• Tidak ada hasil yang ditemukan

21882776 Dinamika Intelektual Masa Dinasti Muwahhidun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "21882776 Dinamika Intelektual Masa Dinasti Muwahhidun"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA INTELEKTUAL MASA DINASTI MUWAHHIDUN Oleh: Fatma Yulia, MA

PENDAHULUAN

Dinasti Muwahhidun (Almohad Dynasty) merupakan salah satu bagian dari dinasti kecil Islam yang termasuk dalam Muluk at-Thawaaif yang pernah berkuasa di Afrika Utara dan berpusat di Rabat (Maroko/Marakisy, sekarang) dan Andalusia (Spanyol) yang berpusat di Seville dan Granada. Selama lebih dari satu abad (524-664H/1126-1269M) dinasti ini memainkan peranan penting dalam sejarah Islamisasi dan perkembangan intelektual umat Islam khususnya umat Islam di belahan dunia Barat bahkan terdapat kontribusi dinasti ini dalam memajukan peradaban dan intelektual barat melalui transmisi ilmu pengetahuan1 yang berlangsung ketika itu.

Masa berkuasanya dinasti Muwahhidun merupakan abad pertengahan2 dalam peradaban Islam klasik yang sering disebut dengan

istilah abad keemasan (‘ashr adzdzhab). Pada masa ini seluruh aktivitas intelektual mengalami kejayaan mulai dari pemunculan ide-ide intelektual, lahirnya karya-karya ilmiah, dinamisnya institusi pendidikan dan maraknya lawatan ilmiah yang dilakukan para ilmuwan ke berbagai pusat-pusat pengetahuan. Umat Islam masa klasik memiliki semangat untuk meningkatkan kondisi manusia melalui pengetahuan. Rangkaian prestasi intelektual yang dicapai pada masa dinasti Muwahhidundapat menjadi catatan penting untuk mengangkatnya dalam deskripsi singkat agar menjadi renungan untuk umat Islam dalam mengembalikan semangat keintelektualan umat Islam yang pernah ada.

(2)

Terbentuknya komunitas Muslim pada masa klasik memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan ide-ide intelektual. Para ilmuwan melakukan sebuah diskusi ilmiah baik berbentuk debat (jadal) diskusi (munaazarah) maupun pertemuan ilmiah lainnya secara tidak langsung mengutarakan ide pemikiran mereka dalam pertemuan tersebut. Ide-ide intrelektual yang berlangsung ketika itu mewakili disiplin ilmu ‘ulum an-naqliyyah (ilmu-ilmu agama),3 ‘uluum al-‘aqliyyah (ilmu-ilmu filsafat dan

alam)4 serta ‘’uluum awaakhir (ilmu-ilmu kesusasteraan/adab)5.

Bidayah al-mujtahid6 termasuk pemikiran fiqh kontemporer.

Sebelumnya para ulama fiqh hanya mengutarakan pendapat satu mazhab yang dianutnya saja. Namun Ibn Rusyd mengumpulkan seluruh mazhab tersebut dengan mengungkapkan pendapatnya sendiri dari perbedaan keempat mazhab tersebut7. Pandangan

tentang ilmu qira’at dikemukakan oleh Ab Thahir Ismail ibn Khalaf al-Anshari (w.603/1207). Menurutnya perbedaan tentang qira’at 7 (sab’ah) ,10 (‘asyrah),14 (arba’a asyar) merupakan suatu variasi dalam mempelajari ilmu-ilmu Alquran. Ia juga berpendapat bahwa diterima atau ditolaknya suatu qira’at tergantung pada rawi yang menyampaikannya8. Pemikiran

(3)

Disiplin filsafat merupakan disiplin yang cukup penting dalam perkembangan ilmu-ilmu alam. Disiplin ini banyak memberikan kontribusi dalam mensinergikan peran wahyu dan rasio. Hasil dari percampuran antara pemahaman filsafat Yunani dengan Islam melahirkan satu istilah baru yaitu filsafat Islam10. Ide filsafat yang

muncul adalah filsafat peripatetik yang termanifestasi dalam bentuk karya Ibnu Rusyd Tahafut at-Tahafut. Karya ini merupakan bantahan atas karya al-Ghazali Tahafut al-Falasifah11. Koreksi Ibu

Rusyd terhadap pendapat al-Ghazali diungkapkannya dalam karyanya tersebut:

Menolak adanya sebab-sebab efisien yang teramati pada hal-hal inderawi merupakan cara berpikir yang sesat...penolakan terhadap sebab menunjukkan penolakan terhadap ilmu pengetahuan. Penolakan terhadap ilmu pengetahuan berarti mengatakan bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar dapat diketahui.12

