KPK WHISTLEBLOWER’S SYSTEM
R i f q i A m a n u l l a h ( 1 2 3 1 2 3 9 7 ) M u h a m m a d A b e l A r k h a n
( 1 2 3 1 2 2 2 4 ) A c c o u n ti n g D e p a r t m e n t F a c u l t y o f E c o n o m i c s
Melindungi Organisasi di Era digital dari Intelijen
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan bimbingan-Nya, sehingga karya tulis ilmiah dengan judul Melindungi Organisasi di Era Digital dari Intelegent pada tubuh sistem WhistleBlower’s Komisi Pemberantasan Korupsi ini dapat kami selesaikan dalam rangka menambah wawasan serta memenuhi tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen
Dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dekar Urumsah selaku Dosen Mata Kuliah SIM di Fakultas Ekonomis Universitas Islam Indonesia yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada penulis. 2. Orang tua yang telah ikut menyediakan berbagai keperluan penulisan makalah ini. 3. Teman-teman sekelas, yang senantiasa memberikan bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari adanya peribahasa “Tiada gading yang tak retak”. Karya tulis ilmiah ini tentunya masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan karya tulis ilmiah ini.
Semoga karya tulis ilmiah ini dapat diterapkan sehingga berguna untuk seluruh pembaca agar dapat memahami setiap potensi yang ada pada diri kita serta menjadi pembelajaran yang dapat diterapkan dikemudian hari.
Yogyakarta, 28 Juli 2014
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR ...1
DAFTAR ISI ... 2
BAB I PENDAHULUAN ... 4
1.1. Latar Belakang ... 4
1.2. Rumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian... 6
1.4. Manfaat ... 6
1.5. Metode Penulisan...6
BAB II PEMBAHASAN ...7
2.1. Pengertian WhistleBlowing secara umum ... 7
2.2. KPK WhistleBlower’s system ... 9
2.2.1. Apakah data pribadi sekaligus isi laporan merupakan aset intelektual ... 10
2.2.2. Apa sifat dari aset intelektual pelapor ... 10
2.3. Apa manfaat data pribadi pelapor dan isi laporan ... 11
2.4. Peran hukum dalam melindungi KPK whistleblowe system ... 13
2.5. Peran teknologi dalam melindungi aset pada KPK whistleblower system ... 14
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ... 16
3.1. Kesimpulan... 16
3.2. Saran... 16
DAFTAR TABEL
BAB I – Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Organisasi adalah suatu wadah dimana orang – orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistemasitis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang,material,mesin,metode,lingkungan), sarana – prasarana, data dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Sebuah organisasi pada dasarnya bisa terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa orang yang mempunyai visi dan misi yang berbeda, tapi dalam organisasi tersebut diadakannya seperti kesepakatan bersama atau penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat.
Disamping itu, organisasi juga bisa menekan angka pengangguran dengan menggunakan sumber anggota masyarakat yang ada sehingga dapat menekan angka pengangguran, dan ini bisa bersifat seperti simbiosis mutualisme. Kedua pihak memiliki keuntungan yang setimpal sehingga tidak ada yang merasa kerugian dengan adanya salah satu pihak. Dalam organisasi tersebut, setiap anggota hendaknya turut berpartisiapasi untuk mencapi tujuan bersama yang telah disepakati bersama. Keterlibatan setiap anggota agar mencapai tujuan bersama bukan hanya keterlibatan secara jasmaniah semata. Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan. Di dalam organisasi tidak hanya terdapat anggotanya saja, yang menjadi inti adalah beberapa informasi yang berkaitan dengan organisasi tersebut dan tentunya ada yang bersifat umum dan bersifat khusus. Informasi yang bersifat privasi biasanya mengenai kelangsungan usaha tersebut dan beberapa dokumen yang hanya boleh diketahui oleh perusahaan tersebut.
