• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENJUALAN PISANG YANG DISEMPROT KARBIT DI PASAR RAKYAT SEGIRI SAMARINDA ( PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENJUALAN PISANG YANG DISEMPROT KARBIT DI PASAR RAKYAT SEGIRI SAMARINDA ( PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PENJUALAN PISANG YANG DISEMPROT KARBIT DI PASAR RAKYAT SEGIRI SAMARINDA

( PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN ) Afwa Azzah Ega Safira

IAIN Samarinda [email protected] Lilik Andaryuni IAIN SAMARINDA [email protected] Abstract

This study discusses the sale of bananas using the carbide method so that bananas ripen quickly in terms of the Consumer Protection Act. This study aims to determine the understanding of traders with carbide used for bananas and how well traders understand the dangers of carbide itself and aims to find out about legal protection for consumers who buy bananas that have been sprayed with carbide. The type of research used in this research is descriptive qualitative research with an empirical (field) approach and a juridical approach. Data collection techniques are observation, interviews and documentation to banana traders and consumers who consume bananas. The results of the study concluded that the sale of bananas sprayed with carbide, the carbide traders did not understand the carbide used for bananas and the traders had not fulfilled the consumer rights contained in Article 4 letter a of Law No. 8 of 1999 on consumer protection which explains that consumers have the right to goods and services so that consumers can avoid physical and psychological losses if after consuming a product.

Keywords

(2)

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang penjualan pisang yang memakai metode karbit agar pisang cepat matang ditinjau dari UU Perlindungan Konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman pedagang dengan karbit yang digunakan untuk pisangnya lalu seberapa paham pedagang akan bahaya karbit itu sendiri dan bertujuan untuk mengetahui tentang perlindungan hukum terhadap konsumen yang membeli pisang yang telah disemprot karbit. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan empiris (lapangan) dan pendekatan yuridis. Teknik pengumpulan data melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi kepada para pedagang pisang dan konsumen yang mengkonsumsi pisang. Hasil dari penelitian disimpulkan bahwa penjualan pisang yang disemprot karbit para pedagang karbit belum paham akan karbit yang digunakan untuk pisang dan para pedagang belum memenuhi hak-hak konsumen yang ada dalam pasal 4 huruf a Undang-undang No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yang menjelaskan bahwa konsumen memiliki hak atas barang dan jasa sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugian fisik maupun psikis apabila setelah mengonsumsi suatu produk.

Kata Kunci :

(3)

A. Pendahuluan

Pisang merupakan salah satu produk unggulan Indonesia. Pisang adalah buah paling diminati oleh seluruh masyarakat Indonesia, memiliki rasa yang manis sehingga banyak peminatnya serta dimana buah tersebut sangat mudah didapatkan karena tidak ada dipasar yang tidak menjual buah pisang.

Buah pisang mempunyai kandungan gizi yang baik,antara lain menyediakan energi yang cukup tinggi di bandingkan dengan buah-buah yang lain. Pisang kaya akan mineral seperti kalium, magnesium, besi, fosfor dan kalsium, mengandung vitamin B;B6; dan C serta mengandung serotonin yang aktif sebagai neutransmitter untuk kelancaran fungsi otak.1

Pembudidayaan pisang sangat banyak di Indonesia yang dilakukan oleh masyarakat, baik itu budidaya secara sederhana maupun dengan budidaya dengan cara besar. Contohnya pada proses panen dan penanganan merupakan bagian akhir dari kegiatan budidaya tanaman pisang. Walaupun pisang yang dipanen sifatnya berkualitas, bukan berarti pula penanganannya bisa dilakukan sembarangan. Hal ini karena hasil dari buah yang dipanen bisa mengalami penurunan bila dilakukan dengan cara yang tidak baik dan benar. Sehingga jika ingin hasil yang baik maka harus dilakukan proses yang baik sampai akhirnya pada proses pasca panen.

