• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEIKSIS - JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PENDEKATAN STRUKTURAL A. J. GREIMAS DALAM ANALISIS HIKAYAT ISKANDAR DZULKARNAIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEIKSIS - JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PENDEKATAN STRUKTURAL A. J. GREIMAS DALAM ANALISIS HIKAYAT ISKANDAR DZULKARNAIN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENDEKATAN STRUKTURAL A. J. GREIMAS DALAM ANALISIS HIKAYAT ISKANDAR DZULKARNAIN

Rama Wijaya A. Rozak

Dosen Universitas Pendidikan Indonesia

[email protected]

. ABSTRAK

Hikayat merupakan jenis karya sastra lama. Dari segi bahasa dan budaya pada kala itu sangat berbeda dengan penggunaan bahasa dan budaya dengan jenis karya sastra sekarang. Meskipun demikian, suatu karya sastra tidak lekang oleh waktu. Karya sastra dapat menembus ruang dan waktu untuk diapresiasi dan dianalisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural Greimas dalam menganalisis hikayat Iskandar Dzulkarnain. Pendekatan struktural Greimas tidak seperti pendekatan struktural pada umumnya, yaitu menganalisis tokoh, penokohan, alur, setting, dan lain-lain. Dalam pendekatan Greimas memfokuskan analisis pada fungsi setiap unsur pembangun karya sastra tersebut. Fungsi-fungsi tersebut dikelompokkan ke dalam enam skema aktan. Setelah itu dianalisis menggunakan struktur fungsional. Dengan menggunakan dua pola analisis tersebut akan tergambarkan fungsi tiap aktan dan alur cerita karya sastra.

Kata kunci: Pendekatan Struktural Greimas, Analisis Hikayat, Analisis Hikayat

(2)

66

A. LATAR BELAKANG MASALAH Bahasa memiliki peran sebagai alat ekspresi budaya bangsa. Bahasa Indonesia sebagai alat ekspresi telah terbukti mampu mempersatukan dan memelihara eksistensi bangsa Indonesia. dengan sikap berbahasa yang positif akan membangun ekspresi budaya yang positif juga. Sastra memiliki fungsi utama sebagai penghalus budi, peningkatan kepekaan rasa kemanusiaan, dan kepedulian sosial. Penumbuhan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imajinasi dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif. Melalui sastra, siswa diajak untuk memahami, menikmati, dan menghayati karya sastra. Pengetahuan tentang sastra hanyalah sebagai penunjang dalam mengapresiasi karya sastra. Sekait dengan hal tersebut, pembelajaran sastra memiliki peranan penting dalam membentuk watak dan kepribadian siswa. Dengan pembelajaran sastra, siswa dapat mengenal, menikmati, dan mengaplikasikan nilai-nilai yang terdapat dalam karya sastra ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sastra merupakan prasasti kehidupan. Sastra mempunyai hubungan dalam kehidupan dunia nyata dan dapat meningkatkan pengetahuan budaya. Seorang sastrawan adalah individu yang aura intelektualnya senantiasa bergesekan dengan problematika internal dirinya atau persoalan psikologis. Sastra yang bermediakan bahasa, merupakan sebuah „fenomena‟ tersendiri. Bahasa sastra adalah bahasa yang sangat egois, tak peduli dengan regulasi bahasa yang melingkupinya. Oleh sebab itu, bahasa sastra senantiasa konotatif, multi interpretatif, serta tidak memiliki

keajegan makna/ambigu dalam konteks semantik yang baku.

Karya sastra merupakan gambaran hasrat pengarangnya, melaluinya sastrawan membiarkan dirinya dipenuhi khayalan yang merupakan gambaran hasrat yang terwujudkan, proses ini disebut dengan istilah mimpi mata terbuka. Karya sastra yang diciptakan seorang sastrawan pasti memiliki latar belakang psikologis tertentu yang membidani kelahirannya. Demikian pula dapat dipastikan bahwa karya sastra melibatkan esensi pemikiran „psikologis‟ sang penulisnya. Berangkat dari pengalaman jiwa, pengalaman sosial, bahkan mungkin spiritual. Dengan demikian maka sastra memang sebuah wujud yang kompleks secara unsur. Unsur yang dimaksud adalah unsur pembangun dirinya. Salah satu bentuk karya sastra yaitu hikayat.

Karya sastra banyak jenisnya, begitu pula dengan cara mengapresiasi karya sastra tersebut. Jenis karya sastra yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu hikayat. Hikayat merupakan karya sastra lama (Melayu) berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, silsilah yang bersifat rekaan, keagamaan, atau gabungan sifat-sifat tersebut untuk dibaca sebagai pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta pada masa lalu. Berdasarkan Wikipedia (www.wikipedia.org) menjelaskan bahwa “Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh

(3)

utama”. Berdasarkan pemaparan tersebut dapat diketahui bahwa karya sastra hikayat merupakan karya sastra lama yang menggunakan bahasa Melayu berbentuk prosa yang menceritakan kehebatan, kepahlawanan, dan kesaktian tokoh-tokohnya yang bersifat fiksi.

Dalam penelitian ini digunakan cara atau pendekatan struktural Greimas yang dipopulerkan oleh Algirdas Julius Greimas (1917-1992). Pendekatan struktural Greimas tidak terfokus pada faktor pembangun teks tersebut, tetapi mengkaji sastra melalui karya sastra itu sendiri, yaitu melalui teks. Dengan demikian, peneliti tidak harus menghubungkan karya sastra tersebut dengan kehidupan pengarangnya dan faktor-fakor yang membangun karya sastra tersebut dapat tercipta. Karena pada dasarnya sebuah karya sastra tidak terbatas oleh ruang dan waktu, tetapi sebaliknya suatu karya sastra dapat menembus ruang dan waktu.

