• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN FGF21 PADA PROSES PENCOKELATAN JARINGAN ADIPOSA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAN FGF21 PADA PROSES PENCOKELATAN JARINGAN ADIPOSA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

17

PERAN FGF21 PADA PROSES PENCOKELATAN

JARINGAN ADIPOSA

THE ROLE OF FGF21 IN THE ADIPOSA TISSUE BROWNING PROCESS Nisa Kartika Komara

Program Studi D IV-Teknik Laboratorium Medik, Politeknik Kesehatan Hermina, Jakarta Timur, Indonesia E--mail: [email protected]

Diterima : 2 Maret 2021 Direvisi : 12 April 2021 Disetujui : 29 April 2021 Abstrak

Konsumsi makanan yang berlebihan tanpa disertai dengan aktivitas fisik akan menyebabkan akumulasi lemak di dalam jaringan adiposa. Jaringan adiposa yang berperan dalam menyimpan kelebihan energi adalah jaringan adiposa putih. Salah satu mekanisme untuk mengurangi kadar profil lemak tubuh yang berlebihan dalam jaringan adiposa putih adalah melalui mekanisme pencokelatan. Mekanisme pecokelatan ditandai dengan adanya peningkatan ekspresi gen Uncoupling Protein 1 (UCP1). Aktivasi UCP1 terjadi melalui beberapa persinyalan yang mengaktivasi beberapa protein transkripsi, salah satunya adalah PPAR gamma

coactivator 1α (PGC-1α). PPAR gamma coactivator 1α (PGC-1α) distimulasi oleh protein sirtuin 1 (SIRT1)

yang diaktivasi Fibroblast Growth Factor 21 (FGF21) melalui ikatannya dengan kompleks reseptor FGFR1/β-Klotho. Fibroblast Growth Factor 21 (FGF21) memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan energi dengan cara meningkatkan proses termogenesis.

Kata kunci: β-Klotho, FGF21, FGFR1, Jaringan adiposa, Pencokelatan, UCP1

Abstract

Excessive food consumption without physical activity causes the accumulation of fat in adipose tissue. Adipose tissue plays a role in storing the excess energy is white adipose tissue. A mechanism to reduce levels of excess body fat profiles in white adipose tissue is through the mechanism of browning. The browning mechanism is characterized by an increase in the expression of the Uncoupling Protein 1 (UCP1) gene. UCP1 activation occurs through multiple signaling and some would ak transcription proteins, one of which is a PPAR gamma co-activator 1α (PGC-1α). The gamma coactivator PPAR 1α (PGC-1α) is stimulated by the protein sirtuin 1 (SIRT1) which is activated by Fibroblast Growth Factor 21 (FGF21) by binding to the FGFR1 / β-Klotho receptor complex. Fibroblast Growth Factor 21 (FGF21) has an important role in maintaining energy balance by increasing thermogenesis process.

Keywords: β-Klotho, FGF21, FGFR1, Adipose tissue, Browning, UCP1

Pendahuluan

Ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan keluar tubuh serta kurangnya aktivitas fisik akan menimbulkan akumulasi lemak di dalam jaringan adiposa putih. Akumulasi lemak yang berlebihan dapat berekembang menjadi obesitas yang dapat menimbulkan gangguan metabolik, diantaranya diabetes melitus 2, penyakit kardiovaskular,

kelainan pada saraf, dan kanker.1 Beberapa penelitian sudah banyak dilakukan untuk

mengurangi jumlah lemak yang berelebihan di dalam jaringan adiposa. Menurut Castillo et al. (2017) diferensiasi jaringan adiposa putih menjadi jaringan adiposa beige dapat

menurunkan berat badan pada penderita obesitas.2 Penelitian Neyrinck et al. (2017) juga

menunjukkan bahwa diferensiasi jaringan adiposa putih yang diinduksi oleh ekstrak daun

(2)

