1
KAPATA SEBAGAI WAHANA PENUTUR SEJARAH
DAN HARMONISASI SOSIAL MASYARAKAT MALUKU1
Fricean Tutuarima Falantino Eryk Latupapua2
1. Pengantar
Sastra lisan memiliki fungsi yang amat vital dalam tataran budaya masyarakat Maluku, terutama dalam ritual yang dilaksanakan oleh negeri-negeri adat seperti; panas pela dan panas gandong3, pamoi4, cuci negeri5 dan sebagainya. Hampir semua jenis tradisi sastra lisan selalu terintegrasi dalam ritual adat orang Maluku; nyanyian rakyat, ungkapan tradisional, puisi rakyat, dan bahasa rakyat. Salah satu jenis sastra lisan yang menarik untuk dibicarakan adalah kapata atau nyanyian rakyat Maluku. Tulisan ini merupakan pengantar untuk mengenal kapata sebagai tradisi/sastra lisan yang telah lama dikenal dalam tatanan adat dan budaya orang Maluku. Hal tersebut menjadi penting seiring dengan semakin gencarnya wacana revitalisasi sastra lisan sebagai sebuah kekayaan bahasa dan kekayaan budaya untuk membangun peradaban masyarakat yang sadar budaya. Membicarakan kapata dapat berarti menggali kembali esensi sastra lisan tersebut sebagai pembangun peradaban masyarakat Maluku. Manfaat yang diharapkan dari kajian ini adalah untuk memperkenalkan kapata sebagai salah satu media penutur sejarah masyarakat
1
Makalah ini dipresentasikan dalam Seminar Internasional Lisan VII di Provinsi Bangka Belitung, 19 – 23 November 2010.
2
Fricean Tutuarima adalah pengajar pada Program Studi PPKn FKIP Universitas Pattimura, mengampu mata kuliah Hukum Adat dan Pengurus ATL Provinsi Maluku; Falantino Eryk Latupapua adalah pengajar di FKIP Universitas Pattimura Program Studi PBSI.
3 Panas Pela
bentuk ritual adat seperti “reuni” antara negeri-negeri yang terikat oleh hubungan Pela-Gandong. Ritual ini dilaksanakan beberapa tahun sekali menurut kebutuhan. Selain untuk memperingati sejarah terbentuknya hubungan persaudaraan tersebut,
4 Pamoi
adalah bagian dari upacara perkawinan adat, dilaksanakan sebelum atau sesudah upacara inti. Fungsinya sebagai lambang diterimanya istri dari luar mataruma masuk ke dalam mataruma suami.
5
2 Maluku dan alat penjaga nilai dan norma demi merajut kembali harmonisasi hubungan orang basudara di Maluku pasca konflik kemanusiaan.
Objek materi dalam kajian ini adalah tradisi lisan berupa nyanyian rakyat Kapata Siwalima atau Kapata Kahidopang yang diperoleh penulis ketika melakukan riset di Negeri Soahuku, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, serta Kapata Tani Te Pauna Rua serta varian-variannya yang diperoleh dari pemuka adat atau Mauweng Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Kapata-kapata ini hanyalah dua dari sekian banyak yang diduga tersebar di berbagai wilayah Provinsi Maluku, terutama di negeri-negeri adat di mana tradisi lisan masih dimiliki dan dijalankan seiring dengan ritual adat yang ada.
Kajian ini menggunakan beberapa konsep, di antaranya konsep fungsi dan formula dari Albert B. Lord untuk menguraikan struktur kapata-kapata tersebut sebagai produk tradisi lisan. Konsep Lord tersebut memusatkan perhatian pada kajian tentang formula, yang meliputi frasa-frasa, klausa-klausa, atau larik) sastra lisan sebagai hasil kegiatan mengingat dan menciptakan analogi-analogi tertentu. Kajian formula dimaksudkan untuk mengeksplorasi esensi atau ide-ide yang terkandung di dalamnya. Selain itu, konsep lain yang dgunakan adalah konsep fungsi-fungsi nyanyian rakyat (Danandjaya, 1991). Konsep tersebut digunakan untuk menentukan fungsi-fungsi kapata dalam hubungan dengan masyarakat pemakainya setelah meninjau struktur dan memperoleh formula-formula yang dibangun dalam teks.
2. Artikulasi dalam Kapata : Ekspresi-Ekspresi Formulaik
3 penciptaan yang spontan seratus persen, tetapi pencerita menggunakan sejumlah formula siap pakai dengan berbagai-bagai kemungkinan variasi menurut tata bahasa, dengan konsekuensi perubahan atau variasi itu terdistribusi dalam bentuk-bentuk berbeda setiap penampilan atau pertunjukan itu dipertunjukkan kembali. Di samping itu, Formula juga memiliki sifat umum dan dikenal dengan baik oleh semua pencerita lisan. Pencerita menggunakan cadangan formula itu, untuk menggambarkan ide-ide yang bersifat umum. Sebagaimana pencerita dari mengenal dan menguasai formula itu, demikian juga halnya masyarakat. Formula yang bersifat umum itu, memberikan homogenitas kepada pencerita yang dikenal pula oleh masyarakat (Lord, 1981:50).
Istilah ekspresi formulaik dikemukakan oleh Sweeney (1987:68-69) yang berdasarkan pada konsep formula yang dikemukakan oleh Lord, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Menurutnya, ekspresi formulaik merupakan bentuk-bentuk yang memperlihatkan perulangan dengan sistem tertentu atau formula tertentu, menurut pola irama dan pola-pola sintaksis yang sama, serta mengandung sekurang-kurangnya satu kata yang sama, baik dalam bentuk perulangan-perulangan maupun sinonim.
