• Tidak ada hasil yang ditemukan

George Herbert Mead ( ) menusia sebagai makhluk kreatif,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "George Herbert Mead ( ) menusia sebagai makhluk kreatif,"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

TOKOH SOSIOLOGI MODERN

Robert E. Park (1864-1944) teori pendekatan ekologi,

George Herbert Mead (1863-1931) menusia sebagai makhluk kreatif,

Teori Interaksi Simbolik Mead

Pemikiran-pemikiran Geroge Herbert Mead mula-mula dipengaruhi oleh

teori evolusi Darwin yang menyatakan bahwa organisme terus-menerus

terlibat dalam usaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya. George Herbert

Mead berpendapat

bahwa manusia merupakan makhluk yang paling rasional dan memiliki

kesadaran akan dirinya. Di samping itu, George Herbert Mead juga menerima

pandangan Darwin yang menyatakan bahwa dorongan biologis memberikan

motivasi bagi perilaku atau tindakan manusia, dan dorongan-dorongan

tersebut mempunyai sifat sosial. Di samping itu, George Herbert Mead juga

sependapat dengan Darwin yang menyatakan bahwa komunikasi adalah

merupakan ekspresi dari perasaan George Herbert Mead juga dipengaruhi oleh

idealisme Hegel dan John Dewey. Gerakan adalah suatu perbuatan yang

dilakukan oleh seseorang dalam hubungannya dengan pihak lain. Sehubungan

dengan ini, George Herbert Mead berpendapat bahwa manusia mempunyai

kemampuan untuk menanggapi diri sendiri secara sadar, dan kemampuan

tersebut memerlukan daya pikir tertentu, khususnya daya pikir reflektif.

Namun, ada kalanya terjadi tindakan manusia dalam interaksi sosial munculnya

reaksi secara spontan dan seolah-olah tidak melalui pemikiran dan hal ini biasa

terjadi pada binatang.

Bahasa atau komunikasi melalui simbol-simbol adalah merupakan isyarat

yang mempunyai arti khusus yang muncul terhadap individu lain yang memiliki

(2)

ide yang sama dengan isyarat-isyarat dan simbol-simbol akan terjadi pemikiran

(mind).

Manusia mampu membayangkan dirinya secara sadar tindakannya dari

kacamata orang lain; hal ini menyebabkan manusia dapat membentuk

perilakunya secara sengaja dengan maksud menghadirkan respon tertentu dari

pihak lain.

Tertib masyarakat didasarkan pada komunikasi dan ini terjadi dengan

menggunakan simbol-simbol. Proses komunikasi itu mempunyai implikasi pada

suatu proses pengambilan peran (role taking). Komunikasi dengan dirinya

sendiri merupakan suatu bentuk pemikiran (mind), yang pada hakikatnya

merupakan kemampuan khas manusia.

Konsep diri menurut George Herbert Mead, pada dasarnya terdiri dari

jawaban individu atas pertanyaan "Siapa Aku". Konsep diri terdiri dari

kesadaran individu mengenai keterlibatannya yang khusus dalam seperangkat

hubungan sosial yang sedang berlangsung. Kesadaran diri merupakan hasil dari

suatu proses reflektif yang tidak kelihatan, dan individu itu melihat

tindakan-tindakan pribadi atau yang bersifat potensial dari titik pandang orang lain

dengan siapa individu ini berhubungan. Pendapat Goerge Herbert Mead

tentang pikiran, menyatakan bahwa pikiran mempunyai corak sosial,

percakapan dalam batin adalah percakapan antara "aku" dengan "yang lain" di

dalam aku. Untuk itu, dalam pikiran saya memberi tanggapan kepada diri saya

atas cara mereka akan memberi tanggapan kepada saya.

