• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 STUDI PUSTAKA. Rehabilitation Transport Sector Familiarization Program, The World Bank, Washington, D.C, Universitas Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 STUDI PUSTAKA. Rehabilitation Transport Sector Familiarization Program, The World Bank, Washington, D.C, Universitas Indonesia"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

12 Universitas Indonesia BAB 2

STUDI PUSTAKA

2.1 PENDAHULUAN

Konsep kontrak berbasis kinerja merupakan penilaian berdasarkan outcome

sebagai kontrak kerja yang memiliki banyak keuntungan15

Kontrak berbasis kinerja ini mengalokasikan resiko lebih kepada kontraktor dibandingkan dengan susunan kontrak tradisional, tetapi pada saat bersamaan membuka atas peluang untuk meningkatkan tujuan pemeliharaan jalan dimana meningkatkan efisiensi dan efektivitas desain, memproses, teknologi atau manajemen memungkinkan untuk mengurangi biaya mencapai standar prestasi ditentukan

, dimana misalnya dalam lima tahun kontraktor harus menjamin ruas jalan yang dikontrakan dalam kondisi mantap. Dengan adanya penerapan kontrak berbasis kinerja yang meliputi perawatan, rehabilitasi dan pengembangan sekaligus pengontrolan terhadap infrastruktur jalan maka penyedia jasa diwajibkan untuk ikut mengawasi jalan tersebut sehingga faktor-faktor penyebab kerusakan jalan seperti : mutu pelaksanaan konstruksi, kondisi drainase permukaan jalan dan repetisi beban lalu lintas kendaraan yang lewat dapat diantisipasi sebelumnya.

16

Penerapan kontrak kinerja untuk pemeliharaan jalan telah dilakukan oleh beberapa negara, seperti Argentina (CREMA)

.

17

, Kanada, Uruguay, Chili, Kolombia, Brazil, Amerika Serikat, Australia dan negara lainnya telah dikaji oleh Bank Dunia18

15

Pusat Penelitian dan Pengembangan Prasarana Transportasi (Pustran). “Pengembangan Model Implementasi Performance Based Contract (PBC) untuk Pembangunan dan Pemeliharaan Jalan di Indonesia.” Laporan Penelitian,Bandung, 2004

16

Dr. Gunter Zietlow, 2004, “Implementing Performance-based Road Management and Maintenance Contracts in Developing Countries - An Instrument of German Technical Cooperation

17

Dr. Gunter Zietlow, 2001, “Cutting Cost and Improving Quality Through Performance Based Road Management and Maintenance Contract – The Latin American and OECD Experience”,

18

César Queiroz, “Contractual Procedur ti Involve the Private Sector in Road Maintenance and Rehabilitation” Transport Sector Familiarization Program, The World Bank, Washington, D.C, 2000

; di Indonesia sendiri baru akan diterapkan proyek percontohan pada pemeliharaan ruas jalan Semarang-Pekalongan (Pantura) sepanjang 100 km untuk 5 (lima) tahun (sumber : pu.go.id).

(2)

Universitas Indonesia Bab ini memaparkan kajian literatur yang berkaitan dengan Kontrak Berbasis Kinerja pada pemeliharaan jalan, terdiri dari Perfomance Based Contract (PBC) baik penerapan PBC di negara lain, dan penerapan PBC di Indonesia, kendala-kendala dalam penerapan PBC serta identifikasi pemecahan kendala-kendala tersebut. Pada bab ini juga dipaparkan mengenai efektifitas penanganan pemeliharaan jalan. Dalam pemaparan mengenai pengaruh penerapan Kontrak Berbasis Kinerja terhadap efektifitas penanganan pemeliharaan jalan, akan tergambarkan pada gambar 2.1 dibawah ini :

Pemeliharaan Jalan

Efektifitas Penanganan Pemeliharaan Jalan Provinsi Banten

Kinerja Pelayanan Infrastruktur Jalan

Jenis Kontrak Penanganan Jalan Berbasis Kinerja

Pedoman Penyusunan Kontrak Berbasis Kinerja

Kualitas Kontrak Berbasis Kinerja

Pengaruh Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja Pada Pemeliharaan Infrastruktur Terhadap Efektifitas Penanganan Jalan

Gambar 2.1 Kerangka teori penelitian

Studi literatur yang dilakukan selengkapnya dapat dilihat pada table studi literatur di Lampiran 2.

2.2 KONTRAK BERBASIS KINERJA (PBC) 2.2.1 Alasan Penggunaan Kontrak Berbasis Kinerja

Fakta yang didukung oleh kajian teori memperlihatkan kerusakan struktural jalan dipengaruhi 3 (tiga) faktor penting19

1. kendaraan berat; dengan muatan lebih (overloading) (15,60%); , yaitu :

2. kondisi drainase permukaan jalan (40,20%);

19

(3)

Universitas Indonesia

3. mutu pelaksanaan konstruksi jalan (44,20%)

Jalan rusak yang berlubang dan bergelombang merupakan awal defisiensi keselamatan jalan. Aspek keselamatan dan pengelolaan jalan harus ditempatkan sebagai target prioritas yang tidak dapat ditawar. Terobosan yang akan dilakukan

adalah dengan melakukan kontrak multi tahun berbasis kinerja (performance

based contract) kepada kontraktor, sehingga tidak ada alasan untuk tidak segera memperbaiki kerusakan jalan dalam jangka waktu terkontrak.

Kontrak berbasis kinerja20

Sebuah kerangka

merupakan bagian dari trend pengembangan

inovasi industri konstruksi (Construction Engineering and Management) di masa

yang akan datang :

- optimasi life cycle cost; - konsep supply chain;

- integrated procurement; design-build, PBC, dan lain-lain.

21

1. Kerangka waktu untuk ekspansi masa depan;

untuk pengenalan tentang Kontrak Berbasis Kinerja (PBC) di Indonesia masih sedang diproduksi. Isu Spesifik yang ditangani dalam kerangka tersebut meliputi:

2. Kebijakan-kebijakan untuk dikembangkan atau di-review dalam kaitan

dengan:

• Layanan Kegunaan;

• Regulasi Akses-terbatas;

• Persyaratan Jaminan/Bond;

• Peningkatan harga;

• Jaminan untuk keterlambatan pembayaran kepada klien;

• Standar pelaporan untuk data pemeliharaan;

• Sistem manajemen untuk kelengkapan bahu jalan.

3. Perubahan Legislatif mencakup :

• Pengaturan pendanaan untuk kontrak pemeliharaan multi tahun;

• Pengontrolan bagi kendaraan yang memiliki muatan berlebih.

20

Rizal Zainuddin Tamin, “Penerapan PBC dalam Pengelolaan Jalan Nasional dan Jalan Provinsi”, Diskusi Awal, Direktorat Bina Teknik Dirjen Bina Marga DPU, 2008

21

Ian Greenwood and Theuns Henning, “Introducing Performance Based Maintenance Contracting to Indonesia, Framework Document”, Opus International Consultants ,The World Bank, 2006

(4)

Universitas Indonesia

4. Isu Kontraktual, berkenaan dengan:

• Pengumpulan data standarisasi;

• Kontrak yang diusulkan terorganisir secara struktur;

• Pemilihan konsultan PBC;

• Proses Tender;

• Awal perbaikan dan kapasitas pekerjaan peningkatan.

5. Standar ukuran kinerja.

6. Pelatihan dan transfer pengetahuan tentang kontrak kinerja. 7. Spesifikasi untuk lokasi percobaan/pilot project yang diusulkan.

Pengelola jalan berkeinginan adanya suatu pendekatan tentang kontrak berbasis kinerja22

a. mengurangi biaya pengelolaan dan pemeliharaan aset jalan;

dikarenakan beberapa hal sebagai berikut :

b. memberikan pendapatan yang lebih bagi pengelola jalan;

c. memiliki kemampuan untuk mengelola jaringan jalan raya dengan lebih

sedikit sumber daya manusia;

d. adanya kepuasan dari pengguna jalan mengenai pelayanan dan kondisi jalan;

dan

e. kondisi keuangan yang stabil.

Selain itu resiko yang harus ditanggung oleh pengelola jalan dalam pemeliharaan jalan dengan menggunakan kontrak berbasis kinerja semakin berkurang, seperti yang dijelaskan pada tabel 2.1.

22

Natalya Stankevich, Navaid Qureshi and Cesar Queiroz, “Performance-based Contracting for Preservation and Improvement of Road Assets”, The World Bank, Washington DC, 2005

(5)

Universitas Indonesia Tabel 2.1 Distribusi resiko dari pengelola jalan dan kontraktor dengan perbedaan

bentuk dalam melakukan layanan pemeliharaan jalan

In-house Maintenance Outsourcing Specific Maintenance Works

Kontrak Pengelolaan dan Pemeliharaan Jalan Berbasis

Kinerja

(Performance-Based Road Management and Maintenance

Contracts) Long-term Road Concessions (BFOT) Short term Medium term Long term

Resiko pengelola jalan menurun (Risk to road agency decreases)

Resiko kontraktor meningkat (Risk to contractor increases)

Sumber : Dr. Gunter Zietlow, 2004, “Implementing Performance-based Road Management and Maintenance Contracts in Developing Countries - An Instrument of German Technical Cooperation”

Kontrak Berbasis Kinerja(Performance Based Contract) adalah jenis kontrak

yang mendasarkan pembayaran pada pemenuhan indikator kinerja minimum. PBC

memiliki beberapa keuntungan potensial dibanding pendekatan tradisional23,

seperti:

• Penghematan biaya dalam pengelolaan dan pemeliharaan asset jalan.