Seperti halnya, pematangan pisang dilakukan agar mempercepat proses pematangan pada pisang. Adapun proses pematangan pada pisang

1 Pisang dan Manfaatnya,

(4)

dapat dilakukan dengan cara tradisional dan metode karbit. Metode tradisonal dengan cara buah pisang diperam dalam tempayan yang terbuat dari tanah liat. Pemeraman dengan karbit sering dilakukan oleh pedagang pengumpul yang berada didaerah pemasaran. Karbit (CaCl) adalah bahan penghasil gas etilen atau karbit dapat dilakukan dipohon atau sesudah dipanen. 2

Oleh karena itu, tingkat kematangan buah dari setiap pohon tidak selalu sama maka untuk menyeragamkannya dibutuhkan teknik pemeraman agar diperoleh buah dalam jumlah banyak dengan tingkat kematangan yang normal. 3

Seharusnya pisang mengandung berbagai nutrisi seperti Vitamin B,C protein dan karbohidrat. Namun, lantaran dipaksa matang, kandungan nutrisi dalam pisang karbitan tidak akan sempurna yang matang dipohon. Bahkan dalam beberapa kasus,pisang karbitan sama sekali tidak memiliki kandungan nutrisi. Akibatnya tidak ada manfaat kesehatan yang didapat dari mengonsumsi pisang karbitan.

Secara sederhana, metode cara pematangan tersebut wajar oleh masyarakat Indonesia sendiri. Sebagai pedagang atau produsen mereka hanya bisa mengandalkan pisang itu sudah matang tanpa berfikir panjang. Namun, peneliti melihat dari segi Undang-Undang Perlindungan konsumennya di sini bahwa harus melindungi konsumen agar tidak terjadi kerugian pada konsumen itu sendiri.

2 Suyanti, Pisang, Budidaya... h.91

(5)

Dalam hukum Islam prinsip-prinsip perlindungan konsumen sudah diterapkan sejak Nabi Muhammad SAW belum diangkat menjadi Rasul. di Indonesia ada undang-undang khusus yang mengatur masalah perlindungan konsumen, yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Bisnis yang adil dan jujur menurut Al-Qur’anadalah bisnis yang tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat (279).

‘’Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula)

dianiaya.’’(Q.S.Al-Baqarah:279)4

Dalam konteks bisnis, potongan pada akhir ayat tersebut men-gandung perintah perlindungan konsumen, bahwa antara pelaku usaha dan konsumen dilarang untuk saling menzalimi atau meru-gikan satu dengan yang lainnya. Hal ini berkaitan dengan hak-hak konsumen dan hak-hak pelaku usaha. Konsep bisnis dalam Islam harus dilandasioleh nilai-nilai dan etika yang menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan.5

4 Endang Hendra, Al-qur’an Cordoba Special For Muslimah, (Bandung: PT.Cordoba

Internasional Indonesia, 2012) h.47

5 Nurhalis, Perlindungan Konsumen dalam Perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang

(6)

Dalam pasal 4 huruf a UU NO 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen menjelaskan bahwa konsumen memiliki hak atas barang dan atau jasa. Disebutkan dalam pasal 1 ayat (1) peraturan pemerintahan No 28 tahun 2004 tentang keamanan mutu dan gizi pangan bahwa setiap orang yang menghasilkan pangan untuk tidak menggunakan bahan tambahan yang terlarang seperti borak, formalin, karbitan dan lain sebagainya.6

Kondisi konsumen yang banyak yang dirugikan, memerlukan peningkatan upaya untuk melindunginya sehingga hak-hak konsumen dapat ditegakkan. Namun sebaliknya perlu diperhatikan pila bahwa dalam memberikan perlindungan kepada konsumen, tidak boleh justru mematikan usaha pelaku usaha, karena keberadaan pelaku usaha merupakan suatu hal yang juga esensial dalam perekonomian Negara. Dalam kegiatan perdagangan di pasar ini, para pedagang belum paham apa bahaya karbit itu sendiri. Sehingga oleh karena itu, peneliti fokus pada permasalahan ini adalah tentang pemahaman pedagang pisang terhadap karbit yang mereka semprotkan pada dagangannya pisangnya serta lebih mendalam tentang hukum perlindungan konsumennya, disebutkan dalam pasal 1 ayat (1) peraturan pemerintahan No 28 tahun 2004 tentang keamanan mutu dan gizi pangan bahwa setiap orang yang menghasilkan pangan untuk tidak menggunakan bahan tambahan yang terlarang seperti borak, formalin, karbitan dan lain sebagainya.

6 Ramdhani Nurbaiti,’’Tinjauan Fiqh Muamalah Tentang Praktik Jual Beli Buah

(7)

Sehingga peniliti ingin meneliti ‘’Penjualan Pisang Yang Disemprot Karbit Di Pasar Rakyat Segiri Samarinda’’ (Perspektif Undang-Undang Perlindungan Konsumen).

