• Tidak ada hasil yang ditemukan

perancangan kampanye sosial untuk mengurangi jumlah konsumsi sup sirip hiu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "perancangan kampanye sosial untuk mengurangi jumlah konsumsi sup sirip hiu"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli. Copyright and reuse: This license lets you remix, tweak, and build upon work non-commercially, as long as you credit the origin creator and license it on your new creations under the identical terms.. Team project ©2017 Dony Pratidana S. Hum | Bima Agus Setyawan S. IIP.

(2) BAB III METODOLOGI 3.1. Metodologi Pengumpulan Data Penulis dalam mengumpulkan data menggunakan teknik kombinasi, dimana menurut Sugiyono (2013), teknik kombinasi merupakan penggabungan dari teknik pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data yang diguunakan dalam teknik kombinasi adalah tes kuisioner, observasi partisipatori, In Depth Interview, dokumentasi, dan triangulasi. Data yang diperoleh dari teknik pengumpulan data kombinasi merupakan hasil pengukuran dan kualitatif hasil pengamatan (hlm.54). 3.1.1. Observasi partisipatori Pada tanggal 6 Maret 2018 penulis melakukan observasi ke salah satu restoran chinese seafood restaurant yang berlokasi di Jakarta Barat. Penulis memesan sup sirip hiu yang ada pada salah satu halaman menu. Sambil memesan, penulis bertanya mengenai sup sirip hiu. Dari jawaban yang diberikan oleh sang pramusaji dapat disimpulkan bahwa menu sup sirip hiu merupakan menu favorit ketika Imlek ataupun acara ulang tahun. Ada salah satu menu khusus yang disajikan pada Imlek dimana jumlah dari sirip hiu lebih banyak per mangkuk dibandingkan yang bisa dipesan pada hari biasanya.. 39 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018. 39.

(3) Gambar 3.1 Brosur Imlek (1). Gambar 3.2 Menu Restoran (1). Dalam observasi ini penulis turut menjadi pelanggan untuk tahu bagaimana rasa dari sup sirip hiu itu. Penulis memesan menu sup hisit daging kepiting (crab meat shark’s fin soup). Sirip hiu ini nyatanya tidak memiliki rasa sama sekali dan tertutup dengan rasa dari daging kepiting dan kuahnya.. 40 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(4) Gambar 3.3 Sup Hisit. 3.1.2. Dokumen A.. Launching Event #SobatHiuPari. Gambar 3.4 Penulis saat menghadiri Launching Event #SobatHiuPari. Pada tanggal 25 Februari 2018, penulis mengikuti sebuah launching event #SobatHiuPari yang diselenggarakan oleh WCS (Wildlife Conservation Society) dan Rekam Jejak Alam Nusantara di Goethe Institut Jakarta.. 41 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(5) Dalam Launching Event ini, panitia penyelenggara mengadakan diskusi terbuka dan mengundang beberapa narasumber terpercaya yang kompeten dalam bidangnya masing-masing untuk membahas mengenai perlindungan, pemanfaatan, dan pelestarian dari Hiu dan Pari di Indonesia. Narasumber tersebut diantara lainnya adalah Setiyono sebagai perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Efin Mutakin sebagai Perwakilan Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut WCS Indonesia, Elsia Yulianti sebagai Perwakilan dari Yayasan Rekam Nusantara, dan Instruktur Selam Spesialis Konservasi Hiu, Ahmad Mukharror atau yang kerap disapa dengan “mas Gharonk”. Diskusi terbuka ini di moderatori oleh Een Irawan Putra selaku Direktur Indonesia Nature Film Society (INFIS).. Gambar 3.5 Suasana Diskusi Terbuka. Forum diskusi ini mengangkat beberapa isu-isu terkait hiu dan pari di Indonesia yaitu:. 42 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(6) A.. Menurunnya populasi hiu di Indonesia dan juga status Indonesia sebagai penangkap hiu terbesar di dunia yang dikhawatirkan akan semakin buruk akibat overfishing (penangkapan ikan secara berlebihan).. B.. Perlindungan pada hiu baru beberapa spesies saja, sementara semakin banyak juga spesies-spesies yang masuk dalam garis merah (redlist) oleh IUCN.. C.. Metode penangkapan hiu dengan cara tangkapan sampingan yang terjadi secara tidak sengaja (bycatch) dan proses pengambilan sirip hiu di atas kapal (sharkfinning) sudah mendapat kecaman internasional.. D.. Pergeseran penangkapan bycatch menjadi target utama sasaran perburuan nelayan (bytarget). Pak Setiyono selaku Direktorat Konservasi Kementerian Kelautan. dan Perikanan menyampaikan beberapa poin penting mengenai status perlindungan untuk hiu di Indonesia. Status penggolongan perlindungan nasional jenis hiu sendiri terbagi jadi dua yaitu yang dilindungi (hiu paus) dan dilarang untuk diperdagangkan ekspor (hiu martil dan hiu koboi). Sementara perlindungan internasional CITES terbagi ke dalam tiga yaitu Appendix I (tidak diperbolehkan dijual), Appendix II (tidak boleh diperdagangkan ekspor), Appendix III (masih diperbolehkan penjualannya namun dengan kontrol Internasional.. 