• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Triana Wulansari (1548201106) - KLT kelompok 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "2. Triana Wulansari (1548201106) - KLT kelompok 3"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Kelompok 3 : 1. Putri Amelia (1548201088) 2. Triana Wulansari (1548201106)

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

Jurnal : Mengetahui dan memahami teknik pemisahan senyawa dalam suatu ekstrak daun sirih (Piper betle folia) dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan. Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya.

KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif. Kedua, dipakai untuk menjajaki system pelarut dan system penyangga yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja tinggi.

Manfaat KLT

1. Pemeriksaan kualitatif dan kemurnian senyawa obat. 2. Pemeriksaan simplisia hewan dan tanaman.

3. Pemeriksaan komposisi dan komponen aktif sediaan obat.

4. Penentuan kualitatif masing-masing senyawa aktif campuran senyawa obat.

Prinsip Percobaan KLT

Suatu metode pemisahan komponen kimia yang berdasarkan prinsip partisi dan adsorpsi secara selektif, komponen kimia bergerak naik mengikuti cairan pengembang karena daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak sama maka komponen dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda dan hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan. Pemisahan senyawa pada ekstrak daun sirih dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menggunakan silika gel GF 254 sebagai fase diam dan fase gerak campuran hexan-eti asetat 10 : 1 (non polar) dan 2 : 3 (polar).

Pelaksanaan KLT

1. Fase Diam

(2)

digunakan adalah silika dan serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi yang utama pada KLT adalah adsorpsi dan partisi.

Beberapa contoh penyerap yang digunakan untuk pemisahan dalam kromatografi lapis tipis adalah sebagai berikut :

1. Silika gel

Ada beberapa jenis silika gel, yaitu : a. Silika gel G

Silika gel G adalah silika gel yang mengandung 13 % kalsium sulfat sebagai perekat. Jenis silika gel ini biasanya mengandung ion logam, terutama ion besi. Kandungan ion besi dapat dihilangkan dengan mengembangkan plat TLC silika gel G dengan sstem pelarut metanol : asam HCl pekat 9 : 1.

b. Silika gel H

Perbedaan silika gel G dan silika gel H ialah, bahwa silika gel H tidak mengandung perekat kalsium sulfat. Silika gel H dipakai untuk pemisahan yang bersifat spesifik, terutama lipida netral.

c. Silika gel PF

Jenis silika gel ini diketemukan belakangan, yang dibuat sedemikian rupa sehingga senyawa-senyawa organik terikat pada plat ini dapat mengadakan fluoresensi. Oleh karena itu visualisasinya dapat dikerjakan dengan menempatkan plat yang telah dikembangkan di dalam ruangan gelap atau dengan sinar ultra violet yang bergelombang pendek.

2. Alumina

Penggunaan alumina dalam TLC, yang semula diperkenalkan oleh peneliti dari Cekoslowakia, tidak sesering silika gel. Sebenarnya alumina netral mempunyai kemampuan untuk memisahkan bermacam-macam senyawa, seperti terpena, alkaloid, steroid, dan senyawa-senyawa alisklik, alifatik, serta aromatik. Sebagai zat perekat alumina tidak mengandung zat perekat, memepunyai sifat alkalis dan dapat digunakan baik tanpa maupun dengan aktivasi (Keese,R. dkk, 1982)

3. Kieselguhr

Kieselguhr merupakan adsorben yang lebih lemah dari silika gel dan alumina, oleh karena itu lebih cocok untuk memisahkan senyawa-senyawa polar (Adnan, M., 1997)

2. Fase Gerak

Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar. Sistem yang paling sederhana ialah campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Berikut adalah beberapa petunjuk dalam memilih dan mengoptimasi fase gerak :

(3)

- Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.

- Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silika gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solute yang berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non polar seperti metil benzene akan meningkatkan harga Rf secara signifikan.

- Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan campuran pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan metanol dengan perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam etanoat atau ammonia masing-masing akan meningkatkan solute-solut yang bersifat basa dan asam.

