• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respons Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Tomat (Lycopersicum esculentum L.) Dataran Rendah Terhadap Pemberian Pupuk Organik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respons Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Tomat (Lycopersicum esculentum L.) Dataran Rendah Terhadap Pemberian Pupuk Organik"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

Menurut Wiryanta (2002) tanaman tomat dapat diklasifikasikan dalam

divisio Spermatophyta, subdivisio Angiospermae, kelas Dicotyledoneae, ordo

Solanales, genus Lycopersicum, spesies Lycopersicum esculentum Mill.

Tanaman tomat memiliki akar tunggang, akar cabang, serta akar serabut

yang berwarna keputih–putihan dan berbau khas. Perakaran tanaman tidak terlalu

dalam, menyebar ke semua arah hingga kedalaman rata-rata 30–40 cm, namun

dapat mencapai kedalaman 60–70 cm. Akar tanaman tomat berfungsi untuk

menopang berdirinya tanaman serta menyerap air dan unsur hara dari dalam

tanah. Oleh jarena itu tingkat kesuburan tanah dilapisan atas sangat berpengaruh

terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi buah (Pitojo, 2005).

Batang tomat walaupun tidak sekeras tanaman tahunan, tetapi cukup

kuat. Warna batang hijau dan berbentuk persegi sampai bulat. Pada permukaan

batangnya ditumbuhi banyak rambut halus terutama bagian yang berwarna hijau.

Di antara rambut-rambut tersebut biasanya terdapat rambut kelenjar. Pada bagian

buku-bukunya terjadi penebalan dan kadang-kadang pada buku bagian bawah

terdapat akar-akar pendek. Jika dibiarkan (tidak dipangkas), tanaman tomat akan

mempunyai banyak cabang yang menyebar merata (Yani dan Ade, 2004).

Daun tanaman tomat berbentuk lemas, bulat telur memanjang dan

meruncing, bergerigi sedang hingga menyirip kasar dan berbulu. Daunnya

majemuk ganjil dengan jumlah daun lima sampai tujuh. Ukuran daun 15 cm

sampai 30 cm x 10 cm sampai 25 cm. Diantara pasangan daun besar terdapat

1–2 daun kecil. Daun majemuk tersusun spiral mengelilingi batangnya.

(2)

yang terdiri atas dua baris bunga. Tiap – tiap jurai terdiri atas 5 hingga 12 bunga.

Mahkota bunganya berwarna kuning muda, bentuk bakal buahnya ada yang bulat

panjang, berbentuk bola atau jorong melintang (Rismunandar, 2001).

Buah tomat muda terasa getir dan berbau tidak enak karena mengandung

likopersikin. Senyawa ini berupa lendir yang dikeluarkan dari 2-9 kantong lendir.

Pada buah matang likopersikin lambat lambat laun hilang sehingga baunya dan

rasanya enak, asam–asam manis. Proses pematangan, buah dari hijau menjadi

kuning. Ketika buahnya matang, warnanya merah. Ukuran buahnya bervariasi,

berdiameter 2cm–15cm tergantung varietas (Gould, 1983).

Biji tomat pipih, berbulu, ringan dan diselimti daging buah, warna bijinya

putih kekuningan dan kecoklatan. Biji tomat umumnya digunakan untuk

perbanyakan tanaman. Setiap gram berisi antara 200–500 biji, tergantung

varietasnya. Biji berkecambah setelah ditanam 5–10 hari, keping terangkat ke atas

(tipe epigeal) langsung memanjang dan berwarna hijau (Gould, 1983).

Syarat Tumbuh Iklim

Tanaman tomat merupakan tanaman yang dapat tumbuh di semua

tempat, dari dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan). Hanya di daerah

yang bertanah basah dan banyak curah hujan pertumbuhannya agak kurang baik.

Di samping buahnya sering rusak atau pecah–pecah, tanaman tomat di musim

penghujan sering diserang penyakit, seperti penyakit cendawan Phytophthora

infestans dan sebangsanya. Sehingga untuk daerah yang bertanah basah dan

berudara lembab dianjurkan menanam tomat pada musim kemarau

(3)

Intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan tanaman tomat sekurang–

kurangnya 10–12 jam setiap hari. Cahaya matahari tersebut digunakan untuk

proses fotosintesis, pembentukan bunga, pembentukkan buah, dan pemasakan

buah. Jika tanaman ternaungi alias kekurangan cahaya matahari akan berdampak

negatif, misalnya umur panen menjadi lemas, tanaman tumbuh meninggi, dan

tanaman lebih gampang terkena cendawan (Wiryanta, 2002).