43 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(7) Beliau mengaku ada beberapa permasalahan yang ditemukan dalam issu perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan Hiu yakni kesulitan untuk mengidentifikasi jenis dan spesies dari hiu karena jumlahnya yang terlalu banyak (kurang lebih 218 spesies) dan setiap 26 diantaranya memiliki kemiripan antara satu jenis dengan jenis yang lain. Selain itu juga ada akurasi data dari hasil tangkapan dan upaya penangkapan hiu yang masih kurang baik, kompleksitas sosial ekonomi yang harus berjalan seimbang dengan pelestarian alam, tingginya permintaan pasar terutama dalam permintaan sirip hiu, informasi perikanan hiu yang masih terbatas, penangkapan anakkan hiu. Program pengelolaan hiu yang telah dilakukan bersama dengan instansi lain yaitu terdiri dari pengimplementasian NPOA hiu, memperkuat basis dari data perikanan hiu, penyusunan regulasi terhadap spesies hiu yang terancam punah, memperkuat posisi Indonesia dalam kerjasama internasional, dan pengaturan pemanfaatan hiu pada level nasional Pak Efin selaku Wildlife Conservation Society Marinne Program mengatakan bahwa Indonesia mendapatkan tempat teratas sebagai produsen sirip hiu, peringkat 3 dalam pengekspor sirip hiu, dan peringkat 7 sebagai pengimpor sirip hiu terbesar. Pada kenyataanya, komposisi hiu yang tertangkap secara bycatch didominasi oleh hiu yang terancam punah baik endangered vulnerable sampai near threatened yaitu adalah hammerhead shark, silky shark, dan threser shark.. 44 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(8) Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan populasi hiu secara. global,. yaitu. eksploitasi. penangkapan. yang. berlebihan. (overfishing), kerusakan habitat, dan juga perubahan iklim global. Namun memang dari tiga faktor tersebut, yang paling utama yaitu faktor overfishing. Hal ini dipicu oleh permintaan produk hiu termasuk sirip yang cukup besar. Hampir 95% nelayan Indonesia terdiri dari nelayan kecil yang tidak memerlukan izin penangkapan dan pendataan dalam hasil tangkapannya. Dimana hal tersebut merupakan salah satu tantangan tersendiri mengenai pengelolaan hiu. Dengan adanya kesulitan dalam pengelolaan hiu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan yakni: perlindungan spesies-spesies prioritas, perlindungan habitat penting, pengaturan alat tangkap mengurangi tekanan perikanan dan tangkapan sampingan, alternatif mata pencaharian untuk nelayan, meningkatkan kesadaran dan kepedulian para pihak dan menjadi konsumen bijak yang mengerti apakah bahan makanan yang dimakan berasal dari yang baik, tidak merusak lingkungan, dan juga bermanfaat bagi kesehatan.. 45 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(9) B.. Video “Ocean and Us”. Gambar 3.6 Video "Ocean and Us" http://inaturefilms.org/work/ocean-and-us-film/. Hal yang dilakukan penulis adalah menggunakan video dokumenter yang berjudul "Ocean and Us" sebagai salah satu sarana penelitian untuk menambah wawasan penulis terkait perancangan kampanye sosial pencegahan konsumsi sup sirip hiu. Video "Ocean and Us" ini diproduksi oleh INFIS (Indonesia Nature Film Society) pada tahun 2017. Video berdurasi 18 menit 55 detik ini merangkum bagaimana fenomena sharkfinning dan rantai perdangangannya. Video ini mendokumentasikan beberapa nelayan Tanjung Luar tersebut adalah nelayan yang memang khusus hanya untuk berburu ikan hiu di Samudra Hindia. Sekali berlayar nelayan tersebut membutuhkan waktu dua minggu untuk memenuhi muatan kapal dengan hasil buruan mereka. Nelayan mengaku menangkap ikan hiu, memukul kepala ikan hiu sampai lemas, memotong sirip-siripnya dan kemudian dilempar kembali ke laut dalam kondisi masih hidup. Sirip hiu dibuat menjadi hidangan kuliner dengan harga yang mahal di pasaran.. 46 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(10) Harga yang ditawarkan berdasarkan ukuran dari sirip hiu. Inilah faktor utama mengapa hiu banyak diburu oleh nelayan di Indonesia. Dwi Ariyoga Gautama selaku Koordinator Bycatch Conservation Shark di World Wildlife Fund Indonesia mengatakan bahwa perdagangan hiu itu merupakan hal yang cukup kompleks. Dimana seluruh badan hiu itu dijual tetapi produk umum dari hiu itu adalah siripnya. Bukan hanya untuk di ekspor, di pasar domestik juga permintaan untuk hiu tidak kalah besar. Berdasarkan survei yang dilakukan dari WWF pada tahun 2013 di kota-kota besar di Indonesia, ternyata Jakarta terbukti merupakan tempat pengolahan hiu dan yang angka konsumsinya juga tinggi. Sementara dari segi kepercayaan masyarakat akan kesehatan dari sirip hiu, Prof. Dr. Nurjanah, MS dari Staff Department Technology Aquatic Product Fisheries and Marine Faculty dari IPB (Institut Pertanian Bogor) memberi klarifikasi bahwa masalah utama hewan yang berada di top predator itu adalah terakumulasinya residu dari berbagai logam berat. Hiu sendiri merupakan predator tertinggi pada ekosistem laut yang menjaga keseimbangan ekosistem laut dan habitat di dalamnya. Studi dari Wildlife Conservation Society (WCS) menunjukkan ekosistem terumbu karang yang terdapat hiu di dalamnya memiliki keanekaragaman hayati yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekosistem terumbu karang yang tidak terdapat hiu di dalamnya.. 