Disusun oleh :
JAKA PROPIKA 3110 105 006
IFNUL MANAF 3110 105 013
AGUSTINA DWI ATMAJI 3110 105 021
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
2011
DOSEN KONSULTASI
:
Dr.Ir. RIA ASIH ARYANI SOEMITRO, M.Eng.
TRIHANYNDYO RENDY, ST.MT
1.1 LATAR BELAKANG
Tidak semua jenis tanah itu sama berdasarkan letak geografis suatu tempat, jenis tanah,
karakteristik dan sifat tanah, sehingga belum tentu tanah tersebut baik digunakan untuk pendukung kekuatan struktur.
Salah satu jenis tanah di Indonesia adalah alluvial yang berada di Kabupaten Gresik. Tanah
alluvial termasuk tanah lempung.
Tanah lempung mempunyai nilai kembang susut yang besar sehingga termasuk jenis tanah yang
tidak stabil dan mudah menimbulkan penurunan/settlement. Penurunan yang terjadi disebabkan oleh berubahnya susunan partikel-partikel tanah maupun oleh berkurangnya angka pori di
dalam tanah tersebut.
Gempa bumi menimbulkan momen tambahan yang harus diterima struktur utama karena terjadi
perbedaan penurunan (differential settlement). Untuk mengatasi masalah ini sangat diperlukan pengetahuan tentang analisa beban dinamis dan statis yang bekerja pada suatu pondasi.
Salah satu desain pondasi struktur tahan gempa pada bangunan rendah (kurang dari 3 lantai)
adalah penggunaan buis beton sebagai perkuatan pada pondasi dangkal.
Melimpahnya bahan material limbah ( fly ash, batu putih, dan copperslag ) yang bisa di
manfaatkan untuk campuran pondasi buis beton guna mendapatkan kekuatan daya dukung ideal pondasi dangkal.
Tanah yang diambil sebagai pemodelan adalah tanah yang berada di kabupaten Gresik karena
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Bagaimana komposisi buis beton dengan campuran copper slag, fly ash dan
batu putih yang bisa menahan beban statis vertical dan beban dinamis?
Bagaimana pengaruh bentuk variasi pondasi dangkal terhadap penurunan
tanah dengan variasi L/B = 2 (persegi panjang) dan segitiga beban dinamis
yang menggunakan peta gempa 2010, (dengan uji model di laboratorium
dan analisa numerik sebagai pembanding)?
Bagaimana penurunan yang terjadi akibat beban statis vertikal dan beban
dinamis pada pondasi dangkal dengan variasi L/B = 2 (persegi panjang) dan
segitiga bila jarak pemasangan buis beton 3D dengan kedalaman 1 m (skala
1:10)?
Bagaimana pengaruh variasi pembebanan terhadap penurunan tanah pada
pondasi dengan variasi L/B = 2 (persegi panjang) dan segitiga dengan beban
dinamis yang menggunakan peta gempa 2010, (dengan uji model di
Bagaimana angka keamanan pondasi dengan menggunakan peta gempa
2010 akibat kombinasi beban statis vertikal dan beban dinamis pada tanah
pasir berlempung LL = 62,43% di kabupaten Gresik?
Bagaimana parameter fisik tanah dasar dan kuat geser sebelum dan setelah
pembebanan?
Bagaimana hasil perbandingan penurunan dan angka keamanan akibat
pembebanan kombinasi pada pondasi dengan menggunakan program bantu
1.3 BATASAN MASALAH
Tanah yang digunakan adalah tanah pasir berlempung dengan campuran
antara bentonit, pasir dan air dengan perbandingan tertentu dan nilai batas
cair yaitu LL = 62,43% berada di kabupaten Gresik.
Penelitian dilakukan terhadap pondasi dangkal dengan perkuatan buis
beton yang dimodelkan dengan perbandingan skala 1:10.
Jarak pemasangan buis beton S = 3D dengan kedalaman 10 cm.
Tidak membahas likuifaksi.
