Mutiara Cinta di Pagi Senggigi1 Slamet Tuharie Ng
Desir ombak terdengar merdu dari balik jendela kamar penginapanku. Suaranya seperti mengajakku tuk bermain dengan gulungan ombak pagi itu. Sayang, hari masih terlampau gelap tuk melepas selimut yang membalutku hangat. Tapi, karena letak kamarku yang tak lebih sebahu dari bibir Pantai Senggigi, membuatku terus terganggu dengan desiran ombak yang terus menyanyi merdu. Aku terperanjat.
Kulihat arlojiku yang kuletakkan di atas meja sebelah ranjang. Memastikan tak akan kehilangan waktu tuk menikmati sunrise yang dipenuhi warna kuning keemasan. Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 WITA. Itu artinya, tak lama lagi matahari akan terbangun dari peraduannya. Ya, aku harus menjemputnya. Tanpa berpikir panjang, segera kulangkahkan kakiku menuju bibir Pantai Senggigi. Dan betapa senangnya, ternyata kedatanganku telah disambut oleh gulungan ombak yang ingin memelukku mesra. Mungkin ia merasa bangga karena tlah berhasil membangunkanku dan memutuskan safariku malam ini.
Sembari menunggu matahari terbangun, kakiku sepertinya tak mau diam. Ia menuntunku tuk menjamah bibir pantai yang masih perawan pagi itu. Pun, sepanjang ku melangkah ke bibir Senggigi, tak kulihat jejak kaki seorang manusia yang telah lebih dulu menjamahnya dari padaku. Aku menjadi yang pertama. Berkeliling melintasi bibir senggigi hingga sampai pada sebuah Pura yang berdiri megah layaknya Pura di Tanah Lot, Bali. Tak jauh beda, suasana dan arsiteknya hampir-hampir sama. Pun dengan pepohonan rindang di sekelilingnya. Mencipta suasana sejuk bagi para tamu Sang Hyang Widi Wasa.
Tak terasa, sudah lebih 30 menit aku menanti sang mentari. Tapi, agaknya ia telat bangun atau mungkin lupa tuk menyinari secengkal tanah surga di Pulau Lombok ini. Mungkin juga karena aku yang terlalu pagi menanti, atau mentari yang malas tuk beranjak dari bersafari? Ya, meski begitu, aku harus bersabar menantinya. Karena aku ingin sekali melihatnya mewarnai kilahan air laut pagi seperti cerita teman-temanku yang telah lebih dahulu menjelajah Senggigi. Penasaran sekali.
Tak lama kemudian, setelah aku mengadu pada mentari, ia pun mulai terusik Sedikit demi sedikit, ia pun muncul dari balik awan yang cukup tebal di awang-awang. Kemilaunya kuning keemasan. Mengalahkan semua cahaya yang ada di muka bumi. Menjadi sumber cahaya dari segala cahaya yang pernah dicipta oleh Sang Maha Pencipta. Indah sekali. Meski
aku baru melihatnya setitik. Aku begitu menikmatinya. Tak rugi aku memutuskan diri dari safari, karena kali ini aku melihat keindahan yang nyata di depan mata.
Pun desiran ombak semakin terdengar keras, seperti mencipta harmoni bahagia atas nikmat Sang Pencipta yang telah meneteskan cahaya-Nya. Airnya tampak kekuningan, juga karangnya yang tak terlalu tampak hitam. Sungguh luar biasa alam ini. Panoramanya begitu indah. Hawanya begitu sejuk dan airnya begitu jernih. Sangat eksotis. Hingga mengingatkanku pada lagu Nyiur Hijau yang kudendangkan ketika masih duduk di bangku SD. Kala itu, aku hanya bisa membayangkan betapa indahnya pantai, tanpa bisa melihat kenyataannya. Tapi kini benar-benar nyata. Di depan mata kunikmati itu semua.
