• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI KINERJA DESAIN IRIGASI CURAH MENGGUNAKAN KOMBINASI TEKANAN POMPA DAN TINGGI PIPA RISER TERHADAP KESERAGAMAN AIR The Examination Performance of Sprinkler Irrigation Design using the Combination of Riser Pipe Height and Pump Pressure Against Water Unifo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UJI KINERJA DESAIN IRIGASI CURAH MENGGUNAKAN KOMBINASI TEKANAN POMPA DAN TINGGI PIPA RISER TERHADAP KESERAGAMAN AIR The Examination Performance of Sprinkler Irrigation Design using the Combination of Riser Pipe Height and Pump Pressure Against Water Unifo"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

163 TEKANAN POMPA DAN TINGGI PIPA RISER TERHADAP

KESERAGAMAN AIR

The Examination Performance of Sprinkler Irrigation Design using the Combination of Riser Pipe Height and Pump Pressure Against Water Uniformity

Liliya Dewi Susanawati1*, Bambang Suharto1

1

Jurusan Keteknikan Pertanian – Fakultas Teknologi Pertanian -Universitas Brawijaya Jl. Veteran Malang Kota Malang

*Email: [email protected]

Abstrak

Kebutuhan air terus meningkat seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, salah satunya adalah kebutuhan air irigasi terutama saat musim kemarau. Permasalahan kekeringan di Indonesia membutuhkan alternatif yang mampu meningkatkan efisiensi pemakaian air sehingga penggunaan air untuk irigasi bisa dihemat yaitu berupa irigasi curah (sprinkler irrigation). Irigasi curah mempunyai efisiensi pemakaian air cukup tinggi sehingga perlu diuji dengan standarkoefisien keseragaman ≥85% untuk dapat diaplikasikan di lahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kuantitatif. Penelitian menggunakan kombinasi tinggi pipa riser dan tekanan pompa. Tinggi pipa riser (T) yang digunakan dalam penelitian yaitu 50, 100 dan 150 cm. Tekanan pompa (P) yang digunakan yaitu 1, 2 dan 3 bar. Pengambilan data dilakukan untuk mengetahui nilai CU (coefficient uniformity), DU (distribution uniformity) dan perhitungan Eap (Efisiensi penggunaan air). Hasil pengujian jarak pancar terendah didapat pada perlakuan P1T1 yaitu sebesar 166cm dan tertinggi didapat pada perlakuan P3T3 yaitu sebesar 471.67cm. Nilai CU dan Eap terendah terdapat pada perlakuan P1T1 yaitu sebesar 92.46% dan tertinggi pada perlakuan P2T3 yaitu sebesar 97.23%. Nilai DU terendah terdapat pada perlakuan P1T1 yaitu sebesar 88.01% dan tertinggi pada perlakuan P2T3 yaitu sebesar 95.59%. Seluruh kombinasi perlakuan layak untuk diaplikasikan ke lahan karena nilai CU melebihi 85%. Nilai DU dipengaruhi oleh nilai CU, makin besar nilai CU maka nilai DU juga semakin besar. Nilai DU yang tinggi menggambarkan bahwa distribusi penyebaran air makin bagus dan makin merata di tiap wadah penampung.

Kata kunci: coefficient uniformity, distribution uniformity, kebutuhan air

Abstract

Water demand always increasing with population growth, one of them is water demand for irrigation in dry season. When the dry season , water demand for irrigation become increased, needs alternative solution to improve efficiency water usage. One of alternative is sprinkler irrigation. The benefits of sprinkler irrigation is high efficiency of water usage. The performance sprinkler irrigation system is compatible with uniformity coefficient standard with 85 % to be applied onto the land. The method of the research is quantitative descriptive data analysis. Research attempts to describe the analysis. The research using the combination of Riser Pipe Height and Pump Pressure. Riser Pipe Height (T) is 50, 100 and 150 centimeters. Pump Pressure (P) is 1, 2 and 3 bar. The purpose of collected data in this research is to understand CU (coefficient uniformity), DU (distribution uniformity) and Eap (water usage efficiency). Result of this research is the lowest sprinkler distance is discovered at P1T1 with 166 cm whereas the highest sprinkler distance found at P3T3 with 471.67 cm. The lowest CU and Eap rate is discovered at P1T1 with 92.46 %, whereas the highest found at P2T3 with 97.23 %. The lowest DU are observed at P1T1 with 88.01 % while the highest is at P2T3 with 95.59 %. All combinations of treatments are reliable to be applied on field because CU exceeds 85 %. Meanwhile, DU is influenced by CU, meaning that the higher CU is also the higher DU. Higher level of DU describes that the distribution of water spread is good and evenly spread in each receptacle.

