pengurusan perusahaan dalam rangka mencapai tujuan yang telah disetujui oleh pemegang saham. Komisaris bertanggung jawab atas keberhasilan pengawasan dan pemberian nasehat kepada direksi dalam rangka pengelolaan perusahaan. Pemegang saham bertanggung jawab atas keberhasilan pembinaa dalam tangka pengelolaan perusahaan.
Pertanggungjawaban (Responsibility)
Peranan pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum dan kerja sama yang aktif antara perusahaan serta pemegang saham kepentingan dalam menciptakan kesejahteraan, lapangan kerja, dan perusahaan yang sehat dari aspek keuangan. Ini merupakan tanggung jawab korporasi sebagai anggota masyarakat yang tunduk kepada hukum dan bertindak dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat sekitarnya.
Prisnsip ini diwujudkan dengan kesadaran bahwa tanggung jawab merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang, menyadari akan adanya tanggung jawab social, menghindari penyalahgunaan kekuasaan, menjadi profesional dan menjunjung etika, memelihara lingkungan bisnis yang sehat. Kemandirian (Independency)
Kemandirian merupakan keadaan dimana perusahaan bebas dari pengaruh atau tekanan pihak lain yang tidak sesuai dengan mekanisme korporasi. Prinsip ini mengharuskan perusahaan mengggunakan tenaga ahli dalam setiap divisi atau bagian dalam perusahaannya sehingga pengelolaan perusahaan dapat dipercaya. Prinsip ini juga mengharuskan perusahaan memiliki kebijakan intern dalam perusahaan yang sesuai dengan peraturan dan hokum yang berlaku, prisip ini harus dilaksanakan dengan baik agar perusahaan ridak gampang terpengaruh atau di intervensi oleh pihak-pihak dari dalam maupun dari luar yang tidak sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku mekanisme korporasi.
Prinsip ini harus dilaksanakan dengan baik agar tidak gampang terpengaruh oleh pihak-pihak dari dalam maupun dari luar yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dan prinsip korporasi yang tidak sehat, sehingga perusahaan dapat terhindar dari berbagai macam masalah dan benturan kepentingan antara perusahaan dan direksi yang dapat memperburuk citra perusahaan aktivitas perusahaan dapat dijalankan dengan baik dan dinamis.
Kewajaran (Fairness)
Kesetaraan perlakuan dari perusahaan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan sesuai dengan criteria dan proporsi yang seharusnya. Dalam hal ini ditekankan agar pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan terlindungi dari kecurangan serta penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh orang dalam, dengan begitu peran dan tanggung jawab komisaris dan manajemen sangat diperlukan.
Prinsip ini mengatur bahwa suatu perusahaan harus menetapkan aturan perusahaan untuk dapat melindungi kepentingan daripada pemegang saham, khususnya para pemegang saham minoritas, dan prinsip ini pun mengharuskan adanya penetapan kebijakan agar terlindungi dari kecurangan yang dilakukan oleh orang dalam atau berasal dari dalam (self dealing). Oleh karena itu peranan dan tanggung jawab komisaris dan manajemen sangat diperlukan dan prinsip ini pula mengedepankan kewajaran dalam setiap informasi yang bersifat material dan diungkapkan secara penuh (full disclosure).
Faktor-Faktor Good Corporate Governance Faktor Eksternal
Yang dimaksud factor eksternal adalah beberapa factor yang berasal dari luar perusahaan yang sangat mempengaruhi keberhasilan pencapaian GCG diantaranya :
a) Terdapatnya system hukum yang baik sehngga mampu menjamin berlakunya supremasi hukum yang konsisten dan efektif.
b) Dukungan pelaksanaan GCG dari sector pblik atau lembaga pemerintahan yang diharapkan dapat pula melaksanakan Good
Governance dan Clean Government menuju Good Government Governance yang sebenarnya.
c) Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices) yang dapat menjadi standar pelaksanaan GCG yang efektif dan professional. Dengan kata lain, semacam benchmark (acuan). Faktor Internal
Maksud factor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan praktek GCG yang berasal dari dalam perusahaan. Beberapa factor dimaksud antara lain :
a) Terdapatnya budaya perusahaan (corporate culture) yang mendukung penerapan GCG dalam mekanisme serta system kerja manajemen di perusahaan.
b) Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan mengacu pada penerapan nilai-nilai GCG.
c) Manajemen pengendalian resiko perusahaan juga didasarkan pada kaidah-kaidah standar GCG.
d) Terdapatnya system audit (pemeriksaan) yang efektif dalam perusahaan untuk menghindari setiap penyimpangan yang mungkin akan terjadi.
e) Adanya keterbukaan informasi bagi public untuk mampu memahami setiap gerak dan langkah manajemen dalam perusahaan sehingga kalangan public dapat memahami dan mengikuti setuiap derap langkah perkembangan dan dinamika perusahaan dari waktu ke waktu.