Beban dinamis yang diberikan pada pemodelan pondasi dangkal
berdasarkan peta gempa 2010, dengan pemodelan beban menggunakan
boks getar yang digerakan oleh motor penggerak.
Pemberian beban statis vertikal sebesar 10 kg, 20 kg, 30 kg dan 40 kg,
dengan pemodelan pemempatan beban secara sentris.
Pengukuran penurunan tanah menggunakan sensor penurunan pada boks
getar yang dilakukan pada tanah di bawah pondasi.
Tidak membahas kenaikan tanah disekitar pondasi akibat penurunan tanah
di bawahnya.
Percobaan menggunakan boks getar dengan ukuran 110 x 50 x 95 cm
dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah, Jurusan Teknik Sipil, ITS,
Surabaya.
1.4 TUJUAN PENELITIAN
Menganalisa komposisi buis beton menggunakan campuran copper slag, fly ash
dan batu putih untuk mendapatkan kekuatan buis beton yang sesuai dengan daya
dukung pondasi dan mampu menahan beban statis vertical dan beban dinamis.
Mengetahui pengaruh bentuk variasi pondasi dangkal terhadap penurunan tanah
dengan variasi L/B = 2 (persegi) dan segitiga dengan beban dinamis yang
menggunakan peta gempa 2010, (dengan uji model di laboratorium dan analisa
numerik sebagai pembanding).
Menganalisa penurunan yang terjadi akibat beban statis vertikal dan beban
dinamis pada pondasi dangkal dengan variasi L/B = 2 (persegi) dan segitiga
dengan menggunakan perkuatan buis beton, bila jarak pemasangan buis beton S
= 3D dengan kedalaman 1 m (dengan skala 1:10).
Mengetahui pengaruh variasi pembebanan terhadap penurunan tanah pada
pondasi dengan variasi L/B = 2 (persegi) dan segitiga dengan beban
dinamis yang menggunakan peta gempa 2010. (dengan uji model di
laboratorium dan analisa numerik sebagai pembanding).
Mengetahui perubahan angka keamanan pondasi dengan menggunakan
peta gempa 2010 akibat kombinasi beban statis vertikal dan beban dinamis
pada tanah pasir berlempung di kabupaten Gresik dengan nilai LL =
62,43%.
Mengetahui parameter fisik tanah dasar dan kuat geser sebelum dan setelah
pembebanan.
Menganalisa hasil kecenderungan perbandingan penurunan dan angka
keamanan akibat pembebanan kombinasi pada pondasi dengan
menggunakan program bantu Plaxis sesuai skala pemodelan laboratorium
dan skala di lapangan.
1.5 MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui seberapa besar penurunan
dan angka keamanan pada pondasi dangkal dengan dan tanpa perkuatan
buis beton yang memanfaatkan material limbah sebagai pada tanah pasir
berlempung dengan menggunakan peta gempa 2010 di kabupaten Gresik.
Dengan analisa yang diperoleh, diharapkan dapat menjadi wacana sebagai
bahan pertimbangan untuk mengurangi kerusakan akibat gempa pada
bangunan rendah (kurang dari 3 lantai) yang menggunakan pondasi
dangkal dan sebagai bahan pembanding terhadap penelitian kelompok
peneliti lainnya.