• Kontraktor memiliki ruang untuk melakukan inovasi secara kompetitif dan bertanggungjawab.

• Kepastian kebutuhan pembiayaan dan kepastian pembiayaan jangka panjang. Sifat kontrak adalah tahun jamak dan resiko terkalkulasi pasti. Resiko akibat keputusan kontraktor menjadi tanggungjawab kontraktor.

• Pengelolaan penyelenggara jalan menjadi lebih efektif dan kebutuhan staf menjadi lebih ramping. Kapasitas lembaga akan meningkat.

• Peningkatan kepuasan pengguna jalan karena adanya jaminan tercapainya tingkat pelayanan jalan selama masa kontrak.

23

DR. Hedi Rahadian, M.Sc, Kasubdit Penyiapan dan Standar Dit.Bintek Ditjen Bina Marga “Langkah Awal Menuju Performance Based Contract melalui Extended Waranty Period”, Jakarta, 2008

(6)

Universitas Indonesia Kontrak berbasis kinerja tidak mengurangi tanggung jawab penyelenggara jalan, tetapi mengubah fokus tanggungjawab penyelenggara jalan secara radikal. Dalam kontrak berbasis kinerja, penyelenggara jalan tidak perlu mengatur detail cara kerja kontraktor untuk mencapai hasil yang diinginkan. Penyelenggara jalan akan dituntut untuk mampu mendefinisikan masalah secara jelas, mengembangkan metodologi penentuan indikator kinerja yang dapat diterima dan terukur sesuai dengan missi penyelenggara jalan, serta mengembangkan sistem evaluasi kinerja yang obyektif . Penentuan indikator kinerja bukan saja membutuhkan keahlian rekayasa mikro multi bidang, tetapi juga harus mampu menjembataninya dengan pencapaian indikator makro yang realistik seperti tersirat dalam misi penyelenggara jalan.

PBC membutuhkan pergeseran kultur penyedia jasa. Kemampuan teknis dan inovasi penyedia jasa agar dapat kompetitif. Pola bisnis jasa konstruksi juga akan berubah dengan makin terintegrasinya tahap desain, konstruksi, operasi dan pemeliharaan. PBC juga membutuhkan perubahan kultur pengguna jasa, mengingat sebagian resiko dapat terjadi karena perilaku pengguna jasa. Banyak asumsi yang digunakan dalam desain jalan dan jembatan dijaga melalui berbagai peraturan mengenai lalu-lintas angkutan jalan raya. Salah satu contoh penting adalah pembebanan lalu-lintas. Ketidaktaatan pengguna jalan pada aturan mengenai Muatan Sumbu Terberat (MST) akan menyebabkan ketidakpastian dalam desain kekuatan struktur jalan. Akibatnya, reliabilitas desain akan menurun

yang berujung pada resiko premature failure. Resiko ini apabila dibebankan

kepada kontraktor akan menyebabkan timbulnya premium yang cukup besar dan menjadi beban anggaran jalan. Hal ini akan menyulitkan strategi penanganan dan penganggaran jalan, mengingat pelanggaran aturan yang tidak terkendali memiliki ruang ketidakpastian yang luas akibat hilangnya batas-batas pengendalian.

2.2.2 Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja di Negara Lain

Perkembangan Performance Based Contract untuk pemeliharaan jalan

dimulai sejak akhir tahun 1980an24

24

Dr. Gunter Zietlow, “Implementing Performance-based Road Management and Maintenance Contracts in Developing Countries - An Instrument of German Technical Cooperation”, 2004

. Diawali oleh British Columbia di Kanada yang mengontrakkan pemeliharaan jalan pada tahun 1988, akan tetapi standar

(7)

Universitas Indonesia kinerja yang digunakan masih berorientasi pada prosedur kerja dan material yang digunakan serta tidak berorientasi pada hasil akhir. Standar ini sangat membatasi kontraktor untuk melakukan inovasi teknologi.

Argentina

Argentina (Cabana et.al, 1999) menerapkan kontrak berbasis kinerja pada ruas jalan nasional sepanjang 10.000 km dengan berpatokan pada hasil akhir pekerjaan dengan spesifikasi kinerja untuk pemeliharaan jalan, dan CREMA (Contrato de REcuperacion y Mantenimiento, kontrak berbasis kinerja di Argentina) menerapkan sistem sanksi apabila kontraktor tidak memenuhi waktu respon untuk memperbaiki kerusakan jalan. Program yang dibuat adalah dengan konsesi yang ditetapkan dalam dua tahap. Pertama, pada tahun 1990 pemerintah melakukan konsesi sekitar sepertiga sistem jalan raya antar kota dengan cara kontrak 2 (dua) tahun. Jalan yang mempunyai lalu lintas 2,000-2,500 kendaraan per hari, dan pemegang konsesi diperlukan untuk melakukan satu program yang terdiri dari pemeliharaan, rehabilitasi, dan peningkatan kapasitas. Kemudian, pada tahun 1992 pemerintah meluncurkan langkah kedua, untuk pemeliharaan, operasi, dan peningkatan jalan arteri yang strategis di Buenos Aires. Spesifikasi teknis dan sangsi pada penerapan PBC berdasarkan CREMA, selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.2.

Tabel 2.2 Spesifikasi teknik dan sangsi pada penerapan kontrak berbasis kinerja di Argentina (CREMA)

Bentuk Jasa (Service Provided) Indikator Kinerja (Performance Indicators) Penalti (Penalties (US$)) Bagian yang direhabilitasi (Rehabilitated Sections)

Pavement cross-section features to remain within specified standards, throughout contract periode

Kualitas kenyamanan dan kekuatan (Riding & Strength Quality)

Kekasaran IRI <3.3 m/km setelah rehabilitas dan dalam masa kontrak (Roughness IRI <3.3 m/km after rehabilitation and throughout the contract period)

440/wk/2 km section

Indeks Kondisi Permukaan DNV > 6 dan PSI > 2.8 (DNV Surface Condition Index to be >6 and PSI to be >2.8)

1,760/wk/2 km section

Kedalaman bekas roda < 12 mm setelah rehabilitas dan periode kontrak(Rut depth to be kept below 12 mm after rehabilitation and throughout contract period)

440/wk/2 km section

Retak < 20% setelah masa rehabilitas dan periode kontrak (Cracking to be <20% after rehabilitation and throughout the contract period)

220/wk/2 km sect

Tidak adanya kekusutan setelah masa rehabilitas dan periode kontrak (No raveling after rehabilitation and throughout contract periode)

(8)

Universitas Indonesia Bentuk Jasa (Service

Provided)

Indikator Kinerja (Performance Indicators)

Penalti (Penalties (US$))

(Thickness of asphalt concrete overlay to comply with specification and total wearing course thickness at the end of contract not to be less than initial thickness)

Tidak dapat diterapkan (Not applicable)

(No chip seal allowed on asphalt concrete without Engineer’s authorization)

Tidak dapat diterapkan (Not applicable)

Bagian Pemeliharaan Rutin (Sections under Routine Maintenance)

Riding Quality (Smoothness)

Tidak ada lubang > 2 cm pada permukaan jalan (No pothole more than 2 cm deep on paved roads)

440/day/pothole

(All cracks to be sea) 220/2 km section Lalu lintas terjamin setiap saat (Trafficability

ensured at all times)

220/km/day

(Rut depth to be <3 cm, cracks to be <30%, and no raveling on paved shoulders with structural strength)

440/wk/km

(Safety Features) (No rut, raveling, no cracks, and adequate cross-slope on paved shoulders without strength)

440/wk/km

(No erosion/rut and good profile, min. width = 3 m, dropoff <3 cm on unpaved shoulders)

(Culverts and drains to be clean, free from debris, and with adequate longitudinal slope)

440/wk/km

(Vertical signs to be clean, visible at all times, and complying with DNV standards)

44/sign/day

Pagar dalam kondisi baik dan terlihat setiap saat (Guardrails to be in good condition and visible at all times)

440/wk/length

Penerangan dan rambu lalu lintas bekerja dalam kondisi baik (Lighting system and traffic lights to be in good working condition)

220/day

(Bush height to be <15 cm over first 6 m and <1 m beyond and up to 10 m)

44/ha/wk

Jalan bebas dari kotoran dan puing (Roadway to be free from litter and debris)

44/day/km

Pohon dan tanaman harus dipelihara (Trees and vegetation to be properly maintained)

44/day/km

Kegiatan kerja harus dilaksanakan sesuai dengan jadwal (Work program activities, to be executed on schedule)

26,400/wk of delay

Pekerjaan rehabilitasi harus selesai sesuai dengan waktu (Rehabilitation works to be completed on schedule)

Kontak dibatalkan jika keterlambatan > 50% (cancel contract if delay >50%)

Sumber :Cabana, Liautaud, and Faiz 1999

Di Argentina, persyaratan yang ditetapkan untuk permukaan jalan pasca konstruksi (Cabana, Liautaud, dan Faiz 1999):

• Indeks Kondisi Jalan (Road Condition Index) >8 (with 10 being best, and 0

bad)

• Kekasaran (Roughness) IRI : <3.1 m/km, 4.1 m/km, 3.9 m/km untuk: (asphalt concrete), (surface dressing), dan(cement concrete surfacing), (respectively).