Sejauh penelusuran penulis, kapata dalam kebudayaan Maluku memiliki dua kemungkinan artikulatif, yaitu diucapkan sebagai puisi atau dinyanyikan dengan melodi atau nada tertentu dengan atau tanpa iringan alat musik. Pada beberapa daerah di Maluku, meskipun dijumpai kapata dilafalkan tanpa nada, kehadiran alat musik ritmis tifa tetap membangun efek musikal lewat metrum yang terbentuk pada saat pelafalannya. Oleh sebab itu, sesuai dengan kategorisasi folklor lisan Danandjaya (1991 :46), kapata dikelompokkan dalam genre nyanyian rakyat.
4 performer (dalam hal ini para tetua adat) yang masih berjalan baik tetap mampu mendudukan kapata sebagai milik komunal. Oleh sebab itu, dalam kajian ini, kapata akan tetap dianggap dan diperlakukan sebagai nyanyian rakyat.
Dua teks yang digunakan sebagai objek material dalam kajian ini adalah yakni teks Kapata Siwalima, serta teks Kapata Tani Te Pauna Rua. Untuk selanjutnya, kedua teks tersebut akan dinamai teks A dan teks B. Teks A menggunakan bahasa Tanah atau bahasa adat dan tersebar dalam versi-versi berbeda di sepanjang pantai selatan Pulau Seram, terutama di wilayah Kecamatan Amahai. Versi paling lengkap dan paling tua menurut penelusuran penulis, diperoleh dari Mauweng Negeri Soahuku yaitu Mathijs Latuni. Sedangkan teks B yang menggunakan bahasa Hatuhaha diperoleh dari Abratip Tuasikal, tokoh pemuda di Negeri Pelauw. Negeri Pelauw sendiri menjadi bagian persekutuan adat negeri-negeri Amarima Hatuhaha, yang terbentang dari pesisir barat hingga utara Pulau Haruku. Adapun transkripsi teks tersebut, sebagai berikut :
Teks A
Heilete Nunusaku o, Nunusaku o,
Riai moma, taralele, taralele
Tara lele, moria la samo, moria la samo
(bagian II)
Uru Siwarima, uru Siwarima o, Uru Siwarima, uru Nusaina o
Mae sama ito, sama ito mae o, Sama ito mae ito lekahua o
Upu patasiwa toti apapua mae, Apapua mae, upu patasiwa o
Nunusaku o, Nunusaku nunu o, Nunu Nusa Ina nunu Siwarima o
Upu lepa pela upu ina lepa o, Kwele batai telu kuru siwarima o
Sei hale hatu hatu lisa pei o, Sei lesi sou sou lesi pei o
(bait I)
Tani te pauna rua isi rei Marikee
I pasa sahu e Wai Lapia Ia ei pala laue maai-maai I rena laina i hahiku sohura I husa hoho haita Rakanyawa I husa hako Rakanyawa haita I rowo loto Haturesi yasalo Ruru mata waina rua
Tiha si amanue rumasinggih Nambuasa
(bait 2)
Tani te usi aele e
Teus isi aele waa hoho Haturesi Rulu mata pauna rua
Awa wai e surate padiana ru molo Taru hatua naru molo taru hatua Waa iana-waa meito e pama miri
Ruru hoho Hatu Malaka, rimba waela mala pone Kuru hale Wai Uta Tulano
Rimba waela mama rita Hoho si a olo si gareja Teuso
5 Kedua teks kapata di atas bersifat resitatif, yaitu dinyanyikan berulang-ulang. Teks A terdiri atas dua bagian dan memiliki ciri-ciri seperti gurindam. Bagian pertama dinyanyikan oleh informan dengan tempo lambat, sementara bagian kedua lebih cepat. Struktur penyajiannya juga memiliki karakteristik tersendiri. Baris pertama dalam tiap bait dinyanyikan oleh Mauweng (berkode (x)) sebanyak dua kali, kemudian disambut oleh hadirin dengan menyanyikan kata atau frasa terakhir bait tersebut (bergaris). Setelah itu, bait kedua dinyanyikan oleh hadirin (berkode (y)).
