• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN TROPIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN TROPIS"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ISSN Cetak : 2087-9423

Vol. 2, No. 2, Desember 2010

ISSN Electronik: 2085-6695

JURNAL

ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN TROPIS

Diterbitkan Oleh:

Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

(3)

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis merupakan pengembangan dari E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis yang mulai terbit semenjak Juni 2009, mulai Desember 2010 diterbitkan secara cetak dan elektronik. Jurnal ini merupakan jurnal ilmiah dibidang ilmu dan teknologi kelautan tropis dan diterbitkan secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun. Redaksi menerima paper dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang diketik di atas kertas A4 dalam 1 spasi, Times New Roman, Font 12, termasuk gambar dan tabel dan dikirim melalui email ke alamat redaksi. Pedoman penulisan paper dapat dilihat pada bagian belakang jurnal ini.

Diterbitkan oleh : Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB

Penanggung Jawab : Ketua Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan

Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB

Pemimpin Redaksi : Bisman Nababan, Ph.D. Penyunting Ahli (Mitra Bebestari):

Augy Syahailatua, Ph.D. (Marine Fisheries and Marine Biology, P2O-LIPI) Bambang Yulianto, Ph.D. (Marine Ecotoxicology, FPIK-UNDIP)

Prof. Dr. Bonar Pasaribu (Marine Acoustic, ITK-IPB) Prof. Dr. Feliatra (Marine Microbiology, ITK-UNRI)

Dwi Djoko Eny Setyono, Ph.D. (Marine Biology and Aquaculture, P2O-LIPI) Prof. Dr. Inneke Rumengan (Marine Biotechnology, FPIK-UNSRAT)

Iskaq Iskandar, Ph.D. (Physical Oceanography, NOAA-PMEL, USA) Iqbal Djawad, Ph.D. (Marine Aquaculture & Physiology., FIKP-UNHAS) John I. Pariwono, Ph.D. (Physical Oceanography, ITK-IPB)

Joko Santoso, Ph.D. (Aquatic Product Processing Technology, THP-IPB) Dr. Jonson L. Gaol (Marine Remote Sensing & GIS, ITK- IPB)

Prof. Dr. Mulia Purba (Physical Oceanography, ITK-IPB)

Neviaty P. Zamani, Ph.D. (Marine Biology, Coral Reef, ITK-IPB) Suhartati M. Natsir, Ph.D. (Marine Ecology, P2O-LIPI)

Wahyu Pandoe, Ph.D. (Physical Oceanography, Modeling, BPPT)

Zainal Arifin, Ph.D. (Marine Pollution, Chemical Oceanography, P2O-LIPI) Tri Prartono, Ph.D. (Chemical Oceanography, ITK-IPB)

Penyunting Pelaksana: Sri Ratih Deswati, M.Si., Meutia Samira Ismet, M.Si., Jafar Elly, M.Si., Muhammad Subhan, S.Pi., dan Sahat M.R. Tampubolon, Amd.

Alamat Redaksi : Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK

Jl. Lingkar Akademik, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680 e-mail: [email protected]

Isi dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya

(4)

KATA SAMBUTAN

Saya sebagai Ketua Umum Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) sangat senang dan bangga atas terbitnya Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis (ITKT) Volume 2 Nomor 2 Desember 2010 ini yang merupakan pengembangan dari E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis yang sudah terbit semenjak Juni 2009. Dengan terlaksananya kerjasama antara ISOI dengan Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor maka Jurnal ITKT dapat diterbitkan dan menjadi jurnal cetak sekaligus jurnal elektronik serta diharapkan menjadi jurnal andalan ISOI.

Seperti disepakati bersama, Jurnal ITKT akan terbit dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Juni dan Desember setiap tahun. Dengan manajemen yang baik, diharapkan Jurnal ITKT ini dapat terbit tepat waktu. Melalui mitra bebestari yang professional dan ahli dalam bidangnya diharapkan mutu artikel (paper) yang terbit dalam Jurnal ITKT ini memiliki mutu ilmiah yang tinggi dan dapat dipertanggung jawabkan.

Semoga dalam waktu dekat, Jurnal ITKT ini dapat memperoleh akreditasi dari Kementerian Pendidikan Nasional dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menjaga dan meningkatkan mutu ilmiah dari jurnal ini.

Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Kementerian Pendidikan Nasional yang telah bersedia menyediakan dana untuk penerbitan Jurnal ini. Penghargaan sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada Pemimpin Redaksi, Mitra Bebestari, dan Penyunting Pelaksana yang telah bekerja keras untuk dapat menyelesaikan proses penerbitan Jurnal ini. Akhir kata, saya sebagai Ketua Umum ISOI mengucapkan selamat atas terbitnya Jurnal ITKT Volume 2 Nomor 2 Desember 2010 ini. Semoga Jurnal ITKT ini dapat menjadi rujukan utama dalam bidang ilmu dan teknologi kelautan serta bidang perikanan tropis di Indonesia maupun di dunia.

Jakarta, Desember 2010

Prof. Dr. Indroyono Susilo Ketua Umum ISOI

(5)

KATA SAMBUTAN

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas bimbingan-Nya sehingga Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis (ITKT) Volume 2 Nomor 2 Desember 2010 dapat terbit. Jurnal ini merupakan pengembangan dari E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis yang sudah terbit semenjak Juni 2009 melalui kerjasama antara Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) dengan Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Seperti E-Jurnal ITKT, Jurnal ITKT akan terbit dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Juni dan Desember setiap tahun dan diharapkan dapat terbit tepat waktu. Dengan mitra bebestari yang professional dan ahli dalam bidangnya, diharapkan mutu paper dalam Jurnal ITKT ini dapat ditingkatkan dan diharapkan dapat memperoleh akreditasi dari Kementerian Pendidikan Nasional dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Kementerian Pendidikan Nasional yang telah bersedia menyediakan dana untuk penerbitan Jurnal ini. Begitu juga kepada Pemimpin Redaksi, Mitra Bebestari, dan Penyunting Pelaksana yang telah bekerja keras untuk dapat menyelesaikan proses penerbitan Jurnal ini. Akhir kata, saya mengucapkan selamat atas terbitnya Jurnal ITKT ini dan semoga Jurnal ini dapat digunakan sebagai media diseminasi hasil-hasil penelitian dalam bidang ilmu dan teknologi kelautan serta bidang perikanan tropis di Indonesia maupun di dunia.

Bogor, Desember 2010

Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat-Nya sehingga Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Volume 2 Nomor 2 ini dapat terbit.

Melalui seleksi dan review oleh tim reviewer (mitra bebestari), dari sejumlah paper yang masuk sebanyak 11 (sebelas) paper dapat diterima dengan perbaikan untuk diterbitkan pada edisi ini dengan judul sebagai berikut: (1) Pengaruh calsium dan fosfor terhadap pertumbuhan, efisiensi pakan, kandungan mineral dan komposisi tubuh juvenil ikan kerapu macan (epinephelus fuscoguttatus); (2) Identifikasi jenis ikan anemon (amphiprioninae) dan anemon simbionnya di kepulauan spermonde, sulawesi selatan; (3) Keragaan reproduksi ikan kerapu bebek (cromileptes altivelis) dari alam (f-0), induk generasi pertama (f-1), dan induk generasi ke dua (f-2); (4) Pemeliharaan gelondongan kerapu sunu (plectropomus leopardus) dengan persentase pergantian air yang berbeda; (5) Karakteristik senyawa bioaktif bakteri simbion moluska dengan gc-ms; (6) Akumulasi logam berat pb, cu, dan zn di hutan mangrove muara angke, jakarta utara; (7) Kajian stabilitas empat tipe kasko kapal pole and line; (8) Struktur komunitas ikan pada padang lamun yang berbeda di pulau barrang lompo; (9) Distribusi foraminifera bentik resen di laut Arafura; (10) Perencanaan waktu tetas telur ikan kerapu dengan penggunaan suhu inkubasi yang berbeda; dan (11) Massa air subtropical di perairan hamahera.

Semoga Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis ini dapat meningkatkan diseminasi dan ketersediaan informasi akan hasil-hasil penelitian di bidang ilmu dan teknologi kelautan serta perikanan tropis.

(7)

ISSN Cetak : 2087-9423 ISSN Elektronik : 2085-6695 Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Vol. 2, No. 2, Desember 2010

DAFTAR ISI

PENGARUH CALSIUM DAN FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN, EFISIENSI PAKAN, KANDUNGAN MINERAL DAN KOMPOSISI TUBUH JUVENIL IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus)

(THE EFFECT OF CALCIUM AND PHOSPHOROUS ON GROWTH, FEED EFFICIENCY, MINERAL CONTENT AND BODY COMPOSITION OF BROWN MARBLED GROUPER (Epinephelus fuscoguttatus) JUVENILE)

Zainuddin ... 1 IDENTIFIKASI JENIS IKAN ANEMON (Amphiprioninae) DAN ANEMON SIMBIONNYA DI KEPULAUAN SPERMONDE, SULAWESI SELATAN

(IDENTIFICATION OF ANEMONEFISHES (Amphiprioninae) AND THEIR SIMBIONT IN SPERMONDE ARCHIPELAGO, SOUTH SULAWESI)

Inayah Yasir, Syafiuddin, dan Sumarjito ... 10 KERAGAAN REPRODUKSI IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) DARI ALAM (F-0), INDUK GENERASI PERTAMA (F-1), DAN INDUK GENERASI KE DUA (F-2)

(REPRODUCTION PERFORMANCE OF HUMPBACK GROUPER (Cromileptes altivelis) FROM WILD BROODSTOCK 0), FIRST GENERATION BROODSTOCK 1), AND SECOND GENERATION BROODSTOCK (F-2))

Tridjoko ... 17 PEMELIHARAAN GELONDONGAN KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) DENGAN PERSENTASE PERGANTIAN AIR YANG BERBEDA

