AKTUALISASI MUHARROM DALAM MENYONGSONG PERSAINGAN GLOBAL Oleh: Nurul Hadi
A. PENDAHULUAN
Waktu itu dinamis. Perubahan siang dan malam; dari hari ke hari; bulan ketemu bulan sampai tahun jumpa dengan tahun adalah bukti dinamika waktu. Dinamika inilah yang terus menggerogoti masa, memakan usia dan membesarkan asa. Sedangkan “hidup” baru disebut dinamis pada saat makna dari kehidupan kita terus mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau tidak begitu, dinamika itu hanya terjadi pada waktu saja sementara hidup kita tidak mengalami perubahan; stagnan. Oleh karena itu, pesan Allah dalam Al-Qur’an dengan bersumpah terhadap waktu رصعلاو (QS Al-‘Ashr [103]) mengisaratkan pesan akan pentingnya waktu.
Kalau hidup ini ibarat niaga, maka tolok ukurnya adalah untung dan rugi. Hidup akan dikatakan untung apabila terdapat “kebaikan” yang dinamis. Tetapi hidup ini hanya merugi saat kita terjebak dalam rutinitas keseharian yang stagnan. Seorang ulama pendiri pondok modern Gontor pernah berpesan kepada santrinya: “Kalau hidup Anda hanya rutinitas, maka Anda tidak ada bedanya dengan kambing”. Artinya kehidupan manusia tak ubahnya seperti hewan, manakala hidupnya monoton; yaitu hanya mencari nafkah lalu makan terus buang air besar dan begitu seterusnya.
Pesan ini sesungguhnya telah lama disyaratkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
وهف هسمأ نم ارش هموي ناك نمو ،نوبغم وهف هسمأ لثم هموي ناك نمو ،حباروهف هسمأ نم اريخ هموي ناك نم
(مكاحلا هاور نوعلم) “Barang siapa yang hari ini LEBIH BAIK daripada hari kemarin maka dia termasuk orang yang BERUNTUNG, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka dia termasuk orang yang MERUGI, dan barang siapa yang hari ini LEBIH BURUK daripada hari kemarin maka dia termasuk orang yang CELAKA”. (HR. Al-Hakim)
Hadits di atas telah memberikan pedoman bagi kita agar tidak menjadi orang yang merugi. Konsepnya sangat jelas, yaitu dinamisasi kebaikan dalam hidup. Kehidupan kita harus bergerak dinamis menuju kebaikan-kebaikan yang terus menerus dan berkembang.
B. ADA APA DENGAN MUHARROM?
Aktualisasi Muharrom sebagai momentum yang sangat besar bagi umat Islam diharapkan dapat mengembalikan kejayaan umat Muhammad ini dan dapat membangkitkan kembali dari keterbelakangan. Ummat Islam yang telah mendapatkan predikat umat TERBAIK oleh Allah (QS Ali Imron: 110) harus mampu hidup bersaing dalam era globalisasi sekalipun.
Momentum kebangkitan itu dapat kita mulai dari bulan MUHARROM. Kenapa? Setidaknya ada lima alasan, mengapa Muharrom memiliki ekspektasi yang kuat sebagai titik-balik kebangkitan umat Islam.
1. Tahun Baru Islam
Kalender Islam diresmikan pada tahun ke 17 hijriyah oleh Khalifah Umar bin Khattab kala itu; tepatnya pada 12 Rabiul Awwal / 24 September 622 M. Kata hijriyah diusulkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a, sahabat yang lain setuju dengan usulan itu mengalahkan usulan lainnya. Ada juga yang punya ide untuk memulai kalender Islam dengan kelahiran nabi Muhammad Saw, ada juga yang mengusulkan sejak nabi diangkat menjadi nabi dan lain-lain. Tetapi akhirnya, momentum hijrah lah yang menjadi pilihan. Oleh karena itu, kalender Islam disebut dengan kalender hijriyah.
Kalender hijriyah berpatokan terhadap peredaran bulan, bukan matahari seperti kalender masehi. Kalender ini sama-sama memiliki 12 bulan dalam satu tahun. Jumlah hari dalam satu tahun hijriyah sebanyak 354 hari. Berbeda dengan jumlah hari dalam tahun masehi yang rata-rata 365 hari, selisihnya sekitar 11 hari. Itu terjadi karena peredaran bulan hanya 29 atau 30 hari. Sedangkan peredaran matahari setiap bulannya adalah 30 atau 31 hari kecuali bulan Februari 28 atau 29 hari. Nama-nama bulan Hijriyah sebetulnya sudah dipakai oleh orang Arab Jahiliyah sebelumnya, kecuali nama bulan Muharrom.
