• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja.pdf"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

4

4 9 9 1 1 5 5 0 0 0 0 4 4 8 8 0 1 0 1 G G T T 0 0 5 5 0 0 66 LAPORAN AKHIR

LAPORAN AKHIR

Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi Jalan di

Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi Jalan di

Atas Tanah Lunak

Atas Tanah Lunak

D E P D E P A R T EA R T E M E N M E N P E KP E K E R JE R J A A N A A N U M UU M U MM B A D A N P B A D A N P E N E L IE N E L I T I A N D AT I A N D A N P E N G EN P E N G E M B A N GM B A N G A NA N P U S A T P E N E L I T I A N D A N P E N G E M B A N G A N J A L A N D A N J E M B A T A N P U S A T P E N E L I T I A N D A N P E N G E M B A N G A N J A L A N D A N J E M B A T A N Jl. AH. Nasution

(2)
(3)

Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi Jalan di Atas

Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi Jalan di Atas

Tanah Lunak

Tanah Lunak

TAHUN 2006

TAHUN 2006

Bandung,

Bandung, Desember Desember 20062006 Mengetahui:

Mengetahui: Kepala

Kepala Balai/Koordinator Balai/Koordinator Kegiatan Kegiatan Penanggung Penanggung Jawab Jawab StudiStudi

Dr.

Dr. Ir. Ir. Hedy Hedy Rahadian, Rahadian, M.Sc. M.Sc. Rakhman Rakhman Taufik, Taufik, M.Sc.M.Sc. NIP.

NIP. 110043985 110043985 NIP. NIP. 110055375110055375

Menyetujui: Menyetujui: Ketua Tim Teknis Ketua Tim Teknis

Ir. Agus Bari Sailendra, M.Sc. Ir. Agus Bari Sailendra, M.Sc.

NIP.

NIP. 110020993110020993

Kepala Pusat Litbang Jalan dan

Kepala Pusat Litbang Jalan dan JembatanJembatan

Dr. Ir. M.

Dr. Ir. M. SjahdanulirSjahdanulirwan, M.Sc.wan, M.Sc. NIP: 110019271

(4)

4

4 9 9 1 1 5 5 0 0 0 0 4 4 8 8 0 1 0 1 G G T T 0 0 5 5 0 0 66

Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi

Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi

Jalan di Atas Tanah Lunak

Jalan di Atas Tanah Lunak

Tim Pelaksana Tim Pelaksana 1.

1. Penanggung Penanggung Jawab Jawab Studi Studi : : Rakhman Rakhman Taufik, Taufik, M.Sc.M.Sc. 2.

2. Anggota Anggota Tim Tim : : 1. 1. Dian Dian Asri Asri M., M., M.Sc.M.Sc. 2. Dea Pertiwi, ST 2. Dea Pertiwi, ST 3. Desyanti, ST. 3. Desyanti, ST. 4. Fahmi Aldiamar, ST. 4. Fahmi Aldiamar, ST. 5. Yulianto, A.Md. 5. Yulianto, A.Md. 6. Amad Jaenudin 6. Amad Jaenudin 7. Yayah Rokayah 7. Yayah Rokayah 8. Yusuf Sukandar 8. Yusuf Sukandar

Penanggung Jawab Studi Penanggung Jawab Studi

(Rakhman Taufik, M.Sc.) (Rakhman Taufik, M.Sc.)

NIP.

(5)

Ringkasan Eksekutif

1. Latar Belakang

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh perlunya peningkatan efisiensi dalam penyelenggaraan konstruksi. Masalah yang sering timbul dengan kontrak tradisional yang saat ini adalah terjadinya penurunan tingkat pelayanan jalan dalam umur rencananya, keterlambatan pemeliharaan jalan yang berakibat tingginya biaya pemeliharaan, kurang efisiennya penggunaan sumber daya manusia dan waktu, serta mahalnya biaya konstruksi jalan di atas tanah lunak.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, diperlukan adanya kajian serta implementasi kontrak alternatif yang disebut kontrak berbasis kinerja ( Performance Based Contract , PBC).

2. Tujuan dan Sasaran

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengembangkan panduan pemilihan tipe kontrak untuk konstruksi jalan di atas tanah lunak dan pengembangan standar baku dokumen kontrak berbasis kinerja.

Sasaran dari kegiatan ini adalah: Tahun Anggaran 2006:

• Untuk mengeksplorasi dan mengkaji tipe kontrak yang sesuai digunakan untuk

konstruksi jalan di atas tanah lunak

• Untuk menyusun panduan pemilihan tipe kontrak termasuk (decision support system)

Volume I yang bersifat teori

Tahun Anggaran 2007:

• Penyusunan panduan PBC Volume II yang bersifat aplikatif yang berisi antara lain

hasil studi komparatif antara kontrak tradisional dan PBC

• Penyusunan proposal seksi percobaan (trial section ) termasuk dokumen kontrak

Tahun Anggaran 2008 – 2010:

• Untuk mendapatkan data kinerja jalan jangka panjang untuk evaluasi efektifitas

(6)

pedoman dan dokumen kontrak.

3. Hipotesa

Hipotesa tidak dibentuk karena pada kegiatan yang bersifat kajian ini tidak dilakukan pembuktian atau pengujian hipotesa

4. Metodologi

Kegiatan penyusunan pedoman PBC pada intinya dilakukan dengan transfer pengetahuan dari Tim Belanda yang telah berpengalaman dalam penerapan PBC. Hasil diskusi dengan tim Belanda ini akan diadaptasi dengan kondisi Indonesia melalui diskusi dengan narasumber. Nara sumber untuk tahun anggaran 2007 adalah dari Bina Marga dan Bapekin. Pada tahun anggaran 2008 akan dilakukan diskusi dengan stake holders yang lebih luas (melibatkan praktisi konsultan dan kontraktor).

Kegiatan diskusi telah dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu di Ciater tanggal 5-8 September 2005 dan di Jakarta 28Juni-1 Juli 2006 dan 11-14 Desember 2006.

5. Hasil Pengkajian

Dari hasil kajian pustaka dan workshop telah teridentifikasi perlunya penerapan PBC di Indonesia untuk mengurangi masalah-masalah yang timbul berkenaan dengan praktik kontrak tradisional saat ini.

Walaupun demikian, masih ada beberapa aspek yang dapat menjadi kendala penerapan PBC di Indonesia. Aspek-aspek tersebut antara lain masalah identifikasi resiko, alokasi resiko antara pemilik proyek dan penyedia jasa, aspek-aspek hukum dan kesiapan kontraktor dalam melakukan PBC.

6. Kesimpulan dan Saran

Dari hasil Workshop, ditengarai perlunya menerapkan kontrak berbasis kinerja (Performance Based Contract, PBC) di Indonesia karena alasan sebagai berikut:

• Perlunya mempertahankan tingkat layanan jalan selama umur rencananya dengan

pekerjaan pemeliharaan yang efisien.

• Meningkatnya biaya pemeliharaan jalan akibat keterlambatan pekerjaan pemeliharaan

(7)

• Perlunya mengefisienkan sumber daya manusia dalam pengadaan jasa konsultansi

dan konstruksi

• Perlunya integrasi antara perencanaan dan konstruksi akibat keterbatasan waktu

proyek (misalnya pembangunan Jembatan Cipada di Cipularang)

• Sulitnya menentukan pihak yang bertanggung jawab antara pemilik proyek dan

penyedia jasa apabila terjadi kegagalan konstruksi

• Perlunya menciptakan inovasi teknologi untuk menurunkan biaya konstruksi jalan di

atas tanah lunak.

Tipe kontrak yang sesuai untuk PBC adalah tipe kontrak terintegrasi dan kontrak lifecycle, yaitu kontrak tim pembangunan, kontrak perencanaan dan pembangunan, kontrak terima  jadi, kontrak umum, kontrak perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan, kontrak

pembangunan, pengoperasian dan transfer dan kontrak aliansi.

Penyusunan konsep panduan pemilihan tipe kontrak dan decision support system telah dilakukan pada Tahun Anggaran ini. Judul konsep panduan ini adalah “ Practical Guideline on Performance Based Contracts in Indonesia ”. Panduan ini terdiri dari 9 Bab yang mencerminkan langkah-langkah penentuan tipe kontrak serta decision support system.

Untuk penerapan PBC, disarankan untuk melakukan analisis resiko dan manajemen resiko secara mendetail, perlu adanya regulasi yang mendukung aplikasi PBC, serta sosialisasi PBC kepada penyedia jasa.

7. Foto-foto Kegiatan

(8)

Small Group Discussion, Jakarta 28Juni-1 Juli 2006

(9)

Kata Pengantar

Latar belakang dari kegiatan ini adalah perlunya meningkatkan efisiensi dalam penyelenggaraan konstruksi yang salah satunya berkaitan dengan kontrak. Penerapan kontrak berbasis kinerja (PBC) diharapkan dapat mengurangi masalah-masalah yang timbul dari penerapan kontrak tradisional saat ini.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan panduan pemilihan tipe kontrak untuk konstruksi jalan di atas tanah lunak dan pengembangan standar baku dokumen kontrak berbasis kinerja. Sasaran dari kegiatan Tahun Anggaran 2006 ini adalah kajian tipe-tipe kontrak yang sesuai digunakan untuk konstruksi jalan di atas tanah lunak dan penyusunan konsep pedoman pemilihan tipe kontrak serta sistem pendukung pengambilan keputusan (decision support system ).