"Kedirian" (diri) diartikan sebagai suatu konsepsi individu terhadap dirinya

sendiri dan konsepsi orang lain terhadap dirinya Konsep tentang "diri"

dinyatakan bahwa individu adalah subjek yang berperilaku dengan demikian

maka dalam "diri" itu tidaklah semata-mata pada anggapan orang secara pasif

mengenai reaksi-reaksi dan definisi-definisi orang lain saja. Menurut

(3)

pendapatnya diri sebagai subjek yang bertindak ditunjukkan dengan konsep "I"

dan diri sebagai objek ditunjuk dengan konsep "me" dan Mead telah

menyadari determinisme soal ini. Ia bermaksud menetralisasi suatu

keberatsebelahan dengan membedakan di dalam "diri" antara dua unsur

konstitutifis yang satu disebut "me" atau "daku" yang lain "I" atau "aku". Me

adalah unsur sosial yang mencakup generalized other. Teori George Herbert

Mead tentang konsep diri yang terbentuk dari dua unsur, yaitu "I" (aku) dan

"me" (daku) itu sangat rumit dan sulit untuk di pahami.

Charles H. Cooley (1864-1939) Interaksionalisme simbolis,

Charles Horton Cooley (1864 – 1929)

C. H Cooley lahir di Michigan, Amerika Serikat, dia adalah anak seorang ahli

hukum terkenal yaitu Thomas M. Cooley. Pada mulanya dia belajar teknik

mesin elektro, kemudian dia juga belajar ekonomi. Setelah lulus akademis dia

bekerja di pemerintahan seperti di departemen komisi pengawas, kemudian

juga di kantor sensus. Pada tahun 1892 dia menjadi dosen ilmu ekonomi,

politik, serta sosiologi di universitas Michigan. Pemikiran Cooley banyak

dipengaruhi oleh George Herbert Mead dan Sigmund Frued.

Cooley tergolong dalam sosiolog interaksionisme simbolik klasik. Cooley

memberiikan sumbangan kepada sosiologi tentang sosialisasi, dan interaksi.

Menurut Cooley, diri (self) seseorang berkembang melalui interaksi dengan

orang lain lewat analogi diri yang melihat cermin (looking glass self), yaitu diri

seseorang memantulkan apa yang dirasakannya sebagai tanggapan masyarakat

terhadapnya. Cooley juga memperkenalkan konsep primary group, yaitu

kelompok yang ditandai oleh pergaulan dan kerja sama tatap muka yang intim.

B,F, Skinner 91904-19900 Sosiologi Hebaviorisme,

(4)

Burrhus Frederic Skinner lahir 20 Maret 1904, di kota kecil Pennsylvania

Susquehanna. Ayahnya adalah seorang pengacara, dan ibunya yang kuat dan

cerdas ibu rumah tangga. Asuhan-Nya telah tua dan bekerja keras.

Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan

pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938,

Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam

perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning.

Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun

1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Hasil

konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors

yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970)

B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan

pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol

melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol

tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana

dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih

fleksibel daripada conditioning klasik.

Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli

konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara

sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara

stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang

kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang

dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya.

Menurut Skinner, hampir semua perilaku manusia diidentifikasi jatuh ke dalam

dua kategori yaitu perilaku responden dan perilaku operan. Perilaku responden

adalah perilaku tanpa sengaja (refleks) dan hasil dari rangsangan lingkungan

khusus. Agar perilaku responden terjadi, pertama perlu bahwa stimulus

diterapkan pada organisme. Stimulus dari binatang kecil yang mengganggu

terhadap mata Anda akan menyebabkan anda berkedip, suatu peristiwa

memalukan dapat menyebabkan anda bermuka merah, dan flash cahaya

terang akan mengakibatkan anda berkedip mata. Itu beberapa perilaku kita

adalah perilaku responden.

(5)

Sebagian besar perilaku kita adalah perilaku operan, yang tidak otomatis,

dapat diprediksi, atau terkait dalam setiap cara yang dikenal dengan mudah

diidentifikasi olehrangsangan . Skinner percaya bahwa perilaku tertentu hanya

terjadi, dan bahkan jika disebabkan oleh tertentu (tapi sulit untuk

mengidentifikasi) rangsangan, rangsangan ini adalah tidak penting untuk

mempelajari perilaku.