(2)

164 PENDAHULUAN

Kebutuhan air terus meningkat seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, salah satunya adalah kebutuhan air untuk irigasi. Permasalahan yang terjadi yaitu peningkatan kebutuhan air irigasi pada musim kemarau panjang seperti yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia memasuki awal bulan Mei 2014 sampai bulan September 2014. Wilayah seperti Jawa, Bali, NTB, NTT dan sebagian Sulawesi tercatat bahwa curah hujannya rendah (Primus, 2014). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan sebanyak 86 kabupaten atau kota di 20 provinsi wilayah Indonesia mengalami kekeringan. Musim tanam tahun 2007 – 2008 atau periode Oktober – Maret, luas areal persawahan di Indonesia mengalami puso atau gagal panen diperkirakan mencapai 103.197 ha. Khusus untuk periode Januari – April 2008, luas kekeringan mencapai 14.300 ha dan puso 2.189 ha. Kemudian pada musim tanam 2006 – 2007, areal persawahan yang mengalami puso seluas 75.249 ha. Berdasarkan data kedua periode bahwa lahan yang mengalami puso telah meningkat sebesar 37,14%. Musim kemarau berkepanjangan di tahun 2014 mengakibatkan beberapa lahan puso di beberapa wilayah Indonesia. Kementerian Pertanian mencatat total areal lahan yang puso mencapai 30.000 hektar (BPBD Kabupaten Pasuruan, 2014).

Permasalahan kekeringan di Indonesia membutuhkan alternatif yang dapat menghemat penggunaan air terutama saat musim kemarau sehingga petani memperoleh pendapatan pada musim kemarau, tidak hanya pada musim penghujan. Alternatif yang digunakan berupa kemajuan teknologi di bidang irigasi yaitu irigasi curah (sprinkler irrigation). Irigasi curah (sprinkler irrigation) merupakan pemberian air irigasi dengan cara menyemprotkan air ke udara dan menjatuhkannya di sekitar tanaman seperti hujan. Peran irigasi curah (sprinkler irrigation) bagi tanaman sangat penting, sehingga perlu diketahui kinerja dari sistem irigasi curah (sprinkle irrigation). Kinerja desain sistem irigasi curah (sprinkler irrigation) yang baik akan memberikan efisiensi penyiraman yang baik. Kinerja desain sistem irigasi curah (sprinkler irrigation) dapat dievaluasi atau diuji sehingga dapat diketahui bahwa desain sistem irigasi dapat digunakan sebagai acuan aplikasi di lahan dengan menghitung nilai koefisien keseragaman desain irigasi curah. Aplikasi sistem irigasi di lahan membantu petani meningkatkan produktifitas tanpa dipengaruhi musim hujan dan musim kemarau. Desain sistem irigasi curah (sprinkler irrigation) dapat diaplikasikan pada tanaman buah – buahan misalnya tanaman dengan ketinggian diatas 60cm.

Parameter pengujian kinerja desain irigasi curah yaitu nilai tingkat keseragaman (CU). Nilai standar koefisien keseragaman (CU) kinerja sistem irigasi curah yang harus dicapai yaitu ≥85%. Nilai tersebut harus terpenuhi karena berdasarkan kriteria tingkat keseragaman ASAE bahwa nilai koefisien keseragaman dikatakan baik ketika mencapai

≥85%, nilai tingkat keseragaman (CU) sebesar <50% maka dinyatakan kriteria “Tidak Layak”, nilai tingkat keseragaman (CU) sebesar 56%-62% maka dinyatakan “Jelek”, nilai tingkat keseragaman 68%-75% maka dinyatakan “Cukup Baik”, nilai tingkat keseragaman (CU) sebesar 81%-87% maka dinyatakan “Baik” dan nilai tingkat keseragaman (CU) sebesar 94%-100% maka dinyatakan “Sangat Baik” (Freddie dkk., 2003).

