Iskandarwassid & Sunendar (2009) menjelaskan teknik pembelajaran
menjadi suatu kiat, siasat, atau penemuan yang digunakan untuk menyelesaikan
serta menyempurnakan suatu tujuan langsung. Studi ini menyampaikan suatu kiat
penulis dalam mengembangkan kiat penyelesaian tujuan pembelajaran membaca
Bahasa Inggris untuk kalangan guru yang tergabung dalam komunitas jejaring
sosial facebook. Hal ini sejalan dengan isu yang diangkat oleh Grabe (2009) mengenai konteks sosial pada ketrampilan membaca. Dia menyatakan bahwa
pembelajar bahasa terpengaruh oleh ekspektasi politik, religi, etnik, ekonomi, dan
institusi yang bersifat sosial dan kultural yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan
ide Brown (2007) pada pembahasan peranan kultur pada ketrampilan membaca.
Brown menjelaskan bahwa kultur dan konteks memainkan peranan aktif dalam
memotivasi dan menghargai orang berliterasi. Pada kedua tataran tersebut dapat
diketahui bahwa dengan konteks dan kultur tertentu dalam membaca yang
memiliki unsur ekspektasi dan motivasi dapat menjadi kiat yang efektif dalam
menstimulasi pembaca meningkatkan kemampuan membacanya.
Pada studi yang didasarkan pada e-learning yang dilaksanakan oleh penulis,
penulis melakukan penerapan pembelajaran berbasis jaringan (Sumardiono,
2012a), pengembangan multimedia Flow Chart (Sumardiono, 2012b), dan penggunaa macromedia Flash Mx (Sumardiono, 2012c). Melihat hasil wawancara
yang dilakukan oleh penulis pada 10 (sepuluh) guru di SMP Negeri di Kota Blitar
seperti pada Tabel 1 dibawah ini,
Tabel 1. Hasil Wawancara Guru Bahasa Inggris SMP Negeri Kota Blitar
No Pandangan Tanggapan Guru
Setuju Tidak Setuju Tidak Menjawab
1 Perlunya info baru pada komunitas guru
10 - -
2 Pengunggahan info baru pada segi teori dan praktik
8 2 -
3 Perlunya dilaksanakan sharing pada lapangan
10 - -
4 Perlunya pembuktian dengan penelitian di sekolah
9 1 -
5 Pemakaian teknologi dalam unggah info baru
10 - -
pada Tabel 1 nampak bahwa info baru sangat perlu diunggah dan diterapkan pada
forum jejaring sosial yang dibuat oleh penulis untuk guru-guru. Info baru yang
berkenaan dengan ketrampilan membaca yang diangkat pada studi ini adalah
penerapan strategi QAR (Question-Answer Relationships) yang dikembangkan
oleh Raphael (1984) untuk membantu pembelajar membaca pada pemahaman
membaca (reading comprehension).
Pada konteks ini, penulis berperan sebagai pendidik yang memberikan
wawasan dan latihan kepada guru-guru yang berperan sebagai peserta didik
dalam mengulas dan melaksanakan praktik memahami bacaan menggunakan
strategi QAR. Oleh karena pengajaran menggunakan forum jejaring sosial
facebook ini dikategorikan sebagai e-learning (Munir, 2009), maka materi berupa penerapan strategi QAR tersebut menjadi variasi pemberdayaa facebook sebagai dasar e-learning dengan strategi QAR pada latihan pemahaman membaca.
Rumusan masalah yang diformulasi pada studi ini adalah „Bagaimana penerapan strategi QAR (Question-Answer Relationships) pada guru-guru SMP
Kota Blitar dalam forum jejaring sosial facebook?‟. Tujuan dari studi ini adalah memberikan gambaran penerapan strategi QAR (Question-Answer Relationships)
pada guru-guru SMP/MTs Kota Blitar dalam forum jejaring sosial facebook. Studi ini hanya dilaksanakan pada komunitas guru pada facebook dengan keterbatasan pada materi Bahasa Inggris untuk SMP/MTs kelas VIII yakni pada
teks deskriptif, recount, dan naratif.