METODE PENELITIAN
Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah perusahaan go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) khususnya perusahaan yang berada di 7 industri yaitu: industri pertanian, pertambangan, Industri dasar dan kimia, aneka industri, industri barang konsumsi, properti dan real state, infrastruktur, utilitas dan transportasi, keuangan dan perdagangan, jasa dan investasi. Data penelitian terdiri dari laporan keuangan, pada perusahaan yang menerbitkan laporan tahunan yang lengkap pada tahun 2010 pada website Bursa Efek Indonesia.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar (listed) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2011. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 50 perusahaan publik yang berada di 7 industri, yaitu : industri pertanian, pertambangan, Industri dasar dan kimia, aneka industri, industri barang konsumsi, properti dan real state, infrastruktur, utilitas dan transportasi, keuangan dan perdagangan, jasa dan investasi; yang menerbitkan laporan tahunan yang lengkap pada tahun 2011 pada website Bursa Efek Indonesia. Penilaian sampel dengan memilih sampel berdasarkan tujuan dan bersifat acak serta berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan Publik yang tercatat di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2011. 2. Perusahaan melaporkan keadaan keuangan perusahaan dengan
menggunakan laporan keuangan dalam mata uang rupiah untuk periode tahunan yang berakhir 31 Desember 2011.
3. Memiliki data lengkap untuk keseluruhan variabel: ROA, proporsi komisaris independen, jumlah anggota komite audit, auditor eksternal perusahaan, Top share dan persentase kepemilikan asing.
4. Berada di industri : industri pertanian, pertambangan, Industri dasar dan kimia, aneka industri, industri barang konsumsi, properti dan real state, infrastruktur, utilitas dan transportasi, keuangan dan perdagangan, jasa dan investasi;
Sampel akan diambil dari total perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2011 adalah 448 perusahaan dari berbagai tipe industri. Setelah penyeleksian menggunakan kriteria-kriteria diatas, di dapat sampel awal sebanyak 144 perusahaan. Kemudian di ambil secara acak sebanyak 50 perusahaan.
Untuk data-data kuantitatif, seperti ROA, ukuran perusahaan, leverage, dan jumlah kepemilikan asing, didapatkan dari Indonesian Capital Market
Directory (ICMD). Sedangkan data-data mengenai proporsi komisaris
independen, jumlah komite audit, dan auditor eksternal, didapatkan dari laporan tahunan lengkap beserta laporan audit perusahaan yang ada di website Bursa Efek Indonesia.
Analisis Data
Penelitian ini menggunakan model analisis koefisien regresi berdasarkan pada model kuarat terkecil biasa OLS (Ordinary Least Square) untuk menganalisis pengaruh komisaris independen, komite audit, auditor eksternal, kepemilikan asing, top share dan leverage terhadap kinerja perusahaan (Y) dalam hal ini pertumbuhan laba yang disusun dalam bentuk persamaan berikut :
y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + b5x5 + b6x6
Keterangan :
y = Kinerja Perusahaan (ROA) a = Koefisien konstanta
b 1-6 = Koefisien regresi variable independent
x1 = Komisaris Independen, dengan proxy proporsi komisaris
independen dalam struktur dewan komisaris
x2 = Komite Adit, yamg diukur dengan 1 jika jumlah anggota komite
audit lebih dari 3 dan 0 jika kurang dari sama dengan 3
x3 = Aditor Esternal, jika menggunakan proxy ukuran KAP dan dinilai
1 jika perusahaan diaudit oleh KAP BIG 4 dan 0 jika sebaliknya x4 = Kepemilikan asing, yang diproxy dengan persentase kepemilikan
asing atas saham yang beredar.
x5 = Top Share, jika individu memiliki saham sebanyak lebih dari 50,1
% dengan ditandai dengan 1 dan jika tidak ada ditandai dengan 0. x6 = Leverage, dengan proxy rasiio total hutang terhadap total aktiva
Variabel Penelitian dan Pengukuran Variabel Variabel Independen
Komisaris Independen
Untuk mengetahui apakah keberadaan komisaris independen berpengaruh secara positf terhadap kinerja perusahaan , maka ukuran yang digunakan adalah proporsi komisaris independen dalam struktur dewan komisaris. Proporsi dewan komisaris independen dihitung dengan membagi jumlah dewan komisaris independen dengan total anggota dewan komisaris. Proksi ini akan dinyatakan dalam angka 0-1.
Komite Audit
Untuk mengetahui apakah komite audit berpengaruh secara positif terhadap kinerja perusahaan, maka ukuran komite audit dihitung dengan jumlah anggota komite audit dalam laporan tahunan perusahaan yang tercantum pada laporan tata kelola perusahaan yang berupa variabel dummy. Nilai 1 untuk perusahaan yang memiliki komite audit yang beranggotakan lebih dari 3 orang dan nilai 0 untuk perusahaan memiliki komite audit yang beranggotakan 3 atau kurang dari 3 orang.
Auditor Eksternal
Untuk mengetahui apakah auditor eksternal berpengaruh secar positif terhadap kinerja perusahaan, maka digunakan proxy ukuran KAP. Peneliti akan mengklasifikasikan auditor menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah auditor yang masuk dalam Big Four, yaitu pricewaterhouse coopers, deloitte, ernst & young dan KPMG. Sedangkan kategori kedua adalah auditor yang tidak termasuk dalam big Four. Selanjutnya untuk mengukur variabel ini maka akan digunakan variabel dummy. Nilai 1 untuk perusahaan yang diaudit oleh KAP Big-four, sedangkan nilai 0 untuk perusahaan yang diaudit oleh KAP non big-four.