Tahapan kegiatan pada Tahun 2006 pada intinya dilakukan dengan transfer pengetahuan dari Tim Belanda yang telah berpengalaman dalam penerapan PBC. Hasil diskusi dengan tim Belanda ini akan diadaptasi dengan kondisi Indonesia melalui diskusi dengan narasumber. Nara sumber untuk tahun anggaran 2007 adalah dari Bina Marga dan Bapekin. Pada tahun anggaran 2008 akan dilakukan diskusi dengan stake holders yang lebih luas (melibatkan praktisi konsultan dan kontraktor).

Dari kegiatan tahun Anggaran 2006 telah disusun konsep panduan pemilihan tipe kontrak termasuk decision support system yang bersifat teori. Dari hasil workshop ditengarai perlu adanya panduan yang bersifat lebih aplikatif dan direncanakan untuk dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2007.

Diharapkan kegiatan ini dapat diterapkan dalam skala penuh untuk menerapkan panduan yang telah terususun serta mengevaluasi efektifitas penerapan PBC untuk kondisi di Indonesia. Untuk penerapan PBC, disarankan untuk melakukan analisis resiko dan manajemen resiko secara mendetail, perlu adanya regulasi yang mendukung aplikasi PBC, serta sosialisasi PBC kepada penyedia jasa.

(10)

Abstrak

Untuk meningkatkan efisiensi dalam penyelenggaraan konstruksi yang salah satunya berkaitan dengan kontrak, ditengarai perlunya penerapan kontrak alternatif yang berbasis kinerja atau disebut Performance Based Contract  (PBC).

Melalui penerapan PBC diharapkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kontrak tradisional dapat direduksi. Dengan skema PBC yang mengintegrasikan tahap desain, konstruksi dan/atau pemeliharaan, penyedia jasa bertanggung jawab secara penuh untuk memenuhi kinerja jalan selama umur rencananya. Kontrak PBC yang bersifat lumpsum akan menghindarkan terjadinya claim atau perubahan order kontrak ( change of contract order ) sehingga pemilik proyek mempunyai estimasi biaya yang lebih pasti. Dengan spesifikasi kinerja yang digunakan dalam skema PBC, akan tercipta inovasi-inovasi teknologi karena penyedia jasa bebas memilih alternatif-alternatif teknologi selama dapat memenuhi spesifikasi kinerjanya.

Kegiatan ini direncanakan sebagai kegiatan litbang multi tahun (2006-2010) dimana pada tahun 2006 mempunyai tujuan untuk mengembangkan panduan pemilihan tipe kontrak untuk konstruksi jalan di atas tanah lunak termasuk decision support system (DSS). Pada tahun 2007 direncanakan pengembangan dokumen kontrak berbasis kinerja dan penerapannya secara langsung melalui konstruksi seksi percobaan ( trial section) skala penuh, tahun 2008-2009 monitoring kinerja dan 2010 meliputi kegiatan analisis dan evaluasi akhir serta pengkinian panduan dan dokumen kontrak.

Dari kegiatan tahun Anggaran 2006 telah disusun konsep panduan pemilihan tipe kontrak termasuk decision support system yang bersifat teori. Dari hasil workshop ditengarai perlu adanya panduan yang bersifat lebih aplikatif dan direncanakan untuk dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2007.

Disarankan kegiatan ini diterapkan dalam skala penuh untuk menerapkan panduan yang telah terususun serta mengevaluasi efektifitas penerapan PBC untuk kondisi di Indonesia. Untuk penerapan PBC, disarankan untuk melakukan analisis resiko dan manajemen resiko secara mendetail, perlu adanya regulasi yang mendukung aplikasi PBC, serta sosialisasi PBC kepada penyedia jasa.

(11)

Daftar Isi

Lembar Pengesahan ...i

Tim Pelaksana Kegiatan ... ii

Rangkuman Eksekutif ... iii

Kata Pengantar ... iv

Abstrak...v

Daftar Isi... vi

1 PENDAHULUAN

...1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Sasaran ... 2

1.3 Luaran (Output)... 2 1.4 Hasil (Outcome) ... 3 1.5 Keuntungan (Benefit) ... 3 1.6 Dampak (Impact)... 3

2 KAJIAN PUSTAKA

...4 2.1 Definisi Kontrak... 4 2.2 Tipe Kontrak... 5 2.2.1 Kontrak Tradisional ... 6

2.2.2 Kontrak Tim Pembangunan (Building Team Contract ) ... 6

2.2.3 Kontrak Perencanaan dan Pembangunan (Design and Build Contract ) ... 7

2.2.4 Kontrak Turnkey (Turnkey Contract ) ... 8

2.2.5 Kontrak Umum (General Contracting ) ... 8

2.2.6 Kontrak Perencanaan, Pembangunan dan Pemeliharaan (Design, Build and Maintenance Contract )... 8

2.2.7 Kontrak Pembangunan, Pengoperasian dan Transfer (Build Operate Transfer Contract , BOT)... 9

2.2.8 Kontrak Aliansi (Alliance Contracting) ... 9

2.3 Jenis Kontrak di Indonesia Menurut Keppres No 80/2003...10

2.4 Siklus Proyek di Bina Marga ...11

2.5 Perkembangan Kontrak Berbasis Kinerja (PBC) ...13

2.5.1 Pengalaman Kontrak Berbasis Kinerja di Negara Lain...13

2.5.2 Pengalaman dan Rencana Penerapan PBC di Indonesia...15

(12)

2.6.1 Undang-undang yang Berkaitan dengan Kontrak Berbasis

Kinerja...17

2.6.2 Integrasi Tahap Perencanan, Konstruksi dan Pemeliharaan...20

2.6.3 Metode Seleksi Penyedia Jasa ...23

2.6.4 Kontrak Tahun Jamak...30

2.6.5 Kontrak Lumpsum...32 2.6.6 Spesifikasi Teknis ...33 2.6.7 Rangkuman...34

3 METODOLOGI

...36 3.1 Hipotesa...36 3.2 Kerangka Pemikiran...36 3.3 Metodologi Kegiatan...36 3.3.1 Kajian Pustaka...36 3.3.2 Penyusunan Pedoman PBC ...37

3.3.3 Penerapan Pedoman PBC Melalui Pilot Project...39

4 HASIL KAJIAN

...40

4.1 Perlunya Penerapan PBC di Indonesia ...40

4.2 Kendala dalam Penerapan PBC...41

4.3 Spesifikasi Kinerja...44

4.4 Pedoman PBC Volume I dan Decision Support System...51

5 KESIMPULAN DAN SARAN

...54

5.1 Kesimpulan ...54

5.1.1 Perlunya Penerapan PBC di Indonesia...54

5.1.2 Tipe Kontrak untuk PBC...55

5.1.3 Panduan Pemilihan Tipe Kontrak dan Decision Support System ..55

5.2 Saran ...56

Daftar Pustaka

Lampiran A: Minutes of Meeting Workshop I (Ciater, September 2005) Lampiran B: Minutes of Meeting Workshop II (Jakarta, Juni 2006)

Lampiran C: Minutes of Meeting Workshop III (Jakarta, Desember 2006)

Lampiran D: Konsep Practical Guideline on Performance Based Contract for Road Construction in Indonesia

(13)

Daftar Gambar

Gambar 2.1. Skematisasi Kontrak Tradisional...6

Gambar 2.2. Skematisasi Kontrak Tim Pembangunan ...7

Gambar 2.3. Skematisasi Kontrak Perencanaan dan Pembangunan ... 7

Gambar 2.4. Skematisasi Kontrak Umum...8

Gambar 2.5. Skematisasi Kontrak Perencanaan, Pembangunan dan Pemeliharaan...9

Gambar 2.6. Siklus Proyek di Indonesia...12

Gambar 2.7. Lokasi Penerapan PBC di Ruas Jalan Semarang-Pekalongan (Greenwood & Henning, 2006)...16

Gambar 3.1. Bagan Alir Penyusunan Pedoman PBC (T.A. 2006-2007) ...38

Gambar 3.2. Bagan Alir Pilot Project (T.A. 2007) ... 39

Gambar 4.1. Timbunan Uji Tipe IA (Normal Embankment) di Berengbengkel, Kalimantan Tengah ...47

Gambar 4.2. Kinerja Timbunan Uji Tipe IA (Normal Embankment) Berengbengkel ... 47

Gambar 4.3. Timbunan Uji Tipe IA (Normal Embankment) di Kaliwungu, Semarang...48

Gambar 4.4. Kinerja Timbunan Uji Tipe IA (Normal Embankment) Kaliwungu...49

Gambar 4.5. Timbunan Uji Tipe III (PVD Embankment) di Kaliwungu, Semarang... 50

Gambar 4.6. Kinerja Timbunan Uji Tipe III (PVD Embankment) Kaliwungu ...51

Daftar Tabel Tabel 2.1. Tipe Kontrak dan Tingkat Integrasi ...5

Tabel 2.2. Seksi Betuwe Railroad Project...14

Tabel 2.3. Biaya Seksi Havenspoor dan Riverland...14

Tabel 2.4. Ringkasan Studi Hukum Kontrak Berbasis Kinerja ... 34

Tabel 4.1. Kriteria Tingkat Pelayanan Lapis Beraspal Perkerasan Lentur (Pustran, 2004)...45

(14)

1 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Konstruksi jalan di atas tanah lunak dan pemeliharaannya sering memerlukan biaya yang sangat tinggi. Untuk mendapatkan biaya yang efisien diperlukan adanya stimulasi terhadap inovasi-inovasi teknologi diantaranya dengan menerapkan kontrak alternatif berbasis kinerja.

