• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KERANGKA PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 KERANGKA PENELITIAN"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

3.1. Kerangka Penelitian

Tahap yang penting dalam satu penelitian adalah menyusun kerangka konsep. Konsep adalah abstraksi dari suatu realitas agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antar variable (baik variable yang diteliti maupun yang tidak diteliti) (Nursalam, 2008). Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoadmodjo, 2012).

Kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengggambarkan karakteristik pasien fraktur memilih pengobatan tradisional di dukun patah SuliahKelurahan Titipapan.

Berdasarkan kajian teoritik yang ada, maka kerangka konsep penelitian ini adalah:

Karakteristik pasien fraktur memilih pengobatan tradisional

− Usia Pasien

− Jenis kelamin Pasien − Suku Pasien

−Agama Pasien − Pendidikan Pasien − PekerjaanPasien

− Penghasilan Keluarga per bulan

− Jenis Fraktur/patah tulang yang dialami − Sumber informasi didapat dari

(2)

3.2. Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Operasional Alat ukur Hasil ukur Skala ukur Karakteristik pasien fraktur memilih pengobatan tradisional Karakterisitik Pasien adalah sifat khas yang dimiliki suatu pasien yang meliputi :

usia adalah Usia

adalah umur responden pada saat dilakukan penelitian. Usia dikategorikan menjadi : -20-39 tahun - 40-59 tahun - > 60 tahun Jenis kelamin Jenis kelamin adalah pembagian jenis seksual yang ditentukan secara biologis dan anatomis yang dinyatakan dalam jenis -Kelaminlaki-laki dan Kelamin perempuan. Suku

golongan sosial yang dibedakan dari golongan-golongan

sosial lainnya, karena mempunyai ciri-ciri

yang paling mendasar dan umum

yang berkaitan dengan asal usul, tempat asal, serta kebudayaannya. Berupa kuesioner data demografi yang mencakup data mengenai Usia Pasien, Jenis kelamin Pasien,Suku Pasien, Agama Pasien, Pendidikan Pasien, Pekerjaan Pasien, Penghasilan Keluarga per bulan, Jenis Fraktur/patah tulang yang dialami, Sumber informasi didapat dari, Lokasi yang terjadinya fraktur dan beberapa alasan memilih pengobatan tradisional Patah Tulang didukun patah Suliah yang diModifikas i dari Ritonga Usia -20-39 tahun - 40-59 tahun - > 60 tahun Jeniskelamin -Laki-Laki -Perempuan Suku -Batak Toba -melayu -Jawa -mandailing Ordinal Nominal Nominal

(3)

-Batak Toba -melayu -Jawa -mandailing Agama adalah kepercayaan yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia yang dianut pasien yang dikategorikan atas: -Islam -Kristen Protestan -Kristen Khatolik -Hindu -Budha Pendidikan adalah jenis pendidikan formal yang terakhir yang diselesaikan oleh responden. Pendidikan dikategorikan menjadi : Pendidikan rendah -Tidaksekolah - SD/SR - SMP/MTS Pendidikan menengah - SMA Pendidikan Tinggi - Diploma sampaiPerguruan Tinggi. Pekerjaan adalah 2012 Agama -Islam -Kristen Protestan -Kristen Khatolik -Hindu -Budha Pendidikan -Tidaksekolah - SD/SR - SMP/MTS - SMA - Perguruan Tinggi Pekerjaan Nominal Ordinal Nominal

(4)

aktivitas responden sehari–hari. Pekerjaan dikategorikan menjadi: -PNS -Pegawai Swasta -Wiraswasta -Bertani/Buruh. Penghasilan Keluarga per bulan

Jenis Fraktur/patah tulang yang dialami

Sumber informasi didapat dari Lokasi yang terjadinya fraktur -PNS -Pegawai Swasta -Wiraswasta -Bertani/Buruh < Rp 2.528.815 > Rp 2.528.815 Frakturtertutup Fraktur terbuka Keluarga Tetangga Teman -Bagian Kepala -Leher -Pundak/ Bahu -Dada -Perut -Punggung -Pinggang -Panggul -Bokong/ -Pantat -Kemaluan -Dubur -Ketiak -Lengan Atas -Siku Nominal Nominal Nominal Nominal

(5)

-Lengan Bawah -Telapak Tangan -jari-jari -Pergelangan Tangan -Paha -Lutut -Betis -MataKaki -TelapakKaki -Punggung Kaki -Tumit -Jari Kaki

(6)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Notoatmodjo (2012) memaparkan bahwa penelitian deskriptif merupakan suatu metode penelitian yang mendeskripsikan atau menggambarkan suatu keadaan yang terjadi di dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan Karakteristik Pasien Fraktur Memilih Pengobatan Tradisional Didukun Patah Suliah Kelurahan Titipapan.

