• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Riset Daya Tampung dan Daya Dukun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Metode Riset Daya Tampung dan Daya Dukun"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

Metode Riser Perairan

Umum

Studi Kasus Perairan dan dan Waduk

Daya Tampung dan Daya Dukung

Trofik Lefel, Baku Mutu Kualitas Air

Faktor Pembatas

Simulasi dan Model

(2)

Metode penelitian Danau dan

Waduk

1. Danau adalah wadah air dan ekosistemnya

yang terbentuk secara alamiah termasuk situ dan wadah air sejenis dengan sebutan istilah lokal.

2. Waduk adalah wadah air yang terbentuk

sebagai akibat dibangunnya bendungan dan berbentuk pelebaran alur atau badan atau palung sungai.

3. Daya tampung beban pencemaran air danau

dan/atau waduk adalah kemampuan air danau dan air waduk untuk menerima

masukan beban pencemaran tanpa

mengakibatkan air danau dan air waduk menjadi tercemar.

(3)

4.

Beban pencemaran adalah jumlah suatu unsur

pencemar yang terkandung dalam air atau air limbah.

5.

Status mutu air adalah tingkat kondisi mutu air yang

menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada

suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan

membandingkan dengan baku mutu air atau kelas air

yang ditetapkan.

(4)

Morfologi dan Hidrologi

Status Mutu Air

Status Trofik

Pemanfaatan

Sumberdaya

air

dan

peruntukannya

Alokasi beban limbah untuk berbagai sumber

dan jenis limbah

Zonasi perairan untuk berbagai pemanfaatan

Morfologi dan Hidrologi

Status Mutu Air

Status Trofik

Pemanfaatan

Sumberdaya

air

dan

peruntukannya

Alokasi beban limbah untuk berbagai sumber

dan jenis limbah

Zonasi perairan untuk berbagai pemanfaatan

Daya Tampung ditentukan berdasarkan : Daya Tampung ditentukan berdasarkan :

(5)

Data kualitas air

Kriteria status trofik

Daya

Tampungdapat

dijadikan

sebagai Pertimbangan:

1. Penetapan rencana tata ruang

2. Pemberian izin kegiatan yang lokasinya

dapat mempengaruhi kualitas air

3. Pemberian izin pembuangan air limbah

yang masuk ke perairan

Penentuan status trofik danau dan/atau

waduk :

Penentuan status trofik danau dan/atau

waduk :

(6)

METODE DAYA TAMPUNG BP

Morfologi terdiri dari parameter karakter fisik,

yaitu:

a) Luas perairan danau atau waduk

b) Volume air danau atau waduk

c) Kedalaman rata-rata danau atau waduk

Morfologi terdiri dari parameter karakter fisik,

yaitu:

a)

Luas perairan danau atau waduk

b)

Volume air danau atau waduk

c)

Kedalaman rata-rata danau atau waduk

Hidrologi terdiri dari parameter karakteristik

aliran air, yaitu:

a) Debit air keluar danau atau waduk

b) Laju penggantian air danau atau wadukLuas

perairan danau atau waduk

Hidrologi terdiri dari parameter karakteristik

aliran air, yaitu:

a) Debit air keluar danau atau waduk

b) Laju penggantian air danau atau wadukLuas

perairan danau atau waduk

12/21/17

(7)

parameter

kualitas

air

yang

diperlukan untuk perhitungan daya

tampung beban pencemaran air

danau dan/atau waduk berdasarkan:

a)

Penentuan daya

tampung

beban

pencemaran

air

agar kualitas air

memenuhi

baku

mutu

air,

maka

parameter kualitas

air

yang

dipilih

sesuai

dengan

peruntukannya.

a)

Penentuan daya

tampung

beban

pencemaran

air

agar kualitas air

memenuhi

baku

mutu

air,

maka

parameter kualitas

air

yang

dipilih

sesuai

dengan

peruntukannya.

b) Penentuan daya

tampung beban pencemaran air agar kualitas air memenuhi status trofik yang ditetapkan, maka parameter kualitas air yang dipilih adalah unsur hara terutama kadar Phosphor sebagai P total.

b) Penentuan daya

tampung beban

pencemaran air agar kualitas air memenuhi

status trofik yang

ditetapkan, maka

parameter kualitas air yang dipilih adalah unsur hara terutama

kadar Phosphor

(8)

Berdasarkan Pemanfaatan

air baku minum

perikanan,

pertanian dan

sumber

daya

tenaga listrik.