Strategi QAR (Question-Answer Relationships)
QAR (Question-Answer Relationships) merupakan strategi memahami
bacaan yang bisa diterapkan untuk mengetahu struktur teks baik pada bacaan
fiksi maupun non-fiksi. Strategi ini membantu pembaca menghubungkan ilmu
dasar yang mereka miliki dengan informasi yang terdapat dalam teks. Pada
strategi ini, pembaca akan sadar akan pentingnya menghubungkan pertanyaan
dan jawaban pada teks yang mereka baca. Berdasarkan Pearson dan Johnson
(1978), QAR dapat diterapkan untuk mengetahui struktur teks pada teks baik
secara implisit, eksplisit, dan implisit skrip dengan jawaban pada ketiga jenis
dari teks dengan menggunakan informasi yang terdapat pada kalimat-kalimat atau
paragraf. Pertanyaan eksplisit teks adalah pertanyaan yang jawabannya
disuratkan secara eksplist di dalam teks. Sedangkan pertanyaan implisit skrip
adalah pertanyaan yang mana informasi diperoleh dari pemikiran dasar seorang
pembaca.
Raphael (1986) menjelaskan sintak dari QAR dengan dua istilah penting
yang digeneralisasi sebagai dasar strategi QAR yakni „in the book‟ (dalam buku) yang terdiri langkah „right there‟ dan „think and search‟. Sedangkan pada pembaca, „in the head‟dibagi menjadai dua lagkah yakni „author and me‟ dan „on my own‟. Kedua hal tersebut, „in the book‟ dan „in the head‟ adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan literal dan inferensial dalam teks. Figur 1
dibawah ini menunjukkan kerangka kerja (framework) dari QAR.
Figur 1 Kerangka Kerja Strategi QAR
Karena kedua taksonomi yang disatukan pada strategi QAR, pertanyaan
pada „right there‟ adalah eksplisit teks. Pertanyaan –pertanyaan „think and search‟ dapat berupa eksplisit teks dan implisit teks. Sedangkan pertanyaan –pertanyaan
„author and me‟ berupa implisit teks dan pada „on my own‟ berupa implisit skrip. Bentuk
‘In the book’ ‘In the head’
„Right there’ ‘Think & Search’ ‘Author & me’ ‘On my own’
Informasi detail Penghubung
Daftar, Grafik, Skema Deskripsi
Eksplanasi Urutan (sequence)
Teks dengan pembaca Teks dengan tema/topik Teks dengan
Keuntungan dari menggunakan strategi QAR sebagai sebuah kerangka
kerja untuk memahami bacaan pada berbagai jenis teks. Untuk guru, penerapan
QAR adalah sebagai kerangka aktivitas bertanya dalam siklus membaca yang
menunjukkan contoh dari guru pada latihan bertanya dalam proses pra-membaca,
selama membaca, dan pasca-membaca. Penerapan strategi QAR dalam
merencanakan instruksi pemahaman bacaan dapat membantu bahwa tidak aka
nada penekanan yang berlebih dari ketrampilan dan pertanyaan yang lebih rendah
yang mana hanya membutuhkan pembaca untuk mengalihkan dan merekam
informasi saja.
Hal yang penting adalah bahwa QAR (Raphael, 1986) mengajarkan pada
pembaca tiga strategi pemahaman yaitu; a) mengalihkan informasi, b)
menentukan struktur teks dan mengetahui teks tersebut menyampaikan
informasinya, c) menentukan waktu ketika inferensi diperlukan. Menerapkan
QAR, pembaca akan mampu mempertimbangkan tempat jawaban yang tepat
dengan mengelompokkan pertanyaan berdasarkan tipe-tipenya dan memonitor
pemahaman terhadap teks yang dibaca.
Raphael dan Au (2005) Perluasan pada penggunaan QAR untuk membuat
kerangka instruksi strategi pemahaman dapat membantu pembaca mengetahui
hubungan (relationship) diantara strategi yang mereka pelajari dan tugas-tugas
yang diminta yang direpresentasikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang
beragam. Hal ini membuktikan bahwa menyediakan pembaca sebuah cara yang
sistematik dari menganalisis permintaan tugas yang diberikan dalam forum.
Dengan memperluas penggunaan instruksi QAR dalam bingkai pemahaman
strategi pengajaran membaca dapat membantu guru dalam komunitas sosial untuk
melihat 'hubungan antara strategi yang mereka pelajari dan tugas menuntut
diwakili oleh pertanyaan yang berbeda' (Raphael & Au, 2005). Hal ini diyakini
bahwa memberikan peserta didik cara sistematis menganalisis tuntutan tugas
dengan ragam pertanyaan yang berbeda dapat meningkatkan pemahaman bacaan.