masyarakat awam untuk melaporkan mengenai kasus korupsi yang sedang atau akan terjadi di sebuah organisasi. Maka dari itu, KPK Whistle Blower System’s sangatlah perlu menjaga kerahasiaan informasi tersebut agar tidak tersebar kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Tahun 2014, adalah warna baru Indonesia dalam melangkah. Sebuah langkah baru bagi siapapun dalam era digital untuk maju berjalan kedepan. Era digital adalah era yang tumbuh seiring dengan teknologi, dan ini menjadi sebuah ranah baru pada era ini bagi manusia untuk berkomuikasi yaitu dunia maya. Di dunia maya manusia bebas berinteraksi, berkomunikasi, dan di dunia maya, manusia bisa menciptakan sebuah karya yang menyentuh baik berupa tulisan, maupun berbentuk gambar. Pada dasarnya, intelijen adalah bersifat mengumpulkan informasi. Pada perkembangannya terutama yang berurusan dengan masalah organisasi, juga ditambah dengan usaha sejauh mana menyelesaikan setiap ancaman yang dilakukan secara efektif, rahasia, dan langsung menuju sasarannya. Dalam dunia intelijen terkadang sarat dengan indikasi penyusupan, sabotase, mata-mata, penyadapan, pengecohan informasi bahkan yang sekelas dengan konspirasi besar. Bagi pemerintahan, intelijen merupakan mata dan telinga negara guna mengantisipasi dan mengeleminir terjadinya suatu ancaman yang mengarah kepada terganggunya keamanan dan stabilitas organisasi.
Kami memilih KPK dengan Whistle Blower’s System sebagai bahan penelitian makalah kami dikarenakan, sistem ini bergerak dan berputar didunia digital yang sesuai dengan tema yang diberikan kepada kelompok kami.
Melindungi informasi yang bersifat privasi adalah suatu kewajiban bagi KPK Whistle Blower’s System, dengan tujuan agar dapat mencegah beberapa pihak yang ingin mengetahui informasi mengenai pelaporan kasus korupsi tersebut tanpa sepertujuan atau sepengetahuan KPK Whistle Blower’s System. Informasi yang bersifat privasi ini sangatlah penting bagi organisasi, mengapa? Karena informasi ini berkaitan dengan rencana, keputusan, dan kegiatan KPK Whistle Blower’s System yang penting untuk ditindak-lanjuti atau dianggap berharga dari sudut pandang organisasi pengumpul intelijen.apabila informasi ini tersebar tentunya akan sangat merugikan perusahaan, pihak – pihak yang mengetahui informasi tersebut akan bisa menyalahgunakannya dan bisa juga menjual informasi tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
a. Mengapa aset intelektual berupa data pribadi pelapor dalam Whistle Blower’s System di KPK perlu dilindungi ?
b. Bagaiamana Undang-Undang yang berlaku melindungi KPK Whistle Blower’s System dari Kompetitif Intelijen, Tipu Daya dan Informasi yang Tidak Benar ?
1.3 Tujuan Penelitian
a. Mengetahui besarnya value dan manfaat dari pelaporan yang didapat melalui KPK Whistle Blower’s System
b. Mengetahui dasar hukum perlindungan intelektual dan informasi pada KPK Whistle Blower’s System
1.4 Manfaat Penilitian
a. Mengetahui penerapan dari Whistle Blower’s System dalam upaya untuk mengurangi tindak kecurangan yang mulai berkembang di indonesia.
b. Menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan, serta bahan dalam penerapan ilmu metode penelitian, khususnya mengenai gambaran pengetahuan tentang Whistle Bwloer’s System.
