• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembatalan Akta Wasiat Sebagai Akibat Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Notaris (Studi Putusan MA No 3124 K PDT 2013 Antara Penggugat DM VS Notaris LSN) Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pembatalan Akta Wasiat Sebagai Akibat Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Notaris (Studi Putusan MA No 3124 K PDT 2013 Antara Penggugat DM VS Notaris LSN) Chapter III V"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

TANGGUNG JAWAB NOTARIS SEBAGAI PEJABAT UMUM YANG MELAKUKAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM

DALAM PEMBUATAN AKTA

A. Tinjauan Tentang Notaris

1. Pengertian Notaris

Notaris berasal dari kata "nota literaria" yaitu tanda tulisan atau karakter yang dipergunakan untuk menuliskan atau menggambarkan ungkapan kalimat yang

disampaikan narasumber. Tanda atau karakter yang dimaksud merupakan tanda yang

dipakai dalam penulisan cepat (stenografie). Awalnya jabatan Notaris hakikatnya ialah sebagai pejabat umum (private notary) yang ditugaskan oleh kekuasaan umum untuk melayani kebutuhan masyarakat akan alat bukti otentik yang memberikan

kepastian hubungan Hukum Perdata, jadi sepanjang alat bukti otentik tetap diperlukan

oleh sistem hukum negara maka jabatan Notaris akan tetap diperlukan eksistensinya

di tengah masyarakat.128 Notaris seperti yang dikenal di zaman Belanda sebagai

Republik der Verenigde Nederlandenmulai masuk di Indonesia pada permulaan abad ke-17 dengan beradanyaOost Ind. Compagniedi Indonesia.129

Pengertian Notaris dalam Pasal 1 Instructie voor De Notarissen in Indonesia, menyebutkan bahwa :

“Notaris adalah pejabat umum yang harus mengetahui seluruh perundang-undangan yang berlaku, yang dipanggil dan diangkat untuk membuat akta-akta dan kontrak-kontrak, dengan maksud untuk memberikan kepadanya kekuatan

(2)

dan pengesahan, menetapkan dan memastikan tanggalnya, menyimpan asli dan minutanya atau mengeluarkan grossenya, demikian juga salinannya yang sah dan benar”.130

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia131, “notaris mempunyai arti orang yang mendapat kuasa dari pemerintah berdasarkan penunjukan (dalam hal ini adalah

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia) untuk mengesahkan dan menyaksikan

berbagai surat perjanjian, surat wasiat, akta, dan sebagainya”.

Pengertian Notaris menurut Pasal 1 angka 1 Undang- Undang Nomor 2 Tahun

2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang

Jabatan Notaris menentukan “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk

membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam

undang-undang ini”. Sementara dalam penjelasan atas UUJN menyatakan bahwa :

“Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik sejauh

pembuatan akta otentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya”.

Pengertian yang diberikan oleh UUJN tersebut merujuk pada tugas dan

wewenang yang dijalankan Notaris. Artinya Notaris memiliki tugas sebagai pejabat

umum dan memiliki wewenang untuk membuat akta otentik serta kewenangan

lainnya yang diatur oleh Undang-Undang Jabatan Notaris.132

Dalam Peraturan Jabatan Notaris (PJN) 1860 ditegaskan bahwa pekerjaan

“Notaris adalah pekerjaan resmi(ambtelijke verrichtingen)dan satu-satunya pejabat

130Ibid., hal. 20.

131Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa

Indonesia, Cetakan ke-3, Jakarta: Balai Pustaka,1990), hal. 618.

(3)

umum yang berwenang membuat akta otentik, sepanjang tidak ada peraturan yang

memberi wewenang serupa kepada pejabat lain”.133 Menurut G.H.S Lumban Tobing:

“Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain”.134

Mendasarkan pada nilai moral dan nilai etika Notaris, maka pengembanan

jabatan Notaris adalah pelayanan kepada masyarakat (klien) secara mandiri dan tidak

memihak dalam bidang kenotariatan yang pengembanannya dihayati sebagai

panggilan hidup bersumber pada semangat pengabdian terhadap sesama manusia

demi kepentingan umum serta berakar dalam penghormatan terhadap martabat

manusia pada umumnya dan martabat Notaris pada khususnya.135 2. Notaris sebagai Pejabat Umum

Istilah Pejabat Umum, merupakan terjemahan dari istilah Openbare

Amtbtenaren yang terdapat dalam Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris dan Pasal 1868

KUHPerdata. Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris menyebutkan bahwa:

“Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang

133 C.S.T Kansil dan Christine S.T. Kansil, Pokok-Pokok Etika Profesi Hukum, (Jakarta:

Pradnya Paramita, 2003), hal. 87. 134

G. H. S Lumban Tobing,Op. Cit., hal. 31. 135

(4)

diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semua sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain”.

Pasal 1868 KUHPerdata menyebutkan:

“Suatu akta otentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan

undang-undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di

tempat akta itu dibuat”.

Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Jabatan Notaris menyebutkan:

“Notaris adalah Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan

kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini”.

Menurut kamus hukum, salah satu arti dari Ambtenaren adalah Pejabat. Demikian dengan Openbare Ambtenaren adalah “pejabat yang mempunyai tugas yang bertalian dengan kepentingan masyarakat, sehingga Openbare Ambtenaren

diartikan sebagai Pejabat yang diserahi tugas untuk membuat akta otentik yang

melayani kepentingan masyarakat, dan kualifikasi seperti itu diberikan kepada

Notaris”.136

Berdasarkan ketentuan di atas, Notaris dikualifikasikan sebagai Pejabat

umum, tapi kualifikasi Notaris sebagai Pejabat Umum, tidak hanya untuk Notaris

saja, karena sekarang ini seperti Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) juga diberi

kualifikasi sebagai Pejabat Umum dan Pejabat Lelang. Pemberian kualifikasi sebagai

Pejabat umum kepada pejabat lain selain kepada Notaris, bertolak belakang dengan

(5)

makna dari Pejabat Umum itu sendiri, karena seperti PPAT hanya membuat akta-akta

tertentu saja yang berkaitan dengan pertanahan dengan jenis akta yang sudah

ditentukan, dan Pejabat Lelang untuk lelang saja.

Dengan demikian Notaris berperan melaksanakan sebagian tugas negara

dalam bidang hukum keperdataan, dan kepada Notaris dikualifikasikan sebagai

Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta otentik, dan akta merupakan

formulasi keinginan atau kehendak (wilsvorming) para pihak yang dituangkan dalam akta Notaris yang dibuat di hadapan atau oleh Notaris, dan kewenangan lainnya

sebagaimana dimaksud dalam UUJN.137 3. Tugas/ Kewenangan Notaris

Kewenangan merupakan suatu tindakan hukum yang diatur dan diberikan

kepada suatu jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang

mengatur jabatan tersebut. Wewenang Notaris memiliki batasan sebagaimana diatur

dalam perundang-undangan yang mengatur jabatan pejabat yang bersangkutan.

Setiap perbuatan pemerintah disyaratkan harus bertumpu pada kewenangan

yang sah. Tanpa ada kewenangan yang sah seorang Pejabat ataupun Badan Tata

Usaha Negara tidak dapat melaksanakan suatu perbuatan pemerintahan. Oleh karena

itu kewenangan yang sah merupakan atribut bagi setiap Pejabat ataupun bagi setiap

Badan.138

137Pasal 1 angka 1 dan Pasal 15 ayat (1) UUJN.

138Lutfi Effendi,Pokok-Pokok Hukum Administrasi, (Malang: Bayumedia Publishing, 2004),

(6)

Jabatan memperoleh wewenang melalui tiga sumber yaitu atribusi, delegasi

dan mandat.139 Kewenangan yang diperoleh dengan cara atribusi, apabila terjadi pemberian wewenang pemerintahan yang baru oleh suatu ketentuan

perundang-undangan dan perundang-undanganlah yang menciptakan suatu wewenang

pemerintahan yang baru. Kewenangan secara delegasi merupakan pemindahan/

pengalihan wewenang yang ada berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan

atau aturan hukum. Kewenangan mandat sebenarnya bukan pengalihan atau

pemindahan wewenang tapi karena yang berkompeten berhalangan.

Berdasarkan UUJN tersebut ternyata Notaris sebagai Pejabat Umum

memperoleh kewenangan secara atribusi, karena wewenang tersebut diciptakan dan

diberikan oleh UUJN sendiri. Jadi, wewenang yang diperoleh Notaris bukan berasal

dari lembaga lain, misalnya dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.140Jadi Notaris memiliki legalitas untuk melakukan tindakan hukum dalam membuat akta

otentik.

Berkaitan dengan tugas seorang notaris dalam pembuatan akta, A.W. Voors

membagi pekerjaan notaris menjadi 2 (dua) macam, yaitu :

1. Pekerjaan yang diperintahkan oleh undang-undang yang juga disebut pekerjaan legal, maksudnya bahwa tugas notaris sebagai pejabat untuk melaksanakan sebagian kekuasaan pemerintah, antara lain memberi kepastian tanggal, membuat grosse yang mempunyai kekuatan eksekutorial, memberi suatu keterangan dalam suatu akta yang menggantikan tanda tangan, dan memberi kepastian mengenai tanda tangan seseorang.

139 Philipus M. Hadjon dkk,Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, (Yogyakarta: Gajah

Mada University Press, 2005), hal. 139-140.