Lebih penting lagi, taksonomi menyediakan baik guru dan murid 'bahasa
bersama untuk membuat terlihat proses sebagian besar tidak terlihat mendasari
pemahaman membaca dan mendengarkan' (Raphael & Au, 2005). Ini bahasa
pertanyaan serta mengeksplorasi dan membenarkan penggunaan strategi yang
tepat.
Namun, Readence (2006) menekankan dua masalah dengan menggunakan
QAR. Pertama, QAR dimaksudkan untuk menjelaskan beragam jenis
pertanyaan-jawaban bukan untuk memfasilitasi penentuan respon yang benar. Oleh karena itu,
tidak dianjurkan untuk memberitahu pembaca bahwa jawaban untuk pertanyaan
'adalah datang dari kategori diskrit seperti teks atau pembaca'. Kedua, dia
berpendapat bahwa menentukan sifat hubungan tanya jawab secara logis
mengikuti jawaban dari pertanyaan, bukan mendahuluinya. Dia mengartikan
bahwa QAR hanya bisa menjadi yang terbaik dianggap sebagai alat monitoring untuk membantu pembaca mencapai umpan balik tentang tanggapan mereka
daripada membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan. Meskipun ada
kekhawatiran itu, Readence (2006) menunjukkan bahwa Panel Membaca
Nasional (2000) telah mengesahkan QAR sebagai sarana yang efektif untuk
meningkatkan pemahaman.
Forum Jejaring Sosial Facebook
Jejaring sosial seperti facebook memiliki fungsi kolektif contohnya dalam
membuat grup atau akun pribadi dengan tujuan kolektivitas antarakun. „Online Teachers‟ Association of Blitar‟ (TAB) atau Asosiasi Online Guru di Blitar dengan dasar Bahasa Inggris dalam meningkatka kualitasnya. Grup ini telah
memiliki 248 anggota (terhitung Maret 2014) dengan keaktivan lebih dari 100
anggota.
Pemberdayaan penggunaan forum jejaring ini meliputi kapasitas anggota
yang banyak, pengunggahan foto, pamflet, brosur, dsb, pengunggahan dokumen
(format word doc, pdf, dsb), pengingat acara, kegiatan, dan jadwal, serta
informasi deskripsi forum. Penulis memberdayakan fasilitas yang disediakan oleh
Uno & Lamatenggo (2010) mencontohkan bahwa kegunaan forum diskusi
internet seperti grup facebook ini dapat dimanfaatkan sebagai bentuk layanan pendidikan pada komunitas pendidikan tertentu. Mereka menambahkan bahwa
layanan situs dapat menyajikan kegiatan sistem pendidikan juga merangkum
informasi yang berhubungan dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan
untuk menyajikan sumber umum serta jaringan komunikasi (forum) bagi
pendidik dan peserta didik. Hal ini sejalan dengan opini Amri dan Ahmadi (2010)
yang menyatakan bahwa dala diskusi merupakan sebuah interaksi komunikasi
antara dua orang atau lebih (sebagai suatu kelompok). Diskusi dapat membahas
topik apapun yang dikembangkan dan dibahas sehingga menghasilkan
pemahaman dari topik tersebut. Forum diskusi seperti grup facebook ini juga menerapkan hal yang sama pada bahasan dan topik untuk memperoleh suatu
pemahaman.
Pemahaman Teks Deskriptif, Recount, dan Naratif
Pada studi ini, materi yang dibahas pada laman grup guru Bahasa Inggris
adalah beberapa jenis teks yang terdapat dalam standar kompetensi kurikulum
2013 pada kelas VIII SMP/MTs yakni teks deskriptif, recount, dan naratif. Berikut ini merupakan ulasan teoritis dari ketiga jenis teks tersebut secara
singkat:
Teks deskriptif merupakan teks penggambaran sesuatu dan karakteristiknya.
Derewianka (1991) mendefinisikan teks deskriptif dengan teks penggambarang
dengan fungsi sosial penulisannya untuk menggambarkan figur, tempat, ataupun
benda. Struktur umum teks ini meliputi; 1) identifikasi; mengidentifikasi
fenomena yag digambarkan, dan 2) deskripsi; penggambaran secara detail
mengenai bagian, syarat, ataupun karakteristik yang digambarkan.