 Sumber daya air danau

atau waduk tersebut perlu ipelihara agar kualitasnya memenuhi

baku mutu sesuai

dengan peruntukannya.

 Baku mutu air danau

atau waduk tersebut juga digunakan sebagai

bahan acuan

perhitungan daya

tampung beban

pencemaran airnya.

(9)

Alokasi Beban Pencemaran Air

a) Daerah tangkapan

b) Daerah aliran air

Berdasarkan Sumbernya

merupakan sumber

pencemaran air dan pendangkalan danau atau waduk.

ABPA

:

memperhatikan

pemanfaatan

dan

kelestarian air danau

atau waduk, sumber

dan

beban

pencemaran air serta

tingkat

pengendaliannya

(10)

MODEL DAN PERHITUNGAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK

12/2

(11)

Morfologi dan hidrologi danau dan waduk

………(1) Diaman :

Ž : Kedalaman rata-rata

A : Luas perairan danau dan/atau waduk(Ha)

 

……….(2)

PENGHITUNGAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR

(12)

Diman :

syarat kadar parameter Pa

maksimal sesuai Baku Mutu Air

atau Kelas Air (mg /m

3

)

kadar parameter Pa hasil

pemantauan danau dan/atau

waduk (mg/m

3

)

jumlah alokasi beban Pa dari

daerah aliran sungai (DAS) atau

daerah

alokasi beban Pa limbah kegiatan

pada peraian danau dan/atau

waduk (mg /m

3

)

 

[Pa]STD: [Pa]i : [PA]DAS: Pa]d:

ALOKASI BEBAN PENCEMARAN PARAMETER PA

12/2

(13)

Daya tampung beban pencemaran air

parameter Pa pada air danau

dan/waduk

Dimana:

L : daya tampung limbah per satuan luas D/W

(mg/Pa/m

2

tahun)

A : jumlah daya tampung limbah Pa pada

perairan

danau/waduk (kg Pa/tahun)

R : total Pa yang tinggal bersama sedimen

 

Catatan :

(14)

Daya Tampung Beban Pencemaran

untuk Budidaya Perikanan

1. Budidaya perikanan

keramba jaring apung

(KJA)

 Kualitas air yang menjadi

acuan utama adalah

status trofik disamping status kualitas air pada umumnya

 Parameter kualitas air

yang dipilih sebagai faktor pembatas adalah fosfat dalam bentuk P total

 Dasar perhitungannya

adalah status trofik

2. Morfologi dan hidrologi

Perhitungan laju

pernggantian air danau dan waduk persamman (8) dan (9) mengacu pada persamaan (1) dan (2)

3. Alokasi beban pencemaran

unsur Phosphor (P)

Pemanfaatan danau hanya untuk budidaya perikanan dan pertanian atau kegiatan lain yang tidak peka dengan kadar P:

 

(15)

Pemanfaatan danau serbaguna termasuk

penampung limbah DAS dan kadar P

dibatasi Baku Mutu Air atau Kelas Air

………(11)

 Δ [P]d : alokasi beban P-total budidaya ikan (mg

P/m3)

 [P]f : syarat kadar P-total maksimal sesuai dengan

jenis ikan yang dibudidayakan (mg P/m3)

 [P]STD : syarat kadar P-total maksimal sesuai Baku

Mutu Air atau Kelas Air (mg P/m3)

 [P]DAS : alokasi beban P-total dari DAS dan perairan

danau selain budidaya ikan (mg P/m3)

 [P]i : kadar parameter P-total hasil pemantauan

danau dan/atau waduk (mg/m3)

(16)

Daya tampung beban pencemaran

air limbah budi daya ikan

…….…..(12)

waduk (gr P/m2.tahun)

 

Laikan : jumlah daya

tampung P-total limbah ikan pada perairan danau atau waduk (gr P/tahun)

 R : P total yang tinggal

yang secara permanen masuk ke dasar, 45-55%.

