PEMAHAMAN STRUKTURASI ATAS PRAKTIK AUDIT INVESTIGATIF PADA KANTOR PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA
(Studi Kasus Tindak Pidana Korupsi) Oleh :
Gemalia Dwi Agustina 0210233036
dan:
Drs. M. Achsin, SH., MM., Ak. UNIVERSITAS BRAWIJAYA – MALANG
2008
PENDAHULUAN
Salah satu upaya Pemerintah untuk menanggulangi tindak korupsi adalah dengan melaksanakan audit investigatif. BPK-RI sebagai lembaga yag dipercaya dan memiliki kewenangan dalam melaksanakan audit investigatif serta terpercaya dalam memberantas korupsi. Audit investigatif diawali dengan pembentukan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan dunia bisnis. Peraturan-peraturan tersebut dibuat seiring dengan meningkatnya penyelewengan pada kontrak-kontrak pemerintah dan semakin merebaknya kejahatan kerah putih (white collar crime)1 terhadap kepentingan publik. Praktik Audit investigatif BPK-RI
sendiri dilaksanakan tidak hanya di kantor pusat, melainkan juga di kantor-kantor perwakilan. Masing-masing kantor perwakilan memiliki kewenangan untuk melakukan audit Investigatif, dan nantinya laporannya akan diserahkan kepada BPK-RI pusat dan DPR/DPRD. Audit Investigatif menjadi sangat penting terutama apabila nanti hasil audit menunjukkan bukti adanya pelanggaran hukum materiil dan formil2, maka hasil laporan audit investigatif akan diserahkan kepada kejaksaan untuk diproses secara hukum (Karni, 2000, 118).
Pelaksanaan audit investigatif pada Perwakilan BPK-RI di Surabaya melibatkan semua pihak, mulai pimpinan, para pejabat struktural, tim konsulen hukum, dan auditor investigatif. Adanya hubungan auditor dengan pejabat struktural sejalan dengan pemikiran Giddens (2003) mengenai strukturasi, dimana adanya keterkaitan auditor sebagai agen, dan BPK-RI sendiri sebagai struktur.
Salah satu proporsi utama teori strukturasi adalah bahwa aturan dan sumberdaya yang digunakan dalam produksi dan reproduksi merupakan tindakan sosial sekaligus alat reproduksi sistem, yang disebutnya sebagai dualitas struktur (Giddens, 2003, 22). Teori strukturasi menyebutkan bahwa pelaku (agency) dan struktur saling berkaitan, tidak ada
1Disebut sebagai kejahatan kerah putih (white collar crime) karena orang yang biasanya melakukan kecurangan
atau korupsi biasanya memakai kemeja putih dan berkerah (Karni, 2000, 35).
”struktur tanpa pelaku, sebagaimana tidak ada tindakan tanpa struktur” (Priyono, 2002, x). Pelaku secara refleksif bisa merubah atau menentukan struktur yang telah ada, yang artinya bisa menjadi tuan atas nasibnya sendiri, maka dari itu penulis mengambil judul:
”Pemahaman Strukturasi atas Praktik Audit Investigatif pada Perwakilan BPK-RI Di Surabaya”.
Penelitian ini difokuskan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai :
(1) Bagaimanakah praktik audit investigatif pada Perwakilan BPK RI di Surabaya?
(2) Bagaimanakah peran auditor dan organisasi dalam konteks interaksi? (3) Bagaimanakah peran individu dan organisasi dalam lingkungan sosial?
KAJIAN LITERATUR Kecurangan
Pengertian kecurangan ialah serangkaian irregularities dan illegal acts yang dilakukan untuk menipu atau memberikan gambaran kekeliruan terhadap pihak lain yang dilakukan pihak intern dan ekstern suatu organisasi dengan tujuan menguntungkan dirinya sendiri dan oang lain dengan merugikan orang lain (Anonim, 2000) dalam (Widayanti dan Subekti, 2001, 100). Pengertian kecurangan sesuai Standar Profesional Akuntan Publik (PSA No.70 seksi 316.2 paragraf 4) adalah salah saji atau penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk mengelabuhi pemakai laporan keuangan.
