KEMENTERIAN KEUANGAN RI
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN PEMBIAYAAN DAN RISIKO
DIREKTORAT PEMBIAYAAN SYARIAH
Pengertian Sukuk Negara
SBSN sebagai Instrumen Pembiayaan APBN
Kontribusi SBSN Dalam Pembiayaan APBN
Rp872,52 Triliun
Rp872,52 Triliun
Akumulasi penerbitan
SBSN s.d. 5 April 2018
Rp 62,47 Triliun
Rp 62,47 Triliun
Akumulasi
Sukuk
2013 s.d 2018
Project Financing
Rel, Stasiun, Persinyalan & Fasilitas KA Lainnya di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi Rp24,62 Triliun
Jalan dan jembatan di seluruh Indonesia Rp22,96 Triliun
Bendungan, Embung, Pengendali banjir, Drainase, Penyediaan air baku, Pengaman pantai di seluruh Indonesia
Rp8,01 Triliun
Sarana dan prasarana pendidikan
(gedung kuliah/ruang belajar, laboratorium, perpustakaan) di seluruh Indonesia
Rp4,05 Triliun
Sarana dan prasarana pelayanan umum (Asrama Haji, KUA, Taman Nasional, Laboratorium) di seluruh Indonesia
oOutstanding SBSN per 29 Maret 2018 Rp588,60 Triliun
oPorsi SBSN terhadap total outstanding SBN ± 17%
oTotal SBSN jatuh tempo sejak 2008 Rp302,97 Triliun
17
%
• Porsi penerbitan SBSN terhadap SBN bruto terus meningkat (2014 = 19% ; 2015 = 24% ; 2016 = 28% ; 2017 = 29%)
Dasar Hukum SBSN
Memberi
payung hukum
pengelolaan
SBSN agar transparan dan akuntabel:
Jumlah SBN yang diterbitkan
setiap tahun anggaran harus
disetujui DPR.
Koordinasi dengan Bank Indonesia
dan Bappenas (khusus untuk
project financing
).
Perdagangan SBSN diatur dan
diawasi oleh instansi berwenang.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008
tentang Surat Berharga Syariah Negara
Memberi
landasan hukum
penerbitan SBSN:
Kewenangan Pemerintah
untuk menerbitkan SBSN.
Penggunaan BMN dan Obyek
Pembiayaan sebagai
underlying asset
.
Pendirian Perusahaan
Penerbit SBSN, yang berfungsi
sebagai penerbit SBSN dan
Wali Amanat.
Memberi
kepastian hukum
bagi investor:
Pemerintah wajib
membayar Imbalan dan
Nilai Nominal SBSN.
Sanksi hukum terhadap
pemalsuan SBSN.
Kewajiban Menteri
SBSN untuk Pembiayaan Proyek
Manfaat Penerbitan:
•
Diversifikasi sumber pembiayaan APBN.
•
Meningkatkan kemandirian bangsa dalam melaksanakan
pembangunan nasional.
•
Akselerasi pembangunan proyek infrastruktur dan proyek
strategis lainnya.
•
Mengoptimalkan pembiayaan untuk belanja
modal/investasi
•
Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk turut
langsung berpartisipasi dalam membiayai proyek
pemerintah.
Dasar Hukum Pembiayaan Proyek dengan SBSN
Revisi anggaran proyek/kegiatan yang dibiayai dengan SBSN mengikuti ketentuan peraturan
mengenai revisi anggaran pada tahun anggaran berkenaan.
(untuk T.A. 2018: PMK No.11/PMK.02/2018 tentang Tata Cara Revisi Anggaran T.A. 2018).
Mengatur a.l.:
SBSN diterbitkan dengan tujuan untuk membiayai APBN termasuk membiayai pembangunan proyek. UU No.19/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara Mengatur a.l.:
• Kewenangan, cakupan dan persyaratan proyek.
• Prosedur perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, pemantauan dan evaluasi proyek.
• Pengelolaan obyek hasil pembiayaan (proyek). PP No.56/2011 tentang Pembiayaan Proyek Melalui Penerbitan SBSN tentang
Tata Cara Pembiayaan Proyek/Kegiatan Melalui
Penerbitan SBSN
PMK No.220/PMK.08/2015 PMK No.220/PMK.08/2015
tentang
Tata Cara Pelaksanaan
Pembayaran Kegiatan Yang
Dibiayai Melalui Penerbitan
SBSN
PMK No.25/PMK.05/2016 PMK No.25/PMK.05/2016
tentang
Tata Cara Pemantauan, Evaluasi
dan Pelaporan Pembiayaan
Proyek/ Kegiatan Yang Dibiayai
Melalui Penerbitan SBSN
Jenis ProyekYang Dapat Dibiayai SBSN
(Pasal 9):
1. Pembangunan infrastruktur
(sektor energi, telekomunikasi,
perhubungan, pertanian, industri
manufaktur dan perumahan
rakyat).
2. Penyediaan pelayanan umum.
3. Pemberdayaan industri dalam
negeri.
4. Pembangunan lain sesuai dengan
kebijakan strategis pemerintah.
1. Merupakan proyek Pemerintah Pusat
(Pasal 2 & Pasal 1 angka 1 dan 4).
2. Sesuai prioritas RPJM (Pasal 12).
3. Memenuhi kriteria kesiapan dan
kelayakan untuk dilaksanakan dari
Bappenas (Pasal 12).
4. Telah memperoleh persetujuan dari DPR
(Pasal 4 & Pasal 1 angka 3)
5. Telah mendapatkan alokasi dalam APBN
(Pasal 4 & Pasal 5).
6. Memenuhi kriteria dan tidak
bertentangan dengan prinsip syariah
(Pasal 10).