• (Rut depth) <4 mm

• Retak (Cracking) <2% (type 2)

• (Raveling and potholes) = 0%

(9)

Universitas Indonesia Negara-negara lain seperti Uruguay, Brazil, Chile dan Kolombia telah menggunakan kontrak berbasis kinerja sedangkan Ekuador, Guatemala dan Peru sedang merencanakan pelaksanaan kontrak kinerja. Saat ini di Amerika Latin pemeliharaan jalan lebih dari 40.000 km dilakukan dengan kontrak kinerja.

Chile

Perubahan di Chile (Nabalon, 1998) tentang ekspansi jaringan jalan dan suatu kebutuhan untuk meningkatkan pemeliharaan jalan. Itu telah diputuskan untuk meningkatkan kapasitas dengan cara memperpanjang kontrak dengan kontraktor (yang melaksanakan pemeliharaan periodik) sebagai ganti yang mengerjakan

pemeliharaan rutin. Awal pendekatan yang dilakukan dengan satu tahun kontrak25

• kontrak pertama dilakukan pada tahun 1992 dan meningkat untuk 55 kontrak

pada tahun 1998, mencakup 31% jaringan jalan nasional;

untuk pemeliharaan dari jaringan jalan 400-600 km, berisikan rutin dan beberapa pemeliharaan periodik.

• kontrak berdasarkan harga satuan (unit price) dengan pembayaran bulanan;

• tidak ada informasi tentang ketersediaan biaya yang tersisa tetapi syarat-syarat jalan telah meningkat dan ada kepuasan dengan kinerja dari kontraktor;

• kontraktor adalah saat itu sangat tertarik akan kontrak perawatan;

• kontrak perawatan periodik memungkinkan kontraktor melakukan suatu

jaringan, sehingga mengurangi biaya administratif.

Kebijakan mengembangkan pada tahun 1996 dengan pengenalan tentang lima tahun kontrak mendasarkan kinerja, memungkinkan setiap 300-400 km dari jalan dapat ditingkatkan, pengalaman untuk kedua pihak, yaitu kontraktor dan direktorat jalan diperoleh :

• spesifikasi pekerjaan meliputi kualitas permukaan jalan, berdasarkan

informasi dan bantuan serta respon pemakai jalan;

• monitoring dilakukan oleh direktorat jalan; dan

• kontraktor menyelidiki, memilih penanganan pemeliharaan dan program kerja.

25

Parkman, C And K Madelin (1999). A Review Of Contract Maintenance For Roads. XXI st World Road Congress, PIARC, Kuala Lumpur, Malaysia

(10)

Universitas Indonesia Australia

Australia pertama kali menggunakan kontrak kinerja pada tahun 1995 yang mencakup 459 km jalan kota di Sydney (Parkman et.al, 1999). Setelah itu beberapa kontrak baru diterapkan di New South Wales, Tasmania, Australia Selatan dan Australia Barat.

Isu yang muncul di Australia26

• benchmarking dan tendering kompetitif telah meningkatkan efisiensi;

:

• suatu pendekatan kontrak tentang diperlukan kontrak berbasis kinerja;

• aturan yang jelas diperlukan untuk evaluasi kontrak penyeimbangan harga dan

kualitas;

• kontraktor mempunyai pemahaman persyaratan kerja terutama sekali untuk

kontrak berbasis kinerja; dan

• konsultan mulai dari level manajer harus menyusun organisasi gabungan

dengan kontraktor untuk mempersiapkan kemampuan kerja dalam pemeliharaan.

Selandia Baru

Satu rangkaian 'workshop' dari Kontrak Pemeliharaan Jalan pada tahun 1998. Isu yang muncul di Selandia Baru27

• partnering dan resiko berbagi;

:

• manfaat dari kontrak berbasis kinerja pemeliharaan jalan;

• reformasi jalan, komersialisasi dan pembiayaan;

• Penghematan biaya mencapai 30% menggunakan konsultan bagi manajemen

dan 17% menggunakan kontraktor sejak 1991 ketika tendering wajib telah diperkenalkan;

• Adanya satu pendekatan evolusiner; dan

• pengembangan kontrak penanganan 3-5 tahun.

26

Parkman, C And K Madelin (1999). A Review Of Contract Maintenance For Roads. XXI st World Road Congress, PIARC, Kuala Lumpur, Malaysia

27

Parkman, C And K Madelin (1999). A Review Of Contract Maintenance For Roads. XXI st World Road Congress, PIARC, Kuala Lumpur, Malaysia

(11)

Universitas Indonesia Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, negara bagian Virginia mempelopori kontrak kinerja untuk memelihara 402 km jalan antara negara bagian tersebut pada tahun 1996, dan 4 tahun kemudian negara bagian Washington mengikuti kontrak kinerja yang mencakup 119 km jalan federal tahun 1999.

Warranty Contracts28

(a) mengurangi sejumlah sumber-sumber daya dalam pemeliharaan jalan raya;

adalah salah satu bentuk dari kontrak berdasarkan kinerja yang digunakan di Amerika Serikat sebagai satu usaha untuk :

(b) merealokasikan resiko kinerja; (c) meningkatkan inovasi kontraktor;

(d) meningkatkan kualitas produk yang dibangun; dan

(e) mengurangi biaya siklus proyek (life cycle cost) jalan raya.

Hancher (1994) telah mendefinisikan Warranty Contracts sebagai "satu jaminan integritas dari satu produk dan tanggung jawab pelaksana untuk perbaikan atau penggantian defisiensi." Pada spesifikasi kontrak jaminan, kualitas diukur berbasis pada produk akhir aktual kinerja, tidak berdasarkan volume properti.

Dengan kontrak jaminan, kontraktor mengasumsikan resiko kinerja pasca konstruksi dan selama proses konstruksi, kontraktor mempunyai banyak kebebasan untuk memilih bahan dan metoda konstruksi dibandingkan kontrak tradisional, dan kontraktor dapat mengembangkan kualitas, kontrol program tanpa

pembatasan yang tak terpisahkan dalam spesifikasi metoda dasar29

• Konsep Perencanaan (Conceptual Planning);

. Agensi jalan raya di Amerika Serikat, Thompson et al. (2000) telah mengusulkan petunjuk untuk penggunaan kontrak jaminan pada pekerjaan jalan raya. Proposal mereka terdiri atas delapan buat bertahap:

• Program perencanaan (Program Planning);

• Penawaran (Bidding);

28

César Queiroz (2000), Contractual Procedures to Involve the Private Sector in Road Maintenance and Rehabilitation, 24th International Baltic Road Conference.

29

Thompson, Benjamin P., Jeffrey S. Russell, Stuart D. Anderson, Awad S. Hanna, and Byron Blaschke. 2000. ‘Guidelines for the Use of Warranty Contracting in Highway Construction.” Transportation Research Board 79th Annual Meeting, National Research Council, Washington, D.C.

(12)

Universitas Indonesia

• Pemenang Kontrak (Contract Award);

• Konstruksi (Construction);

• Pemeliharaan dan Evaluasi Kinerja (Maintenance and Evaluation of

Performance);

• Evaluasi proyek percontohan (Evaluation of the Pilot Project);

• Evaluasi program organisasi (Evaluation of the Organizational Program).

Agensi jalan raya biasanya tertarik akan penerapan satu program kontrak jaminan untuk memenuhi objektif seperti:

(a) meningkatkan kualitas; (b) peningkatan keahlian agensi; (c) distribusi ulang resiko kinerja; dan

(d) pengurangan desain, pengujian, dan personil inspeksi dari agensi.

Kontrak berbasis kinerja (PBC) ini dikenal30

- Output and Performance Based Road Contracts (OPRC);

dengan beberapa nama seperti :

- Performance Specified Maintenance Contract (PSMC) di Australia dan New Zealand;

- Performance Based Management and Maintenance of Roads (PMMR); - Output Based Service Contract;

- Performance Based Road Asset Management and Maintenance Contract; - Asset Management Contract di Amerika Serikat;

- CREMA (Contrato de REcuperacion y Mantenimiento) di Argentina; - Managing Agent Contract (MAC) di Ingris;

- Area Maintenance Contract di Finlandia.