Kepemilikan Saham Asing
Kepemilikan saham asing adalah jumlah saham yang dimiliki oleh pihak asing (luar negeri) baik oleh individu maupun lembaga terhadap saham perusahaan di Indonesia. Besarnya saham diukur dari rasio (%) dari jumlah kepemilikan saham yang dimiliki pihak asing dalam penelitian ini menggunakan persentase rasio kepemilikan saham asing. Proksi ini akan dinyatakan dalam angka 0-1.
Top Share
Top Share adalah jumlah saham yang dimiliki oleh individu maupun
lembaga terhadap suatu saham perusahaan. Dimana, besarnya saham diukur dari rasio (%) dari jumlah saham yang dimiliki oleh individu juga lembaga atas kepemilikan saham. Selanjutnya untuk mengukur variabel ini maka akan digunakan variabel dummy. Nilai 1 untuk perusahaan yang dimiliki oleh individu maupun lembaga lebih dari 50% kepemilikan saham, sedangkan nilai 0 untuk perusahaan yang dimiliki individu maupun lembaga kurang dari 50% kepemilikan saham
Variabel Dependen Kinerja Profitabilitas
Pada penelitian ini, kinerja profitabilitas perusahaan diukur dari nilai
Return on Asset nya. Seperti yang kita ketahui, nilai ROA dihitung menggunakan
formula sebagai berikut :
ROA =
Laporan Laba Rugi dapat digunakan untuk memperkirakan profitabilitas perusahaan dalam suatu termin absolut yang kemudian dapat dihitung profitabilitasnya dalam suatu termin persentase pengembalian (return). Salah satu rasio pengukur profitabilitas perusahaan adalah ROA.
Variabel Kontrol Leverage
Leverage yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ketergantungan
perusahaan terhadap hutang dalam membiayai kegiatan operasinya. Hal ini menggambarkan berupa tingkat kelebihan kewenangan yang dimiliki oleh
debtholders dibandingkan dengan kewenangan shareholders. Rasio Leverage
diukur dengan membagi total utang dengan jumlah ekuitas perusahaan. Leverage perusahaan dihitung dengan rumus sebagai berikut :
LEV = x 100%
Prosedur Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan untuk menguji hipotesis-hipotesis mengenai kinerja perusahaan, yaitu ROA. Langkah awal pengolahan data dilakukan dengan mengubah data menjadi proxy-proxy yang sudah ditentukan menggunakan program microsoft excel. Setelah nilai proxy dari tiap-tiap variabel didapat, dilakukan pengolahan data dengan melakukan regresi linear menggunakan program SPSS 17.0. Regresi linear mencoba memperkirakan koefisien dari persamaan linear yang menggunakan satu atau lebih variabel bebas yang menjadi prediktor terbaik atas nilai variabel dependen.
Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik. Hasil pengujian hipotesis yang baik adalah pengujian yang tidak melanggar tiga asumsi klasik yang mendasari model regresi linier, ketiga asumsi tersebut adalah sebagai berikut (Gujarati, 1995) :
Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal.
Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya. Dasar pengambilan keputusan :
a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
b. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas
Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-hati secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi dengan ujistatistik. Uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitasresidual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Pengambilan kesimpulan bahwa data terdistribusi secara normal dapat diketahui dengan melihat signifikansi (Asymp. Sig. (2-tailed)) yang lebih besar dari 0,05. (Ghozali, 2005).
Autokorelasi
Autokorelasi adalah korelasi antar anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu. Autokorelasi menunjukkan adanya kondisi yang berurutan antara gangguan atau distribusi yang masuk dalam regresi (Algifari, 1997). Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara anggota serangkaian data observasi yang diurutkan menurut waktu (time series). Untuk mendeteksi terjadinya autokorelasi dalam penelitian ini maka digunakan uji DW dengan melihat koefisien korelasi DW test (Algifari, 1997).
TINGKAT AUTOKORELASI (DURBIN WATSON) DW Kesimpulan
Kurang dari 1,10 Ada autokorelasi
1,10 – 1,54 Tidak ada kesimpulan
1,55 – 2,46 Tidak ada autokorelasi
2,47 – 2,90 Tidak ada kesimpulan
Lebih dari 2,91 Ada autokorelasi
Heteroskedastisitas
Pengujian Heteroskedastisitas dilakukan dalam sebuah model regresi, dengan tujuan bahwa apakah suatu regresi tersebut terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari setiap pengamatan ke pengamatan lainnya berbeda, maka disebut heteroskedastisitas. Gejala heteroskedastisitas terjadi apabila disturbance
terms untuk setiap observasi tidak lagi konstan tetapi bervariasi.
Ada beberapa cara untuk menguji ada tidaknya situasi heteroskedastisitas dalam varian error terms untuk model regresi. Dalam penelitian ini akan digunakan metode chart (Diagram Scatterplot), dengan dasar pemikiran bahwa (Singgih, 2003) :
1. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik (poin-poin), yang ada membentuk suatu pola tertentu yang beraturan (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas. 2. Jika ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar keatas dan
dibawah 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Semua data tidak terdapat heteroskedastisitas.
Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah suatu keadaan dimana satu atau lebih variabel dependent dinyatakan sebagai kombinasi linier dengan variabel dependent lainnya. Jika suatu model regresi mengandung multikolinearitas maka kesalahan
standar estimasi akan cenderung meningkat dengan bertambahnya variable dependent. Multikolinearitas dapat dideteksi dengan :
1. Nilai deskriminasi yang sangat tinggi dan diakui dengan nilai F test yang sangat tinggi, serta tidak atau hanya sedikit nilai t test yang signifikan.
2. Jika nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variable independen dalam model regresi.
3. Jika nilai tolerance < 0,10 dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
Rancangan Uji Hipotesis
Sesuai dengan dua hipotesis yang dikemukakan peneliti didepan, maka pengujian hipotesis dilakukan sebagai berikut :
1. F-test untuk menguji apabila variabel bebas secara simulatan mempunyai pemgaruh yang signifikan atau tidak signifikan dengan variabel terikat (Y), langkah-langkahnya sebagai berikut:
a) Membuat formula hipotesis 1) Ho : bi = 0 (hipotesis nihil)
Yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antar variabel bebas (Xi) secara simultan, dengan variabel terikat (Y).
2) Ho : bi ≠ 0 (hipotesis alternatif)
Yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (Xi) secara simultan, dengan variabel terikat (Y). b) Menentukan nilai F-tabel yang menggunakan level of significant
sebesar 5 %.
c) Mencari nilai F-hitung dengan rumus:
R2 / K F-hitung =
(1 – R2) / (n – k – 1) Dimana :
R2 = Koefisien determinan
n = jumlah tahun yang dianalisis k = jumlah variabel bebas d) Pengambilan keputusan
1) Jika P-value < α = 0.05, maka Ho ditolak dan H1 diterima
Hal ini berarti variabel bebas secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan dengan variabel terikat
2) Jika P-value > α = 0.05, maka Ho diterima dan H1 ditolak.
Hal ini berarti variabel bebas secara simultan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dengan variabel terikat
2. Uji –t menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel terikat yang langkah-langkahnya sebagai berikut:
a) Membuat formula hipotesis 1) Ho : bi = 0 (hipotesis nihil)
Yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antar variabel bebas (Xi) secara parsial, dengan variabel terikat (Y).
2) Ho : bi ≠ 0 (hipotesis alternatif)
Yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (Xi) secara parsial, dengan variabel terikat (Y). b) Menentukan nilai t-tabel yang menggunakan level of significant
sebesar 5 %.
c) Mencari nilai t-hitung dengan rumus:
Koefisien regresi b1
t-hitung = standar deviasi b1
d) Pengambilan keputusan
1) Jika P-value < α = 0.05, maka Ho ditolak dan Ha diterima
Hal ini berarti variabel bebas secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan dengan variabel terikat
2) Jika P-value > α = 0.05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Hal ini berarti variabel bebas secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dengan variabel terikat.
3. Menguji Keeratan Hubungan
OLS (Ordinary Leaset square) dengan menggunakan analisis regresi berganda serta dengan pengujian koefisien determinasi R² (Pengujian Goodness of Fit), uji F, dan pengujian validitas koefissien (uji t).
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data
Berdasarkan data yang diperoleh dari Indonesia Stock Exchange (IDX) 2011 diketahui bahwa perusahaan yang terdaftar sebanyak 448 perusahaan Dari jumlah tersebut, hanya 144 perusahaan yang memenuhi kriteria sampel penelitian yang telah ditetapkan . Kemudian di ambil secara acak sebanyak 50 perusahaan.
Deskripsi variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + b5x5 + b6x6
keterangan
y = Kinerja Perusahaan (ROA) a = Koefisien konstanta
b 1-6 = Koefisien regresi variable independent
x1 = Komisaris Independen x2 = Kmite Adit x3 = Aditor Esternal x4 = Kepemilikan asing. x5 = Top Share0. x6 = Leverage
Berikut ini hasil pengolahan data statistic deskriptif pada bank dapat diikhtisarkan pada tabel berikut ini
Ikhisar Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum ROA 50 .1200 1.62435 -6.40 7.19 Komisaris_Independen 50 .4338 .11425 .17 .67 Komite_Audit 50 .2000 .40406 .00 1.00 Auditor_Ekstern 50 .3600 .48487 .00 1.00 Kepemilikan_Asing 50 17.1790 25.78873 .00 94.28 Top_Share 50 .5600 .50143 .00 1.00 Leverage 50 3.2436 9.27 -2.08 64.28
Nilai rata-rata terikat ROA adalah 0,1200, dengan standar deviasi 1,62435 Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan di Indonesia tahun 2011 mampu menghasilkan return 12,00% dari total asetnya. Nilai rata-rata komisaris independen adalah 0,4338, dengan standar deviasi 0,11425. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan di Indonesia tahun 2011, 43,38% memiliki komisaris independen lebih dari 3 orang. Nilai rata-rata komite audit adalah 0,2000, dengan standar deviasi 0,40406. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan di Indonesia tahun 2011, 20% memiliki komite audit sebnyak lebih dari 3 orang.
