Hak Dasar Anak yang Terabaikan
Bagian I. Pengantar
Latar Belakang
Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Anak, Yohana Yembise, anak Indonesia memiliki jumlah yang amat besar yaitu 34% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 82 juta orang. Yang nantinya mereka akan menjadi sumber daya manusia yang berkarakter kuat, menguasai ilmu pengetahuan unggul dan berdaya saing. Dan kelak akan memimpin negeri kita Indonesia.
Namun masalah-masalah tentang anak masih banyak terjadi di Indonesia. Terutama masalah tentang banyaknya pekerja anak dibawah umur, banyak perdagangan anak, kekerasan pada anak, dan pengasuhan yang tidak optimal, NAPZA, anak korban pornografi. Masalah anak ini masih dinomer sekiankan oleh masyarakat maupun pemerintah. Mereka (Pemerintah) berpikir lebih banyak hal yang harus dipecahkan seperti utang luar negeri , konflik di daerah, perebutan kursi jabatan dan hal lainnya yang dinilai lebih penting dari pada penegakan hak anak.
dengan realita di lapangan, hak anak sering dikesampingkan oleh orang-orang dewasa. Terutama tentang hak dasar anak yang benar-benar dilupakan secara sadar ataupun tidak oleh orang tua.
Ada empat hak dasar anak menurut Seto Mulyadi :
1. Hak Hidup Lebih Layak
Berhak atas kasih sayang orang tua, asi ekslusif, akte kelahiran,
2. Hak Tumbuh dan Berkembang
Hak atas pendidikan yang layak, istirahat, makan makanan yang bergizi, tidur / istirahat, belajar, bermain,
3. Hak Perlindungan
Di lindungi dari kekerasan dalam rumah tangga, dari pelecehan seksual, tindak kriminal, dari pekerjaan layaknya orang dewasa,
4. Hak Berpartisipasi / Hak Partisipasi
Setiap anak berhak untuk menyampaikan pendapat, punya suara dalam musyawarah keluarga, punya hak berkeluh kesah atau curhat, memilih pendidkan sesuai minat dan bakat.
bibi seringkali mengabaikan hak-hak dasar. Hak berpendapat contohnya, orang tua dalam mengambil keputusan di keluarga tidak selalu melibatkan anak-anaknya untuk bermusyawarah. Orang tua seringkali mengambil keputusan secara sepihak. Hal tersebutlah yang sering menimbulkan kecenderungan anak menutup diri dengan orang tua. Karena anak tidak diajak untuk bermusyawarah dalam keluarga untuk menyelesaikan masalah. Tiba-tiba saja orang tua sudah membuat keputusan yang sering kali keputusannya dipaksakan.
Hal inilah yang membuat saya resah dan mengangkat masalah ini sebagai isu yang saya teliti dalam mata kuliah ini. Saya menganggap bahwa hak yang sederhana saja kadang orang tua tidak terlalu paham dan bahkan tidak perduli. Mereka menganggap seolah-olah anak hanya harus tunduk pada orang tua, karena pilihan orang tualah yang terbaik, pilihan orang tualah yang akan menjadikan anaknya menjadi sukses. Padahal sukses itu bisa dicapai dengan niat dan bakat dari anak sendiri.
Bagian II. Hasil Analisis
A. Non-PAR
Kasus tentang pelanggaran hak dasar anak ini berawal dari lingkungan sekitar rumah saya di Kabupaten Purworejo, Kelurahan Kledung Kradenan, RT01/RW05. Di daerah saya ini banyak teman sebaya ataupun adik-adik yang mengeluh tentang perlakuan orang tuanya yang terlalu mengekang. Metode yang saya gunakan untuk mendapat informasi dari menggunakan wawancara. Wawancara saya kira lebih fleksibel untuk digunakan karena kita jadi bisa lebih dekat, santai dan lebih mengerti informan kita.
