22 BAB II
KONSEP DASAR MANAJEMEN PENINGKATAN MUTU BERBASIS MADRASAH (MPMBM)
A. Konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah/Sekolah (MPMBM/S)
Salah satu permasalahan yang dihadapi Bangsa Indonesia ialah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang atau satuan pendidikan.
Rendahnya mutu pendidikan madrasah dipengaruhi oleh tiga faktor.
pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented strategi lebih bersandar pada asumsi bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendididkan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (madrasah) akan menghasilkan output yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori Education Production Function (Hanushek, 1979, 1981) tidak berfungsi sepenuhnya dilembaga pendidikan (madrasah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri. Kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara sentralistik sehingga sekolah kehilangan kemanfirian, motivasi dan inisiatif untuk memajukan sekolahnya.
Menempatkan madrasah pada posisi marginal, kurang diberdayakan, tidak mandiri, pasif, dan hanya menunngu instruksi dari pusat. Bahkan terpasungnya kreatifitas kepala madrasah dan guru untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Ketiga, peran serta masyarakat, khususnya
23 orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim.
Partisipasi masyarakat pada umumnya lebih bersifat dukungan input (dana), bukan pada proses pendidikan.
Belakangan ini dunia pendidikan di Indonesia telah berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu upaya yang nampak dilakukan adalah dengan menerapkan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS), yang lebih dikenal dengan istilah manajemen berbasis sekolah (MBS). Sebelum membahas lebih jauh mengenai manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah terlebih dahulu akan dibahas mengenai mutu dan mutu pendidikan.
Banyak ahli yang mengemukakan tentang mutu, seperti yang dikemukakan oleh Edward Sallis (2006: 33) mutu adalah Sebuah filsosofis dan metodologis yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan. Sudarwan Danim (2007: 53) mutu mengandung makna derajat keunggulan suatu poduk atau hasil kerja, baik berupa barang dan jasa.
Sedangkan dalam dunia pendidikan barang dan jasa itu bermakna dapat dilihat dan tidak dapat dilihat, tetapi dan dapat dirasakan. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991: 677) menyatakan Mutu adalah (ukuran), baik buruk suatu benda atau taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya) kualitas. Selanjutnya Lalu Sumayang (2003: 322) menyatakan quality (mutu) adalah tingkat dimana rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya, disamping itu
24 quality adalah tingkat di mana sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan rancangan spesifikasinya.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulan bahwa mutu (quality) adalah sebuah filsosofis dan metodologis, tentang (ukuran) dan tingkat baik buruk suatu benda, yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.
Sedangkan peningkatan mutu pendidikan adalah suatu upaya mengembangkan kemampuan, sikap yang berahlak disegala bidang untuk keberhasilan pendidikan yang sehingga meningkatkan kualitas ataupun mutu pendidikan1.
Peningkatan mutu pada hakikatnya merupakan upaya perubahan.
Oleh karena itu, proses perubahan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah suatu keharusan dan keniscayaan. Tanpa ada proses perubahan tidak ada mutu pendidikan. Mutu pendidikan adalah hasil proses perubahan.
Dengan demikian, proses prubahan menjadi sangat penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.
Upaya melakukan perubahan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan saat ini sangat dirasakan ugensinya. Pasalnya mutu pendidikan kita sampai saat ini masih terpuruk. Nasib institusi pendidikan di Indonesia berdasarkan mutu pendidikan berada pada urutan terakhir di antara 12
1 http://ayumelatifisika.blogspot.co.id/2014/01/makalah-peningkatan-mutu-pendidikan_17.html
25 negara Asia yang diteliti oleh The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) tahun 2001, jauh di bawah Vietnam (6) (Arief, 2007: 10).
Perubahan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan secara kompereshif, meliputi berbagai komponen yang berpengaruh dan determinan terhadap peningkatan mutu. Komponen- kompnen itu seperti sisiwa peserta didik, tenaga pendidikan, pengelola pembina, komite sekolah, sarana prasarana, media, sumber belajar, kurikulum, metode dan teknik, manajemen sekolah, proses pembelajaran, dan lingkungan sekolah. Hal demikian karena pendidikan merupakan suatu sistem yang komponen-komponennya saling berpengaruh satu dengan yang lainnya dalam mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, perubahan yang dilakukan secara parsial tidak akan efektif bagi peningkatan mutu pendidikan.
Dalam proses perubahan untuk meningkatkan mutu pendidikan tentu dituntut sumber daya manusia (SDM) pendidikan yang mampu bersaing di era global sekarang ini. Sekarang ini adalah era globaliasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi.
Dalam era itu lembaga pendidikan tentu dituntut untuk mampu bersaing dengan lembaga pendidikan negara-negara lain dalam rangka penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju. Untuk itu, dalam pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan tentu diperlukan SDM pendidikan yang memiliki komitmen, motivasi berprestasi, moral kerja, keahlian, profesionalitas, integritas, dan kedisiplinan yang tinggi sehingga mampu
26 bersaing dalam peningkatan mutu pendidikan dengan negara-negara lain yang lebih dahulu maju.
Tantangan dunia pendidikan kita saat ini semakin berat dan kompleks. Mutu pendidikan kita dalam berbagai apek masih rendah bila dibandingkan dengan mutu pendidikan negara-negara lain di Asia, terlebih di dunia. Ini menunjukkan bahwa SDM pendidikan kita masih lemah sehingga masalah ini berdampak pula pada out pendidikan berupa SDM yang lemah pulla. Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan tersebuut perlu dibangun SDM pendidikan yang handal dan kompetitif, baik pada level penentu kebijakan, perencana, maupun pelaksana pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan.
Dalam pandangan Zamroni (2007: 2) dikatakan bahwa peningkatan mutu sekolah adalah suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan agar menjadi target sekolah dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Peningkatan mutu berkaitan dengan target yang harus dicapai, proses untuk mencapai dan faktor-faktor yang terkait. Dalam peningkatan mutu ada dua aspek yang perlu mendapat perhatian, yakni aspek kualitas hasil dan aspek proses mencapai hasil tersebut.
Teori manajemen mutu terpadu atau yang lebih dikenal dengan Total Quality Management (TQM) akhir-akhir ini banyak diadopsi dan digunakan oleh dunia pendidikan dan teori ini dianggap sangat tepat dalam dunia
27 pendidikan saat ini. Konsep total quality management pertama kali dikemukakan oleh Nancy Warren, seorang behavioral scientist di United States Navy (Walton dalam Bounds, et. al, 1994). Istilah ini mengandung makna every process, every job, dan every person (Lewis & Smith, 1994).
Pengertian TQM dapat dibedakan menjadi dua aspek (Goetsch & davis, 1994).