Tanaman tomat pada fase vegetatif memerlukan curah hujan yang cukup.

Sebaliknya pada fase generatif memerlukan curah hujan yang sedikit. Curah hujan

yang tinggi pada fase pemasakan buah dapat menyebabkan daya tumbuh yang

lebih rendah.curah hujan yang ideal selama pertumbuhan tanaman tomat berkisar

antara 750 – 1250 mm/tahun. Curah hujan tidak menjadi factor penghambat dalam

penangkaran benih tomat, dimusim kemarau jika kebutuhan air dapat dicukupi

dari air irigasi (Pitojo, 2005).

Tanah

Tanaman tomat tidak memilih–milih jenis tanah. Di tanah yang ringan

dan banyak mengandung pasir hingga tanah yang berat pun dapat tumbuh dan

menghasilkan, yang penting kesuburan tanahnya cukup mengandung zat hara

yang dibutuhkan (Rismunandar, 2001).

Derajat keasaman tanah dan pH tanah ideal untuk tanaman tomat berkisar

6–7. Pengapuran dilakukan jika pH terlalu asam (kurang dari 6). Karena tanah

yang terlalu asam akan menghambat penyerapan unsur hara oleh tanaman

(terutama unsur P, K, S, Mg, dan Mo yang diikat unsur Al, Mn, atau Fe) dan bisa

merangsang pertumbuhan cendawan Rhizoctonia sp. Sebaiknya digunakan kapur

dolomit (CaCO3MgCO3) untuk menetralkan pH tanah. Sebaliknya pH tanah

(4)

Untuk pertumbuhannya yang baik, tanaman tomat membutuhkan tanah

yang gembur, kadar keasaman (pH) antara 5-6, tanah sedikit mengandung pasir,

dan banyak mengandung humus, serta pengairan yang teratur dan cukup mulai

tanam sampai waktu tanaman mulai dapat di panen (Tugiyono, 2001).

Pupuk Kandang Ayam

Pupuk kandang mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan bagi

pertumbuhan tanaman karena mengandung unsur hara makro seperti nitrogen,

fosfor, serta kalium, dan unsur mikro seperti kalsium, magnesium, dan sulfur. juga

akan menyumbangkan unsur hara bagi tanaman serta meningkatkan serapan unsur

hara oleh tanaman. Disamping itu pemberian pupuk kandang juga dapat

memperbaiki sifat fisika tanah, yaitu kapasitas tanah menahan air, kerapatan

massa tanah, dan porositas total, memperbaiki stabilitas agregat tanah dan

meningkatkan kandungan humus tanah, serta meningkatkan kesuburan tanah

(Wigati et al., 2006).

Pupuk organik yang banyak digunakan adalah pupuk kandang ayam,

karena selain mudah didapat pupuk kandang ayam mengandung unsur hara N total

(%) 0,28, P total (% ) 1,06, K total (%) 2,26, C- total (%) 6,8, Kadar air (%) 52,57

dan unsur hara mikro seperti Cu dan Mn (Syarif, 1986).

Beberapa hasil penelitian aplikasi pukan ayam selalu memberikan respon

tanaman yang terbaik pada musim pertama. Hal ini terjadi karena pukan ayam

relatif lebih cepat terdekomposisi serta mempunyai kadar hara yang cukup pula

jika dibandingkan dengan jumlah unit yang sama dengan pukan lainnya

(Mulat, 2003).

Dalam penelitian Silalahi (1996) menjelaskan pupuk organik memberikan

(5)

meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk kandang ayam banyak mengandung asam

amino yang berasal dari makanannya sehingga mengalami pelapukan karena

keaktifan mikroorganisme pengurai menjadi meningkat, akibatnya ketersediaan

unsur hara meningkat (Yetti dan Elita, 2008)

Varietas

Penggunaan varietas yang dapat beradaptasi dan menghasilkan produksi

yang tinggi merupakan pilihan dalam pengembangan tanaman tomat, karena

tanaman tomat yang diusahakan masih didominasi varietas lokal. Di dataran

rendah pengembangan varietas berdaya hasil tinggi mengalami hambatan karena

tidak tahan terhadap temperatur tinggi dan adanya penyakit layu bakteri. Namun

pada saat ini sudah banyak dihasilkan varietas - varietas yang berdaya hasil tinggi

dan dapat beradaptasi di dataran rendah, baik varietas unggul maupun varietas

hibrida (Fauziati, dkk, 2004).