Transkrip wawancara dengan anak-anak:
Nailah (8 Tahun)
Dia sendiri adalah sepupu saya sebenarnya. Yang saya lakukan bukanlah upaya wawancara formal mengingat dia masih di usia anak-anak. Dia hanya bercerita santai dengan saya
“Mbak Dilla, Lala1 tuh capek soalnya sekolah di SD IT (Sekolah Dasar Islam
Terpadu) sampe sore, sampe jam 2 siang. Pengennya sekolah di SD yang biasa
yang pulang jam 10 kayak temen-temen disini. Tapi nggak berani bilang sama
bapak sama ibuk. Soalnya takut dimarahin nanti. Di sekolah capek belajar terus,
Lala kan juga kepengin main.” - Nailah
Begitulah kurang lebih keluh-kesahnya dengan saya. Saya mengetahui betul setiap hari dia harus bersekolah pukul 7 pagi dan pulang pukul 2 siang. Hal ini terjadi karena ibu dan ayahnya yang bekerja sebagai PNS yang mengingat jam pulangnya yang sore.
Shara (16 Tahun)
Wawancara dengannya sendiri, dia bercerita tentang perceraian orang tuanya yang membuatnya terpukul. Dia sekarang tinggal dengan ibunya. Dari sini hubungan dengan ayahnya ikut renggang karena ia di larang kontak dengan ayahnya. Ibunya selalu memarahinya bila ketahuan berkirim pesan singkat atau telefon dengan ayahnya. Sedang dia sendiri tidak tahu apa alasan ibunya melarangnya.
Andi (15 Tahun)
Masalah Andi ini hampir mirip dengan Shara. Dia adalah anak dari keluarga kurang mampu. Ibu dan Ayahnya hanya bekerja di luar negeri dan pulang 3-4 tahun sekali. Dan dia memiliki 2 adik yang masih kecil. Dia bercerita kalau Ayah dan Ibunya menjadi TKI di Malaysia dan karena tuntutan ekonomi, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Sudah dua tahun ini kedua orang tuanya tidak pulang. Selama orang tuanya di luar negeri tidak ada kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh orang tuanya. Ia merasa amat rindu dengan orang tuanya. komunikasi pun sulit ibunya hanya bisa menelfon seminggu sekali sedangkan ayahnya sendiri hanya bisa mengirim surat 3 bulan sekali. Apalagi adik-adiknya yang masih kecil dan membutuhkan lebih banyak kasih sayang orang tua. Melihat adiknya yang masih berusia 7 tahun dan 5 tahun. Dan mereka menjadi yatim piatu sosial2. Dia ingin orang tuanya bisa meluangkan
waktu berkualitas untuk dia dan adik-adiknya.
Selama di sini Andi dan adik-adiknya tinggal bersama neneknya. Dan saya sempat berbincang-bincang dengan neneknya. Menurut nenek Andi, akhir-akhir ini dia menjadi lebih pendiam, prestasinya juga agak menurun karena memikirkan orang tuanya disana.
Ervina (15 Tahun)
Ervina tinggal dirumah sendirian. Kadang tetangga termasuk saya berfikir kalau ibunya agak gila meninggalkan anaknya yang masih SMA dirumah sendiri.
22Punya orang tua, tapi ditinggal oleh kedua orang tuanya. Sehingga harus tinggal dengan saudara
Dia anak bungsu dari 6 bersaudara. Ayahnya sudah lama meninggal. Dan ibunya sekarang tinggal di Jakarta dikarenakan mengasuh anak dari kakaknya (keponakannya) yang masih kecil. Seperti kita ketahui biaya untuk menyewa asisten rumah tangga ataupun baby sister di Jakarta mahal. Jadi kakaknya tidak menyewa asisten rumah tangga ataupun baby sister.
Semenjak ibunya ke Jakarta ia sendiri yang bertanggung jawab atas semua yang ada dirumah dimulai dari bersih-bersih, masak, dan lain-lain. Menurutnya ini membuatnya mandiri bisa menangani masalah-masalah sendiri. tapi menurut saya dia jadi dewasa lebih dini.