Bulan muharrom sebagai nama bulan pertama merupakan tanda pergantian tahun atau tahun baru Islam. Sebagai tahun baru, maka bulan muharrom menjadi sangat relevan untuk dijadikan refleksi apa yang telah kita lakukan di tahun kemarin dan menyusun semangat baru untuk menapak perjalan satu tahun ke depan.
Muharrom adalah titik-tolak perjalanan sejaran umat Islam menuju kebangkitan.
2. Momentum Hijrah
Rasul dengan kata “escape”. Ini berarti telah menggambarkan peristiwa hijrah Rasul yang mulia secara negative.
Ada beberapa makna hijrah yang dikenal dalam Islam. Tetapi, hijrah yang paling fenomenal merejuk pada perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama pengikutnya dari Makkah al-Mukarromah ke Madinah al-Munawwaroh. Ada juga yang memaknai hijrah dengan perpindahan dari kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik (تائيسلا نم ةرجهلا تانسحلا ىلإ). Sebagian yang lain memaknai hijrah dengan pindah kepada keyakinan yang utuh dan penyerahan yang total terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya.sesuai dengan konsep hadits nabi yang terkenal itu:
.... هلوسرو هللا ىلإ هترجهف هلوسرو هللا ىلإ هترجه تناك نمف ،ىون ام ئرما لكل امنإو تاينلاب لامعلا امنإ Ketiga makna hijrah di atas sesungguhnya dapat kita integrasikan, sehingga tidak menjadi pemahaman yang parsial dan terpotong-potong. Pemahaman yang mengintegrasikan ketiga makna ini sejatinya akan membawa perubahan yang sangat dahsyat pada umat Islam. Artinya untuk mencapai kebangkitan umat Islam yang gemilang, kita harus berpindah dari tempat asal kita sebagaimana Rasulullah pindah dari tempat asalnya di Makkah.
Pindah kemana? Dan mengapa pindah?
Orang yang akan hijrah minimal mempunyai tiga pertimbangan matang; pertama, sebaiknya harus punya tujuan yang jelas dan terarah. Kedua, dalam memilih tempat pindah harus mempertimbangkan konsep “al-ifadah wa al-istifadah” (give and take). Ketiga, melihat kondisivitas tempat yang menjadi tujuan. Tiga pertimbangan ini sangat jelas Nampak dalam hijrah Rasulullah ke Madinah.
Tetapi yang paling penting dari hijrah itu adalah jawaban dari pertanyaan “mengapa”. Inilah makna hijrah yang kedua dan ketiga. Hijrah Rasul ke Madinah alasan utamanya adalah karena perintah Allah Swt.
Konklusinya, hijrah dengan ketiga makna di atas mesti kita jadikan sebagai cara untuk bangkit dan meraih kembali kejayaan ummat Islam. Artinya, kita harus pindah dari tempat asal untuk mendapatkan manfaat sebesarnya dari tempat tujuan yang bernilai kebaikan dan jangan lupa harus berlandaskan karena Allah Swt dan Rasul-Nya.
3. Bulan Haram
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat BULAN HARAM. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At Taubah : 36)
Bulan Muharrom termasuk salah satu dari empat BULAN HARAM dalam Islam (Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijah, dan, Muharrom) yang sangat dihormati.
Menurut Al-Qodhi Abu Ya’la rahimahullah, ”Dinamakan bulan HARAM karena dua makna: Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena kemuliaan bulan tersebut.
Ibnu ’Abbas mengatakan, Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram karena dianggap sebagai bulan suci dan melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar. Sedangkan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.
4. Bulan Allah
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
للييللللا ةةللصل ةلضليرلفلليا دلعيبل ةلللصلللا لةضلفيألول مةرللحلمةليا هلللللا رةهيشل نلاضلملرلدلعيبل ملايلصلللا لةضلفيأل ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada SYAHRULLAH (bulan Allah) yaitu Muharrom. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[HR. Muslim no. 2812]
As Zamakhsyari, dalam Faidhul Qodir (2/53) mengatakan, ”Bulan Muharrom ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut.
Para ulama memberikan apresiasi luar biasa terhadap bulan Muharrom. Mereka berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah, seperti puasa sunnah, sedekah, sholat malam. Dengan harapan, mereka benar-benar memperoleh berkah yang sangat melimpah. Jika saja kita melakukan amal ibadah maka pahalanya akan dilipatgandakan, sebaliknya jika kita melakukan maksiat maka dosanya pun dilipatgandakan pula.
