• Tidak ada hasil yang ditemukan

eksperimentasi pembelajaran matematika d Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "eksperimentasi pembelajaran matematika d Indonesia"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

1

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan diri sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Dewasa ini pendidikan di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Pemerintah secara bertahap dan terus menerus berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan di Indonesia yang diupayakan dalam bentuk

peningkatan sarana dan prasarana, perubahan kurikulum dan proses belajar mengajar, peningkatan kualitas guru, dan usaha lain yang tercakup dalam komponen pendidikan, sedangkan upaya untuk meningkatkan kuantitas pendidikan diantaranya adalah kejar paket A, peningkatan wajib belajar, dan

lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan pemerintah terhadap pendidikan nasional sangat besar.

Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang dipelajari dalam proses pendidikan adalah matematika. Matematika mempunyai peran strategis dalam proses pendidikan karena banyak cabang ilmu lain yang memanfaatkan matematika. Dalam pembelajaran di sekolah, baik tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) sering kali matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dipelajari.

Banyak siswa yang merasa terbebani jika harus berhadapan dengan pelajaran matematika di sekolah. Hal ini disebabkan karena mereka menganggap matematika adalah ilmu yang rumit, membingungkan dan banyak yang merasa pesimis dahulu sebelum belajar matematika. Pada akhirnya siswa hanya menghafal materi pelajaran matematika untuk memenuhi syarat ujian saja. Hal ini mengakibatkan terjadinya kekeliruan dalam pemahaman konsep dan berdampak pada pencapaian prestasi belajar matematika yang kurang memuaskan.

Kondisi ini mengakibatkan rendahnya nilai matematika sebagian besar

(2)

dan MTs mencapai 34.113 siswa atau sebesar 12,36 persen. (www.antara.com/2009/06/Persentase Kelulusan SMP). Sementara Kepala SMPN 16 Surakarta, sebagai induk SMP Terbuka Surakarta, Amir Khusni menyatakan bahwa tingkat kelulusan siswa yang bersekolah di SMP Terbuka setiap tahun ternyata selalu kurang dari 50 persen. (www.joglosemar.com/2009/12/Tingkat kelulusan SMP Terbuka).

Dalam fakta-fakta yang telah disebutkan di atas dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran matematika belum berhasil. Masih banyak anak yang tidak lulus ujian matematika pada saat UN maupun try out. Hal ini disebabkan karena

siswa tersebut tidak dapat mengerjakan soal-soal matematika.

Keberhasilan belajar matematika siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor internal (dalam diri siswa) dan faktor eksternal (luar diri siswa). Faktor dari dalam siswa antara lain minat, aktivitas siswa, motivasi dan

sebagainya, sedangkan faktor dari luar diri siswa mungkin karena model pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan materi kurang tepat.

Pada umumnya pelaksanaan belajar mengajar masih berpusat pada guru, murid kurang berperan aktif di dalamnya, sehingga tujuan pembelajaran serta kegiatan yang akan dilakukan oleh murid pada model pembelajaran ini banyak dipengaruhi oleh guru. Agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal maka guru harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Hal-hal yang perlu diketahui oleh guru adalah pendekatan mengajar, strategi, teknik, metode mengajar dan model pembelajaran. Sebagai seorang guru harus mampu memilih mana model pembelajaran yang tepat dan mana yang tidak tepat untuk suatu materi tertentu. Pemilihan model pembelajaran harus memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah materi yang disampaikan, tujuan pembelajaran, waktu yang tersedia, dan banyaknya siswa serta hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar.

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Padahal pada model pembelajaran konvensional guru

(3)

diperolehnya tanpa mengkomunikasikannya dengan siswa lain sehingga terkadang terjadi kurangnya pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Oleh karena itu guru dituntut mencari alternatif model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa. Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif siswa dan kerjasama antar siswa dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher

centered. Salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif adalah tipe Two Stay

Two Stray (TSTS). Model ini memberi kesempatan suatu kelompok yang

beranggota 4 orang untuk berbagi hasil dan informasi kepada kelompok lainnya dengan cara saling mengunjung atau bertamu. Dua orang anggota kelompok keluar dari kelompoknya dan bertamu kepada kelompok lain untuk menerima jamuan (berupa informasi) dari kelompok tersebut, sementara dua orang lainnya

menjadi tuan rumah dan menjamu tamu dari kelompok yang lain pula. Dengan menggunakan model ini dimungkinkan terjadi transfer ilmu antar siswa sehingga siswa menjadi aktif mengikuti proses pembelajaran.

(4)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasi beberapa masalah yaitu: 1. Dalam pelaksanaan pembelajaran guru biasanya menggunakan suatu metode

dalam menyampaikan materi. Ada kemungkinan rendahnya prestasi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat disebabkan karena metode yang digunakan guru kurang dapat membantu siswa dalam memahami dan menyerap materi. Terkait dengan masalah ini dapat diteliti apakah jika metode pembelajaran yang digunakan diubah maka prestasi siswa pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat akan meningkat.

2. Dalam pelaksanaan pembelajaran diharapkan siswa aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Ada kemungkinan rendahnya prestasi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat disebabkan karena model pembelajaran yang digunakan guru kurang dapat mengaktifkan siswa. Terkait dengan masalah ini

dapat diteliti apakah jika model pembelajaran yang digunakan diubah maka prestasi siswa pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat akan meningkat.

3. Ada kemungkinan rendahnya prestasi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat disebabkan karena aktivitas belajar siswa rendah. Terkait dengan ini dapat diteliti apakah aktivitas belajar matematika siswa mempengaruhi prestasi siswa pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat. Jika hal itu benar maka guru harus berusaha meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa agar hasil yang diperoleh pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat lebih maksimal.

C. Pembatasan Masalah

Sehubungan dengan luasnya permasalahan yang timbul dari topik kajian maka pembatasan masalah perlu dilakukan guna memperoleh kedalaman kajian dan menghindari perluasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam hal ini adalah :

(5)

2. Aktivitas belajar matematika siswa yang dibatasi pada aktivitas dalam belajar matematika yang meliputi kemampuan bertanya, mengeluarkan pendapat, mendengarkan, berdiskusi, mencatat, memecahkan soal, dan mempelajari kembali materi. Aktivitas belajar matematika siswa dibedakan dalam tiga kategori yaitu aktivitas belajar tinggi, sedang dan rendah.

3. Model pembelajaran yang diteliti adalah model pembelajaran kooperatif tipe

Two Stay Two Stray (TSTS) untuk kelas eksperimen dan model

pembelajaran Konvensional (dalam penelitian ini adalah model pembelajaran langsung) untuk kelas kontrol.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas dapat dirumuskan masalah-masalah penelitian sebagai berikut :

1. Diantara model pembelajaran yang digunakan (TSTS dan konvensional), manakah yang dapat memberikan prestasi belajar yang lebih baik pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat ?

2. Diantara kategori aktivitas belajar matematika siswa (tinggi, sedang, rendah), manakah yang dapat memberikan prestasi belajar yang lebih baik pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat ?

(6)

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui diantara model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan model pembelajaran konvensional, manakah yang dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat.

2. Untuk mengetahui diantara kategori aktivitas belajar matematika siswa (tinggi, sedang, dan rendah), manakah yang dapat memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik pada materi Keliling dan Luas Segitiga

dan Segi Empat.

