• Tidak ada hasil yang ditemukan

KORUPSI DAN BIROKRASI PEMERINTAH INDONES

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KORUPSI DAN BIROKRASI PEMERINTAH INDONES"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KORUPSI DAN BIROKRASI PEMERINTAH INDONESIA

Muhammad Syafiq UGM Yogyakarta

Fenomena korupsi berjamaah ; sebuah gambaran buruknya institusi pelayanan masyarakat

Korupsi berjamaah atau collegial corruption menjadi fenomena mal administrasi yang

mengemuka di birokrasi pemerintahan. Korupsi dilakukan oleh banyak aktor secara

bersama-sama dalam satuan unit kerja maupun kelembagaan terkait. Alasannya adalah adanya keinginan

untuk saling menutupi terkait peran maupun fungsinya dan juga proses maupun hasil dalam

tindakan korupsi yang telah dilakukan1. Rentetan kasus korupsi seperti fenomena kasus Bank

Century, rekening gendut PNS, wisma atlet yang melibatkan para pejabat Kemenpora maupun

Kemenakertrans bisa menjadi contoh kecil adanya gunung es kasus korupsi dalam birokrasi.

Munculnya fenomena korupsi berjamaah dalam birokrasi tidak terlepas dari sistem

kelembagaan masih berpegang pada model weberian yang sangat hierarkhis, terbagi dalam kotak

yang sempit, tidak terkoreksi dengan baik atau fragmented, serta berorientasi pada prosedur yang berlebihan atau rule driven2. Kondisi ini menyebabkan adanya proses kerja yang panjang, rumit,

tidak efisien, kinerja yang kompleks dan penuh ketidakpastian sehingga menyebabkan adanya

proses mekanisme korupsi. Ketidakpastian menjadi faktor pendorong untuk melakukan korupsi

setelah menemukan habitat yang cocok karena sistem akuntabilitas pada birokrasi masih lemah.

Sampai saat ini birokrasi masih menjadi bagian dari stakeholders yang melanggengkan status

1Nur Syam,2007.Indonesia di Tengah Problem Keterpurukan: Memotong Tradisi Korupsi. Dalam

http://eprints.sunan-ampel.ac.id/409/1/INDONESIA_DI_TENGAH_PROBLEM_KETERPURUKAN.pdf diakses

pada 22 Februari 2012.

2Dwiyanto Agus, 2009. Reformasi Birokrasi Pemerintah Sebagai Instrumen Pengendalian Korupsi di Indonesia

(2)

quo mekanisme perburuan rente. Sehingga tidak salah jika birokrasi menjadi pasar yang mempertemukan demand for dan supply of corruption3.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh PPATK tahun 2011 mengungkapkan bahwa

profesi pegawai negeri sipil (PNS) menjadi paling dominan yang disinyalir melakukan korupsi

dan transaksi keuangan mencurigakan, dengan persentase sebesar 50,3% dari 294 terlapor4. Hasil

data riset Penilaian Inisiatif Anti Korupsi 2011 yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan kebanyakan lembaga negara masih minim kesadaran anti

korupsinya, terbukti dari 70 lembaga negara di pusat dan daerah mendapatkan nilai rata-rata

nasional hanya 4,50 dari 10,0 dimana lembaga negara pusat mendapat nilai 4,38 dan daerah

4,635. KPK juga menganalisa bahwa terdapat berbagai macam bentuk kasus korupsi yang

dilakukan di dalam internal birokrasi seperti penyuapan, penggelapan, gratifikasi, pemerasan,

penyimpangan dalam pendanaan dll. Jumlah kasus yang masuk dari tahun 2004 sampai dengan

pertengahan 2010 terdapat laporan hampir 9000 an kasus yang mengindikasikan keterlibatan

birokrasi dalam kasus korupsi di daerah. Berikut adalah tabel jumlah laporan masuk ke KPK

berdasarkan lokasi kasus korupsi terjadi:

Tabel 1: Laporan Tindak Pidana Korupsi Per Obyek di KPK Periode 2004-24 Juni 20106

No Instansi Jumlah Laporan

1 PD Propinsi 79

2 Pemda Propinsi 1357

3 Pemda Kabupaten 4287

4 Pemda Kota 1244

3Dwiyanto Agus, 2009. Loc.Op cit: Pramusinto Agus dan Kumorotomo Wahyudi, 2009. Hal 214

4Media Indonesia, edisi Sabtu 24 Desember 2011, dalam artikel berjudul Tren Korupsi 2011 Melonjak Tajam. Dalam

http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2011/12/24/286647/284/1/Tren_Korupsi_2011_Melonjak _Tajam

diakses pada 22 Februari 2012.