Suatu karya sastra, terutama jenis karya sastra lama akan penuh dengan nilai-nilai kehidupan yang dapat digali dari teks sastranya. Karya sastra selalu memberikan pesan-pesan kehidupan yang dapat mengubah cara pandang, cara berpikir pembaca ke arah yang lebih positif. Atas dasar tersebut karya sastra dapat memperhalus karakter dan memperhalus budi penikmatnya. Hal tersebut dapat dikategorikan faktor atau unsur ekstrinsik sebuah karya sastra yang mengandung amanah atau nasihat.

Melalui pendekatan struktural Greimas, peneliti tidak dihadapkan pada unsur (ekstrinsik) tersebut. Bukan pula pada unsur intrinsik pada umumnya (penokohan, alur, setting, dan sebagainya),

tapi menitikberatkan pada fungsi-fungsi setiap item yang terdapat dalam kisah, yang disebut Greimas adalah aktan. Greimas mengelompokkan fungsi tersebut ke dalam enam aktan, yaitu aktan pengirim, objek, penerima, subjek, penolong, dan penentang. Berdasarkan aktan-aktan tersebut yang disusun ke dalam sebuah skema, akan terlihat alur sebuah cerita dan fungsi-fungsinya. Selain skema aktan, Greimas juga mengenalkan struktur fungsional suatu karya sastra. Greimas membagi struktur fungsional ini ke dalam tiga bagian yaitu situasi awal, transformasi, dan situasi akhir. “Struktur fungsional ini berfungsi untuk menguraikan peran subjek dalam melaksanakan tugas dari pengirim yang terdapat dalam fungsi aktan (Taum, 2011, hlm. 146)”. Berdasarkan pemaparan tersebut, penelitian hikayat dengan judul Iskandar Dzulkarnain dianalisis dengan menggunakan pendekatan struktural Greimas.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pemaparan dalam latar belakang masalah tersebut, dalam penelitian ini terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimanakah penerapan pendekatan struktural skema aktan Greimas dari hikayat yang berjudul Iskandar

Dzulkarnain?

2. Bagaimanakah struktur fungsional Greimas dari hikayat yang berjudul

Iskandar Dzulkarnain?

C. METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang

(4)

68

kemudian disusul dengan analisis (Ratna, 2004: 53). Analisis yang dimaksud berupa interpretasi atau penafsiran seperti halnya penelitian heurmeuntika, yaitu metode yang disejajarkan dengan interpretasi atau penafsiran terhadap bahan kajian yaitu karya sastra yang merupakan konstruksi makna kompleks yang bermedium bahasa untuk pencapaian makna optimal (Ratna, 2004: 45-46).

D. SUMBER DATA DAN DATA Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hikayat yang berjudul Iskandar Dzulkarnain yang diedit oleh van Leeuwen, sedangkan data penelitiannya yaitu tokoh-tokoh yang dianalisis dari segi fungsinya dalam hikayat tersebut, kemudian dikelompokkan dalam skema aktansial.

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, yaitu kegiatan menelaah buku-buku dan berbagai litelatur lain untuk mendapatkan teori yang berkaitan erat dengan masalah penelitian serta teori dasar tentang pendekatan struktural Greimas dalam bentuk skema aktansial dan struktur fungsional berdasarkan pada cerita tersebut.

F. TEKNIK ANALISIS DATA

Teknik analisis data yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Membaca berulang-ulang korpus yang menjadi bahan kajian agar mendapat pemahaman yang utuh. Membatasi permasalahan dan dan merumuskan sebagai arah kajian dalam penelitian.

2. Menerapkan teori struktural Greimas terhadap karya sastra dengan cara mengkaji struktur hikayat.

a. Langkah pertama yang dikerjakan adalah merepresentasikan ulang isi cerita hikayat yang berjudul Iskandar Dzulkarnain dengan sistematis sesuai aslinya.

b. Langkah kedua adalah mencatat setiap aktan (seseorang atau sesuatu) dan fungsi-fungsinya yang terdapat di dalam cerita. Aktan-aktan yang ditemukan dalam cerita dimasukkan ke dalam skema sesuai dengan skema aktan Greimas. Setelah setiap skema terisi dengan fungsi-fungsi pembangun cerita, kemudian dijelaskan ulang maksud dari setiap skema aktan yang dibuat.

c. Langkah ketiga dalam analisis tersebut yaitu menyusun struktur fungsional Greimas yang dibagi ke dalam tiga bagian yaitu bagian awal, transformasi, dan bagian akhir.

G. ANALISIS STRUKTUR SKEMA

AKTAN DAN STRUKTUR

FUNGSIONAL HIKAYAT

ISKANDAR DZULKARNAIN 1. Hikayat Iskandar Dzulkarnain

Pada bagian ini akan disajikan cerita hikayat Iskandar Dzulkarnain secara lengkap dan sistematis.

(1) Pada suatu hari, Raja Kidi Hindi pergi bersama sepuluh pengawalnya untuk menemui Nabi Khidir. Setelah bertemu, Nabi Khidir mengutarakan keinginan Raja Iskandar kepada Raja Kidi Hindi. Pada hari itu, Raja Kidi Hindi menginap di kemah Nabi

(5)

Khidir. Esok harinya, pergilah keduanya menemui Raja Iskandar. Setelah sampai, Nabi Khidir masuk terlebih dahulu menemui Raja Iskandar, sedangkan Raja Kidi Hindi menunggu di depan pintu. Nabi Khidir mengucapkan salam, seraya Raja Iskandar pun membalas salam tersebut. Kemudian Nabi Khidir memberitahukan bahwa Raja Kidi Hindi menunggu di depan pintu. Seraya Raja Iskandar menyuruh petugasnya untuk mempersilahkan Raja Kidi Hindi masuk dan bergabung bersama mereka. Pada saat yang bersamaan, masuk pula tiga raja lainnya yaitu Raja Raziya, Raja Salam, dan Raja Ni‟mat menghadap Raja Iskandar.