****
Tak jauh dari tempatku berdiri, ternyata banyak orang dengan kulit yang berbeda tengah menikmati alam Senggigi pagi. Ya, mereka bukan orang pribumi. Rambutnya yang pirang dan badannya yang besar dan tinggi menegaskan kalau mereka adalah pelancong dari negeri seberang. Kulihat senyumnya dan kadang tawa lepasnya ikut mengihasi bibir pantai. Pun mereka mengabadikan momen indahnya dengan kamera-kamera DSLR-nya. Mungkin memori pagi ini akan dijadikannya bahan pamer untuk teman dan keluarga mereka yang tak ikut menyeberang ke alam Lombok.
Sayang, sangkin semangatnya aku keluar dari kamar, hingga tak kubawa kamera yang sudah kusiapkan sedari semalam. Aku lupa. Terhanyut pada panggilan ombak yang memanggilku tuk menikmati bibir Senggigi. Ya, pun aku hanya bisa melihat pelancong-pelancong negeri seberang itu berfoto-foto dengan berbagai pose yang sangat aneh menurutku. Mungkin bagi mereka itu pose yang biasa-biasa saja, tapi tak untukku. Bagiku, itu terlalu vulgar. Apalagi di Bumi Nusantara yang katanya agak “ketimuran”. Tapi tak apa. Aku masih bisa menikmatinya.
Hari sudah terang, ku ayunkan kaki menuju karang di seberang. Batunya licin dan permukaannya keras. Tapi, meski begitu, toh ombak masih mampu memecahkannya. Hingga terjangan ombak yang terus-menerus menyerangnya, membuat bentuk bebatuan karang begitu estesis. Pun aku memberanikan diri tuk menapakkan kaki di atas batu karang yang tajam, meski tanpa sepasang sandal sebagai alas. Aku yakin, asalkan aku berhati-hati, tak ada masalah yang menimpaku.
tengah berenang indah dengan gaya bebasnya. Sembari mencari rizki di sela-sela batu karang yang mengakar ke dasar laut. Kulihat, mereka tertawa bahagia. Syukur atas nikmat-Nya, walau hanya sekadar menebus lapar di pagi ini.
“Mas, mau mutiara mas?” Ucap seorang anak kecil mengagetkanku. Aku diam. Panggilannya ku abaikan. Ia pun berlalu dan menjauh dariku. Ya, aku memang kagum dengan mutiara dan kutahu Pulau Lombok terkenal dengan mutiaranya yang indah-indah. tapi entah mengapa aku seperti belum tertarik untuk memilikinya.
“Mas, side2 mau mutiara. Ini bagus-bagus. Boleh dilihat dulu.” Kembali aku ditawari mutiara oleh penjual keliling di pinggiran pantai.
Tapi kali ini laki-laki paruh baya yang mencoba mendekatiku. Kembali kugelengkan kepala. Tanda menolak tawarannya. Bagiku kedatangannya telah mengacaukan lamunanku dan candaku pada ikan-ikan elok dibalik karang. Ia pun berlalu membawa serta mutiaranya. Begitu pula dengan ikan-ikan dibalik karang yang kembali masuk ke peraduannya. Mereka bersembunyi dari pandanganku.
“Kakak, aku punya mutiara. Coba kakak lihat, pasti kakak suka.” Tawaran ketiga kalinya untukku.
Kali ini terdengar seperti suara anak perempuan. Dan seperti sebelumnya, aku pun hanya menggelengkan kepala. Tanda menolak tawarannya. Meski sekadar melihatnya barang sejenak.
“Coba dulu lah Kak dilihat, Kakak pasti suka.” Ucapnya memelas. Aku pun akhirnya tak tega mendengar suaranya. Sepertinya, ia sangat menaruh harapan agar aku bisa membeli mutiaranya. kubalikkan badanku. Berbalik ke arah gadis kecil yang membawa tas hitam berisi mutiara Lombok. Aku menjauh dari karang dan mendekatinya. Ia pun tersenyum melihatku menuju tempatnya berdiri. Dengan senang hati, sebelum sempat aku berucap, gadis kecil itu sudah membuka tas hitamnya lebih dulu. Aku menghela nafas sejenak, karena aku telah dibuat kagum oleh butiran-butiran mutiara indah yang disimpan di balik tasnya yang sangat sederhana.