(DIFFERENT PERCENTAGE OF WATER EXCHANGE ON GROWTH OF CORAL TROUT GROUPER FINGERLING (Plectropomus leopardus))

Titiek Aslianti ... 26 KARAKTERISTIK SENYAWA BIOAKTIF BAKTERI SIMBION MOLUSKA DENGAN GC-MS

(CHARACTERISTIC BIOACTIVE COMPOUND OF THE MOLLUSC SYMBIOTIC BACTERIA BY USING GC-MC)

Delianis Pringgenies ... 34 AKUMULASI LOGAM BERAT PB, CU, DAN ZN DI HUTAN MANGROVE MUARA ANGKE, JAKARTA UTARA

(ACCUMULATION OF HEAVY METALS PB, CU, AND ZN IN THE MANGROVE FOREST OF MUARA ANGKE, NORTH JAKARTA)

Faisal Hamzahdan Agus Setiawan ... 41 KAJIAN STABILITAS EMPAT TIPE KASKO KAPAL POLE AND LINE

(STABILITY ANALYSIS OF FOUR TYPES OF POLE AND LINER)

St. Aisyah Farhum ... 53 STRUKTUR KOMUNITAS IKAN PADA PADANG LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU BARRANG LOMPO (FISH COMMUNITY STRUCTURE IN DIFFERENT SEAGRASS BEDS OF BARRANG LOMPO ISLAND)

Rohani Ambo Rappe ... 62 DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK RESEN DI LAUT ARAFURA

(THE DISTRIBUTION OF RECENT BENTHIC FORAMINIFERA IN THE ARAFURA SEA)

Suhartati M. Natsir dan Rubiman ... 74 PERENCANAAN WAKTU TETAS TELUR IKAN KERAPU DENGAN PENGGUNAAN SUHU INKUBASI YANG BERBEDA

(PLANNING ON HATCHING TIME OF GROUPER EGGS THROUGH DIFFERENT INCUBATION TEMPERATURES) Regina Melianawati, Philip Teguh Imanto, dan Made Suastika ... 83 MASSA AIR SUBTROPICAL DI PERAIRAN HALMAHERA

(SUBTROPICAL WATER MASSES IN HALMAHERA WATERS)

Hadikusumah ... 92 Pedoman Penulisan Naskah Artikel ... 109

(8)

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Hal. 1-9, Desember 2010

©Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB 1

PENGARUH CALSIUM DAN FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN, EFISIENSI PAKAN, KANDUNGAN MINERAL DAN KOMPOSISI TUBUH

JUVENIL IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) THE EFFECT OF CALCIUM AND PHOSPHOROUS ON GROWTH, FEED EFFICIENCY, MINERAL CONTENT AND BODY COMPOSITION OF BROWN

MARBLED GROUPER (Epinephelus fuscoguttatus) JUVENILE Zainuddin

Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Email: [email protected]

ABSTRACT

The objectives of this study were to know concentration of calcium (Ca) and posphorus (P) in feed for growth, feed efficiency, proximate composition of the body and mineral content of brown marbled grouper juvenile. The study was conducted in the Center for Brackiswater Aquaculture Development, Takalar with randomized completed design 6 x 3 with the treatment of Ca and P supplement in feed i.e., (A) the supplement of 0 g/kg Ca and 0 g/kg P, (B) the supplement of 6 g/kg Ca and 0 g/kg P, (C) the supplement of 0 g/kg Ca and 6 g/kg P, (D) the supplement of 6 g/kg Ca and 6 g/kg P, (E) the supplement of 12 g/kg Ca and 6 g/kg P, and (F) the supplement of 18 g/kg Ca and 6 g/kg P. The result showed that P supplement with doses of 6 g/kg and Ca of 0 g/kg in feed are significantly affects on relative growth, feed efficiency, proximate composition and mineral content of brown marbled grouper juvenile.

Keywords: growth, feed efficiency, proximate composition, brown marbled grouper juvenile

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi calcium (Ca) dan fosfor (P) dalam pakan terhadap pertumbuhan, efisiensi pakan, komposisi proksimat dan kandungan mineral tubuh juvenil ikan kerapu macan. Penelitian dilakukan di Balai Budidaya Air Payau Takalar. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap 6 x 3 dengan perlakuan penambahan Ca dan P dalam pakan. Perlakuan A : penambahan Ca 0 g/kg pakan dan P 0 g/kg pakan, perlakuan B : penambahan Ca 6 g/kg pakan dan P 0 g/kg pakan, perlakuan C : penambahan Ca 0 g/kg pakan dan P 6 g/kg pakan, perlakuan D : penambahan Ca 6 g/kg pakan dan P 6 g/kg pakan, perlakuan E : penambahan Ca 12 g/kg pakan dan P 6 g/kg pakan dan perlakuan F : penambahan Ca 18 g/kg pakan dan P 6 g/kg pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan P sebesar 6 g/kg dan 0 g/kg ke dalam pakan secara nyata berpengaruh terhadap pertumbuhan relatif, efisiensi pakan, kompisisi prosimat dan kandungan mineral tubuh juvenil ikan kerapu macan.

Kata Kunci: pertumbuhan, efisiensi pakan, komposisi proksimat, juvenile ikan kerapu macan

(9)

Pengaruh Calsium dan Fosfor Terhadap Pertumbuhan, Efisiensi Pakan...

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22 2

I. PENDAHULUAN

Calcium(Ca) dan phosphor (P) merupakan makro mineral yang ber-hubungan langsung dengan perkem-bangan dan pemeliharaan sistem skeleton serta berpartisipasi dalam berbagai proses fisiologis tubuh organisme. Kebutuhan Ca pada ikan dipengaruhi oleh kimia air, level P dalam pakan dan spesies (Lall, 2002). Hossain dan Furuichi (2000a, b, c) melaporkan bahwa penambahan Ca dalam pakan sangat diperlukan untuk pertumbuhan ikan belanak merah,

Japanese flounder dan ikan scorpion.

Pada kebanyakan spesies ikan, defisiensi P berakibat pada pertumbuhan yang lambat, efisiensi pakan yang jelek, mineralisasi tulang yang buruk, kandungan lipid tubuh yang tinggi serta kadar abu yang rendah (Tacon, 1992; Zainuddin et al., 2000; dan Lall, 2002). Ca dan P merupakan mineral yang saling sinergis (Zainuddin, 2001, 2004a) dan dalam bentuk hydroxyapatite dalam membentuk kristal-kristal tulang (Ye et

al., 2006).

Beberapa spesies ikan kerapu sangat potensial dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat, konversi pakan yang efisien dan nilai jualnya yang tinggi (Millamena, 2002; Zainuddin et al., 2004b). Sebagai contoh kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan salah satu jenis yang umum dibudi-dayakan di Indonesia (Zainuddin et al., 2008). Penelitian tentang aspek nutrisi ikan kerapu yang dilaporkan umumnya pada komponen utama pakan diantaranya kebutuhan protein (Shiau dan Lan, 1996), karbohidrat (Shiau dan Lin, 2001) dan kebutuhan lipid (Lin dan Shiau, 2003). Informasi tentang kebutuhan mineral bagi ikan kerapu sangat terbatas. Penelitian Zhou et al. (2004) melapor-kan kebutuhan P dalam pamelapor-kan kerapu E.

coioides sebesar 0,86% dari total pakan,

serta Ye et al. (2006) melaporkan

penambahan Ca dan P masing-masing 6 g/kg pakan memberikan pertumbuhan yang optimum pada spesies yang sama. Namun demikian, penelitian kebutuhan akan Ca dan P dalam pakan pada jenis kerapu macan E. fuscoguttatus masih sangat terbatas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Ca dan P dalam pakan yang sesuai untuk pertumbuhan, efisiensi pakan juvenil kerapu macan, komposisi proksimat tubuh, morfometri dan kandungan mineral tubuh juvenil kerapu macan.

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah diperolehnya infor-masi baru bagi pengembangan iptek khususnya dalam bidang nutrisi dengan penentuan komposisi pakan juvenil kerapu macan yang tepat, akurat dan efisien serta sebagai informasi baru bagi industri/perusahaan pakan khususnya pakan kerapu macan.

II. METODE PENELITIAN 2.1. Tempat dan Waktu

Penelitian berlangsung dari Juli – Nopember 2009 di Balai Budidaya Air Payau Takalar.

2.2. Pakan uji

Pakan uji yang digunakan sebanyak 6 pakan dengan dua level P (dengan dan tanpa penambahan P). Pakan uji meru-pakan meru-pakan dengan formulasi sendiri dengan formulasi pakan dasar seperti yang disajikan pada Tabel 1.

Pakan A dan B tanpa penambahan P, pakan C, D, E dan F dengan penambahan P masing-masing 6 g/kg (sumber P digunakan NaH2PO42H2O).

Kedalam masing-masing pakan tersebut (A, B, C, D, E, dan F) masing-masing ditambahkan Ca berturut-turut sebesar 0,0; 6,0; 0,0; 6,0; 12,0; dan 18,0 g/kg (Ca-carbonat sebagai sumber Ca) (Tabel 2).

(10)

Zainuddin

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 3

Tabel 1. Komposisi pakan dasar

Tabel 2. Komposisi pakan uji setelah ditambahkan Ca dan P

Bahan pakan Pakan uji (g/kg pakan)

A B C D E F Tepung ikan 400 400 400 400 400 400 Tepung kedelei 150 150 150 150 150 150 Tepung jagung 100 100 100 100 100 100 Minyak ikan 65 65 65 65 65 65 Minyak jagung 70 70 70 70 70 70 Mineral mix 20 20 20 20 20 20 Vitamin mix 20 20 20 20 20 20 Ca 0 6 0 6 12 18 P 0 0 6 6 6 6 Sellulosa 175 169 169 163 157 151

Semua bahan kering yang diguna-kan ditimbang dan dicampur dalam mixer selama 15 menit, minyak ikan dan minyak jagung ditambahkan ke dalam mixer lalu diaduk selama 15 menit. Selanjutnya ditambahkan air sebanyak 250 mL/kg pakan kering dan diaduk selama 15 menit. Selanjutnya dibuat pakan dalam bentuk semimoist. Pakan ini disimpan dalam lemari pendingin pada suhu –20oC sebelum digunakan.

