• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PENTING LAJU PERUBAHAN KALOR PADA MODEL DINAMIK UNSUR–UNSUR UTAMA IKLIM | Jaya | JURNAL ILMIAH MATEMATIKA DAN TERAPAN 128 442 1 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERAN PENTING LAJU PERUBAHAN KALOR PADA MODEL DINAMIK UNSUR–UNSUR UTAMA IKLIM | Jaya | JURNAL ILMIAH MATEMATIKA DAN TERAPAN 128 442 1 PB"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1Jurusan Matematika FMIPA UNTAD Kampus BumiTadulakoTondo Palu

Abstrak

Model dinamik interkasi unsur – unsure utama iklim, yaitu suhu dan tekanan udara, memunculkan parameter laju perubahan kalor di dalamnya. Pengamatan terhadap kestabilan system yang merepresentasikannya selama ini dilakukan dengan mengamat inilai eigen matriks linearisasi yang mewakilinya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengamatan kestabilan system di sekitar titik kritis dapat dilakukan dengan mengamati nilai parameter tersebut. Bila parameter laju perubahan kalor bernilai positif maka system aka tidak stabil di sekitar titik kritisnya.Upaya pengendalian system dapat dilakukan dengan menjaga nilai parameter laju perubahan kalor bernilai negative. Hal ini menginterpretasikan bahwa energy pelepasan kalor dalam system haruslah direduksi untuk menghindari kestabilan system.

Kata kunci :Matriks Linearisasi, Model Dinamik, Nilai Eigen, Parameter

I. Pendahuluan

Fenomena pemanasan permukaan bumi akibat gas CO2 yang berdampak pada perubahan

iklim memerlukan kajian lebih lanjut terhadap peran laju perubahan panas pada model interaksi

unsur– unsure utama iklim. Model tersebut telah dibangun dalam Sarvina (2009) dengan melakukan

kajian termodinamika terhadap suhu dan tekanan udara permukaan sebagai unsur–unsure utama

iklim. Dalam udara kering, keadaan termodinamika di suatu titik ditentukan oleh nilai tekanan, suhu

dan densitasnya (Kato dkk, 1998). Interaksi dinamis antara suhu dan tekanan udara inilah yang

menjadi kajian utama dalam model dengan meninjau perilaku gas CO2 di atmosfer sebagai efek

rumah kaca.

Model dinamik suhu dan tekanan udara dibangunoleh system persamaan diferensial yang

almost linear. Analisis kestabilan pada titik–titik kritis model tersebut, yang dilakukan dengan

menggunakan metode linearisasi, menujukkan bahwa perilaku system adalah tidaks tabil. Hal ini

menujukkan bahwa pola perubahan kondisi iklim akan terjadi secara signifikan. Menarik untuk dikaji bahwa posisi titik–titik kritis system dipengaruhi oleh nilai parameter laju perubahan panas.

Peran parameter laju perubahan panas tersebut dapat dikaji lebih jauh dengan melakukan

identifikasi perilaku pelepasan panas seiring dengan perubahan waktu. Identifikasi dilakukan dengan

mengamati perilaku kestabilan system melalui nilai eigen system yang mewakilinya. Kriteria

kestabilan berdasarkan nilai eigen inilah yang memungkinkan kita untuk menurunkan solusi

persamaan diferensial biasa yang dibangun oleh interaksi parameter laju perubahan panas dan

(2)

Peran Penting Laju Perubahan Kalor Pada Model Dinamik Unsur–Unsur Utama Iklim

II. MetodaPenelitian

Peran laju perubahan panas pada model dinamik unsur– unsure utama iklim dikaji secara

kualitatif dengan prosedur penelitian sebagai berikut :

1. Menurunkan model dinamik unsur–unsure utama iklim berdasarkan hukum termodenamika

2. Menentukan titik kritis model yang diperoleh pada langkah 1.

3. Melakukan linearisasi model di sekitar titik–titik kritis.

4. Menentukan nilai eigen dari matriks linearisasi

5. Menentukan persamaan diferensial yang dibangun oleh criteria kestabilan system di sekitar titik

kritis.

6. Menentukan solusi persamaan diferensial yang diperoleh pada langkah 5.

7. Mengakaji peran laju perubahan panas pada model melalui solusi persamaan diferensial yang

diperoleh pada langkah 6.

III. Pembahasan

III.1 Model Dinamik Unsur– Unsur Utama Iklim

Hubungan unsur–unsur utama iklim dinyatakan dalam persamaan gas ideal berikut :

dimanaT adalah suhu (dalam K), p adalah tekanan (dalam atm), adalah densitas (dalam kg/L) dan

adalah volume spesifik gas (dalam L). Persamaan keadaan ini sering digunakan untuk

menurunkan persamaan lain yang menggambarkan dinamika unsur–unsur utama iklim.