Bentuk standar yang biasa dilaksanakan di Amerika Latin (Africa Technical Note, 1998)31

30

César Queiroz, “Practical Implementation Issues When Introducing OPRC” Regional Workshop on Output and Performance Based Road Contracts (OPRC), 2006

31

DR. Max Antameng, MM “Analisa Awal Kebijakan Pemeliharaan Jalan dengan Sistem Kontrak Kinerja yang Berjangka Panjang di Indonesia”

(13)

Universitas Indonesia 1. International Roughness Index (IRI) untuk mengukur kekasaran permukaan

jalan yang mempengaruhi Biaya Operasioanal Kendaraan (BOK);

2. Tidak adanya “pothole/lubang” serta pengawasan terhadap cracks dan rutting; 3. Jumlah minimum jejak (friction) antara ban mobil dengan permukaan jalan;

4. Jumlah minimum bungkalan tanah liat yang menutupi/menghalangi sistem

drainase;

5. Retroflexivity dari rambu-rambu jalan dan marka jalan;

6. Pengawasan terhadap tingginya alang-alang atau tumbuhan tertentu.

Adapun asset jalan yang telah distandarisai pada beberapa Negara selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Aset jalan yang distandarisasikan pada beberapa negara

No Scope No Scope

1 Permukaan perkerasan (Pavement surface) 16 Pagar (Fencing) 2 Bahu (Shoulders) 17 Pagar (Guardrails) 3 Lereng (Slopes) 18 Penghalang (Barriers) 4 Lubang (Potholes) 19 Peredam (Attenuators) 5 Sistem drainase terbuka (Open

drainage system) 20

(Street trees, shrubs and otherplantings)

6 Kolam tangkapan (Catch

basins) 21 Tanaman (Vegetation and Aesthetics) 7 Saluran pembuangan (Drain) 22 Tanda perkerasan (Pavement marking) 8 Bangunan penyadap (Inlets) 23 Jalur perkerasan (Pavement striping) 9 Batu tepian jalanan (Curbs) 24 (Raised pavement striping)

10 Selokan (Gutters) 25 (Highway and sigh lights) 11 Trotoar (Sidewalk) 26 Terowongan (Tunnels) 12 Sisi jalan (Roadsides) 27 Jembatan (Bridges)

13 Median (Medians) 28 Tempat istirahat (Rest areas) 14 Rambu dan rambu lalu lintas

(Sign and Traffic Signals) 29

Detektor kelebihan muatan (Over-height detectors)

15 Penerangan (Lighting) 30 (Oil/Grit separator on Bridges)

Sumber : Transport Note No. TN-27, September 2005.

Penerapan kontrak berbasis kinerja pada sebagian besar negara-negara Amerika Latin dapat mengurangi biaya pemeliharaan dan meningkatkan kondisi jalan, kebanyakan dari kontrak tersebut berlaku lebih dari 1 tahun meliputi pemeliharaan rutin, dan pada yang lain ada pemeliharaan berkala dan jalan

(14)

Universitas Indonesia rehabilitasi. Contoh penerapan kontrak berbasis kinerja di Amerika Selatan selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.4 Contoh dari penerapan kontrak kinerja32 di Amerika Latin

Negara Jumlah Kontrak Panjang (Km) Jangka waktu kontrak (thn) Tipe Pemeliharaan Biaya per km tahun (dalam US$) Argentina 61 (a) 11.813 5 r A : 11.000 (c) Chile 2 (a) 747 5 r C : 3.850 A : 3.200 B : 2.700 Colombia 3 545 2 r, s A : 6.200 Guatemala, skala kecil 70 2.995 1 (b) r (sistem drainase dan daerah milik jalan) 1.950 (sistem drainase dan daerah milik jalan)

Uruguay 4 (a) 1.007 4 r, p C, A, B dan G

6.980 Uruguay, skala kecil 8 1.564 2 (b) r (diluar rambu dan marka) A, B dan G : 3.800 Uruguay (Montevideo) 1 (a) 1.05 x 106 m2 3 (b) r, p A : 1.8 / m2 C : 2.8 / m2 G : 2.0 / m2 Brazil (Santa Catarina) 1 (a) 375 5 r A dan G 3.000

Sumber: Zietlow et.al, 2006 Keterangan :

(a) kontrak dengan beberapa item pekerjaan rehabilitasi jalan. (b)dapat ditambah untuk satu periode

(c) pembayaran Lumpsum termasuk item biaya rehabilitasi

r : pemeliharaan rutin; p : pemeliharaan berkala; s : pelayanan lainnya kepada penguna jalan dan pengelola jalan

C : cement concrete; A : Asphalt concrete; B : Bitumin; G : Gravel

Sebagian besar pembangunan di Bolivia, Kolumbia, Ekuador, Honduras, dan Nicaragua menggunakan semacam kontrak berdasarkan kinerja. Kontrak mencatat aktivitas-aktivitas pemeliharaan, seperti penambalan lubang di jalanan, menambal celah, pembersihan saluran atau memotong rumput, bersama-sama dengan masing-masing aktivitas indikator kinerja. Indikator kinerjanya disana harus tidak

32

Dr. Gunter Zietlow & Alberto Bull, “Performance Specified Road Maintenanc Contract : The Road to The Future The Latin America Perspective” International Road Federation (IRF), 2006

(15)

Universitas Indonesia ada lubang di jalanan. Contoh aktivitas-aktivitas dan indikator kinerja dalam kontrak diperlihatkan pada tabel 2.5 – tabel 2.7.

Tabel 2.5 Indikator kinerja pada beberapa kontrak yang berbeda di Amerika Latin

Kegiatan (Activities) Indikator Kinerja

(Performance Indicators)

Membersihkan dan memperbaiki gorong-gorong dan bangunan penyadap (Cleaning and repairing of culverts and inlets)

Gorong-gorong dan bangunan penyadap secara struktur harus kuat dan (Culverts and inlets have to be structurally sound and clean to allow for the free flow of water)

Membersihkan dan memperbaiki permukaan struktur drainase seperti parit dan saluran (Cleaning and repairing of surface drainage structures like ditches and channels)

Permukaan sistem drainase secara struktur kuat dan bersih untuk dialiri air (Surface drainage systems have to be structurally sound and clean to allow for the free flow of water)

Memotong rumput dan semak-semak (Cutting of grass and brush)

Tinggi tanaman < 30 cm (Vegetation should not exceed a height of 30 cm)

Memangkas, memotong dan memindahkan tanaman (Trimming, cutting and removal of trees)

(No trees should obstruct traffic or pose a safety hazard)

Menanam tanaman, rumput, dan semak untuk menahan erosi (Planting of trees and shrub and seeding of grass to control erosion)

Memenuhi program untuk mengontrol erosi

(Compliance with the program to control erosion)

Membersihkan jalan dan daerah milik jalan

(Cleaning of roadway and right-of-way)

Jalan dan daerah milik jalan harus bebas dari sampah, puing dan hal yang membahayakan jalan (Roadway and right-of-way should be free of litter, debris and road-kill)

(Patching of potholes in pavement and shoulders) Tidak boleh ada lubang (There should be no potholes)

Menutup retak (Sealing of cracks) Retak > 3 mm harus ditutup (Cracks more than 3 mm wide should be sealed)

Menutup sambuangan (Sealing of joints) Sambungan harus ditutup (Joints have to be sealed)

Membersihkan struktur jembatan (Cleaning of bridge structures)

Struktur jembatan harus bersih (Bridge structures should be clean)

Membersihkan dan mencat tangga jembatan

(Cleaning and painting of bridge railings)

Tangga jembatan harus bersih dan dicat (Bridge railings should be clean and well painted)

(Cleaning of riverbeds (small rivers)) (Riverbeds have to be clean within 100 meters from the edges of bridges)

(Removing minor land slides) (There should be no obstruction of the roadway)

Membersihkan jalan dan rambu lalu lintas

(Cleaning of road and traffic signs)

Jalan dan rambu lalu lintas harus bersih (Road and traffic signs should be clean)

(Maintaining of milestones) (Milestones should be complete, clean and visible. Missing milestones should be replaced within 24 hours)

Membersihkan, memperbaiaki, dan mencat pagar

(Cleaning, repairing, and painting of guardrails)

Pagar harus bersih, lengkap dan dapat dilihat

(Guardrails have to be clean, complete and visible)

Membersihkan tanda jalan, rambu jalan dan rambu jalan (Cleaning of road markers, road markings, and horizontal road signs)

Tanda jalan, marka jalan dan rambu lalu lintas harus bersih (Road markers, road markings and horizontal road signs have to be clean)

Merespon terhadap bahaya (Responding to emergencies)

(Responded in due time to emergencies)

Memndahkan papan iklan (Removal of billboards)

Tidak boleh ada papan iklan di daerah milik jalan

(There should be no billboards within the right of way)

Berpartisipasi dalam aktifitas pelatihan

(Participate in training activities)

(Each member of the road maintenance micro-enterprise attends training courses conducted by the road manager or road administration)

Sumber : Using Micro-Enterprises to Create Local Contracting Capacity - The Latin American Experience in Road Maintenance – University of Birmingham, UK (Dr. Gunther Zietlow, 2004).