Setelah analisis proksimat diper-oleh komposisi nutrisi pakan uji seperti yang disajikan pada Tabel 3.

2.3. Prosedur penelitian

Juvenil kerapu macan E.

fusco-guttatus diperoleh dari pendederan Balai

Budidaya Air Payau Takalar. Jumlah juvenil yang disiapkan sebanyak 300 ekor dengan panjang rata-rata 12 cm dan

bobot rata-rata 40 g/ekor. Juvenil-juvenil ini diadaptasikan di dalam bak-bak berkapasitas 5 ton pada kondisi lingkungan suhu 31oC dan salinitas 30 ppt. Selama masa adaptasi ikan uji diberi pakan uji A (pakan tanpa penambahan Ca dan P) hingga juvenil terbiasa memakan pakan buatan secara total. Aklimatisasi dilakukan selama 3 hari supaya P yang terdeposit masih sangat rendah.

Juvenil yang telah diaklimatisasi dan diseleksi menurut ukuran panjang dan bobot yang relatif sama ditebar secara acak ke dalam 18 buah ember plastik berkapasitas 80 L. Setiap wadah diisi juvenil sebanyak 5 ekor dengan panjang tubuh rata-rata 12 ± 0,3 cm dan bobot rata-rata 40 ± 0,85 g per ekor. Air yang digunakan adalah air laut yang telah disaring dengan salinitas 30 ± 0,5 ppt.

Komposisi bahan g/kg pakan kering

Tepung ikan 400

Tepung kedelai 150

Tepung jagung 100

Minyak jagung 70

Minyak ikan 65

Mineral mix tanpa Ca & P 20

Vitamin mix 20

(11)

Pengaruh Calsium dan Fosfor Terhadap Pertumbuhan, Efisiensi Pakan...

4 http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22 Tabel 3. Komposisi nutrisi pakan uji

Pakan Komposisi (%) Protein kasar Lemak kasar Serat kasar BETN Kadar Abu Ca P A 41,31 22,83 2,11 16,19 17,56 2,44 1,36 B 40,96 23,11 2,32 15,79 17,83 2,99 1,70 C 41,12 22,97 2,08 15,73 18,10 3,18 1,86 D 41,28 23,04 2,18 15,37 18,13 3,58 1,89 E 40,88 22,86 2,29 16,14 17,83 3,68 1,91 F 41,42 23,19 2,13 15,30 17,96 3,79 1,94 Ket. Hasil analisis Lab. Kimia Makanan Ternak, Fak. Peternakan Unhas,2009

Cahaya alami digunakan selama pemeliharaan.Pemberian pakan dilakukan secara satiasi (kenyang) yang diberikan dua kali perhari yakni pukul 09.00 dan 16.00 selama 8 minggu.

2.4. Sampling dan metode analisa Pada awal percobaan, sebanyak 5 ekor juvenil diambil secara acak untuk analisa awal komposisi tubuh.Pada akhir penelitian (hari ke-60 pemeliharaan), 5 ekor juvenil diambil secara acak dari setiap tangki untuk analisa komposisi tubuh. Kandungan mineral pada pakan dan tubuh juvenil ikan diukur dengan menggunakan plasma atomic emission spectrophotometer. Kadar air, protein kasar, lemak kasar dari pakan uji, dan tubuh ikan diukur dengan metode standar (AOAC, 1984). Kadar air diukur melalui pengeringan dalam oven pada 105oC selama 24 jam; protein kasar dianalisa dengan metode Kjeldahl; lemak kasar dianalisa dengan metode ekstraksi ether melalui system Soxlec. Analisa kadar abu dilakukan dengan pengabuan pada suhu 550oC selama 24 jam dalam muffle

furnace.

2.5. Parameter uji

Paramater yang akan diuji dalam penelitian ini sama dengan yang dilakukan oleh Ye et al. (2006) sebagai berikut:

1. Pertumbuhan bobot, WG = 100x

2. Efisiensi pakan, FE =

100%

3. Kandungan mineral Ca dan P pada tubuh

4. Komposisi proksimat tubuh yang diuji pada seluruh tubuh

5. Morfometri meliputi: a. Faktor kondisi,

CF = 100x

b. Indeks somatic organ dalam, VSI = 100x

2.6. Rancangan Perlakuan

Adapun perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah penambahan Ca dan P dalam pakan masing-masing sebagai berikut:

Perlakuan A: penambahan Ca 0 g/kg pakan dan P 0 g/kg pakan,

Perlakuan B: penambahan Ca 6 g/kg pakan dan P 0 g/kg pakan,

Perlakuan C: penambahan Ca 0 g/kg pakan dan P 6 g/kg pakan,

Perlakuan D: penambahan Ca 6 g/kg pakan dan P 6 g/kg pakan,

Perlakuan E: penambahan Ca 12 g/kg pakan dan P 6 g/kg pakan, dan

Perlakuan F: penambahan Ca 18 g/kg pakan dan P 6 g/kg pakan

(12)

Zainuddin

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 5

Setiap perlakuan diberi ulangan sebanyak 3 kali sehingga terdapat 18 satuan percobaan.Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL).

2.7. Analisis Statistik

Seluruh data dipresentasikan secara rata-rata dan dianalisis varians satu arah (SPSS for Windows ver 11,5) untuk menguji perbedaan antara perlakuan. Jika terdapat pengaruh perlakuan terhadap parameter uji, maka dilanjutkan dengan uji beda nilai tengah BNT pada taraf kepercayaan 5%.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Pertumbuhan Bobot Relatif dan

Efisiensi Pakan

Data hasil pertumbuhan bobot relatif dan efisiensi pakan juvenil ikan kerapu macan selama pemeliharaan disajikan pada Tabel 4.

Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan bobot relatifjuvenil kerapu macan tertinggi diperoleh pada perlakuan C sebesar 66,25% diikuti oleh perlakuan F 65,25%, perlakuan B 65,00%, perlakuan E 52,00%, perlakuan D 44,75% dan terendah pada perlakuan A sebesar

42,25%. Sementara itu, efisiensi pakan tertinggi diperoleh pada perlakuan C sebesar 12.30% diikuti perlakuan B 11.30%, perlakuan F 10.61%, perlakuan E 8.88%, perlakuan D 7.88% dan terendah pada perlakuan A sebesar 7.70%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan bobot dan efisiensi pakan juvenile yang tidak ditambahkan Ca dan P dalam pakannya (perlakuan A) secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang di dalam pakannya ditambahkan Ca dan P. Hal ini disebabkan karena pakan A (tanpa Ca dan P) mengakibatkan juvenile ikan kerapu macan mengalami defisiensi terhadap Ca dan P. Defisiensi terhadap Ca dan P tidak hanya mengakibatkan pertumbuhan yang terhambat tetapi efisiensi pakan juga jelek serta dalam jangka panjang ikan akan mengalami malformation (Steffens, 1989).

Hasil penelitian menunjukkan perlakuan C (penambahan P 6g/kg) menyebabkan pertambahan bobot dan efisiensi secara nyata signifikan (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan tanpa penambahan P. Hal ini menunjukkan bahwa pada pakan uji dengan penambahan P sebesar 6g/kg telah mencukupi kebutuhan juvenile sehingga Tabel 4. Pertumbuhan bobot relatif dan efisiensi pakanjuvenil kerapu macan pada

semua perlakuan Perlakuan Penambahan

Ca dan P dalam pakan (g/kg pakan) Rerata Pertumbuhan bobot relatif (%) Efisiensi Pakan (%) A (0 Ca, 0 P) 42,25±5,303a 7.70±1,041a B (6 Ca, 0 P) 65,00±4,419b 11.30±0,352bc C (0 Ca, 6 P) 66,25±1,767bc 12.30±0,288b D (6 Ca, 6 P) 44,75±0,353a 7.88±0,354a E (12 Ca, 6 P) 52,00±9,899acd 8.88±1,346ac F (18 Ca, 6 P) 65,25±9,545bd 10.61±1,823bc

Ket. Huruf superscript yang berbeda dibelakang angka pada kolom yang sama menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0,05)

(13)

Pengaruh Calsium dan Fosfor Terhadap Pertumbuhan, Efisiensi Pakan...

6 http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22 dapat bertumbuh dengan baik. Demikian

pula halnya dengan kondisi lingkungan pemeliharaan yang sesuai dengan pertumbuhan dan efisiensi pakan juvenile kerapu macan. Selama masa pemeliharaan kondisi lingkungan meliputi oksigen terlarut sebesar 4,5 ± 0,15 ppm, suhu 31 ± 0,5 oC, salinitas 30 ± 0,5 ppt dan pH 8 ± 0,5. Kondisi lingkungan seperti ini sangat mendukung kelangsungan hidup organisme budidaya. Sebagai perbandingan dengan peneliti lain yang menunjukkan terjadinya pertumbuhan yang lambat dan efisiensi pakan yang rendah akibat defisiensi P pada ikan sea bass Eropa (Oliva-Teles and Pimentel-Rodrigues, 2004), dan haddock (Roy and Lall, 2003).