7. Tidak akan dipindahtangankan/
dihapuskan selama menjadi Aset SBSN
(Pasal 24 – 26).
Alokasi Dana Proyek SBSN T.A. 2013 – 2018
per Unit Es.I K/L
NO. KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA(UNIT ESELON I) PAGU TOTAL 2013 2014 2015 2016 2017* 2018
1 KEMENTERIAN PERHUBUNGANDitjen Perkeretaapian 800.00 1.371,00 2.924,50 4.983,00 7.543,31 7.000,00 24.621,81
2
KEMENTERIAN AGAMA - 200,00 675,33 1.467,90 1.791,93 2.210,55 6.345,71
1. Ditjen Bimas Islam - - 11,50 182,90 315,68 355,38 865,46 2. Ditjen Pendidikan Islam - - 280,90 895,00 1.051,67 1.505,43 3.733,00 3. Ditjen PHU - 200,00 382,93 390,00 424,58 349,74 1.747,25
3
KEMENTERIAN PUPR - - 3.535,80 7.226,30 7.432,88 12.780,00 30.974,98
1. Ditjen Bina Marga - - 3.535,80 7.226,30 4.700,00 7.500,00 22.962,10 2. Ditjen Sumber Daya Air - - - - 2.732,88 5.280,00 8.012,88
4 KEMENTERIAN LHKDitjen KSDAE - - - 51,40 51,40
5 KEMENTERIAN RISTEKDIKTIDitjen Sumber Daya Iptek dan Dikti - - - 314,63 314,63
6 B S N - - - 50,00 50,00
7 L I P I - - - 120,00 120,00
JUMLAH 800,00 1.571,00 7.135,63 13.677,20 16.768,12 22.526,59 62.478,54
*) Tidak termasuk dana lanjutan SYC & luncuran MYC TA 2016
Alokasi Pembiayaan Proyek Melalui Penerbitan SBSN
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kemenag (1)
No. PTKIN PAGU Total Pagu
2015 2016 2017 2018
1 IAIN PADANG SIDEMPUAN 32,19 31,49 - - 63,68
2 IAIN IMAM BONJOL PADANG 41,18 9,76 - - 50,94
3 IAIN RADEN INTAN BANDAR LAMPUNG 33,80 43,81 - - 77,61 4 IAIN SULTAN MAULANA HASANUDDIN BANTEN 67,86 - - - 67,86
5 IAIN SALATIGA 40,97 40,00 - - 80,97
6 IAIN TULUNGAGUNG 35,50 42,37 - - 77,87
7 IAIN PALU 29,40 - 35,81 - 65,21
8 IAIN ZAWIYAH COT KALA LANGSA, ACEH - 40,24 - 41,58 81,82
9 IAIN BUKITTINGGI - 36,27 - - 36,27
10 IAIN BENGKULU - 28,50 35,00 - 63,50
11 UIN SUNAN GUNUNG JATI BANDUNG - 40,72 45,72 - 86,44
12 IAIN SYEKH NURJATI CIREBON - 40,51 22,48 - 62,99
13 UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA - 44,12 47,11 - 91,23
14 UIN WALISONGO SEMARANG - 23,03 - - 23,03
15 IAIN PURWOKERTO - 35,64 32,23 67,87
16 UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA - 30,22 - 50,00 80,22
17 UIN SUNAN AMPEL SURABAYA - 35,91 - 10,73 46,64
18 UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG - 50,31 - 30,60 80,91
19 IAIN JEMBER - 46,59 30,00 76,59
Alokasi Pembiayaan Proyek Melalui Penerbitan SBSN
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kemenag (2)
No. PTKIN PAGU Total Pagu
2015 2016 2017 2018
21 UIN ALAUDDIN MAKASSAR - 35,25 34,17 - 69,42
22 IAIN PALOPO - 36,92 - 30,00 66,92
23 IAIN SULTAN AMAI GORONTALO - 26,86 - 29,00 55,86
24 IAIN SAMARINDA - 40,23 - 37,96 78,19
25 IAIN PONTIANAK - 30,88 - 40,87 71,75
26 IAIN PALANGKARAYA - 35,53 33,84 - 69,37
27 STAIN AL-FATAH JAYAPURA - 35,23 25,07 - 60,30
28 UIN AR-RANIRY - ACEH - - 27,89 44,60 72,49
29 STAIN MALIKUSSALAH LHOKSEUMAWE - - 26,30 49,98 76,28 30 STAIN GAJAH PUTIH TAKENGON - - 30,60 37,70 68,30
31 IAIN BATUSANGKAR - - 32,23 - 32,23
32 UIN SUSKA RIAU - - 43,45 - 43,45
33 IAIN SULTAN THAHA SAIFUDDIN AMBI - - 30,07 40,00 70,07 34 STAIN SAS BANGKA BELITUNG - - 35,00 35,00 70,00
35 STAIN CURUP - - 19,18 34,00 53,18
36 IAIN JURAI SIWO METRO LAMPUNG - - 24,30 39,99 64,29
37 IAIN SURAKARTA - - 38,58 50,00 88,58
38 STAIN PEKALONGAN - - 50,10 42,60 92,70
39 STAIN KUDUS - - 28,38 42,29 70,67
40 STAIN KEDIRI - - 35,18 29,65 64,83
Alokasi Pembiayaan Proyek Melalui Penerbitan SBSN
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kemenag (3)
No. PTKIN PAGU Total Pagu
2015 2016 2017 2018
41 STAIN PAMEKASAN - - 19,90 - 19,90
42 STAIN PAREPARE - - 49,00 40,00 89,00
43 STAIN WATAMPONE - - 50,85 40,00 90,85
44 IAIN MANADO - - 22,91 40,00 62,91
45 IAIN ANTASARI BANJARMASIN - - 35,85 40,00 75,85
46 IAIN AMBON - - 45,50 32,73 78,23
47 IAIN TERNATE - - 25,18 - 25,18