1.5 Metode Penulisan
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN WHISTLEBLOWING SECARA UMUM
Organisasi memiliki Aset intelektual adalah intangible assets yang merupakan hasil pemikiran manusia dan memiliki potensi untuk dikomersialkan. Dengan demikian cakupan aset intelektual sangat luas, tidak hanya berupa paten dan merek dagang seperti yang dikenal dulu, tetapi masyarakat sekarang sudah cukup mengerti bahwa yang dimaksud aset
intelektual dapat berupa lampu pijar sampai laser, dari saklar lampu sampai pabrik, metode pembuatan suatu materi, rumus-rumus kimia, program komputer dan lain sebagainya
Whistleblowing adalah usaha yang dilakukan oleh seorang atau beberapa orang karyawan untuk mengungkapkan sesuatu yang dipercayai sebagai kecurangan atau pelanggaran, baik yang dilakukan oleh perusahaan atau atasannya. Pihak yang dilapori itu bisa saja atasan yang lebih tinggi atau masyarakat luas. Whistleblowing menarik perhatian dunia luar dengan melaporkan kesalahan–kesalahan organisasinya atau keluhan karyawan ke banyak orang.
Contoh :
1. Whistleblowing adalah tindakan seorang karyawan yang membocorkan penyimpangan yang dilakukan oleh perusahaan dengan membuang susu dalam jumlah besar demi mempertahankan stabilitas harga susu.
2. Manipulasi di bagian produksi yang mengurangi atau menaikkan kadar unsur kimia tertentu dari standar normal dengan maksud untuk mengurangi biaya produksi atau membuat konsumen ketagihan dan pada akhirnya mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan.
Berdasar pembagiannya, whistleblowing dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1) Whistleblowing Internal
Whistleblowing internal terjadi ketika seorang atau beberapa orang karyawan tahu mengenai kecurangan yang dilakukan oleh karyawan lain atau kepala bagiannya kemudian melaporkan kecurangan itu kepada pimpinan perusahaan yang lebih tinggi. Motivasi utama whistleblowing adalah motivasi moral yaitu, demi mencegah kerugian bagi perusahaan. Hanya saja, tidak mudah mengetahui apakah motivasinya baik. Jadi, pemimpin harus bersikap hati-hati dan netral bukan dalam pengertian tidak peduli (indiferent), melainkan serius menanggapinya dan tetap memegang prinsip praduga tak bersalah. Di pihak lain, motivasi si pelapor bisa saja memang baik tapi bisa saja jahat. Dengan sikap seperti ini maka bisa dicegah dua kemungkinan yang sama-sama merugikan. Sikap langsung percaya bisa memperdaya pemimpin ketika ternyata motivasi dasar pelapor itu jahat, dan ternyata laporan itu tidak benar. Sikap tidak tanggap juga bisa merugikan karena bisa saja motivasi pelapor memang baik dan ternyata isi laporan itu benar.
2) Whistle Blowing Eksternal
2.2 KPK Whistle Blower’s System
Whistle Blower’s System yang dimiliki KPK memungkinkan masyarakat awam untuk melakukan pelaporan langsung dengan memanfaatkan gadget & koneksi internet yang merupakan alat tersohor era digital saat ini. Whistle Blower’s System mengharuskan
masyarakat untuk membuat id dengan dilengkapi data pelapor. KPK menyarankan agar ketika melakukan pelaporan atas tindak korupsi yang terjadi dilingkungannya, pertama pelapor harus membuat Username dan Password yang hanya boleh diketahui diri sendiri atau dengan kata lain bersifat private, menggunakan nama yang unik dan tidak menggambarkan identitas sang pelapor tersebut. Kemudian, sang pelapor harus mencatat dan menyimpan dengan baik Username dan Password.Sistem tersebut secara teknis menjaga anonimitas sang pelapor. Tapi sebelum membuat sebuah identitas pelapor kepada KPK, tentunya kasus korupsi yang terjadi di lingkungannya tersebut memang harus segera dilaporkan. Jika pengaduan sang pelapor memenuhi syarat/kriteria yang dapat ditangani KPK, maka akan diproses lebih lanjut oleh petugas KPK.
kriteria Pengaduan :
1. Memenuhi ketentuan Pasal 11 UU RI No. 30 Tahun 2002.
melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada
kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara;
mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau
menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar
rupiah).
2. Menjelaskan siapa, melakukan apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana. 3. Dilengkapi dengan bukti permulaan (data, dokumen, gambar dan rekaman) yang
mendukung/menjelaskan adanya TPK.