Nilai rata-rata auditor ekstern adalah 0,3600, dengan standar deviasi 0,48487. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan di Indonesia tahun 2011 36% diantaranya menggunakan auditor eksternal dalam hal ini KAP The Big
Four. Nilai maksimum kepemilikan asing disuatu perusahaan adalah 94,25
dengan standar deviasi 25,78873. Hal ini menunjukkan bahwa ada sebagian saham perusahaan di Indonesia tahun 2011 yang dimiliki pihak asing secara individu maupun institusi baik saham minoritas maupun mayoritas. Nilai rata-rata top share adalah 0,5600, dengan standar deviasi 0,50143
Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan di Indonesia tahun 2011 56% dimiliki penuh oleh individu maupun institusi karena kepemilikan saham mayoritas di perusahaan terebut. Sementara kebanyakan perusahaan di Indonesia tahun 2011 melakukan pembiayaan dengan menggunakan hutang (debt) dari total aktivanya
Hasil Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik. Hasil pengujian hipotesis yang baik adalah pengujian yang tidak melanggar tiga asumsi klasik yang mendasari model regresi linier, ketiga asumsi tersebut adalah sebagai berikut (Gujarati, 1995) :
Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal.
Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya. Dasar pengambilan keputusan :
c. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
d. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas
Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-hati secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi dengan ujistatistik.
Uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitasresidual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Pengambilan kesimpulan bahwa data terdistribusi secara normal dapat diketahui dengan melihat signifikansi (Asymp. Sig. (2-tailed)) yang lebih besar dari 0,05. (Ghozali, 2005).
Untuk selengkapnya hasil perhitungan uji normalitas dapat dilihat pada gambar dan tabel sebagai berikut :
Hasil Uji Normalitas
Hasil Uji SPSS Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Tes
ROA IndependenKomisaris Komite Audit Auditor Ekstern KepemilikanAsing Share LeverageTop
N 50 50 50 50 50 50 50
Normal
Parametersa,,b Mean .1200 .4338 .2000 .3600 17.1790 .5600 130.5182 Std. Deviation 1.62435 .11425 .40406 .48487 25.78873 .50143 908.77997 Most Extreme
Differences AbsolutePositive .388.388 .194.194 .490.490 .411.411 .266.266 .308.370 .531.531 Negative -.387 -.166 -.310 -.267 -.253 -.370 -.442
Kolmogorov-Smirnov Z 2.744 1.373 3.463 2.907 1.882 2.616 3.758
Asymp. Sig. (2-tailed) .328 .056 .106 .098 .702 .081 .603
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Berdasarkan hasil uji normalitas dari gambar dan tabel uji Kolmogorov-Smirnov diatas, dapat disimpulkan bahwa seluruh data variable independent (Komisaris Independen, Komite Audit, Auditor Eksternal, Kepemilikan Asing, Top Share), data variable kontrol (Leverage) dan data variable dependen (ROA) terdistribusi secara normal. Dapat dilihat dari gambar bahwa grafik memberikan pola distribusi normal dikarenakan terlihat grafik titik-titik menyebar mendekati dari garis diagonal. Sehingga model regresi layak untuk dipakai dalam penelitian ini.
Hasil ini diperkuat dengan menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. Yang menunjukkan bahwa hitungan Asymp. Sig. (2-tailed) untuk masing-masing variable diatas adalah 0,056 (Komisaris Independen), 0,106 (Komite Audit), 0.098 (Auditor Eksternal), 0,702 (Kepemilikan Asing), 0,081 (Top Share), 0,603 (Leverage), dan 0,328 (ROA).
Yang artinya untuk semua variable memiliki tingkat signifikan di atas 0,05 dan dapat disimpulkan bahwa data-data diatas terdistribusi secara normal.
Autokorelasi
Autokorelasi adalah korelasi antar anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu. Autokorelasi menunjukkan adanya kondisi yang berurutan antara gangguan atau distribusi yang masuk dalam regresi (Algifari, 1997). Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara anggota serangkaian data observasi yang diurutkan menurut waktu (time series). Untuk mendeteksi terjadinya autokorelasi dalam penelitian ini maka digunakan uji DW (Durbin Watson) dengan melihat koefisien korelasi DW test (Algifari, 1997).
TINGKAT AUTOKORELASI (DURBIN WATSON) DW Kesimpulan
Kurang dari 1,10 Ada autokorelasi
1,10 – 1,54 Tidak ada kesimpulan
1,55 – 2,46 Tidak ada autokorelasi
2,47 – 2,90 Tidak ada kesimpulan
Lebih dari 2,91 Ada autokorelasi
Untuk selengkapnya hasil perhitungan uji autokorelasi dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Hasil Uji SPSS Autokorelasi
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 .401a .161 .036 1.59493 2.387
a. Predictors: (Constant), Leverage, Komite_Audit, Komisaris_Independen, Kepemilikan_Asing, Top_Share, Auditor_Ekstern
Ikhtisar Hasil Uji Autokorelasi
Variabel DW Kesimpulan
Komisaris Independen, Komite Audit, Auditor Eksternal, Kepemilikan Asing,
Top Share, Leverage
2,387 Tidak Ada Autokorelasi
Heteroskedastisitas
Pengujian Heteroskedastisitas dilakukan dalam dengan tujuan bahwa apakah suatu regresi tersebut terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari setiap pengamatan ke pengamatan lainnya berbeda, maka disebut heteroskedastisitas. Gejala heteroskedastisitas terjadi apabila disturbance terms untuk setiap observasi tidak lagi konstan tetapi bervariasi. Ada beberapa cara untuk menguji ada tidaknya situasi heteroskedastisitas dalam varian error terms untuk model regresi. Dalam penelitian ini akan digunakan metode chart (Diagram Scatterplot), dengan dasar pemikiran bahwa (Singgih, 2001) :
1. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik (poin-poin), yang ada membentuk suatu pola tertentu yang beraturan (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka terjadi heteroskedastisitas. 2. Jika ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar keatas dan
dibawah 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Semua data tidak terdapat heteroskedastisitas.