(7)

2. Pekerjaan ekstralegal, yaitu pekerjaan yang dipercayakan padanya dalam jabatan itu yaitu menjamin dan menjaga perlindungan kepastian hukum bahwa setiap warga mempunyai hak dan kewajiban yang tidak diperbolehkan secara sembrono dikurangi atau disingkirkan begitu saja, baik karena yang berkepentingan masih di bawah umur ataupun mengidap penyakit ingatan.141

Sebagai pejabat umum, dalam menjalankan tugas yang menjadi

kewenangannya notaris tidak boleh memihak, dan tidak boleh atau bukan menjadi

salah satu pihak. Itulah alasan mengapa dalam menjalankan tugas dan jabatannya

sebagai pejabat umum dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, notaris

tidak diperbolehkan sebagai pihak yang berkepentingan pada akta yang dibuat oleh

atau dihadapannya.142

Seorang notaris tidak diperkenankan untuk menolak memberikan jasanya

kepada orang yang berkepentingan yang membutuhkan jasanya, namun apabila

notaris berpendapat bahwa terdapat alasan yang mendasar untuk menolaknya maka ia

wajib memberitahukan secara tertulis mengenai hal tersebut kepada pihak atau

pihak-pihak yang meminta jasanya atau penolakan tersebut harus merupakan penolakan

dalam arti hukum, artinya ada alasan atau argumentasi hukum yang jelas dan tegas

sehingga pihak yang bersangkutan dapat memahaminya.143

Kewenangan Notaris dalam pembuatan akta, tecantum dalam ketentuan Pasal

15 UUJN, dimana kewenangan Notaris dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:

1. Kewenangan Umum Notaris

141 Tan Thong Kie,Buku I Studi Notariat dan Serba Serbi Praktek Notaris, (Jakarta: Ichtiar

Baru Van Houve, 2000), hal. 452.

142

Habib Adjie,Hukum Notaris Indonesia, Tafsir Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Cetakan Pertama, (Bandung : PT Refika Aditama, 2008), hal. 87.

143

(8)

Kewenangan umum Notaris tercantum dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN yang

menegaskan bahwa salah satu kewenangan Notaris adalah membuat akta secara

umum, namun dengan batasan sepanjang tidak dikecualikan kepada Pejabat lain yang

ditetapkan oleh undang-undang, menyangkut akta yang harus dibuat atau berwenang

membuat akta otentikmengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang

diharuskan oleh aturan hukum atau dikehendaki oleh yang bersangkutan, mengenai

subjek hukum (orang atau badan hukum) untuk kepentingan siapa akta dibuat atau

dikehendaki oleh yang berkepentingan.

2. Kewenangan Khusus Notaris

Kewenangan khusus Notaris untuk melakukan tindakan hukum tertentu

tercantum dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN, seperti :

1. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftarkan ke dalam buku khusus;

2. Membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftarkan ke dalam buku khusus;

3. Membuat copy dan asli surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan ke dalam surat yang bersangkutan;

4. Melakukan pengesahan kecocokan fotocopy dengan surat aslinya; 5. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta

6. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan, atau membuat akta risalah lelang.

Adapun kewenangan khusus Notaris lainnya, yang membuat akta dalam

bentuk In Original, yaitu:

1. Pembayaran uang sewa, bunga, dan pesniun;

2. Penawaran pembayaran tunai

(9)

4. Akta kuasa;

5. Keterangan kepemilikan;

6. Akta lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Notaris juga mempunyai kewenangan khusus lainnya seperti yang tersebut

dalam Pasal 51 UUJN, yaitu berwenang untuk membetulkan kesalahan tulisan atau

kesalahan ketik yang terdapat dalam minuta akta yang telah ditandatangani, dengan

cara membuat Berita Acara Pembetulan dan Salinan atas Berita Acara Pembetulan

tersebut Notaris wajib menyampaikannya kepada para pihak.

3. Kewenangan Notaris yang akan ditentukan kemudian

Kewenangan Notaris yang akan ditentukan kemudian tercantum dalam Pasal

15 ayat (3) UUJN. Dimana kewenangan Notaris yang akan ditentukan kemudian

merupakan kewenangan yang akan muncul dan akan ditentukan berdasarkan

peraturan perundang-undangan. Dalam arti bahwa, jika Notaris melakukan tindakan

di luar wewenang yang telah ditentukan, maka Notaris telah melakukan tindakan di

luar wewenang, maka produk atau akta Notaris tersebut tidak mengikat secara hukum

atau tidak dapat dilaksanakan (nonexecutable), dan pihak atau mereka yang merasa dirugikan oleh tindakan Notaris diluar wewenang tersebut, maka Notaris dapat

digugat secara Perdata ke Pengadilan Negeri.144

144

(10)

4. Kewajiban dan Larangan Notaris

Seorang Notaris dalam menjalankan profesinya memiliki

kewajiban-kewajiban sebagaimana diatur dalam Bab III bagian kedua UU Perubahan atas

UUJN. Seorang Notaris wajib bertindak jujur, seksama, dan tidak memihak. Notaris

perlu memperhatikan apa yang disebut perilaku profesi yang memiliki unsur-unsur

yaitu perilaku Notaris harus memiliki integritas moral yang mantap, harus jujur

bersikap terhadap klien maupun diri sendiri, sadar akan batas-batas kewenangannya

dan tidak bertindak semata-mata berdasarkan pertimbangan uang.145

Jabatan yang dipangku Notaris adalah jabatan kepercayaan dan justru oleh

karena itu seseorang bersedia mempercayakan sesuatu kepadanya. Sebagai seorang

kepercayaan Notaris berkewajiban untuk merahasiakan semua apa yang

diberitahukan kepadanya selaku Notaris.146

Notaris dalam menjalankan kewajibannya menganut beberapa asas yang dapat

dijadikan pedoman dalam menjalankan tugas jabatan Notaris. Asas atau prinsip

merupakan sesuatu yang dapat dijadikan alas, dasar, tumpuan, tempat untuk

menyadarkan sesuatu, mengembalikan sesuatu hal yang hendak dijelaskan.147

Asas-asas dalam pelaksaan tugas Jabatan Notaris yang baik adalah sebagai

berikut:148

dapat dibuat sendori oleh yang bersangkutan saja, bukan dibuat oleh Notaris. (Habib Adjie, 2014,Op. Cit, hal. 82.)

145

Liliana Tedjosaputro, Etika Profesi dan Profesi Hukum, (Semarang: Aneka Ilmu, 2003), hal. 93.

146G.H.S Lumban Tobing,Op.Cit., hal. 117.

(11)

a. Asas persamaan

Sesuai dengan perkembangan zaman, institusi Notaris telah menjadi bagian

dari masyarakat Indonesia dan dengan lahirnya UUJN semakin meneguhkan

Institusi Notaris. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, Notaris

tidak boleh membeda-bedakan satu dengan lainnya berdasarkan keadaan

sosial ekonomi atau alasan lainnya. Hanya alasan hukum yang dapat dijadikan

dasar bahwa Notaris tidak dapat memberikan jasa kepada pihak yang

menghadap.

b. Asas kepercayaan

Salah satu bentuk dari Notaris sebagai jabatan kepercayaan, yaitu Notaris

mempunyai kewajiban untuk merahasiakan segala sesuatu mengenai akta

yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta

sesuai dengan sumpah/ janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain

(Pasal 16 ayat (1) huruf f UUJN) (Pasal 4 ayat (2) UUJN).

c. Asas kepastian hukum

Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya wajib berpedoman secara

normatif kepada aturan hukum yang berkaitan dengan segala tindakan yang

akan diambil untuk kemudian dituangkan dalam akta. Akta yang dibuat oleh

Notaris harus sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, yang apabila terjadi

permasalahan, akta Notaris dapat dijadikan pedoman bagi para pihak.

148Habib Adjie,Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik,

(12)

d. Asas kecermatan

Meneliti semua bukti yang diperlihatkan kepada Notaris dan mendengarkan

keterangan atau pernyataan para pihak wajib dilakukan sebagai bahan dasar

untuk dituangkan dalam akta. Asas kecermatan ini merupakan penerapan dari

Pasal 16 ayat (1) huruf a antara lain:

1. Melakukan pengenalan terhadap penghadap, berdasarkan identitasnya yang diperlihatkan kepada Notaris.

2. Menanyakan, kemudian mendengarkan dan mencermati keinginan atau kehendak para pihak tersebut (tanya-jawab).

3. Memeriksa bukti surat yang berkaitan dengan keinginan atau kehendak para pihak tersebut.

4. Memberikan saran dan membuat kerangka akta untuk memenuhi keinginan atau kehendak para pihak tersebut.

5. Memenuhi segala teknik administratif pembuatan akta Notaris, seperti pembacaan, penandatanganan, memberikan salinan, dan pemberkasan untuk minuta.