Pada saat ini tipe kontrak yang biasa digunakan oleh Departemen Pekerjaan Umum masih memisahkan tahap desain, konstruksi dan pemeliharaan jalan. Kontrak tersebut memakai sistem satuan harga (unit price ) dan mensyaratkan spesifikasi teknis tertentu yang harus digunakan oleh penyedia jasa (kontraktor). Dengan tipe kontrak ini, terutama pada kasus jalan di atas tanah lunak, seringkali terjadi pembengkakan biaya akibat adanya pekerjaan-pekerjaan tambahan yang belum teridentifikasi dalam tahap desain. Jadi dalam hal ini, resiko meningkatnya biaya konstruksi dan pemeliharaan jalan sepenuhnya dipikul oleh pemilik proyek.

Dalam tipe kontrak berbasis kinerja, terdapat integrasi dari seluruh tahap desain, konstruksi dan pemeliharaan. Pemilik proyek hanya mensyaratkan kinerja jalan yang ingin dicapai dan penyedia jasa sepenuhnya melakukan desain, konstruksi dan pemeliharaan  jalan. Dengan tipe kontrak ini, kontraktor dapat melakukan inovasi-inovasi teknologi untuk mendapatkan biaya konstruksi dan pemeliharaan jalan yang paling efisien. Dampak positif lain dari tipe kontrak ini adalah terdistribusinya resiko peningkatan biaya konstruksi dan pemeliharaan antara pemilik proyek dan kontraktor.

Kegiatan ini direncanakan sebagai kegiatan litbang multi tahun (2006-2010) dimana pada tahun 2006 mempunyai tujuan utama untuk mengembangkan panduan pemilihan tipe kontrak untuk konstruksi jalan di atas tanah lunak termasuk decision support system (DSS). Pada tahun 2007 direncanakan pengembangan dokumen kontrak berbasis kinerja dan penerapannya secara langsung melalui konstruksi seksi percobaan ( trial section) skala penuh, tahun 2008-2009 monitoring kinerja dan 2010 meliputi kegiatan analisis dan evaluasi akhir serta pengkinian panduan dan dokumen kontrak.

(15)

1.2 Tujuan dan Sasaran Tujuan dari kegiatan ini adalah:

• Pengembangan panduan pemilihan tipe kontrak untuk konstruksi jalan di atas tanah

lunak

• Pengembangan standar baku dokumen kontrak berbasis kinerja

Sasaran dari kegiatan ini adalah: Tahun Anggaran 2006:

• Untuk mengeksplorasi dan mengkaji tipe kontrak yang sesuai digunakan untuk

konstruksi jalan di atas tanah lunak

• Untuk menyusun panduan pemilihan tipe kontrak termasuk (decision support system)

Volume I yang bersifat teori

Tahun Anggaran 2007:

• Penyusunan panduan PBC Volume II yang bersifat aplikatif yang berisi antara lain

hasil studi komparatif antara kontrak tradisional dan PBC

• Penyusunan proposal seksi percobaan (trial section ) termasuk dokumen kontrak

Tahun Anggaran 2008 – 2010:

• Untuk mendapatkan data kinerja jalan jangka panjang untuk evaluasi efektifitas

penerapan kontrak alternatif berbasis kinerja yang diperlukan dalam pengkinian pedoman dan dokumen kontrak.

1.3 Luaran (Output) Tahun Anggaran 2006:

• Konsep panduan pemilihan tipe kontrak untuk konstruksi jalan di atas tanah lunak

(Volume I: Teori), dalam bahasa Inggris

• Konsep decision support system pemilihan tipe kontrak, dalam bahasa Inggris

Tahun Anggaran 2007:

• Konsep dokumen kontrak berbasis kinerja (Volume I: Teori) dalam bahasa Indonesia • Hasil studi komparatif antara Kontrak Tradisional dan PBC

• Konsep dokumen kontrak berbasis kinerja (Volume II: Aplikasi) dalam bahasa

(16)

• Proposal Pilot Project, termasuk dokumen kontrak

Tahun Anggaran 2008 – 2010:

• Konstruksi seksi uji coba •

• Pemasangan instrumentasi pada seksi uji coba untuk pengukuran kinerja jalan • Hasil monitoring dan evaluasi kinerja jalan

• Evaluasi dan pengkinian pedoman PBC termasuk decision support system

1.4 Hasil (Outcome)

Dengan adanya decision support system tersebut, akan tersedia pedoman bagi para pengambil keputusan dalam memilih tipe kontrak yang sesuai untuk konstruksi jalan.

Standar baku dokumen kontrak berbasis kinerja bermanfaat sebagai acuan untuk menyusun dokumen kontrak untuk konstruksi jalan di atas tanah lunak.

1.5 Keuntungan (Benefit)

Keuntungan dari kegiatan ini adalah adanya stimulasi terhadap inovasi-inovasi teknologi penanganan jalan di atas tanah lunak.

1.6 Dampak (Impact)

Dampak dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan efisiensi biaya konstruksi dan pemeliharaan jalan pada tanah lunak dengan memberikan kesempatan terhadap inovasi-inovasi teknologi melalui penerapan dokumen alternatif berbasis kinerja.

(17)

2 Kajian Pustaka

Kajian pustaka dibagi dalam kegiatan ini mencakup kajian tipe-tipe kontrak, tahapan kegiatan proyek di Bina Marga, undang-undang atau peraturan mengenai kebijakan yang berhubungan dengan penerapan kontrak berbasis kinerja dan studi kasus penerapan kontrak berbasis kinerja di Indonesia dan di luar negeri.

2.1 Definisi Kontrak

Sebagian besar pekerjaan infrastruktur dilakukan di bawah kontrak. Kontrak merupakan kesepakatan yang mewajibkan seluruh pihak untuk melaksanakan seluruh kegiatan yang disyaratkan. Dalam suatu kontrak konstruksi, kontraktor harus membuat suatu konstruksi sedangkan pemilik proyek harus membayarnya. Kontrak k onstruksi mempunyai beberapa fungsi yaitu:

• Memberikan spesifikasi pekerjaan yang harus dilakukan oleh kontraktor tersmasuk

kualitas yang dibutuhkan dan waktu untuk menyelesaikan setiap bagian pekerjaan.

• Mendefinisikan masalah pembayaran, diantaranya volume pekerjaan yang harus

dibayar, pekerjaan tambah-kurang dan kapan pembayaran dilakukan.

• Mendefinisikan pihak mana yang bertanggung jawab jika terjadi suatu hal di luar di

luar kontrol semua pihak (misalnya cuaca buruk, kesulitan jalan akses, perubahan peraturan, kondisi tanah dasar, dan sebagainya).

• Mendefinisikan siapa yang bertanggung jawab untuk menangani berbagai macam

perselisihan

Segitiga pekerjaan konstruksi terdiri dari pemilik proyek, perencana dan kontraktor yang masing-masing mempunyai tugas sebagai berikut:

• Pemilik proyek memutuskan lingkup, program, waktu dan biaya proyek sebelum

perencanaan. Selama tahap perencanaan dan konstruksi, pemilik proyek dapat melakukan pengawasan kemajuan dan kualitas pekerjaan.

• Perencana (arsitek) melakukan perencanaan bentuk, ukuran dan penampilan estetis

dari suatu konstruksi. Perencana memberikan gambar rencana dan spesifikasi yang dibutuhkan.

• Perencana melakukan perencanan elemen-elemen struktur dan memberikan gambar

(18)

stabilitas konstruksi. Selama masa konstruksi, sebagai wakil pemilik proyek, perencana dapat menjadi pengawas kemajuan dan kualitas pekerjaan.

• Kontraktor melakukan konstruksi sesuai dengan desain yang diberikan konsultan.

Kontraktor merupakan penentu utama dari segi biaya, waktu dan kualitas dari suatu proyek.

Kontrak yang biasa dilaksanakan di Indonesia adalah kontrak yang terpisah antara perencanaan, konstruksi dan pemeliharaan atau disebut Kontrak Tradisional. Sejak tahun 1990an, terdapat tendensi ke arah kontrak yang lebih terintegrasi yang disebut Kontrak Berbasis Kinerja atau Performance Based Contract   (PBC). Jenis-jenis kontrak yang termasuk dalam PBC diantaranya adalah Building Team Contract, Turnkey Contract, Design & Build Contract dan Alliance Contract . Pemilihan jenis kontrak tersebut tergantung dari waktu, sumber daya, biaya, tanggung jawab perencanaan dan resiko pekerjaan. Tipe kontrak tersebut diterangkan lebih lanjut di sub bab berikut ini.

2.2 Tipe Kontrak

Tipe-tipe kontrak dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut yaitu:

• Tradisional: memisahkan perencanaan, konstruksi dan pemeliharaan • Terintegrasi: perencanaan dan konstruksi digabung

• Lifecycle: perencanaan, konstruksi dan pemeliharaan digabung

Hubungan antara tipe-tipe kontrak dan tingkat integrasi diperlihatkan pada Tabel 2.1 dan diterangkan lebih lanjut pada Sub Bab di bawah ini (O’reilly, 1996; O’reilly, 1999).

Tabel 2.1. Tipe Kontrak dan Tingkat Integrasi

Contract Type Tradisional Terintegrasi Lifecycle

Traditional Contract X

Building Team Contract X

Design and Build Contract X

Turnkey Contract (EPC) X

General Contracting X

Design, Build and Maintenance Contract X

BOT Contract X

(19)

2.2.1 Kontrak Tradisional

Dalam suatu kontrak tradisional, pemilik proyek (biasanya dibantu oleh suatu konsultan) mempersiapkan dokumen desain dan dokumen kontrak. Kontraktor kemudian dipilih melalui suatu proses seleksi dan kontraktor yang terpilih melakukan pekerjaan di bawah pengawasan konsultan pengawas. Konsultan pengawas tersebut bertanggung jawab terhadap pemilik proyek. Skema Kontrak Tradisional diperlihatkan pada Gambar 2.1.