5. Hari Asyura’
Salah satu keistimewaan bulan Muharrom adalah adanya hari Asyura’ yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharrom. Hari Asyura’ ini istimewa, karena hari ini telah menjadi saksi sejarah penyelamatan Allah terhadap para nabi dan umat Islam terdahulu dari malapetaka, di antaranya Nabi Musa dari Fir’aun, Nabi Ibrahim dari pembakaran dan lainnya. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk berpuasa.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ketika Nabi Saw datang ke Madinah, ia melihat seorang Yahudi melaksanakan shaum satu hari, yaitu ‘Assyura (10 Muharrom). Mereka berkata: “Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Fir’aun. Maka Nabi Musa As berpuasa sebagai wujud syukur kepada Allah.” Rasul Saw bersabda: “Saya lebih berhak mengikuti Musa as daripada mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari)
Hadits tentang anjuran berpuasa Asyura’ juga datang dari Siti Aisyah r.a yang diriwayatkan Imam Bukhori:
رلطلفيأل ءلاشل نيملول ملاصل ءلاشل نيمل نلاكل نلاضلملرلضلرلفة امللللفل ءلارلويشةاعل ملوييل ملايلصلبل رلملأل مللللسلول هلييللعل هةللا ىلللصل هلللا لةويسةرل نلاكل
“Rasulullah SAW memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka. (HR Bukhari)
Sedangkan keutamaan berpuasa pada hari Asyura’ ini telah disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam beberapa hadits syarif, di antaranya:
رلهيشلللا اذلهول ءلارلويشةاعل مةوييل ،ملوييللا اذلهل لللإل هلرلييغل ىللعل هةلضللفل ممويل ملايلصل ىرللحلتليل مللللسلول هلييللعل هةللا ىلللصل يللبلنلللا تةييألرلامل
.ناضلملرلرلهيشل ينلعييل “Aku tidak pernah mendapati Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallam menjaga puasa suatu hari yang lebih diutamakan daripada hari-hari lainnya kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan. (HR Muslim)
Selain itu dalam hadis yang sudah saya kutip di atas, juga menunjukkan keistimewaan puasa Asyura’. Rasulullah SAW bersabda,
.
Keutamaan lain dari puasa ‘Asyura adalah dapat menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu. Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abu Qatadah Radiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
هةللبيقل ييتللا لةنلسللا رلفللكلية نيأل هللللا ىللعل بةسلتلحيأل ينللإ ءلارلويشةاعل ملوييل مةويصلول “Puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”. (HR Abu Daud)
Begitu besar keutamaan yang terkandung pada puasa di hari ini. Bahkan sebagian ulama salaf menganggap puasa ‘Asyura hukumnya wajib. Namun berdasarkan hadits ‘Aisyah di atas, kalaupun puasa ini dihukumi wajib maka kewajibannya telah dihapus dan menjadi ibadah yang sunnah.
C. PESAN MUHARROM UNTUK KEHIDUPAN GLOBAL
Kita saat ini –mau tidak mau- sudah berada dalam alam globalisasi. Era globalisasi itu ditandai dengan semakin sempitnya dunia dan semakin dekatnya jarak karena pengaruh teknologi yang menembus ruang dan waktu.
Sayangnya, globalisasi sepertinya masih dipegang dan dikuasai oleh orang-orang non-muslim. Tetapi, pesan Muharrom dengan semangat hijrah sebagaimana dijebarkan secara singkat di atas harus mampu kita aktualisasikan dalam kehidupan nyata. Dengan artian, momentum tahun baru Islam harus menjadi motivasi yang kuat untuk pindah (hijrah) dari keterbelakangan, kemalasan dan apatisme menuju kemajuan, kesemangatan dan peduli.
Pesan muharrom harus juga kita maknai dengan kembali focus pada Allah dan Rasulnya. Karena dari sanalah sumber kebangkitan yang sebenarnya.
D. PENUTUP
Akhirnya momentum tahun baru hijriyah 1437 tahun ini yang bertepatan dengan bulan Oktober 2015 ini, mari kita maknai dengan sebaik-baiknya untuk menjadi modal kebangkitan Islam selanjutnya. Pribahasa Arab mengatakan:
ليبسلا حضو مزعلا قدص اذإ makna yang hampir sama dalam bahasa Inggris kita dengar: “If there is a will, there is a way” artinya “Di mana ada kemauan yang kuat, di situ pasti ada jalan”.
Dengan selalu memohon Ridha dari Allah Swt dan ma’unahnya, melalui momentum Muharrom ini kita harus menguatkan niat (willing) untuk berubah dan hijrah dari semua jenis kejelekan (تائيسلا) dalam semua lini kehidupan kita, menuju kebaikan (تاريخلا).