(16)

Universitas Indonesia

Tabel 2.6 Indikator kinerja pada beberapa kontrak yang berbeda di Jerman

Aset (Asset) Komponen (Class Component)

Indikator Kinerja (Performance Indicator) Perkerasan

(Pavement)

Lubang (Potholes) Tidak ada lubang (No potholes) Kekasaran aspel

(Roughness (asphalt))

IRI < 2.0 (Argentina), IRI < 2.8 (Uruguay)

Kekasaran perawatan bitumen (Roughness (bituminous

treatment))

IRI < 2.9 (Argentina), IRI < 3.4 (Uruguay)

(Rutting) < 12mm (Argentina), < 10mm (Uruguay, Chile)

Retak (Cracks) (Sealed) Permukaan

batu/kerikil (Gravel surfaces)

Lubang (Potholes) Tidak ada lubang (No potholes) Kekasaran

(Roughness)

IRI < 6 (Uruguay), IRI < 11 (Chile) Ketebalan lapisan

kerikil (Thickness of gravel Layer)

10 cm (Chile, Uruguay)

Bahu (Shoulders) Lubang (Potholes) Tidak ada lubang (No potholes) Retak (Cracks) (Sealed)

Sambungan dengan perkerasan (Joints with pavement)

Alinyemen vertikal (Vertical alignment) < 1cm (Chile,

Uruguay), sealed (Peru) Sistem drainase

(Drainage system)

Rintangan (Obstructions)

Tidak ada rintangan aliran air (No obstructions. Should allow for free flow of water) (Chile, Uruguay) Struktur (Structures) Tanpa kerusakan dan deformasi

(Without damages and deformations) (Chile, Peru)

Tanda dan rambu jalan (Road signs and

Markings)

Tanda jalan (Road signs)

Lengkap dan bersih (Complete and clean) (Argentina, Chile, Peru) Rambu jalan (Road

markings)

Lengkap dan dapat dilihat (Complete and visible) (Argentina, Chile, Peru) Daya pantul jalan

(Reflectivity of road)

160 mcd/lx/sqm. (Argentina) Marka (Markings) 70 mcd/lx/sqm. (Uruguay) Bahu jalan dan

daerah milik jalan (Right of way)

Tumbuhan (Vegetation)

< 15cm height (Argentina, Uruguay) (Foreign elements) (No foreign elements allowed)

Sumber : Implementing Performance-based Road Management and Maintenance Contracts in Developing Countries - An Instrument of German Technical Cooperation – (Dr. Gunther Zietlow, 2004).

(17)

Universitas Indonesia Tabel 2. 7 Indikator kinerja pada kontrak kinerja di Sydney, Australia

Aset (Asset) (Outcomes)

Target Indikator dari asset (Performance Target in % of Asset) Indikator Kinerja (Performance Indicator) Pipa melintang (Cross Pipes) < 36 ft sq) Keutuhan struktural (Structurally sound) 95 < 10% barrel berkurang (deteriorated barrel) Saluran terbuka (Open drains) > 90% diameter terbuka (diameter open) Sambungan utuh (Joints intact)

Sambungan utuh (Joints intact) Kapasitas memadai

(Adequate capacity)

Perlindungan akhir utuh (End protection intact)

Tidak ada erosi (No erosion)

(No dip in road over pipe indicating structural problems) (Paved Ditches) (Aligned) 95 < 1” penurunan (settlement)

Keutuhan struktural (Structurally sound)

< 25% (spalled)

Bersih (Clean) (no obstruction to flow of water) Trotorar dan

tanjakan (Sidewalks and Ramps)

Rata (Smooth) 90 Tidak ada penurunan (No settlement) > ½”

Aman (Safe) Tidak ada retakan yang terbuka (No unsealed cracks) > ¼” Utuh (Sound) < 25% (spalled)

Sumber : Implementing Performance-based Road Management and Maintenance Contracts in Developing Countries - An Instrument of German Technical Cooperation – (Dr. Gunther Zietlow, 2004).

2.2.3 Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja di Indonesia

“Penerapan konsep performance based contract (PBC) diharapkan dapat

menjadi lompatan inovasi kearah pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang aman, kuat dan nyaman, konsep ini terkait dengan peningkatan mutu jalan” disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum Hendrianto Notosoegondo dalam sambutan pembukaan kolokium bertajuk Dukungan Penerapan Teknologi dalam rangka Pengawalan Kualitas Jalan dan Jembatan di Bandung, 10 Juni 2008.

(18)

Universitas Indonesia Kontrak berbasis kinerja33

Pembayaran tiap bulan dilakukan apabila kontraktor melakukan pemeliharaan jalan yang memiliki kinerja dengan tingkat kualitas pelayanan jalan tertentu sesuai yang diisyaratkan. “Kinerja

merupakan suatu hal yang relatif baru di Indonesia, kontrak yang memiliki karakteristik tersendiri, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan terintegrasi dalam satu kontrak yang dilaksanakan dalam tahun jamak (multi years) dan pembayarannya dilakukan dengan sistem lump sum berdasarkan “kinerja” pekerjaan yang dicapai per bulan per kilometer.

34

• Jenis kerusakan (distress types) yang menjadi ukuran, misalnya (rut depth) atau besaran retakan (amount of cracking) dan definisi setiap jenis kerusakan tersebut;

” yang diukur dengan tingkat kualitas pelayanan (service quality levels) didefinisikan berdasarkan perspektif pengguna jalan, yang

menjadi ukuran antara lain kecepatan rata-rata (average travel speeds),

kenyamanan pengendara (riding comfort) dan keselamatan (safety features).

Definisi kinerja harus secara tegas dijabarkan, mencakup hal-hal berikut :

• Metode sampling dalam pengujian kinerja;

• Toleransi terhadap hasil pengukuran tingkat kerusakan;

• Batas waktu pelaksanaan perbaikan kondisi jalan (apabila ditemukan

lubang-lubang maka perbaikan jalan harus dilaksanakan paling lambat dalam 1 minggu)

Pengelolaan Jalan35

33

Tim Pelaksana Studi Puslitbang Jalan dan Jembatan Bandung, 2006. Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi Jalan di Atas Tanah Lunak, Pusjatan, Bandung

34

Reini D Wirahadikusumah dan Muhamad Abduh, FTSL-ITB, “Metode Kontrak Inovatif untuk Peningkatan Kualitas Jalan : Peluang dan Tantangan

35

Reini D Wirahadikusumah dan Muhamad Abduh, FTSL-ITB, “Metode Kontrak Inovatif untuk Peningkatan Kualitas Jalan : Peluang dan Tantangan

di Indonesia dalam proses pengadaan dan perikatan serta penggunaan dana harus mengacu pada UU Jasa Konstruksi beserta Peraturan Pemerintah yang menjabarkannya, dan Keputusan Presiden 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Dalam penerapan metode kontrak berbasis kinerja tentu tidak boleh lepas dari guideline yang ada pada peraturan dan perundangan tersebut.

(19)

Universitas Indonesia

Munculnya gagasan kontrak berbasis kinerja36

- kontrak pemeliharaan dilakukan untuk beberapa tahun dan disatukan dengan

penanganan awal;

ini untuk mengefisienkan penanganan pemeliharaan jalan dengan :

- kepastian pendanaan;

- biaya pengeluaran proyek lebih rendah (bisa mencapai 10% - 40%)

- jumlah staf pengelola proyek dapat dikurangi sampai 50%

- mutu lebih terjamin selama kontrak (umur rencana) sehingga kepuasan

pengguna jasa meningkat

Keuntungan bagi kontraktor selaku pelaksana adalah :

- sasaran output jelas berjangka panjang;

- dapat mengembangkan inovasi dalam pelaksanaan pemeliharaan jalan;

- profit yang lebih baik

Menjadikan suatu tantangan dengan adanya kompetisi kontraktor yang harus berkualitas baik, proses kontrak yang lebih lama, standar kinerja harus jelas, performance indicators (jenis, ukuran dan toleransi) perlu akurat dan kesempatan bagi kontraktor kecil lebih berkurang.

Penerapan kontrak berbasis kinerja pada pemeliharaan jalan akan berdampak pada perencanaan jalan yang dilakukan menjadi lebih baik dimana perencanaan lalu lintas untuk tingkatan pelayanan (level of service) tertentu dapat dicapai, kecepatan rencana, gangguan samping dan kondisi perkerasan dapat dipenuhi. Kaidah manajemen proyek (project management) dipenuhi dengan terpeliharanya jalan sesuai umur rencana, jalan dibangun dan dioperasikan dengan benar sehingga spesifikasi teknis dipenuhi dengan tidak adanya overloading serta persyaratan kelas jalan dapat dipenuhi.

Pada tahun 2000 PT. Jasa Marga (Persero) mencoba menerapkan Performance Based Maintenance Contract (PBMC) untuk ruas jalan tol Cawang – Pluit. Pada tahun 2002 PT.Jasa Marga melaksanakan Pilot Project Pelapisan Tipis Tipe Perkerasan Jalan Tol dengan jaminan performa selama 2 (dua) tahun yang

36

Dr. Gunter Zietlow, International Seminar on Road Financing and Investment Arusha, Tanzania,

Performance-Based Road Management and Maintenance Contracts – Worldwide Experiences, April 16 – 20, 2007

(20)

Universitas Indonesia merupakan uji coba pertama kali penerapan pekerjaan pemeliharaan berbasis performa. Pada kontrak sistem ini penyedia jasa diminta menjamin performa lapis tipis perkerasan (lastika) selama 2 tahun. Selanjutnya pada tahun 2006 di jalan Tol Jagorawi pada pekerjaan scrapping-filling dan overlay kontraktor diminta menjamin jalan tol yang dipeliharanya selam 2 tahun harus terbebas dari lubang (zero pothole), apabila ditemukan lubang maka dalam jangka waktu 2 x 24 jam harus sudah ditangani bila tidak dikenakan denda Rp. 10.000.000,- per hari37

Latar belakang dari penerapan PBMC ini karena PT. Jasa Marga (Persero) menginginkan kesinambungan tingkat pelayanan jalan selama masa layannya. Sebelumnya, kontrak yang digunakan adalah kontrak tradisional sehingga PT. Jasa Marga mengalami beberapa kendala sebagai berikut (JM, 2005)

.

