• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEJAKSAAN NEGERI MALANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEJAKSAAN NEGERI MALANG"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

KEJAKSAAN NEGERI

MALANG

(2)

Profil Organisasi

Alamat : Jl. Simpang Panji Suroso No. 5 Kota Malang

- Fax No : 0341-480304

- Telp No : 0341-480303

http://kejari-malang.com

(3)

Tugas dan Fungsi Kejaksaan Secara Umum:

Dalam Undang-Undang No.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI, Pasal 2 ayat (1)

ditegaskan bahwa “Kejaksaan R.I. adalah lembaga pemerintah yang melaksanakan

kekuasaan negara dalam bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan

undang-undang”. Kejaksaan sebagai pengendali proses perkara (Dominus Litis),

mempunyai kedudukan sentral dalam penegakan hukum, karena hanya institusi

Kejaksaan yang dapat menentukan apakah suatu kasus dapat diajukan ke Pengadilan

atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut Hukum Acara Pidana. Disamping

sebagai penyandang Dominus Litis, Kejaksaan juga merupakan satu-satunya instansi

pelaksana putusan pidana (executive ambtenaar). Karena itulah, Undang-Undang

Kejaksaan yang baru ini dipandang lebih kuat dalam menetapkan kedudukan dan

peran Kejaksaan RI sebagai lembaga negara pemerintah yang melaksanakan

kekuasaan negara di bidang penuntutan.

(4)

Tugas dan Fungsi Kejaksaan Secara Umum

Kejaksaan R.I. adalah lembaga negara yang

melaksanakan kekuasaan negara, khususnya di

bidang penuntutan. Sebagai badan yang

berwenang dalam penegakan hukum dan

keadilan, Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa Agung

yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada

Presiden. Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi,

dan Kejaksaan Negeri merupakan kekuasaan

negara khususnya dibidang penuntutan, dimana

semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh

(5)

Tugas dan Fungsi Kejaksaan Secara Umum

Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Kejaksaan dipimpin

oleh Jaksa Agung yang membawahi 5 Jaksa Agung Muda, JAM

Pembinaan, JAM Intelijen, JAM Pidana Umum, JAM Pidana Khusus

dan JAM DATUN serta 31 Kepala Kejaksaan Tinggi pada tiap

provinsi. UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik

Indonesia juga mengisyaratkan bahwa lembaga Kejaksaan berada

pada posisi sentral dengan peran strategis dalam pemantapan

ketahanan bangsa. Karena Kejaksaan berada di poros dan menjadi

filter antara proses penyidikan dan proses pemeriksaan di

persidangan serta juga sebagai pelaksana penetapan dan keputusan

pengadilan. Sehingga, Lembaga Kejaksaan sebagai pengendali

proses perkara (Dominus Litis), karena hanya institusi Kejaksaan

yang dapat menentukan apakah suatu kasus dapat diajukan ke

Pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut

Hukum Acara Pidana.

(6)

Tugas dan Fungsi Kejaksaan Secara Umum

Kejaksaan juga merupakan satu-satunya instansi

pelaksana putusan pidana (executive ambtenaar). Selain

berperan dalam perkara pidana, Kejaksaan juga memiliki

peran lain dalam Hukum Perdata dan Tata Usaha

Negara, yaitu dapat mewakili Pemerintah dalam Perkara

Perdata dan Tata Usaha Negara sebagai Jaksa

Pengacara Negara. Jaksa sebagai pelaksana

kewenangan tersebut diberi wewenang sebagai

Penuntut Umum serta melaksanakan putusan

pengadilan, dan wewenang lain berdasarkan

Undang-Undang

.

(7)

Profil

Di Malang Raya Kejaksaan terdiri dari

3 kejari yaitu Kejaksaan Negeri

Kepanjen untuk wilayah Kabupaten

Malang, Kejaksaan Negeri Batu

untuk wilayah Kota Batu dan

Kejaksaan Negeri Malang untuk

wilayah Kota Malang yang meliputi 5

kecamatan.

Kajari Malang, PURWANTO

DJOKO IRIANTO, SH. MH

Kajari dibantu oleh 5 orang

Kasi dan 25 orang Jaksa

serta 40 orang Tata Usaha

(8)
(9)

Berdasarkan UU No 16 Tahun 2004 Tentang kejaksaan

Tugas Kejaksaan

Di bidang pidana :

melakukan penuntutan;

melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap;

melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana

bersyarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas

bersyarat;

melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan

undang- undang;

melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan

pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang

dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik.

(10)

Berdasarkan UU No 16 Tahun 2004 Tentang

kejaksaan

Tugas Kejaksaan

Di bidang perdata dan tata usaha negara

:

Kejaksaan dengan kuasa khusus, dapat

bertindak baik di dalam maupun di luar

pengadilan untuk dan atas nama negara

atau pemerintah.

(11)

Berdasarkan UU No 16 Tahun 2004 Tentang kejaksaan

Tugas Kejaksaan

Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum, Kejaksaan

turut menyelenggarakan kegiatan:

peningkatan kesadaran hukum masyarakat;

pengamanan kebijakan penegakan hukum;

pengawasan peredaran barang cetakan;

pengawasan aliran kepercayaan yang dapat

membahayakan masyarakat dan negara;

pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan

agama;

penelitian dan pengembangan hukum serta statistik

(12)

Bagan Sistem Peradilan Pidana

(13)

Penahanan di tingkat

(14)

Dalam delik biasa perkara tersebut dapat diproses tanpa adanya

persetujuan dari yang dirugikan (korban). Jadi, walaupun korban

telah mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang, penyidik

tetap berkewajiban untuk memproses perkara tersebut.

Berbeda dengan delik biasa, delik aduan artinya delik yang hanya bisa

diproses apabila ada pengaduan atau laporan dari orang

yang menjadi korban tindak pidana. Menurut Mr. Drs. E

Utrecht dalam bukunya

Hukum Pidana II

, dalam delik aduan

penuntutan terhadap delik tersebutdigantungkan pada

persetujuan dari yang dirugikan (korban). Pada delik aduan

ini, korban tindak pidana dapat mencabut laporannya kepada pihak

yang berwenang apabila di antara mereka telah terjadi suatu

(15)

Dalam delik biasa perkara tersebut dapat diproses tanpa

adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Jadi,

walaupun korban telah mencabut laporannya kepada

pihak yang berwenang, penyidik tetap berkewajiban

untuk memproses perkara tersebut.

Berbeda dengan delik biasa, delik aduan artinya delik

yang hanya bisa diproses apabila ada pengaduan

atau laporan dari orang yang menjadi korban

tindak pidana. Menurut Mr. Drs. E Utrecht dalam

bukunya

Hukum Pidana II

, dalam delik aduan

penuntutan terhadap delik tersebutdigantungkan

pada persetujuan dari yang dirugikan (korban).

Pada delik aduan ini, korban tindak pidana dapat

mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang

(16)

Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) (hal. 88) membagi delik aduan menjadi dua jenis yaitu:

a. Delik aduan absolut, ialah delik (peristiwa pidana) yang selalu hanya dapat dituntut apabila ada pengaduan seperti tersebut dalam pasal-pasal: 284, 287, 293, 310 dan berikutnya, 332, 322, dan 369. Dalam hal ini maka pengaduan diperlukan untuk menuntut peristiwanya, sehingga

permintaan dalam pengaduannya harus berbunyi: “..saya minta agar peristiwa ini dituntut”.

 Oleh karena yang dituntut itu peristiwanya, maka semua orang yang bersangkut paut

(melakukan, membujuk, membantu) dengan peristiwa itu harus dituntut, jadi delik aduan ini tidak dapat dibelah. Contohnya, jika seorang suami jika ia telah memasukkan pengaduan terhadap perzinahan (Pasal 284) yang telah dilakukan oleh istrinya, ia tidak dapat menghendaki supaya orang laki-laki yang telah berzinah dengan istrinya itu dituntut, tetapi terhadap istrinya (karena ia masih cinta) jangan dilakukan penuntutan.

b. Delik aduan relatif, ialah delik-delik (peristiwa pidana) yang biasanya bukan

merupakan delik aduan, akan tetapi jika dilakukan oleh sanak keluarga yang ditentukan dalam Pasal 367, lalu menjadi delik aduan. Delik-delik aduan relatif ini tersebut dalam pasal-pasal: 367, 370, 376, 394, 404, dan 411. Dalam hal ini maka pengaduan itu diperlukan bukan untuk

menuntut peristiwanya, akan tetapi untuk menuntut orang-orangnya yang bersalah dalam peristiwa itu, jadi delik aduan inidapat dibelah. Misalnya, seorang bapa yang barang-barangnya dicuri (Pasal 362) oleh dua orang anaknya yang bernama A dan B, dapat mengajukan pengaduan hanya seorang saja dari kedua orang anak itu, misalnya A, sehingga B tidak dapat dituntut.

Permintaan menuntut dalam pengaduannya dalam hal ini harus bersembunyi: “,,saya minta supaya anak saya yang bernama A dituntut”.

 Pada dasarnya, dalam suatu perkara pidana, pemrosesan perkara digantungkan pada jenis

deliknya. Ada dua jenis delik sehubungan dengan pemrosesan perkara, yaitu delik aduan dan delik biasa.

(17)

Untuk delik aduan, pengaduan hanya boleh diajukan dalam waktu enam bulan sejak

orang yang berhak mengadu mengetahui adanya kejahatan, jika bertempat tinggal di

Indonesia, atau dalam waktu sembilan bulan jika bertempat tinggal di luar Indonesia

(lihat Pasal 74 ayat [1] KUHP). Dan orang yang mengajukan pengaduan berhak

menarik kembali pengaduan tersebut dalam waktu tiga bulan setelah pengaduan

diajukan (lihat Pasal 75 KUHP).

Lebih lanjut Soesilo menjelaskan bahwa terhadap pengaduan yang telah dicabut,

tidak dapat diajukan lagi. Khusus untuk kejahatan berzinah dalam Pasal 284,

pengaduan itu dapat dicabut kembali, selama peristiwa itu belum mulai diperiksa

dalam sidang pengadilan. Dalam praktiknya sebelum sidang pemeriksaan dimulai,

hakim masih menanyakan kepada pengadu, apakah ia tetap pada pengaduannya itu.

Bila tetap, barulah dimulai pemeriksaannya.

Pada intinya, terhadap pelaku delik aduan hanya bisa dilakukan proses hukum pidana

atas persetujuan korbannya. Jika pengaduannya kemudian dicabut, selama dalam

jangka waktu tiga bulan setelah pengaduan diajukan, maka proses hukum akan

dihentikan. Namun, setelah melewati tiga bulan dan pengaduan itu tidak dicabut atau

hendak dicabut setelah melewati waktu tiga bulan, proses hukum akan dilanjutkan.

Kecuali untuk kejahatan berzinah (lihat Pasal 284 KUHP), pengaduan itu dapat

dicabut kembali, selama peristiwa itu belum mulai diperiksa dalam sidang pengadilan.

(18)

Proses Proses Pidana

1. Penyelidikan: adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang. Penyelidik karena kewajibannya mempunyai wewenang menerima laporan, mencari keterangan dan barang bukti, menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri, dan

mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. Selain itu untuk kepentingan penyelidikan, penyelidik atas perintah penyidik dapat melakukan penangkapan.

2. Penyidikan

 Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam

undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Dalam

melaksanakan tugas penyidikan untuk mengungkapkan suatu tindak pidana, maka penyidik karena kewajibannya mempunyai wewenang sebagimana yang tercantum di dalam isi ketentuan Pasal 7 ayat (1) Kitab Undang-udang Hukum Acara Pidana (KUHAP) jo. Pasal 16 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisan Negara Republik Indonesia, yang menyebutkan bahwa wewenang penyidik adalah sebagi berikut:

 a. Menerima Laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;

b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. melakukan penangkapan,

penahanan,penggeledahan dan penyitaan; e. mengenai sidik jari dan memotret

seseorang;memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

 f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; g. mendatang

orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; h. mengadakan penghentian penyidikan;mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

(19)

Penyidikan yang dilakukan tersebut didahului dengan pemberitahuan kepada penutut

umum bahwa penyidikan terhadap suatu peristiwa pidana telah mulai dilakukan. Secara

formal pemberitahuan tersebut disampaikan melalui mekanisme Surat Pemberitahuan

Dimulainya Penyidikan (SPDP). Apabila penyidik telah selesai melakukan penyidikan,

penyidik wajib segara menyerahkan berkas perkara tersebut kepada penutut umum.

3. Penuntutan

Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke

Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam

undang-undang ini dengan permintaan suapaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang

pengadilan. Dalam Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tetap Kejaksaan Republik

Indonesia yang memberikan wewenang kepada Kejaksaan (Pasal 30), yaitu:

a. Melakukan Penuntutan;

b. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan dan telah memperoleh

kekuatan hukum tetap;

c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersayarat, putusan

pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyaratMelakukan penyidikan terhadap tindak

pidana tertentu berdasarkan undang-undang;

d. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan

tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan

dan penyidik.

(20)

4. Pemeriksaan Pengadilan

Apabila terhadap suatu perkara pidana telah dilakukan penuntutan, maka

perkara tersebut diajukan kepengadilan. Tindak Pidana tersebut untuk

selanjutnya diperiksa, diadili dan diputus oleh majelis hakim dan Pengadilan

Negeri yang berjumlah 3 (Tiga) Orang. Pemutusan pengadilan adalah

pernyataan hakim yang yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka,

yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dan segala tuntutan

hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang.

5. Eksekusi (LAPAS)

Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya di singkat LAPAS adalah

tempat untuk melaksanakan pembinaan Narapidana dan anak didik

pemasyarakatan. Dalam tahap ini LAPAS tinggal melaksanakan putusan

pengadilan yaitu untuk melaksanakan pembinaan terhadap terpidama yamh

memperoleh kekuatan hukum tetap

(21)

Hal-Hal yang Mempengaruhi Tuntutan Pidana

Hal yang Memperberat:

-

Terdakwa residivis/ pengulangan

-

Meresahkan masyarakat

-

Menimbulkan Kerugian Korban, dst

Hal Yang Meringankan:

-

Adanya perdamaian

-

Terdakwa mengembalikan kerugian, memberikan kompensasi

-

Barang bisa dikembalikan kepada korban

-

Mengaku terus terang dan tidak berbelit-belit selama persidangan,

(22)

Perkara Yang Sedang Ditangani

Kejaksaan Negeri Kota Malang menangani perkara pidana dan

melakukan penyidikan perkara Korupsi, saat ini selain tindak pidana

umum yang umum terjadi seperti pencurian, yang cukup marak dan

harus diwaspadai adalah:

-

Narkotika, dengan berbagai varian baru.

-

Pencurian kendaraan bermotor

-

Penipuan, penggelapan dengan modus investasi

-

Lantas

-

Kejahatan dengan modus operandi menggunakan Media sosial/ ITE

-

Perbuatan Pidana akibat pengaruh Alkohol/ minuman keras

(23)

-

Kewajiban sebagai saksi:

Pasal 224 ayat (1) KUHP yang berbunyi:

Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau

juru bahasa menurut undang-undang dengan

sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan

undang-undang yang harus dipenuhinya,

diancam:

dalam perkara pidana, dengan pidana

(24)

Pelayanan Masyarakat

Selain tugas yang sudah umum diketahui masyarakat sebagai Jaksa Penuntut Umum

dalam perkra kejahatan di Pengadilan Negeri Jaksa juga memiliki tugas dan fungsi yang

bekerjasama dengan instansi terkait

BIDANG TINDAK PIDANA UMUM

Dalam bidang Tindak Pidana Umum, kepala Kejaksaan Negeri Malang di bantu oleh Kepala Seksi Bidang Tindak Pidana Umum (KASI PIDUM) yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang Tindak Pidana Umum yang meliputi prapenuntutan, pemeriksaan tambahan, penuntutan, upaya hukum, pelaksanaan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, eksaminasi serta pengawasan terhadap pelaksanaan pidana bersyarat, pidana pengawasan, pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan lepas bersyarat dan tindakan hukum lainnya Misalnya dalam hal ini: menuntut terdakwa dalam perkara kejahatan, eksekusi putusan pidanan hakim

(25)

Pelayanan Masyarakat

BIDANG INTELIJEN

Dalam bidang intelijen , Kepala Kejaksaan Negeri Malang di bantu oleh Kepala Seksi Intelijen (KASI INTEL) yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang intelijen yang meliputi penyelidikan,

pengamanandan penggalangan untuk melakukan pencegahan tindak pidana yang mendukung

penegakan hokum baik preventif maupun represif di bidang ideology, politik, ekonomi, keuangan,social budaya,pertahanan dan keamanan, melaksanakan cegah tangkal, ketertiban dan ketentraman umum. Misalnya: Penyuluhan Hukum, Pengawasan aliran kepercayaan masyarakat, penyuuluhan hukum, Posko Pemilu untuk memantau kemanan Pilkada atau

Pilpres, Pelayanan Informasi Publik, dll .

(26)

Pelayanan Masyarakat

Pelayanan Informasi Publik Dasar Hukum

a)Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia

b)Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik c)Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik

d)Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2010 tentang Pelayanan Informasi Publik di Kejaksaan Republik Indonesia

2. Pemohon Informasi Publik

Pemohon Informasi Publik adalah warga negara dan/atau badan hukum Indonesia yang mengajukan permohonan Informasi Publik berdasarkan ketentuan yang berlaku.

3. Kejaksaan Republik Indonesia

Kejaksaan Republik Indonesia yang menyelenggarakan pelayanan Informasi Publik adalah Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi, dan Kejaksaan Negeri.

4) Tata Cara Permohonan Informasi Publik a) Tertulis:

Pemohon mengisi formulir permohonan yang disediakan oleh petugas atau membuat surat permohonan sesuai dengan ketentuan.

Membayar biaya salinan dan/atau biaya pengiriman sesuai dengan standar biaya perolehan Informasi Publik b) Tidak Tertulis:

Menyampaikan identitas lengkap pemohon kepada petugas termasuk nomor kontak yang dapat dihubungi Menyampaikan rincian informasi yang dibutuhkan

Menyampaikan tujuan penggunaan informasi yang dibutuhkan

Menyampaikan cara memperoleh informasi (melihat, membaca, mendengar, mencatat, atau meminta salinan dokumen) Menyampaikan cara mendapatkan salinan informasi (mengambil langsung, surat tercatat (pos/kurir), faksimili, email) Membayar biaya salinan dan/atau biaya pengiriman sesuai dengan standar biaya perolehan Informasi Publik

(27)

Tata Cara Pelayanan Informasi Publik

a) Pemohon dapat melihat atau mendengarkan dokumen yang akan diminta sebelum mengajukan

permohonan secara resmi guna kepentingan permohonanya, sepanjang dokumen tersebut bukan

termasuk informasi yang dikecualikan.

b) Petugas menuangkan permohonan dalam formulir permohonan apabila permohonan diajukan

secara tidak langsung (melalui perantara sarana komunikasi, seperti surat tercatat, email, faksimili)

c) Petugas melakukan klarifikasi apabila permohonan kurang lengkap (3 hari kerja sejak

permohonan diterima dalam hal permohonan diajukan secara tidak langsung)

d) Petugas melakukan pencatatan pada register permohonan Informasi Publik

e) Petugas memberikan tanda terima permohonan (formulir permohonan yang telah diberikan

nomor pendaftaran) pada saat permohonan diajukan, apabila permohonan diajukan secara

langsung dengan mendatangi Meja Informasi

f) Petugas memberikan tanda terima permohonan (formulir permohonan yang telah diberikan

nomor pendaftaran) bersamaan surat pemberitahuan tertulis, apabila permohonan diajukan secara

tidak langsung (melalui perantara sarana komunikasi, seperti surat tercatat, email, faksimili)

g) Dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja:

Petugas memberikan pemberitahuan tertulis dan salinan informasi yang dimohon apabila

permohonan dikabulkan sebagian atau seluruhnya; atau

Petugas memberikan Surat Keputusan PPID tentang Penolakan Permohonan Informasi apabila

permohonan ditolak

h) Petugas dapat memperpanjang pemberian surat pemberitahuan dan pemberian salinan

informasi selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja dan tidak dapat diperpanjang apabila:

Kejaksaan belum menguasai atau mendokumentasikan informasi yang dimohon

(28)

Pelayanan Masyarakat

Bidang Perdata Dan Tata

Usaha Negara

Dalam bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, kepala Kejaksaan Negeri Malang di bantu oleh Kepala Seksi Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (KASI DATUN) yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara yang meliputi penegakan hukum, bantuan hukum, pertimbagan hukum dan tindakan hukum lain kepada Negara atau pemerintah meliputi lembaga/badan Negara, lembaga/instansi pemerintah pusat dan daerah, badan usaha milik Negara/daerah di bidang perdata dan tata usaha Negara untuk menyelamatkan, memulihkan kekayaan Negara, menegakkan kewibawaan pemerintah dan Negara serta memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat

Misalnya: melakukan MOU dengan Persero, sebagai pengacara walikota dalam gugatan TUN

(29)

Pelayanan Masyarakat

BIDANG TINDAK PIDANA KHUSUS

Dalam bidang Tindak Pidana Khusus, kepala Kejaksaan Negeri Malang di bantu oleh Kepala Seksi Bidang Tindak Pidana Khusus (KASI PIDSUS) yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang Tindak Pidana Khusus yang meliputi penyelidikan, penyidikan, prapenuntutan, pemeriksaan

tambahan, penuntutan, upaya hukum, pelaksanaan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, eksaminasi serta pengawasan terhadap pelaksanaan pidana

bersyarat dan keputusan lepas bersyarat dalam perkara Tindak Pidana Khusus serta tindakan hukum lainnya.

Pidana Khusus disini antara lain Tindak

Pidana KORUPSI,

Kehutanan, Money

Laundry, Kejahatan Perbankan, Pelanggaran

Cukai, dll

(30)

Referensi

Dokumen terkait

Untuk lebih menegaskan bahwa jaksa mempunyai wewenang untuk melakukan penyidikan tindak pidana korupsi, dapat ditelusuri dari ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

Catatan : Mernbawa surat rugas dari Madrasah masing rnasing Narasurnber : - Kepala Kantor Kementcrian Agama Kabupaten Ponorogo. - Kasi Intel Kejaksaan Negeri

L.2.4 Asisten Bidang Tindak Pidana Umum L.2.S Asisten Bidang Tindak Pidana Khusus L.2.6 Asisten Bidang Perdata dan TUN L.2.7 Asisten Bidang Pengawasan L.2.8 Kepala Bagian

- Beban kerja berlebih yang diemban oleh Jaksa pada Kejaksaan Negeri Malang menjadi salah satu kendala dalam pemenuhan asas peradilan cepat dalam perkara tindak pidana

- Beban kerja berlebih yang diemban oleh Jaksa pada Kejaksaan Negeri Malang menjadi salah satu kendala dalam pemenuhan asas peradilan cepat dalam perkara tindak pidana

Menurut Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : PER-009/A/JA/01/2011 Pasal 628 tentang organisasi dan tata kerja kejaksaan Republik Indonesia, seksi tindak pidana

Selain tugas dan wewenang Kejaksaan yang diatur dalam Undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan tindak pidana (Pasal 109 ayat (1)) dan pemberitahuan baik

KEPALA KEPOLISIAN RESOR BINJAI KASI PIDUM KEJAKSAAN.. KASATLANTAS KEJAKSAAN NEGERI BINJAI BENDAHARAWAN KHUSUS