(2) Setelah semuanya berkumpul di dalam kemah Raja Iskandar. Nabi Khidir memulai khotbah nikah Raja Iskandar dengan anak dari Raja Kidi Hindi. Nabi Khidir bertanya kepada Raja Kidi Hindi “Wahai Raja, atas izin Allah ta‟ala apakah Raja menerima Raja kami (Raja Iskandar) untuk menjadi menantu?”. Raja Kidi Hindi menjawab “Saya menerima lamaran ini, dengan saksi raja-raja yang berada dalam ruangan ini, dan nabi Allah (Nabi Khidir) sebagai wali saya dan anak saya Putri Badru‟l Qamariya”. Setelah proses pelamaran tersebut, Raja Kidi Hindi berjabat tangan dengan semua raja yang hadir. Setelah diberikan amanah untuk menjadi wali Raja Kidi Hindi, Nabi Khidir pun berkata pada Raja Iskandar “Mas kawin dari putri adalah tiga ratus ribu dinar atau setara dengan lima miskal batang emas yang merah. Apakah Raja bersedia?”. Maka

Raja Iskandar pun menjawab “Saya bersedia dengan hal itu”.

(3) Setelah proses pernikahan Raja Iskandar dengan Putri Badru‟l Qamariya selesai, maka berdirilah semua raja dan orang penting yang hadir dalam pernikahan tersebut. Kemudian Nabi Khidir memanjatkan doa kepada Allah ta‟ala untuk Raja Iskandar dan semua raja mengatakan “amin”. Esok harinya, Raja Kidi Hindi dan anaknya datang menemui Raja Iskandar pada sore hari. Kemudian diantarlah mereka oleh pengawal untuk bertemu dengan Raja Iskandar. Raja Iskandar terpesona melihat kecantikan yang dimiliki oleh Putri Badru‟l Qamariya. Dalam hati ia berkata “Kusangka anak Raja Darinus yang paling rupawan. Tetapi putri ini lebih rupawan lagi dari semua manusia, hal ini nyata dan tidak dapat dipungkiri”. Raja Iskandar bersuka cita sebab mendapatkan istri yang sangat cantik. Keesokan harinya, Raja Iskandar memerintahkan untuk membuatkan kemah bagi Putri Badru‟l Qamariya sama seperti kemah anak Raja Darinus, Putri Ruqaiyatu‟l Kubra, dan anak Raja Tibus. Maka demikian, Raja Iskandar memiliki tiga orang istri yang sangat cantik.

(4) Raja Iskandar pergi menemui para raja yang telah berkumpul. Dan Raja Iskandar meminta Raja Kidi Hindi untuk segera bergabung dengan mereka. Semuanya duduk di atas kursi tahta raja yang berhiaskan emas. Setelah semua berkumpul, dibukalah ratusan hidangan yang telah disiapkan. Raja Iskandar, Nabi Khidir dan semua raja bersantap dengan hidangan yang

(6)

70

lezat tersebut. Dalam kesempatan itu digunakan pula proses pengakraban dengan bercanda-gurau. Setelah selesai acara bersantap tersebut, Raja Iskandar berkata kepada Nabi Khidir “Ya nabi Allah, beri tahu semua raja dan para menteri, suruh mereka beritahu kepada semua tentaranya. Insya Allah tiga hari dari sekarang, kita akan menemui Raja Puz Hindi, dan dimana ada negeri kafir, kita akan berperang atas nama Allah”.

(5) Pada keesokan harinya, ditabuhlah genderang, ditiuplah nafiri, burgo, dan alat bunyi tradisional kerajaan lainnya pada saat Raja Iskandar akan berangkat. Raja Iskandar berkata “Ya nabi Allah, tanyai Raja P.tuh, negeri mana yang ada dihadapan kita ini berbatasan antara kita dan Cina?”. Maka dikatakanlah oleh Nabi Khidir kepada Raja P.tuh. Maka sahutnya “Tidak ada negeri lain, melainkan ada sebuah negeri bernama Tiridun yang berada antara Cina dan negeri ini. Adapun orang negeri Tiridun itu semuanya hukama, mereka tidak bisa berperang, semuanya bertelanjang dan tidak berumah. Mereka tinggal di dalam gua”. Maka berangkatlah Raja Iskandar ke negeri Tiridun. Setelah hampir sampai ke negeri tersebut, kabar kedatangan Raja Iskandar terdengar oleh semua rakyat negeri itu. Mereka terkejut akan kedatangan Raja Iskandar ke negeri mereka. Berkumpullah para petinggi negeri tersebut, setelah mufakat, mereka mengirimkan surat kepada Raja Iskandar.

(6) Adapun isi dari surat tersebut “Jikalau raja datang ini hendak berperang

dengan kami, maka janganlah bersusahpayah. Raja tidak akan memeroleh apapun dari kami, yang raja kehendaki tidak ada pada diri kami ini. Kami tidak memiliki apapun kecuali ilmu hikmat yang kami miliki. Hal itupun tidak akan langsung raja peroleh dari kami seperti perolehan perang dengan yang lain. Umpamanya dengan karunia Allah ta‟ala akan raja kerajaan dunia dan demikian karunia kami akan ilmu hikmat”. Setelah surat tersebut diterima oleh raja, maka dibacalah surat tersebut oleh Raja Iskandar. Raja Iskandar pun berkata “Demi Allah, tidak ada niatku untuk berperang dengan mereka, melainkan kudengar kelakuannya. Maka saya ingin melihat akan hal tersebut”. (7) Setelah hampir sampai di negeri

Tiridun. Dia (Raja Iskandar) melihat pada para tentaranya yang bersama dengan Nabi Khidir, dan mereka bermusyawarah tentang surat yang diterima itu. Maka Nabi Khidir menganjurkan agar para tentara mendirikan kemah, Kemudian meminta Raja Iskandar untuk memilih orang-orang terbaiknya sebagai pengawal untuk menemui orang negeri Tiridun. Orang-orang pilihan itupun telah dipilih, dan Nabi Khidir ikut dalam perjalanan menemui orang negeri Tiridun. Setelah bertemu dengan kaum Barham (orang Tiridun), raja melihat makhluk ciptaan Allah itu antara laki-laki dan perempuan bertelanjang seperti domba di padang rumput. Dalam percakapan mereka tersirat bahwa kaum mereka lebih banyak yang meninggal daripada hidup, karena kerasnya kehidupan.

