• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASAL MULA desa golo KAMPUNG AINIBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASAL MULA desa golo KAMPUNG AINIBA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

ASAL MULA

KAMPUNG AINIBA

(2)

SEJARAH KAMPUNG AINIBA DI KECAMATAN KAKULUK MESAK KABUPATEN BELU

Pada awal mulanya Ainiba masih bernama “Debu Dik”. Disana tinggal seorang anak bungsu Nain Fatuketi, namanya “Baku Asan”. Ia hidup seorang diri karena diusir oleh kakaknya yang bernama Nain “Toi Asan” karena takut akan adiknya merampas harta kekayaan orang tuanya.

Hidup keseharian Nain “Baku Asan” hanya memancing, anak kailnya putus dimakan makhluk penghuni laut, ia sangat sedih atas kerjadian itu, karena ia tidak memiliki alat untuk mencari ikan. Dan tiap hari ia mencari dipinggir pantai pikirannya jangan-jangan kail yang terbuat dari kail emas murni miliknya itu terdampar di pinggir laut Selewai. Namun semuanya sia-sia.

Pada hari yang ketujuh ia sedang mencari ikan. Lalu ia bertemu dengan seorang nenek tua renta, lalu ia menyapa nenek itu, katanya, “Hai inaferik ina buka saida?” Lalu nenek itu menjawab, “Hau buka dikin hitu Bodik Nain Oan anin tama!” Yang artinya Saya mencari tabib untuk menyembuhkan anak raja yang sedang sakit.

Lalu Nain “Baku Asan” teringat akan kail emas yang putus itu, menurut pikirannya mungkin saja anak raja yang dikatakan nenek tua adalah penghuni laut.

Lalu ia pun langsung menjawab, “Hau katene dikin hitu abut hitu!” Lalu nenek itu mengatakan, “Hau kusu oan Mane tana uma metan hodi tawan lai horak nee!” yang artinya “saya mengetahui obat penawar penyakitnya anak raja” dan nenek itu minta Nain “Baku Asan” untuk datang di istana untuk mengobati anak raja.

Lalu Nain “Baku Asan” mengambil lidi enau satu potong, dalam bahas Tetun “kismeta” dan menyimpan dalam gulungan selimut yang ia pakai dalam bahasa adat “kbonan laran”.

Setelah itu nenek tua menuntunnya masuk ke dalam laut Selewai.

(3)

katanya dengan bahasa tetun, “Hai Nain Rai maran ita hamanan maitian, ita tawan lai horak Foho nee tan anin tama uma metan” yang artinya raja laut memberi hormat pada raja dari darat yang telah bersedia untuk datang di istananya guna mengobati anak raja laut yang sakit.

Lalu Nain “Baku Asan” menghampiri Anak raja Laut yang sedang terbaring di tempat tidur yang terbuat dari emas. Dan ia menyuruh anak raja itu membuka mulut. Lalu ia melihat benda yang berada dalam kerongkongan anak raja itu, ternyata benda itu adalah kail emas miliknya yang putus sewaktu ia memancing di pantai “Selewai Manekin”. Lalu dengan hati-hati ia melepaskan kail yang tersangkut di kerongkongan anak raja laut. Lalu menyembunyikan di dalam “kbonan” yang artinya “lipatan kain” dan ia menggantikannya dengan sepotong batang lidi enau yang ia bawa. Dan ia Nain “Baku Asan” membawa lidi enau itu untuk menunjukkan kepada sang raja laut. Lalu ia mengatakan bahwa ternyata benda ini yang membuat anak raja sakit, ketika itu sembuhlah anak raja itu.

Raja laut itu bertanya pada Nain “Baku Asan” : Oanmane ita hakara saida?” yang artinya “Anak, engkau ingin imbalan berupa apa?”. Lalu ia menjawab, “Hau hakara kalan toba Ia dukur loron tur lakmetin” yang artinya saya “mengingini sapi”. Lalu raja laut itu mengatakan, “Rai sabutar ita dole au beton lolon ida iha sinaboi manaran! Ita mos kasu hola batar knu ida tohi hodi sura”.