B. Metodologi Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kualitatif . Yang dimaksud penelitian tersebut yaitu penelitian yang menghasilkan data apa adanya serta tidak ada manipulasi didalamnya dengan menghimpun kenyataan yang telah terjadi serta mengembangkan konsep yang ada. Dalam penelitian yang telah dilakukan maka peneliti langsung meneliti dan mengamati data dari data yang bersumber dari lokasi yang berdasarkan data dari pengamatan dilingkupan pasar dan sekitarnya yang selanjutnya akan dicari data-data pedagang yang menyemprot karbit pada dagangannya. Adapun pendekatan yang di gunakan yaitu pendekatan empiris atau lapangan. Penelitian lapangan ini sendiri guna nya untuk memperoleh data serta informasi secara langsung dengan mendatangi subjek yang bersangkutan. 7. Pendekatan lain digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan yuridis. Adapun Lokasi Penelitian yang peneliti jadikan objek penelitian ini yaitu Pasar Rakyat Segiri Samarinda di Jl. Pahlawan, Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu. Berdasarkan banyak pertimbangan peneliti ingin mengetahui bagaimana pemahaman para pedagangan terhadap karbit yang di semprotkan pada dagangan pisang mereka.

(8)

C. Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara, para pedagang tidak sadar akan kelayakan pisang yang akan dikonsumsi oleh konsumen. Artinya, para pedagang tidak mengetahui bahaya karbit dan tidak mengetahui sebagaimana kewajiban pedagang seperti yang diatur dalam UU Perlindungan Konsumen pasal 7 ayat 4 yaitu ‘’Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu dan barang dan/atau jasa’’.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dari sebelumnya, maka peneliti dapat menganalisa bahwa penjualan pisang yang disemprot karbit ini adalah :

Pertama, dalam faktor kebiasaan. Kebiasaan yang terjadi di masyarakat, bahwa pedagang memang sudah terbiasa menggunakan karbit untuk mematangkan pisang secara cepat agar cepat untuk dijual.

Kedua, faktor pengetahuan. Pengetahuan akan menimbulkan kesadaran serta pemahaman dan akhirnya akan menyebabkan seseorang berprilaku sesuai dengan pengetahuan yang ada dalam dirinya. Pengetahuan yang dimiliki pedagang sangat minim. Padahal karbit itu gas kimia, tetapi banyak pedagang yang belum tahu bahkan ada pedagang yang mengatakan bahwa itu hanya cairan biasa saja.

Ketiga, faktor pendidikan. Berdasarkan tabel diatas pemahaman pedagang terhadap karbit yaitu disebabkan oleh faktor pendidikan. Pendidikan pedagang pisang dipasar segiri rata-rata tingkat pendidikan

(9)

yang ditempuh yaitu sampai jenjang SD bahkan ada yang tidak pernah menempuh pendidikan sama sekali. Pendidikan sangat berpengaruh dalam upaya mencapai pemahaman yang baik untuk berdagang.

1. Perlindungan Hukum Konsumen Pisang Karbitan

Dalam Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, bahwa dalam pasal ini mengenai tentang hak-hak konsumen, yaitu:

1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan/atau jasa.

Dimaksudkan untuk menjamin kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen dalam penggunaan barang dan/atau jasa yang diperolehnya dari pelaku usaha ( pedagang pisang ), sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugian fisik maupun psikis apabila setelah mengonsumsi suatu produk.

2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.

Menurut peneliti, dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memilih produk atau barang dan/atau jasa sesuai dengan pilihan konsumen itu sendiri. Berdasarkan hak ini, konsumen berhak memilih kualitas, maupun kuantitas jenis barang dan/atau jasa yang akan dibeli oleh konsumen.

3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan brang dan/atau jasa.

(10)

Menurut peneliti yang dimaksud Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa ini, dimaksudkan agar konsumen dapat memperoleh informasi yang benar tentang suatu produk atau barang yang akan dibeli oleh konsumen. Karena sering kali informasi yang diberikan kepada konsumen itu tidak jelas. Hal ini merupakan salah satu bentuk cacat barang atau cacat informasi yang tidak jelas.

4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan.

Yang dimaksud dengan hak ini yaitu menurut peneliti hak ini merupakan hak dari konsumen agar tidak ada kerugian atau menghindari kerugian dalam proses jual beli. Hak ini dapat disampaikan perseorangan baik yang disampaikan secara langsung maupun diwakilkan.