47 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(11) Yudi Herdiana yang merupakan Marine Program Manager Wildlife Conservation Society di dalam video tersebut menyatakan bahwa sebagai predator tinggi di ekosistem laut, hiu memiliki beberapa peran penting. Pertama hiu akan menjaga keseimbangan rantai makanan yang berada di bawahnya. Beliau mengatakan bahwa hal ini karena hiu memakan ikan-ikan yang cenderung sakit dan tua. Fungsi hiu yang kedua adalah untuk memastikan bahwa populasi ikan-ikan dilaut tetap sehat. Fungsi hiu yang ketiga adalah untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut. Beberapa spesies hiu di Indonesia sudah masuk appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) dimana hiu yang masuk appendix II ini adalah hiu yang terancam punah apabila perdagangannya berlanjut dan tidak ada yang mengatur perdagangan tersebut sehingga menimbulkan overfishing. Arifsyah M Nasution selaku Marine Campaigner of Greenpeace Indonesia menuturkan bahwa ada dua jenis hiu yang dilindungi oleh Indonesia yaitu jenis hiu gergaji yang sudah dilindungi sejak tahun 1999 dan hiu paus yang dilindungi secara penuh sejak tahun 2013. Sedangkan spesies. hiu. yang. lainnya. seperti. hiu. martil. masih. dibatasi. pengendaliannya. Beliau berkata bahwa persoalan kuliner sebenarnya tidak hanya ketika mengonsumsi sirip hiu, namun bagaimana ada cerita dibaliknya mengenai sumber daya ikan lain yang dikorbankan akibat konsumsi sirip hiu.. 48 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(12) Dari video ini dapat disimpulkan bahwa kerjasama dari berbagai pihak, dari pemerintah, nelayan, produsen, hingga konsumen juga diperlukan dengan tujuan menjaga kelestarian hiu. Sudah menjadi kodrat manusia untuk memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjaga alam dan kelestariannya untuk generasi-generasi mendatang. C.. Brosur dan Menu Restoran Penulis pada tanggal 22 Februari 2018 mengunjungi salah satu restoran chinese food kelas atas yang berlokasi di Summarecon Mall Serpong. Penulis berpura-pura untuk menjadi konsumen dan melihat buku menu yang diletakkan di depan pintu masuk, lalu penulis meminta brosur paket makanan yang ditawarkan pada saat Imlek tahun ini. Berikut foto brosur Imlek yang di dapatkan penulis:. Gambar 3.7 Brosur Imlek (2). 49 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(13) Gambar 3.8 Brosur Imlek (3). D.. Artikel sejarah sup sirip hiu Artikel mengenai sejarah sup sirip hiu ini dikutip dari website sharktruth.com, (diakses pada tanggal 26 Februari 2018). Terdapat berita mengenai sejarah sup sirip hiu yang berjudul History of Shark Fin Soup.. Gambar 3.9 Artikel Sejarah Sup Sirip Hiu (http://www.sharktruth.com/learn/history-of-shark-fin-soup/). Pada artikel tersebut diceritakan bahwa sejarah sup sirip hiu berawal dari kaisar pada zaman Dinasti Song (986 M) yang ingin menununjukkan rasa kekayaan dan kemurahan hati kepada tamu perjamuannya. Pada masanya, menyajikan hidangan yang mahal menandakan rasa hormat. Beberapa hidangan mahal yang dimaksud, termasuk dalam kategori The Big Four, yaitu abalone, fish maw, teripang,. 50 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(14) dan sirip hiu. Pengonsumsian ini dipakai pula sebagai perjamuan pernikahan. Dalam adat tradisional pernikahan Cina, sisi mempelai lakilaki harus memberikan sebuah tanda pernikahan sebagai bentuk penunjukkan suatu status sosial dan rasa hormat kepada keluarga mempelai perempuan. Salah satu yang sering digunakan dalam hal tersebut adalah pemberian sirip hiu sebagai tanda perjamuan pernikahan. Meskipun hanya tradisi belaka, hal tesebut sudah tertanam dalam penunjukan ‘wajah’ atau status dan rasa hormat dalam menjamu tamu dalam berbagai perayaan, salah satunya juga berlaku pada perayaan Imlek.. E.. Artikel berita dari internet Adapun penulis melakukan studi pustaka dengan menggunakan artikelartikel berita yang dimuat dalam internet terkait dengan perlindungan hiu di Indonesia maupun berita terkait sup sirip hiu. Berikut adalah artikelartikel yang dimaksud oleh penulis: 1.. Diambil dari website republika.co.id pada tahun 2017, (Diakses pada tanggal 24 Februari 2018). Terdapat berita mengenai larangan penangkapan hiu yang berjudul KKP Larang Nelayan Buru Hiu dan Pari Manta.. 51 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(15) Gambar 3.10 Artikel Larangan Penangkapan Hiu (http://republika.co.id/). 2.. Diambil dari website WWF.or.id pada tahun 2017, (diakses pada tanggal 27 Februari 2018). Terdapat berita mengenai konsumsi hiu dalam budaya dan status sosial yang berjudul Hiu Diantara Budaya dan Status Sosial.. Gambar 3.11 Artikel Hiu Diantara Budaya dan Status Sosial. (https://www.wwf.or.id/ruang_pers/berita_fakta/news_marine.cfm?54763/Hiudiantara-Budaya-dan-Status-Sosial). 3.. Diambil dari website mongabay.co.id pada tahun 2017, (diakses pada tanggal 24 Februari 2018). Terdapat berita mengenai mitos sirip hiu dalam budaya Imlek yang berjudul Ada Mitos Sirip Hiu dalam Perayaan Imlek, Seperti Apa Itu?. 52 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(16) Gambar 3.12 Artikel Mitos Hiu dalam Imlek. (http://www.mongabay.co.id/2017/01/26/ada-mitos-sirip-hiu-dalam-perayaanimlek-seperti-apa-itu/). 4.. Diambil dari website cnnindonesia.com pada tahun 2016, (diakses pada tanggal 23 Februari 2018). Terdapat berita mengenai sirip hiu dalam Imlek yang berjudul Kontroversi Sirip Hiu Saat Imlek.. Gambar 3.13 Artikel Kontroversi Hiu Saat Imlek. (https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160205145643-262109156/kontroversi-hidangan-hiu-saat-imlek). 6.. Diambil dari website mongabay.co,id pada tahun 2015, (diakses pada tanggal 28 Februari 2018). Terdapat berita rencana perlindungan. pengelolaan. hiu. yang. Indonesia. Siap. Implementasikan Rencana Aksi Konservasi Hiu Dan Manta. 