48 STAIN SORONG - - 11,72 43,13 54,85
49 UIN SULTAN SYARIF KASIM RIAU - - - 44,10 44,10
50 UIN SUMATERA UTARA - - - 50,00 50,00
51 UIN RADEN FATAH PALEMBANG - - - 61,14 61,14
52 IAIN KENDARI - - - 38,61 38,61
53 IAIN BUKITTINGGI - - - 28,77 28,77
54 IAIN BATUSANGKAR - - - 35,88 35,88
55 STAIN TEUNGKU DIRUNDENG MEULABOH - - - 26,00 26,00
56 STAIN BENGKALIS - - - 21,99 21,99
57 STAIN MAJENE - - - 45,05 45,05
Sebaran Proyek SBSN T.A. 2017 per Propinsi
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 TOTAL 1.160 284 1.952 85 3.353 448 2.222 313 219 72 846 75 251 111 283 524 147 230 334 114 385 150 163 427 851 70 269 45 157 59 175 547 107 342 DJ PHU 52 53 - - 51 - 53 33 - - 5 - - - - 20 41 47 - - - 5 - 16 - 50 - - - - -DJKA 1.024 - 1.420 - 2.935 - 1.830 - - - 335 - - -
-1.160 284 1.952 85 3.353 448 2.222 313 219 72 846 75 251 111 283 524 147 230 334 114 385
150 163 427 851 70 269 45 157 59 175 547 107 342 -500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500
miliar Rp DKI Jakarta 1
Mekanisme Pengusulan & Pengalokasian Dana Proyek SBSN
Nomor Register dan Rekening Khusus
Proyek SBSN TA 2018
No
K/L Pemrakarsa Proyek
Unit Eselon I
Nomor Register
Rekening
Nomor
Nama Bank
1
Ditjen Perkeretaapian
3LFKV8JA (SYC Baru TA 2018)
3482QQBA (MYC Baru TA 2018)
3D62HGXA (MYC Luncuran TA 2016)
3TW2LAXA (MYC Luncuran TA 2017)
510.000278980 Bank Indonesia
2
Ditjen PHU
36LLP13A (SYC Baru TA 2018)
3YX5FVVA (SYC Lanjutan TA 2017)
30.102017.17
BRI Syariah
3
Ditjen Pendis
3EFU5EKA (SYC Baru TA 2018)
35XT7SHA (SYC Lanjutan TA 2017)
7788.8884.51
Bank Syariah
Mandiri
4
Ditjen Bimas
3TPNRS1A (SYC Baru TA 2018)
3D3UKA8A (SYC Lanjutan TA 2017)
1011.2017.98
BNI Syariah
5
Ditjen Bina Marga
3SF8W47A (SYC Baru TA 2018)
32C2KFZA (MYC Baru TA 2018)
3N5PRZ1A (SYC Lanjutan 2017)
3QNR54YA (MYC Luncuran 2016)
3Z47RFTA (MYC Luncuran 2017)
510.000279980 Bank Indonesia
6
Ditjen Sumber Daya Air 3E51RHFA (SYC Baru TA 2018)
3FLDC1BA (MYC Baru TA 2018)
3KZ6YVTA (SYC Lanjutan TA 2017)
316KNPXA (MYC Luncuran TA 2017)
510.000280980 Bank Indonesia
Dasar Hukum Penyusunan RPD
PMK 220/PMK.08/2015
Proyek.
PMK 220/PMK.08/2015
Pasal 5:
Setelah APBN ditetapkan, Pemrakarsa Proyek wajib menyampaikan Surat Pernyataan Kesiapan Pelaksanaan Proyek (SPKPP) yang ditandatangani oleh Pejabat Eselon I yang bertanggung jawab terkait pelaksanaan Proyek dengan dilampiri Rencana Penarikan Dana (RPD).
PMK 25/PMK.05/2016
Pasal 13 ayat (3) huruf a:
Pengisian Reksus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan RPD dari Pemrakarsa Proyek dan jadwal penerbitan SBSN.
PMK 120/PMK.08/2016
Pasal 7 ayat (1) huruf a dan b & ayat (2) huruf a:
DJPPR melakukan pemantauan terhadap realisasi penyerapan dana Proyek dengan berdasarkan pada laporan hasil pemantuan dan evaluasi oleh Pemrakarsa Proyek dan berpedoman pada RPD.
Pemantauan realisasi penyerapan dana Proyek dilakukan dengan membandingkan antara RPD dengan realisasi penyerapan dana Proyek.
PMK 277/PMK.05/2014 tentang Rencana dan
Bulanan
PMK 277/PMK.05/2014 tentang Rencana Penarikan Dana, Rencana Penerimaan Dana dan Perencanaan Kas :
Pasal 1:
Rencana Penarikan Dana (RPD) adalah rencana penarikan kebutuhan dana yang ditetapkan oleh KPA dalam rangka pelaksanaan kegiatan satuan kerja dalam periode satu tahun yang dituangkan dalam DIPA.
RPD Bulanan adalah rencana penarikan kebutuhan dana bulanan yang ditetapkan oleh KPA dalam rangka pelaksanaan kegiatan satuan kerja dalam periode satu tahun yang dituangkan dalam DIPA.
Pasal 3:
Ayat (1): Menteri/Pimpinan Lembaga selaku PA bertanggung jawab menyusun RPD.
Melakukan analisis terhadap RPD Bulanan untuk
memastikan bahwa RPD Bulanan yang disusun oleh PPK logis, realistis dan optimis, sehingga rencana yang disusun dapat dipertangungjawabkan dalam pelaksanaannya.