6. Melakukan kewajiban lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas jabatan Notaris.

e. Asas pemberian alasan

Setiap akta yang dibuat dihadapan atau oleh Notaris harus sesuai dengan

alasan serta fakta yang mendukung untuk akta yang bersangkutan atau ada

pertimbangan hukum yang harus dijelaskan kepada para pihak/ penghadap..

f. Asas Larangan penyalahgunaan wewenang

Batas kewenangan Notaris dituangkan dalam Pasal 15 UUJN, apabila Notaris

melakukan tindakan di luar kewenangannya maka tindakan tersebut dapat

disebut sebagai tindakan penyalahgunaan wewenang. Jika tindakan seperti itu

merugikan para pihak, maka para pihak yang merasa dirugikan dapat

(13)

tindakan hukum yang merugikan para pihak. Para pihak yang menderita

kerugian dapat menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada

Notaris.

g. Asas Larangan bertindak sewenang-wenang

Notaris harus mempertimbangkan dan melihat semua dokumen yang

diperlihatkan kepadanya, dalam hal ini Notaris mempunyai peran untuk

menentukan suatu tindakan apakah dapat dituangkan dalam bentuk akta atau

tidak, dan keputusan yang diambil harus didasarkan pada alasan hukum yang

harus dijelaskan kepada para penghadap.

h. Asas Proposionalitas

Berdasarkan Pasal 16 angka (1) huruf a UUJN, Notaris wajib menjaga

kepentingan para pihak yang terkait dalam perbuatan hukum atau dalam

menjalankan tugas jabatannya, wajib mengutamakan adanya keseimbangan

antara hak dan kewajiban para penghadap.

i. Asas Profesionalitas

Dalam menjalankan tugas jabatannya mengutamakan keahlian (keilmuan)

berdasarkan UUJN dan Kode Etik Notaris. Hal tersebut diwujudkan dalam

melayani masyarakat dan akta yang dibuat dihadapan atau oleh Notaris.

Asas-asas tersebut sangat penting bagi seorang Notaris agar Notaris dapat

menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak bertentangan dengan aturan hukum

(14)

Notaris merupakan salah satu bagian dari masyarakat Indonesia, sehingga

sesuai dengan asas persamaan maka Notaris tidak boleh membeda-bedakan

masyarakat satu dengan yang lain dalam memberikan pelayanan baik dilihat dari

sosial ekonomi maupun alasan lainnya. Selain itu, berdasarkan asas kepercayaan

maka seorang Notaris merupakan pihak yang sangat dipercaya oleh masyarakat yang

dalam hal ini adalah para pihak yang menghadap Notaris.

Salah satu bentuk jabatan kepercayaan yaitu dengan melihat Notaris yang

mempunyai kewajiban untuk merahasiakan segala sesuatu tentang akta yang

dibuatnya sesuai dengan sumpah atau janji yang telah diucapkan sebelum diangkat

sebagai Notaris kecuali undang-undang menentukan lain. Dengan demikian,

batasannya hanya undang-undang saja yang dapat memerintahkan Notaris untuk

membuka rahasia isi akta dan keterangan ataupun pernyataan yang diketahui Notaris

yang berkaitan dengan pembuatan akta yang dimaksud. Hal ini sesuai dengan isi

Pasal 16 ayat (1) huruf f UUJN yaitu: “merahasiakan segala sesuatu mengenai Akta

yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan Akta sesuai

dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain”.

Notaris sebagai pejabat umum yang mempunyai kewenangan dalam membuat

akta otentik tentunya memiliki kewajiban yang harus dijalankan dan tidak boleh

bertentangan dengan perundangundangan yang berlaku di Indonesia. Kewajiban

seorang Notaris diatur dalam Pasal 16 ayat (1) UUJN yaitu sebagai berikut:

(15)

b. Membuat Akta dalam bentuk Minuta Akta dan menyimpannya sebagai bagian dari Protokol Notaris;

c. Melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari penghadap pada Minuta Akta; d. Mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta atau Kutipan Akta berdasarkan

Minuta Akta;

e. Memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini, kecuali ada alasan untuk menolaknya;

f. Merahasiakan segala sesuatu mengenai Akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang;

g. Menjilid Akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) Akta, dan jika jumlah Akta tidak dapat dimuat dalam satu buku, Akta tersebut dapat dijilid menjadi lebih dari satu buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta, bulan, dan tahun pembuatannya pada sampul setiap buku;

h. Membuat daftar dari Akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak diterimanya surat berharga;

i. Membuat daftar Akta yang berkenaan dengan wasiat menurut urutan waktu pembuatan Akta setiap bulan;

j. Mengirimkan daftar Akta sebagaimana dimaksud dalam huruf i atau daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke pusat daftar wasiat pada kementrian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang hukum dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya;

k. Mencatat dalam repertorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap akhir bulan;

l. Mempunyai cap atau stempel yang memuat lambang Negara Republik Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan, dan tempat kedudukan yang bersangkutan;

m. Membacakan Akta dihadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi, atau 4 (empat) orang saksi khusus untuk pembuatan Akta wasiat dibawah tangan, dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris;

n. Menerima magang calon Notaris.

Dalam Pasal 4 ayat (2) UUJN, “Notaris bersumpah atau berjanji untuk

merahasiakan isi akta dan keterangan yang ia peroleh dalam pelaksanaan jabatan

Notaris”. Secara umum Notaris memiliki kewajiban untuk merahasiakan segala

keterangan sehubungan dengan akta yang dibuat dihadapannya, dengan batasan

(16)

membuka rahasia tersebut. Hal ini dinamakan sebagai kewajiban ingkar

(verschoningsplicht). Kewajiban ingkar untuk Notaris melekat pada tugas jabatan Notaris. Notaris mempunyai kewajiban ingkar bukan untuk kepentingan diri Notaris

itu sendiri melainkan kepentingan para pihak yang menghadap. Hal ini disebabkan

para pihak telah mempercayakan sepenuhnya kepada Notaris tersebut.

Adapun kewajiban-kewajiban Notaris yang harus dirahasiakan berdasarkan

ketentuan Pasal 4 ayat (2) UUJN dan Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN meliputi:

keseluruhan isi akta yang terdiri dari awal akta, badan akta dan akhir akta, akta-akta

yang dibuat Notaris sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 54 UUJN, serta

keterangan-keterangan dan serangkaian fakta yang diberitahukan oleh klien kepada Notaris baik

yang tercantum dalam akta maupun yang tidak tercantum di dalam akta dalam proses

pembuatan akta.149

Selain kewajiban yang harus dikerjakan oleh seorang Notaris, terdapat pula

larangan bagi seorang Notaris. Larangan bagi seorang Notaris diatur dalam Pasal 17

ayat (1) UUJN yaitu sebagai berikut:

a. Menjalankan jabatan diluar wilayah jabatannya;

b. Meninggalkan wilayah jabatannya lebih dari 7 (tujuh) hari kerja berturutturut tanpa alasan yang sah;

c. Merangkap sebagai pegawai negeri;

d. Merangkap jabatan sebagai pejabat negara; e. Merangkap jabatan sebagai advokat;

f. Merangkap jabatan sebagai pemimpin atau pegawai badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah atau badan usaha swasta;

(17)

g. Merangkap jabatan sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah dan/atau Pejabat Lelang Kelas II diluar tempat kedudukan Notaris;

h. Menjadi Notaris Pengganti; atau

i. Melakukan pekerjaan lain yang bertentangan dengan norma agama, kesusilaan, atau kepatutan yang dapat mempengaruhi kehormatan dan martabat jabatan Notaris.

Apabila seorang Notaris melanggar larangan yang tersebut dalam Pasal 17 ayat (1)

UUJN tersebut diatas maka Notaris tersebut dapat dikenakan sanksi sebagai berikut:

a. Peringatan tertulis;

b. Pemberhentian sementara;

c. Pemberhentian dengan hormat, atau

d. Pemberhentian dengan tidak hormat.

Berdasarkan Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang

Jabatan Notaris, “Notaris dilarang untuk membuat akta dalam suatu keadaan tertentu

seperti membuat akta untuk diri sendiri maupun keluarga sendiri”. Apabila seorang

Notaris melanggar Pasal 52 ayat (1) tersebut diatas berdasarkan Pasal 52 ayat (3)

maka Notaris tersebut dikenakan sanksi perdata yaitu dengan “membayar biaya, ganti

rugi dan bunga kepada para penghadap dan konsekuensinya adalah akta yang dibuat

hanya memiliki kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan”.

Notaris dalam keadaan tertentu tidak berwenang dalam membuat akta karena

alasan-alasan yang berkaitan dengan tugas jabatan Notaris, seperti150: 1. Sebelum Notaris mengangkat sumpah (Pasal 4 UUJN).

2. Selama Notaris diberhentikan sementara dari jabatannya (Pasal 9 UUJN).

150

(18)

3. Diluar wilayah jabatannya (Pasal 17 huruf a dan Pasal 18 ayat (2) UUJN.

4. Selama Notaris cuti (Pasal 25 UUJN).

B. Perbuatan Melawan Hukum Oleh Notaris Dalam Pembuatan Akta

1. Pengertian Perbuatan Melawan Hukum

Istilah “perbuatan melawan hukum” ini, dalam bahasa Belanda disebut

dengan istilah “onrechtmatige daad” atau dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah “tort”. Katatortitu sebenarnya hanya berarti “salah” (wrong). Akan tetapi khususnya dalam bidang hukum, kata tort itu berkembang sedemikian rupa sehingga berarti kesalahan perdata yang bukan berasal dari wanprestasi kontrak.151Jadi serupa dengan pengertian perbuatan melawan hukum (onrechtmatge daad) dalam sistem hukum Belanda atau di negara-negara Eropa Kontinental lainnya. Kata “tort” berasal dari kata latin “torquere” atau “tortus” dalam bahasa Perancis, seperti kata “wrong” berasal dari kata “wrung” yang berarti kesalahan atau kerugian (injury).