Tui-tuia heilete, heilete, (x1)
Heilete Nunusaku o, Nunusaku o, (y1)
Riai moma, taralele, taralele (x2)
Tara lele, moria la samo, moria la samo (y2)
Formula ini berlaku sebaliknya pada pengulangan-pengulangan selanjutnya. Kendali atas resitasi itu terletak pada fungsi Mauweng sebagai pencerita/penyanyi utama. Tidak ada pola yang tetap dalam pengulangan resitasi tersebut. Manakala ia sebagai pencerita/penyanyi utama merasa cukup, maka ia akan berpindah pada bait selanjutnya. Dengan demikian, formula resitasi tersebut dapat dirumuskan, sebagai berikut :
(x1)1 + (x1)2 (y1)1 + (y1)2 ~ (x2) 1 + (x2)2 (y2)1 + (y2)2 ~ (dst)
Pada pengulangan berikutnya, hadirin menyanyikan kemudian diulangi oleh Mauweng. Sementara teks B terdiri dari dua bagian tanpa perbedaan tempo, dengan formasi bait dan baris yang lebih bebas. Formula resitasinya lebih sederhana dari teks A. Teks B biasanya dibawakan secara individu saja, maupun secara berkelompok saja, sehingga pengulangan-pengulangan terhadap bait I (x) dan bait II (y) tergantung pada keinginan penyanyi/pencerita. Formula resitasi teks B dapat dituliskan menjadi :
(x) + (y) (x) + (y) ~ (dst)
6 klausa dalam intensitas yang berbeda. Pada teks A bentuk ekspresi formulaik berupa paralelisme, yang tampak antara lain :
(1) pengulangan satu kata pada baris yang sama atau pada bagian akhir bait pertama menjadi kata pertama bait kedua, dan seterusnya. Misalnya :
Tui-tuia heilete, heilete,
Heilete Nunusaku o, Nunusaku o,
Riai moma, taralele, taralele
Taralele, moria la samo, moria la samo
(2) pengulangan frasa pada bait terdahulu ke bait sesudahnya. Hal ini dapat dilihat pada contoh kutipan berikut:
Uru Siwarima, uru Siwarima o, Uru Siwarima, uru Nusaina o
Mae sama ito, sama ito mae o, Sama ito mae ito lekahua o
Upu patasiwa toti apapua mae, Apapua mae, upu patasiwa o
(3) pengulangan kategori fatik [o] pada akhir baris.. Contohnya :
Uru Siwarima, uru Siwarima o
Mae sama ito, sama ito mae o
Apapua mae, upu patasiwa o
Kategori fatik [o] dalam kebiasaan tutur bahasa-bahasa di Maluku, termasuk bahasa Melayu Ambon sebagai bahasa yang lebih modern, biasanya digunakan dalam tuturan afirmatif untuk menyatakan penegasan dalam sebuah tuturan, dan dalam tuturan interogatif bersifat konfirmatif. Di dalam teks A, kategori fatik [o] tersebut menciptakan persajakan yang sama atau paralel pada batang tubuh teks, selain menciptakan pula suatu keindahan bunyi.
7 (1) Pengulangan kata dan frasa pada baris yang sama dan atau baris yang berurutan,
termasuk kata ganti orang (aku).
I rena laina i hahiku sohura I husa hoho haita Rakanyawa I husa hako Rakanyawa haita I rowo loto Haturesi yasalo
La ei pala e Poruta Haraa, seru eni tiha meele La ei muria u waloko, kurang ei waa salo
(2) Pengulangan beberapa kata pada baris pertama pada bait pertama dalam baris pertama bait kedua. Kalimat dengan ide yang sama dengan bait pertama digunakan kembali pada permulaan bait kedua.
Tani te pauna rua isi rei Marikee ... Tani te usi aele e
Teus isi aele waa hoho Haturesi Rulu mata pauna rua
Sebagai pusat resitasi, peran penyanyi atau pencerita utama sebagai performer, dalam hal ini Mauweng atau ketua adat, sangat penting. Lord (1981:13) menyatakan bahwa performer adalah orang yang memproduksi sastra lisan pada saat performance dan sekaligus juga sebagai komposer. Penyanyi, performer, komposer, dan penyair adalah orang dengan aspek yang berbeda, namun semuanya itu dapat dilakukan oleh satu orang dalam waktu yang bersamaan dalam sebuah pertunjukan sastra lisan. Performance bagi penyanyi atau pencerita sastra lisan merupakan momentum untuk berkreasi. Suasana, tempat, dan audience akan mempengaruhi suatu performance. Hadirin atau audience dapat datang, pergi, dan berbicara dengan sesama penonton yang lain. Hal ini akan mempengaruhi performance atau mungkin juga performance dapat terputus sejenak. Pembuatan komposisi bagi penyair lisan dilakukan pada saat pencerita melaksanakan performance sehingga komposisi dan performance merupakan dua hal yang dilakukan pada saat bersamaan
8 kembali dengan mudah, cepat, dan tepat serta menjadi ungkapan tetap yang dapat bertahan hidup secara lisan (Lord, 1981:30). Formulaik yang tercipta lewat distribusi kata-kata dan frasa yang sama dan berulang dan menciptakan bentuk-bentuk sejajar maupun pembagian peran resitasi antara penyanyi/pencerita dan hadirin dalam kedua teks merupakan upaya pencerita untuk membentuk baris-baris dengan cepat dengan menukarkan tempat, menambah, atau mengurangi kata, sehingga tidak merubah sifat paralel kalimat itu.
Pengulangan-pengulangan yang teratur dan telah dikuasai dengan baik itu merupakan suatu bentuk komposisi skematik. Komposisi skematik itu sendiri merupakan skemata atau formula yang dipergunakan untuk mengungkapkan ide-ide atau gagasan. Skemata atau formula itu diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan dan penggambaran objek yang diceritakan. Resitasi kapata secara lisan dihasilkan dari pengunaan pola-pola, ide-ide, atau tema-tema yang merupakan bentuk komposisi skematis. Seorang performer dalam sastra lisan menggunakan tema-tema yang sama (atau hampir sama), apapun cerita yang ditampilkannnya (Sweeney, 1980:64).
Hal ini jelas terbaca dalam kedua kapata di atas. Meski menceritakan dua kisah berbeda, tetapi temanya hampir sama. Keduanya berkisah tentang gerak perpindahan manusia dari suatu tempat ke tempat lain, dalam hal ini, manusia Alifuru dari Nunusaku ke pesisir dan pulau sekitar (teks A) dan Pikai Laisina dari wilayah Amarima Hatuhaha ke wilayah Hulaliu; yang mengakibatkan perpisahan antara satu dengan yang lain. Teks A menunjukkan keterpisahan secara fisik, sedangkan teks B menunjukkan keterpisahan ideologis. Keterpisahan keduanya tidak menyebabkan situasi chaotic, tetapi memunculkan ikatan yang lebih erat. Ikatan dalam teks A dilakukan melalui sumpah adat, sedangkan dalam teks B melalui persekutuan adat.