Korupsi
Korupsi merupakan permasalahan yang komplek. Korupsi sudah ada sejak zaman dahulu sampai sekarang. Dengan adanya otonomi daerah, korupsi semakin tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Misalnya saja, pada tahun 2004 terungkapnya kasus korupsi terjadi hampir di seluruh pemerintahan daerah dengan nilai yang sangat material, membuktikan bahwa praktik korupsi telah semakin banyak terjadi. Upaya membasmi korupsi bukanlah pekerjaan yang mudah, ibarat “memutus siklus lingkaran setan” yang tidak akan ada habisnya. Selanjutnya, kata korupsi berasal dari bahasa latin corruptio berarti penyuapan, dan coruptore berarti merusak. Gejala dimana pejabat, badan-badan negara telah menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan, pemalsuan, serta ketidakberesan dan lainnya. Adapun arti harfiah korupsi diartikan sebagai kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan, dan ketidakjujuran (Hartanti, 2006, 8). Unsur-unsur tindak pidana korupsi menurut UU No. 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi adalah : (a) melakukan perbuatan melawan hukum, (b) merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, (c) menyalahgunakan kekuasaan, kesempatan atas sarana yang ada padanya karena jabatan dan kedudukannya dengan tujuan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.
kesadaran inilah nantinya bisa menjadi suatu kebiasaan yang baik, sehingga nantinya bangsa ini benar-benar bebas dari praktik korupsi.
Audit Investigatif
Istilah audit investigatif di lingkungan lembaga pemerintahan seperti BPK sudah umum dan sering dipakai oleh BPK, BPKP dan KPK, sedangkan menurut Indonesian Corruption Watch (2004, 1) pelaku investigatif digolongkan menjadi dua yaitu:
1) Investigatif internal dilakukan oleh BPK, BPKP, KPK, Inteljen, SPI.
2) Investigatif eksternal (publik) dilakukan oleh Ormas, LSM, Parpol, dan wartawan.
Menurut BPK-RI sendiri pengertian audit investigatif ialah pemeriksaan yang bertujuan untuk mengungkapkan ada tidaknya indikasi kerugian negara atau daerah dan atau unsur pidana. ICW (2004, 3) membagi tahapan pelaksanaan audit investigatif menjadi 8 tahap yaitu: petunjuk awal, pengembangan informasi awal, wawancara ahli dan pendalaman literatur, pencarian informasi dan dokumen, pengorganisasian data dan menganalisis, pelaporan, pengumuman hasil ke pihak internal, serta pengumuman hasil kepada publik.
METODE PENELITIAN
bingkai rujukan seseorang yang terlibat langsung, bukan sebagai pengamat. (Mardiko dan Albert. K, 2006, 5)
Peneliti menggunakan metode penelitian studi kasus, Menurut Widjanarti, dkk (1999,1) studi kasus merupakan strategi riset yang terfokus pada pemahaman terhadap sesuatu yang dinamis dalam konteks tunggal. Studi kasus dapat digunakan untuk memberikan gambaran terhadap suatu masalah, pengujian teori, atau pembentukan teori. Obyek penelitian dilakukan pada kantor Perwakilan BPK-RI di Surabaya, yang berada di jalan Kendang Sari Nomor 45-47 Surabaya.
Analisis penelitian ini menggunakan teori strukturasi berarti mengkaji tempat produksi dan direproduksinya sistem-sistem interaksi tindakan atau praktik sosial. Mengacu pada teori strukturasi, domain dasar kajian ilmu-ilmu sosial bukanlah pengalaman individual maupun keberadaan bentuk totalitas kemasyarakatan, namun merupakan praktik-praktik sosial yang ditata menurut ruang dan waktu (Priyono, 2002, 36). Dengan demikian upaya rekontruksi audit investigatif dalam konteks organisasi BPK-RI ini, peneliti tidak hanya memperhatikan auditor (sebagai aktor) atau organisasi BPK-RI sebagai totalitas kemasyarakatan (struktur), tetapi juga lebih penting dari itu adalah interaksi yang terjadi diantara keduanya dalam konteks ruang dan waktu. Adanya praktik audit investigatif sendiri terwujud bukan dari peran agen saja atau strukturnya saja, melainkan hasil interaksi diantara keduanya. Auditor yang bertindak sebagai agen mempunyai nilai-nilai yang tidak sama dengan struktur, dari situ muncul kebijakan-kebijakan dalam hal ini sangat menpengaruhi struktur, sehingga menimbulkan strukturasi.
diri individu untuk berperilaku etis, teori tersebut disebut kecerdasan spiritual (SQ). Penajaman itu dipandang perlu utuk dilakukan sebab teori strukturasi banyak mengacu pada teori psikoanalisis yang dikembangkan oleh sigmud Freud yang kemudian dilanjutkan oleh Erick H. Erikson dengan tambahan adopsi ilmu sosial didalamnya (Giddens, 2003, 49-80). Teori psikoanalisis untuk saat ini (id, ego, dan superego) dianggap tdak lagi sesuai dalam menjelaskan keadaan diri individu.