5. Hak untuk mendapatkan advokasi perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Maksud dari hak ini adalah hak untuk memulihkan keadaan konsumen yang telah dirugikan akibat penggunaan suatu produk, barang dan/atau jasa. Konsumen dapat menempuh jalur hukum untuk penyelesaian sengketa akibat kerugian tersebut. Penyelesaian sengketa ini dapat diselesaikan secara damai ( diluar pengadilan ) maupun diselesaikan melalu pengadilan. 6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.

(11)

Hak konsumen untuk memperoleh pengalaman maupun keterampilan yang diperlukan agar terhindar dari kerugian akibat penggunaan produk, barang dan/atau jasa karena dengan pendidika,, konsumen dapat lebih cermat dan teliti dan memilih suatu produk atau barang yang akan dibelinya.

7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

Hak ini, hak konsumen agar pelaku usaha tidak bersifat diskriminatif terhadap konsumen berdasarkan suku, agama, budaya, daerah, pendidikan, kaya, miskin dan status soial lainnya.

8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

Hak ini terkait dengan produk, barang dan/ jasa yang merugikan konsumen, baik yang berupa kerugian materi, maupun kerugian yang menyangkut diri, seperti sakit, cacat, bahkan kematian konsumen.

9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Secara garis besar, hak-hak konsumen di bagi dalam tiga hak yang menjadi prinsip dasar, yaitu :

1) Hak yang dimaksudkan untuk mencegah konsumen dari kerugian, baik kerugian personal, maupun kerugian harta kekayaan.

(12)

2) Hak untuk memperoleh barang dan/atau jasa dengan harga yang wajar.

3) Hak untuk memperoleh penyelesaian yang patut terhadap permasalahan yang dihadapi.

Kegiatan jual beli pisang berkarbit yang dilakukan di Pasar Segiri Samarinda, tidak sesuai dengan aturan yang ada pada UU No.8 tahun 1999 yakni pada pasal 4 UU Perlindungan Konsumen, seperti yang sudah dijelaskan di atas ada hukum perlindungan konsumen juga memberikan solusi yaitu dengan prinsip tanggung jawab risiko hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa kewajiban menanggung kerugian dipandang sebagai risiko yang harus dipikul sendiri karena tidak ada pihak lain yang dapat dipersalahkan. 8

Tanggung jawab merupakan kesanggupan untuk menetapkan sikap dan memikul resiko dari suatu perbuatan. Praktik pematangan buah pisang dengan menggunakan karbit di Pasar Segiri jika dilihat dari prinsip tanggungjawab itu tidak sesuai. Dampak dari pematangan buah pisang dengan menggunakan karbit yang dilakukan oleh pedagang pisang di Pasar segiri Samarinda tentunya merugikan pihak pembeli, terutama dari aspek kesehatan yaitu kandungan zat dalam karbit tidak baik untuk kesehatan. Seharusnya pihak penjual dapat menjelaskan kepada pembeli bahwa buah pisang yang dijualnya adalah melalui proses pematangan

8 Aulia Muthiah, ‘’Tanggung Jawab Pelaku Usaha Kepada Konsumen Terhadap Keamanan

Pangan dalam Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen’’, dalam Jurnal Jurnal HukumBisnis dan Investasi Vol 7 No 2 April 2016

(13)

dengan karbit, dampak yang ditimbulkan untuk kesehatan itu seharusnya merupakan tanggungjawab dari pedagang buah pisang di Pasar segiri yang menggunakan karbit.

Berdasarkan Penjelasan Umum Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) tersebut diatas, maka adanya tanggung jawab pemerintah atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen tidak lain dimaksudkan untuk memberdayakan konsumen memperoleh haknya. Ada kekhawatiran, pelaku usaha dengan prinsip ekonominya, menjadikan konsumen menderita kerugian karenanya. Pemberdayaan konsumen tersebut, sesuai asas keadilan dan keseimbangan, tidak boleh merugikan kepentingan pelaku usaha. Hal ini dinyatakan juga dalam Penjelasan Umum UUPK bahwa hukum yang melindungi konsumen tidak dimaksudkan untuk mematikan usaha para pelaku usaha, tetapi sebaliknya melalui perlindungan konsumen tersebut dapat mendorong iklim berusaha yang sehat, dan lahirnya perusahaan yang tangguh dalam menghadapi persaingan melalui penyediaan barang atau jasa yang berkualitas.9

D. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan dari hasil wawancara dan analisis yang peneliti lakukan, maka dapat di tarik kesimpulan :

