Judul : Opera Kecoa Penulis : N.Riantiarno
Opera Kecoa merupakan bagian kedua dari Trilogi Opera Kecoa yang terdiri dari 29 babak. Dengan berlatar tempat di Jakarta, konflik utama dalam drama ini adalah pergulatan orang-orang berstrata sosial rendah untuk bertahan hidup dan memperjuangkan nasib mereka. Mereka yang seakan-akan sudah digariskan untuk selalu kalah, berperang melawan orang orang yang berkuasa.
Ada beberapa tokoh penting dalam drama ini, yaitu Roima, seorang homoseksual dan kekasih warianya, Julini. Roima mencintai Julini, tapi juga memiliki keinginan untuk menjalin hubungan yang normal. Ketika mulai ada tanda-tanda kedekatan dirinya dengan Tuminah seorang PSK langganan pejabat yang juga teman lama mereka, Julini memergokinya dan sakit hati. Sayangnya, saat Roima hendak meminta maaf pada Julini, dia menemukan Julini sudah dalam keadaan sekarat akibat terkena peluru nyasar.
Ada pula tokoh yang menarik karena kegigihannya dalam membujuk orang-orang untuk membeli obat semprot anti kecoa, Tukang Sulap. Kecoa, yang merupakan simbol orang-orang dengan strata sosial rendah tadi, menurutnya sangat berbahaya dan harus dibasmi. Ia seolah perwujudan pemikiran para penguasa yang hendak memusnahkan “kecoa-kecoa” itu.
Judul : Aduh
Penulis : Putu Wijaya Sinopsis
Drama ini mengisahkan sekelompok orang yang sedang bekerja kemudian datang seseorang dengan keadaan sakit. Sekelompok orang tersebut menanyakan keadaan orang yang sakit itu, tetapi orang sakit itu hanya diam. Salah seorang dari kelompok pekerja itu ingin menolong, tetapi seorang yang lainnya tidak. Mereka ragu untuk menolong orang tersebut karena takut orang yang sakit hanya berpura-pura. Hal ini membuat sekelompok orang itu saling berdebat dan bertengkar. Kemudian orang yang sakit itu meninggal dan membuat sekelompok orang tersebut merasa menyesal.
Sepanjang hari hingga malam, sekelompok orang itu mencoba mengangkat mayat itu tetapi tak bisa. Kemudian mereka memutuskan untuk menunggu mayat itu hingga pagi. Saat pagi hari mereka berhasil mengangkat mayat itu untuk dikubur, tetapi di tengah perjalanan ada anjing yang menakuti mereka hingga membuat sekelompok orang itu kabur meninggalkan mayat. Mereka berlarian menjauhi anjing-anjing itu. Di antara sekelompok orang itu ada yang terluka dan saling mengaduh sehingga permasalahan di awal cerita terulang kembali.
Tanggapan
Penokohan dalam drama ini memang tidak jelas, misalnya dalam hal penamaan tokoh, umur, dan lingkungan sosial. Dialog yang diucapkan tokoh-tokoh pun bukanlah ekspresi dari watak-watak tokoh, sebab dialog dapat diucapkan siapa saja dalam kelompok itu. Tokoh protagonis dan antagonis tidak dikenal, pro dan kontra muncul secara spontan dalam kelompok, dan terhapus secara mendadak karena mencuatnya masalah yang lain.
Judul : Citra
Penulis : Usmar Ismail Sinopsis
Drama ini berisi kisah tentang Citra, gadis yang diangkat anak oleh keluarga Suriowinoto. Citra diam-diam menyimpan perasaan terhadap Harsono, kakak angkatnya. Walaupun Harsono selalu bersikap tidak baik kepadanya. Sutopo, yang merupakan saudara tiri Harsono, ternyata juga menaruh hati pada Citra.
Suatu saat, Harsono menyadari kecantikan Citra. Sikapnya pun berubah menjadi baik dan mulai merayu Citra. Citra yang sejak awal menyukai Harsono tentu membalas perhatian Harsono itu dengan bahagia, bahkan ia menyerahkan kesuciannya pada Harsono. Namun tiba-tiba Harsono meninggalkan Citra dan keluarganya untuk lari dengan seorang janda kaya, tanpa pernah tau bahwa Citra mengandung anaknya.