Kata "operan" menjelaskan seluruh sikap perilaku yang beroperasi pada

lingkungan untuk menghasilkan peristiwa atau tanggapan dalam lingkungan.

Jika kejadian atau tanggapan yang memuaskan, kemungkinan bahwa perilaku

operant akan diulang biasanya meningkat.

Telcott Persons (1902-1979) Funggsionalisme,

Max Horkheimer (1895-1973) Teori kritis,

Max Horkheimer (1895 – 1973)

Horkheimer dilahirkan di kota Stuttgart, Jerman, berasal dari keluarga Yahudi.

Pada awalnya dia tidak mengejar karir akademis dengan bekerja di pabrik milik

ayahnya, namun setelah Perang Dunia I dia kuliah di universitas Munich untuk

belajar filsafat dan psikologi. Disitu dia bertemu dan kemudian bersahabat

dengan Adorno. Horkheimer adalah pendiri mashab Frankfurt dan teori kritis.

Karena dikejar-kejar oleh Nazi dia pindah ke Switzerland dan kemudian menuju

ke Amerika Serikat dan bergabung di Columbia university.

Seperti halnya kelompok Frankfurt lainnya Horkheimer mengkritik

modernisme, kapitalisme, dan penceraham. Bagi Horkheimer abad pencerahan

telah disimpangkan dalam diskursus kapitalisme, yaitu melalui komoditi dan

komodifikasi seluruh aspek kehidupan termasuk kebudayaan dan seni.

Masyarakat sebenarnya dibebaskan dari penjara mitos, legenda, tradisi namun

sekaligus digiring ke dalam penjara komoditi. Masyarakat modern memiliki

rasional dan wawasan progresif terhadap sains dan teknologi namun sekaligus

terhisap oleh mekanisme kekuasaan baru, dominasi, totalitarian, represif, yaitu

kekuasaan komoditi

(6)

Alfred Schutz (1899-1959) Pengalaman sehari-hari,

Herbert Blumer (1990-1987) Teori Makna,

George Casper Homans (1910-1989) Sosilogi Mikro,

Robert K. Merton (1910-2003) Struktur dan Fungsi,

Lewis A. Coser (1913 - ….) Arkeologi fungsi-fungsi konflik,

C Wright Mills (1910-1962) Sosilogi yang menggugat masyarakat,

Peter M. Blau (1918-2002) Pertukaran Sosial,

Rondall Collins (1941-…..) Interaksi Sosial, Konflik, Kekuasaan, dan Distribusi

Sumber,

Ralf Dahrendorf (1929-…..) Konflik wewenang yang mengganti konflik klas,

Peter L. berger: Mengompromikan Pendekatan Sosilogi,

Harold Garfinkel (1929-….) Sosiologi dan bahasa,

Erving Goffman (1922-1982) Panggung dan Perangkat Interaksi Sosial,

Ali Syai’ati (1933-1977) revologi sebagai Sisilogi Konflik,

Antonny Giddens (1938-…..) teori Strukturasi.

Tokoh – Tokoh Sosiolog Dunia

Indra Sugiarto

on 10.06

No Comment

Auguste Comte : Sosiologi Positivis

Prancis (1798-1857)

(7)

Auguste Comte (1798-1857) sangat prihatin terhadap

anarkisme yang merasuki masyarakat saat berlangsungnya Revolusi

Perancis. Oleh karena itu Comte kemudian mengembangkan pandangan

ilmiahnya yakni positivisme atau filsafat sosial untuk menandingi

pemikiran yang dianggap filsafat negatif dan destruktif. Positivisme

mengklaim telah membangun teori-teori ilmiah tentang masyarakat

melalui

pengamatan

dan

percobaan

untuk

kemudian

mendemonstrasikan hukum-hukum perkembangan sosial. Aliran positivis

percaya akan kesatuan metode ilmiah akan mampu mengukur secara

objektif mengenai struktur sosial.

