• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pascafenomenologi Ruangsiber Menelaah proposal Re

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pascafenomenologi Ruangsiber Menelaah proposal Re"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Pascafenomenologi Ruangsiber: Menelaah

Realitas Visual Internet dan Konsep

“Ruangsiber” dalam Ilmu Antropologi

1

Dinamika kehidupan sosial melalui mediasi internet telah mencipta cakrawala dunia baru. Berbagai aktivitas sosial yang sebelumnya mensyaratkan kebertubuhan tergantikan dengan aktivitas dalam ruang yang diistilahkan dengan ruangsiber ini. Dari kegiatan ekonomi, transfer dan diseminasi pengetahuan, sampai moda interaksi yang lebih mendasar seperti silahturahmi kekeluargaan dan pertemanan.

Berdasarkan data penelitian Bank Dunia (2011), pengguna internet berjumlah 32,8 % dari jumlah penduduk dunia (www.wordbank.org). Sedangkan di Indonesia, dengan mengacu data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (2015) adalah 33% dari jumlah penduduk. Pengguna Facebook

berjumlah 60,06 juta orang, Twitter 19,5 juta orang. Berarti lebih dari 1/3 jumlah penduduk Indonesia beraktifitas di internet. Sebuah fenomena yang tentunya menarik untuk kita refleksikan.

Dalam tulisan ini, saya membahas dimensi filosofis ruangsiber perspektif pascafenomenologi dan antropologi. Pascafenomenologi dikembangkan oleh Don Ihde seorang filsuf teknologi kontemporer, sebuah konsep yang menjelaskan secara lebih luas fenomenologi pasca-Husserl yakni Martin Heidegger, Paul Ricoeur, dan Maurice Merleau-Ponty. Dalam pascafenomenologi, dijelaskan intensionalitas tidak terbatas pada kesadaran yang tertuju pada dunia, melainkan tubuh dalam relasinya dengan dunia sosial dan kultural. Ia mengatakan pascafenomenologi selalu berpijak dari materialitas tubuh yang terhubung dengan materialitas-materialitas lainnya atau secara lebih spesifik artefak teknologi. Kesadaran sebagaimana dijelaskannya telah menubuh dengan dunia. Menurutnya “Intentionality, now not ‘consciousness per se’ but embodied, includes material

(2)

technologies in various positions as I relate to a or any ‘world’“ (Ihde, 2003: 15).

Pembahasan dalam tulisan ini diawali dengan menjelaskan pascafenomenologi ruangsiber, setelah itu konsep ruangsiber dalam ilmu antropologi meliputi pemikiran antropologi Arturo Escobar tentang ruangsiber dan kebudayaan teknologi (cyberculture), cyborgs@cyberspace-nya David Hakken, dan komunitas virtual.

Pascafenomenologi Ruangsiber

Pascafenomenologi ruangsiber adalah konsep filosofis untuk menjelaskan relasi-relasi pragmatis manusia dan dunia siber. Konsep ini dielaborasi dari filsafat Don Ihde tentang fenomenologi instrumentasi dan multistabilitas dalam ruangsiber. Sebuah konsep tentang bagaimana kita memahami internet sebagai medium dunia yang bersifat global. Internet menghadirkan realitas sesungguhnya secara reduktif dalam ruang layar dalam bentuk hiperteks dengan mediasi teknologi virtual. Setiap entitas informatif dalam ruangsiber merepresentasikan keberadaan dunia tubuh (world of bodies), baik itu manusia sebagai tubuh dan realitas sesungguhnya.

Media sosial seperti Skype, Facebook, dan Twitter,

misalnya, dapat dikategorikan sebagai ruang sosial yang berada dalam dimensi pascafenomenologis ruangsiber. Moda interaksi sosial tereduksi dan pada saat yang sama meluas melampaui kapasitas ruang kebertubuhan. Tubuh dikonstitusikan ke dalam eksemplar program, identitas terkonstruksi dalam wujud hiperteks. Atau dalam format

telepresence, dimana tubuh hadir secara audio-visual-kinestetis dalam ruang layar. Media sosial menjadi medium tubuh-tubuh yang terkoneksi secara global.

(3)

yang bersifat global. Ketika sebuah instrumen terintegrasi dengan internet, kita dapat mengaksesnya tanpa adanya relasi kebertubuhan. Dengan internet, dunia terfragmentasi dan terdomestikasi melampaui pemahaman kita tentang ruang dan waktu sesungguhnya.