3. Untuk mengetahui pada masing-masing model pembelajaran (TSTS dan konvensional), manakah diantara kategori aktivitas belajar matematika siswa (tinggi, sedang dan rendah) yang dapat memberikan prestasi belajar

matematika lebih baik dan untuk mengetahui pada masing-masing kategori aktivitas belajar matematika siswa (tinggi, sedang dan rendah), manakah diantara model pembelajaran kooperatif tipe TSTS atau konvensional yang dapat memberikan prestasi belajar matematika lebih baik pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat.

F. Manfaat Penelitian

Setelah dilakukan penelitian, diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut :

1. Memberikan masukan kepada guru Matematika pada umumnya dan para peneliti pada khususnya bahwa terdapat model pembelajaran lain yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.

2. Memberikan masukan kepada guru Matematika tentang pentingnya aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa.

3. Memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran, khususnya mata pelajaran

(7)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka 1. Prestasi Belajar Matematika a. Prestasi

Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti hasil usaha. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 2002: 896) dinyatakan bahwa “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai”. Zainal Arifin (1990: 3) mengemukakan bahwa prestasi adalah hasil dari kemampuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal.

Dari berbagai pendapat tentang pengertian prestasi di atas dapat

disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha dengan kemampuan yang dimilikinya.

b. Belajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 17) disebutkan bahwa belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; berlatih; berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Sardiman A. M (2004: 50) menyatakan: “belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri seseorang.”

Dalam teori konstruktivisme, belajar adalah kegiatan aktif dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Agar pengetahuan siswa menjadi bermakna, maka siswa harus memproses sendiri informasi yang diperoleh, menstruktur kembali dan mengintegrasikan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Guru tidak dapat begitu saja memberikan pengetahuannya kepada siswa, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pembentukan pengetahuan tersebut.

Menurut Paul Suparno (1997: 61), belajar merupakan suatu proses

interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud

(8)

pribadi, fakta, konsep ataupun teori. Proses interaksi itu sendiri meliputi dua hal, yaitu:

1) Proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri pebelajar.

2) Dilakukan secara aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.

Proses internalisasi dan keaktifan pebelajar dengan segenap panca indera perlu ada pengembangannya yakni melalui proses yang disebut dengan sosialisasi yaitu menginteraksikan atau menularkan ke pihak lain. Dalam proses sosialisasi, karena berinteraksi dengan pihak lain tentu akan melahirkan suatu pengalaman. Proses belajar yang terjadi merupakan proses aktif dimana individu menerapkan

pengetahuan yang dimilikinya. Proses belajar bukan semata-mata terjadi karena adanya hubungan antara stimulus dan respon tetapi lebih merupakan hasil dari kemampuan individu dalam mengembangkan potensi dalam dirinya.

Proses belajar yang terjadi bercirikan antara lain sebagai berikut:

1) Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh pebelajar dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.

2) Konstruksi arti itu adalah proses yang terus menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.

3) Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan suatu perkembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru.

4) Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu seseorang dalam keraguan. 5) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan

lingkungannya.

6) Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si pebelajar: konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.

(Paul Suparno, 1997: 61).

Hudoyo (1997: 107) mengemukakan bahwa : “ belajar merupakan suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman atau pengetahuan baru sehingga timbul perubahan kemampuan, misalnya setelah belajar seorang mampu mendemonstrasikan dan keterampilan dimana sebelumnya siswa tidak dapat melakukannya”.

(9)

sehingga menyebabkan terjadinya perubahan sebagai akibat dari pengalaman dan hasil interaksi dengan lingkungan.

c. Prestasi Belajar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 895) prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.

Sutratinah Tirtonegoro (2001: 43) menyatakan: “prestasi adalah

penilaian hasil usaha kegiatan belajar mengajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang dicapai dalam periode tertentu”. Dan Purwodarminto (1998: 86) mengemukakan: “Prestasi adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan, dikerjakan dan sebagainya”.

Dari pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah mengikuti serangkaian proses belajar yang dinyatakan dalam angka atau simbol.

d. Matematika

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 723) disebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.

Purwoto (2003: 4) menyatakan bahwa: ”Matematika adalah pengetahuan tentang pola keteraturan, pengetahuan tentang struktur terorganisasikan, mulai dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan ke unsur-unsur yang didefinisikan ke aksioma dan postulat dan akhirnya ke dalil”.

R. Soejadi (2000: 11) mengemukakan bahwa ada beberapa definisi dari matematika, yaitu sebagai berikut:

(10)

2) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.

3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan dengan bilangan.

4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.

5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik. 6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak tentang bilangan, kalkulasi, penalaran,

logika, fakta-fakta kuantitatif, masalah ruang dan bentuk, aturan-aturan yang ketat, dan pola keteraturan serta tentang struktur yang terorganisir.

e. Prestasi Belajar Matematika

Berdasarkan pengertian prestasi belajar dan matematika yang telah diuraikan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa dalam mengikuti pelajaran matematika yang mengakibatkan perubahan pada diri seseorang berupa penguasaan dan kecakapan baru yang ditunjukkan dengan hasil yang berupa angka atau nilai.

f. faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa secara global dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

1) Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa) yaitu keadaan atau kondisi jasmani/ rohani siswa. Factor ini meliputi 2 aspek yaitu :

a) Aspek fisiologis (jasmaniah)

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas dalam mengikuti pelajaran.

b) Aspek psikologis (rohaniah)

Meliputi : intelegensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa.

2) Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa) yaitu kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor ini meliputi 2 aspek yaitu :

a) Faktor lingkungan sosial yang meliputi kondisi lingkungan sekolah, masyarakat, tetangga, orang tua, dan keluarga siswa itu sendiri.

(11)

3) Faktor pendekatan mengajar (approach to learning) yaitu segala jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran.

(Muhibbin Syah, 2006: 144)

Dapat disimpulkan faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar di atas juga mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar yang tinggi. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yang dibahas dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa dan model pembelajaran yang digunakan guru.

2. Model Pembelajaran a. Pengertian Model Pembelajaran

Menurut Joyce dalam Trianto (2007: 5): “model pembelajaran diartikan sebagai suatu perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam perencanaan pembelajaran di kelas dan untuk menentukan perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain”. Joyce juga menyatakan bahwa setiap model pembelajaran mengarahkan kita dalam mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik sehingga tujuan pembelajaran tercapai.

Adapun Soekamto dkk. dalam Trianto (2007: 5) mengemukakan: “Model pembelajaran adalah kerangka konseptual untuk melakukan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar guna mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar”.

Model pembelajaran memiliki empat ciri khusus yang tidak dipunyai strategi atau metode tertentu yaitu:

1) Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya. 2) Tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

3) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar metode tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan

4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

(12)

Menurut Arends dalam Trianto (2007: 9) model pembelajaran yang praktis dan sering digunakan guru dalam mengajar yaitu presentasi, pembelajaran langsung, pembelajaran konseptual, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berdasarkan masalah dan diskusi kelas. Tidak ada model pembelajaran yang paling baik diantara yang lainnya karena masing-masing model pembelajaran dapat dirasakan apabila telah diujicobakan untuk mengajar materi pelajaran tertentu. Oleh karena itu beberapa model pembelajaran perlu diseleksi, model pembelajaran manakah yang paling baik untuk mengajarkan suatu materi tertentu. Pertimbangan mengenai materi pelajaran, tingkat perkembangan kognitif, kondisi

siswa dan sarana yang tersedia sangatlah penting dalam pemilihan model pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Dari beberapa di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian model pembelajaran adalah keseluruhan rangkaian yang dimulai dari pendahuluan,

pengelolaan sampai dengan evaluasi pembelajaran oleh pendidik dengan menggunakan strategi, pendekatan dan metode tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

b. Model Pembelajaran Konvensional

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 459): “konvensional / klasik adalah tradisional”. Tradisional sendiri berarti sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun.