4.2 Populasi, Sampel dan Teknik Sampling 4.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2012). Populasi pada penelitian ini adalah Seluruh Pasien yang berobat ke pengobatan tradisional didukun patah suliah kelurahan Titipapan, Penentuan populasi diambil berdasarkan data yang diperoleh dari Pemilik pengobatan tradisional didukun patah Suliah sejumlah 360 pada tahun 2015-2016.

4.2.2 Sampel dan Teknik Sampling

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik Accidental Sampling. Pengambilan sampel secara accidental ini dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai konteks penelitian. (Notoatmodjo, 2012). Gay dan Diehl (1992) berpendapat bahwa

(7)

sampel haruslah sebesar-besarnya. Pendapat Gay dan Diehl (1992) ini mengasumsikan bahwa semakin banyak sampel yang diambil maka akan semakin representatif dan hasilnya dapat digenelisir. Namun ukuran sampel yang diterima akan sangat bergantung pada jenis penelitiannya.

4.3 Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian inidilaksanakan didukun Patah Suliah bertempat di daerah Kelurahan Titipapan, Kota Medan merupakan suatu praktek pelayanan pengobatan tradisional yang cukup di minati oleh masyarakat khususnya di kelurahan Titipapan, hal ini dapat di lihat dari jumlah kunjungan pasien setiap bulannya sekitar 30 orang pasien. Penelitian ini akan dilaksanakan selama sepuluh bulan yaitu dimulai dari bulan Oktober tahun 2016 sampai dengan bulan Juni tahun 2017. Pengumpulan data akan dilakukan pada bulan April sampai bulan Juni 2017.

4.4 Pertimbangan Etik

Pertimbangan etik dimulai dari proses administrasi penelitian yaitu setelah mendapat persetujuan dari institusi pendidikan (Fakultas Keperawatan USU) dan izin dari Dinas Kesehatan Kota Medan dan Pemilik pengobatan tradisional didukun Patah Suliah, selanjutnya peneliti melakukan beberapa langkah-langkah penelitian mulai dari pertimbangan etik penelitian yang meliputi: persetujuan dari responden penelitian (Informed Consent), lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang sesuai dengan Pernyataan Tentang Karakteristik Pasien Fraktur Memilih Pengobatan Tradisional, bila responden tidak bersedia menjadi responden maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghargai hak-hak

(8)

responden. Penelitian dilakukan dengan rahasia (Anomity), dan untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, maka waktu penelitian ini peneliti tidak mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut diberikan kode penelitian (Confidentiality), kerahasian informasi responden dijamin oleh peneliti sebagai kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian. Penelitian ini tidak menyakiti aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual dari responden. 4.5 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang oleh di adopsi dari Ritonga (2012), berdasarkan tinjauan pustaka yang berisikan pernyataan yang harus dijawab responden. Instrumen ini terdiri dari satu bagian yaitu instrumen tentang pernyataan karakteristik pasien fraktur memilih pengobatan tradisional didukun Patah Suliah kelurahan Titipapan. Instrumen data demografi berisi pertanyaan meliputi usia, jenis kelamin, suku, agama, pendidikan, pekerjaan, penghasilan keluarga perbulan, jenis fraktur/patah tulang yang dialami, sumber informasi, lokasi terjadinya fraktur, alasan memilih pengobatan tradisional patah tulang didukun Patah Suliah Kelurahan Titipapan. 4.6 Validitas dan Reliabilitas Instrumen

4.6.1 Validitas

Validitas merupakan suatu indeks yang menunjukkan alat ukur atau instrumen itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2012). Uji validitas yang digunakan pada pengujian ini adalah validitas isi, yaitu sejauh mana instrumen penelitian memuat rumusan-rumusan sesuai dengan isi yang dikehendaki menurut tujuan tertentu. Uji validitas dilakukan dengan cara

(9)

mengoreksi instrumen penelitian oleh orang yang berkompeten. Uji validitas dilakukan oleh dosen yang ahli dalam bidang keperawatan Komunitas di Fakultas Keperawatan USU yaitu SitiZaharaNasution, S.Kp, MNS, Berdasarkan uji validitas tersebut, kuesioner disusun kembali dengan bahasa yang lebih efektif untuk mempermudah responden memahami kalimat dalam instrumen tersebut. 4.6.2 Reliabilitas

Reliabilitas sebagai pemeriksaan pendahuluan sebelum melakukan penelitian, menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2012). Uji reliabilitas instrumen bertujuan untuk mengetahui seberapa besar derajat alat ukur dapat mengukur secara konsisten objek yang akan diukur. Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang memberikan hasil yang relatif sama bila digunakan beberapa kali pada kelompok sampel yang sama.