Proses KLT

Aplikasi (Penotolan) Sampel

Untuk memperoleh roprodusibilitas, volume sampel yang ditotolkan paling sedikit 0,5 μl. Jika volume sampel yang ditotolkan lebih besar dari 2-10 μl, maka penotolan harus dilakukan secara bertahap dengan dilakukan pengeringan antar totolan. Bila sampel telah ditotolkan maka tahap selanjutnya adalah mengembangkan sampel dalam bejana kromatografi yang sebelumnya telah dijenuhi dengan uap fase gerak. Tepi bagian bawah lempeng tipis yang telah ditotoli sampel dicelupkan kedalam fase gerak kurang lebih 0,5-1 cm. Tinggi fase gerak dalam bejana harus dibawah lempeng yang telah berisi totolan sampel.

Bejana kromatografi harus tertutup rapat dan sedapat mungkin volume fase gerak sedikit mungkin (akan tetapi harus mampu mengelusi lempeng sampai ketinggian lempeng yang telah ditentukan). Untuk melakukan penjenuhan fase gerak, biasanya bejana dilapisi dengan kertas saring. Jika fase gerak telah mencapai ujung dari kertas saring, maka dapat dikatakan bahwa fase gerak telah jenuh.

Gambar berikut ini menunjukkan posisi dari totolan sampel, posisi lempeng dalam bejana serta ketinggian eluen dalam bejana :

(4)

Gambar 2 : Lempeng dengan penunjukan kenaikan bercak dan batas atas pengelusian.

Deteksi bercak pada KLT dapat dilakukan secara kimia dan fisika. Cara kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan bercak adalah dengan dengan cara pencacahan radioaktif dan fluorosensi sinar ultraviolet. Fluorosensi sinar ultraviolet terutama untuk senyawa yang dapat berfluorosensi, membuat bercak akan terlihat jelas.

Berikut adalah cara-cara kimiawi untuk mendeteksi bercak :

- Menyemprot lempeng KLT dengan reagen kromogenik yang akan bereaksi secara kimia dengan solute yang mengandung gugus fungsional tertentu sehingga bercak menjadi berwarna. Kadang-kadang dipanaskan terlebih dahulu untuk mempercepat reaksi pembentukan warna dan intensitas warna bercak.

- Mengamati lempeng dibawah lampu ultraviolet yang dipasang panjang gelombang emisi 254 atau 366 untuk menampakkan solut sebagai bercak yang gelap atau bercak yang berfluorosensi terang pada dasar yang berfluorosensi seragam. Lempeng yag diperdagangkan dapat dibeli dalam bentuk lempeng yang sudah diberi dengan senyawa fliorosen yang tidak larut yang dimasukkan ke dalam fase diam untuk memberikan dasar fluorosensi atau dapat pula dengan menyemprot lempeng dengan reagen fluorosensi setelah dilakukan pengembangan.

- Menyemprot lempeng dengan asam sulfat pekat atau asam nitrat pekat lalu dipanaskan untuk mengoksidasi solut-solut organik yang akan nampak sebagai bercak hitam sampai kecoklat-coklatan.

- Memaparkan lempeng dengan uap iodium dalam chamber tertutup.

- Melakukan scanning pada permukaan lempeng dengan densitometer, suatu instrument yang dapat mengukur intensitas radiasi yang direfleksikan dari permukaan lempeng ketika disinari dengan lampu UV atau lampu sinar tampak. Solut-solut yang mampu menyera[p sinar akan dicatat sebagai puncak (peak) dalam pencatatan (recorder).

Perhitungan Nilai Rf (4)

Gambar 3 : Perbandingan jarak bercak dan jarak tempuh eluen

Faktor retensi (Rf) adalah jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh eluen, dengan persamaan :

(5)

Rf =

Jarak yang ditempuh pelarut

Nilai Rf dinyatakan hingga angka 1,0 beberapa pustaka menyatakan nilai Rf yang baik yang menunjukkan pemisahan yang cukup baik adalah berkisar antara 0,2-0,8.

- Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan kromatograf lapis tipis adalah lempeng, pinset, pipa kapiler, vial.

- Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan kromatograf lapis tipis adalah aluminium foil, ekstrak awal, ekstrak latur heksan, ekstrak larut butanol jenuh air, etil asetat, heksan, metanol.