18

hasil penelitian tersebut, mekanisme diferensiasi jaringan adiposa putih menjadi beige dapat

dijadikan target pengobatan untuk obesitas.1

Diferensiasi jaringan adiposa putih menjadi jaringan adiposa beige disebut dengan pencokelatan atau browning. Jaringan adiposa beige memiliki karateristik yang sama

dengan jaringan adiposa coklat, sehingga dapat berperan dalam proses thermogenesis.4

Mekanisme pencokelatan dapat distimulasi oleh beberapa faktor, seperti paparan dingin,

exercise, dan environmental enrichment.5 Masing-masing kondisi tersebut kemudian akan

menginduksi pencokelatan melalui jalur persinyalan yang mengaktivasi faktor transkripsi utama dalam pencokelatan, yaitu PPARγ, PRDM16, dan PGC1α. Aktivasi dari faktor-faktor transkripsi tersebut kemudian akan meningkatkan ekspresi dari UCP1 yang merupakan gen

yang bertanggung jawab dalam proses pencokelatan.6

Peningkatan ekspresi UCP1 dipengaruhi oleh beberapa protein serum yang dapat menginduksi aktivitas dari faktor transkripsi pada pencokelatan, diantaranya, Fibroblast

Growth Factor 21 (FGF21).6 Menurut Kim et al. (2017) peningkatan ekspresi UCP1 dalam

proses pencokelatan melalui aktivasi PGC1α diinduksi oleh peningkatan sekresi FGF21 oleh

jaringan adiposa coklat.5 Fibroblast Growth Factor 21 (FGF21) dapat diekspresikan juga di

hati dan berperan dalam menjaga keseimbangan energi di dalam tubuh.4 Peningkatan

FGF21 secara farmakologis telah terbukti dapat meningkatkan proses pencokelatan,

sehingga dapat menurunkan berat badan pada tikus yang mengalami obesitas.7 Selain itu,

penelitian lain juga menunjukkan bahwa tikus obese knockout FGF21 mengalami kanker

hati, karena akumulasi lemak di dalam hati yang berlebihan.8 Peran FGF21 dalam

pengaturan energi di dalam tubuh dapat terjadi apabila terbentuk ikatan kompleks dengan

reseptornya, yaitu FGFR1c dan β-Klotho.9

Ikatan antara FGF21 dan kompleks FGFR1c/β- Klotho akan membentuk transduksi sinyal yang meningkatkan aktivitas Sirtuin-1 (SIRT1), sehingga menstimulasi PGC1α untuk meningkatkan ekspresi UCP1. Ikatan yang terjadi antara FGF21 dan reseptornya sangat penting untuk menjalankan peran FGF21 dalam menginsiasi terjadinya pencokelatan. Penelitian yang dilakukan pada tikus obesitas menunjukkan bahwa ikatan antara FGF21

dan reseptornya tidak terbentuk, terlihat dari menurunnya ekspresi UCP1.10

Tipe Jaringan Adiposa

Jaringan adiposa merupakan organ utama yang menyimpan kelebihan energi dalam bentuk triagliserol. Jaringan tersebut terdiri atas sel lemak atau adiposit dan stroma-vascular

fraction. Jaringan adiposa berperan untuk menyimpan cadangan lemak, sehingga berlebihnya

lemak yang masuk dalam tubuh akan menyebabkan pembesaran struktur pada jaringan adiposa. Jaringan adiposa terdiri atas jaringan adiposa putih, jaringan adiposa coklat, dan

(3)

19

Gambar 1. Jenis jaringan adiposa13

Klasifikasi Jaringan Adiposa

Jaringan adiposa putih atau white adipose tissue merupakan jaringan adiposa yang banyak ditemukan di jaringan subkutan. Jaringan tersebut memiliki struktur yang tersusun atas sel-sel lemak droplet unilokuler, sedikit mitokondria, dan memiliki tingkat oksidatif yang rendah. Jaringan adiposa putih berasal dari sel-sel mesenkimal dan sudah mengalami perkembangan pada saat di rahim, namun perkembangan tersebut akan semakin meningkat saat lahir. Perkembangan jaringan adiposa putih saat lahir menjadi meningkat dikarenakan adanya respon dari tubuh untuk mengatur keseimbangan energi dalam tubuh, sehingga ukuran dari jaringan adiposa putih akan terus mengalami perkembangan sepanjang masa hidup organisme. Oleh karena itu, jaringan adiposa putih memiliki peran dalam penyimpanan

