• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPER ILMIAH PENGARUH TERAPI MUSIK DAN TARI UNTUK LATIHAN BERJALAN DAN KESEIMBANGAN POSTUR PADA PENDERITA PARKINSON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PAPER ILMIAH PENGARUH TERAPI MUSIK DAN TARI UNTUK LATIHAN BERJALAN DAN KESEIMBANGAN POSTUR PADA PENDERITA PARKINSON"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER ILMIAH

PENGARUH TERAPI MUSIK DAN TARI UNTUK LATIHAN

BERJALAN DAN KESEIMBANGAN POSTUR PADA

PENDERITA PARKINSON

Oleh :

Riza Daeng Sukirman L Rahmat Agung Prakoso Ega Halima Ramdini

JURUSAN FISIOTERAPI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2021

(2)

Pembukaan

Otak mengatur dan merangsang pergerakan yang ada pada tubuh manusia. Otak juga dapat menyimpan memori, mempelajari hal baru dan mengembangkan ide yang ada pada pikiran manusia. Otak bekerja dengan mengirimkan sinyal berupa pesan impuls yang dihantarkan melalui saraf menuju otot sehingga menimbulkan suatu gerakan. Lebih dari itu, otak juga mengatur produksi hormon-hormon yang ada dalam tubuh manusia, sebagai salah satu contohnya adalah hormon dopamine. Dopamine merupakan hormon yang memegang peranan dalam pengaturan emosi. Pelepasan dopamine dalam jumlah yang tepat dapat meninkatkan suasana hati manusia.

Penurunan kadar dopamine sebagai salah satu akibat dari proses degenerasi akan menganggu suatu area otak yang disebut sebagai subtantia nigra. Gangguan

neurodegeneratif ini dinamakan sebagai penyakit Parkinson. Subtantia nigra bersama

dengan corpus striatum memiliki fungsi dalam memproduksi gerakan yang terkontrol dan bersifat halus. Hal ini sejalan dengan gejala yang muncul pada pasien Parkinson dimana terdapat tremor dan rigiditas sebagai dampak dari kurangnya produksi dopamine pada subtantia nigra. Meskipun demikian, penyebab dari penyakit Parkinson belum diketahui secara pasti, namun para ahli berpendapat bahwa penaykit ini timbul karena faktor genetik, usia, dan ras

Secara keseluruhan, rehabilitasi dan terapi pada Parkinson terdiri atas

stretching, strenghthening, latihan keseimbangan, latihan postural, latihan okupasi,

latihan treadmill, serta latihan ketahanan (Abbruzzese et. al, 2015). Selain latihan fisik, jenis latihan yang biasa digunakan untuk melatih kognitif pasien Parkinson adalah latihan aerobic dengan intensitas yang rendah (Petzinger et. al, 2013). Sementara untuk melakukan latihan keseimbangan dan pengembalian pola jalan dapat menggunakan latihan Tai-Chi, Yoga, atau model latihan keseimbangan secara konvensional. (Khuzema, Brammatha, & Selvan, 2020).

(3)

Baru-baru ini, latihan tari dan musik menjadi penelitian yang menarik untuk terapi Parkinson, akan tetapi penggunaan tari dan musik sebagai metode terapi belum dipraktekkan secara klinis di Indonesia. Tarian adalah aktivitas manusia di seluruh dunia yang melibatkan gerakan seluruh tubuh yang kompleks melalui ruang yang disinkronkan dengan musik. Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan jika penggunaan tari sebagai alat terapi untuk mengatasi gangguan psikologis dan fisik meningkat oleh adanya efek positif pada kualitas hidup dan kelelahan pada orang dengan kanker. Selanjutnya, tarian telah digunakan secara luas untuk pengobatan gaya berjalan dan disfungsi keseimbangan pada individu dengan penyakit Parkinson. (Patterson, Wong, Prout, & Brooks, 2018).

Melalui studi literatur yang telah tim kami lakukan, penggunaan tari sebagai metode terapi sangat mungkin dilakukan di Indonesia untuk pasien Parkinson selama proses rehabilitasi. Hal ini memberikan peluang untuk diteliti lebih lanjut sehingga potensi dari tari dan musik dapat segera diaplikasikan.