3. Makna Kapata Siwalima dan Kapata Tani Te Pauna Rua
9 disesuaikan ejaannya serta dituliskan dengan teknik parafrasis agar koherensinya makin terlihat serta mempermudah eksplorasi terhadap kandungan maknanya.
Teks A (Kapata Siwalima)
Teks B
(Kapata Ite Tani Pauna Rua)
Banyak orang berpencar-pencar seperti tui-tui 6, berjalan turun dari Nunusaku.
Ketika (mereka) sampai di suatu tempat mereka berhenti (di sana) lalu membuat perjanjian. Mereka berjanji saling peduli (dan) saling menjaga satu sama lain sebagai saudara sekandung.
(Isi janji mereka adalah :)
“Manusia-manusia Siwalima, manusia-manusia Nusa Ina
Mari kita semua menari Mako-Mako
(karena) Bapa Patasiwa telah memberikan apapua7
Nunusaku8 di Nusa Ina9 adalah tanah asal anak-cucu Siwalima
Datuk-datuk10 telah menjanjikan bahwa
Tiga Batang Air11adalah milik anak cucu Nusa Ina.
Siapa membalikkan batu (maka) batu akan menindihnya; siapa melanggar sumpah, maka sumpah (akan) membunuhnya”
Kedua matanya menangis (ketika) mereka menyeberang Sungai Marikee Dia menuju ke Wai Lapia
(lalu) sungguh-sungguh teringat
(Saat) dia pergi menyusuri pantai, mengikuti ombak, lalu sampai di pantai Hulaliu (lalu)
naik ke daerah yang berbatu-batu.
Gugurlah air matanya (ketika) mengingat tifa di mesjid Nambuasa
Ia menangis dengan penuh kesedihan
(Mereka yang) melihat dia berjalan ke Haturesi 12
(pun) berguguran air mata
(Lalu) keesokan harinya (sepucuk) surat diterima (di ) malam (hari)
Bebatuan, ikan dan air laut (seakan) mendengarkan (suara tangisnya)
Dia turun ke daerah Batu Malaka, di Sungai Uta Tulano untuk mengambil air (untuk) mengambil air (supaya) penuh(lah) (tempat) air yang (tadinya) kering
Mereka mendirikan gereja Teuso (dengan bantuan) (orang-orang) Porto dan Haria
(Dengan penuh) kesedihan ia berpaling ke belakang, apa kekurangan (dan dosa) saya?
6Tui-tui
adalah istilah dalam bahasa lokal untuk menyebut sejenis hewan seperti musang. 7Apapua
adalah sirih pinang dan tabaku (tembakau) sebagai hidangan dalam upacara adat. 8
Menurut Sahusilawane (2005), Nunusaku adalah negeri utopia dalam sejarah dan mitos orang Maluku tentang asal usulnya. Negeri itu dipercaya terletak di pusat Pulau Seram; digambarkan sebagai tempat yang indah, penuh dengan pepohonan bunga dan buah. Hanya orang yang beruntung dan berniat baik saja yang bisa mencapainya. Nunusaku adalah tempat asal Alif’uru atau manusia pertama. Penduduk asli Maluku bermigrasi dari Nunusaku ke daerah pesisir dan pulau-pulau sekitar ketika terjadi perang besar di jazirah Huamual.
9Nusa Ina
yang secara harafiah berarti “pulau ibu” adalah nama lain dari Pulau Seram. Disebut Pulau Ibu karena diyakini merupakan tempat berasal manusia pertama.
10
Datuk-datuk adalah istilah lain untuk leluhur. 11Tiga Batang Air
berarti tiga sungai besar, yaitu Sungai Tala di Kairatu, Sungai Eti di Piru, dan Sungai Sapalewa di Taniwel. Tiga sungai ini merupakan sarana vital bagi masyarakat dan diyakini sebagai jalur lalu-lintas para leluhur dari Nunusaku ke daerah-daerah pesisir.
12
10 Jika mencermati tabel di atas, jelaslah bahwa kedua teks tersebut merupakan nyanyian naratif yang menceritakan kisah-kisah yang pernah terjadi di masa lampau. Teks A menceritakan tentang migrasi manusia dari Nunusaku. Ketika sampai di pesisir, mereka berpisah, namun berjanji untuk saling menjaga, saling memperhatikan, satu sama lain. Perjanjian itu dikukuhkan dengan mengucapkan sumpah secara adat yang dikenal secara umum pada negeri-negeri adat di Maluku; “sei hale hatu, hatu lisa pei ; sei lesi sou, sou lesi pe”i. Secara harafiah sumpah tesebut memiliki arti; “siapa membalikkan batu (maka) itu akan menindihnya; siapa melanggar sumpah, (maka) sumpah akan membunuhnya. Secara langsung masyarakat telah mengamalkannya sebagai sebuah kekuatan religius magis. Artinya, sumpah tersebut diyakini memiliki kekuatan sakral yang akan mendatangkan malapetaka apabila dilaksanakan bersalahan dengan adat atau dijalankan dengan tidak semestinya. Dengan demikian, perjanjian tersebut merupakan ikatan komunal yang dalam praktiknya kemudian dapat diterjemahkan oleh kelompok masyarakat yang lebih kecil sebagai hukum adat
Penggunaan ungkapan-ungkapan khusus dalam teks A juga menunjukkan dengan jelas bagaimana cara pandang orang Maluku terhadap Sang Pencipta (Upu Patasiwa), alam (Nunusaku), dan manusia atau sesama (Uru Siwalima, mae sama ito) dalam hubungan harmoni yang padu. Filosofi yang terkandung dalam kapata tersebut, selain pengenalan akan sejarah dan kosmologi, juga mengandung nilai-nilai pengakuan dan penerimaan satu terhadap yang lain, serta nilai penghormatan terhadap adat-istiadat. Dalam praktiknya, hubungan pela gandong antar negeri-negeri di Maluku merupakan bukti nyata penghargaan terhadap janji leluhur dan pengakuan terhadap asal-usul orang Maluku yang berasal dari satu pancaran, dari Nunusaku, Nusa Ina, yang turun melalui Tiga Batang Air; Tala, Eti, dan Sapalewa kemudian terpencar-pencar ke pulau-pulau sekitarnya. Hubungan ini masih terpelihara dengan baik sampai hari ini dan akan terus menjadi pengikat yang kuat bagi masyarakat Maluku.