• 1:2:3
Flyash:Copper slag: Batu putih
• 1:3:5
Flyash:Copper slag: Batu putih
• 1:5:7
Flyash:Copper slag: Batu putih
1PC : 2PS : 3 KR • 50% : 50% Flyash : Semen : Copper slag : Pasir : Batu putih : Kerikil
• 60% : 40% Flyash : Semen : Copper slag : Pasir : Batu putih : Kerikil
• 70% : 30% Flyash : Semen : Copper slag : Pasir : Batu putih : Kerikil • 1PC (80% Flyash : 20% semen) : 2PS (Copper slag) : 3KR (Batu putih) • 1PC (90% Flyash : 10% semen) : 2PS (Copper slag) : 3KR (Batu putih) Perawatan/Curing Tes tekan
Mendapatkan komposisi optimum
Pemodelan pondasi telapak dengan perkuatan buis beton yang memanfaatkan material limbah (batu putih, copper slag, dan fly ash)
A
Identifikasi sifat-sifat tanah dan uji parameter tanah Persiapan dan pengujian material untuk beton (copper slag, semen, flyash, pasir, kerikil, batu putih
Identifikasi tanah asli/lapangan LL = 62,43% Gs = 2,698 %
PL = 30,25 % Wc = 43,9% PI = 32,18% γd = 1,142 gr/cc γsat = 1,719 gr/cc γt = 1,64 gr/cc
Pemodelan sampel tanah sesuai dengan tanah asli Mulai
WarnaHijaudikerjakan oleh Agustina Dwi Atmaji. WarnaBirudikerjakan oleh Jaka Propika.
WarnaMerahdikerjakan oleh Ifnul Manaf.
Sesuai dengan pemodelan laboratorium Sesuai dengan ukuran sebenarnya 1. Penurunan tanah 2. Angka keamanan Perbandingan Kesimpulan Selesai Penurunan tanah Parameter tanah
Output pemodelan pondasi dangkal berupa :
1. Variasi perubahan penurunan 2, Nilai angka keamanan
Output pemodelan pondasi dangkal berupa :
1. Variasi perubahan penurunan 2, Nilai angka keamanan
Analisa Numerik dengan bantuan program plaxis Pembebanan dinamis berdasarkan peta gempa 2010
a = 1,471 m/s2 f = 1,0 hz r = 0,04 cm a = 1,962 m/s2 f = 1,0 hz r = 0,05 cm
Pembebanan statis vertikal 10 kg, 20 kg, 30 kg, 40 kg A
Pondasi telapak persegi L/B = 2 (2 tiang buis beton) Kedalaman = 1 m Diameter = 0,3 m Dengan S = 3D Skala 1 : 10 Pondasi telapak persegi (L/B = 2) dan segitiga Tanpa perkuatan buis beton Skala 1 : 10 Pondasi telapak segitiga (3 tiang buis beton) Kedalaman = 1 m Diameter = 0,3 m Dengan S = 3D Skala 1 : 10
9 cm 4.5 cm 4.5 cm 4.5 cm 9 cm 18 cm 4.5 cm 9 cm 4.5 cm 4 cm 10 cm 10. 09 c m 3 cm 4.5 cm 4.5 cm 4.5 cm 4.5 cm 4.5 cm 9 cm 4.5 cm 4 cm 10 cm
Permodelan Pondasi
Analisa dan
hasil
Identifikasi Tanah Campuran Sebelum
Pembebanan
1.Hasil Pengujian LL untuk Tanah Campuran
Untuk mendapatkan tanah uji dengan kondisi LL tertentu
maka bentonit dicampur dengan pasir dan air secara merata
dengan perbandingan tertentu secara coba-coba, dengan
memperhitungkan berat alami dan kadar air masing-masing
material.
Sebagai
contoh
perbandingan
yaitu
dengan
mencampurkan pasir dan bentonit dengan perbandiangan
10% berat bentonit : 90% berat pasir, kemudian 30% berat
bentonit:
70%
berat
pasir
dan
seterusnya
hingga
Tabel 4.1 Perbandingan bentonit dan pasir
Dari hasil tersebut, dilakukan analisa regresi linier yang akhirnya
mendapatkan kombinasi untuk Liquid Limit yang diharapkan dapat
dilihat pada Gambar 4.1berikut :
Dengan Batas Cair (LL) = 62,43 % seperti kondisi tanah di
Gresik, maka perbandingan Bentonit : Pasir = 33,66 % : 66,34
%.
Dari
grafik
tersebut
diatas
terlihat
bahwa
hubungan
penambahan bentonitmenaikkan Batas Cair (LL) secara linier.