Aspek pertama menguraikan apa TQM. TQM didefinisikan sebagai sebuah pendekatan dalam menjalankan usaha yang berupaya memaksimumkan daya saing melalui penyempurnaan secara terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan organisasi.
Aspek kedua menyangkut cara mencapainya dan berkaitan dengan sepuluh karakteristik TQM yang terdiri atas : (a) focus pada pelanggan (internal & eksternal), (b) berorientasi pada kualitas, (c) menggunakan pendekatan ilmiah, (d) memiliki komitmen jangka panjang, (e) kerja sama tim, (f) menyempurnakan kualitas secara berkesinambungan, (g) pendidikan dan pelatihan, (h) menerapkan kebebasan yang terkendali, (i) memiliki kesatuan tujuan, (j) melibatkan dan memberdayakan karyawan.
(Ety Rochaety dkk, 2005: 97)
Di sisi lain, Zamroni memandang bahwa peningkatan mutu dengan model TQM, dimana sekolah menekankan pada peran kultur sekolah dalam kerangka model The Total Quality Management (TQM). Teori ini menjelaskan bahwa mutu sekolah mencakup tiga kemampuan, yaitu:
kemampuan akademik, sosial, dan moral. (Zamroni, 2007: 6)
28 Menurut teori ini, mutu sekolah ditentukan oleh tiga variabel, yakni kultur sekolah, proses belajar mengajar, dan realitas sekolah. Kultur sekolah merupakan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, slogan- slogan, dan berbagai perilaku yang telah lama terbentuk di sekolah dan diteruskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, baik secara sadar maupun tidak. Kultur ini diyakini mempengaruhi perilaku seluruh komponen sekolah, yaitu: guru, kepala sekolah, staf administrasi, siswa, dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif bagi peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga kearah peningkatan mutu sekolah, sebaliknya kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan mutu sekolah.
Selanjutnya untuk meningkatkan mutu sekolah seperti yang disarankan oleh Sudarwan Danim (2007: 56), yaitu dengan melibatkan lima faktor yang dominan yaitu:
1. Kepemimpinan Kepala sekolah; kepala sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang tinggi, tekun dan tabah dalam bekerja, memberikan layanan yang optimal, dan disiplin kerja yang kuat
2. Siswa; pendekatan yang harus dilakukan adalah “anak sebagai pusat “ sehingga kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali sehingga sekolah dapat menginventarisir kekuatan yang ada pada siswa
29 3. Guru; pelibatan guru secara maksimal , dengan meningkatkan kopmetensi dan profesi kerja guru dalam kegiatan seminar, MGMP, lokakarya serta pelatihan sehingga hasil dari kegiatan tersebut diterapkan disekolah
4. Kurikulum; adanya kurikulum yang ajeg / tetap tetapi dinamis , dapat memungkinkan dan memudahkan standar mutu yang diharapkan sehingga goals (tujuan) dapat dicapai secara maksimal
5. Jaringan Kerjasama; jaringan kerjasama tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah dan masyarakat semata (orang tua dan masyarakat) tetapi dengan organisasi lain, seperti perusahaan / instansi sehingga output dari sekolah dapat terserap didalam dunia kerja.
Berdasarkan pendapat diatas, perubahan paradigma harus dilakukan secara bersama-sama antara pimpinan dan karyawan sehingga mereka mempunyai langkah dan strategi yang sama yaitu menciptakan mutu dilingkungan kerja khususnya lingkungan kerja pendidikan. Pimpinan dan karyawan harus menjadi satu tim yang utuh (teamwork) yangn saling membutuhkan dan saling mengisi kekurangan yang ada sehingga target (goals) akan tercipta dengan baik.
30 Unsur yang terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan dapat lihat dari sudut pandang makro dan mikro pendidikan, seperti yang dijabarkan di bawah ini:
1. Pendekatan Mikro Pendidikan
Yaitu suatu pendekatan terhadap pendidikan dengan indicator kajiannya dilihat dari hubungan antara elemen peserta didik, pendidik, dan interaksi keduanya dalam usaha pendidikan. Secara lengkap elemen mikro sebagai berikut:
a. Kualitas manajemen
b. Pemberdayaan satuan pendidikan c. Profesionalisme dan ketenagaan d. Relevansi dan kebutuhan.
Berdasarkan tinjauan mikro elemen guru dan siswa yang merupakan bagian dari pemberdayaan satuan pendidikan merupakan elemen sentral.
Pendidikan untuk kepentingan peserta didik mempunyai tujuan, dan untuk mencapai tujuan ini ada berbagai sumber dan kendala, dengan memperhatikan sumber dan kendala ditetapkan bahan pengajaran dan diusahakan berlangsungnya proses untuk mencapai tujuan. Proses ini menampilkan hasil belajar. Hasil belajar perlu dinilai dan dari hasil penilaian dapat merupakan umpan balik sebagai bahan masukan dan pijakan.
31 Secara mikro diagram alur proses pendidikan dapat dilihat dibawah ini:
Sumber: Ety Rochaety dan kawan-kawan (2005: 8)
Dari gambar diatas, bahwa pengetahuan teori yang didapatkan dari seorang guru melalui kualitas manajemen dengan harapan tujuan pendidikan akan tercapai, tujuan akan tercapai jika dibekali dengan bahan sehingga proses pendidikan akan terlaksana dengan baik sehingga akan menghasilkan penampilan (hasil belajar) hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu melalui penilaian dengan dasar criteria penilaian, hasil dari penampilan akan dijadikan umpan balik.
2. Pendekatan Makro Pendidikan
Yaitu kajian pendidikan dengan elemen yang lebih luas dengan elemen sebagai berikut:
32 a. Standarisasi pengembangan kurikulum
b. Pemerataan dan persamaan, serta keadilan c. Standar mutu
d. Kemampuan bersaing.
Tinjauan makro pendidikan menyangkut berbagai hal yang digambarkan dalam dua bagan (P. H Coombs, 1968) dalam Etty Rochaety, dkk (2005: 8) bahwa pendekatan makro pendidikan melalui jalur pertama yaitu input sumber – proses pendidikan – hasil pendidikan, seperti pada gambar di bawah ini:
Sumber: Ety Rochaety, dkk (2005: 9)
Input sumber pendidikan akan mempengaruhi dalam kegiatan proses pendidikan, dimana proses pendidikan didasari oleh berbagai unsur sehingga semakin siap suatu lembaga dan semakin lengkap komponen pendidikan yang dimiliki maka akan menciptakan hasil pendidikan yang berkualitas.