3.2. Komposisi Proksimat Tubuh dan Morfometri

Komposisi proksimat tubuh juvenil kerapu macan yang diberi pakan dengan kandungan Ca dan P yang berbeda disajikan pada Tabel 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan uji tanpa penambahan Ca dan P memiliki kandungan lemak tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kandungan lemak tubuh semakin menurun seiring dengan peningkatan level penambahan Ca dan P ke dalam pakan meskipun tidak berbeda secara signifikan. Menurunnya kandungan lemak ini sebagai respon terhadap peningkatan jumlah P yang ada di dalam pakan dan hal ini terlihat pada setiap perlakuan penambahan Ca dan P di dalam pakan. Pakan uji tanpa penam-bahan P menyebabkan kadar abu pada tubuh lebih rendah, demikian pula halnya dengan kandungan BETN (Bahan Ekstraks Tanpa Nitrogen) meskipun keduanya tidak berbeda secara signifikan. Hal ini disebabkan karena fungsi P dalam pembentukan tulang sangat signifikan. Dalam proses mineralisasi tulang Ca dan P memiliki peran yang penting karena

sekitar 80 – 90% unsur tulang tersusun dari Ca, P dan Mg.

Pakan uji tanpa penambahan P menyebabkan faktor kondisi, indeks somatic organ dalam dan kandungan lemak tubuh tinggi. Hasil yang sama diperoleh pada penelitian-penelitian sebelumnya (Skonberg et al., 1997; Zainuddin dkk. 2000; Vielma et al., 2002; Roy dan Lall, 2003). Akumulasi lemak dalam tubuh sebagai dampak dari defisiensi P berhubungan dengan perubahan metabolisme intermedier yang lebih cepat dari pakan yang dikonsumsi (Vielma et al., 2002). Dengan demikian deposit lemak akan berlangsung lebih cepat jika pakan kekurangan atau defisiensi P. Berdasarkan penelitian ini, konsumsi pakan pada perlakuan tanpa penambahan P juvenil mengkonsumsi pakan lebih sedikit. Hal ini membuktikan bahwa akumulasi lipid tidak berhu-bungan dengan banyaknya pakan yang dimakan.

3.3. Kadar Abu dan Kandungan Ca dan P pada Tulang

Kadar abu dan kandungan mineral pada tulang belakang juvenil kerapu macan disajikan pada Tabel 6.

Hasil penelitian menunjukkan kadar abu, kandungan Ca dan P pada tulang ikan kerapu macan secara signifikan (P<0,05) lebih rendah pada pakan uji tanpa penambahan P. Kecuali perlakuan A, semua perlakuan lainnya mengalami peningkatan kadar abu tulang juvenil ikan kerapu macan. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan Ca dan P berpengaruh positif terhadap peningkatan kadar abu tulang. Demikian pula halnya dengan kandungan Ca dan P pada tulang menunjukkan peningkatan yang signifikan pada semua perlakuan penambahan Ca dan P dibandingkan dengan perlakuan tanpa penambahan Ca dan P (Tabel 7). Hal ini mempertegas

(14)

Zainuddin

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 7

Tabel 5 Komposisi tubuh dan morfometri juvenil kerapu macan yang diberi pakan dengan kandungan Ca dan P yang berbeda

Komposisi

(%) Awal

Perlakuan Penambahan Ca dan P dalam pakan (g/kg pakan)

A B C D E F Tubuh Protein 76.02 79.75 79.27 78.21 78.06 79.63 77.73 Lemak 8.04 7.44 6.65 6.90 6.56 6.42 6.42 Sera kasar 5.51 1.95 1.27 2.75 2.30 1.79 3.32 BETN 1.98 2.16 2.60 2.69 2.88 2.22 3.32 Kadar Abu 8.45 8.71 10.21 9.46 10.21 9.95 10.06 Morfometri CF (g/cm3) 2,30 2.34 2.29 2.27 2.55 2,42 2,57 VSI 3.18 4.09 3.21 4.23 4.22 3.93 4.65

Ket. Perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05); CF = faktor kondisi; VSI = indeks somatic organ dalam; BETN = Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen

Tabel 6. Kadar abu dan kandungan mineral pada tulang juvenil kerapu macan pada semua perlakuan

Konsentrasi

(%) Awal

Perlakuan Penambahan Ca dan P dalam pakan (g/kg pakan)

A B C D E F

Kadar Abu 31.18 26.44a 32.94b 31.50b 31.11b 32.27b 31.55b Ca 10.39 8.96a 10.96b 10.92b 10.67b 11.17b 11.04b P 5.02 5.10a 6.44b 6.16b 6.23b 6.57b 6.43b

Ket. Huruf superscript yang berbeda dibelakang angka pada baris yang sama menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0,05)

bahwa P sangat dibutuhkan dalam proses mineralisasi tulang, karena 80 – 90% tulang tersusun oleh P, selain Ca dan Mg. Hasil yang sama pada penelitian Roy dan Lall (2003) yang melaporkan penggunaan pakan tanpa penambahan P menyebabkan kadar abu, Ca dan P secara nyata lebih rendah pada tulang dan operculum ikan haddock.

Penambahan Ca dalam pakan berpengaruh signifikan terhadap kadar abu, Ca dan P tulang pada dua level P yang berbeda. Ketika pakan tidak ditambahkan dengan P, penambahan Ca pada pakan basal memberikan pengaruh yang sama terhadap kadar abu, Ca dan P tulang. Hal ini menunjukkan bahwa jika P tidak tersedia maka penambahan Ca juga tidak akan mampu memperbaiki proses mineralisasi tulang atau deposit Ca dan P. Ca dan P merupakan mineral

yang saling sinergis (Zainuddin dkk. 2000). Penelitian yang menunjukkan hasil yang sama telah dilakukan diantaranya pada ikan black sea bream (Hossain and Furuichi, 1999) dan atlantic salmon (Vielma and Lall, 1998a).

Lebih lanjut hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan Ca di atas 12 g/kg pakan akan menurunkan kadar abu, Ca dan P tulang. Hasil penelitian serupa pada kerapu batik (Ye

et al., 2006). Porn-Ngam et al. (1993)

melaporkan bahwa absorbsi P dapat terhalang akibat adanya peningkatan Ca dalam pakan. Hal ini terjadi karena pada ikan laut mampu menyerap lebih banyak Ca dari lingkungannya. Akan tetapi, penelitian Vielma and Lall (1998a) menunjukkan bahwa penambahan Ca dalam pakan tidak memberikan dampak negatif terhadap kadar abu, Ca dan P

(15)

Pengaruh Calsium dan Fosfor Terhadap Pertumbuhan, Efisiensi Pakan...

8 http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22 tulang ketika P juga ditambahkan.

Berbeda halnya di perairan tawar yang membutuhkan Ca lebih tinggi di dalam pakannya. Hal ini bisa saja terjadi karena kondisi media air tawar dan air laut yang digunakan berbeda, dimana diketahui bahwa kandungan Ca pada air laut jauh lebih banyak dibandingkan pada air tawar.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan Pertumbuhan bobot relatif,efisiensi pakan, komposisi proksimat tubuh dan kandungan mineral tubuh juvenil ikan kerapu macan secara signifikan mengalami perubahan setelah ditambahkan Ca dan P di dalam pakannya. Perlakuan terbaik dari penelitian ini adalah penambahan P sebesar 6g/kg pakan dan Ca 0g/kg ke dalam pakan.

DAFTAR PUSTAKA

Hossain, M.A., and M. Furuichi. 1999. Necessity of dietary calcium supplement in black sea bream. Fish. Sci., 65:893-897.

Hossain, M.A., and M. Furuichi. 2000a. Essentiality of dietary calcium supplement in redlip mullet Liza haematocheila. Aquac. Nutr., 6:33– 38.

Hossain, M.A., and M. Furuichi. 2000b. Necessity of calcium supplement to the diet of Japanese flounder. Fish. Sci., 66:660–664.

Hossain, M.A., and M. Furuichi. 2000c. Essentiality of dietary calcium supplement in fingerling scorpion fish (Sebastiscus marmoratus). Aquaculture, 189:155–163.

Lall, S.P. 2002. The minerals. In: Halver, J.E., Hardy, R.W. (Eds.), Fish Nutrition, 3rd ed. Academic Press, San Diego, CA, 259–308pp.

Lin, Y.H. and S.Y. Shiau. 2003. Dietary lipid requirement of grouper, Epinephelus malabaricus, and effects on immune responses. Aquaculture, 225:243–250.

Millamena, O.M. 2002. Replacement of fish meal by animal byproduct meals in a practical diet for grow-out culture of grouper Epinephelus coioides. Aqua-culture, 204:75–84. Oliva-Teles, A. and A. Pimentel-Rodrigues. 2004. Phosphorous requirement of European sea bass (Dicentrarchus labrax L.) juveniles. Aquac. Res., 35:636-642. Porn-Ngam, N., S. Satoh, T. Takeuchi,

and T. Watanabe. 1993. Effect of the ratio of phosphorous to calcium on zinc availability to rainbow trout in high phosphorous diet. Nippon

Suisan Gakkaishi, 59:2065-2070

Roy, P.K. and S.P. Lall. 2003. Dietary phosphorous requirement of juvenile haddock (Melanogram-mus aeglefinus L.). Aquaculture, 221:451-468.

Shiau, S.Y. and C.W. Lan. 1996. Optimum dietary protein level and proteinto energy ratio for growth of grouper (Epinephelus malaba-ricus). Aquaculture, 145: 259–266. Shiau, S.Y. and Y.H. Lin. 2001.

Carbohydrate utilization and its proteinsparing effect in diets for grouper, Epinephelus malabaricus. Anim. Sci., 73:299–304.

Skonberg, D.I., L. Yogev, R.W. Hardy, and F.M. Dong. 1997. Metabolic response to dietary phosphorous intake in rainbow trout (Oncorhynchus mykiss). Aqua-culture, 157:11-24.

Steffens, W. 1989. Principles of fish nutrition. John Wiley & Sons. New York.