38

Performance Based Maintenance Contract (PBMC) merupakan salah satu strategi untuk memcapai sasaran karena sistem ini memberikan jaminan akan adanya kinerja jalan tol yang memenuhi standar kualitas pelayanan sepanjang waktu, idealnya sistem PBMC

: - Banyaknya kontrak yang harus ditangani tiap tahun

- Banyaknya sumber daya manusia yang harus dialokasikan untuk perencanaan dan pengawasan pekerjaan

- Perbaikan kerusakan biasanya dilakukan sesaat sebelum serah terima akhir (final handover, FHO)

- Tidak adanya penalti apabila kerusakan terjadi dalam masa jaminan pemeliharaan

39

37

Ir. Hasanudin M.Eng, SC; Kepala Divisi Pemeliharaan PT. Jasa Marga, Pengalaman Pelaksanaan Performance Based Maintenance Contract (PMBC) di PT. Jasa Marga, Loka Karya I KRTJ-10, Surabaya 2008

38

Tim Pelaksana Studi Puslitbang Jalan dan Jembatan Bandung, Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi Jalan di Atas Tanah Lunak, Bandung, 2006.

39

Ir. Hasanudin M.Eng, SC; Kepala Divisi Pemeliharaan PT. Jasa Marga, Pengalaman Pelaksanaan Performance Based Maintenance Contract (PMBC) di PT. Jasa Marga, Loka Karya I KRTJ-10, Surabaya 2008

ini PT. Jasa Marga (Persero) Tbk mengikat kontrak dengan badan hukum/penyedia jasa/kontraktor untuk pemeliharaan jalan tol dan penyedia jasa/kontraktor melakukan seluruh aktivitas pemeliharaan yang mencakup maintenance plan and schedule sampai dengan implementasi. Konsep PBMC ini mempunyai banyak kelebihan dibanding dengan sistem biasa/tradisional, yakni pemakaian sumber daya yang lebih efisien, pembagian

(21)

Universitas Indonesia resiko yang adil antara kontraktor dan pengelola jalan dan ditemukan inovasi-inovasi baru di bidang teknologi pemeliharaan jalan.

Kerangka pikir40 Data-data Lalu Lintas Data-data Teknis Jalan/ Jembatan Sandar, Sisem dan Prosedur

JASA MARGA KONTRAKTOR

Analisis

Rencana & Jadwal Pemeliharaan: • SDM • Material • Peralatan Estimasi Biaya Penawaran Estimasi Inflasi Harga Satuan

Jasa Marga melakukan evaluasi thd penawaran yang dilakukan oleh kontraktor mengenai :

• pemenuhan tolak ukur

• plan

• performance

• respon time

Jasa Marga melakukan:

• supervisi

• verifikasi

Kontrakor Implementasi

yang mencerminkan hak dan tanggung jawab pengelola jalan tol maupun kontraktor pelaksana PMBC dapat di lihat pada bagan alir gambar 2.2.

Gambar 2.2 Konsep awal PBMC (Hasanudin, 2008)

PT. Jasa Marga memiliki target performa terhadap kondisi-kondisi jalan tol, yang dijadikan dasar untuk menentukan kinerja yang ingin dicapai dalam kontrak. Tabel 2.8 adalah target performa yang ingin dicapai oleh PT. Jasa Marga untuk dipenuhi oleh kontraktor pada pelaksanaan kontrak PBMC.

40

Ir. Hasanudin M.Eng, SC; Kepala Divisi Pemeliharaan PT. Jasa Marga, Pengalaman Pelaksanaan Performance Based Maintenance Contract (PMBC) di PT. Jasa Marga, Loka Karya I KRTJ-10, Surabaya 2008

(22)

Universitas Indonesia Tabel 2. 8 Target performa jalan tol yang diinginkan

Perkerasan  Jalan tanpa lubang (zero potholes)

 Permukaan visual baik, tidak ada retak maupun rutting dan bahu jalan kondisi baik tanpa lubang

 IRI < 2,50 m.km

 Skid resistance > 0,40 µ-meter

 Lendutan (Deflection) < 0,40 mm

Jembatan  Konstruksi stabil

 Slab tidak retak

Drainase  Tidak ada genangan air di jalan tol

 Air pada saluran mengalir lancar

Rumput  Tinggi maksimum 10 cm

 Tumbuhan liar < 10% area

Sumber: Hasanudin, 2008

Tabel 2.9 adalah respon waktu yang diberikan terhadap penurunan performa dari target yang ditetapkan.

Tabel 2. 9 Respon waktu penanganan

Performa Respon Waktu

Permukaan retak dan segregasi 1 minggu Keretakaan ≥ 2,50 m/km 4 minggu Lendutan ≥ 0,6 mm 6 minggu

Lubang ≥ 5 cm 1 x 24 jam

Saluran drainase : air tidak mengalir 1 minggu

Rumput ≥ 10 cm 2 minggu

Tumbuhan liar ≥ 10% 4 minggu

Sumber: Hasanudin, 2008

Dengan alasan-alasan tersebut di atas, PT. Jasa Marga (Persero) mencoba untuk menerapkan PBMC pada ruas Cawang – Pluit. Akan tetapi, pada pelaksanaannya, PT. Jasa Marga (Persero) mengalami kendala dari kontraktor sebagai berikut:

- Ketidaksiapan untuk menyusun Program dan Jadwal Pemeliharaan;

- Kurangnya pengetahuan dalam memilih metode yang sesuai untuk perbaikan; - Tidak dipahaminya indikator kinerja dan cara pengukurannya;

- Sebagian besar Kontraktor tidak mempunyai sumber daya (alat dan keuangan) yang cukup.

(23)

Universitas Indonesia Berdasarkan kemampuan kontraktor tersebut, PT. Jasa Marga (Persero)

akhirnya memodifikasi PBMC menjadi Modified PBMC yang intinya sebagai

berikut:

- Ruang lingkup dan jenis pekerjaan didefinisikan oleh PT. Jasa Marga (Persero);

- Pekerjaan dilaksanakan oleh kontraktor berdasarkan lingkup dan jenis pekerjaan dan masa pemeliharaan menjadi dua tahun dimulai dari serah terima bersyarat (Provisional Hand Over, PHO);

- Jaminan pemeliharaan adalah 10 % dari nilai kontrak yang dibagi menjadi dua

tahap, yaitu Tahap I (5% selama 12 bulan setelah PHO) dan Tahap II (5%

selama 30 hari setelah FHO).

Dalam pembangunan jalan tol Cipularang, PT. Jasa Marga (Persero) juga

menerapkan Kontrak Perencanaan dan Pembangunan (Design and Built Contract)

untuk Jembatan Cipada karena keterbatasan waktu. Akan tetapi spesifikasi yang digunakan masih spesifikasi tradisional dan belum menerapkan spesifikasi kinerja.

Direktorat Jenderal Bina Marga berencana akan menerapkan Kontrak Berbasis

Kinerja (PBC) untuk ruas jalan Semarang – Pekalongan41

− Peningkatan kapasitas jalan 9,8 km ruas Batang – Weleri;

(lihat Gambar 2.3). Proyek tersebut termasuk dalam program Strategic Road Infrastructure Project (SRIP) yang didanai oleh Bank Dunia. Proyek ini terdari dari :

− Peningkatan jalan 10,4 km ruas Semarang – Kendal;

− Pemeliharaan jalan 100 km ruas Semarang – Pekalongan.

Lokasi penerapan PBC di ruas Semarang – Pekalongan dapat dilihat pada peta

gambar 2.3.

41

Ian Greenwood and Theuns Henning, “Introducing Performance Based Maintenance Contracting to Indonesia, Framework Document”, Opus International Consultants ,The World Bank, 2006

(24)

Universitas Indonesia Gambar 2.3 Lokasi penerapan PBC di ruas Jalan Semarang-Pekalongan

(Greenwood & Henning, 2006)

Sebelum dikontrakkan melalui tender, pemerintah tentunya akan melakukan evaluasi untuk menilai kualitas kedua ruas jalan tersebut untuk menjadi acuan kondisi jalan yang harus dijamin kontraktor.

2.2.4 Komponen – komponen Kontrak Berbasis Kinerja

Adapun komponen42

A. Performance Work Statemen (PWS)

dari kontrak berbasis kinerja meliputi :

Performance Work Statement merupakan spesifikasi yang menggambarkan seluruh pekerjaan dalam bentuk output (tidak menjelaskan bagaimana metode yang akan digunakan untuk mencapai kinerja yang dinginkan).

Komponen Performance Work Statement adalah :

- pendahuluan, gambaran umum dari pencapaian (acquisition);

- latar belakang yang merupakan informasi untuk memperjelas dasar dan

sejarah dari kebutuhan (requirement);

- lingkup, tinjauan umum yang berhubungan dengan aspek-aspek penting dari

kebutuhan;

42 The

NECCC (The National Electronic Commerce Coordinating Council), Developments in Performance-Based Procurement for Technology – USA, 2004

(25)

Universitas Indonesia

- perintah yang berlaku, dokumen dari pedoman/perintah yang bersifat wajib;

- persyaratan kinerja, apa yang harus dilakukan, standar kinerja dan tingkatan

kualitas yang dapat diterima;

- informasi persyaratan, laporan, software, dan persyaratan formal yang menjadi

bagian dari kontrak.