Tak kusangka, Tuhan ternyata menurunkan serta mutiara-Nya di pulau surga ini. Mataku benar-benar dimanjakan oleh kilauan mutiara yang telah terbalut dalam kalung, gelang, cincin, liontin, dan bros-bros hasil karya masyarakat pribumi Lombok. Luar biasa. Ini pengalaman pertamaku, melihat mutiara-mutiara indah yang ada di belahan timur bumi Nusantara.
“Kakak mau yang mana?” Tanyanya dengan senyum penuh arti.
2
“Sebentar, kakak pilih-pilih dulu ya.” Jawabku sambil memilah satu demi satu mutiara-mutiara indahnya.
“Iya Kak, pilih saja yang kakak suka. Ada mutiara air laut dan mutiara air tawar.” Ucapnya berusaha menjelaskan kepadaku layaknya seorang sales profesional.
Aku tersenyum. Bagiku gadis kecil ini sudah cukup pandai untuk menjadi penjual mutiara. Ia pun terus menjelaskan, hingga membuatku gemas dengannya. Ia sangat cerewet dan membuatku ingin sekali mencubitnya. Menggemaskan. Tapi entah mengapa, setelah aku memilah satu demi satu mutiara indahnya, belum juga kutentukan pilihanku. Yang mana yang akan kubeli? Meski awalnya aku terpukau dengan keindahan mutiara koleksinya, tapi kini aku seolah tak punya pilihan. Semuanya sepertinya sama dan bentuknya tak ada yang istimewa. Tapi aku tak enak hati jika tak membelinya, meski barang sebutir. Aku takut gadis kecil itu akan kecewa.
“Kak, jadinya pilih yang mana?” Tanyanya untuk kesekian kali. “Emmm, kalau yang selain ini ada tidak. Kakak kurang tertarik dengan bentuk-bentuknya.” Jawabku penuh hati-hati.
“Ada Kak, tapi...” “Tapi kenapa?”
“Tapi...” Jawabnya membuatku penasaran. “Tapi kenapa De?”
“Tapi sebenarnya aku tidak mau menjualnya.” “Kenapa tidak dijual?”
“Karena mutiara itu jarang sekali ditemukan Kak.”
Aku semakin penasaran dengan sikapnya yang seolah menyembunyikan sesuatu dariku. Kucoba merayunya agar ia mau menunjukkan mutiara yang tak mau dijual itu padaku. Tapi sepertinya ia ragu. Wajahya seperti tak mempercayaiku. Mungkin ia takut kalau aku akan membawa mutiara yang sangat berharga baginya. Rasa penasaranku pun membuatku berusaha tuk terus membujuknya agar ia menunjukkannya padaku.
“Mana De, boleh kakak lihat?” Bujukku.
“Aku takut Kak. Takut kalau mutiara yang kusimpan ini akan diambil oleh Kakak.” Jawabnya polos.
“Mana mungkin Kakak berbuat jahat untuk gadis kecil yang pintar ini.”
“Beneran ya Kak.” “Ya. Kakak janji deh.”
mataku. Terkepal. Aku semakin penasaran saja dibuatnya. Kupintanya untuk membuka kepalannya. Tapi sepertinya ia masih ragu. Namun, kucoba meyakinkannya bahwa aku bukanlah orang yang jahat. Ia pun akhirnya percaya dan kepalan tangannya perlahan-lahan dibuka.
Aku mengela nafas sejenak. Bersiap melihat mutiara rahasia gadis kecil ini. Keperhatikan dengan seksama. Jari-jarinya mulai membuka. Guratan warna putih susu sedikit terintip oleh mata. Lagi-lagi aku dibuat penasaran olehnya. Dan setelah sekian detik aku menunggu, kepalan tangannya akhirnya terbuka sempurna. Di telapak tangan kanannya, kulihat sebutir mutiara air laut berbentuk hati. Lambang cinta.
“Woooowwww. Luar biasa.” Ucapku terkagum-kagum. “Kakak tak boleh pegang, hanya boleh melihat.”