(4)

Isi

Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegenerative yang paling banyak menyerang setelah Alzheimer (Chou et. al, 2017). Ditandai adanya penurunan fungsi eksekuitf seperti bradikinesia, tremor, spastic dan kelainan pada postur dan berjalan. Defisit atau penurunan yang dimaksud adalah penurunan gangguan berjalan, penurunan fungsi emosional, penurunan pergerakan yang terkontrol, spastic serta penurunan fungsi dari otot, hilangnya kapasitas fungsional sehingga menyebabkan adanya penurunan kualitas hidup (Lesiuk, Bugos, & Murakami, 2018). Menurut Hudges dan Roller yang dikutip oleh Muliawan, Jehosua, & Tumewah (2018) kriteria suatu gejala dapat disebut sebagai penyakit Parkinson, apabila terdapat komplikasi motorik berupa tremor, rigiditas, brandikinesia, dan hilangnya refleks postural, selain itu juga terdapat gangguan non motorik lainnya.

Prevalensi dari kasus ini di dunia mencapai 7 juta orang sementara lansia dengan usia diatas 60 tahun memiliki prevalensi yang paling besar dalam kasus ini. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa prevalensi yang bergantung pada usia memiliki data sebanyak 41 orang dari 100.000 penduduk dari usia 40 sampai dengan 49 tahun dan 1903 dari 100.000 penduduk dengan usia lebih dari 80 tahun. Sementara itu, berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih memiliki resiko terkena Parkinson dibandingkan wanita, terutama untuk kelompok usia 50-59 tahun. Prevalensinya yakni sebanyak 134 laki-laki dan 41 perempuan per 100.000 individu. Sementara untuk kelompok umur 70-79 tahun, lebih banyak ditemukan di benua Asia (Pringsheim, Jette, Frolkis, & Steeves, 2014).

Parkinson ditandai dengan penurunan dan kehilangan hormone dopamine di

substansia nigra. Kerusakan yang disertai dengan penurunan hormon ini

menyebabkan agregrasi α-synuclein. Hal ini akan membentuk Lewy Bodies dan Lewy Neurites. Tetapi tidak hanya terjadi di substansia nigra saja namun juga melibatkan sel-sel yang berlokasi pada area otak yang lain yang saling berkoneksi.

(5)

Sebelum terdiagnosis Parkinson, fase pre-motor atau prodromal dapat terjadi bahkan dalam 12-14 tahun. Kerusakan awalnya terjadi pada sistem saraf otonom perifer dan atau olfactory bulb, dengan patologi yang kemudian menyebar ke sistem saraf pusat, lalu ke struktur bawah batang otak hingga akhirnya memengaruhi substantia nigra (Kouli, Torsney, & Kuan, 2018).

Manifestasi klinis dari Parkison secara umum terdiri atas gejala motorik dan non-motorik (Muliawan, Jehosua, & Tumewah, 2018). Gejala motorik adalah gejala yang terdiri atas empat gambaran utama dari penyakit ini, seperti bradikinesia, tremor, rigiditas dan kelainan pada postur penderitanya. Sementara untuk gejala non-motoriknya yakni adanya gangguan tidur dalam fase rapid eye movement, hiposmia, gangguan perilaku, konstipasi dan adanya kecenderungan depresi (Muliawan, Jehosua, & Tumewah, 2018).

Sebagai contoh, pada gerakan normal, jaringan yang terlibat adalah korteks

basal ganglia-thalamo-motor dan korteks serebelar-thalamo-motorik. Jaringan ini

juga terhubung dengan korteks pendengaran. Korteks ganglia-thalamo-motorik basal terlibat dalam gerakan yang bergantung pada perhatian, dan korteks

serebelar-thalamo-motorik terlibat dalam pengkodean preatentif dari struktur temporal berbasis

peristiwa dan pencocokan gerakan dengan isyarat pendengaran. Pacchetti dkk mengemukakan bahwa perbaikan gejala motorik mungkin terkait dengan respon emosional pasien terhadap musik. Ini didasarkan pada bagian yang mengatur penguatan motivasi perilaku umum atau perilaku sehari-hari seseorang, yang melibatkan proyeksi mesolimbik dopaminergik ke nuclei striatum-intraccumbens, yang mana fungsi nuclei intraccumbens ini adalah untuk melepas zat kimia yang mengatur mood seseorang yakni dopamine. Jadi, respon emosional terhadap musik terapi juga merangsang jaringan ganglia kortikal-basal. ( (Natalia C, Juan E, Julia E, 2018).