B. Performance Indicators (PI) dan Performance Standart (PS)

Performance Indicators (PI) adalah karakteristik dasar dari pencapaian kinerja dan gambaran dari output yang dapat diukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Performance Standart (PS) merupakan tingkatan target atau range dari tingkatan kinerja, seperti : standar V rata-rata kendaraan adalah 60 km/jam. Km/jam = PI dan 60 km/jam = PS.

Pemilihan PS harus tepat karena akan berpengaruh langsung terhadap biaya.

C. Acceptable Quality Level (AQL)

Acceptable Quality Level mengggambarkan variasi dari nilai PS yang diperbolehkan dan harus ditentukan untuk setiap jenis pekerjaan. AQL ini berpengaruh terhadap biaya dan kebutuhan pengawasan, jika jenis pekerjaan memiliki nilai variasi yang besar maka kebutuhan pengawasan tidak terlalu tinggi.

D. Appropriate Incentive

Insentif yang diterapkan dapat berupa nilai positif/negatif, monetary incentive (fixed price contract, cost plus incentive fee, cost plus award fee, sharing in saving), non monetary incentive (merubah penjadwalan, pengurangan pengawasan, frekwensi pembayaran yang lebih banyak), dan besaran insentif ditentukan dari nilai pekerjaan yang dihasilkan.

E. Performance Requirement Summary (PRS)

Performance Requirement Summary merupakan rangkuman yang berisi daftar pekerjaan, PS, AQL, QASP dan Incentive.

(26)

Universitas Indonesia F. Quality Assurance Surveillance Plan (QASP)

Merupakan rencana untuk menilai kelayakan kinerja kontraktor, yang disusun untuk memastikan bahwa sasaran kinerja tercapai dan memenuhi klausul inspeksi. Quality Assurance adalah alat yang dapat membantu agar kualitas yang dicapai merupakan tingkatan kualitas yang paling baik. Dalam Quality Assurance Surveillance Plan (QASP) menggambarkan strategi dan metoda yang direnacakan untuk menjamin kualitas yang memuaskan dan proyek dapat dikendalikan secara reasonable.

2.3 KENDALA43 2.3.1 Resiko Pekerjaan

PENERAPAN KONTRAK BERBASIS KINERJA

Aspek resiko pekerjaan yang menjadi kendala penerapan kontrak berbasis kinerja adalah :

1. Alokasi resiko pemilik pekerjaan dan penyedia jasa. Resiko yang ditanggung

oleh penyedia jasa yang seharusnya ditanggung oleh pemilik mengakibatkan terjadinya kondisi tingginya harga penawaran lelang, mundurnya penyedia jasa akibat bank pemberi modal bagi penyedia jasa menolak untuk mengambil resiko dan pemutusan kontrak kerja dari penyedia jasa dengan kemungkinan terburuk bangkrutnya penyedia jasa.

2. Resiko yang belum teridentifikasi dalam tahap perencanaan yang dapat

berakibat mundurnya penyedia jasa dari pekerjaan yang telah ditetapkan.

Faktor saluran drainase, kelebihan beban (overloading), kualitas pekerjaan existing, kualitas bahan material, eskalasi biaya dan jaminan penawaran merupakan risiko44

Untuk mengantisipasi kendala dari segi resiko dibutuhkan analisis resiko detail sebelum dilaksanakannya proyek dan melakukan manajemen resiko selama proyek berlangsung. Jenis-jenis resiko yang harus dianalisis dapat dikelompokkan menjadi aspek-aspek sebagai berikut:

penting yang harus dipertimbangkan.

43

Tim Pelaksana Studi Puslitbang Jalan dan Jembatan Bandung, 2006. Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi Jalan di Atas Tanah Lunak, Pusjatan, Bandung

44

Ian Greenwood dan Theuns Henning, “Introducing Performance Based Maintenance Contracting to Indonesia, Framework Document”, Opus International Consultants ,The World Bank, 2006

(27)

Universitas Indonesia

- Aspek legal (tidak adanya atau kurangnya pengetahuan mengenai prosedur

atau perijinan);

- Aspek organisasi (tidak adanya atau kurangnya komunikasi, tidak jelasnya

kebutuhan pemilik proyek, adanya pihak lain yang terlibat);

- Aspek teknis (terjadinya perubahan lingkup kerja atau perubahan asumsi

dalam perhitungan desain);

- Aspek spasial (studi dampak lingkungan, adanya infrastruktur lain seperti

pipa, kabel, dan sebagainya);

- Aspek keuangan (adanya kesalahan dalam estimasi biaya atau biaya yang

tersedia tidak cukup);

- Aspek politik (perubahan dalam kebijakan politik atau perubahan prioritas).

Resiko sebaiknya dialokasikan pada pihak yang paling mampu mengatur resiko tersebut. Penyedia jasa biasanya dapat memikul resiko dengan syarat resiko tersebut berkaitan dengan keahliannya dan insentif yang akan mereka terima sesuai dengan tingkat resiko yang diberikan.

2.3.2 Aspek Hukum

Peraturan45

- UU Nomor : 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;

yang berkaitan dengan pengadaan barang/jasa dan yang menjadi acuan dasar hukum untuk penerapan kontrak berbasis kinerja adalah :

- PP Nomor : 28 tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa

Konstruksi;

- PP Nomor : 29 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi;

- PP Nomor : 30 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa

Konstruksi;

- Keppres Nomor : 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan

Barang/Jasa Pemerintah;

- Kepmen Kimpraswil Nomor : 339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk

Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi;

45

Tim Pelaksana Studi Puslitbang Jalan dan Jembatan Bandung, Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi Jalan di Atas Tanah Lunak, Bandung, 2006.

(28)

Universitas Indonesia

- Permen PU No. 43/PRT/M/2007 tentang Standard dan Pedoman Pengadaan

Jasa Konstruksi;

- Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 13/SE/M/2006 tanggal 3

Oktober 2006.

Keterkaitan penerapan kontrak berbasis kinerja dengan aspek hukum tersebut di atas ada beberapa kendala seperti :

1. Integrasi antara tahap perencanaan, konstruksi dan pemeliharaan46

Kontrak berbasis kinerja merupakan kontrak yang mengintegrasikan tahapan perencanaan, konstruksi dan pemeliharaan, dalam PP nomor 29 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, pasal 13 disebutkan bahwa pekerjaan konstruksi yang dapat dilakukan secara terintegrasi adalah pekerjaan yang bersifat kompleks, memerlukan teknologi tinggi, mempunyai risiko tinggi dan memiliki biaya besar.

Pekerjaan kompleks adalah pekerjaan yang memerlukan teknologi tinggi dan/atau mempunyai resiko tinggi dan/atau menggunakan peralatan yang didesain khusus dan/atau bernilai di atas Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).

Kriteria teknologi tinggi adalah mencakup pekerjaan konstruksi yang menggunakan banyak peralatan berat dan banyak memerlukan tenaga ahli dan tenaga terampil.

Kriteria resiko tinggi adalah mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya beresiko sangat membahayakan keselamatan umum, harta benda, jiwa manusia dan lingkungan.

.

2. Metode Seleksi Penyedia Jasa

Penyedia jasa terintegrasi, metode seleksi yang digunakan dalam pemilihan penyedia jasa adalah dengan cara pelelangan terbatas. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi Pasal 13, yang berbunyi :

46

(29)

Universitas Indonesia (1) Pemilihan penyedia jasa terintegrasi dilakukan mengikuti tata cara

pemilihan pelaksana konstruksi dengan cara pelelangan terbatas.

(2) Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan layanan jasa konstruksi secara terintegrasi adalah pekerjaan yang :

a. bersifat kompleks;

b. memerlukan teknologi tinggi; c. mempunyai risiko tinggi; dan d. memiliki biaya besar

(3) Pemilihan penyedia jasa terintegrasi dilakukan dengan syarat :

a. diumumkan secara luas melalui media massa, sekurang-kurangnya 1 (satu) media cetak dan papan pengumuman resmi untuk umum;

b. jumlah penyedia jasa terbatas; dan c. melalui proses prakualifikasi.

(4) Tata cara pemilihan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari: a. pengumuman prakualifikasi;

b. pemasukan dokumen prakualifikasi; c. evaluasi prakualifikasi;

d. undangan berdasarkan hasil prakualifikasi; e. penjelasan;

f. pemasukan penawaran; g. evaluasi penawaran;

h. penetapan calon pemenang berdasarkan harga terendah terevaluasi diantara penawaran yang telah memenuhi persyaratan administrasi dan teknis serta tanggap terhadap dokumen pelelangan;

i. pengumuman calon pemenang; j. masa sanggah; dan

k. penetapan pemenang.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan syarat-syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), dan pekerjaan yang dapat dilakukan secara terintegrasi ditentukan oleh Menteri

(30)

Universitas Indonesia Undang-Undang No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi secara umum mengatur mengenai metode pemilihan penyedia jasa, yaitu pelelangan umum, pelelangan terbatas, pemilihan langsung dan penunjukan langsung. Pasal 17 menyebutkan :

(1) Pengikatan dalam hubungan kerja jasa konstruksi dilakukan berdasarkan prinsip persaingan yang sehat melalui pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan umum atau terbatas.