(3)

165 deskriptif kuantitatif dengan menggambarkan hasil analisis penelitian yang dilakukan. Data kuantitatif merupakan data dalam bentuk angka. Penelitian dilakukan di laboratorium Teknik Sumber Daya Alam dan Lingkungan dengan kombinasi tinggi pipa riser dan tekanan pompa. Tinggi pipa riser (T) yang digunakan dalam penelitian yaitu 50, 100 dan 150 cm. Tekanan pompa (P) yang digunakan yaitu 1, 2 dan 3 bar. Perlakuan pertama yaitu kombinasi P1T1, kemudian P1T2, P1T3, P2T1, P2T2, P2T3, P3T1, P3T2 dan P3T3. Pelaksanaan pengambilan data mengacu pada prosedur penelitian terdahulu. Prosedur pengambilan data yaitu alat dan bahan dipersiapkandan dipasang dalam suatu rangkaian. Kemudian ditentukan luas lahan 15m x 2,5m yang selanjutnya dibuat menjadi 3 plot segiempat dengan ukuran 2,5m x 2,5m untuk peletakan sprinkler dengan 3 macam riser. Catch diletakkan di sekitar sprinkler, sistem irigasi sprinkler dioperasikan kemudian diukur :

a. debit pada pipa utama;

b. volume air tertampung dari sprinkler; c. jarak pancaran dan luas sebaran; d. keseragaman koefisien;

e. distribusi keseragaman;

f. efisiensi penggunaan air; serta diulang kembali sebanyak 3 kali pengulangan tiap perlakuan.

Pengambilan data uji kinerja desain irigasi curah berupa debit pipa utama dengan menggunakan Persaman (1) yaitu :

Q = V/t ... (1) dimana

Q = debit (l/jam)

V = volume tampungan (l)

T = waktu operasi tampungan (jam)

selanjutnya pengujian jarak pancaran menggunakan roll meter diukur dari sprinkler sampai pancaran terjauh. Kemudian dilakukan perhitungan koefisien keseragaman dengan Persamaan (2) yaitu :

... (2)

dimana

CU = koefisien keseragaman

Xi = nilai masing-masing pengamatan

X = nilai rata-rata pengamatan.

Perhitungan keseragaman distribusi menggunakan Persamaan 3 yaitu :

... (3)

Pengujian Efisiensi penggunaan air (Eap) menggunakan Persamaan 4 yaitu :

... (4) dimana

CU = koefisien keseragaman

Re = proporsi air yang sampai pada permukaan tanah

(4)

166 Bahan dan Alat

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air. Air digunakan sebagai media pengujian irigasi curah.

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: pompa bertekanan tinggi CHP 15 RTN, manometer, pipa PVC AW 1inchi sebagai pipa utama, pipa PVC AW

¾inchi sebagai pipa lateral, pipa PVC AW ½ inchi sebagai pipa riser dengan ketinggian 50cm, 100cm dan 150cm; sprinkler‘’Whilmac’’ tipe challenger ½ inchi BSP, tendon, botol plastik (catch), gelas ukur dengan volume 2000mL dan 5000mL, stop watch,roll meter, lem pipa PVC, shock drat ukuran 1inchi, ¾ inchi dan ½ inchi, shock drat luarukuran 1inchi, ¾ inchi dan ½ inchi, knee ¾ inchi, filter ‘’Disc Filter 1 inchi AZD’’, gergaji, TBA B solasi pipa, selang plastik, Tee drat ¾ inchi dan ½ inchi, end plug 2 buah; stopkran 2 buah.

Prosedur Penelitian Pengambilan Data

Prosedur pengambilan data yaitu persiapan alat dan bahan dan dipasang dalam suatu rangkaian dimana rangkaian tersebut digunakan untuk mewakili satu kali perlakuan, perlakuan berikutnya dapat diulang dengan rangkaian desain yang sama.