(6)

Gangguan berjalan menjadi salah satu gejala utama yang ditimbulkan karena adanya kelainan pada postur pasien. Pola berjalan pada kasus ini secara umum ditandai dengan adanya langkah pendek yang menyeret. Selain itu, penderita memiliki kecepatan jalan yang lambat dan memiliki fase double-support yang lama. Kelainan lainnya yakni adanya penurunan rotasi dan trunk, variabilitas pada langkah yang tinggi serta penderita ketika berputar atau berbelok memiliki langkah yang lebih banyak sekaligus lebih kecil. Hipokinetik dan gaya berjalan yang kurang fleksibel menyebabkan resiko jatuh pada penderita Parkinson meningkat sebesar 50% (Mak, et al. 2017).

Penyebab pada kelainan pada postural tidak sepenuhnya dipahami. Dystonia

aksial atau kekakuan otot fleksor tulang belakang telah dikemukan sebagai

kemungkinan dari penyebab sekunder dari generasi dari jalur domapin dan disfungsi non-dopamin yang berasal dari basal ganglia. Hal inilah yang menjadi kemungkinan terjadinya kelainan postur pada lansia (Kashihara & Imamura, 2012). Selain mengalami kesulitan dalam mempertahankan posisi postur secara vertikal, penderita Parkinson telah mengurangi batas stabilitas (LOS) dan kurang kemampuan untuk mempertahankan postur miring tanpa mengubah mereka dasar dukungan. Mereka tetap dalam keadaan bungkuk postur tubuh sambil bersandar, dan hanya bisa memulai gerakan dengan lebih kecil amplitudo dan kecepatan lebih lambat . Jadi penurunan LOS pada orang dengan Parkinson merupakan faktor risiko jatuh yang signifikan (Latt, Lord, Morris, & Fung, 2009).

Pasien biasanya diberikan latihan aerobic, Yoga, Tai-chi serta latihan gait dan keseimbangan yang konvensional untuk mengatasi permasalahan postur dan kemampuan berjalan. Penelitian yang dilakukan oleh Khuzema, Brammatha, & Selvan (2020), menjelaskan bahwa penggunaan olahraga diatas sebagai dasar dari Home Program dapat memberikan efek pengoptimalan keseimbangan dan mobilisasi. Sekaligus berperan dalam peningkatan koordinasi pada penderita Parkinson dan membantu perbaikan postur tubuh.

(7)

Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa salah satu jenis terapi yang membantu memperbaiki dan mengurangi progresif pada lansia adalah terapi tari dan musik. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Muelle & Rodriguez (2019) dengan systematic review menyebutkan bahwa terapi tari dapat meningkatkan kemampuan kognitif, emosional dan psikologi serta memperbaiki dan mencegah penurunan kualitas hidup pada penderita Alzheimer. Selain itu, terapi tari dan musik yang dikombinasikan bersamaan dapat memberikan efek peningkatan kognitif, keseimbangan, meningkatkan mobilitas saat berjalan dan penurunan resiko jatuh pada penderita Alzheimer (Fang, et. al, 2017; Sowalsky et. al, 2017).

Tari merupakan salah satu bentuk latihan fisik yang berguna untuk merangsang kognitif dan meningkatkan neurogenesis pada penderita Parkinson dengan harapan dapat memperlambat penyakit dengan progresif yang buruk ini (Rocha et. al, 2018). Menurut Foster (2013), tarian juga dapat mengaktifkan jalur saraf yang berkaitan dengan gerakan, persepsi, fungsi eksekutif, memori, dan emosi. Tango Argentina, tarian Irlandia, dansa ruang, tari campuran, dan tarian improvisasi dapat menurunkan resiko disabilitas pada pasien penderita Parkison tahap menengah (Alves Da Rocha et al, 2015).