Untuk menjaga nama baik keluarga, Sutopo pun menikahi Citra. Namun pernikahan mereka tidak bahagia. Sutopo merasa bahwa Citra masih menaruh hati terhadap Harsono dan Citra mengira bahwa Sutopo menikahinya hanya atas dasar kasihan, bukan karena memang mencintainya. Kesalahpahaman itu terungkap ketika Harsono pulang setelah kematian istrinya untuk menjenguk Citra dan anak kandungnya yang ternyata telah meninggal. Harsono akhirnya berpamitan untuk pergi menebus dosa-dosanya selama ini dan ingin meluruskan kesalahpahaman antara Citra dan Sutopo agar mereka dapat melanjutkan kehidupan pernikahan dengan bahagia.
Tanggapan
Drama ini mengandung makna tentang balas budi dan pengorbanan seorang anak laki-laki yang merasa berhutang budi kepada bapak tirinya. Untuk membalas budi kepada orang yang sangat berjasa bagi kehidupannya, Sutopo rela untuk mengorbankan dirinya demi menutup aib keluarga yang membesarkannya tersebut. Termasuk menikahi perempuan yang, meskipun ia cintai, sebenarnya dihamili oleh kakak tirinya. Adapun pelajaran dari tokoh Harsono yang meninggalkan Citra demi seorang perempuan yang ternyata hanya
Judul : Malam Jahanam Penulis : Motinggo Boesje Sinopsis
Drama Malam Jahanam mengisahkan sebuah malam yang panjang di perkampungan nelayan. Masalah dimulai ketika Mat Kontan, lelaki yang senang mengoleksi burung dan terkenal senang memamerkan hartanya, mengetahui bahwa burung Beo kesayangannya mati. Mat Kontan pun marah dan mengajak Utai untuk menemaninya pergi ke dukun mencari tahu siapa pembunuh burungnya. Ia tidak peduli dengan keadaan anaknya yang sedang sakit parah.
Saat Mat Kontan pergi itulah, beberapa rahasia terungkap. Percakapan antara Soleman, sahabat Mat Kontan, dan Paijah, istri Mat Kontan, mengungkapkan hubungan terlarang antara mereka berdua. Anak yang selalu dibangga-banggakan oleh Mat Kontan pun ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak Soleman. Percakapan mereka juga yang akhirnya mengungkapkan bahwa Soleman yang telah membunuh burung Beo milik Mat Kontan.
Mat Kontan yang pulang dari dukun tidak membawa hasil apa-apa karena dukun itu ternyata sudah meninggal empat hari yang lalu. Mat Konta mulai hilang akal, ia menuduh Paijah yang membunuh burung itu. Untuk melindungi Paijah, akhirnya Soleman mengaku bahwa ia yang membunuh burung itu. Ia juga terpaksa mengakui semua perbuatan jahanamnya. Akhirnya Mat Kontan, Soleman dan Utai terlibat perkelahian. Soleman berhasil melarikan diri, namun Utai meninggal karena lehernya patah diserang oleh Soleman. Cerita berakhir dengan Mat Kontan yang kembali ke rumah dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa malam itu, disusul oleh kematian anaknya yang sudah tak tertolong karena sakit parahnya tak juga diobati.
Tanggapan
Sesuai dengan salah satu karakteristik drama realis, Malam Jahanam tidak memperindah maupun memperburuk sesuatu dari keadaan sebenarnya. Drama ini
Judul : Dr. Samsi Penulis : Andjar Asmara Sinopsis
Drama ini diawali dengan adegan seorang wanita bernama Sukaesih datang ke rumah sakit dengan membawa anaknya yang sedang sakit. Ia berusaha menemui Dr. Samsi melalui Leo, seorang juru rawat. Ketika Leo masuk memanggil Dr. Samsi, Sukaesih justru pergi meninggalkan anaknya di atas bangku di rumah sakit.