Menentukan luas lahan 15m x 2,5m yang selanjutnya dibuat menjadi 3 plot segiempat dengan ukuran 2,5m x 2,5m untuk peletakan sprinkler dengan 3 macam riser berbeda. Meletakkan corong dan catch di sekitar sprinkler. Mengoperasikan sistem irigasi sprinkler kemudian melakukan pengukuran debit pada pipa utama, volume air tertampung dari sprinkler, jarak pancaran dan luas sebaran, keseragaman koefisien, distribusi keseragaman, efisiensi penggunaan air.

Pengolahan Data

Pengolahan data yang dilakukan terhadap data kinerja irigasi sprinkler meliputi debit pada pipa utama dan debit sprinkler volume air tertampung, jarak pancaran atau luas sebaran dapat dihitung dengan pesamaan tingkat keseragaman air (CU), tingkat distribusi penyebaran air (DU) dan Eap (efisiensi penggunaan air).

Pengamatan dan Analisis Data

Pengamatan yang dilakukan yaitu pengamatan terhadap perbedaan hasil uji kinerja masing – masing perlakuan dengan kombinasi tinggi pipa riser dan tekanan pompa seperti hasil debit, jarak pancaran dan luas sebaran, volume air yang tertampung serta keseragaman masing – masing perlakuan. Kemudian dari seluruh data hasil uji kinerja masing – masing perlakuan dianalisis dan dibandingkan. Analisis data hasil pengamatan diharapkan dapat memberikan output yang bermanfaat dan menjawab rumusan masalah dari penelitian. Output yang diharapkan dari hasil penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan kombinasi tinggi pipa riser dengan tekanan pompa terhadap peningkatan distribusi keseragaman irigasi curah serta diharapkan dari hasil penelitian dapat diketahui kombinasi tinggi pipa riser dan tekanan pompa yang mampu mencapai nilai CU 85% atau lebih.

HASIL DAN PEMBAHASAN

(5)

167 komponen seperti pompa, rangkaian pipa utama, pipa lateral, pipa riser dan spinkler. Komponen – komponen jaringan irigasi curah memiliki fungsi yang berbeda – beda. Pompa berfungsi untuk memompa air dari sumber air ke rangkaian pipa. Pipa utama berfungsi menyalurkan air dari sumber air ke pipa lateral. Pipa lateral berfungsi meneruskan atau mengalirkan air dari pipa utama ke pipa riser. Pipa riser atau pipa peninggi dibuat untuk mengalirkan air ke sprinkler. Sprinkler berfungsi untuk memecah air menjadi butiran – butiran kecil menyerupai hujan. Berikut adalah tabel estimasi kebutuhan komponen desain irigasi curah dapat dilihat pada Tabel 1. Komponen irigasi curah dapat disesuaikan jumlahnya dengan faktor kebutuhan. Faktor kebutuhan yang sering dipertimbangkan misalnya usia tanaman, luasan lahan, topografi, jenis tanaman, biaya dan lainnya.

Tabel 1. Estimasi Kebutuhan Komponen Desain Irigasi Curah

No Nama Jenis Ukuran Jumlah

1 Pompa Crown Pump HP 15

RTN 1 set 1 buah

2 Filter AZD 1 inchi 1 buah

3 Stop kran - 3/4 - 1 inchi 2 buah

4 Manometer Wipro - 3 buah

5 Pipa utama PVC 1 inchi 1,5 m

6 Pipa lateral PVC 3/4 inchi 15 m

7 Pipa riser PVC 1/2 inchi 12 m

8 Sprinkler Challenger 1/2 inchi 12 buah

9 Shock drat PVC 3/4 - 1 inchi 24 buah

10 Tee drat PVC 3/4 - 1/2 inchi 13 buah

11 Tangki reservoir - - 1 buah

12 Solasi PVC Thread seal tape slop 1 slop

13 Lem pipa - 1/2kg 1 buah

14 Knee PVC 3/4 inchi 2 buah

15 End plug PVC 3/4 inchi 2 buah

Pengujian debit pipa utama

Pengujian debit pipa utama ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Perhitungan Debit Rata – rata Pipa Utama DEBIT PIPA UTAMA (Q)