Sebagai usahanya, Comte mengembangkan fisika sosial atau juga

disebutnya sebagai sosiologi. Comte berupaya agar sosiologi meniru

model ilmu alam agar motivasi manusia benar-benar dapat dipelajari

sebagaimana layaknya fisika atau kimia. Ilmu baru ini akhirnya menjadi

ilmu dominan yang mempelajari statika sosial (struktur sosial)

dan dinamika sosial (perubahan sosial).

Comte percaya bahwa pendekatan ilmiah untuk memahami masyarakat

akan membawa pada kemajuan kehidupan sosial yang lebih baik. Ini

didasari pada gagasannya tentang Teori Tiga Tahap Perkembangan

Masyarakat, yaitu bahwa masyarakat berkembang secara evolusioner

dari tahap teologis (percaya terhadap kekuatan dewa), melalui

tahap metafisik (percaya

pada

kekuatan

abstrak),

hingga

tahap positivistik (percaya

terhadap

ilmu

sains).

Pandangan

evolusioner ini mengasumsikan bahwa masyarakat, seperti halnya

organisme, berkembang dari sederhana menjadi rumit. Dengan

demikian, melalui sosiologi diharapkan mampu mempercepat positivisme

yang membawa ketertiban pada kehidupan sosial.

(8)

Emile Durkheim : Sosiologi Struktural

Prancis (1859-1917)

Untuk menjelaskan tentang masyarakat, Durkheim (1859-1917)

berbicara mengenaikesadaran kolektif sebagai kekuatan moral yang

mengikat individu pada suatu masyarakat. Melalui karyanya The Division

of Labor in Society (1893). Durkheim mengambil pendekatan kolektivis

(solidaritas) terhadap pemahaman yang membuat masyarakat bisa

dikatakan primitif atau modern. Solidaritas itu berbentuk nilai-nilai,

adat-istiadat, dan kepercayaan yang dianut bersama dalam ikatan

kolektif. Masyarakat primitif/sederhana dipersatukan oleh ikatan moral

yang kuat, memiliki hubungan yang jalin-menjalin sehingga dikatakan

memiliki Solidaritas Mekanik.Sedangkan pada masyarakat yang

kompleks/modern, kekuatan kesadaran kolektif itu telah menurun

karena terikat oleh pembagian kerja yang ruwet dan saling

menggantung atau disebut memiliki Solidaritas Organik .

Selanjutnya dalam karyanya yang lain The Role of Sociological

Method (1895), Durkheim membuktikan cara kerja yang disebut Fakta

Sosial, yaitu fakta-fakta dari luar individu yang mengontrol individu

untuk berpikir dan bertindak dan memiliki daya paksa. Ini berarti

struktur-struktur tertentu dalam masyarakat sangatlah kuat, sehingga

dapat mengontrol tindakan individu dan dapat dipelajari secara objektif,

seperti halnya ilmu alam. Fakta sosial terbagi menjadi dua

bagian, material (birokrasi dan hukum) dan nonmaterial (kultur dan

lembaga sosial).

Dua tahun kemudian melalui Suicide (1897), Durkheim berusaha

membuktikan bahwa ada pengaruh antara sebab-sebab sosial (fakta

sosial) dengan pola-pola bunuh diri. Dalam karya itu disimpulkan ada 4

macam tipe bunuh diri, yakni bunuh diri egoistik (masalah

pribadi), altruistik (untuk

kelompok), anomik (ketiadaan

kelompok/norma), dan fatalistik(akibat tekanan kelompok). Berdasarkan

hal itu Durkheim berpendapat bahwa faktor derajat keterikatan manusia

(9)

pada kelompoknya (integrasi sosial) sebagai faktor kunci untuk

melakukan bunuh diri.