Berikut hasil uji heteroskedastisitas dari penelitian kali ini : Hasil Uji SPSS Heteroskedastisitas
Berdasarkan hasil pengamatan serta keterangan diatas maka dapat disimpulkan bahwa seluruh variable independen (Komisaris Independen, Komite Audit, Auditor Eksternal, Kepemilikan Asing, Top Share, leverage) tidak terdapat heteroskedastisitas.
Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah suatu keadaan dimana satu atau lebih variabel dependent dinyatakan sebagai kombinasi linier dengan variabel dependent lainnya. Jika suatu model regresi mengandung multikolinearitas maka kesalahan standar estimasi akan cenderung meningkat dengan bertambahnya variable dependent. Multikolinearitas dapat dideteksi dengan :
1. Nilai deskriminasi yang sangat tinggi dan diakui dengan nilai F test yang sangat tinggi, serta tidak atau hanya sedikit nilai t test yang signifikan.
2. Jika nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variable independen dalam model regresi.
3. Jika nilai tolerance < 0,10 dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
Hasil pehitungan uji multikolinearitas dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Hasil Uji SPSS Multikolinearitas
Ikhtisar Uji Multikolinearitas
Variabel VIF Kesimpulan
Komisaris Independen 1,146 VIF < 10 tidak terdapat adanya gejala multikolinearitas Komite Audit 1,048 VIF < 10 tidak terdapat adanya gejala multikolinearitas Auditor Eksternal 1,427 VIF < 10 tidak terdapat adanya gejala multikolinearitas Kepemilikan Asing 1,079 VIF < 10 tidak terdapat adanya gejala multikolinearitas Top share 1,393 VIF < 10 tidak terdapat adanya gejala multikolinearitas Leverage 1,108 VIF < 10 tidak terdapat adanya gejala multikolinearitas
Coefficientsa Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) Komisaris_Independen .916 1.146 Komite_Audit .958 1.048 Auditor_Ekstern .718 1.427 Kepemilikan_Asing .940 1.079 Top_Share .754 1.393 Leverage .928 1.108
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas diatas, dapat disimpulkan bahwa seluruh variable independen (Komisaris Independen, Komite Audit, Auditor Eksternal, Kepemilikan Asing, Top Share, leverage) tidak terdapat gejala mulitkolinearitas (VIF < 10) pada persamaan regresi.
Hasil Pengujian Hipotesis Pengujian Goodness of Fit (R²)
Hasil Uji SPSS Goodness of Fit (R²)
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .401a .161 .036 1.59493 2.387
a. Predictors: (Constant), Leverage, Komite_Audit, Komisaris_Independen, Kepemilikan_Asing, Top_Share, Auditor_Ekstern
b. Dependent Variable: ROA
Nilai koefisien determinasi (R²) diperoleh 0,161 artinya 16,1 % kinerja keuangan perusahaan dipengaruhi oleh variabel Komisaris Independen, Komite Audit, Auditor Eksternal, Kepemilikan Asing, Top Share, leverage. Sedangkan sisanya sebesar 83.9 % disebabkan oleh faktor lain (seperti politik, tingkat suku bunga, pinjaman inflasi dan lain-lain) yang tidak dimasukkan dalam persamaan ini.
Hasil Pengujian Hipotesis secara Parsial (uji t)
Hipotesis yang dimaksud disini adalah hipotesis penelitian yang menilai pengaruh capital, assets, earning, dan liquidity secara parsial atau sendiri-sendiri. Rangkuman hasil analisis data dengan teknik uji t ditujukan pada tabel 4.3.2.1 dan 4.3.2.2 berikut ini :
Hasil Uji SPSS Uji - t
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -1.252 .996 -1.257 .216 Komisaris_Independen 1.930 2.125 .136 .909 .369 Komite_Audit -.063 .575 -.016 -.109 .913 Auditor_Ekstern .680 .559 .203 1.216 .231 Kepemilikan_Asing -.004 .009 -.065 -.446 .658 Top_Share .761 .534 .235 1.425 .161 Leverage -.017 .026 -.095 -.643 .524
a. Dependent Variable: ROA
Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + b5x5 + b6x6 + e
Dari hasil perhitungan :
• Dimana konstanta sebesar Rp -1,252 jutaan yang artinya jika seluruh variable independen nilainya adalah 0, maka akan return on assets sebesar Rp -1,252 jutaan.
• Komisaris independen (x1) sebesar 1,930 artinya jika variable independen
lain nilainya tetap dan komisaris independen mengalami kenaikan 1% maka ROA yang diperoleh mengalami kenaikan sebesar 1,930
• Komite audit (x2) sebesar – 0,063 artinya jika variable independen lain
nilainya tetap dan komite audit mengalami kenaikan 1% maka ROA yang diperoleh mengalami penurunan sebesar 0,063.
