• Tidak ada hasil yang ditemukan

KLASIFIKASI PENYAKIT DALAM ISLAM Jurnal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KLASIFIKASI PENYAKIT DALAM ISLAM Jurnal"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KLASIFIKASI PENYAKIT DALAM ISLAM: PENYAKIT HATI, JASMANI DAN PENYAKIT ALAMI

Oleh:

Hasna Hanifah Ahmad Rifa’i

Mahasiswi Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Darussalam Gontor, Mantingan-Ngawi

Abstrak: Klasifikasi Penyakit Dalam Islam: Penyakit Hati, Jasmani dan Penyakit alami. Makalah ini menjelaskan tentang macam-macam penyakit dalam pandangan Islam. Sejatinya klasifikasi penyakit dalam Islam tidak lain dan tidak bukan merupakan cerminan dari bagaimana perilaku masing-masing manusia. Pada umumnya klasifikasi penyakit tersebut terdiri dari (1) penyakit jasmani yaitu penyakit yang berhubungan dengan kondisi tubuh kita, (2) penyakit hati atau rohani yaitu penyakit yang tidak terlihat secara fisik, yang hanya dapat dirasakan jiwa kita, seperti rasa khawatir, bimbang dll. Dan (3) penyakit alami (fitrah) ialah penyakit yang telah diilhamkan oleh Allah S.W.T kepada manusia dan binatang, seperti penyakit kelaparan, kedinginan, kelelahan, dll. Dari ketiga penyakit ini, menarik untuk dipelajari dan diketahui bagaimana terjadi dan pengobatan dari penyakit-penyakit tersebut.

Kata Kunci: penyakit jasmani, penyakit hati, penyakit alami. PENDAHULUAN

Teknologi medis boleh berkembang merambati modernisasi dan hal-hal duniawi yang sulit diukur. Namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepat bergenerasi. Untuk mengatasi berbagai penyakit tersebut, Al-Qur’an menawarkan metode yang tepat, Allah berfirman, yang artinya: “…Katakanlah Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman (QS. Fusilat/41: 33),

Di ayat lain, Allah menegaskan, yang artinya: Dan kami turunkan sebagian dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah manfaat kepada orang-orang zalim selain kerugian (QS Al-Isra’/17:82).

(2)

lewat indera) dan nafsi (yang bekaitan dengan kejiwaan)

.

Penyakit yang dapat diketahui oleh panca indera mudah dikenal. Namun penyakit yang berkaitan dengan kejiwaan banyak seperti kebodohan, ketakutan, kekikiran, kehadasan (iri hati), dan penyakit hati lainnya.

Islam telah menetapkan tujuan akan kehadirannya, diantaranya adalah untuk memelihara agama itu sendiri, akal, rohani, jasmani, harta, dan keturunan bagi seluruh umat manusia. Anggota badan manusia sejatinya adalah milik Allah S.W.T yang dianugerahkan-Nya untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Disatu sisi Allah memerintahkan untuk menjaga kesehatan dan kebersihan fisik, di sisi yang lain Allah juga memerintahkan untuk menjaga kesehatan mental dan jiwa (rohani). Kesehatan manusia dapat diwujudkan dalam beberapa dimensi, yaitu jasmaniah material melalui keseimbangan nutrisi, kesehatan fungsional organ dengan energi aktivitas jasmaniah, kesehatan pola sikap yang dikendalikan oleh pikiran, dan kesehatan emosi-ruhaniah yang disembuhkan oleh aspek spiritual keagamaan.

Secara tidak langsung dalam ajaran agama Islam telah menganjurkan kepada umatnya untuk terus manjaga kesehatan jasmaniah maupun rohaniah. Salah satunya adalah penyakit hati seperti iri hati dan

dengki. Sehubung dengan uraian pendahuluan diatas, maka dalam tulisan ini dibahas tentang klasifikasi berbagai penyakit dalam pandangan Islam, diantaranya penyakit jasmani, penyakit rohani, dan penyakit alami (fitrah). Dimana akan dijelaskan munculnya penyakit tersebut dan metode pengobatannya menurut Al-Qur’an dan Hadits.

KLASIFIKASI PENYAKIT

Secara garis besar klasifikasi penyakit menurut pandangan Islam, terdiri dari penyakit hati (rohani) dan penyakit jasmani. Diantara kedua penyakit itu ada pula yang disebut dengan penyakit alami, yaitu salah satu jenis penyakit jasmani yang tidak memerlukan tenaga medis dalam pengobatannya, seperti mengobati rasa lapar, rasa haus, kedinginan, dan keletihan.