Karl Marx: Sosiologi Marxis

Jerman (1818-1883)

Karl

Marx

(1818-1883)

melalui

pendekatan materialisme

historis percaya bahwa penggerak sejarah manusia adalah konflik

kelas. Marx memandang bahwa kekayaan dan kekuasaan itu tidak

terdistribusi secara merata dalam masyarakat. Oleh karena itu kaum

penguasa yang memiliki alat produksi (kaum borjuis/kapitalis)

senantiasa terlibat konflik dengan kaum buruh yang dieksploitasi (kaum

proletar).

Sosiologi Marxis tentang kapitalisme menyatakan bahwa produksi

komoditas mau tak mau membawa sistem sosial yang secara

keseluruhan merefleksikan pengejaran keuntungan ini. Nilai-nilai

produksi merasuk ke semua bidang kehidupan. Segala sesuatunya,

penginapan, penyedia informasi, rumah sakit, bahkan sekolah kini

menjadi bisnis yang menguntungkan. Tingkat keuntungannya

menentukan berapa banyak staf dan tingkat layanan yang diberikan.

Inilah yang dimaksud Marx bahwa infrastruktur ekonomi menentukan

suprastruktur (kebudayaan, politik, hukum, dan ideologi).

Pendekatan Sosiologi Marxis menyimpulkan mengenai ide pembaruan

sosial yang telah terbukti sebagai ide yang hebat pada abad XX,

sebagai berikut (Osborne, 1996: 50): semua masyarakat dibangun atas

dasar konflik, penggerak dasar semua perubahan sosial adalah ekonomi,

masyarakat harus dilihat sebagai totalitas yang di dalamnya ekonomi

adalah faktor dominan, perubahan dan perkembangan sejarah tidaklah

(10)

acak, tetapi dapat dilihat dari hubungan manusia dengan organisasi

ekonomi, individu dibentuk oleh masyarakat, tetapi dapat mengubah

masyarakat melalui tindakan rasional yang didasarkan atas

premis-premis ilmiah (materialisme historis), bekerja dalam masyarakat kapitalis

mengakibatkan keterasingan (alienasi), dan dengan berdiri di luar

masyarakat, melalui kritik, manusia dapat memahami dan mengubah

posisi sejarah mereka.

Herbert Spencer : Sosiologi Evolusioner

Inggris (1820-1903)

Herbert Spencer (1820-1903) menganjurkan Teori Evolusi untuk

menjelaskan perkembangan sosial. Logika argumen ini adalah bahwa

masyarakat berevolusi dari bentuk yang lebih rendah (barbar) ke bentuk

yang lebih tinggi (beradab). Ia berpendapat bahwa institusi sosial

sebagaimana tumbuhan dan binatang, mampu beradaptasi terhadap

lingkungan sosialnya. Dengan berlalunya generasi, anggota masyarakat

yang mampu dan cerdas dapat bertahan. Dengan kata lain “Yang layak

akan bertahan hidup, sedangkan yang tak layak akhirnya punah”.

Konsep ini diistilahkan survival of the fittest. Ungkapan ini sering

dikaitkan dengan model evolusi dari rekan sejamannya yaitu Charles

Darwin. Oleh karena itu teori tentang evolusi masyarakat ini juga sering

dikenal dengan namaDarwinisme Sosial.

Melalui teori evolusi dan pandangan liberalnya itu, Spencer sangat

poluler di kalangan para penguasa yang menentang reformasi. Spencer

setuju terhadap doktrin laissez-faire dengan mengatakan bahwa negara

tak harus mencampuri persoalan individual kecuali fungsi pasif

melindungi rakyat. Ia ingin kehidupan sosial berkembang bebas tanpa

kontrol eksternal. Spencer menganggap bahwa masyarakat itu alamiah,

dan ketidakadilan serta kemiskinan itu juga alamiah, karena itu

kesejahteraan sosial dianggap percuma. Meski pandangan itu banyak

ditentang, namun Darwinisme Sosial sampai sekarang masih terus hidup

dalam tulisan-tulisan populer.