Sehingga pada prinsipnya, tujuan dari dibentuknya suatu sistem hukum yang

kemudian dikenal dengan perbuatan melawan hukum tersebut adalah untuk dapat

tercapai seperti apa yang disebut oleh peribahasa latin, yaitu: Juris praecepta sunt haec; honeste vivere, alterum non laedere, suum cuique tribuere(Semboyan hukum adalah hidup secara jujur, tidak merugikan orang lain dan memberikan orang lain

haknya).152

151

Munir Fuady,Perbuatan Melawan Hukum, Cetakan Kesatu, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002), hal. 2.

(19)

Menurut pasal 1365 KUH Perdata, maka yang disebut dengan perbuatan

melawan hukum adalah :

“Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang

lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,

mengganti kerugian tersebut.”

Rumusan perbuatan melawan hukum menurut Wiryono Prodjodikoro adalah:

“Perbuatan yang mengakibatkan keguncangan dalam kehidupan bermasyarakat dan keguncangan ini tidak hanya terdapat dalam kehidupan bermasyarakat apabila peraturan-peraturan hukum dalam suatu masyarakat dilanggar (langsung). Oleh karena itu, tergantung dari nilai hebatnya keguncangan itu. Meskipun secara langsung hanya mengenai peraturan kesusilaan, keagamaan atau sopan santun, tetapi harus dicegah keras, seperti mencegah suatu perbuatan yang langsung melawan hukum”.153

Menurut Ter Haar, Pengertian Perbuatan Melawan Hukum adalah: “tiap-tiap

gangguan dari keseimbangan, tiap-tiap gangguan pada barang-barang kelahiran dan

kerohaniaan dari milik hidup seseorang atau gerombolan orang-orang”.154

Secara klasik, yang dimaksud dengan “perbuatan” dalam istilah perbuatan

melawan hukum adalah155:

a. Nonfeasance, yakni merupakan tidak berbuat sesuatu yang diwajibkan oleh hukum.

b. Misfeasance, yakni merupakan perbuatan yang dilakukan secara salah, perbuatan mana merupakan kewajibannya atau merupakan perbuatan yang dia

mempunyai hak untuk melakukannya.

153

http://www.pengertianpakar.com/2015/01/pengertian-perbuatan-melawan-hukum-menurut-pakar-hukum.html, diakses pada tanggal 1 Juli 2016.

154Ibid.,

(20)

c. Malfeasance, yakni merupakan perbuatan yang dilakukan dimana pelakunya tidak berhak untuk melakukannya.

Beberapa definisi lain terhadap perbuatan melawan hukum adalah sebagai

berikut156:

a. Tidak memenuhi sesuatu yang menjadi kewajibannya selain dari kewajiban kontraktual atau kewajiban quasi kontraktual yang menerbitkan hak untuk meminta ganti rugi.

b. Suatu perbuatan atau tidak berbuat sesuatu yang mengakibatkan timbulnya kerugian bagi orang lain tanpa sebelumnya ada suatu hubungan hukum, dimana perbuatan atau tidak berbuat sesuatu baik merupakan suatu perbuatan biasa maupun bisa juga merupakan suatu keelakaan.

c. Tidak memenuhi suatu kewajiban yang dibebankan oleh hukum, kewajiban mana ditujukan terhadap setiap orang pada umumnya, dan dengan tidak memenuhi kewajibannya tersebut dapat dimintakan suatu ganti rugi.

d. Suatu kesalahan perdata (civil wrong) terhadap mana suatu ganti rugi kerugian dapat dituntut yang bukan merupakan wanprestasi terhadap kontrak, atau wanprestasi terhadap kewajiban trust, ataupun wanprestasi terhadapkewajiban lainnya.

e. Suatu kerugian yang tidak disebabkan oleh wanprestasi terhadap kontrak, atau lebih tepatnya merupakan suatu perbuatan yang merugikan hak-hak orang lain yang diciptakan oleh hukum yang tidak terbit dari hubungan kontraktual.

f. Sesuatu perbuatan atau tidak berbuat sesuatu yang secara bertentangan dengan hukum melanggar hak orang lain yang diciptakan oleh hukum, dan karenanya suatu ganti rugi dapat dituntut oleh pihak yang dirugikan.

2. Unsur- Unsur Perbuatan Melawan Hukum

Apabila mengacu pada Pasal 1365 KUHPerdata, maka suatu perbuatan melawan

hukum haruslah mengandung unsur-unsur sebagai berikut157:

a. Adanya suatu perbuatan

Suatu perbuatan melawan hukum diawali oleh suatu perbuatan dari si

pelakunya. Perbuatan tersebut dapat berarti berbuat sesuatu (aktif) maupun

tidak berbuat sesuatu (pasif).

(21)

b. Perbuatan tersebut melawan hukum

Perbuatan yang dilakukan tersebut haruslah melawan hukum, unsur melawan

hukum ini diartikan dalam arti yang seluas-luasnya, yakni dalam hal:

perbuatan yang melanggar undang-undang yang berlaku, melanggar hak orang

lain yang dijamin oleh hukum, perbuatan yang bertentangan dengan

kewajiban hukum si pelaku, perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan,

perbuatan yang bertentangan dengan sikap yang baik dalam bermasyarakat

untuk memperhatikan kepentingan orang lain.

c. Adanya Kesalahan dari Pihak Pelaku

Pasal 1365 mensyaratkan adanya unsur “kesalahan” (schuld) dalam suatu perbuatan melawan hukum. Suatu tindakan diangap oleh hukum mengandung

unsur kesalahan sehinga dapat dimintakan tanggung jawabnya secara hukum

jika memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

1. Adanya unsur kesengajaan, atau

2. Ada unsur kelalaian (negligence, culpa), dan

3. Tidak ada alasan pembenar atau alasan pemaaf (rechtvaardigingsgrond), seperti keadaanovermacht, membela diri, tidak waras dan lain-lain. d. Perbuatan tersebut menimbulkan kerugian bagi korban

Adanya kerugian (schade) bagi korban juga merupakan syarat agar gugatan berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata dapat dikenakan. Berbeda dengan

kerugian karena wanprestasi yang hanya mengenal kerugian materiil, maka

(22)

yuriprudensi juga mengakui konsep immateril, yang juga akan dinilai dengan

uang.

e. Adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian

Kerugian yang dialami oleh si korban haruslah memiliki hubungan kausal

dengan perbuatan si pelaku. Seandainya tidak ada perbuatan melawan hukum

yang dilakukan oleh si pelaku maka tidak ada kerugian yang dialami si

korban.

3. Perbuatan Melawan Hukum Oleh Notaris Dalam Pembuatan Akta

Perbuatan melawan hukum merupakan perbuatan yang menimbulkan

kerugian, dan secara normatif perbuatan tersebut tunduk pada ketentuan Pasal 1365

KUHPerdata. Bentuk tanggung gugat yang dianut oleh Pasal 1365 KUHPerdata ini

adalah tanggung gugat berdasarkan kesalahan (liability based fault). Hal ini dilihat dalam ketentuan pasal tersebut yang mensyaratkan adanya kesalahan pada pelaku

untuk sampai kepada keputusan apakah perbuatan seseorang itu merupakan perbuatan

melawan hukum. Selain itu, unsur kesalahan harus dibuktikan oleh pihak yang

menderita kerugian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1865 KUHPerdata dan 163

HIR.158

Perbuatan melawan hukum, yang dimaksud dalam perbuatan melawan hukum

oleh Notaris, tidak hanya perbuatan yang langsung melawan hukum, melainkan juga

perbuatan yang secara langsung melanggar peraturan lain, dimana yang dimaksud

158

(23)

peraturan lain adalah peraturan yang berada dalam lapangan kesusilaan, keagamaan

dan sopan santun dalam masyarakat yang dilanggar.159

Notaris melakukan perbuatan melawan hukum juga dapat didasarkan pada

Pasal 1365 KUHPerdata yang menyatakan tiap perbuatan melanggar hukum yang

membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya

mengganti kerugian tersebut. Apabila Notaris melakukan suatu pembuatan akta atas

perintah dan permintaan dari para pihak dan syarat-syarat formil yang ditentukan oleh

undang-undang dalam pembuatan akta telah dipenuhi oleh Notaris, maka Notaris

tidak bertanggungjawab. Pertanggungjawaban atas perbuatan seseorang biasanya

praktis baru ada arti apabila melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan oleh

hukum. Sebagian besar di dalam KUHPerdata dinamakan perbuatan melawan hukum

(onrechmatige daad)160.

Perbuatan melawan hukum telah diartikan secara luas yakni mencakup salah

satu dari perbuatan-perbuatan salah satu dari berikut161:

1. Perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri. 2. Perbuatan yang bertentangan dengan hak subjektif orang lain. 3. Perbuatan yang bertentangan dengan kaidah kesusilaan.

4. Perbuatan yang bertentangan dengan asas kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian yang seharusnya dimiliki seseorang dalam pergaulan masyarakat.

Untuk adanya suatu perbuatan melawan hukum tidak disyaratkan adanya

keempat kriteria itu secara kumulatif, namun dipenuhinya salah satu kriteria secara

159 R. Wirjono Prodjodikoro, Perbuatan Melanggar Hukum Dipandang Dari Sudut Hukum Perdata,(Bandung: Mandar Maju, 2000), hal. 6-7.

160

R. Wirjono Prodjodikoro, Perbuatan Melanggar Hukum, (Bandung: Sumur Bandung, 1984), hal. 80.

161

(24)

alternatif, sudah cukup terpenuhi pula syarat untuk suatu perbuatan melawan hukum.