53 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(17) Gambar 3.14 Artikel Rencana Perlindungan Pengelolaan Hiu. (http://www.mongabay.co.id/2015/06/29/indonesia-siap-implementasikanrencana-aksi-konservasi-hiu-dan-manta/). F.. Kampanye yang sudah ada Kampanye #SOSHARK Save Our Sharks atau dengan singkatan #SOSharks adalah sebuah kampanye yang dibuat oleh WWF Indonesia dalam aksi menghentikan penjualan hiu di pasar swalayan, toko online, dan promosi kuliner hiu oleh restoran di media massa. Selain itu dengan disertai ‘hashtag (#)’ di depan kata SOSharks, kampanye ini bermaksud untuk mendorong publik dan menyatukan aksi melalui media sosial yang dapat dijalankan oleh setiap individu.. 54 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(18) Gambar 3.15 Logo #SOShark (http://www.wwf.or.id). Gambar 3.16 Infografis #SOShark (https://lookinsta.com/explore/SharkWeek.html). Kampanye FINished with FINS Kampanye bertajuk FINished with FINS merupakan kampanye yang dibuat oleh WildAid dan bekerja sama dengan Shark Savers. Kampanye ini merupakan kampanye ketiga coba diselenggarakan pada tahun 2012 dan berawal di Singapura. Kampanye ini menggunakan sejumlah artis lokal, public figure, dan beberapa pemimpin komunitas yang beretnis. 55 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(19) Tionghua untuk mendeklarasikan diri mereka bahwa mereka ‘sudah selesai’ dengan sirip hiu. Pernyataan tersebut merupakan slogan dari kampanye ini yaitu “Finished with shark fins”. Selain mengajak konsumen untuk tidak mengonsumsi Sup Sirip Hiu, kampanye I’m FINished with FINS ini juga mengajak sejumlah pemimpin perusahaan untuk tidak menyediakan Sup Sirip Hiu sebagai hidangan dalam acara apapun. Setidaknya ada 10 perusahaan yang telah menyatakan dirinya untuk tidak mempromosikan, menjual, dan mengonsumsi Sup Sirip Hiu. Kampanye ini menggunakan media berupa billboard yang dipasang di 80 titik lokasi di Singapura. Sejumlah 58 artis lokal Singapura telah mengikuti kampanye untuk tidak mengonsumsi sup sirip hiu dan kemudian menjadi model potrait untuk billboard tersebut. Pada tahun 2013, I’m FINished with FINS menyebarluas ke Taiwan dan Hongkong dan bekerja sama dengan LUSH, merek handmade kosmetik terkemuka untuk mengeluarkan produk “Shark Fin Soap, not Soup” yang dimana tentunya sabun ini tidak berbahan dasar sirip hiu, hanya saja menggunakan bentuk sirip hiu.. 56 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(20) Gambar 3.17 Poster FINished with FINS. (http://www.go.asia/im-finished-with-fins/). Gambar 3.18 Shark Fin's Soap (http://haileygrace-n-beauty.blogspot.co.id/2014/09/beauty-lush-shark-fin-soap.html). 57 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(21) 3.1.3. Wawancara A.. Wawancara dengan Mongabay Indonesia Wawancara ini dilakukan dengan Pak Ridzki Sigit selaku Program Manager dari Mongabay Indonesia, salah satu situs ternama yang menyediakan berita-berita terpercaya mengenai lingkungan. Wawancara ini dilakukan pada tanggal 25 Februari 2018 tepat setelah penulis menghadiri Launching Event #SobatHiuPari. Pada wawancara ini penulis banyak bertanya kepada Pak Ridzki mengenai informasi seputar hiu di Indonesia menurut artikel Mongabay Indonesia.. Gambar 3.19 Proses Wawancara dengan Pak Ridzki. Fenomena Sharkfinning Pak Ridzki dalam wawancara mengatakan bahwa fenomena sharkfinning berhubungan dengan perekonomian nelayan. Bergesernya metode tangkapan sampingan (bycatch) pada hiu sudah mulai banyak yang menjadi tangkapan utama para nelayan (bytarget) dimana hal ini disebabkan harga sirip yang cenderung tinggi di pasaran. Selain itu,. 58 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(22) melalui pembelajaran rantai perdagangan yang terjadi, sharkfinning juga dipicu akibat tingginya permintaan pada pasar luar negeri maupun pasar domestik di kota-kota besar di Indonesia. Beliau juga menuturkan bahwa tidak ada spesies hiu tertentu dalam sharkfinning. Mengingat setelah jadi bahan olahan atau hidangan sirip hiu, spesies hiu tersebut sudah tidak bisa teridentifikasi lagi. Populasi Hiu Cenderung Semakin Menurun Pak Ridzki mengatakan bahwa populasi hiu memang benar cenderung menurun, hal ini terlihat jelas dari penelitian WCS (Wildlife Conservation Society), nelayan dari Tanjung Luar maupun Aceh mengatakan bahwa mereka harus mengarungi laut lebih jauh lagi dari garis pantai untuk mendapatkan hiu. Waktu yang ditempuh juga semakin lama untuk mendapatkan hiu tersebut. Sampai sekarang tidak ada satupun yang bisa mengadakan survei untuk menghitung berapa jumlah populasi hiu di lautan. Maka pernyataan populasi hiu menurun itu biasanya dihitung dari hasil tangkapan. Permasalahan Perlindungan Hiu di Indonesia Kurangnya perlindungan hiu di Indonesia disebabkan oleh faktor data yang kurang baik termasuk akurasi data penangkapan ikan hiu oleh nelayan. Apabila dilihat dari siripnya saja, maka akan sulit teridentifikasi apa spesies hiu tersebut. Apakah itu dilindungi atau yang bukan dilindungi. Maka banyak himbauan dari beberapa LSM di Indonesia untuk 59 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(23) tidak mengonsumsi dan membeli olahan hiu apapun termasuk sirip. Karena bisa saja sirip tersebut berasal dari spesies yang dilindungi. Menurut Pak Ridzki, memang diperlukanlah sebuah kampanye yang dapat membahas tuntas mengenai mitos yang beredar di masyarakat agar masyarakat ‘enggan’ untuk membeli ataupun mengonsumsi bahan olahan hiu termasuk pada siripnya. B.. Wawancara dengan WWF Indonesia Wawancara yang kedua dilakukan dengan tim dari WWF Indonesia yang khusus menangani kampanye dan konservasi hiu di Indonesia. Tim dari WWF Indonesia yang berkesempatan untuk melakukan wawancara adalah Bapak Dwi Aryo Tjiptohandono selaku Communication Coordinator for Marine Issue atau kerap disapa dengan Pak Aryo dan Mas Dwi Ariyoga Goutama selaku Bycatch and Shark Conservation Coordinator atau yang kerap disapa dengan Mas Yoga. Wawancara ini dilakukan di kantor pusat WWF di Graha Simatupang pada tanggal 28 Februari 2018.. Gambar 3.20 Proses Wawancara dengan Tim WWF Indonesia. 