Tekanan pompa 1 bar 2 bar 3 bar

rata - rata (mL/menit) 17.700 23.500 28.500

(6)

168 atau berbanding lurus. Khusnul Yaqin (2004) melakukan penelitian tentang pengaruh tekanan dan tinggi pipa riser menggunakan tiga tekanan (20 Psi, 25 Psi ,30 Psi) dan panjang pipa riser 75cm, 100cm dan 125cm bahwa makin besar tekanan yang diberikan maka distribusi keluaran sprinkler makin besar dan makin panjang pipa riser maka distribusi keluaran sprinkler makin kecil. Handayani Diah Puspitarini (2007) juga melakukan penelitian tentang sistem irigasi curah dimana faktor yang digunakan ada 2 yaitu tekanan (P) terdiri dari 2 taraf yaitu tekanan 15 psi dan tekanan 25 psi, ketinggian riser terdiri dari 3 taraf yaitu ketinggian riser 50 cm, 100 cm, dan 150 cm menghasilkan kesimpulan bahwa tekanan dan tinggi pipa riser mempunyai pengaruh terhadap debit keluaran dan pengaruh interaksi antar perlakuan tersebut berbeda nyata. Tekanan dan tinggi pipa riser yang makin besar maka debit keluaran juga makin besar.

Pengujian jarak pancar

Jarak pancaran sprinkler diukur menggunakan roll meter dari penempatan sprinkler sampai pancaran terjauh. Berdasarkan data hasil pengujian didapatkan bahwa nilai jarak yang dihasilkan berbeda – beda tergantung dari perlakuan yang diberikan berupa kombinasi tekanan pompa dan tinggi pipa riser. Berikut data hasil pengujian jarak pancar sprinkler.

Tabel 3. Pengukuran Jarak Pancar (m).

Tinggi riser (cm) Tekanan pompa

3 bar 2 bar 1 bar 50 3.10 2.57 1.66 100 4.57 3.03 2.87 150

4.72 3.00 2.93

Jarak pancar rata – rata yang terendah didapat pada kombinasi P1T1 yaitu sebesar 166cm. Jarak pancaran sprinkler rata – rata yang tertinggi didapat pada kombinasi P3T3 yaitu sebesar 471.67cm. Tekanan pompa mempengaruhi seberapa jauh jarak pancaran sprinkler, makin besar tekanan yang diberikan maka semakin besar pula jarak pancar yang dihasilkan. Ketinggian riser juga mempengaruhi seberapa jauh jarak pancaran sprinkler, makin tinggi riser maka pancaran makin luas daerah yang dapat dijangkau. Menurut Khairiah (2014) bahwa jarak pancaran dapat meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan yang bekerja, bertambahnya ukuran nozzle dan juga bertambahnya kemiringan sudut dari nozzle.

Tekanan pompa mempengaruhi seberapa luas sebaran sprinkler, makin besar tekanan yang diberikan maka semakin besar pula luas sebaran yang dihasilkan. Ketinggian riser juga mempengaruhi seberapa luas sebaran sprinkler, makin tinggi riser maka sebaran makin luas sesuai dengan teori dari Hansen, dkk (1980) yang menyatakan bahwa pada tekanan yang rendah maka wilayah yang diairi akan lebih sempit. Handayani Diah Puspitarini (2007) melakukan penelitian tentang sistem irigasi curah dimana faktor yang digunakan ada 2 yaitu tekanan (P) terdiri dari 2 taraf yaitu tekanan 15 psi dan tekanan 25 psi, ketinggian riser terdiri dari 3 taraf yaitu ketinggian riser 50 cm, 100 cm, dan 150 cm menghasilkan kesimpulan bahwa makin besar tekanan dan tinggi pipa riser maka luas sebaran sprinkler makin besar.

(7)

169 (coefficient uniformity).

Tabel 4. Hasil Pengujian CU (Coefficient Uniformity).