Uji realibilitas ini dilakukan pada 10 responden yang akan dilakukan di pengobatan tradisional Malumta kelurahan Karang berombak . Untuk mengetahui kepercayaan (reliabilitas) instrumen dilakukan uji reliabilitas instrumen sehingga dapat digunakan untuk penelitian berikutnya dalam ruang lingkup yang sama. Hasil uji reliabilitas kuesioner untuk mengetahui gambaran karakteristik keluarga pasien fraktur yang memilih pengobatan tradisional Didukun patah Suliah menggunakan uji Cronbach alpha. Pada penelitian ini diperoleh hasil uji reliabilitas dengan nilai 0,81 karena nilai Alpha >0,7 maka dinyatakan bahwa

(10)

seluruh instrumen atau pernyataan yang digunakan dalam penelitian ini reliabel. kuesioner dikatakan reliabel jika hasil uji reliabilitasnya >0,7 (Arikunto,2005). 4.7 Pengumpulan data

Prosedur yangdilakukan dalam pengumpulan data yaitu pada tahap awal peneliti mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada institusi pendidikan (Fakultas Keperawatan USU) kemudian Peneliti meminta izin kepada pemilik pengobatan tradisional patah tulang didukun patah Suliah Kelurahan Titipapan. Setelah mendapatkan calon responden, selanjutnya peneliti menjelaskan kepada responden tersebut tentang tujuan, manfaat dan cara pengisian kuesioner. Kemudian bagi calon responden yang bersedia, diminta untuk menandatangani informed consent. Pengisian kuesioner dilakukan dengan cara peneliti membacakan isi kuesioner kepada responden dan responden menjawab pernytaan. Jawaban yang diberikan oleh responden juga disesuaikan peneliti dengan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti saat pengisian kuesioner berlangsung dan selanjutnya peneliti menandai jawaban yang diberikan responden di lembar kuesioner. Selesai pengisian, peneliti memeriksa kelengkapan data. Jika data yang kurang lengkap, data dapat langsung dilengkapi selanjutnya data yang terkumpul dianalisa.

4.8 Analisa data

Analisa datadilakukan setelah semua data dalam kuesioner dikumpulkan melalui beberapa tahap dimulai dengan editing untuk memeriksa kelengkapan data, kemudian data yang sesuai diberi kode (coding) untuk memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi dan analisa data. Kemudian memasukkan (entry) data

(11)

ke dalam komputer dan dilakukan pengolahan data dengan menggunakan komputerisasi. Dilakukan dengan pengolahan data dengan menggunakan program komputerisasi. Pengolahan data dilakukan dengan cara univariat, dimana data univariat untuk menampilkan data krakteristik pasien fraktur memilih pengobatan tradisional didukun patah suliah kelurahan titipapan yang terdiri dari usia pasien, suku pasien, agama pasien, pendidikan pasien, pekerjaan pasien, jenis kelamin pasien dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.

(12)

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil dan Pembahasan

Pada bab ini menguraikan tentang hasil penelitian mengenai gambaran karakteristik pasien fraktur yang memilih pengobatan tradisional didukun patah Suliah kelurahan Titipapan. penelitian ini dilakukan selama 1 bulan mulai dari 11 April sampai 12 Juni 2017 dengan jumlah responden sebanyak 30 orang yang merupakan pasien yang berobat ke pengobatan tradisional didukun patah Suliah. Baik pasien baru, pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan.

5.1.1 karakteristik respoden

Hasil penelitian berdasarkan karakteristik responden yang dipaparkan mencakup usia, jenis kelamin, suku, agama, pendidikan terakhir, pekerjaan, penghasilan kepala keluarga perbulan, Sumber informasi yang di dapat, lokasi yang terjadinya fraktur, jenis fraktur yang dialami, alasan memilih pengobatan suliah. Dari 30 responden didapatkan hasil yaitu : bahwa usia terbanyak berada pada usia 20 – 39 tahun yaitu sebanyak 18 responden (60,0%). Jenis kelamin responden terbanyak laki – laki sebanyak 24 responden (80.0%). Suku terbanyak terdapat pada suku jawa sebanyak 20 responden (66,7%). Agama terbanyak terdapat pada Agama Islam sebanyak 23 responden (76.7%). Pendidikan terakhir terdapat pada SMA/SMK/MAN sebanyak 18 responden (60,0%).Perkerjaan pasien didapat terbanyak sebagai Wiraswasta sebanyak 24 responden (80.0%). Penghasilan keluarga perbulan terbanyak < 2.528.815 sebanyak 24 responden

(13)

(80,0%). Jenis fraktur yang dialami terbanyak fraktur tertutup sebanyak 23 responden (76.7%). Sumber informasi didapat dari keluarga sebanyak 21 responden (70.0). lokasi fraktur banyak terjadi di bagian betis sebanyak 10 responden (33,3%). Alasan masyarakat memilih pengobatan tradisional dikarenakan adanya pengalaman dari keluarga tentang manfaat pengobatan tradisional sebanyak 11 responden (36,7%).