Derewianka (1991) mendefinisikan teks recount sebagai teks yang memiliki tujuan sosial untuk memberitahukan kembali kejadian di masa lampau.
Bentuk teks recount dapat berupa recount personal, recount faktual, dan recount imajinatif. Struktur umum dari teks ini adalah; 1) orientasi; pengenalan seting dan
partisipan dalam teks, 2) serangkaian kejadian, dan 3) re-orientasi; dapat berupa
Sedangkan teks naratif adalah teks narasi berupa cerita untuk
menyenangkan pembaca atau pendengar. Beberapa tipe teks ini antara lain berupa
fabel, legenda, mitos, misteri, dongeng, dsb. Struktur umum dari teks ini antara
lain; 1) orientasi; pengenalan seting dan partisipan, 2) komplikasi; masalah yang
timbul dalam cerita biasanya dialami oleh tokoh utama, dan 3) resolusi;
penyelesaian masalah.
Dengan menggunakan QAR, struktur dan unsur – unsur yang ada alam ketiga jenis teks tersebut diharapkan dapat dipahami dengan merelasikan
pertanyaan dalam pikiran dan imajinasi pembaca dengan jawaban yang ada dalam
teks. Penerapan tersebut adalah dengan memberika tiga jenis teks pada pembaca
(20 guru) untuk memahami teks dengan strategi QAR.
Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran
bahasa Inggris pada ketrampilan membaca sebagai implementasi pembelajaran
jarak jauh (distance learning). Artikel ini merupakan penelitian deskriptif
kualitatif dalam bentuk best practice yang mana subyek penelitian ini adalah 20 guru Bahasa Inggris yang aktif dalam jejaring sosial facebook dari 248 anggota. Obyek penelitian ini adalah penerapan kurikulum 2006, kegiatan belajar
mengajar menggunakan strategi QAR dalam mempelajari teks deskriptif, recount,
dan naratif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner
yang diberikan kepada 20 guru Bahasa Inggris untuk mengetahui tingkat
pemahaman, ketertarikan, dan keterlaksanaan strategi ini.
Temuan Penelitian
Pengajaran Teks Deskriptif, Recount, dan Naratif dengan QAR
Setelah menjelaskan definisi, fungsi, dan kajian teoritis tentang QAR di
dalam forum facebook TAB, penulis memberikan tes pemahaman dengan
memberikan tiga jenis teks (deskriptif, recount, dan naratif) kepada 20 guru. Teks
tersebut antara lain:
Teks 1 Teks Deskriptif
Penataran is a Hinduism temple. It is located abaout 15 km of Blitar city. It is an ancient temple which was built during Majapahit kingdom. It is the biggest temple in east java but it is not as big as Borobudur temple.
The temple faces to the west. On backside of the gate, there are two big statues, called” “Dwarapala”. Dwara means the gate and Phala means the Guard. So Dwarapala means the
guard oh the gate.
There is a group of temples in this area. One of them is Angka Tahun temple. In it, we can see the time when the temple was built. Inside Angka Tahun temple, there is a statue called
Teks 2 Teks Recount
My Unforgettable Experience
When I was still in Univercity, I joined broadcaster contest in a government radio. It is called Mahardhika Fm. I hoped that I would get a prize. Total of the participants were about 50 persons. In the first selection, I became the best ten. And in the second selection, from the ten winners must join in two kinds of tests. They were making a news and broadcasting with a certain theme. Luckily, I was to be the best three.
So, I expected the prize. But I was surprised when the prize was not a material but a job offering. It was a broadcaster on Mahardhika Fm. I received the offering. From that time on, I am a broadcaster in Mahardhika Radio station.
Teks 3 Teks Naratif
Legend of Mount Kelud
Mount Kelud is located in Kediri regency attention lately become diverse print and electronic media, because the activity of many puzzling. Here is one of the legends of most active volcanoes on the island of Java. A part from this, the existence of the mountain there is the legend that narrates the origin of a mountain muasal. Perhaps it is not the mountain come natural process, but the result of a betrayal of love. Dewi is Kilisuci, child daughter Jenggolo Manik had a beauty that seemed extraordinary. Not a few noble of heart crumpled to make Kilisuci as his wife.
The beauty that appeared to touch the heart even though the two views of the king were not a physical human being king. Both the king was oxen-headed each named King Mahesa and Lembu Sura. They infatuated because the love of the Goddess Kilisuci and finally stated desires to make her to be his wife.