11 telah ada sejak dahulu. Patasiwa yang artinya sembilan soa/kelompok adalah masyarakat yang mendiami pesisir pantai,. Patalima berarti lima soa/ kelompok adalah masyarakat yang mendiami daerah pedalaman (Sahusilawane, 2005 : 53). Gabungan dua istilah ini kemudian dijadikan semboyan provinsi Maluku yakni Siwalima, yang artinya kira-kira katong samua punya (dalam bahasa Indonesia berarti “(Maluku) milik kita bersama”). Metafora Tiga Batang Air; Tala, Eti, dan Sapalewa dalam kapata ini menekankan akan pentingnya fungsi lingkungan sebagai penunjang kehidupan manusia. Pada zaman dahulu, nenek moyang orang Maluku yang biasanya disebut sebagai bangsa Alif’uru (alif artinya pertama, dan uru artinya manusia) telah memfungsikan sungai sebagai urat nadi transportasi mereka, selain fungsi-fungsi yang telah dikenal secara umum. Secara keseluruhan, bagian ini menandai hubungan manusia yang sangat dekat dengan lingkungannya. Selain itu, pengakuan terhadap janji dan perkataan yang dituturkan secara lisan oleh para leluhur hingga saat ini menjadi nilai yang dapat diamalkan dalam kehidupan bersama.
Dalam teks juga terdapat ajakan untuk menari Mako-Mako secara bersama-sama. Tari Mako-Mako adalah sebuah tarian yang berasal dari Maluku Tengah, yang berisikan gerakan-gerakan ritmik dan dinamis. Para penarinya bergerak melingkar sambil bergandeng tangan dan bernyanyi, dipandu oleh seorang pemimpin. Dalam tradisi ritual adat, tarian ini biasanya ditarikan sebagai tarian penyemangat perang atau sebagai ungkapan syukur dan sukacita atas kemenangan perang atau terjadinya sebuah peristiwa penting dan baik. Para penari biasanya melambangkan Malessy atau prajurit, sedangkan seorang pemimpin tarian biasanya melambangkan Kapitan atau Mauweng (penghulu adat). Tari Mako-Mako biasanya ditarikan sambil menyanyikan kapata diiringi tifa. Kapata yang dinyanyikan secara berbalasan melambangkan kepatuhan dan pengabdian kepada pimpinan. Secara keseluruhan, semua itu menggambarkan kehidupan orang Maluku yang memiliki daya seni yang tinggi. Semua prosesi adat maupun kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan selalu diwarnai dengan nyanyian dan tari-tarian.
12 Apapua selalu dihidangkan dalam setiap prosesi adat sebagai simbol penyertaan dan perlindungan roh tete nene moyang atau suatu bentuk restu Upu Aman Lanite (Bapa Pencipta langit dan bumi; dalam teks A disebut sebagai Upu Patasiwa) terhadap prosesi adat yang sedang berlangsung. Apapua yang terhidang dan dinikmati oleh mereka yang hadir juga merupakan lambang ikatan persaudaraan sebagai sesama anak-cucu Siwalima. Hal tersebut secara langsung merupakan bukti adanya pola-pola religiositas dan relasi sosial masyarakat yang telah lama terbentuk atau menemukan bentuknya sendiri.
Di sisi lain, teks B (Kapata Tani Te Pauna Rua), mengisahkan tentang perpisahan yang terjadi antara lima bersaudara, leluhur dari lima negeri yang terletak di pesisir barat hingga utara Pulau haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Persekutuan adat kelima negeri itu dikenal dengan nama Amarima Hatuhaha. Amarima Hatuhaha adalah sebuah bentuk persekutuan adat antara lima negeri di jazirah barat hingga utara Pulau Haruku, Maluku Tengah. Persekutuan Amarima Hatuhaha Lou Nusa terdiri dari lima negeri adat dengan pemerintahan masing-masing yaitu; Pelauw (Aman Hatu Sima), Kailolo (Aman Hatu Amen), Kabauw (Aman Hatu Hutui), Rohomoni (Aman Hatu Waela), dan Hulaliu (Aman Hatu Alasi). Menurut sejarah, kesatuan masyarakat adat Amarima Hatuhaha terbentuk di bawah pimpinan Upu Latu Nusa Hatuhaha sebelum bangsa Portugis datang ke Maluku pada tahun 1512 dan telah memeluk agama Islam yang disebarkan oleh Maulana Ibrahim yang dijuluki sebagai Datuk Pandita Pasai (Sopacua, dkk, 1996 : 4).