(7)

Raja Iskandar memberikan permintaan kepada kaum Barham, dan mereka menginginkan tidak pernah mati. Sekalipun Raja Iskandar sangat berkuasa, raja tidak bisa mengabulkan permintaan tersebut. Karena suatu hari Raja Iskandar juga pasti merasakan kematian. Karena kehidupan di dunia hanyalah untuk sementara, sedangkan kehidupan yang kekal abadi adalah di akhirat nanti. Setelah bertemu dan berkomunikasi dengan kaum Barham, Raja Iskandar, Nabi Khidir dan pengawalnya berjalan pulang menuju perkemahan yang telah didirikan oleh para tentara. Tetapi diperjalanan pulang, Raja Iskandar tersesat diperjalanan atas kuasa Allah ta‟ala. Raja melihat berbagai hal yang aneh dan ajaib. Hal ini rupanya pelajaran bagi Raja Iskandar karena takabbur. Bahwa tidak ada pekerjaan apapun yang dikerjakan atas izin dan kuasa Allah ta‟ala.

(8) Berangkatlah Raja Iskandar dan balatentaranya selama beberapa hari. Sampailah mereka pada sebuah jalan di tepi laut, tibalah mereka di sebuah negeri yang disebut negeri Sindi dan Hindi. Mereka berjalan di atas bumi yang tidak ada seorang pun. Nabi Khidir pun berkata bahwa tidak ada seorang pun di sekitar mereka, melainkan bumi yang bersungai dan laut. Seraya mendengar hal tersebut, raja memerintahkan tentaranya untuk mendirikan tenda. Setelah pagi hari, pergilah Raja Iskandar dan Nabi Khidir ke tepi laut. Raja Iskandar melihat sosok laki-laki muda di tepi laut, ternyata laki-laki tersebut adalah malaikat utusan Allah ta‟ala, Malaikat

Mikail. Malaikat Mikail yang menurunkan hujan dari langit ke bumi atas izin Allah ta‟ala. Kemudian ada malaikat lainnya yaitu, malaikat yang diperintahkan oleh Allah untuk menurunkan kilat dan petir pada siang dan malam di atas bumi. Dan laki-laki yang terakhir adalah malaikat yang bertugas untuk menurunkan angin ribut kesegala penjuru dunia atas kuasa dan izin Allah ta‟ala.

(9) Setelah itu, kembalilah keduanya ke perkemahan. Esok harinya, Raja Iskandar dan semua tentaranya mulai bergerak mengikuti jalan di tepi laut selama tiga hari tiga malam. Selama perjalanan tidak terlihat seorang manusiapun, burung atau sebatang pohon. Kemudian Raja Iskandar tetap melanjutkan perjalanan di tepi laut tersebut selama dua bulan. Raja berniat untuk melihat ujung dari laut tersebut. Namun, selama dua bulan perjalanan belum nampak ujung dari laut tersebut. Pada saat mereka beristirahat, terdengar suara yang sangat besar bunyinya. Raja Iskandar pun terkejut dan bertanya kepada Nabi Khidir, “Ya nabi Allah, suara apakah ini?”. Nabi Khidir menjawab, “Ini adalah suara dari Durdur, itulah tempat segala mata air yang ada di muka bumi ini”. Raja Iskandar penasaran dengan perkataan Nabi Khidir tentang Durdur. Ia pun minta diceritakan tentang Durdur, namun Nabi Khidir menjawab bahwa Durdur itu sangat sulit untuk digambarkan atau dijelaskan. “Jika masih diberikan umur, besok kita akan sampai di sana” kata Nabi Khidir. (10) Hari berikutnya, berangkatlah Raja

(8)

72

berikut Nabi Khidir. Mereka berjalan untuk melihat Durdur, pada sore hari tibalah mereka di tempat tujuan. Raja Iskandar melihat semua mata air yang ada di dunia berkumpul disatu tempat. Dengan seraya Raja Iskandar mengucap rasa syukur kehadirat Allah ta‟ala. Raja Iskandar sangat takjub melihat kuasa Allah tersebut, ia akan menceritakan apa yang dilihatnya kepada semua raja dan orang-orang penting. Raja Iskandar berniat untuk pergi ke dasar Durdur dengan kuasa Allah ta‟ala dan meminta tolong kepada Nabi Khidir untuk menyiapkan sebuah peti untuknya tumpangi. Kemudian Raja Iskandar membuat sebuah surat wasiat bilamana ia tidak dapat kembali lagi. Surat wasiat itu menerangkan bahwa jika Raja Iskandar berhasil kembali lagi dengan selamat setelah perjalanan ke dasar Durdur, maka ia yang akan tetap memimpin dan menjadi raja. Tetapi, bila Allah ta‟ala berkehendak lain, Raja Iskandar tidak selamat dan tidak kembali. Maka yang menjadi pemimpin dan raja adalah Nabi Khidir. Siapapun harus mematuhi setiap permintaan dan perkataan dari Nabi Khidir. Dan surat wasiat tersebut disahkan dengan materai atau cap kerjaan.

(11) Atas karunia Allah ta‟ala mengirim seorang malaikat untuk menemui Nabi Khidir. Malaikat tersebut menyampaikan firman Allah bahwa Nabi Khidir jangan melarang Raja Iskandar untuk pergi ke dalam Durdur. Setelah mendapatkan firman tersebut, Nabi Khidir pun mempersilahkan Raja Iskandar untuk segera pergi ke dalam

Durdur seperti keinginannya. Raja Iskandar pun pergi dengan menggunakan sebuah peti, dan raja masuk kedalamnya. Atas kuasa Allah, hanyutlah peti tersebut ke dalam Durdur. Atas izin Allah ta‟ala, datanglah sebuah ikan raksasa yang bernama Nun, dan menelan peti yang ditumpangi oleh Raja Iskandar. Sangat ajaib bahwa kulit ikan tersebut bagaikan sebuah kaca yang bening, sehingga Raja Iskandar dapat melihat semua isi Durdur tersebut dari dalam tubuh ikan raksasa. Raja Iskandar tak henti-hentinya mengucap rasa syukur dan menyebut nama Allah ta‟ala. Sekali lagi, ia sangat takjub akan kuasa Allah ta‟ala.