For the daughter of the Jenggolo Manik, it was difficult to reject, but to express directly, he did not have a way. Finally, the idea emerged as an effort to deny the love of both was brilliantly found. She made a brilliant thought that the contest was not reasonable, because the demand was not possibly done by ordinary people.
That was, creating two wells on the summit of Mount Kelud, one must be fishy smell and a more fragrant. The two wells that must be completed in just one night, and it should be finished before dawn. However, because Lembu Sura was very sacred, Goddess of Kilisuci requested him to complete well quickly.
Having not been satisfied over the results, Dewi Kilisuci again made a contest. Both kings had to prove first that the two wells was really fishy fragrant smell, and the way they both must enter the pit. Because both were in love to her in a great affection, without considering the risk then that contest was also held although the well was made in. Not to be presumed, in the time they were in their respective wells, Dewi Kilisuci asked the soldiers of Jenggala to stockpile them with stones that they died. The soldiers stockpiled them with the stones until they were sure that they died. Before Lembu Sura died, he promised directly to the Kediri. "Yoh, Kediri mbesuk wong bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung" (Javanese red.). It means that one day Lembu Sura will make Kediri as the river, Blitar as the ground, and Tulungagung as river too.
Finally, to avoid that promise, Kediri people always hold „selamatan‟ or thanksgiving party to the Mount Kelud. Up to now, selamatan „larung sesaji‟ are still running many years which is always conducted in date of 23 of Sura month.
Setelah membaca teks tersebut, peneliti menyediakan graphic organizer
Figur 1 Graphic Organizer dalam Strategi QAR
In-the –book Questions In-my-head Questions
Right There Questions dalam kalimat atau paragraph yang sama.
Author & Me Questions pada tempat, kalimat, atau paragraph yang berbeda.
The students accurately identifies each of the four question types (1 point each) ______ Right There
______ Think & Search ______ On My Own ______ Author & Me
The student‟s responses demonstrate a close, careful reading. (4 points)
Note:
The student makes appropriate links to the text for “In the book” questions. (4 points) Note:
The student makes appropriate connections for “In my head” questions. (4 points)
Note:
The students demonstrates reflective reading habits during group conversation. (4 points) Note:
(Diadaptasi dari Santa, et. al, 2004)
Dari hasil implementasi pemahaman pada ketiga jenis teks, respon 20 guru
sebagai anggota grup facebook TAB sudah sangat bagus dengan ditunjukkannya 50% atau 10 guru sudah paham dengan penerapan QAR.
Tabel 2 Respon Guru dalam Penerapan QAR
Penerapan QAR secara Online Frekuensi %
Dari kuesioner respon guru yang diberikan seperti pada Tabel 2, dapat
diketahui bahwa guru telah paham akan materi online yakni pengajaran membaca jenis teks deskriptif, recount, dan naratif dengan Strategi QAR. Hasil pemahaman
dari ketiga teks yang diberikan kepada 20 guru dinilai dan dikategorikan menjadi
sangat mudah, mudah, sedang, dan sulit. Sebanyak 10 orang menyatakan
pemahaman membaca dianggap pada tingkat sedang, dan dengan QAR sebanyak
5 orang merasa mudah memahami bacaan dengan strategi ini. Secara detail
gambaran tingkat pemahama 20 guru tersebut seperti digambarkan pada Figur 2
dibawah ini.
Figur 2 Pemahaman Guru pada Tiga Teks dengan Menggunakan QAR
Penulis juga menyebarkan kuesioner pada guru pada ranah ketertarikan
mereka dalam menerapkan strategi QAR ini dalam mengajar Bahasa Inggris di
SMP/MTs yang mereka ajar. Figur 3 menggambarkan tingkat ketertaikan subjek
penelitian ini dalam menerapkan QAR di sekolah mereka setelah diadakan
penerapan secara online.
Figur 3 Ketertarikan Guru dalam Implementasi QAR di Kelas 2
Very interesting Interesting Just the same Not interesting
F
re
qu
ency
Dari Figur 3 dapat disimpulkan bahwa tingkat ketertarikan guru dalam
menerapkan QAR di kelas masuk dalam kategori tinggi karena terdapat 8 orang
menyatakan sangat menari, 7 orang menyatakan strategi QAR tersebut menarik,
oleh karena itu, penerapan QAR secara online ini dapat dikategorikan bermanfaat
dan menginspirasi guru Bahasa Inggris di SMP/MTs di Kota Blitar.