energi dan disimpan dalam bentuk triagliserol (TAG). 4

Jaringan adiposa coklat memiliki ukuran yang lebih kecil daripada jaringan adiposa putih dan tersususun atas sel-sel lemak multilokular, namun memiliki sitoplasma yang relatif lebih banyak. Selain itu, jaringan adiposa coklat membutuhkan oksigen yang lebih besar, sehingga mengandung lebih banyak pembuluh kapiler daripada jaringan adiposa putih. Jaringan adiposa cokelat merupakan jaringan lemak yang berwarna cokelat hingga sedikit kemerahan yang disebabkan oleh banyakanya pembuluh darah dan mitokondria. Mitokondria tersebut

memiliki uncoupling protein-1 (UCP1) yang berperan dalam proses pengeluaran energi.5

Jaringan adiposa coklat terbentuk melalui sel yang sama dengan jaringan adiposa putih, yaitu berasal dari sel-sel mesenkimal. Namun, dalam perkembangannya jaringan adiposa cokelat lebih banyak pada bayi yang baru lahir dan akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Jumlah jaringan adiposa coklat yang banyak pada bayi yang baru lahir berperan untuk adaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan, yaitu saat terkena paparan

dingin.4 Pada saat dewasa jaringan adiposa putih yang terbentuk sudah semakin banyak,

akumulasi jaringan lemak tersebut yang akan menurunkan aktivitas dari jaringan adiposa coklat. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah jaringan adiposa coklat pada penderita

obesitas yang sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan berat badan normal.14 Ilustrasi

komposisi jaringan adiposa coklat dapat dilihat pada gambar 2.

(4)

20

Gambar 2. Jaringan adiposa coklat berdasarkan usia14

Pada orang dewasa kemampuan termogenesis jaringan adiposa coklat dapat dilakukan oleh jaringan adiposa putih yang dapat berdifernsiasi. Proses tersebut terjadi ketika ada paparan dingin, maka jaringan adiposa putih akan berdiferensiasi menjadi jaringan adiposa beige. Jaringan adiposa beige memiliki struktur seperti dengan jaringan adiposa cokelat, yaitu memiliki droplet lipid multilokuler, jumlah mitokondria banyak, dan tingginya ekspresi gen

yang spesifik pada lemak cokelat seperti UCP1.15 Pembentukan jaringan adiposa beige juga

berasal dari sel-sel mesenkimal yang sama dengan jaringan adiposa coklat, namun yang

membedakan adalah sel prekusornya.4

Mekanisme Pembentukan Jaringan Adiposa

Pembentukan jaringan adiposa putih, beige, dan coklat berawal dari sel induk mesenkimal yang sama. Perbedaan yang terjadi dalam proses pembentukan jaringan adiposa terdapat pada sel prekusornya. Pada awal perkembangan embrio jaringan adiposa yang paling banyak dibentuk adalah jaringan adiposa coklat. Jaringan adiposa coklat berasal dari sel prekursor

dalam mesoderm embrionik yaitu sel Myf5+ dan Pax7. Beberapa anggota protein yang

berperan dalam pembentukan tulang, seperti BMP4, BMP8b dan BMP7 terlibat dalam perubahan pre adiposit jaringan adiposa coklat menjadi adiposit coklat. Beberapa faktor transkripsi, seperti PRDM16, PPARγ, dan PGC1α juga berperan dalam diferensiasi jaringan adiposa coklat. PRDM16 akan menstimulasi diferensiasi jaringan adiposa coklat melalui pengikatannya terhadap PGC1α dan PPARγ yang kemudian akan mengaktifkan gen