Bila dalam fenomenologi instrumentasi Ihde, relasi tubuh dan instrumen mewujud secara intensional dan tersituasikan, yaitu ketika tubuh mencipta pengalaman eksistensial-relasional fenomenologis seperti dalam diagram:

Manusia Instrumen Dunia

Dalam pascafenomenologi ruangsiber, instrumen secara global terdomestikasi dalam ruang layar. Mediasi internet memungkinkan kita mengaksesnya tanpa adanya relasi kebertubuhan. Tubuh memahami secara perseptual kompleksitas dunia inderawi melalui mediasi teknologi informasi. Struktur relasionalnya seperti dalam diagram:

Manusia Internet Instrumen Dunia

SLOOH SpaceCamera (www.slooh.com) adalah situs internet yang memberi pemahaman tentang dimensi pascafenomenologis ruangsiber. Situs SLOOH SpaceCamera

menghadirkan aktivitas teleskop robotik yang berada di kepulauan Canaria Samudera Atlantik. Dengan membuat akun di situs SLOOH kita dapat mengakses aktivitas teleskop dengan mengikuti jadwal events teleskop yang ditentukan oleh admin situs. Setiap anggota dengan membuat reservasi dapat mengontrol dengan bebas teleskop yang berada di kepulauan Canaria ini. Teleskop terkoneksi secara global dengan mediasi internet. Teleskop hadir dalam ruang layar dan menjadi logis sebagai sistem relasional manusia, internet, teleskop, dan alam semesta. Alam semesta yang dimediasi teleskop yang terdomestikasi dalam ruang layar menjelaskan dunia cyber

(4)

Galileo Teknologi Informasi Teleskop Alam Semesta

Selain itu kita ketahui situs jejaring sosial The Telegarden

(1995-2004). The Telegarden menampilkan instalasi artistik taman yang dirawat oleh tangan robotik melalui internet. Setiap anggota terdaftar dalam The Telegarden masing-masing dengan tumbuhannya sendiri dapat merawat dan menyirami tumbuhan dengan mediasi tangan robotik dan melihat pertumbuhannya dalam ruang layar. Realitas dalam The Telegarden terbatas pada kualitas hiperteks audio-visual-kinestetis (video), namun ia merupakan representasi dari realitas sesungguhnya yang kompleks secara inderawi.

The Telegarden mensyaratkan instrumen terkoneksi ke dalam jaringan internet. Dimensi pascafenomenologis ruangsibernya ketika ia kemudian termediasi oleh program komputer yang dapat mengontrol gerak tangan robotik. Relasi manusia dan instrumen terintegrasi dengan teknologi komputer mengubah dan mengondisikan realitas sesungguhnya. Relasi kemenubuhan ditransformasikan ke dalam ruang layar.

Selain itu paling mutakhir dan visioner adalah The Internet of Things. The Internet of Things merupakan sebuah gagasan tentang virtualisasi benda-benda agar dapat dibaca dan dikomprehensi secara perseptual hermeneutis dalam ruang layar. Sebuah visi terkoneksinya benda-benda secara teknologis ke dalam internet. Dengan RFID (Radio-Frequency Identification), benda-benda ditag agar kemudian dikenali dan dapat dideteksi gerak aktifitasnya dalam ruang layar. Seperti disebutkan dalam situsnya, The Internet of Things mempunyai misi mewujudkan kebebasan berinternet dan untuk lebih menghidupkan dunia cyber dimana benda-benda dapat dikomprehensi secara elektronis.

Kualitas kebertubuhan ditransformasikan secara teknologis seperti Facebook, Twitter, SLOOH, The Telegarden

dan visi The Internet of Things menjelaskan tentang realitas

(5)

gambar, video, animasi). Keterbatasan ruang layar yang membentuk realitas secara instrumental ini diistilahkan oleh Ihde sebagai multistabilitas dalam ruangsiber. Ini menjadi

gagasan utama dalam memahami pascafenomenologi

ruangsiber.