Analisa Ayakan Tanah Uji
Gambar. Kurva analisa ayakan tanah uji dengan perbandingan pasir 66,34%
dan bentonit 33,66%
Gambar diatas menunjukan bahwa 67,02% tertahan oleh
ayakan no. 200 berarti lebih dari 50% butiran tertahan
ayakan no. 200 sehingga dapat dikelompokan sebagai
tanah berbutir halus dan sebanyak 100% lolos ayakan no.
4 sehingga dapat dikelompokan sebagai pasir.
Hasil dan Analisa Kuat Tekan Pondasi
BENDA BERAT TEKAN (P) KUAT TEKAN (δ) δ UJI ( gr ) (kgf) (MPa) (MPa) 1 Komposisi 1 50:50 (B) 1 284.8 1880 6.24 2 286.3 1940 6.44 3 286.5 1980 6.57 2 Komposisi 1 50:50 (G) 1 282.3 1700 5.64 2 279.7 1660 5.51 3 286.3 1600 5.31 3 Komposisi 2 60:40 (B) 1 287.8 1440 4.78 2 287.4 1400 4.65 3 287.7 1300 4.32 4 Komposisi 2 60:40 (G) 1 308.3 1500 4.98 2 303 1480 4.91 3 302.4 1800 5.98 5 Komposisi 3 70:30 (B) 1 286.9 680 2.26 2 287.8 820 2.72 3 287.8 900 2.99 6 Komposisi 3 70:30 (G) 1 278.2 980 3.25 2 286.4 900 2.99 3 268.2 700 2.32 2.66 2.86 NO CAMPURAN 6.42 5.49 4.58 5.29
Dari Tabel diatas menunjukan bahwa komposisi campuran untuk
pondasi pada daerah Gresik, menggunakan perbandingan 1:2:3 dengan
perbandingan, semen : flyash, 50%:50% dengan hasil kuat tekan
Hasil Pengujian Parameter Geser Tanah Sebelum
Pembebanan
Hasil perhitungan uji geser langsung tanah uji dengan LL 62,43%
sebelum pembebanan selengkapnya disajikan dalam bentuk grafik
dapat dilihat pada Gambar dibawah ini:
Dari Gambar 4.3 didapatkan nilai kohesi (C) sebesar 0,044 kg/cm
2dan
Perhitungan Daya Dukung Tanah Uji
Perhitungan Daya Dukung Pondasi Dangkal
Tegangan ultimate A
(cm2) Beban (kg)
Persegi Panjang 0,431 kg/cm2 162 69,82
Segitiga 0,48 kg/cm2 283,5 138,45
Tabel Daya dukung pondasi telapak
Perhitungan Daya Dukung Tiang Kelompok
Jumlah tiang
Qu
Qu
Qu Total
S=3d
3(D)
Telapak
Persegi
2
5.37
69.82
75.19
Segitiga
3
6.83
138.45
145.28
Pondasi
Perhitungan Daya Dukung Dinamis Pondasi Dangkal
Tegangan ultimate A(cm2) Beban (kg)
Persegi 0,00527 kg/cm2 162 0,853
Segitiga 0,00790 kg/cm2 283,5 2,240
Tabel Daya dukung dinamis pondasi telapak
Perhitungan Kapasitas Horisontal Material Tiang Buis Beton (Dinamis)
Untuk Spektrum 0,2 g
F
Hu
Persegi
0,378
8,80
ok
Segitiga
0,405
13,203
ok
Pondasi
Spectrum 0,2g
Ket
Hasil Percobaan Pembebanan Tanah Uji
Perbandingan Penurunan Pondasi Pada Tanah Uji
Ditinjau Dari Variasi
Pembebanan.
Hasil Penurunan Akibat Pembebanan Dinamis Spectrum 0,2g
Hasil Penurunan Akibat Pembebanan Dinamis Spectrum
0,15g
Hasil Pengujian Parameter Fisik Tanah dan Kuat Geser Tanah
Hasil pengujian Berat Volume Tanah
(γ
t) Setelah Diberikan Beban Dinamis
Hasil Pengujian Parameter Geser Tanah (C) Setelah Diberikan
Beban Dinamis Di Laboratorium.