Requirements Design Construction

(1) (2) (3)

Requirements Design Construction

Requirements Design Construction

(1) (2) (3) (1) (2) (3) Line organisation Contract Tendering Line organisation Contract Tendering Traditional Contract Employer (1) Architect (2) Engineer (2) Contractor (3)

Subcontractor (3) Subcontractor (3) Subcontractor (3)

Traditional Contract

Employer (1) Architect (2) Engineer (2)

Contractor (3)

Subcontractor (3) Subcontractor (3) Subcontractor (3)

Gambar 2.1. Skematisasi Kontrak Tradisional

2.2.2 Kontrak Tim Pembangunan (Building Team Contract )

Kontrak Tim Pembangunan berarti dalam suatu kerjasama sementara, pemilik proyek, konsultan perencana dan kontraktor bekerja bersama dalam suatu proses pembangunan. Kontraktor biasanya tidak dipilih melalui suatu seleksi dan kontraktor menghitung biaya konstruksi berdasarkan perkiraan biaya secara terbuka. Skema Building Team Contract diperlihatkan pada Gambar 2.2

(20)

Line organistion Contract Tendering Line organistion Contract Tendering

Requirements Design Construction

Requirements Design Construction

(1) (2)

(3) Building Team

Building Team Contract

Employer (1) Building Project Manager Engineer (2) Architect (2)

Contractor (3)

Subcontractor (3) Subcontractor (3) Subcontractor (3)

Building Team Contract

Employer (1) Building Project Manager Engineer (2) Architect (2)

Contractor (3)

Subcontractor (3) Subcontractor (3) Subcontractor (3)

Gambar 2.2. Skematisasi Kontrak Tim Pembangunan

2.2.3 Kontrak Perencanaan dan Pembangunan (Design and Build Contract )

Dalam tipe kontrak ini, pemilik proyek mempersiapkan program kebutuhannya dan perencanaan dasar (basic desain ). Pemilik proyek kemudian memilih suatu badan yang bertindak sebagai arsitek, perencana dan kontraktor pelaksana dalam satu kontrak untuk melakukan perencanaan dan pelaksanaan konstruksi. Selama pelaksanaan pekerjaan, pemilik proyek akan memeriksa apakah perencanaan dan konstruksi telah memenuhi kriteria yang telah disyaratkan. Skema kontrak perencanaan dan pembangunan diperlihatkan pada Gambar 2.3.

Line organisation Contract Tendering Line organisation Contract Tendering

Requirements Design Construction

Requirements Design Construction

(1) (3,2) (3,2) (4) (1 ) (1 )

Design & Build Contract

Client (1) Consulting Designer (4)

Contractor (3)

Architect / Designer (2) Subcontractor (3)

Design & Build Contract

Client (1) Consulting Designer (4)

Contractor (3)

Architect / Designer (2) Subcontractor (3)

(21)

2.2.4 Kontrak Turnkey (Turnkey Contract )

Kontrak turnkey (juga dikenal sebagai kontrak pengadaan konstruksi) pada dasarnya sama dengan kontrak perencanaan dan pembangunan, perbedaannya hanya tingkat pengaruh pemilik proyek dalam mengontrol proses pekerjaan. Dalam kontrak turnkey, pemilik proyek hanya memeriksa hasil akhir pekerjaan.

2.2.5 Kontrak Umum (General Contracting )

Kontrak umum sama dengan kontrak turnkey, perbedaannya adalah kontraktor terlibat dari awal proses pekerjaan termasuk saat penentuan program kebutuhan. Skema Kontrak Umum disajikan pada Gambar 2.4.

Line organisation Contract Tendering Line organisation Contract Tendering

Requirements Design Construction

(1,4)

(2) (3)

(4)

Requirements Design Construction

Requirements Design Construction

(1,4) (2) (3) (4) (1,4) (2) (3) (4) General Contracting Client (1)

Building Project Manager (4) Designer (2) Architect (2)

Contractor (3)

Subcontractor (3) Subcontractor (3) Subcontractor (3) General Contracting

Client (1)

Building Project Manager (4) Designer (2) Architect (2)

Contractor (3)

Subcontractor (3) Subcontractor (3) Subcontractor (3)

Gambar 2.4. Skematisasi Kontrak Umum

2.2.6 Kontrak Perencanaan, Pembangunan dan Pemeliharaan (Design, Build and Maintenance Contract )

Tipe kontrak ini sama dengan Kontrak Perencanaan dan Pembangunan, tetapi ditambah dengan komponen pemeliharaan. Oleh karena itu pemilik proyek akan mempersiapkan program pemeliharaan selain perencanaan dasar. Program pemeliharaan menjelaskan periode pemelihraan, kinerja fungsional dan operasional dari konstruksi yang telah dibangun, tingkat kerusakan (deterioration ) dari infrastruktur, pembayran selama masa pemeliharaan dan sebagainya. Untuk proyek jalan, kebutuhan pemeliharaan dapat mencakup penurunan maksimum dan penurunan diferensial setelah sekian tahun.

(22)

Pemilik proyek akan memilih badan atau perusahaan yang berfungsi sebagai arsitek, perencana dan kontraktor dalam satu kontrak. Selama pelaksanaan proyek, pemilik proyek akan memeriksa apakah perencanaan dan konstruksi telah memenuhi kriteria yang telah disyaratkan. Skema kontrak ini diperlihatkan pada Gambar 2.5.

bank bankbank bank Principal (1) Principal (1) Consultant (4) Consultant (4) Engineers (2)

Engineers (2) Sub contr. (3)Sub contr. (3) Main contractor(3) Main contractor(3) Principal (1) Principal (1) Consultant (4) Consultant (4) Engineers (2)

Engineers (2) Sub contr. (3)Sub contr. (3) Main contractor(3) Main contractor(3) management Legal structure. procurement management Legal structure. procurement (1) (4) (3,2)

definition design realisation exploitation definition design realisation exploitation

(1) (4)

(3,2)

definition design realisation exploitation definition design realisation exploitation

Gambar 2.5. Skematisasi Kontrak Perencanaan, Pembangunan dan Pemeliharaan

2.2.7 Kontrak Pembangunan, Pengoperasian dan Transfer (Build Operate Transfer Contract , BOT)

Dalam suatu kontrak BOT, suatu badan swasta (pemegang konsesi) menerima suatu konsesi untuk mengembangkan, mendanai, mengoperasikan, memelihara dan dan kemungkinan secara sementara memiliki suatu proyek. Di akhir periode konsesi, proyek tersebut diserahkan pada pemilik proyek.

2.2.8 Kontrak Aliansi (Alliance Contracting)

Kontrak aliansi adalah sebuah pendekatan manajemen skala penuh yang berbeda jauh dengan kontrak tradisional. Komponen fundamental dari kontrak aliansi adalah:

• Kerjasama benar-benar berdasarkan kesetaraan dari seluruh pihak yang terlibat • Tujuan umum yang jelas

(23)

Setiap komponen didasarkan kepercayaan dan keinginan untuk bekerjasama dan berkomunikasi dalam suatu proses yang terbuka.

2.3 Jenis Kontrak di Indonesia Menurut Keppres No 80/2003

Jenis kontrak di Indonesia secara formal didefinisikan melalui Pasal 30 Keppres No. 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, dan penjelasannya sebagai berikut:

Pasal 30

(1) Kontrak pengadaan barang/jasa dibedakan atas: a. berdasarkan bentuk imbalan:

1) lump sum; 2) harga satuan;

3) gabungan lump sum dan harga satuan; 4) terima jadi (turn key);

5) persentase.

b. berdasarkan jangka waktu pelaksanaan: 1) tahun tunggal;

2) tahun jamak.

c. berdasarkan jumlah pengguna barang/jasa: 1) kontrak pengadaan tunggal;

2) kontrak pengadaan bersama.

(2) Kontrak lump sum  adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu, dengan jumlah harga yang pasti dan tetap, dan semua resiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa.

(3) Kontrak harga satuan adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu, berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu, yang volume pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara, sedangkan pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa.

(4) Kontrak gabungan lump sum dan harga satuan adalah kontrak yang merupakan gabungan lump sum dan harga satuan dalam satu pekerjaan yang diperjanjikan.

(24)

(5) Kontrak terima jadi adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemborongan atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi, peralatan dan jaringan utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan.

(6) Kontrak persentase  adalah kontrak pelaksanaan jasa konsultansi di bidang konstruksi atau pekerjaan pemborongan tertentu, dimana konsultan yang bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase tertentu dari nilai pekerjaan fisik konstruksi/ pemborongan tersebut.

(7) Kontrak tahun tunggal  adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa 1 (satu) tahun anggaran.

(8) Kontrak tahun jamak adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa lebih dari 1 (satu) tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri Keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN, Gubernur untuk pengadaan yang dibiayai APBD Propinsi, Bupati/Walikota untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten/Kota.

(9) Kontrak pengadaan tunggal adalah kontrak antara satu unit kerja atau satu proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu.

(10) Kontrak pengadaan bersama  adalah kontrak antara beberapa unit kerja atau beberapa proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang  jelas dari masing-masing unit kerja dan pendanaan bersama yang dituangkan

dalam kesepakatan bersama.