pencokelatan, yaitu UCP1. 4,16

Jaringan adiposa putih dan beige berasal dari sel prekusor yang sama yaitu Myf5-. Proses

pembentukannya juga dibantu oleh beberapa protein, seperti BMP2 dan BMP4. Pembentukan jaringan adiposa putih kemudian terjadi melalui pengikatan faktor transkripsi PPARγ dengan c- AMP-response element-binding protein (CREBP), sehingga mengaktifkan transkripsi gen dari jaringan adiposa putih. Diferensiasi dari jaringan adiposa putih akan membentuk jaringan adiposa yang mirip dengan adiposa cokelat, yaitu adiposa beige. Jaringan adiposa beige dapat terbentuk melalui deasetilasi PPARγ oleh SIRT1 yang diperlukan untuk menstabilkan dan mengaktivasi PRDM16 untuk selanjutnya berinteraksi

dengan PGC1α, sehingga mengaktifkan gen pencokelatan. 4,5,14

(5)

21

diekspresikan baik dalam jaringan adiposa coklat maupun adiposa beige. MicroRNA yang dapat PRDM16, yaitu miR-193b-365 yang dibutuhkan untuk adipogenesis jaringan adiposa coklat. Sebaliknya, miR-133a akan menekan ekspresi PRDM16 dan menghambat diferensiasi jaringan adiposa coklat. Inaktivasi miR-133a tidak akan berefek pada perkembangan jaringan adiposa cokelat, namun meningkatkan perkembangan dari adiposa

beige pada jaringan adiposa putih. Beberapa microRNA lainnya yang terlibat dalam proses

pembentukan jaringan adiposa adalah miR-155, miR-196a, dan miR26a/26b.18

Mekanisme Pencokelatan

Mekanisme pencokelatan merupakan mekanisme yang menyebabkan adanya perubahan

struktur dari jaringan adiposa putih menjadi jaringan adiposa beige.4 Proses pencokelatan

dapat muncul setelah mendapatkan beberapa stimulus, seperti paparan dingin, latihan fisik,

dan enviromental enrichment. 5 Mekanisme pecokelatan ditandai dengan adanya

peningkatan ekspresi gen Uncoupling Protein 1 (UCP1) yang berperan dalam fosforilasi ATP. UCP1 dapat mentranslokasi proton melewati membran dalam mitokondria jaringan adiposa cokelat, melalui proses tersebut UCP1 melepaskan energi dari sintesis ATP dan kemudian menyebabkan pelepasan energi dalam bentuk panas, dan juga menstimulasi

oksidasi asam lemak. 13

Gambar 3. Jalur yang memengaruhi proses pencokelatan11

Ekspresi UCP1 dapat terjadi melalui beberapa jalur yang diregulasi oleh faktor-faktor transkripsi utama, seperti, PPAR γ, PGC-1α, dan PRDM 16. PPARγ merupakan faktor transkripsi yang penting dalam diferensiasi jaringan adiposa cokelat dan putih. PPARγ dibutuhkan untuk rekrutmen PRDM 16 ke kompleks transkripsi PPARγ, yang akan membuat proses pencokelatan. Regulator lain yang dapat menginduksi pencokelatan adalah PGC-1α yang merupakan koaktivator transkripsi yang terlibat dalam mengontrol

metabolisme energi yang banyak diekspresikan di jaringan adiposa cokelat.6 Ekspresi

PGC-1α yang meningkat dalam respon metabolik dapat terjadi karena adanya stimulasi dapat disebabkan oleh Beta 3-adenergik. Peningkatan ekspresi tersebut dapat terjadi melalui fosforilasi PGC-1α yang distimulasi oleh activating transcription factor 2 (ATF2) yang diaktifkan oleh protein kinase teraktivasi mitogen p38. Hal tersebut menyebabkan PGC-1α akan menginduksi biogensis mitokondria dan aktivasi faktor transkripsi PPAR, sehingga

(6)

22

Regulator FGF21

Fibroblast Growth Factor 21 (FGF21) merupakan salah satu protein dari anggota fibroblast

growth factors (FGFs) yang terletak pada kromosom 19 dengan berat molekul sekitar 17

sampai 34 kDa. FGF21 diekspresikan oleh beberapa organ, seperti hati, adiposa putih,

pankreas, otak dan otot rangka yang dapat dilihat di gambar 2.2.2(1).12 Hati dan jaringan

adiposa merupakan organ yang menjadi tempat kerja utama untuk FGF21.