•Analisis, meliputi:
a. kesesuaian RPD Bulanan dengan target Penarikan Dana Satker;
b. kesesuaian RPD Bulanan dengan rencana umum pengadaan barang dan/atau jasa (procurement plan);
•Dalam hal analisis telah sesuai, KPA menetapkan RPD Bulanan tingkat Satker.
•Dalam hal berdasarkan analisis terdapat
ketidaksesuaian, KPA mengembalikan RPD Bulanan kepada PPK untuk dilakukan perbaikan.
Menyampaikan RPD Bulanan Tk. Satker:
•Kepada KPPN paling lambat akhir minggu kedua bulan Januari T.A. berkenaan.
•Kepada Unit Es. I K/L paling lambat akhir minggu pertama bulan Februari T.A. berkenaan.
Mengawasi, melakukan supervisi, dan memonitor pelaksanaan RPD.
Menyampaikan Pemutakhiran RPD Bulanan Tk. Satker kepada KPPN dan Unit Eselon I Kementerian
Negara/Lembaga, paling lambat akhir minggu pertama bulan Maret dan akhir minggu pertama bulan-bulan berikutnya dalam tahun anggaran berkenaan.
Tugas PPK & KPA Dalam Penyusunan RPD
(PMK No.277/PMK.05/2014)
Menyusun RPD Bulanan berdasarkan Target Penarikan Dana Tk. Satker:
•Paling sedikit memuat:
a. Rencana Pelaksanaan Kegiatan, keluaran dan jenis belanja (termasuk sumber dananya);
b. Periode penarikan; dan c. Jumlah nominal penarikan.
•Dengan langkah-langkah sbb:
a. mengidentifikasi jenis kegiatan, Kontraktual & Nonkontraktual (Rutin/Operasional & Swakelola), serta sumber dananya (RM, PLN, PNBP & SBSN) b. menetapkan waktu pelaksanaan kegiatan/time frame,
dengan mempertimbangkan efisiensi dan ketepatan waktu serta memperhatikan tahapan/urutan
pelaksanaan kegiatan;
c. menyusun rencana pelaksanaan kegiatan selama 1 (satu) tahun anggaran;
d. mengalokasikan dana sesuai rencana pelaksanaan kegiatan per bulan;
e. menuangkan rencana pelaksanaan kegiatan dan alokasi dana ke dalam RPD Bulanan;
f. membandingkan RPD Bulanan dengan target Penarikan Dana tingkat Satker; dan
g. melakukan penyesuaian RPD Bulanan apabila hasil analisis tidak mendukung pencapaian target
Penarikan Dana Satker.
Menyampaikan RPD Bulanan kepada KPA paling lambat 3 (tiga) hari kerja sebelum batas akhir penyampaian RPD Bulanan Tk. Satker disampaikan kepada KPPN.
Dalam menyusun pemutakhiran RPD Bulanan Tk. Satker, PPK melakukan langkah-langkah sbb:
1. Membandingkan realisasi anggaran dengan RPD Bulanan Tk. Satker;
2. Melakukan penyesuaian/perubahan atas rencana
pelaksanaan kegiatan (waktu) dan alokasi dana (rupiah) terhadap;
• Kegiatan yang ditunda;
• Kegiatan yang dipercepat pelaksanaannya;
• Revisi anggaran; dan/atau
• Hasil analisis KPA atau Es.I K/L.
3. Dalam hal terjadi perbedaan antara realisasi dengan RPD Bulanan Tk. Satker, maka selisihnya diperhitungkan dengan RPD Bulanan Tk. Satker bulan berikutnya;
4. Menuangkan penyesuaian/perubahan ke dalam pemutakhiran RPD Bulanan;
5. Menyusun penjelasan atas terjadinya penyesuaian/perubahan;
6. Meneliti kembali kesesuaian pemutakhiran RPD Bulanan Tk. Satker dengan Target Penarikan Dana yang telah ditetapkan;
7. Menyampaikan pemutakhiran RPD Bulanan Tk. Satker kepada KPA untuk dianalisis dan ditetapkan, untuk
selanjutnya disampaikan oleh KPA kepada KPPN dan Unit Es. I K/L, paling lambat akhir minggu pertama bulan Maret dan akhir minggu pertama bulan-bulan berikutnya dlm TA berkenaan.
8. Melakukan pengukuran capaian kinerja/outputatas
kegiatan yang telah dilaksanakan bds target kinerja, dg cara:
• Menyusun Daftar Kemajuan Rencana Pelaksanaan Kegiatan, yang memuat informasi tentang Uraian Kegiatan, Pagu, Realisasi, Beban DIPA, dan Waktu
Pemutakhiran RPD
(PMK No.277/PMK.05/2014)
RPD dapat mengalami perubahan atau penyesuaian, yang disebut pemutakhiran (updating), karena:
1. Percepatan pelaksanaan kegiatan, yang mengakibatkan percepatan penarikan dana;
2. Penundaan pelaksanaan kegiatan, yang mengakibatkan penundaan penarikan dana;
3. Revisi anggaran (dalam hal terdapat pergeseran/revisi anggaran, baik revisi POK maupun revisi DIPA,
pemutakhiran RPD dilakukan setelah revisi anggaran disahkan);
4. Perbedaan antara RPD Bulanan dengan realisasinya (dalam hal terdapat sisa RPD Bulanan yang belum terealisasi, maka perlu dilakukan penyesuaian dengan realisasinya dan harus direncanakan pada bulan-bulan berikutnya).