Pembelajaran klasikal sendiri diartikan sebagai pembelajaran yang disampaikan kepada sejumlah siswa tertentu secara serentak pada waktu dan tempat yang sama dengan ceramah untuk menjelaskan materi, dilanjutkan metode tanya jawab dan pada akhir pembelajaran guru memberikan tugas untuk diselesaikan siswa. Dalam sistem pembelajaran klasikal, siswa cenderung pasif, kurang mempunyai kesempatan dalam mengembangkan kreativitas dan inisiatif, karena proses pembelajaran lebih banyak didominsi oleh guru. Dalam mengajar

(13)

contoh soal dan dikerjakan pula oleh guru sendiri oleh guru. Sementara itu siswa hanya pasif.

Berdasarkan pengertian diatas, model pembelajaran konvensional dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang sering digunakan di sekolah biasanya dalam bentuk model pembelajaran langsung. Dalam model pembelajaran langsung guru memegang peran yang dominan. Guru menyampaikan materi pelajaran secara terstruktur dengan harapan apa yang disampaikan dapat dikuasai siswa dengan baik.

Pembelajaran langsung menurut Kardi dalam Trianto (2007: 30) dapat

berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktek. Pembelajaran langsung digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa.

Menurut Kardi dan Nur dalam Trianto (2007: 31) sintaks model

pembelajaran langsung meliputi:

1) Fase 1, menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.

Guru menjelaskan Tujuan Pembelajaran Khusus, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.

2) Fase 2, mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan

Guru mendemonstrasikan ketrampilan dengan benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap.

3) Fase 3, membimbing pelatihan

Guru merencanakan dan membimbing pelatihan awal 4) Fase 4, mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik dan memberikan umpan balik.

5) Fase 5, memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

(14)

1) Mampu menampung kelas yang besar. 2) Materi yang disampaikan banyak dan terurut.

3) Guru dapat memberi tekanan pada hal-hal yang penting. 4) Kondisi kelas relatif tenang dan teratur.

5) Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat bantu pelajaran tidak menghambat dilaksanakannya pelajaran.

Adapun kelemahan pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut : 1) Pelajaran berjalan membosankan siswa dan siswa menjadi pasif, karena tidak

berkesempatan untuk menemukan sendiri konsep yang diajarkan. Siswa hanya

aktif membuat catatan.

2) Kepadatan konsep-konsep yang diberikan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.

3) Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini lebih cepat terlupakan.

4) Mematikan kreativitas siswa.

5) Siswa cenderung bersifat individual.

c. Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif didasarkan atas falsafah homo homini

socius, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial (Anita Lie, 2008: 28). Menurut Slavin (1992) dalam Dion G. Norman, pembelajaran kooperatif adalah tehnik instruksional dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil yang heterogen dalam rangka untuk mewujudkan tujuan bersama. Dan menurut Johnson, Johnson dan Holubec (1999) dalam Effandi Zakaria dan Zanaton Iksan (2007) ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah:

1) Saling ketergantungan positif

Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan ketergantungan positif. 2) Interaksi tatap muka

(15)

dengan guru.

3) Akuntabilitas individual

Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya, karena itu tiap anggota harus memberi

sumbangan demi kemajuan kelompok. Penilaian kelompok secara individual ini yang dimaksud dengan akuntabilitas individual.

4) Ketrampilan menjalin hubungan antar pribadi

Ketrampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman,

mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani memepertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bemanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi akan memperoleh teguran dari guru juga dari sesama siswa.

5) Pembentukan kelompok.

Menurut Ibrahim (2000: 2) terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi dalam pembelajaran kooperatif agar para siswa bekerja secara kooperatif, yaitu: 1) Para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari sebuah tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai, 2) Para siswa tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan bahwa berhasil tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok itu, dan 3) Untuk mencapai hasil yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok itu harus berbicara satu sama lain dalam mendiskusikan masalah yang

(16)

menyadari bahwa setiap pekerjaan siswa mempunyai akibat langsung pada keberhasilan kelompoknya.

Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: 1) siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”, 2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti miliknya sendiri, 3) siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama, 4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara kelompoknya, 5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga

akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, 6) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya, dan 7) siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe diantaranya Student

Teams Achievment Division (STAD), Teams Games Tournaments (TGT), Two Stay Two Stray (TSTS), Group Investigation (GI), Make a Match dan sebagainya (Anita Lie, 2008: 55).

d. Model Pembelajaran Koopertif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

Menurut Anita Lie (2008: 61) model pembelajaran kooperatif tipe Two

Stay Two Stray / Dua Tinggal Dua Tamu merupakan model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan dengan cara saling mengunjungi/ bertamu antar kelompok untuk berbagi informasi. Banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan–kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lainnya. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia bergantung satu dengan yang lainnya.

Langkah-langkah pembelajaran TSTS adalah sebagai berikut : 1) Siswa bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang. 2) Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok menjadi tamu

(17)

3) Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka.

4) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.

5) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka.

(Anita Lie, 2008: 63)

Adapun kelebihan pembelajaran kooperatif dengan tipe TSTS adalah sebagai berikut :

1) Adanya interaksi antara siswa melalui diskusi untuk menyelesaikan masalah akan meningkatkan ketrampilan sosial siswa.

2) Baik siswa yang pandai maupun siswa yang kurang pandai sama-sama memperoleh manfaat melalui aktivitas belajar kooperatif.

3) Pembelajaran menjadi bermakna karena siswa mengkonstruk sendiri pengetahuannya dengan bantuan temannya.

4) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ketrampilan bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan ide-idenya.

Adapun kelemahan pembelajaran kooperatif tipe TSTS adalah sebagai berikut :

1) Siswa yang pandai cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang kurang pandai.

2) Diskusi tidak akan berjalan lancar jika semua anggota kelompok merupakan siswa yang pasif.

3) Penyampaian informasi pada siswa yang bertamu tidak akan berjalan lancar jika siswa yang menjadi tuan rumah kurang komunikatif.

4) Kondisi kelas cenderung ramai.

5) Pengelompokan siswa membutuhkan waktu.

(18)

Tabel 2.1

Perbedaan Model Pembelajaran TSTS dan Model Pembelajaran Konvensional

Model Pembelajaran TSTS Model Pembelajaran Konvensional 1) Dalam pembelajaran selalu dibentuk

kelompok.

2) Siswa aktif mempelajari materi.

3) Terjadi transfer ilmu dari teman lain dan dari guru.

4) Mengajarkan beberapa ketrampilan sosial seperti gotong royong, kemampuan komunikasi, mempercayai orang lain dan

pengelolaan konflik dalam kelompok.

1) Dalam pembelajaran jarang

dibentuk kelompok.

2) Siswa cenderung mendengarkan dan mencatat materi dari guru. 3) Terjadi transfer ilmu dari guru

saja.

4) Ketrampilan sosial tidak secara langsung diajarkan.

3. Aktivitas belajar siswa

Kata aktivitas berasal dari bahasa Inggris “activity” yang artinya

kegiatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 17) aktivitas berarti keaktifan, kegiatan, atau kesibukan. Sardiman A.M. (2004: 95) menyatakan bahwa aktivitas belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan.