Dan Nain “Baku Asan” mengikuti apa yang dikatakan raja laut itu. Akhirnya mulai jam enam sore rai sabutar keluarlah sapi-sapi dari dalam laut Selewai menuju Sinaboi Debu Dik tidak berkesudahan sepanjang malam itu, hingga tujuh puluh ribu ekor dan sampai pada angka tujuh puluh ribu satu, ayam berkokok tanda hari mulai pagi, terbitlah matahari, Maka berubahlah sapi terkahir yaitu seekor sapi jantan berbulu hitam berubah wujud menjadi batu. Sejak saat itu tempat itu diberi nama “Fatuk Karau Aman Metan” yang artinya “batu yang berupa sapi jantan berwarna hitam”.

(4)

Asan” bersama dayangnya yang memiliki ilmu sihir yang sangat tinggi, datang menemui adiknya Nain “Baku Asan” lalu Nain “Baku Asan” menyapa “Soro ami, sisawan basa leat ami sisawan sewanbasa” yang artinya “ gerangan apa sehingga di pagi begini kakak mengunjungi rumah kami”, lalu kakaknya menjawab, “Susar ami susar modo wek midar, toaln etu bauk morin tolan watun” yang artinya “setiap hari kami makan nasi tetapi tidak mempunyai lauk pauk”. Ketika itu adiknya menyuruh seorang Dakarai penjaga hewan untuk mengikat seekor sapi jantan lalu menyembelihnya.

Menurut kebiasaan adat Fatuketi tuan sapi harus duduk dibagian kepala sapi yang disembelih itu guna menjaga “Natar” yaitu “bagian tertentu dari sapi yang sudah disembelih dan dikembalikan pada tuan atau pemilik sapi”. Pada saat itu dayang yang memiliki ilmu sihir itu menghidupkan kembali sapi yang telah disembelih itu, lalu menanduk Nain “Baku Asan” hingga tewas. Maka saat itu terjadilah suatu keajaiban yang luar biasa yaitu puluhan ribu ekor sapi yang berada di hamparan Debudik semuanya mati seketika, maka terjadilah pembusukkan bangkai-bangkai sapi itu, lalu terjadilah ulat-ulat yang terbentuk dari bangkai sapi yang disebut dengan bahasa Tetun “NIBA” memenuhi hamparan padang Debudik.

Maka sejak saat itu “Debu Dik” diganti dengan nama “AINIBA” Yang berarti Ulat dari bangkai sapi”. Sampai saat ini Kampung AINIBA adalah Ibukota Desa Fatuketi, dan disitu juga ada sebuah kolam ikan yang luas kurang lebih 70 ribu meter persegi, dan kolam itu setiap tahun tepat bulan September masyarakat beramai-ramai mengambil ikam di kolam AINIBA

(5)

Ada beberapa tempat bersejarah di wilayah kerja Desa Fatuketi ysng merupakan Hak Ulayat Umametan Fatuketi seperti :

1. Uma ain Fukun yaitu makam Raja Fatuketi

2. Surik Lulik yanitu tempat berkumpulnya para Meo untuk tara mutu surik saroin mutu diman, untuk menyerang kerajaan Bokitaek-Sanataek

3. Sinaboi Manaran yaitu tempat Nain Fatuketi Baku Asan membuat pintu gerbang bagi sapi-sapi yang masuk dari laut menuju AINIBA

4. Masin Lulik yaitu tempat masyarakat Fatuketi mempersembahkan sajian untuk sang ilahi penguasa alam semesta atas hasil tambak garam yang mereka peroleh 5. Selewei Manekin yaitu tempat sapi-sapi keluar dari laut

6. Karau Aman Metan tempat berubahnya sapi menjadi batu

7. Marak Ahu tempat membakar kapur tradisional masyarakat Fatuketi

8. Fahik Manu Ulun yaitu tempat tertancapnya kepala Fahik Manu yang melanggar hukum adat Nain Fatuketi

9. Manbaan yaitu tempat utama Nain Tai Asan

10. Debu Ainiba yaitu tempat berkumpulnya sapi Baku Asan hingga membentuk kolam

Demikian tempat-tempat bersejarah Fatuketi yang terdapat di wilayah kerja Desa Fatuketi

Sumber : Linus Manek

Referensi

Dokumen terkait