1. Pedagang pisang di pasar segiri belum paham tentang karbit yang disemprotkan nya pada dagangannya, karena para

9 Maulia Faiqoh, ‘’Tinjauan Hukum Islam Terhadap Sertifikat Produk Pangan Dalam Pasal 43

Peraturan Pemerintah No 28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan’’, Skripsi IAIN Walisongo Semarang, 2013

(14)

pedagang menganggap karbit itu tidak berbahaya dan hanya cairan biasa. Serta ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemahaman tersebut yaitu :

a. Kebiasaan, bahwa pedagang memang sudah terbiasa menggunakan karbit untuk mematangkan pisang secara cepat agar cepat untuk dijual.

b. Pengetahuan, Pengetahuan akan menimbulkan kesadaran serta pemahaman dan akhirnya akan menyebabkan seseorang berprilaku sesuai dengan pengetahuan yang ada dalam dirinya.

c. Pendidikan, Pendidikan sangat berpengaruh dalam upaya mencapai pemahaman yang baik untuk berdagang.

2. Berdasarkan hasil penelitian yang ada, para pedagang belum memenuhi hak-hak konsumen yang ada dalam pasal 4 huruf a Undang-undang No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yang menjelaskan bahwa konsumen memiliki hak atas barang dan jasa sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugian fisik maupun psikis apabila setelah mengonsumsi suatu produk.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Abd Hamid . Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia , Makassar: CV.Sah Media. 2017.

Abdul Atsar. Buku Ajar Hukum Perlindungan Konsumen , Yogyakarta: Deepublish. 2019.

Abdul Rahman Ghazaly. Fiqh muamalat, Jakarta: Kencana. 2010.

Anggito Albi. Metodologi Penelitian Kualitatif, Sukabumi:CV Jejak. 2018. Arief Safari. Unboxing Perlindungan Konsumen di Indonesia, Bogor: IPB

Press. 2020.

Harun. Fiqh Muamalah, Surakarta: T.Santosa. 2017.

Helaluddin. Analisis Data Kualitatif, Makassar: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray. 2019.

Hendi Suhendi. Fiqih Muamalah, Jakarta:Rajawali Pers. 2016. KBBI

Mahmudatus Sa’diyah. Fiqh Muamalah II, Jepara: Unisnu Press. 2019. Mardani. Fiqh Ekonomi Syariah , Jakarta: Kencana. 2019.

Pudjihardji. Fikih Muamalah Ekonomi Syariah, Malang: UB Press. 2019. Romadhon Riqi. Jual Beli Online Menurut Madzhab Asy-Syafi’i,

Tasikmalaya: Pustaka Cipasung. 2015.

Rosmawati. Pokok-pokok Hukum Perlindungan Konsumen. Depok:

(16)

Suyanti. Pisang,Budidaya, Pengolahan dan Prospek Pasar , Jakarta: Penebar Swadaya. 2008.

Suyanti. Panduan Mengolah 20 Jenis Buah, Jakarta: Penebar Swadaya. 2010. Tafsir Ibn Tafsir

Wahbah az-Zuhaili. Fiqh Islam Wa Adillatuhu , Depok:Gema Insani. 2007. Yusuf Muri. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian

Gabungan, Jakarta: Kencana. 2014.

Yusuf Shofie. Kapita Selekta Hukum Perlindungan Konsumen, Bandung: Pt Citra Aditya Bakti. 2008.

Zainuddin. Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika. 2015. Zulham. Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta: Kencana. 2013.

B. Jurnal

Jurnal Analisis Keterjaungakauan Masyarakat Terhadap Pasar Tradisional Di Kota Manado Vol.7 No.2. 2020. Patrius Fanataf.

Jurnal Ekonomi dan Keuangan Syariah Tinjauan Fiqih Muamalah Terhadap Akad Jual Beli dalam Transaksi Online pada Aplikasi Go Food, Vol. 2 No. 1 January 2018

Jurnal Identifikasi Karakter Merfologis Pisang Vol.4 No.1 Desember 2015. Monica Dame Yanti.

Jurnal Perlindungan Konsumen dalam Perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 IAIN NW Lombok. 2015. Nurhalis

Jurnal Pengaruh Penggunaan Zat Etefon Terhadap Sifat Fisik Pisang Kepok UNHAS Makassar. 2017. Ari Wirasaputra.