Penelitian yang dilakukan oleh Foster (2013), juga menyebutkan bahwa terapi tari dengan menggunakan genre tango Argentina juga meningkatkan kemampuan penggunaan ruang bagi penderita Parkinson dengan memanfaatkan teknik tari tango yang memaksimalkan penggunaan ruang. Penderita Parkinson biasanya memiliki penggunaan ruang yang terbatas dikarenakan postur tubuh dan penurunan keseimbangan. Tari tango sebagai salah satu intervensi dapat memaksimalkan penggunaan ruang yang baik. Selain itu, terapi tari jenis tango juga dapat meningkatkan keseimbangan, mobilisasi fungsional, kepuasan dalam perawatan, dan memberikan dampak kognitif yang baik (Romenets, et al. 2015).

(8)

Terapi tari untuk Parkinson dapat dikombinasikan dengan terapi musik. Pelatihan kognitif dengan menggunakan tari dan musik dapat memberikan kesadaran mengenai kemampuan yang tersisa dengan menghasilkan efek kompensasi pada fungsi kognitif dan motoric (Pereira et al, 2019). Kesinambungan antar terapi ini berhubungan dengan stabilisasi statis dan dinamis sehingga menghasilkan postur berjalan yang lebih baik (Anna et al, 2016).

Mekanisme musik terapi pada parkinson melibatkan konsep entrainment ritmis, yang merupakan pola tubuh internal dengan ritme eksternal di mana sistem pendengaran melakukan sinkronisasi dengan sistem motorik untuk memfasilitasi gerakan. Analisis elektroensefalografi (EEG) pada individu normal dan pada pasien Parkinson menunjukkan aktivasi sinergis korteks pendengaran dan motorik dengan terapi musik. (Buard, Dewispelaere, & Thaut, 2019).

Stimulasi ritme melalui musik dan suara telah terbukti memperbaiki defisit motorik pada berbagai gangguan gerakan. Irama didefinisikan sebagai pola musik atau suara berbasis waktu yang terdiri dari pengelompokan not, ketukan, aksen, dan frasa yang terlihat. Ketukan adalah satuan denyut ritmis. Tugas yang membutuhkan persepsi dan produksi melodi merekrut area pendengaran dan motorik otak. Mendengarkan rangsangan ritmik secara pasif, bahkan tanpa adanya tindakan atau niat motorik, dapat mengaktifkan sistem pendengaran serta mid-premotor cortex (PMC) dan supplementary motor area (SMA).

Melalui proses yang disebut entrainment ritmis, manusia secara alami bergerak selaras dengan isyarat ritmis eksternal. Bukti dari ritme entrainment dapat diamati ketika manusia secara spontan bergerak atau menari mengikuti ketukan musik, bahkan tanpa sadar akan tindakan mereka. Contoh lain dari entrainment ritmis adalah saat manusia berjalan berdampingan, mereka secara alami menyelaraskan langkah kaki mereka tanpa instruksi atau niat sadar. (Ashoori, Eagleman, & Jankovic, 2015).

(9)

Musik dapat melibatkan dan memodulasi area otak yang terlibat dalam persepsi dan regulasi seperti pada aspek suasana hati, perilaku, gerakan, dan faktor kognitif. Banyak penelitian terbaru telah membuktikan bahwa musik terapi dapat memberikan perkembangan yang progresif pada kognitif, koordinasi, mobilitas, keseimbangan, dan beberapa aspek lain pada pasien Parkinson Disease tergantung pada jenis musik terapi apa yang digunakan. (Tsoi & Chan, 2018).