2.4 Siklus Proyek di Bina Marga

Menurut DPU (1991), kebutuhan terhadap suatu proyek infrastruktur berkembang dari beberapa faktor berikut ini:

 Kurangnya tingkat keamanan yang menyebabkan terjadinya banyak kecelakaan  Kurangnya kapasitas jalan yang menyebabkan terjadinya kemacetan

 Dampak lalu lintas yang menimbulkan masalah lingkungan dan masalah sosial  Kerusakan atau keruntuhan pada suatu jalan eksisting

(25)

Pemerintah Indonesia telah menjelaskan siklus yang disebut Siklus Proyek seperti diperlihatkan pada Gambar 2.6.

STAGE 5 PRE-CONSTRUCTION - Implementaiton of land acquisition survey and inventory

- Preparation of plan for land acquisition/resettlement doc.

STAGE 4  TECHNICAL DESIGN

Incorporate RKL-RPL LARAP study ToR Tracer Study

STAGE 3

 FEASIBILITY STUDY (INCLUDING PED) - Scoping & preparation of AMDAL ToR

- ANDAL, RKL & RPL or UKL-UPL - ToR detailed social or socio economic

survey (if required) STAGE 2 PRE-FEASIBILITY STUDY Preliminary AMDAL Screening STAGE 1  GENERAL PLANNING

Environmental and Social  Assesment STAGE 8  EVALUATION Evaluation of management monitoring STAGE 7  OPERATION & MAINTENANCE STAGE 6 CONSTRUCTION

Gambar 2.6. Siklus Proyek di Indonesia

Tiga tahapan yang pertama dari Siklus Proyek disebut : 1 Perencanaan Umum

2 Pra Studi Kelayakan 3 Studi kelayakan

Siklus proyek berlanjut dengan tahapan berikutnya yang membawa proyek sampai pada permulaan pembangunan, yaitu:

4 Desain Teknis, juga dikenal sebagai Final Engineering Design  (FED) 5 Pra Pembangunan

Tiga tahapan selanjutnya dari Siklus Proyek setelah desain selesai adalah: 6 Pembangunan

7 Pengoperasian

(26)

2.5 Perkembangan Kontrak Berbasis Kinerja (PBC)

2.5.1 Pengalaman Kontrak Berbasis Kinerja di Negara Lain

Perkembangan PBC untuk pemeliharaan jalan dimulai sejak akhir 1980an dan awal 1990an (Zietlow, 2001). PBC diawali oleh British Columbia di Kanada yang mengkontrakkan pemeliharaan jalan pada tahun 1988. Akan tetapi standar kinerja yang digunakan masih berorientasi pada prosedur kerja dan material yang digunakan serta tidak berorientasi pada hasil akhir. Standar ini sangat membatasi kontraktor untuk melakukan inovasi teknologi.

Setelah itu, Argentina mengkonsesikan 10,000 km jalan nasional dengan berpatokan pada hasil akhir pekerjaan melalui spesifikasi kinerja untuk pemeliharaan jalan. Argentina mulai memberlakukan suatu sistem sangsi apabila kontraktor tidak memenuhi waktu respons untuk memperbaiki kerusakan jalan.

Di tahun 1930an, Uruguay memulai proyek percontohan Kontrak Kinerja pada suatu  jaringan jalan sepanjang 359 km. Skema kontrak tersebut sangat berhasil sehingga lima tahun kemudian pemeliharaan 50% jalan nasional di Uruguay menggunakan Kontrak Kinerja.

Negara-negara lain seperti Brazil, Chile dan Kolombia telah m enggunakan kontrak kinerja sedangkan Ekuador, Guatemala dan Peru sedang merencanakan pelaksanaan kontrak kinerja. Saat ini di Amerika Latin pemeliharaan jalan lebih dari 40,000 km dilakukan dengan kontrak kinerja.

Australia pertama kali menggunakan Kontrak Kinerja pada tahun 1995 yang mencakup 459 jalan kota di Sydney. Setelah itu, beberapa kontrak baru telah diterapkn di New South Wales, Tasmani dan Australia Barat dan Selatan. Pada tahun 1998 New Zealand menerapkan Kontrak Kinerja untuk 406 km jalan nasionl. Saat ini 10% pemeliharaan jalan nasional dilakukan dengan skema kontrak kinerja.

Di Amerika Serikat, Negara Bagian Virginia mempelopori kontrak kinerja yang disebut “Asset Management and Maintenance Contract ” untuk pemeliharaan 402km jalan antar negara bagian pada tahun 1996. Empat tahun kemudian, Negara Bagian Washington mengikuti kontrak serupa yang mencakup 119km jalan federal tahun 1999. Kedua kontrak

(27)

kemudian memulai melakukan k

kemudian memulai melakukan kontrak pemeliharaan jaringan jalannya dengan gabunganontrak pemeliharaan jaringan jalannya dengan gabungan spesifikasi kinerja dan harga s

spesifikasi kinerja dan harga satuan.atuan.

Belanda pernah melakukan kontrak aliansi pada proyek jalan kereta api Betuwe Belanda pernah melakukan kontrak aliansi pada proyek jalan kereta api Betuwe (Deutekom, 2005). Betuwe Railroad Project menghubungkan pantai barat Belanda (Deutekom, 2005). Betuwe Railroad Project menghubungkan pantai barat Belanda melewati Rotterdam sampai perbatasan Jerman di sebelah barat Belanda. Panjang jalan melewati Rotterdam sampai perbatasan Jerman di sebelah barat Belanda. Panjang jalan kereta api tersebut hampir 120 km dan proyek dibagi menjadi beberapa seksi. Tabel 2.2 kereta api tersebut hampir 120 km dan proyek dibagi menjadi beberapa seksi. Tabel 2.2 memperlihatkan pemisahan Betuwe Railroad Project menjadi

memperlihatkan pemisahan Betuwe Railroad Project menjadi beberapa seksi.beberapa seksi.

Pada seksi Riverland, dilakukan kontrak aliansi dengan berbasis kinerja. Tabel 2.3 Pada seksi Riverland, dilakukan kontrak aliansi dengan berbasis kinerja. Tabel 2.3 membandingkan besarnya biaya konstruksi antara seksi Havenspoor dan Riverland yang membandingkan besarnya biaya konstruksi antara seksi Havenspoor dan Riverland yang menggunakan kontrak tradisional dan kontrak berbasis kinerja. Dalam kasus ini, seksi menggunakan kontrak tradisional dan kontrak berbasis kinerja. Dalam kasus ini, seksi Riverland dengan PBC menghemat US $ 25juta sedangkan seksi Havenspoor dengan Riverland dengan PBC menghemat US $ 25juta sedangkan seksi Havenspoor dengan kontrak tradisional mengalami pembengkakan biaya hingga US $ 20juta.

kontrak tradisional mengalami pembengkakan biaya hingga US $ 20juta. Tabel 2.2. Seksi Betuwe Railroad Project

Tabel 2.2. Seksi Betuwe Railroad Project

S

Seeccttiioonn NNaamme e oof f SeSeccttiioonn LLeennggtth h [[kkmm]  ]   T

Trraajjeecct t II KKoorrttsslluuiittrroouutte e 33,,6677 V

Veerrlleeggdde e HHaavveennssppoooorrlliijjn n 66,,3322 V

Vaaaannpplleeiin n 22,,2200

T

Trraajjeecct t IIII BBaarreennddrreecchht t OOoosst t 33,,5511 K

Kiijjffhhooeekk 11,,0000

T

Trraajjeecct t IIIIII KKiijjffhhooeekk--PPaappeennddrreecchht t 11,,0000 T

Trraajjeecct t IIVV SSlliieeddrreecchhtt--GGiieesssseen n 88,,3355 G

Giieesssseenn 11,,8800

G

Giieesssseenn--GGoorriinncchheem m 99,,6600 T

Trraajjeecct t VV LLiinnggeewwaaaall--DDooddeewwaaaarrd d 4499,,7700 T

Trraajjeecct t VVII VVaallbbuurrgg--PPaannnneerrddeennsscch h kkaannaaaal l 1199,,1100 P

Paannnneerrddeennsscch h kkaannaaaal l 44,,0000 D

Duuiivveenn 22,,3300

T

Trraajjeecct t VVIIII ZZeevveennaaaar r 77,,2233

Total length [km] 

Total length [km]     119,78119,78 Tabel 2.3. Biaya

Tabel 2.3. Biaya Seksi Havenspoor dan RiverlandSeksi Havenspoor dan Riverland Seksi

Seksi

Havenspoor Riverland Havenspoor Riverland Traditional

Traditional budget budget $ $ 74 74 mln mln $ $ 270 270 mlnmln Type

Type of of contract contract Traditional Traditional AllianceAlliance Budget

Budget after after tender tender $ $ 66 66 mln mln $ $ 270 270 mlnmln Expected

Expected costs costs $ $ 86 86 mln mln $ $ 245 245 mlnmln Benefits

(28)

2.5.2

2.5.2 Pengalaman Pengalaman dan dan Rencana Rencana Penerapan Penerapan PBC PBC di di IndonesiaIndonesia

PT. Jasa Marga (Persero) pada tahun 2000 mencoba menerapkan Performance Based PT. Jasa Marga (Persero) pada tahun 2000 mencoba menerapkan Performance Based Maintenance Contract (PBMC) untuk ruas jalan tol Cawang – Pluit (Astuti, 2005). Latar Maintenance Contract (PBMC) untuk ruas jalan tol Cawang – Pluit (Astuti, 2005). Latar belakang dari penerapan PBMC ini karena PT. Jasa Marga (Persero) menginginkan belakang dari penerapan PBMC ini karena PT. Jasa Marga (Persero) menginginkan kesinambungan tingkat pelayanan jalan selama masa layannya. Sebelumnya, kontrak kesinambungan tingkat pelayanan jalan selama masa layannya. Sebelumnya, kontrak yang digunakan adalah kontrak tradisional sehingga PT. Jasa Marga mengalami yang digunakan adalah kontrak tradisional sehingga PT. Jasa Marga mengalami beberapa kendala sebagai berikut (JM, 2005):

beberapa kendala sebagai berikut (JM, 2005):