(11)

Max Weber : Sosiologi Weber

Jerman (1864-1920)

Max Weber (1864-1920) tidak sependapat dengan Marx yang

menyatakan bahwa ekonomi merupakan kekuatan pokok perubahan

sosial. Melalui karyanya, Etika Protestan dan Semangat

Kapitalisme

, Weber menyatakan bahwa kebangkitan pandangan

religius tertentu– dalam hal ini Protestanisme– yang membawa

masyarakat pada perkembangan kapitalisme. Kaum Protestan dengan

tradisi Kalvinis menyimpulkan bahwa kesuksesan finansial merupakan

tanda utama bahwa Tuhan berada di pihak mereka. Untuk mendapatkan

tanda ini, mereka menjalani kehidupan yang hemat, menabung, dan

menginvestasikan surplusnya agar mendapat modal lebih banyak lagi.

Pandangan lain yang disampaikan Weber adalah tentang bagaimana

perilaku individu dapat mempengaruhi masyarakat secara luas. Inilah

yang disebut sebagai memahami Tindakan Sosial. Menurut Weber,

tindakan sosial dapat dipahami dengan memahami niat, ide, nilai, dan

kepercayaan

sebagai

motivasi

sosial.

Pendekatan

ini

disebut verstehen(pemahaman).

Weber juga mengkaji tentang rasionalisasi. Menurut Weber,

peradaban Barat adalah semangat Barat yang rasional dalam sikap

hidup. Rasional menjelma menjadi operasional (berpikir sistemik langkah

demi langkah). Rasionalisasi adalah proses yang menjadikan setiap

bagian kecil masyarakat terorganisir, profesional, dan birokratif. Meski

akhirnya Weber prihatin betapa intervensi negara terhadap kehidupan

warga kian hari kian besar.

Dalam karyanya yang terkenal lainnya, Politik sebagai Panggilan, Weber

mendefinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli

dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah, sebuah definisi yang

menjadi penting dalam studi tentang ilmu politik.

(12)

Georg Simmel : Filsafat Uang

Jerman (1858-1919)

Georg Simmel (1858-1919) sangat terkenal karena karyanya yang

spesifik tentang tindakan dan interaksi individual, seperti bentuk-bentuk

interaksi, tipe-tipe orang berinteraksi, kemiskinan, pelacuran, dan

masalah-masalah berskala kecil lainnya. Karya-karya Simmel ini nantinya

menjadi rujukan tokoh-tokoh sosiologi di Amerika.

Karya yang terkenal dari Simmel adalah tentang Filsafat Uang. Simmel

sebagai sosiolog cenderung bersikap menentang terhadap modernisasi

dan sering disebut bervisi pesimistik. Pandangannya sering

disebut Pesimisme Budaya. Menurut Simmel, modernisasi telah

menciptakan manusia tanpa kualitas karena manusia terjebak dalam

rasionalitasnya sendiri. Sebagai contoh, begitu teknologi industri sudah

mulai canggih, maka keterampilan dan kemampuan tenaga kerja secara

individual makin kurang penting. Bisa jadi semakin modern teknologi,

maka kemampuan tenaga individu makin merosot bahkan cenderung

malas.

Di sisi lain, gejala monetisasi di berbagai faktor kehidupan telah

membelenggu masyarakat terutama dalam hal pembekuan kreativitas

orang, bahkan mampu mengubah kesadaran. Mengapa? Uang secara

ideal memang alat pembayaraan, tetapi karena kekuatannya, uang

menjadi sarana pembebasan manusia atas manusia. Artinya uang sudah

tidak dipahami sebagai fungsi alat, tetapi sebagai tujuan. Kekuatan

kuantitatifnya telah mampu mengukur berbagai jarak sosial yang

membentang antar individu, seperti cinta, tanggung jawab, dan bahkan

mampu membebaskan atas kewajiban dan hukuman sosial. Barang

siapa memiliki uang dialah yang memiliki kekuatan.