Musik dengan mudah memunculkan gerakan, merangsang interaksi antara persepsi dan sistem tindakan. Musik terapi dapat digunakan dalam mode aktif, dengan pasien memainkan instrumen atau bernyanyi, atau dalam mode pasif, dengan pasien hanya mendengarkan. Jenis terapi musik yang diterapkan atau diberikan sebagai intervensi pun sangat beragam yakni rhytmic auditory stimulation (RAS), singing therapy, choral singing, dan familiar music therapy, dan masih banyak lagi. Namun yang sudah banyak di teliti dan terbukti efeknya pada pasien parkinson adalah terapi musik yang berirama, dan terapi musik yang beritme. (Natalia, Juan, & Julia, 2018)

Beberapa konsep musik terapi yang digunakan pada pasien Parkinson Disease adalah priming dimana musik merangsang sistem motorik untuk dipersiapkan melakukan gerakan, kemudian koherensi saraf yang mana konsep musik terapi ini adalah dengan menstimulasi pendengaran ritmik eksternal, selanjutnya ada RAS yang meningkatkan parameter gaya berjalan melalui mekanisme dimana terjadi peningkatan sinkronisasi neuron di korteks motorik, selanjutnya korteks pendengaran dan efek motivasi musik dapat menyebabkan percepatan pembelajaran motorik. Fase ini menjadi mekanisme penting, terutama untuk penyakit seperti Parkinson (dengan

defisit dopaminergik) yang mempengaruhi motivasi. (Clements & Bartel, 2018;

(10)

Genre musik juga berpengaruh pada pola atau gaya berjalan, kecepatan gait, dan keseimbangan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada sample orang normal dan pasien parkinson dengan meminta pasien berjalan sejauh 18 meter sambil menggunakan earphone dan mendengarkan genre musik berbeda-beda yakni musik klasik dan musik rock membuktikan bahwa genre music klasik menurunkan jumlah atau kecepatan gait, sedangkan music rock dapat meningkatkan kecepatan gait. Hal ini berarti genre musik juga dapat mempengaruhi gait pattern pasien Parkinson. (De Bartolo et al, 2019).

Terapi tari yang diiringi dengan musik, telah diteliti secara spesifik di beberapa negara seperti AS, Kanada, dan beberapa negara Eropa dan terbukti memiliki dampak yang baik untuk para penderita Parkinson. Meskipun demikian, jenis terapi tari dan musik untuk penderita Parkinson belum terlalu popular di Indonesia, padahal penelitian mengenai hal ini sudah mulai dikembangkan dan digunakan sebagai salah satu jenis terapi untuk para penderita Parkinson.

(11)

Penutup

Parkinson adalah suatu penyakit neurodegenerative yang menyerang 7 juta orang di dunia. Gejala yang khas dari Parkinson yakni adaya bradikinesia, rigiditas, tremor serta adanya gangguan postur dan gangguan berjalan. Gangguan berjalan pada penderita Parkinson telah menjadi salah satu permasalahan penting dalam proses penyembuhan. Salah satu jenis terapi yang terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan kognitif, memperbaiki pola jalan, serta menurunkan resiko jatuh pada pasien penderita adalah terapi tari dan musik.

Terapi tari dan musik yang telah dikembangkan selama beberapa tahun terakhir terbukti dapat memberikan hasil positif. Irama dan ritmis pada tari dan musik dapat merangsang kognitif. Bersamaan dengan itu, rangsangan suara dengan berjalan dapat meningkatkan stabilitas dinamis dan statis sehingga menghasilkan postur berjalan yang lebih baik. Penambahan gerakan tari, akan menghasilkan stimulasi ritmik yang kemudian akan meningkatkan mobilitas dan keseimbangan. Diharapkan di masa depan, pemberian terapi musik yang disertai dengan tari dapat menjadi salah satu terapi untuk penderita Parkinson yang digunakan secara luas dan Indonesia menjadi salah satunya.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Abbruzzese, G., Marchese, R., Avanzino, L., & Pelosin, E. (2015). Parkinsonism and Related Disorders Rehabilitation for Parkinson ’ s disease : Current outlook and future challenges. Parkinsonism and Related Disorders.

https://doi.org/10.1016/j.parkreldis.2015.09.005

Alves Da Rocha, P., McClelland, J., & Morris, M. E. (2015). Complementary physical therapies for movement disorders in Parkinson’s disease: A systematic review. European Journal of Physical and Rehabilitation Medicine, 51(6), 693– 704.