Hasil Pengujian Derajat Kejenuhan (Sr) Setelah Diberikan Beban Dinamis Di Laboratorium.
Analisa Angka Keamanan Pada Beban Statis
Tabel Nilai SF Dengan Variasi Beban Dan Bentuk Pondasi.
10 20 30 40
Persegi 7.0 3.5 2.3 1.7
Segitiga 13.6 6.8 4.5 3.4 Variasi Pondasi Beban (kg)
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 10 20 30 40 SF Beban (Kg) Telapak Persegi Telapak Persegi
Perbandingan Angka Keamanan Pada Pondasi Segitiga Beban Statis
0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 14.0 16.0 10 20 30 40 SF Beban (Kg) Telapak Segitiga Telapak SegitigaPerbandingan Angka Keamanan Pada Setiap Variasi Pondasi Akibat
Beban Statis
0 2 4 6 8 10 12 14 16 A ng k a k eam ana n (S F )Angka keamanan pada variasi pondasi
Beban 10 kg Beban 20 kg Beban 30 kg Beban 40 kg S egi tiga P er se gi
Analisa Angka Keamanan Pada Beban Dinamis Pondasi Telapak
F
Hu
F
Hu
Spectrum 0,15g Spectrum 0,2g
Persegi
0.297
8.8
0.378
8.8
29.620
23.280
Segitiga
0.309
13.203
0.404
13.203
42.720
32.680
Variasi Pondasi
Spectrum 0,15g
Spectrum 0,2g
SF
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 A ng k a k eam ana n
Angka keamanan pada variasi pondasi
Spectrum 0,15g Spectrum 0,2g S egi tiga P er se gi
Hasil Analisa Penurunan Tanah Dengan Menggunakan Program
Plaxis 8.2
0,15g 0,2g 0,15g 0,2g 0,15g 0,2g 0,15g 0,2g 0,15g 0,2g 0,15g 0,2g 0,15g 0,2g 0,15g 0,2g
mm mm mm mm mm mm mm mm mm mm mm mm mm mm mm mm
Telapak Persegi Memanjang 2.2 4.2 2.8 4.5 4.2 5.1 4.9 5.9 0.81 0.77 1.2 1.7 2.1 2.34 2.4 3.8
Telapak Persegi Melintang 2.2 4.3 2.72 4.7 4.72 6.21 5.12 6.43 0.81 0.77 1.2 1.7 2.1 2.34 2.4 3.8
Telapak Segitiga 2.02 2.1 2.02 2.2 2.24 2.8 2.6 3.1 0.6 0.75 0.6 0.75 2 1.8 2.1 2.8
Persegi dengan Buis Memanjang 0.12 0.18 0.24 0.2 0.56 1.4 1.12 2.98 0.7 0.74 0.8 1.5 1.8 2.3 2.7 3.4
Persegi dengan Buis Melintang 0.25 0.41 0.28 0.5 0.8 1.02 2.68 4.76 0.7 0.74 0.8 1.5 1.8 2.3 2.7 3.4
Segitiga dengan Buis 0.14 0.14 0.22 0.28 0.24 0.36 0.34 0.55 0.62 0.7 0.62 0.7 0.8 1.2 0.8 1.2
Telapak Persegi Memanjang - - - - 0.71 0.81 1 1.3 2.4 3.8 2.5 3.9
Telapak Persegi Melintang - - - - 0.71 0.81 1 1.3 2.4 3.8 2.6 3.9
Telapak Segitiga - - - - 0.71 0.75 1 1.3 2.1 2.8 2.1 2.8
Persegi dengan Buis Memanjang - - - - 0.54 0.68 1 1.3 2.7 3.4 2.7 3.4
Persegi dengan Buis Melintang - - - - 0.54 0.68 1 1.3 2.7 3.4 2.7 3.4
Segitiga dengan Buis - - - - 0.62 0.7 0.62 0.7 0.8 1.2 0.8 1.2
Variasi Pondasi Penurunan Lab Dinamis 10kg 10kg 20kg Penurunan Lab Dinamis 20kg Penurunan Lab Dinamis 30kg K o ndi s i U ndr a ine d K o n d is i D r a in e d 30kg 40kg
Penurunan Plaxis Penurunan Plaxis
Dinamis Dinamis Dinamis Dinamis
Penurunan Lab Dinamis
40kg
Penurunan Plaxis Penurunan Plaxis