5Laporan Hasil Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK) tahun 2011 dalam Yahya Zakaria dan Paulus Israwan

Setyoko,2011. Pelibatan Masyarakat Sebagai Etika Dalam Formulasi Kebijakan Publik Guna Mencegah Praktik Korupsi. Dalam http://map.unsoed.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/Paper-Yahya-Zakaria-Paulus-Israwan-Unsoed-for-ASIAN-2012.pdf diakses pada 22 Februari 2012.

(3)

5 DPRD –Propinsi 51

6 BUMN 978

Sehingga tidak salah jika lembaga internasional Transparancy International (TI) tahun 2011 menempatkan Indonesia posisi ke 100 dari 185 negara dengan IPK 3,0 jauh di belakang

peringkat negara tetangga seperti Singapura (5), Brunei Darusalam (44), Malaysia (60) dan

Thailand (80)7. Berikut adalah tabel yang menunjukkan peringkat korupsi Indonesia yang

diberikan beberapa lembaga internasional dalam kurun 2008-2010:

Tabel 2: Skor Tingkat Korupsi Indonesia 2008-20108

Indeks Skor Sangat

GI Index: Global Integrity Index; CPI: Corruption Perception Index oleh TI; PERC: Political Economic Risk Consultancy Index, oleh PERC Hongkong; GCB: Global Corruption Barometer oleh TI; WGI-Control of Corruption: Worldwide Governance Indicator oleh World Bank

Informasi di atas memberikan gambaran bahwa upaya praktik pengurangan korupsi yang

sudah mendarah daging di Indonesia khususnya pada level birokrasi masih berjalan stagnan. Dari

Laporan Hasil Evaluasi Kemenpan-RB tentang akuntabilitas publik pemerintah provinsi dan

daerah tahun 2011 menunjukkan nilai yang rendah dengan hanya 2 pemerintah provinsi dengan

nilai b, 17 provinsi dengan nilai cc dan 11 pemerintah provinsi mendapat nilai c, sedangkan di

lingkungan pemda/pemkot masih berjalan lambat yaitu 1,16% tahun 2009, 4,26% tahun 2010

7Transparency International, 2011. Corruption Perceptions Index 2011: The Perceived Levels of Public-Sector

Corruption in 183 Countries/Territories Around The World. Dalam http://www.transparency.org/content/

download/64565/1032845/ diakses pada 12 Februari 2012

(4)

dan 12,78% tahun 20119. Belum ada lompatan berarti dalam upaya pencegahan maupun

penindakan korupsi di negeri ini khusunya lewat penguatan sistem akuntabilitas. Wacana untuk

menghukum korupsi secara berat dengan hukuman mati maupun pemiskinan koruptor hanya

bersifat normatif dan slogan semata. Sehingga negara yang memiliki jargon Gemah ripah loh jinawi hanya berlaku bagi para koruptor.

Kegagalan Pemerintah dalam Mereduksi Risiko Korupsi Birokrasi

Korupsi birokrasi yang sudah mengakar disebabkan implementasi sistem birokrasi

weberian secara setengah hati. Sistem ini menjadikan bentuk birokrasi yang lebih berorientasi

pada ketentuan aturan secara formal bukan menempatkan kebutuhan warga dalam mendapatkan

perlindungan maupun pelayanan. Gejala fragmentasi dan spesialisasi pada pembagian kinerja

malah berdampak pada lemahnya sistem akuntabilitas. Lemahnya sistem akuntabilitas

dikarenakan selama ini mekanisme yang ada dikonstruksikan secara individu dan berbasis hanya

pada internal secara kelembagaan. Belum ada bentuk nilai kelembagaan yang memiliki semangat

untuk melakukan sistem akuntabilitas pada kinerjanya secara kelompok.

Sedangkan tahap reformasi birokrasi khususnya dalam upaya pengurangan korupsi yang

nampak masih berupa renumerasi pada lembaga kementerian yang memiliki tingkat kerawanan

tinggi terhadap tindakan korupsi. Namun pada kenyataannya langkah tersebut belum secara

signifikan mengurangi korupsi. Salah satu contoh kasus korupsi berjamaah yang mencuat adalah

tertangkapnya Gayus Tambunan maupun “The Next Gayus II” pada Kementerian Keuangan yang sudah menerapkan renumerasi pada para pegawainya. Kebijakan renumerasi belum dapat

memberikan jaminan birokrasi bersih dari korupsi. Sehingga memerlukan transformasi bentuk kelembagaan berupa penguatan sistem akuntabilitas yang mampu mengurangi korupsi.