60 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(24) Gambar 3.21 Foto Bersama Tim WWF. Berikut hasil wawancara dari penulis dengan Tim WWF Indonesia seputar sharkfinning dan kampanye yang dilakukan oleh WWF Indonesia terkait perlindungan hiu: Fenomena Sharkfinning Sharkfinning adalah sebuah praktek animal welfare dan memang terjadi di perairan laut Indonesia. Nelayan yang melakukan sharkfinning, hanya mengambil bagian sirip hiu yang memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi dibandingkan dagingnya. Maka nelayan membuang ‘sisa’ dari hiu ke laut dalam secara masih hidup. Biasanya sharkfinning dilakukan oleh nelayan kapal besar yang bertujuan untuk menangkap Tuna, namun tidak sengaja hiu ikut tertangkap (bycatch). Bukan hanya itu, ada juga kasus oleh nelayan kapal kecil yang memang berburu hiu secara disengaja (bytarget). Mereka yang melakukan bytarget ini memburu hiu dan semuanya dibawa ke tempat pemotongan ikan secara utuh. Namun karena nilai ekonomis yang lebih tinggi, ada juga nelayan kecil yang berani menembus wilayah konservasi hiu di Raja Ampat dan melakukan praktek. 61 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(25) sharkfinning agar tidak ketahuan perburuannya. Peraturan Internasional (Indian Ocean Tuna Commision resolusi 05/05) mengatur untuk tidak boleh melakukan praktek sharkfinning karena akan berimbas pada pemotongan kuota ekspor Tuna. Sementara selain sharkfinning nelayan kecil juga banyak yang menangkap anakkan hiu untuk diperdagangkan di pasar domestik dimana sudah diatur dalam Perarturan Kementerian Kelautan dan Perikanan no. 12 tahun 2012 bahwa tidak boleh menangkap anakkan hiu maupun hiu yang sedang hamil. Peraturan-peraturan tersebut berlaku untuk semua spesies hiu. Pandangan WWF Mengenai Sup Sirip Hiu WWF telah melakukan himbauan kepada masyarakat untuk berhenti membeli apalagi mengonsumsi bahan olahan hiu termasuk salah satu fokusnya adalah sirip. Alasan mengenai mengapa fokus kepada sirip hiu adalah karena memang sirip hiu itulah yang paling tinggi permintaannya dibanding bagian hiu yang lain dari pasar internasional maupun pasa domestik. Tingkat ilegal untuk sirip hiu lebih besar daripada bagian hiu lainnya. Dimana nelayan yang melakukan sharkfinning itu biasaya membawa hasil tangkapan sirip hiu ke tempat pemotongan ikan dan tidak bisa diidentifikasi lagi spesiesnya. Meskipun ditinjau dari peraturan ekspor bahwa sirip hiu harus di tes DNA terlebih dahulu untuk membuktikan berasal dari yang bukan dilindungi, tetap banyak pedagang nakal yang mencampur sirip hiu kering yang siap ekspor itu dengan sirip hiu yang tidak lolos tes DNA (yang berasal dari spesies dilindungi). Sementara 62 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(26) kualitas sirip yang tidak memenuhi standar ekspor tersebut biasanya banyak beredar di pasar domestik. Menurut data survei WWF tahun 2013 dari 4 kota besar di Medan, Surabaya, Makassar, dan Jakarta, konsumen tertinggi ada di Jakarta dengan angka 15 ton pertahunnya. Permintaan tertinggi berada di bulan November-Desember dimana sirip hiu yang dipesan tersebut akan digunakan untuk perayaan Imlek di tahun mendatang. Kemudian WWF melakukan pendataan kembali pada tahun 2016 dan didapatkannya penurunan dari 24 restoran yang menjual, sekarang tinggal sisa 10 restoran. Namun hal ini tidak mengalami penurunan yang cukup signifikan dimana dari 10 restoran tersebut ternyata permintaan sirip hiu yang masih ada di angka 12 ton. Hal ini ternyata dimanfaatkan oleh beberapa restoran sebagai keuntungan yang besar sehingga 1 dari 10 restoran tersebut mengaku bahwa mereka ‘kebanjiran order’ menjelang perayaan Imlek. Mengenai segi kesehatan, tidak ada manfaat dari sirip hiu yang terbukti secara medis memberikan berbagai manfaat kesehatan. Namun FDA (Food and Drugs Association) dan disusul oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengatakan bahwa hiu mengandung merkuri yang di atas batas normal yaitu 1-4ppm. Kampanye #SOSHARK dan #ImlekBebasHiu Baik dalam kampanye #SOSHARK atau #SaveOurShark maupun #ImlekBebasHiu memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengurangi jumlah perdagangan maupun konsumsi dari bahan olahan hiu termasuk sirip hiu. Fokus dari kampanye #SOShark adalah agar restoran tidak 63 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(27) mempromosikan atau memperdagangkan sup sirip hiu dan himbauan kepada konsumen untuk tidak mengonsumsi dan melaporkan apabila ada yang menjual bahan olahan hiu salah satunya adalah sup sirip hiu. Kampanye ini dilakukan untuk kota-kota besar di Indonesia terutama di Jakarta atas dasar data yang didapatkan bahwa konsumsi terbesar berada di Jakarta. Target untuk konsumen dari kampanye ini adalah mereka yang berstatus ekonomi sosial menengah atas dan