Ascherio, A., & Schwarzschild, M. A. (2016). The epidemiology of Parkinson ’ s disease : risk factors and prevention. The Lancet Neurology, 15(12), 1257–1272. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(16)30230-7

Ashoori, A., Eagleman, D. M., & Jankovic, J. (2015). Effects of auditory rhythm and music on gait disturbances in Parkinson’s disease. Frontiers in Neurology,

6(NOV). https://doi.org/10.3389/fneur.2015.00234

Buard, I., Dewispelaere, W. B., Thaut, M., & Kluger, B. M. (2019). Preliminary

Neurophysiological Evidence of Altered Cortical Activity and Connectivity With Neurologic Music Therapy in Parkinson ’ s Disease. 13(February), 1–6.

https://doi.org/10.3389/fnins.2019.00105

Chou, K. L., Elm, J. J., Wielinski, C. L., Simon, D. K., Aminoff, M. J., Christine, C. W., Liang, G. S., Hauser, R. A., Sudarsky, L., Umeh, C. C., Voss, T., Juncos, J., Fang, J. Y., Boyd, J. T., Bodis-Wollner, I., Mari, Z., Morgan, J. C., Wills, A. M., Lee, S. L., & Parashos, S. A. (2017). Factors associated with falling in early, treated Parkinson’s disease: The NET-PD LS1 cohort. Journal of the

(13)

Clements-Cortes, A., & Bartel, L. (2018). Are we doing more than we know? Possible mechanisms of response to music therapy. Frontiers in Medicine,

5(September), 1–8. https://doi.org/10.3389/fmed.2018.00255

De Bartolo, D., Morone, G., Giordani, G., Antonucci, G., Russo, V., Fusco, A., Marinozzi, F., Bini, F., Spitoni, G. F., Paolucci, S., & Iosa, M. (2020). Effect of different music genres on gait patterns in Parkinson’s disease. Neurological

Sciences, 41(3), 575–582. https://doi.org/10.1007/s10072-019-04127-4

Devlin, K., Alshaikh, J. T., & Pantelyat, A. (2019). Music Therapy and Music-Based

Interventions for Movement Disorders. 0.

Fang, R., Ye, S., Huangfu, J., & Calimag, D. P. (2017). Music therapy is a potential intervention for cognition of Alzheimer ’ s Disease : a mini-review.

Translational Neurodegeneration, 1–8.

https://doi.org/10.1186/s40035-017-0073-9

Foster, E. R., Golden, L., Duncan, R. P., & Earhart, G. M. (2013). Community-based argentine tango dance program is associated with increased activity participation among individuals with parkinson’s disease. Archives of Physical Medicine and

Rehabilitation, 94(2), 240–249. https://doi.org/10.1016/j.apmr.2012.07.028

Khuzema, A., Brammatha, A., & Arul Selvan, V. (2020). Effect of home-based Tai Chi, Yoga or conventional balance exercise on functional balance and mobility among persons with idiopathic Parkinson’s disease: An experimental study.

Hong Kong Physiotherapy Journal, 40(1), 39–49.

https://doi.org/10.1142/S1013702520500055

García-casares, N., Martín-colom, J. E., & García-arnés, J. A. (2018). Music Therapy in Parkinson ’ s Disease. Journal of the American Medical Directors

Association, 19(12), 1054–1062. https://doi.org/10.1016/j.jamda.2018.09.025

(14)

and neurological therapies. Cold Spring Harbor Perspectives in Medicine, 1(1). https://doi.org/10.1101/cshperspect.a008862

Hanriko, R., Anzani, B. P., Anatomi, P., Kedokteran, F., Lampung, U., Dokter, M. P., … Lampung, U. (2018). Penyakit Parkinson : Ancaman Kesehatan bagi Komunitas Pertanian Parkinson’s Disease : Health Threat to the Agricultural Community. J Agromedicine, 5(1), 508–512.

Iew, R. E. V. (2020). Patofisiologi Penurunan Kognitif pada Penyakit. 5(1), 1–11. Kouli, A. (2018). Parkinson’s Disease: Etiology, Neuropathology, and Pathogenesis.