C. Karya Ilmiah/Skripsi

Al Nurbaiti, ‘’ Tinjauan Fiqh Muamalah Tentang Praktik Jual Beli Buah

Karbitan’’, Universtitas Islam Negeri Lampung . 2018.

Anwar Sadat, ‘’ Pengaruh Pemeraman Menggunakan Batu Karbit (CaC2)

(17)

Erna Lidiawati ,’’ Pengaruh Dosis Karbit (CaC2) dan Jenis Kemasan

Terhadap Kualitas Buah Pisang Ambon’’, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian

Dharma Wacana Metro Lampung. 2016.

Heldayanti, Jual Beli Baju Secara Grosiran Menurut Hukum Islam, UIN Raden Intan Lampung. 2017.

Inayati Fitri, Perlindungan Konsumen Terhadap Jasa Kesehatan Perpekyif Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah, IAIN Metro. 2020.

Melasari ‘’ Pematangan Buah Pisang Dengan Menggunakan Karbit

(CALCIUM CARBIDA) Ditinjau Dari Etika Bisnis Islam’’, STAIN Jurai

Siwo Metro Lampung. 2016.

Rahma Rafiaati ‘’ Pengaruh Pemeraman Menggunakan Karbit, Ethrel, dan

Prothepon Terhadap Sifat Fisik dan Kimia’’, Universitas

Muhammadiyah Malang. 2019.

Ramdhani Nurbaiti,’’Tinjauan Fiqh Muamalah Tentang Praktik Jual Beli

Buah Karbitan’’, Universitas Islam Negeri Raden Intan, Lampung. 2018 .

Syam,’’Tinjauan umum tentang Hukum Perlindungan konsumen’’, UIN Malik Ibrahim Malang Tahun. 2015.

Yusarlis, Jual Beli dalam Islam, Skripsi UIN Raden Intan Lampung. 2017. D. Artikel

6 Bahaya Pisang Karbitan bagi tubuh,

https://halosehat.com/makanan/buah-berbahaya/bahaya-pisang-karbit , di akses pada 28 Januari 2021 Pukul

13:48

Bahaya Pisang Karbitan, https://doktersehat.com/bahaya-pisang-karbitan/amp/,di akses pada tanggal 27 Juni pukul 12.08

Ba’i Al-Dayn, https://sharianews.com/kamus/bai-al-dayn, di akses pada 25 Januari 2021 pukul 13:00

Bai’ Bitsaman’Ajil , http://digilib.uinsby.ac.id/3197/3/Bab%202.pdf ,di akses pada 25 Januari 2021 Pukul 12:05

Ba’i Wafa , https://www.gustani.id/2011/08/bay-wafa-dan-bay-istighlal.html, di akses pada 25 Januari 2021 Pukul 11:53

Hadist Ahmad No 16628, https://tafsirq.com/en/hadits/ahmad/16628, Di akses

(18)

Jual Beli al’Inah,

https://www.depokpos.com/2019/05/apa-itu-jual-beli-bai-al-inah/, di akses pada 25 Januari 2021 Pukul 12:15

Jual Beli dan Macam-Macamnya ,

https://eprints.walisongo.ac.id?6833/3/BAB%20II.pdf, di akses pada 31

Januari 2021 Pukul 20:07

Khasiat dan Manfaat Pisang,

https://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/khasiat-dan-manfaat-pisang , di akses pada tanggal 28 Januari 2021 pukul 11.51

WITA

Manfaat Penggunaan Karbit,

https://www.mafiaol.com/2016/01/manfaat-penggunaan-kabit-dalam.html?m=1 , di akses pada tanggal 28 Januari

2021 pukul 13:28 WITA

Mengenal Etilen, Zat yang Bikin Buah Cepat Matang,

https://www.liputan6.com/health/read/3884613/mengenal-etilen-zat-yang-bikin-buah-cepat-matang, di akses pada Tanggal 1 Juli 2020 Pukul 13.00

Pasar Segiri Samarinda,

https://maptia.com/dickyawartono/stories/pasar-segiri, di akses pada 30 Januari 2021 Pukul 11:53

Pengertian Karbit,https://www.dosenpendidikan.co.id/karbit/,di akses pada tanggal 1 Juli 2020 Pukul 21.35

Pengertian Konsumen, http://digilib.uinsby.ac.id/9301/5/bab2.pdf , di akses pada 25 Januari 2021 Pukul 20:44

Pengertian Konsumen,

(19)

Referensi

Dokumen terkait