Pemikiran Ibnu Rusyd menjadi inspirasi dalam pemikiran Barat/Kristen pada abad selanjutnya dalam membuka wacana baru bagi renaisans di Eropa yang dikenal dengan Averroisme. Ide filsafat lainnya yang menjadi fokus utama kajian filsafat adalah karya Ibnu Tufail Hayy ibn Yaqzan yang mengandung unsur roman dan filsafat. Karya ini berisi tentang kemampuan seseorang mencari ilmu pengetahuan dengan tetap meyakini adanya Tuhan13. Karya lain dalam bidang filsafat adalah Dilalah

(4)

Disiplin kedokteran yang berkembang masa dinasti Muwahhidun mendapat tempat yang cukup penting. Di antara karya-karya terkenal bidang kedokteran yaitu: Kulliyat fi at-Tibb karya Ibnu Rusyd yang berisi tentang nama-nama berbagai macam penyakit15. Ibnu al-Khatib

(w.625/1229) menulis tentang aplikasi astronomi dalam bidang kedokteran dalam Fi ma Yahtaj at-Tibb min ‘ilm al-Falq16. Ibnu al-Baytar

(w.606/1210) seorang botanis sekaligus farmasis yang menulis karya tentang 1400 jenis tumbuhan yang dapat dijadikan obat serta mendeskripsikan berbagai obat, makanan yang dihasilkan oleh hewan berupa mineral dan berbagai jenis sayuran. Dalam karyanya ini ia juga menyusun secara alpabetikal nama-nama obat17.Syaraf ad-Din al-Idrisi

(w.597/11202) menulis tentang karakteristik tanaman yang hidup di musim panas sekaligus menjelaskan metode pengobatan melalui tumbuhan tersebut. Terdapat 660 jenis tumbuhan yang ia masukkan ke dalam kitabnya yang terdiri dari 2 juz tersebut yaitu Jami‘li Sifat al-Asytat an-Nabat.18 Nama-nama tumbuhan yang berhasil ia kumpulkan

tersebut berasal dari berbagai bahasa antara lain Suryani, Yunani, Persia, Hindia dan juga Berber19.

(5)

Karya Muslim dalam bidang tata bahasa antara lain al-Mukhassas produk intelektual karya Ibnu Sayyidah terdiri dari 20 Juz berisi tentang Isytiqaq kalimat dan berbagai derivasinya21. Disiplin geografi juga

dengan ilmuwan dan karya-karya-karya mereka antara lain, Syaraf ad-Din Idrisi merekam seluruh hasil perjalanannya dalam kitab Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq22. Kitab ini berisi tentang bentuk tofografi,

sumber daya alam, kondisi geografi, adat-istiadat, aktivitas masyarakat hasil pertanian maupun kondisi kultural dari setiap negeri yang ia kunjungi. Ibnu Jubayr (w.610/1214) menulis karya ar-Rihlah al-Maghribiyyah,23 dikenal dengan rihlah ibn Jubayr. Kitab ini berisi

rekaman hasil perjalanannya ke wilayah Afrika Utara dengan mendeskripsikan kondisi masyarakat, hasil observasi tentang peninggalan sejarah serta kejadian yang menurutnya menarik. Karya Abu al-Hasan ‘Ali ibn Musa al-Maghribi Bahs al-‘Ard fi Tulh wa al-Ard berisi tentang perkiraan luas dan keliling bumi serta keistimewaan daerah-daerah yang ia kunjungi24.

Dalam bidang sejarah ide pemikiran ‘Abd al-Wahid al-Marakusyi (w. 621/1224) dalam karya Mu‘jib fi Talkhis Akhbar al-Maghrib, berisi tentang situasi politik, kondisi geografi serta para khalifah yang memerintah mulai dari dinasti Amawiyyah sampai dinasti Muwahhidun25.

Karya Ibnu Sa‘id al-Maghribi (w.621/1225) al-Mughrib fi Hula al-Maghrib berisi tentang silsilah keturunan dinasti Muwahhidun dan Murabitun serta peperangan yang pernah terjadi dalam sejarah kedua dinasti tersebut26.

(6)

merupakan faktor substansi dalam memajukan Islam secara umum. Bahkan beberapa di antara mereka merupakan ilmuwan terbesar sepanjang abad.

B. Dinamika Perjalanan Ilmiah (rihlah al-‘ilmiyyah)

Dalam menempuh studinya para ilmuwan melakukan perjalan ilmiah yang dikenal dengan rihlah ‘ilmiyyah. Tujuan dari kegiatan ini adakalanya untuk mencari guru yang terkenal, mencari kitab, mengajar atau sekedar perjalan biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan keilmuan. Aktivitas rihlah ‘ilmiyyah ini dipraktekkan secara luas oleh para ilmuwan yang hidup pada masa Islam klasik. Akar dari praktek rihlah ‘ilmiyyah dapat ditemukan dalam nas dasar agama Islam baik Alquran maupun hadis. Dalam ayat Alquran disebutkan bahwa bumi ini diciptakan begitu luas sehingga kita

diperintahkan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain27.