Selain kedua persamaan gas ideal, dikenal pula persamaan energy termodinamika yang

pada umumnya dikenal sebagai panas berikut:

Dimana Cv adalah kapasitas panas pada volume tetap persatuan volume. Adapun turunan

total dari persamaan (2) dapat diperoleh sebagai berikut :

Dengan asumsi Cp = Cv + R, melalui persamaan (4) dan persamaan (3) kita bias

mendapatkan persamaan berikut :

Dimana Cp adalah kapasitas panas pada tekanan tetap. Operasi matematika sederhana pada

persamaaan (5) memberikan kita persamaan–persamaan berikut:

(3)

tekanan udara permukaan, secara matematis dapat dibangun hubungan antara suhu dan tekanan

udara sebagai berikut :

Dengan x sebagai konsentrasi gas CO2. Melaui persamaan (8), kita dapat melakukan operasi

matematika sederhana pada persamaan (5) sehingga diperoleh persamaan berikut :

Dimana merupakan perubahan konsentrasi gas CO2 terhadap perubahan waktut.

Manipulasi pada persamaan (9) akan memberikan :

Persamaan (6) dapat pula dinyatakan sebagai persamaan berikut :

Persamaan (10 dan persamaan (11) dapat dinyatakan sebagai system persamaan yang

dapat ditentukan penyelesaiannya dengan aturan cramer sehinga diperoleh model pembangun

berikut :

Persamaan (12) dan (3) inilah yang merupakan persamaan pembangun dari model dinamik

unsur–unsur utama iklim.

III.2 Titik–Titik Kritis Model Dinamik Unsur – Unsur Utama Iklim

Analisis kualitatif terhadap model dinamik yang direpresentasikan oleh pesamaan (12) dan

(13) untuk kondisi zero growth perubahan nilai unsur–unsur utama pembentuk iklim sehingga

diperoleh :

Dari persamaan (14) dapat diketahui bahwa jikaT = 0, maka dan jika p = 0 maka

. Adapun substitusi persamaan (15) ke persamaan (14) memberikan . Dengan

demikian titik – titik kritis model dinamik unsur – unsur utama iklim adalah dan

.

III.3 Linearisasi Model DinamikUnsur – UnsurUtamaIkliqm

Analisa kestabilan system dilakukan disekitar titik – titik kritis sehingga interaksi unsur utama

iklim T dan P dapat diamati. Misalkan system yang direpresentasikan oleh persamaan (12) dan (13)

(4)

Peran Penting Laju Perubahan Kalor Pada Model Dinamik Unsur–Unsur Utama Iklim

Mengingat system yang direpresentasikan oleh persamaan (16) adalah almost linier maka

system linear yang dapat mengaproksimasinya di sekitar titik kritis diberikan oleh :

Dimana dan . Melalui transformasi ini kestabilan system dapat diamati

dalam koordinat variable transformasi yang baru.

Persamaan (17) dapat ditentukan dengan menentukan turunan–turunan parsial yang

bersesuaian pada persamaan (12) dan (13) sehingga diperoleh :

Persamaan (18) dapat dinyatakan sebagai perkalian matriks dan vektor dengan

dan .

Matriks A disebut sebagai matriks linearisasi system di sekitar titik kritis.

III.4 Nilai Eigen Matriks Linearisasi

Untuk mengetahui stabilitas system yang direpresentasikan oleh persamaan (18) akan

ditentukan nilai eigen dari matriks linearisasi system di sekitar titik kritis dengan menentukan nilai

determinan dari matriks (A - I) yang sama dengan nol. Nilai – nilai yang memenuhi persamaan

yang dapat dinyatakan dalam bentuk faktorisasi berikut :

Perhatikan bahwa dapat nilai eigen yang diperoleh sebagai akar – akar dari persamaan (19) dapat dipandang sebagai persamaan diferensial biasa orde dua dalam variabel pelepasan kalor q

berikut:

III.5 Kriteria Kestabilan Sistem

Pengamatan terhadap kestabilan sistem di sekitar titik kritis diamati melalui nilai eigen λ dari matriks Jacobi J(x) sebagai berikut :

1. Nilai eigen real :

a. Kedua nilai eigen positif, dan , menghasilkan trayektori simpul tak stabill (unstable

node)

b. Nilai eigen satu positif dan yang lainnya negatif, , menghasilkan trayektori titik pelana

(saddle point)

c. Kedua nilai eigen negatif, dan , menghasilkan trayektori simpul stabill (stable

(5)

a. Bagian real positif, dan , menghasilkan trayektori spiral tak stabill

(unstable spiral point)

b. Bagian real nol, semua nilai eigen imajiner, , menghasilkan trayektori

pusat netral atau stabil netral (neutral center atau neutral stable )

c. Bagian real negatif, dan , menghasilkan trayektori spiral stabil (stable

spiral point)

dimana , dan r secara berturut-turut adalah trace, determinan dan bagian real nilai eigen

matriks Jacobi J(x). dari sistem .