Telapak Persegi Memanjang Telapak Persegi Melintang
Telapak Segitiga Persegi dengan Buis Memanjang
Persegi dengan Buis Melintang Segitiga dengan Buis Telapak Persegi Memanjang
Telapak Persegi Melintang Telapak Segitiga Persegi dengan Buis Memanjang
Persegi dengan Buis Melintang Segitiga dengan Buis
0.7% 21.2% 80.0% 64.5% 60.0% 70.0% 70.0% 57.5% 71.7% 39.7% 72.0% 61.5% 70.4% 70.0% 7.1% 73.5% 76.0% 84.6% 79.3% 58.8% 58.5% 67.1% 50.5% 40.9% 6.3% 0.0% 19.2% 20.4% 81.2% 63.2% 72.3% 49.2% 38.8% 49.2% 23.8% 64.3% 71.1% 42.9% 25.5% 49.0% 21.2% 80.0% 64.5% 60.0% 70.0% 70.0% 57.5% 71.7% 65.0% 66.7% 55.6% 55.7% 0.7% 7.1% 75.7% 70.0% 86.7% 68.9% 39.1% 58.5% 67.1% 70.3% 65.9% 10.7% 35.7% 19.2% 22.4% 82.1% 55.9% 63.8% 55.5% 62.3% 53.1% 25.8% 57.1% 62.2% 50.0% 54.1% 51.0% 40kg K o n d is i D r a in e d K o ndi s i U ndr a ine d 63.2% 63.2% 70.3% 82.9% 64.3% 77.4% 67.7% 67.7% 64.9% 77.8% 53.7% 77.4% Variasi Pondasi
Persentasi perbedaan penurunan Dinamis 0,15g Dinamis 0,2g 10kg 81.7% 64.3% 44.6% 80.7% 64.3%
Persentasi perbedaan penurunan Dinamis 0,15g Dinamis 0,2g
20kg
Persentasi perbedaan penurunan Persentasi perbedaan penurunan Dinamis 0,15g Dinamis 0,2g Dinamis 0,15g Dinamis 0,2g
30kg
1. Ditinjau dari bentuk variasi pondasi.
Dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan perbandingan panjang dan lebar pondasi memberikan pengaruh terhadap penurunan pondasi. Pondasi segitiga penurunanya cenderung paling kecil diantara semua model pondasi sedangkan pondasi telapak L/B = 2 persegi penurunannya cenderung lebih besar dibandingkan dengan pondasi telapak segitiga. Hal ini di karenakan semakin besarnya luasan telapak pondasi maka makin besar nilai Qult dan semakin kecilnya tegangan yang disalurkan ke tanah sehingga dapat mengurangi penurunan yang terjadi pada pondasi.
2. Ditinjau dari variasi pembebanan
Penambahan beban pada pondasi telapak dengan perkuatan tiang buis beton memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penurunan pondasi. Pada saat pembebanan statis, pondasi sedikit sekali mengalami penurunan walaupun telah diberikan penambahan beban dari 10 kg, 20 kg, 30 kg dan 40 kg sedangkan pada pembebanan dinamis terjadi penambahan penurunan pondasi yang cukup besar disetiap penambahan beban dari 10kg, 20 kg, 30 kg dan 40 kg. Pada pondasi telapak L/B = 2 ternyata penurunan arah memanjang beban dinamis memiliki nilai penurunan yang lebih kecil daripada arah melintang beban dinamis. Untuk L/B = 2 arah memanjang percepatan 0,15g penurunan sebesar 4,90 mm dan arah melintang sebesar 5,12 mm. Sedangkan untuk percepatan 0,2g arah beban memanjang sebesar 5,90 mm dan arah melintang sebesar 6,43 mm.