• Auditor ekstenal (x3) sebesar 0,680 artinya jika variable independen lain
nilainya tetap dan audi tor eksternalmengalami kenaikan 1% maka ROA yang diperoleh mengalami kenaikan sebesar 0,680.
• Kepemilikan asing (x4) sebesar – 0,004 artinya jika variable independen
lain nilainya tetap dan kepemilikan asing mengalami kenaikan 1% maka ROA yang diperoleh mengalami penurunan sebesar – 0,004.
• Top share (x5) sebesar 0,761 artinya jika variable independen lain nilainya
tetap dan top share mengalami kenaikan 1% maka ROA yang diperoleh mengalami kenaikan sebesar 0,761.
• Leverage (x6) sebesar Rp – 0,017 jutaan artinya jika variable independen
lain nilainya tetap dan leverage mengalami kenaikan 1% maka ROA yang diperoleh mengalami penurunan sebesar – 0,017.
Rangkuman Hasil Uji-t
Variabel Koef.
Regresi t-hitung df Probabilitas Hasil Keputusan Constant -1,252 -1.257 6 0.216
Komisaris Independen
1,930 0. 909 6 0.369 Probabilitas > 0,05
maka Ho diterima secara parsial tidak memiliki Rasio komisaris independen pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA) Komite Audit -0,063 -0.109 6 0.913 Probabilitas > 0,05
maka Ho diterima Rasio komite audit secara parsial tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap
kinerja perusahaan (ROA) Auditor
Eksternal 0
,680 1.216 6 0,231 Probabilitas > 0,05
maka Ho diterima secara parsial tidak memiliki Rasio auditor eksternal pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA) Kepemilikan
Asing
-0,004 -0.446 6 0.658 Probabilitas > 0,05
maka Ho diterima secara parsial tidak memiliki Rasio kepemilikan asing pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA)
Top Share 0,761 1.425 6 0.161 Probabilitas > 0,05
maka Ho diterima Rasio top share secara parsial tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap
kinerja perusahaan (ROA)
Leverage -0,017 -0.643 6 0.524 Probabilitas > 0,05
maka Ho diterima Rasio leverage secara parsial tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja
perusahaan (ROA)
Berdasarkan tabel diatas, maka uji koefisien regresi dari perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengujian terhadap variabel Komisaris Independen
Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa variabel komisaris independen mempunyai koefisien regresi sebesar 1,930 dengan probabilitas tingkat kesalahan 36,9 % lebih besar dari tingkat signifikansi 5 %. Dengan demikian, maka Ho pertama diterima. Hal
ini berarti variabel komisaris independen secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA).
2 Pengujian terhadap variabel Komite Audit.
Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa variabel komite audit mempunyai koefisien regresi sebesar -0,063 dengan probabilitas tingkat kesalahan 91,3 % lebih besar dari tingkat signifikansi 5 %. Dengan demikian, maka Ho kedua diterima. Hal ini berarti variabel
komite audit secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA).
3. Pengujian terhadap variabel Auditor Eksternal.
Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa variabel auditor eksternal mempunyai koefisien regresi sebesar 0,680 dengan probabilitas tingkat kesalahan 23,1% lebih besar dari tingkat signifikansi 5 %. Dengan demikian, maka Ho ketiga diterima. Hal ini
berarti variabel auditor eksternal secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA).
4. Pengujian terhadap variabel Kepemilikan Asing.
Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa variabel kepemilikan asing mempunyai koefisien regresi sebesar -0,004 dengan probabilitas tingkat kesalahan 65,8% lebih besar dari tingkat signifikansi 5 %. Dengan demikian, maka Ho keempat diterima. Hal
ini berarti variabel kepemilikan asing secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan (ROA).
5. Pengujian terhadap variabel Top Share
Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa variabel top share mempunyai koefisien regresi sebesar 0,761 dengan probabilitas tingkat kesalahan 16,1% lebih besar dari tingkat signifikansi 5 %. Dengan demikian, maka Ho kelima diterima. Hal ini berarti variabel top share secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap kinerja perusahaan (ROA). 6. Pengujian terhadap variabel Leverage
Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa variabel leverage mempunyai koefisien regresi sebesar -0,017 dengan probabilitas tingkat kesalahan 52,4% lebih besar dari tingkat signifikansi 5 %. Dengan demikian, maka Ho keenam diterima. Hal ini berarti variabel leverage secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap kinerja perusahaan (ROA). Hasil Pengujian Hipotesis secara Simultan (uji F)
Hasil pengujian hipotesis secara seimultan (uji F) dapat dilihat dari tabel berkut ini
Hasil Uji SPSS Uji-F
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 20.815 6 3.469 1.375 .246a
Residual 108.472 43 2.523
Total 129.288 49
a. Predictors: (Constant), Leverage, Komite_Audit, Komisaris_Independen, Kepemilikan_Asing, Top_Share, Auditor_Ekstern
b. Dependent Variable: ROA
Dari hasil pengolahan data diatas diketahui bahwa secara simultan variabel independent (Komisaris Independen, Komite Audit, Auditor Eksternal, Kepemilikan Asing, Top Share, Leverage) mempunyai signifikansi F hitung sebesar 1,375 dengan probabilitas tingkat kesalahan 24,6 %lebih besar dari tingkat signifikansi 5 %.