− Banyaknya kontrak Banyaknya kontrak yang yang harus harus ditangani ditangani tiap tiap tahuntahun −

− Banyaknya sumber daya Banyaknya sumber daya manusia yang manusia yang harus dialoharus dialokasikan untuk pekasikan untuk perencanaan rencanaan dandan

pengawasa

pengawasan n pekerjaanpekerjaan

− Perbaikan kerusakan biPerbaikan kerusakan biasanya dilasanya dilakukan sesaat sebakukan sesaat sebelum seraelum serah terima h terima akhir (finalakhir (final

handover, FHO) handover, FHO)

− Tidak adanya peTidak adanya penalti apabnalti apabila kerusaila kerusakan terjadi kan terjadi dalam dalam masa jaminamasa jaminan pen pemeliharaanmeliharaan

Dengan alasan-alasan tersebut di atas, PT. Jasa Marga (Persero) mencoba untuk Dengan alasan-alasan tersebut di atas, PT. Jasa Marga (Persero) mencoba untuk menerapkan PBMC pada ruas Cawang – Pluit. Akan tetapi, pada pelaksanaannya, PT. menerapkan PBMC pada ruas Cawang – Pluit. Akan tetapi, pada pelaksanaannya, PT. Jasa Marga

Jasa Marga (Persero) mengala(Persero) mengalami kmi kendala dari kontraktor sebagai berikut:endala dari kontraktor sebagai berikut:

− Ketidaksiapan untuk Ketidaksiapan untuk menyusun menyusun Program Program dan dan Jadwal Jadwal PemeliharaanPemeliharaan −

− Kurangnya pengetahuan Kurangnya pengetahuan dalam dalam memilih memilih metode ymetode yang sesuang sesuai unai untuk pertuk perbaikanbaikan −

− Tidak Tidak dipahamindipahaminya ya indikator indikator kinerja kinerja dan dan cara cara pengukurannyapengukurannya −

− Sebagian besar KontraSebagian besar Kontraktor tidak ktor tidak mempunyai sumbmempunyai sumber daya er daya (alat dan (alat dan keuangan) keuangan) yangyang

cukup cukup

Berdasarkan kemampuan kontraktor tersebut, PT. Jasa Marga (Persero) akhirnya Berdasarkan kemampuan kontraktor tersebut, PT. Jasa Marga (Persero) akhirnya memodifikasi PBMC menjadi Modified PBMC

memodifikasi PBMC menjadi Modified PBMC yang intinya sebagai berikut:yang intinya sebagai berikut:

− Ruang lingkup dan Ruang lingkup dan jenis pekejenis pekerjaan didrjaan didefinisikan oefinisikan oleh PTleh PT. Jasa Ma. Jasa Marga (Perga (Persero)rsero) −

− Pekerjaan dilaksanakan Pekerjaan dilaksanakan oleh kontraoleh kontraktor berdaktor berdasarkan linsarkan lingkup dan gkup dan jenis pekejenis pekerjaan danrjaan dan

masa pemeliharaan menjadi dua tahun dimulai dari serah terima bersyarat masa pemeliharaan menjadi dua tahun dimulai dari serah terima bersyarat (Provisional Hand Over, PHO).

(Provisional Hand Over, PHO).

− Jaminan pemeliharaan Jaminan pemeliharaan adalah adalah 10 % d10 % dari nilai ari nilai kontrak yang kontrak yang dibagi dibagi menjadi dua menjadi dua tahap,tahap,

yaitu Tahap I (5% selama 12 bulan setelah PHO) dan Tahap II (5% selama 30 hari yaitu Tahap I (5% selama 12 bulan setelah PHO) dan Tahap II (5% selama 30 hari setelah FHO)

setelah FHO)

Dalam pembangunan jalan tol Cipularang, PT. Jasa Marga (Persero) juga menerapkan Dalam pembangunan jalan tol Cipularang, PT. Jasa Marga (Persero) juga menerapkan Kontrak Perencanaan dan Pembangunan (Design and Built Contract) untuk Jembatan Kontrak Perencanaan dan Pembangunan (Design and Built Contract) untuk Jembatan

(29)

Cipada karena keterbatasan waktu. Akan tetapi spesifikasi yang digunakan masih Cipada karena keterbatasan waktu. Akan tetapi spesifikasi yang digunakan masih spesifikasi tradisional dan belum menerapkan spesifikasi k

spesifikasi tradisional dan belum menerapkan spesifikasi k inerja.inerja.

Direktorat Jenderal Bina Marga (Greenwood & Henning, 2006) akan menerapkan PBC Direktorat Jenderal Bina Marga (Greenwood & Henning, 2006) akan menerapkan PBC untuk ruas jalan

untuk ruas jalan Semarang – Pekalongan (lihat Gambar 2.7).Semarang – Pekalongan (lihat Gambar 2.7).

Gambar 2.7. Lokasi Penerapan PBC di

Gambar 2.7. Lokasi Penerapan PBC di Ruas Jalan Semarang-PekalongaRuas Jalan Semarang-Pekalongan (Greenwood &n (Greenwood & Henning, 2006)

Henning, 2006)

Proyek tersebut termasuk dalam program Strategic Road Infrastructure Project (SRIP) Proyek tersebut termasuk dalam program Strategic Road Infrastructure Project (SRIP) yang didanai oleh Bank Dunia. Proyek ini terdari dari:

yang didanai oleh Bank Dunia. Proyek ini terdari dari:

− Peningkatan kapasitas Peningkatan kapasitas jalan jalan 9 9 kmkm −

− Peningkatan jalan Peningkatan jalan 10 10 kmkm −

− Pemeliharaan jalan Pemeliharaan jalan 100 100 kmkm −

− Masa Masa kontrak kontrak lima lima tahun tahun (2007 (2007 – – 2011)2011)

Seperti halnya PT. Jasa Marga (Persero), latar belakang dari proyek ini adalah adanya Seperti halnya PT. Jasa Marga (Persero), latar belakang dari proyek ini adalah adanya keinginan untuk mendapatkan kesinambungan tingkat pelayanan jalan. Saat ini biaya keinginan untuk mendapatkan kesinambungan tingkat pelayanan jalan. Saat ini biaya pemeliharaan jalan semakin tinggi karea terlambatnya dana dari APBN. Konsultan SRIP pemeliharaan jalan semakin tinggi karea terlambatnya dana dari APBN. Konsultan SRIP kemudian melakukan survey terhadap kontraktor-kontraktor nasional dan menyimpulkan kemudian melakukan survey terhadap kontraktor-kontraktor nasional dan menyimpulkan bahwa kontraktor telah siap

(30)

2.6 Kajian Aspek Hukum Indonesia

2.6.1 Undang-undang yang Berkaitan dengan Kontrak Berbasis Kinerja

Kontrak Berbasis-Kinerja merupakan hal yang relatif baru di Indonesia. Tidak seperti kontrak yang saat ini banyak digunakan, Kontrak Berbasis-Kinerja merupakan jenis kontrak yang memiliki karakteristik tersendiri, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan terintegrasi dalam satu kontrak (dilakukan oleh satu penyedia jasa), dilaksanakan dalam tahun jamak (multi-years) dan pembayarannya dilakukan dengan sistem lumpsum. Untuk itu perlu dilakukan suatu studi untuk mengkaji hukum yang sekarang berlaku yang bisa dijadikan sebagai landasan dalam penerapan Kontrak Berbasis-Kinerja tersebut.

Sebelum lebih jauh melakukan kajian hukum untuk Kontrak Berbasis-Kinerja, perlu lebih dulu dipaparkan mengenai sumber hukum yang berlaku di Indonesia berikut hierarki atau tata urutannya serta perundang-undangan yang relevan dengan Kontrak Berbasis-Kinerja ini.

Sumber hukum Indonesia adalah segala sesuatu yang memiliki sifat normatif yang dapat dijadikan tempat berpijak bagi atau tempat memperoleh informasi tentang sistem hukum yang berlaku di Indonesia. Sumber hukum Indonesia adalah (Bisri, 2005):

1. Pancasila, sebagai kaidah dasar (sumber segala sumber hukum)

2. Undang-Undang Dasar 1945, sebagai perwujudan dari tujuan Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945

3. Undang-undang:

a. Undang-undang secara formal, yaitu setiap bentuk peraturan perundangan yang diciptakan oleh lembaga yang berkompeten dalam pembuatan undang-undang, yaitu DPR dan presiden.

b. Undang-undang secara material, yaitu setiap produk hukum yang memiliki fungsi regulasi (pengaturan), yang bersumberkan seluruh dimensi kehidupan manusia (ekonomi, politik, sosial, budaya, dll.). Bentuknya bisa bertingkat, mulai dari Undang-Undang Dasar sampai ke peraturan tingkat desa.