“Baiklah. Kakak hanya akan melihatnya di telapak tangan mungilmu.”
“Bagaimana Kak, bagus tidak?”
“Bagus sekali. Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Sebenarnya...” Ia pun berhenti sejenak. Membuat rasa penasaran bertambah.
“Dari mana De?”
“Sebenarnya aku mendapatkannya dari kerang yang kutemukan di atas karang itu.” Jawabnya sambil menunjuk ke arah batu karang yang kujadikan pijakan tadi.
“Berapa kau akan jual mutiara indah ini?” “Aku tidak akan menjualnya.”
“Apa mutiara ini juga tidak akan dijuak untuk Kakak?” Rayuku. Ia tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala. Isyarat tak sepakat atas tawaranku. Tak kusangka, pendiriannya begitu kuat. sampai aku menawar dengan harga yang cukup tinggi, ia pun tak bergeming. Aku jadi semakin yakin, mutiara itu pasti mengandung cerita yang menurutnya luar biasa. Sehingga ia begitu menjaganya.
Tak kusadari, ternyata matahari sudah semakin menyengat. Para pelancong yang sedari pagi tampak berpose di kejauhan sana, kini sudah tak tampak ada. Semuanya berlalu bersama sejuta kenangan yang sudah diabadikannya. Aku jadi tak enak dengan gadis kecil yang bersamaku kini. Akhirnya kuputuskan untuk membeli sebuah bross bermata mutiara sebagai oleh-oleh untuk kekasihku yang ada di Jawa. Avi namanya. Kuharap ia akan senang menerima hadiah dari ku, meski sekadar bros dengan mutiara kecil yang menjadi matanya.
“De, ini uangnya.” Ucapku sambil memberinya uang pecahan lima puluh ribuan.
“Terimakasih Kak. Tapi aku belum ada kembalian Kak, karena baru bros ini yang terjual.”
“Tidak apa-apa De. Kembaliannya diambil saja. Oh ya, Kakak kan disini sendirian. Bagaimana kalau nanti sore temenin Kakak jalan-jalan di pantai sambil foto-foto?”
“Boleh Kak, kapan?”
“Nanti sore ya. Kakak tunggu disini. Sekitar jam 4 sore.” “Iya Kak.” Ucapnya sambil berlari.
Pagi yang cukup mengasyikkan. Kenangan bersama bidadari kecil di Pantai Senggigi. Tapi, karena cuaca yang sudah semakin panas, aku pun segera menuju ke hotel tempat ku menginap, membawa serta bros bermata mutiara untuk kekasihku tercinta yang telah lama menungguku jauh di sana.
****
Sore yang kunanti telah tiba. Saatnya kembali ke bibir Senggigi. Menepati janji tuk menunggu gadis kecil penjual mutiara pagi tadi. Dengan mengenakan kaos “I Love Lombok” berwarna putih, aku menuju tempat yang sudah disepakati. Tak lupa kubawa kamera tuk mengabadikan momen indah bersama si gadis kecil nanti. Aku tak mau seperti pagi tadi, karena tak membawa kamera, banyak momen indah yang tak bisa kuabadikan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di bibir Senggigi. Hanya beberapa puluh langkah dari daun pintu kamarku. Memang sengaja aku memilih penginapan yang berhadapan langsung dengan pantai. Agar aku bisa dengan mudah menikmati indahnya pantai yang terletak di sebelah barat pesisir Pulau Lombok ini. Ya, Senggigi. Pantai yang begitu mempesona dan siap membius mata setiap orang yang memandangnya. Terlebih, di sepanjang pesisir pantai, pohon-pohon tumbuh dengan suburnya. Hingga membuat angin menghembus sepoi-sepoi dan mencipta hawa yang begitu sejuk di sepanjang bibirnya.
Sembari menunggu gadis kecil mendatangiku, kumanfaatkan waktu tuk mengambil gambar. Bekal berbagi pengalaman dengan keluarga di rumah. Aku yakin, mereka pasti akan tertegun melihat keindahan pulau Lombok, karena pulau ini tak ubahnya percikan surga yang jatuh ke bumi.