Dengan demikian, maka Ho duterima hal ini menunjukkan bahwa variabel
independent secara bersama-sama dan signifikan tidak memberikan pengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan (ROA).
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan analisis hasil penelitian pada bab dimuka, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Secara parsial profitabilitas perusahaan (ROA) yang dinyatakan dalam tata kelola perusahaan yang terdiri dari variabel komisaris independent, komite audit, auditor eksternal, kepemilikan asing, top share dan leverage setelah dilakukan pengujian, menghasilkan bahwa seluruh variable, mempunyai tingkat signifikansi t-hitung lebih besar dari 5 % maka H0 diterima sehingga tidak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan (ROA)
2. Secara simultan profitabilitas keuangan perusahaan (ROA) yang dinyatakan dalam tata kelola perusahaan yang terdiri dari variabel
komisaris independent, komite audit, auditor eksternal, kepemilikan asing, top share dan leverage setelah dilakukan pengujian variabel tingkat signifikansi F-hitung 24,6% lebih besar dari 5 % maka H0
diterima sehingga tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan (ROA).
Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis menyarankan beberapa saran untuk penelitian selanjutnya, yaitu:
1. Memperluas periode penelitian dan menggunakan sampel dengan metode pooling (kombinasi antara cross section dan time series), sehingga bisa membandingkan pengaruh terhadap kinerja di seluruh industri, di tiap industri, dan juga di masing-masing perusahaan sebelum dan sesudah penerapan corporate governance.
2. Menambahkan faktor-faktor corporate governance yang lain, selain kelima faktor yang sudah digunakan ke dalam model untuk membuktikan bahwa unsur-unsur corporate governance berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
3. Menggunakan dasar pengukuran implementasi corporate governace dengan lebih konsisten. Misalnya, jika ingin menggunakan landasan peraturan BAPEPAM pada saat menilai komite audit, jangan hanya dinilai berdasarkan jumlah minimal anggota saja, namun juga menggunakan syarat-sarat yang lain, seperti ketua komite audit merupakan komisaris independen, anggota komite audit juga merupakan pihak-pihak independen dengan latar belakang tertentu juga harus dinilai.
DAFTAR PUSTAKA
Apriyanti Noorhallima, Wininda. 2008. “Pengaruh Penerapan Corporate
Governance terhadap Kinerja Profitabilitas dan Kinerja Pasar”, Skripsi,
Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
Arsjah, Regina Jansen. 2002.”Pengaruh Corporate Governance Pada Kinerja
Perusahaan di Bursa Efek Jakarta”. Tesis Magister Akuntansi, Fakultas
Budiarti, Isniar. “Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) Pada Dunia Perbankan”, Majalah Ilmiah UNIKOM, Vol.8, No 2.
Carningsih, 2008. “ Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Hubungan
Antara Kinerja Keuangan Dengan Nilai Perusahaan (Studi Kasus Pada Perusahaan Property dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)”, Jurnal Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma.
Emirzon, Joni. 2006.” Regulatory Driven Dalam Implementasi Ptinsip-prinsip
Good Corporate Governance Pada Perusahaan Di Indonesia”, Jurnal
Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 4, No 8.
Farhani, Dina. 2006. “Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance
Terhadap Kinerja Pasar Perusahaan-Perusahaan di Indonesia (Penelitian Empiris di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2004)”, Tesis Magister
Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
IICG. 2002. ”Penilaian Penerapan Good Corporate Governance pada
Perusahaan di Indonesia Tahun 2002. Jakarta.
Kaihatu S. Thomas. “Good Corporate Governance dan Penerapannya di Indonesia”. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol. 8, NO.1, Maret 2006: 1-9.
Lestari, Endah. 2007. “Pengaruh Faktor-faktor Corporate Governanceterhadap
Kinerja Perusahaan Publik yang Tercatat di Bursa Efek Jakarta”, Skripsi
Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia
Marihot dan Doddy Setiawan, 2007. “Pengaruh Corporate Governance Terhadap
Manajemen Laba di Industri Perbankan Indonesia”, Simposium Nasional
Akuntansi X, halaman 1-26.
Pranata, Yudha. 2007. ”Pengaruh Penerapan Corporate Governance terhadap
Kinerja Keuangan Perusahaan”, Skripsi. Universitas Islam Indonesia,
Pratisto, Arif 2009. Statistik Menjadi Mudah Dengan SPSS 17. Jakarta. Elex Media Komputindo
Sefiana, Eka. 2008. “Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap
Manajemen Laba Pada Perusahaan Perbankan Yang Telah Go Public Di BEI”, Jurnal Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma.
Sitio, Eka Thesia Mariaty. 2011. Pengaruh Faktor–faktor Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Publik Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia (Studi Empiris 144 Perusahaan yang terdaftar di BEI Tahun 2010). Skripsi Jurusan Akuntansi. Universitas Gunadarma. Depok.
Wahyudin Zarkasyi, Moh. 2008 ”Good Corporate Governance pada badan usaha
manufaktur, perbankan dan jasa keuangan lainnya”, Bandung :
ALFABETA,cv. Sumber Internet : http://www.idx.co.id http://www.iicg.org http:// Google.com http:// yahoo.com