(12) Seraya Raja Iskandar takjub akan keajaiban yang dikuasakan kepada dirinya. Sampailah ia di Durdur, tempat segala mata air yang ada di dunia berkumpul. Lalu ikan yang bernama Nun tersebut memuntahkan peti Raja Iskandar di suatu tempat di atas batu. Di sana ada seorang penunggu yang keheranan karena ke datangan seseorang, bahwa ia sudah seribu tahun bahkan lebih telah menjaga tempat itu, dan baru ada seseorang yang bisa ke tempat tersebut. Kemudian Raja Iskandar menjelaskan bahwa ia datang atas kuasa dan kehendak Allah ta‟ala, dan ia juga merupakan kawan dari Nabi Khidir, rosul Allah. Penunggu tempat tersebut ternyata adalah seorang malaikat, kemudia ia melarang Raja Iskandar untuk pergi lebih jauh lagi. Seraya hal tersebut, terdengarlah suara dari atas, tetapi tidak ada pemilik suara tersebut. Isi perkataan tersebut adalah

(9)

bahwa malaikat jangan melarang Raja Iskandar kemanapun ia hendak pergi. (13) Setelah mendengar perkataan tersebut,

Raja Iskandar pergi melanjutkan untuk melihat-lihat tempat malaikat tersebut. Setelah itu, ia kembali lagi ke dalam petinya hendak kembali pulang ke tempat asalnya. Raja Iskandar pun berdoa kepada Allah ta‟ala agar ia dikaruniai dan diridhoi dalam perjalanan pulang. Maka datanglah kembali ikan Nun yang mengantarkan Raja Iskandar, dalam perjalanan pulang ia terus mengucapkan rasa

syukur kehadirat Allah ta‟ala. Maka sampailah Raja Iskandar ke tempat dimana Nabi Khidir dan para pengawalnya menunggu di tempat semula. Raja Iskandar mengucap beribu-ribu syukurnya kepada Allah ta‟ala karena telah diizinkan melihat keindahan yang diciptakan-Nya. Setelah itu, kembalilah Raja Iskandar dan pengawalnya ke kemah. Di sana ia menceritakan semua pengalaman yang baru ia alami selama perjalanan pergi dan kembali ke dalam Durdur.

2. Skema Aktan A. J. Greimas

a. Skema Aktan A. J. Greimas pada Hikayat Iskandar Dzulkarnain (Bagian 1)

PENGIRIM OBJEK PENERIMA

PEMBANTU PENENTANG

SUBJEK

Raja Iskandar Putri Badru’l Raja Iskandar

Qamariya

Nabi Khidir

Raja Kidi Hindi Penentang

(10)

74

Sesuai dengan skema aktan tersebut, diketahui bahwa Raja Iskandar menduduki peran sebagai pengirim yang menginginkan Putri dari Raja Kidi Hindi (Penolong) yaitu Putri Badru‟l Qamariya (Objek) untuk menikah dengannya (Raja Iskandar). Raja Iskandar (merupakan raja dari raja atau maharaja) meminta bantuan Nabi Khidir untuk membantu dirinya dalam melamar dan mempersunting Putri

Badru‟l Qamariya. Atas bantuan Nabi Khidir, maka menikahlah Raja Iskandar dengan Putri Badru‟l Qamariya, dengan wali nikah Nabi Khidir yang ditunjuk langsung oleh Raja Kidi Hindi. Dalam skema tersebut ada aktan yang tidak terisi yaitu aktan penentang, karena memang tidak ada sesuatu hal yang menentang pernikahan antara Raja Iskandar dan Putri Badru‟l Qamariya.

b. Skema Aktan A. J. Greimas pada Hikayat Iskandar Dzulkarnain (Bagian 2)

Berdasarkan skema aktan tersebut, terlihat alur cerita yaitu Raja Iskandar bertindak sebagai aktan pengirim. Raja Iskandar meminta Nabi Khidir yang didukung dan mendapatkan bantuan dari para raja untuk menaklukan negeri-negeri

kafir yang mereka temukan selama dalam perjalanan. Raja Iskandar merupakan maharaja dan bertindak sebagai penguasa yang menganut agama muslim. Dalam alur cerita ini tidak terlihat adanya penentang.

c. Skema Aktan A. J. Greimas pada Hikayat Iskandar Dzulkarnain (Bagian 3)

Raja Iskandar Negeri Kafir Nabi Khidir

Nabi Khidir

Raja-Raja

Penentang (Nihil)

Raja Iskandar Negeri Taridun Raja Iskandar

Kaum Barham

Nabi Khidir

Nabi Khidir

(11)

Raja Iskandar berkeinginan pergi menemui negeri Taridun yang merupakan negara atau wilayah yang berada di antara negeri Raja Iskandar dengan negara Cina. Sesampainya di negeri tersebut (negeri Taridun), Raja Iskandar disambut oleh kaum Barham (kaum Brahmana) yang merupakan penduduk asli negeri Taridun. Raja Iskandar pergi dengan Nabi Khidir dan para pengawalnya. Mereka keheranan melihat kaum Barham yang bertelanjang seperti domba-domba di padang rumput. Raja pun berkomunikasi dengan mereka, kemudian raja memberikan sebuah

permintaan kepada kaum Barham tersebut. Mereka meminta sebuah keinginan yaitu, mereka tidak ingin mati atau dengan kata lain mereka ingin hidup abadi tidak pernah mati. Raja Iskandar merasa tinggi hati karena selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Mendengar permintaan tersebut, Raja Iskandar tidak dapat mengabulkan permintaan kaum Barham tersebut. Namun, dalam cerita dikisahkan bahwa Raja Iskandar mendapatkan teguran dari Allah ta‟ala supaya tidak takabbur hati.