Selanjutnya mengenai penjelasan kriteria perbuatan melawan hukum tersebut sebagai

berikut:

1. Bertentangan dengan kewajiban hukum (rechtsplicht)

Kewajiban hukum bagi Notaris sebagaimana tercantum dalam Pasal 15 UUJN

adalah membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan

yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan /atau yang dikehendaki oleh

yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian

tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta. Atas dasar kewenangan yang diberikan oleh undang-undang tersebut, maka

terhadap akta otentik diberikan kekuatan pembuktian, sehingga mewujudkan suatu

akta otentik yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna.

Dalam pelaksanaan wewenang tersebut berkaitan dengan kewajiban bagi

Notaris untuk mewujudkan akta otentik yang berkekuatan pembuktian sempurna.

Oleh karena itu, seorang Notaris harus memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam

UUJN, ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Kode Etik Notaris Indonesia,

maupun ketentuan-ketentuan lainnya. Dengan dibuatnya akta yang cacat hukum, yang

kemudian dinyatakan tidak otentik karena syarat-syarat formal akta otentik tidak

terpenuhi, sehingga menjadi akta di bawah tangan atau bahkan dinyatakan batal, atau

menjadi batal demi hukum, maka terhadap kejadian tersebut menjadi bertentangan

dengan kewajiban hukum bagi notaris.162 2. Melanggar hak subjektif orang lain

162

(25)

Suatu perbuatan atau tidak berbuat merupakan perbuatan melanggar hukum

apabila terjadi pelanggaran terhadap hak subjektif seseorang. Yang dimaksud dengan

hak subjektif adalah suatu kewenangan khusus seseorang yang diakui oleh hukum,

kewenagan itu diberikan kepadanya untuk mempertahankan kepentingannya.

Hak-hak yang diakui sebagai hak subjektif, menurut yurisprudensi:

a. hak-hak kebendaan serta hak-hak absolut lainnya (eigendom, erfpacht, hak

oktrooi,dan lain-lain).

b. hak-hak pribadi (hak atas integritas pribadi dan integritas badaniah,

kehormatan, serta nama baik dan sebagainya).

c. hak-hak khusus, seperti hak penghunian yang dimiliki seorang

penyewa.163

Beberapa contoh dibawah ini dikatakan sebagai pelanggaran hak orang lain:

1. seseorang melakukan perbuatan yang semata-mata menjadi wewenang

orang lain (pelanggaran atas hak eksklusif suatu hak).

2. Seseorang melakukan perbuatan yang menghalangi, atau mempersulit

orang lain yang berhak untuk melaksanakan hak-haknya.

Bentuk kesalahan yang kedua inilah yang paling tepat untuk diterapkan

terhadap kasus pembuatan akta notaris, sebab perbuatan Notaris yang bersangkutan

telah menghalangi atau mempersulit klien atau orang yang berhak atas akta untuk

melaksanakan haknya. Hak klien yang dijamin undang-undang selaku yang berhak

163Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata,(Bandung: Alumni, 2008),

(26)

atas akta adalah hak untuk mempergunakan akta tersebut sebagai alat bukti haknya

yang sah, sehingga dengan alat bukti tersebut dapat meneguhkan atau mendalilkan

haknya, bahkan membantah hak orang lain. Kemudian, ternyata akta tersebut

dibatalkan dengan putusan pengadilan, sehingga klien Notaris tersebut tidak

mendapatkan hak atas akta otentik, atau tidak dapat mempergunakan akta tersebut

sebagaimana layaknya peran dan fungsi sebuah akta otentik, sehingga klien yang

seharusnya sebagai pemegang hak menjadi tidak dapat melaksanakan haknya.

3. Melanggar kaidah tata susila

Pelanggaran terhadap kaidah tata susila merupakan kriteria ketiga perbuatan

melawan hukum. Hal ini mencerminkan kesadaran setidak-tidaknya dalam hukum

perdata, bahwa pengertian hukum dan undang-undang tidak identik, dan untuk

menghindari tanggung gugat keperdataan tidak cukup dengan mematuhi

aturan-aturan tingkah laku dalam undang-undang saja, melainkan harus pula dipatuhi

norma-norma sopan santun yang tidak tertulis.

Pasal 1335 KUHPerdata dan 1337 KUHPerdata menentukan bahwa:

“perjanjian yang bertentangan dengan kaidah tata susila tidak diperkenankan dan

tidak memiliki kekuatan hukum, demikian pula ajaran tentang perbuatan melawan

hukum menentukan bahwa suatu perbuatan ataupun tidak berbuat yang bertentangan

dengan kesusilaan adalah suatu perbuatan melawan hukum”. Kaidah tata susila

sebagai suatu pengertian hukum dimaksudkan kaidah-kaidah moral, sejauh ini

(27)

hakim perdata untuk menilai apakah suatu perbuatan bersifat melawan hukum, jarang

yang mendasarkan pertimbangannya pada pelanggaran terhadap kaidah tata susila.164 4. Bertentangan dengan asas kepatutan, ketelitian dan sikap hati-hati

Kriteria keempat perbuatan melawan hukum ini berbunyi sebagai berikut:

bertentangan dengan asas kepatutan, ketelitian serta sikap hati-hati yang seharusnya

dimiliki seseorang dalam pergaulannya dengan sesama warga masyarakat atau

terhadap barang milik orang lain, kriteria ini bersumber pada hukum tidak tertulis.

Kepatutan, ketelitian dan sikap hati-hati mewajibkan setiap orang dalam

memenuhi kepentingannya memperhatikan kepentingan orang lain. Pemenuhan

kepentingan seseorang haruslah dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga tidak

berbahaya bagi kepentingan warga masyarakat yang lain. Dalam melaksanakan

kepentingan tersebut seseorang haruslah memperhatikan norma-norma kepatutan,

ketelitian, serta sikap hati-hati, sehingga tindakannya tidak boleh membahayakan atau

merugikan orang lain. Dalam hal ia bertindak tanpa memperhatikan norma-norma

tersebut dan tindakannya itu menimbulkan kerugian bagi orang lain, maka dapat

dikatakan bahwa orang itu melakukan perbuatan melawan hukum. Kepatutan,

ketelitian, serta sikap hati-hati yang dimaksud disini bertujuan agar sedapat mungkin

Notaris memberikan pemecahan atas permasalahan yang dihadapi kliennya melalui

nasihat dan penyuluhan hukumnya. Disamping menghasilkan suatu akta otentik yang

sah menurut hukum, sehingga dapat dipergunakan di kemudian hari oleh kliennya

sebagai bukti atas haknya.165

(28)

Sikap kepatutan, ketelitian, serta sikap hati-hati ini dapat diwujudkan dalam

bentuk memberikan bantuan atau nasihat hukumnya. Notaris diwajibkan untuk

memberikan penjelasan-penjelasan dari sisi yuridis mengenai permasalahan yang

dihadapi oleh klien, tidak terkecuali konsekuensi-konsekuensi hukum apa yang

mungkin terjadi secara yuridis dapat diprediksikan. Sehingga sedapat mungkin upaya

ini dapat menunjukkan adanya langkah antisipatif terhadap akta otentik yang akan

dihasilkannya merupakan akta otentik yang sah dan dapat berperan sebagai alat bukti

yang sempurna.166

Dalam kasus pembuatan akta yang cacat hukum, dalam hal ini kewajiban

Notaris untuk menjelaskan dan menunjukkan kelemahan-kelemahan atau kekurangan

yang terdapat dalam suatu akta otentik tidak dilakukan, sehingga tindakan notaris

tersebut membahayakan atau merugikan orang lain. Dan apabila tindakan tersebut

merugikan orang lain, maka dapatlah dikatakan bahwa Notaris tersebut telah

melakukan perbuatan melawan hukum.167

Disamping persyaratan-persyaratan di atas, Achmad Sanusi mengemukakan

syarat-syarat untuk menjalankan gugatan atas dasar perbuatan melawan hukum yaitu:

Causalitas antara perbuatan melawan hukum dengan timbulnya kerugian, dalam

pembuktiannya terdapat teori atau ajaran adequate yang dikemukakan oleh J. Von Kries, yaitu apabila kerugian tersebut adalah menurut kebiasaan-kebiasaan dalam

pengalaman merupakan suatu akibat langsung dari perbuatan melawan hukum.168

166Ibid,hal. 184 167Ibid.,

168 Achmad Sanusi, Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia,

(29)

Lebih lanjut Moeljatno mengartikan teori J. Von Kries sebagai syarat yang

pada umumnya menurut jalannya kejadian yang normal dapat menimbulkan akibat

atau kejadian tersebut, dimana pengertian normal ini diartikan:

a. tergantung subjek tentang pandangannya mengenai bagaimanakah yang

dinamakan moral.

b. sepanjang terdakwa secara persoonlijk mengetahui atau seharusnya mengetahui keadaan sekitar akibat.169

Pada intinya prinsip dari syarat causalitas, bahwa secara normal kerugian yang

diderita para pihak adalah akibat dari perbuatan notaris tersebut, sehingga dapat

dikatakan bahwa perbuatan notaris yang bersangkutan melawan hukum. Secara

normal, perbuatan notaris yang bersangkutan mengakibatkan timbulnya kerugian,

karena notaris dianggap mengetahui atau seharusnya mengetahui keadaan sekitar.