33 Selanjutnya Syaiful Sagala (2004: 9) menyatakan solusi manajemen pendidikan secara mikro dan makro yang dituangkan dalam gambar berikut:
Sumber: Syaiful Sagala (2004: 9)
Secara umum untuk meingkatkan mutu pendidikan harus diawali dengan strategi peningkatan pemerataan pendidikan, dimana unsur makro dan mikro pendidikan ikut terlibat, untuk menciptakan (Equality dan Equity), mengutip pendapat Indra Djati Sidi (2001:73) bahwa pemerataan pendidikan harus mengambil langkah sebagai berikut:
1. Pemerintah menanggung biaya minimum pendidikan yang diperlukan anak usia sekolah baik negeri maupun swasta yang diberikan secara individual kepada siswa
34 2. Optimalisasi sumber daya pendidikan yang sudah tersedia, antara lain melalui double shift (contoh pemberdayaan SMP terbuka dan kelas Jauh)
3. Memberdayakan sekolah-sekolah swasta melalui bantuan dan subsidi dalam rangka peningkatan mutu embelajaran siswa dan optimalisasi daya tampung yang tersedia
4. Melanjutkan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) dan Ruang Kelas Baru (RKB) bagi daerah-daerah yang membutuhkan dengan memperhatikan peta pendidiakn di tiap –tiap daerah sehingga tidak mengggangu keberadaan sekolah swasta
5. Memberikan perhatian khusus bagi anak usia sekolah dari keluarga miskin, masyarakat terpencil, masyarakat terisolasi, dan daerah kumuh
6. Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut serta mengangani penuntansan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.
Sedangkan peningkatan mutu sekolah secara umum dapat diambil satu strategi dengan membangun akuntabilitas pendidikan dengan pola kepemimpinan, seperti kepemimpinan sekolah Kaizen (Sudarwan Danim, 2007: 225) yang menyarankan:
1. Untuk memperkuat tim-tim sebagai bahan pembangun yang fundamental dalam struktur perusahaan
35 2. Menggabungkan aspek –aspek positif individual dengan berbagai
manfaat dari konsumen
3. Berfokus pada detail dalam mengimplementasikan gambaran besar tentang perusahaan
4. Menerima tanggung jawab pribadi untuk selalu mengidentifikasikan akar menyebab masalah
5. Membangun hubungan antarpribadi yang kuat
6. Menjaga agar pemikiran tetap terbuka terhadap kritik dan nasihat yang konstruktif
7. Memelihara sikap yang progresif dan berpandangan ke masa depan 8. Bangga dan menghargai prestasi kerja
9. Bersedia menerima tanggung jawab dan mengikuti pelatihan
Adapun faktor –faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, yaitu2:
1. Rendahnya kualitas sarana fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya.
Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
2 http://ayumelatifisika.blogspot.co.id/2014/01/makalah-peningkatan-mutu-pendidikan_17.html
36 2. Rendahnya kualitas guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
3. Rendahnya kesejahteraan guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal.
4. Kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah.
Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
37 5. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur.
Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
6. Mahalnya biaya pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab.
Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
38 Setelah melihat kenyataan tentang pentingnya peningkatan mutu pendidikan sehingga dapat disimpulkan cara untuk meningkatkan mutu pendidikan, tersebut ada beberapa hal yang bisa dilakukan diantaranya:
1. Perubahan kurikulum belajar
Kurikulum merupakan dasar atau jadwal pendidikan yang akan diajarkan oleh guru kepada peserta didiknya. Perubahan kulikulum ini bisa meningkatkan pendidikan namun dengan perubahan kurikulum ini kadang menimbulkan kontroversi bagi semua orang. Perubahan kurikulum ini harus dipertimbangkan dengan matang agar peserta didik dan pendidik bisa melaksanakannya dengan baik.
2. Peningkatan mutu guru
Peningkatan mutu guru bisa dilakukan dengan penyeleksian guru pendidik sebelum mereka mengajar pada suatu sekolah. Dengan adanya seleksi yang tepat ini diharapkan guru benar-benar merupakan tenaga pilihan yang bisa membimbing muridnya dengan baik. Dan Insan Pendidikan Patut Mendapatkan Penghargaan Karena itu Berikanlah Penghargaan,
“Manajemen Sumber Daya Manusia” mengatakan, penghargaan diberikan untuk menarik dan mempertahankan SDM karena diperlukan untuk mencapai saran-saran organisasi. Staf (guru) akan termotivasi jika diberikan penghargaan ekstrinsik (gaji, tunjangan, bonus dan komisi) maupun penghargaan instrinsik (pujian, tantangan, pengakuan, tanggung jawab, kesempatan dan pengembangan karir). Manusia mempunyai sejumlah kebutuhan yang memiliki lima tingkatan (hierarchy of needs) yakni, mulai
39 dari kebutuhan fisiologis (pangan, sandang dan papan), kebutuhan rasa aman (terhindar dari rasa takut akan gangguan keamanan), kebutuhan sosial (bermasyarakat), kebutuhan yang mencerminkan harga diri, dan kebutuhan mengaktualisasikan diri di tengah masyarakat.
Pendidik dan pengajar sebagai manusia yang diharapkan sebagai ujung tombak meningkatkan mutu berhasrat mengangkat harkat dan martabatnya.
Jasanya yang besar dalam dunia pendidikan pantas untuk mendapatkan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik agar tidak termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat.
3. Bantuan Operasional Sekolah ( BOS )
Pada intinya bantuan ini dirancang pemerintah untuk membantu sekolah yang tidak mampu agar bisa menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yng layak dan dibutuhkan siswa didiknya. Namun kadang program ini disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga penyampaiannya masih belum optimal.
4. Bantuan Khusus Murid (BKM)
Program pemerintah ini khusus untuk membantu biaya bagi murid yang tidak mampu agar bisa mengenyam pendidikan yang sama seperti anak lainnya.
5. Sarana dan prasarana pendidikan yang maju dan layak
Bila mutu pendidikan di negara kita ingin maju maka sarana dan prasarana dari pendidikan tersebut harus ditingkatkan lebih baik lagi. Bila sarana
40 pendidikan bagus dan modern maka siswa bisa melaksanakan pendidikan dengan nyaman. Kenyamanan mereka itulah yang menjadi kunci kesuksesan dalam proses belajar. Dengan diberlakukannya kurikulum 2004 (KBK), kini guru lebih dituntut untuk mengkontekstualkan pembelajarannya dengan dunia nyata, atau minimal siswa mendapat gambaran miniatur tentang dunia nyata. Harapan itu tidak mungkin tercapai tanpa bantuan alat-alat pembelajaran (sarana dan prasarana pendidikan).