Tabel 5.1

Tabel Distribusi Karakteristik Pasien Fraktur Memilih Pengobatan Tradisional Dukun Patah Suliah di Kelurahan Titipapan

Variabel Frekuensi Persentase (%)

Usia 20-39 tahun 40-59 tahun >60 tahun 18 7 5 60,0 23,3 16,7 Jenis kelamin Laki – laki Perempuan 24 6 80,0 20,0 Suku Batak toba Melayu Jawa Mandailing Agama Islam Kristen protestan Kristen khatolik Pendidikan terakhir Tidak sekolah SD/SR SMP/MTS SMA/SMK/MAN Perguruan tinggi Pekerjaan PNS Pegawai swasta 8 1 20 1 23 6 1 2 3 1 18 6 5 1 26,7 3,3 66,7 3,3 76,7 20,0 3,3 6,7 10,0 3,3 60,0 20,0 16,7 3,3

(14)

Penghasilan keluarga < 2.528.815 > 2.528.815 Jenis Fraktur Fraktur tertutup Fraktur terbuka

Sumber Informasi dari Keluarga

Teman Tetangga

Lokasi terjadinya Fraktur Leher Pundak/bahu Punggung Pinggang Panggul Pergelangan tangan Paha Lutut Betis Telapak kaki

Alasan memilih pengobatan tradisional

Pernah berobat kerumah sakit namun tidak kunjung sembuh.

Adanya trauma dari pasien atau kerabat ketika berobat keumah sakit. Pasien mengalami kecemasan ketika di bawa kerumah sakit karena takut terjadinya infeksi.

Takut di operasi apabila dibawa kerumah sakit.

Ada pihak lain yang menyarankan untuk berobat ke pengobatan tradisional.

Ada nya pengalaman dari keluarga tentang manfaat pengobatan tradisional. 24 6 23 7 21 3 6 1 2 1 1 3 3 7 1 10 1 3 3 5 4 4 11 80,0 20,0 76,7 23,3 70,0 10,0 20,0 3,3 6,7 3,3 3,3 10,0 10,0 23,3 3,3 33,3 3,3 10,0 10,0 16,7 13,3 13,3 36,7

(15)

5.2 Pembahasan

Dalam pembahasan ini peneliti mencoba menjawab pertanyaan penelitian yaitu bagaimana gambaran karakteristik pasien fraktur yang memilih pengobatan tradisional didukun patah Suliah kelurahan titipapan.

5.2.1 Karakteristik responden 5.2.1.1.Usia

Hasil penelitian tentang gambaran karakteristik pasien fraktur yang memilih pengobatan tradisional didukun patah Suliah kelurahan titipapan menunjukkan bahwa dari 30 responden sebagian besar usia pasien pada kelompok umur 20-39 tahun yaitu sebanyak 18 responden (60,0%). 40-59 tahun yaitu 7 responden (23,3%). > 60 tahun yaitu 5 responden (16,7%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Purba (2011). Didapatkan hasil yaitu, usia pasien yang memilih pengobatan tradisional bahwa sebagian besar responden berusia 21-30 tahun. Berdasarkan data dari direktorat lalu lintas, Polda Sumut 2010 usia yang terlibat kecelakaan lalu lintas di Sumut terbanyak pada rentang usia 21-30 tahun. Hal ini disebabkan karena kesibukan atau tingkat mobilitas golongan usia tersebut di atas tinggi, jumlah pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan lalu lintas terus meningkat. Menurut Ramadani (2010)Pada kelompok umur muda lebih banyak melakukan aktivitas yang berat dari pada kelompok umur yang lebih tua. Aktivitas yang banyak akan cenderung mengalami kelelahan tulang dan jika ada trauma benturan atau kekerasan tulang bisa saja patah. Aktivitas masyarakat umur muda di luar rumah cukup tinggi dengan pergerakan yang cepat, dapat

(16)

fraktur Insidens kecelakaan yang menyebabkan fraktur lebih banyak pada kelompok umur muda pada waktu berolahraga, kecelakaan lalu lintas, atau jatuh dari ketinggian. Sesuai dengan klasifikasi WHO depkes 2016 rentang usia 20-39 dewasa awal, 40-59 masa lansia awal, > 60 lansia akhir. Usia pasien yang datang kepengobatan tradisional suliah berada pada rentang usia dewasa awal. Adapun ciri dari dewasa awal adalah adanya aktifitas sosial yang tinggi. Aktivitas sosial yang tinggi akan memudahkan pasien untuk mendapatkan informasi yang penting mengenai pemilihan pengobatan yang tepat melalui informasi pengalaman dari teman, keluarga ataupun orang lain yang pernah merasakan efektivitas pengobatan tersebut. Informasi tersebut akan menjadi pertimbangan pasien dalam memilih pengobatan tradisional. Menurut lukman (2011) menyatakan usia yang semakin tinggi dapat menimbulkan kemampuan seseorang mengambil keputusan semakin bijaksana. Dalam hal ini rentang usia dewasa awal dianggap usia yang paling baik dalam mengambil keputusan yang bijaksana. Termasuk dalam keputusan terhadap pemilihan pengobatan tradisional.