Mekanisme kerja FGF21 pada organ-organ tersebut dapat berupa parakrin, autokrin, dan endokrin. Hal tersebut menyebabkan FGF21 dapat mengontrol homeostasis energi dalam

tubuh, sehingga dapat meningkatkan pengeluaran energi pada penderita obesitas.19

Fibroblast Growth Factor 21 (FGF21) dapat melakukan perannya melalui pembentukan

sinyal. Aktivitas transduksi sinyal dari FGF21 bergantung pada ikatannya dengan reseptor

FGF (FGFR) dan koreseptor yang disebut β-Klotho (KLB).20

Hati merupakan organ terbesar yang memroduksi dan meregulasi FGF21. Ekspresi FGF21 pada hati dan plasma akan meningkat ketika puasa dan diet ketogenik. Ekspresi FGF21 pada hati saat puasa dimediasi oleh faktor transkripsi proliferator peroxisome alpha receptor (PPARα). FGF21 yang disekresikan oleh hati bekerja sebagai faktor endokrin. Faktor transkripsi tersebut diaktifkan oleh asam lemak yang dikeluarkan oleh adiposit selama puasa ataupun diet ketogenik. Selain itu, FGF21 juga dapat meregulasi faktor transkripsi lain, yaitu PPAR gamma coactivator 1α (PGC-1α) yang dapat meregulasi oksidasi asam lemak melalui peningkatan fungsi mitokondria dan biogenesis. Ekspresi FGF21 juga dapat ditemukan saat tidak puasa, namun faktor transkripsi yang meginduksinya berebeda dengan saat puasa. Faktor transkripsi tersebut adalah proliferator peroxisome alpha receptor (PPARγ) yang terdapat pada jaringan adiposa putih dan ChREBP pada hati. FGF21 yang disekresikan oleh hepatosit dapat bekerja secara endokrin, parakrin, ataupun autokrin yang memodulasi ketogenesis, glukoneogenesis, oksidasi asam lemak, hormon pertumbuhan, dan

karsinogenesis.15,19,21

Gambar 4. Regulasi FGF21 pada hati21

Organ penting lain yang berperan dalam sekresi FGF21 adalah jaringan adiposa. FGF21 pada jaringan adiposa berperan dalam pemgambilan glukosa, lipolisis, dan meningkatkan kapasitas oksidatif mitokondria. Jaringan adiposa dapat dibedakan menjadi 3 struktur, yaitu jaringan adiposa putih, jaringan adiposa krem atau beige, dan jaringan adiposa cokelat. Ekspresi dan sekresi jaringan adiposa putih diregulasi oleh proliferator peroxisome alpha

(7)

23

receptor (PPARγ). 15,19 Pada jaringan adiposa putih FGF21 dapat bekerja secara autokrin

untuk menstimulasi PPARγ dan pengambilan glukosa, sedangkan secara endokrin dalam

menekan aktivitas lipolisis.21 FGF21 di jaringan adiposa putih juga dapat bereperan dalam

homeostasis energi, terutama dalam proses thermogenesis. FGF21 akan meregulasi interskapular dari jaringan adiposa cokelat untuk meningkatkan aktivitas termogenesis

melalui induksi protein UCP1.19

Jaringan adiposa yang menjadi lokasi untuk proses termogenesis adalah jaringan adiposa cokelat. Ekspresi FGF21 pada proses termogenesis distimulasi oleh paparan dingin yang akan merangsang pelepasan norepinefrin. Norepinefrin kemudian akan berikatan dengan reseptor adenergik untuk meningkatkan cAMP. Peningkatan cAMP akan mengaktifkan transkripsi gen FGF21 melalui elemen pengikat ATF2. Pelepasan neurotransmiter tersebut akan meningkatkan aliran darah, sehingga mengaktifkan enzim lipase untuk memecahkan

trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol.19

Penelitian mengenai peran FGF21 pada jaringan adiposa telah banyak dilakukan, salah satunya adalah penelitian yang menggunakan adiposit 3T3- L1. Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa pemberian FGF21 secara kronis akan meningkatkan ekspresi PPARγ. Selain itu, pemberian FGF21 pada adiposit tersebut akan meningkatkan ekspresi mRNA dan protein Glut-1 yang berhubungan dengan peningkatan pengambilan glukosa ke dalam sel sel adiposa. FGF21 akan menstimulasi p44/42, sehingga mengaktifkan fosforilasi dan faktor transkripsi serum respon factor (SRF) serta Ets- like protein-1 (Elk-1) pada adiposit 3T3-L1. Hal tersebut yang menyebabkan peningkatan pengambilan glukosa pada jarigan adiposa putih. Pada penderita obesitas ekspresi GLUT-1 pada jaringan adiposa akan menurun,

sehingga terjadi resistensi terhadap FGF21.15

Peran FGF21 Pada Proses Pecokelatan

Fibroblast growth factor 21 (FGF21) merupakan faktor endokrin yang memiliki peran

dalam menurunkan kadar glukosa, insulin, trigliserida, dan berat badan pada penderita

obesitas.22 Potensi FGF21 dalam menjalankan peran tersebut harus diawali dengan

pembentukan sinyal. FGF21 akan membentuk sinyal apabila berikatan dengan reseptor. Reseptor FGF (FGFRs) merupakan reseptor permukaan sel yang termasuk ke dalam reseptor

tirosin kinase. FGF21 dapat berikatan dengan beberapa jenis FGFRs, diantaranya

FGFR1c, -2c, -3c, dan -4). Ikatan FGF21 dan FGFRs dengan afinitas yang paling tinggi terdapat pada FGFR1c. FGF21 yang sudah berikatan dapat membentuk trasnduksi sinyal, sehingga dibutuhkan koreseptor.

(8)

24

Koreseptor yang berperan penting dalam persinyalan FGF21 adalah β-Klotho (KLB). Koreseptor β- Klotho merupakan protein transmembran tunggal yang akan membentuk

kompleks dengan FGFR1c dan FGF21.19 Fibroblast growth factor 21 memiliki dua sisi

pengikatan dalam membentuk ikatan dengan FGFR1c dan β-Klotho yang terletak di C dan N terminus. Ujung C FGF21 akan berinterkasi dengan β-Klotho dan ujung N akan berinteraksi dengan domain imunoglobulin D2 dan D3 dari reseptor FGFR1c. Ikatan kompleks antara FGF21 dengan reseptornya akan memicu terbentuknya transduksi sinyal untuk memulai

proses pencokletan pada jaringan adiposa.20

Gambar 5. Kompleks FGF21 dan FGFR1c/ β-Klotho20

Proses pencokelatan dapat meningkatkan pembakaran energi secara alami, sehingga

berpotensi untuk mengurangi profil lemak dalam tubuh.4 Ekspresi FGF21 pada proses

termogenesis, salah satunya distimulasi oleh paparan dingin yang akan merangsang pelepasan norepinefrin menstimulasi reseptor β-adenergik pada jaringan adiposa cokelat. Norepinefrin kemudian akan berikatan dengan reseptor adenergik untuk meningkatkan cAMP. Peningkatan cAMP akan mengaktifkan protein kinase A (PKA) yang akan memfosforilasi p38 MAPK, kemudian mengaktifkan transkripsi gen FGF21 melalui elemen pengikat ATF2 protein kinase A (PKA). Selain itu, fosforilasi p38 MAPK juga dapat menginduksi transkripsi gen yang merupakan mediator untuk gen thermognesis, seperti UCP1. Aktivasi PKA juga akan menginduksi pemecahan lipase atau lipolisis. Selain itu aktivasi p38 MAPK juga dipengaruhi oleh miR-32 yang berperan dalam menghambat