Penganut pandangan ilmu jiwa modern dalam Sardiman A.M. (2004: 97) menyatakan bahwa, “Yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental”. Jadi aktivitas fisik dan mental harus terkait agar dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

Paul B. Diedrich menyebutkan bahwa aktivitas siswa dapat digolongkan sebagai berikut :

a. Visual activities, yang termasuk didalamnya adalah membaca,

memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain. b. Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi

(19)

c. Listening activity, sebagai contoh mendengarkan : uraian, percakapan, musik, pidato.

d. Writing activities, seperti : menulis/ mencatat, karangan laporan, angket, menyalin.

e. Drawing activities, seperti : menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain : melakukan

percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, berternak.

g. Mental activities, seperti menganggap, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan.

h. Emotional activities, seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

(Sardiman A.M., 2004: 101)

Klasifikasi aktivitas yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa bermacam-macam. Tetapi tidak semua jenis aktivitas tersebut dilakukan oleh siswa dalam belajar matematika. Apabila berbagai kegiatan tersebut dapat diciptakan, maka prestasi belajar yang diperoleh juga akan lebih optimal.

Dalam penelitian ini aktivitas belajar yang dimaksud adalah aktivitas belajar siswa di sekolah dan di rumah. Aktivitas belajar siswa di sekolah meliputi

aktivitas bertanya, mengeluarkan pendapat, mendengarkan, mencatat, berdiskusi dan mengerjakan latihan soal. Dan aktivitas belajar siswa di rumah meliputi aktivitas dalam mengerjakan tugas rumah, mengulang kembali materi, dan mempersiapkan materi yang akan dipelajari.

4. Tinjauan Materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat

a. Keliling bangun datar

Keliling bangun datar adalah jumlah panjang sisi-sisi yang membatasi bangun datar tersebut. Dengan demikian untuk mencari keliling bangun datar maka harus diketahui panjang sisi-sisinya.

b. Luas bangun datar

(20)

Tabel 2.2 Rangkuman Rumus Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat

K = Jumlah panjang sisi-sisinya

a = alas

t = tinggi

d. Jajargenjang L = at

K = Jumlah panjang sisi-sisinya

a = alas

t = tinggi

e. Trapesium L =

1

2 𝑡(𝑎+𝑏)

K = Jumlah panjang sisi-sisinya

a ,b= sisi-sisi

K = Jumlah panjang sisi-sisinya

d1 = diagonal 1

(21)

mendukung diantaranya kemampuan menghitung, kemampuan memahami rumus, kemampuan memahami soal, kemampuan menganalisa unsur-unsur yang dibutuhkan serta kemampuan menggambar segitiga dan segi empat tersebut. Prestasi belajar matematika siswa pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru dan aktivitas belajar matematika siswa. Dengan demikian, baik tidaknya prestasi belajar dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan guru dalam pengelolaan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tidak tepat justru akan menghambat tercapainya tujuan

mengajar. Materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat menuntut penguasaan konsep dari siswa. Penguasaan konsep ini akan lebih mengena dan tertanam dalam diri siswa jika siswa mampu mengkonstruksi dan menemukan sendiri konsepnya. Proses ini akan semakin baik jika siswa melakukan kerjasama

dengan menyampaikan kembali apa yang telah dipelajari kepada orang lain. Pembelajaran seperti ini akan menjadi menarik dan mampu mengaktifkan siswa sehingga siswa merasa nyaman dan mudah memahami materi. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi bermakna adalah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS. Melalui model ini, siswa diarahkan bekerja sama dalam diskusi kelompok untuk membahas materi atau permasalahan–permasalahan yang mana siswa tidak mampu untuk memahami atau menyelesaikannya sendiri. Siswa diberi kesempatan untuk berpikir bersama dalam kelompok dan menyampaikan hasil kerjanya pada kelompok lain dengan cara saling mengunjungi atau bertamu. Hal ini dapat membantu siswa yang belum jelas untuk memahami materi dan bagi siswa yang berbagi, mereka dapat lebih memperdalam materi yang dipelajari. Berbeda dengan model pembelajaran konvesional, guru sebagai sumber informasi secara aktif mentransfer ilmu kepada siswa. Akibatnya siswa cenderung pasif dengan hanya mendengarkan dan menghafalkan rumus yang diberikan tanpa mengalami sendiri bagaimana rumus itu diperoleh. Dari uraian diatas

(22)

belajar matematika yang lebih baik daripada pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.

Faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa adalah aktivitas belajar matematika siswa. Aktivitas siswa untuk memahami materi misalnya adalah dengan mendengarkan, membaca, menulis, mengulang materi yang telah diberikan, mengerjakan soal-soal yang lebih kompleks serta mempelajari materi yang akan diberikan dapat mempengaruhi keberhasilan belajar. Siswa yang satu dengan siswa yang lain memiliki aktivitas belajar matematika yang berbeda-beda. Siswa dengan aktivitas belajar tinggi akan

memiliki semangat belajar yang tinggi pula sehingga diharapkan dalam pembelajaran matematika, siswa tersebut mampu mempunyai pemahaman konsep yang kuat dan penguasaan materi yang baik. Siswa dengan aktivitas belajar matematika tinggi dimungkinkan memperoleh prestasi belajar matematika yang

lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang maupun rendah.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan konvensional yang tidak didukung oleh keaktifan siswa akan menyebabkan hasil pembelajaran yang kurang optimal. Dengan demikian, pada masing-masing model pembelajaran tersebut siswa dengan aktivitas belajar matematika tinggi dimungkinkan memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas sedang atau rendah. Siswa yang mempunyai aktivitas belajar matematika tinggi memiliki kesadaran belajar yang tinggi dan mereka akan lebih antusias dalam mempelajari pelajaran matematika meskipun pelajaran itu sulit. Siswa tersebut akan cenderung aktif melibatkan diri dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu siswa dengan aktivitas belajar matematika tinggi jika diberi model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dimungkinkan akan menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada jika diberi model pembelajaran konvensional. Berbeda dengan siswa yang memiliki aktivitas belajar matematika rendah. Mereka memiliki kesadaran belajar yang kurang, belum mandiri dan masih bergantung pada guru untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Oleh karena

(23)

matematika yang lebih rendah daripada jika diberi model pembelajaran konvensional.

Dari kerangka pemikiran di atas dapat digambarkan suatu paradigma penelitian sebagai berikut:

Gambar 1: Paradigma Penelitian

C. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

1. Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat.

2. Siswa dengan aktivitas belajar matematika tinggi memiliki prestasi belajar matematika lebih baik daripada siswa dengan aktivitas belajar sedang atau rendah pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat.

3. Baik untuk model pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan model pembelajaran konvensional, siswa dengan aktivitas belajar matematika tinggi memiliki prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa dengan aktivitas rendah dan untuk siswa dengan kategori aktivitas belajar matematika tinggi dan sedang, model pembelajaran kooperatif tipe TSTS memberikan prestasi belajar lebih baik daripada model pembelajaran konvensional, sedangkan untuk kategori aktivitas rendah, model pembelajaran konvensional memberikan prestasi belajar yang lebih baik

daripada model pembelajaran kooperatif tipe TSTS. Model

pembelajaran

Aktivitas belajar siswa

(24)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 14 Surakarta pada kelas VII semester 2 tahun pelajaran 2009/ 2010.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara bertahap dari bulan Februari 2010 sampai

dengan bulan Juni 2010. Adapun tahapan-tahapan yeng telah penulis laksanakan adalah :

a. Tahap Persiapan

Pada tahap ini penulis melakukan kegiatan antara lain:

1) Permohonan pembimbing skripsi. 2) Pengajuan proposal

3) Penyusunan instrumen penelitian yaitu tes prestasi belajar dan angket 4) Pemohonan ijin penelitian di SMP Negeri 14 Surakarta.