6. Pemerataan pendidikan
Pendidikan tidak hanya untuk mereka yang berada di kota namun didaerah terpencil juga harus mendapatkan pendidikan yang layak. Inilah yang menjadi tugas pemerintah untuk pemerataan pendidikan di semua wilayah.
7. Kurangi dan Berantas Korupsi
Korupsi dalam dunia pendidikan dilakukan secara bersama-sama (Amin Rais menyebutnya korupsi berjamaah) dalam berbagai jenjang mulai tingkat sekolah, dinas, sampai departemen. Pelakunya mulai dari guru, kepala sekolah, kepala dinas, dan seterusnya masuk dalam jaringan korupsi.
Sekolah yang diharapkan menjadi benteng pertahanan yang menjunjung nilai-nilai kejujuran justru mempertotonkan praktik korupsi kepada peserta didik.
Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau kompetensi. Baik kompetensi akademik maupun kompetensi kejuruan, yang dilandasi oleh kompetensi personal dan sosial, yang secara menyeluruh disebut sebagai kecakapan
41 hidup (life skill). Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan bermutu, baik quality in fact maupun quality in perception (Sudrajat, 2005: 17).
Untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan, madrasah harus dapat melaksanakan pengelolaan yang didasarkan pada peningkatan mutu pendidikan madrasah.3
Aplikasi manajemen peningkatan mutu pendidikan terhadap sekolah maupun madrasah didasarkan atas pemikiran bahwa para administrator dan manager pendidikan perlu menemukan kerangka kerja yang muncul dari dalam lembaga.
Dalam meningkatkan mutu pendidikan, Benner (1992) mengidentifikasi prinsip-prinsip mendasar tentang mutu, yaitu (1) definisi kualitas lebih mengacu pada konsumen, bukan pada pemasok, (2) konsumen adalah seorang yang memperoleh produk atau layanan, seperti mereka yang secara internal dan eksternal terkait dengan organisasi dan bukannya
“pembeli” atau “pembayar”, (3) mutu harus mencakupi persyaratan kebutuhan dan standar. (4) mutu dicapai dengan mencegah kerja yang tidak memenuhi standar, bukannya dengan melacak kegagalan, melainkan dengan peningkatan layanan dan produk yang terus-menerus, (5) peningkatan mutu dikendalikan oleh manajemen tingkat senior, tetapi semua yang terlibat di dalam organisasi harus ikut bertanggung jawab, mutu harus dibangun dalamsetiap proses, (6) mutu diukur melalui proses statistik,
3 Prim Masrokan Mutohar. Manajemen Mutu Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2013. Hal
42 anggaran mutu adalah anggaran biaya yang tidak disesuaikan dengan tuntutan persyaratan sehingga terjadi “kesenjangan” antara penyerahan barang, (7) alat yang paling ampuh untuk menjamin terjadinya mutu adalah kerja sama (tim) yang efektif, dan (8) pendidikan dan pelatihan merupakan hal yang fundamental terhadap organisasi yang bermutu.
Peningkatan mutu harus bertumpu pada lembaga pendidikan untuk secara terus-menerus dan berkesinambungan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan organisasinya guna memenuhi tuntutan dan kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Dalam menajemen peningkatan mutu terkandung upaya : (1) mengendalikan proses yang berlangsung di lembaga pendidikan, baik kurikuler maupun administrasi, (2) melibatkan proses diagnosis dan proses tindakan untuk menindaklanjuti diagnosis, (3) peningkatan mutu harus didasarkan atas data dan fakta, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif, (4) peningkatan mutu harus dilasanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan, (5) peningkatan mutu harus memberdayakan dan melibatkan semua unsur yang ada di lembaga pendidikan, dan (6) peningkatan mutu memiliki tujuan yang menyatakan bahwa sekolah atau madrasah dapat memberikan kepuasan kepada peserta didik, orangtua, dan masyarakat (Mantja, 2002:30).4
Membahas konsep manajemen lembaga pendidikan Islam akan timbul beberapa asumsi pemahaman tentang penyelenggaraan lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Hal ini disebabkan lembaga pendidikan Islam
4 Prim Masrokan Mutohar. Manajemen Mutu Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2013. Hal 277.
43 mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan core value yang dikembangkan. Nilai-nilai inti yang menjadi ajaran Islam inilah yang akan mewarnai proses pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan Islam.
Perilaku menajerial dalam mengelola lembaga pendidikan Islam harus senantiasa didasarkan pada ajaran-ajaran Islam yang bersunber dari Al- Qur’an dan Al-Hadits serta praktik-praktik keteladanan yang diberikan oleh para ulama dan pemimpin Islam.
Penjelasan tentang konsep manajemen lembaga pendidikan Islam sangat di pengaruhi oleh beberapa asumsi yang mendasari dalam sistem pengelolaannya. Asumsi-asumsi yang di maksud antara lain : (1) teori-teori yang digali dari sumber dan khazanah ke-Islaman; (2) teori-teori yang manajemen yang dikembangkan dalam dunia bisnis dan pendidikan secara umum yang ada pada saat ini; (3) teori-teori manajemen yang telah berkembang dalam dunia bisnis dan pendidikan secara umum dengan menjadikan Islam sebagi nilai untuk memandu dalam proses penelenggaraan pendidikannya.
Ketiga asumsi tersebut, yang perlu di perhatikan adalah bagaimana kita dapat mengelola lembaga pendididkan Islam dengan baik sehingga menjadi bermutu dan berkualitas sesuai dengan visi dan misi yang ingin dicapai. Manajemen disini pada hakikatnya merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk menata lembaga pendidikan Islam dengan melibatkan
44 seluruh sumber daya manusia dan nonmanusia dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien di lembaga pendidikan Islam.5
Salah satu konsep yang ditawarkan untuk meningkatkan potensi madrasah ialah dengan menerapkan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah/Sekolah (MPMBM/S) atau yang lebih dikenal dengan Manajemen Pendidikan Sekolah (MPS). Sehingga setiap institusi pendidikan lebih leluasa dalam mengolah dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah (MPMBM) merupakan istilah lain dari MPMBS (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah), yang memiliki konsep dasar sebagai berikut: pertama, pengambilan keputusan pendidikan dilaksanakan pada level sekolah, namun tentu saja tetap dalam koridor pendidikan yang secara umum ditetapkan secara nasional. Kedua, pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif bersama stakeholder sekolah. Dalam MPMBM, sekolah memiliki kewenangan menentukan dalam berbagai kebijakan operasional pendidikan yang diyakini sesuai dengan kebutuhan dan karateristik anak didik. Paling tidak ada sembilan bidang yang menjadi “wilayah kewenangan” tersebut, yaitu: (1) perencanaan dan evaluasi program sekolah, (2) pengelolaan kurikulum, (3) pengelolaan proses pembelajaran, (4) pengelolaan ketenagaan, (5) pengelolaan peralatan dan fasilitas, (6)
5 Prim Masrokan Mutohar. Manajemen Mutu Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2013. Hal 29- 30.
45 pengelolaan keuangan, (7) pelayanan kesiswaan, (8) hubungan sekolah dan masyarakat, dan (9) pengelolaan iklim sekolah.