Dalam mencari contoh tentang aktivitas rihlah ‘ilmiyyah ini maka usaha yang tepat dilakukan adalah menelusuri riwayat hidup para ilmuwan terkemuka tersebut dalam kamus biografi seperti tarajim dan tabaqah . Kekaguman kita akan muncul manakala melihat mobilitas mereka dalam melakukan rihlah ‘ilmiyyah ini. Di antara mereka ada yang memulai karirnya sebagai penuntut ilmu di sebuah kerajaan Islam untuk selanjutnya melakukan perjalanan intelektual dengan menjelajah berbagai sudut dunia. Ibn ‘Arabi (w.638/1240) seorang ilmuwan sufi yang mobilitas perjalanan intelektualnya sangat dinamis. Mulai dari kota kelahirannya Murcia beliau selanjutnya menuntut ilmu ke Maroko pada tahun 564/117428 dan menetap selama 30 tahun 564-594/1174-1198.

Setelah menetap selama 30 tahun , ia melakukan perjalanan ilmiah ke beberapa kota di Timur seperti, Mesir, Hijaj dan Baghdad. Di Baghdad ia bertemu dengan al-Hafiz as-Silfi ibn ‘Asakir (w.598/1202) dan

(7)

ilmiahnya dilanjutkan ke kota Damaskus sekaligus sebagai tempat wafatnya.

Ilmuwan lainnya yang aktif melakukan lawatan ilmiah adalah Ibnu Jubayr (w.614/1217) seorang sejarawan Maroko yang pernah bekerja pada salah sorang khalifah Muwahhidun yaitu Ya‘qub al-Mansur (590-595/1184-1199). Lawatan ilmiah yang pernah ia lakukan antara lain ke Granada tahun 578/1182 dan memperoleh pelajaran fiqh dari Ma‘d Ibn ‘Adnan (w.592/1196), ‘Ali ibn Abi al-‘Aisy (599/1203) ulama Hadis30. Di

kota Granada Ibnu Jubayr mengarang sebuah kitab ‘Aja‘ib al-Buldan wa Ghaib al-Masyahid (kekaguman sebuah kota dan keajaiban

pemandangannya). Rihlah selanjutnya ke Mesir tahun 585/1190 dan diakhiri ke kota Sabtah sekaligus tempat terakhirnya. Di kota ini ia

belajar tasawuf (614/1217) dengan sufi Ibnu Malik al-Fasi (w.620/1223)31.

‘Abd al-Wahid al-Marakusyi, sejarawan Maroko yang aktif melakukan lawatan ilmiah di mulai pada usia 9 tahun ke kota Fez 590/1194 untuk belajar Alquran; lawatan selanjutnya ke kota Seville untuk menamatkan pendidikan lanjutannya. Al-Marakusyi bertemu dengan Ibnu Zuhr tahun 591/1195 dan Ibnu Tufail 592/1196 untuk belajar tentang kedokteran dan filsafat32.

Abu Talib’ Abd al-Jabbar al-Maghribi (w.598/1202) memperoleh pelajaran tentang tata bahasa ketika melakukan lawatan ilmiah ke Baghdad dari Abu Bakar Muhammad Ibn ‘Abd al-Malik (598/1202). Selanjutnya ia pergi ke Mesir untuk belajar bahasa (wa isytaghal bi tadris fih±)33. Keahliannya adalah memiliki tulisan tangan yang indah.

Ibnu Zuhr (w.590/1194) salah seorang dokter pribadi Ya‘qub al-Mansur (590-595/1184-1199) melakukan rihlah ‘ilmiyyah ke Maroko dengan tujuan mengajar di Madrasah at-Tibbiyyah dan ke Seville untuk mengajar di Jami‘ yang ada di sana34. Aktivitas beberapa ilmuwan

(8)
(9)

C. Dinamika Institusi Pendidikan

Institusi pendidikan merupakan faktor yang mendukung terciptanya komunitas ilmiah. Melalui lembaga pendidikan para ilmuwan lahir dan menghasilkan karya kreatif mereka. Dinamika sebuah institusi dapat dilihat dari aktivitas ilmiah yang berlangsung di dalamnya. Aktivitas ilmiah dapat berupa debat (jadal), diskusi(muna§arah) ataupun keduanya, fatwa (ifta’) dan penelitian (istiqra’)35. Selain madrasah, jami‘, ribat, zawiyah,

kuttab, perpustakaan, rumah sakit, observatorium terdapat institusi lainnya seperti kedai buku dan salon sastra (nudwah). Perpustakaan termasuk lembaga tinggi yang cukup penting dalam mendukung aktivitas ilmiah. Menurut Nakosteen terdapat 10 perpustakaan pribadi yang cukup besar dengan rincian 6 terdapat di Andalus 2 di Maroko dan 2 di Fez. Lebih lanjut ia tidak menjelaskan nama-nama perpustakaan tersebut. Namun 2 yang perlu diperhatikan adalah perpustakaan Yahya ibn Zakariya al-Kaumi (w.605/1209) di Fez dan perpustakaan ‘Abd al-Malik ibn Musa al-Gharnati (w.598/1204) di Seville36. Menurutnya lagi

perpustakaan ‘Abd al-Malik mempunyai 1068 volume buku yang terdiri dari ilmu-ilmu hukum (fiqh), tata bahasa, sejarah dan biografi. Perpustakaan Yahya ibn Zakariya al-Kaumi menyimpan 988 volume buku dari setiap cabang ilmu pengetahuan37. Di

bagian belakang tiap-tiap volume ditulis dengan kalimat indah tentang keadaan isinya. Untuk setiap volume buku-buku ilmu kedokteran serta pengetahuan ilmiah, ditulis komentar (hasyiyah) yang bagus penjelasannya dan bermanfaat bagi al-Kaum sendiri38.