Tob1. Mekanisme tersebut dapat dilihat pada gambar 2.4. (2). Selanjutnya FGF21 yang

disekresikan akan bekerja secara endokrin maupun autokrin.23,24 FGF21 akan mengaktifkan

protein transkripsi, yaitu PPAR gamma coactivator 1α (PGC-1α). Peningkatan aktivitas PGC-1α distimulasi oleh SIRT1 yang diaktivasi oleh FGF21 yang berikatan secara kompleks dengan reseptornya. Proses tersebut akan menginduksi ekspresi UCP1 pada

(9)

25

Gambar 6. Mekanisme sekresi FGF21 pada pencokelatan24

Kesimpulan

Akumulasi lemak yang berlebihan akan tersimpan di dalam jaringan adiposa putih. Lemak yang berlebihan dalam jaringan adiposa dapat dikurangi melalui mekanisme pencokelatan. Mekanisme pencokelatan ditandai dengan adanya peningkatan ekspresi gen

Uncoupling Protein 1 (UCP1). Aktivasi UCP1 terjadi melalui beberapa persinyalan yang

mengaktivasi beberapa protein transkripsi, diantaranya PPAR gamma coactivator 1α (PGC-1α). Proses pencokelatan dapat diinduksi oleh FGF21 yang akan berikatan secara kompleks dengan FGFR1c/β-Klotho. Ikatan tersebut kemudian akan menghasilkan trasnduksi sinyal yang akan meningkatkan aktivitas PGC-1α distimulasi oleh SIRT1, sehingga mengaktivkan gen UCP1 untuk selanjutnya menginduksi proses diferensiasi jaringan adiposa putih menjadi beige.

DAFTAR PUSTAKA

1. Straub L, Wolfrum C. FGF21 energy expenditure and weight loss-How much brown fat do you need. MolMetab. 2015;4(9):605–9.DOI:10.1016/j.molmet.2015.06.008

2. Vargas-castillo A, Fuentes-romero R, Rodriguez- lopez LA, Torres N, Tovar AR. Understanding the Biology of Thermogenic Fat : Is Browning A New Approach to the Treatment of Obesity?. Arch Med Res.2017:1–13.DOI: 10.1016/j.arcmed.2017.10.002

3. Neyrinck AM, Bindels LB, Geurts L, Van M, Cani PD, Delzenne NM. J Nutr Biochem. 2017:1–23. DOI: 10.1016/j.jnutbio.2017.07.008

4. Giralt M, Villarroya F. White,Brown,Beige/Brite: Different Adipose Cells for Different Functions?. Endocrinol. 2018;15:2992–3000. DOI:10.1210/en. 2013- 140

5. Kim SH, Plutzky J. Brown Fat and Browning for the Treatment of Obesity and Related. Diabetes Metab J. 2016;40:12–21.

6. Lo KA, Sun L. Turning WAT into BAT : a review on regulators controlling the browning of white adipocytes. Biosci Rep. 2013:711–9. DOI: 10.1042/BSR20130046

7. Kharitonenkov A, Adams AC. Inventing new medicines : The FGF21 story. Mol Metab. 2014;3:221–9.

8. Singhal G, Kumar G, Chan S, Fisher M, Ma Y, Vardeh HG, et al. Deficiency of fibroblast growth factor 21 (FGF21) promotes hepatocellular carcinoma (HCC) in mice on a long term obesogenic diet.MolMetab.2018;13:5666.DOI:10.1016/j.molm

(10)

26 et.2018.03 .002

9. Kilkenny DM, Rocheleau J V. The FGF21 Receptor Signaling Complex : Klotho β,FGFR1c,and Other Regulatory Interactions. 1st ed. Elsevier Inc, 2016. 17-58 p. DOI: 10.1016/bs.vh.2016.02.008

10. Fu T, Seok S, Choi S, Huang Z, Suino-powell K, Xu HE, et al. MicroRNA 34a Inhibits Beige and Brown Fat Formation in Obesity in Part by Suppressing Adipocyte Fibroblast Growth Factor 21 Signaling and SIRT1 Function. Mol Cell Biol. 2014;34(22):4130–42.