Multistabilitas dalam ruangsiber dalam konteks ini merupakan variasi-variasi perseptual fenomenologis dalam ruang layar (screen space). Variasi-variasi perseptual ini menurut Ihde tidak hanya tampilan hiperteks yang ambigu, seperti misal, sebuah gambar yang menghasilkan dua bentuk berbeda seperti dalam ilmu psikologi, yaitu gambar bebek dan kelinci. Ia menjelaskan kemungkinan hadirnya persepsi ketiga berkenaan dengan multistabilitas sebuah gambar (Ihde, 2003: 1). Sebuah gambar dapat dipersepsikan dalam perspektif-perspektif berbeda yang kemudian memunculkan konsep ruang dalam sebuah medium.

Multistabiltas ini mengontruksi pemahaman kita tentang realitas virtual. Menurutnya, terdapat tiga model

multistabilitas dalam kaitannya dengan fenomena realitas virtual: 1) tampilan ruang layar, 2) non-netralitas internet dalam bentuk email dan virtual technologies dan 3)

virtual/actual alternation. Email dan teknologi virtual membawa pada pemikiran tentang non-netralitas ruangsiber, dalam arti hadir secara interaktif sebagai realitas termediasi. Teknologi informasi memungkinkan kita berinteraksi, membaca realitas, dan mengontrol artefak-artefak terintegrasi dengan internet. Non-netralitas ini kemudian memungkinkan terbentuknya virtual/actual alternation, yaitu ketika informasi dalam ruangsiber mengondisikan realitas sesungguhnya dan

(6)

Game, simulasi 3D, dan video merupakan virtualitas through-screeen-space. Realitas yang dihadirkan memiliki kesamaan forma dengan realitas sesungguhnya namun terbatas pada kualitas audio, video, dan gerak/kinestetik (Ihde, 2003: 3-7).

Dengan konsep multistabilitas ini, kita ketahui dimensi pascafenomenologis ruangsiber berada dalam ruang layar. The Telegarden, misalnya, merepresentasikan taman sesungguhnya secara audio-visual-kinestetis dengan mediasi teknologi virtual, realitas tereduksi namun kita tetap dapat mengontrolnya secara langsung. Multistabilitas dalam hal ini adalah ketika perubahan dalam dunia virtual yang terbatas mengondisikan dunia aktual. Dalam The Internet of Things,

perubahan virtual/actual menjadi lebih hidup karena dengan RFID gerak benda-benda dapat diidentifikasi secara otomatis melalui sistem informasi elektronis.

Multistabilitas dalam pascafenomenologi ruangsiber adalah ketika kita melihat variasi-variasi tampilan hiperteks dan efek-efek yang dihasilkannya. Ini yang membedakan dunia

cyber dengan dunia pikiran Cartesian dimana dikatakan sebagai entitas terpisah dengan dunia tubuh. Kualitas hiperteks mengontruksi dunia eksternal pikiran alih-alih dunia

internal pikiran Cartesian. Filsafat Ihde tentang komputer sebagai mesin epistemologi (Ihde, 2001: 81-83) dapat kita bandingkan dengan gagasan ruangsiber sebagai ruang pikiran eksternal ini, teknologi komputer mempunyai kapasitas untuk mencipta realitas, menyelesaikan persoalan, dan mengontruksi mimpi-mimpi seperti halnya dunia internal pikiran Cartesian.

Dunia tubuh termediasi dan terdomestikasi melalui internet berciri multistabil. Dengan internet, dunia tubuh (world of bodies) mengada secara reduktif dan meluas secara global. Namun demikian, kita ketahui memahami realitas ini mempunyai problemnya tersendiri. Aktivitas hermeneutis menjadi syarat untuk memahami realitas ini. Karena tereduksi dalam bentuk hiperteks dan selalu membutuhkan penafsiran kita terkadang melihatnya tidak sebagai realitas pascafenomenologis, konsekuensinya ruangsiber tidak dilihat secara otentik bahkan sering kali diragukan.

(7)

persoalan telepresence dengan merujuk pada filsafat Descartes tentang moda memahami realitas melalui mediasi tubuh yang kemudian dikomprehensi oleh pikiran (Dreyfus, 2001: 49-71). Descartes mempersoalkan realitas dipersepsikan oleh tubuh sebagai medium ini. Tubuh dalam filsafat Descartes sama halnya dengan teknologi virtual. Bedanya tubuh memberi informasi pada entitas tak tercerap seperti jiwa, sedangkan teknologi virtual memberi informasi pada tubuh sebagai yang selalu berada dalam perspektif. Filsafat Dreyfus adalah mengenai kritik fenomenologis ruangsiber, terutama mengenai

telepresence. Tubuh mewujud dalam bentuk hiperteks video dikatakan berjarak dan tereduksi secara fenomenologis. Konsekuensinya, ruangsiber menjadi tidak otentik karena manipulasi lebih mempunyai potensi terjadi dibandingkan dengan realitas sesungguhnya.