(13)

Ferdinand Tonnies : Klasifikasi Sosial

Jerman (1855-1936)

Ferdinand Tonnies (1855-1936) mengkaji bentuk-bentuk dan pola-pola

ikatan sosial dan organisasi sehingga menghasilkan klasifikasi sosial.

Menurut

Tonnies,

masyarakat

itu

bersifat gemeinschaft (komunitas/paguyuban)

atau gesselschaft (asosiasi/ patembayan).

Masyarakat gemeinschaft adalah

masyarakat

yang

mempunyai

hubungan sosial tertutup, pribadi, dan dihargai oleh para anggotanya,

yang didasari atas hubungan kekeluargaan dan kepatuhan sosial.

Komunitas seperti ini merupakan tipikal masyarakat pra-industri atau

masyarakat pedesaan. Sedangkan pada masyarakat gesselschaft,

hubungan kekeluargaan telah memudar, hubungan sosial cenderung

impersonal dengan pembagian kerja yang rumit. Bentuk seperti ini

terdapat pada masyarakat industri atau masyarakat perkotaan. Tema

dasar

Tonnies

adalah hilangnya

komunitas dan bangkitnya

impersonalitas. Ini menjadi penting dalam kajian tentang masyarakat

perkotaan.

Herbert Marcuse : One Dimensional Man

Jerman (1898-1979)

Herbert Marcuse (1898-1979) merupakan anggota Mazhab Frankfurt

yang setengah hati. Menjadi terkenal selama tahun 1960-an karena

dukungannya terhadap gerakan radikal dan anti-kemapanan. Dia

pernah dijuluki “kakek terorisme”, merujuk pada kritiknya tentang

(14)

masyarakat kapitalis, One Dimensional Man (1964) yang berargumen

bahwa kapitalisme menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu, kesadaran

palsu, dan budaya massa yang memperbudak kelas pekerja.

Jurgen Habermas : Komunikasi Rasional

Jerman, 1929

Setelah tahun 1960-an, sosiologi makin menyadari pentingnya faktor

kebudayaan dan komunikasi dalam menganalisis masyarakat. Jurgen

Habermas (1929- ) menggabungkan kesadaran baru dengan Mazhab

Frankfurt. Habermas membicarakan komunikasi rasional dan

kemungkinan keberadaannya dalam masyarakat kapitalis. Dalam

karyanya The Theory of Communicative Action (1981), Habermas

mengemukakan analisis kompleks tentang masyarakat kapitalis dan

cara-cara yang mungkin untuk melawan melalui emansipasi komunikatif

dan moral.

Antonio Gramsci: Hegemoni

Italia (1891-1937)

Antonio Gramsci (1891-1937), seorang sosiolog Italia adalah seorang

pemikir kunci dalam pendefinisian ulang perdebatan mengenai kelas dan

kekuasaan. Konsepnya tentang Hegemoni menjadi diskusi tentang

kompleksitas masyarakat modern. Gramsci menyatakan bahwa kaum

Borjuis berkuasa bukan karena paksaan, melainkan juga dengan

persetujuan, membentuk aliansi politik dengan kelompok-kelompok lain

(15)

dan bekerja secara ideologis untuk mendominasi masyarakat. Dengan

kata lain, masyarakat berada dalam keadaan tegang terus-menerus.

Ide mengenai hegemoni (memenangkan kekuasaan berdasarkan

persetujuan masyarakat) sangat menarik karena pada kenyataannya

individu selalu bereaksi terhadap dan mendefinisi ulang masyarakat dan

kebudayaan tempat mereka berada. Ide-ide Gramsci selanjutnya banyak

berpengaruh pada studi kebudayaan dan budaya populer.

Charles Horton Cooley (1846-1929)

Charles Horton Cooley (1846-1929) memandang bahwa hidup

manusia secara sosial ditentukan oleh bahasa, interaksi dan pendidikan.