Dia juga bercerita kalau sering rindu dengan ibunya, walaupun kadang senang juga karena dirumah bisa bebas. Ibunya sendiri pulang kadang 3 bulan sekali. Ervina merasa prihatin ibunya sudah tua (55 tahun). Yang harusnya istirahat malah harus mengasuh keponakannya. Dia khawatir juga akan kesehatan ibunya, kadang kalau pulang ibunya sering mengeluh kalau punggungnya sakit. Harapannya dengan ibunya adalah bisa berkumpul kembali bersama dirumah.
Individu Sebagai Satuan Identifikasi Sekaligus Sumber Masalah
dalam pengambilan keputusan. Seperti dalam kasus Nailah yang mengeluh tentang sekolahnya. Harusnya orang tua menanyakan terlebih dahulu apakah anak suka atau tidak bersekolah disitu. Apakah anak setuju atau tidak dengan keputusan orang tua. Kebanyakan orang tua berfikir bahwa anak pasti suka dengan pilihan mereka, pasti betah, dan pasti itu yang terbaik untuk anaknya.
Hal lain yang menjadi masalah adalah sikap anak yang tertutup menyebabkan sulitnya penyelesaian masalah ini. Dan seperti biasa anak-anak yang kesampingkan haknya itu merasa tidak memiliki hak suara ataupun kalau mereka bersuara mengungkapkan keinginannya untuk mendapat perhatian dari keluarga inti belum tentu didengar. Dan akhirnya mereka menjalankan apa yang orang tua inginkan walaupun dengan berat hati.
Terlihat juga pada kasus Shara yang ibunya tanpa alasan yang jelas melarangnya berkomunikasi dengan ayah kandungnya. Hal ini amatlah tidak benar, karena anak juga pasti akan rindu dengan ayahnya. Walaupun ayah dan ibunya bercerai dan dia ikut dengan ibunya bukan berarti hubungannya dengan ayahnya juga ikut putus. Kadang orang tua kita salah memahami ini. Menganggap kalau ayahnya akan membawa dampak buruk atau mengambil hak asuh dari ibunya. Padahal anak hanya ingin berkomunikasi sekedar melepas rindu. Si ibu kurang memberikan kepercayaan kepada anaknya.
Individu Sebagai Satuan Identifikasi, Sistem Sebagai Sumber
Terlihat pada kasus Andi yang ayah ibunya menjadi TKI dikarenakan masalah perekonomian mereka. Perekonomian yang sulit merupakan satu alasan yang sering digunakan oleh orang tua tentang pelanggaran hak anaknya. Banyak masalah bayi dibuang atau anak diterlantarkan dengan alasan tidak punya dana untuk menghidupinya. Sistem ekonomi di Indonesia yang masih merupakan negara berkembang, belum bisa memakmurkan rakyatnya.
Sistem UMR3 yang rendah di kota-kabupaten kecil juga menjadi masalah.
Upah di Purworejo yang tergolong kota kecil hanya Rp 900.000 untuk sekitar 12 jam kerja. Padahal kebutuhan makan sehari-hari kadang masih kurang, belum untuk kebutuhan sekolah anak. Sehingga orang tua kebanyakan harus mencari pekerjaan tambahan, yang menguras waktu bersama dengan anak. Karena kurangnya waktu bersama itu jadi perhatian dan kasih sayang yang tercurahkan untuk anak pun berkurang, hak dasar anak pun sering terabaikan.
Selain itu dalam kasus-kasus penelantaran anak, dan pembuangan bayi masalah perekonomianlah yang sering dijadikan alasan. Melihat hal ini pemerintah juga seakan-akan angkat tangan. Menganggap kalau masalah anak ini merupakan masalah mikro yang akan terselesaikan dengan sendirinya ketika masalah makro sudah terselesaikan. Pemerintah juga menganggap kalau masalah anak ini merupakan masalah intern yang merupakan tanggung jawab orang tua, diurus sendiri dan diselesaikan oleh orang tua masing-masing.
B.