(17)

Pakan dan limbah P budidaya

pakan (Kg P/ton pakan)

 Pikan : Kadar P-total dalam

ikan (Kg P/ton ikan)

(18)

STATUS TROFIK DANAU DANWADUK

Kondisi kualitas air

danau atau waduk

diklasifikasikan berdasarkan

eutrofikasi yang

disebabkan adanya

peningkatan kadar unsurhara dalam air.

Faktor pembatasnya

adalah P dan N

Pada umumnya

rata-rata tumbuhan air mengandung Nitrogen dan Fosfor

masing-masing 0,7% dan

0,09% dari berat basah

Fosfor membatasi

eutrofikasi jika kadar Nitrogen lebih dari delapan kali kadar Fosfor, Nitrogen

membatasi proses

eutrofikasi jika kadarnya kurang dari delapan kali

kadari Fosfor

(UNEP-IETC/ILEC, 2001).

Klorofil-a adalah pigmen

tumbuhan hijau yang

diperlukan untuk

fotosintesis.

Parameter Klorofil-a

mengindikasikan kadar biomassa algae, dengan

perkiraan rata-rata

beratnya adalah 1% dari biomassa.

(19)

Eutrofikasi diklasifikasikan dalam empat

kategori status trofik yaitu :

Oligotrof adalah

status trofik air danau

atau waduk yang

mengandung unsur

hara dengan kadar

rendah, status ini

menunjukkan kualitas

air masih bersifat

alamiah belum

tercemar dari sumber unsur hara Nitrogen dan Fosfor.

Mesotrof adalah status

trofik air danau dan/atau waduk yang mengandung unsur hara dengan kadar sedang, status ini menunjukkan adanya peningkatan kadar Nitrogen dan Fosfor namun masih dalam batas toleransi karena belum menunjukkan adanya indikasi pencemaran air.

(20)

Eutrof adalah status

trofik air danau

dan/atau waduk yang

mengandung unsur

hara dengan kadar

tinggi, status ini

menunjukkan air

telah tercemar oleh

peningkatan kadar

Nitrogen dan Fosfor.

Hipereutrof/Hipertrof

adalah status trofik air danau atau waduk

yang mengandung

unsur hara dengan kadar sangat tinggi,

status ini

menunjukkan air

telah tercemar berat

oleh peningkatan

kadar Nitrogen dan Fosfor.

Eutrofikasi diklasifikasikan dalam empat

kategori status trofik yaitu :

12/21/17

(21)

Kriteria Status Trofik Danau

Status

Trofik Kadar Rata-rata

total N

Hipertrofik > 1900 ≥ 100 ≥ 200 < 2,5

Sumber: KLH 2009, Modifikasi OECD 1982, MAB 1989; UNEP-ILEC, 2001

(22)

 

KONSEP DUKUNG PERAIRAN TERBUKA

ASUMSI

Populasi

algae

berkorelasi

negatip terhadap kualitas air

secara

umum,

termasuk

pertumbuhan dan kelangsungan

hidup stok ikan. Sedangkan P

adalah “limiting faktot” yang

mengendalikan

kelimpahan

plankton.

12/2

(23)

Konsep limiting nutrient atau nutrient pembatas

muncul dengan adanya kenyataan bahwa sejumlah

nutrient diperlukan oleh fitoplankton. Jika suply

dari satu diantara nutrient-nutrient tersebut

jumlahnya kurang dari permintaan (yang

dibutuhkan)

maka

akan

menghambat

pertumbuhan. Dalam banyak perairan, pada

umumnya P adalah pembatas. Karena ini adalah

element yang dibutuhkan fitoplankton dan

tumbuhan air yang paling jarang terdapat.

(jumlahnya paling sedikit).