5. Hasil analisis PPK terhadap pelaksanaan kegiatan dan penarikan dana (dalam hal ini termasuk adanya perubahan rencana akibat suatu kondisi, misalnya penyelesaian pekerjaan yang tidak tepat waktu oleh pihak ketiga, adanya kebijakan baru dari Kantor Pusat K/L atau Pemerintah Pusat, dll.
Pemutakhiran RPD Bulanan dilaksanakan pada akhir bulan berkenaan, untuk digunakan sebagai dasar pengajuan Revisi Anggaran, berupa ralat RPD pada DIPA yang memuat RPD.
Monitoring dan Evaluasi Proyek SBSN
Monitoring dan Evaluasi Proyek SBSN
Kriteria Penilaian :
No.
Nilai Gap
Kriteria
1.
Gap < 25%
Baik
2.
25% ≤ Gap ≤ 75%
Kurang
3.
Gap > 75%
Rendah
Hasil Pemantauan & Evaluasi Triwulan
Realisasi Penyerapan Dana Proyek SBSN T.A. 2017
Keterangan:
Penilaian kinerja berdasarkan data realisasi dari Satker atau Aplikasi OM SPAN, dengan menggunakan kriteria dan metode penghitungan gap penyerapan dana berdasarkan PMK 120/2016
1) PAGU
Realisasi Proyek SBSN T.A. 2017
(miliar Rp)
NO. PEMRAKARSA PROYEK (K/L & ES.I)
PAGU REALISASI SISA
ALOKASI DIPA TA 2017
LANJUTAN/ LUNCURAN
TA 2016 TOTAL Rp % TOTAL
MYC DILUNCURKAN
TA 2018
SYC DILANJUTKAN
TA 2018
TIDAK DIGUNAKAN
1 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN 7.543,31 2.206,45 9.749,76 8.225,50 84,37 1.524.26 1,392,49 - 131,78
DITJEN PERKERETAAPIAN 7.543,31 2.206,45 9.749,76 8225,50 84,37 1.524,26 1.392,49 - 131,78
2 KEMENTERIAN AGAMA 1.791,93 69,66 1.861,59 1.658,34 89,08 203,25 - 144,50 58,75
1. DITJEN BIMAS ISLAM 315,68 - 315,68 308,46 97,71 7,22 - 1,82 5,40 2. DITJEN PENDIDIKAN ISLAM 1.051,67 18,23 1.069,90 975,49 91,18 94,41 - 72,28 22,13 3. DITJEN PHU 424,58 51,43 476,01 374,39 78,65 101,62 - 70,40 31,22
3 KEMENTERIAN PUPR 7.432,88 1.116,02 8.548,90 7.269,30 85,03 1.279,60 922,96 81,25 275,39
1. DITJEN BINA MARGA 4.700,00 1.116,02 5.816,02 4.806,76 82,65 1.009,26 829,49 72,26 107,50 2. DITJEN SUMBER DAYA AIR 2.732,88 - 2.732,88 2.462,54 90,11 270,34 93,47 8,99 167,89
Proyek SYC SBSN T.A. 2017 PTKIN
Yang Dilanjutkan T.A. 2018
No. Satker Pagu T.A. 2017 Realisasi Sisa DilanjutkanT.A. 2018 Dikembalikanke RKUN
Nilai %
1. UIN SUSKA Riau 43,447,086,000 28,358,609,056 65.27 15,088,476,944 11,692,278,000 3,396,198,944
2. IAIN Surakarta 38,578,800,000 27,671,715,530 71.73 10,907,084,470 7,183,785,000 3,723,299,470
3. IAIN Jambi 30,065,132,000 23,246,562,934 77.32 6,818,569,066 6,717,000,000 101,569,066
4. IAIN Ponorogo 28,075,600,000 25,415,502,906 90.53 2,660,097,094 2,659,923,000 174,094
5. STAIN Kediri 35,179,437,000 26,319,366,022 74.81 8,860,070,978 8,782,324,000 77,746,978
6. STAIN Bangka Belitung 35,000,000,000 15,838,883,949 45.25 19,161,116,051 18,495,952,000 665,164,051
7. STAIN Pamekasan 19,899,000,000 15,138,497,800 76.08 4,760,502,200 4,560,645,000 199,857,200
8. STAIN Watampone 50,850,500,000 36,380,232,536 71.54 14,470,267,464 12,186,486,000 2,283,781,464
Total 281,095,555,000 198,369,370,733 70.57 82,726,184,267 72,278,393,000 10,447,791,267
Keterangan:
Evaluasi Realisasi Penyerapan Dana terhadap RPD Bulanan
Periode Januari s.d. Maret 2018
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD 100 259 447 - - - -SPM - 97 370 - - - -% - 37 83 - - -
-37 83 10 20 30 40 50 60 70 80 90 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
Ditjen KA
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD - 0 0 - - - -SPM - - 0 - - -
-57 - - - 10 20 30 40 50 60 70 0 0 0 0 0 0 0
B S N
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD 416 355 577 - - - -SPM - 85 242 - - - -% - 24 42 - - -
-24 42 - - - 5 10 15 20 25 30 35 40 45 100 200 300 400 500 600 700
Ditjen BM
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD 197 655 546 - - - -SPM 234 302 245 - - - -% 119 46 45 - - -
-119
46 45
- - - 20 40 60 80 100 120 140 100 200 300 400 500 600 700
Ditjen SDA
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD - 18 26 - - - -SPM - - 17 - - -
-65 - - - 10 20 30 40 50 60 70 5 10 15 20 25 30
Ditjen SDID
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD - - - -SPM - - -
-- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1
Ditjen KSDAE
Evaluasi Realisasi Penyerapan Dana terhadap RPD Bulanan
Periode Januari s.d. Maret 2018
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD - 36 93 - - - -SPM - - 32 - - - -% - - 34 - - -
-34 5 10 15 20 25 30 35 40 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Dit. PTKI