Tahap persiapan dilaksanakan pada bulan Februari - April 2010.

b. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini penulis melakukan penelitian yaitu

1) Pengujian kondisi awal dari kelas kontrol dan kelas eksperimen untuk mengetahui apakah kelas kontrol dan kelas eksperimen dalam keadaan seimbang.

2) Pengajaran di kelas kontrol dan kelas eksperimen di SMP Negeri 14 Surakarta pada bulan April – Mei 2010.

3) Uji coba instrumen pada sekolah yang mempunyai kondisi yang sama atau hampir sama dengan subjek yang akan dikenai penelitian. Uji coba Tes Prestasi dilaksanakan di SMP Negeri 16 Surakarta pada tanggal 24 Mei 2010.

4) Menentukan butir soal angket dan tes prestasi belajar yang memenuhi syarat instrumen.

(25)

5) Pelaksanaan tes di SMP Negeri 14 Surakarta pada kelas kontrol dan kelas ekperimen. Tes prestasi belajar dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2010.

c. Tahap Penyelesaian

Pada tahap ini penulis melakukan pengolahan data yang diperoleh dari hasil penelitian, selanjutnya disusun laporan penelitiannya sesuai dengan pengolahan data.

B. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu karena tidak dilakukan kontrol pada semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari

variabel-variabel yang diteliti. Hal ini sesuai dengan pendapat Budiyono (2003 : 82) bahwa, “Tujuan penelitian eksperimental semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasikan semua variabel yang relevan”.

Manipulasi variabel dalam penelitian ini dilakukan pada variabel bebas yaitu pembelajaran matematika dengan Model Pembelajaran TSTS pada kelas eksperimen dan pembelajaran dengan Model Pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. Untuk variabel bebas yang lain yaitu Aktivitas belajar matematika siswa dijadikan sebagai variabel yang ikut mempengaruhi variabel terikat yaitu prestasi belajar siswa. Selain dua variabel tersebut, tidak dilakukan manipulasi terhadap variabel lain.

2. Rancangan Penelitian

Pada penelitian ini digunakan 2 variabel bebas yaitu model pembelajaran dan aktivitas belajar matematika siswa. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif TSTS dan model pembelajaran

(26)

aktivitas tinggi, sedang, dan rendah. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan rancangan faktorial sederhana 2  3 sebagai berikut.

Tabel 3.1 Rancangan Penelitian

Aktivitas belajar (B)

Model Pembelajaran (A)

Tinggi (b1) Sedang (b2) Rendah (b3)

TSTS (a1) ab11 ab12 ab13

Konvensional (a2) ab21 ab22 ab23

dengan :

a1 : Pembelajaran matematika dengan Model Pembelajaran TSTS

a2 : Pembelajaran matematika dengan Model Pembelajaran Konvensional b1 : Aktivitas belajar matematika siswa tinggi

b2 : Aktivitas belajar matematika siswa sedang b3 : Aktivitas belajar matematika siswa rendah

3. Pelaksanaan Eksperimentasi

Pelaksanaan ekperimentasi terdiri dari beberapa hal berikut : a. Pengujian keseimbangan.

Sebelum diberi perlakuan, terlebih dahulu dilihat kondisi awal dari sampel penelitian yang akan dikenai perlakuan baik dari kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Tujuannya untuk mengetahui apakah kondisi awal kedua kelompok tersebut dalam keadaan seimbang, sehingga apabila terjadi perubahan setelah eksperimen hanya disebabkan karena perlakuan, bukan karena faktor yang lain. Data yang digunakan untuk uji keseimbangan adalah nilai rapor mata pelajaran matematika kelas VII Semester I tahun pelajaran 2009/2010. b. Pelaksanaan pembelajaran di kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Pada kelompok eksperimen diberikan perlakuan khusus yaitu pembelajaran matematika dengan Model Pembelajaran TSTS sedangkan pada

(27)

c. Pelaksanaan tes.

Pada akhir penelitian kedua kelompok tersebut diukur dengan menggunakan alat ukur yang sama, yaitu soal tes prestasi belajar matematika pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat. Hasil pengukuran tersebut kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan tabel uji statistik yang digunakan.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Budiyono (2004: 2) mengemukakan bahwa populasi adalah keseluruhan

objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 14 Surakarta kelas VII semester 2 tahun pelajaran 2009/2010 yang terdiri dari 5 kelas dengan jumlah 180 siswa, yaitu kelas VII-A, VII-B, VII-C, VII-D, VII-E.

2. Sampel

Sebagian populasi yang diambil untuk diteliti tersebut dinamakan sampel. Suharsimi Arikunto (2002: 109) menyatakan bahwa, “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Dalam penelitian sampel berasal dari dua kelas yang ada di SMP Negeri 14 Surakarta yaitu kelas VII-A sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-C sebagai kelas kontrol. Hasil penelitian terhadap sampel ini akan digunakan untuk melakukan generalisasi terhadap seluruh populasi yang ada.

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster

(28)

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Variabel Penelitian a. Variabel Bebas

1) Model Pembelajaran a) Definisi Operasional : Model Pembelajaran adalah keseluruhan

rangkaian yang dimulai dari pendahuluan, pengelolaan sampai dengan evaluasi pembelajaran oleh pendidik dengan menggunakan strategi, pendekatan dan metode tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran. b) Skala Pengukuran : Nominal

c) Simbol : A

d) Indikator : Perlakuan terhadap kelas eksperimen dengan Model Pembelajaran kooperatif tipe TSTS dan kelas kontrol dengan Model Pembelajaran Konvensional.

2) Aktivitas belajar Matematika

a) Definisi Operasional : Aktivitas belajar matematika adalah kegiatan siswa dalam belajar matematika pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat, baik di sekolah maupun di rumah. Kegiatan aktivitas belajar disini meliputi kegiatan bertanya, mengeluarkan pendapat, mendengarkan, mencatat, berdiskusi, mengerjakan latihan soal, mengerjakan tugas rumah, mempersiapkan materi yang akan dipelajari, dan mempelajari kembali catatan.

b) Skala pengukuran : Skala interval yang diubah ke dalam skala ordinal yang terdiri dari tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah.

c) Simbol : B

d) Indikator : Skor angket aktivitas belajar matematika siswa dengan pembagian skor sebagai berikut :

(1) Aktivitas belajar matematika tinggi, jika skor (X) X + s

(2) Aktivitas belajar matematika sedang, jika X - s  skor (X)  X + s

(3) Aktivitas belajar matematika rendah, jika skor (X)  X - s

Keterangan:

X : Nilai aktivitas belajar tiap responden

(29)

X

: Rata-rata dari nilai aktivitas belajar seluruh sampel s : Standar deviasi dari seluruh sampel

(Suharsimi Arikunto, 2002: 263)

b. Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika. 1) Definisi Operasional : Prestasi belajar matematika adalah nilai tes

prestasi belajar yang diperoleh siswa dalam suatu proses pembelajaran matematika pada materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat . 2) Skala Pengukuran : Skala interval

3) Indikator : Nilai tes prestasi belajar matematika pada materi Keliling dan

Luas Segitiga dan Segi Empat. 4) Simbol : AB

2. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini harus ditentukan cara mengukur variabel

penelitian dan cara menentukan alat pengumpulan data. Untuk mengukur variabel diperlukan instrumen yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data. Adapun metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini ada tiga macam yaitu metode dokumentasi, metode angket, dan metode tes yang dijelaskan sebagai berikut.

a. Metode Dokumentasi

Menurut Budiyono (2003: 54), “Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan melihatnya dalam dokumen-dokumen yang telah ada”. Dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data yang berupa nilai rapor mata pelajaran Matematika kelas VII Semester I tahun pelajaran 2009/2010. Data yang diperoleh digunakan untuk menguji keseimbangan rataan kondisi awal kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

b. Metode Tes

(30)

mengukur keterampilan, pengetahuan, intelejensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tes yang dibuat dalam penelitian ini berisi tentang materi Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat .

Langkah-langkah dalam menyusun tes prestasi belajar terdiri dari: 1) Membuat kisi-kisi tes.

2) Menyusun soal-soal tes. 3) Memvalidasi isi butir tes. 4) Merevisi butir tes.

5) Mengadakan uji coba tes.

6) Menguji daya beda, tingkat kesukaran dan reliabilitas tes. 7) Menentukan butir tes yang dapat digunakan.

c. Metode Angket

Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 128) angket atau kuesioner adalah

sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal lain yang ia ketahui.

Langkah-langkah dalam menyusun angket terdiri dari: 1) Membuat kisi-kisi angket.

2) Menyusun angket.

3) Memvalidasi isi butir angket. 4) Merevisi butir angket.

5) Mengadakan uji coba angket.

6) Menguji konsistensi internal dan reliabilitas angket. 7) Menentukan butir angket yang dapat digunakan.

Angket yang digunakan dalam penelitian ini termasuk dalam jenis angket langsung yang tertutup dalam bentuk pilihan ganda. Pemberian skornya menurut Suharsimi Arikunto (2002: 215) dengan kriteria sebagai :

1) Pemberian skor untuk item positif : Skor 4 untuk alternatif jawaban Selalu Skor 3 untuk alternatif jawaban Sering

(31)

2) Pemberian skor untuk item negatif : Skor 1 untuk alternatif jawaban Selalu Skor 2 untuk alternatif jawaban Sering Skor 3 untuk alternatif jawaban Jarang Skor 4 untuk alternatif jawaban Tidak Pernah

3. Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat untuk mengumpulkan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket aktivitas belajar matematika siswa dan tes untuk memperoleh data tentang prestasi belajar matematika. Sebelum

digunakan sebagai alat pengumpulan data, angket tersebut harus memenuhi persyaratan meliputi: validitas isi, memiliki konsistensi internal dan reliabilitas sedangkan tes tersebut harus memenuhi persyaratan meliputi: validitas isi, daya beda butir soal, tingkat kesukaran dan reliabilitas yang dilakukan dengan cara

melakukan try out (uji coba). a. Tes Prestasi Belajar

1) Validitas Isi

Suatu instrumen valid menurut validitas isi apabila isi instrumen tersebut telah merupakan sampel yang representatif dari keseluruhan isi yang akan diukur. Untuk uji validitas isi ini dilakukan dengan langkah-langkah seperti yang dikemukakan Crocker dan Algina dalam Budiyono (2003: 60) sebagai berikut:

a) Mendefinisikan domain kerja yang akan diukur (membuat kisi-kisi)

Jahja Umar dkk (1998: 37) menyebutkan beberapa kriteria penelaahan butir soal pilihan ganda antara lain :

(1). Segi materi

(a) Soal sesuai dengan indikator.

(b) Hanya ada satu jawaban yang paling tepat. (2). Segi konstruksi

(a) Pokok soal dirumuskan dengan singkat dan jelas

(b) Pokok soal bebas dari pernyataan yang dapat menimbulkan

penafsiran ganda.

(32)

(3). Segi bahasa

(a) Soal menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

(b) Soal menggunakan bahasa yang komunikatif.

(c) Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat

b) Membentuk sebuah panel yang ahli (qualified) dalam domain-domain tersebut.

c) Menyediakan kerangka terstruktur untuk proses pencocokan butir-butir soal dengan domain performans yang terkait (membuat lembar validasi atau

lembar penelaahan).

d) Mengumpulkan data dan menyimpulkan berdasar data yang diperoleh dari proses pencocokan pada langkah (c)

Budiyono (2003: 59) menyatakan bahwa untuk menilai apakah suatu

instrumen mempunyai validitas yang tinggi, yang biasanya dilakukan adalah melalui expert judgement (penilaian yang dilakukan oleh para pakar). Para penilai menilai apakah masing-masing butir tes yang telah disusun cocok atau relevan dengan kisi- kisi yang ditentukan. Dalam penelitian ini pengumpulan data dan penyimpulan data dilakukan oleh para pakar yaitu dua orang dosen Pendidikan Matematika FKIP UNS.

2) Daya Beda Butir Soal

Sebuah instrumen terdiri dari butir-butir instrumen yang mengukur suatu hal yang sama dan kecenderungan yang sama pula. Ini berarti harus ada korelasi positif antara masing-masing butir tersebut. Indeks daya beda butir soal dapat dilihat dari korelasi antara skor butir tersebut dengan skor totalnya. Indeks daya beda dapat dicari dengan menggunakan rumus korelasi momen produk dari Karl Pearson sebagai berikut :

: Indeks daya beda butir soal untuk butir ke-i

xy

(33)

: Banyaknya subjek yang dikenai tes : Skor untuk butir ke–i

: Total skor dari subjek

Jika indeks daya beda pada butir ke-i kurang dari 0.3 maka butir tersebut harus dibuang.

(Budiyono, 2003: 65)

3) Tingkat Kesukaran

Menurut Asmawi Zainul (1994: 157) menyatakan bahwa tingkat kesukaran butir soal ialah proporsi peserta tes menjawab benar terhadap butir soal

tersebut. Rumus untuk menghitung tingkat kesukaran adalah sebagai berikut:

dengan = tingkat kesukaran butir soal

Tingkat kesukaran butir soal dan perangkat soal dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

0.00-0.25 : sulit 0.26-0.75 : sedang 0.76-1.00 : mudah

Pada penelitian ini butir soal dan perangkat soal yang baik memiliki tingkat kesukaran 0.26 - 0.75.

(Asmawi Zainul,1994: 157) 4) Uji Reliabilitas

Budiyono (2003: 65) menyatakan bahwa suatu instrumen disebut reliabel apabila hasil pengukuran dengan alat tersebut adalah sama atau hampir sama jika sekiranya pengukuran tersebut dilakukan pada orang yang sama pada waktu yang berlainan atau pada orang yang berlainan (tetapi memiliki kondisi yang sama) pada waktu yang sama atau pada waktu yang berlainan.