(16)

Zainuddin

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 9

Suderajad, P. 2003. Pengaruh penam-bahan kalsium dalam pakan terhadap pertumbuhan dan sintasan juvenil ikan bandeng (Chanos

chanos). Skripsi. Fakultas Ilmu

Kelautan dan Perikanan. Univer-sitas Hasanuddin. Makassar.

Tacon, A.G. 1992. Nutritional fish pathology. Morphological signs of nutrient deficiency and toxicity in farmed fish. FAO Fisheries Technical Paper, vol. 330. FAO, Rome, Italy. 75 pp.

Vielma, J. and S.P. Lall. 1998a. Phosphorus utilization by Atlantic salmon (Salmo salar) reared in freshwater is not influenced by higher dietary calcium intake. Aquaculture, 160:117–128.

Vielma, J. and S.P. Lall. 1998b. Control of phosphorous homeostasis of Antalantic salmon (Salmo salar) in fresh water. Fish Physiol. Biochem., 19:83-93.

Vielma, J., J. Koskela, and K. Ruohonen. 2002. Growth, bone minerali-zeation, and heat and low oxygen toelance in European whitefish (Coregonus lavaretus L.) fed with graded levels of phosphorous. Aquaculture, 212:321-333.

Ye, C.X., Y. Liu, L. Tian, K. Mai, Z. Y. Du, H. Yang, and J. Niu. 2006. Effect of dietary calcium and phosphorus on growth, feed efficiency, mineral content and body composition of juvenil grouper, Epinephelus coioides. Aquaculture, 255:263–271

Zainuddin, I. Mokoginta, R. Affandi, dan D. Yusadi. 2000. Kadar Fosfor Optimum dalam Pakan Benih Ikan Jambal Siam (Pangasius sutchi Fowler), Hayati, 7(2):41-44.

Zainuddin. 2001. Pengaruh Pemberian Mineral Fosfor dalam Pakan terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Juvenil Udang Windu (Penaeus

mono-don), Lembaga Penelitian,

Uni-versitas Hasanuddin. Makassar. Zainuddin. 2004a. Pengaruh

Calsium-Fosfor Dengan Rasio Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan Udang Windu (Penaeus Monodon Fabr.). Lem-baga Penelitian, Universitas Hasa-nuddin, Makassar.

Zainuddin, A. Niartiningsih, Arifin, dan Supriadi. 2004. Pembesaran ikan kerapu macan (Epinephelus

fuscoguttatus) dalam Karamba

Jaring Apung. Adaptive Research and Extention. Proyek Penge-lolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (MCRMP) Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Zainuddin, M.N. Nessa, M.I. Djawad, dan D. Dh. Trijuno. 2008. Deposit glikogen juvenil ikan kerapu macan (Epinephelus fuscogu-ttatus) pada frekeunsi pemberian pakan yang berbeda. Torani,18(2):179–186. Zhou, Q.C., Y.J. Liu, K.S. Mai, and L.X.

Tian. 2004. Effect of dietary phosphorus level on growth, body composition, muscle and bonemi-neral concentrations for orange-spotted grouper Epinephelus coioides reared in floating cages. J. World Aquac. Soc., 35:427–435.

(17)

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Hal. 10-16, Desember 2010

©Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan

10 Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB

IDENTIFIKASI JENIS IKAN ANEMON (Amphiprioninae) DAN ANEMON SIMBIONNYA DI KEPULAUAN SPERMONDE, SULAWESI SELATAN IDENTIFICATION OF ANEMONEFISHES (Amphiprioninae) AND THEIR

SIMBIONT IN SPERMONDE ARCHIPELAGO, SOUTH SULAWESI Inayah Yasir, Syafiuddin, dan Sumarjito

Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasauddin Jln. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Makassar-90245

email: [email protected]

ABSTRACT

The study was conducted in June 2009 around the waters of Samalona, Barranglompo, Koedingareng Keke, Badi, Langkai and Kapoposang islands, representing four zones of Spermonde Archipelago of South Sulawesi. Seven species of anemonefish from two genera were found living symbiotically with 7 species of sea anemones. Those fishes were Amphiprion clarkii, A. melanopus, A. ocellaris, A. sandaracinos, A. perideraion, A. polymnus and Premnas biaculeatus. Three of these fishes were simbiotically found with one species of anemone (specific symbiont), and one species of fish was symbiotically found with five species of anemones.

Keywords: Amphiprioninae, Spermonde Archipelago, anemone symbiont ABSTRAK

Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2009 di perairan pulau Samalona, P. Barranglompo, P. Koedingareng Keke, P. Badi, P. Langkai dan P. Kapoposang yang mewakili empat zona perairan Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Pada penelitian ini ditemukan 7 jenis ikan giru yang berasal dari 2 genera dan hidup bersimbiosis dengan 7 jenis anemon laut. Ketujuh jenis ikan giru tersebut adalah Amphiprion clarkii,

A. melanopus, A. ocellaris, A. sandaracinos, A. perideraion, A. polymnus dan Premnas biaculeatus. Tiga diantara ikan giru ini ditemukan bersimbiosis hanya dengan 1 jenis

anemon saja (simbion spesifik), sedangkan 1 jenis lainnya ditemukan bersimbiosis dengan 5 jenis anemon.

Kata Kunci: Amphiprioninae, Kepulauan Spermode, anemon I. PENDAHULUAN

Ikan merupakan organisme yang jumlah biomassanya terbesar dan juga organisme besar yang mencolok yang dapat ditemui di ekosistem terumbu karang. Banyaknya celah dan lubang yang terdapat di daerah terumbu karang memberikan tempat tinggal, perlindung-an, tempat mencari makan dan ber-kembang biak bagi ikan dan hewan invertebrata yang berada disekitarnya (Nybakken dan Bertness, 2004). Lebih dari 4000 species ikan (atau sekitar 18%

dari jumlah species ikan yang ada di seluruh dunia) dapat ditemukan di daerah terumbu karang. Umumnya ikan-ikan yang hidup di daerah terumbu karang ini berukuran kecil dan menetap sepanjang hidupnya di daerah tersebut. Salah satu jenis ikan karang yang hidup di daerah terumbu karang adalah ikan-ikan dari Familia Pomacentridae, subfamilia Amphiprioninae.

Semua ikan dalam subfamilia Amphiprioninae hidup bersimbiosis dengan anemon laut (Dunn, 1981; Fautin, 1991) dalam hubungan simbiosis

(18)

Yasir et al.

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 11

mutualisme (Fautin dan Allen, 1992) sehingga kelompok ikan ini juga dikenal sebagai ikan anemon (anemonefish). Pola warnanya yang indah, kemampuan-nya untuk hidup dalam akuarium dan hubungan simbiosis yang menarik dengan anemon membuat ikan ini sangat diminati oleh pencinta ikan hias laut (Fautin dan Allen, 1997). Akibat kepopularannya, ikan anemon dijuluki juga ‘ikan mas’ akuarium air laut (Hoff, 1996).

Kepulauan Spermonde,yang oleh masyarakat di kepulauan ini dikenal dengan nama Pulau-pulau Sangkarang, adalah gugusan pulau-pulau yang terletak di pesisir barat daya Pulau Sulawesi. Mata pencaharian utama penduduk di Kepulauan Spermonde adalah sebagai nelayan yang memanfaatkan sumberdaya wilayah pesisir. Menurunnya hasil tang-kapan ikan di daerah sekitar Kepulauan Spermonde memaksa hanya nelayan dengan modal menengah hingga besar yang dapat tetap melaut, sedangkan yang hanya bermodalkan perahu kecil tanpa motor harus mencari sekitar pulau saja. Alternatif lain muncul seiring dengan meningkatnya jumlah pemelihara ikan hias air laut di seluruh dunia (Ziemann, 2001). Permintaan yang meningkat akhirnya berdampak juga terhadap ikan-ikan terumbu karang yang tadinya tidak dieksploitasi karena tidak dikonsumsi.

Ikan-ikan anemon termasuk yang paling terkena imbas dari trend ini, karena permintaan dunia yang memang tinggi untuk kelompok ikan ini (Wood, 2001; Wabnitz, 2003). Selain itu, keter-gantungannya terhadap anemon membuat ikan ini mudah untuk ditangkapi karena di alam ikan ini tidak pernah jauh meninggalkan anemon simbionnya. Meskipun telah dikenal dan dieksploitasi untuk keperluan ekspor, belum ada data akurat tentang jenis ikan anemon yang dapat ditemukan di pulau-pulau Kepu-lauan Spermonde.

Diketahui di dunia terdapat 28 jenis ikan anemone dari 2 genera yaitu genus

Amphiprion dengan 27 species dan genus Premnas dengan 1 species (Allen, 1991)

yang tersebar di seluruh dunia. Menurut Allen (1991) di Indonesia ditemukan 9 species yaitu Amphiprion akallopsis, A.

clarkii, A. ephippium, A. frenatus, A. melanopus, A. ocellaris, A. periderion, A. polymnus, A. sebae, dan A. sandaracinos,

lalau oleh Kuiter dan Tonozuka (2001) ditambahkan dengan A. percula.

Semua ikan anemon hidup ber-simbiosis mutualistik dengan anemon tertentu (Allen, 1991). Dalam simbiosis ini, ikan mendapat proteksi dan memakan material non-metabolik yang dikeluarkan oleh anemon. Di sisi lain, anemon ‘dibersihkan’ dan dilindungi dari pre-dator oleh ikan simbionnya (Randall dan Fautin, 2002).

Upaya identifikasi suatu organisme diperlukan dalam pengenalan jenis ber-dasarkan sifat-sifat morfologi, anatomi, bahkan perilaku organisme tersebut. Identifikasi didasarkan pada karak-ter fisik dari bagian-bagian tubuh. Untuk ikan kelompok Amphiprioninae, karakter yang umum digunakan adalah perpaduan antara penggunaan karakter morfometrik, meristik dan pola pewarnaan tubuh (Allen, 1991).

II. METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni sampai bulan Agustus 2009 pada 4 zona Kepulauan Spermonde yang berada dalam kawasan pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan. Pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 6 hingga 10 Juni 2009. Untuk zona 1 diwakili oleh Pulau Samalona, zona 2 diwakili oleh P. Barrang lompo dan P. Koedingareng Keke sedangkan zona 3 diwakili oleh P. Badi. Pulau Kapoposang dan P. Langkai adalah pulau-pulau yang mewakili zona 4 (Gambar 1). Sampling dilakukan dengan

(19)

Identifikasi Jenis Ikan Anemon (Amphiprioninae) dan Anemon Simbionnya...

http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22 12

cara menyelam menggunakan peralatan selam hingga kedalaman 25 meter. Satu pulau pengamatan dibagi ke dalam 4 daerah untuk memudahkan sampling. Sampling dimulai dengan langsung turun ke kedalaman 25 meter sebagai posisi awal (starting point), lalu bergerak ke satu arah hingga batas daerah sampling. Sampling dilanjutkan dengan berbalik ke arah diagonal mengikuti kontur perairan naik ke kedalaman 15 meter. Lanjut lagi dengan cara yang sama ke kedalaman 5 meter dst.

Ikan anemon yang ditemukan diamati pola warna tubuh dan kecen-derungan bentuk tubuh. Pola warna ikan

yang ditemukan kemudian dibandingkan dengan pola warna ikan pada gambar yang dibawa serta. Setelah proses iden-tifikasi visual selesai, ikan kemudian diambil gambarnya. Bila identifikasi dengan pola warna masih meragukan, 2 ekor dari kelompok tersebut kemudian ditangkap dengan menggunakan serok lalu dipasangi label dan dimasukkan ke dalam tas jaring untuk kemudian diadakan identifikasi lanjutan di laboratorium Biologi Laut, Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.

(20)

Yasir et al.

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 13

Untuk identifikasi jenis, anemon yang berasosiasi dengan ikan giru dicatat lalu diambil gambarnya sebagai bahan

re-check nantinya untuk keperluan identifikasi di laboratorium. Pengukuran diameter anemon kemudian dilakukan lalu dilanjutkan dengan menghitung jumlah ikan yang ada dalam kelompok itu. Data penunjang lainnya termasuk organisme lain yang ikut menghuni anemon (bila ada), kondisi ikan

Amphiprion (bertelur atau tidak) dan

kondisi ekologi sekitar anemon juga dicatat dan diamati.

Ikan yang identifikasi lapangannya dianggap meragukan, ditangkap untuk kemudian diidentifikasi lebih lanjut di laboratorium biologi laut dengan

meng-gunakan kombinasi metode morfometrik dan meristik (Allen, 1991).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Di lokasi penelitian ditemukan tujuh jenis dari dua genera dari subfamilia Amphiprioninae, yaitu

Amphi-prion clarkii, A.melanopus, A. ocellaris, A. perideraion, A. polymnus, A. san-daracinos dan Premnas biaculeatus.

Ketujuh jenis Amphioprioninae yang ditemukan di lokasi penelitian dapat ditemukan di semua pulau lokasi penelitian yang masuk pada zona 1, 2 dan 3, namun pada zona 4, hanya ada 5 jenis yang ditemukan (Tabel 1).

Tabel 1. Penyebaran Amphiprioninae berdasarkan zona di Kepulauan Spermonde

Zona Pulau Jenis Amphiprioninae Kedalaman (m)

1 Samalona Amphiprion clarkii 1-10 Amphiprion melanopus 1-10 Amphiprion ocellaris 1- 10 Amphiprion perideraion 1- 10 Amphiprion polymnus 16 Amphiprion sandaracinos 1- 2 Premnas biaculeatus 1- 10 2 Kodingareng Keke dan Barrang Lompo Amphiprion clarkii 1- 19 Amphiprion melanopus 6 Amphiprion ocellaris 1- 13 Amphiprion perideraion 1- 12 Amphiprion polymnus 23 Amphiprion sandaracinos 2 Premnas biaculeatus 1- 15 3 Pulau Badi Amphiprion clarkii 1-19 Amphiprion melanopus 4-6 Amphiprion ocellaris 4- 11 Amphiprion perideraion 1- 15 Amphiprion polymnus 9 Amphiprion sandaracinos 3- 9 Premnas biaculeatus 2- 12 4 Kapoposang & Langkai Amphiprion clarkii 3-11 Amphiprion ocellaris 5 -15 Amphiprion perideraion 4-29 Amphiprion polymnus 4-14 Premnas biaculeatus 5-11

(21)

Identifikasi Jenis Ikan Anemon (Amphiprioninae) dan Anemon Simbionnya...

14 http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22 Pada zona 1, zona 2 dan zona 3

ditemukan Amphiprion clarkii, A. melanopus, A. ocellaris, A. Polymnus, A. Sandaracinos, A. perideraion dan

Premnas biaculeatus. Pada Zona 4 yang

merupakan zona terluar, hanya 5 jenis Amphiprioninae yang ditemukan tanpa A.

sandaracinos dan A. melanopus. Pola

penyebaran yang tidak merata pada kelompok ikan kemungkinan besar disebabkan oleh kondisi lingkungan pulau, seperti gelombang, arus, kedalaman perairan dan kompleksitas terumbu karang pada masing-masing zona. Pada zona 1, 2 dan 3, kontur kedalaman terumbu sekeliling pulau berupa reef flat yang dilanjutkan dengan

reef slope. Kompleksitas terumbu karang

yang relatif bagus dan beragam jenisnya di hampir semua sisi pulau memungkinkan beragam anemon hidup yang pada akhirnya menyediakan tempat berlindung bagi ikan Amphiprioninae (Allen, 1998). Zona-zona ini relatif berbeda dibandingkan dengan zona 4 dengan areal yang cenderung sempit, dan keberagaman kondisi terumbunya yang kurang. Beberapa bagian pulau yang berupa drop off dengan kondisi arus yang cukup kuat kemungkinan besar menjadi kendala bagi anemon simbion ikan Amphiprioninae untuk hidup.

Keberadaan jenis anemon juga turut mempengaruhi sebaran ikan Amphiprioninae (Allen, 1972 dan Dunn, 1981). Jenis dan jumlah anemon yang ditemukan di setiap pulau pada zona 1, 2 dan 3 cukup banyak bila dibandingkan dengan jenis dan jumlah anemon yang ditemukan di pulau-pulau yang mewakili zona 4. Adanya beberapa jenis ikan Amphiprioninae yang anemon simbion-nya spesifik seperti A. sandaracinos yang hanya berasosiasi dengan Stichodactyla

mertensii dan Premnas biaculeatus

dengan Entacmaea quadricolor (Allen, 1991), membuat penyebarannya tidak

merata.A. clarkiiditemukan di setiap zona penelitian karena mampu menerima berbagai jenis anemon sebagai simbionnya. Dengan kata lain, jenis ini tidak memiliki 'host' yang spesifik (Allen, 1991; Dunn, 1981).

Jenis anemon yang berbeda mempunyai jenis toksin yang berbeda pula, sehingga beberapa anemon memiliki toksin yang lebih kuat daya racunnya dibandingkan dengan jenis yang lain (Mebs, 1994). Di lokasi penelitian ditemukan A. clarkii yang mampu bersimbiosis dengan 5 (lima) jenis anemon yaitu Stichodactyla mertensii, S. gigantea, Heteractis crispa, H. aurora dan Entacmaea quadricolor.

Dari hasil analisis kimia lendir yang menyelimuti A. clarkii disimpulkan kalau jenis ini menghasilkan lendir sendiri yang spesifik yang menyebabkan nematocyst anemon tidak ditembakkan (Mebs, 2009). Kemampuan ini menyebabkan A. clarkii dapat hidup di banyak jenis anemon. A.

clarkii dapat hidup di tujuh jenis anemon

(Tabel 1, Fautin dan Allen, 1997), namun di lokasi penelitian, hanya ditemukan berasosiasi dengan lima jenis anemon saja (Tabel 2).

Berbeda dengan A. clarkii, A.

sandaracinos ditemukan hanya

beraso-siasi dengan anemon jenis Stichodactyla

mertensii. Anemon jenis ini ditemukan

di semua pulau di zona 1, 2 dan 3, sedangkan di zona 4 hanya ditemukan di P. Langkai dengan ko-simbion A. clarkii.

Premnas biaculeatus dan A. melanopus

di lokasi penelitian hanya ditemukan berasosiasi dengan anemon Entacmaea

quadricolor. Padahal menurut Allen

(1991), A. melanopus juga ditemukan bersimbiosis dengan H. crispa dan H.

magnifica. Kedua jenis anemon ini juga

dijumpai di lokasi penelitian. Tidak dihuninya kedua jenis anemon ini oleh A.

melanopus di lokasi penelitian membutuhkan penelitian lebih lanjut.

(22)

Yasir et al.

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 15

H. crispa dan E. quadricolor

masing-masing dapat bersimbiosis dengan 3 jenis Amphiprioninae (Tabel 2), namun H. crispa adalah jenis yang paling banyak ditemukan dan juga paling banyak dihuni oleh ikan Amphiprioninae. Hal ini disebabkan karena H. crispa dapat hidup di semua habitat yang bisa di tempati anemon untuk hidup.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, jenis ini umumnya menghuni habitat dengan kondisi pecahan karang hancur, pasir dan celah-celah karang. Kondisi ekologi ini pula yang men-dominasi lokasi penelitian.