Peningkatan produksi tomat yang diupayakan petani dalam usaha taninya

adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Penggunaan varietas baru yang

unggul merupakan salah satu cara meningkatkan produktivitas, dimana hasil

varietas tersebut cukup tinggi, kualitas buah baik, tahan terhadap gangguan hama

dan penyakit penting serta mampu beradaptasi pada berbagai lingkungan tumbuh

(Sutapradja, 2007).

Varietas tomat yang ditanam di Indonesia merupakan varietas yang

menyerbuk alami (OP) dan varietas hibrida (F1). Penggunaan varietas hibrida

menunjukkan peningkatan dri tahun ke tahun bersamaan dengan perkembangan

industri perbenihan sayuran. Varietas menyerbuk alami berasal dari produksi

(6)

sampai setelah panen. Benih yang berasal dari tanaman yang menyerbuk alami

umumnya memiliki keragaman, antara lain penampilan morfologi tanaman, umur

panen, daya hasil, dan kualitas hasil, tetapi memiliki adaptasi spesifik lokasi,

sedangkan dalam era perdagangan bebas diperlukan benih tomat varietas unggul

yang memiliki daya hasil tinggi, kualitas buah baik dan seragam, serta tersedia

secara konyinu. Dalam hal ini varietas hibrida lebih dapat memenuhi permintaan

pasar (Purwati, 2009).

Heritabilitas

Variasi keseluruhan dalam suatu populasi merupakan hasil kombinasi

genotipe dan pengaruh lingkungan. Proporsi variasi merupakan sumber yang

penting dalam program pemuliaan karena dari jumlah variasi genetik ini

diharapkan terjadi kombinasi genetik yang baru. Proporsi dari seluruh variasi yang

disebabkan oleh perubahan genetik disebut heritabilitas. Heritabilitas dalam arti

yang luas adalah semua aksi gen termasuk sifat dominan, aditif, dan epistasis.

Nilai heritabilitas secara teoritis berkisar dari 0 sampai 1. Nilai 0 ialah bila seluruh

variasi yang terjadi disebabkan oleh faktor lingkungan, sedangkan nilai 1 bila

seluruh variasi disebabkan oleh faktor genetik. Dengan demikian nilai heritabilitas

akan terletak antara kedua nilai ekstrim tersebut (Welsh, 2005).

Variasi genetik akan membantu dalam mengefisienkan kegiatan seleksi.

Apabila variasi genetik dalam suatu populasi besar, ini menunjukkan individu

dalam populasi beragam sehingga peluang untuk memperoleh genotip yang

diharapkan akan besar (Bahar dan Zein, 1993). Sedangkan pendugaan nilai

heritabilitas tinggi menunjukkan bahwa faktor pengaruh genetik lebih besar

terhadap penampilan fenotip bila dibandingkan dengan lingkungan. Untuk itu

(7)

lingkungan, sehingga dapat diketahui sejauh mana sifat tersebut dapat diturunkan

pada generasi berikutnya.

Hanson (1963) menyatakan nilai heritabilitas dalam arti luas menunjukkan

genetik total dalam kaitannya keragaman genotip, sedangkan menurut

Poespodarsono (1988), bahwa makin tinggi nilai heritabilitas satu sifat makin

Referensi

Dokumen terkait

Termasuk dari penjelasan ringkas yang saya lakukan pada i’rab dan i’lal adalah mengacu pada ayat yang telah berlalu dalam surat yang lebih dahulu, terkadang

Adapun manfaat yang di dapatkan dari penelitian ini adalah dapat mengetahui informasi tentang respon pertumbuhan stek pucuk pelawan ( Tristaniopsis merguensis Griff.) pada

Transliterasi dengan metode direct yang mentransliterasi tiap karakter kedalam teks jawi mampu mengurangi homograf secara umum dan untuk menangani homograf yang memiliki vokal

Abu dasar batubara merupakan bahan buangan dari proses pembakaran batubara pada pembangkit tenaga yang mempunyai ukuran partikel lebih besar dan lebih berat

Pengamatan untuk ekstrak metanolik menghambat perkembangan embrio pada perlakuan setelah fertilisasi hanya memperlambat perkembangan embrio bulu babi sedangkan untuk

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, digunakan pendapat Suwito (dalam Rokhman, 2013:38) bahwa terdapat dua penyebab terjadinya campur kode yaitu bersifat keluar

Prinsip ini dibedakan pada jenis dan tingkatan berdasarkan pembagian golongan masyarakat kolonial yaitu, golongan Eropa, golongan Timur Asing (Cina dan Arab),

Ukuran capaian Indikator Kinerja Persentase berkas perkara yang dimohonkan banding,kasasi dan PK yang diajukan secara lengkap dan tepat waktu adalah perbandingan antara