PENYAKIT HATI

Penyakit hati atau rohani ialah sifat dan sikap buruk dan merusak rohani, yang akan mengganggu kebahagiaan manusia, merintanginya untuk memperoleh ke-ridhaan Allah dan mendorongnya untuk berbuat buruk dan merusak. Karena itulah penyakit ini sangat berbahaya bagi manusia.

(3)

yang disertai kesesatan. Seperti dalam Al-Qur’an menyebutkan kedua penyakit tersebut di dalam firman Allah S.W.T sebagai berikut:

م

م همددَازدفدٌ ض

ض

ردممٌ مههبهُولمقمٌ ِىفه

ااَضردمدٌ هململَاٌ

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit mereka.”

(QS. Al-Baqarah: 10)

Kemudian, Allah menjelaskan pula dalam firmannya yang berkaitan dengan orang yang tidak mau menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar mereka dalam mengambil keputusan. Ayat berikut ini akan menerangkan penyakit syubhat yang membawa pada keraguan.

ممههننيمبن منكهحمينلل هللومسهرنون هلللللا ىلنإل اومعهده اذنإلون

ننومضهرلعممله ممههنمملل ققيمرلفن اذنإل

٤٨

مهههللن نمكهيلن نمإلون

ننيمنلعلذممه هليملنإل اومتهأمين قلهحنلما

٤٩

ممهلبلوملهقه يمفلأن

ههللللا فنيمحليلن نمأن ننومفهاخنين ممأن اومبهاتنرما ملأن ضقرنملن

ننوممهللظلللا مههه كنئلللوأه لمبن هههلهومسهرنون ممهليملنعن

٥٠

“Dan ketika diseru kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu agar (Rasul) menegakkan hukum di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Namun, apabila keputusan ini menguntungkan, mereka akan datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah di dalam hati mereka terdapat penyakit,

ataukah mereka ragu, ataukah mereka khawatir bahwa Allah dan Rasul-Nya akan berlaku zhalim terhadap mereka? Sebaliknya, merekalah orang- orang yang dzalim.” (QS. An-Nur: 48-50)

Adapun tentang penyakit syahwat, dalam hal ini perzinahan, Allah S.W.T. berfirman:

ٌ ن

د ممٌ ددحدأ

د كدٌ نمتمسسلدٌ يمبهنملَاٌ ءدآسنهآي

ءهآس

د نملَا

ٌ ج

ن

د عسض

د خ

س تدٌ ل

د فدٌ ن

م تميسقدتمَاٌ ن

ه إه

ههبهلسقدٌ ي

ه فٌ ِيذهلمَاٌ عدمدط

س يدفدٌ لهُوسقدلسابه

ض

ض

ردمد

“Wahai istri para Nabi, kalian tidak sama dengan wanita muslimah manapun jika kalian bertakwa. Karenanya, janganlah kalian berbicara (terlalu) lembut sehingga menimbulkan keinginan kuat kaum lelaki yang dalam hatinya terdapat penyakit.”

(QS. Al-Ahzab: 32)

MACAM-MACAM PENYAKIT HATI Penyakit rohani ini sangat banyak ditemukan, yaitu segala macam sifat dan sikap mental yang menggangu ke-bahagiaan, merintangi untuk memperoleh ridha Allah dan yang mendorong untuk berbuat buruk. Beberapa macam penyakit ini antara lain:

NIFAK

(4)

apa-apa yang tidak ada di dalam hati mereka. Allah memfirmankan:

Artinya: “Dan sebagian dari pada manusia berkata: kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman padahal mereka tidak lain, melainkan menipu diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, tersebab mereka telah berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 8,9,10) HASAD (IRI HATI)

Yaitu orang yang benci kepada orang yang diberi nikmat oleh Allah dan ingin agar nikmat tersebut terlepas dari padanya. Penyakit ini menghabiskan semua pahala amal yang telah dikerjakan, seperti yang tertulis dalam sabda Rasulullah:

“Jauhilah iri hati, karena ia akan memakan semua kebaikan (pahala) sebagaimana api memakan kayu bakar yang kering.” (HR. Abu Daud)

TABZIR (MUBAZIR)

Yaitu penyakit sifat yang menyia-nyiakan harta, sebagaimana di jelaskan dalam firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang mubazir itu adalah kawan-kawannya syetan.” (QS. Al-Isra’: 27)

ANANIYAH

Yaitu egoistis/ mementingkan diri sendiri. Allah berfirman:

“ Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 14)

Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa jika umat Islam mementingkan dirinya sendiri saja, berarti dia durhaka kepada Allah. Dan sifat ini termasuk dalam penyakit rohani/ hati.