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD 724 1.3 1.7 - - - -SPM 234 484 916 - - - -% 32 36 53 - - -
-32 36 53 10 20 30 40 50 60 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 2.000
Total SPM Terhadap RPD
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD 0 0 1 - - - -SPM - - 0 - - - -% - - 48 - - -
-48 - - - 10 20 30 40 50 60 0 0 0 0 1 1 1 1
Dit. KSKK Madrasah
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD - - 11 - - - -SPM - - 8 - - - -% - - 78 - - -
-78 -- -- -- -- -- -- -- 10 20 30 40 50 60 70 80 90 2 4 6 8 10 12
L I P I
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD 10 18 35 - - - -SPM - 1 1 - - - -% - 3 3 - - -
-3 3
- - - 1 1 2 2 3 3 4 5 10 15 20 25 30 35 40
Ditjen PHU
miliar Rp %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 RPD - - - -SPM - - 1 - - - -% - - - -1 -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1
Ditjen BIMAS
miliar Rp %
Mekanisme Penyelesaian Pekerjaan Kontrak Tahunan Proyek SBSN
Yang Tidak Selesai s.d. Akhir Tahun Anggaran
Surat Usulan Revisi Anggaran atas sisa alokasi dana proyek untuk ditambahkan
pada DIPA TA berikutnya
(pengajuan paling lambat sebelum batas akhir penyelesaian sisa pekerjaan yang tercantum dalam surat pernyataan
Surat Pemberitahuan
Surat Pernyatan Kesanggupan:
•sanggup menyelesaikan sisa pekerjaan paling lama 90 hari kalender sejak berakhirnya masa pelaksanaan pekerjaan
•bersedia dikenakan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan
•tidak menuntut denda/ bunga apabila terdapat keterlambatan pembayaran pd TA berikutnya akibat keterlambatan penyelesaian revisi anggaran
Penyedia Barang/Jasa
PPK
KPA
KPPN
DJA/Kanwil DJPB
Membuat surat pernyataan kesanggupan (yg dttd di
atas kertas bermaterai)
Melakukan penelitian bahwa Penyedia Barang/Jasa akan
mampu menyelesaikan
keseluruhan pekerjaan setelah
diberikan kesempatan 90 hari
kalender sejak berakhirnya masa
pelaksanaan pekerjaan.
•Mempertimbangkan dan
memutuskanuntuk melanjutkan penyelesaian sisa pekerjaan ke TA berikutnya:
› dapat berkonsultasi dengan APIP
› bertanggung jawab scr formal & material
•Melaksanakan revisi anggaran
Menindaklajuti usulan revisi anggaran
(dg menambah pagu anggaran tahun berikutnya sepanjang sumber pendanaannya masih tersedia) Melakukan perubahan/addendum
kontrak (dg mencantumkan sumber dana dr DIPA
TA berikutnya)
Melanjutkan penyelesaian sisa pekerjaan (sesuai dg perubahan/addendum kontrak) 2b 2a Menindaklanjuti Surat Pemberitahuan
(yg sdh hrs diterima paling lambat 5 hari kerja setelah akhir TA
berkenaan)
2c 1a
1b
1c
PMK No.25/PMK.05/2016 (Pasal 22 –28)
* Revisi anggaran sesuai ketentuan PMK mengenai Tata Cara Revisi
Anggaran
• Tata cara pembayaran pd akhir TA sesuai ketentuan PMK mengenai Pedoman Pelaksanaan Penerimaan * Addendum Kontrak
dilaksanakan sebelum jangka waktu Kontrak
Prinsip Pembayaran Pengeluaran Negara
Pasal 4:
Tahun Anggaran meliputi masa satu tahun mulai tanggal 1 Januari sampai
dengan 31 Desember.
UU No.17/2003
Pasal 21:
Pembayaran atas beban APBN/APBD tidak boleh dilakukan sebelum
barang/jasa diterima.
UU No.1/2004
Pasal 157:
Dalam mengendalikan saldo Kas Negara serta persiapan tutup buku pada
akhir tahun anggaran, Menteri Keuangan berwenang mengatur
Penerimaan Negara dan Pengeluaran Negara pada akhir tahun anggaran.
PP No.45/2013
Pasal 39 ayat (1):
Penerima hak mengajukan tagihan kepada negara atas komitmen
berdasarkan bukti-bukti yang sah untuk memperoleh pembayaran.
PMK No.190/2012
Pasal 7 ayat (1):
Permintaan atas pembayaran untuk tagihan pihak ketiga atas kontrak yang
Prinsip Pembayaran Pengeluaran Negara
Pasal 3
(1) Pembayaran atas beban APBN tidak boleh dilakukan sebelum barang
dan/atau jasa diterima.
(2) Pembayaran atas beban APBN dapat dilakukan sebelum barang dan
atau jasa diterima dalam hal terdapat kegiatan yang karena sifatnya
harus dilakukan pembayaran terlebih dahulu.
(3) Pembayaran atas beban APBN untuk kegiatan yang karena sifatnya
harus dilakukan pembayaran terlebih dahulu sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dilakukan setelah penyedia barang dan/atau jasa
PMK No.145/PMK.05/2017
Denda Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan Proyek SBSN mengikuti ketentuan Perpres tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (
Perpres Nomor 54 Tahun 2010 Jo. Nomor 35 Tahun 2011
dikenakan denda keterlambatan sebesar 1/1000 (satu perseribu)
dari nilai Kontrak atau
nilai bagian Kontrak
untuk setiap hari keterlambatan.