Terlepas dari problem keotentikan realitas telepresence

seperti diajukan oleh Dreyfus, sebenarnya ia adalah sama halnya dengan membaca dan menafsir realitas itu sendiri. Analoginya, seperti tubuh dalam nalar Cartesian memberi informasi ke dalam ruang pikiran. Pikiran dalam hal ini tubuh dalam relasinya dengan instrumen, ia memberi informasi baik itu sebagai ekstensi pengalaman kebertubuhan atau pun lewat pembacaan. Realitas telepresence memang tereduksi dalam ruang layar, tapi dengan mediasi teknologi virtual realitas ini menjadi nyata seturut dengan proses amplifikasi yang melampaui ruang dan waktu kebertubuhan.

Realitas Visual Internet

Multistabilitas dalam ruangsiber seperti telah dijelaskan berada dalam moda visualitas ruang layar. Visualitas menjadi ciri utama yang kemudian mengonstruksi makna ruang virtual.

Slooh SpaceCamera, The Telegarden, The Internet of Things, dan teknologi virtual lainnya hadir dalam batas-batas visualitas ruang layar. Meski kualitas hiperteks lainnya seperti kualitas audio telah terintegrasi dengan internet, realitas visual tetap menjadi keutamaan.

(8)

dan diperlukan tafsir visual. Meski simulasi komputer telah memungkinan kita untuk memahami ruang ini sebagai yang memiliki kesamaan dengan realitas aktual, misalnya ketika tubuh manusia diintegrasikan ke dalam simulasi komputer, ia tetap terbatas pada kualitas gerak, audio dan visual.

Dengan konsep multistabilitas, ruang layar menjadi infrastruktur terbentuknya realitas virtual. Namun yang utama seiring dengan perkembangan komputer grafik ketika diketahui potensi terciptanya dunia beragam dalam ruang layar 3D (through-screen-space). Persepsi yang berkembang seiring dengan konstruksi grafik komputer dalam bentuk animasi dan video menjelaskan keberadaan ruang virtual. Meski dunia ini dapat meluas secara global melampaui kapasitas persepsi kebertubuhan, ia tetap berada dalam moda visualitas ruang layar.

Multistabilitas ruang layar 3D bila kita telaah berawal dari perkembangan ilmu desain dan lukisan. Multistabilitas

sebuah gambar mewujud dalam sebuah medium yang kemudian mencipta konsep ruang. Ihde membahas secara lebih rinci tentang gambar dan ragam bentuk persepsi dalam bukunya Consequences of Phenomenology (1986). Ia menjelaskan fenomena gambar-gambar yang secara “kultural” menampilkan perspektif gambar dan persepsi beragam.

Dalam komputer grafik, multistabilitas menjadi lebih dinamis hadir secara audio-visual-kinestetis. Ia mencipta ruang yang kemudian memunculkan gagasan virtualitas. Visualitas menjadi keutamaan dalam mengonstruksi realitas ruangsiber. Namun perlu digarisbawahi visualitas ruang layar dalam hal ini realitas terkoneksi dan terdomestikasi yang merepresentasikan dunia global. Visualisme ruangsiber bukanlah realitas yang terbatas secara konseptual. Maknanya kemudian menjadi lebih nyata ketika dimengerti bahwa ia terbentuk secara perseptual-hermeneutis berdasarkan transformasi pengalaman manusia dengan mediasi teknologis.

Ruangsiber dalam Ilmu Antropologi

Perspektif pascafenomenologi ruangsiber, seperti telah dijelaskan, dimensi filosofis ruangsiber berciri multistabil,

(9)

batas-batas ruang layar. Dibedakan dengan antropologi yang melihatnya mencakup dimensi empiris artefak-artefak teknologi. Kajian ruangsiber menjadi keutamaan melampaui pemahaman tentang multistabilitas ruang layar. Ruangsiber tidak hanya situs-situs yang mengondisikan ruang virtual, tapi lebih pada dinamika fenomena kemajuan teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi, dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial kultural manusia.