AL-BUKHTAN

Yaitu penyakit yang menjiwai seseorang pendusta/ berdusta atau mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Berdusta ini salah satu tanda munafik. Dan munafik ini adalah orang yang berpenyakit rohani.

TAKABBUR

Yaitu sikap seseorang yang membesarkan diri atau merasa dirinya lebih dari orang lain. Rasulullah berfirman:

“Takabbur itu adalah selendangKu.”

(Hadits Qutsi) RIYA’

Adalah penyakit yang diderita seseorang yang selalu ingin dipuji, ingin dilihat orang dalam beramal. Tidak ada keikhlasan dalam beribadah dan beramal. Apa yang telah disedekahkan harus diumumkan dan harus diketahui masyarakat. Sifat seperti ini merupakan penyakit hati yang harus diobati.

(5)

Hati akan menjadi baik jika mengenal Tuhan dan penciptanya, Asma’ dan sifat-Nya, dan perbuatan serta hukum yang ditetapkan-Nya. Tidak akan tercapai kesehatan atau kebahagiaan hati kecuali melalui metode yang hanya diberikan Rasul. Keliru jika orang mengira ia dapat mencapai kebahagiaan hati melalui jalan lain selain petunjuk dari para Rasul. Sebab kehidupan yang dijalani tanpa petunjuk hanyalah kehidupan, kesehatan, dan hasrat kebinatangan yang penuh nafsu syahwat. Akibatnya, hati semakin jauh dari kebahagiaan dan kesehatan hakiki.

Selain itu, pengobatan penyakit hati dapat disembuhkan dengan Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah dalam surat Yunus: 57 yang berbunyi:

م

س ك

م تسءداجدٌ دسقدٌ س

م

ا نملَاٌ اهدييأدٌ ايد

ءضافدش

ه ودٌ مسك

م بمردٌ نسمهٌ ةضظ

د عهُوسمد

ًىداهمودٌ رهودمص

ي لَاٌ يفهٌ امدله

ن

د ينهمهؤسمملسلهٌ ةضمدحسردود

“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

(QS. Yunus: 57)

ٌ ٌ

Makna “Syifâ’ lima fi shudur” pada surat Yunus [10]: 57, menunjukkan bahwa Alquran merupakan obat penyembuh bagi penyakit hati, yaitu penyembuh dari penyakit kebodohan, keragu-raguan dan

juga kebimbangan. Allah Swt. tidak menurunkan obat penyembuh dari langit yang sifatnya lebih umum, lebih bermanfaat, lebih besar dan lebih mujarab untuk menyingkirkan penyakit selain dari Alquran.

PENYAKIT JASMANI

Penyakit jasmani ialah penyakit badan, penyakit yang tampak dan dapat kita rasakan. Penyakit jasmani ini dapat disembuhkan oleh dokter dan mudah dideteksi dengan bantuan medis. Berkenaan dengan penyakit jasmani, Allah S.W.T berfirman:

جضردحدٌ ِى

ى مدع

س لس

د َاٌ ِىلدعدٌ س

د

يسلد

لدودٌ جضردحدٌ جهردعس لس

د َاٌ ِىلدعدٌ لدود

جضردحدٌ ض

ه

يرهمدلسَاٌ ِىلدعدٌ

“ tak ada halangan bagi orang buta, tak ada halangan bagi orang pincang, dan tak ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61)

(6)

METODE PEGOBATAN PENYAKIT JASMANI

Al-Qur’an di samping dapat mengobati penyakit rohani, dapat pula menjadi obat untuk penyakit jasmani. Menurut Mustamir1, ada 4 (empat) hal yang

menjadi mekanisme Al-Qur’an dalam mengobati penyakit fisik. Antara lain adalah pertama, Al-Qur’an mengajarkan cara bernapas yang baik. Kedua, huruf-huruf Al-Qur’an ketika dibaca dapat melatih organ-organ di hidung, mulut, dan tenggorokan, bahkan organ-organ dada dan perut. Ketiga, bacaan Al-Qur’an yang merdu dapat berperan sebagai terapi musik. Dan yang keempat, dengan konsep religi-opsikoneoruimunologi (seni penyembuhan dengan menggabungkan antara dimensi ruhani, psikologis, dan fisik.