d. Skema Aktan A. J. Greimas pada Hikayat Iskandar Dzulkarnain (Bagian 4)

Berdasarkan skema aktan tersebut yang merupakan skema aktan terakhir dalam hikayat Iskandar Dzulkarnain. Dapat dijelaskan yaitu Raja Iskandar berkeinginan mendapatkan objek (Durdur) dengan meminta bantuan dari Nabi Khidir. Dalam proses mendapatkan keinginannya itu, Raja Iskandar mendapatkan pertolongan dan bantuan dari malaikat, ikan raksasa yang bernama ikan Nun, dan tentunya kuasa Allah ta‟ala. Dalam perjalanan mendapatkan keinginannya, Raja Iskandar mendapatkan izin dari Allah ta‟ala melalui firmannya yang disampaikan

pada malaikat-Nya. Firman tersebut kemudian disampaikan pada Nabi Khidir, setelah itu pergilah Raja Iskandar ke dasar Durdur. Atas kuasa Allah ta‟ala, keajaiban terjadi yaitu muncullan ikan raksasa yang bernama Nun, menelan peti yang ditumpangi Raja Iskandar. Keajaiban selanjutnya yaitu, kulit ikan Nun tersebut bagaikan kaca, jadi Raja Iskandar dapat melihat segala kekuasaan Allah dari dalam tubuh ikan Nun. Dengan izin Allah ta‟ala, maka selamatlah Raja Iskandar dari perjalannya ke dasar Durdur yang merupakan tempat segala macam berkumpulnya mata air yang ada di dunia.

Raja Iskandar Durdur Raja Iskandar

Dasar Laut

Nabi Khidir

Malaikat Ikan Nun Kuasa Allah ta’ala

(12)

76

3. Struktur Fungsional Hikayat

Iskandar Dzulkarnain a. Situasi Awal

Situasi awal yang diceritakan di dalam hikaat adalah rencana pelamaran Raja Iskandar terhadap putri dari Raja Kidi Hindi yang bernama Putri Badru‟l Qamariya. Dalam rencana tersebut, Raja Iskandar meminta pertolongan kepada Nabi Khidir untuk menyampaikan maksudnya tersebut kepada Raja Kidi Hindi. Kemudian Nabi Khidir dan Raja Kidi Hindi pergi menemui Raja Iskandar. Melalui Nabi Khidir, Raja Iskandar melakukan pelamaran terhadap Putri Badru‟l Qamariya, dan melalui Nabi Khidir pula Raja Kidi Hindi menunjuknya sebagai wali nikah. Nabi Khidir menikahkan Raja Iskandar dan Putri Badru‟l Qanariya dengan mahar sebesar tiga ratus ribu dinar. Raja Iskandar pun menyetujui banyaknya mahar tersebut, dan Raja Kidi Hindi menyetujui Raja Iskandar menjadi menantunya. Maka menikahlah Raja Iskandar dengan Putri Badru‟l Qamariya. Raja Iskandar sangat terpesona oleh kecantikan yang dimiliki oleh Putri Badru‟l Qamariya, ia merupakan wanita tercantik di antara manusia yang ada di dunia. Dengan demikian, Raja Iskandar memilik tiga orang istri yang cantik dan semuanya merupakan anak raja. Raja Iskandar membuatkan kemah untuk Putri Badru‟l Qamariya sama dengan kemah dua istrinya yang lain. Keesokan harinya, semua raja berkumpul termasuk Raja Iskandar berikut Nabi Khidir. Setelah tamu undangan para orang penting negara berkumpul, dimulailah acara bersantap dengan ratusan hidangan lezat yang telah disiapkan. Mereka menyantap hidangan

tersebut dengan lahap dan diselingi dengan canda-gurau akrab.

b. Transformasi

Keesokan pagi dimulailah perjalanan Raja Iskandar dengan semua tentaranya ke suatu negeri yang berada di antara negeri Raja Iskandar dengan negeri Cina. Negeri tersebut merupakan negeri Tiridun yang masyarakatnya dikenal dengan kaum Barham. Kaum Barham tersebut semuanya bertelanjang bagaikan sekumpulan kambing di sebuah padang rumput. Raja Iskandar pergi ke negeri tersebut bukan hendak berperang, tetapi hanya untuk melihat kebenaran yang terjadi tentang kaum Barham tersebut.

Dalam kunjungannya ke negeri tersebut, Raja Iskandar hanya ditemani oleh Nabi Khidir dan para pengawal terbaik yang dipilih. Semua tentaranya mendirikan kemah di daerah sebelum negeri Tiridun. Raja Iskandar disambut oleh kaum Barham dan menyaksikan kebenaran yang terjadi. Raja Iskandar memberikan sebuah permintaan kepada kaum Barham tersebut. Hal tersebut dilakukan karena selama ini apa yang diinginkan oleh Raja Iskandar selalu terpenuhi, dengan kata lain Raja Iskandar memiliki sifat tinggi hati pada saat itu. Atas sifatnya tersebut, Raja Iskandar mendapatkan teguran dari Allah ta‟ala yaitu dengan beberapa kejadian aneh yang menimpa Raja Iskandar selama perjalanan menuju kemah selepas dari negeri Tiridun. Dengan kejadian tersebut, Raja Iskandar kembali tersadar dan cepat-cepat mengucap pujian kepada Allah ta‟ala.

Besok harinya, Raja Iskandar dan semua pengikutnya memulai kembali perjalanan. Setelah tiga hari perjalanan,

(13)

tibalah mereka di tepi laut yang tidak ada kehidupan sama sekali, tidak ada orang, burung, bahkan sebatang pohon. Mereka pun melanjutkan perjalanan sampai tiga bulan lamanya. Dalam waktu istirahat, Raja Iskandar mendengar suara gemuruh yang sangat keras, lantas ia bertanya pada Nabi Khidir tentang hal itu. Nabi Khidir menjelaskan bahwa suara tersebut berasal dari Durdur, yaitu tempat berkumpulnya semua mata air yang ada di dunia. Raja Iskandar penasaran dengan tempat tersebut dan meminta untuk dijelaskan bagaimana gambaran dari Durdur itu. Nabi Khidir menolak untuk menjelaskannya, karena memang Durdur sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Jika mereka masih diberi umur, mereka akan tiba di Durdur pada esok hari.