Sementara itu, Dr. Samsi yang tidak mau melukai hati istrinya dengan berita duka kematian anaknya akhirnya bersedia merawat anak yang ditinggalkan itu sebagai anaknya sehingga tidak melukai perasaan istrinya. Setelah dewasa, anak yang diberi nama Sugiat oleh Dr. Samsi ini menjadi seorang pengacara lulusan Inggris. Suatu hari, Leo datang ke rumah Dr. Samsi setelah tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama. Ia datang dengan tujuan memeras Dr. Samsi. Ia mengancam jika tidak mendapatkan uang sebesar sepuluh ribu, ia akan membeberkan rahasia yang sudah bertahun-tahun tertutup rapi kepada media dengan maksud merusak citra Dr. Samsi.
Dr. Samsi bermaksud menyicil uang itu namun Leo menolak karena ia menginginkan uang sepuluh ribu kontan. Terjadilah percekcokan yang berakibat terbunuhnya Leo. Kasus kematian Leo menyeret Sukaesih ke meja hijau. Tetapi kasusnya dimenangkan oleh Sugiat sehingga Sukaesih pun terbebas dari jeratan hukum. Ketika berbincang Sugiat berbincang dengan Sukaesih di rumahnya, Sugiat meletakkan tasnya di atas dipan. Kemudian tas itu tertinggal ketika ia meminta izin untuk pulang. Saat Sugiat hendak mengambil tasnya kembali, ia bertemu dengan ayahnya, Dr. Samsi. Kemudian Dr. Samsi menceritakan bahwa Sukaesih dan Sugiat adalah ibu dan anak yang terpisah sejak lama karena perbuatannya.
Tanggapan
Judul : A Midsummer Night’s Dream Penulis : William Shakespeare
A Midsummer Night’s Dream yang dipentaskan di Graha Bakti Budaya pada tanggal 14 November 2014, merupakan sebuah perayaan tiga puluh tahun Teater Sastra. Drama komedi karya Shakespeare yang ditulis sekitas tahun 1594 ini berbeda dengan drama komedi yang biasa dipentaskan oleh Teater Sastra, hampir tidak ada muatan permasalahan sosial yang ‘berat’. Permasalahan utama dalam drama ini adalah cinta, cinta yang pada awalnya membuat tokoh-tokohnya menderita namun akhirnya berbahagia.
Ada lima pasangan kekasih yang mewakili setiap golongan dengan hubungan percintaan yang berbda-beda jalannya. Ada cinta dalam istana antara Theseus, raja Athena, dan Hippolyta, ratu Amazon, yang cintanya cenderung bersifat politis. Mereka bersama karena Theseus telah mengalahkan kerajaan Hippolyta. Ada cinta dua pasangan remaja dari kalangan menengah, Lysander dan Hermia yang saling mencintai namun terhalang restu ayah Hermia, juga Demetrius dan Hermia, yang tadinya bertepuk sebelah tangan namun akhirnya saling mencintai karena ada bantuan makhluk supranatural.
Ada pula cinta antara raja jin, Oberon, dan ratu peri, Titania, yang penuh perseteruan dan membuat kekacauan di alam namun akhirnya kembali akur. Dimunculkan pula kisah cinta Pyramus dan Thisby yang berakhir tragis, namun diceritakan sebagai komedi lewat ‘drama dalam drama’ oleh sekelompok tukang di pesta pernikahan Theseus dan Hippolyta.
Lima kisah cinta yang berbeda ini merupakan lima alternatif yang mungkin terjadi dalam kisah cinta manusia. Mungkin ada orang-orang yang saling jatuh cinta karena alasan yang logis. Tapi ada juga yang berani melawan peraturan karena cinta yang tak dapat
dijelaskan dengan akal sehat. Ada cinta yang bertepuk sebelah tangan, namun pada akhirnya salah satu akan luluh karena cinta yang lainnya. Ada cinta yang berakhir bahagia meski diselingi dengan banyak pertengkaran, namun ada juga cinta yang akan kandas hanya karena kesalahpahaman.
Satu hal lagi yang dapat diambil dari drama ini adalah bahwa untuk mencapai
perubahan dan perbaikan, seorang tokoh tidak bisa hanya diam dan menerima keadaan, harus selalu siap menerima kekacauan. Namun, sebaliknya, untuk memperoleh kebahagiaan