5.1.1.2 Jenis Kelamin

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien fraktur yang datang berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 24 responden (80,0%). Perempuan sebanyak 6 responden (20,0%). Sesuai dengan penelitian Ritonga (2012). Didapatkan hasil yaitu pasien fraktur didominasi oleh laki-laki (71.4%). Dan sesuai dengan hasil penelitian Purba (2011). Didapatkan hasil yaitu Pasien Fraktur didominasi oleh laki-laki (63,3%). Menurut Ramadani (2010)Laki – laki pada umumnya lebih banyak mengalami kecelakaan yang menyebabkan fraktur

(17)

yakni 3 kali lebih besar dari pada perempuan. Pada umumnya Laki – laki lebih aktif dan lebih banyak melakukan aktivitas dari pada perempuan. Misalnya aktivitas di luar rumah untuk bekerja sehingga mempunyai risiko lebih tinggi mengalami cedera. Cedera patah tulang umumnya lebih banyak terjadi karena kecelakaan lalu lintas. Tingginya kasus patah tulang akibat kecelakaan lalulintas pada laki – laki dikarenakan laki – laki mempunyai perilaku mengemudi dengan kecepatan yang tinggi sehingga menyebabkan kecelakaan yang lebih fatal dibandingkan perempuan. Hal ini sesuai dengan teori pada buku Brunner &Suddart (2002) yang menyatakan fraktur terjadi lebih sering pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Hal ini berhubungan dengan olah raga, pekerjaan atau kecelakaan. Adapun olahraga yang dapat menyebabkan fraktur adalah sepak bola, ski, senam, voly, basket dan berdansa diatas lantai yang licin. Sedangkan pekerjaan yang beresiko mengalami fraktur yaitu tukang besi, supir, bangunan, pembalap mobil, orang dengan penyakit degeneratif dan neoplasma. Dan kecelakaan yang paling sering menjadi penyebab fraktur adalah kecelakaan sepeda motor. Menurut moesbar (2007) menyatakan bahwa pengendara dan penumpang sepeda motoralah terbanyak mengalami patah tulang yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Sedangkan pada perempuan lebih sering terjadi pada usia lanjut berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon.

5.2.1.3 Suku

(18)

dan sebagian besar adalah suku Jawa yaitu sebanyak 20 responden (66,7%). Suku melayu yaitu 1 responden (3,3%). Suku batak toba yaitu 8 responden (26,7%). Suku mandailing yaitu 1 responden (3,3%). Hal ini didukung karena masyoritas masyarakat sekitar daerah pengobatan Suliah kebanyakan suku jawa, Hal ini menunjukkan bahwa budaya-budaya luhur masih tetap terpelihara dalam diri masyarakat (Turana, 2003). Suku merupakan bagian integral dari budaya di provinsi sumatera utara ini hampir seluruh masyarakat didominasi oleh suku batak. sebagai bagian integral dari budaya, suku dapat mempengaruhi pandangan masyarakat tentang penyebab penyakit persepsi keparahannya, dan dalam menentukan pemilihan pengobatan. Maramis (2006) menyatakan budaya dipengaruhi oleh suku bangsa yang dianut pasien, jika aspek suku bangsa sangat mendominasi. Maka pertimbangan untuk menerima atau menolak pengobatan didasari pada kecocokan suku bangsa yang dianut oleh pengobatan tradisional. Berbeda dengan hasil penelitian Ritonga (2012) Pakpahan (2011) dan hasil penelitian Purba (2006) Didapatkan hasil yaitu suku masyarakat yang memilih pengobatan tradisional itu beraneka ragam dan sebagian besar adalah suku batak Toba. Berdasarkan penelitian Dermawan (2013) mayoritas suku dayak memilih pengobatan tradisional karena masyarakat lebih dekat dengan battra (dukun patah), masyarakat merasa pengobatan yang dilakukan oleh dukun patah sudah sesuai keinginan mereka dari padaa mereka harus berobat kerumah sakit. Oleh karena itu disimpulkan bahwa kesamaan latar belakang budaya dengan dukun patah tidak mempengaruhi masyarakat dalam pemilihan pengobatan tradisional.

(19)

Hal ini dikarenakan adanya faktor luar yang mempengaruhi masyarakat dalam pemilihan pengobatan tradisional diantara nya faktor lingkungan sekitar.