III.6 PeranPentingLajuPerubahanKalor

Peran penting laju perubahan kalor pengamatan terhadap dapat ditunjukkan melalui

pengamatan terhadap solusi persamaan (20). Solusi umum persamaan tersebut dapat dinyatakan

sebagai :

Persamaan (21) menunjukkan peran penting laju perubahan kalor sebagai penentu

kestabilan system. Hal ini dilakukan dengan meninjau :

Mengingat fungsi eksponensial selalu bernilai positif, maka persamaan (21) memperlihatkan

bahwa nilai eigen system, yang merupakan indicator penentu kestabilan system, sangat ditentukan

oleh nilai laju perubahan kalor . Bila energy pelepasan kalor terus meningkat yang berarti laju

perubahan kalor bernilai positif maka system akan tidak stabil di sekitar titik kritisnya. Dengan

demikian bila system ingin dijaga kestabilannya di sekitar titik kritis maka laju perubahan kalor harus

diupayakan agar tetap bernilai negative.

IV. Kesimpulan

Model interaksi unsur – unsur utama iklim, yang dibangun berdasarkan kaidah termodinamik

dan direpresentasikan sebagai system persamaan diferensial, menunjukkaan bahwa perilaku system

di sekitar titik kritis adalah tidak stabil. Untuk system yang diobservasi dalam penelitian, diperoleh

cara baru dalam pengamatan kestabilan system, yaitu dengan mengamati laju perubahan kalor.

Pengamatan kestabilan system yang selama ini secara teknis diukur melalui nilai eigen matriks

linearisasi yang mewakilinya, dapat dikaitkan dengan pengamatan terhadap nilai laju perubahan

kalorter sebut.

V. DaftarPustaka

1. Boyce, W. E., and Richard, C. D, 1996, Elementary Differential Equations and Boundary

Value Problems, Sixth Edition, Wiley, Singapore.

2. Gabriel, J. F., 2001, Fisika Lingkungan, Penerbit Hipokrates, Jakarta.

3. Haneda, 2004, Hubungan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan Perubahan Iklim,

http://climatechange.menlh.go.id., diakses 11 Nopember 2008.

(6)

Peran Penting Laju Perubahan Kalor Pada Model Dinamik Unsur–Unsur Utama Iklim

5. Leon, S.J., 2001, Aljabar Linier dan Aplikasinya, Edisi5, (Terjemahan), Penerbit Erlangga,

Jakarta.

6. Mudiyarso, D., Konvensi Perubahan Iklim, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

7. Sarvina, Iin, 2009, Model Dinamik Suhudan Tekanan Udara Permukaan dengan Meninjau

Perilaku Gas CO2ndi Atmosfer sebagai Efek Gas RumahKaca, UniversitasTadulako, Palu.

8. Tjasyono, B., 2004, Klimatologi, Penerbit ITB, Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

keseksamaan, persen perolehan kembali, dan residu kloramfenikol dalam sampel air susu, dilakukan penentuan kondisi pengukuran yang meliputi parameter : potensial amplitudo, waktu

Setelah warna daging berubah dan teksturnya menjadi semakin empuk anda bisa masak kembali 5 menit untuk memastikan daging benar-benar empuk dan juga supaya bumbu bisa

Banyak kegiatan sosial yang dilakukan di daerah ini seperti perkumpulan arisan, tahlilan, kelompok tani, perkumpulan pemuda, kelompok seni musik islami dan Posyandu, yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar minat mahasiswa Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) angkatan 2013 dan faktor-faktor yang

Kuat lentur balok beton bertulangan bambu Petung vertikal takikan tidak sejajar tipe U dengan lebar takikan 20 mm sebesar 32,904 MPa atau sebesar 49,72% dari kuat

Marelan Kota Medan” (Studi Kasus : Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan) yang merupakan salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian

mendapatkan data itu valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang. seharusnya di ukur (Sugiyono,

Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa teknik token economy diberikan kepada peserta didik yang memiliki kriteria tertentu, dalam penelitian ini yaitu peserta didik