4. Traktat (Treaty), yaitu produk hukum yang diciptakan dalam konteks hubungan antarnegara:

a. Traktat bilateral (dua negara)

(31)

Berdasarkan pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, hierarki atau tata urutan perundang-undangan yang saat ini berlaku di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Dasar 1945

2. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang 3. Peraturan Pemerintah

4. Peraturan Presiden

5. Peraturan Daerah, yang meliputi:

- Peraturan Daerah Provinsi

- Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

- Peraturan Desa

Tidak tercantumnya Peraturan Menteri dalam tata urutan perundang-undangan di atas, sempat menimbulkan perdebatan karena kedudukan Peraturan Menteri menjadi tidak  jelas. Namun demikian, sebenarnya, kedudukan Peraturan Menteri bukannya tidak diatur

sama sekali. Dalam Pasal 7 ayat (4) Undang-Undang No. 10/2004 ditegaskan bahwa  jenis peraturan perundang-undangan, selain yang terdapat di dalam hierarki tetap diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat. Peraturan Menteri serta peraturan lain yang dikeluarkan oleh lembaga atau pejabat negara lain, termasuk dalam kategori ini (hukumonline.com, 2004). Bunyi Pasal 7 Undang-Undang N0. 10/2004 selengkapnya adalah sebagai berikut:

Undang-Undang No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Pasal 7

(1) Jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan adalah sebagai berikut: a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah;

d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah.

(2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi:

a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi bersama dengan gubernur;

(32)

Daerah bersam kabupaten/kota bersama bupati/walikota;

c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lanilla bersama dengan kepala desa atau nama lainnya.

(3) Ketentuan mengenai tata cara pembuatan peraturan desa/peraturan yang setingkat diatur oleh peraturan daerah kabupaten/kota yang bersangkutan.

(4) Jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi .

(5) Kekuatan hukum peraturan perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Peraturan yang berkaitan dengan pengadaan barang/jasa dan dapat dijadikan acuan kajian dasar hukum untuk Kontrak Berbasis-Kinerja adalah:

- UU No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi

- PP No. 28/2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi - PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

- PP No. 30/2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi

- Keppres No. 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

- Kepmen Kimpraswil No. 339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah

- Kepmen Kimpraswil No. 257/KPTS/M/2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi

- Kepmen PU No. 181/KPTS/M/2005 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi, Lanjutan 1

- Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 13/SE/M/2006 tanggal 3 Oktober 2006

Keppres No. 80/2003 telah empat kali mengalami perubahan. Perubahan tersebut diatur dalam:

I. Keppres No. 61/2004 (ditetapkan tanggal 5 Agustus 2004) II. Perpres No. 32/2005 (ditetapkan tanggal 20 April 2005) III. Perpres No. 70/2005 (ditetapkan tanggal 15 November 2005) IV. Perpres no. 8/2006 (ditetapkan tanggal 20 Maret 2006)

V. Perpres No. 79/2006 (ditetapkan tanggal 8 September 2006) VI. Perpres No. 85/2006 (ditetapkan tanggal 6 Oktober 2006)

(33)

Keputusan Menteri KIMPRASWIL No. 257/KPTS/M/2004 yang ditetapkan tanggal 29 April 2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi memberlakukan 2 (dua) standar dan 5 (lima) pedoman sebagai berikut:

a. Jasa Pemborongan

i. Standar Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi (Pemborongan);

ii. Pedoman Evaluasi Penawaran Pelelangan Nasonal Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi (Pemborongan) untuk Kontrak Harga Satuan;

iii. Pedoman Evaluasi Penawaran Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi (Pemborongan) untuk Kontrak Lump Sum;

iv. Pedoman Penilaian Kualifikasi Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi (Pemborongan).

b. Jasa Konsultansi

i. Standar Dokumen Seleksi Nasional Pekerjaan Jasa Perencanaan dan Pengawasan Konstruksi (Konsultansi);

ii. Pedoman Evaluai Penawaran Seleksi Nasional Pekerjaan Jasa Perencanaan dan Pengawasan Konstruksi (Konsultansi)

iii. Pedoman Penilaian Kualifikasi Seleksi Nasional Pekerjaan Jasa Perencanaan dan Pengawasan Konstruksi (Kosultansi).

Berdasarkan Keputusan Menteri KIMPRASWIL No. 257/KPTS/M/2004, ketujuh standar dan pedoman tersebut disusun dengan tujuan:

1. Agar penerapan ketentuan Keppres RI No. 80/2003 dalam pelaksanaan pengadaan lebih operasional;

2. Sebagai pedoman panitia pengadaan dalam melaksanakan penilaian kualifikasi;

3. Untuk mendapatkan penyedia jasa yang diyakini mempunyai kompetensi dan kemampuan usaha untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik;

4. Agar pelaksanaan pengadaan dilakukan secara efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil, dan akuntabel.

2.6.2 Integrasi Tahap Perencanan, Konstruksi dan Pemeliharaan

Berdasarkan UU No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi, pasal 16 ayat (3), layanan jasa perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dimungkinkan untuk dilakukan oleh satu penyedia jasa. Isi pasal 16 ayat (3) UU No. 18/1999 tersebut adalah sebagai berikut:

(34)

UU No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi, Pasal 16 ayat (3)

Layanan jasa perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dapat dilakukan secara terintegrasi dengan memperhatikan besaran pekerjaan atau biaya, penggunaan teknologi canggih, serta risiko besar bagi para pihak ataupun kepentingan umum dalam satu pekerjaan konstruksi.

Dengan adanya pasal tersebut di atas, maka dari segi terintegrasinya perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan dalam satu kontrak, secara hukum Kontrak Berbasis Kinerja dapat diterapkan di Indonesia. Pasal tersebut dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, yaitu Pasal 13. Pasal ini mengatur metode, tata cara dan syarat pemilihan penyedia jasa serta jenis pekerjaan yang dapat dilakukan dengan layanan jasa konstruksi secara terintegrasi sebagai berikut:

Peraturan Pemerintah No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, Pasal 13:

(1) Pemilihan penyedia jasa terintegrasi dilakukan mengikuti tata cara pemilihan pelaksana konstruksi dengan cara pelelangan terbatas.

(2) Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan layanan jasa konstruksi secara terintegrasi adalah pekerjaan yang :

a. bersifat kompleks;

b. memerlukan teknologi tinggi; c. mempunyai risiko tinggi; dan d. memiliki biaya besar

(3) Pemilihan penyedia jasa terintegrasi dilakukan dengan syarat :

a. diumumkan secara luas melalui media massa, sekurang-kurangnya 1 (satu) media cetak dan papan pengumuman resmi untuk umum;

b. jumlah penyedia jasa terbatas; dan c. melalui proses prakualifikasi.

(4) Tata cara pemilihan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari : a. pengumuman prakualifikasi;

b. pemasukan dokumen prakualifikasi; c. evaluasi prakualifikasi;

e. undangan berdasarkan hasil prakualifikasi; f. penjelasan;

(35)

h. evaluasi penawaran;

i. penetapan calon pemenang berdasarkan harga terendah terevaluasi diantara penawaran yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis serta tanggap terhadap dokumen pelelangan;

 j. pengumuman calon pemenang; k. masa sanggah; dan

l. penetapan pemenang.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), dan pekerjaan yang dapat dilakukan secara terintegrasi ditentukan oleh Menteri

Mengenai pengertian jenis pekerjaan yang dapat dilakukan dengan layanan jasa konstruksi secara terintegrasi, seperti pada Pasal 13 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 29/2000, Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi Oleh Instansi Pemerintah membahasnya lebih lanjut, yaitu pada Bab II huruf D. Isi selengkapnya adalah sebagai berikut:

Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi Oleh Instansi Pemerintah, Bab II huruf D:

D. Pekerjaan Kompleks

1. Pekerjaan kompleks adalah pekerjaan yang memerlukan teknologi tinggi dan/atau mempunyai resiko tinggi dan/atau menggunakan peralatan yang didesain khusus dan/atau bernilai di atas Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

2. Kriteria teknologi tinggi adalah mencakup pekerjaan konstruksi yang menggunakan banyak peralatan berat dan banyak memerlukan tenaga ahli dan tenaga terampil.

3. Kriteria resiko tinggi adalah mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya beresiko sangat membahayakan keselamatan umum, harta benda, jiwa manusia dan lingkungan.

4. Pekerjaan kompleks dengan kriteria teknologi tinggi dan resiko tinggi dan/atau menggunakan peralatan yang didesain khusus ditetapkan oleh pejabat

(36)

Eselon I selaku pembina teknis bidang pekerjaan terkait.

Jenis kontrak turnkey (terima jadi) untuk PBC juga dimungkinkan untuk digunakan berdasarkan Peraturan Presiden No. 70/2005. Kutipan dari peraturan tersebut adalah sebagai berikut:

Peraturan Presiden Repulbik Indonesia Nomor 70 tahun 2005 tentang Perubahan Ketiga atas Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Pasal 30, Angka (1) dan (6):

(1) Kontrak pengadaan barang/jasa dibedakan atas: a. Berdasarkan bentuk imbalan:

1) lump sum 2) harga satuan

3) gabungan lump sum dan harga satuan 4) terima jadi (turn key)

5) persentase

b. berdasarkan jangka waktu pelaksanaan; 1) tahun tunggal

2) tahun jamak

c. berdasarkan jumlah pengguna barang/jasa; 1) kontrak pengadaan tunggal

2) kontrak pengadaan bersama

(6) Kontrak terima jadi adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemborongan atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi, peralatan dan  jaringan utama maupun jaringan penunjangnya dapat berfungsi dengan baik

sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan.