kelas atas baik untuk dewasa muda sampai dewasa awal yang menggunakan media sosial. Media yang digunakan berupa media digital seperti sosial media dan internet. Media offline jarang digunakan meskipun ada beberapa waktu melakukan diskusi terbuka. Hal yang telah dilakukan dalam kampanye #SOSHARK selain untuk menghimbau produsen dan konsumen adalah untuk mengajak restoran maupun hotel kerjasama menjadi mitra kampanye #SOSHARK. Dimana restoran atau hotel tersebut mengeluarkan pernyataan untuk tidak menjual sup sirip hiu atau bahan olahan hiu lainnya. Sementara untuk kampanye #ImlekBebasHiu merupakan kampanye yang bermula dari penggabungan WWF dan beberapa mitra kerja bersama peneliti-peneliti hiu di Indonesia dan baru dimulai pada tahun 2017 dimana diadakannya diskusi terbuka “Menghilangkan Hiu dari Menu”. #ImlekBebasHiu ini dilatar belakangi melalui data survei WWF tahun 2013 mengenai tingginya permintaan sirip hiu menjelang perayaan Imlek. Melalui diskusi terbuka tersebut disampaikan oleh pakar kuliner dan budaya Tionghua, Pak Aji Bromokusumo mengenai hidangan sup sirip hiu menurut. 64 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(28) pandangan etnis Tionghua. Dalam presentasinya dikatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi etnis Tionghua untuk mengonsumsi sup sirip hiu dimana artinya hidangan ini dapat tergantikan oleh hidangan lain yang memiliki makna filosofis yang sama indahnya. Target dari kampanye Imlek Bebas Hiu ini berfokus pada produsen (restoran) untuk tidak mempromosikan menu sup sirip hiu dalam bentuk apapun. Namun pada kenyataannya masih banyak ditemukan brosur yang beredar. C.. Wawancara dengan Pakar Kuliner dan Budaya Tionghoa Wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan Pakar Kuliner dan Budaya Tionghoa membahas mengenai pembenaran mitos menurut pandangan. dari. sejarah. budaya. Tionghoa.. Menurut. Pak. Aji. Bromokusumo, tidak ada satupun sejarah Tionghoa yang menceritakan bahwa sup sirip hiu dapat memberikan kemakmuran dan kekayaan maupun efek kesehatan. Hal tersebut hanyalah iming-iming mengenai suatu yang dipercayai masyarakat Tionghoa pada zaman dahulu. Semakin susah didapatkannya suatu bahan makanan, maka akan semakin ‘bernilai’ makanan tersebut. Beliau sendiri menegaskan bahwa tidak ada sejarah yang dapat membuktikan bahwa sup sirip hiu wajib dikonsumsi saat perayaan Imlek ataupun perayaan lainnya.. 65 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(29) Gambar 3.22 Foto Bersama Pakar Kuliner dan Budayawan Tionghoa. 3.1.4. Kuesioner Kuesioner dilakukan dengan metode purposive sampling. Menurut Sugiyono (2013) yang dimaksud dengan purposive sampling adalah teknik untuk menentukan sampel dengan suatu pertimbangan tertentu (hlm.156). Kuisioner ini disebarkan secara online melalui media sosial seperti Line, Whatsapp, dan Instagram pada tanggal 8-12 Maret 2018. Kuisioner ini diisi oleh 121 responden. Kuisioner ini dihitung dengan rumus Slovin. Margin of Error dari kuisioner ini sebanyak 10%. Tujuan dari dibuatnya kuisioner ini adalah untuk mengetahui seberapa banyak masyarakat etnis Tionghoa di Jakarta yang masih mengonsumsi sup sirip hiu saat perayaan Imlek 2018, tentang apa yang mereka percayai mengenai sup sirip hiu, dan bagaimana pengetahuan mereka tentang fenomena dibalik sup sirip hiu tersebut.. 66 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(30) 3.1.4.1.. Analisis Kuisioner. Kuisioner ini dibagi kedalam 3 bagian yaitu data diri responden, tentang sup sirip hiu, dan tentang fenomena dan kampanye terkait pelestarian hiu di Indonesia oleh WWF.. Gambar 3.23 Responden yang Merayakan Imlek. Berdasarkan diagram di atas, dari 121 responden, yang merayakan Imlek berjumlah 112 (92,6%) dan yang tidak merayakan Imlek berjumlah 9 orang (7,4%).. Gambar 3.24 Domisili Responden. Diagram selanjutnya menunjukkan pembagian domisili dari masing-masing responden. Sebanyak 35 orang (28,9%) responden tinggal di Jakarta Utara, 33 orang (27,3%) tinggal di Jakarta Barat, 21 orang 67 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(31) (17,4%) di Jakarta Selatan, 19 orang (15,7%) tinggal di Jakarta Pusat, 9 orang (7,4%) tinggal di luar Jakarta, dan 4 orang (3,3%) tinggal di Jakarta Timur.. Gambar 3.25 Responden yang Pernah Mengonsumsi Sup Sirip Hiu. Diagram di atas merupakan diagram dari pertanyaan pertama dalam bagian kedua yaitu bagian pertanyaan mengenai konsumsi sup sirip hiu.. Sebanyak. 102. orang. (84,3%). responden. mengaku. pernah. mengonsumsi Sup Sirip Hiu dan 19 orang (15,7%) responden mengaku tidak pernah mengonsumsi Sup Sirip Hiu.. 68 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(32) Gambar 3.26 Responden yang Mengonsumsi Saat Imlek 2018. Diagram di atas menunjukan bahwa sebanyak 73 orang (60,3%) responden mengonsumsi sup sirip hiu pada saat Imlek tahun 2018 dan 47 orang (39,7%) tidak mengonsumsi sup sirip hiu pada saat Imlek tahun 2018.. Gambar 3.27 Kewajiban Sup Sirip Hiu Saat Imlek Menurut Responden. Dalam praktiknya, penulis ingin mengetahui seberapa banyak responden yang menganggap bahwa mengonsumsi sup sirip hiu itu merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan pada saat perayaan. 