o
Senin 12317 18 19
OJan
OPebo
Selasa
.
Rabu456 7
20 21 22
o
Mar OApr OMeio Kamis 0
Jumat8 9 10 11
23 24
@
26OJun
OJul
0 Ags'
o Sabtu 0 Mlnggu
12
13
14
15
16
27
28
29
30
31
o
Sep OOkt
.Nav
ODes
Pikiran
Rakyat
Strategi Pencitraan
_.~-- -,--~ 'Korporat
Melalui CSR
Oleh LUKIATI KOMALA E.
Budimanta,dkk.2004:
72).
Banyak
kegiatan
CRS korporat untuk
publik eksternal,
se-perti
meningkatkan
kemampuan sumber
daya manusia bagi
pa-ra pepa-rajin di sekitar
perusahaan
dengan
mengadakan pelatihan
cara membuat
pembu-kuan penerimaan dan
penjualan yang sesuai
standar, serta
pelatih-an membukapasar
ba-ru dengan membuat
media online (cyber
marketing dengan tujuan selling
pro-duct dan cyber public relations
de-ngan tujuan image building atau
membangun citra merk atau citra
pro-duk). Kegiatanlainnya membantu
fa-silitas perpustakaan sekolah dasar
sampai menengah atas untuk bisa
me-ningkatkan wawasan para siswa, bisa
juga memberikan bimbingan belajar
gratis masuk perguruan tinggi
terna-rna. Banyak sekali program
CSRkor-porat yang lebih berorientasi ke publik
eksternal.
Sementara CSRkorporat untuk
pub-lik internal, misalnya upaya
mening-katkan kesejehteraan karyawan, atau
perlunya dibuat de~
~wan
yang
K
EGIATANCSR (corpora-te social
res-ponsibility) korporat merupakan salah satu dedikasi perusahaan sebagai upaya "balas budi" kepada stakehol-ders (publik pemangku kepentingan) yang me-merlukan pemberdaya-an untuk lebih maju setelah sang korporat meraup "keuntungan" cukup banyak dalarn kiprah bisnisnya.
Perhelatan Musya-warah Daerah (Musda)
2009 BPC Perhumas Bandung-Jawa Barat, Rabu, 25 November 2009 ini, selain akan mengganti kepengurusan baru untuk periode 2009-2011, juga menggelar seminar Public Relations dengan mengusung tema "Strategi Pencitraan Korporat melalui CSR."
Corporate social responsibility
ada-lah tentang nilai dan standar yang dila-kukan berkaitan dengan beroperasinya korporat, di mana CSR diartikan seba-gai komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan kua-litas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal, dan masyarakat seca-ra lebih luas (Sankat, Clemen K, dalarn
Kllping
Humas
Unpad
2009
-dapat membuka peluang-peluang usa-ha untuk menambah kesejahteraan karyawan. Kendati sudah ada koperasi karyaw~ di perusahaan, tetapi hasil-nya perlu dioptimalkan lagi untuk ke-sejahteraan. Tidak hanya sampai tahap simpan pinjam uang dan membeli sembako, tetapi bagaimana karyawan di perusahaan itu bisa memperoleh tambahan di luar gaji tetapnya atau memiliki saham perusahaan.
Memang perlu dibuat strategi penci-traan korporat melalui CSR dalam bentuk planning dan programming yang matang, dengan melakukan lang-kah-Iangkah sebagai berikut: penge-nalan situasi, penetapan tujuan, defini-si publik, pemilihan media dan teknik PR (public relations), perencanaan anggaran, serta pengukuran hasil. Ke-giatan CSR sendiri bisa dalam tiga bentuk: events (kegia'tan PR dalam ke-rangka waktu terbatas, kapan mulai dan berakhirnya sangat jelas, dituju-kan untuk satu atau beberapa publik terpilih), campaign (kegiatan PR yang hampir sarna dengan events, tetapi lam waktu yang lebih panjang dan da-pat terdiri atas berbagai events), dan program (kegiatan PR yang terdiri atas berbagai events, biasanya tidak punya batas waktu yangjelas kapan berakhir-nya karena dilakukan secara berkesi-nambungan).
Sebuah program CSR korporat di-rancang sedemikian rupa agar tujuan CSR benar-benar terwujud dengan ba-ik, sekaligus tercapai image building (pembentukan citra atau sebuah
penci-traan) positifbagi ~orporat.
CSR, selain dianggap "zakatnya" se-buah korporat, juga untuk menghapus sebutan korporat sebagai "menara ga-ding" Gauh dan tidak peduli kepada ke-hidupan masyarakat sebagai tetangga-nya korporat). Padahal, sebuah korpo-rat sebagai warga negara dari kehidup-an masyarakat tidak menjadi eksklusif dari masyarakat.
Program CSR itu setidaknya harus menyentuh semua lapisan masyarakat (atas-atas, menengah atas-atas, mena-ngah bawah-bawah, bawah), ken dati yang sering menjadi skala prioritas adalah menengah bawah-bawah.
Dalam era perang citra dan kompeti-si ini, menjadi penting untuk menelikompeti-sik praktik CSR, utamanya korporat yang langsung atau tidak langsung bersen-tuhan dengan publik atau masyarakat (Widyanto. 2007).
Korporat yang memandang masya-rakat, terutama yang tinggal di lokasi operasional dan produksi korporat, bertanggung jawab untuk menjamin kesehatan lingkungan dan kualitas hi-dup masyarakat, dan tanggung jawab ini semakin besar pada korporat yang menjadikan masyarakat sebagai pasar bagi produknya.
Keberhasilan program CSR dapat di-ukur dengan melihat apakah program CSR itu bisa mengubah perilaku ma-syarakat atau tidak.***