(10)

Buku-buku tersimpan memanjang (dalam garis bujur) ruang (hall) yang melengkung dengan banyak kamar di setiap sudutnya. Pada dinding ruang tersebut ditempatkan rak buku setinggi 6 kaki dan lebar 3 yard terbuat dari kayu berukir dengan pintu-pintu yang tertutup dari atas. Setiap cabang ilmu pengetahuan memiliki kotak-kotak buku dan katalogus terpisah39.

Perpustakaan Abu al-Farraj ibn Hamid (w. 591/1203) kebanyakan berisi buku-buku langka seperti kaligrafi, matematika , sastra dan tata

bahasa40. Perpustakaan ini mempekerjakan 6 orang penyalin yang

bekerja penuh waktu. Di atas pintu lemari perpustakaannya tergantung satu daftar buku-buku yang ada di dalamnya. Demikian pula

pemberitahuan tentang buku-buku yang tidak ada dari masing-masing cabang ilmu pengetahuan41. Di dalam perpustakaan ini juga

berlangsung aktivitas keilmuan dimana para ilmuwan dari berbagai bidang kepakaran ilmu hadir dan membentuk lingkaran studi dengan membahas hal yang berhubungan dengan keilmuan mereka . Di tempat ini juga para ilmuwan selalu menuangkan ide-ide pemikirannya melalui debat dan diskusi. Seringkali seorang ilmuwan terkenal diundang untuk melakukan diskusi di sebuah perpustakaan pribadi seorang ilmuwan yang terkenal keilmuannya dan mempunyai banyak koleksi buku-buku.

(11)

Ihsan ‘Abbas menggambarkan kondisi salon sastra yang berkembang pada waktu itu:

Adat kebiasaan dan peradaban asing berkembang sendirinya. Salon-salon sastra dipersiapkan dengan sungguh-sungguh hanya untuk orang-orang dari kelas tertentu saja yang dibolehkan masuk menjadi anggota. Anggota-anggotanya harus datang tepat waktu dan meninggalkan salon sastra menurut tanda-tanda khusus yang telah ditetapkan oleh khalifah. Dalam hal ini , hanya khalifah

sajalah yang berhak untuk membuka atau menutup diskusi43.

Selanjutnya penjelasan tentang aktivitas yang berlangsung di salon sastra ini diungkapkan al-Maqqar³ dalam Nafh at-Tibb-nya:

Para peserta yang ikut andil dalam salon sastra tidak saja dipilih secara khusus, tetapi juga diperintahkan untuk mengenakan pakaian tertentu yang harus mereka kenakan, menjaga sopan santun dan mengikuti aturan yang ketat dalam sikap dan prilaku. Pertemuan diawali dengan pidato khalifah. Peserta diskusi harus berbicara dengan bahasa yang baik dan benar tenang dengan suara yang lembut. Dalam pertemuan tidak diizinkan melakukan interupsi44.

Dengan semua formalitas tersebut, perkumpulan sastra tersebut

merupakan pusat pendidikan yang sangat penting. Pertemuan tersebut menarik para ilmuwan untuk berdiskusi, bertukar pikiran dan

(12)

untuk mengadakan tukar pikiran tentang persoalan-persoalan yang luas dan beragam antara sesama ilmuwan45.

Para peserta diskusi berasal dari ahli agama, kalam, filsafat, retorika, tata bahasa dan puisi. Ahmad ibn ‘Abd Allah Zaytun (w. 602/1206) satu di antara penyair yang aktif mengikuti diskusi di salon sastra46. Ibn Rusyd (w. 595/1199) selalu diundang khalifah untuk

berdiskusi tentang filsafat. Tema yang dibahas dalam diskusi tersebut adalah penjelasan Ibnu Rusyd atas filsafat Aristoteles dan

pandangannya atas filsafat al-Ghazali47. Ilmuwan lainnya yang sering

diundang ke salon sastra ini adalah Muhammad ibn Abu al-Fadl Syaraf (w. 599/1203) ulama Nahu yang bertukar pikiran dengan Abu al-Hasan ibn Sahl Ibn Malik (w.603/1207) mengenai bentuk-bentuk karya sastra dan bahasa Arab48. Abu Ishaq ad-Duwaini (w.600/1204) prosais

terkemuka yang sering diundang khalifah untuk menjelaskan prosa-prosa yang berhasil ia gabungkan dengan prosa-prosa Andalus yang artistik49.