Seorang Notaris yang membuat akta cacat hukum secara normal atas perbuatannya

tersebut telah menimbulkan kerugian bagi kliennya mengingat seorang notaris

mengetahui atau seharusnya mengetahui, bahwa pembuatan akta yang cacat hukum

akan dibatalkan oleh pengadilan dan seharusnya mengetahui juga konsekuensi dari

pembuatan akta tersebut. Kalimat mengetahui atau seharusnya mengetahui

ditekankan, dengan alasan bahwa seorang Notaris tidak dapat mengatakan, bahwa

dirinya tidak mengetahui adanya larangan tersebut berikut konsekuensinya, asal

pembuatan akta tersebut disepakati para pihak, sebagai pembelaan diri. Seorang

(30)

Notaris dituntut untuk harus mengetahui mengingat seorang Notaris sebelum

memasuki dunia praktek telah dibekali kemampuan praktis dan teoritis.170

Istilah perbuatan melawan hukum (onrechtmatig daad) sebelumnya diartikan secara sempit, yakni tiap perbuatan yang bertentangan dengan hak orang lain yang

timbul karena undang-undang atau tiap perbuatan yang bertentangan dengan

kewajiban hukumnya sendiri yang timbul karena undang-undang, sehingga

menimbulkan suatu pelanggaran. Demikian juga dalam pelanggaran terhadap UUJN

yang dilakukan oleh Notaris dalam pembuatan akta, yaitu tidak terpenuhinya

ketentuan sebagai berikut:

1. Pelanggaran Notaris terhadap ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf i,

Pelanggaran yang dilakukan Notaris yaitu Notaris tidak membacakan akta di

hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi

dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi dan

Notaris.171Pelanggaran seperti ini termasuk ke dalam cacat bentuk akta Notaris, karena pembacaan akta oleh Notaris di hadapan para pihak dan saksi

merupakan suatu kewajiban dengan kehendak yang bersangkutan, dan telah

dilakukan pembacaan tersebut wajib dicantumkan pada bagian akhir akta

Notaris.172

170

Sjaifurrachman,Op.Cit., hal. 185.

171Penandatanganan para pihak, saksi dan Notaris merupakan suatu kewajiban. Khusus untuk

para pihak yang tidak dapat membubuhkan tanda tangannya karena cacat fisik tangannya atau tidak dapat membaca-menulis, maka Notaris wajib menuliskan pada akhir akta keadaan tersebut.

(31)

2. Pelanggaran Notaris terhadap ketentuan Pasal 41 dengan menunjuk kepada

Pasal 39 UUJN dan Pasal 40 UUJN

Melanggar Pasal 39 dan Pasal 40 UUJN mengenai tidak dipenuhinya

ketentuan dalam Pasal 39 mengenai kecakapan penghadap melakukan

perbuatan melawan hukum, penghadap dikenal oleh Notaris atau

diperkenalkan kepadanya 2 (dua) orang saksi. Pasal 40 mengenai akta

dibacakan Notaris dengan dihadiri 2 (dua) orang saksi yang cakap melakukan

perbuatan hukum.

Ketentuan Pasal 39 dan Pasal 40 UUJN berkaitan dengan aspek subjektif

sahnya akta Notaris, yaitu cakap bertindak untuk melakukan suatu perbuatan

hukum. Pelanggaran terhadap Pasal ini termasuk ke dalam tidak mampunya

pejabat umum yang bersangkutan untuk memahami batasan umum dewasa

untuk melakukan suatu perbuatan hukum.173

Ketentuan-ketentuan tersebut dicantumkan secara tegas dalam pasal-pasal

dalam UUJN yang menyebutkan jika dilanggar oleh Notaris, akta Notaris mempunyai

kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan. Selain itu terdapat juga

pelanggaran yang dilakukan Notaris sehingga akta Notaris yang batal demi hukum

yaitu sebagai berikut:

1. Pelanggaran Notaris terhadap Pasal 16 ayat (1) huruf l

Melanggar kewajiban Notaris sebagaimana tersebut dalam Pasal 16 ayat (1)

huruf l, yaitu tidak membuat daftar akta wasiat dan mengirimkan ke Daftar

(32)

Pusat Wasiat dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan

(termasuk memberitahukan bilamana nihil).174

2. Pelanggaran Notaris terhadap Pasal 16 ayat (1) huruf k

Melanggar kewajiban sebagaimana tersebut dalam Pasal 16 ayat (1) huruf k,

yaitu tidak mempunyai cap/ stempel yang memuat lambang Negara Republik

Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan, dan

tempat kedudukannya.

3. Pelanggaran Notaris terhadap Pasal 44 UUJN dirumuskan bahwa:

a. Penandatanganan akta dilakukan oleh setiap penghadap, saksi-saksi dan

Notaris, kecuali ada penghadap yang tidak dapat membubuhkan tanda

tangannya dengan menyebutkan alasannya, yang dinyatakan secara tegas

dalam akta.

b. Jika akta dibuat dalam bahasa Indonesia yang tidak dimengerti oleh

penghadap, Notaris wajib menterjemahkan atau menjelaskan ke dalam

bahasa yang dimengerti oleh penghadap dan harus dinyatakan secara tegas

pada akhir akta atau jika Notaris tidak menterjemahkan dan akta

diterjemahkan dan diterjemahkan oleh penerjemah, maka akta

174Pengiriman atau pelaporan ke Daftar Pusat Wasiat (DPW) ini berlaku untuk semua warga

(33)

ditandatangani oleh penghadap, saksi-saksi, Notaris dan penerjemah serta

harus dinyatakan secara tegas dalam akhir akta.

Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 44 UUJN mengakibatkan aktanya batal

demi hukum, sebab pasal 44 UUJN mengatur tentang penandatanganan dan

bahasa dalam akta. Jika akta tidak ditandatangani atau alasan tidak

ditandatangani dan penyebutan pada akhir akta tidak dilakukan dianggap tidak

ada tanda tangan dan tidak mengikat. Bahasa dalam akta harus dipahami oleh

penghadap, saksi-saksi dan Notaris.175

4. Pelanggaran Notaris terhadap ketentuan Pasal 48 UUJN

Ketentuan Pasal 48 UUJN pada dasarnya mengatur mengenai larangan

perubahan isi akta dengan cara penulisan tindih, penyisipan, pencoretan atau

penghapusan dengan penggantian, kecuali perubahan berupa penambahan,

pencoretan dan penggantian yang diparaf atau diberi tanda pengesahan lain

oleh penghadap, saksi-saksi dan Notaris. Paraf berlaku sebagai tanda tangan,

sehingga perubahan isi akta tanpa paraf atau tanda pengesahan lain,

mengakibatkan perubahan tersebut tidak mengikat penghadap atau perubahan

dianggap tidak ada atau batal demi hukum.176

5. Pelanggaran Notaris terhadap ketentuan Pasal 49 UUJN

Ketentuan Pasal 49 UUJN pada dasarnya mengatur mengenai tempat

perubahan isi akta dibuat di sisi kiri akta atau pada akhir akta sebelum

175Sjaifurrachman,Op. Cit., hal. 148-149.

176

(34)

penutup akta atau dengan menyisipkan lembar tambahan dan semuanya harus

dilakukan dengan menunjuk bagian yang diubah. Penambahan isi akta dalam

minuta akta yang akan ditandatangani dalam praktek kenotariatan disebut

renvooi. Seringkali pada saat akta dibacakan atau sedang dibacakan perlu diadakan perubahan, dan perubahan ini dapat disebabkan atas usul para

penghadap atau disebabkan atas usul para penghadap atau disebabkan salah

ketik yang diketahui oleh Notaris.

Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 49 dalam bentuk perubahan yang

dilakukan tanpa menunjuk bagian yang dirubah mengakibatkan perubahan

tersebut batal.177

6. Pelanggaran Notaris terhadap ketentuan Pasal 50 UUJN

Melanggar ketentuan Pasal 50 UUJN , yaitu tidak melakukan pencoretan,

pemarafan dan atas perubahan berupa pencoretan kata, huruf, atau angka, hal

tersebut dilakukan sedemikian rupa sehingga tetap dapat dibaca sesuai dengan

yang tercantum semula. Jumlah kata, huruf, atau angka yang dicoret

dinyatakan pada sisi kiri akta, juga tidak menyatakan pada akhir akta

mengenai jumlah perubahan, pencoretan dan penambahan.178 7. Pelanggaran Notaris terhadap ketentuan Pasal 51 UUJN

Pelanggaran ketentuan Pasal 51 UUJN yaitu tidak membetulkan kesalahan

tulis dan/ atau kesalahan ketik yang terdapat pada minuta akta yang telah

177Ibid., hal 150.

(35)

ditandatangani, juga tidak membuat berita acara tentang pembetulan tersebut

dan tidak menyampaikan berita acara pembetulan tersebut kepada pihak yang

tersebut dalam akta.179

Ketentuan tersebut di atas yang dapat dikualifikasikan akta Notaris batal demi

hukum sebenarnya merupakan tindakan kewajiban yang harus dilakukan oleh Notaris

dalam menjalankan tugas jabatannya tanpa ada objek tertentu dan sebab yang halal.

Perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh seorang Notaris dapat

mencakup ranah bidang pidana yaitu seorang Notaris dapat dikenakan tindakan

pidana atas perbuatan yang melanggar ketentuan dari kaedah peraturan larangan yang

diterbitkan oleh negara. Pelanggaran secara pidana yang dilakukan Notaris yaitu yang

tercantum dalam Pasal 263 KUHPidana dalam hal melakukan pelanggaran membuat

surat secara palsu. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 263 KUHPidana

ini adalah sebagai berikut:

1. Unsur-unsur ojektifnya adalah:

a. Perbuatan yaitu memakai;

b. Objeknya adalah surat palsu dan surat yang dipalsukan;

c. Pemakaian surat tersebut dapat menimbulkan kerugian.