Arturo Escobar adalah antropolog yang membahas fenomena ruangsiber sebagai ruang kebudayaan. Ia membuat istilah cyberculture untuk menjelaskan manifestasi bentuk kehidupan dipengaruhi oleh teknologi-teknologi baru. Menurutnya, ada dua wilayah cyberculture: yaitu wilayah

artificial intelligence (berfokus pada teknologi informasi dan komunikasi) dan wilayah bioteknologi. Kedua wilayah

cyberculture tersebut menurut Escobar membentuk cakrawala baru kehidupan sosial manusia: technosociality dimana artefak mengondisikan dunia sosial dan biosociality yaitu ketika kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mampu merekayasa alam dan termasuk tubuh manusia (Escobar, 1994: 214).

Ilmu pengetahuan dan teknologi, demikian Escobar, telah mencipta dunia sedemikian rupa sebagai cyberculture dimana kategori nature dan culture, organisme dan mesin, menjadi tak terdefinisikan. Menurut Escobar, “One of the most fruitful insight is that technoscience is motivating a bluring an implosion of categories at various levels, particularly the modern categories that have defined the natural, the organic, the technical, and the textual” (Escobar, 1994: 217). Namun yang menjadi keutamaan berkenaan dengan cyberculture

bagaimana nature dan culture ini kemudian dipahami berada dalam dinamika ekonomi politis.

Definisi Escobar menyatakan tentang ciri empiris

(10)

format komunikasi ini yang kemudian memunculkan istilah virtualitas telah membentuk gagasan tentang cyberculture.

Seiring dengan munculnya fenomena kehidupan ruangsiber, seperti munculnya banyak program jejaring sosial, saya kira penting mengetengahkan kajian virtualitas budaya. Karena virtualitas ini pada dasarnya dapat kita kategorikan sebagai realitas pascafenomenologis. Ketersambungan (konektivitas) dengan dunia internet berarti ketersambungan dengan dunia hiperteks yang merepresentasikan tubuh-tubuh secara global. Bila diandaikan sebagai bentuk kehidupan (lifeform), ruangsiber tentu dapat dikatakan sebagai ruang kebudayaan dimana ia tereduksi dan teramplifikasi dalam bentuk hiperteks (animasi, gambar, video, teks) yang terkoneksi. Imaji kebudayaan mewujud secara virtual dalam ruang layar.

Don Ihde mengistilahkan virtualitas budaya terkonstruksi teknologi imaji dengan pluriculture. Kebudayaan pada suatu masyarakat dihadirkan (diproduksi dan reproduksi) secara virtual sehingga tercipta imaji budaya global (Ihde, 1990: 164).

Dengan gagasan pluriculture, budaya-budaya dunia

terfragmentasi dalam sebuah medium dan dalam arti tertentu melebur menjadi satu budaya populer. Pluriculture membentuk persepsi tentang virtualitas kebudayaan. Escobar sebenarnya sudah menyatakan bagaimana virtualitas cyberculture telah mencipta imajinasi dan praktik budaya populer (Escobar, 1994: 218). Namun ia tidak mengelaborasi lebih jauh fenomena virtualitas budaya dalam arti imajinasi dan praktik budaya ini, menurutnya budaya populer cyberculture lebih pada budaya material dikondisikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.

(11)

Antropolog yang membahas ruangsiber selain Escobar adalah David Hakken. Ia menjelaskan secara lebih luas antropologi ruangsiber meliputi fenomena revolusi komputer (komputerisasi), entitas-entitas pembawa kebudayaan yang ia istilahkan cyborg dalam ruangsiber, dan forma relasi-relasi sosial dikondisikan oleh teknologi informasi terbaru (Advanced Information Technology). Eksplorasi Hakken meliputi fenomena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta pengaruhnya terhadap perubahan sosial.

Ia membuat konsep cyborg dalam ruangsiber sebagai konstruksi antropologis relasi manusia dan internet (Hakken, 1999: 5). Dalam ruangsiber, manusia dikonstitusikan sebagai

entitas-entitas relasional pembawa kebudayaan yang ia definisikan dengan cyborgs@cyberspace. Namun Hakken tidak membatasinya hanya dalam ruangsiber. Cyborg adalah entitas pembawa kebudayaan mewujud dalam relasinya dengan teknologi dan meluas melampaui kapasitas dan kekhususan tubuh manusia. Sejak awal sejarah manusia menggunakan artefak kebudayaan sampai ia mewujud sebagai entitas dalam ruangsiber, demikian Hakken, manusia sudah berciri cyborgic

(Hakken, 1999: 71-72).