Selain mekanisme Al-Qur’an tersebut, metode pengobatan penyakit jasmani meliputi tiga aturan dasar, yakni menjaga kesehatan, mencegah masuknya zat-zat berbahaya ke dalam tubuh, dan pembebasan tubuh dari zat-zat yang merugikan. Allah menyebut tiga prinsip dasar ini dalam tiga ayat berbeda, yaitu pada ayat tentang puasa, haji, dan bersuci.

1ٌ Mustamir adalah seorang dokter muda yang telah menguji kemuliaan mukjizat Alqur’an dalam bidang kesehatan. Dengan konsep terbarunya yakni metode religiopsikoneuroimunologi yang mengupas secara mendalam tentang beragam manfaat Alqur’an bagi kesehatan tubuh dan jiwa. Lihat Mustamir, Sembuh dan Sehat dengan Mukjizat Alqur’an, (Yogyakarta: Lingkaran, 2007), h. 84.

Dalam persoalan puasa, Allah S.W.T berfirman:

ًاض

ض يِ‌ر

ر ممِ‌ُمك

ك ِنمرِ‌ن

ن ًاك

ن ِ‌َنمنفن

َن

ن ممِ‌ة

ة د

م عرفنِ‌ِ‌ر

ر ف

ن س

ن ِ‌ى

ى لنع

ن ِ‌ونأن

رنخنأكِ‌م

ر ًايمأ

ن

“Maka barangsiapa diantara kamu ada

yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia

berbuka), maka (wajiblah baginya

berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan

itu pada hari-hari yang lain.“ (Qs. al-Baqarah: 184)

Allah membolehkan orang sakit untuk tidak berpuasa karena alasan sakit dan untuk orang yang sedang bepergian demi menjaga kesehatan dan stamina tubuhnya. Yakni kesehatannya tidak terganggu saat berpuasa karena orang tersebut harus melakukan aktivitas berat (perjalanan) dan juga kesulitan berpuasa seperti saat tubuh membutuhkan suntikan energi sementara tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh sehingga mengganggu proses tersebut. Tubuh pun menjadi lemas dan loyo. Dengan alasan itu, Allah membolehkan orang yang sedang melakukan perjalanan (safar), untuk tidak berpuasa, demi menjaga kesehatannya dan stamina agar tidak menjadi lemah.

(7)

ًاض

ض يِ‌ر

ر ممِ‌ُمك

ك ِنمرِ‌ن

ن ًاك

ن ِ‌َنمنفن

ه

ر س

ر أنِ‌رمِ‌َنممِ‌ًىذضأ

ن ِ‌هربرِ‌ونأن

ونأنِ‌م

ر ًاينص

ر ِ‌َنممِ‌ةةيندنفرفن

ك

ر س

ك نكِ‌ونأ

ن ِ‌ةرقندنص

ن

“Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.“ (Qs. al-Baqarah: 196)

Allah membolehkan orang yang sakit, atau kepalanya bermasalah seperti banyak kutu, berpenyakit kulit, atau karena hal lain, untuk mencukur rambut kepalanya saat melakukan ihram. yakni untuk mengusir uap-uap jahat yang diakibatkan masalah di kepalanya karena mengendap di balik rambut. Kalau rambut kepala dicukur, pori-pori akan terbuka dan semua uap jahat itu akan keluar dengan sendirinya. Proses pengeluaran zat berbahaya ini bisa dianalogikan dengan segala bentuk proses pengeluaran zat-zat berbahaya yang mendekam dalam tubuh.

Zat yang berbahaya bila mendekam dan tidak segera diatasi ada sepuluh: darah apabila sudah bergejolak, mani bila keluar secara terus-menerus, air seni, kotoran, kentut, muntah, bersin, kantuk, rasa lapar, dan rasa dahaga. Masing-masing dari sepuluh zat ini, bila ditahan, dapat menimbulkan penyakit. Allah S.W.T telah memperingatkan, agar kita mengeluarkan zat berbahaya yang paling ringan sekalipun, seperti uap jahat yang mengendap di balik

rambut, tentunya agar kita pun mengeluarkan zat berbahaya yang lebih sulit lagi dikeluarkan. Itulah metodologi al-Qur’an, menjadikan hal yang lebih rendah untuk mengindikasikan hal yang sama pada yang lebih tinggi.