Diharapkan dilengkapi dengan data sumber informasi untuk pendalaman.
Ketika melakukan pelaporan juga KPK mengajurkan untuk tidak menggunakan Komputer kantor jika Pengaduan yang akan diberikan melibatkan pihak-pihak di dalam kantor si pelapor tersebut.KPK akan merahasiakan informasi pribadi pelapor sebagai whistleblower, KPK hanya fokus pada kasus yang dilaporkan.
Secara umum pemahaman pengelolaan aset intelektual adalah segala aktivitas yang diperlukan untuk melindungi dan mengkomersialisasi suatu penemuan. Banyak
organisasi/perusahaan tidak menggunakan, tidak melindungi dan tidak mengekploitasi aset intelektualnya karena belum mengetahui berapa besar potensi aset intelektual dapat
menghasilkan keuntungan. Tanpa pemahaman yang jelas tentang pengelolaan aset intelektual. KPK menerapkan Whistle Blower’s System yang berarti KPK sudah menyadari bahwa
informasi sang pelapor tersebut termasuk dalam aset intelektual milik KPK yang wajib di jaga kerahasiaannya.
2.3 Apa Sifat dari Aset Intelektual Pelapor ?
sifat dari informasi sang pelapor tersebut tentunya bersifat rahasia, karena pengelolaan aset intelektual memang harus dilakukan sejak awal didirikannya suatu perusahaan atau organisasi. Namun, karena informasi tentang pengelolaan aset intelektual masih baru bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, maka pihak manajemen perusahaan/organisasi sebaiknya memahami bahwa bila satu elemen ilmu pengetahuan dapat lebih bernilai dalam kegiatan usaha dibandingkan dengan seluruh modal tetap yang dimiliki, itulah saat
perusahaan dapat melihat lebih jelas pentingnya pengelolaan aset intelektual dan harus segera memulainya.
Dalam penjelasannya, sebuah organisasi HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) di ITB menjalaskan beberapa langkah yang diperlukan dalam pengelolaan aset intektual tersebut, yaitu :
1. Merumuskan spesifikasi perlindungan yang diperlukan untuk melindungi komersialisasi penemuan.
2. Mengembangkan strategi perlindungan secara menyeluruh agar dapat menghasilkan nilai optimum dari komersialisasi penemuan.
3. Menerapkan strategi perlindungan yang melibatkan pihak ketiga untuk mengimplementasikan strategi perlindungan tersebut.
4. Mengevaluasi nilai kuantitatif aset kekayaan intelektual yang sudah dilindungi, sehingga dapat menentukan nilai royalti yang akan dibebankan kepada pihak yang akan menggunakan penemuan.
5. Mengembangkan skema & proposal lisensi yang bertujuan untuk mengkomersialisasikan penemuan.
6. Membuat perjanjian lisensi penemuan yang dimiliki oleh penemu.
8. Pengawasan terhadap kemungkinan adanya pelanggaran.
2.3 Apa Manfaat Data Pribadi Pelapor Dan Isi Laporan ?
Data pelapor berguna untuk memastikan keseriusan sang pelapor dan isi laporannya. Sedangkan manfaat dari laporan mengenai tindak kourpsi yang terjadi bagi KPK adalah tentunya sangat berharga, karena dengan begitu KPK sangatlah terbantu dalam menjalankan tugasnya memberantas korupsi yang sedang marak di indonesia. Tapi ternyata bukan hanya KPK saja yang merapkan Whistle Blower’s System, DJP ( Direktorat Jenderal Pajak) juga menerapkan sistem tersebut dan juga Kementerian PAN dan RB (pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) juga menerapkan Whistle Blower’s System. Menurut Wiyoso Hadi, pegawai di Direktorat jenderal Pajak, DJP adalah instansi pemerintah di indonesia yang sudah menerapkan Whistle Blower’s System, oleh karena itulah dia
menganggap bahwa DJP adalah institusi terdepan dalam melaksanakan reformasi birokrasi secara menyeluruh di indonesia. Tapi, pada saat itu memang banyak yang belum mengerti / familiar dengan apa itu dan bagaiman Whistle Blower’s System tersebut, yang ternyata sistem tersebut dijadikan sebagai Gerakan Anti-Korupsi di DJP.