TEKANAN ( P) TINGGI RISER (cm)

T1 T2 T3

P1 92.46% 92.49% 92.75%

P2 93.61% 94.13% 97.23%

P3 96.72% 93.70% 93.48%

Nilai CU hasil pengujian yang terendah terdapat pada kombinasi perlakuan P1T1 yaitu sebesar 92.46%. Nilai CU yang tertinggi terdapat pada saat kombinasi perlakuan P2T3 yaitu sebesar 97.23%. Secara keseluruhan nilai hasil pengujian CU dapat dikategorikan “Baik” karena telah memenuhi nilai 81% - 87% sesuai dengan kriteria nilai CU menurut ASAE. Kombinasi perlakuan P2T2, P2T3 dan P3T1 dikategorikan “Sangat Baik” karena telah memenuhi nilai 94% - 100% sesuai dengan kriteria nilai CU menurut ASAE. Menurut Meriem et .al . (1981), distribusi air yang tidak merata akan memperbesar nilai deviasi sehingga koefisien keseragaman menjadi kecil.Koefisien keseragaman dipengaruhi oleh nilai rata-rata debit keluaran dan nilai deviasinya. Deviasi yang besar mengakibatkan nilai koefisien keseragaman semakin kecil. Nilai koefisien yang kecil menunjukkan sistem irigasi tersebut kurang baik dalam pemberian air yang seragam pada masing-masing tanaman.

Berdasarkan tingkat efisiensi irigasi curah dengan standar nilai koefisien keseragaman (CU) ≥85% semua kombinasi perlakuan dapat diaplikasikan ke lahan sesuai dengan Prastowo (2003) menyatakan bahwa sistem irigasi curah yang diterapkan di Indonesia memiliki nilai koefisien keseragaman (CU) 57-87%, dan standar CU

≤85%. Pengaplikasian di lahan dengan kombinasi perlakuan P2T3 lebih dipilih karena mampu menghasilkan nilai CU tertinggi yaitu sebesar 97.23%. Tekanan mempengaruhi besarnya nilai CU, makin besar tekanan pompa yang diberikan maka nilai CU juga makin besar atau berbanding lurus. Ketinggian riser juga mempengaruhi nilai CU, makin tinggi pipa riser maka nilai CU yang dihasilkan makin rendah atau berbanding terbalik, ketika keduanya dikombinasikan perlakuan tekanan pompa dan tinggi pipa riser mempengaruhi nilai CU yang menghasilkan P2T3 tertinggi. Menurut Khairiah (2014) bahwa kecilnya nilai CU dan DU disebabkan oleh rendahnya tekanan dan tingginya kecepatan angin mengakibatkan butiran – butiran air yang lebih kecil mengalami evaporasi sehingga pendistribusian tidak merata.

Pengujian DU

Tingkat distribusi penyebaran air dinilai dengan menggunakan indeks DU(distribution uniformity). Nilai DU yang tinggi dapat diindikasikan bahwa tingkat distribusi penyebaran air juga baik.

Tabel 5. Hasil Pengujian DU (Distribution Uniformity).

TEKANAN ( P) TINGGI RISER (cm)

T1 T2 T3

P1 88.01% 88.06% 88.47%

(8)

170

P3 94.79% 89.98% 89.63%

Berdasarkan tabel bahwa nilai tingkat distribusi penyebaran air atau DU yang terendah terdapat pada saat tekanan pompa sebesar 1 bar dan tinggi riser 50cm atau kombinasi perlakuan P1T1 yaitu sebesar 88.01%. Nilai tingkat distribusi penyebaran air atau DU yang tertinggi terdapat pada saat tekanan pompa sebesar 2 bar dan tinggi riser 150cm atau kombinasi perlakuan P2T3 yaitu sebesar 95.59%. Nilai DU dipengaruhi oleh nilai CU, makin besar nilai CU maka nilai DU juga makin besar. Menurut Meriem et .al . (1981), distribusi air yang tidak merata akan memperbesar nilai deviasi sehingga koefisien keseragaman menjadi kecil.Koefisien keseragaman dipengaruhi oleh nilai rata-rata debit keluaran dan nilai deviasinya. Deviasi yang besar mengakibatkan nilai koefisien keseragaman semakin kecil. Nilai koefisien yang kecil menunjukkan sistem irigasi tersebut kurang baik dalam pemberian air yang seragam pada masing-masing tanaman. Nilai DU dari masing – masing kombinasi perlakuan telah mencapai nilai diatas 85%. Nilai DU yang tinggi menggambarkan bahwa distribusi penyebaran air makin bagus dan makin merata di tiap wadah penampung.