Figur 2 Teks Bacaan dalam Komunitas Guru di Facebook
(diakses pada Agustus 2014)
Selain hal tersebut, penulis juga menyoroti keterlaksanaan penerapan
strategi QAR secara online kepada 20 guru khususnya. Hal ini penting karena pemberian treatment oleh penulis kepada 20 guru juga berpengaruh pada
beberapa poin yang telah didiskusikan. Tabel 3 menggambarkan keterlaksanaan
atau tingkat penerapan QAR yag dilaksanakan oleh penulis dalam grup facebook Teachers‟ Association of Blitar.
Tabel 3 Tingkat Penerapan QAR dalam Grup Facebook
The Teachers who say Frequency %
1. Always 2. Often 3. Ever 4. Never
0 16 4 0
0 80 % 20 % 0
T O T A L 20 100 %
Dari 20 anggota grup yang dilatih, 16 guru menyatakan penulis sering
memantau dan memberikan umpan balik pada guru dala memahami strategi QAR
3 dapat diketahui bahwa tingkat keterlaksanaan penerapan strategi QAR secara
online sangatlah tinggi. Jadi, penerapan strategi QAR pada pembelajaran membaca teks untuk tingkat SMP/MTs dinilai sangat berguna dan applicable untuk pengajaran Bahasa Inggris pada pertemuan tata muka dengan siswa.
Simpulan dan Saran
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa mempelajari dan memahami
bacaan (di tingkat SMP/MTs kelas VIII) dengan jenis teks deskriptif, recount, dan naratif dapat diterapkan dengan menggunakan penerapan strategi QAR
(Question Answer Relationship). Hal ini ditunjukkan dengan hasil pemahaman 20
guru yag dilatih penerapan QAR ini secara online pada pemahaman, ketertarikan,
dan opini mereka terhadap penerapan QAR di kelas mereka serta keterlaksanaan
model web-based learning yang dilakukan penulis yang dikategorikan pada level
tinggi atau baik.
Adapun saran yang disampaikan pada penelitian selanjutnya yakni tingkat
keterlaksanaan penerapan strategi seperti ini akan lebih baik dilakukan dengan
melibatkan model blended learning (model kombinasi pembelajaran berbasis web
dan tatap muka) sehingga konfirmasi tingkat pemahaman dan ketertarikan dapat
secara nyata diketahui dan dirasakan.
Daftar Rujukan
Amri, S. & Ahmadi, I. K. 2010. Proses Pembelajaran: Kreatif dan Inovatif dalam Kelas. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.
Brown, H. D. 2007. Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. New York: Pearson Education Inc.
Derewianka, B. 1991. Exploring How Texts Work (Revised impression). Sydney: Primary English Teaching Association.
Grabe, W. 2009. Reading in a Second Language: Moving from Theory to Practice. New York: Cambridge University Press.
Iskandarwassid,. & Sunendar, D. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Munir,. 2009. Pembelajaran Jarak jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Penerbit Alfabeta Bandung.
Pearson, P.D. & Johnson, D.D. 1978. Teaching reading comprehension. New York: Holt, Rinehart, and Winston.
answering comprehension questions. Journal of Reading, 27, 303-311. Raphael, T.E. & Au, K. H. 2005. QAR: Enhancing comprehension and test taking
across grades and content areas. The Reading Teaching, 59(3), 206-221. Santa, C., Havens, L., Valdes, B. 2004. Project CRISS: Creating independence
for student-owned strategies. Dubuque, Iowa: Kendall/Hunt Publishing Company.
Sumardiono. 2012a. Penggunaan Media Internet dalam E-learning: Web Based Learning pada Pembelajaran Jarak Jauh. Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol. 16. No. 1. Manado: BPPKI Manado.
Sumardiono. 2012b. Pengembangan Media Pembelajaran dengan Memanfaatkan Multimedia Komunikasi Interaktif: Flow Chart CAI dan Strategi Instruksional. Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 16. No. 2. Manado: BPPKI Manado.
Sumardiono. 2012c. Penerapan Macromedia Flash MX Model Drill and Practice sebagai Media Pembelajaran Grammar 4; Klausa Kata Benda di STKIP PGRI Blitar. Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol. 16. No. 3. Manado: BPPKI Manado.