Menurut Perdirjen nomor: PER-22/PJ/2011, Whistleblowing System di DJP adalah sistem pencegahan pelanggaran dan penanganan pelaporan pelanggaran di lingkungan
DJP. Whistleblowing System di DJP menganut tiga azas, yaitu: 1. Mencegah Pelaku Melakukan Pelanggaran (Azas Prevention) 2. Mendorong antusiasme whistleblower (Azas Early Detection) 3. Penanganan yang efektif (Azas Proper Investigation)
Whistleblowing System yang sudah diterapkan di beberapa instansi pemerintah tersebut tentunya memiliku fungsi yang sama yaitu untuk meminimalisir tindak korupsi yang mulai berkembang di indonesia. Sejak diterapkannya sistem tersebut masyarakat semakin sadar akan betapa pentingnya untuk melaporkan tindak kecurangan yang sedang terjadi
dilingkungannya, berikut adalah tabel mengenai jumlah pengaduan masyarakat dari tahun 2004 sampai maret 2014 tahun berjalan :
(source : http://acch.kpk.go.id/rekapitulasi-laporan-pengaduan )
Laporan Kemajuan Penanganan Laporan Masyarakat. dari tabel diatas dapat
disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat sangatlah tinggi akan pelaporan terhadap tindak kecurangan kepada KPK. Prinsip dasar peran serta masyarakat dalam pemberantasan korupsi adalah bagaimana masyarakat diberikan kebebasan dalam berperan aktif melakukan
pemberantasan korupsi, khususnya dalam melaporkan dugaan korupsi. Di tahun 2014 (per 31 Maret), KPK menerima laporan pengaduan masyarakat sebanyak 2.173 laporan, dan telah selesai ditelaah sebanyak 1.975 laporan.
Tabulasi Pengaduan Masyarakat di tahun 2014 (per 31 Maret 2014)
Uraian Jan Feb Mar Jumlah
Laporan Pengaduan Masyarakat 743 737 693 2.173
2.4 Peran Hukum Dalam Melindungi KPK Whistleblower System
Pada perkembangan terakhir, Mahkamah Agung melalui Surat Edaran Mahkamah RI Nomor 4 Tahun 2011 memberikan terjemahan whistleblower sebagai pelapor tindak pidana yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana tertentu dan bukan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya. Namun demikian pemahaman mengenai konsep
whistleblower pun masih minim dan hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Lebih jauh lagi literatur dan bahan bacaan mengenai whistleblower juga masih minim di Indonesia.
Seorang whistleblower seringkali dipahami sebagai saksi pelapor. Orang yang memberikan laporan atau kesaksian mengenai suatu dugaan tindak pidana kepada aparat penegak hukum dalam proses peradilan pidana. Namun untuk disebut sebagai whistleblower, saksi tersebut setidaknya harus memenuhi dua kriteria mendasar.
Kriteria pertama, whistleblower menyampaikan atau mengungkap laporan kepada otoritas yang berwenang atau kepada media massa atau publik. Dengan mengungkapkan kepada otoritas yang berwenang atau media massa diharapkan dugaan suatu kejahatan dapat diungkap dan terbongkar.
Kriteria kedua, seorang whistleblower merupakan orang "dalam", yaitu orang yang mengungkap dugaan pelanggaran dan kejahatan yang terjadi di tempatnya bekerja atau ia berada. Karena skandal kejahatan selalu terorganisir, maka seorang whistleblower kadang merupakan bagian dari pelaku kejahatan atau kelompok mafia itu sendiri. Dia terlibat dalam skandal lalu mengungkapkan kejahatan yang terjadi.