IQ merupakan bentuk kemampuan seseorang menggunakan daya nalar seperti membaca, menulis, dan menghitung. EQ merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri, semangat, ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri dalam menghadapi dorongan hati dan perasaan (Daniel, 1995). SQ (kecerdasan spiritual) merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai apakah hidup kita lebih bermakna dari yang lain. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, dan bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi (Zohar dan Marshall, 2001, 4) dalam Ludigdo (2005, 65).
”Agen dan struktur merupakan suatu kesatuan yang utuh dalam menghadapi dunia sosial”.
Praktik audit invetigatif tersebut tidak terlepas dari peran auditor (agen) dan organisasi (struktur) sebagai satu kesatuan yang memperoleh pengaruh dari lingkungan sosial, dari situ akhirnya muncul berbagai kebijakan dan kekuatan dari agen dan struktur dalam menghadapi pengaruh tersebut.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Memahami Praktik Audit Investigatif
BPK-RI di Surabaya sendiri mulai dibentuk tanggal 7 Juni 2006, berdasarkan Surat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia No.12/SK/I-VII.3/7/2004 Tentang Organisasi dan Tata Kerja BPK-RI. Peresmian dilakukan oleh Anwar Nasution selaku kepala BPK-RI Pusat. BPK-RI terdiri atas 13 karyawan sebagai pejabat struktural dan 114 pejabat fungsional, termasuk auditor. Dari penelitian yang dilakukan pada kantor perwakilan BPK-RI di Surabaya menunjukkan bahwa pelaksanaan audit investigatif bertujuan untuk membuktikan ada tidaknya tindak pidana korupsi yang terjadi di suatu organisasi. Dalam melaksanakan audit investigatif, auditor menggunakan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang di dalamnya mencakup Standar Profesional Akuntan Publik, serta panduan manajemen pemeriksaan investigatif yang dikeluarkan BPK-RI dalam melaksanaan tugas tersebut. Yang terpenting bagi auditor adalah memahami Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Studi Kasus Korupsi Kabupaten Badung di Bali
maka Dewan akan mengancam memberhentikan Bupati sebelum masa jabatannya berakhir dengan mengajukan surat pemberhentian kepada Menteri Dalam Negeri. Karena kekhawatiran Bupati terhadap ancaman Dewan dan keinginannya untuk mempertahankan jabatannya, akhirnya Bupati mau mengabulkan permintaan dewan tersebut, dana yang diberikan kepada dewan diperoleh dari APBD. Dalam kasus tersebut terdapat empat penyimpangan yaitu: (1) bantuan keuangan kepada DPRD, (2) biaya asuransi, (3) uang purna bakti DPRD, dan (4) bantuan keuangan kunjungan kerja DPRD.
ternyata membuktikan adanya tindak pidana korupsi di kabupaten Badung, maka laporan audit Investigatif akan diserahkan kepada kejaksaan untuk ditindaklanjuti dan diproses secara hukum. Berdasarkan hasil pemeriksaan audit investigatif tersebut ketua tim audit diminta memberikan keterangan berdasarkan keahliannya di pengadilan.