Hari selanjutnya mereka tiba di tepi Durdur pada petang hari. Raja Iskandar berkehendak ingin pergi melihat ke dalam Durdur. Maka ia pun pergi atas pertimbangan Nabi Khidir dan kuasa Allah ta‟ala. Maka ia pun pergi dengan menggunakan sebuah peti. Atas kuasa Allah ta‟ala muncullah seekor ikan raksasa yang menelan peti tersebut. Ikan tersebut dikenal dengan nama Nun. Keajaiban selanjutnya yaitu, kulit ikan tersebut sangat bening, sebening kaca, sehingga Raja Iskandar dapat melihat isi dari Durdur dari dalam perut ikan Nun. Raja Iskandar tak henti-hentinya mengucap syukur dan memuji Allah ta‟ala.

c. Situasi Akhir

Atas kuasa dan izin Allah ta‟ala sampailah Raja Iskandar di dalam Durdur. Raja Iskandar terus mengucap syukur kepada Allah. Setibanya di sana,

ada seorang penjaga yang terlihat. Penjaga tersebut sangat terkejut karena selama 1000 tahun lebih ia menjaga pusat sumber mata air tersebut, baru ia kedatangan seorang manusia. Ternyata penjaga tersebut adalah seorang malaikat yang bertugas menjaga Durdur. Ia pun melarang Raja Iskandar untuk melanjutkan perjalanannya melihar Durdur, seraya terdengarlah suara dari atas langit bahwa janganlah ia (malaikat) melarang-larang Raja Iskandar untuk melanjutkan perjalanan. Mendengar suara tersebut, maka malaikat pun mempersilahkan Raja Iskandar untuk melanjutkan perjalanannya. Atas kuasa Allah ta‟ala dan bantuan dari ikan Nun, Raja Iskandar berhasil kembali dengan selamat ke tempat semula di mana semua orang sudah menunggunya dengan cemas. Sesampainya ia di kemah, dia pun menceritakan semua pengalaman yang ajaib yang baru ia alami. Dan tidak semua orang dapat melakukan pengalaman yang sama, dan Raja Iskandar merupakan orang yang diridho Allah untuk mengalami semua hal menakjubkan tersebut.

H. PEMBAHASAN HASIL ANALISIS Pendekatan struktural Greimas tidak sama dengan pendekatan struktural pada umumnya. Pendekatan struktural biasanya membahas tentang tokoh, penokohan, alur, setting, latar, dan lain-lain. Pendekatan struktural Greimas memfokuskan kajian pada fungsi setiap komponen (manusia dan sesuatu) yang berada di dalam cerita. Fungsi-fungsi setiap komponen tersebut merupakan suatu penggerak yang menyebabkan terjadinya sebuah cerita. Fungsinya terbagi atas enam aktan yaitu (1) pengirim, (2)

(14)

78

objek, (3) subjek, (4) penerima, (5) penolong/pembantu, dan (6) penentang/penghalang. Setiap fungsi yang berada di dalam cerita dapat mengisi slot aktan-aktan yang dirancang oleh Greimas. Namun, tidak semua aktan dapat diisi jika memang di dalam cerita tidak tersedia fungsi aktan tersebut. Kemudian, setiap aktan dapat menempati beberapa fungsi aktan contohnya terdapat pada skema aktan 1 hikayat Iskandar Dzulkarnain.

Dalam skema aktan 1 yang disusun terlihat bahwa Raja Iskandar menempati dua fungsi aktan, yaitu aktan pengirim dan aktan penerima. Hal tersebut terjadi karena Raja Iskandar berperan sebagai pengirim dalam upaya mendapatkan objek Putri Badru‟l Qamariya yang hendak ia nikahi dengan meminta bantuan kepada Nabi Khidir yang berfungsi sebagai aktan

subjek. Dengan demikian, aktan penerima

sudah dapat diprediksi yaitu Raja Iskandar sendiri, karena pada intinya Raja Iskandar yang akan mendapatkan putri tersebut atas bantuan berbagai pihak. Namun, pada fungsi aktan penentang tidak terisi oleh apapun (seseorang atau sesuatu) karena memang di dalam cerita tidak terdapat gangguan atau halangan niatan Raja Iskandar untuk memperistri Putri Badru‟l Qamariya.

Begitu juga dengan skema aktan 2 yang telah disusun. Nabi Khidir yang berfungsi sebagai subjek berfungsi pula sebagai aktan penerima. Dikaitkan dengan isi cerita maka akan tampak bahwa Raja Iskandar tetap berfungsi sebagai aktan pengirim yang memerintahkan balatentaranya untuk memerangi negeri-negeri kafir. Dalam isi cerita ini Raja Iskandar mendapatkan bantuan dari raja-raja yang lainnya dalam mengusahakan

tercapainya tujuan untuk mendapatkan objek yang diisi “negeri kafir”. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa Nabi Khidir mengisi dua fungsi aktan yaitu subjek dan penerima. Hal tersebut dengan asumsi bahwa jika dihancurkannya negeri-negeri kafir, maka Nabi Khidir dapat menegakkan agama Islam.

Dalam skema aktan 3 ada yang berbeda yaitu terisinya fungsi aktan penentang. Jika dua skema aktan sebelumnya fungsi ini tidak terisi, di skema aktan 3, fungsi aktan ini terisi oleh bentuk bukan benda. Fungsi aktan ini terisi oleh “takabbur hati” dari Raja Iskandar. Raja Iskandar merupakan maharaja, dia berkedudukan di atas raja-raja yang lainnya. Dalam isi cerita ini juga Raja Iskandar mengisi dua fungsi aktan yaitu aktan pengirim dan penerima. Raja Iskandar yang merupakan maharaja sudah barang tentu selalu mendapatkan keinginanya. Hal tersebut yang membuat dirinya menjadi takbbur hati sehingga mendapatkan sebuah teguran dari maha pencipta.