Adapun yang berkaitan dengan pemeliharaan tubuh dari unsur-unsur berbahaya, Allah S.W.T berfirman dalam masalah wudhu:

ِى

ى لدع

د ٌ وسأدٌ ِى

ى َض

د رسمدٌ مستمنسكمٌ ن

س إهود

م

س ك

م نسمهٌ دضحدأدٌ ءداجدٌ وسأدٌ ردفدسد

م

م تمس

س مد لدٌ وسأ

د ٌ ط

ه ئهاغدلسَاٌ ن

د مه

ءاامدٌ َاودمجهتدٌ مسلدفدٌ ءداس

د نملَا

ابا يمط

د ٌ َادايعهص

د ٌ َاُومم مميدتدفد

م

س ك

م ههُوجمُومبهٌ َاُوحمس

د مسافد

م

س ك

م يدهيسأدود

“ jika kalian sedang sakit, sedang dalam perjalanan, kembali dari tempat buang hajat atau telah melakukan hubungan suami istri, namun tidak menemukan air, maka hendaklah bertayamum dengan tanah (debu) yang bersih, lalu usaplah wajah dan kedua tanganmu.” (QS. An-Nisa: 43)

Orang yang sakit dibolehkan mengganti air dengan debu untuk bersuci, demi menjaga tubuhnya dari unsur yang berbahaya. Itu merupakan indikasi terhadap sikap pemeliharaan tubuh dari unsur dalam maupun luar yang berbahaya.

(8)

Berdasarkan uraian singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, Islam selain sebagai petunjuk, juga di dalamnya mengandung pengobatan (syifâ’) dengan tujuan untuk mencegah dan mengobati penyakit, dari berbagai macam jenis penyakit, dengan berbagai metode, teknik, dan pendekatan tertentu diantarnya dengan bnacaan Alquran dan mendengarkannya (neurofisiologi Alquran), dzikir, istighfar, doa, dan ruqyah untuk menimbulkan ketenangan hati dalam usaha penyembuhan berbagai penyakit, terutama dari penyakit hati yang dapat berpengaruh kepada penyakit jasmani.

Berbagai pengobatan untuk penyembuhan atau pencegahan penyakit psikis dan fisis pada hakekatnya terdapat di dalam ayat-ayat Alquran dan al-Sunnah yang qauliyah dan fi’liyah. Bahkan, Alquran dan al-Sunnah mengandung isyarat dan makna yang dapat digunakan untuk menjadi petunjuk dan praktek menyembuhkan atau mengobati berbagai kriteria penyakit yang secara garis besar meliputi penyakit psikis (jiwa) dan penyakit fisik (jasmani).

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Syamsuri., 2015, Pengobatan Alternatif Dalam Perspektif Hukum Islam, Jurnal AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 4, IAIN Raden Intan Lampung, Bandar Lampung.

Nizar D, Muhammad. 2002. Hidup Sehat & Bersih Ala Nabi. Jakarta: Hikmah.

Referensi

Dokumen terkait

tujuan dari FGD pada penelitian ini adalah ingin mengumpulkan informasi terkait pengembangan prototipe aplikasi terminologi medis dan klasifikasi penyakit (ICD-10) dan

pembuatan laporan penelitian ini dengan judul “Pengaruh Dummy Variable Pada Metode Naïve Bayes Dalam Kasus Klasifikasi Penyakit Kandungan”, yang merupakan salah satu

Penelitian ini menggunakan 18 gejala klinis awal yang dapat digunakan untuk mendeteksi empat penyakit kandungan yang telah dijabarkan sebelumnya yang kemudian

Jadi, dakwah ataupun misi penginjilan yang sesuai dengan konteks Indonesia dan tidak pula melenceng dari makna sebenarnya merupakan integral menyangkut hal-hal jasmani dan

Variabel respon yang digunakan adalah klsifikasi penyakit Glaukoma yang terdiri dari 3 klasifikasi, yaitu Glaukoma Primer, Glaukoma Sekunder dan Glaukoma Absolut,

Model Convolutional Neural Network Transfer Learning MobileNetV2 juga mampu melakukan klasifikasi penyakit otak pituitary dengan sangat baik, pada nilai classification report,