Dalam struktur Amarima Hatuhaha, Negeri Pelauw (Aman Hatu Sina) dilambangkan sebagai kepala atau pemimpin dan berfungsi sebagai pemimpin tertinggi dalam kesatuan Amarima Hatuhaha. Negeri Hulaliu (Aman Hatu Alasi) dilambangkan dengan tangan kanan dan berfungsi sebagai sekretaris dan atau juru bicara Amarima Hatuhaha sedangkan Negeri Rohomoni (Aman Hatu Waela) dilambangkan dengan tangan kiri dan berfungsi sebagai pemuka agama atau imam. Selanjutnya, Kailolo (Aman Hatu Amen) dilambangkan dengan kaki kanan, berfungsi sebagai penunjang perekonomian atau kaum pedagang sedangkan Kabauw (Aman Hatu Hutui) berfungsi sebagai penjaga atau pelindung Amarima Hatuhaha.
13 rakyat Amarima Hatuhaha dengan Portugis terjadi pada tahun 1571. Dalam peperangan ini masyarakat Amarima Hatuhaha dibantu oleh rakyat Tuhaha di Pulau Saparua di bawah pimpinan Kapitan Aipassa, rakyat Negeri Oma di bawah pimpinan Upu Tuakaya Omon dan Kapitan Ririassa.
Upaya penaklukan yang tidak membawa hasil membuat pasukan Portugis mengubah taktiknya. Rakyat Amarima Hatuhaha diajak berunding seakan-akan ingin berdamai. Sebagai juru bicara dalam susunan adat Amarima Hatuhaha, Hulaliu atau Upu Aman Hatu Alasi yaitu Supu Pikai Laisina ditunjuk untuk mengikuti perundingan dengan Portugis tersebut. Namun setelah ditunggu beberapa lama, utusan tersebut belum kembali. Kenyataannya pada saat itu, tahun 1590, ia telah menerima sakramen baptisan dan namanya disebut Simon Supu Laisina. Ia resmi berpindah memeluk agama Katolik akibat bujukan secara harus dari Portugis. Portugis pun membangun sebuah gereja bernama Santo Theo (dalam teks B disebut dengan nama gereja Teuso) di wilayah negeri Hulaliu yang bekas-bekasnya masih ada sampai sekarang. Kemudian, keempat saudara Islam memberikan nama Hulaliu yang berasal dari kata huranariu artinya bulan sudah lewat13.
Kapata Tani Te Pauna Rua merupakan nyanyian rakyat liris yang isinya bercerita tentang “perpisahan” antara Pikai Laisina dengan empat saudaranya yang lain; bukan perpisahan secara fisik, namun secara ideologis. Beberapa kata dan frase yang digunakan dalam teks B dengan jelas melukiskan suasana perpisahan yang penuh haru. Tangisan Pikai Laisina saat dapat dimaknai sebagai suatu ekspresi kesedihan karena harus berpisah dengan keempat saudaranya dan mengalami ”keterasingan” dalam dirinya karena memilih jalan berbeda. Pikai Laisina menangis mengingat tifa (beduk) di mesjid Nambuasa, mesjid kecil milik Pikai dan keluarganya di negeri Rohomoni. Sementara itu, tangisan keempat saudaranya juga merupakan ekspresi kesedihan karena adik mereka telah menjadi bagian dari musuh karena telah beralih memeluk agama lain.
Pada kenyataan selanjutnya, leluhur Negeri Hulaliu berpisah dengan keempat saudaranya dan mendiami pesisir Timur Pulau Haruku serta memeluk agama Katolik,
13Bulan sudah lewat
14 kemudian berganti memeluk agama Protestan pada masa penjajahan Belanda. Pilihan untuk memeluk agama Kristen tidak serta merta menyebabkan Pikai Laisina dan keturunannya ”diasingkan” oleh keempat saudaranya. Fungsi, peranan, dan kedudukan Hulaliu dalam tataran adat Hatuhaha Amarima tidak mengalami perubahan. Hubungan persaudaraan mereka pun tetap terpelihara hingga saat ini. Hal itu terbukti dengan masih utuhnya benda peninggalan Pikai Laisina yang ditinggalkan di tangan keempat saudaranya yang tetap memeluk Islam. Benda-benda itu antara lain; Mesjid Nambuasa di Rohomoni, adat istiadat di Kabauw, Al-Quran di Kailolo, dan Tiang Baileo di Pelauw. Selain itu, dalam upacara adat komunal Amarima Hatuhaha, warga Hulaliu wajib mengambil bagian, begitu pula dengan kegiatan bersama, misalnya pembersihan situs Amarima Hatuhaha di puncak Gunung Alaka yang masih ada sampai sekarang.
. Hanya saja, peninggalan-peninggalan leluhur Hulaliu yang berhubungan dengan ritual keagamaan seperti mesjid, Al-Qur’an, tifa mesjid, dan sebagainya, tidak lagi menjadi milik Hulaliu secara “utuh”, tetapi semua benda-benda tersebut “dijaga” atau berada dalam pengawasan keempat negeri yang memeluk agama Islam. Pengawasan itu tidak serta-merta membatasi akses warga Hulaliu yang ingin melihat atau berpartisipasi dalam pemeliharaannya. Pada setiap waktu sholat, warga Pelauw, sebagai pemimpin tertinggi Amarima Hatuhaha harus membunyikan beduk sebanyak 2 kali lebih banyak daripada biasanya untuk mengingat atau mengenang masyarakat Hulaliu sewaktu masih tinggal di Alaka. Jika beduk biasanya dibunyikan sebanyak sepuluh kali, maka dalam hal ini warga Pelauw harus membunyikan beduk itu sebanyak dua puluh kali. Sementara itu, Baileo Negeri Hulaliu dijadikan satu dengan Pelauw. Sudut di bagian utara hingga ke barat dalam ruangan baileo tersebut adalah milik Pelauw, sedangkan sudut di bagian timur sampai selatan dalam ruangan baileo adalah milik Hulaliu, yang wajib dipelihara juga oleh warga Hulaliu, meskipun mereka telah memiliki baileo sendiri.
