• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana-Nya Lebih Hebat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rencana-Nya Lebih Hebat"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana-Nya Lebih Hebat

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Namanya Ariyuna Fitriani Nurus Salmawati. Sejak kecil ia dipanggil Yuna. Namanya mirip kayak artis korea ya wkwkwk. Dia lahir di Kota Nganjuk tahun 1995. Tahun 2016 ini, Ia telah menjadi alumni dari kampus kedinasan terbaik di Indonesia yaitu Politeknik Keuangan Negara STAN. Dan sekarang ia sedang menjalani masa On The Job Training di salah satu kantor Instansi Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang ada di Jakarta. Disini aku ingin menceritakan sebuah kisah kecil tentangnya yaitu perjuangan panjang yang harus ditempuhnya sebelum akhirnya kuliah di STAN.

Tiga tahun yang lalu, Ia hanya seorang siswi tingkat tiga di SMA Negeri I Kertosono. Sama seperti teman-temannya, Ia mendambakan untuk bisa melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Favorit. Dan menjelang akhir kelulusan seperti ini, banyak mahasiswa perguruan tinggi yang datang ke sekolahnya untuk melakukan sosialisasi. Salah satunya adalah kakak-kakak yang memakai almamater kuning ini, mereka adalah mahasiswa dari Universitas Indonesia.

Saat pertama kali mendengar gurunya menyebut nama kampus Universitas Indonesia, ia langsung merinding. ‘Indonesia’ sebuah kata yang bisa membuat jantungnya berdebar-debar. Hal itu berawal sejak beberapa hari yang lalu ketika ia menonton pertandingan sepak bola di TV. Ini pertama kalinya Ia mengikuti jalannya pertandingan sepak bola dari awal sampai selesai. Saat itu, Indonesia melawan Malaysia dalam babak final Piala AFF Tahun 2013. Ia ingat waktu itu dukungan dari sporter sangat luar biasa. Seluruh Rakyat Indonesia benar-benar menantikan Tim Indonesia untuk menjadi juara. Sejak awal pertandingan, Ia begitu antusias sambil bibirnya yang tak henti-hentinya mengucap doa kepada Yang Maha Kuasa. Tapi sayangnya, harapannya kandas, Tim Indonesia gagal kembali menjadi juara. Ia begitu sedih saat itu.

Di tengah kesedihannya, tiba-tiba Ia ambil selembar kertas folio lalu menuliskan sebuah judul dengan huruf balok yang besar “Surat Cintaku Untuk Indonesia”. Kemudian, Ia goreskan kata-kata dengan linangan air mata,

Indonesia, Negeriku tercinta, Aku ingin engkau berjaya. Tapi, Apa yang bisa kulakukan sekarang. Aku hanya seorang murid sekolah. Apa yang bisa kulakukan untukmu Indonesia? aku

(2)

adalah manusia yang lemah saat ini. Tapi, Aku akan berjuang sekuat tenaga. Apa yang bisa kulakukan adalah belajar, belajar, dan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia. Tidak akan kubiarkan mereka memandangmu dengan sebelah mata lagi.

Sejak saat itu, rasa cintanya untuk tanah air Indonesia terus tumbuh.

Setelah acara sosialisasi dari kakak-kakak Mahasiswa UI. Ia sudah membulatkan tekad untuk kuliah disana. Pertama, karena UI adalah satu-satunya kampus yang membawa nama

‘Indonesia’ dan seluruh anak di negeri ini ingin bisa masuk kesana. Dengan kata lain, Itu adalah kampus impian. Kedua, karena biaya kuliah di UI tidak mahal, tidak ada uang pangkal dan uang semester disesuaikan dengan kemampuan orang tua dan banyak beasiswa lain yang ditawarkan.

Ketiga, karena UI mempunyai bikun yaitu fasilitas bis kuning, Ia ingin menaikinya. Inilah tiga motivasinya untuk masuk UI.

Dan akhirnya, Ia mendaftar SNMPTN dengan mengambil jurusan FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat). Ia begitu optimis untuk diterima, karena Ia termasuk siswi yang berprestasi di sekolahnya. Ia berada di kelas unggulan dan selalu masuk dua besar ranking paralel jurusan IPA di sekolahnya. Namun, ternyata harapannya tidak terjadi. Ia gagal dalam SNMPTN.