5.2.1.4 Agama

Hasil penelitian menunjukkan agama yang dianut responden mayoritas adalah Islam yaitu sebanyak 23 responden (76,7%). Sedangkan Agama Kristen Protestan sebanyak 6 responden (20,0). Dan agama Kristen Khatolik sebanyak 1 responden (3,3%). Menurut Mubarak, (2009).Agama berperan penting dalam membentuk persepsi klien tentang sehat sakit, agama dapat mempengaruhi penjelasan klien tentang penyebab penyakit, persepsi keparahannya, dalam menetukan pemilihan pengobatan. Hasil penelitian ini didukung dengan peneltian sebelumnya oleh Ritonga (2012). Didapatkan hasil bahwa agama yang dianut responden mayoritas adalah Kristen Protestan, yaitu sebanyak 21 responden (50%), Dalam penelitian ini agama islam yang menjadi perioritas masyarakat dalam memilih pengobatan tradisional pengobatan tradisional didukun patah Suliah kelurahan Titipapan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa agama apapun yang dianut masyarakat tidak mempengaruhi pasien dalam pemilihan pengobatan tradisional.

5.2.1.5 Pendidikan Terakhir

Gambaran umum pendidikan responden berdasarkan tingkat pendidikan formal adalah mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan tinggi yaitu perguruan tinggi sebanyak 6 responden (20,0%). SMA/SMK/MAN sebanyak 18 responden (60,0%). SMP/MTS sebanyak 1 responden (3,3%). SD/SR sebanyak 3

(20)

Herry A (1996) menyebutkan bahwa tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap atau memahami pengetahuan yang mereka peroleh. Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik pula pengetahuannya. Dan tingkat pendidikan yang berbeda mempunyai kecenderungan yang tidak sama dalam mengerti dan bereaksi terhadap kesehatan mereka, hal ini yang juga dapat mempengaruhi dalam hal pemilihan terhadap pengobatan (Notoatmodjo, 2003).Foster & Anderson (1986) menyatakan bahwa pemilihan pengobatan tradisional biasanya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah serta kurangnya informasi tentang kesehatan yang diterima. Menurut Bunner &Suddart (2002) menyatakan bahwa nilai-nilai tradisional saat ini tidak hanya melanda masyarakat pedesaan saja namun masyarakat perkotaan juga. Tidak hanya pada masyarakat pendidikan rendah saja tetapi masyarakat pendidikan atas bahkan sarjana yang memiliki tingkat rasional yang cukup tinggi mengambil jalan pintas ke arah pengobatan tradisional. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Ritonga (2012), Pakpahan (2011) dan Purba (2006) yaitu ternyata pendidikan masyarakat yang memilih pengobatan tradisional patah tulang mayoritas adalah SMA dan Perguruan tinggi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat yang memilih pengobatan tradisional adalah baik.

5.2.1.6 Pekerjaan

Pekerjaan responden mayotitas wiraswasta sebanyak 24 reponden (80,0%) dan mayoritas penghasilan keluarga perbulan < Rp2.528.815 sebanyak 24 responden (80,0%), > Rp2.528.815 sebanyak 6 responden (20,0%). Hal ini sesuai

(21)

dengan upah minimun provinsi (UMP) SUMUT tahun 2017 yaitu sebesar Rp < 2.528.815. Ini menunjukkan tingkat kesajahtraan responden masih belum baik. Menurut Pakpahan (2011), menyatakan bahwa pengobatan alternatif dipilih karena alasan murah. Mahalnya obat-obatan modern dan tingginya biaya fasilitas kedokteran canggih menjadi alasan masyarakat mencari jenis pengobatan alternatif, pengobatan modern mengisyaratkan adanya kemampuan ekonomi yang memadai. Namun dalam surat kabarAnalisa (2013) menyatakan bahwa maraknya masyarakat berobat ke pengobatan alternatif tidak selamanya karena biaya yang tinggi berobat ke dokter. Sekarang ini pemerintah telah memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat berupa, BPJS, jamkesmas, jamkesda dan lain sebagainya. Program kesehatan masyarakat yang diberikan pemerintah dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berobat ke rumah sakit. Jadi, tidak ada alasan lagi karena persoalan biaya.

5.2.1.7 Jenis Fraktur

Jenis Fraktur yang dialami responden Fraktur tertutup sebanyak 23 responden (76,7%). Fraktur terbuka 7 sebanyak responden (23,3%) Menurut direktorat polda sumut 2010 disebabkan oleh kecelakaan lalulintas setiap tahun meningkat, akibat bertambahnya jumlah kendaraan yang berada di jalan raya, kendaraan yang terlibat kecelakaan lalulintas pada rangking pertama adalah sepeda motor lalu yang kedua mobil penumpang, apabila terjadi kecelakaan lalulintas masyarakat langsung mencari pertolongan pertama ke pengobatan tradisional apabila korban mengalami fraktur tertutup namun ada juga masyarakat dengan fraktur terbuka