Selain ikan dari subfamilia Amphiprioninae, di lokasi penelitian ditemukan beberapa jenis biota lain yang juga hidup berasosiasi dengan anemon. Yang paling umum ditemukan adalah ikan damsel Dascyllus trimaculatus, kepiting Neopetrolisthes maculatus, dan udang Periclemenes tosaensis. Namun jenis ini ditemukan tidak di semua jenis anemon. Untuk Dascyllus trimaculatus hanya ditemukan di anemon jenis H.

magnifica, S. mertensii, H. crispa, S. haddoni dan S. gigantea. Neopetrolisthes maculatus hanya di anemon jenis S.

mertensii, E. quadricolor, S. haddoni dan S. gigantea. Udang Periclimenes tosaensis hanya ditemukan bersimbiosis

dengan anemon H. crispa, H. magnifica

dan S. haddoni (Tabel 2).

Berdasarkan hasil uji statistik dengan analisis regresi menunjukan bahwa tidak ada pengaruh yang nyata antara besarnya koloni dengan ukuran anemon simbionnya (P>0,05). Besar atau kecilnya koloni ikan simbionnya sepertinya lebih tergantung pada perilaku dari masing-masing jenis daripada ukuran anemon simbionnya.

Anemon dari jenis S. haddoni dengan diameter 51 cm bersimbiosis dengan A. polymnus dengan jumlah hingga 31 ekor. Anemon jenis E.

quadricolor yang umumnya berukuran

besar, hanya dihuni oleh sepasang P.

biaculeatus. Hal ini kemungkinan besar

disebabkan karena pola perilaku jenis yang beragam. Sebagai contoh P.

biaculeatus cenderung sangat agresif

terhadap apapun yang mendekati anemon simbionnya termasuk peneliti sendiri. Jenis ini juga terkait sangat dekat dengan anemonnya.

Tabel 2. Amphiprioninae dan jenis anemon simbionnya

No Simbiosis 1 2 3 4 5 6 7 1 Amphiprion clarkii X X X X X X 2 Amphiprion melanopus X 3 Amphiprion ocellaris X X 4 Amphiprion perideraion X X 5 Amphiprion polymnus X X 6 Amphiprion sandaracinos X 7 Premnas biaculeatus X 8 Dascyllus trimaculatus X X X X X 9 Neopetrolisthes maculatus X X X X 10 Periclimenes tosaensis X X X

Keterangan: 1. Heteractis magnifica, 2. H. crispa, 3. H. aurora, 4. Stichodactyla

(23)

Identifikasi Jenis Ikan Anemon (Amphiprioninae) dan Anemon Simbionnya...

16 http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22 Hal berbeda diamati pada A.

polymnus. Bila merasa terancam, koloni A. polymnus yang mendiami anemon

cenderung meninggalkan anemone simbionya meskipun tidak terlalu jauh. Tetapi dua ikan dari koloni tersebut yang berukuran paling besar akan berlindung dengan cara masuk ke dalam mulut anemon untuk kemudian keluar lagi bila sumber gangguan telah hilang.

IV. KESIMPULAN

Terdapat tujuh jenis dari dua genera Amphiprioninae yang ditemukan di Kepulauan Spermonde berdasarkan pembagian zona yaitu Amphiprion clarkii, A. melanopus, A. perideraion, A. polymnus, A. ocellaris, A. sandaracinos

dan Premnas biaculeatus. Ketujuh jenis Amphioprioninae yang ditemukan di lokasi penelitian berada pada zona 1, 2 dan 3, sedangkan di zona 4, hanya ditemukan lima jenis. Terdapat tujuh jenis anemon yang hidup bersimbiosis dengan genera Amphiprioninae di Kepulauan Spermode yaitu Heteractis

aurora, H.crispa, H. magnifica, Stichodactyla mertensii, S. haddoni, S. gigantea dan Entacmaea quadricolor.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, G. R. 1991. Damselfishes of the world. Germany, Hans A. Baensch. Dunn, D. F. 1981. The clownfish sea

anemones: Stichodactylidae (Coelenterata: Actiniaria) and other sea anemones symbiotic with pomacentrid fishes. Transactions of

the American Philosophical Society, 71:115.

Fautin, D. G. 1991. The anemonefish symbiosis: what is known and what is not. Symbiosis, 10:23-46.

Fautin, D.G. and G.R. Allen. 1992. Field guide to anemonefishes and their host sea anemones. Australia, Western Australian Museum. Fautin, D.G. and G.R. Allen. 1997.

Anemone fishes and their host sea anemones: a guide for aquarists and divers. Western Australian Museum.

Hoff, F.H. 1996. Conditioning, spawning and rearing of fish with emphasis on marine clownfish. Florida, Dade City, Aquaculture Consultants, Inc. Kuiter R.H. and T. Tonozuka. 2001.

Pictorial guide to Indonesian reef fishes – Zoonetics- Australia

Mebs, D. 1994. Anemonefish symbiosis: vulnerability and resistance of fish to the toxin of the sea anemone.

Toxicon, 32:1059-1068.

Mebs, D. 2009. Chemical biology of the mutualistic relationships of sea anemones with fish and crustaceans, Toxicon, doi:10.1016/ j.toxicon. 2009.02.027

Nybakken, J. W. and M. D. Bertness. 2004. Marine Biology: An Ecological Approach.

Randall, J. E dan D.G. Fautin. 2002. Fishes other than anemonefishes that associate with sea anemones.

Coral Reefs, 21:188–190

Wabnitz, C.; M. Taylor; E. Green and T. Razak. 2003. From Ocean to Aquarium. Cambridge, UK, UNEP-WCMC: 64.

Wood, E.M. 2001. Collection of coral reef fish for aquaria: global trade, conservation issues and management strategies. Marine Conservation Society, UK. 80pp. Ziemann, D. A. 2001. The potential for

the restoration of marine ornamental fish populations through hatchery releases.

Aquarium Sciences and

(24)

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Hal. 17-25, Desember 2010

©Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB 17

KERAGAAN REPRODUKSI IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) DARI ALAM (F-0), INDUK GENERASI PERTAMA (F-1), DAN INDUK

GENERASI KE DUA (F-2)

REPRODUCTION PERFORMANCE OF HUMPBACK GROUPER (Cromileptes altivelis) FROM WILD BROODSTOCK (F-0), FIRST GENERATION BROODSTOCK (F-1), AND SECOND GENERATION BROODSTOCK (F-2)

Tridjoko

Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut – Gondol, Email: [email protected]

ABSTRACT

Grouper seeding technology still relies on the broodstock from the ocean, eventhough, the existence of the broodstock is rare and difficult to obtain. The broodstock takes a long time to mature and spawn. Therefore, to anticipate the scarcity humpback grouper from wild, it is important to produce broodfish from aquaculture. This study was aimed to know the reproduction performance of humpback grouper wild broodstock F-0, first generation broodstock (F-1) and second generation broodstock (F-2). The cultured of humback grouper broodstock used three tanks 75 m3 in volume (tank I, II and tank III). Tank I: reared 35 fishes broodstock F-0. Tank II and tank III for reared each 50 fishes F-1 and F-2 broodstock. Food for broodstock from the wild (F-0) was given from fresh trash fish, squid, and added vitamin mixture, vitamin C and vitamin E. Meanwhhile, food given to F-1 and F-2 broodstock was a commercial dry pellet (PG 9-10) that contains following nutrients: protein content of 43%, min. fat of 9%, ash content of 13%, fiber levels of 2%, and moisture content of 12%. Mixture of vitamin C and E were also added. The results showed that the humpback grouper F-0, F-1 and F-2 were cultured in 75 m3 concrete tank was successfully spawn with the fertilization rate of 87%, 78% and 45% respectively. This result proves that the broodstock from F-0 gaved the best results.

Keywords: Humpback grouper reproduction, wild broodstock (F-0), first generation (F-1),

seccond generation (F-2)

ABSTRAK

Teknologi pembenihan ikan kerapu bebek masih mengandalkan induk dari laut. Padahal induk dari laut sudah sulit didapatkan dan hanya ada di perairan tertentu saja. Disamping itu induk dari laut diperlukan waktu yang cukup lama untuk bisa matang gonad hingga memijah. Oleh karena itu untuk mengantisipasi kelangkaan induk ikan kerapu bebek hasil tangkapan dari laut perlu diupayakan produksi induk ikan kerapu yang berasal dari budidaya/generasi pertama (F-1) maupun induk generasi ke dua (F-2). Penelitian ini bertujuan untuk melihat keragaan reproduksi induk ikan kerapu bebek F-0, F-1 dan F-2. Bak pemeliharaan induk ikan kerapu bebek

menggunakan 3 tangki volume 75 m3 (tangki I, II dan III). Untuk tangki I diisi 35 ekor induk

kerapu bebek F-0, sedangkan pada tangki II dan III diisi induk F-1 dan F-2 masing-masing 50 ekor. Pakan induk F-0 yaitu ikan rucah segar, cumi-cumi dan juga ditambahkan vitamin mix, vitamin C dan vitamin E. Sedangkan pakan untuk induk F-1 dan induk F-2 adalah pellet kering komersial (PG 9-10) dengan kandungan nutrisi sebagai berikut: kadar protein min. 43%, kadar lemak min 9%, kadar abu max. 13%, kadar serat max. 2% dan kadar air max. 12%, juga ditambahkan vitamin mix, vitamin C dan vitamin E. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

induk ikan kerapu bebek F-0, F-1 dan F-2 yang dipelihara pada tangki volume 75 m3 secara

terkontrol sudah berhasil memijah dengan tingkat fertilisasi tertinggi 87%, 78% dan 45%. Hal ini membuktikan bahwa induk F-0 memperlihatkan hasil yang terbaik.

Kata Kunci: reproduksi, induk kerapu alam (F-0), induk generasi pertama (F-1), induk

(25)

Keragaan Reproduksi Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes Altivelis) dari Alam (F-0)...