Walaupun gagal di SNMPTN, Ia tetap tidak menyerah. Ia mencoba lagi kesempatannya dengan ikut SBMPTN. Setelah berfikir panjang, Ia putuskan untuk banting stir’ ke jurusan anak IPS. Ia mengambil program studi baru yang ada di UI yaitu Ilmu Ekonomi Islam. Ia menjadi minder dengan teman-temannya yang sudah diterima di PT. Bayang-bayang tidak bisa kuliah selalu menghantuinya setiap hari sejak saat itu. Karena Ia tahu kesempatan untuk kuliah hanya ada di UI. Mungkin itulah yang mendorong Ia mengambil keputusan untuk pindah haluan.

Ternyata Ia kembali gagal di ujian SBMPTN. Walau peluangnya semakin kecil, Ia tetap tidak menyerah. Ia langsung putuskan untuk ikut SIMAK UI. Inilah kesempatan terakhirnya untuk bisa masuk UI.

Di suatu malam, ketika Ia sedang belajar, ada salah seorang tetangganya yang memberi kabar bahwa sekarang STAN sedang buka pendaftaran. Keesokan harinya, Ia langsung pergi ke warnet untuk membuka website STAN. Dan betul, ternyata STAN memang sedang buka pendaftaran program Diploma I dan III. Ia mencoba mencari info-info tentang STAN. Sehingga Ia

(3)

jadi mengetahui bahwa ada perguruan tinggi kedinasan yang lulusannya akan menjadi PNS di Kementerian Keuangan. Namun, ternyata ada alumni STAN yang menjadi koruptor yaitu Gayus.

Saat itu, Ia betul-betul membenci perbuatan korupsi yang dilakukan orang-orang seperti Gayus, karena itu merugikan Bangsa dan Negara kita.

Orang tuanya sangat mendukung keputusannya untuk mendaftar kuliah di STAN, karena setelah lulus bisa langsung bekerja dan biaya sekolahnya juga gratis. Oleh sebab itu, peluang untuk bisa masuk STAN sangat kecil. Setiap tahun prosentase penerimaannya kurang lebih hanya dua persen dari jumlah pendaftar. Tetapi ia tidak memikirkan peluang itu, saat itu ia hanya fokus pada wajah ibunya yang penuh dengan harapan supaya putrinya bisa masuk di STAN.

Selama sebulan menjelang ujian tulis, ia terus-terusan belajar dengan mengerjakan soal SIMAK dan USM STAN. Pagi, siang, sore dan malam hampir-hampir terasa sama baginya. Ketika ia lelah dengan soal SIMAK, ia buka soal USM. Syukurlah ada tipe soal yang sama diantara keduanya yaitu TPA. Ia juga meminjam buku SMA lama dari sepupunya untuk menguasai materi IPS. Rasa lelah bahkan terkadang terasa pusing ketika belajar dihiraukannya. Biarlah saat ini terasa begitu sakit. Karena ia yakin hasilnya pasti akan indah nantinya, keyakinannya pada Satu Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang menjadi obat mujarab untuknya.

Tibalah pengumuman SIMAK UI, jantungnya berdebar-debar, keringat dingin bercucuran.

Dalam hatinya ia berkata “Ya Allah jika memang hamba tidak masuk UI, pasti ini bukanlah jalan terbaik. Hamba ikhlas menerima apapun hasilnya nanti, inshaa Allah karena sesungguhnya rencana dari Mu selalu lebih baik.” Dan ternyata kalimat yang dibacanya dilayar komputer adalah

“Ariyuna Fitriani Nurus Salmawati diterima di Jurusan Ilmu Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia”

Allahu Akbar Allahu Akbar,.. jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Rasa takut tiba-tiba sirna dan berganti dengan perasaan gembira yang membuncah. Rasanya seperti dia berhasil menerobos sebuah tembok yang tinggi. Ia bisa membuktikan pada semuanya bahwa ia bisa. Setelah itu, dia langsung berlari ke rumah untuk mengabari ibu bapaknya. “aku diterima mak, aku masuk UI” ucapnya sambil memeluk ibunya dengan erat. Tetapi kemudian ia ingat bahwa besok adalah hari seleksi tulis masuk STAN.

(4)

Orang tuanya ingin ia tetap mencoba di STAN. Sebagai seorang anak yang ingin berbakti pada orang tua, tentu ia tidak bisa menolak. Tapi bagaimana jika ia juga lolos di STAN ? itulah yang dia pikirkan. Akhirnya ia telah mengambil keputusan. Dia akan tetap ikut tes tulis STAN, karena ia juga ingin melihat calon-calon punggawa keuangan negara dan membuktikan bahwa mereka adalah orang yang terbaik. Ia tidak ingin ada Gayus kedua.