11. Cristina T, Bargut L, Souza-mello V, Aguila MB, Mandarim-de-lacerda CA. Browning of white adipose tissue : lessons from experimental models. Horm Mol Biol Clin Invest. 2017:1– 13. DOI: 10.1515/hmbci-2016-0051

12. Kim KH, Lee M. FGF21 as a mediator of adaptive responses to stress and metabolic benefits of antidiabetic drugs. J Endrocinol. 2015;226: R1–R16. DOI: 10.1530/JOE-15-0160

13. Nedergaard J, Cannon B. Brown Adipose Tissue: Development and Function. 5th ed. Elsevier Inc, 354-363p. DOI: 10.1016/B978-0-323-35214-7.00035-4

14. Saito M. Brown Adipose Tissue as a Regulator of Energy Expenditure and Body Fat in Humans. Diabetes Metab J. 2013;22–9.

15. Ge X, Wang Y, Sl K, Xu A. Metabolic actions of FGF21 : molecular mechanisms and therapeutic implications. Acta Pharm Sin B. 2012;2(4):350– 7.DOI:10.1016/j.apsb.2012.06 011

16. Becerril S, Ezquerro S, M L. Crosstalk between adipokines and myokines in fat browning. Act Physiol. 2016;1–20. DOI: 10.1111/apha.12686

17. Reddy NL, Tan BK, Barber TM, Randeva HS. Brown adipose tissue : endocrine determinants of function and therapeutic manipulation as a novel treatment strategy for obesity. BMC Obesity. 2014;1:1–13.

18. Lee SB. Intricate transcriptional networks of classical brown and beige fat cells. Front endocrinol. 2015;6:1–7. DOI: 10.3389/fendo.2015.00124

19. Fisher FM, Maratos-flier E. Understanding the Physiology of FGF21. Annu Rev Physiol. 2016;78:223–41. DOI: 10.1146/annurev-physiol-021115-105339

20. Davis D, Garg C, Lahiri SS. Therapeutic potential of FGF21 in diabetes. JMPS. 2017;5(3):364– 72.

21. Guan D, Zhao L, Chen D, Yu B, Yu J. Regulation of fibroblast growth factor 15/19 and 21 on metabolism : in the fed or fasted state. J Transl Med. 2016;1–7.

22. Yie J, Wang W, Deng L, Tam L, Stevens J, Chen M, et al. Understanding the Physical Interactions in the FGF21/FGFR/β-Klotho Complex : Structural Requirements and Implications in FGF21 Signaling. Chem Biol Drug Des. 2012;398–410.

23. Hondares E, Iglesias R, Giralt A, Gonzalez FJ, Giralt M, Mampel T, et al. Thermogenic Activation Induces FGF21 Expression and Release in Brown Adipose Tissue. J Biol Chem. 2011;286(15):12983– 90.

24. Ng R, Hussain NA, Zhang Q, Chang C, Li H, Fu Y, et al. miRNA-32 Drives Brown Fat Thermogenesis and Trans-activates Subcutaneous White Fat Browning in Mice Article miRNA-32 Drives Brown Fat Thermogenesis and Trans-activates Subcutaneous White Fat Browning in Mice. Cell Reports.2017;19(6):1229–46.DOI:10.1016/j.celrep. 2017.04.035

Gambar

Gambar 1. Jenis jaringan adiposa 13 Klasifikasi Jaringan Adiposa
Gambar 2. Jaringan adiposa coklat berdasarkan  usia 14
Gambar 3. Jalur yang memengaruhi proses pencokelatan 11
Gambar 4. Regulasi FGF21 pada hati 21
+3

Referensi

Dokumen terkait