Denda Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan Proyek SBSN mengikuti ketentuan Perpres tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (
Perpres Nomor 54 Tahun 2010 Jo. Nomor 35 Tahun 2011
Jo. Nomor 70 Tahun 2012 Jo. Nomor 172 Tahun 2014 Jo. Nomor 4 Tahun 2015
):
Pasal 120 Perpres 70 Tahun 2012 :
Penyedia Barang/Jasa yang terlambat menyelesaikan pekerjaan dalam jangka waktu
sebagaimana ditetapkan dalam Kontrak karena kesalahan Penyedia Barang/Jasa,
dikenakan denda keterlambatan sebesar 1/1000 (satu perseribu)
dari nilai Kontrak atau
nilai bagian Kontrak
untuk setiap hari keterlambatan.
Denda Keterlambatan (1)
×
Pasal 120 Perpres 54 Tahun 2010 :
Penyedia Barang/Jasa yang terlambat menyelesaikan pekerjaan dalam jangka waktu
1/1000 (satu perseribu)
dari harga Kontrak atau bagian Kontrak
untuk setiap hari
keterlambatan
dan tidak melampaui besarnya Jaminan Pelaksanaan.
×
Pasal 120 Perpres 54 Tahun 2010 :
Penyedia Barang/Jasa yang terlambat menyelesaikan pekerjaan dalam jangka waktu
sebagaimana ditetapkan dalam Kontrak, dapat dikenakan denda keterlambatan sebesar
1/1000 (satu perseribu)
dari harga Kontrak atau bagian Kontrak
untuk setiap hari
keterlambatan
dan tidak melampaui besarnya Jaminan Pelaksanaan.
Kesimpulan: Dalam Pasall 120 Perpres Nomor 70 Tahun 2012 tidak ditentukan maksimal
denda keterlambatan sebesar Jaminan Pelaksanaan
(sebagaimana diatur dalam Pasal 70
Perpres Nomor 54 Tahun 2010 adalah sebesar 5% dari dari Nilai Kontrak).
Denda Keterlambatan (2)
PMK 25/PMK.05/2016, Pasal 25 :
Ayat (2):
Perhitungan pengenaan denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dimulai sejak
berakhirnya masa kontrak sampai dengan serah terima pekerjaan
.
PMK 25/PMK.05/2016, Pasal 25 :
Ayat (2):
Pengenaan denda atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan
diperhitungkan pada
saat pembayaran termin terakhir kontrak pekerjaan
.
Ayat (3):
Perhitungan pengenaan denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dimulai sejak
berakhirnya masa kontrak sampai dengan serah terima pekerjaan
.
PMK 25/PMK.05/2016, Pasal 26 :
PMK 25/PMK.05/2016, Pasal 26 :
Ayat (1):
Penyelesaian sisa pekerjaan yang dilanjutkan ke TA berikutnya,
tetap merupakan
pekerjaan dari kontrak berkenaan.
Ayat (2):
Dalam rangka penyelesaian sisa pekerjaan yang dilanjutkan ke TA berikutnya,
PPK
melakukan perubahan kontrak berkenaan dengan mencantumkan sumber
Revisi Anggaran Proyek SBSN (1)
Revisi Anggaran dalam hal Pagu Anggaran Berubah, yaitu perubahan angaran dalam rangka lanjutan
pelaksanaan Kegiatan/Proyek yang dananya bersumber dari sisa dana penerbitan SBSN yang tidak terserap
pada tahun sebelumnya, terdiri dari:
Kegiatan/Proyek Kontrak Tahunan (Single Year Contract /SYC):
berupa lanjutan pelaksanaan Kegiatan/Proyek TA 2017 yang tidak terselesaikan s.d. akhir masa
kontrak dalam TA 2017 dan penyelesaiannya dilanjutkan ke TA 2018 untuk paling lama 90 hari
kalender sejak berakhirnya masa pelaksanaan pekerjaan;
bersifat menambah Pagu Belanja yang bersumber dari SBSN TA 2018;
dapat diikuti dengan perubahan rincian pendanaan SBSN, dengan mencantumkan dalam Addendum
Kontrak yang dibuat sebelum masa kontrak berakhir pada tahun 2017.
Usulan Revisi Anggaran diajukan kepada DJA paling lambat 30 Januari 2018.
Kegiatan/Proyek Kontrak Tahun Jamak (Multi Years Contract /MYC):
berupa lanjutan pelaksanaan Kegiatan/Proyek tahun-tahun anggaran sebelumnya yang jangka waktu
Persetujuan MYC-nya belum berakhir;
bersifat menambah Pagu Belanja yang bersumber dari SBSN TA 2018;
dapat diikuti perubahan komposisi pendanaan antartahun dari MYC yang telah ditetapkan oleh
Menkeu.
Usulan Revisi Anggaran diajukan kepada DJA paling lambat
30 Januari 2018
.
Sisa dana Kegiatan/Proyek MYC SBSN yang tidak terserap pada TA 2017 dapat digunakan untuk
membiayai Kegiatan/Proyek MYC lainnya dalam satu Program dan tidak dapat digunakan untuk
membiayai Kegiatan/Proyek lain yang belum mendapatkan alokasi anggaran.
Revisi Anggaran Proyek SBSN (2)
Revisi Anggaran dalam hal Pagu Anggaran Tetap
Pergeseran anggaran dalam rangka penyelesaian sisa kewajiban pembayaran Kegiatan/Proyek
yang dibiayai melalui SBSN yang melewati tahun anggaran sesuai hasil audit BPKP, dengan
ketentuan:
1) dapat dilakukan setelah diaudit oleh BPKP;
2) merupakan tanggung jawab K/L;
3) dilakukan dengan mengurangi alokasi SBSN K/L pada tahun 2018 dalam jumlah yang sama
dengan sisa kewajiban pembayaran Kegiatan/Proyek yang dibiayai melalui SBSN tahun
sebelumnya sesuai dengan hasil audit BPKP.