2.6.3 Metode Seleksi Penyedia Jasa

Pasal 17 Undang-Undang No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi secara umum mengatur mengenai metode pemilihan penyedia jasa, yaitu pelelangan umum, pelelangan terbatas, pemilihan langsung dan penunjukan langsung. Pelelangan terbatas hanya boleh diikuti

(37)

oleh penyedia jasa yang telah dinyatakan lolos prakualifikasi. Isi selengkapnya dari Pasal 17 tersebut adalah sebagai berikut:

Undang-Undang No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi, Pasal 17

(1) Pengikatan dalam hubungan kerja jasa konstruksi dilakukan berdasarkan prinsip persaingan yang sehat melalui pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan umum atau terbatas.

(2) Pelelangan terbatas hanya boleh diikuti oleh penyedia jasa yang dinyatakan telah lulus prakualifikasi.

(3) Dalam keadaan tertentu, penetapan penyedia jasa dapat dilakukan dengan cara pemilihan langsung atau penunjukan langsung.

(4) Pemilihan penyedia jasa harus mempertimbangkan kesesuaian bidang, keseimbangan antara kemampuan dan beban kerja, serta kinerja penyedia jasa.

(5) Pemilihan penyedia jasa hanya boleh diikuti oleh penyedia jasa yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 9.

(6) Badan-badan usaha yang dimiliki oleh satu atau kelompok orang yang sama atau berada pada kepengurusan yang sama tidak boleh mengikuti pelelangan untuk satu pekerjaan konstruksi secara bersamaan.

Lebih jauh, Peraturan Pemerintah No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi mengatakan bahwa dengan cara pelelangan umum pengguna jasa dapat melakukan prakualifikasi dan pascakualifikasi. Sementara dengan cara pelelangan terbatas, pengguna jasa wajib melakukan prakualifikasi. Isi selengkapnya dari Pasal 3 PP No. 29/2000 adalah sebagai berikut:

(38)

Peraturan Pemerintah No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, Pasal 3:

(1) Pemilihan penyedia jasa yang meliputi perencana konstruksi, pelaksana konstruksi, dan pengawas konstruksi oleh pengguna jasa dapat dilakukan dengan cara pelelangan umum, pelelangan terbatas, pemilihan langsung, atau penunjukan langsung.

(2) Dalam pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pengguna jasa dapat melakukan prakualifikasi dan pasca kualifikasi.

(3) Dalam pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan terbatas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pengguna jasa wajib melakukan prakualifikasi.

(4) Perusahaan nasional yang mengadakan kerja sama dengan perusahaan nasional lainnya dan atau perusahaan asing dapat mengikuti prakualifikasi dan dinilai sebagai perusahaan gabungan.

(5) Dalam pelelangan umum, pelelangan terbatas, atau pemilihan langsung penyedia  jasa, pengguna jasa harus mengikutsertakan sekurang-kurangnya 1 (satu)

perusahaan nasional.

(6) Dalam pemilihan perencana konstruksi dan pengawas konstruksi dapat disyaratkan adanya kewajiban :

d. jaminan penawaran dan jaminan pelaksanaan pekerjaan perencanaan untuk perencana konstruksi; atau

e. jaminan penawaran untuk pengawas konstruksi,

Apabila hal tersebut disepakati oleh pengguna jasa dan penyedia jasa yang mengikuti pemilihan

Metode pemilihan penyedia jasa yang dapat dilakukan dijelaskan dalam Peraturan Presiden No. 8/2006 tentang Perubahan Keempat Atas Keputusan Presiden No. 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal I angka 7. Dalam Perpres tersebut disebutkan bahwa pemilihan penyedia jasa pada prinsipnya dilakukan melalui metode pelelangan umum, yaitu metode pemilihan penyedia jasa yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman seluas-luasnya.

Adapun metode pelelangan terbatas dapat dilakukan apabila jumlah penyedia jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks. Sementara metode pemilihan langsung dapat dilakukan apabila metode pelelangan umum atau

(39)

penunjukan langsung terhadap satu penyedia jasa dapat dilakukan dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus. Bunyi peraturan tersebut selengkapnya adalah sebagai berikut:

Peraturan Presiden No. 8/2006 tentang Perubahan Keempat Atas Keputusan Presiden No. 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal I angka 7

Pasal I

7. Ketentuan Pasal 17 ayat (2) dan ayat (3) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 17 berbunyi sebagai berikut:

“Pasal 17

(1) Dalam pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya, pada prinsipnya dilakukan melalui metode pelelangan umum.

(2) Pelelangan umum adalah metoda pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas sekurang-kurangnya di satu surat kabar nasional dan/atau satu surat kabar provinsi.

(3) Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metode pelelangan terbatas dan diumumkan secara luas sekurang-kurangnya di satu surat kabar nasional dan/atau satu surat kabar provinsi dengan mencantumkan penyedia barang/jasa yang mampu, guna memberi kesempatan kepada penyedia barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi.

(4) Dalam hal metode pelelangan umum atau pelelangan terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metode pemilihan langsung, yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran, sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet.

(5) Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus, pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat

(40)

dipertanggungjawabkan.”

Pengertian keadaan tertentu dan keadaan khusus dalam metode penunjukan langsung dijelaskan dalam Peraturan Presiden No. 70/2005 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Presiden No. 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal I angka 4 yang mengubah Penjelasan Pasal 17 ayat (5) Keppres No. 80/2003. Isi selengkapnya adalah sebagai berikut.

Peraturan Presiden No. 70/2005 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Presiden No. 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Pasal I angka 4

Pasal I

4. Penjelasan Pasal 17 ayat (5) diubah, sehingga keseluruhan Penjelasan Pasal 17 berbunyi sebagai berikut:

“Pasal 17 Ayat (1)

Cukup jelas. Ayat (2)

Pengumuman pemilihan penyedia barang/jasa harus dapat memberikan informasi secara luas kepada masyarakat dunia usaha baik pengusaha daerah setempat maupun pengusaha daerah lainnya.

Ayat (3)

Cukup jelas. Ayat (4)

Cukup jelas. Ayat (5)

Yang dimaksud dalam keadaan tertentu adalah:

a. penanganan darurat untuk pertahanan negara, keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda atau harus dilakukan segera, termasuk penanganan darurat akibat bencana alam; dan/atau

b. pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan negara yang ditetapkan oleh Presiden; dan/atau

c. pekerjaan yang berskala kecil dengan nilai maksimum Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), dengan ketentuan:

(41)

2) teknologi sederhana; dan/atau 3) risiko kecil; dan/atau

4) dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa usaha orang perseorangan dan/atau badan usaha kecil termasuk koperasi kecil.

d. pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak yang telah mendapat ijin; dan/atau

e. pekerjaan pengadaan barang dan pendistribusian logistik pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang penanganannya memerlukan pelaksanaan secara cepat dalam rangka penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang diselenggarakan sampai dengan bulan Juli 2005 berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam huruf e meliputi pengadaan dan pendistribusian surat suara, kartu pemilih beserta perlengkapan lainnya untuk pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah; dan/atau

f. pekerjaan pengadaan barang/jasa yang penanganannya memerlukan pelaksanaan secara cepat dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara yang dilaksanakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi NAD dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara.

Pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam huruf f meliputi:

1. pekerjaan pengadaan perumahan, yang waktu pelaksanaan pengadaannya dilakukan sebelum 1 Juli 2006;

2. pekerjaan yang dilakukan dalam rangka meneruskan pekerjaan pengadaan perumahan yang tidak dilaksanakan oleh pemberi hibah sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, yang penyelesaian pekerjaannya perlu dilaksanakan secara cepat paling lama 1 (satu) tahun setelah pemberi hibah tidak mampu melaksanakan kewajibannya.

Yang dimaksud dalam keadaan khusus adalah:

a. pekerjaan berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah; atau b. pekerjaan/barang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu

penyedia barang/jasa, pabrikan, pemegang hak paten; atau

Gambar

Tabel 2.1. Tipe Kontrak dan Tingkat Integrasi
Gambar 2.1. Skematisasi Kontrak Tradisional
Gambar 2.2. Skematisasi Kontrak Tim Pembangunan
Gambar 2.4. Skematisasi Kontrak Umum
+7

Referensi

Dokumen terkait

i. Kontrak harga satuan adalah kontrak pengadaan jasa pelaksanaan konstruksi atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu berdasarkan

Penelitian ini akan menganalisa perbedaan sistem KBK dengan sistem kontrak konvensional dengan cara membandingkan life cycle project, garis koordinasi proyek, masa kontruksi,

58. Nilai Kontrak 58.1 Pejabat Penandatangan Kontrak membayar kepada Penyedia atas pelaksanaan pekerjaan dalam kontrak sebesar nilai kontrak atau berdasarkan

56. Nilai Kontrak 56.1 Pejabat Penandatangan Kontrak membayar kepada Penyedia atas pelaksanaan pekerjaan dalam Kontrak sebesar nilai kontrak atau berdasarkan

• Sebelum proses pemilihan Penyedia Barang/Jasa dimulai, paket pekerjaan konstruksi yang akan dilaksanakan dengan menggunakan kontrak tahun jamak, harus sudah mendapatkan

56. Nilai Kontrak 56.1 Pejabat Penandatangan Kontrak membayar kepada Penyedia atas pelaksanaan pekerjaan dalam Kontrak sebesar nilai kontrak atau berdasarkan hasil

57 Nilai Kontrak 57.1 Pejabat Penandatangan Kontrak membayar kepada Penyedia atas pelaksanaan pekerjaan dalam kontrak sebesar nilai kontrak atau berdasarkan hasil

56. Nilai Kontrak 56.1 Pejabat Penandatangan Kontrak membayar kepada Penyedia atas pelaksanaan pekerjaan dalam Kontrak sebesar nilai kontrak atau berdasarkan hasil