Kedai buku termasuk salah satu institusi yang mendukung dinamika intelektual dinasti Muwahhidun. Selama periode khalifah Ya‘qub al-Mansur (590-595/1184-1199) ilmu pengetahuan berada di tempat yang sangat tinggi, sehingga mengilhami tumbuhnya kedai-kedai buku, penyalur buku dan penyalin naskah yang tersebar di semua kota-kota penting. Menurut Hasan Ibrahim Hasan terdapat 150 jumlah kedai buku yang tersebar di beberapa kota seperti Maroko, Wargla, Fez, Seville, Rab±¯, Tilmisan dan Sabtah50. Para ilmuwan sering

(13)

Penyalur buku juga memiliki andil yang cukup signifikan dalam menyebarkan ilmu pengetahuan. Mereka bepergian dari satu kota ke kota lain yang merupakan pusat peradaban Islam untuk mencari naskah-naskah langka. Naskah-naskah-naskah langka ini kemudian dijual kepada

peminat buku yang bersedia membelinya dengan harga yang tinggi52.

Bagi para ilmuwan, memiliki naskah-naskah langka merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka untuk selanjutnya disimpan di perpustakaan pribadi mereka.

(14)

D. Kontribusi Ilmuwan Muwahhidun Bagi Renaisans

Abad ke-5/11 sampai abad ke 6/12 adalah puncak keemasan Islam dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Berbagai disiplin ilmu memperoleh tempat yang istimewa dalam perkembangannya. Perkembangan ini didorong dengan produktivitas dan kreativitas ilmuwan-ilmuwan Muslim ketika itu. Aktivitas ilmiah yang luar biasa ini secara perlahan-lahan mempengaruhi kebangkitan pendidikan di Eropa. Proses transformasi ilmu dari dunia Islam ke Barat /Kristen ditempuh melalui dua jalur. Jalur pertama dengan pengiriman pelajar-pelajar Eropa untuk belajar di institusi Islam yang ada di Andalus seperti di Jami‘ Seville dan Cordova serta sedangkan jalur kedua berupa kegiatan penerjemahan karya-karya Muslim Muwahhidun53.

Pengiriman pelajar ke institusi Islam untuk belajar ke institusi Islam secara umum untuk mempelajari bahasa Arab. John (w.621/1225) dari Gorze diutus oleh biara Lorraine ditugaskan kaisar Jerman Roger II untuk belajar bahasa Arab di Jami‘ Seville tahun 596/1200 dan menghabiskan waktu selama 3 tahun belajar bahasa Arab di sana54. Sekembalinya ia ke Jerman ia membawa

buku-buku ilmiah dan subjek-subjek lainnya yang berbahasa Arab55.

John (Ibnu Daud w.599/1203) dari Seville menuntut ilmu ke Jami‘ Seville untuk mempelajari instrumen angka-angka Hindu- Arab, ilmu-ilmu kedokteran dan filsafat. Kebanyakan pelajar yang dikirim untuk belajar ke institusi Islam merupakan para pendeta yang telah lebih dahulu mengenal Islam56.

Penerjemahan karya-karya keilmuan Muslim ke bahasa Latin

(15)

kesulitan. Leksikon kata-kata Arab dan Latin kurang diketahui oleh ilmuwan Barat. Mereka kadang menggunakan jasa Mozarabes yang mengerti bahasa Arab untuk melakukan penerjemahan dari bahasa Arab ke Latin57.

Kontribusi terbesar ilmuwan Muwahhidun antara lain dalam disiplin filsafat yang memprakarsai sambungan rantai terakhir dan terkuat

antara Barat dan Latin dengan filsafat Yunani dalam bentuk yang telah dimodifikasi oleh ilmuwan Muslim. Filsafat Hayy ibn Yaqzan

diterjemahkan oleh Edward Pococke (w.666/1290) mengilhami filsafat Robinson Crusoe. Pengaruh filsafat dalam hal ini mengenai kemampuan manusia untuk mendapatkan pengetahuan dari keadaan di luar dunia ini. Pengetahuan tersebut membuat manusia lambat-laun bergantung kepada Tuhan58. Filsafat ini dikenal dalam dunia pendidikan dengan teori

Nativisme yaitu teori yang mengatakan bahwa manusia memiliki kemampuan berkembang secara alami.

Ibnu Rusyd filosof lainnya yang mampu memberikan komentar bagi karangan Aristoteles. Pengaruh filsafat Aristoteles lebih dominan terlihat dalam filsafat Thomas Aquinas (w. 661/1265 ) dalam hal merasionalkan keimanan dan akal. Ia setuju dengan pendapat Ibnu Rusyd bahwa akal dan keimanan adalah sumber pengetahuan dan sepenuhnya meyakini bahwa filsafat menawarkan cara terbaik untuk menyelesaikan pertentangan-pertentangan dalam pemahaman yang terjadi di gereja. Ia juga menambahkan bahwa perlu adanya tujuan dan fungsi dalam mendefenisikan eksistensi. Mengingkari posisi sebab akibat berarti mengingkari perlunya observasi dan akal59.