Kondisi cyborgic seperti dikemukakan oleh Hakken menyatakan manusia selalu berada dalam relasinya dengan kebudayaan, sehingga menggambarkan kondisi hibrida manusia dan artefak-artefak kebudayaan. Hakken tampaknya melupakan tubuh secara potensial dan persepsional bersifat alamiah. Kealamiahan tubuh, terutama dalam kapasitasnya

mempersepsikan realitas, membawa pada gagasan

bahwasannya tidak selalu berada dalam relasi dengan kebudayaan.

(12)

teknologi dimaknai sebagai tubuh relasional seperti antropologi Hakken. Dapat kita nyatakan, secara definitif tubuh dalam relasinya dengan artefak bersifat pragmatis, selain tubuh sebagai entitas cyborgic, keberadaan tubuh alamiah dan tubuh kultural penting untuk diketahui dalam memahami tubuh manusia dalam relasinya dengan teknologi. Selain itu, adalah menarik bila kita telaah secara filosofis potensi cyborgic sebagai kualitas pascafenomenologis. Cyborg

dalam ruangsiber dapat diproposisikan bersifat pascafenomenologis karena tubuh meluas secara global melalui mediasi internet dan mewujud sebagai hiperteks. Tubuh dieksternalisasikan dalam bentuk teks, gambar, dan video. Dimensi teknologis pada tubuh manusia ketika menggunakan artefak menyatakan ia tidak semata sebuah organisme. Kendati demikian, ia tidak kemudian dijelaskan semata-mata sebagai ekstensi kualitas inderawi yang mewujud sebagai dunia termediasi dan terdomestikasi. Ketika manusia menggunakan instrumen tentunya potensi tubuhnya meluas tidak hanya secara perseptual, tapi juga dimensi praktisnya meliputi kekuatan, kecepatan dan kualitas lainnya yang melampaui kapasitas tubuh manusia.

Komunitas Virtual

Dalam etnografi ruang teknologis Escobar dan Hakken terdapat pembahasan tentang komunitas virtual. Komunitas virtual menjadi bagian penting konsep ruangsiber dalam antropologi. Escobar mengategorikan komunitas virtual sebagai bagian dari kajian etnografi cyberculture. Escobar tidak membatasi kajian komunitas hanya dalam virtualitas ruang terkoneksi, ia menyatakan pentingnya menelaah komunitas terbentuk dalam realitas aktual dikondisikan oleh teknologi informasi dan komunikasi (Escobar, 1994: 218). Hakken lebih jauh membahas komunitas-komunitas terbentuk dalam dunia virtual dengan mengacu pada dunia aktual yang merupakan bagian dari wilayah kajian etnografi

cyberculturenya Escobar.

(13)

komunitas dalam wilayah geografis diasumsikan menjadi kurang bermakna seiring dengan munculnya konsep space

dalam ruang virtual. Menurut Hakken, karakter komunitas pada dasarnya berada dalam virtualitas space atau berada dalam tataran persepsi. Dengan demikian, karakter komunitas, bahkan sebelum konsep ruang virtual terbentuk, tidak selalu mencirikan keberadaan place atau wilayah dalam realitas aktual.

Namun demikian, yang utama dalam pemikirannnya bagaimana konsep komunitas virtual terbentuk dan terhubung ke realitas aktual melalui mediasi teknologi informasi terbaru. Hakken lebih jauh membahas komunitas-komunitas terbentuk dalam dunia virtual yang merupakan bagian dari wilayah etnografi cyberculturenya Escobar. Komunitas virtual adalah manifestasi dari relasi-relasi sosial yang ia kategorikan ke dalam tiga bentuk relasi-relasi: yang utama meso-social relations. Pada level ini, komunitas virtual terbentuk berdasarkan realitas aktual meliputi komunitas-komunitas, wilayah/daerah (geografis), dan organisasi. Kemudian level

micro-social relations sebagai bentuk komunikasi ruangsiber pada level individual atau pertemanan dan kemudian macro-social relations yang berlevel nasional seperti negara dan global (Hakken, 1999: 93-131). Hakken membahas komunitas virtual dalam relasinya dengan dinamika empiris/aktual relasi-relasi sosial.