Sebentar lagi, sore akan berganti petang. Matahari pun mulai berjalan menuju belahan bumi barat yang juga membutuhkan suguhan cahayanya. Seperti tadi pagi, langit nampak kekuning-kuningan. Kilahannya, bagaikan bongkahan emas yang mencair. Indah sekali. Tapi entah mengapa, gadis kecil yang kunanti belum juga tiba. Aku khawatir, dia tak menepati janjinya. Hari pun berubah menjadi gelap. Pun, aku kembali ke penginapanku, membawa serta kekecewaan. Dan sebelum langkahku genap sepuluh, kudengar seperti ada suara yang memanggil-manggil dari kejauhan.
“Kaaaak, tunggu Kak.” Teriaknya keras.
Aku menoleh, mencari sumber suara. Tapi, karena hari sudah mulai gelap, aku tak bisa melihat dengan jelas. Hanya ada tiga anak kecil yang seperti sedang berlari ke arahku. Kuperhatikan, sepertinya aku kenal. Ya, dialah gadis kecil yang aku tunggu sedari tadi. Perasaan sedihku pun berubah menjadi bahagia. Sebab ia menepati janjinya. Meski waktunya tak tepat. Tak apalah, yang penting niatnya untuk memenuhi janji sudah ia lakukan. Dan aku sangat bangga dengannya.
“Kaaakkk!!!” Teriaknya sambil berlari ke arahku. “Iyaaaaaaaa,” Sahutku padanya.
Akhirnya, ia pun sampai di depanku meski harus mandi keringat. Ia tersenyum. Pun denganku. Entah mengapa, tiba-tiba aku ingin sekali memeluknya.
“Kak, maafkan aku Kak. Karena aku terlambat.” Ucapnya merasa bersalah.
“Tidak apa-apa. Mereka siapa?” Tanyaku menunjuk dua bocah yang menemaninya.
“Mereka temanku Kak. Yang pakai kaos biru namanya Indra dan sebelahnya namanya Yudha.”
“Halo Kak.” Sapa mereka.
“Halo, senang sekali Kakak bisa bertemu dengan kalian. Oh ya, Kakak kan belum berkenalan denganmu. Siapa namamu De?” Tanyaku pada gadis kecil yang berada di depanku.
“Namaku Mulan Kak.” Jawabnya dengan senyuman manis.
Kami pun akhirnya bercanda ria dan sepakat tuk tidak jalan-jalan, karena hari sudah gelap. Aku takut jika orang tua mereka marah. Tapi, meski hari sudah gelap, kusempatkan diri tuk mengabadikan wajah-wajah imut mereka di kameraku. Siapa tahu bisa jadi obat rindu kala sudah berada di Jakarta. Aku sangat senang dengan suasana yang kutemui di Pantai Senggigi ini.
“Tidak Kak, kami sudah izin. Nanti orang tuaku akan menjemput kami disini.” Jawab Mulan.
“Baiklah kalau begitu.”
“Kak, bagaimana kalau kita buat api unggun Kak?” Usul Yudha. “Waaah, itu ide yang sangat bagus.”
Tanpa berpikir panjang, kami pun segera mengumpulkan dahan-dahan kering yang ada dipinggir pantai. Pepohonannya yang masih banyak, membuat kami tak merasa sulit tuk sekadar mengumpulkan dahan kering. Hanya sekitar 30 menit dan siap dinyalakan. Api unggun pun telah menyala. Kami pun bersama-sama menyanyikan lagu “Api Kita Sudah Menyala”, sama seperti ketika kemah dulu. Suasana pantai pun berubah menjadi hangat. Apalagi ketika kupandangi wajah bocah-bocah lucu ini dari cahaya yang ditimbulkan api. Semakin menambah hangatnya suasana. Kami pun duduk. Bercerita tentang Lombok yang kami ketahui.
“Kak, sebenarnya Kakak ini lagi liburan di Lombok ya?” Tanya Mulan.