2. Unsur subjektifnya adalah dengan sengaja.180

C. Tanggung Jawab Notaris Sebagai Pejabat Umum dalam Pembuatan Akta

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, pengertian tanggung jawab adalah

“keadaan wajib menanggung segala sesuatunya, apabila ada sesuatu hal, boleh

179Ibid.,

180Chazawi Adami,Kejahatan Terhadap Pemalsuan,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001),

(36)

dituntut, dipersalahkan, diperbolehkan dan sebagainya”.181 Demikian pula halnya dengan tanggung jawab seorang notaris dalam melaksanakan kewenangan dan

kewajibannya.

Sehubungan dengan kewenangannya tersebut Notaris berkewajiban untuk

bertanggung jawab atas perbuatannya/ pekerjaannya dalam membuat akta karena

masyarakat mempercayakan notaris tersebut sebagai seseorang yang ahli dalam

bidang kenotarisan. Besarnya tanggung jawab notaris dalam menjalankan profesinya

mengharuskan notaris untuk selalu cermat dan hati-hati dalam setiap tindakannya.

Namun demikian sebagai manusia biasa, tentunya seorang notaris dalam menjalankan

tugas dan jabatannya terkadang tidak luput dari kesalahan baik karena kesengajaan

maupun karena kelalaian yang kemudian dapat merugikan pihak lain.182

Notaris dalam menjalankan jabatannya harus berdasarkan pada ketelitian,

kecermatan dan ketepatan. Tiga unsur sifat pribadi harus mendapatkan perhatian

khusus yang membentuk karakter didalam menjalankan jabatan adalah183: 1. Jujur terhadap diri sendiri;

2. Baik dan benar;

3. Profesional.

Salah satu perilaku seorang notaris dalam menjalankan jabatannya adalah

senantiasa bersikap profesional. Menyandang jabatan selaku notaris harus jujur

terhadap diri sendiri yang berlandaskan pada spiritual, moral, mental dan akhlak baik

dan benar. Selain mempunyai tingkat intelektual tinggi serta yang mempunyai sifat

181

Wahyu Baskoro,Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Jakarta: Setia kawan, 2005), hal. 785.

182

Hasil wawancara dengan Notaris/ PPAT Erita Wagewati Sitohang, pada tanggal 22 Juli 2016.

183 A.A. Andi Prajitno, Pengetahuan Praktis Tentang Apa dan Siapa Notaris di Indonesia,

(37)

netral/tidak memihak, independen, mandiri, tidak mengejar materi, menjunjung

harkat dan martabat Notaris yang profesional.184

Perilaku sehari-hari dalam menjalankan jabatannya harus profesional yang

mengandung arti:

1. Sesuai dengan undang-undang, kode etik, anggaran dasar, anggaran rumah tangga;

2. Sesuai dan menguasai teknik pembuatan akta;

3. Teliti, jeli dan sikap kehati-hatian harus diperhatikan; 4. Tidak terpengaruh dan tidak memihak;

5. Merelatir atau membuat sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya; 6. Tidak menghalalkan segala cara atau memaksakan kehendak; 7. Dalam waktu yang cepat dan tepat.

Tugas seorang Notaris adalah membuat suatu akta otentik yang diinginkan

oleh para pihak untuk suatu perbuatan hukum tertentu. Tanpa adanya suatu

permintaan dari para pihak maka notaris tidak akan membuatkan suatu akta apapun.

Notaris dalam membuat suatu akta harus berdasarkan keterangan atau pernyataan dari

para pihak yang hadir dihadapan notaris, kemudian notaris menuangkan

keterangan-keterangan/penyataan-pernyataan tersebut kedalam suatu akta, dimana akta tersebut

telah memenuhi ketentuan secara ilmiah, formil dan materiil dalam pembuatan akta

otentik. Serta notaris dalam membuat akta tersebut harus berpijak pada peraturan

hukum atau tata cara prosedur pembuatan akta, sehingga Notaris dituntut untuk lebih

jeli dan berhati-hati dalam membuat akta.185Akta merupakan sebuah kebutuhan bagi

184

Ibid., 185

(38)

masyarakat (para penghadap) dan diharapkan akta tersebut dapat menjadi suatu bukti

apabila terjadi suatu sengketa dikemudian hari.

Apabila notaris lalai dan kurang berhati-hati dalam membuat akta sehingga

mengakibatkan akta tersebut cacat hukum, maka perbuatan notaris tersebut harus

dipertanggungjawabkan. Atas kesalahan notaris tersebut, menyebabkan Notaris telah

melakukan perbuatan melawan hukum.

Perbuatan melawan hukum merupakan suatu kumpulan dari prinsip-prinsip

hukum yang bertujuan untuk mengontrol atau mengatur perilaku berbahaya, untuk

memberikan tanggung jawab atas suatu kerugian yang terbit dari interaksi sosial dan

untuk menyediakan ganti rugi terhadap korban dengan suatu gugatan yang tepat.186 Perbuatan harus memenuhi rumusan bahwa perbuatan itu dilarang oleh

undang-undang, adanya kerugian yang ditimbulkan dari perbuatan Notaris tersebut serta

perbuatan tersebut harus bersifat melawan hukum, baik formil maupun materiil.

Mengenai tanggung jawab Notaris selaku pejabat umum, menurut GHS

Lumban Tobing, Notaris harus bertanggung jawab terhadap akta yang dibuatnya,

apabila terdapat alasan-alasan sebagai berikut187:

1. Di dalam hal-hal yang secara tegas ditentukan oleh Peraturan Jabatan Notaris. 2. Jika suatu akta karena tidak memenuhi syarat-syarat mengenai bentuknya

(gebrek in the vorm), dibatalkan di muka pengadilan, atau dianggap hanya berlaku sebagai akta di bawah tangan.

3. Dalam segala hal, dimana menurut ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Pasal 1365 mengenai tanggung jawab dengan unsur kesalahan (kesengajaan dan kelalaian), Pasal 1366 mengenai tanggung jawab dengan unsur kesalahan khususnya kelalaian, dan Pasal 1367 KUHPerdata mengenai tanggung jawab

186

Munir Fuady,Op. cit., hal. 3. 187

(39)

mutlak (tanpa kesalahan)188 terdapat kewajiban untuk membayar ganti kerugian, artinya semua hal-hal tersebut harus dilalui proses pembuktian yang seimbang.

Tanggung Jawab Notaris secara Perdata

Dalam lapangan hukum keperdataan, sanksi merupakan bentuk

pertanggungjawaban notaris. Sanksi merupakan tindakan hukuman untuk memaksa

orang menepati perjanjian atau mentaati ketentuan undang-undang. Sanksi yang

ditujukan kepada notaris merupakan sebagai penyadaran, bahwa notaris dalam

melakukan tugas jabatannya telah melanggar ketentuan-ketentuan mengenai

pelaksanaan tugas jabatan notaris sebagaimana tercantum dalam UUJN dan untuk

mengembalikan tindakan notaris dalam melaksanakan tugas jabatannya untuk tertib

sesuai dengan UUJN.189

Di samping itu, sebagai bentuk tanggung jawab, pemberian sanksi terhadap

notaris juga untuk melindungi masyarakat dari tindakan notaris yang dapat

merugikan, misalnya membuat akta yang tidak melindungi hak-hak yang

bersangkutan sebagaimana yang tersebut dalam akta Notaris. Sanksi tersebut untuk

menjaga martabat lembaga notaris sebagai lembaga kepercayaan karena apabila

notaris melakukan pelanggaran, dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap

notaris.

188

Munir Fuady ,Profesi Mulia (Etika Profesi Hukum bagi Hakim, Jaksa, Advokat ,Notaris, Kurator, dan Pengurus, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2005), (selanjutnya disingkat Munir Fuady II), hal. 4

189

(40)

Tanggung jawab perdata atas akta yang dibuat oleh notaris dalam hal ini

adalah tanggung jawab terhadap kebenaran materiil akta, maka dikenakan sanksi

keperdataan terhadap kesalahan yang terjadi dalam konstruksi perbuatan melawan

hukum. Perbuatan melawan hukum dalam hal ini dalam sifat aktif maupun pasif.

Aktif dalam arti melakukan perbuatan yang menimbulkan kerugian pada pihak lain.

Sedangkan pasif, dalam arti tidak melakukan perbuatan yang merupakan keharusan,

sehingga pihak lain menderita kerugian. Jadi unsur perbuatan melawan hukum disini

yaitu adanya kesalahan dan adanya kerugian yang ditimbulkan. Perbuatan melawan

hukum disini diartikan luas, yaitu suatu perbuatan yang tidak saja melanggar

undang-undang, tetapi juga melanggar kepatutan, kesusilaan, atau hak orang lain dan

menimbulkan kerugian.190

Sebagai bentuk pertanggungjawaban notaris dalam lapangan hukum

keperdataan, maka dikenakan sanksi berupa penggantian biaya, ganti rugi dan bunga

sebagai akibat yang akan diterima notaris dari gugatan para penghadap apabila akta

bersangkutan hanya mempunyai pembuktian sebagai akta dibawah tangan atau akta

batal demi hukum.191

Penggantian biaya, ganti rugi atau bunga dapat digugat terhadap notaris harus

dengan mendasarkan pada suatu hubungan hukum antara notaris dengan para pihak

yang menghadap notaris. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan sebagai akibat

langsung dari suatu akta notaris, maka yang bersangkutan dapat menuntut secara

190

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=32088&val=2282, diakses pada tanggal 27 Juni 2016, pukul 22.00 WIB)

191

(41)

perdata terhadap notaris. Dalam hal gugatan karena perbuatan melawan hukum, maka

Pasal 1365 KUHPerdata yang berlaku. Pasal 1365 KUHPerdata membuka

kemungkinan pengajuan berbagai gugatan yaitu: gugatan ganti rugi, pernyataan

sebagai hukum, perintah atau larangan hakim.