Konsep pemikiran Ibnu’Arabi dalam mi‘rajnya memberikan inspirasi atas pemikiran Dante dalam menelusuri konsep penyatuan antara jiwa dan rasio60. Penerjemahan karya astronomi Jabir ibn Aflah

(16)

pembuktian kesalahan atas teori astronomi Ptolemeus serta

memberikan wacana baru bagi bangsa Eropa dalam mengetahui tabel-tabel penanggalan (kalender) yang lebih sistematis61. Dalam karya

kedokteran karya Ibnu Zuhr (w.590/1194) Tays³r diterjemahkan dalam bahasa Latin Theisir memberikan inspirasi bagi bangsa Eropa tentang kegunaan dari tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan obat. Karya kedokteran Ibu Rusyd Kulliy±t f³ a¯-°ibb (ensiklopedia kedokteran) diterjemahkan oleh Bonacosa tahun 649 /1255 ke dalam bahasa Latin dan dikenal dengan nama Colliget. Kontribusi karya ini dunia Barat sebagai rujukan atas wabah penyakit yang berjangkit di Eropa. Kasus penyakit cacar (black death ) di Eropa pemberantasannya merujuk pada kitab Ibnu Rusyd ini62.

Buah dari pencerahan ilmu pengetahuan yang distimulasi oleh ilmuwan Muslim melahirkan suatu institusi baru di Eropa yaitu uniersitas. Tujuan utama dari universitas yang didirikan adalah memberikan

pemahaman dan masukan baru ilmu pengetahuan Muslim klasik yang tersedia dalam terjemahan-terjemahan sehingga mendominasi

kurikulum Eropa63. Kurikulum yang sebelumnya sangat merendahkan

logika karena bersandar atas mitos Romawi kuno dan memberikan sedikit informasi tentang dunia realita.

Setelah masuknya Islam, maka ilmu-ilmu seperti astronomi, aritmatika, geometri mulai diajarkan karena mampu menyediakan infomasi baru dan akurat tentang dunia alamiah. Dalam bidang astronomi contohnya banyak tabel astronomi yang terkenal karena memberikan perhatian mereka dalam pengamatan fenomena angkasa dan pembangunan observatorium64. Kurikulum baru tersebut tidak saja

(17)

menanamkan kehidupan baru dan materi-materi ke dalam cabang filsafat dan memperkenalkan metodologi baru dalam mempelajarinya.

Kontribusi umat Islam lainnya adalah diperkenalkannya metodologi skolastik dalam metode-metode pengajaran65. Mereka memberlakukan

satu sistem hubungan antara pelajar dan pengajar dalam hubungan yang akrab. Pelajar yang dianggap berprestasi dapat diangkat sebagai pengganti muridnya, semacam mu‘id66. Metodologi jadal (debat) dan

munazarah (diskusi) pun mulai diperkenalkan di kalangan pelajarnya, metodologi ini di kalangan Eropa dikenal dengan metodologi dialektika. Metodologi ini bertujuan untuk menguji kemampuan pelajar dalam bidang pengetahuan yang dipelajarinya. Selain itu , pelajar dianjurkan untuk menyajikan argumen-argumen yang logis dalam mempertahankan sebuah pendapat67.

Hasil dari terjemahan dan pengadopsian sistem pengajaran dari dunia Islam ke Barat/ Kristen memprakarsai kebangkitan sosial, kultur dan edukasi di dunia Barat/ Kristen. Kebangkitan Eropa dikenal dengan abad pencerahan/ renaisans.

Kesimpulan

(18)

ilmiyyah ( movement of scholar) dalam mencari ilmu untuk mendalaminya sesuai dengan kepakaran mereka menuju pusat-pusat ilmu pengetahuan serta dinamika institusional (movement of institututions) dengan banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan sebagai pusat kegiatan ilmiah.

(19)

1 Fakta ini didukung dengan banyaknya ilmuwan Muslim di masa dinasti ini

berkuasa memiliki karya yang menjadi panutan bagi ilmuwan Barat/ Kristen, seperti Ibnu Rusyd (Averroes w. 595/1198), Ibnu Tufail (Avenpace w. 585/1180), Musa al-Maimun (Maimonides w. 602/1205) filosof besar yang pengaruhnya dirasakan dalam kemunculan dan perkembangan skolastik Kristen abad ke-7/13, yang selanjutnya warisan dari ilmuwan Muslim untuk 2 abad ke depan 9/15 merupakan Renaisans bagi dunia Eropa . Anwar G. Chejne, Muslim Spains Its History and Culture, (Minneapolis: The University of Minneasota Press, 1974), h. 165.