“Oh ya, kakak belum cerita. Kakak ini ke Lombok dalam rangka penelitian.”
“Penelitian itu untuk apa Kak?” Tanya Indra penasaran. “Penelitian itu memperoleh pengetahuan yang baru.” “Oooooo” Jawabnya serentak.
Aku pun mencoba menjelaskan tentang kedatanganku ke Pulau Lombok dalam rangka penelitian tugas akhir kuliah. Entah mereka paham atau tidak yang penting aku sudah menyampaikannya. Aku sadar, berkomunikasi dengan anak-anak tak semudah dengan orang dewasa. Pun aku bercerita tentang ketertarikanku pada desa adat Suku Sasak atau yang dikenal dengan Desa Sade. Sebuah kampung yang masih mempertahankan keasliannya sebagai orang Sasak, yang letaknya di Kabupaten Lombok Tengah.
Mereka pun mendengarkan dengan seksama. Bahkan semuanya tahu tentang desa Sade dan kebiasaan masyarakatnya yang masih dijunjung tinggi. Tak hanya itu, mereka juga mengatakan kalau mereka sering kesana. Aku merasa bangga, meski usia mereka masih belia, mereka sudah tahu banyak hal tentang Lombok. Kuharap, kelak jika sudah dewasa, mereka akan tetap menjaga Lombok dan warisan-warisannya. Seperti Sade yang sudah banyak dikunjungi oleh pelancong dari negeri seberang, tapi jarang terdengar di telingan orang pribumi. Ironis memang.
“Mulan.” Ucap seorang yang tiba-tiba berada di belakang Mulan. “Iya Bu.” Jawab Mulan.
“Tidak apa-apa. Memang Mulan senang jika ia bisa bercengkerama dengan Mas.”
“Saya jadi tidak enak Bu.”
“Tidak apa-apa mas. Tapi mohon maaf karena ini sudah cukup malam. Saya ingin menjemput Mulan.”
“Silahkan Bu.Terimakasih banyak”
“Sama-sama mas. Mari.” Ucapnya sambil menggandeng Mulan dan kedua temannya untuk pulang.
Kisah di kala petang ini pun usai. Pengalaman pertama bercengkerama dengan anak-anak kecil yang menggemaskan. Ketiga bocah lucu itupun telah berlalu dari pandanganku, aku harus segera kembali ke kamar. Mempersiapkan segala sesuatu yang akan kubawa esok hari. Tak kusangka, sudah sebulan aku tinggal di Lombok. Menyelesaikan penelitian tesisku. Di sini, aku tak hanya mendapatkan data untuk syarat gelar masterku. Tapi aku memperoleh pengalaman tentang makna hidup seorang manusia yang penuh kebersahajaan, bersama masyarakat suku Sasak di perkampungan Sade.
Kulangkahkan kakiku menuju hotel tempatku bermalam. Namun, sebelum masuk kekamar, mataku seperti ditarik untuk memandang sajian makan malam yang tertata rapi di meja restoran. Menu makan malam yang begitu menggairahkan. Ya, Ayam Taliwang khas Mataram. Sambalnya yang khas membuat ayam taliwang selalu dikenang. Pedas, gurih, dan tak terlalu mahal. Sangkin khasnya Ayam Taliwang, banyak orang yang berkata, jika pergi ke Lombok belum menikmatinya, maka ia belum sah. Luar biasa.
****
Alarmku mengalun keras. Membuatku terganggu dan segera bangun dari tidurku. Ya, waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 WITA. Bangunku saat ini bukan untuk memenuhi panggilan ombak seperti tempo pagi. Bukan pula untuk menunggui sunrise yang menguningkan air Senggigi. Tapi, aku harus bersiap-siap karena aku akan ikut penerbangan pukul 07.00 WITA.