Kesadaran Individu Dalam Praktik Audit Investigatif
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada kantor Perwakilan BPK-RI di Surabaya, menunjukkan bahwa sesungguhnya dalam menjalankan peranannnya ketua tim beserta anggotanya (agen) mengaplikasikan kesadarannya dalam praktik audit investigatif, dan agen memiliki daya ubah yang kuat dalam mengubah struktur. Giddens memberikan sebuah jawaban, bahwa pelaku tahu, tapi belum tentu sadar. Terlebih ketika conscious dipahami sebagai penjelasan secara rinci, sistematis dan gamblang. Giddens membagi tiga dimensi internal pelaku. Pertama, motivasi tak sadar (unconscious motives) yang menyangkut keinginan atau kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan tapi bukan tindakan itu sendiri. Kedua, kesadaran diskursif (discursive consciousnes) yang mengacu pada kapasitas manusia dalam merefleksikan dan memberi penjelasan eksplisit dan rinci atas tindakan yang kita lakukan. Ketiga, kesadaran praktis (practical consciousness) menunjuk pada gugus pengetahuan praktis yang tidak selalu bisa diurai. Kemudian Ludigdo (2005) mengembangkan tingkat kesadaran individu dengan menambahkan kesadaran spiritual. Kesadaran spiritual merupakan kemampuan seseorang dalam memberikan penghayatan dalam setiap tindakan atau perilaku, sehingga menjadikan hidup lebih bermakna demi menuju manusia seutuhnya.
Kesadaran Diskursif
upaya kesepakatan dari pihak-pihak yang terlibat kasus korupsi. Pada saat itu Pak Kardi diajak ke showroom mobil oleh salah satu pihak yang terlibat kasus korupsi, tawaran itu cukup menggiurkan, yaitu mobil new kijang, seharga Rp 200 juta, namun tawaran tersebut langsung ditolak. Sesuai dengan pernyataan Pak Kardi bahwa ”tak perlu beginian, terima kasih atas penawarannya tapi saya tidak bisa menerimanya karena saya sudah dimakmurkan oleh negara, kalaupun anda tidak bersalah mengapa harus takut”. Penolakan Pak Kardi tersebut merupakan refleksi dari kepribadiannya, ”Sopo kang nandhur, bakal ngunduh wohing pakarti” dia menyakini bahwa siapapun yang berbuat baik maka akan mendapatkan kebaikan, sebaliknya siapa yang berbuat keburukan, maka Tuhan akan memberikan imbalan yang buruk pula, sebab sekali seorang berbuat tidak baik dan tidak adil pada orang lain sesungguhnya dia berbuat tidak adil dan menanam keburukan pada dirinya sendiri.
Motivasi Tidak Sadar
Motivasi tidak sadar di wujudkan dengan keberanian yang di miliki Pak Kardi, Anita, Sandi dan Edi. Dia selalu memegang prinsip “becik ketitik ala ketara”, bagi dirinya tidak akan pernah merasa takut dengan siapapun, entah itu bupati, anggota DPRD, maupun ketua DPRD atau lainnya. “Umumnya auditor sering merasa tertekan jika berhadapan dengan pejabat tinggi tetapi saya tidak, bagi saya siapapun orangnya jika salah pasti saya libas, sebab itu bagian dari perjuangan kami. Saya ingat betul ketika saya meminta keterangan dengan anggota dewan, ada yang berbelit-belit langsung saya bentak-bentak, saya maki-maki dia di depan para stafnya, pada akhirnya dia mau mengakui telah menerima uang purna bakti sebesar seratus juta”. Timbulnya keberanian tersebut karena adanya dorongan dari dalam hati, dimana dia ingin menciptakan praktik audit investigatif yang jujur dan transparan.
Kesadaran Praktis
dan proses yang panjang, analisa lebih detail, prosedur yang berbelit-belit. Namun auditor dilarang untuk memperlambat atau tidak melaporkan hasil audit investigatif kepada pihak yang berwenang, hal ini akan melanggar pasal 36 Undang-Undang No. 15 tahun 2006 tentang BPK, yang berbunyi Anggota BPK yang memperlambat atau tidak melaporkan hasil audit yang mengandung unsur pidana kepada instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp.3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Kesadaran Etis
Kesadaran etis diwujudkan dengan keyakinan dan keimanan yang dimiliki Pak Kardi dengan anggota timnya. Dimana pada saat itu mereka mendapat ancaman akan dibunuh oleh pihak-pihak yang terlibat kasus korupsi. Pak Kardi meyakinkan kepada anggota timnya bahwa bahwa hidup mati seseorang ditentukan oleh Tuhan, maka Pak Kardi hanya memberi petuah bijak: ”Ancaman dan tekanan merupakan sego jangan bagi profesi kita, kita jangan pernah takut pada ancaman tersebut, kalaupun seseorang mau membunuh, tidak akan disampaikan terlebih dahulu, ya kalau ada niat pasti akan dilaksanakan, tapi kalau belum belum sudah mengancam, maka saya pastikan niatnya tidak akan dilakukan”. Pemahaman akan konsepsi ini tidak mungkin bila hanya akan mengandalkan akal dan kalbu saja. Hal ini disebabkan manusia memiliki keterbatasan, diantaranya manusia tidak dapat menembus dimensi ruang dan waktu, seseorang tidak akan pernah tahu dimana dan kapan akan mati, dan tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok, oleh sebab itu manusia hanya bisa pasrah dan berserah diri pada Tuhan.