3. Ditinjau dari parameter tanah
Pada pengujian di laboratorium nilai kohesi dan derajat kejenuhan semakin besar pada percepatan 0,2g dibandingkan 0,15g, hal ini disebabkan percepatan gempa yang diberikan mengakibatkan meningkatnya berat volume tanah di bawah pondasi sehingga nilai kohesi menjadi lebih besar. Pada percepatan 0,2g untuk pondasi telapak L/B = 2 nilai kohesi sebesar 0,064 kg/cm2 dan untuk percepatan 0,15g nilai kohesi sebesar 0,059
kg/cm2 Sedangkan nilai derajat kejenuhannya 90,150% pada percepatan 0,15g dan
92,475% pada percepatan 0,2g.
4. Ditinjau dari angka keamanan,
perilaku tanah bila diberi beban statis vertikal dibandingkan dengan kombinasi beban statis vertikal dan dinamis adalah berbeda. Pada pembebanan statis vertikal segitiga merupakan bentuk yang lebih optimum untuk menahan beban pondasi, sementara L/B = 2 persegi kurang optimum karena daya dukung beban pondasi lebih kecil sehingga penurunannya lebih besar dan pondasi yang memiliki angka keamanan pondasi terkecil adalah pondasi persegi tanpa perkuatan buis beton hal ini dikarenakan luasan permukaan lebih kecil dibandingkan dengan pondasi lainnya.
5. Ditinjau dari analisa program bantu Plaxis 8.2
penambahan beban pada bentuk pondasi memberikan pengaruh penurunan hampir sama dengan hasil percobaan di laboraturium yang mengalami penurunan walaupun telah diberikan penambahan beban dari 10 kg, 20 kg, 30 kg dan 40 kg sedangkan pada pembebanan dinamis terjadi penambahan penurunan pondasi yang cukup besar disetiap penambahan beban dari 10kg, 20 kg, 30 kg dan 40 kg.
6. Di tinjau dari percepatan gempa
Pada percobaan di laboratorium pemberian beban dinamis pada percepatan 0,15g dan 0,2g, memberikan perbedaan penurunan pada setiap model pondasi, pada beban dinamis, 0,2g memiliki penurunan yang cenderung lebih besar dibandingkan dengan beban dinamis 0,15g, hal ini disebabkan pada percepatan 0,2g memiliki percepatan gempa yang lebih besar di banding percepatan 0,15g, untuk L/B = 2 telapak polos pada percepatan 0,15g penurunan sebesar 5,12 mm dan pada percepatan 0,2g sebesar 6,43 mm. Jika dibandingkan dengan percobaan yang dilakukan oleh Tugas Akhir terdahulu yang dilakukan oleh Dimas,Andika, maka penurunan yang terjadi pada percobaan kali ini lebih kecil dibandingkan dengan percobaan terdahulu. Pada percobaan sebelumnya untuk L/B = 2 telapak polos pada zona gempa 3 penurunannya sebesar 147,23 mm dan pada zona gempa 4 sebesar 178,67 mm. Untuk L/B = 2 memanjang dan melintang penurunan pada zona gempa 3 sebesar 67,18 mm dan 78,62 mm sedangkan untuk zona gempa 4 sebesar 90,06 mm dan 117,21 mm. Hal ini disebabkan karena percepatan yang digunakan oleh percobaan sebelumnya lebih besar yaitu mereka menggunakan percepatan yang pesimistis yaitu sebesar 0,25g dan 0,3g.
Daerah percepat an Percepa tan pemod elan (m/s2) Percep atan alat (m/s2) Jari-jari pemod elan (m) frekuen si pemode lan (Hz) frekuen si alat (Hz) 0,2g 1.962 1.97 0.05 21.05 1 0,15g 1.471 1.56 0,04 21.05 1