Pergeseran anggaran dalam rangka rekomposisi pendanaan antartahun untuk Kegiatan Kontrak
Tahun Jamak yang dibiayai melalui SBSN, dengan ketentuan:
1) dapat berupa percepatan pelaksanaan Kegiatan/Proyek yang dananya bersumber dari
SBSN;
2) dapat menggunakan sisa dana penerbitan SBSN yang tidak terserap pada tahun-tahun
sebelumnya termasuk dengan memanfaatkan sisa dana SBSN Kegiatan/Proyek yang lain
sepanjang dalam 1 (satu) Program yang sama; dan/atau
3) tidak menyebabkan penambahan jumlah penerbitan SBSN pada TA 2018 .
Penggunaan Sisa Anggaran Kontraktual
Pergeseran Anggaran Dalam Rangka Penggunaan Sisa Anggaran Kontraktual atau Swakelola.
Pergeseran anggaran dalam rangka penggunaan Sisa Anggaran Kontraktual atau Swakelola
merupakan Sisa Anggaran Kontraktual, termasuk addendum kontrak sampai dengan 10% (sepuluh
persen), atau Sisa Anggaran Swakelola yang dilakukan dalam 1 (satu) Program yang sama.
Pada prinsipnya Sisa Anggaran Kontraktual atau Swakelola dapat digunakan untuk:
•
meningkatkan volume keluaran (output) pada Kegiatan yang sama;
•
meningkatkan volume keluaran (output) pada Kegiatan lain dalam Program yang sama; dan/atau
•
memenuhi kekurangan Belanja Operasional.
Pergeseran Anggaran Dalam Rangka Penggunaan Sisa Anggaran Kontraktual atau Swakelola Untuk
Menambah Volume Keluaran (Output).
•
Sisa anggaran dapat diketahui setelah pelaksanaan anggaran:
untuk Kegiatan kontraktual, setelah kontrak ditandatangani meskipun Kegiatan belum
sepenuhnya selesai dikerjakan.
untuk Kegiatan swakelola, setelah Kegiatan selesai dilaksanakan.
•
Pada prinsipnya sisa anggaran Kegiatan kontraktual atau swakelola dapat digunakan oleh Satker
untuk mendanai Kegiatan yang sama atau Kegiatan yang lain.
•
Dalam rangka pengamanan pelaksanaan APBN, sisa anggaran kontraktual atau swakelola tidak
Struktur SBSN
Ijarah Asset to be Leased
1. Pemesanan obyek ijarah
3. Penerbitan SBSN 4. Pr
oce ed s Pembangunan Proyek 5. Proceeds 8. Pe m bay ar an Im bal an S BS N
10. Pembelian Aset SBSN pada saat jatuh tempo (akad bai’)
12. Pelunasan SBSN
9. BAST Proyek 7. Pembayaran uang sewa (ujrah)
SPV
A. Penerbit B. Wali amanat C. Pemberi Kuasa D. Pemberi Sewa
INVESTOR
6. Akad IjarahAsset to be Leased
11. Pembayaran Aset SBSN
: Akad/perjanjian : Cash flow
GoI
- Penyewa - PembeliGoI
Wakil/ Penerima Kuasa2a. Pemberian kuasa (Akad Wakalah) pembangunan Proyek
Keterangan Struktur SBSN:
Ijarah –
Asset to be Leased
I. Penerbitan SBSN:
1. Pemesanan Obyek Ijarah dengan spesifikasi tertentu oleh Pemerintah kepada Perusahaan Penerbit SBSN (PP SBSN) untuk disewa melalui akad Ijarah Asset to be Leased.
2a. Pemberian kuasa (Wakalah Agreement) oleh PP SBSN kepada Pemerintah dalam rangka pembangunan proyek yang akan dijadikan sebagai obyek Ijarah.
2b. Pembelian (Akad Bai’) tanah dan/atau bangunan yang berupa Barang Milik Negara yang akan dijadikan sebagai bagian obyek Ijarah (dalam hal diperlukan).
3. Penerbitan SBSN oleh PP SBSN sebagai bukti atas bagian penyertaan investor terhadap Aset SBSN 4. Dana hasil penerbitan SBSN(Proceeds) dari investor kepada PP SBSN.
5. Proceeds dari PP SBSN (Pemberi Kuasa) kepada Pemerintah (Wakil). II. Pembayaran Imbalan SBSN
6. AkadIjarah Asset to be Leased antara Pemerintah (Penyewa) dengan PP SBSN (Pemberi Sewa).
7. Pembayaran uang sewa (ujrah) secara periodik oleh Pemerintah kepada PP SBSN, untuk diberikan kepada investor sebagai imbalan SBSN.
8. Pembayaran imbalan SBSN secara periodik kepada investor melalui Agen Pembayar.
9. Penandatangan Berita Acara Serah Terima (BAST) proyek antara Pemerintah (wakil) dan PP SBSN (Pemberi Kuasa).
III. Jatuh Tempo SBSN:
10. Pembelian Aset SBSN oleh Pemerintah dari pemegang SBSN melalui Perusahaan Penerbit SBSN (Akad Bai’) pada saat jatuh tempo.
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.
Terima Kasih
Direktorat Pembiayaan Syariah
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko
Kementerian Keuangan
Gedung Frans Seda Lantai 5
Jalan Dr. Wahidin Raya Nomor 1
Jakarta 10710
+(62) 21 - 351 6296, 3449230 ext 2502 [email protected]
www.djppr.kemenkeu.go.id