(24)

24

Umumnya kebutuhan P untuk setiap species specifikasi dan

umumnya P dalam pakan

berlebihan, tapi kemudian

berkurang karena tidak dapat

dimanfaatkan ke perairan

kemudian hilang ke lingkungan perairan

Phosphor diperlukan untuk :

Merupakan element esensial

yang diperlukan oleh semua

jenis ikan untuk pertumbuhan

yang normal, maintenance

dari pengaturan hubungan

asam-basa dan lemak serta

metabolisme karbohidrat

(25)

 Gamba 1.r: Principle P loses to the environment associated with intensive cage culture

Disolved P

Correct

pellet siz Fatern Assimilatd Utilized

Dust un eaten Faeces Exretion

Particulate P Particulate P Particulate P SEDIMENS

Note: FCR untuk cage culture  20% lebih tinggi dari di kolam

(26)

26

Tabel 1: Kebutuhan Fosfor untuk ikan (% berat dari pakan)

(27)

Tabel 2. : Penghitungan Total P yang hilang ke lingkunganperairan selama jarng apung secara intensif

a. Rainbow Trout

Kandungan P dalam pellet 1.5% (sillva 1983- pakan komersial di Eropa) Kandungan P dalam 1 ton pelet 15 kg

FCR = 1.0 : 1 P( Dlm makanan) 15 kg FCR = 1.5 : 1 P( Dlm makanan) 22 kg FCR = 2.0 : 1 P( Dlm makanan) 30 kg FCR = 2.5 : 1 P( Dlm makanan) 37 kg

Kandungan P dalam ikan Tru = 0.48% dari berat badan ikan = 4.8 kg /ton ikan (Penczak et al 1982) Jadi P yang hilang ke perairan untuk :

FCR = 1.0 : 1 = 15.0 – 4.8 = 10.2 per ton ikan

FCR = 1.5 : 1 = 22.5 – 4.8 = 17.7 per ton ikan

(28)

28

Tabel2. : Penghitungan Total P yang hilang ke lingkunganperairan selama jarng apung secara intensif

b. Tilapia

Kandungan P dalam pellet 1.3% (NRC 1983 & Santiago 1983) Kandungan P dalam 1 ton pelet 13.0 kg

FCR = 1.5 : 1 P( Dlm makanan) 19.5 kg FCR = 2.0 : 1 P( Dlm makanan) 26.0 kg FCR = 2.5 : 1 P( Dlm makanan) 32.5 kg FCR = 3.0 : 1 P( Dlm makanan) 45.5 kg

Kandungan P dalam ikan Tilapia = 0.34 % dari berat badan ikan = 3.4 kg /ton ikan (Mesk &Manthey 1983)

Jadi P yang hilang ke perairan untuk :

FCR = 1.5 : 1 = 19.5 – 3.4 = 16.1 kg per ton ikan FCR = 2.0 : 1 = 26.0 – 3.4 = 22.6 kg per ton ikan FCR = 2.5 : 1 = 32.5 – 3.4 = 29.1 kg per ton ikan FCR = 3.0 : 1 = 45.5 – 3.4 = 35.6 kg per ton ikan

(29)

Tabel 2.: Penghitungan Total P yang hilang ke lingkunganperairan selama jarng apung secara intensif

c. Carp

Kandungan P dalam pellet 3.09% (NRC 1983) Kandungan P dalam 1 ton pelet 30.9 kg

FCR = 1.5 : 1 P( Dlm makanan) 46.4 kg FCR = 2.0: 1 P( Dlm makanan) 61.8 kg FCR = 2.5 : 1 P( Dlm makanan) 77.3 kg FCR = 3.0 : 1 P( Dlm makanan) 92.7 kg

Kandungan P dalam ikan carp = 0.61% dari berat badan ikan = 6.1 kg /ton ikan (Ogino and Takeda 1976)

Jadi P yang hilang ke perairan untuk :

(30)

12/21/17 30

Catatan :

Jadi tabel sebelumnya menginformasikan jumlah P yg berasal dari pakan dikonversi dan juga diekresikan melalui feses