69 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(33) Imlek. Sebanyak 68 orang (56,2%) responden menganggap sup sirip hiu sebagai hidangan wajib dalam Imlek dan sebanyak 53 orang (43,6%) responden menganggap hal yang sebaliknya.. Gambar 3.28 Tempat Responden Mengonsumsi Sup Sirip Hiu. Terkait. dengan. pertanyaan. mengenai. mengonsumsi sup sirip hiu, diagram tersebut. tempat. responden. menunjukan bahwa. sejumlah 77 orang (63,6%) responden menjawab restoran, 14 orang (11,6%) responden menjawab rumah saudara, 6 orang (5%) responden menjawab di rumah sendiri, 5 orang (4,1%) responden menjawab di rumah kerabat, dan 19 orang (15,7%) responden menjawab belum pernah mengonsumsi sup sirip hiu.. 70 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(34) Gambar 3.29 Motivasi Responden Mengonsumsi Sup Sirip Hiu. Pada pertanyaan dalam kuisioner tersebut mengandung beberapa pilihan jawaban terkait mitos manfaat kesehatan dari sup sirip hiu yang belum dapat dibuktikan secara medis manfaatnya. Dari hasil kuisioner tersebut, jumlah responden yang mempercayai bahwa sup sirip hiu dapat menjaga dan merawat kulit berjumlah 24 orang (19,8%), dapat memberikan semua pilihan manfaat kesehatan berjumlah 23 orang, dapat memberikan umur yang panjang berjumlah 12 orang (9,9%), dapat menurunkan kolesterol berjumlah 11 orang (9,1%), dapat efek awet muda berjumlah 9 orang (7,4%), dapat memberi manfaat baik untuk jantung, meningkatkan stamina, dan meningkatkan nafsu makan masing masing berjumlah 4 orang (3,3%), menambah kejantanan berjumlah 1 orang (0,8%), dan 19 orang lainnya belum pernah mengonsumsi sup sirip hiu. Sementara di balik itu ada 10 orang (8,3%) responden yang tidak mempercayai semua pilihan manfaat kesehatan.. 71 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(35) Gambar 3.30 Kepercayaan Responden. Berdasarkan hasil kuisioner, sebanyak 80 orang (66,1%) responden mengonsumsi sup sirip hiu untuk menunjukkan status sosial dan sisa 41 (33,1%) orang responden lainnya tidak.. Gambar 3.31 Pengetahuan Responden tentang Sharkfinning. Berdasarkan data responden, sebanyak 69 orang (57%) responden tidak mengetahui sharkfinning dan sebanyak 52 orang (43%) responden mengetahuinya.. 72 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(36) Gambar 3.32 Pengetahuan Responden tentang overfishing hiu. Gambar 3.33 Pengetahuan Responden tentang Fenomena. Berdasarkan diagram diatas, sebanyak 84 orang (69,4%) responden tidak mengetahui bahwa populasi ikan hiu di Indonesia menurun akibat overfishing dan sebanyak 37 orang (30,6%) mengetahui mengenai hal tersebut. Sementara sebanyak 107 orang (88,4%) responden tidak tahu mengenai fakta bahwa Indonesia sebagai produsen sirip hiu terbesar di dunia dan sebanyak 14 orang (11,6%) responden mengetahui hal tersebut.. 73 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(37) Gambar 3.34 Pengetahuan Responden tentang Kampanye #SOShark. Gambar 3.35 Pengetahuan Responden tentang Imlek Bebas Hiu. Sebelumnya penulis sudah memberikan gambaran mengenai kampanye #SOShark ini, namun 98 orang (81%) responden tidak mengetahui kampanye #SOShark sementara 23 orang (19%) responden lainnya mengetahui tentang kampanye tersebut. Mengenai Imlek Bebas Hiu, sejumlah 109 orang (90,1%) responden tidak mengetahui Imlek Bebas Hiu dan 12 orang (9,9%) responden lainnya mengetahui Imlek Bebas Hiu.. 74 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(38) 3.1.4.2.. Kesimpulan Kuisioner. Dari hasil analisis kuisioner, diketahui mayoritas responden merayakan Imlek, berdomisili di Jakarta dan pernah mengonsumsi sup sirip hiu. Sebanyak 73 dari 112 orang responden mengonsumsi sup sirip hiu pada perayaan Imlek 2018 dan sebanyak 68 orang dari 112 orang responden mempercayai bahwa sup sirip hiu merupakan hidangan wajib saat Imlek. Mayoritas responden mengonsumsi sup sirip hiu di restoran. Sejumlah 111 orang responden mempercayai bahwa sup sirip hiu dapat memberikan manfaat bagi kesehatan dan 80 orang responden mengonsumsi sup sirip hiu sebagai penunjukkan status sosial atau simbol kemakmuran dan kekayaan. Belum banyak responden yang mengetahui mengenai sharkfinning, penurunan populasi hiu akibat overfishing, dan fakta bahwa Indonesia merupakan produsen sirip hiu terbesar di dunia. Hal lainnya adalah belum banyak responden yang mengetahui kampanye #SOShark dan Imlek Bebas Hiu. 3.1.5. Kesimpulan pengumpulan data Setelah Penulis mengumpulkan data melalui observasi partisipatori, dokumen, wawancara, dan kuisioner Penulis dapat menyimpulkan suatu kesimpulan bahwa hidangan sup sirip hiu merupakan hidangan Imlek yang kontroversial dimana di balik fenomenanya, terdapat fakta bahwa penurunan populasi perikanan hiu di Indonesia sudah mencapai tahap yang cukup memprihatinkan. Hal ini terbukti dari banyaknya spesies hiu yang masuk ke dalam Apendix II CITES (3 jenis hiu martil dan jenis hiu koboi) akibat penurunan populasi hiu di perairan dunia. 