Setelah tes tulis, ia pun berangkat ke Jakarta naik kereta api. Inilah perjalanan pertamanya yang jauh dari rumah. Ia akan menjalani masa orientasi mahasiswa baru di kampus UI.

Alhamdulilah biaya kuliahnya di UI hanya 500 ribu per semester. Selalu tertanam dalam sanubarinya, niat untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh ini akan selalu diiringi doa-doa dari kedua orang tuanya. Bahkan ayahnya yang terkadang bersikap keras sampai meneteskan air mata ketika mengantarnya ke stasiun.

Namun, dipertengahan masa orientasi, ia mendapat kabar dari temannya bahwa ia lolos tes tulis STAN. Dari 88.000 orang yang mendaftar, ia menjadi satu dari 7500 yang lolos tahap satu.

Saat itu, ia benar-benar bingung. Tahap dua adalah tes kesehatan dan kebugaran serta tes wawancara. Jika ia mengikuti tes ini, ia harus pulang karena tempat tesnya ada di Surabaya.

Ketika ia memberi kabar ini ke orang tuanya, mereka mengharapkannya untuk pulang dan menjalani tes untuk masuk STAN. Jika ia pulang artinya ia harus izin selama dua hari untuk tes ini dan ini belum termasuk waktu perjalanan pulang pergi Nganjuk-Jakarta. Padahal saat ini sedang sibuk-sibuknya pra-ospek jurusan. Ya Allah,.. mohon beri petunjukkmu untuknya.

Di malamnya, ia tadahkan tangannya untuk berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa. Ia berserah diri secara total. Ia menyadari dirinya ini begitu lemah. Laa khaula walaa kuwwata illaa billah. Dan tiba-tiba petunjuk itu datang, ia mempunyai tujuan untuk apa kuliah di STAN. Apabila kuliah di STAN, ia akan bekerja di pemerintahan. Ia akan semakin dekat dengan Indonesia. Dan Ia ingin mengurangi koruptor di Negeri ini. Tujuan inilah yang mengantarkannya untuk pulang.

Setibanya di Nganjuk, ia berusaha untuk melatih fisik walau hanya beberapa jam. Setelah itu baru mempersiapkn diri untuk berangkat ke Surabaya. Karena tidak bisa naik motor, kemana- mana ia akan selalu diantar termasuk untuk tes ke Surabaya. Ia berangkat naik motor di bonceng kakaknya. Sebenarnya ia sedih karena selalu merepotkan, untuk membalas itu ia akan berusaha semaksimal mungkin dalam tes tahap ini. Tekadnya begitu besar, Allahu Akbar..

(5)

Ia merasa telah memberikan usaha yang maksimal di tahap dua. Hasilnya biarlah Allah yang memutuskan. Setelahnya, ia kembali ke kampus kuning dan berjuang untuk ospek.

Setelah ospek selesai, ia pun mulai memasuki perkuliahan. Ia mengenal beberapa teman dan dosen serta belajar sistem perkuliahan di UI. Dari hari ke hari entah kenapa terasa lebih sulit.

Ia merasa itu karena lingkungan yang baru memang perlu penyesuaian. Jadi ia berusaha untuk beradaptasi tapi ternyata memang sulit kuliah di UI. Karena hatinya sudah tidak disini lagi sehingga kesenangan yang dulu dirasakan mulai berkurang.

Sebaik-baik rencana adalah rencana-Nya. Dan hari ini adalah hari yang sudah dinantikannya. Sehingga pagi ini ia begitu gugup, rasanya deg-deg-an. Hari ini ia akan melihat pengumuman STAN. Dan ternyata ia diterima di STAN jurusan DIII Akuntansi. “Ya Allah, Terimakasih.., Engkau mengabulkannya Ya Allah, aku senang sekali” ucapnya dalam hati.

Itulah kisahnya hingga akhirnya menjadi mahasiswa STAN. Allah Maha Penyayang untuk seluruh hambanya. Ia ingin kuliah di UI dan Allah mengabulkannya. Kemudian Ia ingin kuliah di STAN dan lagi-lagi Allah mengabulkannya.

Sekarang setelah ia menjadi mahasiswa STAN, ia sama sekali tidak merasa menyesal.

Karena ia sadar perjuangan dan pengorbanan untuk bisa masuk ke STAN itu jauh lebih berat dan besar.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Referensi

Dokumen terkait