Pada penelitian ini tes prestasi belajar yang digunakan adalah tes obyektif, dengan setiap jawaban benar diberi skor 1 dan setiap jawaban salah diberi skor 0. Sehingga untuk menghitung indeks reliabilitas tes ini digunakan rumus dari Kuder-Richardson (KR–20) sebagai berikut :

(34)

Keterangan:

: Indeks reliabilitas instrumen

: Banyaknya instrumen

: Proporsi banyaknya subjek yang menjawab benar pada butir ke-i

: 1– pi , i =1,2,3...n

: Variansi total

Dalam penelitian ini suatu instrumen dikatakan reliabel jika  0.7

(Budiyono, 2003: 69) b. Angket

1) Validitas Isi

Pada penelitian ini uji validitas yang dilakukan adalah uji validitas isi, langkah-langkah yang dilakukan dalam uji validitas angket adalah

a) Mendefinisikan domain kerja yang akan diukur, antara lain : (1). Kesesuaian butir angket dengan kisi-kisi.

(2). Bahasa yang digunakan tidak menimbulkan penafsiran ganda. (3). Bahasa yang digunakan mudah dipahami.

(4). Kesesuiaan dengan tahap perkembangan siswa. (5). Kesesuaian penulisan dengan EYD.

b) Membentuk sebuah panel yang ahli (qualified) dalam domain-domain tersebut.

c) Menyediakan kerangka tersetruktur untuk proses pencocokan butir-butir soal dengan domain performans yang terkait (membuat lembar validasi atau lembar penelaahan).

d) Mengumpulkan data dan menyimpulkan berdasar data yang diperoleh dari proses pencocokan pada langkah (c)

Budiyono (2003: 59) menyatakan bahwa untuk menilai apakah suatu instrumen mempunyai validitas yang tinggi, yang biasanya dilakukan adalah melalui expert judgement (penilaian yang dilakukan oleh para pakar). Penelaahan

(35)

dilakukan oleh pakar dalam hal ini adalah dua orang dosen Pendidikan Matematika FKIP UNS. Langkah berikutnya yaitu para penilai menilai apakah masing-masing butir angket yang telah disusun cocok atau relevan dengan kisi- kisi yang ditentukan.

2) Konsistensi Internal

Konsistensi internal butir angket dapat dilihat dari korelasi antara skor butir butir tersebut dengan skor totalnya. Untuk menghitung konsistensi butir angket digunakan rumus korelasi momen produk dari Karl Pearson sebagaimana menghitung daya beda tes prestasi.

3) Uji Reliabilitas

Pada penelitian ini, untuk uji reliabilitas angket digunakan rumus Alpha, sebab skor butir angket bukan 1 dan 0. Adapun rumus Alpha yang dimaksud adalah sebagai berikut :

r11 =

n

n−1 1− Si2 St2

Keterangan:

: Indeks reliabilitas instrumen

: Banyaknya butir instrumen

Si2 : Variansi butir ke-i, i = 1, 2, 3, 4,...,n

St2 : Variansi skor- skor yang diperoleh subyek uji coba

Dalam penelitian ini suatu instrumen dikatakan reliable jika  0.70

(Budiyono, 2003: 70)

E. Teknik Analisis Data 1. Uji Keseimbangan Rata-rata

Uji ini dilakukan pada saat kelompok eksperimen dan kelompok kontrol belum dikenai perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelompok

tersebut seimbang. Data yang digunakan adalah nilai rapor Semester I SMP kelas VII. Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rataan yang berarti atau tidak dari kedua sampel penelitian. Sebelum dilakukan perhitungan

11

r

n

11

(36)

diuji terlebih dahulu apakah kedua sampel berdistribusi normal. Statistik uji yang digunakan dalam uji keseimbangan rata-rata adalah uji-t, yaitu :

a. Menentukan hipotesis

(kedua populasi seimbang)

(kedua populasi tidak seimbang)

b. Tingkat signifikansi : s12 : Variansi dari kelas eksperimen

s22 : Variansi dari kelas kontrol n1 : Cacah anggota kelas eksperimen n2 : Cacah anggota kelas kontrol

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, sebelum itu harus dilakukan uji normaitas dan uji homogenitas sebagai persyaratan menggunakan analisis variansi dua jalan.

(37)

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Pada penelitian ini, untuk uji normalitas digunakan metode Lilliefors. Adapun prosedur ujinya adalah sebagai berikut :

1) Hipotesis

H0 : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal

2) Tingkat signifikansi :  = 0.05

3) Statistik uji

L = MaksF(zi)  S(zi) dengan :

L = Koefisien Liliefors dari pengamatan

𝑧𝑖 = Skor standar, untuk zi = ;

s = Standar deviasi

F(zi) = P(Z  zi) ; Z ~ N (0,1)

S(zi) = ; Proporsi banyaknya Z  zi terhadap banyaknya zi.

Xi = Skor responden

X

= Rataan sampel 4) Daerah kritik

DK = {LL  L;n} dengan n adalah ukuran sampel

Untuk beberapa dan n, nilai L;n dapat dilihat pada tabel nilai kritik uji

Lilliefors. 5) Keputusan uji

H0 ditolak jika L  DK atau H0 diterima jika L  DK

(Budiyono, 2004: 170-172)

s X Xi

n f

n

i i

1

(38)

b. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk menguji apakah populasi penelitian mempunyai variansi yang sama. Pada penelitian ini, untuk uji homogenitas digunakan metode Bartlett dengan statistik uji chi kuadrat, sebagai berikut :

1) Hipotesis

H0 : 12 = 22 = 32=…..= k2 (populasi-populasi homogen) H1 : tidak semua variansi sama (populasi-populasi tidak homogen)

2) Tingkat signifikansi :  = 0.05

N : Banyaknya seluruh pengukuran

nj : Banyaknya pengukuran pada sampel ke-j

C = 1 +

Untuk beberapa dan (k-1), nilai 2;k-1 dapat dilihat pada tabel nilai chi

(39)

3. Uji Hipotesis

Untuk pengujian hipotesis digunakan analisis variansi dua jalan 2 x 3 dengan sel tak sama.

Model Data

ijk i j ij ijk

X          

dengan :

Xijk = Data (nilai) ke-k pada baris ke-i dan kolom ke-j

i = 1,2 dengan

i = 1 berarti pembelajaran dengan menggunakan model TSTS

i = 2 berarti pembelajaran dengan menggunakan model

Konvensional.

j = 1, 2, 3 dengan

j = 1 berarti aktivitas belajar matematika tinggi

j = 2 berarti aktivitas belajar matematika sedang

j = 3 berarti aktivitas belajar matematika rendah

k = 1, 2, 3, …,nij (banyaknya data amatan pada sel ij)

 = Rerata dari seluruh data (grand mean)

i = Efek faktor A ke-i pada variabel terikat

j = Efek faktor B ke-j pada variabel terikat

ij = Kombinasi efek baris ke-i dan kolom ke-j pada variabel terikat

(40)

Tabel 3.2. Tabel Rataan dan Jumlah Rataan

Faktor B

Faktor A b1 b2 b3 Total

a1 ab11 ab12 ab13 A1

a2 ab21 ab22 ab23 A2

Total B1 B2 B3 G

dengan :

a1 : Pembelajaran matematika dengan model TSTS

a2 : Pembelajaran matematika dengan model Konvensional b1 : Aktivitas belajar matematika siswa tinggi

b2 : Aktivitas belajar matematika siswa sedang b3 : Aktivitas belajar matematika siswa rendah A1 : Jumlah data pada baris ke-1

A2 : Jumlah data pada baris ke-2 B1 : Jumlah data pada kolom ke-1

B2 : Jumlah data pada kolom ke-2 B3 : Jumlah data pada kolom ke-3 G : Jumlah seluruh data amatan

Prosedur dalam pengujian menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, yaitu:

a. Hipotesis :