2 Abad pertengahan dapat dibagi ke dalam empat periode yang berbeda,

yaitu periode sebelum 1/7 ( periode awal), periode 1-5/7-11 (periode ‘Abbasiyyah), periode 5-6/11-12 ( puncak abad pertengahan), periode 6-9/1250-1900 (akhir abad pertengahan). Maurice Lombard, The Golden Age of Islam, Vol.II, (Amsterdam: North-Holland, 1975), h.65.

3 Sebutan ini muncul karena ilmu-ilmu yang masuk dalam kategorinya

merupakan ilmu yang berasal dari Allah dengan tidak melibatkan penggunaan akal. ‘Abd ar-Rahman Ibn Khaldun, Muqaddimah, (Beirut: Dar al-Kutub ‘Ilmiyyah, 1993), h.214.

4 Ilmu-ilmu yang masuk dalam kategori ini disebut juga dengan ilmu intelek

karena diperoleh sepenuhnya melalui penggunaan akal dan pengalaman empiris (inderawi). Ibid, h.366.

5 Ilmu-ilmu yang tergolong ke dalamnya adalah sains jahili yang sudah

berkembang sebelum masuknya datangnya Islam. Ilmu-ilmu merupakan tradisi yang digeluti oleh bangsa Arab.

6 Kitab ini bertitel lengkap Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid yang

berisi komentarnya tentang pendangan empat mazhab.

7 Abu al-Walid ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid fi Nihayah al-Muqtasid, Vol. I,

(Beirut: Dar al-Jail, t.t), h.7.

8 Tahanawi, Al-Kasysyaf: Istilahat al-Funun, Vol.II, (Calcutta: Arabic Society of

Bengal, 1962), h.56.

9 J.A. Arberry, Sufism, (Oxford: The Clarendon Press, 1953), h.58.

10 Dalam hal ini filsafat Islam yang muncul terbagi tiga yaitu filsafat gnostik

(al-‘irfaan), filsafat peripatetik (masya’iyyah) dan filsafat illuminationis (al-Isyraq³). lihat ‘Ali Sami‘ an-Nassar, Nasy’at Fikr Falsafi fi Islam, Vol.I, (Beirut: Dar al-Ma’arif, 1985), h.110.

11 Polemik yang terjadi antara Ibnu Rusyd dan al-Ghazali yang hidup sekitar

(20)

tangan Tuhan yang terus berkelanjutan. Menurut logikanya, bahwa apa yang membakar sepotong kapas bukan karena sifat api yang membakar, tetapi sebab ghaib seperti campur tangan malaikat. Pendapat ini dibantah Ibnu Rusyd yang mengatakan bahwa tidaklah mungkin setiap aktivitas fisik melibatkan sekelompok utusan Tuhan dalam hal ini Malaikat. Menurutnya sebab fisik menyebabkan akibat fisik. Dalam kasus sepotong kapas yang terbakar karena didekatkan dengan api dan tidak pernah terbantah. Lihat Pervez Hoodbhoy, “ Ikhtiar Menegakkan Rasionalitas Antara Sains dan Ortodoksi Islam”, terj. Islam and Science Religious and The Battle of Rationality, (Bandung: Mizan,1966), h.97.

12 ‘Abd al-Walid ibn Rusyd, Tahafut at-Tahafut, Ed. Sulaiman Dunya, Vol.II,

(Al-Qahirah: t.p, 1964), h.51.

13 Abd ar-Rahman Badawi, Al-Falsafah fi al-Hadharat al-‘Arabiyyah” dalam

Mausu‘ah al-Hadarat al-‘Arabiyyah al-Isl±miyyah, Vol.I, (Beirt: Mu’assasah al-‘Arabiyyah, 1987), h.115.

14 Ibid, Vol.I, h.120 15

Tahanawi, op.cit, Vol. IV, h.28.

16 Ibid, Vol.V, h.44.

17 ‘Abd as-Salam an-Nuwaini, “ Ilm an-Nabat ‘Ind al-‘Arb” dalam Mausu ‘ah

al-Hadharat al-Islamiyyah, Vol. I, ( Beirut: Mu’assasah al-‘Arabiyyah, 1986), h.226.

18 Ibid, Vol.I, h.227. 19 Ibid.

20 Tahanawi, op.cit, Vol.V, h,45,78,12 21 Ibid, Vol.IV, h.56.

22 Ibid, Vol.V, h.54

23 G.E. Grunebaum, Medieval Islam: A Study in Cultural Orientation,

(Chicago: The University of Chicago Press, 1953), h.169.

24 Ibid.

25 ‘Abd al-Wahid al-Marakusyi, Al-Mu‘jib fi Talkhish Akhbar al-Maghrib,

(Al-Qahirah: Lajnah Ta’lif wa at-Tarjamah, 1979), h.6 .