Manajemen peningkatan mudu berbasis madrasah/sekolah merupakan alternative baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan pada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan (Edmond, 1979).
Pakar pendidikan mendefinisikan Manajemen Pendidikan Sekolah (MPS) diantaranya Mulyana menjelaskan bahwa:
“Manajemen berbasis sekolah merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi yang ditunjukkan dengan pernyataan politik dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).”6
Myers dan Stonchill mendefinisikan Manajemen Pendidikan Sekolah (MPS) dengan:
“Manajemen berbasis sekolah adalah strategi untuk memperbaiki pendidikan dengan mntransfer otoritas pengambilan keputusan secara signifikan dari pemerintah dan daerah ke sekolah-sekolah secara individual.”7
Adapun Nurkholis mengemukakan:
“Manajemen berbasis sekolah adalah alternative sekolah sebagai hasil dari desentralisasi Pendidikan.”8
Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut di atas, yang dimaksud Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah/Sekolah
6 Mulyana, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan Implementasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007) Hal.11
7 Nurkholis, Manajemen Berbasis Sekolah:Teori, Model, dan Aplikasi (Jakarta: PT.Grasindo, 2003) hlm 3
8Ibid. hlm,2
46 (MPMBM/S) dalam penelitian ini yaitu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/keluwesan lebih besar kepada sekolah atau madrasahuntuk mengelola sumber daya sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan mutu sekolah dalam kerangka pendidikan nasional.
Dengan pengertian di atas, maka sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) lebih besar dalam mengelola sekolahnya (menetapkan sasaran peningkatan mutu, menyusun rencana peningkatan mutu, melaksanakan rencana peningkatan mutu, dan melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu), memiliki fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah, dan memiliki partisipasi yang lebih besar dari kelompok-kelompok yang berkepentingan dengan sekolah.
Dengan kepemilikan ketiga hal ini, maka sekolah merupakan unit utama pengelolaan proses pendidikan, sedang unit-unit diatasnya (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, dan Departemen Pendidikan Nasional) akan merupakan unit pendukung dan pelayan Sekolah, khususnya dalam pengelolaan peningkatan mutu. Sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.9
1) Tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah
9 Artikel pendidikan, konsep dasar MPMBM, www.dikdasmen.depdiknas.go.id, hlm: 10-13
47 2) Bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus; memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif, gigih, berani mengambil resiko, dan sebagainya)
3) Bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah
4) Memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumber dayanya
5) Memiliki control yang kuat terhadap kondisi kerja 6) Komitmen yang tinggi pada dirinya dan
7) Prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya.
Secara umum, paparan di atas telah memberikan gambaran tentang konsep dan dasar sekolah berbasis otonomi sekolah. Selanjutnya adalah upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk melakukan upaya peningkatan mutu sekolah. Sekolah yang telah diberi kewenangan penuh untuk memformulasikan ukuran keberhasilan dan kualitas pendidikannya pun akhirnya memiliki ketergantungan penuh terhadap budaya organisasi yang dipimpin oleh kepala sekolah dan pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap sekolah. Secara alamiah proses hidup mati organisasi selalu tergantung kepada kemampuan organisasi memenuhi harapan dan kebutuhan stakeholdernya.10
Pemenuhan terhadap kebutuhan stakeholder menjadi langkah yang wajib ditempuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekolah. Proses
10 Listyo Prabowo, Manajemen Pengembangan Mutu Sekolah/Madrasah (Malang: UIN Malang Press: 2008) hlm. 2
48 selanjutnya adalah upaya untuk memformulasikan visi, misi, dan tujuan sekolah. Setelah formulasi visi, misi, dan tujuan pun tercapai kemudia dilakukan perencanaan strategis untuk mencapai visi, misi dan tujuan tersebut.
Perencanaan strategis itu pun dituangkan ke dalam rencana program-program dan rencana kegiatan. Setelah proses tersebut selesai dilaksakan proses selanjutnya adalah mengkalkulasi kebutuhan finansial untuk membiayai semua program sekolah tersebut. Setelah proses tersebut diatas, kemudian memetakan letak demografis sekolah dan stakeholder potensial yang mungkin didapatkan sekolah. Hal itu diperlukan untuk mendukung proses pemenuhan kebutuhan finansial dan dukungan moral secara penuh dari para stakeholder pada program-program sekolah.
Seperti yang telah ditulis sebelumnya, MPMBS dapat didefinisikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/keluwesan lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, dan mendorong sekolah meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan mutu sekolah dalam kerangka pendidikan nasional. Karena itu, esensi MPMBS adalah otonomi sekolah plus fleksibilitas plus partisipasi untuk mencapai sasaran mutu sekolah.
Otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan/kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri, dan
49 merdeka/tidak tergantung. Kemandirian dalam program dan pendanaan merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah. Pada gilirannya, kemandirian yang berlangsung secara terus menerus akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah (sustainabilitas). Istilah otonomi juga sama dengan istilah “swa”, misalnya swasembada, swakelola, swadana, swakarya, dan swalayan. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku.
Tentu saja kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan, yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik, kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat, kemampuan memobilisasi sumberdaya, kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik, kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif, kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah, kemampuan adaptif dan antisipatif, kemampuan bersinergi dan berkolaborasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri.
Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan-keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola, memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya sekolah seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan keluwesan-keluwesan yang lebih besar diberikan kepada sekolah, maka sekolah akan lebih lincah dan tidak harus menunggu arahan dari atasannya untuk mengelola, memanfaatkan dan
50 memberdayakan sumberdayanya. Dengan cara ini, sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi segala tantangan yang dihadapi. Namun demikian, keluwesan-keluwesan yang dimaksud harus tetap dalam koridor kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada.
Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, dimana warga sekolah (guru, siswa, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, usahawan, dsb.) didorong untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari pengambilan keputusan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa jika seseorang dilibatkan (berpartisipasi) dalam penyelenggaraan pendidikan, maka yang bersangkutan akan mempunyai “rasa memiliki” terhadap sekolah, sehingga yang bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. Singkatnya: makin besar tingkat partisipasi, makin besar pula rasa memiliki; makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa tanggungjawab; dan makin besar rasa tanggungjawab, makin besar pula dedikasinya.