Pengujian Eap

Pengujian Eap ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Pengujian Eap (Efisiensi Penggunaan Air).

TEKANAN ( P) TINGGI RISER (cm)

T1 T2 T3

P1 92.46% 92.49% 92.75%

P2 93.61% 94.13% 97.23%

P3 96.72% 93.70% 93.48%

Berdasarkan Tabel 6., nilai efisiensi penggunaan air yang terendah terdapat pada saat tekanan pompa sebesar 1 bar dan tinggi riser 50cm atau kombinasi perlakuan P1T1 yaitu sebesar 92,46%. Nilai efisiensi penggunaan air yang tertinggi terdapat pada saat tekanan pompa sebesar 2 bar dan tinggi riser 150cm atau kombinasi perlakuan P2T3 yaitu sebesar 97,23%. Nilai efisiensi penggunaan air (Eap) dipengaruhi oleh nilai CU, makin besar nilai CU maka nilai Eap juga makin besar. Nilai Eap dari masing – masing kombinasi perlakuan telah mencapai nilai diatas 85%. Nilai efisiensi yang tinggi menggambarkan bahwa desain irigasi curah layak untuk diaplikasikan.

KESIMPULAN

(9)

171 DAFTAR PUSTAKA

Benami, A. dan A. Ofen. 1984. Irrigation Engineering. Irrigation Engineering Scientific, Israel Institute of Technology.

BPBD Kabupaten Pasuruan. 2014. Kekeringan dan Cara Mengatasinya. BPBDKP ed. Selasa, 13 Mei 2014 , Pasuruan.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Depatemen Pertanian. 2008. Pedoman Irigasi Bertekanan (Irigasi Sprinkler dan Irigasi Tetes), Jakarta.

Freddie R. Lamm, Danny H. Rogers and William E. Spurgeon. 2003. Design and Management Considerations for Subsurface Drip Irrigation Systems. KSU Northwest Research Extension Center, 105 Experiment Farm Road, Colby, Kansas 67701.

Hansen, E.O., O. E. Israelsen dan G. E. Stringham. 1980. Irrigation Principles and Practices. John Willey and Sons, New York.

Keller, I. Karmeli D dan Bliensner. 1990. Trickle Irrigation Design Edition. Rain Bird. SprinklerMfg.Crop., Glendora.

Khairiah, Nur Intan. 2004. Evaluasi Kinerja Penggunaan Air Irigasi Sprinkler Studi Kasus Di Kabupaten Enrekang. Skripsi. Universitas Hasanuddin. Makasar. Kiik, Vincensius Paskalis. 2011. Kajian System Irigasi Sprinkler Di Desa Oesao

Kabupaten Kupang. Skripsi. Universitas Nusa Cendana. Makassar.

Kurnia, U. 2004. Prospek Pengairan Pertanian Tanaman Semusim Lahan Kering. Jurnal Litbang Pertanian. 23(4):130-138.

Meriem, J.I., M.M. Shearer, C.M, Burt. 1981. Evaluating Irrigation System and Practice. Trans of ASAE, Michigan.

Najiyati dan Danarti. 1996. Petunjuk Mengairi dan Menyiram Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.

Prastowo. 2003. Teknologi Irigasi Hemat Air. Pelatihan Aplikasi Teknologi Irigasi Sprinkler dan Drip. CREATA-IPB. Bogor.

Primus, Josephus. 2014. Petani Wanita Ini Mengali Kerugian, Seluruh Sawahnya Kekeringan Akibat Kemarau. Kompas ed. Rabu, 22 Oktober 2014. Jakarta. Puspitarini, Handayani Diah. 2007. Pengaruh Tekanan dan Tinggi Pipa Riser Terhadap

Gambar

Tabel 1. Estimasi Kebutuhan Komponen Desain Irigasi Curah

Referensi

Dokumen terkait