26 Tahanawi op.cit, Vol.V, h,55. 27 QS. An-Nisa’ ayat: 10

28 Abu Faraj ibn al-Jauzi, Al-Muntazam: Fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam, Vol.I,

(21)

29 Ibid.

30 Az-Zirkli, Al-‘Alam Qamus Tarajim li Asyhur ar-Rijal min ‘Arb wa

al-Musta‘ribin wa al-Mustasyriqin, Vol.I, (Beirut: Dar al-Kutub ‘Ilmiyyah, 1987), h.44.

31 Ibid.

32 Al-Mar±kusy³, op.cit, h.7.

33 Ibnu al-Jauz³, op.cit, Vol.I, h.88. 34 Az-Zirkl³, op.cit, Vol.I, h.54.

35 George Makdisi, The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and

The West, (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1981), h.30.

36 Mehdi Nakosteen, “ Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi

Analisis Abad Keemasan Islam) terj. History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350 with and Introduction to Medieval Muslim Education (Surabaya: Risalah Gusti, 2003), h.93.

37 Ibid, h.93-4. 38 Ibid, h.94.

39 Mu¥ammad Rasy³d Mul³n, ‘A¡r al-Man¡r al-Muwa¥¥id³, (Beirt: D±r ‘ilm

lil-al-Mal±y³n, 1973), h.126

40 Ab al-‘Abb±s A¥mad ibn ‘Al³ al-Qalqasyand³, ¢ub¥ al-Aghsy±’ f³ ¢in±‘ah

al-Insy±’, (Mi¡r³yyah: Mu’assasah al-Mi¡r³yyah al-‘²mmah,1418), Vol.VIII, h.141.

41 Ibid,h. 142. Nakosteen, op.cit, h.97

42 Ibn Sa‘³d al-Maghrib³, Al-Ghu¡n al-Y±ni‘ah f³ Ma¥±sin Syu‘ar±’ al-Mi’ah

as-S±bi‘ah, ( al-Q±hirah: Al-Aby±r³, 1959), h.12.

43 I¥s±n ‘Abb±s, T±r³kh al-Adab al-Andalus³: ‘A¡r al-Muwa¥¥id³n, (Beirt: D±r

al-Kutub ‘Ilm³yyah,1965), h.39.

44 A¥mad ibn Mu¥ammad at-Tilmis±n³, Naf¥ a¯-°ibb Min Gha¡n al-Andalus

ar-Ra¯³b, Vol. II,( Beirt: D±r al-Kutub, 1968), h.56.

45 ‘Abb±s, ibid, h. 41. Mul³in, op.cit, h. 127. 46 Ibnu al-Jauz³, op.cit, h.48

47 Mul³n, op.cit, h.129. Ibnu Jauz³, ibid, Vol.I, h.158

(22)

50 ¦asan Ibr±h³m ¦asan, T±r³kh al-Isl±m as-Siy±s³yy wa D³n³yy wa

a£-¤aq±f³yy: ‘A¡r ‘Abbasiyyi as-¤±n³ f³ al-Maghrib wa al-Andalus, Vol.IV, (Al-Q±hirah: Maktabah an-Nah«ah al-Mi¡r³yyah, 1967), h.256.

51 Nakosteen, op.cit, h.99. 52 Ibid, h.99-100.

53 Charles Michael Stanton, “Pendidikan Tinggi dalam Islam”, terj. Higher

Learning in Islam: The Classical Periode, A.D.700-1300, (Logos: Jakarta, 1994), h.123.

54 Ibid

55 Philip.K.Hitti, The Arabs: A Short History, ( Princeton: Princeton University

Press, 1946), h. 152.

56 Para pendeta ini merupakan penguasa atas ilmu pengetahuan yang ada

ketika itu. Pengiriman ini merupakan sarana untuk memperluas wawasan berpikir mereka tentang ilmu pengetahuan. Ibid, h.165.

57 Norman Daniel, The Arabs and Medieval Europa, (London: Longman,

1975), h.56.

58 W.M.Watt, The Influence of Islam on Medieval Europa, (Edinburgh:

Edinburgh University Press, 1972), h.56.

59 Ibid, h. 59. Stanton, op.cit, h.115. 60 Stanton, Ibid, h.118.

61 Watt, op.cit, h.69.

62 George Sarton, Introduction to the History of Science, Vol. I, (Baltimore:

Wilkins and Wilkens, 1972), h.54.

63 Kurikulum Eropa dikenal dengan Seven Liberal Arts – sebuah nama yang

diberikan untuk serangkaian bidang studi oleh Capella pada abad ke-5/11 dan merupakan satu-satunya kurikulum pendidikan klasik yang tersedia pada waktu itu. Bidang studi itu terdiri dari trivium (tiga paket mata pelajaran meliputi tata bahasa, retorika dan logika) dan quadrivium ( empat paket mata pelajaran meliputi aritmatika, geometri, astronomi dan musik). Ibid, Vol.I, h.89.

(23)

65 George Makdisi, op.cit, h.270. 66 Ibid.

67 Hastings Rashdall, The Universities of Europe in The Middle Ages, (Oxford:

(24)

Referensi

Dokumen terkait