Pemahaman Strukturasi Atas Praktik Audit Investigatif
legitimasi, dan dominasi) dalam (Priyono, 2003, 2004). Organisasi BPK-RI merupakan organisasi yang formal yang memiliki seperangkat aturan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang. Aturan tersebut didokumentasikan dalam Undang-Undang No.15 tahun 2006 tentang BPK-RI. Tugas BPK-RI memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerinrtah daerah, sedangkan wewenangnya menentukan objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan, menentukan waktu dan metode pemeriksaan serta menyusun dan menyajikan laporan pemeriksaan keuangan Negara. Dengan demikian aturan tersebut dibuat bukan hanya memenuhi aspek legalitas, atau lebih tepatnya dalam padangan Giddens disebut sebagai unsur legitimasi dari struktur sosial, namun aturan tersebut dibuat untuk menjaga kualitas organisasi sehingga tercipta praktik audit yang efektif, efisien serta terwujudnya pemerintahan yang bersih dari unsur korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Kewenangan atas praktik auditor sepenuhnya berada ditangan ketua tim. Ketua tim memiliki tanggung jawab terhadap pelaksanaan dan hasil audit investigatif, menetapkan segala keputusan, selain itu juga menetukan program pemeriksaan dan pembagian tugas anggota timnya. Hal ini menunjukkan aspek dominasi dari ketua tim telah berjalan, namun yang perlu disadari disini ialah tidak sepenuhnya aspek dominasi berperan, ada keterbatasan-keterbatasan (constrain) yang membatasi aspek dominasi itu sendiri. Ketua tim dan anggota setiap tahun dievaluasi oleh ketua perwakilan dengan meminta bantuan Kantor Akuntan Publik untuk memeriksa auditor, dari hasil laporan audit Kantor Akuntan Publik, kepala perwakilan bisa mengevaluasi kinerja ketua tim, serta menilai konsistensinya dalam mempertahankan independensi, obyektivitas, integritas.
Triyuwono mengatakan:
perwakilan lebih berkomitmen menegakkan kode etik yang telah dibuat oleh Kepala BPK-RI pusat dan menunjuk majelis kehormatan untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut.
Pengaruh Lingkungan sosial juga berdampak pada ketidakadilan di organisasi BPK-RI sendiri, dimana kebenaran ditentukan oleh adanya kekuasaan. Pak Kardi juga menceritakan kalau pada akhir tahun 2007 ini, ada evaluasi dari majelis kehormatan mengenai kinerja auditor, setelah ditelusuri ternyata yang melakukan penyimpangan tidak hanya auditor melainkan sampai pejabat eselon satu, tapi terdapat ketidakadilan disini dimana auditor dikenakan sanksi, sedangkan pejabat eselon 1 diampuni. Semua itu merupakan gambaran lingkungan sosial yang terlanjur “salah kaprah”, dimana terdapat ketidakadilan, yang salah dianggap benar, siapa yang kuat dia yang akan menang.
Menghadapi situasi seperti ini, Pak Kardi menunjung tinggi semangat mempertahankan nilai-nilai lokal yang dimilikinya dalam bentuk kolektivitas, kejujuran, dan keberanian dalam menegakkan kebenaran. Kearifannya dan profesionalitas Pak Kardi mendapat banyak dukungan dari anggota timnya dan rekan-rekan seprofesinya sehingga menjadi contoh teladan bagi para juniornya. Dari situ muncul keyakinan dalam diri Pak Kardi bahwa ”sopo kang salah mesti bakal seleh” suatu saat nanti siapa saja yang bersalah akan sadar akan kesalahannya. Praktik korupsi di Indonesia akan berkurang, dengan perubahan pola pikir setiap individu dengan kebaikan dan kejujuran yang nantinya akan menjadi kesadaran praktis, dimana setiap individu akan terbiasa untuk menolak segala bentuk korupsi.
SIMPULAN
mengadapi dunia sosial yang terlanjur salah kaprah, menganggap suap sebagai suatu hal yang lumrah, terdapat ketidakadilan, dan berlakunya hukum rimba ”siapa yang kuat/berkuasa, dia yang akan menang”. Pengaruh yang demikian akan mengurangi integritas, independensi, serta profesionalitas auditor BPK-RI, untuk itu teori strukturasi yang diperkenalkan oleh Giddens maka memberikan angin segar bagi upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, strukturasi secara jelas memberikan gambaran kepada auditor BPK-RI bahwa segala tindakan direfleksikan bentuk kesadaran dan individu memiliki kekuatan dalam menciptakan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai nilai-nilai yang ada pada struktur organisasi BPK-RI, sehingga tercipta pola strukturasi.
Bentuk kesadaran auditor yang diupayakan dalam bentuk kesadaran praktis, dimana agar nantinya pemberantasan korupsi oleh auditor bukan sebagi bentuk formalitas melainkan menjadi sesuatu kebiasaan. Kesadaran diskursif dicontohkan dengan tindakan auditor dalam menolak segala bentuk suap. Kesadaran tersebut timbul karena menganggap suap merupakan bagian dari korupsi dan tindakan menerima suap berarti melanggar undang-undang, serta ada sanksi hukumnya. Motivasi tidak sadar dicontohkan pada keberanian auditor dalam menghadapi segala bentuk ancaman dan tantangan, secara sadar sebenarnya auditor mengetahui bahwa tugas yang diembannya begitu berat, dan sulit rasanya untuk diselesaikan, namun berkat keberanian yang dimiliki maka praktik audit investigatif dapat terselesaikan. Kesadaran etis dicontohkan dengan keyakinan dan keimanan yang dimiliki Pak Kardi dengan anggota timnya dalam menghadapi tantangan dan ancaman selama pelaksanaan audit investigatif.
hanya auditor BPK-RI memiliki kemampuan untuk intropeksi dan mawas diri, yang diperlukan saat ini adalah merubah pola pikir yang telanjur menganggap korupsi merupakan suatu hal yang wajar menjadi suatu perbuatan yang tercela. Dengan membangun kesadaran global anti korupsi dan harus ditegakkan secara terus menerus serta diperjuangkan, sehingga masyarakat Indonesia dengan penuh kesadaran akan merasa malu jika melakukan korupsi, dan menemukan struktur yang baru menuju bangsa yang lebih bermartabat.
Keterbatasan Penelitian
Organisasi BPK-RI bersikap defensif kepada peneliti, sehingga peneliti tidak bisa mengeksplorasi data serta mendapatkan informasi yang lebih banyak. Waktu penelitian sangat singkat kurang lebih hanya 1 bulan, padahal metode studi kasus sendiri menekankan kepada peneliti agar lebih memahami kasus yang akan diteliti. Dengan demikian peneliti berusaha mempelajari kasus secara mendalam dengan memanfaatkan informasi yang diperoleh dari informan.
Saran
kantor-kantor perwakilan yang lain. Begitu banyak kantor-kantor perwakilan memungkinkan mempunyai berbagai macam kebijakan, nilai-nilai, prosedur, interaksi yang dihasilkan, serta realitas yang dihadapi.