3–26.

KALYANI, H. H., SULLIVAN, K. A., MOYLE, G. M., BRAUER, S. G., JEFFREY, E. R., & KERR, G. K. (2020). Dance improves symptoms, functional mobility and fine manual dexterity in people with Parkinson disease: A quasi-experimental controlled efficacy study. European Journal of Physical and

Rehabilitation Medicine, 56(5), 563–574.

https://doi.org/10.23736/S1973-9087.20.06069-4

Mak, M. K., Wong-yu, I. S., Shen, X., & Chung, C. L. (n.d.). Long-term effects of

exercise and physical therapy in people with Parkinson disease.

https://doi.org/10.1038/nrneurol.2017.128

Marchewka, A. (2016). Neurologic Music Therapy Training for Mobility and

Stability Rehabilitation with Parkinson ’ s Disease – A Pilot Study. 9(January),

1–12. https://doi.org/10.3389/fnhum.2015.00710

Muliawan, E., Jehosua, S., & Tumewah, R. (2018). Diagnosis dan Terapi Deep Brain Stimulation pada Penyakit Parkinson. Jurnal Sinaps, 1(1), 67–84.

Patterson, K. K., Wong, J. S., Prout, E. C., & Brooks, D. (2018). Dance for the rehabilitation of balance and gait in adults with neurological conditions other than Parkinson’s disease: A systematic review. Heliyon, 4(3), e00584.

(15)

https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2018.e00584

Pereira, A. P. S., Marinho, V., Gupta, D., Ayres, C., & Teixeira, S. (2019). Music

Therapy and Dance as Gait Rehabilitation in Patients With Parkinson Disease : A Review of Evidence. 32(1), 49–56. https://doi.org/10.1177/0891988718819858

Petzinger, G. M., Fisher, B. E., Mcewen, S., Beeler, J. A., Walsh, J. P., & Jakowec, M. W. (2013). Exercise-enhanced neuroplasticity targeting motor and cognitive circuitry in Parkinson ’ s disease. The Lancet Neurology, 12(7), 716–726. https://doi.org/10.1016/S1474-4422(13)70123-6

Pringsheim, T., Jette, N., Frolkis, A., & Steeves, T. D. L. (2014). The Prevalence of

Parkinson ’ s Disease : A Systematic Review and. 29(13), 1583–1590.

https://doi.org/10.1002/mds.25945

Putri, D. M. P., Nurrachmah, P. E., Gayatri, D., & Kes, S. M. (n.d.). YOGYAKARTA

UNIT BUDI LUHUR DAN ABIYOSO. 1–7.

Rios, S., Anang, J., Fereshtehnejad, S., Pelletier, A., & Postuma, R. (2015). Tango for treatment of motor and non-motor manifestations in Parkinson ’ s disease : A randomized control study. Complementary Therapies in Medicine, 23(2), 175– 184. https://doi.org/10.1016/j.ctim.2015.01.015

Ruiz-Muelle, A., & López-Rodríguez, M. M. (2019). Dance for People with Alzheimer’s Disease: A Systematic Review. Current Alzheimer Research,

16(10), 919–933. https://doi.org/10.2174/1567205016666190725151614

Rocha, P., Aguiar, L., McClelland, J. A., & Morris, M. E. (2018). Dance therapy for Parkinson’s disease: A randomised feasibility trial. International Journal of

Therapy and Rehabilitation, 25(2), 64–72. https://doi.org/10.12968/ijtr.2018.25.2.64

Victorino, D. B., Scorza, C. A., Fiorini, A. C., Finsterer, J., & Scorza, F. A. (2021). “Mozart effect” for Parkinson’s disease: music as medicine. Neurological

(16)

Sciences, 42(1), 319–320. https://doi.org/10.1007/s10072-020-04537-9

Zhang, S., Liu, D., Ye, D., Li, H., & Chen, F. (2017). Can music-based movement therapy improve motor dysfunction in patients with Parkinson’s disease? Systematic review and meta-analysis. Neurological Sciences, 38(9), 1629–1636. https://doi.org/10.1007/s10072-017-3020-8

Referensi

Dokumen terkait