Satu jam kemudian, aku pun sudah siap untuk meluncur ke Bandara Internasional Lombok Praya. Mengakhiri perjalananku di pulau yang sangat mempesona. Keluar dari kamar, aku menuju resepsionis. Menanti taksi yang akan mengantarkanku. Tapi sebelum aku melihat taksi, aku dikejutkan dengan pemandangan tiga bocah kecil berseragam SD yang sedang menungguiku di depan pintu hotel. Ya, mereka adalah sahabatku di Senggigi. Mulan, Indra, dan Yudha.
menggemaskan. Kulihat, matanya berkaca-kaca. Sepertinya ada air mata yang akan tumpah pagi ini. Aku pun memeluknya erat.
“Kak.” Ucapnya terisak-isak. “Iya Mulan.”
“Ini kenang-kenangan untuk Kakak? Dibukanya nanti saja kalau Kakak sudah sampai di Jakarta.”
Kuterima sebuah amplop putih dari Mulan. Pun aku dibuat sedih olehnya. Walau baru bertemu kemarin, tapi tiga anak ini terasa begitu spesial. Mereka telah mengisi catatan terakhirku di Lombok. Akhir perjalanan yang indah. Tapi menyedihkan.
“Ya, terimakasih.”
“Tapi aku mohon Kakak bisa menjaganya.”
“Ya, pasti Kakak akan menjaganya.” Ucapku sambil mengecup keningnya.
Aku pun kembali membuka koperku yang telah kukunci rapat. Kuambil dari tumpukan pakaianku, sebuah shal bertuliskan “INDONESIA” yang kubeli ketika menonton pertandingan Timnas Indonesia Vs Arab Saudi beberapa bulan lalu di Stadiun Utama Gelora Bung Karno. Kukalungkan shal itu ke leher Mulan. Ia pun tersenyum.
“Shal ini adalah tanda persahabatan kita.” Ucapku. Ia pun kembali memelukku.
“Kak, buat kami apa Kak?” Tanya Indra dan Yudhi serempak.
Aku bingung karena sepertinya hanya shal yang kupunya. Aku pun kembali menoleh ke arah koper dan tas ranselku. Kalau-kalau ada yang bisa kujadikan cinderamata dan ikatan persahabatan untuk mereka. Untunglah, ada dua gantungan kunci Monas yang kubeli sebelum berangkat ke Lombok. Kuambil dan kuserahkan gantungan kunci itu pada mereka. Kulihat keduanya tersenyum. Kembali kupeluk ketiganya sebagai salam perpisahan. Taksi yang akan membawaku menuju bandara sudah siap. Itu artinya, aku harus segera meninggalkan mereka dan membawa cerita indah yang penuh dengan bahagia. Satu persatu koper dan ransel dimasukkan ke bagasi. Aku pun masuk ke dalam taksi dan kulambaikan tanganku untuk mereka. Kulihat, sepertinya mereka tak rela, tapi bagaimana pun aku harus kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan studiku dan membuat tesis tentang penelitianku di Lombok.
kertas dan plastik hitam kecil. Kubaca tulisan Mulan yang sebenarnya sulit untuk kupahami. Tapi ku tak mungkin tak berusaha untuk mengetahui isinya. Setelah kuperhatikan, aku pun akhirnya bisa membacanya.
Untuk Kakak yang baik hati
Kak, aku sangat senang dengan pertemuan kita. Kakak harus tahu, Ketika melihat Kakak, aku teringat almarhum kakakku, yang meninggal 1 tahun yang lalu. Ia meninggal karena tenggelam saat ia sedang mencari ikan. Kak, di plastik hitam itu ada mutiara berbentuk hati yang kakak suka. Tolong dijaga ya Kak, karena mutiara itu kutemukan bersama kakakku, sehari sebelum ia meninggal. Makanya tidak ada seorang pun yang boleh membelinya.
Karena Mutiara itu tidak bisa dinilai dengan apapun. Tolong dijaga ya Kak. Semoga Kakak bisa kembali ke Lombok dan bertemu kembali denganku. Juga dengan Indra dan Yudha. Mulan berharap Kakak tidak lupa dengan Mulan dan cerita tentang Mutiara Cinta yang kuberikan untuk Kakak.
Sengigi, 02 April 2012 Salam dari kami Mulan, Yudha, Indra