Kekurangan budidaya intensive trout (pakan yg

tidak dikonversi dan dust) diperkirakan sekitar 20%

Dimana nilai FCR kolong danau dan KJA biasanya

kurang labih 20%

20-27% P dicerna oleh ikan dan dipertahankan

dalam tubuhnya

Jika tingkat produksi feses sebesar 260 g

(31)

Sejumlah model telah dikembangkan untuk memprediksi respon ekosistem terhap beban P. Kebanyakan menggunakan pendekatan empiris dalam penjabarannya dan sudah teruji kevalidannya serta dimodifikasi menggunakan sejumlah basis data. Namun ada dua model yang sering dugunakan diantaranya adalah yang dikembangkan oleh Dillon dan Righter (1974) dan OECD (1982). Menekankan pada konsentrasi TP pada kolom air ditentukan dari DTA , DAS, dan morfologi (area dan kedalamn). Laju P yang hilang melalui Outflow, dan fraksi P yang terendapkan ke sedimen.

 P = L (1 – R)

  z.ρ

P = Total P  g/m3

L = Total P loading (gr/m2/y -1) z   = Rata-rata kedalaman (m)

R = Fraksi dari total P yang hilang ke sedimen

ρ = flusing rate- debit (volume/tahun)

(32)

INPUT PAKAN

(33)
(34)

ρ = koefisien flushing rate air danau (kali/tahun)

R fish = proporsi dari P yang hilang secara permanent ke sedimen (x) dan

ρ = koefisien flushing rate air danau (kali/tahun)

R fish = proporsi dari P yang hilang secara

Pi ditentukan berdasakan pengamatan steady state dari P sepanjang tahun, musim kemrau dan hujan.

(35)

Tabel. 3 Tentative Values for maximum accephable (P)i lenthic island water bodies used for enclosure of fish

Water body Catagory

Species Culture

Tentative maximum Acceptable P mg/m3

Temperate

Tropical

Salmonid

Carp

Carp and

Tilapia

60 150 250

(36)

TERMINOLOGI 3

Calculation of Total O loses in the environment during intensive cage culture

1. Rainbow Trout

Kandungan P pellet

1 ton pakan mengandung P

Kandungan P dalam daging ikan 0,34%

1,3 % 13 kg

3,4 kg/1 ton ikan

3.   Carp

Kandungan P pellet

1 ton pellet mengandung P

Kandungan P dalam ikan 0,61%  

3,09 % 30 Kg

6,1 kg/1 ton ikan

(37)

Didasarkan dari tabel 2.

P yang hilang untuk setiap ton ikan (kg/ton ikan)

1. Rainbow Trout

     FCR       FCR     1,5 : 1       2  :  1

17,7 25,2 (22,5 – 4,8) (30,0 – 4,8)

2. Tilapia 16,1 22,6 (19,5 – 8,4) (26,0 – 3,4)

3. Carp 40,25 55,7 (46,3 – 6,1) (61,8 – 6,1)

 

L

(38)

P = loading

Luas area (danau/reservoir)

Debit air (jumlah/volume air yang keluar dari danau) Flusing rate (Fraksi P yang hilang dalam sedimen secara permanen)

 P = L (1 – R)  steady state z.ρ

 

P = Total P  g/m3

L = Total P loading (gr/m2/y) z   = Rata-rata kedalaman

R = Fraksi P yang hilang ke sedimen

ρ = rate of (dari flusing (volume/tahun)  debit yang keluar)

Secara umum

1

2

/2

1

/1

7

(39)

Chl = 0,416 P 0,675 ,r = 0.84 (Walmsley and Thorton ,1984)

TAHAPAN PENENTUAN CARRYING CAPACITY

Step 1) Ukur steady state P konsentrasi

Di daerah Tropis merupakan hasil pengukuran rata-rata tahunan konsentrasi P di permukaan (air permukaan) dan harus diukur dengan sejumlah sample.

Step 2) Penentuan konsentrasi P yang di tolerir, hal ini berkaitan dengan jumlah Chlophyl, biomas. Hubungan konsentrasi P dengan kandungan chlorophyl.