15 lama dan harus terus terpelihara. Filosofi utama yang terkandung di dalamnya adalah pengakuan bahwa perbedaan prinsip dan keyakinan tidak selalu harus menjadi kendala dalam masyarakat yang memiliki sejarah ikatan persaudaraan dan ikatan-ikatan adat tertentu.
Hubungan persaudaraan di antara kelima negeri yang berbeda keyakinan tersebut diuji melalui peristiwa konflik kemanusiaan 1999. Eskalasi konflik yang makin meningkat di berbagai wilayah yang memanipulasi isu-isu SARA tidak dapat dipungkiri turut menggoyahkan tatanan masyarakat. Pada peristiwa itu, sempat terjadi kontak fisik antara keempat negeri Islam dengan Hulaliu, namun kesadaran masyarakat akan ikatan adat yang mereka miliki dapat dikembalikan dengan segera hingga konflik tidak lagi berkepanjangan. Bahkan persekutuan Amarima Hatuhaha kemudian memelopori proses perdamaian antara kelompok-kelompok yang bertikai pada tataran yang lebih luas (Tutuarima, dkk, 2009).
4. Fungsi Kapata: Relevansinya dengan Kesadaran Historis dan Harmonisasi Relasi-Relasi Sosial
Menurut Bascom, folklor mempunyai empat fungsi umum, yaitu (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif, (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, (3) sebagai alat pendidikan anak, dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya (Danandjaja, 1991:19). Fungsi-fungsi ini kemudian dijabarkan secara lebih spesifik pada setiap genre folklor.
16 Jika keempat fungsi tersebut di atas dipetakan pada kedua teks (teks A dan B di atas) yang digunakan sebagai objek kajian dalam tulisan ini, maka fungsi yang paling menonjol adalah fungsi pemelihara sejarah, atau sebagai wahana tutur sejarah. Selanjutnya, terdapat sedikit unsur fungsi rekreatif dan fungsi pembangkit semangat. Sedangkan fungsi protes sosial belum dapat teridentifikasi dari kedua teks di atas, meski bukan tidak mungkin terkandung dalam teks-teks lain yang belum sempat ditemukan oleh penulis. Fungsi lain yang dapat pula ditambahkan berdasarkan kajian terhadap kedua teks, dalam hubungan dengan masyarakat pemakainya, adalah fungsi harmonisasi sosial atau kontrol sosial, serta fungsi pengayaan bahasa dan budaya.
Perbandingan antara hakikat fungsi-fungsi nyanyian rakyat yang umum seperti yang dikemukakan oleh Danandjaya dengan kajian yang telah dilakukan terhadap kandungan kedua teks kapata di atas menghasilkan setidaknya empat asumsi yang berkaitan dengan fungsi-fungsi kapata dalam konteks kebudayaan Maluku. Fungsi-fungsi tersebut, yakni; (1) fungsi pemelihara sejarah masyarakat ; (2) fungsi harmonisasi sosial atau kontrol sosial; (3) fungsi pengayaan bahasa dan budaya, dan; (4) fungsi rekreatif dan pembangkit semangat. Fungsi-fungsi tersebut akan diuraikan dengan lebih jelas, sebagai berikut :
1. Fungsi kapata sebagai wahana pemelihara sejarah
Dari analisis yang telah dilakukan terhadap kedua teks, jelas terbaca bahwa kedua teks kapata tersebut mengandung muatan sejarah yang amat kental. Sejarah yang dinarasikan oleh kedua teks menyangkut sejarah masyarakat Maluku (teks A), sejarah terbentuknya hubungan-hubungan kemasyarakatan (teks B), dan sejarah hukum-hukum adat dalam masyarakat (baik teks A maupun teks B). Dengan menjalankan fungsi sebagai penutur dan pemelihara sejarah, kapata sekaligus telah menjalankan peran sebagai alat pengingat atau mnemonic device, sebagai jembatan antara kelisanan dengan sejarah masyarakat itu sendiri.
17 maupun sejarah dan budaya daerah. Dengan demikian, kesadaran tentang historisitas masyarakat dapat digerakkan untuk mempertahankan identitas yang pada gilirannya dapat membangun ketahanan budaya masyarakat itu sendiri.
2. Fungsi kapata sebagai wahana harmonisasi sosial atau kontrol sosial
Fungsi harmonisasi dan kontrol sosial memiliki relevansi dengan nilai-nilai yang terkandung dalam teks. Dalam kedua teks di atas, wacana yang mengemuka adalah penghargaan terhadap sejarah dan tradisi turun-temurun, terutama mengenai relasi-relasi sosial-tradisional antarmasyarakat yang berbeda wilayah dan agama, sekaligus pengamalan terhadap hukum-hukum adat yang menjadi pengikat masyarakat adat. Dengan kata lain, harmonisasi masyarakat dan kontrol sosial yang efektif dapat dibangun melalui kesadaran terhadap tradisi budaya atau adat-istiadat yang dimiliki.