(22)

gawat darurat yang harus ditangani secepatnya di meja operasi karena adanya Resiko infeksi terjadi jika tidak ditangani secara benar oleh tim medis. Dan resiko infeksi ini terjadi lebih sering pada fraktur terbuka. Karena pada fraktur terbuka, akan terlihat luka terbuka dan tonjolan tulang keluar. Hal ini akan meningkatkan resiko infeksi jika tidak ditagani secara benar. Menurut penelitian Purba (2006) yang menyatakan bahwa fraktur dengan luka terbuka sebaiknya tidak dibawa ke praktek dukun patah melainkan harus ke pengobatan medis. Hal ini karena pasien fraktur terbuka harus segera diberi antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa sebaiknya fraktur tertutuplah yang boleh ditangani oleh pengobatan tradisional dan hal ini sudah sesuai dengan hasil penelitian bahwa mayoritas pasien pengobatan tradisional patah tulang didukun patah Suliah adalah fraktur tertutup.

5.2.1.7 Sumber Informasi

Hasil penelitian bahwa sumber informasi yang didapat responden berasal dari teman sebanyak 3 responden (10,0%), dan informasi dari tetangga sebanyak 6 responden (20,0%). keluarga (Family) sebanyak 21 responden (70,0%). Hal ini disebabkan karena adanya pengalaman dari keluarga tantang manfaat dan efektifitas terkait pengobatan tradisional. Pengambilan keputusan terletak pada perumusan berbagai alternatif yang tepat setelah suatu evaluasi (penilaian) mengenai efektifitasnya mencapai tujuan yang dikhendaki oleh pengambil keputusan (Sunarto, 2000). Dalam hal ini pasien yang berobat ke pengobatan tradisional yang berperan dalam memnetukan pemilihan pengobatan tradisional, salah satu komponen yang terpenting ialah kegiatan pengumpulan informasi.

(23)

Informasi tersebut dapat diperoleh dari keluarga, teman, tetangga, orang lain maupun dari media masa. Untuk itu, dari aktivitas tersebut akan memudahkan pasien mendapatkan informasi tentang pengobatan yang efektif, Oleh karena itu, dari hasil penelitian ini informasi dari sanak keluarga menjadi sumber informasi yang penting dalam pengambilan keputusan terhadap pemilihan pengobatan.

5.1.2.8 Lokasi Terjadinya fraktur

Lokasi fraktur yang terjadi pada bagian leher sebanyak 1 responden (3,3%). Pundak/bahu sebanyak 2 responden (6,7%). Punggung sebanyak 1 responden (3,3%). Pinggang sebanyak 1 responden (3,3%). Panggul sebanyak 3 responden (10,0%). Pergelangan tangan sebanyak 3 responden (10,0%). Paha sebanyak 7 responden (23,3%). Lutut sebanyak 1 responden (3,3%). Dan yang paling sering terjadi di bagian betis sebanyak 10 responden (33,3%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitan bahwa fraktur yang banyak dialami yaitu fraktur tertutup sebanyak 23 responden (76,7%). Adapun prinsip yang digunakan pada pengobatan tradisional patah tulang suliah 1). Prinsip penarikan pada bagian tulang seperti semula, 2). Permberian bidai sebegai fiksasi tulang yang patah setelah dikembalikan pada posisi semula, 3). Pemijatan/urut dengan menggunakan minyak yang bertujuan menghangatkan tubuh yang patah sehingga memperlancar aliran peredaran darah.

5.1.2.9 Alasan Memilih Pengobatan Tradisional

Berdasarkan uraian responden terhadap alasan memilih pengobatan tradisional didukun patah Suliah kelurahan titipapan didapatkan beberapa alasan

(24)

1. Pernah berobat kerumah sakit namun tidak kunjung sembuh

2. Adanya trauma dari pasien atau kerabat ketika berobat keumah sakit 3. Pasien mengalami kecemasan ketika di bawa kerumah sakit karena takut

terjadinya infeksi

4. Takut di operasi apabila dibawa kerumah sakit

5. Ada pihak lain yang menyarankan untuk berobat ke pengobatan tradisional 6. Ada nya pengalaman dari keluarga tentang manfaat pengobatan tradisional

Ogunlusi et al. (2008) dalam penelitiannya menemukan bahwa pasien fraktur yang berobat ke pengobatan tradisional di barat-daya negeria mengalami komplikasi dengan terjadinya gangrene yang dihasilkan dari pengobatan tradisional patah tulang dimana hal ini menjadi indikasi yang paling umum untuk amputasi di kalangan anak-anak. Omololu et al. (2008) juga menemukan hal yang sama dalam penelitiannya yaitu terjadinya gangrene sebagai satu dari banyak komplikasi pengobatan tradisional lainnya. Dalam penelitiannya juga dikatakan bahwa 85% pasien fraktur femur memilih untuk pertama datang ke pengobatan tradisional. Alasan mereka lebih memilih untuk pertama sekali mendatangi pengobatan tradisional yaitu kebudayaan dan keyakinan, nasehat pihak ketiga (orang lain) serta penolakan akibat keyakinan bahwa berobat kerumah sakit akan membawa kepada kematian. Maka dari itu, masyarakat perlu diedukasi mengenai batasan-batasan dalam pemilihan pengobatan tradisional sehingga tidak terjadi komplikasi dari pengobatan tradisional.