Tentu saja pelibatan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian, batas kewenangan, dan relevansinya dengan tujuan partisipasi. Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan, kerjasama yang kuat, akuntabilitas, dan demokrasi
51 pendidikan. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif untuk meningkatkan mutu sekolah. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antar warga sekolah yang erat, hubungan sekolah dan masyarakat erat, dan adanya kesadaran bersama bahwa output sekolah merupakan hasil kolektif teamwork yang kuat dan cerdas. Akuntabilitas sekolah adalah pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya, masyarakat dan pemerintah melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. Sedang demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang terlembagakan melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan, hak asasi manusia serta kewajibannya dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Dengan pengertian diatas, maka sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) lebih besar dalam mengelola sekolahnya (menetapkan sasaran peningkatan mutu, menyusun rencana peningkatan mutu, melaksanakan rencana peningkatan mutu, dan melakukan evaluasi pelaksanaan peningkatan mutu), memiliki fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah, dan memiliki partisipasi yang lebih besar dari kelompok- kelompok yang berkepentingan dengan sekolah. Dengan kepemilikan ketiga hal ini, maka sekolah akan merupakan unit utama pengelolaan proses pendidikan, sedang unit-unit diatasnya (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, dan Departemen Pendidikan Nasional) akan
52 merupakan unit pendukung dan pelayan sekolah, khususnya dalam pengelolaan peningkatan mutu.
Sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah; bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus; memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif, gigih, berani mengambil resiko, dan sebagainya);
bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah; memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya; memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja; komitmen yang tinggi pada dirinya; dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. Selanjutnya, bagi sumberdaya manusia sekolah yang berdaya, pada umumnya, memiliki ciri-ciri: pekerjaan adalah miliknya, dia bertanggungjawab, pekerjaannya memiliki kontribusi, dia tahu posisinya dimana, dia memiliki kontrol terhadap pekerjaannya, dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya.
Contoh tentang hal-hal yang dapat memandirikan/memberdayakan warga sekolah adalah: pemberian kewenangan, pemberian tanggungjawab, pekerjaan yang bermakna, pemecahan masalah sekolah secara “teamwork”, variasi tugas, hasil kerja yang terukur, kemampuan untuk mengukur kinerjanya sendiri, tantangan, kepercayaan, didengar, ada pujian, menghargai ide-ide, mengetahui bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah, kontrol yang luwes, dukungan, komunikasi yang efektif, umpan balik bagus, sumberdaya yang dibutuhkan ada, dan warga sekolah
53 diberlakukan sebagai manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tertinggi.
MPMBS merupakan bagian dari manajemen berbasis sekolah (MBS). Jika MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektivitas, kualitas/mutu, efisiensi, inovasi, relevansi, dan pemerataan serta akses pendidikan), maka MPMBS lebih difokuskan pada peningkatan mutu. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa mutu pendidikan nasional kita saat ini sangat memprihatinkan sehingga memerlukan perhatian yang lebih serius. Itulah sebabnya MPMBS lebih ditekankan dari pada MBS untuk saat ini. Pada saatnya nanti MPMBS akan menjadi MBS.
Pendidikan yang selama ini dikelola secara terpusat (sentralisasi) kurang memberikan kebebasan kepada sekolah dalam mengembangkan lembaganya. Untuk itu pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan mengeluarkan kebijakan baru di bidang pendidikan yaitu desentralisasi penyelenggaraan pendidikan ke tingkat sekolah. Adanya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) menyebabkan adanya perbaikan mutu di sekolah.
B. Karakteristik Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah/Sekolah (MPMBM/S)
MPMBM memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh pihak sekolah atau madrasah yang akan menerapkannya. Dengan kata lain, jika sekolah ataumadrasah ingin sukses dalam menerapkan MPMBM, maka sejumlah karakteristik ini perlu dimiliki.
54 Karakteristik Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah/Sekolah (MPMBM/S) memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah yang efektif, yang dikategorikan menjadi input, proses, dan output.
Selanjutnya yang dikategorikan menjadi input, output dan proses11yaitu:
1. Input
Input pendidikan terdiri dari:
a. Memiliki kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang jelas
Secara formal, sekolah menyatakan dengan jelas tentang seluruh kebijakan, tujuan dan sasaran sekolah yang berkaitan dengan mutu.
Kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu tersebut harus dinyatakan oleh kepala sekolah, disosialisasikan kepada semua warga sekolah, sehingga tertanam pemikiran, tindakan, kebiasaan, hingga sampai pada kepemilikan karakter mutu oleh warga sekolah.
b. Sumber daya tersedia dan siap
Sekolah yang menerapkan MPMBM/S harus memiliki tingkat kesiapan sumber daya yang memadai untuk menjalankan proses pendidikan. Artinya, segala sumber daya yang diperlukan untuk mejnjalankan proses pendidikan harus tersedia dan dalam kondisi yang siap. Tidak berarti yang ada harus mahal, akan tetapi sekolah
11 Sofan Amri Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2013) hlm. 299-303
55 yang bersangkutan dapat memanfaatkan keberadaan sumber daya yang ada di lingkungan sekolahnya.
c. Staf kompeten dan berdedikasi tinggi
Staf yang mampu (kompeten) dan berdedikasi tinggi sangat penting dalam penerapan MPMBM/S, implikasinya bagi sekolah yang ingin efektifitasnya tinggi, maka kepemilikan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi merupakan keharusan.
d. Memiliki harapan prestasi yang tinggi
Sekolah yang menerapkan MPMBM/S mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya. Karena itu, seluruh kepala sekolah, guru, peserta didik dan warga sekolah harus didirong untuk merealisasikan komitmen dan harapan mutu tinggi.
e. Fokus pada peserta didik
Peserta didik merupakan fokus dari semua kegiatan sekolah. Artinya semua input dan proses yang dikerahkan sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik.
f. Input manajemen
Input manajemen meliputi tugas yang jelas, rencana yang rinci dan sistematis, program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana, ketentuan-ketentuan yang jelas sebagai panutan bagi warga sekolahnya untuk bertindak, dan adanya system pengendalian mutu
56 yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai.
Adapun ciri-ciri manajemen berbasis sekolah menurut Supriono Subakir dan Achmad Sapari dalam bukunya Manajemen Berbasis Sekolah yaitu:
1. Ada upaya peningkatan peran serta BP3 dan masyarakat untuk mendukung kinerja sekolah.
2. Program sekolah disusun dan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan proses belajar mengajar (kurikulum), bukan kepentingan administrative.
3. Menerapkan prinsip efektivitas dan efesiensi dalam penggunaan sumber daya sekolah (anggaran, personil, dan fasilitas).
4. Mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan kebutuhan, dan kondisi lingkungan sekolah walaupun berbeda dari pola umum atau kebiasaan.
5. Menjamin terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab kepada masyarakat selain kepada pemerintah dan yayasan.
6. Meningkatkan profesionalisme personil sekolah.
7. Meningkatkan kemandirian sekolah disegala bidang.
8. Adanya keterlibatan semua unsur terkait dalam perencanaan program sekolah, pelaksanaan sampai dengan evaluasi.
57 9. Adanya keterbukaan dalam pengelolaan pendidikan sekolah, baik yang menyangkut program, anggaran, ketenagaan, prestasi sampai dengan pelaporan.
10. Pertanggungjawaban sekolah dilakukan dengan baik terhadap pemerintah, yayasan, maupun masyarakat.
2. Proses
Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut:
a. Proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi
Sekolah yang menerapkan MPMBM/S memiliki efektivitas proses belajar mengajar (PBM) yang tinggi. Ini ditunjukkan oleh sifat PBM yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik. PBM yang efektif juga menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
b. Kepemimpinan sekolah yang kuat
Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karenanya kepala sekolah dituntut memiliki manajemen dan kepemimpinan yang
58 tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk meningkatkan mutu sekolah.
c. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib
Sekolah memiliki lingkungan yang tertib, aman, dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman. Karena itu sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman, tertib, dan nyaman melalui pengupayaan faktor- faktor yang menumbuhkan iklim tersebut.
d. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif
Tenaga pendidik dan kependidikan terutama guru merupakan jiwa dari sekolah. Oleh karena itu pengelolaan tenaga kependidikan, melalui analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kerja, hubungan kerja sampai pada imbal jasa. Terlebih pada pengembangan tenaga kependidikan ini harus dilakukan secara terus-menerus mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat.
e. Sekolah memiliki budaya mutu
Budaya mutu harus tertanam dalam diri setiap warga sekolah.
Sehinga setiap perilaku didasari pada profesionalisme.
Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagi berikut:
1. Informasi kualitas digunakan untuk perbaikan 2. Kewenangan harus sebatas tanggung jawab
59 3. Hasil harus diikuti penghargaan (reaward) atau sanksi
(punishment)
4. Kolaborasi dan sinergi, bukan kompetisi harus merupakan basis untuk bersama
5. Warga sekolah aman dengan pekerjaannnya 6. Keadilan harus ditanamkan
7. Imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya, dan 8. Warga sekolah merasa memiliki sekolah
f. Sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis Kebersamaan (teamwork) merupakan karakteristik yang dituntut oleh MPMBM/S, karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah, bukan hasil individual. Karena itu, budaya kerja sama antar fungsi dalam sekolah, antar individu dalam sekolah, harus merupakan kebiasaan hidup sehari-hari warga sekolah.
g. Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian)
Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya, sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan.
h. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat Sekolah yang menerapkan MPMBM/S memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi, makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa
60 tanggung jawab, dan makin beasr arasa tanggung jawab makin besar pula dedikasinya.
i. Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi) manajemen
Keterbukaan/transparansi dalam sekolah ditunjukkan dengan pengambilan keputusan, perencanaan, dan pelaksanaan kegiatan, penggunaan uang dan sebagainya yang selalu melibatkan pihak- pihak terkait sebagai alat pengontrol.
j. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah
Perubahan harus merupakan sesuatu yang menyenangkan bagis semua warga sekolah. Yang dimakasud perubahan ialah peningkatan, baik bersifat fisik maupun psikologis. Artinya, setiap dilakukan perubahan, hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya terutama mutu peserta didik.
k. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik, tapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara keseluruhan dan terus-menerus.
61 l. Sekolah responsif dan antisipasif terhadap kebutuhan
Sekolah selalu tanggap terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu. Karena itu sekolah selau membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat dan tepat. Bahkan sekolah tidak hanya menyesuaikan terhadap tuntutan, aka tetapi juga mampu mengantisipasi hal-hal ynag mungkin terjadi.
m. Komunikasi yang baik, dan
Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi yang baik, terutama antar warga sekolah, dan juga sekolah-masyarakat, sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing warga sekolah dapat diketahui. Dengan cara ini, maka keterpaduan semua kegiatan sekolah dapat diupayakan untuk mencapai tujuan dan sasaran sekolah yang telah dipatok.
n. Memiliki akuntabilitas
Akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan oleh sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilkasanakan. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang telah dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah, orang tua siswa, dan masyarakat. Berdasarkan hasil laporan ini, pemerintah dapat menilai apakah program MPMBM/S ini mencapai tujuan yang dikehendaki atau tidak. Demikian juga masyarakat dapat memberikan penilaian apakah program ini dapat meningkakan
62 prestasi anak-anaknya secara individual dan kinerja sekolah secara keseluruhan.
3. Output
Output pendidikan adalah kinerja sekolah. Sedangkan kinerja sekolah itu sendiri adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktifitasnya, efesiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moral kerjanya.
Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukan kemampuannya dalam memuasakan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat. Efektifitas adalah ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran (kuantitas, kualitas, dan waktu) yang telah dicapai. Produktifitas adalah hasil perbandingan antara output dan input.
Baik output dan input adalah dalam bentuk kuantitas. Kuantitas input berupa tenaga kerja, modal, bahan, dan energi. Sedangkan kuantitas output berupa jumlah barang atau jasa yang tergantung pada jenis pekerjannya. Output sekolah dapat dikatakan berkualitas dan bermutu tinggi apabila prestasi pencapaian siswa menunjukan pencapaian yang tinggi dalam bidang:
1) Prestasi akademik, berupa nilai ujian semester, ujian nasional, karya ilmiah, dan lomba akademik
2) Prestasi non akademik, berupa kualitas iman dan takwa, kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, keterampilan, dan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler lainnya
63 Tabel 1
Karakteritik MPMBM12
POLA LAMA MENUJU POLA BARU
Subordinasi === Otonomi
Pengambilan keputusan terpusat
=== Pengambilan keputusan partisipasif
Ruang gerak kaku === Ruang gerak luwes Pendekatan birokratik === Pendekatan profesional
Sentralistik === Disentralistik
Diatur === Motivasi
Overegulasi === Deregulasi
Mengontrol === Mempengaruhi
Mengarahkan === Memfasilitasi
Menghindari resiko === Mengelola resiko Gunakan uang semuanya === Gunakan uang seefesien Individual yang cerdas === Teamwork yang cerdas Informasi terpribadi === Informasi terbagi
Pendelegasian === Pemberdayaan
Organisasi herakis === Organisasi datar
12 Sumber: diadaptasi darihttp://pakguruonline.pendidikan.net/mpmbs1.html, h. 6
64 C. Landasan Hukum
Otonomisasi sekolah yang dipayungi oleh Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah/ Sekolah (MBMPM/S) diamanatkan oleh bebarapa dasar hukum di antaranya13:
1. Undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) secara jelas menyebutkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan pola pembinaan sekolah/lembaga pendidikan di Indonesia
2. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal (51) ayat (1) secara tegas dinyatakan "Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan, berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah"
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, bahwa secara langsung atau tidak, daerah dan sekolah memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan secara otonomi dan bertanggung jawab
4. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 pasal (3) Badan Hukum Pendidikan menyatakan bahwa Badan Hukum Pendidikan bertujuan memajukan pendidikan nasional dengan menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasaah pada jenjang pendidikan dasar dan
13http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/03/manajemen-peningkatan-mutu-berbasis.html
65 menengah dan otonomisasi perguruan tinggi pada jenjang pendidikan tinggi
5. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 2013 pasal (41) ayat (1) Pengelolaan madrasah dilakukan dengan menerapkan manajemen berbasis madrasah yang dilaksanakan dengan prinsip keadilan, kemandirian, kemitraan dan partisipasi, nirlabam efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas.