9Dewi, 2012. Jateng, Kaltim dan Kota Sukabumi Raih Piala Akuntabilitas Kinerja Tahun 2011. Dalam

(5)

Penanggulangan korupsi yang selama ini dilakukan oleh KPK hanya terbatas pada

kasus-kasus besar di atas 1 Miliar. Sedangkan pada street level bureaucracy ( level pelaksana) belum

bisa tersentuh karena ukuran transaksinya lebih kecil. Padahal kerawanan tertinggi terjadi pada

level ini karena birokrasi bertemu langsung dengan pengguna pelayanan. Pengurangan korupsi

yang dilakukan oleh aparat kepolisian maupun kejaksaan belum mampu memberikan efek

pencegahan yang signifikan. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi

diantaranya yaitu: a) kurang luasnya fokus pemberantasan; b) kurang komprehensifnya materi

pemberantasan; c) kurang terpujinya perilaku pelaksana pemberantasan; d) kurang

independensinya lembaga anti-korupsi; e) kurang dilibatkannya lingkungan pemberantasan10.

Indonesia membutuhkan sebuah skema untuk mengurangi serta memberantas korupsi

sampai akar rumput. Sehingga benih-benih yang berpotensi pada tindakan korupsi dapat

terdeteksi sejak dini melalui langkah yang berpedoman pada kajian serius. Hal tersebut bisa

sejalan dengan reformasi birokrasi yang terfokus pada upaya mengurangi peluang korupsi. Pada

akhirnya tidak ada oknum birokrasi yang bisa menemukan celah untuk melakukan tindak pidana

korupsi.

Asa Menciptakan Birokrasi Pemerintah yang Bersih

Strategi yang efektif mendesak untuk dilakukan guna mengurangi praktik korupsi yang

membudaya di kalangan birokrasi Indonesia. Reformasi birokrasi yang sudah digulirkan mulai

tahun 2008 seharusnya tidak berhenti hanya sebatas pada renumerasi semata. Birokrasi sebagai

ujung tombak public service di Indonesia harus melakukan perubahan sistem secara internal

yang mampu menjadi solusi dari pencegahan budaya korupsi yang terjadi. Perubahan sistem bisa

dijadikan sebagai senjata preventif dalam usaha pengurangan korupsi birokrasi. Usaha-usaha

10William Dunn,2003 dalam Anwaruddin Awang,2005. Srategi Implementasi Percepatan Pemberantasan Korupsi.

(6)

dalam penanggulangan korupsi tersebut perlu untuk segera dilakukan dengan pertimbangan

banyaknya efek negatif dari menjamurnya praktik korupsi. Dampak nyata adanya korupsi

berimbas pada kehidupan masyarakat sebagai objek dari pelayanan publik yang dilakukan oleh

pemerintah. Alatas mengemukakan enam pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan dari adanya

korupsi11, yaitu:

1. Timbulnya berbagai bentuk ketidakadilan 2. Menimbulkan ketidakefisienan,

3. Menyuburkan jenis kejahatan lain

4. Melemahkan semangat perangkat birokrasi dan mereka yang menjadi korban 5. Mengurangi kemampuan negara dalam memberikan pelayanan publik

6. Menaikkan biaya pelayanan

Banyak strategi yang bisa dijadikan acuan dalam upaya pemberantasan korupsi

diantaranya dengan gagasan yang di sampaikan oleh Robert Klitgaard12.

Tindakan korupsi memiliki sebuah persamaan dimana kejadian tersebut terjadi karena

adanya monopoli kekuasaan yang diakumulasikan dengan diskresi yang dimiliki oleh

birokrasi yang selanjutnya minus sistem akuntabilitas. Maka pencegahan korupsi harus

mengutamakan sistem akuntabilitas yang kuat dalam birokrasi dengan menggunakan prinsip

inklusif maupun metode bottom up. Penguatan akuntabilitas bisa menjadi salah satu jalan

dalam meraih asa untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang bebas dari korupsi.

11Alatas, S. H., 1987. Korupsi Sifat, Sebab dan Fungsi. Jakarta; LP3ES.

12Robert Klitgaard,2005. Membasmi Korupsi.Yayasan Obor Indonesia: Jakarta. Hal 99

Gambar

Tabel 2: Skor Tingkat Korupsi Indonesia 2008-20108

Referensi

Dokumen terkait

Sejalan dengan Peraturan Menteri Pendayaguaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 37 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan Roadmap Reformasi Birokrasi Pemerintah

Sejalan dengan pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani,

Sejalan dengan pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani,

Sejalan dengan pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani,

Sejalan dengan pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani, Satuan

Sejalan dengan pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani,

Sejalan dengan pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani,

Sejalan dengan pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan