KEJAKSAAN NEGERI
MALANG
Profil Organisasi
Alamat : Jl. Simpang Panji Suroso No. 5 Kota Malang
- Fax No : 0341-480304
- Telp No : 0341-480303
http://kejari-malang.com
Tugas dan Fungsi Kejaksaan Secara Umum:
Dalam Undang-Undang No.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI, Pasal 2 ayat (1)
ditegaskan bahwa “Kejaksaan R.I. adalah lembaga pemerintah yang melaksanakan
kekuasaan negara dalam bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan
undang-undang”. Kejaksaan sebagai pengendali proses perkara (Dominus Litis),
mempunyai kedudukan sentral dalam penegakan hukum, karena hanya institusi
Kejaksaan yang dapat menentukan apakah suatu kasus dapat diajukan ke Pengadilan
atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut Hukum Acara Pidana. Disamping
sebagai penyandang Dominus Litis, Kejaksaan juga merupakan satu-satunya instansi
pelaksana putusan pidana (executive ambtenaar). Karena itulah, Undang-Undang
Kejaksaan yang baru ini dipandang lebih kuat dalam menetapkan kedudukan dan
peran Kejaksaan RI sebagai lembaga negara pemerintah yang melaksanakan
kekuasaan negara di bidang penuntutan.
Tugas dan Fungsi Kejaksaan Secara Umum
Kejaksaan R.I. adalah lembaga negara yang
melaksanakan kekuasaan negara, khususnya di
bidang penuntutan. Sebagai badan yang
berwenang dalam penegakan hukum dan
keadilan, Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa Agung
yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada
Presiden. Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi,
dan Kejaksaan Negeri merupakan kekuasaan
negara khususnya dibidang penuntutan, dimana
semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh
Tugas dan Fungsi Kejaksaan Secara Umum
Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Kejaksaan dipimpin
oleh Jaksa Agung yang membawahi 5 Jaksa Agung Muda, JAM
Pembinaan, JAM Intelijen, JAM Pidana Umum, JAM Pidana Khusus
dan JAM DATUN serta 31 Kepala Kejaksaan Tinggi pada tiap
provinsi. UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik
Indonesia juga mengisyaratkan bahwa lembaga Kejaksaan berada
pada posisi sentral dengan peran strategis dalam pemantapan
ketahanan bangsa. Karena Kejaksaan berada di poros dan menjadi
filter antara proses penyidikan dan proses pemeriksaan di
persidangan serta juga sebagai pelaksana penetapan dan keputusan
pengadilan. Sehingga, Lembaga Kejaksaan sebagai pengendali
proses perkara (Dominus Litis), karena hanya institusi Kejaksaan
yang dapat menentukan apakah suatu kasus dapat diajukan ke
Pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut
Hukum Acara Pidana.
Tugas dan Fungsi Kejaksaan Secara Umum
Kejaksaan juga merupakan satu-satunya instansi
pelaksana putusan pidana (executive ambtenaar). Selain
berperan dalam perkara pidana, Kejaksaan juga memiliki
peran lain dalam Hukum Perdata dan Tata Usaha
Negara, yaitu dapat mewakili Pemerintah dalam Perkara
Perdata dan Tata Usaha Negara sebagai Jaksa
Pengacara Negara. Jaksa sebagai pelaksana
kewenangan tersebut diberi wewenang sebagai
Penuntut Umum serta melaksanakan putusan
pengadilan, dan wewenang lain berdasarkan
Undang-Undang
.
Profil
Di Malang Raya Kejaksaan terdiri dari
3 kejari yaitu Kejaksaan Negeri
Kepanjen untuk wilayah Kabupaten
Malang, Kejaksaan Negeri Batu
untuk wilayah Kota Batu dan
Kejaksaan Negeri Malang untuk
wilayah Kota Malang yang meliputi 5
kecamatan.
Kajari Malang, PURWANTO
DJOKO IRIANTO, SH. MH
Kajari dibantu oleh 5 orang
Kasi dan 25 orang Jaksa
serta 40 orang Tata Usaha
Berdasarkan UU No 16 Tahun 2004 Tentang kejaksaan
Tugas Kejaksaan
Di bidang pidana :
melakukan penuntutan;
melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap;
melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana
bersyarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas
bersyarat;
melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan
undang- undang;
melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan
pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang
dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik.
Berdasarkan UU No 16 Tahun 2004 Tentang
kejaksaan
Tugas Kejaksaan
Di bidang perdata dan tata usaha negara
:
Kejaksaan dengan kuasa khusus, dapat
bertindak baik di dalam maupun di luar
pengadilan untuk dan atas nama negara
atau pemerintah.
Berdasarkan UU No 16 Tahun 2004 Tentang kejaksaan
Tugas Kejaksaan
Dalam bidang ketertiban dan ketenteraman umum, Kejaksaan
turut menyelenggarakan kegiatan:
peningkatan kesadaran hukum masyarakat;
pengamanan kebijakan penegakan hukum;
pengawasan peredaran barang cetakan;
pengawasan aliran kepercayaan yang dapat
membahayakan masyarakat dan negara;
pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan
agama;
penelitian dan pengembangan hukum serta statistik
Bagan Sistem Peradilan Pidana
Penahanan di tingkat
Dalam delik biasa perkara tersebut dapat diproses tanpa adanya
persetujuan dari yang dirugikan (korban). Jadi, walaupun korban
telah mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang, penyidik
tetap berkewajiban untuk memproses perkara tersebut.
Berbeda dengan delik biasa, delik aduan artinya delik yang hanya bisa
diproses apabila ada pengaduan atau laporan dari orang
yang menjadi korban tindak pidana. Menurut Mr. Drs. E
Utrecht dalam bukunya
Hukum Pidana II
, dalam delik aduan
penuntutan terhadap delik tersebutdigantungkan pada
persetujuan dari yang dirugikan (korban). Pada delik aduan
ini, korban tindak pidana dapat mencabut laporannya kepada pihak
yang berwenang apabila di antara mereka telah terjadi suatu
Dalam delik biasa perkara tersebut dapat diproses tanpa
adanya persetujuan dari yang dirugikan (korban). Jadi,
walaupun korban telah mencabut laporannya kepada
pihak yang berwenang, penyidik tetap berkewajiban
untuk memproses perkara tersebut.
Berbeda dengan delik biasa, delik aduan artinya delik
yang hanya bisa diproses apabila ada pengaduan
atau laporan dari orang yang menjadi korban
tindak pidana. Menurut Mr. Drs. E Utrecht dalam
bukunya
Hukum Pidana II
, dalam delik aduan
penuntutan terhadap delik tersebutdigantungkan
pada persetujuan dari yang dirugikan (korban).
Pada delik aduan ini, korban tindak pidana dapat
mencabut laporannya kepada pihak yang berwenang
Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) (hal. 88) membagi delik aduan menjadi dua jenis yaitu:
a. Delik aduan absolut, ialah delik (peristiwa pidana) yang selalu hanya dapat dituntut apabila ada pengaduan seperti tersebut dalam pasal-pasal: 284, 287, 293, 310 dan berikutnya, 332, 322, dan 369. Dalam hal ini maka pengaduan diperlukan untuk menuntut peristiwanya, sehingga
permintaan dalam pengaduannya harus berbunyi: “..saya minta agar peristiwa ini dituntut”.
Oleh karena yang dituntut itu peristiwanya, maka semua orang yang bersangkut paut
(melakukan, membujuk, membantu) dengan peristiwa itu harus dituntut, jadi delik aduan ini tidak dapat dibelah. Contohnya, jika seorang suami jika ia telah memasukkan pengaduan terhadap perzinahan (Pasal 284) yang telah dilakukan oleh istrinya, ia tidak dapat menghendaki supaya orang laki-laki yang telah berzinah dengan istrinya itu dituntut, tetapi terhadap istrinya (karena ia masih cinta) jangan dilakukan penuntutan.
b. Delik aduan relatif, ialah delik-delik (peristiwa pidana) yang biasanya bukan
merupakan delik aduan, akan tetapi jika dilakukan oleh sanak keluarga yang ditentukan dalam Pasal 367, lalu menjadi delik aduan. Delik-delik aduan relatif ini tersebut dalam pasal-pasal: 367, 370, 376, 394, 404, dan 411. Dalam hal ini maka pengaduan itu diperlukan bukan untuk
menuntut peristiwanya, akan tetapi untuk menuntut orang-orangnya yang bersalah dalam peristiwa itu, jadi delik aduan inidapat dibelah. Misalnya, seorang bapa yang barang-barangnya dicuri (Pasal 362) oleh dua orang anaknya yang bernama A dan B, dapat mengajukan pengaduan hanya seorang saja dari kedua orang anak itu, misalnya A, sehingga B tidak dapat dituntut.
Permintaan menuntut dalam pengaduannya dalam hal ini harus bersembunyi: “,,saya minta supaya anak saya yang bernama A dituntut”.
Pada dasarnya, dalam suatu perkara pidana, pemrosesan perkara digantungkan pada jenis
deliknya. Ada dua jenis delik sehubungan dengan pemrosesan perkara, yaitu delik aduan dan delik biasa.
Untuk delik aduan, pengaduan hanya boleh diajukan dalam waktu enam bulan sejak
orang yang berhak mengadu mengetahui adanya kejahatan, jika bertempat tinggal di
Indonesia, atau dalam waktu sembilan bulan jika bertempat tinggal di luar Indonesia
(lihat Pasal 74 ayat [1] KUHP). Dan orang yang mengajukan pengaduan berhak
menarik kembali pengaduan tersebut dalam waktu tiga bulan setelah pengaduan
diajukan (lihat Pasal 75 KUHP).
Lebih lanjut Soesilo menjelaskan bahwa terhadap pengaduan yang telah dicabut,
tidak dapat diajukan lagi. Khusus untuk kejahatan berzinah dalam Pasal 284,
pengaduan itu dapat dicabut kembali, selama peristiwa itu belum mulai diperiksa
dalam sidang pengadilan. Dalam praktiknya sebelum sidang pemeriksaan dimulai,
hakim masih menanyakan kepada pengadu, apakah ia tetap pada pengaduannya itu.
Bila tetap, barulah dimulai pemeriksaannya.
Pada intinya, terhadap pelaku delik aduan hanya bisa dilakukan proses hukum pidana
atas persetujuan korbannya. Jika pengaduannya kemudian dicabut, selama dalam
jangka waktu tiga bulan setelah pengaduan diajukan, maka proses hukum akan
dihentikan. Namun, setelah melewati tiga bulan dan pengaduan itu tidak dicabut atau
hendak dicabut setelah melewati waktu tiga bulan, proses hukum akan dilanjutkan.
Kecuali untuk kejahatan berzinah (lihat Pasal 284 KUHP), pengaduan itu dapat
dicabut kembali, selama peristiwa itu belum mulai diperiksa dalam sidang pengadilan.
Proses Proses Pidana
1. Penyelidikan: adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang. Penyelidik karena kewajibannya mempunyai wewenang menerima laporan, mencari keterangan dan barang bukti, menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri, dan
mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. Selain itu untuk kepentingan penyelidikan, penyelidik atas perintah penyidik dapat melakukan penangkapan.
2. Penyidikan
Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam
undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Dalam
melaksanakan tugas penyidikan untuk mengungkapkan suatu tindak pidana, maka penyidik karena kewajibannya mempunyai wewenang sebagimana yang tercantum di dalam isi ketentuan Pasal 7 ayat (1) Kitab Undang-udang Hukum Acara Pidana (KUHAP) jo. Pasal 16 ayat (1) Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisan Negara Republik Indonesia, yang menyebutkan bahwa wewenang penyidik adalah sebagi berikut:
a. Menerima Laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;
b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. melakukan penangkapan,
penahanan,penggeledahan dan penyitaan; e. mengenai sidik jari dan memotret
seseorang;memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; g. mendatang
orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; h. mengadakan penghentian penyidikan;mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
Penyidikan yang dilakukan tersebut didahului dengan pemberitahuan kepada penutut
umum bahwa penyidikan terhadap suatu peristiwa pidana telah mulai dilakukan. Secara
formal pemberitahuan tersebut disampaikan melalui mekanisme Surat Pemberitahuan
Dimulainya Penyidikan (SPDP). Apabila penyidik telah selesai melakukan penyidikan,
penyidik wajib segara menyerahkan berkas perkara tersebut kepada penutut umum.
3. Penuntutan
Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke
Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam
undang-undang ini dengan permintaan suapaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang
pengadilan. Dalam Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tetap Kejaksaan Republik
Indonesia yang memberikan wewenang kepada Kejaksaan (Pasal 30), yaitu:
a. Melakukan Penuntutan;
b. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan dan telah memperoleh
kekuatan hukum tetap;
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersayarat, putusan
pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyaratMelakukan penyidikan terhadap tindak
pidana tertentu berdasarkan undang-undang;
d. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan
tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan
dan penyidik.
4. Pemeriksaan Pengadilan
Apabila terhadap suatu perkara pidana telah dilakukan penuntutan, maka
perkara tersebut diajukan kepengadilan. Tindak Pidana tersebut untuk
selanjutnya diperiksa, diadili dan diputus oleh majelis hakim dan Pengadilan
Negeri yang berjumlah 3 (Tiga) Orang. Pemutusan pengadilan adalah
pernyataan hakim yang yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka,
yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dan segala tuntutan
hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang.
5. Eksekusi (LAPAS)
Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya di singkat LAPAS adalah
tempat untuk melaksanakan pembinaan Narapidana dan anak didik
pemasyarakatan. Dalam tahap ini LAPAS tinggal melaksanakan putusan
pengadilan yaitu untuk melaksanakan pembinaan terhadap terpidama yamh
memperoleh kekuatan hukum tetap
Hal-Hal yang Mempengaruhi Tuntutan Pidana
Hal yang Memperberat:
-
Terdakwa residivis/ pengulangan
-Meresahkan masyarakat
-
Menimbulkan Kerugian Korban, dst
Hal Yang Meringankan:
-
Adanya perdamaian
-
Terdakwa mengembalikan kerugian, memberikan kompensasi
-Barang bisa dikembalikan kepada korban
-
Mengaku terus terang dan tidak berbelit-belit selama persidangan,
Perkara Yang Sedang Ditangani
Kejaksaan Negeri Kota Malang menangani perkara pidana dan
melakukan penyidikan perkara Korupsi, saat ini selain tindak pidana
umum yang umum terjadi seperti pencurian, yang cukup marak dan
harus diwaspadai adalah:
-
Narkotika, dengan berbagai varian baru.
-Pencurian kendaraan bermotor
-
Penipuan, penggelapan dengan modus investasi
-Lantas
-
Kejahatan dengan modus operandi menggunakan Media sosial/ ITE
-Perbuatan Pidana akibat pengaruh Alkohol/ minuman keras
-
Kewajiban sebagai saksi:
Pasal 224 ayat (1) KUHP yang berbunyi:
Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau
juru bahasa menurut undang-undang dengan
sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan
undang-undang yang harus dipenuhinya,
diancam:
dalam perkara pidana, dengan pidana
Pelayanan Masyarakat
Selain tugas yang sudah umum diketahui masyarakat sebagai Jaksa Penuntut Umum
dalam perkra kejahatan di Pengadilan Negeri Jaksa juga memiliki tugas dan fungsi yang
bekerjasama dengan instansi terkait
BIDANG TINDAK PIDANA UMUM
Dalam bidang Tindak Pidana Umum, kepala Kejaksaan Negeri Malang di bantu oleh Kepala Seksi Bidang Tindak Pidana Umum (KASI PIDUM) yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang Tindak Pidana Umum yang meliputi prapenuntutan, pemeriksaan tambahan, penuntutan, upaya hukum, pelaksanaan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, eksaminasi serta pengawasan terhadap pelaksanaan pidana bersyarat, pidana pengawasan, pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan lepas bersyarat dan tindakan hukum lainnya Misalnya dalam hal ini: menuntut terdakwa dalam perkara kejahatan, eksekusi putusan pidanan hakim
Pelayanan Masyarakat
BIDANG INTELIJEN
Dalam bidang intelijen , Kepala Kejaksaan Negeri Malang di bantu oleh Kepala Seksi Intelijen (KASI INTEL) yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang intelijen yang meliputi penyelidikan,
pengamanandan penggalangan untuk melakukan pencegahan tindak pidana yang mendukung
penegakan hokum baik preventif maupun represif di bidang ideology, politik, ekonomi, keuangan,social budaya,pertahanan dan keamanan, melaksanakan cegah tangkal, ketertiban dan ketentraman umum. Misalnya: Penyuluhan Hukum, Pengawasan aliran kepercayaan masyarakat, penyuuluhan hukum, Posko Pemilu untuk memantau kemanan Pilkada atau
Pilpres, Pelayanan Informasi Publik, dll .
Pelayanan Masyarakat
Pelayanan Informasi Publik Dasar Hukuma)Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
b)Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik c)Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik
d)Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2010 tentang Pelayanan Informasi Publik di Kejaksaan Republik Indonesia
2. Pemohon Informasi Publik
Pemohon Informasi Publik adalah warga negara dan/atau badan hukum Indonesia yang mengajukan permohonan Informasi Publik berdasarkan ketentuan yang berlaku.
3. Kejaksaan Republik Indonesia
Kejaksaan Republik Indonesia yang menyelenggarakan pelayanan Informasi Publik adalah Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi, dan Kejaksaan Negeri.
4) Tata Cara Permohonan Informasi Publik a) Tertulis:
Pemohon mengisi formulir permohonan yang disediakan oleh petugas atau membuat surat permohonan sesuai dengan ketentuan.
Membayar biaya salinan dan/atau biaya pengiriman sesuai dengan standar biaya perolehan Informasi Publik b) Tidak Tertulis:
Menyampaikan identitas lengkap pemohon kepada petugas termasuk nomor kontak yang dapat dihubungi Menyampaikan rincian informasi yang dibutuhkan
Menyampaikan tujuan penggunaan informasi yang dibutuhkan
Menyampaikan cara memperoleh informasi (melihat, membaca, mendengar, mencatat, atau meminta salinan dokumen) Menyampaikan cara mendapatkan salinan informasi (mengambil langsung, surat tercatat (pos/kurir), faksimili, email) Membayar biaya salinan dan/atau biaya pengiriman sesuai dengan standar biaya perolehan Informasi Publik
Tata Cara Pelayanan Informasi Publik
a) Pemohon dapat melihat atau mendengarkan dokumen yang akan diminta sebelum mengajukan
permohonan secara resmi guna kepentingan permohonanya, sepanjang dokumen tersebut bukan
termasuk informasi yang dikecualikan.
b) Petugas menuangkan permohonan dalam formulir permohonan apabila permohonan diajukan
secara tidak langsung (melalui perantara sarana komunikasi, seperti surat tercatat, email, faksimili)
c) Petugas melakukan klarifikasi apabila permohonan kurang lengkap (3 hari kerja sejak
permohonan diterima dalam hal permohonan diajukan secara tidak langsung)
d) Petugas melakukan pencatatan pada register permohonan Informasi Publik
e) Petugas memberikan tanda terima permohonan (formulir permohonan yang telah diberikan
nomor pendaftaran) pada saat permohonan diajukan, apabila permohonan diajukan secara
langsung dengan mendatangi Meja Informasi
f) Petugas memberikan tanda terima permohonan (formulir permohonan yang telah diberikan
nomor pendaftaran) bersamaan surat pemberitahuan tertulis, apabila permohonan diajukan secara
tidak langsung (melalui perantara sarana komunikasi, seperti surat tercatat, email, faksimili)
g) Dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja:
Petugas memberikan pemberitahuan tertulis dan salinan informasi yang dimohon apabila
permohonan dikabulkan sebagian atau seluruhnya; atau
Petugas memberikan Surat Keputusan PPID tentang Penolakan Permohonan Informasi apabila
permohonan ditolak
h) Petugas dapat memperpanjang pemberian surat pemberitahuan dan pemberian salinan
informasi selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja dan tidak dapat diperpanjang apabila:
Kejaksaan belum menguasai atau mendokumentasikan informasi yang dimohon
Pelayanan Masyarakat
Bidang Perdata Dan Tata
Usaha Negara
Dalam bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, kepala Kejaksaan Negeri Malang di bantu oleh Kepala Seksi Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (KASI DATUN) yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara yang meliputi penegakan hukum, bantuan hukum, pertimbagan hukum dan tindakan hukum lain kepada Negara atau pemerintah meliputi lembaga/badan Negara, lembaga/instansi pemerintah pusat dan daerah, badan usaha milik Negara/daerah di bidang perdata dan tata usaha Negara untuk menyelamatkan, memulihkan kekayaan Negara, menegakkan kewibawaan pemerintah dan Negara serta memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat
Misalnya: melakukan MOU dengan Persero, sebagai pengacara walikota dalam gugatan TUN
Pelayanan Masyarakat
BIDANG TINDAK PIDANA KHUSUS
Dalam bidang Tindak Pidana Khusus, kepala Kejaksaan Negeri Malang di bantu oleh Kepala Seksi Bidang Tindak Pidana Khusus (KASI PIDSUS) yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang Tindak Pidana Khusus yang meliputi penyelidikan, penyidikan, prapenuntutan, pemeriksaan
tambahan, penuntutan, upaya hukum, pelaksanaan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, eksaminasi serta pengawasan terhadap pelaksanaan pidana
bersyarat dan keputusan lepas bersyarat dalam perkara Tindak Pidana Khusus serta tindakan hukum lainnya.