(25)

Bab 6

Kesimpulan dan Saran

6.1. Kesimpulan

Penelitian dilakukan selama 1 bulan yaitu selama bulan mei 2017. Dari 30 responden didapatkan hasil yaitu kelompok umur 20-39 sebanyak (60,0%). pasien fraktur yang datang berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 24 responden (80,0%). sebagian besar suku yang datang berobat adalah suku Jawa yaitu sebanyak 20 responden (66,7%). Agama yang dianut responden mayoritas pasien yang berobat ke pengobatan tradisional Suliah adalah Islam yaitu sebanyak 23 responden (76,7%). Tingkat pendidikan SMA/SMK/MAN sebanyak 18 responden (60,0%). Pekerjaan responden mayoritas wiraswasta sebanyak 24 reponden (80,0%) dan mayoritas penghasilan keluarga perbulan < Rp 2.528.815 sebanyak 24 responden (80,0%). Jenis fraktur yang dialami responden fraktur tertutup sebanyak 23 responden (76,7%). bahwa sumber informasi yang didapat responden berasal dari keluarga (Family) sebanyak 21 responden (70,0%). Lokasi fraktur yang sering terjadi pada bagian betis sebanyak 10 responden (33,3%). dan kebanyakan pasien memilih pengobatan tradisional karena adanya pengalaman dari keluarga tentang manfaat pengobatan tradisional sebanyak 11 responden (36,7%).

(26)

6.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian maka penting diberikan rekomendasi kepada beberapa pihak yaitu:

6.2.1 Bagi Pengobatan Tradisional Dukun Patah Suliah

Adapun yang menjadi saran peneliti bagi pengobatan tradisional dukun patah Suliah agar pengobatan tradisional suliah dapat berkerja sama atau berkolaborasi dengan tim kesehatan yang berkopentensi dibidangnya mengenai masalah yang terkait dengan fraktur.

6.2.2 Bagi Pelayanan Keperawatan

Bagi tenaga kesehatan khususnya perawat komunitas agar bekerja sama denganDirektorat bina pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer pengembangan integrasi pelayanan kesehatan tradisional ke dalam fasilitas pelayanan kesehatan, melalui peningkatan kemampuan tenaga kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat melalui asuhan mandiri di bidang kesehatan tradisional. kesehatan komprehensif adalah pelayanan kesehatan tradisional agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan, aman dan bermanfaat. bahwa pelayanan kesehatan tradisional mempunyai potensi yang cukup besar dan perlu mendapat perhatian yang serius sebagai bagian dari pembangunan kesehatan nasional.

6.2.2 Bagi Penelti Selanjutnya

Peneliti menyarankan bagi penelitian selanjutnya agar meneliti tentang motivasi pasien memilih pengobatan tradisional dalam menentukan pilihan

(27)

pengobatan tradisional sebagai pilihan yang tepat bagi pasien dengan menggunakan metode penelitian deskriptive korelasi (hubungan).

Referensi

Dokumen terkait

Kebebasan berkontrak tidak lagi sesuai dijadikan doktrin landasan pembentukan undang-undang berkaitan jualan barang pengguna, sementara doktrin priviti kontrak pula telah

Oleh karena itu dapat disimpulkan analisis tiosianat contoh susu dapat dilakukan secara akurat pada tempat yang memerlukan transportasi 5 jam dan penambahan natrium benzoat

Perlu kami informasikan bahwa nama yang tercantum sudah ditentukan oleh BPSDMPK dan PMP Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan merupakan usulan dari Dinas Pendidikan

Beberapa waktu yang lalu kita semua di ITB dikejutkan dengan terulangnya kejadian yang memalukan kita semua yang terkait dengan masih rendahnya derajat kejujuran

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa, 1) Perilaku perempuan tani jika ditinjau dari pengetahuan, sikap dan keterampilan masih memiliki kategori yang rendah karena

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan, pemakaian material pasir tufa dan abu sekam kopi sebagai bahan substitusi pada pembuatan paving block, berpengaruh terhadap kuat

Menetapkan: UNDANG UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG.. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia

Jika pelanggan tidak puas dengan jasa yang dibeli di bawah ketentuan ini dan tidak setuju dengan resolusi yang diusulkan HP, para pihak setuju untuk segera