(2) Pelelangan terbatas hanya boleh diikuti oleh penyedia jasa yang

dinyatakan telah lulus prakualifikasi.

(3) Dalam keadaan tertentu, penetapan penyedia jasa dapat dilakukan dengan cara pemilihan langsung atau penunjukan langsung.

(4) Pemilihan penyedia jasa harus mempertimbangkan kesesuaian bidang, keseimbangan antara kemampuan dan beban kerja, serta kinerja penyedia jasa.

(5) Pemilihan penyedia jasa hanya boleh diikuti oleh penyedia jasa yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 9.

(6) Badan-badan usaha yang dimiliki oleh satu atau kelompok orang yang sama atau berada pada kepengurusan yang sama tidak boleh mengikuti pelelangan untuk satu pekerjaan konstruksi secara bersamaan.

Peraturan Pemerintah No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi mengatakan bahwa dengan cara pelelangan umum pengguna jasa dapat melakukan prakualifikasi dan pascakualifikasi. Pada Pasal 3 PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi adalah :

(1) Pemilihan penyedia jasa yang meliputi perencana konstruksi, pelaksana konstruksi, dan pengawas konstruksi oleh pengguna jasa dapat dilakukan dengan cara pelelangan umum, pelelangan terbatas, pemilihan langsung, atau penunjukan langsung.

(2) Dalam pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pengguna jasa dapat melakukan prakualifikasi dan pasca kualifikasi.

(31)

Universitas Indonesia (3) Dalam pemilihan penyedia jasa dengan cara pelelangan terbatas

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pengguna jasa wajib melakukan prakualifikasi.

(4) Perusahaan nasional yang mengadakan kerja sama dengan perusahaan nasional lainnya dan atau perusahaan asing dapat mengikuti prakualifikasi dan dinilai sebagai perusahaan gabungan.

(5) Dalam pelelangan umum, pelelangan terbatas, atau pemilihan langsung penyedia jasa, pengguna jasa harus mengikutsertakan sekurang-kurangnya 1 (satu) perusahaan nasional.

(6) Dalam pemilihan perencana konstruksi dan pengawas konstruksi dapat disyaratkan adanya kewajiban :

a. jaminan penawaran dan jaminan pelaksanaan pekerjaan perencanaan untuk perencana konstruksi; atau

b. jaminan penawaran untuk pengawas konstruksi,

Apabila hal tersebut disepakati oleh pengguna jasa dan penyedia jasa yang mengikuti pemilihan.

3. Kontrak Tahun Jamak47

Berdasarkan jangka waktu pelaksanaannya, Kontrak Berbasis Kinerja merupakan kontrak jenis tahun jamak (multiyears), atau lebih dari 1 (satu) tahun anggaran. Menurut Pasal 30 ayat (8) Perpres No. 70/2005 tentang Perubahan Ketiga Atas Keppres No. 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, yang dimaksud dengan kontrak tahun

jamak adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran

untuk masa lebih dari 1 (satu) tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri Keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN, Gubernur untuk pengadaan yang dibiayai APBD Provinsi, Bupati/Walikota untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten/Kota, Kepala Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera

47

Peraturan Presiden Nomor 70 tahun 2005 tentang Perubahan Ketiga atas Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 Pasal 30

(32)

Universitas Indonesia

Utara untuk pengadaan yang dibiayai APBN dalam rangka kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah dan kehidupan masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara.

Untuk sistem kontrak tahun jamak48

4. Kontrak Lumpsum

perlu diperhatikan bahwa ketentuan

mengenai eskalasi dan perhitungan rumus eskalasi ditetapkan oleh kepala kantor/satuan kerja/pimpinan proyek/ pimpinan bagian proyek dan dimasukkan dalam dokumen pengadaan/kontrak.

49

Berdasarkan bentuk imbalannya, Kontrak Berbasis Kinerja merupakan kontrak yang menggunakan sistem lumpsum. Pasal 30 ayat (2) Perpres No. 70/2005 tentang Perubahan Ketiga Atas Keppres No. 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, mendefinisikan

sistem lumpsum adalah kontrak pengadaan barang/jasa atas penyelesaian

seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu, dengan jumlah harga yang pasti dan tetap, dan semua risiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesain pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa.

Keppres No. 80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Penjelasan Pasal 30 ayat (2) :

Sistem kontrak ini lebih tepat digunakan untuk pembelian barang dengan contoh yang jelas, atau untuk jenis pekerjaan borongan yang perhitungan volumenya untuk masing masing unsur/jenis pekerjaan sudah dapat diketahui dengan pasti berdasarkan gambar rencana dan spesifikasi teknisnya. Harga yang mengikat dalam kontrak sistem ini adalah total penawaran harga.

Dari penjelasan di atas, kontrak lumpsum dibolehkan untuk diterapkan di Indonesia untuk jenis pekerjaan borongan yang perhitungan volumenya sudah diketahui dengan pasti berdasarkan gambar rencana dan spesifikasi teknis. Dalam kontrak berbasis kinerja yang menjadi acuan pembayaran adalah kinerja dari suatu hasil konstruksi dan bukan volume pekerjaan.

48

Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Penjelasan Pasal 30 ayat (8)

49

(33)

Universitas Indonesia 2.3.3 Spesifikasi Kinerja

Kinerja jalan50

a) penilaian terhadap kesiapan jalan untuk dilalui kendaraan, seperti kelancaran lalu lintas sepanjang waktu.

yang ingin dicapai harus jelas dalam penerapan kontrak berbasis kinerja, termasuk toleransi yang diperbolehkan serta pinalty dan bonus bila menyimpang dari ketentuan yang telah disepakati, misalnya :

b) penilaian terhadap kemampuan pelayanan dan kenyamanan jalan, seperti :

1. kecepatan rata-rata;

2. kondisi lubang;

3. cara melakukan (patching);

4. kondisi retak;

5. kebersihan bahu dan perkerasan jalan;

6. kondisi (rutting); 7. kondisi (raveling); 8. kondisi (delamination);

9. kondisi depresi;

10. bagian tepi perkerasan yang terlepas; 11. Bahu tanpa pekerasan (unpaved shoulder); 12. Bahu dengan perkerasan (paved shoulder); 13. Rambu lalu lintas (traffic sign);

14. patok KM dan HM;

15. Pagar (guardrails);

16. Drainase tanpa perkerasan (drainase unpaved); 17. Drainase dengan perkerasan (drainase paved);

18. jalan masuk;

19. gorong-gorong;

20. struktur baja; 21. lantai jembatan; 22. struktur beton;

23. sambungan (expantion joint);

24. tembok penahan;

50

Ir. Purnomo, Prakondisi dan Konsekuensi terhadap Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja, Lokakarya KRTJ-10, Surabaya, 2008

(34)

Universitas Indonesia

25. lereng timbunan;

26. lereng galian.

c) penilaian terhadap kinerja lapis permukaan:

1. kerataan permukaan (road roughness);

2. lebar jalan;

3. geometrik jalan;

Spesifikasi kinerja51

− Lapis beraspal perkerasan lentur;

berupa kriteria tingkat pelayanan untuk pekerjaan pemeliharaan menurut Pustran adalah :

− Bahu jalan dan daerah milik jalan (right of way);

− Sistem drainase;

− Rambu lalu lintas dan keselamatan jalan;

− Jembatan;

− Jalan tidak beraspal.

2.3.4 Kesiapan Penyedia Jasa

Salah satu penentu keberhasilan dari penerapan Kontrak Berbasis Kinerja adalah kesiapan kontraktor dan kemampuan kontraktor dalam melakukan inovasi

teknologi. Kontrak Kinerja52

51

Tim Pelaksana Studi Puslitbang Jalan dan Jembatan Bandung, Kajian Penerapan Kontrak Berbasis Kinerja untuk Konstruksi Jalan di Atas Tanah Lunak, Bandung, 2006.

52

Dr. Gunter Zietlow, Cutting Costs and Improving Quality through Performance-Based Road Management and Maintenance Contracts, University of Birmingham, 2007.

adalah secara esensial kontrak manajemen, kontraktor-kontraktor besar cukup mampu melaksanakan kontrak berbasis kinerja dimana mereka memiliki pengalaman dalam proyek skala besar dan memiliki jumlah peralatan yang banyak serta jumlah tenaga kerja yang cukup tapi masih mempermasalahkan mengenai resiko.

Oleh karena itu masih akan diperlukan sosialisasi terhadap kontraktor terutama berkaitan dengan resiko dan sosialisasi terhadap dokumen kontrak berdasarkan kinerja.

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka teori penelitian
Tabel 2.2   Spesifikasi teknik dan sangsi pada penerapan kontrak berbasis kinerja  di Argentina (CREMA)
Tabel 2.3 Aset jalan yang distandarisasikan pada beberapa negara
Tabel 2.4 Contoh dari penerapan kontrak kinerja 32  di Amerika Latin
+5

Referensi

Dokumen terkait