18 http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt22 I. PENDAHULUAN

Dari beberapa jenis ikan kerapu, ikan kerapu bebek (Cromileptes

altvelis) adalah satu diantara jenis ikan

keluarga Serranidae yang bernilai ekonomis tinggi, karena banyak diminati oleh konsumen baik sebagai ikan hias maupun sebagai ikan konsumsi. Upaya untuk membudidayakan melalui pem-benihan telah dilakukan oleh Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol dan telah berhasil memproduksi benih kerapu bebek dengan kelangsungan hidup yang relatif tinggi (Tridjoko et al., 1999; Sugama et al., 2001).

Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam usaha pembenihan ikan kerapu khususnya ikan kerapu bebek adalah ketersediaan induk. Selama ini induk ikan kerapu yang dipijahkan berasal dari alam yang biasa ditangkap oleh para nelayan. Untuk memperoleh induk ikan kerapu bebek ini relatif sulit, karena hanya ada pada perairan-perairan tertentu saja. Untuk menanggulangi tantangan tersebut, maka sebagai alternatif sudah saatnya dilakukan kajian dan usaha-usaha untuk menyediakan calon induk untuk dijadikan induk dari hasil budidaya.

Dengan tersedianya induk hasil budidaya ini diharapkan dapat diproduksi induk yang berkualitas baik dan tidak terjadi penurunan genetik serta bebas penyakit. Produksi benih di hatcheri sangat dipengaruhi oleh kondisi ling-kungan (suhu, salinitas, variasi pakan, kandungan nutrisi, kepadatan larva) dan faktor genetik yang berbeda. Akhir-akhir ini telah banyak dilakukan penelitian mengenai pakan buatan terutama kandungan nutrisinya pada ikan kerapu bebek ( Giri et al., 1999 ; Suwirya et al., 2001; Suwirya et al., 2002). Selanjutnya keragaman genetik ikan perlu diper-tahankan dalam proses penggunaan induk dalam perbenihan, karena terjadinya

reduksi gen akan mengakibatkan hilangnya sebagian karakter genetik benih turunannya (Gondie et al., 1995; Benzie dan William, 1996; Sugama et al., 1998).

Tingginya keragaman genetik ini juga banyak dipengaruhi oleh jumlah induk dalam suatu populasi pembenihan dan juga jumlah induk yang effektif dalam suatu pemijahan. Benih hasil budidaya turunan pertama (F-1) yang dijadikan calon induk untuk pembenihan sangatlah penting untuk diketahui nilai rasio RNA/DNA-nya. Semakin tinggi nilai rasio RNA/DNA pada ikan tersebut, maka kualitas ikan juga semakin baik (Caldarone dan Buckley, 1997; Jung dan Clemmesen, 1997; Seginni dan Chung, 1997; Chicharo et al., 1998).

Secara bertahap penelitian induk ikan kerapu bebek telah dimulai dari induk yang berasal dari alam (F-0), kemudian induk ikan hasil budidaya (F-1) dan berikutnya induk generasi ke dua (F-2). Penelitian diarahkan untuk menghasilkan induk yang dapat diman-faatkan untuk produksi benih berkualitas, sehingga tidak lagi tergantung dari hasil tangkapan di laut.

II. METODE PENELITIAN

Hewan uji yang digunakan adalah induk ikan kerapu bebek 0, 1 dan F-2. Untuk pemeliharaan induk ikan kerapu bebek menggunakan 3 (tiga) bak beton (bak I, bak II dan bak III) yang berbentuk silinder , vulome 75 m3 dan kedalaman air 2 meter. Pada bak I diisi induk ikan kerapu bebek F-0 sebanyak 35 ekor, sedangkan pada bak II dan bak II diisi induk F-1 dan F-2 masing-masing 50 ekor.

Pada bak pemeliharaan induk dilengkapi dengan airasi sebagai sumber oksigen dan sistem air mengalir dengan laju pergantian air antara 350 – 500%/hari. Pakan yang diberikan untuk

(26)

Tridjoko

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 2, No. 2, Desember 2010 19

induk F-0 adalah ikan rucah segar, cumi-cumi dan juga ditambahkan vitamin mix, vitamin C dan vitamin E. Sedangkan pakan untuk induk F-1 dan induk F-2 adalah pellet kering komersial (PG 9-10) dengan kandungan nutrisi sebagai berikut: kadar protein min. 43%, kadar lemak min 9%, kadar abu max. 13%, kadar serat max. 2% dan kadar air max. 12%, juga ditambahkan vitamin mix, vitamin C dan vitamin E. Bila pada bak pemeliharaan induk ikan kerapu terlihat adanya sisa makanan atau kotoran, maka dilakukan penyiponan.

Selanjutnya antara 3 - 5 minggu sekali induk direndam air tawar selama 5 - 10 menit untuk menghilangkan parasit dan bak pemeliharaan induk dibersihkan untuk menghindari dan menanggulangi adanya berbagai kemungkinan serangan penyakit. Pada pipa pembuangan air dipasang jaring kecil berbentuk segi empat dengan ukuran panjang 1 meter, lebar 75 cm dan tinggi 60 cm sebagai tempat penampungan telur yang terbuat dari nylon monofilamen dengan ukuran mata jaring 400 m.

Untuk mengetahui produksi telur ikan kerapu bebek, maka setiap pagi jam 07:30 WITA dilakukan pengamatan pada tempat penampungan telur . Selanjutnya dilihat kualitas dan kuantitas telur tersebut, yaitu jumlah telur yang mengapung, jumlah telur yang teng-gelam, jumlah total telur yang dihasilkan, diameter telur, jumlah gelembung minyak pada telur, diameter gelembung minyak dan daya tetas telur.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengamatan pemijahan induk ikan kerapu bebek dari alam (F-0) yang dipelihara pada tangki volume 75 m3 (tangki I) selama 1 tahun dari bulan

Januari sampai dengan Desember, tertera pada Tabel (1). Dari 35 ekor induk kerapu bebek dengan bobot tubuh antara 1800–3800 gram/ekor telah berhasil memijah sebanyak 33 kali. Jumlah total telur yang dihasilkan mencapai 15.349.000 butir telur. Dari jumlah total telur yang didapatkan nampaknya telur yang dibuahi berjumlah 8.350.000 butir dan daya tetasnya antara 15-85%. Sedangkan telur yang tidak dibuahi sebanyak 6.995.000 butir. Dari hasil-hasil penelitian mengenai pemijahan, bahwa telur yang mempunyai daya tetas rendah atau dibawah 35% akan berpengaruh terhadap pertumbuhan larva. Hal tersebut berakibat pertumbuhan larva lambat, dan sering terjadi kematian massal atau tidak sampai umur 45 hari. Seperti halnya yang terjadi pada ikan kerapu batik (Slamet dan Tridjoko, 1997), kerapu bebek (Tridjoko et al., 1999), dan juga pada ikan laut lainnya seperti ikan napoleon (Slamet et al., 1998), ikan cobia (Priyono

et al., 2005).

Dari 33 kali pemijahan, terlihat bahwa pada bulan April, Mei dan Juni tidak terjadi pemijahan (Gambar 1). Pada bulan Maret, Juli, Agustus dan September jumlah telur yang dihasilkan masing-masing 699.000, 3.350.000, 3.325.000 dan 2.825.000 butir. Sedangkan jumlah telur terbanyak terjadi pada bulan Oktober yaitu 5.150.000 butir. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemijahan ikan-ikan laut ekonomis penting pada umumnya jumlah telur yang dihasilkan setiap bulannya tidaklah stabil melainkan terjadi fluktuasi. Seperti halnya yang terjadi pada ikan bandeng (Vanstone et

al., 1977), ikan kerapu macan (Setyadharma et al., 2003), dan ikan kerapu sunu (Suwirya et al., 2003).

Gambar

Tabel 6. Kadar abu dan kandungan mineral pada tulang juvenil kerapu macan pada  semua perlakuan
Gambar 1. Jumlah total  telur  yang dihasilkan dari  pemijahan induk  ikan  kerapu bebek    dari alam (F-0)
Tabel 1. Pertumbuhan panjang dan berat mutlak, kelangsungan hidup dan rasio konfersi                   pakan  kerapu sunu dari masing-masing perlakuan
Gambar 1.  Kromatogram  GC-MS  TCM  memperlihatkan  bahwa  senyawa  yang  dominan      adalah Acetic acid (CAS) Ethylic acid
+7

Referensi

Dokumen terkait

Selain ikan dari subfamilia Amphiprioninae, di lokasi penelitian ditemukan beberapa jenis biota lain yang juga hidup berasosiasi dengan anemon.. Yang paling umum

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan P sebesar 6 g/kg dan 0 g/kg ke dalam pakan secara nyata berpengaruh terhadap pertumbuhan relatif, efisiensi pakan, kompisisi prosimat

Hal ini menunjukkan bahwa dengan meningkatnya dosis MBM dapat meningkatkan kandungan total karoten dalam pakan dan berdampak positif terhadap peningkatan

Dari pengamatan pada fase awal stadia tersebut dapat disimpulkan bahwa bukaan mulut larva kerapu bebek hasil pembenihan F2 mulai berkembang pada umur 3 hari –

pertumbuhan Chlorella sp pada laju alir 2 l/menit lebih lebih tinggi dibanding laju alir 1,5 l/menit, namun perbedaannya relatif kecil sehingga dapat dikatakan kedua

Keadaan ini identik dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hamzah (2009b) bahwa kematian massal anakan kerang mutiara yang terjadi di Teluk Kodek, Lombok Utara

Kadar logam Fe permukaan perairan Natuna bervariasi antara 0,021- 0,54 mg/L, sedangkan kadarnya dalam sedimen bervariasi antara 751,13-2309,12 mg/kg dengan tren sebaran yang relatif

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keempat jenis teripang tersebut bersifat aktif terhadap uji BSLT yang ditandai dengan nilai LC 50 kurang dari 1000