Dengan demikian, seorang whistleblower benar-benar mengetahui dugaan suatu pelanggaran atau kejahatan karena berada atau bekerja dalam suatu kelompok orang terorganisir yang diduga melakukan kejahatan, di perusahaan, institusi publik, atau institusi pemerintah. Laporan yang disampaikan oleh whistle blower merupakan suatu peristiwa faktual atau benar-benar diketahui si peniup peluit tersebut. Bukan informasi yang bohong atau fitnah.
Seorang whistleblower selain dapat secara terbuka ditujukan kepada individu-individu dalam sebuah organisasi atau skandal. Auditor internal memiliki kewenangan formal untuk
Pada prinsipnya seorang whistle blower merupakan 'pro-social behaviour' yang menekankan untuk membantu pihak lain dalam menyehatkan sebuah institusi pemerintahan.
Peran whistleblower sangat besar untuk melindungi negara dari kerugian yang lebih parah dan pelanggaran hukum yang terjadi. Tetapi resiko yang mereka hadapi pun juga besar ketika mengungkap kejahatan, mulai dari ancaman ter- hadap keamanan sampai dikeluarkan dari instansi tempatnya bekerja. Sehingga whistleblower penting untuk dilindungi.
2.5 Peran Teknologi dalam Melindungi Aset intelektual pada KPK Whistle Blower System
Sebelum teknologi berkembang, Sebuah informasi biasanya ditulis di atas kertas dan kemudian disimpan disebuah brankas atau tempat penyimpanan lainnya. Semakin
disarankan untuk tetap melindungi masing-masing berkas yang ada di komputer milik KPK. Dengan demikian informasi penting akan tetap aman walaupun usaha pengamanan yang lain gagal.
KPK menerapkan dua cara pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengamankan datanya termasuk data dalam Whistle blower system.. Pertama mengenkripsi ( encrypt) berkas, dengan membuatnya tidak bisa terbaca oleh orang lain selain KPK,
Encryption menjadi kebutuhan bagi KPK dengan tujuan menyimpan file salinan yang tidak dapat diakses tanpa izin. Encryption adalah proses membuat sandi atau mengacak data untuk menyelubungi pesan yang sesungguhnya dari orang-orang yang tidak mempunyai kunci khusus untuk membaca pesan tersebut. dan pendekatan lainnya yaitu dengan
menyembunyikannya dengan harapan si penyusup tidak dapat menemukan informasi rahasia tersebut. Ada beberapa alat yang dapat membantu menerapkan dua pendekatan tersebut, salah satunya adalah aplikasi FOSS yang disebut TrueCrypt, alat yang dapat mengenkripsi
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Whistle Blower System adalah satu dari berbagai alat dari perkembangan teknologi yang mulai digunakan yang digunakan sebagai alat untuk mencegah berkembangnya kecurangan yang terjadi pada perusahaan tersebut. Tentunya semua instansi bisa menerapkan sistem tersebut karena dari instansi sebelumnya yang juga menerapkan teknologi tersebut diantaranya KPK, DPJ (Direktorat Jenderal Pajak) dan juga Kementerian PAN dan RB (pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) terbukti bisa berjalan dengan baik. Mereka menerapkan sistem tersebut tentunya dengan harapan instansi lain bisa ikut menerapkannya dengan tujuan mengurangi sampai seminimal mungkin beberapa tindak kecurangan yang bisa terjadi seperti korupsi.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
“ Ethics and Whistle Blower Program”. 15 Juli 2014.
http://www.scribd.com/doc/78003210/Ethics-and-Whistle-Blower-Program
ITB,Manajemen HaKI. “APAKAH PENGELOLAAN ASET INTELEKTUAL
ITU?”. 15 Juli 2014. http://www.lp.itb.ac.id/product/KM%20HKI/aset.html http://wbs.menpan.go.id/
KPK. “KPK Whistleblower’s System”. 15 Juli 2014 https://kws.kpk.go.id/ Hadi, Wiyoso. “Mengintip Whistleblowing System dan Gerakan Anti-Korupsi di