Seperti yang ditunjukkan oleh teks A, nilai-nilai penghargaan terhadap adat dan pengakuan terhadap identitas dapat diberdayakan sebagai alat kontrol terhadap tata cara hidup masyarakat, antara lain untuk menciptakan keteraturan dan mencegah konflik. Wacana seputar pentingnya identitas dan ikatan-ikatan lainnya dapat dijadikan sebagai wahana untuk mempererat harmonisasi sosial di tengah gejala zaman yang cenderung bergerak maju dan umumnya meninggalkan identitas dan ikatan sosial tradisional pada wilayah pinggiran. Di sisi lain, teks B juga cenderung dapat dimanfaatkan sebagai wahana refleksi dan penanaman kembali nilai-nilai tradisional yang dimiliki oleh kelompok masyarakat pemiliknya, terutama di kalangan generasi muda.
18 secara maksimal, tergantung peran setiap komponen dalam masyarakat adat sebagai pemilik tradisi tersebut.
3. Fungsi kapata sebagai wahana pengayaan bahasa dan budaya
Fungsi ini tidak kalah pentingnya dengan fungsi-fungsi yang telah disebutkan di atas, karena berkaitan dengan kemampuan teks untuk merefleksikan kebudayaan masyarakat yang kemudian dinikmati oleh masyarakat itu sendiri sebagai alat untuk menciptakan kesadaran budaya. Lebih lanjut, Teks-teks kapata yang menggunakan bahasa rakyat atau bahasa adat yang penuturnya semakin berkurang dapat memungkinkan terjadinya proses pengayaan bahasa dan pengayaan budaya. Pengayaan bahasa dan pengayaan budaya itu merujuk pada suatu proses revitalisasi kekayaan bahasa atau kebudayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat yang pada suatu kurun waktu tertentu mengalami kemunduran karena berbagai sebab.
Dengan demikian, pada praktiknya, masyarakat dapat mengenal bahasa daerah sendiri, mengenal budaya sendiri, melalui teks-teks kapata yang ditampilkan. Generasi muda, misalnya, dapat mengenal seluk-beluk hubungan Pela Gandong dan nilai-nilai humanisme yang terkandung di dalamnya, mengetahui legenda Nunusaku, mengenal dan mempelajari bahasa-bahasa rakyat yang selama ini hanya dikuasai oleh generasi tua dalam tataran-tataran yang terbatas, melalui penampilan suatu tradisi lisan tertentu, termasuk kapata. Pengetahuan tersebut merupakan dasar untuk menciptakan pribadi-pribadi yang sadar budaya sehingga kekuatiran bahwa tradisi lisan akan dengan sangat mudah digeser fungsi dan peranannya oleh kemajuan teknologi komunikasi global dapat sedikit berkurang.
4. Fungsi rekreatif dan pembangkit semangat
19 menghilangkan ketegangan-ketegangan serta mencairkan kebekuan dalam hubungan-hubungan sosial yang mungkin terjadi dalam masyarakat.
Penyajian Kapata Siwalima dengan ciri balada pada bait awal serta dinamisasi dan akselerasi tempo pada bagian-bagian selanjutnya dapat membangkitkan semangat, baik bagi pencerita atau penyanyi utama, maupun masyarakat sebagai pendengar. Efek-efek musikal yang menghidupkan suasana dan membangkitkan semangat itulah yang menjadi daya tarik untuk mempermudah upaya memasyarakatkan nilai-nilai dalam tradisi-tradisi lisan agar memperoleh kembali tempatnya yang semula.
5. Penutup
Kajian singkat terhadap kedua teks ini telah mengimplikasikan bahwa kapata merupakan suatu tradisi yang kaya nilai serta memiliki sebaran ekspresi formulaik yang dilakukan oleh pengarang, penyanyi, atau pencerita sebagai sarana untuk mengingat, yang terdiri dari perulangan kata, frase, maupun bentuk-bentuk kebahasaan lain, serta wacana-wacana ritmis. Kedua teks juga menggunakan komposisi skematik sebagai cara yang digunakan oleh penyanyi atau pencerita untuk menyampaikan cerita melalui serangkaian sistem perulangan sesuai dengan situasi atau kondisi penceritaan.
Kedua kapata menceritakan dua kisah berbeda, namun memiliki kemiripan tema. Keduanya berkisah tentang gerak perpindahan manusia dari suatu tempat ke tempat lain, mengakibatkan perpisahan antara satu dengan yang lain. Teks A menunjukkan keterpisahan secara fisik, sedangkan teks B menunjukkan keterpisahan ideologis namun kemudian memunculkan ikatan yang lebih erat melalui sumpah adat dan persekutuan adat. Fungsi-fungsi yang dapat dirumuskan dari kajian ini adalah : (1) Fungsi-fungsi pemelihara sejarah masyarakat ; (2) fungsi harmonisasi sosial atau kontrol sosial; (3) fungsi pengayaan bahasa dan budaya, dan; (4) fungsi rekreatif dan pembangkit semangat.
20 Daftar Pustaka
Danandjaja, James. 1991. Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Lord, Albert B. 1981. The Singer of Tales. Cambridge, Mass: Harvard University Press. Pudentia. 1998. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan
Asosiasi Tradisi Lisan.
Ratna, I Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sahusilawane, Florence. 2005. Cerita-Cerita Tua Berlatar Belakang Sejarah dari Pulau Seram. Ambon: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Provinsi Maluku dan Maluku Utara.
Sopacua, L, dkk. 1996. Sejarah Perjuangan Masyarakat Amarima Hatuhaha. Ambon : Balai Jarahnita Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Maluku.
Sweeney, Amin. 1980. Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. Berkeley. University of Colifornia Press.
________ 1987. A Full Hearing: Orality and Literacy in the Malay World. Berkeley: University of Colifornis Press.