Secara biologis manusia tiada beda, tapi secara sosial tentu sangat

berbeda. Perkembangan historislah yang menyebabkan demikian. Dalam

analisisnya mengenai perkembangan individu, Cooley mengemukakan

teori yang dikenal dengan Looking Glass-Self atau Teori Cermin Diri.

Menurutnya di dalam individu terdapat tiga unsur: 1) bayangan

mengenai bagaimana orang lain melihat kita; 2) bayangan mengenai

pendapat orang lain mengenai diri kita; dan 3) rasa diri yang bersifat

positif maupun negatif.

George Herbert Mead (1863-1931)

George Herbert Mead (1863-1931), salah satu tokoh sentra

interaksionisme

simbolik

menggambarkan

pembentukan

diri”

atau tahap sosialisasi dalam ilustrasi pertumbuhan anak, dimana

terdapat tiga tahap pertumbuhan anak, yakni 1) tahap bermain (play

stage); 2) tahap permainan (game stage); dan 3) tahap mengambil

peran orang lain (taking role the other).

Manusia tidak bereaksi terhadap dunia sekitar secara langsung, mereka

bereaksi terhadap makna yang mereka hubungkan dengan benda-benda

(16)

dan kejadian-kejadian sekitar mereka, lampu lalu lintas, antrian pada

loket karcis, peluit seorang polisi dan isyarat tangan. W.I.

Thomas (1863-1947), mengungkapkan tentang definisi suatu situasi,

yang mengutarakan bahwa kita hanya dapat bertindak tepat bila kita

telah menetapkan sifat situasinya. Bila seorang laki-laki mendekat dan

mengulurkan tangan kanannya, kita mengartikannya sebagai salam

persahabatan, bila mendekat dengan tangan mengepal situasinya akan

berlainan. Kegagalan merumuskan situasi perilaku secara benar dan

bereaksi dengan tepat, dapat menimbulkan akibat-akibat yang kurang

menyenangkan.

Ibnu Kholdun : Bapak Sosiologi Islam

Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M – Kairo 25

Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M

Lelaki yang lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M.

adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal

Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai

bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori

ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum

Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823)

mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia

remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.

Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat

dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya

dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di

tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.

Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya,

at-Ta‟riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab

sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-‟ibar yang

bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul

(17)

ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat

teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar

al-Mutaqaddimiin wa al-Muta‟akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).

DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of Aberdeen,

Scotland dalam artikelnya “The Islamic Review & Arabic Affairs” di tahun

1970-an mengomentari tentang karya-karya Ibnu Khaldun. Ia

menyatakan, “Tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu Khaldun hanya

satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia

Barat, terutama ahli-ahli sosiologi dalam bahasa Inggris (yang menulis

karya-karyanya dalam bahasa Inggris).” Salah satu tulisan yang sangat

menonjol dan populer adalah muqaddimah (pendahuluan) yang

merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji

hingga saat ini.

Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini

Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan „gejala-gejala

sosial‟ dengan metoda-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat

bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut.

Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang

membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen

dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.

Bab ke dua dan ke empat berbicara tentang gejala-gejala yang

berkaitan dengan cara berkumpulnya manusia serta menerangkan

pengaruh faktor-faktor dan lingkungan geografis terhadap gejala-gejala

ini. Bab ke empat dan kelima, menerangkan tentang ekonomi dalam

individu, bermasyarakat maupun negara. Sedangkan bab ke enam

berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuan serta alat-alatnya.

Sungguh mengagumkan sekali sebuah karya di abad ke-14 dengan

lengkap menerangkan hal ihwal sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu dan

pengetahuan. Ia telah menjelaskan terbentuk dan lenyapnya

negara-negara dengan teori sejarah.

Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya

negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negera-negara) yang

memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul

oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang

ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga

yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh

materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual

melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal

(18)

maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu

mengawasi kelemahannya.

Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang

sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar

pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu

Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu

keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi

akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah

bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh

umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran

dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran

Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang

lain.”

Referensi

Dokumen terkait