H0A : i = 0 untuk setiap i = 1, 2 (tidak ada perbedaan efek antara

model pembelajaran terhadap prestasi belajar)

H1A : ada i yang tidak sama dengan nol (ada perbedaan efek antara

model pembelajaran terhadap prestasi belajar)

H0B : j = 0 untuk setiap j = 1, 2, 3 (tidak ada perbedaan efek antara

(41)

(ada perbedaan efek antara aktivitas belajar matematika siswa terhadap prestasi belajar)

H0AB :

 

 ij = 0 untuk setiap i = 1, 2 dan j = 1, 2, 3 (tidak ada interaksi

antara model pembelajaran dengan aktivitas belajar matematika siswa)

H1AB : ada

 

 ij yang tidak sama dengan nol (ada interaksi antara

model pembelajaran dengan aktivitas belajar matematika siswa)

b. Tingkat signifikansi

Dipilih tingkat signifikansi  = 0,05

c. Komputasi

Pada analisis variansi dua jalan dengan frekuensi sel tak sama didefinisikan notasi-notasi sebagai berikut :

nij = banyaknya data amatan pada sel ij

nh

= rataan harmonik frekuensi seluruh sel =

N = banyaknya seluruh data amatan SSij =

=

jumlah kuadrat deviasi data amatan pada sel-ij

Xijk2

Didefinisikan besaran besaran (1), (2), (3), (4), dan (5) sebagai berikut:

(42)

Selanjutnya didefinisikan beberapa jumlah kuadrat yaitu:

Derajat kebebasan untuk masing–masing jumlah kuadrat tersebut :

Berdasarkan jumlah kuadrat dan derajat kebebasan masing-masing, diperoleh rataan kuadrat sebagai berikut:

d. Statistik uji

(43)

Tabel 3.3 Ringkasan Anava Dua Jalan

Sumber Variansi JK dk RK Fobs F P

A (Model mengajar) JKA p – 1 RKA Fa F* <

atau >

B (Aktivitas belajar) JKB q – 1 RKB Fb F* <

atau >

Interaksi (AB) JKAB (p-1)(q-1) RKAB Fab F* <

atau >

Galat JKG N – pq RKG

Total JKT N – 1

Keterangan : P adalah probabilitas amatan; F* adalah nilai F yang diperoleh dari tabel.

e. Daerah Kritik

1) Untuk Fa adalah DK = { Fa | Fa > F; p-1, N-pq }

2) Untuk Fb adalah DK = { Fb | Fb > F; q-1, N-pq }

3) Untuk Fab adalah DK = { Fab | Fab > F; (p-1)(q-1), N-pq }

f. Keputusan uji

1) H0A ditolak jika Fa  DK.

2) H0B ditolak jika Fb  DK.

3) H0AB ditolak jika Fab  DK.

(Budiyono, 2004: 227-230)

4. Uji Komparasi Ganda

Untuk mengetahui perbedaan rerata setiap pasangan baris, setiap pasangan kolom dan setiap pasangan sel dilakukan uji komparasi ganda dengan menggunakan metode Scheffe. Uji komparasi ganda dilakukan apabila H0 ditolak.

Adapun langkah-langkah untuk melakukan uji Scheffe adalah sebagai berikut: a. Identifikasi semua pasangan komparasi yang ada

b. Menentukan hipotesis yang bersesuaian dengan komparasi c. Menentukan tingkat signifikansi

(44)

1) Komparasi Rataan Antar Baris

Karena dalam penelitian ini hanya terdapat 2 variabel model pembelajaran maka jika H0A ditolak tidak perlu dilakukan komparasi pasca anava antar baris. Untuk mengetahui model pembelajaran manakah yang lebih baik cukup dengan membandingkan besarnya rerata marginal dari masing-masing model pembelajaran. Jika rataan marginal dari model pembelajaran kooperatif tipe TSTS lebih besar dari rataan marginal dari model pembelajaran konvensional berarti model pembelajaran kooperatif tipe TSTS lebih baik daripada model pembelajaran konvensional atau

sebaliknya.

2) Komparasi Rataan Antar Antar Kolom

Uji Scheffe untuk komparasi rataan antar kolom adalah

F.i-.j =

Keterangan :

F.i-.j : Nilai Fobs pada pembandingan kolom ke-i dan kolom ke-j

: Rataan pada kolom ke-i

: Rataan pada kolom ke-j

RKG : Rataan kuadrat galat, yang diperoleh dari perhitungan analisis variansi

: Ukuran sampel kolom ke-i

: Ukuran sampel kolom ke-j

Daerah kritik untuk uji itu adalah DK = { F.i-.j | F.i-.j > (q-1)F; q-1, N-pq }

3) Komparasi Rataan Antar Sel Pada Kolom Yang Sama

(45)

Keterangan :

Fij-kj : Nilai Fobs pada pembandingan rataan pada sel-ij dan rataan pada sel-kj

: Rataan pada sel-ij

: Rataan pada sel-kj

RKG : Rataan kuadrat galat, yang diperoleh dari perhitungan analisis

variansi

: Ukuran sel-ij

: Ukuran sel-kj

Daerah kritik untuk uji itu adalah DK = {F ij-kj  Fij-kj > (pq-1)F; pq-1, N-pq}

4) Komparasi Rataan Antar Sel Pada Baris Yang Sama

Uji Scheffe untuk komparasi rataan antar sel pada baris yang sama adalah

Fij-ik =

Keterangan :

Fij-ik : Nilai Fobs pada pembandingan rataan pada sel-ij dan rataan pada

sel-ik

: Rataan pada sel-ij

: Rataan pada sel-ik

RKG : Rataan kuadrat galat, yang diperoleh dari perhitungan analisis variansi

: Ukuran sel-ij

: Ukuran sel-ik

Daerah kritik untuk uji itu adalah DK = {F ij-ik  Fij-ik >(pq-1)F; pq-1, N-pq}

e Menentukan keputusan uji untuk setiap pasangan komparasi rerata f. Menyusun rangkuman analisis.

Gambar

Tabel 2.1
Tabel 2.2 Rangkuman Rumus Keliling dan Luas Segitiga dan Segi Empat
Gambar 1: Paradigma Penelitian
Tabel 3.1 Rancangan Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada perbedaan efek antara model pembelajaran Jigsaw dan Tutor Sebaya terhadap prestasi belajar matematika, perbedaan prestasi

Hal ini memberi arti bahwa pada setiap kategori kreativitas siswa (tinggi, sedang dan rendah), strategi pembelajaran CTL memiliki hasil belajar matematika yang lebih

Dengan demikian dari penjelasan analisis hipotesis keempat dapat disimpulkan bahwa pada kategori kreativitas belajar matematika tinggi, sedang maupun rendah,

Pada model pembelajaran TSTS dengan pendekatan matematika realistik, siswa dengan aktivitas belajar tinggi, sedang dan rendah mempunyai prestasi belajar yang sama, hal

Pada masing-masing aktivitas belajar, baik aktivitas tinggi, sedang maupun rendah, prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan kubus dan balok, model

Pada model pembelajaran TSTS dengan pendekatan matematika realistik, siswa dengan aktivitas belajar tinggi, sedang dan rendah mempunyai prestasi belajar yang sama, hal

Sedangkan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai minat belajar tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai minat belajar sedang maupun rendah dan

Dari hasil analisis disimpulkan: 1 CTL menghasilkan prestasi belajar matematika lebih baik dibandingkan ekspositori pada materi segi empat, 2 Prestasi belajar matematika siswa