Pada ganti rugi dalam hal perbuatan melawan hukum, terbuka kemungkinan

ganti rugi dalam bentuk lain selain sejumlah uang. Syarat ganti rugi dalam bentuk

lain yang bukan uang adalah:

1. Ditentukan oleh penggugat;

2. Hakim menganggapnya cocok.192

Mengenai penggantian kerugian dalam bentuk lain selain ganti rugi uang

dapat dilihat dalam pertimbangan dari sebuah Hoge Raad, yang dirumuskan:

“Pelaku perbuatan melawan hukum dapat dihukum untuk membayar sejumlah uang selaku pengganti kerugian yang ditimbulkannya kepada pihak yang dirugikannya, tetapi kalau pihak yang dirugikan menuntut ganti rugi dalam bentuk lain, dan hakim menganggap sebagai bentuk ganti yang sesuai, maka pelaku tersebut dapat dihukum untuk melakukan prestasi yang lain demi kepentingan pihak yang dirugikan yang cocok untuk menghapuskan kerugian yang diderita”.193

Tanggung Jawab Notaris secara Pidana

Mengenai tanggung jawab Notaris atas akta yang dibuatnya dalam hal pidana,

tidak diatur dalam UUJN, namun tanggung jawab Notaris secara pidana dikenakan

apabila Notaris melakukan perbuatan pidana yang terdapat dalam KUHPidana,

192

Ibid., hal. 197 193

(42)

dengan catatan bahwa pemidanaan terhadap Notaris tersebut dapat dilakukan dengan

batasan yaitu194:

1. Ada tindakan hukum dari Notaris terhadap aspek lahiriah, formal dan materiil akta yang disengaja, penuh kesadaran dan keinsyafan, serta direncanakan bahwa akta yang akan dibuat dihadapan Notaris atau oleh Notaris bersama-sama atau sepakat para penghadap dijadikan dasar untuk melakukan suatu tindak pidana.

2. Ada tindakan hukum dari Notaris dalam membuat akta dihadapan atau oleh Notaris yang apabila diukur berdasarkan UUJN tidak sesuai dengan UUJN. 3. Tindakan Notaris tersebut juga tidak sesuai menurut instansi yang berwenang

untuk menilai tindakan suatu Notaris, dalam hal ini Majelis Pengawas Notaris.

Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum.

Larangan tersebut disertai dengan ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu

seperti denda maupun kurungan bagi mereka yang melanggar ketentuan tersebut.

Pidana dalam hal ini adalah perbuatan pidana yang dilakukan oleh Notaris selaku

pejabat umum yang berwenang membuat akta dan tidak dalam konteks individu

sebagai warga negara.195

Biasanya pasal yang sering digunakan untuk menuntut Notaris dalam

pelaksanaan tugas jabatan adalah pasal yang mengatur mengenai tindak pidana

pemalsuan surat, yaitu Pasal 263, Pasal 264, dan Pasal 266 KUHPidana. Notaris

dituduh dengan kualifikasi membuat secara palsu atau memalsukan surat yang

seolah-olah surat tersebut adalah surat yang asli dan tidak dipalsukan (Pasal 263 ayat

1 KUHPidana), melakukan pemalsuan surat dan pemalsuan tersebut telah dilakukan

194

Ibid., hal 208-209. 195

(43)

di dalam akta-akta otentik (Pasal 264 ayat 1 angka (1) KUHPidana), mencantumkan

suatu keterangan palsu di dalam suatu akta otentik (Pasal 266 ayat 1 KUHPidana).

Penjatuhan sanksi pidana terhadap notaris dapat dilakukan sepanjang

batasan-batasan yang dilanggar sebagaimana yang telah tersebut, artinya di samping

memenuhi rumusan pelanggaran tersebut dalam UUJN dan Kode Etik Jabatan Notaris

juga harus memenuhi rumusan yang tersebut dalam KUHPidana. Maka,

pertanggungjawaban secara pidana terhadap Notaris yang melanggar hukum, dapat

dikenakan sanksi yang dimaksud dalam Pasal 263 Jo 264 ayat (1) KUHPidana

dimana ancaman pidana yang berat berupa pidana kurungan atau pidana 8 (delapan)

tahun penjara.196

Tanggung jawab Notaris secara Administratif

Di samping tanggung jawab keperdataan yang dijatuhkan kepada Notaris yang

telah melakukan pelanggaran hukum, terhadap Notaris juga dapat dijatuhkan

tanggung jawab dengan pengenaan sanksi secara administrasi. Menurut Philipus M.

Hadjon dan H.D van Wijk Willem Konijnenbelt, sanksi administratif meliputi:197 a. Paksaan pemerintahan (bestuursdwang)

Yaitu sebagai tindakan-tindakan yang nyata atau feitelijke handeling dari penguasa guna mengakhiri suatu keadaan yang dilarang oleh suatu kaidah hukum administrasi atau melakukan apa yang seharusnya ditinggalkan oleh para warga negara karena bertentangan dengan undang-undang.

b. Penarikan kembali keputusan (ketetapan) yang menguntungkan (izin, pembayaran, subsidi)

Mengenai sanksi yang digunakan dengan mencabut atau menarik kembali suatu keputusan atau ketetapan yang menguntungkan, dengan mengeluarkan

196Sjaifurrachman,Op. Cit., hal. 215.

(44)

ketetapan baru. Sanksi seperti ini diterapkan dalam hal terjadi pelanggaran terhadap peraturan atau syarat-syarat yang dilekatkan pada penetapan tertulis yang telah diberikan, juga terjadi pelanggaran undang-undang yang berkaitan dengan izin yang dipegang oleh si pelanggar.198Pencabutan atau penarikan yang menguntungkan merupakan suatu sanksi situatif yaitu sanksi yang dikeluarkan bukan dengan maksud sebagai reaksi terhadap perbuatan yang tercela dari segi moral, melainkan dimaksudkan untuk mengakhiri keadaan-keadaan yang secara objektif tidak dapat dibenarkan lagi.199

c. Pengenaan denda Administratif

Sanksi pengenaan denda administratif ditujukan kepada mereka yang melanggar peraturan perundang-undangan tertentu, dan kepada di pelanggar dikenakan sejumlah uang tertentu berdasarkan peraturan peundang-undangan yang bersangkutan, kepada pemerintah diberikan wewenang untuk menerapkan sanksi tersebut.

d. Pengenaan Uang Paksa oleh Pemerintah (dwangsom)

Sanksi pengenaan uang paksa oleh pemerintah ditujukan untuk menambah hukuman yang pasti, di samping denda yang telah disebutkan dengan tegas di dalam peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.

Tanggung jawab Administratif dikenakan kepada notaris apabila terbukti

melanggar ketentuan pasal-pasal sebagai berikut:200

1. Melanggar ketentuan Pasal 7, dalam jangka waktu tiga puluh hari sejak

tanggal pengambilan sumpah/ janji jabatan, Notaris tidak:

a. Menjalankan jabatannya dengan nyata;

b. Menyampaikan berita acara sumpah/ janji jabatan Notaris kepada Menteri, Organisasi Notaris, Majelis Pengawas Daerah.

c. Menyampaikan alamat kantor, contoh tanda tangan dan paraf, serta teraan cap/ stempel jabatan Notaris berwarna merah kepada menteri, pejabat lain yang bertanggung jawab di bidang agraria/ pertanahan, organisasi notaris, ketua pengadilan negeri, majelis pengawas daerah, serta bupati atau walikota ditempat notaris diangkat.

2. Melanggar larangan sebagaimana tersebut dalam Pasal 17 yaitu:

198

Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Buku I, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hal. 242.

199

Ibid., hal. 243. 200

Referensi

Dokumen terkait

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) INDONESIA JAKARTA TAHUN AKADEMIK 2020/2021.

Merujuk pada arsip Perjanjian 7 Januari 1681 17 , perjanjian yang telah dilakukan tiga Pangeran dari Cirebon dengan VOC berimplikasi pada ketaatan penuh Cirebon

Dokumen perencanaan dan pemrograman pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya yang disusun oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan jangka waktu 5 (lima) tahun, dan dilaksanakan

Dosis tinggi akan menyebabkan banyak ikan yang mati sedangkan dosis rendah membutuhkan waktu yang sangat lama pada saat pembiusan menjelang pingsan, dan lama waktu

Disisi lain, dampak biaya rawat inap dari pemberian suplemen zink pada balita yang mengalami diare lebih hemat dibandingkan dengan balita yang tidak memperoleh

Bapak Damhir Anugrah, S.T,, M.T, selaku dosen pembimbing pendamping Tugas Akhir, yang dengan sabar juga telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan masukan

Mental  Kemenko Maritim sebagai Koordinator Program Indonesia Bersih. • Pemanfaatan sampah plastik untuk pelapisan jalan [kerjasama

Ketegangan regional antara Arab Saudi yang mendukung kelompok Presiden Hadi dengan Al-Houthi yang didukung oleh Iran telah membuat selat Hormuz menjadi rute yang tidak dapat