Dengan menggunakan pendekatan analisis Greimas akan nampak sebuah cerita berdasarkan rancangan skema yang diisi oleh fungsi-fungsi aktan yang pada hakikatnya membangun cerita tersebut. Kemudian skema aktan ini mampu memberikan informasi umum mengenai jalannya cerita berdasarkan fungsi aktan yang digambarkan. Selain itu, setiap dirancang sebuah skema aktan maka akan terdapat deskripsi dari skema aktan tersebut. Hal ini juga memungkinkan pembaca memahami sebuah cerita hanya dengan membaca skema aktan. Setelah dirancangnya skema aktan, dideskripsikan, kemudian disusun sebuah

(15)

struktur fungsional. Dalam struktur fungsional dibagi atas tiga komponen yaitu (1) situasi awal, (2) transformasi, dan (3) situasi akhir. Struktur fungsional pada dasarnya menjelaskan sebuah cerita berdasarkan gambaran umum. Terlihat dari pembagian isi struktur fungsional yang diawali dengan situasi awal sampai pada situasi akhir. Hal ini menjelaskan bahwa menggambarkan sebuah cerita dengan representasi umumnya.

I. SIMPULAN

Hikayat Iskandar Zulkarnain berisi mengenai akivitas Raja Iskandar dalam menyikapi hidup dengan didampingi Nabi Khidir. Diceritakan dalam hikayat bahwa Raja Iskandar adalah maharaja, ia memimpin para raja. Meskipun ia sangat berkuasa, tetapi ia tetap taat terhadap agamanya (Islam), menaati perkataan nabiNya, dan terutama kepada Allah ta‟ala.

Dalam hikayat dikisahkan bahwa Raja Iskandar berperang menegakkan agama Islam, dan selalu ditemani oleh Nabi Khidir yang secara tersurat menjadi penasihat pribadi dari Raja Iskandar. Nabi Khidir selalu mendampingi Raja Iskandar di setiap kesempatan, bahkan diawal cerita dikisahkan Raja Iskandar memercayakan urusan pernikahannya kepada Nabi Khidir. Setiap akan mengerjakan sesuatu, Raja Iskandar selalu meminta pertimbangan dari Nabi Khidir. Oleh karena mengisahkan perjalanan raja Iskandar dengan nabi Chidir, maka wajar ketika hikayat ini kaya dengan pesan moral, khususnya pesan moral yang mengarahkan pada pembentukan karakter shaleh secara agama (Islam). Pembentukan karakter

yang mengangkat hubungan manusia dengan Tuhan, alam, diri sendiri, dan manusia lain.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis hikayat Iskandar

Dzulkarnain dimulai dengan

menceritakan ulang isi cerita dengan menggunakan bahasa (ejaan, makna, alur) yang mudah dipahami oleh pembaca. Hal ini berhubungan dengan hikayat itu sendiri yang menggunakan bahasa melayu yang sangat berbeda struktur bahasanya dengan bahasa Indonesia (EYD) sekarang ini. Setelah melakukan tahap penceritaan ulang, ditetapkan aktan-aktan yang akan mengisi setiap fungsi aktan di dalam skema Greimas. Dalam penelitian ini disusun sebanyak empat skema aktan berdasarkan fungsi dan setting cerita yang berubah-ubah. Tahap selanjutnya dalam pendekatan Greimas yaitu menjelaskan struktur fungsional cerita/hikayat yang disesuaikan dengan pedoman pendekatan struktural Greimas,

Raja Iskandar merupakan tokoh utama dalam hikayat “Iskandar Dzulkarnain” hal ini tampak pada fungsi aktan yang selalu ditempati. Raja Iskandar selalu menempati fungsi aktan pengirim, bahkan mengisi fungsi aktan yang lainnya yaitu penerima. Dengan melihat skema aktan yang dijelaskan dalam analisis data di bab IV, pembaca dapat mendapatkan gambaran isi cerita dengan membaca skema aktan yang dirancang. Dalam empat skema aktan yang dirancang, Raja Iskandar menempati fungsi aktan pengirim sebanyak empat kali. Hal ini juga mengindikasikan bahwa Raja Iskandar adalah penggerak cerita. Kemudian, Nabi Khidir selalu mengisi

(16)

80

fungsi aktan subjek. Hal ini menandakan bahwa Nabi Khidir merupakan utusan khusus yang selalu dimintai pertolongannya oleh pengirim yang diisi oleh Raja Iskandar. Nabi Khidir merupakan tokoh yang berpengaruh dalam cerita, karena perannya sangat dibutuhkan oleh Raja Iskandar. Dapat dikatakan bahwa dimana ada Raja Iskandar disitu ada Nabi Khidir, begitu juga sebaliknya. Ini membuktikan bahwa Raja Iskandar dan Nabi Khidir merupakan tokoh pembangun cerita, dan merupakan tokoh utama.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. C. (2009). Pokoknya

Kualitatif. Jakarta: Pustaka Jaya.

Hasiem dan Azies. 2010. Menganalisis

Fiksi. Bogor: Penerbit Ghalia

Indonesia

Nyoman, K. R. (2003). Teori, mode dan

penelitian sastra. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Nurgiyantoro, Burhan. (2010). Teori

Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press. Syamsuddin dan Vismaia. (2009). Metode

Penelitian Pendidikan Bahasa.

Tarigan, H. G.(2008). Menulis. Bandung: Angkasa.

Taum, Y. Y. (2011). Studi sastra lisan. Yogyakarta: Lamalera.

Wiyatmi. (2009). Pengantar Kajian

Sastra. Yogyakarta: Pustaka Book

Publisher. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

www.wikipedia.org. (24 November 2013, pukul 05.33 WIB). Hikayat. [Online]. Diakses tanggal 16 Desember 2015, pukul 00.36 WIB.

Referensi

Dokumen terkait