Antropolog lainnya yang membahas komunitas virtual adalah Daniel Miller dalam artikelnya An Extreme Reading of Facebook (2010). Dalam salah satu proposisinya mengenai

Facebook ia menyatakan bagaimana pesatnya perkembangan media sosial terutama Facebook telah merubah secara radikal premis dan arah ilmu sosial. Dalam tulisan tersebut, Miller menjelaskan fenomena ruang sosial internet yang selalu diasumsikan berakhir pada sikap individualisme. Namun kenyataannya, demikian penelitian Miller, fenomena Facebook

sebagai bentuk komunikasi tersituasikan membuat individu-individu kembali pada kesadaran komunitas.

(14)

komunitas virtual Facebook menjadi semacam alternatif dari relasi-relasi sosial dalam dunia aktual. Sehingga konsekuensinya, pemikiran tentang individualisme dalam realitas aktual dan kesadaran komunitas dalam realitas virtual dapat dikatakan tetap relevan.

Keberadaan komunitas virtual menjelaskan teknologi informasi dan komunikasi yang memediasikan tubuh-tubuh dalam ruangsiber. Etnografi komunitas virtual seperti dijelaskan Hakken, misalnya, merujuk pada keberadaan komunitas dalam realitas aktual seperti organisasi-organisasi dan wilayah-wilayah. Atau Miller membahas dinamika relasi komunitas online dan offline yang kemudian mencipta pengalaman beragam tentang dunia siber.

Namun bila kita telaah secara filosofis, komunitas virtual berada dalam aras multistabilitas ruangsiber. Terutama ketika kita temui banyaknya komunitas-komunitas virtual terbentuk seiring dengan perkembangan media sosial. Komunitas virtual menjadi nyata hanya dalam ruang layar. Imam Ardhianto, peniliti di Centre for Anthropology Studies UI, melakukan penilitian tentang komunitas hacker dan menemukan bahwa keberadaan komunitas online memang tidak selalu berkorespondensi dengan realitas offline. Komunitas hacker,

menurutnya saat ini banyak telah beralih ke media sosial seperti Facebook dan Twitter, menjadi nyata hanya dalam virtualitas ruang layar. Meski pengaruh komunitas hacker

terhadap realitas aktual tetap tak bisa kita diabaikan, keberadaan komunitas hacker sebagai tubuh-tubuh terkoneksi dalam dunia virtual menurutnya tak bisa diketahui dalam realitas aktual.

Keberadaan komunitas-komunitas di media sosial terbaru seperti kita ketahui lebih terbentuk melalui diskursus naratif berawal dari ruangsiber. Dalam Facebook dan Twitter kita temukan banyak grup virtual tercipta berdasar pada narasi tertentu terutama narasi-narasi bertema ilmu pengetahuan. Komunitas-komunitas ilmu pengetahuan di FB di antaranya adalah Philosophy tercatat kurang lebih berjumlah 35.000 anggota, Biology (zoology and botany) 11.950 dan Cosmology

(15)

Perkembangan komputer dan program media sosial, yang telah mengondisikan ruang sosial virtual, tentunya menjadi pertimbangan tersendiri mengenai tren terbentuknya komunitas berawal dari ruang sosial virtual. Dapat disimpulkan kemudian, kehidupan dalam dunia siber

mendapat penjelasannya mengacu pada keberadaan

komunitas-komunitas virtual. Ia tidak terbatas hanya dunia tubuh dalam ruang layar termediasi teknologi virtual tapi juga narasi-narasi terbentuk berdasarkan moda interaksi sosial.

Epilog

Demikian uraian realitas visual ruang siber dalam perspektif pascafenomenologi dan antropologi. Realitas ditelaah dalam konteks fenomenologi instrumentasi dan multistabilitas

ruangsiber. Realitas termediasi ini kemudian memunculkan istilah pascafenomenologi ruangsiber. Sedangkan dalam antropologi, konsep ruangsiber meliputi pembahasan relasi manusia dan teknologi dalam lingkup budaya. Ruangsiber dipahami pada tataran materialistik budaya dan pengaruhnya terhadap nilai-nilai sosial dan ekonomi politis yang menjadi bagian integral antropologi ruangsiber. Konsep ini dibahas melampaui pemahaman kita tentang multistabilitas ruang layar. Kendati demikian, pembahasan dalam antropologi tidak menempatkan tubuh dalam konteks praksis dan persepsional sebagai keutamaan yang berpengaruh terhadap dinamika realitas.

(16)

Referensi

Dokumen terkait