1

2

/2

1

/1

7

(40)

Water body

Tentative Values for maximum accephable (P)i lenthic island water bodies used for enclosure of fish

Konsentrasi P dalam kaitannya dengan tingkat chlorophyl yang diperbolehkan adalah sebagai berikut :

12/2

(41)

 

 P = Pf - Pi

Step 3) Perhitungan  P yang merupakan selisih dari P sebelum exploitasi dan P setelah exploitasi.

P = L fish ( 1 – R fish)/z .ρ

L fish =  P. z .ρ/(1 – R fish)

Hitung L fish,P loading from the fish cage. P

is related to P loading for the fish cage (L fish), the size of lake A and fraction of L fish retained by the sedimen.

(42)

42

R fish is the most difficult parameter to estimate. Using the argument proposed by Phillips et al 1985C) AT LEAST 45 -55% of the total P wastes from cage rainbow trout are likely to be permanently lost to the sediments asa result of solids (faeces and food) deposition , and thus only 45 – 55% of the total P loadings are in the form ofdissolved P. In the absence of any other data, these values will also be used for tilapia and carp calcu;ations. A fraction of the dissolved total P component will also be lost to the sediments, and it is suggested that the most appropriate formula in Table 5.5 used to calculate this.

R fish values are therefore much greater than R for conventional P loading. And can be summarised as :

R fish = x + [ (1 – x ) R ]

Whwere, x = the net proportion of total P lost permanently to the sediment as a result of solid deposition of (ie 0.45 – 0.55, ) and R = proportion of dissolved total P lost to the sediment calculated from tabel n5.5

(43)

R fish = x + (1 – x) R 

X = The net proportion of total P lost permanenly to the sedimet

R = Proportion of disolved total P lost to sedimen calculated losed, table 5,5

Utk. Natural lakes

P = flushing rate  (volume/year)

(44)

44

Step 5) Once the acceptable total P loading, L fish, has been calculated, then the intensive fish production (tones/year) can be estimated by dividing L fish by the average total P wastes per ton of fish production.(table 5.2)

Carrying Capacity :

= Total Allowable Loading /17.7

Catatan :

Untuk setiap 1 ton ikan (trout) yang diproduksi, dihasilkan 17,7 kg P dalam perairan (Beverage 1987)- tabel 2. (ikan trout FCR 1.5 : 1)

(45)

Contoh :  

Luas danau A = 100 ha (dihitung dari map) Rata-rata kedalaman z = 10 m

Flushing rate coefisient , ρ = 1/year

Steady state (P) dari hasil monitoring = 15 mg/m3

Total loading P per ton fish = 17,7 kg/ton (tabel 2. –Trout FCR 1.5 :1)

 

Tahapan penghitungan aya dukung :  

1. Tentukan/ukur steady state P prior to development P 15 mg/m3.

2.  Set maximum acceptable P, Pf, setelah nanti ada keramba apung  60 mg/m2  sebagai target (P)  lihat tabel untuk

(46)

46

L fish=  P.z .ρ /(1 – R fish)

R fish = X + (1 – X) R

R = 1/(1 + p 0,5) = ½ = 0,5

R fish = 0,5 + (1,0 – 0,5) 0,5) = 0,5 + (0,5 – 0,25) = 0,75  

L fish = (45 x 10 x 1)/1 – 0,75 = 450/0,25 = 1800 mg/m2/y

= 1,8 g/m2/y 3. Determine   P

 P = 60 – 15 mg/l = 45 mg/l

4. Loading P yang berasal dari kegiatan jaring apung

(47)

5. Penentuan Total acceptable loading (Luas Danau =106m2)

Total acceptable loading

= 1,8 x 106 = 1.800.000 g/y

6. Carrying Capacity

P loading untuk setiap 1 ton ikan = 17,7 kg (17,7 kg/ton ikan)

 Total acceptable production : 1.800.000 g/17.700 g

(48)

48

MARINE SITE

Keramba apung di laut  dapat digunakan model

yang sama, kecuali N yang biasanya sebagai pembatas di laut.