DAFTAR PUSTAKA
Albrecht, W. Steve dan Chad O. Albrecht, (2003), Fraud Examination, South Western, a division Thomson Learning, United States of America
Arifin, Johan, (2000), Korupsi dan Upaya Pemberantasannya Melalui Strategi Auditing: Audit Forensik, Media Akuntansi, No.13 Th VII, September, hlm II-IX
Chazawi, Adami. 2006. Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. PT. Alumni, Bandung Daniel, (1995), IQ, EQ, dan SQ, artikel, (http://www.kecerdasanindividu.htm, diakses tanggal
2 Februari 2008)
Giddens, A, (2003), The Constitution of Society; Teori Strukturasi untuk Analisis Sosial, Penerbit PT Pedati, Pasuruan. Diterjemahkan dari judul asli “The Consequences of Modernity”, Stanford University Press – UK, 1995
Grahani, Irma, (2006), Pengaruh Independensi, Locus Of Control, dan Pengembangan Moral Auditor Terhadap Fraud Auditing, Skripsi, Malang: Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya
Hartanti, Evi, (2006), Tindak Pidana Korupsi, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta
Hardjapamekas, E.R, (1999), Audit Forensik Skandal Bank Bali, Majalah Tempo, No.28/XXVIII/13-19 September hlm 1-3
Hardjapamekas, E.R, (2001), Skandal Akuntan: Kecelakaan Atau Keserakahan, Majalah Tempo, N0.20/XXXI/15-21 Juli hlm 1-3
IAI, (2001), Standar Profesional Akuntan Publik Per Januari 2001, Penerbit Salemba Empat, Jakarta; 20000.1-20000.6
Irianto, Gugus, (2003), Skandal Korporasi Dan Akuntan, Lintasan Ekonomi, Volume XX, Nomor 2, Juli, hlm 104-114
Indonesia Corruption Watch, Investigasi Korupsi, artikel, (http://www.icw.go.id diakses pada tanggal 6 Mei 2007)
Junaedi, Fajar, (2005), Teori tentang Interaksi Simbolik, dan Strukturasi, artikel, (http://www.teorikomunikasi.htm, diakses pada tanggal 26 Juli 2007)
Ludigdo, Unti, (2005), Pemahaman Strukturasi Atas Praktik Etika di Sebuah Kantor Akuntan Publik, Disertasi, Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya
Mardiko, dan Albert Kurniawan, (2006), Elements of the Sociology or Corporate Life, Artikel, Ringkasan Karya Gibson Burrel and Gareth Morgan; Social Paradigms and Organizational Analysis, Hainemann, London, Chapter 1-3
Moleong, Lexy, (2006), Metode Penelitian Kualitatif, Penerbit Rosdakarya, Bandung
Mulyana, Dedy, (2003), Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Penerbit Rosdakarya, Bandung
Murtanto dan Gudono, (1999), Identifikasi Karakteristik Keahlian Audit: Profesi Akuntan Publik di Indonesia, JRAI. Volume2, No.1, hlm 38-52
Peraturan BPK-RI Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Kode Etik BPK RI, (http://bpk_ri.go.id diakses pada tanggal 12 September 2007)
Priyono, B.H, (2002), Anthony Giddens; Suatu Pengantar, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta
Rasuli, M. 2000. Mengungkap Tindak Kecurangan (Korupsi) dengan Bantuan Forensik Akuntan. Media Akuntansi, No. 15 Tahun VII, hlm vi-xii
Ritzer, G dan D.J Goodman, (2003), Teori Sosiologi Modern, Penerbit Prenada Media, Jakarta. Diterjemahkan dari Modern Sociological Theory, Sixth Edition
Salim, M, Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia, Artikel,
(http://www.transparansi.or.id, diakses 21 Desember 2006)
Salman, Chairiansyah, (2005), Audit Investigatif: Metode Efektif dalam Pengungkapan Kecurangan, Economics Business Accounting Review, Edisi I, November, hlm 5-17 Soemardjan, Selo, (1998), Membasmi Tindak Pidana Korupsi, Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta
Soesilo, (2005), Kejawen: Philosofi dan Perilaku, Yayasan Yasula, Malang
Subana dan Sudrajat, (2001), Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, Penerbit CV. Pustaka Setia, Bandung
Sudrajat, Akhmat, (2008), IQ, EQ, dan SQ dari Kecerdasan Tunggal Ke Kecerdasan Majemuk, artikel, (http://www.akhmat_sudrajat.htm, diakses tanggal 2 Februari 2008) Supelli, Karlina, (2004), Carpe Diem; Modernitas, Artikel, (http://www.cdc-ftui.htm, diakses
pada tanggal 18 Agustus 2007)
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Widayanti Dan Subekti, (2001), Analisis Keahlian Auditor BPK-RI Menuju Pelaksanaan Fraud Auditing, Tema, Volume II, No.2, hlm 97-115
Widjayanti, dkk, (2004), Membangun Teori dari Studi Kasus, Artikel,
(http://www.bebas.vlsm.org, diakses pada tanggal 3 September 2007)
Widoyoko, (2005), Premi Bagi Pelapor Perbuatan Korupsi, Artikel,
(http://www.sinarharapan.co.id, diakses pada tanggal 3 September 2007)