PAR
Masalah sosial sebagai kondisi yang tidak diharapkan selalu mendorong adanya tindakan untuk melakukan perubahan dan perbaikan terhadap kondisi tersebut.[ CITATION Soe13 \l 1033 ] Oleh karena itu kan diperlukan perubahan untuk menghasilkan keadaan seperti yang diharapkan. Dalam penelitian yang saya melakukan upaya memberi masukan kepada narasumber saya. Masukan yang saya berikan ini dengan upaya pemecahan masalah hak dasar anak, walaupun harapan ideal dalam pemecahan masalah juga sulit untuk diwujudkan. Tapi masukan saya bisa dicoba di praktekan oleh masing-masing narasumber.
Setiap minggu saya pulang ke Purworejo saya berkunjung ke narasumber saya. Sekedar mengobrol-ngobrol santai seperti pada waktu wawancara santai. Dengan tak lupa memberikan masukan-masukan saya dengan harapan bisa merubah keadaan. Dan hak dasar mereka dapat terpenuhi.
Saya memberikan saran berupa upaya komunikasi yang harus dibangun lebih erat antara anak dan orang tua. Komunikasilah yang mengawali semua hubungan. Diharapkan dengan intensitas komunikasi yang mencukupi masing-masing pihak bisa saling mengerti dan memahami. Sehingga pemenuhan hak dasar anak bisa tercapai.
Membangun komunikasi ini juga membuat anak bisa mengungkapkan pendapat-pendapatnya.
Sedari tadi saya hanya membicarakan komunikasi. Nah, komunikasi yang saya maksud adalah seperti mengobrol santai di waktu senggang. Biasanya waktu-waktu santai ini pada sore hari atau setelah magrib. Di sela-sela menonton tv bangunlah obrolan-obrolan hangat yang akan membuat suasana mencair. Secara tidak langsung hal tersebut akan mempererat hubungan anak dan orang tua. Dan secara tidak lagsung juga memenuhi beberapa hak dasar anak seperti mendapat kasih sayang, mendapat perhatian, dan hak berpartisipasi.
Untuk permasalahan dengan Andi yang orang tuanya bekerja sebagai TKI saya belum bisa memberikan upaya penanganan masalah. Karena ada dilema, bila orang tuanya bekerja di Indonesia maka uang yang dihasilkan tidak cukup, dan kemungkinan akan memunculkan masalah lain seperti putusnya sekolah Andi karena dana yang tidak cukup. Tapi disisi lain dengan orang tuanya bekerja diluar negeri sehingga Andi tidak dapat merasakan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya juga menjadi masalah bagi psikologis Andi.
Bagian III. Refleksi
Setelah melakukan penelitian tentang masalah anak ini membuat saya berfikir, begitu kompleksnya masalah anak yang harus diselesaikan. Banyak orang menganggap ringan masalah anak. Namun bila ditelusuri lebih dalam hal tersebut rumit dan sulit untuk diselesaikan karena ada dilema. Bila masalah diselesaikan ada dampak lain yang ditimbulkan dari penyelesaian masalah itu.
Kesulitan yang saya alami adalah mewawancarai orang tua dari narasumber. Saya berkeinginan melihat masalah ini dari pandangan orang tua juga namun sulit. Masih sungkan dalam mewawancarai orang tua. Kadang orang tua juga tidak terlalu perduli dan bahkan tidak berkenan bila orang lain ikut masuk dalam keluarganya.
Awalnya aksiologi yang saya inginkan adalah mempertemukan keinginan antara orang tua dan anak, seperti menjadi penyambungnya. Namun itulah kesulitan disisi orang tua. Sehingga saya merubah aksiologi yang saya lakukan menjadi memberi masukan dari sisi anak saja.
Selain itu saya merasa dalam penyusunan laporan ini kata-katanya terlihat tidak linear hanya berputar-putar. Penyusunan kata-kata ini juga menjadi kesulitan lain. Kadang ingin langsung to the point, tapi setelah dibuat yang to the point
Saya juga tidak bisa memberikan data berupa foto karena narasumber saya tidak mau ada gambar dalam penelitian ini.
Bibliography
Siregar, B., & Kusumah, M. W. (1986). Hukum dan Hak-hak Anak. Jakarta: C.V. Rajawali.
Soetomo. (2013). Masalah Sosial dan Upaya Pencegahannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.