Dan dilaut lebih banyak flushing rate pengaruh

disolved N untuk plankton lebih kecil.

Sehingga pengaruh intensive culture untuk

benthos mungkin lebih penting

(49)

EXTENSIVE CAGE CULTURE  

Dalam banyak hal, antara lain sistim extensive, produksi

ikan dan “carrying capacity” hampir seluruhnya tergantung pada produksi fitoplankton.

Berdasarkan studi untuk Tilapia, Bioerge 1984b,

menyarankan bahwa hasil dari extensive cage culture adalah diantara 1% - 3% dari produksi primer, tergantung juga tingkat produksi primernya.

Chl= 0.416 P 0.675 , r = 0.85, n= 16 (Walmsley and Thornton ,1985)

(50)

50

TERMINOLOGI 2

Konversi potensi  PP  annual fish yield (tabel 5.)

Yield dari extensive culture:= 1-3% dari primary producti = ( PP)

Fresh fish carbon content in fish  10% dari wet weight

(51)

 PP (gC/m2/y)

% Conversion Annual of fish yield

(g fish C/m2/y)

Contoh : Extensive cage culture (Luas area 100 ha.) Hasil monitoring  PP secara regular = 1200 g

C/m2/year.

Step1. Calculate gross PP,  PP,

 PP = gross primary production gc/m2/y

(52)

52

Step 1. Tentukan annual gross primary production,  PP (g C/m2/y) of

the site. Untuk daerah tropic, karena musim tidak berpengaruh banyak maka pengukuran PP harus dilakukan sepanjang tahun secara reguler.

Step 2. Convert  PP ke annual fish yield, (Fy) gunakan tabel 5 untuk

mengkonversi planktonic carbon ke fish carbon dengan asumsi fresh fish carbon content = 10 % dari net weight of fish (Gulland 1970) .

Step 3. Pola tanam tergantung pada sejumlah variabel antara lain

berapa kali dalam satu tahun dan berapa ujuran ikan yang dipanen kalau Tilapia 2x 1 tahun masing-masing 160 g fish (6 fish/kg) may be desirable.

However , seasonality of primary production may mean that one crop takes l onger to grow. In order to reach target harvest size, the sum of primary production during the crop 1. growth period, Σ PP c1, should

approximatel that crop 2, Σ PP c2, although this ignores possible

changes in the cropping efficiency of the fish at different algal densities, and may have to be ajusted in practice.

Tahapan untuk menentukan carrying capacity sistem extensive sebagai berikut :

 

(53)

Contoh : Extensive cage culture (Luas area 100 ha.) Hasil monitoring  PP secara reguler = 1200 g C/m2/year.

Step1. . Calculate annual gross primary production ,  PP, 1200g C /m2/y sbag

hasil pengukuran scara reguler

Step 2 : Convert annual fish yield, using table 5

= 1,3%  PP = 1,3%x1200 = 156 g fish/m2/y

Untuk 100 ha :

= 1.000.000 x 156 g fish/m2/y

= 156.000 kg

(54)

 PP (gC/m2/y)

% Conversion

Annual of fish yield (g fish C/m2/y)

.Tabel 5. Conversion coefficien of  PP

(55)

 

Step 3 : Asumsi 2 crops per year  determine culture periods

 PP1 =  PP2

 PP1 (Nov-May) = 570 C/m2  7 month  PP2 (Jun-Oct) = 630 C/m2  5 month

 

Asumsi : Benih  25 g, target size panen 8 ekor/kg (125 gr/ind). Jadi Each fish grow 100 gr during

cultured period Stocking requitment = 156 ton/100 g = 1,56 x 106  fingerling

 

1

2

/2

1

/1

7

(56)

SEMI INTENSIVE

Prinsip : Semi intensive  diberikan low quality feed untuk suplement terhadap pakan alami.

 

Carrying capacity tergantung dari :

1)      produktivitas perairan dan jumlah pakan alami yang

tersedia.

2)      Jumlah dan kualitas dari pakan suplemen yang

digunakan.  

Perhitungan sbb:

Step 1. Tentukan gross primery production  PP seperti

contoh extensive.