D. Prinsip-prinsip Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah/Sekolah (MPMBM/S)
Prinsip-prinsip yang perlu diperhatiakan dalam melaksanakan manajamen peningkatan mutu berbasis madarash14 adalah:
1. Komitmen, kepala madrasah dan warga madrasah harus mempunyai komitmen yang kuat dalam upaya penyelenggaraan semua kegiatan madrasah
2. Kesiapan, semua warga madarsah harus siap fisik dan mental
3. Keterlibatan, pendidikan yang efektif melibatkan semua pihak dalam mendidik anak
4. Kelembagaan, madrasah sebagai lembaga adalah unit terpenting bagi pendidikan yang efektif
5. Keputusan, segala keputusan madrasah dibuat oleh pihak yang benar- benar mengerti pendidikan
6. Kesadaran, guru-guru harus memiliki kesadaran untuk membantu dalam pembuatan keputusan program pendidikan dan kurikulum
7. Kemandirian, madrasah harus diberi otonomi sehingga memiliki kemandirian dalam membuat keputusan pengalokasian dana
14 Sofan Amri Penngkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2013) hlm. 298
66 8. Ketahanan, perubahan akan bertahan lebih lama apabila melibatkan
stakeholders madarsah.
E. Tujuan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Madrasah/Sekolah (MPMBM/S)
Tujuan pokok mempelajari manajemen peningkatan mutu pendidikan adalah untuk memperoleh cara, tehnik, metode yang sebaik- baiknya dilakukan, sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun sepiritual guna mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Menurut Shrode dan Voich (1974) tujuan utama Manajemen peningkatan mutu pendidikan adalah produktifitas dan kepuasan. Mungkin saja tujuan ini tidak tunggal bahkan jamak atau rangkap, seperti peningkatan mutu pendidikan/lulusannya, keuntungan/profit yang tinggi, pemenuhan kesempatan kerja pembangunan daerah/nasional, tanggung jawab sosial.
Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian terhadap situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman.15
Secara rinci tujuan manajemen peningkatan Mutu pendidikan antara lain:16
a. Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM)
15 Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, , (Bandung: PT Remaja Rosda Karya 2004) hlm: 15
16 Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, Dan Riset Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), Hal. 8
67 b. Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
c. Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
d. Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan.
e. Teratasinya masalah mutu pendidikan.
Pada dasarnya MPMBM/S bertujuan untuk memandirikan dan memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada madrasah dan mendorong madrasah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipasif. Lebih rincinya manajemen peningkatan mutu berbasis madarasah bertujuan untuk17:
1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif madrasah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pennyelenggaraan pendidikan melaluipengambilan keputusan bersama (partisipasif).
3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu seolahnya.
17 Sofan Amri Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2013) hlm. 304
68 4. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu
pendidikan yang akan dicapai.
F. Faktor yang Mendorong Penerapan MPMBM
MPMBM diterapakan karena beberapa faktor diantaranya adalah sebagai berikut18:
1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman bagi dirinya sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya
2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik
3. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya
4. Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat 5. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing- masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik dan masyarakat pada umumnya, sehingga akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dna mencapai sasaran mutu pendidikna yang telah direncanakan.
18 http://www.ssep.net/director.html, diakses tgl 4 November 2015
69 G. Strategi Implementasi Ditingkat Madrasah
Strategi Implementasi manajemen berbasis sekolah menurut Nurkholis:
“Strategi Implementasi manajemen berbasis sekolah meliputi otonomi sekolah, peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan dan pengambilan keputusan berkaitan dengan pendidikan, kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif, proses pengambilan keputusan secara demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif, pemahaman peran serta tanggungjawab semua pihak secara sungguh-sungguh, rambu-rambu dari dinas pendidikan setempat untuk mendorong proses pendidikan, transparansi dan akuntabilitas dari sekolah dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahun, pennerapan manajemen berbasis sekolah pada penncapaian kinerja sekolah dan peningkatan prestasi belajar siswa, serta implementasi diawali sosialisasi dari konsep manajemen berbasis sekolah.”19
Peningkatan mutu pendidikan di sekolah perlu didukung kemampuan manajerial para kepala sekolah. Sekolah perlu berkembnag maju dari tahun ke tahun. Karena itu, hubungan baik antarguru perlu diciptakan agar terjalin iklim dan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan. Demikian halnya penataan penampilan fisik dan manajemen sekolah perlu dibina agar sekolah menjadi lingkungan pendidikan yang dapat menumbuhkan kreativitas, disiplin, dan semangat belajar peserta didik. Dalam kerangka inilah dirasakan perlunya implementasi MBS.
19 Nurkholis, op.chit hlm 132-135
70 Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (2000) penerapan MPMBM/S di sekolah itu melalui tahapan kegiatan sebagai berikut20:
1. Penyusunan basis data dan profil sekolah lebih presentatif, akurat, valid dan secara sistematis menyangkut berbagai aspek akademis, administrative (siswa, guru, dan staf) dan keuangan.
2. Melakukan evaluasi diri (self assessment) untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah, personil sekolah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.
3. Mengidentifikasi kebutuhan sekolah, dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan nasional yang akan dicapai.
4. Merencanakan dan menyusun program kerja Jangka panjang dan jangka pendek sesuai dengan visi misi dan tujuan yang telah dirumuskan, yang diprioritaskan pada peningkatan mutu pendidikan.
5. Mengimplementasikan program kerja.
20 Bafadal, Manajemen Mutu., 90-91.