- Cara Kerja

1. Penyiapan Lempeng KLT

2. Lempeng KLT diaktifkan dalam oven

3. Lempeng dikeluarkan dan digunting dengan ukuran tertentu

4. Lempeng siap digunakan.

5. Identifkasi Kromatograf Lapis Tipis

6. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan

7. Larutkan masing-masing ekstrak heksan, tidak larut hexan, dan ekstrak awal dengan metanol.

8. Disiapkan 2 chamber yang masing-masing dijenuhkan dengan kertas saring dengan pelarut etil dan heksan 10 : 1 dan 2 : 3

9. Setelah jenuh Sampel ditotolkan ke lempeng menggunakan pipa kapiler

10. Kemudian dikeringkan dan dimasukkan dalam chamber.

11. Dikeluarkan kemudian dilihat nodanya pada UV 254 dan 366 nm. Diberi tanda pada lempeng nodanya. Lalu disemprot dengan H2SO4 10 %.

12. Ukur jarak noda dan jarak pelarut. Kemudian dihitung nilai Rf.

Perhitungan Eluen non polar Rf noda ekstrak awal

Jarak yang ditempuh senyawa terlarut Rf =

(6)

2,54 cm =

5,8 cm

= 0.438

Rf noda larut heksan

Jarak yang ditempuh senyawa terlarut Rf =

Jarak yang ditempuh pelarut

2,74 cm =

5,8 cm

= 0,473

Rf noda larut butanol jenuh air

Jarak yang ditempuh senyawa terlarut Rf =

Jarak yang ditempuh pelarut

1,52 cm =

5,8 cm

= 0,263

Eluen polar Rf noda ekstrak awal

Jarak yang ditempuh senyawa terlarut Rf =

Jarak yang ditempuh pelarut

5,4 cm =

5,7 cm

(7)

Rf noda larut heksan

Jarak yang ditempuh senyawa terlarut Rf =

Jarak yang ditempuh pelarut

5,5 cm =

5,7 cm

= 0,965

Rf noda larut butanol jenuh air

Jarak yang ditempuh senyawa terlarut Rf =

Jarak yang ditempuh pelarut

4,61 cm =

5,7 cm

= 0,81

Cara membaca KLT

(8)

DAFTAR PUSTAKA

1. Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi

Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

2. Anonim. http:// repository.usu.ac.id/ bitstream/ 123456789/ 21191/ 4/ Chapter% 20II.pdf. Diakses pada tanggal 31 Maret 2014

3. Gritter, Roy J. dkk. (1991). “Pengantar Kromatografi”. Edisi II. Penerbit

ITB, Bandung.

4. Anonim. http://www.scribd.com/doc/54821830/11/ Spektrofotometer

Gambar

Gambar 3 : Perbandingan jarak bercak dan jarak tempuh eluenFaktor retensi (Rf) adalah jarak yang ditempuh oleh komponendibagi dengan jarak yang ditempuh oleh eluen, dengan persamaan :Jarak yang ditempuh senyawa terlarut

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan proses Fenton dalam menurunkan kadar chemical oxygen demand (COD) dan kadar total suspended solid (TSS) dari limbah cair pabrik

Modul ini membahas tentang konsep dasar ilmu ekonomi. Dengan mempelajari modul ini, kalian bisa mensyukuri sumber daya sebagai karunia Tuhan YME dalam rangka

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa fit / gap analysis adalah suatu metodologi yang digunakan untuk menganalisis perbedaan antara kebutuhan perusahaan dalam

Pemeruman daerah pantai yang landai dilakukan dengan menggunakan metode tongkat penduga dan pemeruman daerah dangkal ( shallow sounding ).Posisi fix- perum diukur

Karena dengan menggunakan komik pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih mudah untuk diterima dan dimengerti, karena bahasa gambar lebih mudah dipahami dibandingkan bahasa

Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab I, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui realisasi tindak tutur direktif dokter gigi terhadap pasien anak usia

Sumber minyak nabati yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan bila digunakan sebagai bahan baku biodiesel adalah biji nyamplung.. Hal ini menjadikan minyak biji

3URVHV SHPLOLKDQ PHGLD GLVHVXDLNDQ GHQJDQ DQDOLVLV PDWHUL DQDOLVLV WXJDV GDQ NDUDNWHULVWLN VLVZD 'DUL KDVLO SHPLOLKDQ PHGLD LQL GLWHQWXNDQ EDKZD PHGLD SHPEHODMDUDQ \DQJ GLSHUOXNDQ