75 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(39) termaksud di Indonesia. Dikhawatirkan beberapa populasi hiu yang termasuk di Apendix II CITES tersebut akan terancam kepunhanannya apabila overfishing terus terjadi. Terjadinya sharkfinning bukan hanya karena permintaan besar dari pasar Internasional namun juga dari pasar domestik termasuk salah satunya adalah Jakarta sebagai konsumen sirip hiu terbesar di Indonesia. Dimana kegiatan tersebut berkontribusi pada penurunan populasi hiu di Indonesia yang akan berujung pada kerusakan ekosistem laut dan ketahanan pangan Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional dan oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) seperti WWF Indonesia dalam mengkampanyekan hal ini. Selama perencanaan perlidungan pengelolaan dan pemanfaatan hiu dan kampanye dilaksanakan, konsumen diharapkan untuk ikut berkontribusi dengan cara tidak mengonsumsi bahan olahan hiu termasuk salah satunya adalah sirip hiu. Ditinjau dari hasil kuisioner, diketahui bahwa masih ada beberapa yang mempercayai bahwa hidangan sup sirip hiu memberikan manfaat kesehatan dan dijadikan makanan bergengsi untuk menunjukkan status sosial. Beberapa orang masih menganggap makan sup sirip hiu pada saat Imlek itu wajib, namun pada kenyataannya tidak. Mitos-mitos inilah yang harus diluruskan agar setidaknya pemikiran masyarakat mengenai sup sirip hiu dapat lebih terbuka sehingga tidak lagi mengonsumsi sup sirip hiu dan membantu mengurangi jumlah permintaan sirip hiu di pasar domestik.. 76 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(40) 3.2. Metodologi Perancangan 3.2.1. Perancangan Kampanye Penulis dalam perancangan kampanye sosial untuk mengurangi jumlah konsumsi sup sirip hiu menggunakan model kampanye dari Nowak dan Warneryd. Adapun penerapannya adalah sebagai berikut: 1.. Efek yang ingin dicapai Penulis mengidentifikasi dan menganalisa permasalahan-permasalahan yang terjadi, kemudian penulis menentukan efek yang ingin dicapai dari perancangan kampanye sosial ini yaitu untuk mengurangi jumlah konsumen yang masih mengonsumsi sup sirip hiu dalam perayaan Imlek.. 2.. Menentukan persaingan komunikasi Dalam praktiknya, penulis menemukan persaingan komunikasi atau hal yang bertolak belakang dengan kampanye yang akan dibuat yaitu beberapa restoran yang masih mempromosikan hidangan sup sirip hiu dalam menu paket khusus perayaan Imlek. Selain itu sedikitnya pengetahuan responden akan fakta dibalik mitos seputar sup sirip hiu merupakan suatu tantangan bagi penulis dalam perancangan kampanye ini.. 3.. Menentukan target populasi dan kelompok penerima Target populasi dari kampanye ini ditentukan dari hasil wawancara penulis dengan WWF bahwa konsumsi terbesar terjadi di Jakarta. Jadi yang menjadi target populasi kampanye ini adalah masyrakat Jakarta. Melalui. 77 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(41) diskusi dengan WWF mengenai permintaan tinggi sirip hiu saat perayaan Imlek, maka kelompok penerima adalah peranakan Tionghoa Indonesia yang tinggal di Jakarta dengan umur 20-30 tahun dan memiliki SES AB+. 4.. Menentukan isi pesan, visual komunikasi, dan media kampanye Dalam sebuah kampanye, pesan sungguhlah berperan penting. Maka dari itu pada tahapan ini penulis menentukan isi pesan kampanye yang ingin disampaikan berdasarkan seluruh proses analisa pengumpulan data yang ditentukan. Kemudian penulis menentukan strategi dan konsep dari perancangan visual dan perancangan komunikasi yang tepat agar dapat diterima dengan baik oleh audien. Setelah itu penulis menentukan apa saja kira-kira media yang dapat menjangkau audien dan yang tepat untuk digunakan dalam kampanye ini.. 5.. Pencapaian efek Setelah perancangan kampanye selesai, sampailah penulis pada tahap akhir perancangan dimana kemudian seluruh hasil yang telah dikerjakan oleh penulis dirangkum, dianalisa, dan kemudian dievaluasi apakah sekiranya sudah sesuai dengan tahapan pertama atau efek yang sebenarnya ingin dicapai atau belum.. 78 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(42) 3.2.2. Perancangan Visual Penulis dalam perancangan kampanye sosial untuk mengurangi jumlah konsumsi sup sirip hiu menggunakan metode perancangan dari Robin Landa dalam bukunya yang berjudul Advertising By Design. Adapun penerapannya adalah sebagai berikut: 1.. Overview Pada fase pertama yaitu overview, penulis secara garis besar melihat sekiranya. permasalahan. yang. terjadi. dari. data-data. yang. telah. dikumpulkan sebelumnya dan juga mengumpulkan informasi-informasi lainnya seperti demografis, psikografis, dan geografis dari target audien, membuat peta pemikiran insight yang didapat dari narasumber-narasumber dalam wawancara sebelumnya dan informasi lainnya yang dapat mendukung perancangan kampanye sosial ini. Lalu penulis juga menentukan batasan waktu pengerjaan dan juga pembatasan budget dalam perancangan kampanye sosial ini. 2.. Strategy Strategi yang disusun dalam perancangan kampanye sosial ini adalah berupa strategi mengenai perancangan media. Dalam tahapan penyusunan strategi media, penulis menggunakan tahapan AIDA yaitu attention, interest, desire, dan action.. 79 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(43) 3.. Ideas Penulis dalam tahap ini memulai langkah kreatif untuk membuat ide dan menentukan sekiranya konsep apa yang akan digunakan dalam perancangan kampanye sosial ini.. 4.. Production Pada tahapan produksi, penulis mulai membuat desain sesuai dengan konsep yang sudah didapatkan sebelumnya dimulai dari pembuatan sketsa manual hingga proses digitalisasi.. 5.. Implementation Pada tahap implementasi, penulis mengimplementasikan desain yang telah dibuat kepada beberapa media yang juga sudah ditentukan sebelumnya agar kemudian dapat tersampaikan kepada target audien dalam perancangan kampanye sosial (hlm. 14-21).. 80 Perancangan Kampanye Sosial..., Victory Morla, FSD UMN, 2018.

(44)

Referensi

Dokumen terkait