Step 2. Hitung produksi ikan tahunan (Fy) berdasarkan tabel konversi (tabel 5) dan fresh carbon content = 10% dari wet weight.

(57)

Step 3. Hitung rata-rata tahunan jumlah beberapa jenis pakan yang tersedia  food dan estimate FCR dari literatur(misal Tabel 30, Beverage1984b) dalam rangka untuk menentukan fish yield yang dikontribusikan oleh pakan tambahan.

Step 4. Calculate total P loading asseciated with the use of suplementary feed stuft, L fish and using model seperti pada intensive .Hitung tambahan toal P terlarut. The increase in total P (penambahan total P) dapat digunakan untuk menghitung produktivitas,

 PPfish atributable to fish culture.

Step 5. Estimate the yield due to  PP fish, using conversion efficiences given in table 5.6 and calculate Total fish yield from semi intensive culture

 Fy a :

 Fy = (a  PP) + ( food x FCR) + (b  PP fish)

(58)

Contoh :   Site 100 ha

Mean depth :  : 10 m

Flushing coefisient P = 1/y Average gross annual

primary production (ΣPP) = 1000 C m-2 Y - 1

(59)

R fish = X + C1-X)R x = 0,5

dimana

R = 1/(1 + p 0,5) 0,5 ρ = 1

R fish = 0,5 + (1-0,5)R

R fish = 0,5 + 0,5 X 0,76 = 0,71

L fish =  P . z . p/ (1 – R fish)

L fish = (15 X 10 X 1)/(1 – 0,88)

dimana  P = 15, , z = 10,p = 1

(60)

Step 4. Luas area 10

6

m2, total accephable

loading = 681 X 10

6

g/y = 681.000 g/y

diasumsikan P loading dihasilkan dari 1 ton

ikan = 17,7 kg/ton.

= 681.000 = 38.474 kg = 38 ton/year

17,7 kg

Step 5. Fish yield

Fy

Fy = 156 ton + 38 ton

= 194 ton/year

(61)

SEKIAN dan TERIMA KASIH

Gambar

Tabel 1: Kebutuhan Fosfor untuk ikan (% berat dari pakan)
Tabel 2. : Penghitungan Total P yang hilang ke lingkunganperairan selama    jarng apung secara intensif
Tabel 5.Conversion coefficien of  PP  (Tabel 5)- Beveridge 1984 b

Referensi

Dokumen terkait

 Hasil simulasi yang dilakukan dengan mereduksi beban pencemaran dari point source menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Ciujung sudah tidak memiliki daya tampung

Dalam penelitian ini akan menghitung daya tampung beban pencemaran Sungai Musi menggunakan aplikasi QUAL2Kw, dengan parameter-parameter yang akan digunakan

Perhitungan daya tampung didapatkan dari hasil pengurangan beban pencemaran berdasarkan skenario. Beban pencemar maksimum merupakan baku mutu air kelas I sungai

UNTUK PENGHITUNGAN DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU BATUR • Data Potensi Sumber Daya Alam. – Potensi dan ketersediaan – Jenis yang dimanfaatkan –

Analisis Daya Tampung beban Pencemaran digunakan persamaan KepMenLH 110/2003 sebagai berikut: DTBP=BPm–Bpa 2 Keterangan: DTBP=Daya Tampung Beban Pencemaran kilogram/hari BPm=Beban

Berdasarkan uraian diatas maka diperlukan penelitian mengenai Analisis daya dukung DAS berdasarkan kriteria tata air dan daya tampung beban pencemaran sungai Gedek bertujuan untuk

Daya tampung Beban Pencemaran DTBP dapat dihitung dengan cara sederhana yaitu dengan persamaan neraca massa Wiwoho, 2005 sebagai berikut : DTBP = Beban Pencemaran Sesuai BMA – Beban

DTBP Parameter BOD Biochemical Oxygen Demand Berdasarkan hasil perhitungan terhadap daya tampung beban pencemaran terhadap parameter BOD, ditemukan bahwa Kali Jagir telah mencapai